Author: dbgoog99

  • Foto Ngentot Dani Jensen dengan kasar oleh kontol keras besar

    Foto Ngentot Dani Jensen dengan kasar oleh kontol keras besar


    1993 views

    Duniabola99.com –  foto cewek beranbut merah Dani Jensen ngentot dengan pria yang berkontol keras dan besar yang membobol memeknya yang berbulu tipis tipis dengan hantaman keras dan menembakkan sperma yang banyak kedalam memeknya.

     

     

  • Foto Bugil Gloria Sol membuka kakinya lebar-lebar untuk memamerkan vaginanya yang tidak berbulu

    Foto Bugil Gloria Sol membuka kakinya lebar-lebar untuk memamerkan vaginanya yang tidak berbulu


    2172 views

    sedang mencari foto ngentot yang terupdate setiap hari? temukan di Duniabola99 yang selalu update dan membagikan. Foto-foto ngentot pilihan terbaik duniabola99.

  • Video Bokep Cayla menggoda pacarnya dengan memakai lingerie

    Video Bokep Cayla menggoda pacarnya dengan memakai lingerie


    2037 views

     

  • Video Bokep jepang Kotone Amamiya threesome pakai baju tradisional jepang

    Video Bokep jepang Kotone Amamiya threesome pakai baju tradisional jepang


    2422 views

  • Hentai040

    Hentai040


    2591 views

  • Video Bokep Eropa memek pertama kali menetes dengan air mani segar

    Video Bokep Eropa memek pertama kali menetes dengan air mani segar


    2551 views

  • Foto Ngentot anal Eliza Jane mengambil kontol besar di balkon

    Foto Ngentot anal Eliza Jane mengambil kontol besar di balkon


    2210 views

    Duniabola99.com – foto cewek kurus toket kecil cantik Eliza Jane ngentot anal dengan pria berkontol gede di balkon dan menelan semua sperma yang ada.

  • Video Bokep Jepang Pelacur Maya Kawamura dengan om-om di kedai teh tradisional

    Video Bokep Jepang Pelacur Maya Kawamura dengan om-om di kedai teh tradisional


    2083 views

  • Kisah Memek Pesta Sex Di Villa

    Kisah Memek Pesta Sex Di Villa


    2786 views

    Duniabola99.com – Pagi-pagi benar handphone-ku telah bunyi. Saya sedikit jengkel serta malas bangun dari tempat tidurku. Namun bunyinya itu tidak kurang keras, saya jadi tidak dapat tidur sekali lagi. Pada akhirnya saya paksakan juga berdiri serta saksikan siapa yang call saya pagi-pagi begini. Eh, tidak tahunya rekanku Vivie. Saya sedikit ketus juga menjawabnya, namun segera beralih saat saya tahumaksudnya. Si Vivi mengajakku turut bareng cowoknya ke vilanya tidaklah terlalu jauh dari tempatku. Saya sich sepakat sekali sama ajakan itu, selalu saya bertanya, apa saya bisa ajak cowokku. Si Vivi jadi tertawa, tuturnya ya terang dong, memanglah harusnya demikian. Gagasannya kami akan pergi besok sore serta kumpul dahulu di rumahku.

    Singkat narasi kami berempat telah ngumpul di rumahku. Kami memanglah telah sama-sama kenal, bahkan juga cukup akrab. Alf, cowoknya Vivie sahabat Ricky cowokku. Oh ya, saya belum juga mengetahui saya sendiri ya, namaku Selvie, umurku saat ini 17 th., keduanya sama Si Vivie, Ricky cowokku saat ini 19 th., satu tahun lebih tua dari Alf cowoknya Vivie. Oke, lanjut ke narasi. Kami berempat segera cabut ke villanya Vivie. Sekitaran 1/2 jam kami baru hingga. Saya sama Vivie segera beres-beres, menyimpani beberapa barang serta mempersiapkan kamar. Ricky sama Si Alflagi main bola di halaman villa. Mereka memanglah pecandu bola, serta sepertinya tidak bakalan hidup bila satu hari saja tidak menendang bola.
    Villa itu miliki tiga kamar, namun yang satu digunakan untuk menyimpani beberapa barang. Awalnya saya atur agar saya sama Vivie sekamar, Ricky sama Alf di kamar beda. Namun saat saya beres-beres, Vivie masuk serta ngomong bila dia ingin sekamar sama Si Alf. Saya kaget juga, nekad juga ini anak. Namun saya sebagian fikir, kapan sekali lagi saya dapat tidur bareng Si Ricky bila tidak disini. Ya tidaklah perlu hingga gitu-gituan sich, namun kan asyik juga bila dapat tidur bareng dia, mumpung jauhdari bokap serta nyokap-ku. Hehehe, mulai deh omes-ku keluar. Oke, pada akhirnya saya sepakat, satu kamar buat Alf serta Vivie, satu kamar sekali lagi buat Ricky sama saya.
    Sore-sore kami makan bareng, selalu mendekati malam, kami bakar jagung di halaman. Asyik juga malam-malam bakar jagung ditemani cowokku sekali lagi. Wah, betul-betul suasananya mensupport. Hehehe, saya mulai mikir yang beberapa macam, namun malu kan bila ketahuan sama Si Ricky. Maka dari itu saya tetaplah diam pura-pura umum saja. Namun Si Vivie sepertinya memerhatikan saya, serta dia nyengir ke saya, selalu gilanya sekali lagi, dia ngomong gini, “Wah.. kelihatannya situasi gini tidak bakalan berada di Bandung. Tidak enak bila dilewatin gitu saja ya. ” Saya telah melotot ke arah dia, namun dia jadi nyengir-nyengir saja, jadi dia tambahin sekali lagi omongannya yang hilang ingatan benar itu, “Alf, sepertinya disini sangat ramai, kita berjalan-jalan yuk! ” Saya telah tidak paham mesti apa, eh Si Alf juga samanya, dia sepakat sama ajakan Si Vivie, serta sebelumnya pergi di ngomong sama Ricky, “Nah, saat ini elu mesti belajar bagaimana langkahnya nahan diri bila elu hanya berdua sama cewek cakep seperti Si Selvie. ” Saya hanya diam, malu juga dong disepet-sepet seperti gitu.
    Saya lihati Si Alf sama Si Vivie, bukannya berjalan-jalan terlebih masuk ke villa. Saya jadi tidak paham mesti ngapain, saya hanya diam, mudah-mudahan saja Ricky miliki bahan omongan yang dapat dibicarakan. Eh, bukannya ngomong, dia jadi diam juga, saya jadi betul-betul bingung. Apa saya mesti tetaplah begini atau bebrapa cari bahan omongan. Pada akhirnya saya tidak tahan, barusan saya ingin ngomong, eh.. Si Ricky mulai buka mulut, “Eh.. anda tidak dingin? ” Duer.. Saya kaget benar, tidak jadi deh saya ingin ngomong, sebenernya saya memanglah ingin ngomong bila disini itu dingin serta saya ingin ajak dia kedalam. Namun tidak jadi, saya tidak sadar jadi saya geleng-geleng kepala. Ricky ngomong sekali lagi, “Kalau tidak dingin, ingin dong anda temanin saya disini, saksikan bulan serta bintang, serta.. bintang jatuh itu saksikan..! ” Ricky mendadak teriak sembari menunjuk ke langit. Akukontan berdiri kaget sekali, bukanlah sama bintang jatuhnya, namun sama teriakan Si Ricky, aduh.. malu benar jadinya. Ricky ikut-ikutan berdiri, dia rangkul saya dari belakang, “Sorry, saya tidak miliki maksud ngagetin anda. Hanya saya seneng saja dapat saksikan bintang jatuh bareng anda. ”Aku hanya dapat diam, tidak umumnya Ricky segini warm-nya sama saya. Dia jadi tidak sempat peluk saya seerat ini umumnya. Saya tengok jam tanganku, jam 11. 00 malam. Kuajak Ricky kedalam, telah malam sekali.


    Dia sepakat sekali, demikian masuk ke villa kami diterima sama bunyi pecah dari lantai atas. Kontan saja kami lari ke atas lihat ada apa diatas. Ricky hingga duluan ke lantai atas, serta di nyengir, selalu dia ajak saya turun sekali lagi, namun saya masih tetap penasaran, memanglah ada apa diatas. Saat saya ingin ketuk pintu kamar Vivie, mendadak ada teriakan lembut, “Aw.. ah.. bebrapa perlahan donk! ” Hilang ingatan saya kaget 1/2 mati, namun tanganku sudahkeburu ngetuk pintu. Selalu kedengaran bunyi gedubrak-gedubrak didalam. Pintu di buka sedikit, Alf muncul sembari nyengir, “Sorry, ngeganggu kalian ya? tak ada apa-apa kok kami hanya.. ”Aku dorong pintunya sedikit, serta saya saksikan Si Vivie sekali lagi repot nutupi tubuhnya gunakan selimut. Dia nyengir, namun mukanya merah benar, malu kali ya. Saya segera nyengir, “Ya telah, lanjutin saja, kami tidak keganggu kok. ”

    Selalu saya ajak Ricky ke bawah. Ricky nyengir, “Siapa cobalah yg tidak dapat nahan diri, hehehe. ” Mendadak ada sandal melayang-layang ke arah Ricky, namun dia segera ngelak sembari nyengir, selalu cepat-cepat lari ke bawah. Saya ikutan lari sembari ketawa-ketiwi, serta kami berdua duduk di sofa sembari dengarkan lagu di radio. Tidak lama kedengaran sekali lagi bebrapa nada dari atas. Saya tidak tahan serta segera nunduk menahan ketawa. Hilang ingatan, bisa-bisanya mereka berdua melanjutkan juga olah raga malamnya, walau sebenarnya telah beberapa terang kepergok sama kami berdua. Eh, diluar sangkaan saya, Ricky bediri serta mengajakku slow-dance, kebetulan lagu di radio itu lagu waktu Ricky ngajak saya jadian. Saya jadi ingat bagaimana deg-degannya saat Ricky ngomong, serta bagaimana saya pada akhirnya terima dia sesudah tiga bulan dia selalu nunggui saya. Ricky memanglah baik, serta dia betul-betul setia menungguiku.

    Usai dance, Ricky bertanya sekali lagi, “Eh bila mereka berdua ketiduran, saya tidur di mana? memanglah tidur sama beberapa barang? ” saya malu sekali, bagaimana ngomongnya. Namun pada akhirnya akubuka mulut, “Kita.. kita tidur berdua. ” Wah lega sekali saat omongan itu telah keluar. Tapiaku takut juga, bagaimana ya reaksi Si Ricky. Eh tahunya dia jadi nyengir, “Oke deh bila anda tidak jadi masalah. Sebenernya saya juga telah ngantuk sich, saya tidur saat ini ya. ” Saya jadi salah tingkah, Ricky naik ke lantai atas serta tidak berniat saya panggil dia, “Eh.. tunggulah! ” Ricky berbalik, dia nyengir, “Oke.. oke.. mari naik, tidak bagus anak cewek sendirian malam-malam gini. ” Saya sedikit canggung juga sich, baru kesempatan ini saya tidur seranjang sama cowok, namun lama-lama hilang juga. Kami berdua tidak ngapa-ngapain, hanya diam tidak dapat tidur. Dari kamar samping masih tetap kedengaran nada Vivie yang mendesah serta menjerit, serta kelihatannya itu juga yang buat Ricky terangsang. Dia mulai berani remas-remas jariku. Saya sich tidak nolak, toh dia khan cowokku. Namun saya kaget sekali, Ricky duduk selalu sebelumnya saya tahu apa yang akan dia kerjakan, bibirku telah dilumatnya. Saya ingin nolak, namun sepertinya tubuh jadi kepingin. So, saya biarlah dia cium saya, selalu saya balas ciumannya yang makin lama makin buas.


    Barusan saya mulai nikmati bibirnya yang hangat di bibirku, saya terasa ada yang meraba badanku, disusul remasan halus di dadaku. Saya tahu itu Ricky, saya tidak menampik. Saya biarlah dia main-main sebentar disana. Ricky semakin berani, dia angkat tubuhku serta diduduki di tepi ranjang. Dia cium saya lagi, selalu dia ingin buka baju tidurku. Saya tahan tangannya, ada sedikit penolakan di kepalaku, namun tubuhku sepertinya telah kebelet menginginkan coba, seperti apa sich nge-sex itu. Pada akhirnya tanganku lemas, saya biarlah Ricky buka bajuku, dia juga buka baju serta celananya sendiri. Dia hanya tersisa celana dalam putihnya. Saya saksikan penisnya yang membayang dibalik celana dalamnya, namun saya malu melihati lama-lama, so saya ganti saksikan tubuhnya yang lumayan jadi. Mungkin saja karna olahraganya yang betul-betul rajin.
    Saya tidak paham apa saya dapat tahan memuaskan Ricky, soalnya saya tahu sendiri bagaimana staminanya saat dia main bola. 2×45 menit dia lari, serta dia senantiasa kuat hingga akhir. Saya tidak terbayang bagaimana aksinya di ranjang, bebrapa janganlah saya mesti terima kocokannya2x45 menit. Hilang ingatan, bila gitu sich saya dapat pingsan.

    Saat saya berhenti pikirkan stamina dia serta saya, saya baru sadar bila bra-ku telah dilepasnya. Saat ini dadaku telanjang bulat. Saya malu 1/2 mati, mana Ricky mulai meremas dadaku sekali lagi, yah pokoknya saya tidak paham mesti bagaimana, saya hanya diam, merem siap terima apa sajakah yang akan dia kerjakan. Mendadak remasan itu berhenti, namun ada suatu hal yang hangat di sekitaran dadaku, selalu berhenti di putingku. Saya melek sebentar, Ricky asyik menjilati putingku sembari kadang-kadang menghisap-ngisap. Saya semakin malu, mana ini baru pertama kalinya saya telanjang dimuka cowok, terlebih dia bukanlah adik atau kakakku. Wah benaran malu deh.

    Lama-lama saya mulai dapat nikmati bagaimana nikmatnya permainan lidah Ricky di dadaku, saya mulai berani buka mata sembari lihat bagaimana Ricky menelusuri tiap-tiap lekuk badanku. Namun mendadak saya dikejutkan suatu hal yang menyentuh selangkanganku. Pas dibagian vaginaku. Saya tidak sadar mendesah panjang. Rupanya Ricky telah menelanjangiku bulat-bulat. Kesempatan ini jarinya mengelus-elus vaginaku yang telah basah sekali. Dia masih tetap selalu menjilati puting susuku yang telah mengeras sebelumnya pada akhirnya dia geser ke selangkanganku.


    Saya menarik nafas dalam-dalam saat lidahnya yang basah serta hangat bebrapa perlahan menyentuh vaginaku naik ke klitoris-ku, serta saat lidahnya itu menyentuh klitoris-ku, saya tidak sadar mendesah sekali lagi, serta tanganku tidak berniat menyenggol gelas di meja dekat ranjangku. Lantas “Prang.. ” gelas pada akhirnya pecah juga. Ricky berhenti, sepertinya dia ingin memberesi pecahan kacanya. Namun tak tahu mengapa, mungkin saja karna saya telah larut dalam nafsu, saya jadi pegang tangannya selalu saya menggeleng, “Barkan saja, kelak saya beresin. Lanjutin.. please..

    Setelah itu saya saksikan Ricky nyengir, selalu diciumnya bibirku serta dia meneruskan permainannya di selangkanganku. Ricky betul-betul jago mainkan lidahnya, betul-betul buat saya merem-melek keenakan. Selalu diawali melintir-melintir klitorisku gunakan bibirnya. Saya seperti kesetrum tidak tahan, namun Ricky jadi terus menerus melintir-melintiri “kacang”-ku itu. “Euh.. ah.. ah.. ach.. aw.. ” saya telah tidak paham bagaimana saya saat itu, yang pasti mataku buram, semuanya terasanya mutar-mutar. Tubuhku lemas serta nafasku seperti orang baru lari marathon. Saya betul-betul pusing, selalu saya pejamkan mataku, ada lonjakan-lonjakan nikmat di tubuhku dari mulai selangkanganku, ke pinggul, dada serta pada akhirnya buat tubuhku kejang-kejang tanpa ada dapat saya kontrol.

    Saya cobalah atur nafasku, serta saat saya mulai tenang, saya buka mata, Ricky telah buka celana dalamnya, serta penisnya yang nyaris maksimum segera berdiri dimuka mukaku. Dia megangi batang penisnya gunakan tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku. Saya tahu dia ingin di-”karoake”-in, ada rasa jijik juga sich, namun tidak adil dong, dia telah muasin saya, masaaku tolak hasratnya. So saya buka mulutku, saya jilat sedikit kepala penisnya. Hangat serta buat saya ketagihan. Saya mulai berani menjilat sekali lagi, selalu serta selalu. Ricky duduk di ranjang, ke-2 kakinya dilewatkan terlentang. Saya duduk di ranjang, selalu saya bungkuk sedikit, saya pegang batang penisnya yang besarnya lumayan itu gunakan tangan kiriku, tangan kananku menahan tubuhku agar tidak jatuh serta mulutku mulai bekerja.


    Awal mula hanya menjilati, selalu saya mulai emut kepala penisnya, saya hisap sedikit selalu kumasukkan semua ke mulutku, nyatanya tidak masuk, kepala penisnya telah menyodok ujung mulutku, namun masih tetap ada sisa sebagian senti sekali lagi. Saya tidak maksakan, saya gerakkan naik-turun sembari saya hisap serta kadang-kadang saya gosok batang penisnya gunakan tangan kiriku. Ricky sepertiya senang juga sama permainanku, dia mrlihati bagaimana saya meng-”karaoke”-in dia sembari kadang-kadang buka mulut sembari sedikit berdesah. Sekitaran 5 menit pada akhirnya Ricky tidak tahan, dia berdiridan mendorong tubuhku ke ranjang hingga saya terlentang, dibukanya pahaku agak lebar dandijilatnya lagi vaginaku yang telah kebanjiran. Selalu dipegangnya penisnya yang telah tiba ke ukuran maksimum. Dia mengarahkan penisnya ke vaginaku, namun tidak segera dia input, dia gosok-gosokkan kepala penisnya ke bibir vaginaku, baru sebagian detik lalu dia dorong penisnya kedalam. Seperti ada suatu hal yang maksa masuk kedalam vaginaku, menggesek dindingnya yang telah dibasahi lendir.

    Vaginaku telah basah, tetaplah saja tidak semuanya penis Ricky yang masuk. Dia tidak memaksa, dia hanya mengocok-ngocok penisnya di situ-situ juga. Saya mulai merem-melek sekali lagi rasakan bagaimana penisnya menggosoki dinding vaginaku, betul-betul nikmat. Saat saya asyik merem-melek, mendadak penis Ricky maksa masuk selalu melesak kedalam vaginaku. “Aw.. ah.. ” vaginaku perih bukanlah main serta saya teriak menahan sakit. Ricky masih tetap menghentak dua atau 3x sekali lagi sebelumnya pada akhirnya semua penisnya masuk merobek selaput daraku. “Stt.. tahan sebentar ya, kelak juga sakitnya hilang. ” Ricky membelai rambutku. Dibalik senyum nafsunya saya tahu ada rasa iba juga, karenanya saya berkemauan menahan rasa sakit itu, saya menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa.. saya tidak apa-apa. Terusin saja.. ah.. ”

    Ricky mulai menggerakkan pinggangnya naik-turun. Penisnya menggesek-gesek vaginaku, awal mula lambat selalu semakin lama semakin cepat. Rasa sakit serta perihnya lalu hilang digantikan rasa nikmat mengagumkan setiap saat Ricky menusukkan penisnya serta menarik penisnya. Ricky semakin cepat serta semakin keras mengocok vaginaku, saya sendiri telah merem-melek tidak tahan rasakan nikmat yang terus menerus mengalir dari dalam vaginaku. “Tidak lama sekali lagi.. tidak bakalan lama sekali lagi.. ” Ricky ngomong dibalik nafasnya yang telah tidak karuan sembari selalu mengocok vagina saya. “Aku juga.. ah.. oh.. sebentar sekali lagi.. ah.. aw.. juga.. ” saya ngomong tidak terang sekali, namun tujuannya saya ingin ngomong bila saya juga telah nyaris hingga klimaks. Mendadak Ricky mencabut penisnya dari vaginaku, dia tengkurapi saya, saya sendiri telah lemas tidak paham Ricky ingin apa, namun dengan perasaan saya angkat pantatku ke atas, saya tahan gunakan lututku serta kubuka pahaku sedikit. Tanganku menahan tubuhku agar tidak ambruk serta saya bersiap ditusukdari belakang.


    Beneran saja Ricky memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang, selalu dia kocok sekali lagi vaginaku. Dari belakang kocokan Ricky tidaklah terlalu keras, namun semakin cepat. Saya telah sekuat tenaga menahan tubuhku agar tidak ambruk, serta saya rasakan tangan Ricky meremas-remas dadaku dari belakang, selalu jarinya menggosoki puting susuku, buat saya seperti terserang dari dua arah, depan serta belakang. Ricky kembali keluarkan penisnya dari vaginaku, kesempatan ini dimasukkannya ke anusku. Dia betul-betul memaksakan penisnya masuk, namun tidak semua dapat masuk. Ricky kelihatannya tidak perduli, dia mengocok anusku seperti mengocok vaginaku, kesempatan ini hanya tangan kirinya yang meremas dadaku, tangan kanannya repot main-main di selangkanganku, dia masukan jari tengahnya ke vaginaku serta jempolnya menggosoki klitorisku.

    Saya semakin merem-melek, anusku dikocok-kocok, klitorisku digosok-gosok, dadaku diremas-remas serta putingnya dipelintir-pelintir, selalu vaginaku dikocok-kocok juga gunakan jari tengahnya. Saya betul-betul tidak kuat sekali lagi, pada akhirnya saya klimaks, serta saya rasakan Ricky juga hingga klimaks, dari anusku kerasa ada cairan panas muncrat dari penis Ricky. Pada akhirnya saya ambruk juga, tubuhku lemas semuanya. Saya saksikan Ricky juga ambruk, dia terlentang di sebelahku. Tubuhnya basah karna keringat selalu, kupegang tubuhku, nyatanya saya juga basah keringatan. Betul-betul kesenangan yang mengagumkan. Tidak paham berapakah lama saya ketiduran, saat pada akhirnya saya bangun. Saya saksikan jam tangan, telah jam 2 subuh. Leherku kering, namun saat saya ingin minum, saya ingat gelas di kamarku telah pecah dikarenakan kesenggol. Saya saksikan ke lantai, banyak pecahan kaca, selalu saya ambillah sapu, saya sapu dahulu ke tepi tembok. Saya turun ke bawah, tujuannya sich ingin ambillah minum dibawah, saya masih tetap telanjang sich, namun saya cuek saja. Saya fikir si Alf tentu masih tetap tidur soalnya dia tentu raih juga olah raga malam bareng Si Vivie.

    Saya turun serta ambil air dingin di kulkas. Kebetulan villanya Vivie lumayan elegan, ada kulkas serta TV. Saya ambillah sebotol Aqua, selalu sembari jalan saya minum. Saya duduk di sofa, gagasannya sich saya hanya ingin sekedar duduk sebentar soalnya di kamar panas sekali. Tidak paham mengapa, namun saya pada akhirnya ketiduran serta saat saya bangun saya kaget 1/2 mati. Saya lihatSi Alf dengan santainya turun dari tangga segera menuju kulkas, sepertinya ingin minum juga.


    Saya bingung mesti menutupi tubuhku gunakan apa, namun saya telat Si Alf telah membalik duluan serta dia melongo lihat saya telanjang di depannya. Dia masih tetap melihatiku saat saya menutupi selangkanganku gunakan tangan, namun saya sadar saat ini dadaku terlihat, maka dari itu tanganku geser sekali lagi ke dada, selalu geser sekali lagi ke bawah, saya betul-betul bingung mesti bagaimana, saya malu 1/2 mati.
    Alf pada akhirnya berbalik,

    “Sorry, saya fikir anda masih tetap tidur di kamar. Jadi.. jadi.. ”“Tidak apa-apa, ini salahku. ”
    Saya masih tetap mencari-cari suatu hal untuk menutupi tubuhku yang telanjang polos, saat pada akhirnya saya juga sadar bila Alf juga telanjang. Kelihatannya dia fikir saya masih tetap di kamar sama Si Ricky, maka dari itu dia cuek saja turun ke bawah. Saya fikir telah terlambat untuk malu, toh Alf telah melihatku dari atas hingga ke bawah polos tanpa ada sehelai benangpun, terlebih saya telah tidak perawan sekali lagi, so malu apa. Cuek saja lah. “Kamu telah bisa balik, saya tidak apa-apa. ” Saya ambil remot TV selalu menyalakan TV. Saya setel VCD, saya fikir juga bagus saya santai sebentar sembari nonton TV. Alf juga kelihatannya telah cuek, dia berbalik namun tak akan melongo melihatiku telanjang, dia duduk sembari turut nonton TV.
    Gilanya yang saya setel jadi VCD BF. Namun telah tanggung, saya lihat saja, perduli sangat apa kata Si Alf, yang perlu saya dapat istirahat sembari nonton TV.

    “Bagaimana semalem? ” saya buka pembicaraan dengan Alf.
    Dia berbalik, “Hebat, Vivie betul-betul hebat. ”
    Alf telah dapat nyengir seperti umumnya.
    Saya mengangguk, “Ricky juga hebat, saya nyaris pingsan dibikinnya. ”
    Alf nyengir sekali lagi, lantas kami bercakap sembari kadang-kadang menengok TV. Sepertinya mustahil ada cowok yang tahan bercakap tanpa ada mikirin apa-apa sama cewek yang sekali lagi telanjang, terlebih sembari nonton film BF. Setiap kali ngomong saya tahu mata Alf senantiasa nyasar ke bawah, ka dadaku yang memanglah lumayan menggoda. Saya tidak memberikan pujian pada sendiri, namun memanglah dadaku cukup oke, ranum menggoda, bahkan juga lebih seksi dari milik Vivie, itu penyebabnya Alf tidak berhenti-berhenti melihati dadaku bila ada peluang. Ada sedikit rasa bangga juga di balik rasa maluku, serta sepintas kulihat penis Alf yang mulai tegang. Saya nyengir serta kelihatannya Alf tahu apa yang saya fikirkan.


    Dia pegang tanganku, “Boleh saya pegang, itu juga bila anda tidak keberatan. ” Wah berani juga dia, saya jadi sedikit tersanjung, selalu saya mengangguk. Alf geser ke sebelahku, dia peluk saya serta tangannya mulai remas-remas dadaku. Awal mula dia sedikit bebrapa sangsi, namun demikian tahu bila saya tidak nolak dia mulai berani serta semakin lama semakin berani, serta jarinya mulai nakal memelintir puting susuku. Saya mulai merem-melek sembari memutar tubuhku. Saat ini saya duduk di paha Alf berhadap-hadapan. Alf segera menyambar putingku serta lidahnya segera beraksi. Saya sendiri telah kebawa nafsu, saya mulai mengocok penisnya gunakan tanganku serta kelihatannya Alf juga senang dengan permainanku. Saya mulai terikut nafsu, serta saya telah tidak perduli apa yang dia kerjakan, yang pasti enak buatku.

    Alf menggendongku, kupikir ingin dibawa ke kamar mandi, soalnya kamar diatas ada Vivie sama Ricky, namun tebakanku salah. Dia jadi menggendongku ke luar, ke halaman villa. Saya kaget juga, bagaimana bila ada yang saksikan kami telanjang diluar. Namun demikian Alf buka pintu luar, saya lihat di seberang villa, sepasang cowok-cewek sekali lagi repot nge-sex. Cewek itu mendesah-desah sembari kadang-kadang berteriak. Saya saksikan sekali lagi ke sekelilingnya, nyatanya banyak pula yang nge-sex disana. Rupanya villa-villa di sekitaran sini memanglah tempatnya beberapa orang nge-sex. “Bagaimana? kita kalahkan mereka? ” Alf nyengir sembari menggendongku. Saya ikut-ikutan nyengir, “Siapa takut? ” selalu Alf meniduriku di rumput. Dingin juga sisa air hujan yang masih tetap membasahi rumput, punggungku dingin serta basah namun dadaku lebih basah sekali lagi sama liurnya Si Alf. Udara selain itu betul-betul dingin, telah di pegunungan, subuh-subuh sekali lagi. Wah tidak terbayang bagaimana dinginnya deh. Namun lama-lama rasa dingin itu hilang, saya jadi semakin panas serta nafsu, terlebih Alf jago benar mainkan lidahnya. Sayup-sayup saya dengarkan nada cewek dari villa seberang yang telah tidak karuan serta tak ada iramanya. Saya semakin nafsu sekali lagi mendengarnya, namun Alf kelihatannya lebih nafsu sekali lagi, dia itu seperti orang kelaparan yang seakan akan nelan dua gunung kembarku bulat-bulat.
    Lama juga Alf main-main sama dadaku, serta pada akhirnya dia pegang penisnya minta saya meng-”karaokei”-in itu penis yang besarnya lumayan juga. Dikarenakan barusan malam saya telah coba meng-”karaokei”-in penis Ricky, saat ini saya jadi kecanduan, saya jadi suka juga meng-”karaoke”-in penis, terlebih bila besarnya lumayan seperti miliki Si Alf. Maka dari itu tak perlu diminta 2 x, segera saja saya caplok itu penis. Saya tidak ingin kalah sama permainan dia di dadaku, saya hisap itu penis kuat-kuat hingga kepalanya jadi ungu sekali. Selalu kujilati dari mulai kepalanya hingga batang serta pelirnya juga tidak ketinggal.

    Kulihat Alf melihati bagaimana saya main dibawah sana. Kadang-kadang dia buka mulut sembari berdesah menahan nikmat. Saya belum juga senang juga, kukocok batang penisnya gunakan tanganku serta kuhisap-hisap kepalanya sembari kujilati bebrapa perlahan. Alf merem-melek juga serta tidak lama dia telah tidak tahan sekali lagi, kelihatannya sich ingin keluar, maka dari itu dia cepat-cepat melepas penisnya dari mulutku. Saya tahu dia tidak ingin usai cepat-cepat, maka dari itu saya tidak ngotot meng-”karaoke”-in penisnya sekali lagi.
    Alf berniat membiarkan penisnya istirahat sebentar, dia suruh saya terlentang sembari mengangkang. Saya menurut saja, saya tahu Alf jago mainkan lidahnya, maka dari itu saya suka sekali saat dia mulai jilati bibir vaginaku yang telah basah sekali. Benar saja, baru sebentaraku telah dibikin merem-melek dikarenakan lidahnya yang jago sekali itu. Kelihatannya habis semuanya sisi vaginaku disapu lidahnya, dari mulai bibirnya, klitorisku, sedikit kedalam ke daerah dinding dalam, hingga anusku juga tidak ketinggal dia jilati.

    Saya dengarkan, kelihatannya pasangan di seberang telah usai main, soalnya telah tidak kedengaran sekali lagi suaranya, namun saat saya saksikan kesana, saya kaget. Cewek itu sekali lagi meng-”karaoke”-in cowok, namun bukanlah cowok yang barusan. Cowok yang barusan nge-sex sama dia lagimembersihkan penisnya, mungkin saja dia telah senang. Saat ini cewek itu sekali lagi meng-”karaoke”-in cowok beda, lebih tinggi dari cowok yang barusan. Hilang ingatan juga itu cewek nge-sex sama dua cowok sekalian. Namun saya tarik sekali lagi omonganku, soalnya saya ingat-ingat, saya juga sama juga sama dia. Baru usai sama Ricky, saat ini sama Alf. Wah nyatanya saya juga sama gilanya. Saya nyengir sebentar, namun selalu merem-melek sekali lagi saat Alf mulai melintir-melintir klitorisku gunakan bibirnya.

    Alf betul-betul pakar, tidak lama saya telah mulai pusing, saya saksikan bintang di langit menjadi tambah banyak serta sepertinya mutar-mutar di kepalaku. Saya betul-betul tidak dapat ngontrol tubuhku. Ada seperti setrum dari selangkanganku yang terus menerus buat saya hilang ingatan. “Ah.. ah.. Alf.. Ah.. berhenti dahulu Alf.. Ah.. Ah.. Shh.. ” saya tidak tahan sama puncak nafsuku sendiri. Namun Alf jadi terus menerus melintir-melintir klitorisku. Saya betul-betul tidak tahan sekali lagi, saya kejang-kejang seperti orang ayan, namun sudahnya betul-betul enak sekali, sebagian menit lewat, semuanya tubuhku masih tetap lemas, namun saya tahu ini belum juga usai.

    Saat ini bagianku buat Alf merem-melek, maka dari itu saya paksakan duduk serta mulai menungging dimuka Alf. Alf sendiri kelihatannya memanglah telah tidak tahan menginginkan keluarkan maninya, dia tidak menanti lama sekali lagi, segera dia tusukkan itu penis ke vaginaku. Ada sedikit rasa sakit namun tidak sesakit pertama vaginaku dimasukkan penis Ricky. Alf tidak menanti lama sekali lagi, dia segera mengocok vaginaku serta tangannya tidak diam, segera disambarnya dadaku yang semakin ranum karna saya menungging. Diremasnya sembari dipelintir-pelintir putingnya. Saya tidak tahan digituin, terlebih tubuhku masih tetap lemas, tanganku lemas sekali, untuk menahan hentakan-hentakan saat Alf menyodokkan penisnya saja telah tidak kuat. Saya ambruk ke tanah, namun Alf masih tetap selalu mengocokku, dari belakang.

    “Ah.. euh.. ah.. aw.. ” saya hanya dapat mendesah setiap saat Alf menyodokkan penisnya ke vaginaku. Saya cobalah mengangkat tubuhku namun saya tidak kuat, pada akhirnya saya menyerah, saya biarlah tubuhku ambruk seperti gitu. Alf memutarkan tubuhku, selalu disodoknya sekali lagi vaginaku dari depan. Saya telah tidak dapat ngapa-ngapain, setiap saat Alf menyodokkan penisnya terkecuali dinding vaginaku yang tergores, klitorisku juga tergores-gesek, maka dari itu saya semakin lemas serta merem-melek keenakan.

    Alf memegang kaki kiriku, selalu diangkatnya ke bahu kanannya, selalu dia mengangkat kaki kananku, diangkatnya ke bahu kirinya. Saya diam saja, tidak dapat menampik, tempat apa yang dia menginginkan terserah, pokoknya saya menginginkan cepat-cepat disodok sekali lagi. Saya tidak tahan menginginkan segera dikocok. Nyatanya hasratku terkabul, Alf menyodokku sekali lagi, kakiku dua-duanya terangkat, mengangkang sekali lagi, maka dari itu vaginaku terbuka lebih lebar serta Alf semakin leluasa mengocok-ngocokkan penisnya. Vaginaku diaduk-aduk serta saya bahkan juga telah tidak dapat sekali lagi berdesah, saya hanya dapat buka mulut namun tak ada nada yang keluar.

    “Aku ingin keluar, saya ingin keluar.. ” Alf membisikkan sembari ngos-ngosan serta masih tetap selalu mengocokku.
    “Jangan di.. janganlah didalam. Ah.. ah.. oh.. saya.. saya tidak ingin.. hamil. ”
    Saya hanya dapat ngomong gitu, seenggannya maksud saya ngomong gitu, saya tidak paham apa suaraku keluar atau tidak, pokoknya saya telah usaha, itu juga telah saya paksa-paksakan. Saya tidaktahu apa Alf ngerti apa yang saya omongin, namun yang pasti dia masih tetap selalu mengocokku.
    Baru sebagian detik lewat, dia mencabut penisnya, kakiku segera ambruk ke tanah. Alf mengangkang di perutku, serta dia selipkan penisnya ke sela-sela dadaku yang telah montok sekali soalnya saya telah dipuncak nafsu. Kujepit penisnya gunakan dadaku, serta Alf mengocok-ngocok seakan masih tetap didalam vaginaku. Tidak lama maninya muncrat ke muka serta bekasnya di dadaku. Saya sendiri klimaks sekali lagi, kulepaskan tanganku dari dadaku, maninya mengalir ke leherku, serta mani yang di pipiku mengalir ke mulutku. Saya bahkan juga tidak dapat tutup mulutku, saya sangat lemas. Saya biarlah saja maninya masuk serta saya telan saja sekalian.
    Belum juga habis lemasku, Alf telah tempelkan penisnya ke bibirku. Saya memaksakan menjilati penisnya hingga bersih selalu saya telan sisa maninya. Alf menggendongku kedalam, selalu dia membaringkanku di sofa. Saya lemas sekali maka dari itu saya tidak ingat sekali lagi apa yang berlangsung setelah itu. Yang pasti baru jam 8. 00 saya baru bangun. Demikian saya buka mata, saya sadar saya masih tetap telanjang. Saya memaksakan duduk, serta saya kaget mengapa saya berada di kamar Vivie. Selalu yang buat saya lebih kaget sekali lagi, saya saksikan samping kiriku Alf masih tetap tidur sedang di kananku Ricky juga masih tetap tidur. Mereka berdua juga masih tetap telanjang seperti saya.

    Belum juga habis kagetku, Vivie keluar dari kamar mandi di kamarku, dia sekali lagi mengeringkan rambutnya serta keduanya sama masih tetap telanjang. Baru pada akhirnya saya tahu bila semalam Vivie bangun serta lihat saya sekali lagi nge-sex sama Alf. dia sich tidak geram, soalnya yang perlu untuk dia Alf cinta sama dia, masalah Alf memuaskan nafsu sama siapa, tidak jadi masalah untuk dia. Nyatanya Vivie lihat dari jendela bagaimana saya sama Alf nge-sex serta Ricky yang bangun subuh-subuh kaget lihat saya sekali lagi nge-sex sama Alf. Dia keluar kamar, kelihatannya ingin lihat apa benar saya sekali lagi nge-sex sama Alf, namun dia pernah menengok ke kamar samping serta lihat Vivie yang sekali lagi nonton saya sama Alf nge-sex dari jendela. Ricky segera bisa inspirasi, so dia masuk kedalam serta mengajak Vivie nge-sex juga. Singkat narasi mereka pada akhirnya nge-sex juga di kamar. Serta saat saya sama Alf usai, Alf menggendongku ke atas serta lihat Ricky sama Vivie barusan usai nge-sex. Maka dari itu kami berempat pada akhirnya tidur bareng di kamarnya telanjang bulat.


    Hehehe, tidak jadi masalah, kami berempat jadi semakin dekat. Kelak malam juga kami bakalan nge-sexlagi berempat, tidak jadi masalah untuk aku Ricky atau Alf yang jadi pasanganku, yang perlu saya senang. Tidak jadi masalah siapa yang muasin saya.Seperti gagasan kami awal mulanya, malam itu juga kami nge-sex berempat bareng-bareng. Asyik juga sekali-kali nge-sex bareng seperti gitu. Ricky tetap masih oke meskipun dia telah ngocok Vivie duluan. Saya masih tetap kerepotan hadapi penisnya yang memanglah hilang ingatan itu. Alf juga tidak kalah, biarlah dia masih tetap ngos-ngosan saat usai ngocok saya, dia segera sambar Vivie yang baru usai sama Ricky. Selalu kami nge-sex sekali lagi hingga pada akhirnya keduanya sama senang. Saya senang sekali, soalnya baru kesempatan ini saya dipuasi dua cowok sekalian tanpa ada jeda. Barusan usai satu, yang satunya telah menyodok-nyodok penisnya ke vaginaku. Pokoknya betul-betul senang sekali deh saya.

    Masuk ke narasi, malam hari ini kami gagasan akan tidak nge-sex sekali lagi, soalnya telah raih sekali dua hari gituan terus-terusan. Maka dari itu Ricky sama Alf segera menghilang demikian matahari mulai teduh. Mereka sich tentu main bola sekali lagi, tidak bakalan jauh dari itu. Vivie menggunakan saatnya di villa, sepertinya dia raih sekali, nyaris sepanjang hari dia di kamar. Saya jadi jemu sendirian, maka dari itu saya putuskan saya ingin berjalan-jalan. Kebetulan di dekat situ ada air terjun kecil. Akurencana ingin menggunakan hari ini berendam disana, agar tubuhku fresh sekali lagi serta siap tempur sekali lagi. Saya tidak segera ke air terjun, saya berjalan-jalan dahulu melingkari kompleks villa itu. Besar juga, serta villanya bagus-bagus. Ada yang serupa kastil semua. Selama jalan saya ketemu agak banyak orang, rata-rata sich beberapa orang yang memanglah sekali lagi menggunakan saat di villa sekitaran sini. Nyaris kebanyakan orang yang ketemu melihati saya. Mulai dari cowok bagus yang adadi halaman villanya, om-om genit yang repot menggodai cewek yang lewat hingga tukang kebun di villa juga melihati saya. Saya sich hanya nyengir saja membalas mata-mata keranjang mereka.
    Tidak aneh sich bila mereka melihatiku, problemnya saya memanglah gunakan baju pas-pasan, atasanku kaos putih punyanya Si Vivie yang kesempitan soalnya kamarku dikunci serta kuncinya terikut Ricky. Saya malas mencari dia, maka dari itu saya gunakan saja kaos Si Vivie yang berada di meja setrika. Itu juga saya tidak gunakan bra, soalnya bra Vivie itu sempit sekali di saya. memanglah sich dadaku jadi terlihat nonjol sekali serta putingnya terlihat dari balik kaos sempit itu, namun saya cuek saja, siapa yang malu, ini kan lokasi villa buat nge-sex, jadi beberapa sukai saya dong.

    Oh ya saya jadi lupa, bawahan saya lebih hilang ingatan sekali lagi. Saya tidak tega membangunkan Vivie hanya untuk minjam celana atau rok, kebenaran saja ada Samping Bali pengasih Ricky bulan lantas, ya saya gunakan saja. Saya ikat di kananku, namun setiap kali saya mengambil langkah, paha kananku jadi terbuka, ya cuek saja lah. Apa kelirunya sich memarkan apa yang bagus yang saya miliki, benar tidak?
    Singkat narasi, saya hingga ke air terjun kecil itu. Saya berjalan-jalan mencari tempat yang enak buat berendam. Kaosku mulai basah serta dadaku semakin terang terlihat, terlebih Samping yang saya gunakan, telah basah betul-betul terkena cipratan air terjun. Enak juga sich fresh, namun lama-lama semakin sulit jalannya, soalnya Samping saya jadi seringkali keinjak. Saya jadi menginginkan cepat-cepat berendam, soalnya fresh sekali airnya, serta saat saya menjumpai tempat yang enak, saya bersiap berendam, saya terlepas sandalku. Namun saat saya ingin melepas Samping-ku mendadak ada tangan yang memegang bahuku, saya berbalik nyatanya seseorang cowok menodongi pisau lipat ke leherku. Saya kaget camput takut, namun dengan perasaan saya diam saja, salah-salah leherku kelak digoroknya.


    “Mau.. ingin apa lo ke gue? ” saya bertanya ke orang yang sekali lagi nodong pisau ke saya. Saya tidak berani saksikan mukanya, soalnya saya takut sekali. Nyatanya cowok itu tidak sendiri, seseorang rekannyamuncul dari balik batu, rupanya mereka memanglah telah ngincar saya dari barusan. Rekannya itu segera buka baju serta celana jeans-nya. Saya tebak bila mereka ingin memperkosa saya. Nyatanya tebakanku benar, orang yang menodongi pisau bicara, “Sekarang lo buka semuanya baju lo, cepet sebelumnya kesabaran gue habis! ” Saya jadi ingat bagaimana korban-korban perkosaan yang akulihat di TV, saya jadi ngeri. Jangan-jangan demikian mereka usai perkosa saya, saya dibunuh. Maka dari itu saya beranikan diri ngomong bila saya tidak keberatan muasin mereka asal mereka tidak bunuh saya.

    “Oke.. oke, saya buka baju. Kalem saja, saya tidak jadi masalah muasin elu berdua, namun tak perlu gunakan nodong semua dong. ” Saya berupaya ngomong, walau sebenarnya saya sekali lagi takut 1/2 mati. Orang yang nodongin pisau jadi membentak saya, “Goblok, mana ada cewek ingin diperkosa, elu janganlah macem-macem ya! ” Saya semakin takut, namun otakku segera bekerja, “Santai dong, emangnya gue berani gunakan baju ginian bila gue tidak siap diperkosa orang? Lagian apa gue dapat lari gunakan samping seperti ginian? ” Ke-2 orang itu melihati saya, selalu pada akhirnya pisau itu dilipat sekali lagi. Saya lega 1/2 mati, namun ini belum juga usai, saya masih tetap mesti puasin mereka dahulu.

    Saya mulai buka Samping-ku, “Maunya bagaimana, berdua sekalian atau satu-satu? ” Orang yang barusan nodongin pisau lihat ke orang yang satunya, “Eloe dahulu deh. Gue sekali lagi tidak demikian mood. ” Rekannya mengangguk-angguk serta segera mencaplok bibirku. Saya bebrapa saksikan, ganteng juga nih orang. Saya balas ciumannya, dia kelihatannya mulai lebih halus, bebrapa perlahan dia remas dadaku serta tahu-tahu saya telah ditiduri diatas batu yang lumayan besar. Dia tidak segera main sodok, dia lebih suka main-main sama dadaku, maka dari itu saya jadi lebih santai, so saya dapat nikmati permainannya.

    “Ah.. yeah.. ah.. siapa.. siapa nama loe? ” saya bertanya di balik desahan-desahanku menahan nikmat. Dia nyengir, serupa sekali Si Alf, dia selalu buka celana dalam birunya, serta penisnya yang telah tegang sekali segera muncul seperti telah tidak sabar menginginkan menyodokku. Tak perlu diminta, saya segera jongkok, tanganku memegang batangnya serta nyatanya masih tetap menyisa sekitaran 5 – 7 senti. Saya jilat kepala penisnya selalu saya kulum-kulum penisnya. Dia mulai nikmati permainanku, “Oke.. selalu.. selalu.. Yeah.. ” Nyatanya ada pula cowok yang menyukai berdesah-desah seperti gitu bila sekali lagi nge-sex. Saya berhenti sebentar,

    “Belum dijawab? ”
    “Oh, sorry. Nama gue Jeff. ”
    Dia menjawab sembari selalu merem-melek nikmati penisnya yang saya kulum serta kuhisap-hisap. Kulihat-lihat kelihatannya saya kenal suaranya.
    “Elo tinggal disini juga ya, elu yang lusa tempo hari ngentot di halaman villa? ”
    Jeff kaget juga saat saya ngomong gitu.
    “Memang elu tahu dari tempat mana? ”
    Saya nyengir selalu saya lanjutkan sekali lagi mengisap penisnya yang telah basah sekali sama liurku.
    Saya berhenti sekali lagi sebentar, “Gue saksikan elu. Hilang ingatan lu ya! berdua ngentotin cewek, keliatannya masih tetap kecil sekali lagi. ” Jeff nyengir, “Itu adik kelas gue, dia baru 15 th., namun bodinya oke sekali. Gue ajakin kesini, serta gue entot bareng Si Lex. Dia sendiri kelihatannya sukai digituin sama kami berdua. ” Saya tidak melanjutkan sekali lagi, saya berhenti serta segera mencari tempat yang enak buat nungging. Jeff tahu maksudku, dia segera menyodok penisnya ke vaginaku bareng sama nada eranganku. Selalu dia mulai mengocok, awalnya sich bebrapa perlahan selalu lebih cepat. Selalu serta selalu, saya mulai merem-melek dibikinnya. Selalu dia cabut penisnya, saya digendong serta dia masukan penisnya sekali lagi ke vaginaku. Selalu dia mengocok saya sembari bediri, seperti style ngocoknya Tom Cruise di film Jerry Maguire. Vaginaku seperti ditusuk-tusuk keras sekali serta saya semakin merem-melek dibuatnya. Serta pada akhirnya saya tidak tahan sekali lagi, saya kejang-kejang serta saya menjerit panjang. Pandanganku kabur, serta saya pusing. Saya nyaris saja jatuh bila Jeff tidak cepat-cepat memegangi pinggangku.


    Saya sekali lagi nikmati puncak kepuasanku, mendadak seseorang tengah mendekatiku, kelihatannya saat ini dia nafsu sekali dikarenakan dengarkan desahan-desahanku. Dia telah telanjang serta penisnya telah tegang sekali. Saya tahu dari mukanya bila dia sedikit kasar, maka dari itu saya sedikit cing-cong sekali lagi, saya segera maksakan bangun serta jongkok meng-”karaoke”-in penisnya. Penisnya sich tidak besar-besar sekali, namun saya ngeri juga lihat otot-otot di sekitaran paha serta pantatnya. Jangan-jangan dia bila ngocok sekeras-kerasnya. Bisa-bisa vaginaku jebol.

    Lama juga saya meng-”karaoke”-in penisnya, serta pada akhirnya dia suruh saya berhenti. Saya menurut saja, serta segera ambillah tempat menungging. Saya telah pasrah bila dia akan menyodok-nyodok vaginaku, namun kesempatan ini tebakanku salah. Dia tidak masukan penisnya ke vaginaku, namun segera ke anusku. “Ah.. aduh.. ” anusku sakit soalnya sekalipun tak ada persiapan. Namun rupanya Lex tidak perduli, dia tetaplah maksakan penisnya masuk serta memanglah pada akhirnya masuk juga. Meskipun penisnya kecil namun bila digunakan nyodok anus sich ya sakit juga. Benar sangkaan saya, dia bila nyodok keras sekali selalu tidak gunakan pemanasan-pemanasan dahulu, segera kecepatan tinggi. Saya hanya dapat pasrah sembari menahan perih di anusku. Dadaku goyang-goyang setiap kali dia menyodok anusku, serta kelihatannya itu buat dia semakin nafsu. Dia lebih kecepatan serta mulai meremas dadaku.

    Betul-betul kontras, dia mengocok anusku cepat serta keras, namun dia meremas dadaku halus sekali serta kadang-kadang melintir-melintir putingnya. Mendadak rasa sakit di anusku hilang, saya mulai rasakan enaknya permainan tangannya di dadaku. Belum juga habis saya nikmati dadaku diremas-remas, tangan kirinya turun ke vaginaku serta segera menyambar klitorisku, dari mulai digosok-gosok hingga dipelintir-pelintir. Rasa sakit kocokannya telah betul-betul hilang, saat ini saya hanya rasakan enaknya semua badanku.

    Saya mulai merem-melek kegilaan serta pada akhirnya saya hingga ke puncak yang ke-2 kalinya hari itu, serta berbarengan puncak kenikmatanku, saya rasakan cairan hangat muncrat di anusku, saya tahu Lex juga telah tiba puncak serta saya telah lemas sekali, pada akhirnya saya ambruk. Mungkin saja saya kecapaian soalnya tiga hari ini saya terus menerus mengocok, berbeda satu orang sekali lagi, senantiasa berdua. Saya masih tetap pernah saksikan Jeff menggendong saya sebelumnya pada akhirnya saya pingsan. Saya tidak paham saya di mana, namun saat saya bangun, saya kaget lihat Ricky sekali lagi mengocok cewek. Cewek tersebut repot mengulum-ngulum penisnya Alf. Saya paksakan berdiri, serta saat saya saksikan di sofa samping, ada panorama yang nyaris sama, bedanya Jeff yang sekali lagi repot mengocok cewek serta saya bebrapa saksikan nyatanya cewek itu Vivie. Vivie juga repot mengulum-ngulum penis Lex. Saya jadi bingung, namun saya tetaplah diam hingga mereka usai main.


    Selalu saya dikenali sama cewek mungil yang barusan nge-sex bareng Ricky serta Alf, namanya Angel. Saya baru ingat bila barusan saya pingsan di air terjun habis muasin Jeff sama Lex. Nyatanya Jeff bingung ingin bawa saya ke mana, kebenaran Ricky serta Alf lewat. Mereka pernah ribut sebentar, namun pada akhirnya akur sekali lagi, dengan catatan mereka dapat menyicipi Angel ceweknya Jeff sama Lex. Angel sendiri sepakat saja sama ajakan Ricky sama Alf, serta saat mereka sekali lagi mengocok, Vivie kebetulan lewat. Alf menyebut dia serta dikenali sama Jeff serta Lex, selalu mereka pada akhirnya nge-sex juga. Semakin asyik juga, saat ini lebih sekali lagi satu cewek serta dua cowok di grup kami, dan sebagainya kami jadi seringkali main ke villa itu untuk muasin nafsu kami semasing.

  • Cerita Sex Dewasa Menikmati Ngentot Dengan Merry Pemikmat Rangsang

    Cerita Sex Dewasa Menikmati Ngentot Dengan Merry Pemikmat Rangsang


    2868 views

    Link BokepNarasi Seks Dewasa di Curi, di Melarikan dan di Setubuhi – Awalnya ada pula cerita cabul yang membuat birahi seksual anda segera naik berjudul Narasi Seks Pemerkosaan Paling nikmat Ditiduri Bapak Tiri. Tahun 2014 pada bulan Januari, tidak berasa telah tiga tahun pernikahanku dengan Merry, rekan satu universitas di Jakarta satu jalur. Wanita turunan Tiong Hoa yang saat ini telah berumur 31 tahun, lebih muda tiga tahun dari saya sendiri. Sejak lulus Master pada sektor management, kegiatan rutin tugas sudah tunda akan kedatangan anak.

    Untung saja hal tersebut rupanya tidak mengusik keserasian dalam keluargaku. Kita sama-sama memahami dan mengerti akan aktivitas masing-masing dan masih tetap jaga kesetimbangan di antara tugas dan jalinan intim. Di kota Bandung ini kehidupanku dengan Merry termasuk telah mapan. Rumah dengan lantai dua di perumahan termasuk elit, mobil 2 buah yang masing-masing dipakai oleh Merry dan saya sendiri terlihat menghias garasi rumah itu. Tugas dan kedudukan yang tinggi di antara saya imbang dengan tugas Merry sebagai office manajer dalam suatu perusahaan advertensi terkenal.
    Di umurnya yang telah kepala tiga, kecantikan Merry masih benar-benar terbangun. Sebagai pujaan di periode kuliah dahulu, Merry memang populer karena kecantikan dan muka ciri khas nya sebagai turunan bangsa timur. Kulit putihnya masih tetap lembut dan mulus terurus. Keelokan badannya masih tetap tetap sama seperti saat saya semaksimal mungkin memburu untuk memperoleh hatinya di periode kuliah.

     

    Narasi Seks Dewasa di Curi, di Melarikan dan di Setubuhi
    Narasi Seks Terkini Pada akhirnya keserasian dan ketenangan di rumah tanggaku terdobrak dengan peristiwa hebat yang menerpaku dan Merry pada awal tahun ini. Sebuah peristiwa yang betul-betul membuat saya sebagai suami meradang kemarahan dan sakit hati dan menjadi musibah besar untuk Merry istriku.
    Peristiwa ini diawali di saat saya dan Merry lagi ke rumah sesudah makan malam bersama pada sebuah akhir minggu yang berhiaskan hujan deras di Bandung. Jam sepuluh malam pas saya memarkirkan BMW 320i hitamku dalam garasi rumah. Cuaca yang tidak memberikan dukungan membuat saya dan Merry malas habiskan malam di luar rumah. Apalagi pada malam itu Merry telah menyaratkan kemauan untuk melewati malam secara berduaan saja di dalam rumah.
    Sesudah keluar mobil dan masuk ke ruangan tengah, Merry terlihat segera ke kamar untuk ganti baju, sedangkan saya menghenyakkan badanku ke sofa dan melihat acara humor yang terdapat setiap hari itu, cukup melipur . Beberapa saat selanjutnya terlihat Merry keluar kamar sekalian menggelung rambut panjangnya ke atas sekalian membereskan dasternya, kelihatan kemolekan dan keelokan badannya yang prima buatku waktu itu.
    “Saya mandi dahulu ya mas” bilangnya sekalian membereskan daster mandinya yang warna ungu tersebut. Keseksian kelakuannya yang bikin gemas tanda jika malam hari ini Merry inginkan ada jalinan intim yang spesial.
    Saya menggangguk saja sekalian memantau Merry ngeloyor ke kamar mandi tanpa berusaha tutupi sisi depan dasternya yang masih belum dikancingkan. Beberapa saat selanjutnya telah kedengar shower air yang isi bathtub di dalam kamar mandi kami. Aku juga bergerak ke kamar sekedar untuk tiduran dan memikirkan aktivitas malam hari ini. Sekalian menanti di ruang tidur kulewatkan waktu sekalian dengarkan alunan piano Richard Clayderman yang didengar merdu dalam kamar. Tidak berapakah lama selanjutnya Merry dah masuk meng ikuti saya ke ruang tidur. Berbau harum wangi badannya benar-benar menarik malam tersebut. Ia juga lantas merebahkan badan moleknya di sampingku, rapatkan ke badanku seperti cari kehangatan. Aku juga merengkuh dan mencium kening wanita yang kucintai ini. Senyumnya yang memabukkan itu selekasnya membuat gairahku membara. Merry juga telah bernafsu sepertinya, dengan perlahan-lahan ia beringsut ke atas badanku yang tetap menggunakan piyama komplet. Sekalian mainkan kancing bajuku ia tundukkan mukanya, mendesak hidungku dan aku juga saat itu juga itu rasakan kehangatan dari badannya, payudaranya yang tetap terbungkus daster ungunya berasa hangat menekan dadaku. Selekasnya kami terlarut dalam cumbuan yang demikian mesra waktu itu.

    “Kreek….kreekk…krosak..krosak”, suara yang didengar lumayan keras dari ruangan tengah itu segera membuat kami sadar dari pemanasan. “Apa itu mas?”,bisik Merry sekalian turun dari tempat tidur, membereskan pakaiannya dan menggelung rambutnya.
    “Nantikan saja di sini ma”, jawabku sekalian turut turun melihat ruangan tengah yang kebenaran tetap jelas karena lampu besar yang berpijar tersebut. Perlahan-lahan saya mengelilingi ruangan tengah, kosong,tv yang tetap berpijar dengan suara perlahan-lahan tidak matikan. Ke arah ruangan tamu yang telah gelap. “Ctek..”,sakelar lampu kunyalakan, menyaksikan sekitar,tidak terjadi apa-apa. Pada waktu kembali, “DEG…”,pintu samping ke arah garasi rupanya terbuka sedikit. Rupanya lupa tidak digembok saat saya pulang barusan. Rasa khawatir mulai menghinggapi diriku, selekasnya ku tutup pintu itu dan sekalian saya kunci. Tau-tau “Pettt…”,lampu tengah mati sendirinya, begitupun lampu kamar,kamar makan, dapur dan rupanya semua lampu di rumahku mati. “Sialan..siapa ini yang melakukan perbuatan?” pikirku sekalian gelapgapan cari senter dan korek api.

    “Mas….Mas…”kedengar suara Merry panggil manggil dari dalam kamar.
    “nanti ma…nyari senter”,jawabku sekalian terus cari posisi almari kabinet yang berada di dekat pintu samping.
    Gludukk…gludukk…krosakk…..
    Kedengar suara ribut yang entahlah darimanakah aslinya. “Maassss…..Maasss….Mmaahhppp…MMhmp…hmmppp..” kedengar seperti suara Merry.
    “Maa…kenapa kamu?” teriakku sekalian secepat-cepatnya segera lagi ke ruang tidur ku yang gelap.
    “Dukkk…Deepp….Buukk..Buukk..” berasa sebuah pukulan keras dan mutlak membantai pelipisku,perut dan dengan telaknya menghajar paling akhir daguku yang membuat saya segera terhuyung ke samping.
    Paling akhir yang kuingat ialah bentrokan kepalaku dengan kerasnya keramik lantai kamar ku. Saat itu juga mataku berkunang kunang, pedih berasa di pelipis dan tulang igaku berasa sakit sekali. Saat sebelum saya sebelumnya sempat banyak berbuat, sepasang tangan kekar sudah menyaut bahuku, memaksakan mendudukkan saya, selanjutnya tanpa bias banyak berbuat, tangan itu menggeret saya masuk ke kamar.
    “Telah tidak sadarkan diri sepertinya”, kata itu yang pertama kalinya kudengar selanjutnya. Suara berat dari lelaki yang saya tidak tahu siapa. “Ikat ia kuat kuat”,suara lain kedengar tidak dekat dari posisiku terduduk dekarang.
    Dalam perhitungan detik saja, berasa ke-2 tanganku ditelikung ke belakang dan sepasang tangan lainnya dengan cepat mengikat tanganku dengan tali ke sebuah bangku. Tidak sampai semenit selanjutnya saya tidak bias gerakkan tangan atau kaki ku kembali karena terlilit dengan demikian kuatnya di atas bangku. Sreettt….sreettt…..suara robekan dan selanjutnya sebuah lakban hitam demikian kerasnya membekap mulutku sampai ke pipi ku.
    “ctek..”lampu kamar tau-tau berpijar. ” Aaahhhhhh….Ahhhhhhh..”jeritan Merry demikian kuat dari samping sudut kamar membuat saya kaget sekalian meredam pusing dan perih di kepalaku. Dan langsung kusaksikan ialah 3 orang lelaki berpostur besar dan kekar sudah bersama-sama di kamarku sekarang ini. Dan Merry terlihat sedang menantang lelaki ke-3 yang berusaha membekuknya,menyudutkan ke pojok kamar dan menekap mulutnya. Seorang kembali langsung mendekati dan turut menolong membekuk istriku yang liar menantang sekalian menyepak nendang. Saya tidak dapat melakukan perbuatan apa apa menyaksikan peristiwa tersebut.
    “Diam..!!Diam….!! Ingin kubunuh kamu!!”, hardik seorang lelaki sekalian menodongkan sebilah pisau ke leher Merry. “Toloooongg..!!”teriak Merry yang pada akhirnya dihenyakkan paksakan telungkup di lantai. Sebuah sapu tangan terlihat disumpalkan ke dalam mulut istriku dan di ikat kan ke belakang kepalanya, sedangkan ke-2 tangan dan kakinya terlihat sedang di ikat dengan tali warna merah,perlawanan nya nampaknya sia sia karena harus bertemu dengan 3 orang lelaki sekalian yang kelihatan demikian kuat tubuhnya.
    Selanjutnya yang kelihatan ialah diriku yang terlilit kuat di atas bangku tidak memiliki daya dan Merry istriku yang mendekap di lantai sekalian menangis tersedu-sedu dengan mulut tersumpal, tangan terlilit ke belakang dan ke-2 kaki terlilit di betisnya.
    Perlahan-lahan saya mulai temukan kesadaran diriku sendiri dan memulai terang menyaksikan keadaan yang terjadi, terang mereka bertiga sedang mencuri rumah kami dan saat ini telah sukses melumpuhkan saya dan istriku.
    “Mencari barangnya wok..”,perintah seorang pada mereka. Yang diundang wok selekasnya mengobrak abrik kamar kami, cari barang bernilai,sementara seorang kembali melihat keluar kamar dari jendela, memperhatikan keadaan dan pimpinan mereka sepertinya tengah menghunus pisau pas dari sisi kepalaku. “Mengharap saja uangnya bertemu dan ini selekasnya usai boss”,bilangnya dengan dingin kepadaku. “Dan tidak ada yang hendak cedera”.

