Author: dbgoog99

  • Kisah Memek Tina, Asisten Dokter Gigi

    Kisah Memek Tina, Asisten Dokter Gigi


    3118 views

    Duniabola99.com – Aku, Haryanto (nama samaran), dipanggil singkat Yanto. Setelah kerja 2 tahun lebih, aku dipindahtugaskan ke kota B ini, tidak seramai kota besar asalku, tapi cukup nyaman. Aku dipinjamkan rumah kakak perempuanku yg bertugas mendampingi suaminya di luar negeri. Sekaligus menjaga dan merawat rumahnya, ditemani seorang mbok setengah tua yg menginap, dan tukang kebun harian yang pulang tengah hari.

    Dua bulan sudah aku tinggal di rumah ini, biasa-biasa saja. Oya, rumah ini berlantai dua dengan kamar tidur semuanya ada lima, tiga di lantai bawah dan dua di lantai atas. Lantai atas untuk keluarga kakakku, jadi aku menempati lantai bawah. Di samping kamar tidurku ada ruang kerja. Aku biasa kerja disitu dengan seperangkat komputer, internet dan lain-lain.

    Suatu ketika, aku kedatangan seorang dokter giri, drg Retno, ditemani asistennya, Tina. Mereka mau mengkontrak satu kamar dan garasi untuk prakteknya. Untuk itu perlu direnovasi dulu. Aku menghubungi kakakku melalui sarana komunikasi yang ada, minta persetujuan. Dia membolehkan setelah tanya-tanya ini itu. Maka mulailah pekerjaan renovasi dan akan selesai 20 hari lagi.

    Sementara itu, drg Retno menugaskan Tina untuk tinggal di kamar tidur yg dikontrak juga, disamping garasi yg hampir siap disulap jadi ruang praktek. Mulailah kisah dua anak manusia berlainan jenis dan tinggal serumah….

    Sudah dua minggu Tina tinggal di rumah ini. Dia biasanya membawa makan sendiri, seringkali aku ikut makan bersama dia kalau kebetulan masakan mbok dirasa kurang. Tina berlaku biasa saja mulanya, dan aku tidak berani lancang mendekatinya. Tina berperawakan hampir sama tinggi denganku, tidak gemuk tetapi tidak kurus. Selalu berpakaian tertutup sehingga aku tidak berhasil melihat bagian yang ingin kupandang. Wajahnya cukup manis.

    Suatu hari, mbok minta ijin pulang kampung setelah bekerja 9 bulan lebih tanpa menengok anak cucunya. Aku mengijinkan mbok pulang. Mbok akan minta tolong pembantu tetangga menyediakan makanan untuk aku selama mbok pulang.


    Nah, pagi hari itu aku mengantar mbok ke setasiun bus dengan mobil kantorku, baru pulang untuk mengambil berkas dan berangkat lagi ke kantor. Tina pergi ke klinik dokter gigi Retno dengan motor, biasanya jam setengah delapan pagi sudah kabur dan pulang jam lima atau enam petang, bergantung kepada banyaknya pasien. Untuk praktisnya, masing-masing membawa kunci rumah sendiri.

    Sore hari setelah mbok pergi itu suasana rumahku sepi. Aku pulang jam empat sore dan sempat melihat-lihat kebun dan mengambil daun-daun kering lalu membuangnya di tempat sampah. Tina baru sampai di rumah sekitar jam setengah enam, tanpa aku tahu. Dia ternyata ada di jendela memandangku bekerja di kebun. Ketika matahari sudah doyong ke Barat, aku baru melihat ke jendela dan nampak Tina tersenyum di baliknya. Segera aku masuk rumah. “Sudah lama kamu datang, Tina?” Dia mengangguk. “Aku melihat kamu bekerja di kebun, suatu pemandangan indah, laki-laki rajin bekerja keras… Kagum aku dibuatnya.”

    Aku tertawa sendiri, lalu masuk kamar untuk mandi. Kamar mandiku ada dalam kamar tidur, jadi aku bebas berjalan telanjang masuk keluar atau dengan melilitkan handuk saja, seperti sore itu. Keluar kamar mandi, aku terkejut, karena Tina ada dalam kamar tidurku. “Aku masuk tanpa permisi, maaf ya, kamu marah?” Aku jawab, “ Ah tidak, masak marah sih, disambut perempuan seksi dan manis…? Aku mau tukar baju, kamu mau tetap di sini atau…?” Tina tersipu. “Oh, mau buka handuk, gitu? Aku tunggu di sofa, mau ada perlu sama kamu.” Tina keluar kamar.