    Wok terlihat tetap mengobrak abrik almari,cari uang yang mereka anggap ada dalam almari walau sebenarnya bukan disana kami simpan uang dan barang bernilai kami yang lain. Peti uang justru ada di ruangan kerjaku di samping dapur. Tetapi itu sudah pasti tidak dikenali oleh mereka.
    “Tidak bertemu ndan..”, kata Wok
    “kamu yang benar carinya” gertak komandan nya
    “Benar tidak ada di sini ndan”, jawab Wok
    “Brakkkkk….!!”, sepakan keras ke bangku ku mebuat saya terhuyung
    “Di mana kamu taruh uang tersebut..Haa!!”, gertaknya sekalian dekatkan pisaunya ke leherku.
    Saya hanya geleng-geleng saja….sekalian melihat istriku yang semakin ketakutan dengan tingkah mereka.
    “Jawab!!!…Bego kamu”. “Plakk…”, pukulan keras berkenaan pipiku membuat perih dan mata berkunang kunang, tapi saya pun tidak memberikan jawaban.
    “Ndan….ada yang melalui” kata orang yang berjaga-jaga di atas jendela
    “Siapa Jon..??”, jawab sang komandan
    “Tidak tau….tetangga mungkin kembali ke rumah”, balas Jon sekalian terus mengincar keluar jendela.
    “Kamu jangan bermain bermain yha dengan aku”,desis komandan sekalian tempelkan pisaunya lebih ketat ke leherku, membuat darahku berhembus rasakan mata pisau yang dingin melekat pada kulit leherku.
    “Saat ini kamu kasih tahu di mana uang kamu”, kata sang komandan. Sementara wok bergerak mendekati Merry.
    “Mungkin istrinya tahu ndan..” kata Wok
    Komandan terlihat berpikiran sesaat, melihat Merry dan melihat saya berhgantian.
    “Coba bertanya istrinya..!!” desis komandan pada akhirannya.
    “Sreet…”, Wok terlihat menghunus pisaunya dan dekati Merry yang mendekap ketakutan.
    “Seharusnya kita bisa berita bagus dari nyonya…hehe”,kata sang Wok pada Merry
    “Kasih tahu di mana kamu nyimpan uangmu nyonya cantik’, sekalian memberikan ancaman muka Merry dengan pisau belati mengkilatnya.
    “Hmmppff…”, Merry kelihatan tidak ingin menjawab dan justru menangis kembali lebih keras.
    “Diam kamu..!! Diam…!! Bodoh”, hardik Wok yang nampaknya semakin geram menyaksikan istriku menangis dan membuat suara ribut.
    Dengan kasarnya istriku dibalikkan dan Wok menghunus pisaunya dekat muka Merry. Dan berikut awalnya dari musibah seterusnya, karena demikian badan Merry dibalikkan karena itu sisi dasternya yang terkuak terlihat tampilkan belahan dan sisi atas dari payudaranya yang terang membuat wok terpana dengan panorama tersebut. Jon juga yang bekerja mengincar keluar pada akhirnya justru melihat dengan kagum pada panorama itu, panorama dada istriku yang terlihat hidup turun naik bersamaan napasnya dan coba bertahan tidak untuk menangis.
    “Weeiiittss….mantab neh nyonya”, wok yang sekalian menghunus pisau kelihatan sekali benar-benar nikmati panorama istriku tersebut.
    “Ndan….ndan…”,panggil wok sekalian melihat komandan lantas matanya mengerling ke istriku yang tetap menangis tersebut.
    Komandan lantas mendatanginya, berjongkok dekat istriku yang ketakutan. Tangan nya terlihat mengelus muka istriku. “Janganlah sampai kami melakukan perbuatan kasar sama Nyonya, lebih bagus nyonya kerja sama sama kita yha”, katakan komandan sekalian terus menyeka muka,pipi dan leher istriku. Darahku mulai tersirap dengan yang mereka kerjakan pada istriku tersebut.
    “Dadanya ndan…..teteknya putih sekali ndan”, canda wok yang segera membuat saya berontak keras, menghentakkan kaki bangku tempatku di ikat ini.
    “Duukkk….Plakkk”, sepakan dan pukulan keras dilancarkan sang Jon yang bergerak dari jendela jalan ke arahku, membuat iga ku terasanya hancur dan cuma bisa menunduk. Sementara Jon gabung dengan 2 temannya di sudut yang mengerubungi istriku. “Jangan beberapa macam kamu!!”, hanya itu yang ia katakan sekalian berakhir melaluiku.
    Saat ini ke-3 nya terlihat mengerubungi istriku, dan saya percaya tentu mereka memiliki niat jelek pada Merry.
    “MMMhhppppp…..mhhpppp”, suara Merry yang terbungkam, ternyata ia tidak menangis kembali, terlihat dari posisiku ia meronta ronta seolah akan menantang, saat komandan berdiri, rupanya kelihatan dengan kurangajarnya tangan Wok menelusup ke kembali daster Merry,sementara tangan satunya meredam badan Merry agar masih tetap terlentang. Saya geram bukan bermain tapi pun tidak dapat melakukan perbuatan apa apa menyaksikan peristiwa tersebut. Terlihat tangan kiri wok meremas remas payudara kanan Merry,saat ini tempatnya justru menindih Merry, kakinya mengamankan pergerakan pinggul Merry hingga tangan nya bebas menggerayangi payudaranya.
    “Haluuss dan kenyal sekali neh tetek…”, canda Wok yang makin bernafsu
    Remasan itu terkadang diselipin memilin milin puting susu Merry yang tidak kenakan BH dibalik dasternya, pilinan itu membuat badan Merry menggerinjal sampai meliuk keatas, membusungkan dadanya berusaha menghindar dari gerayangan tangan Wok dan meronta kanan kiri, tapi hal tersebut sia-sia saja karena posisi badannya yang ditindih Wok seolah terkunci dan tidak dapat bergerak banyak.
    “heee….heeee….mending kamu nikmati saja montok”, sergah Wok seolah menghina.
    “Sreett…”, daster yang digunakan Merry diungkap kasar ke kiri, memperlihatkan payudara kanan nya yang terlihat putih membusung,demikian mulusnya payudara istriku kelihatan kontras dengan tangan Wok yang hitam tersebut. Masih memegang daster istriku agar masih tetap terbuka, Wok terlihat terkesima menyaksikan panorama dibawahnya. Putting susu istriku yang terlihat demikian muncul itu seperti sebuah buah anggur ranum di atas buah melon yang demikian bundar. Putting warna kecoklat-coklatan itu kelihatan bergerak turun naik bersamaan napasnya, lingkaran susu disekitaran putingnya seolah membesar kontras dengan kulit payudaranya yang putih mulus seperti lilin.
    “Hiii…hiii..hiii…,Mama…mama…aku mimik cucu dong”,canda Wok yang oleh kurang ajarnya matanya melotot menyaksikan putting susu Merry. Mulutnya mulai merapat sekalian berwujud monyong monyong ke dada istriku.
    “cuupp…cuppp…mmuuahhh”,goda Wok oleh kurang ajarnya memonyongkan bibirnya.
    Istriku segera berontak kembali dengan keras dan sukses membuat badannya telungkup kembali.
    “Hadooohh….nih nyonya bandel sangat sich”, gerutu Wok karena pegangan nya lepas. Dengan sekenanya ia berusaha mengubah badan Merry yang berontak dengan liar. Sisi mana saja dari Merry berusaha ia kunci kembali, tangan nya pada akhirnya sukses menekan pinggang dan dada istriku, dengan spontan tangan Wok mengamankan pundak istriku dan menelikungnya, lantas dengan sekenanya ia mengelitik ketiak Merry, mengelitik perut dan pinggangnya yang membuat Merry menggerinjal gerinjal kegelian. “Hayooo….hayooo…rasakan…”,sergah Wok yang tetap mengelitiki sisi samping payudaranya sekalian menekan badannya ke lantai.
    “Breettt…”,Jon terlihat repot mengaitkan sebuah tali di ujung tempat tidur kami. “Membawa ke atas saja wok daridapa bermain di lantai”, bilangnya sekalian bergerak ke tempat tidur bawah dan memulai mengaitkan sebuah tali .

    Komandan pada akhirnya mendekati wok dan lantas mereka berdua menuntun badan Merry yang meronta ronta ke atas tempat tidur. Ikatan tali di pergelangan tangan istriku dilepaskan mereka tapi saat itu juga itu ke-2 tangan istriku direntangkan kuat ke samping ujung tempat tidur oleh Jon dan Wok. Komandan terlihat berusaha menangani Merry yang meronta dengan menindih badannya terlentang, sedangkan Wok dan Jon masing-masing berusaha mengikat tangan istriku ke ujung tempat tidur. Dua menit berakhir pada akhirnya ke-2 tangan Merry sukses di ikat dengan kuatnya ke ujung tempat tidur dalam posisi terentang. Komandan lantas menggelosor ke bawah, melepas ikatan di kaki Merry sementara Wok dan Jon siap-siap dengan memegang pergelangan kaki Merry. Hal yang masih sama mereka kerjakan dan sesaat selanjutnya yang terlihat kelihatan ialah istriku Merry yang terbujur terlentang dengan posisi seperti huruf X di tempat tidur, ke-2 tangan dan kakinya masing-masing terlilit dengan kuatnya ke pojok sudut tempat tidur. Benar-benar sesuatu panorama yang menakutkan bagiku tapi kelihatannya itu membuat mereka bertiga benar-benar kesenangan. Merry dengan mulut tetap tersumpal terlihat tersengal-sengal dalam bernafas menangani keadaan yang terjadi kepadanya. Yang dapat dilaksanakan cuma geleng-geleng gelengkan kepala karena ke-2 tangannya tertarik sama demikian kuatnya oleh ikatan itu, tidak sedikitpun ia dapat gerakkan atau menekuk lengannya, ini membuat dadanya selalu terlihat membusung dan turun naik bersamaan napasnya.
    Sang komandan ternyata tidak demikian tertarik dengan keadaan begitu, karena ia terlihat ngeloyor melaluiku dan keluar kamar. Ternyata untuk ia uang dengan jumlah besar ialah yang khusus untuknya. Lain dengan Wok dan Jon yang ternyata telah terkuasai gairah menyaksikan posisi istriku telentang tidak memiliki daya. Wok terlihat perlahan-lahan dekati sisi bawah tempat tidur, lantas dengan perlahan-lahan juga badannya mulai menindih badan Merry yang terlihat meronta dan meregangkan badannya berusaha untuk menghindari.
    Tapi sia-sia karena posisi kaki Wok saat ini telah mengamankan pinggulnya. Ke-2 tangannya mulai menggerayangi perut Merry, bergerak keatas, rasakan dada yang membusung demikian kenyal di pegangan jemari jarinya. Pada akhirnya kancing daster istriku mulai dibuka satu-satu. Sesudah kancing tersebut terbuka semua, tangan Wok menguak segi sisi daster itu ke samping kanan dan kiri. Panorama yang terlihat selanjutnya membuat mereka berdua menelan ludah masing-masing. Badan Merry yang 1/2 terhimpit memperlihatkan perut yang sedikit gendut tapi benar-benar menarik, pusarnya terlihat terang di tengah-tengah tengah kulit perutnya yang mulus tersebut. Sepasang payudara yang montok terlihat tegak melawan agar selekasnya dimainkan, dengan sepasang putting susu kecoklat-coklatan yang mulai kelihatan tegak mengacungkan benar-benar bikin gemas agar selekasnya dicicipi. Leher tingkatan nya benar-benar menarik agar selekasnya di cium. Dan lengan nya terlihat demikian bundar montok terpentang ke segi kanan kiri tempat tidur, memperlihatkan lembah ketiak yang demikian mulus dan membuat dua lelaki itu tidak sabar untuk merasainya.
    Wok tidak stop sampai di sana saja, pisaunya langsung menelusup ke lengan pakaian istriku, dan Breett…..daster itu lepas prima dari badan Merry. Dengan sekali sentakan daster itu direnggutkan dari bawah punggung Merry dan disingkirkan ke lantai. Tinggal lah Merry menggunakan CD warna biru muda yang tutupi sisi bawah badannya.
    Itil V3
    Jon yang ada disebelah atas tempat tidur dekat ke-2 tangan istriku terlilit lantas terlihat longgarkan sumpalan di mulut istriku. Saat sebelum kain itu dilepaskan, wok sebelumnya sempat memberikan ancaman dengan pisaunya agar istriku masih tetap diam dan tidak bergerak. Sesudah kain sumpal mulut itu dilepaskan, Merry Hanya dapat melihat takut pada ke-2 orang itu, yang jelas sudah akan melakukan tindakan tidak menggembirakan pada dianya.
    Wok lantas beringsut ke tepi badan istriku, melepas gelungan rambut Merry hingga rambutnya terurai lepas makin menambahkan kecantikan dari istriku tersebut. Tangan nya awali dengan meraba-raba perut Merry yang datar itu, mengelus elus pinggang dan pusarnya, membuat Merry cuma dapat mengalihkan mukanya tidak dapat untuk menantang.
    Gerayangan tangan wok terus ke arah payudaranya, rasakan demikian padat dan kenyalnya payudara Merry. Merry yang diberlakukan semacam itu pada akhirnya cuma dapat meredam tangisnya, makin lama usapan tangan wok disekitaran payudaranya pada akhirnya membuat tangisnya pecah kembali.
    “Sssttt….diam kamu…diam kamu..!!”, hardik wok sekalian mencekik leher Merry. Membuat Merry terhenyak termenung ketakutan 1/2 mati. Wok melepas cekikan tangan nya pada leher Merry dan tangannya menelusur lagi ke bawah melalui leher pundak dan menyeka ketiaknya. Saat itu juga Merry menggerinjal kegelian, karena saya tahu pada bagian tersebut salah satunya titik badannya yang paling sensitive. Wok terlihat mengetahui hal tersebut, ia terlihat terkesima dengan reaksi kegelian Merry, ia terlihat berpikiran suatu hal dan lantas menindih lagi badan Merry di bagian perutnya. Saat sebelum melakukan tindakan selanjutnya ia terlihat memerintah Jon lakukan suatu hal buatnya, tidak terang apa yang disuruh karena Jon terlihat mengambil langkah keluar sekalian terkekeh kukuh.
    “Saat ini waktunya kembali lagi ke masalah kita ya sayang”,canda Wok sekalian merengkuh kuat badan istriku.
    “Kamu ucapkan di mana kamu simpan uang karena itu ini tidak akan lama akan usai”,tambahnya.
    Istriku hanya termenung saja menyaksikan muka lelaki tersebut.

    Jemari tangan kiri wok lantas dengan perlahan-lahan menyeka payudara kanan Merry, nikmati kehalusan nya, perlahan-lahan ke arah ujungnya dan pada akhirnya jemari telunjuknya mulai mainkan putting susu Merry, menyeka pas ujung putingnya, putar mutar jarinya, membuat putting susu itu melenting ke sana kesini karena mulai mengeras. Merry hanya dapat tutup mata sekalian mengalihkan mukanya,mulutnya terkatup rapat meredam tingkah laku Wok itu, tentu saja ia merasa kegelian dengan permainan jemari lelaki tersebut. Sesaat selanjutnya Merry cuma dapat tersedu-sedu dan pada akhirnya menangis kembali. Air matanya terlihat deras mengucur.
    “Nangis lagi….nangis kembali”, bentak Wok dengan marah. “Mari saat ini coba kalau dapat nangis lagi…Haaa”. Wok terlihat secara cepat memberosotkan badannya, secara cepat ke-2 kakinya mengamankan pergerakan pinggul Merry, mukanya merunduk didekatkan dada Merry, sedangkan ke-2 tangannya terlihat menyeka pinggang Merry, bergerak keatas, kesamping payudara dan pada akhirnya dengan gaungs jemari jarinya seolah mengantongi ketiak Merry.
    “Kitik kitik kitik kitik……kitik kitik kitik kitik…ayo nangis kembali sekarang…hayooo…kitik kitik kitik kitik…ayooo nangis lagi…..kitik kitik kitik….hehehe”. Wok oleh kurang ajarnya mengelitik ketiak Merry yang terpentang lebar tersebut. Merry awalannya tetap menangis tapi sedetik selanjutnya seolah tersengat listrik karena gelitikin Wok tersebut. Badannya spontan berontak dengan kuat, tangan nya terlihat berusaha keras dengan liar untuk terlepas dari ikatan tersebut. Tapi sia-sia karena ikatan itu demikian kuatnya. Upayanya cuma untuk menekuk lengan nya saja tidak dapat, hingga ketiaknya tetap terpentang dengan lebar, membuat bebas Wok yang tetap mengelitik bawah lengannya.
    “Hayoo…mau nangis lagi….kitik kitik kitik kitik……sllruupp…cup..cupp..muuaahhh”. Terlihat wok sekalian terus mengelitik mulutnya sebelumnya sempat mengecup putting susunya, mengisapnya,dan mainkan lidah kasarnya di pucuk putting susunya.
    Merry jadi histeris, tangisnya rupanya tidak sanggup meredam tertawa karena rasa gelinya tersebut. Sekalian meredam tangis,Merry tidak dapat meredam ketawanya .
    “Jangaaannnnn…..hoohh….hoohh…hehehehehe……eemmhhhh…..hehehehe…..Geliiiiii…..iiihhhhh……hehehehehe……”,c uma itu yang didengar dari mulut Merry.
    Wok secara terampilnya masih tetap mainkan jemari jarinya itu, seolah menari nari di lembah ketiak istriku yang wangi itu, kadangkala tangannya beralih ke samping payudara Merry, mengarah ke bawah kembali,jarinya masih tetap menari di pinggang Merry, membuat berkelojotan bak cacing kepanasan, kegelian tidak tertahan, tapi pun tidak memiliki daya apa apa karena pinggulnya yang seperti didekap dan dipeluk oleh ke-2 kaki Wok.
    “Ucapnya mo nangis…ayoo nangis terus….kitik kitik kitik kitik kitik ….. hahahahaha….asyik kan…hayoo…mau apa kamu…kitik kitik kitik kitik…..kitik kitik kitik kitik”, canda Wok memikat Merry sekalian tidak berhenti-hentinya mengelitiki badannya.
    Darahku telah naik keatas kepala rasanya menyaksikan peristiwa tersebut. Saya berusaha berontak tapi ikatan di atas bangku ini membuatku tidak bisa bergerak benar-benar, ditambahkan rasa pusing karena terbentur di lantai tetap membekas berasa sekali di kepala.
    “Muuacchhh..muaacchhh…kitik kitik kitik kitik…..kitik kitik kitik kitik”,hanya itu yang tetap kudengar dari Wok, sedangkan Merry tetap meronta ronta liar kegelian sekalian meracau tidak karuan.
    Nyaris lima menit itu dilaksanakan Wok ke Merry, sampai pada akhirnya stop. “hehehehe…asyik kan”, kata wok melepas tangannya dari ketiak Merry sekalian bangun namun tetap dalam posisi menempati perut Merry.

    “Pakai ini Wok”, hebat Jon yang tau-tau telah ada di sisi bawah tempat tidur. Dan kusaksikan ia melempar pena yang kutahu ada di atas meja kerjaku. Pena dengan tinta cair. Dibuat dari perak dan ujungnya tersimpul lembaran bulu burung Elang. Saya tersirap kembali menyaksikannya….saya tahu yang ingin dilaksanakan mereka. Napasku makin mengincar menyaksikan tingkah tersebut.
    Wok terlihat dengan senang mengambil pena itu, namun bukan ujungnya yang hendak ia pakai tetapi bulu elang yang berada di pangkalnya. Dengan nakal ia menunjukkan bulu elang itu pada Merry, sekalian digerak gerakkan. Merry terlihat melotot matanya memikirkan apa yang hendak terjadi. Tangan wok lantas mengantongi payudara kanan Merry, siku kanan nya yang menggenggam bulu menekuk meredam dada Merry. Pegangan Wok meruncing di bagian atas payudara Merry, membuat sisi atas payudara itu mencuatkan putingnya yang telah tegak. Wok terlihat menjilat seringkali ujung bulu elang itu, membuat terlihat lancip, lantas dengan perlahan-lahan sekali tundukkan kepala sekalian dekatkan ujung bulu elang itu ke ujung putting susu Merry.
    “Siap..satu…hehehe..dua…”,Wok betul-betul memikat Merry saat sebelum mengerjainya. Membuat Merry langsung mengalihkan kepalanya jauh ke samping. Dan…ujung bulu elang itu dengan perlahan-lahan mulai bersinggungan dengan ujung putting susunya, menyeka usapnya dengan pergerakan lembut dan halus. Membuat Merry seperti tersengat listrik kembali, badannya melafalkant bersamaan usapan bulu itu pada putingnya.
    Dengan trampil Wok gerakkan pena bulu itu, menyengaja biarkan ujung bulu-bulunya tidak sentuh lingkaran susunya tapi cuma menyeka pas di ujung putingnya saja, membuat Merry menjerit ketahan histeris. Gelitikin yang dirasa pada ujung putingnya seolah-olah ada saluran listrik yang menusuk simpul simpul syarafnya. Tangan nya mengepal berusaha berontak lagi, lengan nya terlihat menegang kuat, bibirnya terkatup rapat dan matanya terpejam.
    Wok terlihat benar-benar nikmati sekali permainan itu, sekalian terus menyeka gosokkan bulu itu ke putting susu istriku, kadang-kadang ia melihat reaksi muka Merry dan terkekeh kesenangan.
    “Hiii..hi…ayoo..saya ingin membuat penthil kamu sekuat mungkin sayang…..hehehehe”,canda Wok.
    Dan peralihan itu juga terang terjadi, sesudah beberapa saat berakhir, saya sebelumnya tidak pernah menyaksikan putting susu istriku muncul setegak itu, lingkaran susunya terlihat membesar merah, bintik bintiknya kelihatan terang dan putingnya muncul merah nyaris dengan tinggi ujung jemari kelingking. Terlihat keras sekali karena usapan dari bulu itu tidak membuat putting itu bergerak benar-benar, tanda jika putting itu benar-benar kaku.
    Wok terlihat senang menyaksikan hasil kerjanya, sesudah menempatkan pena bulu itu dari sisi badan istriku, badannya dekap lagi Merry, tangan kanannya bergerak mengantongi payudara kiri Merry dan meremas remasnya dengan kuat.
    “Tetek kok montok sekali begini sich…heheh”, lelucon Wok yang makin menambah saya panas menyaksikannya. Tanpa diperhitungkan mulutnya secara cepat menyeruput putting kanan tadi telah kelihatan menegang sekali itu,mengisapnya dengan kuat, sampai semua lingkaran susu yang memeras itu terbenam dalam mulut Wok.
    “shlrruupppp……shlruupp..” suara yang diakibatkan karena sedotan mulutnya kedengar keras, kecipak lidahnya terlihat saat melumat putting susu Merry, membuat Merry terlonjak sampai meliuk badannya ke atas tidak kuat dengan tindakan Wok, badannya mengambil ke sana kesini tapi tidak dapat melepas pagutan wok dari payudaranya.
    Senang melumat putting susu istriku, Wok melepas pagutannya. Ia beringsut turun sekalian tangannya tetap meremas dan menggerayangi sekujur badan Merry.
    “Nikmat benar teteknya tuch Jon”,canda Wok pada temannya. Jon terlihat biasa saja menyaksikannya. Wok mengerling kepadaku.
    “Kamu sukai kan melihat istrimu seperti begitu tadi…hehehehe”,lontar wok padaku. Saya hanya melihat wok dengan penuh sakit hati waktu itu.
    Wok tidak peduli dengan pandanganku, ia terlihat tetap terpikat dan bergairah mengerjai istriku yang terlihat masih terngah engah napasnya. Ia lantas ambil posisi dari sisi badan Merry,mengerling nakal pada istriku yang mulai kecapekan tersebut.

    “Penthil mu memang membuat gairah sekali sayang”,canda Wok sekalian makin merapat ke Merry. Dua jemari telunjuknya digerak gerakkan nakal depan muka istriku. Dan saat itu juga itu dua jemari telunjuknya dimainkan pada ke-2 putting susu Merry dengan bersama. Telunjuknya tergetar cepat,mengelitik putting susu yang tetap menegang tersebut. Merry sampai terhentak napasnya, matanya terpejam dan terdongak keatas. Singgungan cepat dari telunjuk wok membuat putting susu istriku melenting semakin kesini dimainkan olehnya. Lantas wok dekatkan mukanya ke ketiak Merry, mengendusi endus keharuman badannya sekalian tetap terus mainkan putting susu itu tiada henti.
    “Ketiak yang wangi….nikmatnya memang buat dikitikin neh”,kata wok nakal pada istriku.
    Dengarnya istriku hanya dapat geleng-geleng gelengkan kepalanya,ia telah kecapekan karena terkuras tenaganya saat berontak barusan. Tapi sepertinya wok belum juga senang mengerjai istriku kembali. Lumayan lama ia mainkan putting susu istriku semacam itu, pada akhirnya ia beringsut cukup ke bawah dengan posisi tetap dari sisi Merry,tanpa diperhitungkan ke-2 tangan nya mengantongi lagi ketiak Merry dengan bersama. Mainkan jemari jarinya tapi lebih beringas,jemari jarinya bergerak cepat sekali mengelitik ke-2 ketiak Merry pas di tengah-tengah nya, membuat Merry justru seolah terbungkam,tidak dapat menghindari,badannya cuma menggelinjang geliat kegelian yang semakin menambah wok bergairah mengelitikinya. Merry cuma dapat berusaha menghindari ketiaknya dari capaian tangan wok, memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan, berusaha keras mengatupkan lengannya, tapi hal yang sia sia saja, ke-2 lengannya masih tetap terentang dengan kuatnya ke samping, buka ketiaknya lebar lebar, memberikan kebebasan pada lelaki itu untuk mainkan jemari jarinya disitu.

    Dan canda bujukan yang membuat saya semakin benci itu kedengar kembali.
    “kitik kitik kitik kitik…..kitik kitik kitik kitik ……kitik kitik kitik kitik…”. Ini kali tiada henti ia mengelitiki istriku.
    Nyaris 10 menit itu berakhir, dan saya tidak dapat kembali membandingkan suara Merry di antara ketawa dan menangis, yang terdapat cuma rontaan badannya yang lama-lama semakin kurang kuat bersamaan secara terkurasnya tenaga ia. Badan istriku terlihat telah mengkilat bermandi keringat, rambutnya nampek lekat lengket di kening dan lehernya. Aku juga telah menunduk lemas pasrah sama yang terjadi.

    Di saat itu pada akhirnya wok hentikan gelitikannya. Dengan mengisap keras putting susu istriku, ia lantas bangun dan beringsut ke dekat jendela,terlihat senang dengan bermainnya barusan. Saya melihat dan baru sadar kalau sang pimpinan rupanya bertumpu pada pintu kamar tersenyum menyaksikan perilaku anak buahnya.
    Sang komandan lantas terlihat merapat pada anak buahnya, bicara suatu hal yang saya tidak dapat dengarnya. Lantas wok keluar kamar entahlah ke arah ke mana. Jon terlihat dekati istriku dengan perlahan-lahan, rupanya ia menyumpal lagi mulut Merry dengan sapu tangan dan mengikatnya sampai ke belakang kepala Merry. Istriku terlihat melotot saja sekalian terus memantau gerakan ke-2 lelaki tersebut. Sesudah Jon mengikat sapu tangan itu ke dalam mulut Merry, tangannya mulai menggerayang ke badan istriku, pandangan nya terlihat terdiam pada payudara istriku yang terlihat bintik bercak kemerahan sisa dimainkan sang Wok barusan. Kadang-kadang ia meremas halus payudara itu, mainkan putingnya dan mengecupnya seringkali. Merry tetap termenung dengan tindakan tersebut. Tangan Jon selanjutnya mengarah ke bawah, menelusup ke CD istriku.
    Merry terlihat berusaha gerakkan pinggulnya bermaksud menghindar dari tangannya, tetapi tangan Jon sudah menelusup ke CD nya dan dengan sekali sentak memelorotkan kain biru segitiga itu secara gampangnya ke bawah, menariknya kasar sampai robek dari selangkangan istriku. Merry terlihat menjerit ketahan, saya secara jelas menyaksikan kemaluan istriku sendiri. Rambutnya yang terlihat cukup lebat tetapi rapi dan gundukan kemaluan yang terlihat benar-benar menarik. Jon lantas menyeka ngusap permukaan vagina Merry yang mulai mengeluh tidak terang karena tersumpal mulutnya. Jemari Jon terlihat kadang-kadang akan ditempatkan ke tapi tidak maka menyeka lagi ngusap sisi permukaan atasnya saja, sedangkan tangan kanannya asyik meremas remas payudara Merry. Dan waktu itu terlihat Wok kembali masuk kamar, mengambil langkah secara cepat dan bawa suatu hal yang membuat saya tambah lemas, sebuah kemoceng…
    Tanpa menanti lama Wok dekati tempat tidur, sekalian duduk di tepian tempat tidur, ia segera menyekakan kemoceng bulu itu ke dada Merry yang saat itu juga itu tersentak terkejut. Saya telah panas menyaksikannya lagi. Tingkah laku Wok ini memang sungguh kelewatan, karena ia menyengaja ingin permainkan istriku, mengerjai istriku dengan manfaatkan badan istriku yang tidak kuat geli tersebut. Kemoceng itu dioleskan pergerakan cepat, menyeka permukaan ke-2 payudara Merry, mengelitik putting susunya , selanjutnya ke arah samping payudara nya, ke arah ketiak Merry, putar mutar kepala kemoceng itu di ketiak Merry, selanjutnya turun ke pinggang, perut dan pusarnya tidak lepas dari gelitikan kemoceng tersebut. Betul-betul membuat Merry seolah mati kutu, ini kali tertawanya terlihat lepas hanya ketahan oleh sumpalan di mulutnya. Yang didengar olehku hanya tertawa dan jeritan histerisnya. Mata Merry terlihat terbelalak ke atas, yang dapat dilaksanakan hanya meronta, ketawa dan ketawa kegelian. Saya juga paham jika Merry merasa tidak punyai keinginan agar dapat lepas kembali, yang ia harapkan hanya orang itu hentikan gelitikannya saja.

  • Kisah Memek Sexs Dengan Bangla

    Kisah Memek Sexs Dengan Bangla


    3149 views

    Duniabola99.com – Cerita ini berlaku pada tahun lepas kira-kira bulan Disember, Di kawasan tempat tinggal kami ramai terdapat mat-mat bangla. Mereka ini selalu aje lalu-lalang di depan rumah kami.
    Dalam ramai-ramai bangla tu adalah seorang berdua yang aku kenal. Namanya Ragesh. Badannya agak kurus dan tinggi. Biasanya mat-mat bangla ni pada setiap petang pergi kekedai membeli keperluan mereka dengan memakai kain pelikat aje.

    Ragesh ni selalu juga datang ke rumahku untuk berbual-bual. Kadang-kadang semasa biniku tunduk membawa hidangan sempat juga matanya melirik mencuri lihat buah dada biniku dari kolar bajunya. Aku buat tak kisah aje.

    Aku sudah kahwin hampir 3 tahun setengah. Sudah mempunyai seorang anak berumur 2 tahun setengah. Tapi biniku memang cun melecun. Kulitnya putih kuning, teteknya saiz 32 (boleh tahanlan), body boleh buat air liur meleleh.

    Biniku tidak menyusukan anaknya takut teteknya kendur. Kami hanya memberinya susu botol aje. Sebab itulah teteknya tegang dan segar. Begitu juga dengan pantatnya. Masih tip-top. Ketat dan mengancam.


    Biniku ini agak terbuka dalam bab seks. Dia tak berapa kisah sangat. Janji dia puas. Pernah dia bertanya kepada aku ada tak teknik-teknik lain yang boleh menambahkan lagi imaginasi dan daya seks kami. Aku menyatakan ada. Aku bertanya kepada dia, mahu tak dia mencuba merasa balak orang lain pula. Dia menjawab, “no probelm, boleh juga…”
    Aku juga teringin nak lihat pantat biniku dijolok oleh balak lain. Asyik-asyik balak aku aje yang tenggelam timbul dalam pantatnya. Boring juga…

    Suatu petang selepas anak kami tidur, aku menonton blue film dengan biniku. Tiba-tiba pintu diketuk. Aku lihat Ragesh diluar. Dia kata boringlah sebab hari cuti, jadi dia nak tumpang tengok tv. Aku kata, masuklah, kami tengah tengok cerita best.

    Ragesh pun masuk dan duduk di sofa sebelah biniku. Jadi biniku di sebelahnya. Ragesh jadi gelisah bila melihat cerita blue film yang aku pasang. Maklumlah bini aku ada bersama, malu juga dia. Melihatkan itu aku bertanya kepada Ragesh pernah dia beristeri? Dia berkata dia sudah ada 6 orang anak di Bangladesh. Sudah hampir 2 tahun dia tidak balik melihat anak dan isterinya.

    Aku tanya dia lagi, kau tak stim ke, lama-lama tak jumpa isteri kau. Ragesh kata stim juga, sambil ketawa malu-malu. Bila aku lihat dia dah agak tak malu, aku pun tanya dia, kau tak mahu asah balak kau ke, Ragesh. Biniku memandang aku dan begitu juga Ragesh. Ragesh tidak menjawab. Aku lihat kain pelikat Ragesh sudah terangkat, mungkin balaknya dah keras.


    Dengan selamba aku berkata kepada Ragesh yang aku mahu dia servis balaknya yang dah nak berkarat tu dengan biniku. Biniku terkejut… Aku buat tak kisah aje.. Aku fahamlah dia tak membantah.. Ragesh pada mulanya malu, aku katakan pada dia nak atau tak nak. Ragesh mengganggukkan kepalanya.

    Aku menyuruh Ragesh rapat dengan biniku. Ragesh mula merapatkan dirinya dengan biniku. Tangannya yang agak keras dan kasar itu mula memegang bahu biniku. Aku menyuruh Ragesh menjalankan ‘projek’ tu atas permaidani di ruang tamu tempat kami menonton tv tu. Ragesh tidak membantah..

    Perlahan-lahan tangan Ragesh menyelinap ke dalam baju biniku. Biniku kegelian apabila tangan Ragesh yang berbulu itu mula menyentuh leher dan belangnya. Ragesh semakin berani. Aku memerhatikan aje perbuatan Ragesh dengan penuh stim. Dalam hatiku berkata, pandai juga bangla ni beromen.

    Ragesh mula menanggalkan T-Shirtnya. Dia memegang kepala bini dan merapatkan mulutnya untuk mengucup bibir biniku. Biniku merapatkan mulutnya. Ragesh menghisap bibir dan menggulum lidah biniku. Mereka berdua berkucupan dengan penuh ghairah. Kulihat mata biniku semakin layu. Baju biniku perlahan-lahan disingkat oleh Ragesh. Perlahan-lahan tetek biniku terbuka. Bajunya dibuang ke lantai. Coli biniku dibuka Ragesh. Ragesh membaringkan biniku di sofa. Kain batik biniku di rentap oleh Ragesh yang mula berahi. Maklumlah dah dua tahun tak merasa pantat. Nilah baru sekali merasa pantat orang Malaysia.


    Rages meramas tetek biniku. Dia menjilat puting tetek biniku yang kemerah-merahan itu. Tetek biniku mula mengeras. Itu petanda bahawa dia sudah stim. Tangan Ragesh mula merayap-rayap di celah kelangkang biniku. Ragesh sudah tidak kisah akan aku, bagi dia dia mesti jolok balaknya dalam pantat bini aku, walau apa pun terjadi.

    Tangan Ragesh mula masuk kedalam seluar dalam biniku. Seluar dalam biniku dah mula lembab dek air mazi. Ragesh menanggalkan seluar dalam biniku. Dengan posisi 69 dia mula menghala balaknya yang agak hitam, pajang lebih kurang 6 inci dan ukur lilit lebih kurang 3 1/2 inci. Taklah besar sangat. Biniku memegang balaknya lalu memasukkan ke dalam mulutnya, manakala Ragesh mengerja pula pantat biniku. Ragesh menjilat kelentit biniku dengan rakus. Kelentit biniku yang kemerahan itu dijilatnya dengan penuh selera. Lidahnya yang kemerahan mula dimasukkan ke dalam lubang vagina biniku. Lidahnya disorong dan ditarik. Aku lihat semakin banyak air yang keluar dari pantat biniku. Biniku sudah betul-betul stim. Dia meminta Ragesh menjolok batangnya ke dalam pantatnya dengan segera. Ragesh pun bangun. Dia pun menghadap biniku yang sedang stim itu. Ragesh pun berbaring di atas badan biniku.

    Tangannya memeluk badan biniku dengan ghairah. Biniku membuka kangkangnya dengan luas agar balak Ragesh dapat masuk dengan mudah. Balak Ragesh yang panjang itu diletakkan di tengah-tengah alur pantat bini aku. Dia menekan perlahan-lahan. Kepala balaknya tenggelam sedikit-demi sedikit sehingga bertemulah bulu biniku dengan bulu balak Ragesh. Ragesh menekan balaknya kedalam pantat isteriku sehingga santak. Biniku mengeluh kesedapan.

    Bila balaknya sudah berada dalam lubang pantat biniku, Ragesh pun mula menyorong dan menarik balaknya keluar masuk dari lubang pantat biniku. Berdecit-decit bunyi sorong tarik itu. Punggung biniku terangkat-angkat menahan kesedapan. Kira-kira 10 minit Ragesh di posisi itu dia mengangkat biniku untuk berdiri. Biniku bangun tanpa membantah. Sambil bangun sempat juga dia senyum pada aku. Aku angkat tangan menunjukkan isyarat best. Dia pun membalas sama.


    Ragesh meminta biniku menonggeng dengan tangan isteriku memegang sofa. Isteriku berbuat demikian. Apabila isteriku sudah menonggeng (doggie style), punggung terangkat sedikit. Teteknya berayun kebawah kerana menonggeng. Bila bini aku dah ready Ragesh meraba-raba punggung biniku. Terlihat dengan jelas pantat isteriku yang kemerahan itu. Pantatnya masih penuh dengan pelincir.

    Ragesh berdiri di belakang punggung biniku. Balaknya keras menegang. Balaknya dihala ke lubang pantat biniku. Kepala balaknya sedikit demi sedikit menyelam ke dasar lubuk biniku. Ragesh menekan balaknya sehingga bulu balaknya santak ke punggung biniku. Setelah itu dia mula menyorong tarik balaknya. Kali ini Ragesh melakukan dengan laju. Biniku terangkat-angkat pnggungnya menahan kesedapan. Sambil menyorong dan menarik tangan Ragesh tidak melepaskan maramas tetek biniku.

    Tangannya yang kasar itu meramas dengan ganas tetek biniku. Kulihat tetek biniku kemerah-merahan akibat kuat dikerjakan oleh Ragesh. Sambil meramas tetek biniku, balak Ragesh terus tenggelam timbul dari lubuk madu biniku. Tiba-tiba biniku menjerit kesedapan bila mengatakan air maninya sudah keluar. Punggungnya terangkat-angkat menandakan airnya sudah keluar, mungkin juga akibat kesedapan…

    Ragesh menanya biniku mahu pancut luar atau dalam. Biniku mengatakan pancut kat dalam. Setelah kira-kira 10 minit biniku keluar air maninya, Ragesh masih mampu bertahan. Balaknya tetap keras, tubuh biniku yang mula lesu itu mula segar semula. Air pelincir masih banyak. Isteriku mula stim semula. Dia mula memberikan reaksi semula. Balak Ragesh yang keluar masuk dengan ganasnya dari lubangnya mula dikemutnya semula. Rages mengusap-ngusap belakang biniku. Biniku menyuruh Ragesh melakukan cepat-cepat, rupa-rupanya biniku nak keluar air maninya kali kedua.


    Ragesh mempercepatkan hayunan balaknya keluar masuk ke dalam lubang pantat biniku. Tiba-tiba Ragesh mengeluh dan menekan seluruh balaknya ke dalam lubang pantat biniku. Air mani Ragesh menerjah laju ke dalam lubuk biniku. Biniku terangkat-angkat punggungnya menahan kesedapan. Ragesh membiarkan balaknya terendam dalam lubang pantat biniku lebih kurang seminit. Bila balaknya dicabut, aku lihat air mani meluncur laju keluar dari lubang pantat biniku.

    Biniku terbaring kelesuan begitu juga Ragesh. Batang Ragesh mula mengecut dan lembik. Biniku yang dua kali terpancut maninya tak bermaya nak buka mata. Terus terbaring di sofa kepenatan. Ragesh mengangkat tangan menunjukkan isyarat ‘best’. Tidak lama kemudian dia pun balik ke rumah kongsinya.

    Aku bertanya kepada biniku, macam mana best ke? Dia mengatakan walaupun batang Ragesh agak kecik tapi dia dapat bertahan lama, sehingga dua kali dia ‘cum’. Bestlah bang kata biniku. Aku senyum aje.

    Kisah Seks, Cerita Sex, Cerita Panas, Cerita Bokep, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Sex Bergambar, Cerita ABG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex Pasutri

  • Video Bokep Asia cewek jepang cantik squirt dientot 3 orang

    Video Bokep Asia cewek jepang cantik squirt dientot 3 orang


    2744 views

  • Kisah Memek Hilangnya keperawanan ibu guru

    Kisah Memek Hilangnya keperawanan ibu guru


    3058 views


    Duniabola99.com – perkenalkan namaku SM dan sekarang umurku baru 19 tahun, dan perawakanku tinggi 171.5 cm dan kulitku sawo matang, sedangkan mataku berwarna coklat, dankisah yang aku ceritakan ini adalah kisah Cerita Dewasa nyata sekaligus pengalaman hidupku…
    Tahun 2004 yang lalu… Saat ini aku sekolah di salah satu SMK yang ada di tanjung pinang (kepulauan riau). Sekolahku letaknya jauh di luar kota (kira2 20 km dari kota tempat tinggalku), dan sehari-hari aku pergi menggunakan bus jemputan sekolahku, dan dari sinilah kisahku bermula…

    Pada suatu siang saat di sekolahan aku dan teman-teman sedang istirahat dikantin sekolah dan sambil bercanda ria, dan saat itu pula ada guruku (berjilbab) sedang makan bersama kami, pada saat itu pula aku merasa sering di lirik oleh ibu itu (panggil saja EKA), bu eka badannya langsing cenderung agak kurus, matanya besar, mulutnya sedikit lebar dan bibirnya tipis, payudaranya kelihatan agak besar, sedangkan pantatnya padat dan seksi, bu eka adalah guru kelasku yang mengajar mata pelajaran bahasa inggris, dan dalam hal pelajarannya aku selalu di puji olehnya karena nilaiku selalu mendapat 8 (maaf bukan memuji diri sendiri!!)

    Saat didalam pelajaran sedang berlangsung bu eka sering melirik nakal ke arahku dan terkadang dia sering mengeluarkan lidahnya sambil menjilati bibirnya, dan terkadang dia suka meletakkan jari tangannya di selangkangannya dan sambil meraba di daerah sekitar vaginanya. Dan terkadang saya selalu salah tingkah di buatnya (maklum masih perjaka!!!!), dan kelakuannya hanya aku saja yang tahu.


    Saat istirahat tiba aku di panggil ke kantor oleh ibu itu, dan saat itu aku di suruh mengikutinya dari belakang. Jarak kami terlalu dekat sehingga saat aku berjalan terlalu cepat sampai-sampai tangan ibu eka tersentuh penisku (karena bu eka kalau berjalan sering melenggangkan tangannya) yang saat itu sedang tegang akibat tingkahnya di kalas. Namun reaksi ibu eka hanya tersenyum dan wajahnya sedikit memerah.

    Sampai saat aku pulang menaiki bus jemputan kami… Aku dan temanku duduk paling belakang, sedangkan bu eka duduk di kursi deretan paling depan. Saat semua teman-temanku sudah turun semua (saat itu tinggal aku bu Eka dan supirnya) bu eka melirik nakal ke arahku, dan tiba tiba ia langsung pindah duduknya di sebelahku dia duduk paling pojok dekat dinding), dan dia menyuruhku pindah di sebelahnya, dan aku pun menanggapi ajakannya. Saat itu dia meminjan handphone ku , katanya dia mau beli hp yang mirip punyaku (nokia tipe 6600) entah alasan atau apalah… Saat dia memegang hp ku tiba-tiba hp ku berbunyi, dan deringan hp ku saat itu berbubyi desahan wanita saat di kentot. aaaahhhhh… ahhhhshhhhshshh… oooooo… oooooohhhhhh dan seterusnya ternyata temanku yang menelepon. Tanpa basa basi bu eka bilang “apa ngga ada yang lebih hot, ibu mau dong”. dengan nada berbisik. Yang membuatku nafsu. “jangan malu-malu tunjukin aja ama ibu… ” Saat itu kupasang ear phone dan langsung aku perlihatkan rekaman video porno yang ku dapat dari temanku.

    Tanpa aku sadari bu eka meraba kont*lku yang saat itu sedang tegang-tegangnya, dan dia terkejut, “wooow besar sekali anumu… ” Padahal aku punya ngga gede-gede amat, panjangnya 15 cm dan diameternya 2.3 cm aja yaaa standart lahhhh… Dan terjadilah percakapan antara aku dan bu eka:

    Saat itu dia berbisik padaku “aku masih perawan looo… ” di iringi dengan desahan. Lalu jawabku “oh yaaa, saya juga masih perjaka bu… ” bu eka: jadi klo gitu kita pertemukan saja antara perjaka dan perawan, pasti nikmat… (tanpa basa basi lagi) lalu jawabku malu aku: “ngga ah bu , saya ngga berani!!” bu eka: “ayolah… (dengan nada memelas)” aku: “tapi di mana bu? (tanyaku!)” bu eka: “di hotel aja biar aman” aku: “tapi saya ngga punya uang bu” bu eka : “ngga apa-apa ibu yang bayarin!!!”


    Dan saat tiba di kamar hotel ibu itupun langsung beraksi tanpa basa basi lagi. ia melucuti bajunya satu persatu sambil di iringi dengan desahan… yang pertama ia lepaskan adalah jilbab yang menutupi kepalanya, lalu baju, kemudian rok panjangnya. dan tibala saat ia melepaskan bh nya, yang ku lihat saat itu adalah toket ibu yang putih mulus (mungkin karena sering di tutupi kalleeee) dan putingnya yang masih merah. dan pada saat ia mau melepaskan celana dalamnya dia bertanya padaku… “mau bantuin ngga… ” lalu hanya ku jawab dengan mengangguk saja. tanpa basa basi juga, aku mulai melepaskan celana dalamnya yang berwarna putis tipis.

    yang kulihat saat itu adalah jembut tipis saja, lalu aku mulai menyandarkannya di dinding kamar sambil kujilati. da n timbullah suara desahan yang membuata tegang kont*lku ah… ahh… ahhhhshhhh… terruussss… ohhh… yeahhh… oooohhhhh… au… udahh dong ibu ngga tahan lagi… ooohhhh… yeah… o… o… oo… ohhhh… tanpa ku sadari ada cairan yang membasahi wajahku. cairan putih ituku hisap dan ku tumpahkan ke dalam mulutnya, ternyata bu eka suka “mau lagi donggg… ” lalu aku kembali menghisap pepek bu eka yang basah dan licin kuat-kuat… “aaahhhh… ahhh… aarrgghh… uh… uh… uh… uh… ouuu… yeah… dan di sela teriiakan kerasnya muncrat lagi cairan putih kental itu dengan lajunya crroot… crooot…

    di saat dia terbaring lemas aku menindih badan bu eka dan selangkangannya ku buka lebar2, lalu ak u mencoba memasukkan kont*lku ke dalam pepeknya bu eka dan yang terjadi malah ngga bisa karena sempit. saat ku tekan kepala kont*lku sudah masuk setengah dan ibu itu berteriak “ahhhh… ahhhh.ahhhhh… ahhhhh… , sakitttt… ahhh… pelan-pelan dong… ” seakan tak perduli kutekan lagi. kali ini agak dalam ternyata seperti ada yang membatasi. ku tekan kuat-kuat “ahhhhhhh… aaaaaa… aaaauuuuu… , sakit… ohh… oh… ooghhhhhh… ” aku paksakan saja… akhirnya tembus juga. “ahhhhhhhhhh… aaaaahhhhhh… , sakitttttttt… ” bu eka berteriak keras sekali…


    Sambil ku dorong kontontolku maju mundur pelan dan ku percepat goyanganku. “aahhhhhh… auhhhhhhhh… u.h… u.u… hh… a… u… u… hhhhh.hh.h.h. h… Dia terus menjerit kesakitan, dan sekitar 20 kali goyanganku aku terasa seperti mau keluar. Lalu aku arahkan kont*lku ke mulutnya dan… croot… … crroootttt… sekitar 5 kali muncrat mulut bu eka telah di penuhi oleh spermaku yang berwarna putoh kenta (maklum udah 2 minggu ngga ngocok)

    Selang beberapa menit aku baru menyadari kalau pepek bu eka mengeluarkan cairan seperti darah. Lalu ibu eka cepat-cepat ke kamar mandi. Setalah keluar dari kamar mandi bu eka langsung menyepong kont*lku sambil tiduran di lantai. Ternyata walaupun perawan bu eka pandai sekali berpose. Lalu ku pegang pinggul bu eka dan mengarahkan ke posisi menungging. Lalu aku arahkan kont*lku ke pepek bu eka, lalu ku genjot lagi… ohhh… oh… o… h.h.h.h.hh… h.hhhhh… h… hhhhhhh… hhhhh… yeahhhhh oouu… yesssss… ooohhhhh… yeahhhhh… saat aku sudah mulai bosan ku cabut kont*lku lalu ku arah kan ke buritnya “sakit ngga… ” laluku jawab “paling dikit bu… ” aku mencoba memasukkan tetapi ngga bisa karena terlalu sempit lalu bu eka berkakta “ngga apa-apa kok kan masih ada pepekku mau lagi nggaaaa… ” laluku kentot lagi pepeknya tapisekarang beda waktu aku memeasukkan kont*lku ke dalam, baru sedikit saja sudah di telan oleh pepeknya. Ternyata pepek bu eka mirip dengan lumpur hidup. aku mengarahkan kont*lku lagi ahhh… ahhh… ahhh… ahh… oooouuuhh… yeah… ou… ou… ohhhhhh… dan saat sekitar 15 kali goyangan ku bu eka melepaskan kont*lku “aku mau keluar… ” lalu ku jawab “aku juga bu… , kita keluarin di dalem aja buu… ” “iya deeh jawabnya… ” lalu kumasukkan lagi kont*l ku kali ini aku menusukknya kuatkuat. aaahhhh… ahhhh… aaaahhhhhh. ooooouuuuuuhhh… saat teriakan panjang itu aku menyemprotkan spermaku ke dalam pepeknya crroooot… crootttt… aku mendengar kata-katanya “nikmat sekali… ” Dan aku pun tidur sampai pagi dengan menancapkan kont*lku di dalam pepeknya dengan posisi berhadapan ke samping..

    Kisah Seks, Cerita Sex, Cerita Panas, Cerita Bokep, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Sex Bergambar, Cerita ABG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex Pasutri



  • Olivia Devine ngentot disiang bolong diatas kursi sofa orange

    Olivia Devine ngentot disiang bolong diatas kursi sofa orange


    2014 views

  • Cerita Sex Butuh Seks

    Cerita Sex Butuh Seks


    2998 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Butuh Seks ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita Sex – Liburan panjang ini memang sungguh menyenangkan aku masih duduk di kelas 3 SMP beberapa minggu aku
    hanya tinggal dirumah saja dan bergaul kepada tetangga, bermain main disekitar wilayah desa, aku
    tinggal di peinggiran kota Surakarta Jawatengah.

    Ketika itu sedang bermain kerumahnya Bulek Yati aku tidak pernah tau rumah yang satunya sudah
    dikosongkan lama, dan dihuni oleh orang baru adiknya bulek Yati katanya dari jogja dan mulai menetap
    didesaku.

    Aku kemudian menyempatkan diri untuk mampir berkenalan dengan penghuni baru itu. Ternyata di depan
    rumahnya banyak sekali anak-anak bermain dan tampak dua anak wajah baru, dan ternyata adalah kedua
    anak dari warga baru itu.

    Semua anak tampak tertawa-tawa menggoda salah satu dari anak itu. Mereka tertawa kegirangan karena
    melihat anak itu yang ternyata bisu dengan gayanya yang nakal dan sok bisa bicara sehingga menggelikan
    sekali. Akupun langsung tertawa melihat tingkahnya.

    Tak berapa lama kemudian tampak seorang pria berumur tiga puluh lima tahunan keluar dan menyapaku.
    Pria itu ternyata suami adik bulek Yati. Lalu tak lama kemudian mbak Aminah adik bulek Yati keluar dan
    menyapaku.

    “Lho kok Mas Wawan to….Sudah besar ya sekarang, kelas berapa mas?’

    Banyak tetanggaku memanggilku mas biarpun mereka juga lebih dewasa dariku. Hal itu dikarenakan bapakku
    adalah seorang lurah jadi mereka memanggilku demikian mungkin sebagai bentuk rasa hormat mereka
    terhadap bapakku.

    “Eh mbak Aminah.. iya ini, lama nggak ketemu mbak..ini sudah mau lulus SMP mbak” jawabku.
    “Itu anak mbak sama mas ya?” tanyaku.

    “Iya mas…Ya sudah jatah dari yang kuasa mas…Yang besar itu malah tidak bisa ngomong sampai sekarang…

    Tapi ya saya syukuri saja mas”…jawab mbak Aminah dengan tetap tersenyum. Suaminya juga hanya ikut
    tersenyum.

    Setelah aku perhatikan dari tadi ternyata mbak Aminah semakin seksi. Dia memakai daster merah tanpa
    lengan membuat tubuhnya terlihat semakin putih. Rambutnya terurai panjang lurus dengan porsi panyudara
    dan pantatnya yang benar-benar proporsional.

    Kemudian mereka mempersilakanku masuk namun aku menolak dan ingin ikut bermain saja dengan anak-anak.
    Mulai dari sinilah aku berkenalan dengan Eko, anak mbak Aminah yang bisu itu. Eko berumur kira-kira
    tiga belas tahun sepantaran adik kelasku.

    Dia memang usil dan nakal sekali, namun karena ia banyak menggumam banyak omong tidak jelas karena
    kebisuannya, itu membuatnya terlihat lucu sekali.

    Aku senang sekali berkenalan dengan Eko dan kerap sekali aku mengajaknya main ke rumahku buat obat
    stress. Aku juga sering menyuruhnya membantuku beres-beres rumah.

    Mulai dari sinilah aku mengenal sosok dirinya sebagai seorang anak yang berpikiran mesum. Ternyata di
    balik kebisuannya itu tersimpan pikiran mesum yang luar biasa.

    Ketika itu saat anak-anak masih bersekolah Eko tidak ada teman main dan langsung menuju ke rumahku.
    Aku hanya tinggal dengan ibu, bapak dan tanteku kartika sedangkan dua kakak laki-lakiku sudah kerja
    merantau di Jakarta. Setelah aku kenalkan mereka dengan Eko, mereka tampak senang karena setiap
    gerak-geriknya membuat tertawa.

    Saat ibu memintaku untuk membersihkan kamar mandi, aku langsung mengajak Eko untuk ikut membantuku.
    Aku tidak berpikiran buruk apapun tentang anak itu namun setelah di kamar mandi tidak kusangka dtengah
    aku lagi menyikat kloset ia dengan tidak ada malunya terhadapku.

    Sedang memain-mainkan celana dalam kotor milik tante kartika yang berada di ember cucian. Dia tampak
    senang sekali dan memain-mainkannya. Melihat itu aku langsung marahin dia namun dia hanya tampak biasa
    saja dan malahan tertawa. Aku berpikir kalau dia memang selain bisu, pikirannya juga tidak waras,
    namun namanya juga obat stress.

    Cerita Sex Butuh Seks Setelah selesai bersih-bersih kami balik lagi menonton televisi. Tante Kartika sedang duduk membaca
    koran di ruang tamu persis sebelah kami menonton televisi. Sepintas aku amati pandangan Eko yang
    mencuri-curi mengintip celana dalam tante Kartika.

    Wah memang anak ini memang benar-benar berpikiran mesum. Tante kartika adalah janda dan berumur
    sepantaran ibu Eko, tubuhnya pun tidak kalah dengan mbak Aminah.

    Tante tinggal di rumahku karena dia tidak memiliki anak dan tidak mau tinggal sendirian di rumahnya di
    Jakarta setelah bercerai dengan suaminya. Aku terkadang juga berpikiran jorok dan berniat mengintip
    tante kalau sedang mandi namun sampai sekarang aku tidak berani melakukannya karena takut ketahuan dan
    malu dengan bapak ibuku.

    Tetapi dengan kehadiran Eko bisu yang berpikiran mesum ini, aku serasa memiliki rekan baru dalam
    berfantasi mesum karena saat melihatnya curi-curi kesempatan mengintip ada perasaan lain dalam hatiku.

    Aku tidak marah dengan tingkah Eko itu, malahan ketika aku membayangkan Eko bisa menyetubuhi tanteku
    itu aku malah semakin bernafsu. Aku sering beronani membayangkan bersetubuh dengan tanteku namun
    perasaan itu tidak senikmat ketika aku membayangkan Eko ngent0tin tanteku. Demi untuk menjaga imejku
    sebagai seorang anak lurah aku tidak boleh berbuat liar apalagi jika berurusan dengan seks dan nafsu
    birahi.

    Untung saja aku bertemu dengan sosok Eko yang memberikanku fantasi seks baru. Aku selalu optimis kalau
    anak itu urat malu dan sopan santunnya sudah putus, jadi mungkin sekali kalau ia bisa ngent0t dengan
    orang dan aku bermimpi sekali untuk bisa mengintipnya langsung ngent0t.

    Setelah itu aku sedikit menjauh dari Eko dan jika ada kesempatan aku membuntutinya ke manapun dia
    pergi. Ketika itu keluargaku sepi dan hanya tanteku yang ada di rumah. Aku berencana membuktikan
    imajinasiku itu tentang kemungkinan bahwa akan ada wanita yang akan memanfaatkan Eko untuk memuaskan
    dirinya.

    Aku yakin tanteku butuh sekali seks dan dia tidak mungkin berbuat nakal karena akan sangat malu dengan
    ayah dan ibuku. Ketika itu aku pamit sama tante Kartika untuk main ke rumah temanku.

    “Tante, aku mau main dulu ke tempat temanku ya…Aku mungkin pulang larut sore karena ada banyak hal
    yang mesti aku selesaikan dengan temanku”.

    “Jangan terlalu malam Gun, aku sendiri ni”

    Itu jawaban yang aku nantikan, sehingga aku bisa merancang skenario dan mendatangkan Eko untuk ke
    rumahku menemani tanteku.

    Aku yakin pasti tante bakalan menggerayangi Eko karena ia bakalan tidak mengadu karena bisu, dan
    lagian aku yakin kalau Eko malahan yang senang dikerjain mengingat otak mesumnya itu. Aku ingin sekali
    melihat dari langsung mereka ngent0t dan aku akan bisa melihat tubuh bagian intim tante Kartika.

    Lalu langsung saja kujawab.

    “suruh aja Eko si bisu itu temenin tante kalau aku pulang terlalu malam, lumayan bisa buat obat stress
    nanti tan..hehe”

    “O yaudah kalau begitu…” jawab tante senyum.

    Aku mengeluarkan motorlu dan berhenti tidak jauh dari desaku. Aku mampir ke sebuah bengkel milik
    tetangga yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah kira-kira satu jam aku di sana aku minta
    diservisin motorku, padahal kedokku hanya ingin nitip motor dan kemudian pulang. Lalu aku pulang
    mengendap-endap dari belakan rumah.

    Aku bersembunyi di dapur dan mengintip segala apa yang terjadi di rumah. Tante ternyata sedang nonton
    video porno. Dia meremas-remas dadanya sendiri dan jarinya ia masukin ke dalam celana dalamnya.

    Rumah tertutup rapat dan tante dengan leluasa menonton video bokep itu di ruang tamu. Aku bernafsu
    sekali melihat pemandangan itu dan aku ingin sekali bersetubuh dengan tanteku. Namun itu hanya akan
    memperkeruh suasana dan lagian itu bukanlah rencanaku.

    Rencanaku hanya ingin berharap kalau Eko bisu benar-benar dipanggil tante dan dikerjainya sehingga aku
    bisa sambil menontonnya langsung sambil beronani.

    Tak berapa lama kemudian tante keluar rumah tanpa mematikan tontonan bokep itu. Aku yakin dia
    memanggil Eko, dan ternyata dugaanku benar. Ia datang bersama Eko dan segera mengunci rapat pintu. Eko
    ngomel-ngomel tidak jelas kegirangan melihat video itu. Aku juga kegirangan sekali melihat rancangan
    skenario imajinasiku itu yang ternyata menjadi kenyataan sebentar lagi. Markas Judi Online Dominoqq

    Tanteku mengecek menyentuh celana Eko di bagian depan bermaksud mengecek kont0lnya. Ternyata baru
    melototin bokep sebentar kont0l Eko sudah tegak menantang. Eko sepintas malu dan kemudian sedikit
    menutupinya dengan tangan.

    Cerita Sex Butuh Seks Tante langsung ambil tindakan. Dia langsung merenggangkan pahanya sehingga roknya tersibak, bermaksud
    memamerkan celana dalamnya. Eko langsung melotot kegirangan bercampur sok tengsin melihat itu dan
    jantungku berdebar keras.

    Aku langsung mengendap ke pintu samping menuju kamar di sebelah ruang tamu karena aku tidak begitu
    jelas melihat adegan itu. Setelah sampai di kamar sebelah aku benar-benar melihat dengan jelas adegan
    itu melalui celah-celah ventilasi.

    Tante membuka celana pendek Eko dan terlihat burung hitam Eko yang lumayan besar untuk anak
    seumurannya sudah tegak menantang. Tante langsung melumat kont0lnya itu dan Eko menggeliat kenikmatan.

    Cerita Sex Butuh Seks

    Cerita Sex Butuh Seks

    Setelah beberapa saat tante menyuruh Eko mlucuti semua pakaian tante. Tante menuntun tangan Eko
    menarik cawat merahnya dan dengan naluri nafsunya Eko langsung melucuti seluruh pakaian tante sampai
    tak ada benang sehelaipun menutupi.

    Benar-benar indah tubuh tanteku ini. Badanya yang sedikit chubby ini dan wajahnya yang ayu sekarang
    benar-benar terlihat telanjang di depan mataku. Kulitnya putih mulus, rambutnya panjang terurai dan
    pantatnya semok sekali serasa pengen kuremas. Aku semakin ingin mengocok kont0lku.

    Tante membuka lebar pahanya dan Eko gemetaran melihat mem3k tante yang bersih tanpa ada bulunya itu.
    Ia menarik kepala Eko dan menyuruhnya menjilati mem3knya itu dan setelahnya tante menggeliat
    kenikmatan. Banyak banget cairan yang keluar dari mem3knya.

    Tante kurang berpengalaman untuk hal pemanasan dan variasi sex, yang ia tahu untuk anak seumurannya
    hanya pengin cepat-cepat menikmati tubuh wanita.

    Eko kemudian berontak dan langsung menindih tubuh tante sambil menusukkan kont0lnya ke lubang basah
    puki tante. Tante kaget namun menikmati saja permainan kasar Eko itu. Takut kalau spermanya keluar di
    dalam, tante langsung mendorong tubuh kecil Eko keluar.

    Ia langsung mengulum kont0lnya dan tak berapa lama mulut tante dipenui sperma Eko yang bermuncratan
    keluar. Eko tergeletak di kasur tipis di depan TV merasa keenakan.

    Tante kemudian mengambil pelumas dan mengoleskannya ke penis Eko dan juga lubang anusnya. Mungkin
    tante tidak bisa memberitahu Agar tidak mengeluarkan spermanya di dalam vaginanya. Maka dari itu tante
    mencoba anal saja.

    Cerita Sex Butuh Seks Eko kemudian disuruh memasukkan anusnya ke dalam anus tante dengan posisi doggy. Setelah sedikit
    kesusahan akhirnya masuk juga penisnya dan tante merasa sedikit kesakitan tapi Eko tidak peduli. Ia
    terus memompa dengan kencang dan dibarengi suara tepukan pantat tante yang membuatku jadi ingin
    ejakulasi juga.

    Jari-jari tante ikut masuk ke dalam lubang vagina dan setelah beberapa saat cairan mem3knya
    bermuncratan keluar. Ia mengerang lirih takut kedengaran tetangga. Eko juga semakin liar menghajar
    bur1t tante sampai akhirnya ia menyemprotkan lagi spermanya di bur1t tante. Mereka terbaring puas di
    depan televisi sedangkan aku sibuk membersihkan spermaku yang bermuncratan di mana-mana melihat adegan
    itu.

    Tante kemudian menyuruh Eko pulang dan lalu menutup lagi pintu sambil senyum-senyum menuju ke kamar
    mandi membersihkan diri. Lagi-lagi pikiran menyetubuhi tanteku muncul lagi namun aku harus
    menghindarinya, lagian aku sudah puas melihatnya ngent0t dan beronani sampai puas. Aku segera keluar
    rumah dan bergegas pergi ke bengkel lagi.

    Kejadian itu berulang sekitar lima kali sampai saat tanteku kembali ke Jakarta melanjutkan kerjanya di
    sana kalau suasana rumah lagi sepi dan aku selalu merancang skenario yang sama.

    Aku terus membuntuti kisah seks Eko si bisu itu demi untuk fantasi langsungku karena untuk
    mewujudkannya serasa beban menanggung nama baik orang tua. Sampai ketika setelah tante pergi aku
    mendapati kisah seks Eko dengan beberapa wanita di desaku termasuk dengan ibunya sendiri, mbak Aminah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Foto Bugil Indah remaja Dakota memamerkan vagina gemuk-nya

    Foto Bugil Indah remaja Dakota memamerkan vagina gemuk-nya


    2146 views

    Duniabola99.com – sedang mencari foto ngentot yang terupdate setiap hari? temukan di Duniabola99 yang selalu update dan membagikan. Foto-foto ngentot pilihan terbaik duniabola99.

  • Kisah Memek Aku Menikmatinya Walaupun Terpaksa

    Kisah Memek Aku Menikmatinya Walaupun Terpaksa


    2926 views

    Duniabola99.com – Sebagai keluarga dari kalangan atas, menghabiskan waktu liburan berbintang lima di Nusa Dua Bali bukanlah masalah bagi keluarga Melinda. Selama beberapa hari Melinda menghabiskan waktu liburan dengan suami dan dua orang anaknya disana. Setelah beberapa hari, suami Melinda mengajaknya untuk ke Lombok. Tapi dengan alasan Melinda merasa bosan dengan tempat itu, juga perjalanan dengan kapal fery yang yang cukup makan waktu, maka Melinda menolak ajakan suaminya itu.


    Akhirnya suami dan kedua anaknya segera menuju Lombok tanpa Melinda. Melinda, 31 tahun, walau sudah punya anak dua orang tapi penampilan dan gayanya mirip dengan layaknya gadis kota masa kini. Wajah sangat cantik, putih, dan tubuh sintal selalu membuat lelaki manapun akan tertarik. Salah satu nilai lebih dari rumah tangga Melinda adalah kebebasan yang diberikan suaminya kepada Melinda untuk boleh bergaul atau jalan dengan siapa saja asal Melinda selalu jujur kepada suaminya itu. Hal ini terjadi karena suaminya sangat tahu akan libido Melinda yang sangat tinggi hingga suaminya agak kewalahan dalam melayani kebutuhan seksual Melinda. Dan nilai lebih dari Melinda adalah kejujuran kepada suaminya bila dia jalan dan main dengan pria lain.

    Pagi itu di restoran hotel, ketika Melinda sedang makan pagi..

    “Hei”, terdengar suara diiringi dengan tepukan tangan di pundak Melinda.

    “Hei, Asti.. Ardi.. Pak Ferdy..”, sahut Melinda senang ketika melihat mereka bertiga.

    “Mana suamimu?”, tanya Asti. “Sedang ke Lombok dengan anakanak”, jawab Melinda.

    “Duduklah di sini, temani aku makan..”, kata Melinda.

    Mereka pun segera duduk dan makan pagi bersama satu meja. Asti dan Ardi adalah teman bisnis suami Melinda di Jakarta, sedangkan Ferdy adalah seorang dokter, duda, yang jadi dokter keluarga Melinda. Ferdy dikenalkan kepada keluarga Melinda oleh Asti dan Ardi dulunya.

    “Nanti malam kita turun yuk? Kita habiskan malam bersama di diskotik”, ajak Ardi kepada Melinda.

    “Entahlah..”, kata Melinda.

    “Loh kenapa? Ayolah Bu Melinda, kita sekalisekali bergembira bersama”, kata Ferdy ikut menyela sambil tersenyum menatap Melinda.

    “Ikutlah, Melinda.. Masa cuma aku seorang ceweknya..”, kata Asti.

    “Baiklah kalau begitu.. Aku ikut”, kata Melinda sambil tersenyum.

    “Kamu tinggal di kamar berapa?”, tanya Ardi kepada Melinda.

    “Aku di suite room..”, kata Melinda sambil menyebutkan nomor kamarnya.

    “Ha? Kalau begitu kita bersebelahan dong..”, kata Asti sambil menyebutkan nomor kamar mereka.

    “Yee.. Kok aku tidak tahu, ya? Kapan kalian check in?”, tanya Melinda.

    “Semalem. Tadinya kami mau tinggal di kamar lain, tapi karena sudah penuh, akhirnya kami ditunjukkan kamar yang masih pada kosong..”, kata Ardi.

    “Tau nggak kalau kamar kita terhubung oleh connecting door?”, kata Melinda kepada Asti.

    “Iya? Berarti kita bisa kumpulkumpul nih..”, kata Asti girang.

    “Oke deh, Melinda.. Nanti malam kita pergi bareng ke Diskotik, ya?, ujar Ardi.

    “Aku bawa minuman enak dari Perancis nanti..”, kata Ardi lagi.

    “Baiklah. Kalian pada mau kemana?”, tanya Melinda.

    “Kami ada keperluan dulu. Bye..”, kata Asti sambil bangkit diikuti Ardi dan Andi, lalu mereka pergi.

    Malamnya, dengan memakai Tshirt ketat plus rok katun sangat mini sehingga paha mulusnya tampak dengan indah, Melinda berangkat dengan mereka ke diskotik.

    “Kita minum dulu deh biar hangat”, kata Ardi sambil menuang minuman bawaannya ke dalam gelas dan disodorkan kepada Melinda.

    “Okay.. Siapa takut..”, kata Melinda sambil meneguk minumannya.

    “Hm.. Enak.. Manis.. Give me more, please.”, kata Melinda kepada Ardi.

    Ardipun segera menuang lagi minuman ke gelas Melinda yang sudah kosong.

    “Jangan terlalu banyak, Melinda.. Nanti kamu jadi hot, loh..”, kata Asti sambil tertawa.

    Mereka tertawatawa sambil menikmati minuman berakohol diiringi lagu yang diputar DJ.


    “Turun, yuk..”, ajak Ferdy kepada Melinda.

    “Ayo..”, kata Melinda sambil bangkit.

    Perasaannya sudah mulai terpengaruh alkohol. Akhirnya Asti dan Ardi serta Melinda dan Ferdy melantai mengikuti hentakan irama yang cepat. Sampai akhirnya ketika lagu berganti ke irama slow, Melinda dan Ferdy saling berangkulan dan berdansa mengikuti alunan irama lagu.

    “Mmhh..”, Melinda mendesah hampir tak tedengar ketika dadanya bersentuhan dengan dada Ferdy.

    Entah karena pengaruh alkohol atau memang karena libido Melinda yang tinggi, puting susu Melinda mengeras dan makin mengeras ketika dadanya bersentuhan dengan badan Ferdy. Gairah Melinda bangkit karenanya. Tapi Melinda masih bisa menahan dirinya. Mereka terus menikmati waktu yang ada sambil meneguk minuman hingga wajah mereka memerah. Melinda benarbenar menikmati malam itu selagi bisa bebas dari beban pekerjaan dan anakanaknya. Sampai ketika waktu menunjukkan jam 1.00 pagi mereka segera pulang ke hotel.

    “Kita ngobrol di kamar saja, yuk?”, kata Ardi.

    “Okay.. Nanti aku buka connecting doornya”, kata Melinda sambil berlalu menuju kamarnya.

    Sementara Asti, Ardi dan Ferdy masih dudukduduk di lobby.

    Sesampainya di kamar, Melinda segera membuka connecting doornya, lalu dia ketuk pintu sebelahnya. Tidak ada jawaban.

    “Ah, masih pada di bawah barangkali..”, pikir Melinda sambil merebahkan badannya di ranjang.

    Hampir setengah jam menunggu, ternyata mereka tidak datang juga. Akhirnya Melinda memutuskan untuk berendam air hangat dan mandi selama beberapa menit.

    “Hei.. Sorry kami kelamaan..”, suara Asti yang tibatiba masuk kamar mandi mengagetkan Melinda yang baru saja memakai kimono.

    “Ardi dan Ferdy di ruang tengah..”, kata Asti lagi sambil agak sempoyongan.

    “Kamar kamu enak juga ada ruang tamunya.. Kita bisa ngobrol disini..”, kata Asti lagi.

    “Shit!! Ngapain kumpul di kamar aku?”, bisik hati Melinda.

    “Hei perempuan! Cepatlah kemari.. Kita habiskan sisa minuman tadi”, terdengar suara Ardi memanggil.

    Akhirnya mereka berempat lagilagi meneguk bergelas alkohol yang dibawa Ardi.

    “Ohh.. Gawat! Kenapa aku jadi pengen..”, hati Melinda berbisik ketika pengaruh alkohol mulai menjalar di tubuhnya.

    Terasa oleh Melinda buah dada serta puting susunya mulai mengeras lagi, sementara memeknya terasa berdenyut basah menahan gairah..

    “Aku akan hirup udara segar dulu..”, kata Melinda sambil bangkit agak terhuyung menuju teras.

    Dihirupnya udara malam dalamdalam untuk mengurangi sesuatu di dalam tubuhnya yang mulai menggoda imannya.

    “Ohh..”, tibatiba terdengar suara Ardi mendesah keras dari dalam.

    Melinda segera melongokan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.


    “Oh my God!”, batin Melinda ketika melihat apa yang terjadi. Gairah dan denyutan memeknya semakin terasa menggoda.

    Di depan matanya, Melinda melihat bagaimana Asti berciuman dengan suaminya di kursi sambil tangannya mengocok penis Ardi yang sudah tegak. Celana Ardi hanya dibuka dan diperosotkan sebatas pahanya saja.

    “Ohh.. Cepat hisap kontol aku, bitch!”, kata Ardi kepada Asti.

    Dengan serta merta Asti menurunkan kepalanya, lalu dengan segera penis Ardi sudah dilahapnya sambil tetap dikocok pelan.

    “Ooh..”, desah Ardi ketika lidah Asti menjilati kepala penisnya sambil batangnya tetap dikocok tangan Asti.

    “Apa yang harus aku lakukan?”, batin Melinda ketika melihat penis Ardi yang basah di jilat dan dihisap mulut Asti.

    Gairahnya semakin memuncak. Dengan mata agak nanar terus dilihatnya Asti dan Ardi. Antara sadar dan tidak, tak terasa oleh Melinda ketika Ferdy menempelkan tubuhnya dari belakang. Tangan Ferdy menyusuri kaki Melinda dari betis sampai paha lalu naik ke pantat Melinda yang belum sempai memakai pakaian dalam sejak selesai mandi tadi..

    “Hei! Pak Ferdy ngapain?!”, kata Melinda kaget sambil menepis tangan Ferdy dari pantatnya.

    “Kita samasama tahu samasama mau kan..”, kata Ferdy sambil mendekati Melinda.

    Melinda segera menghindar dan berlari menuju kamarnya melewati Asti dan Ardi yang sedang asyik melakukan oral seks. Asti dan Ardi sampai kaget dan menghentikan cumbuan mereka ketika melihat Melinda melintas. Di dalam kamarnya Melinda masih bingung dan teringat akan oral seks Asti dan Ardi serta perlakuan Ferdy kepadanya. Sebetulnya gairah Melinda sudah sangat memuncak saat itu, tapi entah kenapa masih ada rasa ragu di hatinya.


    “Ada apa, Melinda?”, tibatiba Asti masuk kamar dan menghampiri Melinda yang masih berdiri.

    “Entahlah.. Aku.. Aku aku tak tahu..”, kata Melinda sambil melepas kimono lalu segera memakai celana dalamnya.

    Tapi ketika Melinda akan memakai memakai Bra, tibatiba Asti memeluknya dari belakang hingga Melinda tidak jadi memakai Bra tersebut.

    “Ayolah Melinda, kita nikmati malam ini..”, bisik Asti ke telinga Melinda.

    “Mmhh..”, desah Melinda ketika tangan Asti mengusap seluruh badannya.

    Usapan dan belaian tangan Asti kembali mengobarkan gairah Melinda yang sempat surut.

    “Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini?”, bisik Asti lagi sambil tangannya meremas kedua buah dada Melinda dari belakang.

    “Ohh..”, desah Melinda sambil terpejam menikmati sensasi jari tangan Asti ketika memainkan dan memelintir puting susunya.

    “Mmhh.. Ohh..”, desah Melinda makin keras ketika lidah dan bibir Asti menyusuri telinga, tengkuk dan lehernya sembari tangannya tetap meremas dan memainkan puting susu Melinda.

    “Nikmati saja malam ini..”, bisik Asti sambil membalikan badan Melinda dan merebahkannya di ranjang.

    “Oww..”, jerit lirih Melinda ketika lidah dan bibir Asti menciumi dan menjilati buah dada serta puting susunya.

    “Astiihh.. Oohhsshh..”, jerit Melinda makin keras ketika jari Asti masuk ke celana dalam dan menggosok memeknya.

    Tubuh Melinda menggeliat terbawa rasa nikmat dan terlepasnya himpitan gairah yang tertahan sebelumnya.

    “Kamu menyukai ini?”, bisik Asti sambil lidah dan mulutnya turun menyusuri perut sementara tangannya melepas celana dalan yang dipakai Melinda.

    “Ohh.. Assttiihh..”, jerit Melinda ketika ada rasa nikmat yang menjalar ketika lidah Asti dengan liar menyusuri belahan memeknya.

    “Ohh Asti.. Enakkhh”, desah Melinda waktu lidah Asti menjilati kelentit dan sesekali mengulumnya.

    “Anniihh.. Akku.. Keluarrhh..!”, jerit Melinda sambil menggelinjang dan mendesakan kepala Asti ke memeknya ketika ada semburan hangat terasa di memeknya yang disertai rasa nikmat yang luar biasa.


    Asti tersenyum sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir Melinda.

    “Aku baru kali ini merasakan bercumbu dengan wanita.. Ternyata memuaskan..”, bisik Melinda sambil sesekali mengecup bibir Asti.

    Ketika Melinda dan Asti saling lumat bibir, terasa oleh Melinda ada tangan yang menjamah, membelai dan meremas pelan buah dadanya.

    “Sayang, kamu layani si Ferdy..”, Ardi menyuruh dan menarik tubuh Asti dari atas tubuh Melinda.

    “Kamu menyukai permainan istriku, Melinda?”, kata Ardi yang sudah telanjang bulat sambil menindih tubuh Melinda serta mulai menciumi leher lalu turun ke buah dada Melinda.

    “Jangaann!! “, teriak Melinda sambil meronta menjauhkan wajah Ardi dari buah dadanya.

    Tapi Ardi dengan cepat memegang kedua tangan Melinda, lalu lidah dan mulutnya kembali meneruskan menjilati buah dada dan puting susu Melinda.

    “Ohh.. Jangaannhh.. Janghh.. Jangannhh..”, rintih Melinda diantara rasa malu, rasa terhina, serta rasa nikmat ketika lidah Ardi bisa memberikan rasa itu.

    Apalagi ketika penis Ardi yang tegang dan tegak mengesekgesek memeknya yang sudah basah. Bahkan ketika lidah Ardi turun ke perut, turun lagi hingga mencapai memeknya, Melinda kembali menggelepar dalam kenikmatan walau hatinya menolak diperlakukan demikian.

    “Jangannhh..!”, jerit lirih Melinda ketika Ardi mulai mengarahkan penisnya ke lubang memeknya.

    Asti yang sedang asyik disetubuhi Ferdy sempat menghentikan persetubuhannya lalu bangkit dan mencoba memegang penis Ardi agar tidak menyetubuhi Melinda.

    “Sudah! Kamu nikmati saja kontol si Ferdy sana!”, kata Ardi agak keras sambil mendorong tubuh Asti.

    “Sudahlah, Asti.. Sini!”, kata Ferdy sambil menarik dan merebahkan tubuh Asti di karpet lalu kembali menyetubuhi istri temannya itu.

    “Ohh..!”, terdengar desah Melinda ketika penis Ardi masuk ke memeknya lalu dengan kasar dan cepat Ardi menggenjotnya.

    “Jangan, Ardiii.. Lepaskan aku!”, jerit lirih Melinda di sela rasa sakit dan nikmat ketika penis Ardi keluar masuk memeknya.


    “Fuck you, bitch!”, kata Ardi sambil mengangkat satu kaki Melinda dan di tahan oleh pundaknya.

    “Ohh.. Memekmu nikmat, Melinda..”, kata Ardi sambil memompa kontolnya lebih dalam dengan posisi demikian.

    “Ohh.. Mmhh..”, desah Melinda sambil terpejam.

    Rasa sakit yang ada kini berganti rasa nikmat yang luar biasa.

    “Bagaimana rasanya, sayang..”, terdengar suara Asti di samping Melinda ketika Asti mengganti posisi dengan doggy style di atas ranjang.

    “Kamu nikmati saja malam ini, Melinda.. Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini..”, Ferdy menyela sambil mengenjot memek Asti dalam posisi menungging.

    “Mmhh.. Sshh.. Ohh”, Melinda hanya menjawab dengan desahan pertanda sedang menikmati suatu kenikmatan ketika Ardi dengan ganas mengeluarmasukkan penis ke memeknya.

    “Ooww.. Ohh..!”, terdengar suara Melinda menjerit sambil memegang tangan Ardi dengan kencang.

    Sementara tubuhnya menggeliat serta mendesakkan memeknya ke penis Ardi dan menggoyangnya dengan cepat.

    “Serr! Serr! Serr!”, kembali memek Melinda mengeluarkan air mani yang menyembur hangat di dalam memeknya.

    “Ohh.. Fuck you! Fuck you!”, kata Ardi sambil menggenjot kontolnya makin cepat dan makin cepat.

    “Crott! Croott! Crott!”, air mani Ardi menyembur banyak di dalam memek Melinda.

    “Oohh..!!”, desah Ardi sambil merebahkan tubuhnya menindih tubuh Melinda.

    Melinda hanya bisa memejamkan mata setelahnya. Rasa lelah serta pengaruh alkohol yang masih ada membuatnya tak mempedulikan lagi keadaan disekelilingnya. Yang sempat terdengar oleh telinga Melinda adalah teriakan kenikmatan yang keluar dari mulut Asti dan Ferdy yang sedang asyik bersetubuh di depan suami Asti sendiri. Mata Melinda sedikit demi sedikit makin berat. Hanya rasa nyaman dan sisasisa kenikmatan di memek Melinda yang membuat memeknya berdenyutdenyut hingga Melinda tertidur.


    Melinda tertidur sampai siang hari dalam kedaan telanjang bulat. Tubuhnya tertidur hanya diselimuti oleh bed cover. Tak terdengar olehnya ketukan pintu oleh cleaning service. Sehingga ketika cleaning service membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa, dia begitu terkejut melihat tubuh molek tergolek di ranjang.

    “Eh.., maaf, Bu.. Saya kira tidak ada siapsiapa di dalam”, kata petugas kebersihan tersebut.

    “Tidak apaapa.. Kembali lagi saja dan bereskan kamar saya nanti agak siang..”, kata Melinda sambil menyelimuti tubuhnya lebih rapat.

    Setelah petugas itu keluar, Melinda hanya bisa merenungi apa yang terjadi semalam. Melinda sendiri merasa heran, dirinya tidak mau dipaksa, diperkosa, entah apapun namanya, tapi yang jelas dirinya begitu menikmati perlakuan orang lain yang begitu kasar pada dirinya pada akhirnya..

    Melinda memang sangat suka berpetualang seks dari sebelum menikah sampai sekarang, tapi belum pernah merasakan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan semalam. Ingin rasa hati Melinda menceritakan hal ini kepada suaminya, tapi pertentangan batin terjadi dalam hatinya karena hal ini menyangkut kepada temanteman baik suaminya. Bahkan terbersit keinginan Melinda untuk kembali ingin mendapatkan sensasi kenikmatan dengan menjadi objek pemaksaan seksual.

  • Cerita Sex Perawan Nakal

    Cerita Sex Perawan Nakal


    2884 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Perawan Nakal ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita SexSebut saja namaku Lila, umurku 16 tahun, kelas 2 SMA. Sebagai anak SMA, tinggiku relatif sedang, 165 cm, dengan berat 48 kg, dan cup bra 36B. Untuk yang terakhir itu, aku memang cukup pede. Walau sebenarnya wajahku cukup manis (bukannya sombong, itu kata teman-temanku…) aku sudah lumayan lama menjomblo, 1 tahun. Itu karena aku amat selektif memilih pacar… enggak mau salah pilih kayak yang terakhir kali.
    Di sekolah aku punya teman akrab bernama Stella. Dia orangnya lumayan cantik, walau lebih pendek dariku, tapi dia sering banget gonta-ganti pacar. Stella memang sangat menarik, apalagi ia sering menggunakan seragam atau pakaian yang minim… peduli amat kata guru, pesona jalan terus!

    Saat darmawisata sekolah ke Cibubur, aku dan dia sekamar, dan 4 orang lain. 1 kamar memang dihuni 6 orang, tapi sebenarnya kamarnya kecil banget… aku dan Stella sampai berantem sama guru yang mengurusi pembagian kamar, dan alhasil, kami pun bisa memperoleh villa lain yang agak lebih jauh dari villa induk. Disana, kami berenam tinggal dengan 1 kelompok cewek lainnya, dan di belakang villa kami, hanya terpisah pagar tanaman, adalah villa cowok.

    “Lila, lo udah beres-beres, belum?” tanya Stella saat dilihatnya aku masih asyik tidur-tiduran sambil menikmati dinginnya udara Cibubur, lain dengan Jakarta.
    “Belum, ini baru mau beres-beres.” Jawabku sekenanya, karena masih malas bergerak.
    “Nanti aja, deh. Kita jalan-jalan, yuk,” ajak Stella santai.
    “Boleh juga…” gumamku sambil bangun dan menemaninya jalan-jalan.

    Kami berkeliling melihat-lihat pasar lokal, villa induk, dan tempat-tempat lain yang menarik. Di jalan, kami bertemu dengan Rio, Adi, dan Yudi yang kayaknya lagi sibuk bawa banyak barang.

    “Mau kemana, Yud?” sapa Stella.
    “Eh, Stel. Gue ama yang lain mau pindahan nih ke villa cowok yang satunya, villa induk udah penuh sih.” Rio yang menjawab. “Lo berdua mau bantu, nggak? Gila, gue udah nggak kuat bawa se-muanya, nih.” Pintanya memelas.
    “Oke, tapi yang enteng ajaaa…” jawabku sambil mengambil alih beberapa barang ringan. Stella ikut meringankan beban Adi dan Yudi.

    Sampai di villa cowok, aku bengong. Yang bener aja, masa iya aku dan Stella harus masuk ke sana? Akhirnya aku dan Stella hanya mengantar sampai pintu. Yudi dan Adi bergegas masuk, sementara Rio malah santai-santai di ruang tamu.

    “Masuk aja kali, Stel, Lil.” Ajaknya cuek.
    “Ngng… nggak usah, Yud.” Tolakku. Stella diam aja.
    “Stella! Sini dong!” terdengar teriakan dari dalam. Aku mengenalinya sebagai suara Feri.
    “Gue boleh masuk, ya?” tanya Stella sambil melangkah masuk sedikit.
    “Boleh doooong!!” terdengar koor kompak anak cowok dari dalam. Stella langsung masuk, aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

    Di dalam, anak-anak cowok, sekitar delapan orang, kalo Rio yang diluar nggak dihitung, lagi asyik nongkrong sambil main gitar. Begitu melihat kami, mereka langsung berteriak girang,

    Cerita Sex Perawan Nakal “Eh, ada cewek!! Serbuuuuu!!” Serentak, delapan orang itu maju seolah mau mengejar kami, aku dan Stella langsung mundur sambil tertawa-tawa. Aku langsung mengenali delapan orang itu, Yudi, Adi, Feri, Kiki, Dana, Ben, Agam, dan Roni. Semua dari kelas yang berbeda-beda.

    Tak lama, aku dan Stella sudah berada di antara mereka, bercanda dan ngobrol-ngobrol. Stella malah dengan santai tiduran telungkup di kasur mereka, aku risih banget melihatnya, tapi diam aja. Entah siapa yang mulai, banyak yang menyindir Stella.

    “Stell… nggak takut digrepe-grepe lu di atas sana?” tanya Adi bercanda.
    “Siapa berani, ha?” tantang Stella bercanda juga. Tapi Kiki malah menanggapi serius, tangannya naik menyentuh bahu Stella. Cewek itu langsung mem*kik menghindar, sementara cowok-cowok lain malah ribut menyoraki. Aku makin gugup.
    “Stell, bener ya kata gosip lo udah nggak virgin?” kejar Roni.
    “Kata siapa, ah…” balas Stella pura-pura marah.

    Tapi gayanya yang kenes malah dianggap seb-agai anggukan iya oleh para cowok.

    “Boleh dong, gue juga nyicip, Stell?” tanya Dio.

    Stella diam aja, aku juga tambah risih. Apalagi pundak Feri mulai ditempelkan ke pundakku, dan entah sengaja atau tidak, tangan Agam menyilang di balik punggungku, seolah hendak merangkul. Bingung karena diimpit mereka, aku memutuskan untuk tidak bergerak.

    “Gue masih virgin, Lila juga… kata siapa itu tadi?” omel Stella sambil bergerak untuk turun dari kasur. Tapi ditahan Roni.
    “Gitu aja marah, udah, kita ngobrol lagi, jangan tersinggung.” Bujuknya sambil mengelus-elus rambut Stella.

    Aku tahu Stella dulu pernah suka sama Roni, jadi dia membi-arkan Roni mengelus rambut dan pundaknya, bahkan tidak marah saat dirangkul pinggangnya.

    “Lil, lo mau dirangkul juga sama gue?” bisik Agam di telingaku.

    Rupanya ia menyadari kalau aku memperhatikan tangan Roni yang mengalungi pinggang Stella. Tanpa menunggu jawaban, Agam memeluk pinggangku, aku kaget, namun sebelum protes, tangan Feri sudah menempel di pahaku yang terbungkus celana selutut, sementara pelukan Agam membuatku mau tak mau berbaring di dadanya yang bidang. Teriakan protes dan penolakanku tenggelam di tengah-tengah sorakan yang lain. Rio bahkan sampai masuk ke kamar karena mendengar ribut-ribut tadi.

    “Gue juga mau, dong!” Yudi dan Kiki menghampiri Stella yang juga lagi dipeluk Roni, sementara Adi, Ben, dan Rio menghampiriku.

    Berbeda denganku yang menjerit ketakutan, Stella malah kelihatan keenakan dipeluk-peluki dari berbagai arah oleh cowok-cowok yang mulai kegirangan itu.

    “Jangan!” teriakku saat Rio mencium pipi, dan mulai merambah bibirku.

    Sementara Ben menjilati leherku dan tangannya mampir di dada kiriku, meremas-remasnya dengan gemas sampai aku ke-gelian. Kurasakan genggaman kuat Feri di dada kananku, sementara Adi menjilati pusarku. Terny-ata mereka telah mengangkat kaosku sampai sebatas dada. Aku menjerit-jerit memohon supaya mereka berhenti, tapi sia-sia. Kulirik Stella yang sedang mendapat perlakuan sama dari Roni, Yudi, dan Kiki, bahkan Dana telah melucuti celana jins Stella dan melemparnya ke bawah kasur.

    Lama-kelamaan, rasa geli yang nikmat membungkus tubuhku. Percuma aku menjerit-jerit, akhir-nya aku pasrah. Melihatnya, Agam langsung melucuti kaosku, dan mencupang punggungku. Feri dan Rio bahkan sudah membuka seluruh pakaian mereka kecuali celana dalam. Aku kagum juga melihat dada Feri yang bidang dan harumnya khas cowok. Aku hanya bisa terdiam dan meringis nikmat saat dada bidang itu mendekapku dan menciumi bibirku dengan ganas.

    Cerita Sex Perawan Nakal Aku membalas ciu-man Feri sambil menikmati bibir Adi yang tengah mengulum payudaraku yang ternyata sudah terl-epas dari pelindungnya. Vaginaku terasa basah, dan gatal. Seolah mengetahuinya, Rio membuka celanaku sekaligus CDku sehingga aku langsung bugil. Agak risih juga dipandangi dengan begitu liar dan berhasrat oleh cowok-cowok itu, tapi aku sudah mulai keenakan.

    “Ssshh…. aaakhh…” aku mendesis saat Adi dan Ben melumat payudaraku dengan liar.
    “Mmmh, toket lo montok banget, Liiiil…” gumam Ben.

    Aku tersenyum bangga, namun tidak lama, karena aku langsung menjerit kecil saat kurasakan sapuan lidah di bibir vaginaku.

    “Cihuy… Lila emang masih perawan…” Agam yang entah sejak kapan sudah berada di daerah rahasiaku menyeringai. “Akkkhh… jangan Gam…” desahku saat kurasakan kenikmatan yang tiada tara.
    “Gue udah kebelet, niih… gue perawanin ya, Lil…” Tak terasa, sesuatu yang bundar dan keras menyusup ke dalam vaginaku, ternyata penis Agam sudah siap untuk bersarang disana.

    Aku men-desah-desah diiringi jeritan kesakitan saat ia menyodokku dan darah segar mengalir.

    “Sakiiit…” erangku.

    Agam menyodok lagi, kali ini penisnya sudah sepenuhnya masuk, aku mulai terbiasa, dan ia pun langsung menggenjot dan menyodok-nyodok. Aku mengerang nikmat.

    “Ssshh… terusss… yaaa, akh! Akh! Nikmat, Gam! Teruuss… sayang, puasin gue… Akkkhh…”

    Sementara pantat Agam masih bergoyang, cowok-cowok lain yang sudah telanjang bulat juga mulai berebutan menyodorkan penis mereka yang sudah tegang ke bibirku.

    “Gue dulu ya, Lil… nih, lu karaoke,” ujar Rio sambil menyodokkan penisnya ke dalam mulutku.

    Aku agak canggung dan kaget menerimanya, tapi kemudian aku mulai mengulumnya dan mempe-rmainkan lidahku menjelajahi barang Rio. Ia mendesah-desah keenakan sambil merem-melek. Sementara Ben masih menikmati buah dadaku, Adi nampaknya sudah mulai beranjak ke arah Stella yang dikerubuti dan digenjot juga sama sepertiku. Markas Judi Online Dominoqq

    Bedanya, kulihat Stella sudah nungging, ala doggy style, penis Dana tengah menggenjot vaginanya dan toketnya yang menggantung sedang dilahap oleh Kiki, sementara mulutnya mengoral penis Yudi. Stella nampak amat menikm-atinya, dan cowok-cowok yang mengerumuninya pun demikian. Beberapa saat kemudian, kulihat Dana orgasme, dan kemudian Rio yang keenakan barangnya kuoral juga orgasme dalam mulutku, aku kewalahan dan hampir saja memuntahkan cairannya.

    Mendadak, kurasakan vaginaku banjir, ternyata Agam sudah orgasme dan menembakkan sper-manya di dalam vaginaku, cowok itu terbaring lemas di sampingku, untuk beberapa menit, kukira ia tidur, tapi kemudian ia bangun dan menciumi pusarku dengan penuh nafsu. Kini, vaginaku suda-h diisi lagi dengan penis Beni. Penisnya lebih besar dan menggairahkan, sehingga membuat mata-ku terbelalak terpesona. Beni menyodokkan penisnya dengan pelan-pelan sebelum mulai mengg-enjotku, rasanya nikmat sekali seperti melayang.

    Kedua kakiku menjepit pinggangnya dan bongka-han pantatku turut bergoyang penuh gairah. Kubiarkan tubuhku jadi milik mereka.

    “Akkkhh…. ssshh… terus, teruuusss sayaaang… akh, nikmat, aaahhh…” erangku keenakan.

    Tok-etku yang bergoyang-goyang langsung ditangkap oleh mulut dan tangan Rio. Ia memainkan puting susuku dan mencubit-cubitnya dengan gemas, aku semakin berkelojotan keenakan, dan meracau tidak jelas, “Akkkhh… teruuuss… entot gue, entooott gue teruuss! Gue milik luu… aakhh…!!”

    “Iya sayyyaangg… gue entot lu sampe puasss…” sahut Ben sambil mencengkeram pantatku dan mempercepat goyangan penisnya.

    Rio juga semakin lahap menikmati gunung kembarku, menjilat, menggigit, mencium, seolah ingin menelannya bulat-bulat, dan sebelum aku sempat meracau lagi, Agam telah mendaratkan bibirnya di bibirku, kami saling berpagutan penuh gairah, melilitkan lidah dengan sangat liar, dan klimaksnya saat gelombang kenikmatan melandaku sampai ke puncaknya.

    “Aaakkhh…. gue mau…!” Belum selesai ucapanku, aku langsung orgasme.

    Cerita Sex Perawan Nakal

    Cerita Sex Perawan Nakal

    Ben menyusul beber-apa saat kemudian, dan vaginaku benar-benar banjir. Tubuh Ben langsung jatuh dengan posisi penisnya masih dalam jepitan vaginaku, ia memeluk pinggangku dan menciumi pusarku dengan lemas. Sementara aku masih saja digerayangi oleh Agam yang tak peduli dengan keadaanku dan meminta untuk dioral, dan Rio yang menggosok-gosokkan penisnya di toketku dengan nikmat.

    Beberapa saat kemudian, Agam pun orgasme lagi. Agam jatuh dengan posisi wajah tepat di sampingku, sementara Rio tanpa belas kasihan memasukkan penisnya ke vaginaku, dan mengge-njotku lagi sementara aku berciuman penuh gairah dengan Agam. Selang beberapa saat Rio org-asme dan jatuh menindihku dengan penis masih menancap, ia memelukku mesra sebelum kemud-ian tertidur. Aku sempat mendengar erangan nikmat dari arah Stella, sebelum akhirnya benar-benar tertidur kecapekan, membiarkan Beni dan Agam yang masih menciumi sekujur tubuhku.

    Selama tiga hari kami disana, kami selalu melakukannya setiap ada kesempatan. Sudah tak ter-hitung lagi berapa kali penis mereka mencumbu vaginaku, namun aku menikmati itu semua. Bahk-an, bila tak ada yang melihat, aku dan Stella masih sering bermesraan dengan salah satu dari mereka, seperti saat aku berpapasan dengan Agam di tempat sepi, aku duduk di pangkuannya sementara tangannya menggerayangi dadaku, dan bibirnya berciuman dengan bibirku, dan penis-nya menusuk-nusukku dari bawah.

    Sungguh pengalaman yang mendebarkan dan penuh nikmat—tubuhku ini telah digauli dan dimiliki beramai-ramai, namun aku malah ketagihan.-

    cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,

  • Kisah Memek Ngentot Dengan Sepupu Cantik

    Kisah Memek Ngentot Dengan Sepupu Cantik


    3282 views

    Duniabola99.com – Kedua barbel kecil masing-masing seberat 5 kilogram terasa telah kian berat saja kuayun-ayunkan bergantian. Keringatku telah sejak tadi berseleweran membasahi seluruh tubuhku yang kuperhatikan lewat cermin sebesar pintu di depanku itu telah tambah mekar dan kekar.

    Kalau dibandingkan dengan atlet binaraga, aku tak kalah indahnya. Aku hanya tersenyum sambil kemudian menaruh kedua barbelku dan menyeka keringat di dahi. Kuperhatikan jam telah menunjukan pukul 22:39 tepat.

    Ya, memang pada jam-jam seperti ini aku biasa olahraga berat untuk membentuk otot-otot di tubuhku. Suasana sepi dan udara sejuk sangat aku sukai. Kamar kost-ku di pinggiran utara kota Jogja memang menawarkan hawa dinginnya. Itulah sebabnya aku sangat betah kost di sini sejak resmi jadi mahasiswa hingga hampir ujian akhirku yang memasuki semester delapan ini.


    Sudah jadi kebiasaanku, aku selalu berolahraga dengan telanjang bulat, sehingga dapat kuperhatikan tubuhku sendiri lewat cermin itu yang kian hari kian tumbuh kekar dan indah. berkulit sawo matang gelap. Rambut kasar memenuhi hampir di seluruh kedua lengan tangan dan kaki serta dadaku yang membidang ke bawah, lebih-lebih pada daerah kemaluanku.

    Rambutnya tumbuh subur dengan batang zakarnya yang selalu terhangati olehnya. Kuraba-raba batang kemaluanku yang mulai beranjak tegang ereksi ini. Hmm, ouh, mengasyikan sekali. Air keringatku turut membasahi batang zakar dan buah pelirku.

    Dengan sambil duduk di kursi plastik aku berfantasi seandainya ini dilakukan oleh seorang wanita. Mengelus-elus zakarku yang pernah kuukur memiliki panjang 16 centimeter dengan garis lingkar yang 5 centimeter! Mataku hanya merem melek saja menikmati sensasi yang indah ini.

    Perlahan-lahan aku mulai melumuri batang zakarku dengan air liurku sendiri. Kini sambil menggenggam batang zakar, aku terus menerus melakukan mengocok-ngocok secara lembut yang berangsur-angsur ke tempo cepat.

    Aku tengah menikmati itu semua dengan sensasiku yang luar biasa ketika tiba-tiba pintu kamar kost-ku diketok pelan-pelan. Sial, aku sejenak terperangah, lebih-lebih saat kudengar suara cewek yang cukup lama sekali tak pernah kudengar.

    “Mas, Mas Andi? Ini aku, Netty!”

    Netty? Adik sepupuku dari Pekalongan? Ngapain malam-malam begini ini datang ke Jogja? Gila! Buru-buru aku melilitkan kain handuk kecilku sambil memburu ke arah pintu untuk membukakannya. “Netty?” ucapku sambil menggeser posisiku berdiri untuk memberi jalan masuk buat adik sepupuku yang terkenal tomboy ini.

    Netty terus saja masuk ke dalam sambil melempar tas ranselnya dan lari ke kamar mandi yang memang tersedia di setiap kamar kost ini. Sejenak aku melongok keluar, sepi, hanya gelap di halaman samping yang menawarkan kesunyian. Pintu kembali kututup dan kukunci. Aku hanya menghela nafasku dalam-dalam sambil memperhatikan tas ransel Netty.

    Tak berapa lama Netty keluar dengan wajah basah dan kusut. Rambutnya yang lebat sebahu acak-acakan. Aku agak terkejut saat menyadari bahwa kini Netty hanya memakai kaos oblong khas Jogja. Rupanya ia telah melepas celana jeans biru ketatnya di kamar mandi.


    Kulit pahanya yang kuning langsat dan ketat itu terlihat jelas. “Ada masalah apa lagi, hmm? Dapat nilai jelek lagi di sekolahan lalu dimarahi Bapak Ibumu?” tanyaku sambil mendekat dan mengelus rambutnya, Netty hanya terdiam saja. Anak SMU kelas dua ini memang bandel. Mungkin sifat tomboynya yang membuat dirinya begitu.

    Tak mudah diatur dan maunya sendiri saja. Jadinya, aku ini yang sering kewalahan jika ia datang mendadak minta perlindunganku. Aku memang punya pengaruh di lingkungan keluarganya.

    Netty hanya berdiri termangu di depan cermin olah ragaku. Walau wajahnya merunduk, aku dapat melihat bahwa dia sedang memandangi tubuhku yang setengah telanjang ini.

    “Lama ya Mas, Netty nggak ke sini.”

    “Hampir lima tahun,” jawabku lebih mendekat lagi lalu kusadari bahwa lengan dan tangannya luka lecet kecil.

    “Berantem lagi, ya? Gila!” seruku kaget menyadari memar-memar di leher, wajah, kaki, dan entah dimana lagi.

    “Netty kalah, Mas. Dikeroyok sepuluh cowok jalanan. Sakit semua, ouih. Mas, jangan bilang sama Bapak Ibu ya, kalau Netty kesini. Aduh..!” teriak tertahan Netty mengaduh pada dadanya.

    “Apa yang kamu rasakan Ir? Dimana sakitnya, dimana?” tanyaku menahan tubuhnya yang mau roboh.

    Tapi dengan kuat Netty dapat berdiri kembali secara gontai sambil memegangi lenganku.

    “Seluruh tubuhku rasanya sakit dan pegal semua, Mas, ouh!”

    “Biar Mas lihat, ya? Nggak apa-apa khan? Nggak malu, to?” desakku yang terus terang aku sudah mulai tergoda dengan postur tubuh Netty yang bongsor ketat. Netty hanya mengangguk kalem.

    “Ah, Mas Andi. Netty malah pengin seperti dulu lagi, kita mandi bareng.. Netty kangen sama pijitan Mas Andi!” ujar Netty tersenyum malu.

    Edan! Aku kian merasakan batang kemaluanku mengeras ketat. Dan itu jelas sekali terlihat pada bentuk handuk kecil yang menutupinya, ada semacam benda keras yang hendak menyodok keluar. Dan Netty dapat pula melihatnya! Perlahan kulepas kaos oblong Netty.


    Sebentar dirinya seperti malu-malu, tapi kemudian membiarkan tanganku kemudian melepas BH ukuran 36B serta CD krem berenda ketatnya. Aku terkejut dan sekaligus terangsang hebat. Di tubuh mulusnya yang indah itu, banyak memar menghiasinya. Aku berjalan memutari tubuh telanjangnya.

    Dengan gemetaran, jemariku menggerayangi wajahnya, bibirnya, lalu leher dan terus ke bawahnya. Cukup lama aku meraba-raba dan mengelus serta meremas lembut buah dadanya yang ranum ini. “Mas Andi.. enak sekali Mas, teruskan yaa.. ouh, ouh..!” pinta mulut Netty sambil merem-melek. Mulutku kini maju ke dada Netty. Perlahan kuhisap dan kukulum nikmat puting susunya yang coklat kehitaman itu secara bergantian kiri dan kanannya.

    Sementara kedua jemari tanganku tetap meremas-remas kalem dan meningkat keras. Mulut Netty makin merintih-rintih memintaku untuk berbuat lebih nekat dan berani. Netty menantangku, sedotan pada puting susunya makin kukeraskan sambil kuselingi dengan memilin-milin puting-puting susu tersebut secara gemas.

    “Auuh, aduh Mas Andi, lebih keras.. lebih kencang, ouh!” menggelinjang tubuh Netty sambil berpegangan pada kedua pundakku. Puting Netty memang kenyal dan mengasyikan. Kurasakan bahwa kedua puting susu Netty telah mengeras total. Aku merendahkan tubuhku ke bawah, mulutku menyusuri kulit tubuh bugil Netty, menyapu perutnya dan terus ke bawah lagi.

    Rambut kemaluan Netty rupanya dicukur habis, sehingga yang tampak kini adalah gundukan daging lembut yang terbelah celah sempitnya yang rapat. Karuan lagi saja, mulutku langsung menerkam bibir kemaluan Netty dengan penuh nafsu. Aku terus mendesakkan mulutku ke dalam liang kemaluannya yang sempit sambil menjulurkan lidahku untuk menjilati klitorisnya di dalam sana. Netty benar-benar sangat menggairahkan.

    Dalam masalah seks, aku memang memliki jadwal rutin dengan pacarku yang dokter gigi itu. Dan kalau dibandingkan, Netty lebih unggul dari Sinta, pacarku. Mulutku tidak hanya melumat-lumat bibir kemaluan Netty, tapi juga menyedot-nyedotnya dengan ganas, menggigit kecil serta menjilat-jilat.

    Tanpa kusadari kain handukku terlepas sendiri. Aku sudah merasakan batang kemaluanku yang minta untuk menerjang liang kemaluan lawan. Karuan lagi, aku cepat berdiri dan meminta Netty untuk jongkok di depanku.

    Gadis itu menurut saja. “Buka mulutmu, Dik. Buka!” pintaku sambil membimbing batang kemaluanku ke dalam mulut Netty. Gadis itu semula menolak keras, tapi aku terus memaksanya bahwa ini tidak berbahaya. Akhirnya Netty menurut saja. Netty mulai menyedot-nyedot keras batang kemaluanku sembari meremas-remas buah zakarku.


    Ahk, sungguh indah dan menggairahkan. Perbuatan Netty ini rupanya lebih binal dari Sinta. Jemari Netty kadangkala menyelingi dengan mengocok-ngocok batang kemaluanku, lalu menelannya dan melumat-lumat dengan girang.

    “Teruskan Dik, teruskan, yeeahh, ouh.. ouh.. auh!” teriakku kegelian. Keringat kembali berceceran deras. Aku turut serta menusuk-nusukan batang kemaluanku ke dalam mulut Netty, sehingga gadis cantik ini jadi tersendak-sendak. Tapi justru aku kian senang. Kini aku tak dapat menahan desakan titik puncak orgasmeku. Dengan cepat aku muntahkan spermaku di dalam mulut Netty yang masih mengulum ujung batang kemlauanku.

    “Croot.. creet.. crret..!”

    “Ditelan Dik, ayo ditelan habis, dan bersihkan lepotannya!” pintaku yang dituruti saja oleh Netty yang semula hendak memuntahkannya. Aku sedikit dapat bernafas lega. Netty telah menjilati dan membersihkan lepotan air maniku di sekujur ujung zakar.

    “Maass, ouh, rasanya aneh..!” ujar Netty sambil kuminta berdiri. Sesaat lamanya kami saling pandang. Kami kemudian hanya saling berpelukan dengan hangat dan mesra. Kurasakan desakan buah dadanya yang kencang itu menggelitik birahiku kembali.

    “Ayo Dik, menungging di depan cermin itu!” pintaku sambil mengarahkan tubuh Netty untuk menungging. Netty manut. Dengan cepat aku terus membenamkan batang kemaluanku ke liang kemaluan Netty lewat belakang dan melakukan gerakan maju mundur dengan kencang sekali.

    “Aduuh, auuh.. ouh.. ouh.. aah.. ouh, sakit, sakit Mas!” teriak-teriak mulut Netty merem-melek. Tapi aku tak peduli, adik sepupuku itu terus saja kuperkosa dengan hebat. Sambil berpegangan pada kedua pinggulnya, aku menari-narikan batang kemaluanku pada liang kemaluan Netty.

    “Sakiit.. ouhh..!”

    “Blesep.. slep.. sleep..” suara tusukan persetubuhan itu begitu indah.

    Netty terus saja menggelinjang hebat.


    Aku segera mencabut batang kemaluanku, membalikkan posisi tubuh Netty yang kini telentang dengan kedua kakinya kuminta untuk melipat sejajar badannya. sementara kedua tangannya memegangi lipatan kedua kakinya. Kini aku bekerja lagi untuk menyetubuhi Netty.

    “Ouuh.. aahhk.. ouh.. ouh..!”

    Dengan menopang tubuhku berpegangan pada buah dadanya, aku terus kian ganas tanpa ampun lagi menikam-nikam kemaluan Netty dengan batang kemaluanku.

    “Crroot.. cret.. creet..!”


    Menyemprot air mani zakarku di dalam liang kemaluan Netty. “Maas.. ouuh.. aduh.. aahk!” teriak Netty yang langsung agak lunglai lemas, sementara aku berbaring menindih tubuh bugilnya dengan batang kemaluanku yang masih tetap menancap di dalam kemaluanya.

    “Dik Netty, bagaimana kalau adik pindah sekolah di Jogja saja. Kita kontrak satu rumah.. hmm?” tanyaku sambil menciumi mulut tebal sensual Netty yang juga membalasku. “Netty sudi-sudi saja, Mas. Ouh..”

  • Video bokep Mitsuki Akai toket gede mastrubasi disofa

    Video bokep Mitsuki Akai toket gede mastrubasi disofa


    2136 views

  • Video Bokep Asia Ami Otowa dipaksa ngentot saat makeup

    Video Bokep Asia Ami Otowa dipaksa ngentot saat makeup


    2674 views

  • Foto Bugil Remaja Eropa mengekspos payudara besar dan mastrubasi

    Foto Bugil Remaja Eropa mengekspos payudara besar dan mastrubasi


    2070 views

    Duniabola99.com – foto gadis remaja kurus bertoket gede melepas bikini warna merahnya memamerkan memamerkan memeknya yang berwarna pink masih perawan melakukan mastrubasi dikursi sofa yang empuk hingga terkuklai lemas.

  • Derita Marshanda

    Derita Marshanda


    2879 views


    Duniabola99.com – Saat itu adalah hari yang melelahkan bagi Marshanda. Artis cilik yang biasa dipanggil Chacha ini tampat kelelahan, karena seharian penuh ia mengikuti syuting Bidadari dari pagi hingga malam. Saat tiba di depan rumahnya, orang tuanya membuka garasi untuk memasukkan mobil.

    Aduh Sapu tanganku jatuh. Ucap Marshanda pelan agar tidak terdengar orang tuanya.

    Artis cilik yang cantik itu sengaja mengendap keluar dari mobil yang hampir masuk garasi, keluar rumah untuk mengambil satu tangannya yang kebetulan jatuh tidak jauh dari pintu rumahnya. Saat keluar, seorang tukang becak yang dikenalnya, Pak Darso berumur 50 tahun lewat di depannya.

    Cari apa nak Marshanda? Tanyanya ramah.
    Mau ngambil sapu tangan saya di depan tuh Marshanda menunjuk ke depannya.

    Saat Marshanda menunduk mengambil satu tangannya, tibatiba sebuah tangan kekar menutup hidungnya, sementara tangan lain dengan sebilah pisau terhunus mengarah ke dekat lehernya. Marshanda terkejut bukan main. Ternyata pak Darso yang melakukannya.

    Kamu diam saja! Ikut becak saya ke rumah, kalau tidak mau mati. Di rumah cuma ada saya dan cucu saya Hendro Ucapnya dengan garang dan napas terengah.

    Akhirnya Marshanda terpaksa menurut diajak ke rumah Pak Darso. Ia cemas, tentu ayah ibunya akan mencaricarinya. Sampai di rumahnya, Pak Darso menyuruh Marshanda masuk ke kamarnya, sementara ia menutup pintu rumah dan menguncinya dari dalam.

    Sekarang kamu menurut saja. Sudah lama saya mencari kesempatan seperti ini. Biar kamu pantas jadi cucuku, malam ini kamu menggantikan istriku Ujar pak tua itu dengan suara keras.

    Maksudnya Bapak apaa? Tanya Marshanda gemetar.
    Wajah cantiknya itu kini seperti kelinci yang ketakutan. Tidak terlihat lagi senyum manis Si Lala di wajahnya.

    Duduk saja! Dan ikuti perintahku perintah Pak Darso.
    Saat itu Marshanda mengenakan kaus putih berlengan pendek dan bawahan berupa rok selutut terbuat dari bahan jeans. Tukang becak itu segera mendekat sehingga tubuhnya tinggal berjarak seperempat meter dari Marshanda yang duduk di pembaringan kamar pak tua itu.

    Dengan tanpa malu lagi, tukang becak yang sudah kesetanan itu membuka resleting celananya sendiri dan mengeluarkan penisnya yang berwarna coklat tua, panjang 20 cm dan berdiameter 3 cm itu. Mata Marshanda melotot. Baru sekali ini ia melihat penis lakilaki. Pak Darso mendekatkan jalan tolnya itu ke dekat mulut Marshanda.

    Jilat, isap kemudian emutemut seperti es krim. Tapi jangan digigit Ujarnya keras.
    Awalnya Marshanda menolak. Tetapi setelah diancam akan dibunuh, terpaksa artis cilik cantik yang baru kelas 1 SMP itu menurut. Mulut kecilnya mulai mengulum penis pak Darso. Pertama sekedar menjilatjilatnya, lalu mulai memasukkan penis itu kedalam mulutnya, bagian kepalanya saja. Namun pak Darso terus melesakkan penisnya yang besar dan panjang itu sampai lebih setengahnya ke mulut Marshanda.

    Marshanda gelagapan. Sungguh tidak disangka, bahwa pada malam itu ia akan mendapatkan pelecehan yang amat menyakitkan seperti itu, oleh tetangganya sendiri, sudah tua lagi. Dengan amat terpaksa Marshanda terus mengulum dan menjilati jalan tol pak Darso. Pak Darso yang memberi petunjuk, sambil menjambak rambut anak kecil yang juga artis terkenal itu, memaju mundurkan penisnya dengan paksa.

    Setelah lebih sepuluh menit, pak Darso berhenti. Ia menyuruh Marshanda berbaring. Artis cilik itupun menurut saja. Pertama kali, pak Darso langsung menciumi dan melumat mulut mungil Marshanda. Dengan ganas ia mengunyah dan menyantap mulut artis cilik cantik itu dengan lahap, sehingga terdengar suara kecipak kecipuk seperti orang makan dengan rakus. Sejurus kemudian, pak Darso mulai menyingkap rok Marshanda ke atas, hingga batas perut.

    Kontan terlihatlah kedua bongkah paha artis cilik itu yang amat mulus, meski masih kecil karena ia memang masih tergolong awal remaja, bahkan masih anakanak. Celana dalamnya yang berwarna biru laut berendarenda, terbuat dari sutra halus juga terlihat menutupi kemaluannya yang masih kecil, tetapi sudah menggunduk indah. Mulut Pak Darso melahap kemaluan Marshanda sambil mengeluselus pahanya yang mulus.

    Auhhh, auuuh, sudah pak, sudaaaah, ampun pak, ampuuun, Aaaaaaaaaaah Marshanda merintih pasrah.

    Tidak kelihatan lagi gayanya yang cerdik seperti dalam sinetron Bidadari. Kini Marshanda hanya seorang anak kecil cantik yang sedang diganyang habis oleh tetanggganya, seorang tukang becak yang sudah berumur. Baju kaus Marshanda pun dilepas oleh Pak Darso dengan kasar, sehingga terlihatlah BH sempit yang dikenakan oleh Marshanda menutupi dua bongkah payudaranya yang baru tumbuh.

    BH itupun direnggut paksa oleh pak Darso. Lalu rok yang dikenakan Marshanda juga ditariknya ke bawah sehingga terlepas. Kini Andriani Marshanda, pemeran Lala, anak susu bendera itu tinggal mengenakan celana dalam kecil berwarna biru. Meskipun belum montok, tetapi tubuhnya amat mulus dan indah sekali, enak dipandang dan amat merangsang.

    Pak Darso mulai menjilati seluruh jengkal tubuh anak baru gede itu dengan rakus sekali, sehingga badan Marshanda penuh dengan air liurnya. Tak lama kemudian, napasnya sudah makin memburu, Pak Darso tidak tahan, celana dalam, pertahanan terakhir Marshdanda pun dipelorotkan dengan paksa. KIni Marshanda sudah bugil total. Terlihatlah gundukan kemaluannya yang belum ditumbuhi rambut itu dengan indah.

    Garis kemaluannya masih terlihat jelas dengan bibir vagina agak keriput karena terlalu menggembung. Nafsu pak Darso tak tertahankan lagi. Tanpa sempat melumat lagi kemaluan itu dengan mulutnya, ia langsung mengarahkan penis besarnya ke vagina Marshanda yang sudah menantang itu. Marshanda sadar apa yang akan terjadi. Ia memelasmelas minta ampun. Tetapi pakda Darso sudah tidak memperdulikan rengekan anak kecil itu. Ia harus menjebol kemaluan artis cilik cantik tetangganya ini.

    Kepala penisnya mulai melesak, sedikit demi sedikit memasuki kemaluan Marshanda yang empuk sekali, tetapi amat sempit. Memang agak sulit. Tetapi tak lama kemudian, ia berhasil menjebol selaput dara Marshanda, artis cilik itu menjerit histeris. Karena rumahnya agak terpencil, suara itu tak mengundang kecurigaan para tetangga.

    jalan tol besar Pak Darso mulai menghujam makin dalam, akhirnya hampir seluruhnya tertanam di kemaluan Marshanda. Pak tua itu mulai memajumundurkan penisnya di kemaluan nikmat Marshanda.

    Aaah Uuuuh Aaaah Hanya rintihan pasrah yang terdengar dari Marshanda.
    Baru kemudian disusul tangisnya karena ia sadar bahwa keperawanannya telah hilang diambil oleh Pak Darso. Tidak puas dengan cara itu, Pak Darso menyuruh Marshanda menungging. Ia mulai menggarap Marshanda dari belakang dengan setengah berdiri dan kedua tangan Marshanda bertumpu di pinggiran tempat tidur.

    Tangan Pak Darso meremasremas payudara Marshanda. Penisnya maju mundur secara teratur. jalan tol besar Pak Darso mengobrakabrik kemaluan Marshanda yang tentu saja masih terlalu kecil. Tubuh Marshanda yang sudah hangat, kini makin hangat karena menahan sakit bercampur nikmat. Keringatnya bercucuran. Pak Darso yang sudah berumur itu terus menggenjot Marshanda, hingga akhirnya meledaklah air maninya di dalam vagina Marshanda.

    Aaaah Terdengar erangan mereka secara bersamaan.
    Marshanda menangis sesenggukan karena ia sudah betulbetul habis diperkosa. Tanpa mereka sadari, cucu pak Darso yang bernama Hendro dan baru berusia 10 tahun itu menonton apa yang dilakukan kakeknya. Pak Darso tentu saja terkejut.

    Kamu jangan bilang siapasiapa ya kalau saya sudah memperkosa Marshanda Si cucu mengangguk.
    Tapi Kek, saya mau ngerasain juga dong. Boleh kan? Tanyanya dengan lugu.
    Karena takut ketahuan orang lain. si kakek membolehkannya.

    Jangan, jangan perkosa saya lagi. Saya capek dan sakit Tolong jangan! Jerit Marshanda memelas.
    Tetapi si cucu sudah tidak sabar lagi. Dipeluknya tubuh Marshanda, artis idolanya itu dengan ganas. Setelah melepas seluruh pakaiannya sendiri sehingga ia pun telanjang bulat, ia mulai menindih Marshanda. Penisnya yang belum begitu besar, ia paksakan untuk masuk ke kemaluan Marshanda.

    Ia menggenjot dengan nafsu, mengocokngocok kemaluan Marshanda dengan penis kecilnya itu tanpa ampun. Marshanda hanya bisa merintihrintih. Tetapi rintihan itu makin lama berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tampaknya ia juga menikmati genjotan anak kecil yang pantas manjadi adiknya tersebut.

    Marshanda sepertinya mulai menikmati pemerkosaan tersebut. Hilang sudah keangkuhan Marshanda, keangkuhan si Lala dalam sinetron bidadari. Sekarang dia sedang diperkosa seorang anak kecil! Hendro tidak puaspuasnya memandangi wajah cantik Marshanda yang kini merintihrintih tidak karuan, sementara penisnya yang kecil itu semakin mengeras dalam kemaluan Marshanda.

    Dengan agak susah karena terlalu pendek, Hendro menciumi mulut Marhanda yang indah dan mungil itu dengan air liur menetesnetes saking nafsunya. Akhirnya setelah 10 menit bersetubuh, muncratlah air mani anak kecil itu yang kembali mengisi rahim Marshanda. Sampai tengah malam, secara bergantian kakekcucu itu menggarap sang artis cilik idola mereka, hingga Marshanda pingsan. Baru setelah puas, mereka melemparkan tubuh artis cantik itu di jalan depan rumahnya.

    Namun ternyata mimpi buruk Marshanda belum berakhir sampai di sini. Dari kejauhan, lima orang anak kecil teman dan juga tetangga Hendro mendekati tubuh telanjang Marshanda. Kemudian mereka mengangkatnya ke sebuah rumah kosong di dekat situ. Secara bergantian mereka menggunakan kesempatan emas itu untuk memperkosa Marshanda secara bergiliran.