    Aku mengenakan kaos oblong dan celana boxerku, lalu menghampiri Tina di sofa, duduk di sebelahnya. Dia menjauh. “Kamu sudah mandi, aku belum… nanti kamu nggak betah di dekatku..” Aku cuma senyum saja. “Ada pelu bicara apa, Tina…?” Dia bimbang sebentar, lalu, “Aku mau numpang mandi di kamar mandimu. Ada shower air hangat kan? Water heater di kamar mandiku rusak, mbok belum sempat panggil tukang…” Sambil senyum, aku jawab, “Tentu, silahkan saja, tapi pintu kamar mandi jangan dikunci, sulit membukanya. Tenang, aku tidak akan mengintip kamu mandi, jangan takut…” Tina tertawa, “Tidak ngintip tapi langsung melihat…? Mana ada laki-laki membuang kesempatan.” Aku malu mendengarnya. “Ah, kamu bisa saja…” itu jawabku sambil memegang bahunya. “Tuh, mulai ya,..?” katanya sambil setengah berlari masuk kamarnya mengambil handuk dan lain-lain.

    Dua puluh menit berlalu, Tina sudah kembali duduk disampingku. Bau wangi menyergap hidungku. “Eh, Yanto, mau nggak antar aku beli kacang rebus atau goreng di simpang jalan?” Segera aku mengiyakan.


    Lima menit kemudian Tina dan aku sudah bergandengan tangan berjalan ke penjual kacang, sekitar 500 meter jauhnya. Sepulangnya, tangan Tina menggandeng lenganku dan aku sempat merasakan buah dada kanannya menyentuh lengan kiriku. Serrr, darahku berdesir, jantungku berdegub kencang. Ibu—ibu di warung dekat situ nyeletuk, “Wah bu dokter sudah punya calon suami… selamat ya?” Tina tertawa kecil. Ibu-ibu itu sudah akrab dengan Tina, mempersilahkan mampir untuk suatu pertanyaan tentang kesehatan giginya. Sempat terdengar Tina melayani salahsatu dari mereka sambil menyoroti mulut si pasien kampung itu dengan batere kecil, lalu menyuruhnya datang ke klinik besok pagi. Semua pertanyaan dijawab dengan ramah. Aku jadi kagum dengan keramahan Tina. Pantes kliniknya ramai setiap hari.

    Pulang rumah, aku dan Tina duduk di seputar meja makan sambil menikmati kacang rebus dan goreng. Sementara itu aku tetap mencuri-curi pandang wajahnya, atau turun ke dadanya. Tetap tidak kelihatan apapun. Tina seorang perempuan yang tetap menjaga kesusilaan, pikirku. Jadi, apakah aku bisa menikmatinya, waduh, mengajaknya tidur bersama, pikiranku melayang ke arah hal-hal yang erotis. Tina menyudahi makan kacang karena kenyang, katanya, lalu bangkit pergi ke tempat sikat gigi (wastafel). Aku merapikan meja makan, lalu menyusul Tina untuk sikat gigi di sampingnya.

    Tanganku mulai nakal. Aku nekad menyentuh bokongnya, meremas lalu merangkul pinggangnya. Tina seakan kaget, lalu menepis tanganku sambil sedikit menatapku sementara mulutnya masih penuh busa.

    Tina berkata, “Jangan mulai nakal… “ Lalu dia membalas mencubit bokongku dan meninju punggungku. “Nih, rasakan, ya…” Dia mencubit berkali-kali dan meninju juga. Lama-lama aku merasa sakit juga, lalu kutangkap tangannya dan kutarik tubuhnya mendekat, tetapi dia berontak dan lari ke sofa. Selesai sikat gigi, aku duduk disebelahnya. “Kamu masih marah, Tina?” Dia menutup matanya, lalu… menubruk dadaku seraya menangis. Aku heran sekali. “Kamu ini…. Kamu ini… bikin aku gemes! Aku jadi nggak tahan lagi. Dadamu basah ya, dengan air mataku. Buka saja kaosmu…” Aku menurut, dia kembali membenamkan wajahnya di dadaku, lidahnya menjilati putingku. Bibirnya menciumi dadaku ke kiri dan ke kanan samapi ke lipatan ketiakku. Ketika lidahnya mau menjilat ketiakku, segera kurapatkan sehingga dia gagal. Wajahnya nampak kecewa. Berbisik, “Kenapa? Nggak mau ya?” Aku jawab, “Nanti kamu nggak tahan baunya, bau keringat laki-laki. Tina, aku ada permintaan…” Tina menjawab lirih, “Minta apa? “ Kujawab, “Mau nggak kamu tidur di kamarku bersama aku?” Tina diam saja, tidak mau menjawab. Wajahnya sudah ditarik menjauh. Aku takut dia marah. Lalu berbisik, “Kalau aku bilang… tidak mau, kamu marah?” Aku jawab, “Aku tetap membujuk sampai kamu mau. Sinar mata dan wajahmu mengatakan kamu mau…”