    Kapan lagi bisa ngesot sama Marshanda. Ujar seorang anak berusia 10 tahun bernama Andri kegirangan.
    Akhirnya dengan ganas, tubuh bugil Marshanda yang sudah pingsan itu kembali digarap semalam suntuk. Si Andri yang pertama kali menindih Marshanda. Dengan telanjang bulat, ia menindih tubuh mulus Marshanda yang sudah tidak berdaya itu, dipeluknya dengan erat, sementara penisnya langsung menghujam ke lubang kemaluan Marshanda yang sudah mulai melebar, setelah dipaksa menelan penis Pak Darso dan cucunya, Hendro.

    Pantatnya maju mundur menikmati kemaluan Marshanda yang sungguh nikmat. Bagaimana tidak nikmat, bisa menjebol kemaluan artis idola seperti Marshanda. Kemudian secara bergiliran mereka semua menikmati tubuh mulus Marshanda dengan penuh kenikmatan. Baru sebelum matahari terbit, mereka meletakkan kembali tubuh artis cilik naas itu di depan rumahnya. Pagi hari, keluarganya heboh. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Kasihan sekali Marshanda.

  • Kisah Memek aku dan teman sekamar kostku diperkosa teman pemilik kost

    Kisah Memek aku dan teman sekamar kostku diperkosa teman pemilik kost


    3678 views

    Duniabola99.com – Waktu sudah larut malam saat Wiwin dan Anisya pulang jalan-jalan dari sebuah mall di kota Bandung, kota tempat mereka menuntut ilmu pada sebuah PTN terkemuka. Saat itu kampus mereka sedang liburan semester yang lumayan lama, sehingga banyak di antara teman-teman mereka yang memilih pulang kampung, namun bagi Wiwin dan Anisya lebih memilih untuk tetap tinggal di kota Bandung karena tidak banyak yang dapat mereka kerjakan untuk mengisi waktu liburan di Jakarta kota asal mereka.


    Sampai di tempat kost mereka kira-kira jam 10 malam. Saat itu daerah di sekitarnya sudah sepi begitu pula di dalam kost-kostan karena semua penghuninya pulang ke kampung atau kota asal mereka masing-masing untuk memanfatkan waktu liburan kuliah mereka, dan kini tinggallah mereka berdua saja yang masih bertahan di dalam area kost yang luas dan besar itu. Walau usia mereka terpaut jauh, mereka berdua sangatlah akrab karena selain mereka tinggal sekamar dan berasal dari Jakarta, di kampus mereka juga satu fakultas.

    Wiwin saat ini berusia 26 tahun, sementara Anisya baru berusia 18 tahun. Keduanya memiliki wajah yang cantik, Wiwin dengan bentuk badan yang berukuran sedang nampak anggun dengan penampilan kesehariannya, sedangkan Anisya memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang imut-imut. Banyak pria yang tertarik kepada mereka berdua, karena bukan saja mereka cantik dan pintar, namun mereka juga pandai dalam bergaul dan ringan tangan. Akan tetapi dengan halus pula mereka menolak berbagai ajakan yang ingin menjadikan mereka sebagai kekasih atau pacar dari para pria yang mendekati mereka.

    Wiwin saat ini lebih memilih berkonsentrasi untuk menghadapi sidang skripsinya, sedang Anisya yang baru menamatkan tahun pertamanya di kampus tersebut lebih memilih untuk aktif di organisasi kampus dari pada pacaran atau berhura-hura.

    Sesampainya di kost, Wiwin langsung menuju ke kamar kost dan membuka pintu, sedangkan Anisya mampir dulu ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari kamar kost mereka. Setelah membuka kamar, Wiwin begitu terkejut ketika dilihatnya kamar mereka sudah berantakan seperti habis ada pencuri. Belum lagi sempat memeriksa segalanya, tiba-tiba kepala Wiwin sudah dipukul dari belakang sampai pingsan.

    Wiwin tidak tahu apa-apa sampai tubuhnya digoncang-goncang seseorang hingga tersadar dan menemukan dirinya sudah dalam keadaan terikat di kursi tempat biasanya dia duduk untuk belajar dan mulutnya disumpal kain, sehingga tidak dapat bersuara. Belum lagi lama dia siuman, matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di sekitarnya, ia melihat dua pria di depannya. Yang menyuruhnya bangun, orangnya berbadan tinggi besar dan kepalanya berambut gondrong dia hanya mengenakan celana jeans kumal, badannya telanjang penuh dengan tatto. Dan satu orang lagi juga berbadan agak gemuk, berambut acaka-cakan juga hanya mengenakan celana jeans.

    Wajah mereka khas, usia mereka sekitar 40 tahunan. Sementara kamar kost mereka dalam keadaan tertutup rapat, jendela pun yang tadinya agak sedikit terbuka kini telah tertutup rapat. Tidak beberapa lama kemudian mata Wiwin kembali terbelalak dan ingin menjerit, karena kedua orang itu ternyata dikenalnya. Yang membangunkan dia bernama Asan dan satu lagi bernama Thomas atau sering dipangil Liem. Mereka berdua adalah teman dari Henry pemilik kost yang sering nongkrong di tempat itu, pekerjaan mereka tidak jelas.

    Memang beberapa waktu yang lalu Wiwin dan Anisya dikenalkan oleh Henry kepada Asan dan Liem. Karena dengan setengah memaksa Henry, Asan dan Liem ingin dikenalkan dengan Wiwin dan Anisya yang waktu itu baru pulang dari kampus. Rupanya mereka berdua tertarik dengan kecantikan Wiwin dan Anisya. Akan tetapi rupanya cinta mereka bertepuk sebelah tangan, Wiwin dan Anisya lebih sering menghindar untuk bertemu dengan Asan dan Liem. Dan yang membuat hati Wiwin menjerit dan panas adalah begitu sadar sepenuhnya dan mengetahui Asan sedang duduk di pinggir ranjang mereka sambil memangku Anisya yang saat itu sudah tinggal memakai BH dan celana dalamnya saja yang berwarna putih.

    Anisya sambil menangis memohon-mohon minta dilepaskan, air matanya telah membasahi wajahnya yang cantik itu. Tapi si Asan yang badannya jauh lebih besar itu tidak menghiraukannya, dia mulai meremas-remas payudara Anisya yang baru sekepalan tangan orang dewasa itu yang masih terbungkus BH itu, kemudian menjilati leher Anisya.
    Pria itu lalu berkata, Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu, nurut saja kalau mau selamat..!
    Setelah itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Anisya dengan bibirnya, Hmp.., cup.., cup.., begitulah bunyinya saat kedua bibir mereka beradu.
    Air liur pun sampai menetesnetes keluar, rupanya lidah Asan bermain di dalam rongga mulut Anisya.

    Sementara itu Liem yang berada di samping Wiwin berkata kepada Wiwin, Hei, elo sudah bangun ya, teman elo ini boleh juga, gue pake dia dulu ya, baru setelah itu giliran elo, nah sekarang elo perhatikan gue baik-baik kalo sampe elo nanti engga bisa muasin nafsu gue, mampus deh elo..! sambil mengelus-elus kepala Wiwin.
    Wiwin mau berontak tapi tidak dapat berbuat apa-apa, Wiwin pun mulai pucat.


    Lalu Asan yang masih memangku Anisya menyudahi serbuan bibirnya dan berkata, Ok Sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang!
    Dia menyuruh Anisya berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celana jeans kumalnya, lalu mengulum batang kemaluannya.
    Sambil menangis Wiwin memohon belas kasih, J.. ja.. angan.. tolong jangan perkosa saya, ambil saja semua barang di sini!
    Belum selesai berkata, tiba-tiba, Pllaakk..! si Asan menampar pipinya dan menjambak rambutnya.

    Dengan paksa Anisya dibuat berlutut di depannya, Masukkan ke dalam mulut elo, hisap atau gue bunuh elo..!
    Terpaksa dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Anisya membuka celana Asan dan begitu dia menurunkan celana dalam Asan tampaklah kemaluan Asan yang telah membesar dan menegang. Tanpa membuang waktu Asan segera memasukkan kemaluannya itu ke mulut Anisya yang mungil itu. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memajumundurkan kepala Anisya.
    Hhmpp.., emphh.. mpphh..! begitulah suara Anisya saat mulutnya dijejali dengan kemaluan Asan.

    Liem juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu telah memenuhi otaknya, setelah dia melepas celana jeansnya dia berdiri di samping Anisya, menyuruh Anisya mengocokkan batang kemaluannya yang juga telah membesar dengan tangan. Batang kemaluan Liem tidak sebesar temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Anisya dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan Asan dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan Liem.
    Emmhh.. benar-benar enak emutan gadis cantik ini, lain dari yang lain..! kata Asan.
    Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih..! timpal Liem.

    Beberapa lama kemudian nampak tubuh Asan menegang, seluruh badannya mengejang, dan, A.. akh..! Asan akhirnya berejakulasi di mulut Anisya.
    Cairan putih kental memenuhi mulut Anisya menetes di pinggir bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, dan Anisya terpaksa meminum semuanya karena takut ancaman mereka dan juga kuatnya pegangan tangan Asan di kepalanya.

    Setelah itu mereka melepas BH dan CD Anisya, sehingga dia benar-benar telanjang bulat sekarang, tampaklah payudara dan bulu-bulu kemaluannya yang masih halus dan jarang.
    Waw cantik sekali anjing ini. ujar Liem sambil memandangi tubuh bagian dada dan bawah Anisya yang sedang terisakisak ketakutan.

    Kali ini Liem duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Anisya berjongkok di depannya sambil terus memijati dan mengocok batang kemaluan dengan tangannya. Anisya terpaksa menuruti kemauan Liem itu sambil sesekali dipaksa untuk menjilati ujung batang kemaluannya, sehingga Liem mendengus keenakan. Sementara itu si Asan mengambil posisi berbaring di bawah kemaluan Anisya dan menjilati liang vaginanya sambil sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.


    Seketika itu Anisya kaget dan, Ehhgh.., iihh.. iih.. eggmhh..! Anisya pun merintih-rintih jadinya, badannya menggeliat-geliat akibat tusukan jari-jari serta jilatan lidah Asan di kemaluan Anisya.
    Ayo anjing.., kocok terus barang gue..! bentak Liem sambil menampar kepala Anisya.
    Kembali Anisya mengocok kemaluan Liem sambil badannya terus meliak-liuk karena kemalunnya mendapat serangan dari tangan dan lidah Asan. Dari bibirnya pun terus terdengar suaranya merintihtintih.

    Sekitar 10 menit dikocok, Liem memuncratkan maninya dan membasahi wajah serta rongga mulut Anisya. Kali ini Anisya sudah tidak tahan dengan rasa cairan itu, sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Liem jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Anisya dan menampar pipinya sampai dia jatuh ke ranjang.
    Pelacur anjing..! Kurang ajar, berani-beraninya membuang air maniku. Kalo sekali lagi begitu, kurontokkan gigi elo, dengar itu..! bentaknya.

    Asan pun terpaksa menyudahi aktifitasnya dan ikut-ikutan menampar Anisya.
    Goblok..! Gue lagi asyik nikmatin memek elo. Elo jangan macem-macem ya..! bentak Asan.
    Anisya hanya dapat menangis memegangi pipinya yang merah akibat dua kali tamparan itu. Nampak kemarahan Wiwin bangkit karena teman dekatnya diperlakukan begitu. Wiwin meronta-ronta di kursinya, tapi ikatannya terlalu kencang sehingga hanya dapat membuat kursi itu bergoyang-goyang. Melihat reaksi Wiwin si Asan berkata, Kenapa? Elo tidak terima ya pacar elo gue pinjam, tapi sayang sekarang elo nggak bisa ngapa-ngapain, jadi jangan macem-macem ya, ha.. ha.. ha..! Abis ini giliran elo yang gue entot..! Hahaha..!

    Mereka kembali menggerayangi tubuh Anisya, kali ini Asan merentangkan tubuh Anisya di tempat tidur dan membuka lebar kedua pahanya, dan segera mulai memasukkan batang kejantanannya ke liang kemaluan Anisya.
    J.. jangan. Aduh.., tto.. long.., Mbak Wiwin. Ampun Bang..! pinta Anisya sambil mencoba berontak tapi dengan sigapnya Liem membantu Asan dengan memegangi kedua tangan Anisya.
    Batang kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa ke liang kemaluan Anisya yang masih sempit, sehingga dari wajah Anisya terlihat dia menahan sakit yang amat sangat, tangisannya pun semakin keras.

    Setelah hampir seluruh batang kemaluannya terbenam di dalam liang kemaluan Anisya, Asan mulai memajumundurkan pantatnya, mulai dengan irama pelan hingga dengan cepat. Keringat pun dengan deras membasahi kedua tubuh itu. Beberapa saat kemudian dari sela-sela kemaluan Anisya mengucur darah segar bercampur dengan cairan bening hingga warnanya berubah menjadi merah muda meleleh membasahi paha Anisya.
    Aakkh.. aahh.. aa. ouhh.. ss.. aakit. ooh. aampuun.. ohh.., begitulah erangan dan teriakan Anisya merasakan sakitnya.

    Rupanya teriakan dan erangan Anisya menambah nafsu dan semangat Asan untuk terus memompakan kemaluannya dengan keras dan cepat hingga badan Anisya pun terbanting-banting dan terguncang-guncang keras. Anisya hanya pasrah mengikuti irama Asan dan kedua tangan Anisya pun kini sudah dilepas oleh Liem.


    Selama beberapa menit disetubuhi oleh Asan, tiba-tiba badan Anisya menegang sampai secara refleks dia memeluk kepala Asan yang sedang asyik menggenjotnya. Dia rupanya mengalami orgasme sampai akhirnya melemas kembali. Asan pun menyudahi gerakan memompanya namun kemaluannya masih tetap tertanam di dalam liang vagina Anisya.
    He.. he.. he.. Baru kali ini kan loe ngerasain pria cokin, gimana rasanya enak engga, jawaabb..! bentak si Asan sambil menarik rambut Anisya.

    Karena takut mereka semakin gila, terpaksa dengan berlinang air mata Anisya menjawab, E.. e.. enak, enak sekali..!
    Jawab lebih keras supaya teman loe dengar pengakuan loe..! kata Liem.
    I.. iya, s.. saya suka sekali bercinta. jawabnya dengan suara terbata-bata.
    Tuh, kamu dengar kan, apa kata teman elo, dia suka dientot, ha.. ha.. ha..! ejek mereka pada Wiwin yang hanya dapat meronta-ronta sambil menangis di kursinya.
    Hatinya benar-benar serasa mau meledak tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.

    Kemudian si Asan mencabut kemaluannya dan membuat posisi badan Anisya gaya posisi anjing, dia kemudian memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke pantatnya Anisya hingga terbenam seluruhnya.
    Karena rasa perih dan sakit yang tidak terhingga, maka Anisya berteriak memilukan, Aaakkhh..!
    Lalu dia menariknya lagi, dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu di pantat Anisya hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak.

    Ooughh..! Anisya mendengus keras menahan rasa perih dari lubang duburnya, seluruh badannya kembali mengeras lolongannya pun kembali terdengan memilukan, Aahh.. ouh.. aah..! Aa.. mpun.., ssakit. Aakhh..!
    Kini Asan meyodomi Anisya dengan irama yang keras dan cepat hingga Anisya menggelepar-gelepar, dan badannya kini mulai melemah dan habis akibat digenjot oleh Asan.
    Tidak beberapa lama Asan akhirnya mencabut kemaluannya dari lubang dubur Anisya dengan kasar. Kembali darah segar mengucur deras dari liang dubur Anisya, sementara Anisya tertelungkup jatuh ke kasur disertai rintihan panjang melemah, Aahh..!
    Namun Asan belum juga puas, kemalunnya masih garang. Kini ditelentangkannya Anisya dan kembali Asan meniduri Anisya dan memasukkan kembali batang kemaluannya ke lubang vagina Anisya yang telah lemas itu, dan kembali Asan menggenjot tubuh lunglai itu.


    Tidak lama Asan pun berejakulasi di rahim Anisya. Lolongan kepuasan keluar dari mulut Asan disaat menyemprotkan spermanya yang jumlahnya banyak itu hingga meluber keluar dari sela-sela kemaluan Anisya. Anisya pun merintih lirih, dan akhirnya bersamaan dengan itu Anisya pun pingsan karena kehabisan tenaga dan rasa sakit yang tidak terhingga.

    Dengan perasaan puas Asan pun merebahkan badannya di samping Anisya yang tergeletak tidak bergerak.
    Akhirnya gue perawanin juga elo. Dasar cewek sombong..! ujarnya sambil mengehela napas dan melirik Anisya.

    Sesudah itu kini Liem yang tadi menjadi penonton mulai mendekati Wiwin yang masih terikat lemas di kursinya.
    Hei, teman elo boleh juga tuh. Nah, sekarang giliran elo yang servise gue. Asal elo tau gue itu naksir berat ama elo, tapi elo menghindar melulu. Gue tau gue jelek dan gue beda ama yang elo bayangkan jadi pacar elo. Buat gue itu engga soal, sekarang gue cuma mau perkosa elo. Udah gitu elo bebas, tapi kalo elo berontak, Mati elo..!
    PLAAK..! sebuah tamparan keras menghantam kepala Wiwin hingga Wiwin yang masih diikat di kursi itu terjatuh bersama kursinya.
    Hmmph..! dengan mulut tersumbat Wiwin berteriak.

    Kemudian dia menarik dan meletakkan tubuh Wiwin mengembalikan ke posisi semula. Dengan pisau dapur milik kedua mahasiswi itu dia merobekrobek baju kaos lengan panjang yang dikenakan oleh Wiwin. Nafas Wiwin tersentak ketika dengan cepat Liem dengan pisaunya melucuti BH dan celana panjang bahan yang dikenakannya. Sekarang Wiwin hanya memakai celana dalamnya yang berwarna putih serta sepasang kaos kaki putih setinggi lutut yang selalu dikenakannya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, tubuhnya putih mulus masih dalam posisi terikat di tempat duduknya.

    Hmph.., hmph..! Wiwin meronta sambil memandang Liem dengan putus asa, matanya memerah dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya, wajahnya pucat pasi.
    Karena dia menyadari yang akan terjadi pada dirinya, yaitu sebagai pemuas nafsu bejat.
    Diem brengsek..! kata Liem, PLAK..! sekali lagi tamparan kuat mendarat di pipi Wiwin, membuat kepala Wiwin tersentak.

    Kemudian ia membuka ikatan Wiwin dan membantingnya ke tempat tidur dalam posisi telungkup, dan setelah itu dia merentangkan kedua tangan Wiwin serta melebarkan kedua kaki Wiwin hingga posisi Wiwin kini seperti orang merangkak. Wiwin hanya dapat pasrah mengikuti kemauan Liem. Tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia. Kaca itu biasanya digunakan Wiwin dan Anisya untuk berdandan sebelum pergi kuliah.

    Leim lalu merobek celana dalam Wiwin dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Wiwin dapat melihat dirinya melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang dilihatnya Liem sedang mengagumi dirinya.
    Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke!
    Liem menampar pantat sekal Wiwin yang sebelah kiri yang membuat Wiwin menjerit kaget.

    Lalu tanpa menunggu lagi, Liem yang mulai dirasuki nafsu sex memperlihatkan penisnya yang sudah keras. Liem hanya membiarkan topi yang masih tetap membungkus kepala Wiwin dan sepasang kaos kaki putih yang masih dikenakan Wiwin, mungkin ini dapat membuat nafsu Liem semakin menjadi. Karena memang dengan mengenakan topi, wajah Wiwin jadi nampak cantik dan lucu seperti komentar kebanyakan teman-temannya.


    Kemudian Liem menyelipkan penisnya di antara kedua kaki Wiwin lewat belakang.
    Ooh.., ampun Pak Liem. Ampunn.., jangann.. jangan! Ampun, jangan..! Wiwin mulai menangis dan rasa tegang menyeliputi hatinya.
    Sambil menoleh ke belakang dan memandang Liem, Wiwin mencoba untuk meminta belas kasihan. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Namun Liem terus mengancam dengan pisau dapur yang masih digenggamnya.

    Liem tidak perduli Wiwin memohon-mohon. Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Wiwin, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanya. Setelah tangan si Liem memegang pinggul Wiwin, dengan satu gerakan keras penisnya bergerak maju.
    Arrgghh.., ahh.., Ampun..! Wiwin menjerit-jerit ketika penis Liem mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya.
    Kaki Wiwin mengejang menahan sakit ketika penis Liem terus menembus masuk tanpa ampun menusuk-nusuk selaput daranya.

    Bibir tebalnya menganga membentuk huruf O dan mengeluarkan rintihan-rintihan, Oohh.., oouugghh.., aa.. ampuun Bangg..! Aakkhh..!
    Badannya pun tersodok-sodok. Liem terus bergerak memompa maju mundur memperkosa Wiwin. Ketika kepala Wiwin terjatuh lunglai kesakitan, dia menarik kepala Wiwin sehingga kepalanya kembali terangkat dan Wiwin kembali dapat melihat dirinya disetubuhi oleh Liem melalui cermin di depannya.

    Kadang-kadang Liem menampar pantat Wiwin berulang kali, juga dilihatnya payudara Wiwin yang tersentaksentak setiap kali Liem menyodok penisnya ke dalam vagina Wiwin dan dia hanya dapat pasrah mengerang-ngerang dan merintih. Tiba-tiba Liem mengeluarkan penisnya dari vaginanya. Wiwin langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat.

    Tapi tiba-tiba Asan yang ternyata sudah pulih terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum Wiwin sampai ke pintu depan.
    Ahh, tolong! Tolompphh.., teriakan Wiwin dibungkam oleh tangan Asan, sementara itu Liem mendekat dan memukul Wiwin dengan keras.
    Wiwin pun jatuh terjelembab ke lantai.
    Dasar Bandel ya..! ujar Liem.

    Kemudian Liem mengikat tangan Wiwin menjadi satu ke depan. Setelah itu, Wiwin didorong hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang Liem memasukkan penisnya ke mulut Wiwin.
    Mmpphh..! Wiwin mencoba berteriak dengan penis yang sudah masuk di dalam mulutnya.
    Sementara itu Liem dengan tenang terus menggerakkan penisnya di mulut Wiwin. Kedua tangan Liem memegang kepala Wiwin dengan kencangnya menggerak-gerakkan maju dan mundur. Mata Wiwin tertutup dan wajahnya memerah, air matanya masih meleleh turun di pipinya, baru pertama kali dalam seumur hidupnya dia diperlakukan seperti ini.

    Setelah beberapa lama mengocok kemaluannya di rongga mulut Wiwin, terlihat tanda-tanda Liem akan mencapai klimaksnya, gerakan memajumundurkan kepala Wiwin semakin cepat.
    Dan, Akkh.. Croot.., croot..! Liem berejakulasi di mulut Wiwin, sperma yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari mulut Wiwin.
    Wiwin hanya dapat mendengus-dengus dan dengan terpaksa menelan semua sperma yang dimuntahkan Liem tadi, sementara pegangan tangan Liem di kepala Wiwin semakin kencang, sehingga sulit bagi Wiwin untuk menarik kepalanya.

    Setelah semprotan sperma yang terakhir, barulah Liem mencabut kemaluan dari mulut Wiwin yang kini mulutnya terlihat penuh dengan lendir memenuhi rongga mulutnya hingga ke bibirnya. Dengan napas puas Liem mencapakkan kepala Wiwin hingga telentang di kasur.
    Siap, siap Sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih mulus dan sekal ini..! tiba-tiba terdengar suara Asan yang sudah berada di samping Wiwin.
    Wiwin memandang Asan dengan wajah ketakutan. Dia tahu bagaimana Asan memperlakukan Anisya hingga pingsan.


    Kemudian Asan menoleh ke Liem yang duduk di belakangnya untuk istirahat setelah klimaks tadi.
    Ja.. jangan, jangann.. Bang Asan.. saya nggak mau diperkosa di situ Bang..! Ampun Bang. Rasanya ssakit.., kasihani saya Bang..! ujar Wiwin memelas kepada Asan.
    He Anjing. Gue tetep nggak perduli lo mau apa nggak..!
    Asan menarik tubuh Wiwin hingga dia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian dia menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnya.

    Setelah itu dia membuka belahan pantat Wiwin lebar-lebar.
    Ampun, jangan..! Sakit..! Ampun Bang Asan. Ampun..! Aakkhh..!
    Asan mulai mendorong masuk, sementara Wiwin mejerit-jerit minta ampun. Wiwin meronta-ronta tidak berdaya, matanya terbelalak, hanya semakin menambah gairah Asan untuk terus mendorong masuk penisnya. Wiwin terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis Asan masuk ke anusnya.
    Ampun..! Sakit sekali! Ampun! Ooughh.. iihh..! jerit Wiwin, ketika Asan mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anusnya.

    Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat beginian! kata Asan sambil mengusap-usap buah pantat Wiwin.
    Sementara itu darah segar terlihat mulai mengalir menetes-netes membasahi paha dan kasur.
    Bene-rbener pantat kualitas nomer satu! omel Asan sambil terus memompa kemaluannya.

    Tangisan Wiwin makin keras, Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit! Sakit Pak, ampun..!
    Sementara itu badannya mengejang-ngejang menggelepar-gelepar menahan rasa sakit yang teramat sangat, tubuhnya semakin basah oleh keringatnya.
    Gila, gue bener-bener seneng sama pantat lo! ujar Asan sambil terus menyodomi Wiwin.
    Hingga akhirnya tubuh Asan mengejan keras, kepalanya menengadah ke atas, cengkraman tangan di pinggang Wiwin pun semakin keras dan urat-uratnya pun kini terlihat pertanda sebentar lagi dia akan mencapi klimaksnya.

    Asan berejakulasi di lubang pantat Wiwin yang semakin kepayahan dan tubuhnya melemah. Asan pun dengan menghela napas lega kembali menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Wiwin yang juga terjatuh telungkup badannya lemas dan menahan rasa sakit yang tidak terhingga di lubang duburnya yang kini mengalami pendarahan.

    Suara yang terdengar dalam kamar kost itu hanya tangisan Wiwin, tangisan yang benar-benar menyayat hati, yang membuat Liem kembali bangkit nafsunya. Liem berjongkok membalikkan tubuh Wiwin yang tadinya telungkup menjadi telentang. Kemudian menarik kaki Wiwin, lalu membukanya dan menekuk hingga kedua pahanya menyentuh buah dadanya.


    Kini posisi Wiwin telah siap untuk disetubuhi, Liem meraih penisnya yang telah kembali tegang dan memeganginya, memandang ke arah Wiwin yang memalingkan wajahnya dari Liem, matanya terpejam erat-erat wajahnya yang masih mengenakan topi nampak cantik walau penuh dengan keringat dan air mata. Liem mengarahkan penisnya ke vagina Wiwin, cairan yang keluar dari penisnya membasahi vaginanya, membantu membuka bibir vagina Wiwin. Wiwin mengerang dan merintih, tubuhnya kembali merontaronta, giginya menggeretak, Liem nampak menikmati jeritan Wiwin ketika dia menghunjamkan penisnya ke vaginanya yang telah basah oleh darah dan cairan vaginanya.

    Aahhgghh..! Liem mulai memperkosa Wiwin.
    Kaki Wiwin terangkat karena kesakitan dan rintihan terdengar dari tenggorokannya. Tubuhnya mengejang berusaha melawan ketika Liem mulai bergerak dengan keras di vagina Wiwin. Liem menarik penisnya sampai tinggal kepalanya di vagina Wiwin sebelum didorong lagi masuk ke dalam rahimnya. Liem semakin bersemangat mompakan batang kemaluannya di dalam rahim Wiwin.

    Nafsu telah membakar dirinya sehingga gerakannya pun semakin keras, sehingga semakin cepat tubuh Wiwin pun lemas tergoncanggoncang dan tersodoksodok. Dan suatu ketika dengan kasarnya dicampakkannya topi yang menutupi kepala Wiwin oleh Liem, sehingga tergerailah rambut indah seukuran bahu milik Wiwin. Kini pada setiap hentakan membuat rambut indah Wiwin tergeraigerai menambah erotisnya gerakan persetubuhan itu. Sambil terus menggenjot Wiwin, bibir Liem kini dengan leluasa melumat dan menjilati leher jenjang Wiwin yang tidak tertutup topi dan menyedot salah satu sisi leher Wiwin.

    Gerakan dan hentakan-hentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras. Wiwin pun hanya dapat mengimbanginya dengan rintihan-rintihan lemah dan teratur, Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. oohh..! sementara tubuhnya telah lemah dan semakin kepayahan.
    Akhirya badan Liem pun menegang dan tidak beberapa lama kemudian Liem berejakulasi di rahim Wiwin. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak. Liem nampak menikmati semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati wajah Wiwin yang telah kepayahan dan lunglai itu.

    Liem mengerang kenikmatan di atas badan Wiwin yang sudah lemah yang sementara rahimnya menerima semburan sperma yang cukup banyak.
    Aauughh.. oh..! Wiwin pun akhirnya tersentak tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan menyusul Anisya temannya yang terlebih dulu pingsan.
    Badan Liem menggelinjang dan mengejan disaat melepaskan semburan spermanya yang terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu. Batinnya kini puas karena telah berhasil menyetubuhi dan memperkosa serta merengut keperawanan Wiwin gadis mahasisiwi cantik yang ditaksirnya itu.


    Senyum puas pun terlihat di wajahnya sambil menatap tubuh lunglai Wiwin yang tergelatak di bawahnya. Liem pun ibarat telah memenangkan suatu peperangan, akhirnya terjatuh lemas lunglai tertidur dan memeluk tubuh Wiwin yang tergolek lemah.

    Begitulah malam itu Asan dan Liem telah berhasil merenggut kegadisan dua orang gadis cantik yang ditaksirnya. Waktu pun berlalu, fajar pun hampir menyingsing, kedua tubuh gadis itu masih tidak bergerak. Bekas keringat, cairan sperma kering dan darah mulai kering nampak menghiasi tubuh telanjang tidak berdaya kedua gadis cantik itu.

    Pagi itu saat Asan dan Liem sudah rapih mengenakan pakaian mereka, tiba-tiba Henry sang pemilik kost mendatangi kamar kedua gadis itu. Saat itu dia bersama Acong teman Henry yang juga teman Asan dan Liem.
    Hei.., kalian disini rupanya. ujar Henry.
    Dan seketika matanya terbelalak ketika melihat ke dalam kamar kost dan melihat tubuh kedua gadis telanjang itu tergeletak tidak bergerak.
    Wah elo-elo abis pesta disini ya..? tanya Henry.
    Tanpa menjawab, Liem dan Asan dengan tersenyum hanya berlalu meninggalkan Henry dan Acong yang terbengong-bengong.

    Saat Liem dan Asan berjalan meninggalkan kamar kost, mereka sempat melirik ke belakang. Rupanya Henry dan Acong sudah tidak terlihat lagi dan kamar kedua gadis itu kembali rapat terkunci. Kini rupanya giliran Henry dan Acong yang berpesta menikmati tubuh kedua gadis malang itu.

    Memang rupa-rupanya Henry juga memendam cinta kepada gadis-gadis itu dan kali ini dia dibantu oleh Acong dapat leluasa menikmati tubuh gadis-gadis itu. Kembali tubuh Anisya dan Wiwin yang sudah tidak sadarkan diri menjadi bulan-bulanan. Henry dan Acong pun leluasa berejakulasi di mulut dan rahim gadis-gadis itu sepuas-puasnya.

  • Kisah Memek Ngentot Crot di Dalem Memek

    Kisah Memek Ngentot Crot di Dalem Memek


    2936 views

    Duniabola99.com – kiki gadis cantik muda belia toket gede memeknya mulus banget coy,

    “Apa nanti nggak terlihat aneh?” tanya Kiki pada suaminya di telpon.

    “Aku rasa tidak. Kamu kan sudah tahu siapa adikku. Jadi tidak harus sama aku untuk pergi ke sana kan?”

    “Memang sih,” jawab Kiki, sambil memainkan kabel telpon.

    “Lagian dulu kamu juga sudah pernah melihat pembukaan pertandingannya bareng mereka juga. Jadi sekarang sama saja kan kalau kamu pergi sendiri untuk lihat finalnya.”

    “Ok, aku paham maksudmu, sayang. Meskipun dulu ada kamu, cuman? aku akan jadi satu-satunya wanita di sana.”

    “Oh, kamu salah. Dina kan ikut juga ke sana.”

    “Oh baguslah, sempurna.” jawab Kiki, dengan nada suara sedikit tajam. Wanita genit itu, batin Kiki.


    “Aku tahu, kamu dan Dina? agak kurang cocok, tapi sebenarnya dia wanita yang baik. Kamu hanya perlu lebih mengenal dia Ki.”

    “Hendra,” Kiki hampir mulai memprotes, tapi ditahannya dirinya. Sudah terlalu sering pembicaraan tentang hal ini berakhir dengan pertengkaran, dan dia sudah memutuskan kali ini harus berakhir bahagia. “Kamu mungkin benar. Setidaknya, lebih baik nonton finalnya bersama-sama dari pada sendirian saja.”

    “Aku harus pergi, sayang. Selamat bersenang-senang!”

    “Pasti.” Kiki berusaha untuk terdengar gembira.

    “I love you.”

    “I love you, too.”

    Hendra sudah pergi sangat lama, pikir Kiki. Bicara lewat telpon memang bagus, tapi dia merindukan kehadirannya secara fisik. Dia rindu untuk meringkuk dalam peluknya di Sabtu pagi, dan saling bergandengan tangan sewaktu jalan sore. Semuanya, pikirnya, diayunkan langkahnya menuju kamar mandi, dia merindukan seks. Mereka sudah menikah selama dua tahun dan kehidupan seksual mereka tak pernah menunjukkan gejala menurun. Paling tidak, tiga atau empat kali dalam seminggu. Sekali waktu, kadang mereka membuat janji untuk berkencan di hotel selayaknya sepasang kekasih, hanya sekedar untuk sebuah ?quickie? di sela waktu makan siang. HokiJudiQQ

    Dia bersihkan rambut sebahunya dengan shampoo, lalu mulai menyabuni tubuh rampingnya. Erangan lirih mulai lepas dari mulutnya saat tangannya menggapai payudaranya, lalu memilin putingnya. Hendra menyukai payudaranya. Dia bilang kalau ukuran B-cupnya adalah ukuran yang tepat untuk digenggam dan diremas. Kiki sendiri senang dengan bentuk payudaranya karena sangat sensitive dan cepat membuatnya terangsang begitu dipermainkan.

    Tangannya yang sebelah kanan bergerak turun menelusuri perut kencangnya dan mengarah pada gundukan vaginanya yang mungil dan rapat. Dia menyukai rasa dari air hangat yang seakan tusukan jarum kecil pada permukaan kulitnya saat dia mainkan jemari pada kelentitnya yang licin.

    Membawa dirinya sendiri ke puncak ledakan orgasme, tubuh telanjangnya merosot menyandar pada dinding kamar mandi, dan berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Kiki belum pernah melakukan masturbasi selama dua tahun pernikahannya dengan Hendra. Sekarang hal ini dilakukannya dalam kesehariannya, dan bahkan dia sedang mempertimbangkan untuk membeli sebuah vibrator untuk mengisi hari-harinya yang sepi semenjak ditinggal pergi Hendra ke luar kota. Meskipun memikirkan tentang alat itu masih tetap membuat dirinya tersipu malu dan serasa bergolak perutnya, tapi godaan itu semakin besar dan bertambah besar.

    Diraihnya alat pencukur dan merampungkan ritual mandinya: shampoo, sabun, masturbasi dan mencukur.

    Dia keringkan tubuh basahnya dengan handuk sambil mengamati pantulan bayangannya di dalam cermin. Seperti kebanyakan gadis keturunan jawa, kulit kuning kecoklatan membalut tubuhnya yang semakin menyiratkan daya tarik seksualitas yang eksotis dan nakal tapi tetap anggun. Berjalan dengan masih dalam keadaan telanjang menuju ke kamarnya, sambil mempertimbangkan akan memakai pakaian apa untuk acara di rumah Johan nanti.

    Johan, yang adalah adiknya Hendra, seorang eksekutif muda yang terbilang sukses, memiliki beberapa perusahaan yang penjualannya selalu dengan rating yang bagus. Dan dia merupakan tipe pria yang menikmati hidup. Memiliki rumah tinggal di pusat kota dan sebuah tempat peristirahatan yang berada di puncak, yang sering dipakainya saat berakhir pekan dan juga untuk acara kali ini. Sebuah tempat peristirahatan yang selalu membuat kagum Kiki saat di sana, dengan area yang sangat luas dan bentuk campuran antara gaya tradisional dan modern yang sangat nyaman untuk beristirahat melepaskan diri dari kepenatan kota.

    Rumah peristirahatan itu terletak di atas bukit, dan mempunyai sudut pandang yang luas untuk menikmati indahnya pemandangan lembah di bawahnya. Ini dikarenakan banyaknya bukaan dari pengaruh gaya tradisionalnya. Tempat ini juga mempunyai sebuah lapangan tenis ? yang hanya digunakan sesekali ? dan sebuah kolam renang besar ? yang paling sering dipakainya setiap waktu. Dan yang paling membuat nyaman adalah privasi dari tempat ini, tetangga terdekat terletak jauh di bawah lereng bukit. Saat semua pintu yang terletak di sepanjang ruang tengah hingga kolam renang, akan dapat membuat kita dapat menghirup segarnya udara perbukitan ini.

    Sebuah TV layar datar berukuran besar terletak di ruang tengah yang mana itu akan dipakai untuk menyaksikan pertandingan final nanti. Johan sebenarnya tidak begitu peduli tim mana yang akan menang, karena tim jagoannya sudah tersisih sebelum final.

    Semua tamunya sudah hadir di sini, kecuali kakak iparnya, Kiki. Jimy, Dany, dan Dina adalah teman masa kecilnya. Ahmad merupakan rekan bisnisnya yang kemudian jadi sahabat karibnya, yang sekarang juga akrab dengan Jimy dan Dany dan Dina. Kelimanya menjadi sahabat karib tak terpisahkan dalam lima tahun terakhir, dan Johan merasa senang bisa menyaksikan pertandingan final nanti bersama mereka semua.

    “Kapan nih isteri Hendra yang seksi itu datang?” tanya Jimy yang sudah agak mabuk. Sebagai seorang keturunan Chinese, membuat wajahnya sangat bersemu merah, dengan sangat cepat setiap kali dia mengkonsumsi alkohol meskipun sedikit kadarnya. Dan dia selalu berubah dari seorang ahli komputer yang pemalu menjadi penggila pesta yang liar.


    “Harusnya Kiki tiba sebentar lagi. Dia menelpon satu setengah jam yang lalu dan bilang kalau dia sudah berangkat,” jawab Johan, sambil membalik daging panggangnya. Ini sudah hampir pukul empat sore. Pertandingannya sendiri mulai pukul lima nanti, tapi Jimy sudah tak sabar untuk mulai minum duluan.

    “Yeah, aku harap dia datang sebentar lagi. Aku mulai bosan lihat Dina!” jawab Jimmy menggerutu.

    “Hey!” Dina berteriak protes dari dalam. “Aku dengar itu!” dia melompat bangkit dari sofa dan berjalan keluar. “Jadi, kamu pikir aku membosankan untuk dilihat ya?” tanyanya dengan mulut cemberut.

    Dina berpose layaknya seorang model, tangan di pinggang, berpose untk para pria. Sebenarnya dia bukannya tipe yang membosankan untuk dipandangi. Sama sekali bukan. Rambut berombak panjang sepinggang di cat kecoklatan, tubuh montok menggiurkan tapi jauh dari kata gemuk, dan kulit putih yang membungkus tubuh indahnya. Jika kamu melihat majalah model, maka akan kamu temukan gambaran sosok Dina di sana. Kegemarannya membentuk tubuh di pusat kebugaran membuat tubuhnya selalu tepat saat memakai berbagai macam busana, dari busana resmi hingga bikini. Hari ini, dia kenakan sebuah kaos ketat dan celana jeans selutut yang juga ketat, memeperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu mengundang selera pria untuk mencicipinya.

    Johan selalu suka pada bentuk pantat Dina. Sebenarnya, semua orang suka. Sangat ideal, kencang dan merupakan sebuah bentuk yang diimpikan semua wanita. Dina juga menyukainya, dia selalu memakai busana yang bisa memperlihatkan betapa seksinya bongkahan pantatnya, dia selalu berusaha mempertunjukkan tampilan terseksinya. Tapi berpose seperti itu di hadapan para pria sebenarnya membuatnya jengah. Walaupun dia menyukai perhatian pria pada tubuhnya, tapi orang-orang ini adalah sahabat terdekatnya. Dan mereka hampir seperti keluarga saja.

    Tak mau ambil pusing, diputuskannya untuk berjalan melewati mereka dan duduk di tepian kolam renang, memasukkan kaki indahnya ke dalam air yang dingin. Dia hanya senang menggoda saja bukan seorang wanita jalang.

    Bel di pintu berbunyi dan Dany pergi untuk membukakan, itu pasti Kiki, isteri Hendra yang sangat menarik.

    Kiki masuk sambil membawa satu renteng bir kaleng, dan Dany seperti terpaku menatapnya. Kiki mengenakan gaun selutut warna putih yang terikat di balik lehernya sebagai penyangga. Rambut sebahunya di kuncir ekor kuda. Dia memakai sandal warna putih yang memperlihatkan kukunya yang terawat baik dan diwarnai merah muda senada dengan kuku jari tangannya.

    Kiki menelan ludah, terlihat keadaan Danny yang agak mabuk membuatnya lupa akan waktu. Dia seakan mematung menatap sekujur tubuh Kiki tak berkedip. Sudah diputuskannya sejak dulu dia akan tidur dengan wanita ini, meskipun ada Hendra atau tidak.

    “Silahkan masuk, tuan putri.”

    Kiki merasa jengah dengan cara memandang Dany yang tanpa tedeng aling-aling pada tubuhnya. Jikalau dilain waktu mungkin Kiki akan merasa dilecehkan dengan cara tatap Dany, tapi dengan keadaan gairahnya yang masih menggantung selama ditinggal Hendra seperti ini membuatnya melirik sekilas ke arah Dany. Tampan juga, nilainya. Tinggi, berkulit sawo matang, dan penuh percaya diri, Kiki tahu kalau Dany sangat cerdas dan kecerdasannya itu selalu digunakan untuk menaklukan wanita. Hampir pada setiap kesempatan, dia selalu menggodanya. Kiki sudah pernah membicarakan hal ini dengan Hendra, tapi reaksinya hanya tertawa saja dan, “Anak muda memang begitu.” Hendra, yang hanya tiga tahun lebih tua dibandingkan Dany yang berusia 28 tahun selalu menyebut Johan dan Dany beserta seluruh teman-tamannya dengan sebutan anak muda.

    Kiki, yang juga berusia 28 tahun, sadar jika dia harus berhati-hati saat berada di dekat pria pecinta seni ini.


    “Kamu kenal Ahmad, kan?” Tanya Dany, saat berjalan di belakang Kiki menuju ke ruang tengah. Kiki bisa merasakan mata Dany tak pernah lepas dari pantatnya.

    “Ya, kami sudah pernah ketemu,” jawab Kiki. Ahmad sudah menarik simpati Kiki. Pria keturunan timur tengah yang tak banyak bicara, tampan dan berotak encer, hanya dialah yang tak menunjukkan ketertarikan seksual vulgar terhadap dirinya. Ahmad sangat sopan dan Kiki berharap perilaku ini bisa menular pada para sahabatnya yang ?liar? ini.

    Kiki melihat Johan dan Jimy sedang berada di beranda belakang. “Mau ditaruh di mana ini?” tanya Kiki, mengangkat bir kaleng yang di bawanya.

    “Si cantik sudah datang!” komentar Jimy yang setengah mabuk terlontar sebelum Johan mampu menjawab.

    “Hei, tenang sedikit,” bisik Johan pada temannya. “Jimy, kenapa nggak kamu taruh birnya dalam almari es dan sekalian ambilkan pizzanya juga.”

    Mata Jimy seakan dilem pada tubuh wanita bersuami ini saat berjalan melewatinya menuju ke dalam rumah.

    Johan minta maaf atas kelakuan kasar teman-tamannya. Kakaknya memang pria beruntung, pikirnya untuk yang entah keberapa kalinya. Dia coba untuk tidak membiarkan matanya terlalu lama memandang tubuh indah kakak iparnya ini, atau bahkan membayangkan seperti apa bentuk tubuhnya saat telanjang.

    “Aku senang akhirnya kakak mau datang juga,” katanya. Untuk sesuatu alas an, dia merasa sedikit malu. Jarang sekali dia pergi keluar dengan Kiki tanpa Hendra, tapi sejujurnya dia sangat menikmati keberadaannya tanpa kakaknya. Dan kebetulan juga Kiki lebih gila dengan pertandingan ini dibandingkan kakaknya.

    Kiki tersenyum pada Johan, mulai merasa nyaman dan percaya diri, lalu bilang, “Aku senang melihat pertandingan rame-rame. Meskipun harus dengan pria-pria tidak karuan seperti kalian.”

    “Ada wanitanya juga lho,” kata Dina, sambil mengangkat tangannya tanpa memalingkan muka, dia masih tetap berada di tepian kolam renang, asik dengan lamunannya sendiri.

    Isteri Hendra sudah datang. Isteri Hendra yang cantik dan penuh percaya diri telah datang. Yang selalu yakin bila berhadapan dengan pria. Dina suka Kiki, setiap kali dia perhatikan semakin dia merasa iri padanya. Dina belum pernah sama sekali memikirkan untuk menjalin ‘hubungan’ dengan seorang wanita, tapi bila dia di suruh memilih seorang wanita, maka pilihannya pasti akan jatuh pada Kiki.

    Kiki tidak memperhatikan Dina saat datang ke sini. “Hai, Dina,” sapanya, dengan nada suara seramah mungkin. Dina bahkan sama sekali tak memalingkan muka membalas sapaan itu. Selalu ada sedikit ketegangan diantara dua wanita ini. Hampir saja Kiki merasa putus asa untuk mulai menjalin sebuah hubungan baik dengan wanita ini.

    Ketika pertama kali menikah, Kiki merasa sangat cemburu terhadap Dina. Dia merasa kalau wanita cantik ini selalu mencoba menggoda dan merebut suaminya. Bahkan dia hampir saja menuduh kalau Henrdra punya affair dengan wanita ini. Dan Hendra selalu bilang kalau hubungannya dengan Dina hanya seperti kakak adik saja. Kiki masih merasa belum percaya tapi dia terus berusaha untuk mempercayai apa yang dikatakan suaminya itu. Johan berusaha mencairkan suasana dengan menawarkan minuman pada kakak iparnya ini.

    Pizza dan pertandingan jadi menu utama berikutnya. Mereka semua larut dalam ketegangan pertandingan itu dan Kiki dan Dina menemukan kalau mereka punya sebuah kesamaan; punya tim andalan yang sama…

    Akhirnya, hal inilah yang mempersatukan mereka. Keduanya saling duduk bersebelahan, saling bersorak memberikan dukungan pada tim andalannya dan juga semakin bertambah mabuk karena minuman beralkohol yang disuguhkan di sepanjang pertandingan ini.

    Kiki menduga Dina akan bersikap ‘sangat wanita’ tentang olah raga, seperti mengucapkan, “Oh, lihat, yang itu ganteng sekali….” Tapi, kebalikannya, Dina benar-benar serius memperhatikan jalannya pertandingan, komentarnya tentang tim andalannya benar-benar mengejutkan semua orang, tak hanya Kiki.

    Di akhir pertandingan, saat akhirnya tim andalannya kalah, Dina hanya mengangkat bahunya dan bilang, “Aku rasa aku sudah agak mabuk.”

    Kiki juga sudah merasa sedikit melayang karena bir yang dikonsumsinya selama pertandingan, dan berkata, “Ini baru putaran pertama, nggak masalah.”

    “Hey guys, aku rasa aku mau langsung pulang nih,” si chinese berkata dengan muka yang sangat merah.

    “Sampai jumpa, Jimy,” jawab semuanya.

    “Aku juga sebaiknya segera pulang,” kata Kiki, segera berdiri dan meregangkan tubuhnya. Dany melirik payudaranya yang membusung ke depan.

    “Oh nggak boleh,” jawab Dina, menarik tangannya hingga Kiki kembali duduk di tempatnya lagi. “Kamu terlalu kebanyakan minum buat nyetir mobil.”

    “Tapi kalau dia?” Tanya Kiki, sambil menunjuk pada Jimy.

    “Oh, dia akan baik-baik saja.”

    “Aku sudah nggak minum beberapa menit lalu. Memang wajahku saja yang kelihatan merah.”

    “Lagipula,” kata Dany, berdiri dan memukul punggung Jimmy, “Rumahnya juga dekat dari sini. Ya kan Jimmy?” Dany juga sudah mabuk.


    Jimy pergi, meninggalkan tiga pria dan dua orang wanita yang sudah setengah sadar semuanya itu. Dina sudah mabuk. Dia tahu karena dia merasa lebih berani dan terbuka untuk mulai bicara pada Kiki. “Mm… jadi sudah berapa lama Hendra pergi ke luar kota?” Tanya Dina.

    Kiki, meskipun kesadarannya tidak penuh dan baru menemukan sesuatu yang disukainya dari Dina, dia menatap wanita ini dengan pandangan penuh pertahanan. “Dua bulan.”

    “Dua bulan! Wow… itu sangat… ” akhirnya Dina melihat pandangan ‘siaga’ Kiki, dan tiba-tiba dia merasa takut. Dia takut jika Kiki mulai membencinya. Dia merubah topiknya. “Aku Cuma merasa, ini pasti saat yang berat buat kamu, dan juga pasti berat juga buat Hendra.”

    “Apa maksudmu?” Tanya Kiki, masih sedikit bertahan, tapi juga sedikit penasaran.

    “Yah, aku yakin dia sudah bilang, kalu dia sangat mencintai kamu. Dia selalu saja cerita tentang kamu! Dan nggak hanya karena dia berpisah dengan isteri yang dicintainya, tapi juga sahabatnya. Setidaknya lebih baik kamu sering menghabiskan waktu bersama kita.” Dina meletakkan tangannya di lutut Kiki, mencoba untuk menenangkan.

    Kiki tersenyum, tak menghiraukan tangan Dina, perasaannya dibalut pengaruh minuman.

    Dany dan Ahmad masih asik berdebat soal pertandingan tadi dan Johan bergerak mendekati kedua wanita ini, dia membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinga Dina. Wanita cantik ini tersenyum nakal pada Johan lalu mengangguk. Johan menghilang ke lantai atas, lalu wanita cantik ini bergerak merapat pada Kiki dan bertanya pelan, “Kamu merokok nggak?”

    “Mmm… kadang-kadang.” Jawab Kiki heran.

    Dina tersenyum lebar, sambil menyibakkan rambutnya ke belakang telinganya. Matanya yang tajam semakin berbinar menggoda , dan dia kembali berbisik lebih pelan lagi, “Bukan, bukan rokok yang itu. Maksudku itu lho… kamu tahu kan,” matanya mengedip penuh arti pada Kiki

    “Oh,” kata Kiki, akhirnya tahu yang dimaksud Dina. Segera saja wajah Kiki terasa hangat. Kadang-kadang dia sangat naïf soal hal-hal tersebut. Awalnya dia ingin berbohong dengan teman barunya ini, tapi akhirnya dia ingin berkata apa adanya. “Belum, belum pernah.”

    “Yang benar?” Tanya Dina, raut wajah Dina menandakan perasaan herannya. “Dan kamu menikah dengan Hendra sudah dua tahun?”

    “Ya. Kenapa?”

    Tiba-tiba Dina merasa sudah masuk ke wilayah yang terlalu pribadi “Nggak, Cuma pengen tanya saja.”

    *****

    Sebentar kemudian, Johan sudah kembali, dia duduk diantara dua wanita ini dan membuka sebuah bungkus rokok. Di dalamnya ada beberap lintingan rokok lalu diambilnya sebuah. Dia lalu mengambil sebuah pemantik, dinyalakannya, dihisapnya dalam-dalam kemudian menyodorkan rokok yang baru saja dihisapnya itu pada Dina.

    Menatap ujung Candu itu yang menyala merah di bibir penuhnya Dina, membuat perut Kiki terasa bergolak. Dia sadar apa yang menantinya dan dia tahu apa yang harus dilakukannya…

    Dina sedikit terkejut saat menyodorkan rokok itu pada Kiki dan melihat tangan wanita ini sedikit gemetar. “Santai saja dan hisap pelan-pelan ke paru-parumu. Tahan selam mungkin sebelum kamu keluarkan,” Dina mengajarkan pada Kiki.

    Kiki mengangguk dan mencoba apa yang diinstruksikan oleh Dina. Dia menganggap saja kalau rokok ini adalah sebuah rokok menthol biasa hingga akhirnya dengan mudah dia mulai menghisapnya. Rasanya berbeda dengan rokok biasa, mungkin lebih manis dan lebih pekat rasanya. Tak dia rasakan sesuatu dalam hisapan pertama.

    Giliran itu kembali berputar sekali lagi saat Dany duduk di sebelah Kiki, katanya, “Hey, kesinikan Candunya.”

    Tangan Dany merangkul pinggang Kiki, dan saat Kiki menolehkan kepalanya untuk melihat Dany setelah dia menghisap rokok itu kedua kalinya, reaksi Candu itu menghantamnya telak.

    Kiki merasakan pusing yang amat sangat dan itu baru dialaminya kini. Pandangannya segera mengabur. Suara di sekelilingnya seakan sebuah film dalam slow motion, dan segera saja dia juga merasa gerakannya ikut melambat. Gerakan dan bahkan pikirannya terasa bergerak melambat. Perlahan disodorkannya rokok itu pada Dany, yang tersenyum kepadanya. “Barang yang bagus, bukan,” katanya, suaranya seakan berasal dari ruangan yang teramat sangat jauh. Kiki hanya mengangguk.


    “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Ahmad. Dia jongkok di depan Kiki, memegangi kepala Kiki dan membuatnya menatapnya. Suara Ahmad bergema di dalam kepala Kiki, “nggak apa-apa… nggak apa-apa… nggak apa-apa…”

    Kata Ahmad, “Ambil nafas. Ambil nafas yang dalam…” Dan Kiki melakukannya dan rasanya mengagumkan.

    Seakan ada seseorang yang menekan tombol play pada remote control, dan segalanya berubah menjadi normal kembali. Atau hampir normal. Semuanya masih terlihat agak kabur, tapi tak lagi dalam gerakan lambat dan suara yang terdengar sudah kembali normal. Semua orang kecuali Dany menatap Kiki dengan penuh perhatian, dan Kiki segera dapat merasakan di mana keberadaannya kini. Kiki bias merasakan tangan Ahmad yang terasa dingin pada pipinya dan juga hidungnya dapat menghirup parfumnya yang maskulin. Kiki juga merasakan tangan Dany yang melingkar di pinggangnya dengan jarinya yang bergerak menggodanya. Lalu Kiki merasa wajah wajah dengan ekspresi khawatir itu berubah tersenyum geli, sama dengan senyum gelinya. Seakan dia baru saja mengucapkan sesuatu yang lucu, tapi tak ada seorangpun yang tertawa.

    Kiki ingin bilang, “Aku lupa bernafas!” Ingin dia teriakkan pada mereka, seakan hal ini adalah sesuatu yang paling lucu di seluruh dunia. Tapi, reaksi yang diberikan oleh otaknya hanya tertawa sekeras-kerasnya. ‘Penyumbat’ itu telah tercabut dan semua orang ikut tertawa lepas.

    Setelah beberapa putaran kemudian, Kiki merasa kaalu dia sudah cukup melayang tinggi. “Aku butuh udara segar,” katanya sambil bangkit perlahan. Dia merasa kedua kakinya tidak stabil menopang tubuhnya. Dina menyusul bangkit dan bilang, “Udara segar, kedengarannya ide yang bagus,” dan bersama, mereka berjalan dengan terhuyung-huyung di tepian kolam renang.

    Keduanya kemudian duduk di tepian ujung yang lain kolam renang itu, kaki mereka masuk ke dalam air yang terasa menyejukkan.

    “Kamu nggak apa-apa?” tanya Dina setelah sekian lama keduanya berdiam diri. Hanya suara serangga yang terdengar mengisi heningnya suasana malam ini.

    “Yeah…” kata Kiki, tak yakin dengan ucapannya sendiri. “Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya… tapi aku lega karena akhirnya sudah mencobanya.”

    “Aku mengerti maksudmu, bagaimana perasaanmu sekarang?”

    Kiki menatap wanita di sisinya ini, “Melayang, tinggi. Dan… horny.” Dia tak bermaksud mengucapkannya, tapi ini keluar begitu saja dari mulutnya.

    “Ya… Candu juga selalu membuatku merasa sangat horny.”

    “Bukan Cuma itu saja, tapi…” Kiki merasa jengah. “Aku tak percaya sudah menceritakan ini padamu.”

    Dina merasa tersanjung. Mereka mulai masuk pada subyek dimana keduanya merasa nyaman dan saling percaya untuk saling bebagi, dan untuk pertama kalinya dia merasa percaya diri di hadapan Kiki. “Kamu mau bicara soal Hendra, kan. Dua bulan memang waktu yang lama…”

    “Oh, ya,” jawab Kiki, menendangkan kakinya ke dalam air.

    Keduanya saling membisu untuk beberapa menit lamanya hingga tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Kiki, “Kamu sudah pernah tidur dengan salah satu dari pria-pria di sana belum?”

    Kini giliran Dina yang merasa jengah. Dia enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Ini hanya akan semakin menambah jelek reputasinya di hadapan wanita yang sangat dia inginkan untuk menjadi sahabatnya ini. “Mm…”

    Kiki tersenyum pada Dina dan berkata, “Aku janji nggak akan menghakimi.”

    “Ok…” Dina memutuskan setelah beberapa saat. “Ini pasti akan terdengar betepa jalangnya aku, tapi aku berani sumpah kalau aku bukan tipe wanita seperti itu. Mungkin kadang-kadang aku bertingkah seperti itu, tapi sungguh, yang kamu dengar beredar di luar sana itu hanyalah gossip yang dibesar-besarkan saja… ” Dina menjelaskan panjang lebar.

    “Dina! Dengar, aku benar-benar cuma penasaran saja. Dan itu juga bukan urusanku.”

    “Aku sudah pernah tidur dengan mereka semua kecuali Ahmad.” Mata Kiki terbelalak lebar, tidak seperti janjinya sebelumnya. “Bukannya dengan semuanya sekaligus. Waktunya berlainan semua. Kamu paham maksudku kan. Johan adalah… pria yang mengambil perawanku pertama kali… my first. Kejadiannya sewaktu masih di SMU. Dany dan aku… yahl, persahabatan kami selalu ada nilainya, kalau kamu paham maksudku.”

    “Kamu sudah pernah tidur dengan Hendra?” Kiki bertanya begitu saja tanpa berpikir. Candu dan alkokoh akan membuatmu berbuat begitu juga.

    Dina menatap Kiki, dia merasa sedikit nervous dengan pertanyaan tersebut, juga sedikit terkejut karenanya. Sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut, suara dari sebuah handphone memecahkan suasana malam itu.

    “Sial, itu HP-ku,” kata Kiki, segera berlari menuju tasnya di dekat panggangan. “Pasti Hendra.”

    “Aku akan ke dalam,” kata Dina begitu di dengarnya suara Kiki yang mulai bicara di telpon. Dina melangkah ke dalam rumah dengan meninggalkan jejak kaki basah di sepanjang lantai beranda belakang.

    “Kamu abis ngisep Candu ya?” tanya Hendra di telpon.

    “Mm… ken-kenapa kamu Tanya brgitu?” jawab Kiki, mencoba sebisanya untuk bersikap normal.

    “Kamu bener-bener mabuk Candu!” Kiki harus menjauhkan HP dari telinganya karena Hendra tertawa keras sekali di seberang telpon sana. “Rupanya adikku sudah berhasil membuat kamu ngisep Candu. Wow…”

    “Apa maksudnya ini, Tuan?” Tanya Kiki.

    “Maksudnya aku sudah kalah taruhan. Ah, lupakan saja. Apa kamu senang di sana?”

    “Ya… lebih dari yang aku kira.”


    “Tuh kan, teman-temanku nggak brengsek-brengsek amat.”

    “Apa kamu sudah pernah tidur dengan Dina?” tamya Kiki, pertanyaan itu masih mengendap dalam kepalanya.

    “Sayang, jangan bercanda. Tentu saja tidak.”

    Jika saja dia tidak dalam pengaruh Candu dan alcohol seperti sekarang ini, pasti dia akan mengatakan kalau Hendra bohong. Kiki sudah mengenal cukup lama untuk mendeteksi hal-hal seperti itu. Tapi dengan keadaannya yang seperti sekarang ini, dia tak pasti.

    “Kamu… kamu nggak bohong kan?” tanyanya tak yakin. “Astaga, aku… aku nggak bisa. Hendra, apa kamu bicara jujur?”

    “Oh Kiki, aku berani sumpah, Dina dan aku tidak pernah… tidur bareng. Kenapa kamu tanyakan ini?”

    “Soalnya, dia sudah pernah tidur dengan adikmu. Dan dia sudah kenal kamu sejak dulu ”

    “Itu waktu masih kuliah, ingat kan kalau aku lebih tua dari merka. Dia benar-benar sudah pernah tidur dengan Johan?”

    “Ya,” jawab Kiki. Sekarang semua yang dikatakan Hendra terdengar bohong. Kiki tak tahu bagaimana mengatasi hal ini.

    “Wow. Johan belum pernah menceritakan ini padaku… menarik.”

    “Hey, aku dengar mereka memanggilku,” Kiki berbohong. “Aku harus pergi.”

    “Ok. I love you, baby. Aku akan telpon lagi besok.” Kiki menganggukd. Kenapa itu juga terdengar bohong?

    “I love you, too. Good night.”

    “Night.”

    Dimatikannya HP itu, Kiki bangkit lalu berjalan menuju ke dalam rumah dengan hati-hati, dia melangkah dengan hati tak pasti bukan hanya karena Candu yang dihisapnya, tapi juga karena percakapannya dengan suaminya di telpon tadi. Pikirannya benar-benar kosong hingga dia sampai tidak menyadari akan kejadian yang tengah berlangsung di ruang tengah sampai akhirnya dia berada sangat dekat…

    Dina sedang duduk di sofa, diantara Ahmad dan Johan. Saat Kiki berjalan mendekat, Dina sedang asik bercumbu dengan Ahmad sedangkan Johan tak hentinya meraba tubuh dan pahanya. Johan menelusuri sekujur tubuh Dina, tangannya meremasi payudara montok itu sambil memberi ciuman pada leher Dina.

    Kiki berdiri di sana seakan binatang buruan yang terperangkap, menyaksikan Dina yang bergantian berciuman dengan Ahmad lalu melumat bibir Johan.

    Dany duduk di pojok lain ruang tengah ini, dia terlihat sangat mabuk dan tersenyum seperti orang idiot. Dia menoleh dan melihat Kiki, lalu berkata sambil menunjuk pada pangkuannya. “Ayo ke sini saja. Pemandangannya lebih indah dari sini.”

    Bergerak seperti bukan dengan kehendaknya sendiri, Kiki duduk di ujung kursi di samping Dany. “Apa… yang terjadi?” akhirnya dia bertanya.

    “Well,” bisik Dany, sambil bergerak mendekat, “ini berawal dari sebuah kontes: ‘who was a better kisser.’ Berawal dari situ, yah… bisa kulihat kalau Dina nggak keberatan dengan kedua peserta itu.” Kiki diam saja membiarkan Dany menariknya ke pangkuannya, dan segera saja dia rasakan ereksi pria ini menekan pantatnya dari balik gaunnya.

    Kiki masih shock untuk bereaksi dengan kejadian dihadapannya ini dan terlalu mabuk oleh Candu dan minuman yang dikonsumsinya. Dia juga merasa sedikit marah pada Hendra, dan dia tak mampu berpikir kenapa. Tangan Dany terasa nikmat saat melingkar di perutnya, dan Kiki merebahkan tubuhnya bersandar pada Dany, sambil menyaksikan Dina yang menerima ciuman dari kedua pria itu.

    Dany merasa sangat excited mendapati Kiki berada dalam pangkuannya. Dengan cepat lengannya melingkari pinggang ramping itu, dan senyumnya semakin lebar saja ketika Kiki menyandarkan tubuh padanya. Rambutnya terasa halus dan harum, dan parfumnya sungguh meracuni benaknya yang pekat. Dany sangat menginginkan wanita ini melebihi apapun, dan saat ini, jika dia dapat mengarahkan moment ini ke arah yang benar, dia yakin akan bisa memenangkan hadiahnya.


    Akhirnya Dina menghentikan percumbuan itu dan mengipasi dirinya menggunakan tangan. “Wow! Tadi sangat hot. Aku nggak bisa memutuskan siapa better kisser-nya. Aku rasa imbang.”

    “Oh, nggak adil! Kiki, kamu yang putuskan,” kata Dany, sambil meremas pinggang Kiki.

    Kiki menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku tidak bisa… ”

    “Ya, aku rasa itu bukan ide yang bagus,” jawab Johan. Bagaimanapun juga, ini adalah istri kakaknya. Dia tak yakin bisa melakukannya dengan kakak iparnya sendiri. Itu adalah sisi rasioanalnya yang bicara. Ketika dia memandangi tubuh Kiki, nafsunya berteriak untuk melakukannya. Ayao lakukan saja!

    “Oh, Johan, it’s just a kiss,” kata Dany, dia menatap dengan Johan dengan pandangan penuh arti. Johan tahu kalau Dany punya hasrat pada Kiki. Mereka semua mengincarnya. Hanya saja Dany yang terus terang menunjukkannya. Dia tak peduli apa Kiki sudah menikah atau bercerai atau jadi janda atau apa sajalah. Kalu dia sedang tertarik pada seorang wanita, maka dia akan terus mengejarnya. Meskipun itu isteri temannya. Tidak bisa mempercayai Dany begitu saja, tapi itu jugalah yang merupakan salah satu daya tariknya.

    “Ya…, hanya ciuman saja,” Kiki berkata pada Johan, menengahi. Johan tak bisa mempercayai hal ini! Dia tahu kalau Dany akan berkata begitu, tentu saja. Tapi Kiki?

    Dina tertawa pelan dan bangkit dari himpitan dua pria ini. “Sorry jadi melibatkan kamu, Ki. Aku benar-benar nggak bisa memilih.”

    Kiki juga tertawa, dia merasa tak yakin dengan perbuatannya, tapi juga tak mau mempertanyakannya lagi. Dia duduk diantara dua pria tampan ini dan menepuk kedua lutut mereka layaknya seorang ibu yang menghibur puteranya. Ahmad, yang juga memendam hasrat pada wanita ini, wanita yang sudah menikah ini, buah terlarang untuk dipetik. Cincin berlian yang melingkari jari manisnya yang menandakan bahwa dia sudah dimiliki, terlihat bersinar lebih terang. Tapi Kiki memang selalu terlihat menggairahkan. Ahmad diam saja menunggu Kiki yang memulainya.

    Kiki menghadap ke arah Johan, lengannya bergerak melingkari leher adik iparnya ini. Dia tersenyum dan bilang, “Santai saja,” sebelum pejamkan matanya dan mendekat. Johan merasa bibir kakak iparnya ini terasa sangat lembut di bibirnya, hangat dan lembut. Sekilas, dia membayangkan bagaimana rasanya jika bibir ini memagut penisnya. Bibir Kiki membuka dan dia mulai menggerakkan lidahnya menggoda diantara ciuman mereka.

    *****

    Setelah sekitar dua atau tiga menit berciuman, Kiki melepaskan diri, senyumnya terlihat jelas pancaran terpuaskan di wajahnya lalu dia mencium ujung hidung Johan. Tanpa berkata apapun dia berpaling ke arah Ahmad, tangannya segera mengalung di leher pria ini, dan langsung melumat bibirnya. Pria keturunan timur tengah ini merasa kalau sebuah ciuman yang indah adalah awal dari sebuah hubungan seksual. Dia tak percaya anggapan ‘sebuah ciuman hanyalah sebuah ciuman’ karena dia tahu betapa dahsyatnya kekuatan sebuah ciuman itu. Dia menggoda dengan bibirnya, karena kalau dia bisa membuat wanita terkesan karenanya, Ahmad tahu kalau sang wanita akan mengharapkannya agar dibuat terkesan diseluruh bagian tubuhnya. Dia mencium isteri Hendra tak beda sedikitpun terhadap wanita lainnya, dan dirasakannya kalau batang penisnya mengeras oleh gairah. Kiki juga adalah seorang yang mahir berciuman. Dia suka bermain dengan bibir dan lidahnya, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menggoda dengan gerakan sensual. Ahmad langsung menyambut tantangan ini.

    Johan seorang kisser yang hebat, Kiki harus mengakuinyat, tapi Ahmad jauh lebih hebat. Dia bermain dengannya hanya menggunakan bibirnya saja untuk melumatnya, dan Kiki benar-benar merasa jadi sangat basah hanya karena sebuah ciuman ini. Sama sekali tak ada tarian lidah di sini. Ketika Kiki merasa merasakan tangan Ahmad berada di payudaranya yang kencang, reflek dia mengerang di mulut pria ini, merasa mulai melayang akan cumbuannya, dan Kiki sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi. Dia harus berhenti, dunianya terasa berputar.

    Akhirnya Kiki menghentikan ciumannya, nafasnya tersengal, dan wajahnya merona merah. “Itu sangat… hebat… kelaian berdua hebat.”

    “Mereka berdua sama hebatnya, kan?”

    Kiki mengangguk, tapi harus diakuinya kalau Ahmadlah sang pemenangnya. “Maaf Johan, Tapi Ahmad…” Dia hanya goyangkan kepalanya.

    “Nah,” kata Dina, sambil berdiri. “Ini semua… harus jadi seorang juri benar-benar membuatku… kepanasan. Setuju kan, Kiki?” Kiki hanya mengangguk. “Ada yang mau gabung dengan aku dan Kiki untuk renang?”

    Tangan Dina terjulur ke arah Kiki dan membantunya berdiri. Tanpa berkata-kata apapun lagi, kedua wanita itu mulai berjalan keluar ke arah kolam renang. Ketika keduanya sudah berada diluar, dalam dinginnya udara malam itu, Kiki berbisik, “Aku nggak bawa pakaian renang.”

    “Pakai bra celana dalam saja,” jawab Dina.

    “Aku nggak pakai bra juga.”

    “Ngak apa-apa,” jawab Dina lagi. “Aku juga nggak pakai kok.” Dina tersenyum pada Kiki yang tampak terkejut, tapi langsung meraih ujung kaos katunnya dan kemudian melepaskannya dari tubuhnya. Payudara besarnya membusung menantang pada dadanya seakan sebuah balon udara. Gundukan dua buah daging yang terlihat indah di dadanya, dan putingnya menghias mungil di kedua ujungnya, benar-benar alami tak seperti putting putting pada payudara hasil silicon yang melebar karena operasi. Dina tertawa kesil melihat mata Kiki yang tak lepas dari kedua payudaranya yang terpampang jelasitu.


    “Bagaimana? Mau gabung denganku tidak?” Tanya Dina, masih tetap tersenyum. Dia tahu para pria akan segera bergabung dengan mereka. Momen ini terlalu saying untuk dilewatkan. Tapi untuk sebuah alas an yang terasa liar dan menggoda, dia ingin wanita cantik yang sudah menikah ini untuk bergabung dengannya dalam aksi ekshibisionisnya.

    Johan melihat dari pintu yang terbuka. Dina memiliki tubuh yang fantastis dan tubuh itu layaknya tubuh para model majalah Playboy. Rambutnya yang panjang dicat kecoklatan. Tubuhnya adalah fantasi dari semua pria dengan payudara besar, pinggang langsing dan pinggul dengan lekuk merangsang. Paha jenjangnya merupakan satu kesatuan dari menggodanya tiap lekukan tubuh itu. Kulitnya putih bersih dan Johan tahu bentuk tubuh indah itu merupakan hasil kerja kerasnya dari olah tubuhnya di gym yang hampir tiap hari itu. Singkat kata apa yang kamu lihat di majalah-majalah model dan pria dewasa, itulah gambaran sosok Dina.

    Tapi karena sebuah alasan yang tak pernah dapat dijelaskan, Dina tak memiliki rasa percaya diri tinggi yang biasanya dimiliki wanita dengan ‘killer-body’. Sebenarnya dia mampu dan berotak cerdas, tapi dia tidak pernah mendapatkan pekerjaan selain sebagai seorang sekretaris kantor biasa saja karena isu-isu yang beredar tentang dirinya. Kadang Johan merasa khawatir dengan sahabatnya ini dan ingin merangkul dan melindunginya, yang mana Dina memang tipe wanita yang menginginkan diperlakukan sepeti itu. Tapi, isu-isu itu benar-benar membuat rasa percaya diri Dina meredup dan hanya teman-teman dekatnya sajalah yang mengerti siapa dia sebenarnya.

    Dan saat ini, semua yang terjadi malam ini membuat Dina punya keberanian dan rasa percaya diri untuk melucuti pakaiannya sendiri di hadapan teman-teman prianya dan kakak ipar Johan, memperlihatkan indahnya bentuk payudaranya. Reaksi Kiki seperti yang diharapkan Dina, malu dan juga ingin ikut sedikit beraksi gila. Kiki menatap tajam mata Dina seakan ini adalah sebuah tantangan.

    Sejak pertama kali merka berjumpa, Johan selalu merasa ada sisi lain yang liar dari kakak iparnya yang selalu terlihat penuh percaya diri ini. Hendra selalu mengatakan padanya betapa beruntungnya dia menikah dengan Kiki, tapi sebagai seorang saudara sekandung, Johan merasakan ada sesuatu yang terpendam dan tak tersalurkan. Hendra adalah seorang pria yang suka dengan tantangan dan bahaya sebelum dia menikah dan Kiki kelihatannya tak bisa selaras dengan gaya hidup itu.

    Menyaksikan kakak iparnya saat ini saat tangannya bergerak ke belakang lehernya dan melepaskan tali pengait gaunnya, Johan berkata dalam hati, “Inilah yang kamu inginkan kak, jika saja aku bisa mengatakan padamu saat ini.”

    Bentuk tubuh Kiki sangat beda dengan Dina, dan saat kedua wanita itu berdiri berdampingan dihadapan mata para pria itu, mereka benar-benar bisa melihat perbedaan itu. Kiki memiliki tubuh yang lebih tinggi dan lebih langsing. Payudaranya lebih kecil tapi terlihat sangat tepat ukurannya di tubuh bak penarinya itu. Lekuk tubuhnya juga sangat tak bisa dipandang sebelah mata, lingkar pinggulnya lebih halus, pahanya juga selalu terlihat menggoda dalam ukurannya sendiri. Saat dia melepas gaunnya melewati pingangnya, memperlihatkan tali celana dalam putihnya, Johan memperhatikan meskipun Kiki sedikit lebih kurus dibandingkan Dina, Kiki tetap memiliki bentuk pantat yang menakjubkan, lebih kecil tapi masih tetap tepat dalam ukuran tubuhnya itu

    Dengan tersenyum Dina menurunkan resleiting celana jeans selututnya dan melepaskannya turun dari pinggulnya. Dibaliknya, dia mengenakan g-string berwarna biru yang sangat mini dan hanya terlihat tak begitu bisa menutupi gundukan selangkangannya.

    “Kalian mau gabung dengan kita?” Tanya Kiki, sedikit menggoda para pria dengan mempperlihatkan putting merah mudanya sekilas saja sebelum berbalik menghadap ke air dan kemudian terjun menyelam, membelah air layaknya sebuah pisau tajam. Dina berjalan menghampiri Johan, dia tersenyum dan menggandeng tangannya kemudian menarik Johan ke kolam renang. Johan hanya mampu sebisanya untuk membuka baju dan celana panjangnya sebelum tercebur ke dalam air.

    Dany sangat gembira dengan ke mana arah mengalirnya moment di malam ini. Bentuk tubuh Kiki memang seperti apa yang selama ini diimpikannya. Tapi masih ada satu mistery yang ingin dia ketahui, dan itu berada dibalik celana dalam putihnya Kiki.

    Sebelum menuju ke kolam renang untuk bergabung dengan Johan dan kedua wanita itu, dia mengambil kotak pendingin dan mengisinya dengan botol-botl bir kemudian membawanya ke pinggir kolam renang.


    “Kamu nggak ikut gabung?” tanyanya pada Ahmad sambil membuka sebuah botol.

    “Nggak tahu. Aku rasa aku lebih senang duduk di sini saja.”

    Mata Dany terangkat. “Kenapa kamu? Main sama dua orang wanita cantik di kolam, setengah telanjang lagi. Kenapa juga kamu lebih memilih duduk di kursimu itu?”

    “Anu, itulah masalahnya. Kamu lihat Johan, kan? Dia pakai boxer dan aku lupa nggak pakai. Dan dengan dua wanita cantik ada disini… ”

    “Aku paham! Begini saja, kamu jangan sampai keluar dari air saja. Itu pasti lebih baik. Ambil nafas, pikirkan tabrakan kereta atau apalah sampai setidaknya kamu sudah tak terlalu tegang, lalu langsung terjun ke air.”

    Ahmad terlihat masih ragu, tapi dia paham maksud Dany. He needed and looked away, into the darkened hills of Portola Valley. Dany melepaskan kaosnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang berotot. Dia mempunya bentuk tubuh yang paling baik dibandingkan para sahabatnya. Setelah melupaskan celana jeans-nya, dia langsung terjun ke air, berenang ke arah Kiki dan merabai sekujur tubuh halus Kiki.

    Kelimanya berenang dan juga minum dan mabuk lagi dan saling bercanda dalam air untuk beberapa jam kedepan. Dany sangat terlihat menggoda Kiki dengan terang-terangan, dan yang mengejutkan semuanya, termasuk Kiki juga, isteri Hendra tak keberatan sama sekali dengan tingkah laku Dany. Pada sebuah kesempatan, Kiki berenang ke tepian kolam untuk meminum lagi birnya, Dany sudah berada tepat dibelakangnya. Dan saat Kiki membalikkan tubuhnya, Dany menekan tubuhnya ke pinggiran kolam, mendorongkan tubuhnya sangat dekat pada tubuh Kiki.

    Pria ini punya tubuh yang bagus, pikir Kiki, lalu menyumpahi dirinya sendiri karena memikirkan hal itu. Pria ini adalah seorang pembual, orang brengsek yang sangat percaya diri. Tapi ada sesuatu dari pria ini yang dirasakannya… sangat menarik dan tak dapat dicegahnya.

    “Kamu sudah memberi ciuman pada Johan dan Ahmad. Bagaimana dengan ciumanku?” tanya Dany. Kiki merasakan tangan pria ini berada di pinggangnya, membuatnya semakin merapat ke tubuh Dani. Dia sudah sangat keras… Kiki bisa merasakannya saat ereksinya menekan bagian bawah perutnya.

    “Kamu juga ingin?” Kiki nggak tahu, apakah ini pengaruh dari alcohol ataukah dua bulannya yang tak terjamah, tapi dia meneruskan, “Baiklah, biar adil.”

    Dan kemudian kedua mulut mereka menyatu dalam sebuah ciuman yang sangat panas.

    Johan menyaksikan dari ujung lain kolam renang saat keduanya saling bercumbu layaknya sepasang remaja kasmaran. Dia sadar kalau seharusnya dia menghentikan kejadian ini sebelum semuanya jadi terlalu jauh. Bagaimanapun juga wanita itu adalah isteri kakaknya! Tapi sisi lain dirinya mulai terangsang, saat membayangkn apa yang bisa didapatkannya dari kakak iparnya yang manis dan penuh rasa percaya diri itu.

    Akhirnya dia putuskan untuk membiarkan saja moment ini mengalir sewajarnya…

    Dina sedang sibuk sendiri menggoda Ahmad. Batang penisnya yang setengah ereksi tak luput dari pengawasan matanya saat pria ini menceburkan diri ke dalam air, dan saat dia menerka berapa ukurannya, dia jadi semakin penasaran untuk mengetahui berapakah ukurannya saat dalam keadaan ereksi penuh. Diluar semua kejadian spesial dengan para sahabat prianya, sebenarnya tak begitu banyak pria lain yang pernah tidur dengannya… bagaimanapun juga tidaklah sebanyak isu-isu yang beredar di luaran… dan sebenarnya dia belum pernah merasakan batang penis yang sangat besar. Dan Ahmad mungkin akan memberinya pengalaman itu.

    Kiki akhirnya mulai merasa terangsang di akhir sesi berenang mereka. Dia tahu kalau dia sedikit mabuk, mungkin juga masih dalam pengaruh Candu dan tak merasakan ‘rasa sakit’. Dan dia sadar kalau beberapa kejadian yang sudah dilakukannya itu tidak semestinya dia lakukan, tapi rabaan dan elusan pada tubuhnya yang nakal sungguh memberinya sebuah getaran yang nyata.

    Saat dia keluar dari air, dia tahu kalau mata Dany tak pernah lepas sedetikpun dari bongkahan pantatnya dimana secarik kain satin yang kecil itu menghilang, dan hatinya terasa menari-nari saat mengetahuinya.

    Tak lama berselang Dany menyusulnya, Tubuh basah kekarnya tampak berkilauan ketika tersapu cahaya lampu, dan Kiki sadar kalau putingnya yang semakin keras mencuat bukanlah disebabkan oleh dinginnya udara malam.

    “Kami lupa handuknya,” Kiki tersadar, memandang sekelilingnyashe realized, looking around.

    “Nggak direncanakan ya?” Dany tertawa. “Ayo, kutunjukkan tempat handuknya.” Apakah ada yang lebih baik dari tawaran ini, piker Kiki. Hatinya berdebar membayangkan apa yang akan terjadi menunggunya. Haruskah dia pergi?

    “Kamu yang depan,” kata Kiki apada akhirnya. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak menoleh ke belakang untuk melihat reaksi dari yang lainnya.

    ****

    Johan menatap Kiki dan Dany yang menghilang ke dalam rumah. Kepalanya terasa mati rasa karena kebanyakan minum dan ganja. Kembali dia merasa kalau dia harus menghentikan apa yang akan terjadi, tapi dia tak mampu. Kiki memang terlalu merangsang dengan pakaian renangnya itu…

    Dany membimbing Kiki ke dalam rumah yang besar itu, menaiki tangga lalu masuk ke dalam ruangan yang gelap. led Kiki through the large house, up some stairs, and into a darkened room. Kiki sudah merasa menggigil kedinginan, lengannya terasa merinding, lengannya menyilang rapat di depan payudaranya memeluk tubuhnya.

    “Aku rasa handuknya ada di sini,” kata Dany, sambil menyalakan lampu. Mereka berada dalam sebuah kamar tidur. Kamar tidur tamu yang tertata dengan rapi.

    Dany melangkah mendekati sebuah almari, membukanya dan menyodorkan pada Kiki sebuah handuk halus berwarna putih, kemudian mengambil satu untuk dirinya sendiri.

    Setelah tubuh mereka kering, Kiki mengambil tiga buah handuk lagi dari dalam almari untuk yang lainnya. Ketika dia berbalik, Dany sudah berdiri tepat di belakangnya, seperti saat di kolam renang, hanya saja kali ini, situasinya terasa lebih serius. Dany berkata pelan, “Kita nggak perlu tergesa-gesa.”

    Dibelainya rambut Kiki yang basah di belakang telinganya sambil tersenyum

    “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Kiki, memberikan sebuah senyuman yang keduanya tahu akan arti senyuman itu dan melangkah semakin mendekati Dany.

    “Aku rasa kamu tahu,” katanya, bibirnya semakin dekat.

    “Oh ya?” jawab Kiki, sambil menyentuh bibir Dany dengan bibirnya perlahan.

    “Ya,” jawab Dany.

    Kebimbangan tersebut hanya sebentar, dan bibir mereka kembali menyatu.

    Mereka saling berciuman, dan tangan Dany menarik lepas handuk yang membungkus tubuh Kiki, menjatuhkannya ke lantai. Kiki tersentak akan udara dingin yang menyengat tubuhnya yang hampir telanjang, menyadari betapa terlarangnya hal ini, tapi menginginkannya dengan amat sangat.

    Masih tetap dalam perasaan yang seperti mimpi di sepanjang malam ini, Kiki membiarkan dirinya dibawa Dany ke atas ranjang, kemudian Dany menyuruhnya agar rebah dan rileks. Dany membungkus bibir Kiki dengan bibirnya lagi, tangannya bergerak menelusuri sekujur tubuh mungl Kiki. Ciumannya berjalan turun menelusuri sepanjang leher Kiki, bahunya, payudara hingga putingnya.


    “Ohhhhh!” Kiki mendesah, mendorongkan dadanya ke mulut Dany. Lidah Dany membuat lingkaran di sekitar putingnya, mengirimkan riak kenikmatan ke pusat indera seksualnya. “Ohhhhh, Dannnn…” kembali Kiki mendesah. Dany berganti dari payudara satu ke satunya lagi, memberi perhatian yang sama pada kedua daging sekal ini sebelum melanjutkan perjalanannya ke arah tujuannya yang pasti.

    Kiki sadar kalau dia seharusnya menghentikan Dany. Dia sadar kalau permainan kecil ini sudah terlampau jauh. Permainan ini memang menyenangkan, tapi dia sudah menikah. Dia sudah memiliki seorang suami yang… yang berada sangat jauh saat ini.

    Dany menyapu celana dalam Kiki dengan lidahnya, tepat di atas bibir vaginanya. Dany tahu kalau Kiki sudah jadi miliknya sekarang dan dia memutuskan untuk sedikit menggodanya. Dany akan menikmati ini. Dapat dirasakannya bibir vagina Kiki dengan lidahnya, dan aroma birahi Kiki segera menyergapnya. Dua jari Dany menyelinap dibalik celana dalam Kiki, hanya di daerah tepiannya saja, bergerak turun pada selangkangan Kiki yang sudah basah. “Ohhh, jangan terus menggodaku, Dany!” rintih Kiki. Dany mendongak ke atas dan melihat wajah Kiki yang merona dan dengan mata terpejam, sebelah tangannya sedang menjambak rambutnya sendiri.

    Dany menyibak celana dalam itu ke samping, ditatapnya penutup terakhir di tubuh wanita seksi dan sudah menikah ini. Dany merasa terkejut sekaligus senang akan aroma manis dari vagina Kiki yang terawat dengan baik. Bibir yang terus berdenyut lembut itu tercukur bersih, dan hanya membiarkan sedikit rambut berbentuk segitiga tercukur rapi tepat di atas celahnya. Dany menjilat sepanjang bibir vagina yang masih tertutup itu, yang mengakibatkan wanita di atas tubuhnya bernafas dengan berat. Dijilatnya sekali lagi sebelum akhirnya merenggut lepas celana dalam itu.

    Dany selalu terkesan betapa setiap vagina itu punya perbedaan masing-masing. Labia Kiki kecil dan gemuk, bibirnya menutup rapat sekan malu-malu, tidak seperti kebanyakan perempuan yang merekah terbuka saat merekea sedang terangsang. Kepala Dany terkubur menghilang di antara paha Kiki dan dia membelah bibir vagina yang masih merapat itu dengan lidahnya, membuat Kiki semakin terbang tinggi menuju surga. Dany terus menggoda Kiki. Dany adalah ahlinya dalam hal oral seks, dengan lidah, bibir dan jarinya untuk menyalakan api jauh di dalam jiwa Kiki. Kiki sangat membutuhkan pelepasan, tapi setiap kali otot perutnya mulai mengejang, Dany memperlambat aksinya yang membuat ledakan itu mereda kembali. “Ohhh, hentikan! OHHHH!” protes Kiki, tapi dia benar-benar berada di bawah kendali Dany.

    Hendra jarang memberinya oral seks, dan jikalaupun dia melakukannya, sungguh sangat berbeda dengan ini. Sungguh lain dengan yang diberikan pria yang bukan suaminya ini. Apa yang dilakukan Dany padanya membuat Kiki saekan berada di tepi batas pertahanannya dan itu sangat merenggut seluruh rasa di jiwanya. Sekujur tubuhnya bergetar dan rahangya terasa pegal menahan beban rasa ini. Ketika gelombang kenikmatan itu terbangun sekali lagi, dia tidak akan membiarkan pria ini mempermainkannya lagi. Dijambaknya rambut Dany dan menyentakkannya ke arah selangkangannya, mencekik Dany dengan vaginanya dan paha Kiki melingkar erat di belakang kepala Dany. “Uh, UHH! OHH, YAA! YES! YES!! UH!! HAMPIR! YES, OHHHHHHHHHH!!!”

    Dany tak mampu berbuat apa-apa. Dia tetap mengoral Kiki dengan lidahnya hingga orgasma atau tercekik kalau melawan. Kiki menggelinjang hebat begitu orgasme diraihnya. “UHHHHHHHHH NGHHGHHHHHHH!!!! OOOHHHHHHHHHH!!!” Dia menghentak liar ke wajah Dany, dan Dany hanya bias diam saja tak menghindar, lidahnya terus mengaduk dalam vagina Kiki, bibir atasnya menggetar di kelentit Kiki. “Ohhhhhh…” Gelombang itu mereda, Kiki mulai tenang, matanya terpejam selama beberapa saat membiarkan dirinya terhempas ke dalam samudera orgasmenya yang luar biasa.

    Dany merangkak naik ke sebelah tubuh Kiki dan memberinya sebuah kecupan di bibirnya. Kiki sedikit terkejut begitu merasakan cairan vaginanya sendiri yang ada di bibir, dagu dan lidah Dany. Belum pernah dia merasakan dirinya sendiri. Dia tidak pernah mengijinkan Hendra menciumnya setelah memberinya oral seks. Tidak mengijinkannya sebelum suaminya menggosok giginya terlebih dulu. Rasanya… sungguh berbeda.

    Saat bibir mereka saling melumat, tangan Kiki merayap turun menuju celana dalam Dany. Dapat dirasakannya bagian itu berkedut hidup. Jujur saja ini lebih besar dari milik Hendra dan lebih keras juga. Kiki memijitnya dengan bernafsu dan segera saja dia menyadari kalau dirinya membutuhkan kejantanan ini. Didorongnya Dany hingga rebah dan dikeluarkannya batang penis Dany. Mulut Kiki segera menyergap batang keras kenyal ini, dihisapnya dari bagian samping, jemari Kiki mengocok dengan cepat disertai dengan cengkraman tangna yang keras, dan Kiki tahu kalau Dany menyukai aksinya ini.

    Saat Dany sudah hampir keluar, Kiki berhenti, mulutnya melepaskan hisapannya dari batang penis ini, dan segera bergerak mengangkangi tubuh Dany. “Astaga, oh Dany, aku nggak tahu apa yang merasukiku, tapi aku sangat menginginkan penismu sekarang juga.” Bibir vagina Kiki berada tepat di atas kepala penis Dany, digesekkannya kepala penis itu di sepanjang garis bibir vaginanya yang sudah dangat licin. “Aku ingin penis kamu dalam vagina milik suamiku ini, Dany. Apa kamu tidak ingin menyetubuhi wanita yang sudah menikah ini Dany? Aku ingin kamu mengeluarkan spermamu yang hangat jauh di dalam vaginaku sekarang. Vagina seorang istri pria lain ini” Kiki hanya bicara kotor saat benar-benar sedang sangat-sangat terangsang. Dan ini biasanya terjadi saat Hendra pulang dari perjalanan luar kotanya, tidak saat Hendra MASIH berada di luar kota… Tidak pernah dengan pria lain, Tapi persetan, Kiki sudah tak peduli lagi. Dan sama sekali tidak ambil pusing lagi saat kepala penis yang gemuk ini mulai mendorok masuk menyeruak dalam kelopak bunga dari vaginanya. Tidak saat batang ereksi Dany membelah bibirnya dan mengisinya dinding lembut vaginanya dengan sesak

    “Ohhhhh,” erang Kiki begitu tubuhnya mulai bergerak turun ke tubuh Dany di bawahnya. “Oh, sayangku, rasanya saaaangat nikmat…”

    Dany tak bias mempercayai betapa mencengangkannya pengalamannya kali ini. Dia sudah pernah tidur dengan beberapa wanita yang sudah menikah sebelumnya. Dalam pengalamannya, pertama kali sulit untuk menembus pertahanan mereka, tapi berikutnya kalu sudah takluk, mereka akan sangat liar di ranjang. Tapi Kiki lain, dia tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan untuk sampai di titik ini, dan sekarang, dia seperti benar-benar terbakar birahinya. Tubuhnya bergerak naik turun pada batang penisnya, tangannya di rambutnya sendiri, tubuhnya dengan punggung melengkung tengadah ke belakang. Dany dapat melihat tulang rusuk Kiki dengan posisi tubuhnya sekarang ini. Payudara sekalnya terguncang menantang di dadanya, berkilat oleh keringatnya.

    “Uh, uh, oh, OH!” Jika saja ada seseorang di lantai dua rumah Johan ini, orang itu pasti akan mendengar sura Kiki. Dia mendesah, mengerang, tersengal, menggeram bahkan kadang menjerit pelan. Kiki bersetubuh dengan berisik, tapi itu malah semakin membuat Dany terbakar birahinya. Sudah sangat lama Dany ingin meniduri wanita bersuami ini. Dan sekarang ini, itu sudah tercapai dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tidak pernah mau jika affairnya dengan seorang wanita bersuami berkelanjutan. Terlalu rumit, tapi begitu dia merasakan sinding vagina Kiki yang cantik dan rapat ini menggesek batang penisnya turun naik, dia memberikan pengecualian untuk kasus ini.

    “Oh, keluarkan untukku! Oh, Dany, keluarkan dalam vaginaku! Aku ingin merasakannya–ohhhh! Fuck me, fuck! Fuck! Yes! OHHHH!” Pertahanan Kiki jebol terlebih dulu, dia keluar dan Dany membiarkan semua reaksi tubuh Kiki, dibiarkannya Kiki mengocok pelan naik turun batang pennisnya dengan dinding vaginanya yang terasa licin. Dany tahu kalau dia tidak bias bertahan terus, tapi dia terus berkonsentrasi untuk memberikan persetubuhan yag terhebat untuk wanita bersuami ini dan terlebih lagi bagi dirinya sendiri.

    “Ohh, Dan… jangan… mempermainkanku terus! Hentikan dan… cepat keluarkan!” Kata-kata Kiki tercekat oleh nafasnya yang terhenti sesaat. Kiki kembali berada di tepi orgasmenya ketika Dany batang penis Dany mulai berkedut hebat.

    “Ohhh!!! ARGHHH!!” teriak Dany. Dany belum pernah berteriak sekeras ini saat bersetubuh. Tapi sekarang ini dia melakukannya, Gerungan, dan erangan layaknya binatang liar keluar dari mulutnya. Dan wanita cantik di atas tubuhnya ini terus menggoyang tubuhnya seakan menandakan penaklukannya atas burannya ini. Dany sekan mengenakan sebuah helm virtual dikepalanya, dia menyaksikan Kiki menari telanjang di atas salju di hadapannya. Dia merasakan gairah peperangan, gairah kemenangan, gairah penaklukan. Dan kemudan dia mengosongkan kantung spermanya ke dalam rahim terlarang Kiki, menyemburkan sebanyak-banyaknya sperma panasnya ke dalam rahim istri pria lain yang sangat terpuaskan.. “AAAARRRRGHHHHHHH!! AH! AHHHH!!!” Dany tak mampu mengontrol dirinya.

    Kiki juga tak dapat menghentikan dirinya. Dia tetap memompa, meskipun ketika batang penis Dany tengah menyemburkan spermanya dengan hebatnya ke dalam rahimnya. Kiki menghentak turun pinggulnya ke arah Dany, semakin keras dan bertambah keras saja, otot vaginanya meremas dan memerah setiap tetes intisari dari Dany. Kiki merasakan semburan hangat itu menghantamnya dan dia tak mampu menahan pertahanannya lagi.

    “OOHHHHHHHHH YEAHHHHHHHH!!! YES–YESSSSSSS!!!”

    Kiki merasa setengah sadar dibuai orgasmenya yang sangat intens. Tubuhnya rebah terkulai di atas dada indah Dany, batangnya yang sudah menyusut masih terbenam sebagian dalam vagina Kiki. Kiki dapat merasakan sperma Dany yang hangat meleleh keluar diantara jepitan selangkangan mereka. She felt light headed from the intensity of her orgasm. She was laying on Dany’s beautiful chest, his shrinking member still half buried in her cunt. She could feel his warm jism leak out from between them. Hal ini membuatnya pusing, memikirkan apa yang sudah mereka perbuat. Hal ini sangat terlarang. Sangat salah tapi juga sangat menyenangkan.

    Kiki memberi sebuah ciuman ringan di bibir Dany dan berkata “Aku rasa lebih baik kita segera bawa handuk handuk ini untuk yang lainnya.”

    Kiki mengangkat pinggulnya mengeluarkan batang penis Dany dan keduanya mendesah begitu batang itu tercabut keluar. “Aku mau mandi dulu,” kata Kiki dengan tersenyum sambil melangkah ke arah kamar mandi. Dia merasa begitu nakal saat dirasakan vaginanya yang penuh sperma menimbulkan jejak putih menurun di pahanya, dia sangat menyukainya.

    *****

    Dany dan Kiki turun untuk berkumpul kembali dengan yang lain setelah menghilang kurang lebih setengah jam. Sebuah handuk membungkus tubuh Kiki, melilit hingga atas belahan dadanya. Dia menemukan sebuh penjepit rambut di kamar mandi dan menguncir rambutnya ke belakang. Saat menuruni anak tangga yang menuju ke ruang tengah, dia merasa bagaikan seorang putri, dan ini bukan hanya karena ‘pakaian’ yang dikenakannya. Pada sofa di bawahnya, sekali lagi, terpampang adegan yang membuat vaginanya basah kembali.

    Si keturunan timur tengah yang berkulit gelap itu duduk dengan posisi kedua kaki terpentang lebar, telanjang seutuhnya dan memperlihatkan ereksi yang sungguh mendebarkan hati. Dina berada di lantai di antara pahanya, sedang sibuk menjilati batang ereksi luar biasa itu. Dia masih tetap memakai g-string biru kecilnya, tapi jemarinya terlihat jelas sedang sibuk juga di balik kain sutera tipis itu.

    Duduk di kursi yang bersebelahan dengan sofa itu, Johan, yang celana renangnya sudah turun hingga lututnya dan sedang sibuk mengocok batang penisnya sambil melihat adegan di hadapannya. Kiki terpaku di tangga sampai Dany menarik tangannya dan menuntunnya turun.

    Johan segera beranjak mengambil handuk saat Dany dan Kiki menghampiri mereka. Dia menawarkan minuman pada mereka, dan tentu saja kedua temannya menyambutnya dengan suka cita. Saat dia kembali dengan membawa vodka tonic, dia mendapati Dina sudah duduk diatas pangkuan Ahmad, menciumnya sebentar dan memintanya untuk memperlihatkan kejantanannya.

    “Belum pernah kulihat yang sebesar ini. Aku hanya… hanya ingin melihatnya.” Dina mengerjapkan matanya dengan mimik yang polos yang melumerkan hati Ahmad. Bagaimana mungkin dia menolaknya?

    Kemudian yang dia tahu, dia merasakan batang penisnya yang gemuk dan panjang sudah berada di dalam mulutnya dan Dina sedang menghisapnya menuju surga. Betapapun dia mencoba sebisanya, Dina tak mampu menampung batang kejantanan itu masuk seluruhnya ke dalam mulutnya. Ini terlalu besar dan panjang. Jadi kemudian dia mengeluarkannya, mengangkat tubuhnya sedikit hingga batang penis itu berada di antara belahan payudaranya yang sekal, lalu tersenyum manja padanya. “Pernah melakukannya?” tanyanya, sekali lagi dengan ekspresi kekanak-kanakan.

    “Hah?” tanyanya, tak mengira ini akan terjadi.

    “Seperti ini,” Dina tersenyum dengan nakal, tangannya berada di kedua sisi payudaranya dan menekannya bersamaan, menjepit batang itu diantara kedua bongkahan daging kenyal itu. Lidah Dina membantu melicinkan gerakannya, dan dia mulai menggesekkan payudaranya pada batang penis itu.

    “Ohhh,” rekasi Ahmad, kedua bola matanya melotot terpana menyaksikan apa yang dilakukan wanita ini padanya. Ahmad cukup berpengalaman, sudah banyak wanita yang tidur dengannya, tapi seks selalu terjadi setelah rangkaian kencan yang mesra. Dia selalu punya hasrat terpendam terhadap Dina dan selalu menghayalkannya, tapi belum pernah sekalipun hal seperti ini ada dalam fantasinya. Ketika kepala penis Ahmad muncul dari jepitan payudaranya, Dina menyambutnya dengan jilatan lidahnya, sekali, dan kembali melenyapkannya ke dalam hangatnya buah dadanya. Kepala Ahmad terhentak ke belakang dan menggeram.

    Kiki tak sanggup mempercayai apa yang disaksikannya. Dany membimbingnya menuju ke kursi di seberang Dina dan Ahmad, dia merasa pipinya memerah saat menyaksikan wanita ini memanjakan pasangannya menggunakan buah dadanya sendiri. Ini seperti sebuah film porno yang sering dia dengar. Ini membuatnya semakin terangsang. Dia rebahkan tubuhnya bersandar pada Dany. Kiki tak mampu menahannya lagi. Dia mencium bibir Dany dengan rakus sambil tangannya bergerak meraih penisnya yang mengeras, dan Kiki mengocoknya agar semakin bertambah keras.

    Johan harus memejamkan matanya untuk meredam ledakan orgasmenya saat menyaksikan Dina yang menjepit penis Ahmad di antara payudaranya, dan kemudian melihat Kiki dan Dany yang juga memulai adegannya sendiri. Ketika dia membuka matanya, Kiki sudah duduk diatas pangkuan Dany, dengan punggung yang menghadap ke arah Dany dan kedua tangan Dany meremas payudaranya. Tubuh keduanya kembali menyatu dan mulai bersetubuh lagi. Kiki terlihat sangat menawan saat sedang dibakar gairah. Jauh lebih cantik dari biasanya, termasuk di saat hari pernikahannya. Rambut sebahunya, terkuncir ke belakang, terlihat kusut dan basah. Sebagian menempel lekat pada dahi dan pipinya. Matanya setengah terbuka, giginya saling beradu keras dalam erangannya yang rendah, pelan dan berat. Dia mengayun berlawanan mengiringi hentakan Dany, dengan keras, layaknya seorang wanita yang sudah sangat lama tidak mendapatkan sentuhan pria.

    “Oh, YA!” Ahmad berteriak, saat spermanya menyembur. Dengan cepat Dina menangkapnya dengan mulut, membiarkan hanya sebuah gumpalan sperma yang lolos menghantam dagunya. Dia sangat menyukai rasa dari sperma pria, dan pria ini tak terkecuali.

    “Aku ingin keluar dalam mulut kamu,” bisik Dany di telinga Kiki. “Aku ingin merasakan bibirmu mengulum penisku saat kamu membuatku orgasme untuk yang kedua kali malam ini.” Kata-kata nakalnya membuat Kiki merasa jengah bercampur dengan birahinya yang semakin tinggi karenanya.

    Kiki mengeluarkan penis Dany dari dalam vaginanya, lalu memutar tubuhnya di antara paha Dany, dan memasukkan penis Dany yang basah oleh cairan madunya sendiri ke dalam mulutnya. Dia merasakan cairan madunya sendiri untuk yang kedua kalinya. Kali ini rasa itu membatnya bergairah. Hal ini sangatlah keliru! Benaknya menjerit dan lidahnya menjulur membasahi lidahnya dengan penuh rasa nikmat. Dia gunakan cairan vaginanya sendiri sebagai pelican, tangan kanannya mengocok seiring dengan kuluman bibirnya, sedang tangan kirinya dengan mesra menggenggam buah zakar Dany.

    Johan tak mempercayai semua yang tengah terjadi. Tak lama berselang adegan oral, adegan berikutnya langsung menyusul. Kiki tak membutuhkan waktu lama mengoral. Dany sudah berada di garis ketahanannya saat dia rasakan kepala penisnya menyentuh tenggorokan Kiki dan mulai masuk. “Ohhhh, fuck, baby! YEAAHH!”

    Dina mengorek sperma yang lepas dari tangkapannya tadi dan menghisapnya habis dari ujung jemarinya, sambil melirik nakal ke arah Johan. Pria muda ini terlihat sangat manis, duduk di sana dengan penis dalam genggaman tangannya, bingung menentukan adegan mana yang harus disaksikannya. Terasa sudah cukup lama sejak terakhir kali Dina melihat penisnya yang indah. Bagi Dina, itu adalah ukuran yang paling tepat untuknya, dan setiap kali dia bercinta dengan Johan itu adalah persetubuhan terbaik yang pernah didapatkannya.

    Johan melihat wanita berambut ikal panjang sampai punggung ini berdiri dan berjalan ke arahnya. Dina membetulkan g-string biru kecil yang melingkari pinggulnya dan Johan seketika membayangkan apakah wanita ini masih mencukur bersih vaginanya. Dina menghampirinya, duduk di sebelah kirinya dan dapat dirasakannya sesuatu yang berbeda yang akan segera dia ketahui.

    Perasaan Johan campur aduk saat menyaksikan Dina memuaskan Ahmad. Di satu sisi, dia merasa cemburu. Bagaimanapun juga Dina bukanlah miliknya dan dia tidak berhak merasa cemburu. Di sisi lainnya, dia merasakan ini sangat merangsang birahinya ketika menyaksikan Dina memuaskan sahabatnya.

    Johan tergetar akan keberadaan Dina yang merapat. Dapat dia rasakan kehangatan dari tubuh Dina yang hampir telanjang di dekatnya. “Kamu terabaikan,” kata Dina dengan suara jalang dan dalam. Tangannya menggenggam ereksi Johan, tepat di atas tangan Johan berada. “Kedua temanmu sudah bersenang-senang. Sekarang giliran tuan rumah.”

    Diturunkannya boxerg Johan dari kakinya hingga batas lutut. Sebelum Dina mulai mengulum penis Johan dengan mulutnya, entah kenapa, dia menoleh pada istri kakaknya Johan dan berkata, “Mau bantu?” dengan suaranya yang termanis.

    Kiki, yang sedang menatap penis Johan, melirik ke mata Johan, lalu kearah Dina, kembali lagi ke Johan, dan mengedip. “Dengan senang hati.”

    Tubuh telanjang Kiki mendekati Dina dan Johan. Birahi Johan semakin terbakar melihat selangkangan isteri kakanya yang dihiasi rambut kemaluan yang tercukur rapi mengecil ke bawah. Dia tak mengira kakak iparnya ini sebagai tipe wanita seperti ini. Dan lagi, dia tak pernah menyangka kakak iparnya adalah tipe wanita yang mau bersama dengan wanita lain memberikan oral seks padanya.


    Kedua wanita ini saling bergantian memanjakan penisnya. Saat yang satu mengulum batangnya, yang satunya lagi menjilati buah zakarnya. Kemudian, bagaikan kedua pikirannya saling terhubung, mereka bergantian posisi hampir tanpa jeda. Tehnik keduanya sangat berbeda, tapi ini jadi terasa menakjubkan. Bibir Kiki menciptakan jepitan cincin yang kencang melingkari batang penis Johan, sedangkan Dina menggunakan lidahnya untuk memberi kepuasan yang maksimal bagi Johan. Yang paling menggairahkan adalah menyaksikan tangan Dina membelai wanita berambut sebahu ini. Sejauh yang dia tahu, Dina belum pernah melakukan dengan wanita lain. Tapi kemudian, bukan berarti hal ini sama sekali mustahil.

    Johan sadar orgasmenya sudah dekat, dan kelihatannya Dina juga tahu akan hal itu. Dilepasnya batang penis Johan dari kuluman mulutnya, dan mencegah Kiki yang ingin ganti mengulum. Dia berbisik pada Kiki, “Maafkan aku, tapi aku benar benar ingin segera disetubuhi.” Tanpa berpikir panjang apa reaksinya, Dina mencium dengan lembut bibir wanita di hadapannya ini dan berdiri. Jemarinya bergerak ke tali pengikat g-stringnya, dengan perlahan diturunkannya, membuat dirinya telanjang tak beda dengan semua yang berada dalam ruangan ini.

    Johan sangat terkejut saat melihat ciuman singkat yang dilakukan oleh kedua wanita cantik ini dan membuatnya tak merespon langsung akan kecantikan dari wanita yang telanjang seutuhnya di hadapannya. Kulit putihnya terlihat indah dan Johan merasa senang melihat Dina tak mencukur habis rambut kemaluannya. Dia masih menyisakan segaris tebal rambut di atas bibir vaginanya yang tebal. Rambut itu terlihat sangat pendek seakan baru saja tumbuh, dan vulva yang membuka karena gairahnya dan seakan mengisyaratkan sudah benar-benar siap. Dina menaiki pangkuannya, menggosokkan payudaranya ke wajah Johan, dan mulai menurunkan pinggulnya pada batang terbaik yang pernah dia setubuhi. Tak ada halangan di pintu masuk, dan segera saja, bibir vaginanya yang sensitif bertemu dengan rambut ikal dari kemaluan Johan.

    Kiki memandang penis Johan memasuki vagina Dina dan sebuah getaran melandanya. Belum pernah dia menyaksikan pasangan lain melakukan hubungan seks di hadapannya, tidak sedekat ini! Ini sangat membakar gairahnya.

    Kiki menyapukan pandangnya ke sekitar. Dany sudah nggak ada, tapi Ahmad masih duduk di situ, sendirian di tengah sofa, memegangi batang penis terbesar yang pernah dilihat dalam hidupnya dengan tangannya. Ekspresinya seperti layaknya seorang anak kecil yang menatap mainan di balik kaca toko. Dia tak tahu mana yang harus di lihat, terlalu banyak pemandangan untuk direkam ingatannya. Kiki tertawa melihatnya, merasakan betapa naturalnya semua ini terjadi.

    Dia merangkak ke arah sofa dan meringkuk di sebelah Ahmad. “Apa yang kamu pikirkan?” bisiknya di telinga pria ini.

    Ahmad memikirkan sesuatu, tapi tak mampu mengucapkannya. Dia pandangi wanita cantik di sebelahnya ini, tak pernah sekalipun dalam hidupnya akan bisa melihat wanita seperti ini telanjang. Dia sangat cantik, sagat cerdas, terlalu berkelas baginya. Tapi disinilah dia berada sekarang, duduk dengan kaki melipat di bawahnya, payudaranya menekan erat lengannya dan tangannya yang mengelus kejantanannya.

    “Aku berpikir, apa yang sudah kulakukan hingga aku bisa menerima ini?’”

    Kiki tertawa pelan. “Kamu sudah memenangkan kontes ciuman,” jawabnya, dan perlahan mengangkat kepalanya, mendekatkan bibirnya pada pria muda ini. Mereka saling berciuman dengan mesra dan penuh gairah, membuat Kiki semakin bergairah dan terangsang. Sebuah ciuman selalu membuatnya terangsang, tapi belum pernah dia seterangsang ini hanya dengan sebuah ciuman sederhana saja.

    “Ohhh,” dia melenguh, merasakan jemari pria ini menelusuri bagian dalam pahanya, hingga pada belahan vaginanya. Dia hentikan ciuman ini untuk melepaskan erangannya, lalu dengan lapar kembali melumat bibir Ahmad. Nggak lagi ciuman singkat, dia membutuhkan ciuman yang lebih dalam seiring jari Ahmad yang mulai memasuki vaginanya yang basah.

    Kiki menjauh darinya dengan cepat, menatap matanya yang tajam. Mata itu penuh dengan hasrat dan birahi, dan tiba-tiba dia merasakan punya kekuatan yang besar. Dia yang mengendalikan di sini, seperti halnya Dina. Kembali dia merapatkan bibirnya, dia merebahkan tubuhnya kebelakang dan menarik Ahmad ke atasnya. Dengan sebelah kakinya menekuk dan sebelahnya bersandar pada sandaran sofa, dia benar-benar terbuka dan siap menyambutnya untuk menggantikan jari dengan batang penisnya yang seperti milik bintang film porno itu.

    Kiki membimbing batang penis besar itu ke arah vaginanya, membelah bibir vaginanya yang hangat. “Uhhhh!” erangnya, sedikit rasa sakit bercampur dengan kenikmatan, saat penisnya membelah dan mendorong dan mengisinya melebihi semua yang pernah dirasakan Kiki sebelumnya. Dia merasa rapat seperti perawan, dan itu membuat Kiki semakin gila oleh hasratnya. Ingin rasanya agar Ahmad menyentakkan dengan keras ke dalam vaginanya, tapi sadar jika Ahmad tak akan melakukan hal itu.

    Ahmad sangat berhati-hati dengan wanita menggiurkan di bawah tubuhnya ini. Dia selalu sabar jika berhubungan dengan seks. Dia tahu kalau dia lebih besar dari kebanyakan pria, dan dia merasa kalau itu adalah sebuah anugerah. Beberapa wanita merasa ngeri dengan ukuran penisnya. Yang lainnya berusaha memasukkannya, tapi mengatakan kalau itu terlalu menyakitkan. Dia hampir tak pernah mendapatkan oral seks. Karena terlalu besar.

    “Lebih keras,” kata Kiki disela geretakan giginya. Ahmad melihat ke bawah dan melihat ekspresi wajah Kiki yang diselimuti campuran antara kesakitan dan birahi. Ditekannya masuk lebih keras batang penisnya, menariknya sedikit, lalu mendorongnya masuk lebih ke dalam. “Lebih keras lagi,” perintahnya lagi, dan Ahmad mengulangi gerakan mengayunnya, hanya saja kali ini lebih cepat. Wajahnya mengisyaratkan rasa sakit, tapi Kiki mengerang nikmat, “Ohhhh, yesss!”

    “Ayo sayang, setubuhi aku seperti dalam semua mimpimu.” Suaranya terdengar berat dan menahan nafas.

    Ahmad memompa dengan lebih keras lagi dan Kiki memintanya lebih keras lagi. Ahmad menghentak hingga dia merasakan tulang selangkangannya menghantam rambut mungil di atas kelentitnya, dan Kiki menggeram. Mencengkeram erat batang penis didalam tubuhnya dengan dinding vaginanya, dia tersengal dan mengerang keras. “Yess! Oh fuck, rasanya sangaatt nik-mattt!” Ahmad semakin terpacu. Tak lagi dengan gerakan romantis yang lembut, yang biasanya dia lakukan saat berhubungan seks dengan wanita, tapi lebih cepat dan hentakan yang lebih keras dan kasar. Ditariknya separuh bagian dari batang penisnya sebelum menyentakkan masuk kembali didiringi erangan dari wanita di bawah tindihan tubuhnya ini. “Ya! Ya! YA!” Punggung Kiki terangkat melengkung ke atas, payudaranya terdorong ke depan, putingnya menonjol keras bagaikan sebuah berlian kecil.

    Ahmad merasa saat menyetubuhi tubuh Kiki sangat nikmat, dia merasa takut jika dia akan membuat wanita ini terluka tapi tak mampu menghentikan dirinya sendiri. Dia menyentaknya lebih keras dan jauh lebih keras lagi, yang semakin membuat Kiki mengerang bertambah keras. “Uh! Uh! UH! NGH! UH!” Seluruh tubuhnya terguncang ketika gelombang demi gelombang orgasme menggulungnya, membuat seluruh persendian tubuhnya terguyur kenikmatan dan rasa sakit dan birahi yang tak pernah terpuaskan. “Fuck, sayang… AK-KU… KELUAR SEKARANG! NGH! NGHHHH!”

    Mendengar kalimat ini keluar dari bibir isteri pria lain sudah lebih dari cukup baginya. Sebelah tangannya mencengkeram keras payudara wanita ini satunya lagi memegangi pinggulnya dan mengejang keras saat dia meledak di dalam rahim Kiki. “UHHH!” erangnya, kenikmatan ini hampir meledakkan jantungnya. Batang penisnya berdenyut tak terkendali di sepanjang dinding vagina lembut milik Kiki, yang membuat orgasme Kiki mencapai titik puncaknya.

    Kiki tak mampu menahannya lagi. Pandangannya kabur. Sekujur tubuhnya dipeluk kebahagiaan dari surga ke tujuh. Dapat dirasakannya semburan sperma Ahmad menyembur seakan aliran magma yang panas memenuhinya, mengisikan madu cintanya jauh ke dalam rahimnya yang sudah terikat dalam pernikahan. Ini terlalu berlebih! Dia kehabisan nafas. Tubuhnya seakan terhempas dan ditelan jauh kedalam sofa ini. Segalanya terasa pudar. Hal terakhir yang diingatnya sebelum tak sadarkan diri adalah betapa indahnya merasakan ‘terisi dengan penuh’.

    Ahmad rubuh menindih Kiki. Tubuh mereka lengket oleh keringat yang membasahi sekujur tubuh dan juga sofa ini. Ditariknya keluar batang penisnya dari vagina Kiki yang sekarang terlihat terbelah lebar dan lalu memelukya mesra. Tiba-tiba dia merasa sangat lelah, dan merasa sangat bahagia memeluk wanita ini dalam dekapannya. Tak ada tempat lain yang diinginkannya selain di sini.

    *****

    Saat Kiki terbangun, dia berada sendirian di ruang tengah ini, sebuah selimut hangat menutupi tubuhnya. Sebuah lampu temaram menyinari ruangan ini. Dia nggak tahu jam berapa sekarang ini, kepalanya masih terasa pusing karena minuman yang dikonsumsinya sebelumnya.

    Dia bangkit, melilitkan selimut menutupi tubuh telanjangnya, dan merasakan sperma Ahmad meleleh turun di pahanya. Setengah tersenyum pada dirinya sendiri, mengingat persetubuhan yang dahsyat, dan kemudian melangkah pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

    Membasuh wajahnya dengan air, Kiki bertanya pada dirinya, “Apa yang kamu lakukan, Ki? Kamu sudah menikah.” Dia sadar jika apa yang sudah diperbuatnya sebelumnya tadi sepenuhnya salah. Belum pernah dia menghianati Hendra atau pada semua kekasihnya sebelumnya, dan sekarang telah dia biarkan dua orang pria berejakulasi di dalam rahimnya… tanpa perlindungan… belum lagi dia juga telah berikan sebuah oral seks pada adik suaminya.

    Tapi untuk sebuah alasan yang aneh, dia tidak merasa begitu bersalah seperti yang dia kira seharusnya terasa. Hendra pergi sudah sebulan lamanya meninggalkan dirinya saat ini, suaminya juga yang sudah ‘memaksanya’ untuk datang kemari. Dia menggelengkan kepalanya, menatap matanya dalam pantulan cermin. Dia tahu bahwa untuk waktu sekarang ini, di tempatnya berdiri, dia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya. Segalanya terasa menyenangkan. Ini adalah kesenangan terbesar yang pernah dialaminya tanpa kehadiran Hendra dalam dua tahun usia perkawinan mereka, dan tiga tahun masa pacaran mereka. Tidak termasuk mantan kekasihnya yang pernah bersamanya. Dia tidak akan melakukan hal ini lagi. Malam ini adalah malam yang unik, sangat menyenangkan, malam yang penuh dengan petualangan dan eksplorasi. Malam ini, dia bebaskan ‘gadis nakal’ dalam dirinya yang berperan. Besok, kembali pada perannya ‘gadis manis’ yang sudah menikah kembali.

    Dia berjalan menapaki tangga dan mengira semua orang sudah lelap dalam tidur, sebuah rintihan panjang keluar dari kamar tidur utama menunjukkan dugaannya salah.

    Kiki melangkah menuju satu-satunya pintu di depan tangga. Sedikit terbuka dan dia mengintip ke dalam. Dia kira nggak ada yang bisa membuatnya tersipu malu lagi, tapi setiap kali dia menyaksikan sendiri perilaku seksual yang baru, seakan api kembali ke wajahnya lagi. Dina sedang disetubuhi Dany dari belakang sedangkan mulutnya masih mengulum batang penis milik Johan. Mereka berada di atas ranjang ukuran King size. Kamar itu sendiri mempunyai jendela kaca besar yang mengelilingi hampir semua bagian, suara rintihan dan lenguhan pecinta yang mereguk kenikmatan memenuhi kamar ini.

    Johan menoleh dan melihat Kiki sedang berdiri di pintu masuk, sebuah selimut membungkus tubuh rampingnya. Dia tersenyum padanya, berharap Kiki tidak mempermasalahkan akan semua yang terjadi. Johan sebenarnya sangat menginginkan Kiki, tapi rasa hormatnya terhadap kakaknya membuatnya mengesampingkan kenikmatan itu. Tapi saat Kiki menjatuhkan selimut yang membungkus tubuhnya, lalu berjalan memasuki kamar ini dengan tubuh telanjang, dan mencium bibirnya dengan dalam, dia merasa dinding pendiriannya mulai retak.

    Kiki mendorongnya ke atas kasur dan menaiki kepalanya, menghadap membelakangi jadi dia bisa menyaksikan tubuh-tubuh telanjang yang saling ‘terkait’. Vaginanya serasa terbakar api dan dia membutuhkan sesuatu untuk meredakannya. Karena kedua penis yang tersedia sedang terpakai, dia memutuskan untuk melihat sebagus apa adik parnya dalam oral seks. Sebuah getaran yang sangat nakal menggetarkannya saat memikirkan hal tersebut.

    Dina melirik ke atas dan bertemu dengan mata Kiki. Dia tersenyum dengan mulut masih penuh terisi batang penis Johan dan mengedipkan mata pada Kiki. Dina sangat bahagia bertemu dengan Kiki, dan sangat gembira akan perubahan suasana yang terjadi malam ini. Semua ini tak akan terjadi jika isteri Hendra nggak berada di sini. Itu sudah pasti. Sesuatu tentang rasa percaya diri seorang wanita dan ledakan seksualitas memicu terjadinya pesta seks pada mereka semua


    Dilepaskannya mulutnya dari batang indah penis Johan dan memberi tanda pada Kiki dengan jarinya untuk bergabung dengannya. Kiki tersenyum pada wanita ini dan mendekatkan mulutnya pada penis Johan, membuatnya dalam posisi 69. Ini adalah posisi 69 bagi sejarah kehidupan seksual Kiki. Sementara itu, Dina bergerak ke buah zakar Johan yang terekspos, menjilatinya dengan lidahnya sebelum bergerak turun ke celah sensitif diantara lubang anus dan kantung buah zakarnya.

    Untuk kali yang kedua, Johan mendapatkan penisnya dilayani oleh dua orang wanita menawan. Hanya saja kali ini, wajahnya dipenuhi oleh vagina basahnya Kiki dan pantatnya yang indah.

    Saat Kiki tidak sedang mengulum batang penis Johan, posisinya yang nggak memungkinkannya untuk bergantian memanjakan buah zakar Johan, maka hanya membuatnya melihat saja Dina ganti yang mengulum penisnya yang penuh ke dalam mulutnya yang terlihat seksi. Kiki kira batang panjang itu tak mungkin mampu tertampung menghilang seluruhnya ke dalam mulut Dina yang berkilat basah, tapi ternyata itu dapat ditelan Dina seluruhnya, selalu. Dan saat giliran itu tiba padanya, Kiki berusaha untuk memasukkan batang penis ini kedalam mulutnya, tenggorokannya seluruhnya, dan dia dapat merasakan, lebih dari hanya mendengarkan, Johan mengerang di bawah tubuhnya.

    Dina harus menghentikan pelayanannya terhadap penis yang berbulu di hadapannya ketika Dany dengan lambat tapi mantap membawanya pada orgasme kecil. Dina kembali konsentrasi pada batang penis yang menghujamnya dari belakang, menyamakan irama ayunan pinggul Dany dan menghisapnya semakin ke dalam.

    Dany menyaksikan pesta di hadapannya sambil menyetubuhi Dina dari belakang. Dia selalu menikmati jalan masuk dari vaginanya Dina yang menyengkeram kejantanannya dengan erat ketika dia mengayunkan ke dalam tubuhnya. Dia harus berhati-hati untuk tidak menyemburkan spermanya saat menyaksikan kedua wanita ini bergantian melayani penis Johan bagaikan sebuah permen yang lezat. Dia berharap andaikan itu adalah penis miliknya.

    Dina mengeluarkan suara basah yang berisik saat mengoral pria. Dany menyukai suara itu dan kadang menjadi terangsang ketika mendengar orang lain yang ‘berisik saat menyantap hidangannya’. Dina tahu kalau oral seks yang basah adalah oral seks yang baik. Dany suka pada ekspresi takjub Kiki saat melihat wanita lain sedang mengoral adik iparnya. Kiki menjilat bibirnya sendiri dan Dany tahu kalau Kiki sedang menantikan gilirannya untuk menikmati batang daging yang lembut itu ke dalam mulutnya lagi.

    Dany menyaksikan kepala Dina bergerak naik turun bagaikan seorang yang profesional. Dina mengeluarkan mainannya dari mulutnya sepenuhnya, dan menatap tepat pada mata indah Kiki. Kiki tertawa kecil lalu tersenyum lebar, menggenggamkan tangannya pada batang keras yang berada tepat di bawah wajah Dina. Sebelum dia memasukkan kembali batang itu ke dalam mulutnya, wajah kedua wanita ini saling mendekat dan mencium satu sama lain. Ini terjadi begitu natural, hampir seperti tak mereka rencanakan.

    Para wanita memiringkan kepalanya masing-masing dan saling membuka mulut untuk satu sama lainnya, menikmati rasa manis saat lidah mereka saling melilit dan air liurnya bercampur. Saat itu semua terjadi, suara dalam kepala Kiki berteriak pada dirinya The, “Apa yang kamu lakukan?! Apa yang sedang kamu lakukan?!” Tapi itu sudah menjadi ‘suara bisu’ yang tak lagi di dengarnya, bahkan saat semua ini berawal. Bahkan, dia hanya mengikuti kemana alur ini menyeretnya masuk pada pesta ini, dan sekarang ini, melakukan sebuah French Kiss dengan satu-satunya wanita yang seksi selain dirinya di malam ini, di rumah ini, dan terjadi begitu saja secara alami dan sangat menggairahkan.

    Dany nggak mampu mempercayai apa yang dia lihat. Dina menaruh tangannya di pipi Kiki, membelainya dengan lembut saat mereka berciuman, penuh dengan gairah. Dany sering meminta agar Dina mempertimbangkan untuk membawa wanita lain dalam permainan cinta mereka. Dina selalu menggelengkan kepala tanda nggak setuju. Sekarang…

    Kedia wanita ini menghentikan ciuman mereka dan mulut Kiki berganti membungkus batang penis Johan. Dina menarik nafas dengan berat, benaknya kacau. Dia nggak pernah punya keinginan untuk melakukan hal tadi pada kegiatan seksual yang nyata. Bahkan sekarang, dia tidak merasa bahwa dirinya tertarik untuk jadi biseksual. Dia menikmati ciuman tadi, ya. Tapi itu tidak membuatnya mengkatagorikan dirinya sebagai seseorang yang lain. Baginya ini adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan di saat yang tepat.

    Johan nggak mampu menahannya lebih lama lagi. Penisnya sudah dioral lebih dari sepuluh menit, dan dia sudah berusaha sebisanya untuk menahan orgasmenya, ini sudah melampaui dari yang bisa ditahan oleh pria manapun. Dengan lidahnya yang masih terkubur dalam lembutnya bibir vagina Kiki, dia berejakulasi dalam salah satu mulut wanita ini. Dia nggak tahu pasti mulut siapa, tapi dia juga sudah nggak peduli lagi. Sepuluh menit berlalu dan itu adalah pengalaman terbaik.

    Kiki mulai merasakan orgasmenya mulai datang tak lama berselang setelah Johan, dan dia menggesekkan selangkangannya pada wajah Johan dan daging kenyalnya ke bibir dan hidung Johan. “Oh! Ohhh!” Kiki dapat mendengar erangannya sendiri.

    Johan keluar dengan hebatnya dalam mulut Dina. Dia menelan sebagian sperma itu, tapi menyisakan cukup untuk teman barunya. Kembali lagi, mulut kedua wanita ini saling merapat untuk sebuah ciuman penuh gairah, kali ini saling bertukar cairan sperma yang putih dan kental. Hal ini lebih dari cukup bagi Dany dan dia meledak, samar-samar sadar jika kedua wanita ini juga mengalami hal yang sama.

    Keempatnya rubuh saling bertindihan. Mereka merangkak dan menggerakkan tubuh lelah mereka untuk merebahkan kepala pada bantal, telanjang dan menatap langit-langit. Nafas berat, tersengal, hanya suara nafas yang memenuhi senyapnya kamar ini. Para pria rebah di kedua sisi ranjang, dengan para wanita diapit di tengahnya.

    Setelah beberapa menit beristirahat, Dina setengah bangkit dan bergerak menindih Kiki, tangannya membelai rambut Kiki sambil keduanya saling bertatapan. Para pria hanya menyaksikan dengan seksama, menahan nafas.

    “Belum pernah aku melakukan dengan…” Kiki memulai, tapi Dina dengan lembut memotongnya dengan “shhh…”

    Dia semakin merapat dan membisikkan, “Aku juga.” Saling memejamkan mata, kedua wanita ini berciuman lagi. Kali ini, ciuman yang perlahan, pada awalnya hanya sentuhan bibir dengan penuh rasa kewanitaan dan saling melumat lembut. Dan semakin bergerak cepat, mulut terbuka cukup untuk lidah mereka saling menyentuh dan menari. Posisi kepala mereka berganti, kedua bibir semakin masuk ke dalam untuk menyentuh bagian mulut mereka yang paling pribadi. Dengan cepat mereka saling berciuman layaknya dua orang kekasih, dan untuk pertama kalinya Dina mengeksplorasi wanita cantik ini. Jika sebelumnya Kiki menilai Ahmad adalah serang yang hebat ciumannya…

    Kiki nggak tahu apa yang tengah terjadi, tapi dia tahu kalau dia menyukai apapun ini. Ciuman antara wanitanya dengan Dina adalah ciuman yang paling erotis yang pernah dilakukannya dengan seorang manusia. Sekujur tubuhnya bergetar oleh kenikmatan dari erotisnya sebuah ciuman yang tabu. Dia merasakan sebuah tangan wanita yang kecil, nikmat, menelusuri badannya, bergerak naik ke arah payudaranya, ibu jari yang memainkan putingnya dengan penuh rasa nikmat.

    Kiki membawa tangan kirinya pada kepala Dina, menariknya lebih merapat untuk sebuah ciuman yang lebih mendalam. Tangannya yang satunya lagi mencengkeram payudara Dina, meresapi lembutnya kekenyalan daging wanita lain untuk pertama kalinya. Payudara Dina lebih kencang dibandingkan dengan miliknya, tapi kulitnya terasa luar biasa lembut.

    Jemari Dina bermain di tubuh wanita lain, menari di atas rambut di atas selangkangan wanita lain. Kiki melenguh dalam mulut Dina dan harus menghentikan lumatan bibir mereka. Mendengar reaksi dari seorang wanita lain karena rangsangannya mengirimkan sebuah kejangan kecil dalam vaginanya sendiri.

    Para pria menyaksikan saat kedua wanita ini saling bermain satu sama lain, mengeksplorasi tubuh lembut mereka dengan tangan dan, tak lama kemudian dengan mulut dan lidah mereka. Johan nggak bisa mempercayai kalau dia menyaksikan istri kakaknya menghisap puting wanita lain, mempermainkan dengan lidahnya yang panjang.

    Saat ciuman dan hisapan Dina mulai bergerak turun menyusuri lekukan tubuh Kiki menuju ke arah vaginanya yang terbakar, para pria hampir tidak bisa menguasai diri, mata isteri Hendra terpejam rapat rintihannya terdengar seperti. “Mmmmmm-uh! Ngh! Uh! Yyaaa…”

    Merasakan sentuhan pipi dari seorang wanita lain pada sisi bagian dalam dari pahanya adalah sebuah perasaan yang akan dialaminya, dan tidak pernah menyangka jika dia menyukainya. Sekarang, dia merasa nggak cukup hanya dengan semua ini. Dina pasti sudah berbohong saat mengatakan kalau dia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, karena semua yang dilakukannya membawa sebuah sensasi yang bahkan tidak dibayangkannya jika ini bisa tercipta dari sepasang bibir, sebuah lidah, dan kedua jari.

    Dina sendiri, di sisi yang lain, sudah sangat basah di antara pahanya saat dia memberi jilatan pada daging manis dan empuk milik teman wanitanya ini. Dia kini tahu kenapa pria suka pada vagina yang tercukur bersih. Dia dapat menarikan lidah bibirnya berulang-ulang di atas lembutnya keseluruhan bagian dari daging vagina, menghisap daging di sekitar kelentitnya untuk membawanya tinggi dan semakin tinggi. Dina menyentuh dan menjilat Kiki sangat tepat pada bagian di mana dia tahu kalu dia sendiri akan menyukainya, dan suara erotis yang keluar dari bibir Kiki serasa sebuah penghargaan untuk apa yang dilakukan kepadanya.

    “Oh Tuhan, Dina! Rasanya s-sangat en-naakk! Ya! Jilat vaginaku, sayang- ohhhhhh… Ya, ya, ya! Oh, lagi, yes! Uh, uhhhh!” ingin rasanya tangan Dina bergerak ke vaginanya sendiri, tapi ditahannya. Dia ingin memberikan perhatiannya 100% pada kekasih wanitanya ini, memanjakan kewanitaan Kiki dengan kedua tangannya saat lidahnya menari dan menyapu kelentitnya yang sensitivf.

    “Oh sayang, Dina, ohhhhh! Aku mau punyamu juga… aku ingin menjilat vaginamu! B-balikkan tubuhmu, kekasihku! Berputarlah… ohhhh… dan biarkan aku menjilatmu j-jugaa…”

    Para pria perlahan mulai megocok batang penisnya yang kembali mengeras, dengan mata yang terbuka lebar menyaksikan para wanita saat berputar mengatur posisinya untuk sebuah 69 yang sangat merangsang. Ini nggak nyata. Ini nggak mungkin terjadi! Tapi semuanya sedang terjadi.

    Merasakan untuk pertama kalinya rasa dari seorang wanita sangat menggoda. Dina terasa berbeda dibandingkan dirinya, tapi sama sekali bukan sebuah rasa yang buruk. Dari vagina yang tak berambut Dina terasa campuran rasa asin dari sperma milik Dany dengan sebuah rasa yang akrab tapi masih terasa asing. Secara perlahan Kiki menemukan iramanya, dan seperti halnya semua kejadian malam ini, dia melakukannya secara alami.

    Setiap kali, kedua wanita ini menarik kepalanya dari vagina masing-masing untuk melenguh, mengerang dan mengambil nafas. Saat itu terjadi, para pria disuguhi pemandangan yang erotis di hadapan mereka, dagu yang terlumuri oleh madu cinta masing-masing, sebelum kemudian saling menyelam kembali. Mereka saling memberi orgasme yang berkesinambungan sebelum akhirnya Dina bangkit dan berkata dalam suara bisikan yang bergetar lirih, “Johan… kenapa kamu nggak… ke belakangku dan-mmmm… masukkan… penismu yang indah itu ke dalam vaginaku… ohhhhh…”

    Dia melakukan seperti apa yang diperintahkan padanya, dirasakannya lidah Kiki menjilati sepanjang batang penisnya saat dia mengarahkan ke pintu masuk vagina Dina. Dany nggak mau menunggu untuk diminta melakukan hal yang sama pada wanita satunya yang sudah menikah, dan segera saja, keempatnya saling memainkan sebuah babak lagi dari malam yang penuh kenikmatan surgawi ini.

    Kiki menengadah ke atas dan melihat saat buah zakar adik iparnya menampari untaian kecil dari rambut di selangkangan Dina. Kiki menjilat dan menghisapi semua yang ada di hadapannya sambil menyaksikan batang penis Johan meluncur keluar masuk dalam vagina Dina, berkilat dank keras dan seakan sedang mengamuk. Dia sendiri merasakan penis Dany membelah bibir vaginanya untuk yang ketiga kalinya malam ini, dan dia merasa kalau tak lama lagi orgasmenya segera meledak.

    Bagaimana mungkin dia bisa kembali pada kehidupan perkawinannya?

    Dengan cepat, keempatnya mulai merasa sangat kelelahan dan tak satupun yang bisa melakukan sesuatu kecuali terlelap dalam tidur tidur yang nyenyak, saling berpelukan dengan telanjang antara lembutnya tubuh wanita dan kerasnya tubuh kekar pria.


    *****

    Kiki bangun pertama kali keesokan paginya dan menemukan dirinya meringkuk manja dalam pelukan hangat Johan. Kamar ini, yang dikelilingi sebagian besar oleh jendela dibanjiri oleh rasa hangat dari sinar mentari pagi yang baru terbit.

    Saat dia berbalik dalam pelukannya, mata Johan yang masih ngantuk mulai terbuka dengan malas dan kemudian tersenyum padanya. Kiki teringat semua kejadian semalam, dia tidak bercinta dengan pria ini, belum.

    Kiki mencium bibirnya dengan mesra dan berbisik, “Johan, terima kasih untuk yang semalam.” Dia berusaha hati-hati agar tidak membangunkan Dany dan Dina di sisi lain ranjang ini. “Rasanya… sangat indah dan manakjubkan.”

    Mereka saling berciuman lagi, dan tiba-tiba perasaan sedikit bersalah merasuki Kiki. Sekarang sudah pagi. Sekarang waktu untuk kembali ke kehidupannya yang normal sebagai seorang isteri yang setia dan mengabdi. Tapi hasratnya bercampur dengan kebimbangan dan itu terlalu berat untuk dihadapinya. Dia berbisik, “Kita tidak boleh menceritakan hal ini pada Hendra.”

    Johan, menganggapnya tentang kejadian pada malam sebelumnya, dan dia terkejut saat Kiki menggerakkan kakinya melewati tubuhnya dan kemudian menindihnya. Seakan takdir sudah digariskan, dia sudah ereksi dan siap untuk melaju, tubuhnya yang masih terasa pegal sudah jadi persoalan yang lain lagi. Dan tentu saja, semua itu sirna dalam sekejap begitu bidadari yang gemulai ini mulai merendahkan selangkangannya beserta vaginanya yang lembut dan sudah basah turun ke arah kerasnya batang kejantanannya.

    Johan mengerang dan tubuh Kiki bersandar ke depan, wajah bidadari ini hanya beberapa senti saja dari wajahnya, dan berbisik pelan, “Shhh…” sebelum memberinya sebuah ciuman ringan.

    Johan selalu menganggap kalau Hendra akan tetap sendiri selamanya. Karena dia mempunyai prinsip bahwa hidup membujang terlalu berharga untuk ditukar pada seorang wanita saja. Dan kemudian Kiki muncul dan mencuri hatinya. Dan baru sekarang dia benar-benar mengerti betapa sungguh wanita ini mampu menawan hatinya. Dia memiliki semangat hidup yang tinggi dan percaya diri yang tinggi untuk menjalani hidup ini dengan caranya dan itu tidak pernah menjadi memalukan karenanya… Dia cantik, lucu, cerdas, dan bercinta layaknya wanita panggilan seharga 1 milyar. Semua yang kamu impikan dari seorang wanita. Seandainya dirinya adalah Hendra, dia akan secepatnya berhenti dari pekerjaannya begitu perusahaannya mengirimnya dinas ke luar kota meskipun untuk dua hari saja.

    Menyadari betapa salahnya karena bersetubuh dengan isteri kakaknya sama sekali tidak mengurangi kenikmatan dalam melakukannya, malah nyatanya yang dirasakan adalah sebaliknya… Disamping rasa sakit karena ereksinya, dia merasa bersukur karena dia telah mengalami orgasme berulang kali semalam tadi karena sekarang, dia bisa merasakan kenikmatan tak terperi dari rasa vagina Kiki yang selembut beludru lebih lama lagi.

    Kedua insan ini berusaha bercinta dengan ‘tidak berisik’ sebisa mungkin, tapi tak lama kemudian Dina dan Dany mulai terbangun dari tidur lelapnya.

    Dina hanya berbaring saja di atas ranjang, dalam dekapan Dany, dan menyaksikan pemandangan indah dari dua pasang pecinta muda di depannya. Mata Kiki perlahan terpejam, kepalanya mendongak ke belakang untuk menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Tangannya bersandar pada dada Johan, dan tangan Johan memegangi pinggang langsing Kiki. Dina merasa mulai basah dan dia tersenyum saat merasakan bibir Dany menjalari samping leher dan bahunya. Dany mulai memasukinya dari belakang, dan keempat insan itu perlahan mulai saling bersetubuh. Pagi masih sangat dini…

    Kiki mendengar rintihan dari sisi lain ranjang ini. Dia menoleh dan bertemu dengan tatapan mata Dina. Buyar sudah ayunan dan goyangan pelan yang mereka lakukan dibalik selimut, dan Kiki tertawa pada dirinya sendiri. Dina sungguh terlihat cantik. Sinar matahari pagi yang menyorot dari jendela, menyinari rambut hitam legamnya yang panjang dan membuatnya berkilau indah. Setelah apa yang mereka lakukan semalam tadi, Kiki tahu bahwa Dina tak beda dengan dirinya.

    Dia merasa malu sendiri, memikirkan tentang itu semua, rasa dari vagina wanita lain sekilas melintas dalam benaknya. Dina, sepertinya dapat menebak apa yang dipikirkan oleh wanita di sampinya ini, dia berikan sebuah senyuman dan mengedipkan mata padanya, lalu pejamkan matanya dan berkonsentrasi pada batang penis yang keras di belakangnya.

    Irama percintaan pagi ini terasa berbeda jauh dengan persetubuhan liar semalam. Kiki mengayun pinggulnya naik turun pelan dan panjang, ingin benar benar diresapinya rasaka dari setiap mili batang penis adik iparnya di bawah tubuhnya. Serasa setiap gerakan dipenuhi rasa dahaga dan sayang. Di sisi lain dari ranjang ini tampak Dany yang mengayun Dina dari belakang.

    Kemesraan terasa memenuhi kamar ini, guyuran sinar matahari tampak semakin membuat tubuh-tubuh basah oleh keriangat terlihat indah tiap lekuknya menyilaukan. Irama keempat insan ini seiring, mendaki kenikmatan terakhir, mereka sadar ini adalah sesi terakhir untuk hari ini dan waktu tak lagi mau kompromi.

    Suara erangan, desahan, rintihan dari puncak kenikmatan yang sekali lagi direguk mereka kembali terdengar keluar lepas dari mulut mereka seiring dengan orgasme pertama dan terakhir dipagi ini. Ingin rasanya surga ini tak berujung tapi bagaimanapun juga waktu sudah menghadang. Setelah beberapa waktu beristirahat meredakan nafas yang memburu, mereka berjalan berangkulan menuju ke kamar mandi, suara kicau burung mengiringi langkah kaki mereka untuk membersihkan tubuh dari peluh dosa termanis, untuk kembali ke kehidupan masing-masing lagi…

    *****

    Di depan pintu keluar, keempatnya saling mengucapkan salam perpisahan. Kiki mencium kedua pipi Dany dan berkata, “Terima kasih untuk yang semalam. Aku… sangat bahagia karena kamu sangat bersedia tidur dengan seorang wanita yang sudah menikah.” Dany tertawa lepas oleh kiasan jujur tersebut, dan mengangguk membalas pernyataan terima kasih itu.

    Kemudian, Kiki memeluk Johan dan berkata, “Ingat, jangan pernah menyinggung hal sekecil apapun tentang ini lagi.”

    Johan pura-pura menutup resleting di bibirnya mengunci dan kemudian membuang jauh kuncinya. Kiki tertawa lepas karenanya, pura-pura ‘menangkap kembali kunci yang dibuang tadi’, dan ‘membuka’ mulut Dany. “Satu ciuman lagi untuk perpisahan?”

    Ciuman perpisahan Kiki sama bergairahnya dengan ciuman pertamanya, di sofa, sehari yang yang lalu.

    Ketika ciuman itu berakhir, mata mereka saling menatap untuk beberapa waktu yang terasa tak nyaman, kemudian dia ‘mengunci’ mulutnya kembali.

    Dina dan Dany asik sendiri dengan ciuman perpisahn mereka, dan Kiki harus memisahkan mereka. “Pulang bareng mobilku, kan?” tanyanya pada Dina.

    “Ya, kalau nggak merasa keberatan.”

    “Tidak sama sekali,” Kiki tersenyum. “Dengan senang hati.”

    Dina memberi Johan ciuman kecil di bibir dan bilang, “Ku telpon nanti.”

    Kemudian dalam perjalanan pulang hanya saling berdiam diri tanpa kata. Kedua wanita ini tahu apa yang akan diucapkan tapi saling menunggu. Akhirnya, Dina memecahkan kesunyian. “Hey, aku rasa, mungkin nanti kita bisa keluar bareng lagi… ke kafe atau hanya jalan-jalan ke mal.”

    “Kelihatannya menyenangkan,” jawab Kiki, berharap itu akan terdengar tulus.

    Dia terlihat kurang percaya. “Dengar, Kiki, aku sangat menyukaimu…”

    Kiki merona karenanya, dan baru saja dia akan mengucapkan sesuatu ketika Dina memotongnya: “Bukan, nggak seperti itu.” tawanya terdengar natural. “Maksudku, ya itu memang menyenangkan, tapi…” tawanya mulai terdengar sedikit nervous, dan dia menggelengkan kepala, “Tapi aku nggak bermaksud begitu. Maksudku… kamu adalah wanita pertama yang sangat ku inginkan jadi temanku. Dan… ku harap kejadian semalam tidak merusak hal tersebut.”

    Kiki menganggap sangat serius apa yang diucapkan oleh wanita ini. Akhirnya dia mengangguk. Dia percaya padanya. Dia tidak manangkap ada maksud tersembunyi dibalik ucapannya. Dan pada kenyataan sesungguhnya Kiki juga menyukai Dina.

    Sebenarnya Dina mulai merasakan air mata di matanya ketika wanita di depannya ini mengangguk, dan tiba-tiba sebuah beban yang berat terangkat dari bahunya. Dia merasa bebas dan dia mendapatkan seorang sahabat baru. Mereka saling bertukar nomer telpon sebelum sampai di apartemen Dina

    “Apa yang akan kamu lakukan pada Hendra?” Tanya Dina ketika mereka berhenti di depan pintu apartemennya.

    “Mungkin aku akan ceritakan padanya… suatu saat nanti. Tapi tidak saat ini. Dan kurasa, juga tidak untuk waktu dekat.”

    Dina mengangguk dan kedua wanita ini saling berpelukan. Lalu mata mereka saling bertemu dan gairah kembali menyala. Kiki menatap bibir Dina, yang hanya beberapa senti dari bibirnya, basah dan sedikit terbuka. Untuk beberapa saat yang Kiki inginkan sepenuhnya adalah merasakan bibir lembut itu pada bibirnya. Ciuman yang akan terjadi secara natural.

    Dan waktu berlalu lalu kedua wanita ini tertawa sendiri. “Ku telpon nanti,” kata Dina, keluar dari mobil dan berlari kecil menuju pintu depan apartemennya.

    Hendra menelpon dari hp tak lama setelah Anggie tiba dari apartemen Dina.

    “Apa aku membangunkanmu, sayang?” tanyanya. Sekarang baru jam 7 pagi.

    “Nggak. Aku sudah bangun dari tadi. Nggak bisa tidur semalam.”

    “Maafkan aku. Apa kamu sakit?”

    “Nggak… hanya butuh istirahat saja.”

    “Menyenangkan nggak sama adikku dan teman-temannya?”

    “Yah,” jawabnya, wajahnya memerah oleh rasa bersalah. “Aku senang kamu sudah memaksaku untuk pergi.”


    “Oh, aku nggak menyuruhmu melakukan apapun,” dia tertawa. Wajah Kiki sedikit merona. “Tapi aku senang kamu bisa menikmatinya. Mungkin kamu bisa keluar lebih sering lagi, sekarang kamu sudah menemukan kesenangan lain di luar rumah.” Oh, ironis.

    “Mungkin,” jawabnya dengan pikiran jauh berada entah dimana. “Tapi ku rasa perjalanannya sedikit terlalu jauh jaraknya.”

    “Ya, aku tahu maksudmu.” Dalam jedanya sejenak, yang memenuhi pikirannya hanyalah kenikmatan dari pesta seks yang telah dialaminya, dan bagaimana dia tidak akan mengulanginya lagi, tak akan pernah. “Hey, Kiki, coba tebak?”

    “Apa?”

    “Ini adalah perjalanan dinas ke luar kotaku yang terakhir kalinya!”

    “Benarkah?” Oh ku mohon, ya!

    “Benar. Aku katakan pada mereka kalau perjalanan-perjalanan dinas itu benar benar membuatku kecapaian. Ku katakan pada mereka aku akan berhenti dan keluar kalau mereka mengirimku ke luar kota lagi.”

    “Dan?”

    Dia tertawa. “Aku berhenti.”

  • Hentai021

    Hentai021


    2576 views

  • Foto Bugil cewek Ceko kurus Nessa didepan cermin

    Foto Bugil cewek Ceko kurus Nessa didepan cermin


    2243 views

    Duniabola99.com – foto gadis dari Ceko kurus Nessa bugil dan berpose hot menampilakn toketnya yang gede bulat padat dan kenyal dan juga memeknya yang berbulut tipis baru dicukur.

  • Foto Ngentot mahasiswi Tiffany Doll menyapa cowoknya untuk seks setelah bekerja di spandex

    Foto Ngentot mahasiswi Tiffany Doll menyapa cowoknya untuk seks setelah bekerja di spandex


    2119 views

    Duniabola99.comAgen Idn Poker Online foto cewek dengan pakaiannya yang ketat Tiffany Doll ngentot dengan pacarnya setelah selesai olahraga dan siap mandi didalam kamarnya dan menembakkan sperma yang banyak kebadannya. Nexiabet

    Judi Slot Online

    Agen Sbobet Terpercaya

    Agen Judi Online

  • Foto Bugil  Keindahan manis Sammie Daniels bermain dengan toket kecilnya

    Foto Bugil Keindahan manis Sammie Daniels bermain dengan toket kecilnya


    1918 views

    Duniabola99.com – foto cewek pirang yang melepas pakaiannya diatas meja kantor menampilkan toketnya yang kecil dan menampilkan memeknya yang merah merekah.

    Foto cewek pangilan, Foto model asia seksi mulus, Fodel indonesia seksi mulus, Foto tante girang, Foto tante seksi, cewek pangilan, cewek boking, Koleksi foto cewek cantik, Kumpulan Foto Wanita Cantik, Kumpulan Foto Gadis Sunda Cantik, 7 Cewek Canti,

  • Kisah Memek 2 Gadis ABG di Kaki Gunung Lawu

    Kisah Memek 2 Gadis ABG di Kaki Gunung Lawu


    3191 views

    Duniabola99.com – Namaku Son, mahasiswa semester III, tinggiku 168 cm dan berat 58 kg, Kejadian ini terjadi pada waktu aku melakukan pendakian gunung Lawu bersama temantemanku. Lokasiku saat itu berada dekat base camp pertama kearah pendakian gunung Lawu. Aku sedang beristirahat sendirian disini. Tadi malam aku bersama temantemanku 5 orang sudah melakukan pendakian menuju puncak Lawu dan telah berhasil mencapai puncak Lawu jam 6 pagi tadi.

    Sekarang dalam perjalanan pulang, sementara teman2ku sudah pada turun gunung semua. Kuputuskan untuk istirahat sebentar di base camp pertama ini sambil mendirikan tenda, biar nanti agak sorean aku turun sendiri menuju pos kami yang dekat dengan rumah penduduk sekitar gunung Lawu ini.

    Sore itu pukul 15.10 WIB, aku baru saja selesai menyeduh kopi instanku, ketika tibatiba dari arah semak belukar arah barat muncul dua cewek dengan baju dan kondisi acakacakan.

    Hallo Mas? sapa salah satu cewek itu padaku.

    Cewek yang kutaksir berusia 18 tahun kelihatannya anak SMA, rambutnya pendek seperti aktris Agnes Monica. Sedangkan temannya yang satu berambut panjang sebahu miripmirip bintang sinetron Bunga lestari.


    Hallo juga jawabku menyembunyikan kekagetanku karena munculnya yang tibatiba, sempat terpikir ada setan atau penunggu gunung ini yang mau menggodaku.
    Loh, dari mana, kok berduaan aja? tanyaku coba berbasabasi.
    Iya, kita tadi misah dari rombongan, terus nyasar.. jawab cewek itu sambil duduk di depanku.
    Boleh minta minum gak? Kita haus sekali, sudah 5 jam kita jalan mutermuter gak ketemu jalan sama orang lanjutnya kemudian.

    Aneh juga pikirku, padahal perasaanku dari tadi pagi, sering sekali aku berpapasan dengan orangorang atau rombongan pecinta alam.

    Ada juga air putih, tuh di botol atau mau kopi, sekalian aku buatin? jawabku.

    Cewek yang berbicara denganku tadi ini tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung menghampiri botol minum yang kutunjukan dan segera meminumnya dengan terburuburu, sedangkan temannya yang satu lagi hanya memperhatikan dan kemudian meminta botol minumku dengan santun.

    Kuperhatikan saja tingkah mereka, cewekcewek muda ini cakep juga khas ABG kota, tapi saat itu mukanya kotor oleh debu dan keringat, kaosnya cuma ditutupi jaket kain, celana jeans dan sepatu olah raga warna hitam, ini sih mau piknik bukan mau naik gunung, abis gak bawa bekal atau peralatan sama sekali.

    Mereka minum terus sampai puas kemudian tiduran disamping kompor parafin yang sedang kugunakan untuk memasak air.

    Mas namanya siapa? tanya cewek yang berambut pendek.
    Namaku Adek sedangkan ini temenku Lina katanya lagi.
    Namaku Son jawabku pendek sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
    Ada makanan gak, Mas? Adek laper banget nih.. tanya Adek tanpa basa basi kepadaku yang sedang memperhatikannya.
    Ada juga mie kalo mau, sekalian aja masak mumpung airnya mendidih jawabku.

    Ternyata Adek tidak mau masak sendiri, dia terus berbaring dan minta tolong padaku untuk dimasakin mie.

    Wah kamu ini manja banget ya? Kenal aja barusan tapi udah nyuruhnyuruh? godaku pada Adek.
    Tolong deh Mas.. Adek capek banget Nanti gantian deh.. rayu Adek padaku.
    Gantian apa ya? Emang nanti kamu mau masak mie lagi? Bayarnya pake pijet aja ya? godaku lebih lanjut.
    Maunya tuh.. tapi bereslah.. jawab Adek cuek sambil memejamkan matanya.

    Kuperhatikan Lina, tapi dia ternyata diam saja, dan hanya mengangguk kecil ketika kutawarkan mie. Sementara aku masak mie instan, Adek kemudian bercerita kisahnya sampai dia dan Lina tersesat berduaan di tengah gunung Lawu ini. Adek berangkat bersama serombongan pecinta alam SMAnya jam 10 siang tadi. Rencananya malam nanti Adek dan rombongan akan mendaki gunung Lawu, tapi waktu menuju base camp kedua, perut Lina sakit, sehingga Adek menemani Lina mencari tempat untuk buang hajat, tetapi setelah selesai ternyata mereka tertinggal dan terpisah dari rombongan.


    Setelah mienya siap segera saja pancinya kuberikan pada mereka untuk segera disantap. mMsih saja Adek protes kok tidak ada piringnya.

    Emangnya ini di warung kataku cuek sambil tersenyum kearah Lina.

    Lina hanya tersenyum tipis dengan bibir gemetar.

    kamu sakit ya Lin? tanyaku.
    Nggak Mas hanya kedinginan katanya pelan.
    Butuh kehangatan tuh Mas Son potong Adek sekenanya.

    Wah kaget juga aku mendengar celoteh Adek yang terkesan berani. Kuperhatikan keadaan sekitar yang sudah mulai berkabut dan langit gelap sekali. Waduh janganjangan sudah mau hujan. Segera saja kubereskan peralatanku.

    Masih pada kuat jalan nggak? tanyaku pada 2 orang cewek ini.
    Nanti kalau disini hujan, bisa basah semua.. Mending kalo masih bisa jalan kita cepat turun agar nggak kehujanan lanjutku.

    Baru saja selesai aku bicara, tibatiba ada kilatan petir disusul dengan suaranya yang keras.

    Duer!!

    Disusul dengan tiupan angin yang kencang membawa rintikrintik air hujan.

    Nah lo.. benerkan, telat deh kalo kita mau nekat turun sekarang kataku sambil mematikan kompor parafinku.
    Ya udah, cepet masuk tenda sana, cuaca lagi nggak bersahabat nih, bakal hujan deres disini! perintahku sambil membereskan peralatanku yang lain karena hujan sudah mulai turun.

    Aku, Adek, dan Lina segera berdesakdesakan di dalam tenda kecil parasut, sementara hujan semakin deras disertai bunyi angin yang keras, segera aku memasang lampu kemah kecil yang biasa kubawa kalau aku naik gunung. Lumayanlah cahayanya cukup untuk menerangi di dalam tenda ini. Sementara kurasa hari menjelang maghrib, dan hujan masih saja turun walau tidak deras.

    Adek dan Lina duduk meringkuk berdampingan dihadapanku sambil tangannya mendekap kaki.

    Kamu masuk aja ke sleeping bag itu, kelihatannya kok kamu kedinginan sekali saranku pada Lina yang mulai menggigil kedinginan.
    Tapi copot sepatunya lanjutku kemudian.


    Lina diam saja, tapi menuruti saranku. Akhirnya Adek dan Lina tiduran berhimpitan di dalam sleeping bag sambil berpelukan.
    Kuperhatikan saja tingkah mereka berdua,

    Hei kalian pada ngomong dong, jangan diem aja. Jadi serem nih suasananya ucapku pada Adek dan Lina.
    Mas Son gak kedinginan.. tanya Lina tibatiba.
    Ya dingin to, siapa juga yang nggak kedinginan di cuaca seperti ini? jawabku apa adanya.
    Kalian enak berduan bisa berpelukan gitu.. gak adil kataku mencoba bercanda.
    Ya Mas Son sini to, kita berpelukan bertiga kata Adek pendek, tak ada nada bercanda dalam nada omongannya.

    Waduh, gak salah denger nih? pikirku.

    Tak akan ada kesempatan kedua kalau hal ini kutanyakan lagi.

    Ya udah, kalian geser dong. aku mau di tengah biar hangat kataku cuek sambil membuka resleting sleeping bagku.

    Tidak sempat kuperhatikan ekspresi Lina atau Adek karena keadaannya yang remangremang. Aku merebahkan diri diantara dua cewek yang baru kukenal ini, tak ada katakata atau komentar apapun, kulingkarkan kedua tanganku kepada Adek di sebelah kiri dan Lina disebelah kanan. Walau awalnya aku merasa canggung tapi setelah kunikmati dan merasakan dua tubuh hangat mendekapku dan akupun merasa nyaman sekali. Kepala Adek dan Lina bersamaan rebah di dadaku. Kurasakan deru nafas yang memburu dari keduanya dan dariku juga.

    Badan Mas Son hangat ya Lin? kata Adek pelan seraya tangannya melingkar kebawah dadaku dan kakinya naik menimpa kakiku, barangkali Adek lagi membayangkan aku seperti gulingnya kalau dia pas lagi mau tidur.
    Iya tadi Lin takut sekali, sekarang dipeluk sama Mas Son, Lin jadi nggak takut lagi jawab Lina pelan sambil mengusap kepalanya di dadaku.

    Samarsamar tercium bau wangi dari rambutnya. Kemudian darahku terasa terkesiap saat lutut Adek entah disengaja atau tidak menyenggol burungku.

    Ehm.. aku hanya bisa berdehem kecil ketika kurasa hal itu ternyata mendorong birahiku naik.

    Waduh, pikiranku langsung ngeres, rugi juga ya kalau kesempatan selangka seperti ini kusiasiakan, minimal harus ngelaba sesuatu nih..
    Isengiseng tangan kiriku yang masih leluasa kuberanikan memeluk tubuh Adek mulai merabaraba kebagian daerah buah dada Adek.

    Ehm.. Adek ternyata hanya berdehem pelan.


    Akupun mulai berani meningkatkan aksiku lebih lanjut, aku mencoba meremas lembut susunya. Ternyata Adek hanya diam, dia hanya mendongakkan mukanya menatapku, sambil tangannya juga merabaraba dan mengeluselus dadaku. Kucoba mencium rambutnya lalu kukecup kening Adek, sementara tanganku terus meremasremas susunya dengan tempo agak cepat.

    Aah.. Mas Son suara Adek terdengar lirih.
    Ada apa Dek? tanyaku pelan melihat Lina sudah mulai curiga dengan aktivitas yang kulakukan.
    Kamu masih kedinginan ya? kataku lagi sambil menggeser tubuhnya agar lebih naik lagi.

    Sementara tanganku jadi lebih leluasa menelusup ke dalam balik jaketnya dan membuka pengait BHnya yang masih tertutup dengan kaos luarnya. Adek hanya diam saja saat kulakukan hal itu, bahkan saat tanganku sudah sempurna merengkuh susunya dibalik BHnya. Dia menggigit kecil dadaku.

    Ah.. Mas Son.. katanya parau dengan tidak memperdulikan ekspresi Lina yang kebingungan.

    Saat kupermainkan puting susunya, tibatiba Adek bangkit.

    Mas Son, Adek ma.. masih kedinginan kata Adek dengan bergetar sambil menghadapkan mukanya ke wajahku sehingga jarak muka kami begitu dekat.

    Kurasakan nafasnya memburu mengenai wajahku. Aku hanya bisa diam tercekat ketika Adek mulai menciumi mukaku dengan tidak beraturan, mungkin karena gelap hampir semuanya kena diciumnya. Kurasakan lagi kaki Adek sudah melakukan gerakan yang teratur menggesekgesek ******ku naik dan turun. Tanpa sadar akupun membalas ciuman Adek, hingga akhirnya bibir kami bertaut. Dengan penuh nafsu Adek mengulum bibirku sambil lidahnya terjulur keluar mencari lidahku. Setelah didapatnya lidahku, dihisapnya dengan kuat sehingga aku sulit bernafas.

    Gila nih, cewek ABG sudah pintar french kiss ucapku dalam hati.

    Tanpa sadar tangan kananku mencengkram pundak Lina.

    Mas sakit Mas pundak Lina kata Lina tibatiba yang menghentikan aktivitasku dengan Adek.
    Oh maaf Lin jawabku dengan terkejut.

    Kuperhatikan ekspresi Lina yang bengong melihatku dengan Adek. Tapi rasa tidak enakku segera hilang karena ternyata Adek tidak menghentikan aktivitasnya, dia tampaknya cuek aja dengan Lina, seakan menganggap Lina tidak ada. Adek terus menciumi telinga dan leherku.

    Mas Son, Adek jadi pengen.. Adek jadi BT, birahi tinggi kata Adek lirih di telingaku sambil tangannya sudah bergerilya mengusapusap ******ku yang masih tertutup rapat oleh celana jeansku.

    Waduh.. bagaimana ini pikirku dalam hati.

    Pikiranku serasa buntu. Kupandangi wajah Lina yang kaku melihat polah tingkah Adek yang terus mencumbuku. Lina pun bangkit dari rebahannya sambil beringsut menjauh dari badanku. Tak sempat ku berkata lagi, Adek yang sudah birahi tinggi tanpa ampun menyerangku dengan ganasnya, dicumbunya seluruh wajah dan leherku, malah kini posisinya menaiki tubuhku dan berusaha membuka bajuku.


    Aku yakin walau suasananya remangremang, Lina pasti melihat jelas semua aktivitas kami, bahkan dengan kaos dan BH Adek yang sudah tersingkap keatas dan tanganku yang sedang meremasremas susu Adek, sekarang jelas terpampang di depan mata Lina. Kepalang tanggung, segera saja kurengkuh tubuh kecil Adek dan kuhisap puting payudaranya yang kecil dan berwarna merah kecoklatan itu secara bergantian dengan posisi adek diatas tubuhku. Pentil itu tampak sudah tegak mengacung karena pemiliknya sudah dilanda nafsu birahi yang sangat tinggi.

    Ah.. ah.. Mas Son.. gumam Adek lirih.
    Enak Mas, terus.. jangan dijilat terus, tapi disedot.. aah.. lanjutnya.

    Aktivitas ini kuteruskan dengan mengelus dan meraba pantat Adek yang sejajar dengan ******ku. Kuremas pantat Adek sambil menggesekgesekan ******ku pada daerah kemaluan Adek yang masih terbungkus dengan celana jeans yang dikenakannya. Kujilati semua yang ada di dada Adek, bahkan kugigit kecil puting mancung itu yang membuat Adek melenguh panjang.

    Aaahh.. sshh..

    Aksiku ternyata membuat Adek blingsatan, dikulumnya bibirku dan diteruskan ke leherku sambil berusaha membuka semua bajuku, nampaknya Adek mau balas dendam melancarkan aksi yang sama dengan yang kulakukan tadi.

    Benar saja, begitu bajuku terbuka semua, Adek segera menghisap putingku dan menggigitgigit putingku dengan ganas. Kurasakan sensasi yang luar biasa yang membuat ******ku semakin tersiksa karena tidak bisa bangun terhalang oleh celana jeansku. Saat itu bisa kuperhatikan Lina di samping kiriku yang sedang menatap nanar aktivitas kami, kulihat tangan kanannya dijepitkan pada dua belah pahanya, entah sedang terangsang atau sedang kedinginan.

    Tanpa kata, kuberanikan tangan kananku mengelus paha Lina sambil berusaha meraih tangan Lina. Lina hanya diam saja, bahkan semakin terpaku saat melihat aksi Adek yang terus mencumbu bagian bawah pusarku. Aku yang merasa sangat geli hanya bisa menggelenggelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.

    Aah.. Dek, jangan dijilat di daerah situ terus.. ge..li se..ka..li.. ujarku dengan nafas tersengal.

    Tanpa sadar aku sudah meremas tangan Lina dan Linapun kurasa juga membalas remasan tanganku. Tapi kejadian demi kejadian berlangsung begitu cepat, Adek seolah sudah tidak peduli lagi, dia langsung membuka ikat pinggangku diteruskan dengan membuka resleting celana jeansku. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku saat itu, keperhatikan tingkah Adek sambil tanganku tetap memegang tangan Lina.

    Saat resleting celanaku sudah terbuka, Adek meraih ******ku yang masih terbungkus celana dalamku, lalu dielusnya sebentar kemudian ditariknya sampai selutut celana jeansku berikut celana dalamku juga. Tanpa banyak kata, Adek hanya memperhatikan sebentar ******ku kemudian mencium dan menjilat permukaan ******ku.

    Aah.. aku hanya bisa mengeluarkan kata itu saat Adek mulai mengulum ******ku dan mengisapnya.
    Aargh .. Dek, enak sekali Dek erangku.

    Gila nih anak, baru SMA sudah selihai ini, aku tak habis pikir gumamku dalam hati.

    Saat Adek masih asik berkaraoke dengan ******ku, kulihat sekilas ke Lina, ternyata dia sedang memperhatikanku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya. Kemudian seperti ada dorongan lain kutarik tangan Lina sehingga tubuhnya rebahan lagi disampingku.

    Lin, aku ingin cium bibir kamu bisikku perlahan di telinga Lina.

    Saat itu Lina diam saja sambil tetap menatapku. Kutarik wajahnya mendekat dengan wajahku dan segera kulumat bibir Lina yang mungil itu.

    Eemh .. suara yang terdengar dari mulut Lina.


    Tak ada perlawanan yang berarti dari Lina, Lina diam saja tak membalas ciumanku, entah karena pasrah atau tidak tahu caranya berciuman. Kurasakan getaran birahi yang luar biasa saat ******ku terus dipermainkan oleh Adek sementara konsentrasiku terarah pada Lina yang pasrah. Segera saja aku menciumi dada Lina yang masih terbungkus oleh bajunya sementara tanganku yang satu mengeluselus selangkangan Lina.

    Aah.. ah.. Lina mulai bereaksi panas saat kusibak bajunya sehingga aku bisa menjilati permukaan susu yang masih tertutup oleh BHnya yang berwarna pink.
    Ya diajari tuh Lina, Mas Son.. sudah gede tapi belum bisa bercinta kata Adek tibatiba.

    Kaget juga aku mendengar teguran itu, kuperhatikan Adek tenyata dia sudah tidak menghisap ******ku lagi, tapi sedang membuka celana jeans lalu celana dalamnya sendiri.

    Adek masukkin ya Mas kata Adek pelan tanpa menunggu persetujuanku sambil mengarahkan ******ku ke lubang kawinnya yang tampak olehku disuburi bebuluan jembut keriting.

    Pelan tapi pasti Adek membimbing ******ku untuk masuk penuh ke dalam tempiknya. Kurasakan rasa hangat menjalar dari ******ku ke seluruh tubuhku. Tempik Adek yang sudah basah oleh lendir pelumasnya memudahkan ******ku masuk ke dalamnya.

    Ah.. burung Mas Son gede.. terasa penuh di tempik Adek katanya mendesis sambil menggoyangkan pantatnya dan memompanya naik turun.
    Ah.. ash.. ah.. enak sekali Mas Son kata Adek parau sambil mencumbu dadaku lagi.

    Aku yang menerima perlakuan demikian tentu saja tidak terima, kuangkat badan Adek dan mendekatkan teteknya ke mulutku sambil terus memompa dari bawah mengimbangi goyangan Adek.

    Huuf.. uh..uh.. aah.. terus Mas erang Adek memelas.

    Kujilati terus dan mengisap puting Adek bergantian kiri dan kanan, sementara Adek menerima perlakuanku seperti kesetanan.

    Ayo Mas.. Son.. terus.. ayo .. teruuss.. Adek mau dapet ni.. katanya bernafsu.

    Tak beberapa lama kemudian, dengan kasar Adek mencium dan mengulum bibirku.

    Eeemhp.. aaah..

    Dan kemudian Adek terkulai lemas di dadaku, sementara aku yang masih memompa dari bawah hanya didiamkan Adek tanpa perlawanan lagi.

    Aaa.. berhenti dulu Mas Son, istirahat sebentar, Adek sudah dapat Mas Son kata Adek lirih mendekapku dengan posisinya masih di atasku dan ******ku masih di dalam liang senggamanyanya.

    Kurasakan detak jantung Adek yang bergemuruh di dadaku dan nafasnya yang ngosngosan mengenai leherku.

    Makasih ya Mas Son, enak sekali rasanya kata Adek pelan.

    Aku yang belum mendapatkan orgasme, hanya bisa melirik ke arah Lina yang saat itu ada di sampingku, ternyata tangannya sedang meremasremas teteknya sendiri dibalik BH berendanya yang sudah terbuka. Segera saja kutarik Lina mendekatiku dan menyuruhnya agar ia berposisi push up mendekatkan teteknya kemulutku.

    Aah .. Mas Son.. kata Lina pelan saat tetek kanannya kuhisap.


    Saat itu Adek bangkit dari posisi semula dan mencabut tempiknya dari ******ku, kemudian berbaring di sisi kiriku sambil merapikan kaosnya. Aku yang kini leluasa berusaha bangkit sambil mencopot celana jeansku yang masih menempel di lututku. Kuterus meremasremas tetek Lina sambil mengulum bibir Lina yang kini posisinya berbaring di bawahku. Berbeda dengan yang tadi, kini Lina mulai agresif membalas kulumanku bahkan bibirnya menjulurjulur minta diisap.

    Kubimbing tangan Lina untuk memegang ******ku yang masih tegang dan basah karena cairan kawin dari tempik Adek. Semula seakan ragu, tapi kini Lina mengenggam erat ******ku dan seperti sudah alami Lina mengocok ******ku waktu lidahku bermain di bawah telinganya dan lehernya.

    Aah .. Mas Son.. geli .. hanya itu komentar dari bibir Lina yang seksi itu.

    Perlahan lidahku mulai bermain di seluruh dada Lina, dari leher sampai gundukan teteknya kujilati semua, dan kugigit kecil pentil susu Lina yang berwarna kemerahan dan sudah tampak tegang itu.

    Aargh.. aah .. Lina mulai menggelinjang.

    Lina diam saja waktu kubuka ikat pinggangnya dan kubuka kancing celana jeansnya. Kuperhatikan Lina masih memejamkan matanya dan melenguh terus saat kucumbu bagian pentilnya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat ******ku, dan tangan kirinya menekannekan kepalaku, sesekali menjambak rambutku. Kemudian tanganku menelusup ke dalam balik celana dalam Lina waktu kancing celana jeans Lina sudah terbuka, kurasakan sambutan hangat bulubulu jembut yang masih jarang diatas tempiknya. Kueluselus sebentar permukaan liang kawinnya, lalu jarijariku tak ketinggalan bermain menekannekan tempiknya yang sudah basah oleh lendir kawinnya.

    Ah.. Mas.. Son .. aah suara Lina semakin terdengar parau.

    Aku segera mengalihkan cumbuan ke daerah perut Lina dan menurun menuju tempiknya. Kubuka celana dalam berenda yang juga berwarna pink itu tanpa melihat reaksi Lina dan segera menciumi permukaan tempik Lina yang masih ditumbuhi bulubulu jembut halus yang jarangjarang.

    Ah.. jangan Mas Son .. ah.. kata Lina mendesis.

    Tentu saja kubiarkan sikap yang menolak tapi mau itu. Lidahku sudah mencapai permukaan tempiknya lalu kujilati yang segera membuatnya menggelinjang dan dengan mudah aku menurunkan celana jeansnya sampai sebatas pahanya. Kujilati terus tempik Lina sampai kedalamdalam sehingga pertahanan Lina akhirnya jebol juga, pahanya semula yang mengapit kepalaku mulai mengendur dan mulai terbuka mengangkang, sehingga akupun leluasa mencopot seluruh celana jeans dan celana dalamnya.

    Aah .. argh .. desis Lina pelan.

    Posisiku saat itu dengan Lina seperti posisi 69, walau Lina tidak mengoral ******ku aku tidak peduli tetap menjilati tempiknya dengan ganas dan tanpa ampun.

    Aah.. Mas .. truss.. ahhh .. enaak.. Mas .. aah .. teriak Lina tidak jelas, sampai akhirnya pahanya menjepit erat kepalaku dan ******ku terasa sakit digenggam erat oleh Lina.
    Aaah.. Mas .. teriakan terakhir Lina bersamaan dengan sedikit cairan birahi yang menyemprot dari dalam tempiknya kedalam mulutku.

    Rupanya Lina sudah mendapat orgasme pertamanya walau dengan lidahku.

    Aah.. enak sekali.. Mas Son .. sudah ya Mas Son.. kata Lina pelan sambil tergolek lemah dan pasrah.

    Akupun menghentikan aktivitasku dan mengambil nafas dulu karena mulutku jadi pegalpegal kelamaan asyik mengoral tempiknya. Aku berbaring di tengah dua cewek ini dengan posisi yang terbalik dengan mereka, kepalaku berada diantara kakikaki mereka.
    Baru sebentar aku mengambil nafas, kurasakan ******ku sudah ada yang memegang lagi.

    Mas main sama Adek lagi ya? Adek jadi nafsu ngeliat Mas Son main sama Lina kata Adek tibatiba yang sudah bangkit dan kini tangannya sedang memegang ******ku.

    Aku tak sempat menjawab karena Adek sudah mengulum ******ku lagi, bahkan kini pantatnya beralih ke wajahku, menyorongkan tempiknya kemulutku untuk minta dioral juga seperti tadi aku dengan Lina. Posisiku dengan Adek kini 69 betulan tapi dengan posisiku yang di bawah. Kujilati tempik Adek dengan lidah yang menusuknusuk kedalamnya.

    Eeemph .. emmph .. Adek tak bisa mendesah bebas karena mulutnya penuh dengan ******ku.

    Lama kami bermain dengan posisi itu, sampai akhirnya kuhentikan karena aku tidak tahan dengan isapan Adek yang luar biasa itu dan kalau dibiarkan terus akibatnya ******ku bisa muntahmuntah di dalam mulut Adek. Aku bimbing agar Adek berbaring di samping Lina sedangkan aku di atasnya mulai mencumbu lagi dari teteknya dengan menggesekgesekan ******ku ke permukaan tempiknya yang dipenuhi oleh bulubulu jembut yang berwarna hitam pekat itu. Adek seperti mengerti, kemudian membimbing ******ku untuk masuk ke dalam lubang kawinnya. Akupun bangkit sambil mengarahkan ******ku siap untuk menghujam lubang senggama Adek. Pelan tapi pasti kumasukan ******ku mulai dari kepala hingga semuanya masuk ke dalam tempiknya.

    Aaah .. Mas Son .. desis Adek sambil menggoyang pantatnya.

    Kurasakan seret sekali tempiknya, beda sekali dengan yang tadi gesekan itu terasa nikmat menjalar di setiap centi dari ******ku dengan sesekali terasa denyutan pelan dari liang kemaluannya.

    Mas yang keras dong goyangnya.. terasa sekali mentok kata Adek sambil melingkarkan tangannya ke leherku.

    Akupun jadi semangat memompa tubuh ranum yang mungil ini. Di udara dingin seperti ini terasa hangat tapi tidak berkeringat.

    Aah.. ah.. terus Mas .. terusss.. ah.. ah .. lanjutnya keenakan.

    Mungkin sekitar 5 menit aku menggoyang Adek, sampai kemudian aku tidak tahan melihat teteknya yang bergoyang indah dengan puting kecil menantang. Akupun mengulum puting Adek sambil meremasremasnya dengan gemas, sementara pompaan ******ku telah diimbangi goyangan Adek yang bisa kupastikan goyangan ngebor ala Inul tidak ada apaapanya.

    Ma.. Mas .. Adek mau dapet laggii.. bareeng yaa.. ah.. ah.. desis Adek histeris.

    Aku jadi terangsang sekali mendengar lenguhan Adek yang merangsang itu, kuteruskan aksiku dengan menjilat dan mencium dada, ketiak, leher, telinga dan pipi Adek.


    Aaarg .. erangnya keras.

    Adek mengulum bibirku sambil memejamkan matanya. Nampaknya Adek telah mendapat orgasmenya yang kedua, sementara tubuhnya menegang sebentar dan kemudian melemas walau aku masih memompanya. Aku segera mencabut ******ku dan mengocoknya sebentar untuk menumpahkan pejuku ke perut Adek.

    Crut.. crut..

    Pejuku keluar banyak membasahi perut Adek dan mengenai teteknya.

    Aaah.. akupun melenguh puas saat hasratku telah tersalurkan.

    Adek mengusapusap pejuku di perutnya kemudian membersihkan dengan tisu yang diambil dari celananya, sedangkan Lina mendekat dan melihat aksi Adek, kemudian membantu membersihkan pejuku.

    Baunya seperti santan ya? komentar Lina sambil mencium tisunya yang penuh dengan pejuku.
    Ya udah. Semua dibereskan dulu kataku memberi perintah kepada dua cewek yang baru saja bermain cinta denganku ini.
    Kita istirahat dulu ya sambil tiduran, nanti kalo sudah nggak hujan kita putuskan mau turun ke bawah atau bermalam disini ya lanjutku kemudian.

    Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan dua cewek yang mendekapku. Entah mimpi apa aku semalam bisa terjebak dalam situasi seperti ini.

    Tak kurasa kami bertiga telah bermalam dan sadar pada keesokan harinya, dan berjanji akan melakukannya lagi nanti sesampainya dibawah dan menginap di hotel terdekat.

  • Kisah Memek Kenangan dan Kenyataan

    Kisah Memek Kenangan dan Kenyataan


    4853 views

    ” />Cerita Sex ini berjudul ” Kenangan dan Kenyataan ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2018.

    Duniabola99.com – Entah suamiku itu tahu atau tidak, karena sejak kami membina hubungan sebatas teman tetapi layaknya orang yang berpacaran, aku sering kali tertangkap basah sedang melamun sambil memegangi kalung tersebut, bahkan hingga saat ini dan aku simpulkan bahwa Suamiku tahu itu tetapi tidak menanyakan lebih lanjut untuk membahasnya, karena dia juga pernah bilang, sebuah kenangan bisa terlahir dari kejadian yang menyakitkan, dan tidak usah dihapuskan, karena hal itu pastilah indah, hanya pemilik kenanganlah yang merasakan keindahannya, dan dia sangat berhak untuk menikmatinya, tetapi yang tak kalah penting bahwa, kita jangan terlarut terus di dalamnya, jalanilah kehidupan ini dengan penuh resiko dan tanggung jawab sebagaimana mestinya. Fastbet99

    Begitulah nasihatnya padaku, dan katakata itu seringkali dia lontarkan, setelah itu juga aku akan merengut manja dan memeluk sayang ke dadanya yang bidang. Diapun pasti membalas pelukan sambil mengecup Cinta di sekitar kening dengan penuh kasih sayang.

    Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka, dimana seseorang berwajah tampan tersenyum dibaliknya, suamikuBang Syahrir !!

    Halo cantikIstriku sayangsudah siap ?? aku, mamah dan yang lain tinggal nungguin kamu loh..kata suamiku tersenyum hangat.

    Iya Sayangbentar lagi yahtinggal pake sepatu kokkataku tersenyum manis, masih memegangi kalung tersebut, dia melihat tanganku yang menjawabnya sambil memegang kalung itu, dan memperlihatkan mimic wajah Gotcha!! Busted deh gw^ ^, akupun langsung reflex melepas peganganku pada kalung itu dan langsung menyengir tanda tak enak seolaholah meminta maaf.

    Ya sudahjangan lamalama ya kalo ngelamun hehehetawanya meledek,

    Aku hanya menjulurkan lidah sedikit karena malu tertangkap basah olehnya.

    Iya Sayangmaaf yahbalasku dengan pipi merona karena malu.

    Setelah pintu tertutup, aku kembali merias diri dengan cepat, akhirnya selesai dan turun menuju ruang makan. Menyantap makan malam bersama suami beserta segenap famili.

    Aku sesekali menyuapi suami tercinta dan langsung banyak katakata godaan dari orang sekitar mengenai pengantin baru dsbnya, terutama dari adik wanitanya Bang Syahrir, sebagai pasangan baru tentu kami begitu hangat dan mesra, Ibu mertuaku juga sudah memaaafkan aku, dia sudah mengerti bahwa siapa sesungguhnya yang menjadi korban.

    Gimana sayangenak gak ayam kremesnya..?? tanya Bang Syahrir sambil menyeka sisasisa makanan di sekitar mulutku dengan selembar tissue.

    Hhmmenak..enak bangetapalagi kalo desertnya ciuman kamu kataku dengan mengecup tangannya merespon kasih sayangnya.


    Bang Syahrir mengecup keningku dan semua tersenyum karena melihat kami berdua begitu mesra. Setelah selesai makan malam kami berpamitan hendak kembali ke kamar, kebetulan beberapa teman Bang Syahrir juga ikut dalam perayaan besarbesaran ini, tapi temantemanku tidak, temanteman Bang Syahrir lebih dekat dengan keluarga Bang Syahrir karena sering menginap bermain gitar Akustik di rumahnya.

    RirIstri sih istritapi inget anak orang jangan kasarkasar hehehe..ledek Didi salah satu teman Bang Syahrir.

    Hehehe sialan luhjawab Bang Syahrir sambil menyikut perut temannya itu.

    Mendengar suamiku diledek temantemannya, aku langsung menggelayut manja pada lengan Bang Syahrir yang macho itu karena dia seorang pecinta Karate, untuk membuat temantemannya iri padanya. Setelah itu kami berlalu meninggalkan mereka, di depan tangga Bang Syahrir tibatiba mengangkat tubuhku yang mungil jika dibandingkan dengan tubuhnya itu, pria normal pun kecil jika disejajarkan dengan dia, aku hanya menjerit kecil sambil memukul manja dadanya dan kuakhiri dengan tersenyum semanis mungkin, kedua tanganku bergelayut ke lehernya, menandakan sebuah kepasrahan dari seorang wanita pada lelakinya, betina ke pejantannya, istri terhadap suaminya.

    Menuju ke pintu kami beradu mulut dengan mesra, sampailah kami di depan pintu, aku bertugas membuka pintu yang masih terkunci itu, tibatiba,

    Aaawhiih Abang IiiihhHaawhkataku manja karena dia sengaja menurunkan tubuh pada bagian leher seakanakan menginginkan aku jatuh, walaupun aku tahu bahwa itu tak mungkin. Dia hanya tertawa senang karena berhasil meledekku.

    Kami masuk ke kamar untuk melakukan ritual malam pertama, Bang Syahrir menaruhku di sisi ranjang, setelah itu dia berlutut di depanku dan mengambil sesuatu dari kantong jas hitamnya, yang berupa kotak perhiasan, bentuknya panjang dan sebagai wanita aku tahu bahwa itu adalah sebuah kalung. Aku terima pemberiannya dan kubuka, ternyata betul sebuah kalung, jauh lebih indah dari yang kukenakan saat ini, dan pasti jauh lebih mahal karena memang Bang Syahrir seorang eksekutif muda yang sukses, manager keuangan muda, tampaknya secara tak langsung dia ingin aku untuk melupakan semua kenangan, melepas dan menggantinya dengan sebuah lembaran yang baru, lembaran kehidupan yang putih bersih, dimana pada sampulnya tertulis namaku dan namanya. Itu harus dipaksakan, sebagaimana jika kita ingin mengajari anak, jika tidak bisa dengan cara halus, maka harus dengan cara kasar untuk mencambuknya, karena hidup memang keras, dan semua itu bertujuan untuk kebaikannya kelak. Begitu juga saat ini, maka aku yang langsung mengerti bergerak mencopot kalung lamaku, kalung yang diberikan oleh Mas Sudartoyah, itulah namanya, kekasih masa SMUku, cinta pertamaku, lelaki yang pertama kali melindungiku bahkan mempertaruhkan nyawanya untukku. Aku menaruh kalung itu di meja, Bang Syahrir dengan gentle memakaikan kalungnya ke leher jenjangku yang berkulit putih dan mengakhiri dengan mengecup leherku penuh cinta, aku sangat menyukai pemberian Bang Syahrir suamiku, tetapi kalau boleh jujur saat itu aku masih tak rela melepas kalung Mas Darto, walaupun aku juga tak menolak pemberian kalung dari suamiku tercinta, hanya saja aku belum siap untuk betulbetul melupakan semua.

    Naaahhkan kamu lebih cantik sayang !!godanya,

    Aku hanya menggigit bibir bawah dan tersenyum semanis mungkin ke arahnya, senang akan pemberian sang Suami, aku mengecup kening Suamiku, aku ingin dia tidak merasa resah dan khawatir bahwa aku masih mencintai lelaki lain dan kurang mencintainya, itu salah. Aku hanya belum siap untuk memilih antara kenangan dan kenyataan. Kami bergenggaman tangan, aku memajukan bibir menantang, dan kami pun berpagutan dengan panas, saling menelanjangi satu sama lain, ranjang pun bergoyang bagai ombak di lautan yang diterpa badai, suara kami bergemuruh menambah ramainya kamar pengantin bertebar bunga itu, Aku beruntung sekali mendapatkannyaBang Syahrir seorang perjaka!!


    Pria yang selalu mengenakan jas layaknya eksekutif, tampan, kaya raya, pekerja mapan, baik hati, lemah lembut tutur katanya dan selalu mengalah padaku yang egois ini ternyata seorang perjaka, sebuah keberuntungan cinta yang luar biasa!! Aku yang malah merasa tidak enak terhadapnya, aku merasa tidak pantas untuknya, pria sepertinya pantas mendapatkan seorang perawan tulen yang cantik dan tak kalah mapan, baik itu harta maupun jabatan, tetapi itulah suatu bentuk keadilan Tuhan, ketetapannya tidak pernah kita ketahui sebagai manusia, aku hanya bisa bersyukur.

    Tidak ada tes memang untuk keperjakaan itu, tetapi aku tahu dari gerakan sexnya yang sangat kaku, justru aku yang mengatur tempo, dia hanya tinggal menyerang secara alami dan diapun lama kelamaan terbiasa. Tetapi kuputuskan memakai gaya konvensional saja, agar prosesi persetubuhan kami lebih mudah, kuselipkan sebuah bantal di pantatku dan diapun langsung pintar menyambutnya. Malam pertamaku bersama Bang Syahrir sangatlah terasa singkat, tak terasa waktu telah menginjak tengah malam, dimana matahari malam tersenyum bulat lebar.

    Aku terbangun di saat malam hendak meninggalkan gelapnya menuju cerahnya sinar pagi, mendekati waktu subuh, aku menatap sesaat ke arah Bang Syahrir yang tampak masih kelelahan, walaupun dia seorang pemula dalam hal sex, tetapi tenaganya sangat bisa menguras tenagaku dari bertahan, bahkan mampu membuatku orgasme beberapa kali, mungkin dikarenakan badannya yang tegap, jantan dan suka berolah raga kasar itu. Aku membelai sayang rambutnya, hingga pandanganku tertuju pada suatu benda di atas meja, yang tadi kutaruh saat memakai pemberian Bang Syahrir, kalung Mas Darto!! Aku mengambil kalung itu dan menggenggamnya, aku melihat kembali suamiku dan akan kuputuskan sesuatu hal yang seharusnya kuputuskan dari dulu disaat aku mengenal Bang Syahrir, yaitu meninggalkan pahitnya sebuah KENANGAN.

    Kuambil kimono putih hotel dan berjalan keluar, beberapa teman Bang Syahrir ternyata bergadang, mereka menyapa dan sempat meledek menggodaku mengenai asiknya malam pertama kami, aku hanya tertawa dan melayani obrolan mereka dengan singkat. Akhirnya aku berhasil keluar menuju sisi pantai, mereka sempat menanyakan aku mau kemana namun aku hanya menjawab ada perlu sedikit di lobby hotel. Aku berdiri di sebuah tembikar, menatap kosong ke gumpalan buih dilautan, aku kembali teringat seluruh kisah hidupku yang penuh likaliku, pelik namun banyak sekali hal yang bisa dipetik. Semua hal itu yang dinamakan bumbu kehidupan, pengalaman yang bisa diajarkan kelak ke anak cucu kita sekalian, dimana isinya Suka Duka Benci Cinta Dendam Rindu Pahit Manis Hitam Putih dsb. Kalung itu kupandang di genggaman tangan kananku, Akupun melamun teringat semua kenangan, saat itu.Dimulai saat aku masih mengenyam pendidikan di bangku SMP.

    ***********************************
    Vycowo lu Vykesini ludari tadi gua udah curiga !!kata Shekti sahabatku,

    Ada apaan sihngagetin aja..gua lagi baca !!kataku protes,

    Karena sedang bersiapsiap untuk ulangan mendadak.

    Sini ah!!katanya menarik lenganku paksa,

    Akupun mengikuti ajakan sahabatku itu, menuju kantin terus berjalan ke belakang, di sana


    ada sebuah ruangan kecil untuk menaruh obatobatan yang dipakai ekskul palang merah, karena sedikit sekali peminat ekskulnya ruangan itu menjadi kosong, sebenarnya hanya bisa dikatakan gudang. Salah seorang sahabatku yang lain, sudah berada di depan pintu ruangan itu yang sedikit terbuka, gadis itu bernama Joyce, mulutnya meruncing sambil menunjuknunjuk ke arah ruangan itu, semakin kuayunkan langkah kakiku dan semakin dekat ke ruangan itu, jantungku semakin berdegup cepat, Deg!! Aku melihat seorang pria berpakaian basket sedang mencium seorang gadis, yang kutahu mereka adalah Ebrin pacarku dan Silvy adik kelas, temantemanku akhirakhir ini sudah sering memberi peringatan atas kelakuan Ebrin, hanya saja saat itu aku belum melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri, bukan aku tak percaya oleh para sahabatku.

    Eh Gila!!kataku dengan nada galak dan to the point.

    Sontak mereka berdua kaget mendengar suaraku, tambah lagi bukan hanya ada aku,

    (Damnbusted gw) dari mimik wajah Ebrin. Wajah Silvy ketakutan melihat wajah marah kakakkakak kelasnya yang terkenal sangar itu ke arahnya, dia berani menyambut ajakan Ebrin karena memang Ebrin salah seorang siswa yang berprestasi dalam basket, kakak kelas tampan pujaan wanita saat itu.

    Sebagai gadis yang pada dasarnya feminim, Aku tak lama menatap marah pada mereka, aku langsung lari menuju kelas diikuti para sahabatsahabatku yang tahu bahwa aku akan menumpahkan air mata kekecewaan Cinta, kecewa sekali aku pada Ebrin mantan pacarku, kesucianku kuserahkan padanya, memang itu kesalahan gadis remaja masa kini, tetapi sebagai wanita aku selalu bermimpi dia akan selalu setia padaku selamalamanya, buaya itu malah mencampakkanku mentahmentah, dan dalam waktu yang singkat. Temantemanku mencoba menenangkanku karena bel istirahat hendak berbunyi,

    Betul saja, Teng !! Teng !! Teng !! Bel pun berdentang. Aku mencoba menghapus semua cairan yang membasahi sekujur wajahku, karena bukan hanya ada lelehan air mata yang mengalir. Temantemanku juga berebutan memberikan aku tissue dan sejenisnya, Guru sempat menanyakan karena wajahku babak belur, aku hanya bisa berdalih tidak sehat, dan saat itu juga aku diijinkan pulang sekolah, syukurlah karena saat itu ingin ulangan, bisabisa jeblok nilaiku garagara hal yang tak bisa diputar balik. Menurut khabar, para sahabatku mendatangi kelas Silvy saat pulang sekolah, menerornya habishabisan hingga dia juga menangis, sejak itu pula tidak ada yang berani memacari Ebrin mantanku, dia mencari gadis lain di luar sekolah.

    ********************************


    Sejak saat itu aku berubah, di antara kedua sahabatku ini yang paling badung sebenarnya Joyce, kami bertiga bertemu saat kelas 1 dan terus menjadi sahabat hingga kelas 3, bukan karena wajah kami bertiga blasteran, kami hanya nyambung dan cocok saja saat bercanda ria. Joyce sudah merokok saat itu, kami berdua hanya meledek dengan batukbatuk jika si Joyce baru saja mengambil Zippo dari tasnya, dan dia hanya protes,

    Belum juga dinyalain..!!omelnya pada kami sambil tersenyum, tahu bahwa sahabatnya sedang meledeknya karena tidak suka dengan asap rokoknya, setelah itu dia tetap akan menyalakan, menghisap dan menghembuskannya sengaja ke arah aku dan Shekti.

    Kejadian itu merubah perangaiku, aku juga ikut merokok bahkan Shekti pun juga, karena merasa segeng otomatis pergaulan menyeretnya. Bahkan yang tadinya aku ini dikenal dikelas dengan siswi berprestasi, dengan berlalunya waktu merasakan patah hati semua itu luntur. Ibuku sempat memarahi perubahan itu, dia mengomelomel dengan keluhan mencari uang susah, uang bayaran sekolah sekarang mahal, dsb.

    Saat itu aku belum tahu bagaimana perjuangan keras orang tuaku dalam menghidupi kami, yang hutang sana hutang sini untuk mencari sesuap nasi dan uang sekolahku, pada saat itu persis setahun setelah krisis moneter pertama sekitar tahun 98, dimana banyak Perusahaan besar yang bangkrut, PHK dimanamana, hingga usaha kecil seperti papaku pun gulung tikar. Aku malah berpaling dan mementingkan hal yang sama sekali tidak perlu. Aku berbincang sambil menghisap rokok bersama kedua sahabatku di bagian belakang sekolah,

    Nov..lu ga bisa lah begini terusmending lu luapin aja ke suatu halkata Joyce.

    Suatu hal gimana Huffjawabku sambil meniupkan asap rokok hingga mengepul.

    Ya kaya gua aja hehehe jadi lega lohsaran Joyce.

    Gila lu Jokata Shekti yang tahu maksudnya,.

    Joyce pernah mengalami masa patah hati sepertiku saat ini sekitar 2 tahun yang lalu, saat ini kami kelas 3 SMU, dia lebih dulu mengalami hal ini, dan waktu itu kami berdua yang menghiburnya, hal yang serupa juga dialami Shekti setahun setelahnya. Mereka berdua meluapkan masalah mereka pada sex bebas, Joyce saat itu menghampiri Pak Martaba satpam sekolah dan bercinta habishabisan, satpam sekolah itu tentu hooh saja diajak bugil dan fly to the sky oleh gadis SMP blasteran macam Joyce yang cantik Indo, dan sejak saat itu pula hingga kini mereka masih sering melakukan hal itu kapanpun dan dimanapun.

    Begitu pula Shekti dengan Pak Ismet tukang sapu sekolah kami yang juga mengurusi kebun, tidak jarang aku atau Joyce menangkap basahnya sedang mengoral Pak Ismet, tukang kebun itu sangat menyukai sekali dengan keahlian Shekti yang satu itu, short time sex mereka pasti hal ini. Shekti memang terkenal dengan wajah manis dan bibir tipis seksinya yang seringkali dihiasi lipgloss pink, sebab itulah Pak Ismet seringkali sange berat dengan sepongan mulut ajaib Shekti. Tadinya Shekti yang dengan nakal menggoda Pak Ismet, tetapi sekarang malah jadi dia yang sering diseret Pak Ismet untuk menghisap kejantanannya hingga disuruh menelan spermanya, agar beliau terasa lebih muda dan gagah katanya berdalih mesum.

    Hhmmhboleh juga tuh Jo..bener juga sih Tikataku pada Shekti,


    yang sebenarnya tidak ingin kalau aku mengikuti jejak pelacur mereka, karena dari awal memang mereka berdualah yang nakal, meskipun harus kuakui juga bahwa aku bukanlah wanita yang lurus karena juga sudah melakukan sex di masa belia, hanya saja belum seliar yang dilakukan kedua sahabatku itu.

    Seru kalee!!tambah Joyce.

    Iya tapi sama siapa yah??tanyaku pada mereka.

    Hhmm itutuhnganggur Bandot !!sahut Joyce menunjuk ke arah Mang Udeng.

    Pria berumur 50an, hitam legam, berkumis tipis, badan sedang dalam artian tidak gendut seperti Pak Ismet gacoan Shekti, tetapi juga tidak segagah Pak Martaba satpam gebetan Joyce itu. Pak Ismet berumur 45an sementara Pak Martaba atau Baba berumur 40an. Joyce blasteran U.K England, ayahnya yang sering pulang pergi itu jarang mengawasi anak gadisnya, sementara ibunya sibuk arisan dan suka main gigolo, bisa dibilang Joyce gadis broken home, kedua orang tuanya sudah jarang berbicara walaupun bergelimangan harta benda, itulah yang membuatnya menjadi gadis nakal, sedangkan Shekti blasteran Kanada, orang tuanya tak jauh beda dengan Joyce, hanya saja ayah Shekti tidak sering pulang pergi, tetapi seringkali ribut dan bertengkar dari sebuah hal yang tidak perlu, jika aku dan Joyce main ke rumahnya, pasti hal ini kami temui. Keadaan kami hampir sama.

    Sedangkan aku yang bernama Novy Andhiny seorang gadis pribumi, ibuku asli Bogor, setelah dinikahi ayahku yang asli Jakarta, mereka pindah dan menetap di Jakarta ini, dari darah ibukulah yang membuat aku memiliki kulit putih, jadi kami adalah 3 gadis berkulit putih, walaupun kulit putih kami bertiga memiliki tipe yang berbeda, kalau aku putih Asia, Joyce putih khas Eropa dan Shekti putih khas Amerika. Mang Udeng tersenyum saja melihat kami bertiga melempar pandangan ke arahnya, dia sedang memegang tempat sampah untuk memenuhi pekerjaannya sebagai pembersih WC dan tukang sampah.

    Eh ehtaruhan yuk..siapa yang bisa bikin si Udeng itu paling sange..dia pantes ditraktir dinner sama clubbing !!kata Joyce jalang.

    Oksiapa takuttapi ntar kalo dia udah sange gimana??tanya Shekti.

    Yee kan tanggungan si Novy dongkan emang Udeng buat Novykitakan udah ada!! jawab Joyce.

    Iya Nov yaDeal nih ?!tanya Shekti tegas.

    Okesiapa takut !!jawabku yang ingin segera menghilangkan stress karena cinta itu.

    Joyce yang paling jalang diantara kami itu langsung mulai menggoda Mamang dengan menumpukkan kedua kaki jenjangnya seperti para pelacur yang hendak menawarkan diri, rok biru SMPnya yang pendek itu menambah pemandangan paha Joyce, beruntungnya Mang Udeng, kali ini para pelacurnya tidak menuntut sesenpun darinya, hanya berniat mengosongkan kantung spermanya yang gelebergeleber karena berumur itu. Mang Udeng langsung menelan ludah melihat betis Joyce yang mulus itu, Udeng Jr. yang berada di selangkangan Mang Udeng langsung bangun tanpa weker, celana Mang Udeng menonjol dibagian itu, kami sebenarnya geli sekali membuatnya mupeng seperti itu, tapi mengasyikan kadang berbuat jalang seperti ini, melupakan sejenak masalah hidup.

    Shekti yang tak mau kalah, berpurapura menggarukgaruk pahanya,

    Aduuh..kok gatel sih katanya sambil menahan tawa melihat Mang Udeng mulai ngosngosan nepsong berat.

    Sruukk..!!, tibatiba Shekti gadis manis hypersex itu menarik ke atas rok pendek di atas lututnya hingga terlihat dua buah batang paha putih mulus milik gadis remaja, dan celana dalam yang berwarna hitam tipis menerawang tanda wanita sedang horny berat.


    Edededehkata Mang Udeng langsung melepas satu tangan berpegangan pada tiang di situ agar tidak jatuh, tangan satunya masih memegangi tempat sampah.

    Shekti belaga bloon menggarukgaruk paha putihnya itu, seolaholah tidak ada orang, si Joyce dan aku hanya kembali menahan tawa.

    (Wah giliran gue nihgimana yah??)pikirku dalam hati,

    Eleh elehlo juga gatel Ti ?kataku sengaja mengeraskan suara.

    Iya nih..sahut Shekti juga keras, masih sambil menggaruk kedua paha putihnya.

    Kalo gua disinikataku, membalikkan badan, menungging dan menarik rokku ke atas, sambil berpurapura menggaruk pantatku yang putih padat itu, Gumprang !!

    Adaawh!!teriak Mang Udeng, karena kakinya kejatuhan tempat sampah dari besi itu dan berputarputar memegangi sebelah kakinya yang kesakitan, sampah pun langsung berserakan. Pegangannya pada tempat sampah langsung lepas karena lemas melihat aku menungging dan membuka rok untuk memamerkan body yang kupunya.

    Ha ha ha hatawa kami bertiga penuh kegelian.

    Kami langsung toss five menandakan kekompakkan kejalangan kami, sukses besar yang membuat mupeng makhluk yang dinamakan pria.

    Mang Udeng langsung jatuh kelelahan karena terus berjingkrakan, aku kasihan juga pada dia dan langsung mendekatinya, kedua sahabatku malah meledekiku,

    Cie ilehyang pedekate hahahahatawa Joyce meledek, dan Shekti juga menyambutnya dengan tawa manisnya.

    Aku hanya berbalik ke arah mereka sambil merengut tersenyum kecil,

    Aduh Mang maaf yahsakit gak ??tanyaku berjongkok di dekat kakinya,

    Sehingga rokku tersingkap dan otomatis paha putihku langsung dipelototinya.

    AduuuhhNeng Novy dehhkalo becanda jangan keterlaluan dongh !katanya sambil melirik ke dalam rokku, melihat celana dalam hitam super tipisku.

    Dia protes tapi tidak menunjukkan kemarahannya, mungkin karena dikasih pemandangan gratis yang membuat Udeng Jr. berdiri tegak siap lari marathon itu.

    Iya Mang maafin kita yahkataku memohon sambil memijiti kakinya yang tertimpa tempat sampah itu. Dia menelan ludah menikmati pijitan tangan putih halusku.

    Ya udah..tapi Mamang nanyabuat apaan sih pada kaya gitubikin nanggung sabun Mamang kan abis !!katanya protes, dikiranya kami hanya ingin membuatnya onani saja.


    Hhmmmok dehkalo Mamang pengen tahukataku mengerlingkan mata genit.

    JoTisini lu!!panggilku pada mereka.

    Sahabatku itu berjalan dengan nakalnya mendekati kami, melenggaklenggokkan pantat bagaikan seorang pelacur high class.

    Apaan Novkan ini jatah lu..!!kata Joyce meledek.

    Begituannya iya ntar gue sendiritapi Mamang pengen kita bertiga minta maaf bukan gue sendirikataku.

    Ooohhok deh kalo gitujawab Joyce mengerti langsung berjongkok disampingku.

    Mang bangun Mang..!perintah Joyce galak.

    Hahma..mau pada ngapain Neng ?tanya Mamang bingungbingung tapi horny,

    Pikirannya pasti ngeres melihat kami berdua jongkok dihadapannya, dua gadis blasteran yang terkenal cantik dan seksi berlutut di hadapannya belum ditambah Shekti, walaupun dia belum tahu akan di eksekusi dengan kenikmatan seperti apa oleh kami.

    Udah ahdiri cepetmau dikasih enak gak lu?!sahut Joyce galakgalak nafsuin.

    Membuat Mang Udeng dikirimkan CD demo berjudul Mari Bercinta oleh Udeng Jr. di selangkangan karena nepsong abis, hingga membuat antrian panjang berjutajuta sperma di penisnya yang sudah mengambil nomor urut seperti antri beras saja.

    Mamang berdiri disusul Shekti berjongkok, kini aku ditengah, disebelah kiri Joyce dan di sebelah kanan Shekti, tonjolan Mang Udeng tepat dihadapanku, tanganku membuka kait celana lusuhnya, setelah terlihat reseletingnya, dengan bitchy kugigit reseleting itu dan menariknya turun, kreeett !!

    Jdugg!! Mmph!! penis Mang Udeng yang sudah mengeras itu langsung keluar sangkar ingin berkenalan dengan alam barunya dan menampar wajahku. Sontak aku kaget dan menjerit kecil tetapi teredam karena masih menggigit reseleting celananya yang membuat si Joyce dan Shekti tertawa, aku langsung mencubit pantat kedua sahabatku itu karena malu, meraka hanya mengaduh. Aku menarik wajah kedua sahabatku melalui jambakan lembut pada rambut mereka, aku menarik lebih turun celana Mang Udeng beserta celana dalamnya yang bermerk Hings, Shekti yang menggemari oral sex itu, mendahului kami dengan meraih penis Mamang untuk mengocoknya, Joyce berinisiatif menggelitik buah zakar Mamang, aku memuntir kepala penisnya sambil memijitmijitnya dengan jari jempol dan telunjukku.


    Lengkaplah sudah, Mang Udeng bagaikan raja minyak yang sedang dilayani para selirselirnya, Joyce kadangkadang meminta bagian untuk mengocokngocok batang Mamang dengan gencar, Mang Udeng blingsatan dengan kocokan Joyce yang tak kalah ahli pada Shekti, malah Joyce terkesan menunjukkan keahliannya. Kami bertiga memulai dengan menjilatinya dari buah zakar, pangkal hingga kepala penis, lidah kami bertiga menjilati masingmasing area, Mang Udeng yang mendongak keenakan sesekali menatap kebawah melihat kenakalan remaja SMP masa kini, dia memandangi wajah kami satu persatu. Kami membalas tatapannya dengan mengerlingkan mata genit, dia hanya menelan ludah dan kami spontan tertawa kecil sambil terus menjilat, bahkan ditatap Mang Udeng, Joyce langsung menjilat lidah Shekti diseberangnya, bertukar ludah bahkan mencucup pangkal penis Mamang kiri dan kanan berbarengan sambil menatap nakal ke arah Mang Udeng.

    Sementara aku tetap focus mengemut dan menghisap kepala penisnya,

    Sruuph!! Hisapku kuatkuat pada kepala penis hitamnya yang lonjong,

    Oookhhlenguh Mang Udeng keras,

    Kepalanya mendongak keatas, penisnya mengacung tinggi dan tubuhnya bergetar nikmat.

    Kami bertiga memundurkan kepala berbarengan, lalu meludahi penisnya, Cuuh!!

    Dengan horny kami bergantian mengocoknya, Mang Udeng menjulurkan lidah keenakan dan penis itu kutangkap dengan mulutku, kini batang itu kukuasai sendiri, aku memaju mundurkan mulut sambil mengocokngocok memutar pada pangkal batangnya seperti pemain blue film saja, lalu penis yang masih dimulut itu kuoper ke mulut Shekti yang langsung disambutnya dengan mulut terbuka, lalu dia oper lagi ke aku dan kuoper ke Joyce, terus begitu, dan terakhir karena mendengar lenguhan Mang Udeng yang sudah berat, tanda spermanya sudah antri di kepala penisnya, aku kuasai sendirian, kedua sahabatku hanya menjulurkan lidah untuk membantunya membangkitkan gairah nafsu Mamang dengan mendesah seksi bersamaan dan memusiki kocokan tanganku pada penisnya, aku juga menjulurkan lidah di depan Mang Udeng siap dicumshot (semprot sperma) di wajahku bersama kedua sahabat cantikku. Mang Udeng ingin mengambil alih penisnya dengan mengocoknya sendiri, tetapi Joyce dan Shekti tampak tidak mengizinkan, bagaimanapun ini hukuman berupa kenikmatan, si Joyce memegangi tangan kanan Mamang dengan tangan kirinya, dan Shekti sebaliknya. Beberapa detik kemudian, ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilati penisnya tibatiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas, mulut hitam Mamang menceracau keenakan,

    Eeengghh..Nenghbapakh..keluaaarhh..!!

    Leeehh.dengan Horny kami bertiga menjulurkan lidah sambil mendesah nikmat dan,

    CROOOTTT!! JRUOOTT !! BLAARR !! CROTT !! Cairan putih kental dan berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami dalam kocokanku, baju sekolah kami juga otomatis kecipratan.

    Kami mendesah seksi dan mengerang mengiringi erangan nikmat Mamang di setiap semburan spermanya, seakanakan kami juga merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh Mamang saat itu, penisnya kupompa dengan meremasnya kencang dalam genggamanku agar semua tabungan spermanya kosong, bahkan Joyce dan Shekti juga ikutikutan mengocok penis Mamang. Joyce malah memencet gemas kepala penis yang sedang sensitifsensitifnya memuncrati sperma itu. Mang Udeng nampak mendesahdesah keenakan dan kelabakan. Setelah tidak ada yang keluar lagi, kami saling menjilati sperma yang membanjiri wajah, beradegan lesbian dengan beradu mulut panas, Mang Udeng yang masih kelelahan hanya menatap kami kembali bergairah, tangan kananku masih mengocokngocok kecil pada batang penisnya yang semakin layu itu.

    Weleh welehngentot ga ngajakngajak lo Dengkata pria bertubuh gempal, yang tidak lain adalah Pak Ismet.

    WahNon Joyce kemana ajaBapak cariin dari tadi jugakata pria berpakaian satpam, yang tak lain adalah Baba atau Pak Martaba.

    Pintu gerbang udah lo kunci Ba..??tanya Pak Ismet pada Pak Martaba, agar situasi aman dalam sekolah.

    Udah kobisa pesta kita..wah nambah pasangan nih Met..!!sahut Baba.

    Iya gapapakecuali kalo nambah Udeng doangrugi atuh hehehe !!kata Pak Ismet.

    Mereka berdua menghampiri kami, Pak Ismet masih memegang sapu lidi di tangannya, dia sehabis menyapu di pekarangan depan karena kami saat itu berada di belakang dekat kantin sekolah,

    Ehelu padegua juga baru mulai nih!!sahut Mang Udeng.

    Pak Baba dan Pak Ismet yang telah terbiasa melakukan hal ini pada kedua sahabatku itu, langsung menurunkan celananya untuk memulai sex party dengan oral,

    Bagua pinjem mulut lonte lu ya? kata Pak Ismet kurang ajar, mengacungkan penis pada Joyce.

    Ooohhsamasama dah yak!! sahut Baba yang juga mengacungkan penis pada Shekti.

    Temantemanku yang cantik namun hypersex itu, sudah biasa di lecehkan seperti itu, dan langsung menyambut dengan oral sex pada pria buruk muka di depannya.


    WelehNeng Joyce lonte lu Ba?? sialan lu ga pernah ngajakngajak pada..!!protes si Udeng.

    Hehehe sorry Bosmasalah laen bagibagimasalah duit sama mekinehi !!jawab si gendut Ismet.

    Sambil di oral oleh Joyce, Pak Ismet membuka kancing baju sekolahnya dari atas hingga bawah dan memelorotkannya lewat atas, sehingga tubuh Joyce yang seksi itu menjadi bahan bakar bagi nafsu birahi Mang Udeng yang baru pertama kali mengalami sex secara beramairamai ini. Begitu juga Shekti yang sedang di oral dan kemudian ditelanjangi Pak Baba. Mang Udeng kemudian melihat ke arahku, saking nafsunya, dia melepas celana dan baju yang ia kenakan di depan kami semua, Pak Ismet dan Pak Baba hanya tertawa maklum. Mang Udeng menaruh pakaiannya sembarangan di tempat biasanya anakanak sekolah menongkrong dan bergosip setelah makan di kantin. Sambil bugil dia langsung menyeretku ke arah sebuah kelas yang tidak jauh dari situ dan tentunya sudah kosong, dia menuntunku dari belakang, sambil berjalan dia menyingkap rokku dari belakang dan mengangkatnya tinggitinggi, tangan hitamnya itu langsung jahil menggerayangi paha belakang dan meremas pantatku, Cuuph!!, Sesekali tukang sampah sekolahku itu menciumnya, hingga membuatku terangsang juga dan bersedia untuk digarap sepuaspuasnya. Sesampai di kelas, aku menuju meja belajar terdekat dan menelungkup, menunggingkan pantatku tinggitinggi dengan seksi untuk memancing kembali birahinya yang tadi sudah tersalur melalui ejakulasinya yang pertama, Mang Udeng menyingkap naik rokku hingga keatas pinggang, dia melepitnya agar tidak turun saat aku tersodoksodok, dan langsung menarik lepas celana dalamku, tukang sampah sekolahku itu meremas dan mengecup gemas pantatku memberi peringatan berupa rangsangan.

    Celana dalamku direngkuhnya, Mang Udeng mencium bagian dalam celana dalamku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir kemaluanku akibat horny. Aku semakin terangsang dengan tingkah udiknya itu, aku dan Mang Udeng samasama baru pertama kali mengalami sex liar ini,

    Wangi banget Neng Novyenyak !! baru lendirnya aja udah enak, apalagi memeknya puji si buaya berumur itu. Dia memakai celana dalamku di kepalanya sebagai topi.

    (Oh Yess!!) kagumku padanya dalam hati,

    Melihat ke belakang ke arah penisnya yang belum lama menyemprotkan spermanya itu dan sekarang kembali mengacung tegak siap menembak. Saat itu aku merasa seksi sekali, aku menggerakkan kedua tanganku ke belakang, kedua jari tengahku yang lentik karena memakai kutek hitam, aku posisikan di bibir vaginaku, membuka lebarlebar dan sengaja memamerkan padanya liang vagina yang merekah berwarna merah muda, Glekk!!suara Mang Udeng menenggak ludah terdengar olehku dan semakin membuatku merasa seksi.

    Aaannghh!!desahku reflex, karena Mang Udeng tidak tahan dan menusuk vaginaku dengan jari tengah kirinya hingga masuk semua.

    Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorekngorek liang vaginaku, jariku yang tadi membuka vaginaku langsung berpindah meremas ke pinggiran meja belajar sekolah itu. Mang Udeng mendekatkan wajahnya yang terlihat penuh nafsu itu ke pantatku yang menungging, tangan kanan hitamnya mengelus dan meremas pantat sebelah kananku, dengus nafas beratnya terasa di area selangkanganku. Dengusannya pindah ke bongkahan pantat kiriku, Leeph!!

    Aauuhh!desahku saat di menjilati salah satu daerah sensitive wanita itu.

    Tubuhku terasa panas dingin dibuatnya, dengan jilatan di pantat dan korekan jarinya yang nakal itu di vaginaku, jari itu seakanakan ingin mengetahui apa saja isi di dalamnya.


    Disapukannya dengan telak lidah kasarnya pada kulit pantat putih sekalku itu, diciumi, bahkan digigit kecil sehingga aku menjerit menerima rangsangan erotis Mang Udeng.

    Dia ingin menarik lepas jarinya dari vaginaku, jari yang terdiri dari 3 (tiga) bukubuku itu mulai terlepas satupersatu, Satu..Dua.., saat menuju ketiga, vaginaku reflex tidak rela dan menjepitnya, Whuuaa!reaksinya norak, merasa jarinya terjepit kencang vaginaku yang liat namun basah itu. Aku tariktarikan dengannya, namunJleebbh!!

    Aaannggh!!desahku, karena Mang Udeng mengerjaiku dengan mencoblos vaginaku dalamdalam.

    Hak hak hak haktawanya mesum karena berhasil mengerjaiku.

    (Ehhm..Shiit !! si tua bangka ini pandai membangkitkan gairah)keluhku dalam hati.

    Dia mengulangi lagi dengan menarik kembali jari tengahnya, Satu..!! Dua..!! saat menuju ketiga, vaginaku kembali reflex tidak rela dan menjepitnya, Aku yang kini tengah horny bersiapsiap untuk menerima tusukannya, namunPlooph!!

    Aauuhhdesahku,

    Sial, Mang Udeng menarik kasar jarinya tibatiba sehingga membuatku tidak sanggup menahan derita birahi ini ditambah sedang hornyhornynya. Dia menghirup jarinya yang sudah berselimut lendir vaginaku.

    Hhmmhwangi tenaaan..!!katanya.

    MmmhhEnyaak..gurih rek memek Neng Novy !!komentarnya,

    Sambil mengulum jari tengahnya yang belepotan lendirku, aku balik menatapnya.

    Oohini sex liar pertamaku, aku baru pernah merasa seksi seperti ini, kedua sahabatku berhasil menggali bakat hypersexku, menanamnya bersama dalam diriku dan merubah kehidupan sexku seperti mereka. Bahkan Ebrin mantanku pun tidak bisa membuatku melayang, bersamanya aku memang merasa cantik karena mendapatkan salah satu cowok paling keren di sekolah, tetapi tidak membuatku merasa seksi seperti perlakuan Mang Udeng padaku. Mamang memposisikan kedua tangannya pada kedua sisi pinggangku, matanya menatap nanar pada vaginaku yang terpampang jelas, seolaholah ingin menelannya, reflex kakiku merentang lebar siap menerima serangan mesumnya, nafas dan degup jantungku seirama semakin cepat, ketika aku melihat wajah Mang Udeng yang sama sekali tidak tampan itu mendekati vaginaku, 30 cm..20 cm..10 cm..5 cm, HapNyam !!

    Iyaaaahhh.desahku, saat dia melahap bibir vaginaku dengan ganas.

    Clek..clek..clek..clek..!!

    Lidah kasar Mamang keluar masuk vaginaku, aku hanya bisa mendesah dan mendesah menerima serangan birahinya. Lidahnya nakal sekali menyentilnyentil itilku, mulutnya yang hitam itu mengemut vaginaku dengan penuh nafsu hewani.

    Tak lama kemudian kurasakan tubuhku terbakar, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan mengerang sejadijadinya menggeliat sambil memeluk meja eraterat.

    Iyaaahh!!eranganku saat mencapai orgasme.

    CrreettCretSeerrCrrt !! Erangan panjangku itu menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya lendir cinta dari selangkanganku. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sampai terdengar suara menyeruputnya, aku mengejatngejat di atas meja belajar itu.

    Neng Novyjangan tidur dulukontol Mamang belum ngerasain memek Neng Novy pan..!katanya ditelingaku.

    Aku merasakan penisnya di bibir vaginaku, Aaahhtubuhku masih merasa lelah sekali sehabis orgasme barusan, dia baru ingin menyentakku lagi.

    Zrreeekk!!

    Aaaukkherang kami saat penisnya menyeruak masuk vaginaku.


    Mang Udeng menekan masuk penisnya paksa sehingga aku merasakan vaginaku seperti tersobek, tubuhku terbelah dua. Kepalaku yang tadinya tergeletak menyamping, langsung reflex meringis ke depan, mulutku membentuk huruf U tetapi tubuhku masih tengkurap tiduran di atas meja. Mang Udeng langsung bergerak brutal menyetubuhiku, tampaknya dia tidak perduli dengan kelelahan tubuh yang kuderita, dia ingin menggapai klimaksnya.

    Eengghhbusyeetseret tenan memek Neng NovyHhuuunngghh!!kejannya.

    Iyyaaahh!!desahku, saat Mang Udeng menghentak kasar masuk penisnya.

    Sambil menyentak, dia menyibak seragam belakangku hingga punggung putihku terlihat olehnya dan langsung dijilatnya, Braku tidak dilepasnya agar aku tidak merasakan sakit pada payudara karena tidur bergesekan dengan meja. Jilatannya sampai kurasakan pada leher jenjangku hingga akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yang tebal dan kasar itu.

    Huueeekk!!bau nafasnya sungguh tidak sedap, entah makan apa Mamang tadi pagi, tetapi lidahku tetap mengikuti permainannya dengan liar sampai ludah kami bertukar dan menetesnetes sekitar bibir. Dia berpegangan pada sisi meja depan dekat wajahku, sementara aku berpegangan di sisi belakang meja dimana bertepukan dengan paha hitam berbulunya yang penuh dengan peluh di sekujur permukaannya. Mang Udeng nampak mendekati ejakulasinya, mulutnya menceracau sambil menyentakku kasar terpentalpental hingga meja belajar yang kutiduri bergeser searah dengan sentakannya, terlihat sekali Mang Udeng ini ingin membalaskan dendam birahinya, karena tadi kakinya kubuat memar tertimpa tempat sampah, sentakan penisnya itu seolaholah menginginkan vaginaku juga memar,

    AaaannghhAaaannghhMaannghAmpuunnhhIyYaAaaAahHh!!

    Gila memek lugilaa memek luugilaa memek luuhHuUuunngghh !!lenguhnya,

    Tak lama kemudian kurasakan beberapa semburan cairan kental hangat yang membanjiri liang vaginaku, yang diikuti oleh meledaknya cairan orgasmeku, Mang Udeng menikmati sisasisa klimaks sambil memelukku, kami berkelojotan berdua bersamasama dibarengi dengan kejangankejangan di vagina dan penis masingmasing. Sisi meja pada bagian dekat vaginaku banjir sudah, lelehan lendir cinta orgasmeku dan sperma Mang Udeng membanjirinya, setelahnya Mang Udeng duduk di bangku sebelah dekat mejaku, tibatiba, Braaakk!!, pintu terbuka,

    AaahhAaahhYeesssFuck meDeepeer!!desah Shekti,

    Dia sedang digarap Pak Baba dengan gaya monyet memanjat pohon kelapa, tentu dengan postur satpamnya yang tegap kekar itu, bukan suatu hal yang sulit untuk mengangkat atau menaik turunkan tubuh Shekti, walaupun tubuh Shekti tergolong tinggi karena blasteran. Karena ini hal yang baru buatku melihat kegilaan kedua sahabatku ini, maka kupaksakan sedikit tenagaku untuk menoleh melihat kegiatan seks mereka, Pak Martaba dan Shekti melakukan posisi seks itu sambil berjalan mendekati bangku guru.


    Tidak jauh dari pintu kudengar erangan Joyce dan lenguhan nikmat Pak Ismet, kulempar padangan dan betul saja, Pak Ismet sedang asyik mendoggy Joyce, gadis cantik IndoEuro seprofile dengan Nadine Chandrawinata itu dijambak rambutnya oleh tukang sapu dan kebun sekolah itu, tangan kiri Pak Ismet menamparnampar pantatnya yang putih sekal, wajah cantik Joyce merigis setiap kali tangan gempal Pak Ismet mendarat di bongkahan padat nan montok Joyce. Tangan kirinya sesekali juga membetot pundak Joyce kebelakang berlawanan dengan hentakan penisnya ke depan. Pak Ismet menyeringai mesum saat mata kami bertemu pandang, dia seolaholah bangga bisa menggarap sahabat cantikku itu di depanku, memang sahabatku Joyce itu salah satu gadis incaran para cowok, hanya patah hatinyalah yang membuatnya tidak ingin memiliki pacar lagi sejak kelas 2. Pak Martaba tibatiba melenguh keras seperti kerbau, Shekti menjadi semakin menjeritjerit karena vaginanya ditumbuk paksa dalamdalam agar menjepit dan memberikannya kenikmatan, tibatiba Pak Martaba mendudukkan diri sehingga penisnya menghentak dalamdalam vagina Shekti, Jleeegg!!!

    Aaaakkhh.!!!erangan nikmat mereka berdua,

    CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

    Pak Martaba mencapai klimaksnya bersamaan dengan Shekti, cairan mereka meluber dari vagina Shekti, mereka mengejatngejat nikmat sambil berpelukan dan bertataptatapan, setelahnya Pak Baba mendudukkan Shekti pada meja guru, Shekti yang merasa kelelahan langsung menyenderkan diri di dinding, duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang memar kemerahan namun dipenuhi gumpalan cairan kental putih pekat yang masih meneretes keluar, Pak Baba yang masih mengenakan baju satpam tanpa celana sepotong pun juga, mengambil rokok dari kantung baju satpamnya, menyalakan dan menawarkan ke Shekti yang disambutnya, si cantik blasteran Kanada itu menaruh rokok di mulut tipis seksinya, dan Baba menyalakan api untuknya, mereka menghisap rokok dan berbincang yang aku tak dengar, Shekti mengerlingkan mata kirinya dengan genit ke arahku karena aku melihat ke vaginanya yang babak belur karena ulah penis Pak Martaba.

    Kami mempertemukan senyum karena keadaan kami samasama porak poranda akibat oknum petugas sekolah bejat, tidak lama aku mendengar Pak Ismet menggeram seperti seekor kerbau, Huuunngghh.!! Tukang sapu berbadan gemuk itu mencapai ejakulasi dengan menyentak kasar sahabatku Joyce yang cantik itu dari posisi menungging doggy style hingga jatuh tengkurap ditindih tubuh gendutnya itu, Joyce hanya menjeritjerit pasrah dengan rambut merahnya yang dijambak Pak Ismet, pantatnya yang sekal itu melekat ketat dengan perut bagian bawah Pak Ismet yang dipenuhi bulu, buah zakarnya bertemu sapa dengan bibir vagina, tukang sapu gemuk itu mengejatngejat keenakan, bisa dilihat dari wajahnya, kaki Joyce sampai menekuk dan menendangnendang punggung berlemak tukang sapu tua itu. Dia terus menekan penis itu di masa ejakulasinya, Pak Ismet terus saja menggenjotkan penisnya di liang kewanitaan Joyce, dibenamkan penis gemuknya itu dalamdalam untuk menuntaskan ejakulasinya, sambil memutarmutar kepalanya seperti orang gila. Tukang sapu sekolah itu sampai bergidik nikmat menuntaskan ejakulasinya meneteskan sisasisa spermanya di dalam vagina Joyce sebelum terkapar lemas dan menindih Joyce. Tak lama kemudian, Pak Ismet pun bangkit meninggalkan Joyce sahabat cantikku yang masih terkapar, kulihat penisnya masih lemas diselimuti lendir sperma menjijikkannya yang putih pekat dan kental,

    Woi Dengnyobain memek Novy dong!!kata Pak Ismet asal pada Mang Udeng.

    (Ooh Crapbakal tuker pasangan sampe kelenger nih gue n tementemen Damn..!),

    Keluhku dalam hati,

    Woi wointar dulu Met..lo entotin cewe lo dulu nih, Novy gue duluan si Udeng Joyce, baru elo Novy, gue Joyce, si Udeng Shekti..!!protes Pak Martaba mengatur.


    Oh iya yaok deh..!!sahut Pak Ismet mudah, tidak memikirkan kondisi tubuh kami.

    Siap Bosasyiik !kata Mang Udeng semangat sambil hormat, dia berlari menuju pintu luar ke arah Joyce yang terkapar, dan membangunkannya untuk dibuatnya lagi pingsan.

    Pak Ismet meninggalkanku mendekati Shekti dan Pak Baba,

    Sana Bagarap Novygantiangua udah kaga sabar pengen ngentotin dia ! kata si gendut Ismet.

    Set dahnafsu bener kagak sabar!! Entot aja dulu nih cewe luhenak banget lo Met memeknya..pantes lu doyan bener !!sahut Pak Baba.

    Iya tuh Paksi gembrot ini doyan banget ngentotin gue ampe kelenger kaya Joyce tuh! tunjuk Shekti pada Pak Baba keluar. Dimana Joyce masih terkapar dan sedang disadarkan Mang Udeng. Pak Baba hanya tertawa melihat ke arah luar.

    Ya iyalahNeng Shekti ini kan udah cantik memeknya seret lagi !!pujinya mesum.

    Shekti hanya tersenyum sambil menghembuskan asap rokok ke arah Pak Ismet, dan Pak Ismet hanya menyeringai dan melirik ke selangkangan Shekti yang terbuka lebar.

    Waduuhgile lu Bamemek Neng Shekti ampe babak belur gini !!protes Pak Ismet.

    Ehehehenyoriabis enak pisan sihsahut Pak Baba enteng.

    Weleehmana banyak pejunya lagi !!omelnya lagi.

    Ha ha ha hayahh..si Joyce sama Novy juga paling sama keadaannya..kata Pak Baba membela diri.

    Ya udahkita bersihin dulu aja ya biasa..!!usul Pak Ismet.

    Ok dehgua bangunin Novy dulu!!jawab Pak Baba.

    Pak Martaba membangunkan tubuhku yang masih terasa sedikit lemas, dia memapahku untuk menuju keluar kelas, yang entah untuk apa aku tak tahu menahu, dan kemudian di dudukannya aku di lantai sebelah Joyce yang sudah pulih duduk. Kami melihat ke dalam kelas. Yuk Nengsini !!. Sreet!! tarik Pak Ismet kasar pada pergelangan kaki Shekti yang mengangkang.

    Hmmphsavar Vak !!kata Shekti tak jelas katakatanya, karena di bibir tipis seksinya masih terdapat rokok A Mild yang mengepul. Setelah sampai di sisi meja guru, tukang sapu sekolah itu juga memapah Shekti, tangan gempal si gendut itu memapah Shekti pada bagian paha dan melingkari punggung menangkup payudaranya. Mereka bertataptatapan seperti pasangan bulan madu saja, Shekti memberikan rokok yang ditangannya untuk dihisap Pak Ismet, setelah itu mereka berpagutan sampai keluar kelas.


    Yak okeylangsung nih ya !!kata Pak Ismet.

    Ok Bos!!jawab Pak Baba. Aku dan Mang Udeng belum mengerti benar maksudnya.

    Pak Ismet menurunkan Shekti dan berlalu meninggalkan kami, tak lama dia mengambil ember berisi air, dan menaruhnya dekat selokan (saluran air dari genteng sekolah jikalau hujan), juga botol cairan yang kutahu milik Shekti untuk pembersih kewanitaannya agar vaginanya selalu bersih dan wangi.

    Ayo lontelonte!!kata Pak Ismet dan Pak Martaba sambil menepuk tangan.

    Seperti pelacur saja, Joyce dan Shekti bangun dan menyeretku, aku bingung apa maksud mereka, (Ooh Shiit !!), dalam hatiku. Shekti dan Joyce berjongkok seperti mau pipis di kamar mandi saja, mereka seperti mengambil jarak, mata jelita Joyce mengedipiku agar aku juga berposisi sama dengan mereka. Untuk solidaritas akupun mengikutinya, lalu Pak

    Ismet dan Pak Baba mengambil posisi berjongkok juga di depanku dan Shekti.

    Dengitutuhsi Joyce..lu mau gak ??ancam Pak Ismet rakus.

    Oyayahehehe maklum belum mudeng (nyambung) akujawab Mamang.

    Pak Ismet dan Pak Baba mengambil air bergantian, membasuh vaginaku dari panasnya gesekan penis Mamang tadi, Pak Ismet juga membersihkan vagina Shekti dan kadangkadang jari gemuknya ditusukkan ke dalam vagina Shekti hingga si manis itu mendesah seksi. Begitu juga Pak Baba melakukannya padaku, aku dan Shekti yang berpegangan di bahu mereka, hanya bisa mendesah sambil mencakar atau menancapkan kukukuku jari kami yang lentik ke bahu mereka, jika tusukan jari mereka terlalu dalam. Mang Udeng menganggukangguk tanda konek, dia juga mengambil gayung dan hendak disiramkan ke vagina Joyce yang memar dan belepotan sperma menjijikkan hasil karya Pak Ismet, namun Joyce mencegahnya, Mang Udeng bingung, dia melihat wajah Joyce mengejan cantik dan, Cuuuuurr.!! Pissing, Joyce pipis di depan Mang Udeng, tukang sampah itu hampir pingsan melihat gadis SMP, berwajah Indo, berambut sedikit pirang, cantik jelita, berkulit putih berbody aduhai, pipis di depan matanya, Jelegeerr!! Bagaikan disambar geledek, akupun belum pernah lihat langsung, secara walaupun kami sesama wanita, Mang Udeng melotot tajam penuh nafsu, dia yang juga sudah bugil dan juga sudah mulai konak sedari tadi melihat para gadisgadis cantik itu berjongkok, penis itu semakin mengacung tinggi.

    Huak hak hakajiiibbaru pernah gua liat cewek kencingcantik pula orangnya !! komentarnya senang mendapat pengalaman baru. Setelah selesai dia membasuhnya dan membilasnya dengan sabun pembersih kewanitaan milik Shekti yang diambil Joyce.

    Para pria berumur itu tampak senang sekali memandikan vagina kami, cukup lama juga mereka membersihkannya. Mang Udeng yang baru pertama kali paling tidak tahan, dia terkadang mengangkat pinggang Joyce lalu melahap vaginanya hingga air basuhan yang ada di vaginanya kering kerontang, malah lendir vagina yang terproduksi. Selanjutnya dia menyeret Joyce ke dalam kelas untuk disetubuhinya, menyeret Joyce pun masih dengan wajahnya yang terbenam di selangkangan Joyce. Pak Ismet dan Pak Baba juga menyeret aku dan Shekti untuk kembali disetubuhi, karena masih lemas kami bertiga diposisikan menungging oleh mereka, Joyce di meja pertama dekat pintu kelas, aku ditempatku tadi deret kedua, dan si manis Shekti di deret ketiga di sebelah deretan meja guru. Aku dan temantemanku hanya bisa mengerangerang tak berdaya, para pejantan buruk rupa itu seperti berlombalomba layaknya pacuan kuda saja, vaginaku terasa dirobek oleh penis Pak Martaba, penisnya panjang sekali menyodoknyodok vaginaku, sodokannya itu seperti ingin membelah tubuhku melalui media vagina, keadaanku ini kurasa sama dirasa oleh para sahabatku. Kami bertiga berteriak seperti orang gila, bahkan Joyce dan Shekti yang telah terbiasa dengan sex bebas seperti ini dengan mereka, tak mampu jua melayani para petugas sekolah rendahan yang haus seks itu, mereka menggebrakgebrak meja kelas yang ditidurinya, hingga menimbulkan suara gaduh dan menggema, meramaikan suasana persengamaan kami. Rasa frustasi karena Cinta dan jengahnya kehidupan di rumah, kami lampiaskan dengan kehancuran diri, kami tidak berfikir lagi untuk masa depan, kemaluan yang seharusnya kami jaga untuk pasangan hidup terCinta kelak tak terpikirkan, semakin hancur tubuh yang kami rasakan semakin lega perasaan, hancur ya hancur, hanya katakata itu yang ada di benak kami, kami telah bulat, Ended to be a Broken Bitches.


    HuUuunngghhHuUuunngghhHuUuunngghhHuUuunngGghh !!!geram mereka, menyentak masuk penis sekuat tenaga, aku sudah tak kuat, kami saling menoleh melihat keadaan masingmasing sahabat, mata kami sudah sayu seksi, menuju klimaks seks, meja yang kami tiduri pun terdorong ke depan bersamaan hingga porak poranda sebagaimana vagina kami, tamparan demi tamparan keras kami terima di pantat, tidak kuat lagi maka akupun berteriak menuju orgasme, diikuti Shekti dan Joyce tak lama.

    IyaaaahhhPaaaakkhh.Aaaaaaaaaaakkhhhhh!!!erang kami lantang.

    Uwooooooooookkhhhh!!!Pak Ismet, Pak Baba dan Mang Udeng juga mengejang.

    CROOOOTTTTS !!! CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

    Dan mereka bertiga pun juga menyusul ejakulasi hampir bersamaan, tubuh kami berenam mengejatngejat nikmat, penis dan vagina kami mengejangngejang, cairan lengket dan kental itu bertemu, pertemuan antara lendir vagina dan sperma, vaginaku ngilu sekali saat disembur sperma Pak Martaba yang semprotannya kencang seperti semprotan pemadam kebakaran itu. Penis itupun tak lama berhenti berkedutkedut berhenti memancarkan spermanya, para petugas sekolah itu akhirnya menarik lepas penisnya dan duduk berselonjoran di lantai kelas, meninggalkan kami dalam keadaan porak poranda di selangkangan dengan posisi menungging, vagina memar lebam dan penuh sperma menjijikkan. Mereka bertiga betulbetul memperlakukan kami seperti pelacurnya saja. Berbicara tak senonoh dengan katakata yang jorok tentang enaknya memek kami dsb. Setelah cukup tenaga, mereka bangkit dan hendak bertukar pasangan.

    Naaahhdari tadi Bapak mau nyobain memek Neng Novy ini hak hak haktawa Pak Ismet mesum. (Oooohhcrap !! ancur memek gue hari ini !!), keluhku dalam hati.

    Plaaaakk!! Plaaaakk!!, tangan gempalnya menampari pantat sekal putihku.

    Pak Ismet memasukkan paksa penisnya yang gemuk itu ke liang vaginaku, sekarang aku merasakan sesak yang dialami oleh Joyce dan Shekti tadi. Si tua gembrot itu juga tampak sesak nafas penisnya terjepit vaginaku yang katanya legit. Dia menyodokku sambil meremas pantatku dengan gemas, yang sesekali ditamparnya kasar hingga menimbulkan bercak merah bergambar telapak tangan, sementara diriku masih berpegangan pada sisi meja, dimana mejaku sudah mendorong habis meja di depannya hingga mentok ke dinding, jadi saat disodok gahar Pak Ismet menimbulkan bunyi gaduh, Jdukjduk..!!.

    Kami pun kembali bersenggama bersamasama, lagi dan terus dan terus, menjadi objek pembuangan sperma, setelah keluar sperma, mereka mencabut penis dan beristirahat, lalu bertukar pasangan lagi, aku dan para sahabatku hanya pasrah menungging menjadi media pengosongan kantung sperma dan pelampiasan nafsu hewani mereka.

    Pokoknya hari itu hingga sore hari dimana mentari hendak menyembunyikan senyumnya, kami berenam ngeseks tanpa mengenal waktu dan rasa lelah, vagina kami bertiga digarap hingga terasa perih karena terus menerus dipaksa menjepit dan menggesek penis mereka, punwalau pada akhirnya disembur cairan hangat dan kental sehingga membasuh lecetnya dinding vagina kami, keluar ruangan keadaan kami seperti sebuah benteng yang dirudal, berantakan dan awutawutan, jalan kami bertiga menyeret karena perih di selangkangan, sedangkan para petugas bejat itu tertawatawa melihat keadaan kami, Joyce yang paling malang karena dengan keadaan itu dia harus mengantar kami pulang dengan mobilnya. Kejadian itu terus terjadi setiap hari, di samping kami juga menyukai hal itu, jadi baik itu setiap pulang sekolah, hari libur tanggal merah maupun minggu, kami selalu sex party bertiga, berpindahpindah lokasi jika kami ingin mengganti suasana, misal : Villa Shekti, sekitar puncak Bogor, Dago Bandung, penginapan mewah Joyce di Pulau Bidadari dsb.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Pasutri.

  • Kisah Memek Asri Si Ratu Senggama (ngentot)

    Kisah Memek Asri Si Ratu Senggama (ngentot)


    3072 views

    Duniabola99.com – Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di kota Gudeg Yogyakarta,majikanku seorang janda berusia 50 thn, Ibu Sumiati yang masih bekerja sebagai
    pegawai negeri di Gubernuran. Anaknya 3 orang.Yang pertama perempuan, Aryati
    28 thn, bekerja sebagai sekretaris, 2 bulan lagi menikah. Yang kedua juga
    perempuan, Suryati 25 thn, bekerja sebagai guru. Yang ketiga laki-laki, satu-
    satunya laki-laki di rumah ini, tampan dan halus budi-pekertinya, Harianto 22
    thn, masih kuliah, kata Ibu Sum, Mas Har (demikian aku memanggilnya) tahun
    depan lulus jadi insinyur komputer. Wah hebat, sudah guaaanteng, pinter pula…


    Setiap pagi, aku selalu bangun jam 4:30, sebelum bekerja aku sudah mandi dengan
    sangat bersih, berpakaian rapi. Aku selalu memakai rok panjang hingga semata-
    kaki, bajuku berlengan panjang. Aku tahu, Ibu Sum senang dengan cara
    berpakaianku, dia selalu memujiku bahwa aku sopan dan soleha, baik sikap yang
    santun, maupun cara berpakaian. Meskipun begitu, pakaianku semuanya agak ketat,
    sehingga lekuk-lekuk tubuhku cukup terlihat dengan jelas.

    Mas Har sering melirik ke arahku sambil terkagum-kagum melihat bentuk tubuhku,
    aku selalu membalasnya dengan kedipan mata dan goyangan lidah ke arahnya,
    sehingga membuat wajahnya yang lugu jadi pucat seketika. Paling telat jam 7:15,
    mereka semua berangkat meninggalkan rumah, kecuali Mas Har sekitar jam 8:00.
    Aku tahu, Mas Har sangat ingin menghampiriku dan bercumbu denganku, tapi ia
    selalu nampak pasif, mungkin ia takut kalau ketahuan ibunya. Padahal aku juga
    ingin sekali merasakan genjotan keperjakaannya.

    Pagi itu, mereka semua sudah pergi, tinggal Mas Har dan aku yang ada di rumah,
    Mas Har belum keluar dari kamar, menurut Ibu Sum sebelum berangkat tadi bahwa
    Mas Har sedang masuk angin, tak masuk kuliah. Bahkan Ibu Sum minta tolong
    supaya aku memijatnya, setelah aku selesai membersihkan rumah dan mencuci
    pakaian. “Baik, Bu!”, begitu sahutku pada Ibu Sum. Ibu Sum sangat percaya
    kepadaku, karena di hadapannya aku selalu nampak dewasa, dengan pakaian yang
    sangat sopan. Setelah pasti mereka sudah jauh meninggalkan rumah, aku segera
    masuk kamarku dan mengganti pakaianku dengan rok supermini dan kaus singlet
    yang ketat dan sexy. Kusemprotkan parfum di leher, belakang telinga, ketiak, pusar
    dan pangkal pahaku dekat lubang vagina. Rambutku yang biasanya kusanggul,
    kuurai lepas memanjang hingga sepinggang. Kali ini, aku pasti bisa merenggut
    keperjakaan Mas Har, pikirku.

    “Mas Har. Mas Har!” panggilku menggoda, “tadi Ibu pesan supaya Mbak Sri memijati
    Mas Har, supaya Mas Har cepat sembuh. Boleh saya masuk, Mas Har?”

    Pintu kamarnya langsung terbuka, dan nampak Mas Har terbelalak melihat
    penampilanku,
    “Aduh, kamu cantik sekali, Mbak Sri… Persis Desy Ratnasari… ck, ck, ck…”

    “Ah, Mas Har, bisa saja, jadi mau dipijat?”

    “Jadi, dong…” sekarang Mas Har mulai nampak tidak sok alim lagi, “ayo, ayo…”,
    ditariknya tanganku ke arah tempat tidurnya yang wangi….

    “Kok Wangi, Mas Har?” Rupanya dia juga mempersiapkan tempat tidur percumbuan
    ini, dia juga sudah mandi dengan sabun wangi.

    “Ya dong, kan ada Desy Ratnasari mau datang ke sini,”.

    Kami mulai mengobrol ngalor-ngidul, dia tanya berapa usiaku, dari mana aku
    berasal, sudah kawin atau belum, sudah punya anak atau belum, sampai kelas
    berapa aku sekolah. Omongannya masih belum “to-the-point” , padahal aku sudah
    memijatnya dengan sentuhan-sentuhan yang sangat merangsang. Aku sudah tak
    sabar ingin bercumbu dengannya, merasakan sodokan dan genjotannya, tapi
    maklum sang pejantan belum berpengalaman.


    “Mas Har sudah pernah bercumbu dengan perempuan?”, aku mulai mengarahkan
    pembicaraan kami, dia hanya menggeleng lugu.

    “Mau Mbak Sri ajari?”, wajahnya merah padam dan segera berubah pucat. Kubuka
    kaus singletku dan mulai kudekatkan bibirku di depan bibirnya, dia langsung
    memagut bibirku, kami bergulingan di atas tempat tidurnya yang empuk dan wangi,
    kukuatkan pagutanku dan menggigit kecil bibirnya yang merah delima, dia makin
    menggebu, batang kontolnya mengeras seperti kayu…

    Wow! dia melepas beha-ku, dan mengisap puting susuku yang kiri, dan meremas-
    remas puting susuku yang kanan…

    “Aaah.. sssshhhh, Mas Har, yang lembut doooong…” desahku makin membuat
    nafasnya menderu…

    “Mbak Sri, aku cinta kamu….” suaranya agak bergetar..

    “Jangan, Mas Har, saya cuma seorang Pembantu, nanti Ibu marah,” kubisikkan
    desahanku lagi…. Kulucuti seluruh pakaian Mas Har, kaos oblong dan celana
    pendeknya sekaligus celana dalamnya, langsung kupagut kontolnya yang sudah
    menjulang bagai tugu monas, kuhisap-hisap dan kumaju-mundurkan mulutku
    dengan lembut dan terkadang cepat…

    “Aduuuh, enaaaak, Mbak Sri….” jeritnya…

    Aku tahu air-mani akan segera keluar, karena itu segera kulepaskan kontolnya, dan
    segera meremasnya bagian pangkalnya, supaya tidak jadi muncrat. Dia membuka
    rok-miniku sekaligus celana dalamku, segera kubuka selangkanganku.

    “Jilat itil Mbak Sri, Mas Haaaarrr…, yang lamaaa…”, godaku lagi… Bagai robot, dia
    langsung mengarahkan kepalanya ke nonokku dan menjilati itilku dengan sangat
    nafsunya….
    “Sssshhhh, uu-enaaak, Mas Haaaarrrr… ., sampai air mani Mabk Sri keluar, ya mas
    Haaar”.

    “Lho, perempuan juga punya air mani..?” tanyanya blo’on. Aku tak menyahut karena
    keenakan…

    “Mas Haaarrr, saya mau keluaaar…” serrrrrr…. serrrrrrrrr. … membasahi wajahnya
    yang penuh birahi.

    “Aduuuuh, enak banget, Mas Har! Mbak Sri puaaaaaassss sekali bercinta dengan Mas
    Har….. kontol Mas Har belum keluar ya? Mari saya masukin ke liang kenikmatan
    saya, Mas! Saya jamin Mas Har pasti puas-keenakan. …”

    Kugenggam batang pelernya, dan kutuntun mendekati lubang nonokku, kugosok-
    gosokkan pada itilku, sampai aku terangsang lagi… Sebelum kumasukkan batang
    keperkasaannya yang masih ting-ting itu ke lubang nonokku, kuambil kaos singletku
    dan kukeringkan dulu nonokku dengan kaos, supaya lebih peret dan terasa
    uuenaaaak pada saat ditembus kontolnya Mas Har nanti…

    “Sebelum masuk, bilang ‘kulonuwun’ dulu, dong sayaaaaaang. ..”, Candaku….

    Mas Har bangkit sebentar dan menghidupkan radio-kaset yang ada di atas meja kecil
    di samping ranjang….. lagunya…. mana tahaaaan….

    “Kemesraan ini Janganlah Cepat Berlalu….. .”

    “Kulonuwun, Mbak Sri cintakuuuuu. …”

    “Monggo, silakan masuk, Mas Haaaarrr Kekasihkuuuuu. ..”, segera kubuka lebar-
    lebar selangkanganku, sambil kuangkat pinggulku lebih tinggi dan kuganjel dengan
    guling yang agak keras, supaya batang kenikmatannya bisa menghunjam dalam-
    dalam. … Sreslepppppp. …….. blebessss… ..


    “Auuuuuow… .”, kami berdua berteriak bersamaan… ..

    “Enaaaak banget Mbak Sri, nonok Mbak Sri kok enak gini sih….?”

    “Karena Mbak Sri belum pernah melahirkan, Mas Har… Jadi nonok Mbak Sri belum
    pernah melar dibobol kepala bayi….. kalau pernah melahirkan, apalagi kalau sudah
    melahirkan berkali-kali, pasti nonoknya longgar sekali, dan nggak bisa rapet seperti
    nonoknya Mbak Sri begini, sayaaaaang.. . lagi pula Mbak selalu minum jamu sari-
    rapet, pasti SUPER-PERET. …”, kami berdua bersenggama sambil cekikikan
    keenakan… Kami berguling-guling di atas ranjang-cinta kami sambil berpelukan erat
    sekali….

    Sekarang giliranku yang di atas… Mas Har terlentang keenakan, aku naik-turunkan
    pinggulku, rasanya lebih enak bila dibanding aku di bawah, kalau aku di atas, itilku
    yang bertumbukan dengan tulang selangkang Mas Pur, menimbulkan rasa nikmat
    yang ruaaaaarbiassssa uu-enaaaaaaknya. ….

    Keringat kami mulai berkucuran, padahal kamar Mas Har selalu pakai AC, sambil
    bersenggama kami mulut kami tetap berpagutan-kuat. Setelah bosan dgn tengkurap
    di atas tubuh Mas Har, aku ganti gaya. Mas Har masih tetap terlentang, aku
    berjongkok sambil kunaik-turunkan bokongku. Mas Har malah punya kesempatan
    untuk menetek pada susuku, sedotannya pada tetekku makin membuatku tambah
    liar, serasa seperti di-setrum sekujur tubuhku.

    Setelah 10 menit aku di atas, kami berganti gaya lagi… kami berguling-gulingan lagi
    tanpa melepaskan kontol dan nonok kami.

    Sekarang giliran Mas Har yang di atas, waduuuuh… sodokannya mantep sekali…
    terkadang lambat sampai bunyinya blep-blep-blep. .. terkadang cepat plok-plok-
    plok. .. benar-benar beruntung aku bisa senggama dengan Mas Harianto yang begini
    kuaaaatnya, kalau kuhitung-kuhitung sudah tiga kali air nonokku keluar karena
    orgasme, kalau ditambah sekali pada waktu itilku dijilati tadi sudah empat kali aku
    orgasme… benar-benar nonokku sampai kredut-kredut karena dihunjam dengan
    mantapnya oleh kontol yang sangat besar dan begitu keras, bagaikan lesung
    dihantam alu….. bertubi-tubi. … kian lama kian cepat…… waduuuuhhhhh. …..
    Wenaaaaaaaaakkkkk tenaaaaan… …

    “Mbak Sri, aku hampir keluaaaaaar nih…!!” ….

    “Saya juga mau keluar lagi untuk kelima kalinya ini, Mas Haaaaar…. Yuk kita
    bersamaan sampai di puncak gunung kenikmatan, yaaa sayaaaaanngggg”

    “Ambil nafas panjang, Mas Har… lalu tancepkan kontolnya sedalam-dalamnya
    sampai kandas…… baru ditembakkan, ya Maaaasss… ssssshhhhhh. …….”


    Sambil mendesis, aku segera mengangkat pinggulku lagi, kedua kakiku kulingkarkan
    pada pinggangnya, guling yang sudah terlempar tadi kuraih lagi dan kuganjelkan
    setinggi-tingginya pada pinggulku, hunjaman kontol Mas Har semakin keras dan
    cepat, suara lenguhan kami berdua hhh…hhhhh. …hhhhhh. …. seirama dengan
    hunjaman kontolnya yang semakin cepat…..

    “Tembakkan sekaraaaaang, Maaaasssss!” , Mas Har menancapkan kontolnya lebih
    dalam lagi, padahal sedari tadi sudah mentok sampai ke mulut rahimku….
    bersamaan dengan keluarnya air nonokku yang kelima kali, Mas Har pun
    menembakkan senjata otomatis berkali-kali dengan sangat kerasnya….

    CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!!
    CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! Berhenti sebentar dan CROOTTTTT!!!
    CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! lagi….. Seperti wong edan, kami berdua berteriak
    panjaaaaanggg bersamaan;

    “Enaaaaaaaaaakkkkk! “….. sekujur tubuhku rasanya bergetar semuanya… dari
    ujung kepala sampai ujung kaki, terutama nonokku sampai seperti “bonyok”
    rasanya….. Mas Har pun rebah tengkurep di atas tubuh telanjangku. …. sambil
    nafas kami kejar-mengejar karena kelelahan…

    “Jangan cabut dulu, ya Maaasss sayaaaang… masih terasa enaknya… tunggu
    sampai semua getaran dan nafas kita reda, baru Mas Har boleh cabut yaaa……”
    pintaku memelas….. kami kembali bercipokan dengan lekatnya…. .. kontolnya
    masih cukup keras, dan tidak segera loyo seperti punya mantan-mantan suamiku
    dulu….

    “Mbak Sri sayaaaang, terima kasih banyak ya….. pengalaman pertama ini sungguh-
    sungguh luar biasa… Mbak Sri telah memberikan pelayanan dan pelajaran yang
    maha-penting untuk saya…… saya akan selalu mencintai dan memiliki Mbak Sri
    selamanya… .”

    “Mas Har cintaku, cinta itu bukan harus memiliki… tanpa kawin pun kalau setiap
    pagi –setalah Ibu & Mbak-mbak Mas Har pergi kerja–, kita bisa melakukan
    senggama ini, saya sudah puas kok, Massss….. Apalagi Mas Harianto tadi begitu
    kuatnya, setengah jam lebih lho kita tadi bersetubuhnya, Mas! Sampai nonok saya
    endut-endutan rasanya tadi…..”

    “Aku hari ini tidak pergi kuliah, kebetulan memang ada acara untuk mahasiswa
    baru… jadi ndak ada kuliah…”, kata Mas Harianto.


    “Nah… kalau begitu, hari ini kita kan punya banyak waktu, pokoknya sampai
    sebelum Ibu dan Mbak-mbak Mas Har pulang nanti sore, kita main teruuuusss,
    sampai 5 ronde, kuat nggak Mas Har?”, sahutku semakin menggelorakan birahinya.

    “Nantang ya?” Tanyanya sambil tersenyum manis, tambah guanteeeeng dia…..

    “aku cabut sekarang, ya Mbak? sudah layu tuh sampai copot sendiri….”

    kami tertawa cekikikan dengan tubuh masih telanjang bulat…. setelah mencabut
    kontolnya dari nonokku, Mas Har terlentang di sisiku, kuletakkan kepalaku di atas
    dadanya yang lapang dan sedikit berbulu…. radio kaset yang sedari tadi terdiam,
    dihidupkan lagi… lagunya masih tetap “kemesraan ini janganlah cepat berlaluuuuuu.
    …”

    Setelah lagunya habis, “Mas sayaaang, Mbak Sri mau bangun dulu ya…. Mbak Sri
    harus masak sarapan untuk Mas….”

    “Untuk kita berdua, dong, Mbak Sri…. masak untuk dua porsi ya… nanti kita makan
    berdua sambil suap-suapan. Setuju?”, sambil ditowelnya tetekku, aku kegelian dan
    “auuuwwww! Mas sudah mulai pinter nggangguin Mbak Sri ya.., Mbak Sri tambah
    sayang deh”.

    Aku bangkit dari ranjang, dan berlari kecil ke kamar mandi yang jadi satu dengan
    kamar tidurnya,

    “Mas, numpang cebokan, ya…”

    Kuceboki nonokku, nonok Asri yang paling beruntung hari ini, karena bisa merenggut
    dan menikmati keperjakaan si ganteng Mas Har… waduuuuhhh.. . benar-benar
    nikmat persetubuhanku tadi dengannya.. meskipun nonokku sampai kewalahan
    disumpal dengan kontol yang begitu gede dan kerasnya — hampir sejengkal-
    tanganku panjangnya.. .. wheleh.. wheleh….

    “Sebelum bikin nasi goreng, nanti Mbak bikinkan Susu-Telor-Madu- Jahe (STMJ) buat
    Mas Har, biar ronde-ronde berikutnya nanti Mas tambah kuat lagi, ya sayaaaaaang.
    …”


    Kuambil selimut dan kututupi sekujur tubuhnya dengan selimut, sambil kubisikkan
    kata-kata sayangku… “Sekarang Mas Har istirahat dulu, ya…” kuciumi seluruh
    wajahnya yang mirip Andy Lau itu…

    “Terima kasih, Mbak Sri… Mbak begitu baik sama saya… saya sangat sayang sama
    Mbak Sri…”.

    Kupakai pakaianku lagi, segera aku lari ke dapur dan kubuatkan STMJ untuk
    kekasihku… . setelah STMJ jadi, kuantarkan lagi ke kamarnya,

    “Mas Har sayaaaang… . mari diminum dulu STMJ-nya, biar kontolnya keras kayak
    batang kayu nanti, nanti Mbak Sri ajari lagi gaya-gaya yang lain, ada gaya

    kuda-kudaan, anjing-anjingan, gaya enam-sembilan (69), dan masih ada seratus
    gaya lagi lainnya, Masssss,” kataku membangkitkan lagi gelora birahinya… selesai
    minum diciuminya bibirku dan kedua pipiku…. dan Mas Harianto-ku, cintaanku, tidur
    lagi dengan tubuh telanjang dilapisi selimut.

    Aku segera kembali ke tempat biasanya aku mencuci pakaian majikanku, menyapu
    rumah dan mengepelnya. . semua kulakukan dengan cepat dan bersih, supaya tidak
    ada ganjelan utang kerjaan pada saat bersenggama lagi dengan Mas Har nanti….

    Kumasakkan nasi goreng kesukaan Mas Har dalam porsi yang cukup besar, sehingga
    cukup untuk sarapan berdua dan juga makan siang berdua… hmmm…. nikmat dan
    mesranya… seperti penganten baru rasanya…

    Setelah nasi gorengnya jadi, kusiapkan dalam piring yang agak lebar, kutata
    penyajian dengan kelengkapan tomat, timun, telur mata-sapi, dan kulengkapi pula
    dengan sebuah pisang mas yang agak mungil, kusiapkan pula segelas coca-cola
    kesukaannya. Dengan memakai daster tipis tanpa beha dan celana dalam,
    kuantarkan makanan tadi ke kamarnya. Langsung kubuka saja pintu kamarnya…

    Aduh! Betapa terkejutnya diriku, ketika kulihat Mas Har sudah bangun dari tidurnya,
    tanpa memakai selimut lagi, Mas Har sedang ngeloco (mengocok kontolnya), dengan
    wajah merah-padam. .. Segera kuletakkan makanan di atas meja tulisnya..

    “Aduuuuhhh, jangan seperti itu, sayang, ngocoknya… nanti bisa lecet… nanti pasti
    Mbak Sri kocokkan… tapi Mas Har harus makan dulu, supaya ada tenaga lagi…
    kalau ndak makan dulu, nggak bisa kuat dan tahan lama senggamanya, Mas!”

    Kutanggalkan dasterku, segera dia menyergap tubuh telanjangku, dihisapnya puting
    tetekku yang kanan, sedang tangannya memilin tetekku yang kiri… Kupikir ini pasti
    gara-gara STMJ tadi,

    “Sabar dong, Mas-ku tersayaaaaang. .., yuk kita makan nasi goreng kesukaan Mas,
    sepiring berdua Mas, kayak judulnya lagu dangdut…”

    Kusuapi Mas Har-ku dan disuapinya pula aku, sambil tangannya mengkilik-kilik itilku
    dengan sangat birahinya. Wah! Edhiaan tenan reaksi STMJ tadi…. Hihihi…

    “Mas Har sayang, jangan kenceng-kenceng dong kilikannya, nggak nikmaaat…. “,
    dia memperlambat kilikannya, sambil kami lanjutkan dan tuntaskan sarapan kami.
    Selesai makan, kuambilkan pula segelas besar coca-cola, kuulurkan gelas coca-cola
    ke mulutnya. Minum seteguk, Mas Har pun mengambil gelas dan mengulurkan pula
    ke mulutku…. wah! mesranya, Mas Har-ku ini…
    Kuambil pisang mas, kukupas dan kubuang kulitnya, lalu aku berbaring di samping
    Mas Har, kubuka selangkanganku lebar-lebar, dan kumasukkan pisang tadi ke


    dalam liang nonokku…. Mas Har agak terkejut,

    “Ayo! Bisa nggak makan pisang sampai habis dari lubang nonok Mbak Sri? Kalau
    bisa, nanti Mbak Sri ajari teknik-teknik dan gaya-gaya senggama yang lain deh!”

    “Siapa takut!” sahut Mas Har…

    Dia segera menaiki tubuhku, dengan posisi tengkurap… mulutnya di depan nonokku,
    ditariknya pisang itu dengan pelan-pelan dan sedikit-sedikit digigitnya daging
    pisangnya, sedangkan kontolnya pun terjuntai ngaceng di depan mulutku…. segera
    kugenggam dan kumasukkan barangnya yang ngaceng itu ke dalam mulutku,
    kumainkan lidahku mengusap-usap kepala kontolnya, dan dimaju-mundurkannya
    pisang mas tadi dalam liang nonokku, sehingga menimbulkan perasaan yang sangat
    nikmaaaaat dan memerindingkan seluruh bulu-bulu tubuhku….

    “Mbak Sri, pisangnya sudah habis…. hebat kan?” Katanya lugu…

    “Mas Har memang nomer satu buat Mbak Sri…” sahutku memujinya, membuatnya
    tersanjung dan sangat ditinggikan harga dirinya.

    “Sekarang apalagi?” tanya Mas Har…

    “Silakan Mas jilati dan mainkan lidah dalam liang nonok saya… dan saya akan
    meng-emuti dan mengocok kontol Mas dengan mulut saya…. ini namanya gaya 69,
    Mas sayaaang… mulut Mas ketemu nonok saya dan mulut saya ketemu kontol Mas
    Har…. Enaaaak kan, sayaaang?”

    “Wah! Sensasinya luar-biasa, Mbak……”

    “Kalau bercinta itu jangan buru-buru, Mas…. harus sabar dan tenang, sehingga
    emosi kita bisa terkendali. Kalau Mas mau sampai duluan dengan cara ngeloco
    seperti tadi, kalau sempat keluar kan saya harus nunggu lagi kontol Mas ngaceng…
    kasian dong sama saya, Mas,” suaraku kubikin seperti mau menangis…. .


    “Maafkan saya, ya Mbak Sri…. saya belum ngerti… mesti harus banyak belajar sama
    Mbak…..”

    Kami lanjutkan gaya 69 kami, kutelan habis kontolnya, kuhisap-hisap dan kumaju-
    mundurkan dalam mulutku…. sementara Mas Har meluruskan lidahnya dan menjilati
    ITIL-ku, kemudian memasukkan lidahnya yang kaku ke dalam liang nonokku… ini
    berlangsung cukup lama…

    Pada menit kelimabelas, serrr… serrrr… serrrr…. cairan hangat nonokku meluap,
    sekarang Mas Har malah menelannya.. .. aooowwww!

    Dan pada menit keduapuluhlima, serrr… serrrr… serrrr…. lagi, kali ini lebih enaaaak
    lagi, kukejangkan seluruh tubuhku…. sambil mulutku tetap terus

    mengocok kontolnya yang kerasnya minta-ampuuuuun. … pada waktu itu juga,
    kontolnya memuncratkan air-peju dengan sangat derasnya, langsung kutelan

    seluruhnya, sampai hampir keselek….. .

    “Enaaaakkkk. ….” Mas Har berteriak keenakan…. .

    Kami berguling, sekarang saya yang di atas, dengan tetap memagut kontolnya yang
    masih cukup keras, kuhisap terus kontolnya, sampai tubuh Mas Har berkedut-kedut
    memuncratkan tembakan-tembakan terakhirnya. …. kujilati kontol Mas Har sampai
    bersiiiiih sekali dan segera aku berputar, sehingga kepala kami berhadap-hadapan
    dengan posisi aku masih tetap di atas…

    “Gimana, Mas Har sayaaang…. Enak opo ora?” godaku…

    “Uu-enaaaaaaakkkkk tenaaaan…. “, kata Mas Har menirukan gaya pelawak Timbul
    dalam sebuah iklan jamu…..

    Kami berciuman lagi dan berguling-guling lagi…. mulut kami tetap berpagutan
    dengan sangat kuaaaatnya.. … Kucari kontolnya dan kupegang… wah sudah
    ngaceng keras lagi rupanya….. luarbiasa kuatnya Mas Har kali ini, lebih kuat dari
    ronde tadi pagi…..


    “Mas Har… saya ajari gaya kuda-kudaan. .. mau nggak?”,

    “Mau dong, sayaaaang… . Gimana?”, tanyanya penasaran… .

    “Mas Har duduk menyender dulu…..”

    Dia segera mengikuti perintahku, duduk menyender landai pada sebuah bantal yang
    kutegakkan di punggung ranjang, akupun segera mengambil posisi jongkok
    membelakanginya. Kugenggam kontolnya dan kutancapkan ke nonokku dari
    belakang…. BLESSS!!!, tangan Mas Har mendekap kedua tetekku dari belakang….

    Sekarang giliranku yang harus menaik-turunkan pantatku seperti orang naik kuda….
    semuanya berlangsung dengan sangat halus…. sehingga tidak sampai menimbulkan
    lecet pada kontol Mas Har maupun nonokku…..

    “Gimana Mas?”, tanyaku untuk mengalihkan konsentrasi, supaya air-pejunya tidak
    segera muncrat….. .

    “Benar-benar Mbak Sri pantas menjadi dosen percintaan saya…..”, katanya sambil
    mendesah-desah dan mendesis-mendesis keenakan…

    Itilku kembali bertumbukan nikmat dengan tulang selangkang Mas Har… Nikmatnya
    sudah sampai mneggeletarkan segenap perasaanku, membuat perasaanku semakin
    menyatu dan terikat kuat dengan perasaan Mas Har….. inilah arti sesungguhnya
    persetubuhan. …

    Kuatur kecepatan pacuan kuda-kudaan ini, sehingga kenikmatannya bisa
    kukendalikan, sementara Mas Har terlentang dengan tenang, makin didekapnya
    kedua buah dadaku, diremas-remasnya, dipilin-pilinnya, diremas-remas lagi…
    membuatku kembali ingin mencapai puncak kenikmatan.. .. kukejangkan seluruh
    anggota tubuhku…. Mas Har sudah mulai mengerti bahwa aku akan mencapai
    puncak…..

    “Keluar lagi ya, Mbak?” tanyanya…. . Ya! serrr… serrrr… serrrrr…., kembali cairan
    hangat nonokku tertumpah lagi…. kelelahan aku rasanya….. .

    lelah tapi enaaak….

    Aku melepaskan kontolnya dari lubang nonokku, kekeringkan nonokku dengan
    dasterku supaya peret lagi… Mas Har melihat pemandangan ini dengan wajah lugu,
    kuberi dia senyum manis….

    “Saya sudah capek, Mas…. Gantian dong… Mas Har sekarang yang goyang, ya?”


    Sekarang aku mengambil posisi menungging di pinggir ranjang….. Mas Har kuminta
    berdiri dan menembakkan rudalnya yang super-keras dari belakang,

    “Yang ini gaya anjing-anjingan, Mas….. tapi jangan salah masuk ke lubang pantat
    ya… pas yang di bawahnya yang merah merekah itu, lho ya….”

    “Kalau di lubang pantat katanya lebih enak, Mbak Sri?” tanyanya lucuuuu….

    “memang lebih enak untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan… .. itu kan
    namanya tidak adil, Mas…. Lagipula lubang pantat itu kan saluran untuk tai, kotoran
    yang kita buang, itu tidak sehat namanya, bisa kena penyakit aids, Mas…. Aids itu
    mematikan dan tidak ada obatnya lho, hiiii…. seremmmm…. ”

    Mas Har memasukkan kontolnya pelan-pelan ke lubang nonokku dari belakang
    sambil berdiri di pinggir ranjang, pelan-pelan sekaliiiiii. …. seolah-olah dia takut
    kalau sampai merusakkan lubang nikmat ini….. aku tahu sekarang…. Mas Har
    sangat sayang padaku, sehingga tingkah-laku persenggamaannya pun melukiskan
    betapa besar perasaan cintanya pada diriku….

    “Aaaaahhhhhh. …”, aku mendesah sambil merasakan hunjaman kontolnya yang
    kembali menembus nonokku, demikian juga dengan Mas Har… dilingkarkannya
    tangan kirinya di perutku, sedang tangan kanannya meremas tetekku….. . Dia mulai
    menggoyangkan kontolnya maju mundur…. blep-blep-blep. …..aduuuuhhh. ….
    mantapnyaaaa. ….. tenaganya sangat kuat dan berirama tetap…… membuat aliran-
    darahku menggelepar di sekujur tubuhku….. ..

    “Enaaaak, Maaaaasssss. ……”, lagi-lagi kukejangkan seluruh anggota tubuhku
    sambil kukeluarkan lagi cairan hangat nonokku kesekian kalinya….. . puaaaasssss
    sekali tiada taranya….. ..

    “aaaaaahhhhhhhh. ……… “, lenguhku…. ….

    “Lap dulu dong, Mbak Sriiii….. becek sekali nih….” pintanya…. .


    Kuambil dasterku dan kuserahkan padanya….. . segera dia mengeringkan nonokku
    dan juga kontolnya yang basaaaah tersiram cairan hangatku…. .

    “Mbak, aku sudah hampiiiirrr keluaaaarrr. ….” desahnya membuatku semakin
    terangsang.. ….

    “Tembakkan saja, Massss…… ..”
    Tembakannya masih sekencang yang sebelumnya.. …. sampai nonokku penuh
    dengan air-pejunya yang ekstra-kental itu…….

    “Aaaaahhhhhhhh. ……” Mas Har berteriak keenakan…. .. demikian juga dengan aku,
    kukejangkan tubuhku dan kusiram lagi kontolnya dengan cairan hangat

    kenikmatan nonokku….. .

    “Aaaaaaahhhhhhh, Massss Harrrrr….. … Mbak Sri cintaaaaa banget sama Mas
    Har…….”

    “Aku juga Mbak….. selain Mbak Sri, tidak ada perempuan lain yang aku cintai di
    dunia ini …..”, aku tahu kata-kata ini sangat jujur…. membuatku semakin
    menggelinjang kenikmatan.. ….

    “Terima kasih Mas Harrrrrr…. . untuk cinta Mas Har yang begitu besar kepada
    saya…..” Dengan tanpa melepaskan kontolnya, Mas Har dengan hati-hati dan penuh

    perasaan menengkurapkan tubuhnya di atas tubuh telanjangku. … dan aku
    kemudian meluruskan kakiku dan tubuhku mengambil posisi tengkurap… .. dengan
    Mas Har tengkurap di belakangku.. …

    Mulutnya didekatkan pada telingaku… . nafasnya menghembusi tengkukku… .
    membuatku terangsang lagi……

    “Enaaaak dan puassss sekali, Mbak Sri….. Apa Mbak Sri juga puas?”

    “Tentu, Mas Har….. dari pagi tadi sudah sembilan kali nonok saya memuntahkan air
    hangatnya… .. Pasti saya puasssss bangettt, Mas!”

    “Terima kasih, ya sayaaaang… … aku ingin setiap hari bercinta dengan Mbak Sri
    seperti ini…….”

    “Boleh, Massss…. saya juga siap kok melayani Mas Har setiap hari….. kecuali hari
    Minggu tentunya…. . Ibu dan Mbak-mbak kan ada di rumah kalau Minggu….”

    Mas Har melepaskan kontolnya dari lubang nonokku, aku segera mengambil posisi
    terlentang, dan Mas Har pun merebahkan dirinya di sisiku….

    Jam dinding sudah menunjukkan jam 10.40…… sambil berpelukan dan berciuman
    erat, kutarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua… dan kami pun
    tertidur sampai siang…..

    Sudah hampir jam setengah-dua ketika aku terbangun, pantes perutku rasanya
    lapar sekali. Mas Har masih belum melepaskan pelukannya sedari tadi, rasanya dia
    tidak ingin melewatkan saat-saat nikmat yang sangat langka ini, bisa seharian
    bersenggama dengan bebasnya. Kucium bibirnya untuk membangunkan lelaki
    kesayanganku ini,


    “Mas sayaaang, bangun yook, kita makan siang. Nanti abis makan kita bercinta lagi
    sampai sore….”

    “Mmmm…” Mas Har menggeliat, “sudah jam berapa, istriku?”
    “Setengah-dua, suamikuuuu.. …”, jawabku genit….

    “Makan-nya di ruang makan, yok Mas, nggak usah pakai baju nggak apa-apa, kan
    pintu-pintu dan korden-korden sudah Mbak Sri tutup tadi….”

    Dengan bugil bulat, kami berdua bangun dan berjalan ke ruang tamu, sambil Mas
    Har menggendong/ mengangkatku ke ruang tamu.

    “Edhian tenan, koyok penganten anyar wae…..” kataku dalam hati…. (“gila benar,
    seperti pengantin baru saja”)….

    Selesai makan siang, Mas Har kembali menggendongku ke kamar, sambil kuelus-
    elus kontol Mas Har yang sudah mengeras seperti batang kayu lagi…..

    Direbahkannya diriku dengan hati-hati di atas ranjang cinta kami. Aku segera
    mengambil posisi memiringkan tubuh ke kanan, supaya Mas Har juga mengambil
    posisi miring ke kiri, sehingga kami berhadap-hadapan. …

    “Mas sayaaang, kita senggama dengan posisi miring seperti ini, ya….., lebih terasa
    lho gesekan kontol Mas Har di dalam nonok Mbak Sri nanti,” ajakku untuk
    membangkitkan rangsangan pada Mas Har….

    Kami tetap berposisi miring berhadap-hadapan sambil berciuman kuat dan mesra.
    Kali ini Mas Har lebih aktif mencium seluruh wajah, tengkuk, belakang telinga, leher,
    terus turun ke bawah, payudara-kiriku kuisap-isapnya, sementara yang kanan
    dipilin-pilinnya lembut…..

    Rangsangan ini segera membangkitkan birahiku. Mulutnya bergerak kagi ke bawah,
    ke arah pusar, dijilatinya dan ditiupnya lembut, kembali aku mendesah-mendesis
    nikmat, sambil jari tangannya mengobok-obok lembut lubang nonokku, mengenai
    itilku, menimbulkan kenikmatan yang hebaaaat…, kukejangkan seluruh tubuhku,
    sampai pingganggku tertekuk ke atas, serrrrrr…. kubasahi tangannya yang lembut
    dengan semburan cairan hangat yang cukup deras dari nonokku…


    “Mas, masukkan sekarang, Masssss….. Mbak Sri udah nggak tahaaaannnn. …..”,
    pintaku manja…..

    Tetap dengan posisi miring-berhadapan, kubuka selangkanganku tinggi-tinggi,
    kugenggam kontolnya dan kusorongkan lembut ke lubang kenikmatan.. …

    “aaaaahhhhhh. ……” lenguhan kami kembali terdengar lebih seru…. Kontol Mas Har
    baru masuk setengahnya dalam nonokku, dimajukannya lagi kontolnya, dan
    kumajukan pula nonokku menyambut sodokannya yang mantap-perkasa. ….

    “Mas sayaaaang… maju-mundurnya barengan, ya…..”, ajakku sambil mengajari
    teknik senggama yang baru, kunamakan gaya ini “Gaya Miring”, dengan gaya ini
    kami berdua bisa sama-sama goyang, tidak sepihak saja…..

    Kami maju dan mundur bersamaan tanpa perlu diberi aba-aba…. rasanya lebih enak
    dibandingkan pria di atas wanita di bawah…. Kulihat Mas Har merem-melek,
    demikian juga dengan diriku, kontol Mas Har dengan irama teratur terus
    menghunjam-mantap berirama di dalam liang sempit Asri….. nonokku mulai
    tersedut-sedut lagi, tanda akan mengeluarkan semburan hangatnya… ..

    “Aduuuuhhhh, Maaaaassssss, enaaaaakkkkkkk. …….”, aku agak berteriaksambil
    mendesis…. …

    Air mani Mas Har belum juga muncrat, luarbiasa kuatnya kekasihku ini…..

    “Ganti gaya, Maaaasssss.. .. cabut dulu sebentar…. .” ajakku lagi, sambil kuputar
    tubuhku, tetap pada posisi miring membelakanginya, Mas Har memelukku kuat dari
    belakang, sambil meremas lembut kedua tetekku, kuangkat kakiku sebelah, dan
    kuhantar lagi kontolnya memasuki nonokku….. .

    “aaaaaaaaahhhhhhhhh hh…. enak, Mbak Sriiiiii…. …, gesekannya lebih terasa dari
    yang tadiiiiii… ..” Mas Har mendesah nikmat…..

    Kali ini aku hanya diam, sedang Mas Har yang lebih aktif memaju-mundurkan
    kontolnya yang belum muncrat-muncrat juga air-maninya. …..

    Sudah jam setengah-tiga, hampir satu jam dengan dua gaya yang baru ini……

    “Mbak Sri, siap-siap yaaa…. rudalku hampir nembak….”

    Kupeluk erat guling, dan Mas Har semakin mempercepat irama maju-mundurnya.
    …..

    “Aaah, aaah, aaahh….” Mas Har mendesah sambil mengeluarkan air maninya
    dengan tembakan yang kuat-tajam-kental bagai melabrak seluruh dinding-dinding
    rahimku….. setrumnya kembali menyengat seluruh kujur tubuhku…..

    “Aaaaaaaa… ……” aku berteriak panjaaaanng sambil kusemburkan juga air
    nonokku….. .

    Tenaga kami benar-benar seperti terkuras, getaran cinta kami masih terus terasa…..
    tanpa melepaskan pelukan dan juga kontolnya, masih dengan posisi miring, kami
    tertidur lagi beberapa menit… sampai semua getaran mereda……

    Jam tiga sudah lewat…. berarti masih bisa satu ronde lagi sebelum Ibu Sum dan
    kakak-kakaknya pulang dari kerja…..

    “Mas, bangun, Mas…. sudah jam tiga lewat….. saya kan mesti membereskan kamar
    ini, mandi dan berpakaian sopan seperti biasanya bila ada Ibu…..”

    “Mandi bareng, yok….. di sini aja di kamar mandiku, ada air hangatnya kan?”
    ajaknya….

    Dicabutnya kontolnya dari lobang nonokku yang sudah kering, aduuuhhhh
    enaknya….. . Aku pun segera bangun dan menarik tangannya, Mas Har bangkit dan
    memelukku, menciumku, menggelitiki tetek dan nonokku, kembali birahiku naik…..
    Sampai di bawah kran pancuran air hangat, kami berdua berpelukan, berciuman,
    merangkul kuat…. Dengan posisi berdiri kembali kontol Mas Har mengeras bagai
    batu, segera kurenggut dan kugenggam dan kumasukkan lagi ke nonokku. Dengan
    tubuh basah disiram air hangat dari pancuran, dan tetap dengan berdiri, kami
    bersenggama lagi…… bagai geregetan, Mas Har kembali menggerakkan kontolnya
    maju-mundur, sementara aku bagai menggelepar memeluk erat tubuhnya yang
    perkasa…..

    “Mas, sabunan dulu, ya sayaaaanggg. …”, tanpa melepaskan kedua alat kelamin
    kami, kami saling menyabuni tubuh kami, khususnya di bagian-bagian yang peka-
    rangsangan. …

    “Lepas dulu, ya sayaaanggg.. .. kuambilkan handuk baru untuk kekasihku… ..”, Mas
    Har melepaskan tusukannya, menuju lemari pakaian, dan diambilnya dua

    handuk baru, satu untukku satu untuknya… Selesai handukan, aku bermaksud
    mengambil dasterku untuk berpakaian, karena kupikir persenggamaan hari ini sudah
    selesai…..

    “Eiittt, tunggu dulu, istriku….. Rudalku masih keras nih, kudu dibenamkan lagi di
    liang hangat cinta kita……”

    Edhiaaan, mau berapa kali aku orgasme hari ini….. kuhitung-hitung sudah 12 kali
    aku menyemburkan air nonok sedari pagi tadi…

    Aku mengambil posisi sederhana, terlentang menantang… biar Mas Har menindihku
    dari atas…..

    Kami bersenggama lagi sebagai hidangan penutup….. dengan “Gaya Sederhana”
    pria diatas wanita dibawah, melambangkan kekuatan pria yang melindungi
    kepasrahan wanita…. Mas Har terus menggoyang kontolnya maju-mundur. ….

    Kembali aku akan mencapai puncak lagi, sedang Mas Har masih terus dengan
    mantapnya maju-mundur begitu kuat…..

    “Mas Har, Mbak Sri sudah mau keluar lagiiiiii… …”, kukejangkan kedua kakiku dan
    sekujur tubuhku…..

    “Mbak, aku juga mau keluar sekarang…. ..”, dalam waktu bersamaan kami saling
    menyemprotkan dan memuncratkan cairan kenikmatan kami masing-masing. …..

    “Enaaaaaaaaaaakkkkk kk, Mas Haaaaaarrrrrr. ……”

    “Puaaaaassssss, Mbak Sriiiiii…. ……”

    Mas Har langsung ambruk di atas ketelanjanganku, waktu sudah hampir jam
    emapat….. semua sendi-sendiku masih bergetar semuanya rasanya…..

    “Mas, sebentar lagi Ibu pulang, Mbak Sri mau siap-siap dulu ya, sayaang…”


    Mas Har segera bangkit sekaligus mencabut kontolnya… . ”

    ari ini adalah hari yang paling luar-biasa dalam hidupku, Mbak Sriii… Bagaimana aku
    akan sanggup melupakannya? ”

    Kupakai dasterku, kukecup lagi kedua pipi dan bibir Mas Har…. segera aku lari
    menuju kamarku, membersihkan air mani Mas Har yang masih menetes dari lubang
    nonokku yang agak bonyok…..

    Kukenakan celana dalam, rok dalam, beha, rok panjang, dan blus berlengan
    panjang, rambut kusisir rapi, kusanggul rapi ke atas…. semua ini untuk
    “mengelabui” Ibu Sumiati dan kedua kakak Mas Harianto, untuk menutupi sisi lain
    kehidupanku sebagai seorang Ratu Senggama.

  • Kisah Memek Terangsang Ketika Merabah Payundara Kenyal

    Kisah Memek Terangsang Ketika Merabah Payundara Kenyal


    2607 views

    Duniabola99.com – Dinding rumah mulai agak kusam,tandanya rumah harus segera ada perhatian. Ya plafon juga sudah ada sedikit ada sedikit kerusakan,ya lumyan lama rumah ini berdiri sekitar 5 tahun yang lalu. Suasanya halaman yang dulunya asri oleh bunga warna-warni kini seakan tiada lagi,hanya tertinggal berbagi saja,bunga tulip,melati satu batang,bunga anggrek pemberian tante.

    Semua itu prediksiku harus segera di percepat mengingat rumahku sebagai tempat kost,Penghuninya biar nyaman yang “punya rumah kudu”perhatian juga.Mengingat service itu dimana saja harus baik.Aku Punya tempat kos-kosan,dengan menjadikan rumah sebagai tempat beristirihat sejenak bagi yang membutuhkan,


    Tapi dalam yang ku alami aku tidak pernah menduga ada kejadian mengesankan,ini ceritanya,Pertama kali aku mengenalnya adalah saat pulang dari Jakarta, dia adalah siswa sekolah keguruan yang ada di kotaku pada saat itu,dia cantik,manis dan bertubuh mungil dengan kulit putih.

    Dasar nasibku lagi mujur tak lama berselang dia pindah kost kerumahku jadi mudah bagiku tuk lebih jauh mengenalnya. Ternyata orangnya supel dan pandai bergaul, sehingga aku tambah berani tuk menyatakan perasaan hatiku, lagi-lagi aku beruntung dia menerima pernyataanku ,ukh bahagianya aku. Suatu hari aku ada acara keluar kota ,iseng aku mengajaknya pergi,ternyata dia menyambut ajakanku.

    Sepanjang jalan menuju luar kota kami ngobrol sambil bercanda mesra,kadang tanganku iseng pura –pura tak disengaja menyentuh pahanya mulanya dia menepis tanganku tapi lama kelamaan membiarkan tanganku yang iseng mengelus pahanya yang putih dan gempal,aku memberanikan diri mengelus- elus pahanya sampai kepangkal pahanya . Dia tetap diam bahkan seperti menikmati elusan tanganku.

    Aku tarik tanganku dari rok hitamya lalu bertanya padanya boleh nggak aku menyentuh payudaranya yang membukit dibalik baju berwarna pink.mulanya dia menolak ,aku coba merayunya bahwa aku ingin mengelus walau hanya sebentar.

    Akhirnya dia mengangguk pelan,langsung aja tanganku menyusup kebalik bajunya dan mengusap,mengelus bahkan saat kuremas susu nya yang mungil dan kenyal dia hanya mendesah dan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil yang kami kendarai.

    Kupermainkan putting susu nya dengan dua jari dia semakin mendesah ,sambil tetap menyetir aku tarik reslting celanaku dan aku keluarkan penisku yang telah menegang sejak tadi bak laras tank baja ,aku pegang tangannya dan kutarik kearah penisku, saat tangannya menyentuh penisku yang besar dan panjang dia tarik kembali tangannya mungkin kaget karena baru pertama kali.

    Dengan sedikit basa basi kembali kutarik tangannya tuk memegang penisku akhinya dia menyerah kemudian mulai mengelus penisku perlahan.


    “ Jaka,punyamu besar sekali hampir sebesar pergelangan tanganku “ katanya
    “ Hmm,susu mu juga kenyal sekali “ kataku sambil menikmati elusan tangannya pada penisku Tak lama kami sampai di kota tujuan,langsung aku cari tempat untuk menginap setelah itu pergi lagi tuk belanja keperluan selama di kota itu.

    Malam kami ngobrol diberanda depan kamar tempat kami menginap sambil nonton tv ,kami duduk berdampingan sekali kali tanganku bergerilnya ditubuhnya ternyata dia dibalik baju tidurnya dia hanya memakai cd sehingga tanganku bisa bebas meremas remas susu nya dan mempermainkan putingnya .

    “ Akh,Jaka jangan terlalu keras “ katanya kala kuremas dengan rasa gemas.
    “ Maaf,habis susu mu kenyal sekali “ kataku
    “ Iya ,tapi sakit “ katanya
    “ Iya pelan deh,kita pindah kedalam yuk “ kataku berbisik padanya dan mengangguk perlahan.

    Sesampainya didalam aku peluk dia dari belakang,kuciumi tengkuknya yang putih dengan penuh nafsu dia bergelinjang kegelian sedangkan kedua tanganku bergerilya pada tubuhnya.

    “ Akh,Jaka ………..shhhhhhhh “ kata mendesah Tanganku mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan kulepas bajunya hanya tinggal cd nya yang berwarna hitam.Kukulum bibirnya ,dia membalas kulumanku dengan penuh gairah.

    Tangannya mengusap-usap penisku sesekali meremasnya sehingga aku merasakan nikmat yang tak terhingga.

    “Ukh,…teruskan yang “ kataku
    “ Ikh besar sekali,panjang lagi “ katanya.
    “ Ssssst ,”kataku sambil mengulum putting susu nya yang makin menegang,tanganku kupergunakan untuk menurunkan cdnya .

    Kuusap perlahan gundukan daging empuk yang ditumbuhi bulu – bulu hitam halus ,dia menggelinjang kegelian dan kulanjutkan dengan menggelitik belahan memeknya hangat terasa.

    “Akh,….teruskan pelan pelan “katanya sambil meremas penisku.

    Kemudian aku menurunka kulumanku pada susu nya ke pusarnya ,dia mengangkat pinggangnya keenakan kuteruskan ciumanku pada memeknya dan menegang saat lidahku yang kasar menjilati memeknya yang merah merekah. Dia mengimbangi permainan lidahku dengan menggoyangkan pinggulnya bibirnya tak henti-henti mendesah .


    “Sekarang giliranmu sayang “kataku padanya sambil menyodorkan penisku kemulutnya .

    Perlahan tapi pasti dia mulai menciumi batang kemaluanku yang sejak tadi menegang ,saat dia mulai mengulum penisku terbang rasanya menahan rasa nikmat . Setelah itu kutelentangkan kekasihku yang putih, susu nya yang mungil menggunung dengan memeknya yang merah merekah dibalik bulu- bulu hitam halus .

    Perlahan – lahan aku menaikinya ,kugosok-gosokkan penisku pada belahan memeknya dia meregang sambil mendesah tak karuan merasakan nikmatnya gosokkan penisku.Kemudian kutekan sedikit demi sedikit penisku pada memeknya ,pinggulnya naik seakan menyuruh agar penisku segera dimasukkan pada memeknya.

    “Ayo,akh aaaaaaaakh teruskan sayangku” katanya sambil menarik pinggangku
    “Baiklah ,sayang aku masukkan ya “ kataku sambil menekan penisku agar masuk lebih dalam lagi pada lubang memeknya perlahan karena takut dia kesakitan,sempit sekali.
    “Aduh..,sakit Jaka akh……..” katanya “Sebentar juga hilang “ kataku,penisku keluar masuk memeknya yang terasa basah dan hangat.

    Rupanya ini pengalaman pertama baginya karena ada noda darah pada pangkal pahanya.

    “Terus ….lebih cepat akh………ukh nikmat sekali kontolmu yang” katanya berani mungkin karena pengaruh rasa nikmat dari keluar masuknya penisku yang panjangnya 16 cm,penisku pun mulai merasakan nikmat dari gesekan dengan dinding dalam memeknya.

    “Akh…….terus goyang pinggulmu “ kataku padanya,dan dia menuruti kataku menggoyangkan pinggulnya Tak lama dia mengerang sambil memelukku erat rupanya dia telah mencapai orgasme,dia berbaring lemas dibawaku sedangkan penisku masih menancap pada memeknya yang terasa basah .


    Terlihat ada air mata pada ujung kelopak matanya ,melihat itu aku segera berbisik padanya bahwa aku akan bertanggung jawab atas semua ini.Barulah dia berubah riang kembali dan aku mulai aktifitas kembali menaik turunkan penisku dan dia merespon gerakanku dengan bersemangat .

  • I Need It So Fucking Bad

    I Need It So Fucking Bad


    2268 views

  • Hentai001

    Hentai001


    2222 views

  • Kisah Memek Bersenggama Dengan Tante Pantek

    Kisah Memek Bersenggama Dengan Tante Pantek


    2699 views

    Duniabola99.com – Ketika itu saya baru berumur 12 tahun, sebagai anak tunggal. Sewaktu orang tua saya sedang pergi keluar negeri. Teman baik ibuku, Tante Susi, yang berumur 26 tahun, diminta oleh orang tuaku untuk tinggal di rumah menjagaiku. Karena suaminya harus keluar kota, Tante Susi akan menginap di rumahku sendirian. Tante Susi badannya agak tinggi, rambutnya dipotong pendek sebahu, kulitnya putih bersih, wajahnya ayu, pakaian dan gayanya seksi. Tentu saja saya sangat setuju sekali untuk ditemani oleh Tante Susi.
    Biasanya, setiap ada kesempatan saya suka memainkan kemaluanku sendirian. Tapi belum pernah sampai keluar, waktu itu saya masih belum mengerti apa-apa, hanya karena rasanya nikmat. Mengambil kesempatan rumah lagi kosong dan Tante Susi juga belum datang. Setelah pulang sekolah, saya ke kamar tidurku sendirian memijit-mijit kemaluanku sembari menghayalkan tubuh Tante Susi yang seksi. Kubayangkan seperti yang pernah kulihat di majalah porno dari teman-temankuku di sekolah. Selagi asyiknya bermain sendirian tanpa kusadari Tante Susi sudah tiba di rumahku dan tiba-tiba membuka pintu kamarku yang lupa kukunci.

    Dia sedikit tercengang waktu melihatku berbaring diatas ranjang telanjang bulat, sembari memegangi kemaluanku yang berdiri. Aduh malunya setengah mati, ketangkap basah lagi mainin burung. Segera kututupi kemaluanku dengan bantal, wajahku putih pucat.

    Melihatku ketakutan, Tante Susi hanya tersenyum dan berkata”,Eh, kamu sudah pulang sekolah Asan., Tante juga baru saja datang”. Saya tidak berani menjawabnya.
    “Tidak usah takut dan malu sama Tante, itu hal biasa untuk anak-anak mainin burungnya sendiri” ujarnya. Saya tetap tidak berani berkutik dari tempat tidur karena sangat malu.
    Tante Susi lalu menambah, “Kamu terusin saja mainnya, Tante hanya mau membersihkan kamar kamu saja, kok”.

    “Tidak apa-apa kan kalau Tante turut melihat permainanmu”, sembari melirik menggoda, dia kembali berkata “Kalau kamu mau, Tante bisa tolongin kamu, Tante mengerti kok dengan permainanmu, Asan.”, tambahnya sembari mendekatiku.
    “Tapi kamu tidak boleh bilang siapa-siapa yah, ini akan menjadi rahasia kita berdua saja”. Saya tetap tidak dapat menjawab apa-apa, hanya mengangguk kecil walaupun saya tidak begitu mengerti apa maksudnya.


    Tante Susi pergi ke kamar mandi mengambil Baby Oil dan segera kembali ke kamarku. Lalu dia berlutut di hadapanku. Bantalku diangkat perlahan-lahan, dan saking takutnya kemaluanku segera mengecil dan segera kututupi dengan kedua telapak tanganku.

    “Kemari dong, kasih Tante lihat permainanmu, Tante janji akan berhati-hati deh”, katanya sembari membujukku. Tanganku dibuka dan mata Tante Susi mulai turun ke bawah kearah selangkanganku dan memperhatikan kemaluanku yang mengecil dengan teliti. Dengan perlahan-lahan dia memegang kemaluanku dengan kedua jarinya dan menuruni kepalanya, dengan tangan yang satu lagi dia meneteskan Baby Oil itu di kepala kemaluanku, senyumnya tidak pernah melepaskan wajahnya yang cantik.

    “Tante pakein ini supaya rada licin, kamu pasti suka deh” katanya sembari mengedipkan sebelah matanya.
    Malunya setengah mati, belum ada orang yang pernah melihat kemaluanku, apa lagi memegangnya. Hatiku berdebar dengan kencang dan wajahku merah karena malu. Tapi sentuhan tangannya terasa halus dan hangat.

    “Jangan takut Asan., kamu rebahan saja”, ujarnya membujukku. Setelah sedikit tenang mendengar suaranya yang halus dan memastikan, saya mulai dapat menikmati elusan tangannya yang lembut. Tangannya sangat mahir memainkan kemaluanku, setiap sentuhannya membuat kemaluanku bergetar dengan kenikmatan dan jauh lebih nikmat dari sentuhan tanganku sendiri.

    “Lihat itu sudah mulai membesar kembali”, kemudian Tante Susi melumuri Baby Oil itu ke seluruh batang kemaluanku yang mulai menegang dan kedua bijinya. Kemudian Tante Susi mulai mengocok kemaluanku digenggamannya perlahan-lahan sambil membuka lebar kedua pahaku dan mengusap bijiku yang mulai panas membara.


    Kemaluanku terasa kencang sekali, berdiri tegak seenaknya dihadapan muka Tante Susi yang cantik. Perlahan Tante Susi mendekati mukanya kearah selangkanganku, seperti sedang mempelajarinya. Terasa napasnya yang hangat berhembus di paha dan di bijiku dengan halus. Saya hampir tidak bisa percaya, Tante Susi yang baru saja kukhayalkan, sekarang sedang berjongkok diantara selangkanganku.

    Setelah kira-kira lima menit kemudian, saya tidak dapat menahan rasa geli dari godaan jari-jari tangannya. Pinggulku tidak bisa berdiam tenang saja di ranjang dan mulai mengikuti setiap irama kocokan tangan Tante Susi yang licin dan berminyak. Belum pernah saya merasa seperti begitu, semua kenikmatan duniawi ini seperti berpusat tepat ditengah-tengah selangkanganku.

    Mendadak Tante Susi kembali berkata, “Ini pasti kamu sudah hampir keluar, dari pada nanti kotorin ranjang Tante hisap saja yah”. Saya tidak mengerti apa yang dia maksud. Dengan tiba-tiba Tante Susi mengeluarkan lidahnya dan menjilat kepala kemaluanku lalu menyusupinya perlahan ke dalam mulutnya.

    Hampir saja saya melompat dari atas ranjang. Karena bingung dan kaget, saya tidak tahu harus membikin apa, kecuali menekan pantatku keras ke dalam ranjang. Tangannya segera disusupkan ke bawah pinggulku dan mengangkatnya dengan perlahan dari atas ranjang. Kemaluanku terangkat tinggi seperti hendak diperagakan dihadapan mukanya. Kembali lidahnya menjilat kepala kemaluanku dengan halus, sembari menyedot ke dalam mulutnya. Bibirnya merah merekah tampak sangat seksi menutupi seluruh kemaluanku. Mulut dan lidahnya terasa sangat hangat dan basah. Lidahnya dipermainkan dengan sangat mahir. Matanya tetap memandang mataku seperti untuk meyakinkanku. Tangannya kembali menggenggam kedua bijiku. Kepalanya tampak turun naik disepanjang kemaluanku, saya berasa geli setengah mati. Ini jauh lebih nikmat daripada memakai tangannya.

    Sekali-sekali Tante Susi juga menghisap kedua bijiku bergantian dengan gigitan-gigitan kecil. Dan perlahan turun ke bawah menjilat lubang pantatku dan membuat lingkaran kecil dengan ujung lidahnya yang terasa sangat liar dan hangat. Saya hanya dapat berpegangan erat ke bantalku, sembari mencoba menahan rintihanku. Kudekap mukaku dengan bantal, setiap sedotan kurasa seperti yang saya hendak menjerit. Napasku tidak dapat diatur lagi, pinggulku menegang, kepala saya mulai pening dari kenikmatan yang berkonsentrasi tepat diantara selangkanganku. Mendadak kurasa kemaluanku seperti akan meledak. Karena rasa takut dan panik, kutarik pinggulku kebelakang. Dengan seketika, kemaluanku seperti mempunyai hidup sendiri, berdenyut dan menyemprot cairan putih yang lengket dan hangat ke muka dan ke rambut Tante Susi. Seluruh badanku bergetar dari kenikmatan yang tidak pernah kualami sebelumnya. Saya tidak sanggup untuk menahan kejadian ini. Saya merasa telah berbuat sesuatu kesalahan yang sangat besar. Dengan napas yang terengah-engah, saya meminta maaf kepada Tante Susi atas kejadian tersebut dan tidak berani untuk menatap wajahnya.

    Tetapi Tante Susi hanya tersenyum lebar, dan berkata “Tidak apa-apa kok, ini memang harus begini”, kembali dia menjilati cairan lengket itu yang mulai meleleh dari ujung bibirnya dan kembali menjilati semua sisa cairan itu dari kemaluanku sehingga bersih.


    “Tante suka kok, rasanya sedap”, tambahnya.
    Dengan penuh pengertian Tante Susi menerangkan bahwa cairan itu adalah air mani dan itu wajar untuk dikeluarkan sekali-sekali. Kemudian dengan penuh kehalusan dia membersihkanku dengan handuk kecil basah dan menciumku dengan lembut dikeningku.

    Setelah semuanya mulai mereda, dengan malu-malu saya bertanya, “Apakah perempuan juga melakukan hal seperti ini?”.
    Tante Susi menjawab “Yah, kadang-kadang kita orang perempuan juga melakukan itu, tapi caranya agak berbeda”. Dan Tante Susi berkata yang kalau saya mau, dia dapat menunjukkannya. Tentu saja saya bilang yang saya mau menyaksikannya.

    Kemudian jari-jari tangan Tante Susi yang lentik dengan perlahan mulai membuka kancing-kancing bajunya, memperagakan tubuhnya yang putih. Waktu kutangnya dibuka buah dadanya melejit keluar dan tampak besar membusung dibandingkan dengan perutnya yang mengecil ramping. Kedua buah dadanya bergelayutan dan bergoyang dengan indah. Dengan halus Tante Susi memegang kedua tanganku dan meletakannya di atas buah dadanya. Rasanya empuk, kejal dan halus sekali, ujungnya agak keras. Putingnya warna coklat tua dan agak besar. Tante Susi memintaku untuk menyentuhnya. Karena belum ada pengalaman apa-apa, saya pencet saja dengan kasar. Tante Susi kembali tersenyum dan mengajariku untuk mengelusnya perlahan-lahan. Putingnya agak sensitif, jadi kita harus lebih perlahan disana, katanya. Tanganku mulai meraba tubuh Tante Susi yang putih bersih itu. Kulitnya terasa sangat halus dan panas membara dibawah telapak tanganku. Napasnya memburu setiap kusentuh bagian yang tertentu. Saya mulai mempelajari tempat-tempat yang disukainya.

    Tidak lama kemudian Tante Susi memintaku untuk menciumi tubuhnya. Ketika saya mulai menghisap dan menjilat kedua buah dadanya, putingnya terasa mengeras di dalam mulutku. Napasnya semakin menderu-deru, membuat buah dadanya turun naik bergoyang dengan irama. Lidahku mulai menjilati seluruh buah dadanya sampai keduanya berkilat dengan air liurku mukanya tampak gemilang dengan penuh gairah. Bibirnya yang merah merekah digigit seperti sedang menahan sakit. Roknya yang seksi dan ketat mulai tersibak dan kedua lututnya mulai melebar perlahan. Pahanya yang putih seperti susu mulai terbuka menantang dengan gairah di hadapanku. Tante Susi tidak berhenti mengelus dan memeluki tubuhku yang masih telanjang dengan kencang. Tangannya menuntun kepalaku ke bawah kearah perutnya. Semakin ke bawah ciumanku, semakin terbuka kedua pahanya, roknya tergulung ke atas. Saya mulai dapat melihat pangkal paha atasnya dan terlihat sedikit bulu yang hitam halus mengintip dari celah celana dalamnya. Mataku tidak dapat melepaskan pemandangan yang sangat indah itu.


    Kemudian Tante Susi berdiri tegak di hadapanku dengan perlahan Tante Susi mulai membuka kancing roknya satu persatu dan membiarkan roknya terjatuh di lantai. Tante Susi berdiri di hadapanku seperti seorang putri khayalan dengan hanya memakai celana dalamnya yang putih, kecil, tipis dan seksi. Tangannya ditaruh di pingulnya yang putih dan tampak serasi dengan kedua buah dadanya diperagakannya di hadapanku. Pantatnya yang hanya sedikit tertutup dengan celana dalam seksi itu bercuat menungging ke belakang. Tidak kusangka yang seorang wanita dapat terlihat begitu indah dan menggiurkan. Saya sangat terpesona memandang wajah dan keindahan tubuhnya yang bercahaya dan penuh gairah.

    Tante Susi menerangkan yang bagian tubuh bawahnya juga harus dimainkan. Sambil merebahkan dirinya di ranjangku, Tante Susi memintaku untuk menikmati bagiannya yang terlarang. Saya mulai meraba-raba pahanya yang putih dan celana dalamnya yang agak lembab dan bernoda. Pertama-tama tanganku agak bergemetar, basah dari keringat dingin, tetapi melihat Tante Susi sungguh-sungguh menikmati semua perbuatanku dan matanya juga mulai menutup sayu, napasnya semakin mengencang. Saya semakin berani dan lancang merabanya. Kadang-kadang jariku kususupkan ke dalam celana dalamnya menyentuh bulunya yang lembut. Celana dalamnya semakin membasah, noda di bawah celana dalamnya semakin membesar. Pingulnya terangkat tinggi dari atas ranjang. Kedua pahanya semakin melebar dan kemaluannya tercetak jelas dari celana dalamnya yang sangat tipis itu.
    Setelah beberapa lama, Tante Susi dengan merintih memintaku untuk membuka celana dalamnya. Pinggulnya diangkat sedikit supaya saya dapat menurunkan celana dalamnya ke bawah. Tante Susi berbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Disitu untuk pertama kali saya dapat menyaksikan kemaluan seorang wanita dari jarak yang dekat dan bukan hanya dari majalah. Bulu-bulu di atas kemaluannya itu tampak hitam lembut, tumbuh dengan halus dan rapi dicukur, sekitar kemaluannya telah dicukur hingga bersih membuat lekuk kemaluannya tampak dari depan. Tante Susi membuka selangkangannya dengan lebar dan menyodorkan kewanitaannya kepadaku tanpa sedikit rasa malu. Sembari bangkit duduk di tepi ranjang, Tante Susi memintaku untuk berjongkok diantara kedua pahanya untuk memperhatikan vagina nya dari jarak dekat. Dengan penuh gairah kedua jarinya mengungkap bibir kemaluannya yang rada tebal dan kehitam-hitaman dan memperagakan kepadaku lubang vaginanya yang basah dan berwarna merah muda.

    Dengan nada yang ramah, Tante Susi menggunakan jari tangannya sendiri dengan halus, menerangkan kepadaku satu persatu seluruh bagian tubuh bawahnya. Tempat-tempat dan cara-caranya untuk menyenangkan seorang wanita. Kemudian Tante Susi mulai menggunakan jari tanganku untuk diraba-rabakan kebagian tubuh bawahnya. Rasanya sangat hangat, lengket dan basah. Clitorisnya semakin membesar ketika saya menyentuhnya. Aroma dari vaginanya mulai memenuhi udara di kamarku, aromanya menyenangkan dan berbau bersih. Dari dalam lubang vaginanya perlahan-lahan keluar cairan lengket berwarna putih dan kental dan mulai melumuri semua permukaan lubang vaginanya. Mengingat apa yang dia sudah lakukan dengan air maniku, saya kembali bertanya “Boleh nggak saya mencicipi air mani Tante?” Tante Susi hanya mengangguk kecil dan tersenyum.


    Perlahan saya mulai menjilati pahanya yang putih dan sekitar lubang vagina Tante Susi yang merah dan lembut. Cairannya mulai mengalir keluar dengan deras ke selangkangannya. Lidahku menangkap tetesan itu dan mengikuti aliran cairan itu sampai balik ke asal lubangnya. Rasanya agak keasinan dengan berbau sangat khas, tidak seperti kata orang, cairan Tante Susi sangat bersih dan tidak berbau amis. Begitu pertama saya mencicipi alat kelamin Tante Susi, saya tahu yang saya dapat menjilatinya terus-menerus, karena saya sangat menyukai rasanya. Tante Susi mendadak menjerit kecil ketika lidahku menyentuh clitorisnya. Saya tersentak takut karena mungkin saya telah membuatnya sakit. Tetapi Tante Susi kembali menjelaskan bahwa itu hal biasa kalau seseorang mengerang waktu merasa nikmat.

    Semakin lama, saya semakin berani untuk menjilati dan menghisapi semua lubang vagina dan clitorisnya. Pinggulnya diangkat naik tinggi. Tangannya tidak berhenti memeras buah dadanya sendiri, cengkramannya semakin menguat. Napasnya sudah tidak beraturan lagi. Kepalanya terbanting ke kanan dan ke kiri. Pinggul dan pahanya kadang-kadang mengejang kuat, berputar dengan liar. Kepalaku terkadang tergoncang keras oleh dorongan dari kedua pahanya. Tangannya mulai menjambak rambutku dan menekan kepalaku erat kearah selangkangannya. Dari bibirnya yang mungil itu keluar desah dan rintihan memanggil namaku, seperti irama di telingaku. Keringatnya mulai keluar dari setiap pori-pori tubuhnya membuat kulitnya tampak bergemilang di bawah cahaya lampu. Matanya sudah tidak memandangku lagi, tapi tertutup rapat oleh bulu mata yang panjang dan lentik. Sembari merintih Tante Susi memintaku untuk menyodok-nyodokkan lidahku ke dalam lubang vaginanya dan mempercepat iramaku. Seluruh mukaku basah tertutup oleh cairan yang bergairah itu.

    Kemudian Tante Susi memintaku untuk berbalik supaya dia juga dapat menghisap kemaluanku bersamaan. Setelah melumuri kedua buah dadanya yang busung itu dengan Baby Oil, Tante Susi menggosok-gosokkan dan menghimpit kemaluanku yang sudah keras kembali diantara buah dadanya, dan menghisapinya bergantian. Kemudian Tante Susi memintaku untuk lebih berkonsentrasi di clitorisnya dan menyarankanku untuk memasuki jariku ke lubang vaginanya. Dengan penuh gairah saya pertama kalinya merasakan bahwa kelamin wanita itu dapat berasa begitu panas dan basah. Otot vaginanya yang terlatih terasa memijiti jari tanganku perlahan. Bibir dan lubang vaginanya tampak merekah, berkilat dan semakin memerah. Clitorisnya bercahaya dan membesar seperti ingin meledak. Setelah tidak beberapa lama, Tante Susi memintaku untuk memasukkan satu jariku ke dalam lubang pantatnya yang ketat. Dengan bersamaan, Tante Susi juga masukkan satu jarinya pula ke dalam lubang pantatku. Tangannya dipercepat mengocok kemaluanku. Pahanya mendekap kepalaku dengan keras. Pinggulnya mengejang keras. Terasa dilidahku urat-urat sekitar dinding vaginanya berkontraksi keras ketika dia keluar. Saya menjerit keras bersama-sama Tante Susi sembari memeluknya dengan erat, kita berdua keluar hampir bersamaan. Kali ini Tante Susi menghisap habis semua air maniku dan terus menghisapi kemaluanku sampai kering.


    Setelah itu kita berbaring telanjang terengah mengambil napas. Badannya yang berkeringat dan melemah, terasa sangat hangat memeluki tubuhku dari belakang, tangannya tetap menghangati dan mengenggam kemaluanku yang mengecil. Aroma dari yang baru saja kita lakukan masih tetap memenuhi udara kamarku. Wajahnya tampak gemilang bercahaya menunjukan kepuasan, senyumnya kembali menghiasi wajahnya yang terlihat lelah. Lalu kita jatuh tertidur berduaan dengan angin yang sejuk meniup dari jendela yang terbuka. Setelah bangun tidur, kita mandi bersama. Waktu berpakaian Tante Susi mencium bibirku dengan lembut dan berjanji yang nanti malam dia akan mengajari bagaimana caranya bila kejantananku dimasukkan ke dalam kewanitaannya.

    Sejak hari itu, selama satu minggu penuh, setiap malam saya tidur di kamar tamu bersama Tante Susi dan mendapat pelajaran yang baru setiap malam. Tetapi setelah kejadian itu, kita tidak pernah mendapat kesempatan kembali untuk melanjutkan hubungan kami. Hanya ada peristiwa sekali, waktu orangtuaku mengadakan pesta di rumah, Tante Susi datang bersama suaminya. Di dapur, waktu tidak ada orang lain yang melihat, Tante Susi mencium pipiku sembari meraba kemaluanku, tersenyum dan berbisik “Jangan lupa dengan rahasia kita Asan.”

    Dua bulan kemudian Tante Susi pindah ke kota lain bersama suaminya. Sampai hari ini saya tidak akan dapat melupakan satu minggu yang terbaik itu di dalam sejarah hidupku. Dan saya merasa sangat beruntung untuk mendapat seseorang yang dapat mengajariku bersetubuh dengan cara yang sangat sabar, sangat profesional dan semanis Tante Susi.