    Tiba-tiba Tina bangkit dan berjalan ke kamarnya. Di pintu masuk kamar, dia memalingkan wajahnya lalu menggapai aku supaya mendekat. Aku segera bangkit, menuju kamarnya. “Kamu saja yang tidur di sini, mau?” Aku menggelengkan kepala. “Kamar mandi untuk kamu kan ada di kamar tidurku,gampang untuk segala keperluan…” Tina tersenyum mengangguk. “Kalau begitu, kamu tunggu di kamar, ya, nanti aku menyusul kamu.” Jantungku hampir berhenti berdetak mendengarnya. (Tina mau lho, tidur denganku…!)

    Segera aku berjalan ke kamarku, lalu merapikan ranjang, meletakkan dua handuk melintang di atasnya. Tak lupa mengoleskan krim tahan lama pada kepala kemaluanku, lalu memakai sarung setelah melepaskan semua pakaian.

    Belum satu menit, Tina sudah berdiri di depan pintu kamar. Melihat aku memakai sarung, dia berkata, “Kamu ada sarung lagi? Aku ingin memakai. Rasanya praktis ya?” Aku mengangguk lalu membuka lemari pakaian, mengambil sarung lagi, kuserahkan kepada Tina. Dia membawa sarung itu masuk kamar mandi, melirik manis sambil berkata, “Jangan ikut masuk, ya?” Aku tertawa saja, lalu berbaring bertelanjang dada sampai pinggang. Sarung itu menutup bagian bawah setelah pinggang. Tina keluar kamar mandi dengan sarung menutup bagian dada sampai pinggul. Dia meletakkan pakaiannya, termasuk BH dan celana dalam kuning, di meja. Dia melirik lalu tersenyum, “Lihat BH dan celana dalamku? Nih, biar puas melihatnya.” Dia mendekati aku lalu memamerkan BH dan celana dalamnya ke dekat wajahku. Aku mendekatkan hidungku pada celana dalamnya, tetapi dengan cepat dia menariknya sambil tertawa.


    Dua detik kemudian, dia merebahkan diri di sebelahku. Aku melihat wajahnya, berpandang-pandangan selama beberapa puluh detik. Kudekatkan bibirku pada pipi, dahi, lalu… ke bibirnya. Dia melumati bibirku, perlahan mulanya. Lalu perlahan membuka mulutnya, sehingga kini mulutku bisa mengisap mulutnya sambil bergoyang ke kiri ke kanan, lalu lidahku bertemu lidahnya. Tina menghembuskan napasnya seperti tersengal, lalu kembali mengisap mulutku bergantian. Lengannya merangkulku, dan kini, yah, benarlah, dadaku bersentuhan dengan buah dada Tina yang kencang mencuat dan berputing keras. Dalam berahi yang makin membara, aku dan Tina sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Tiga gerakan cukuplah melepas sarung-sarung itu, sehingga tubuh Tina yang telanjang bulat sudah nempel erat dengan tubuhku. Dia mendorongku sehingga telungkup di atas tubuhku yang telentang, sambil terus mengisap dan mengisap dan mengisap mulut seraya bergoyang-goyang ke kiri kanan dan buah dadanya menekan menggeser-geser di dadaku. Aku sudah terbawa ke awan yang tinggi. Lenganku merangkul tubuhnya erat-erat, jembut Tina bergesekan dengan jembutku, aduh bukan main nafsuku berbaur dengan nafsu Tina. Kemaluanku yang sudah keras itu bergesekan dengan bibir kemaluan Tina, pahanya bergerak-gerak sebentar menjepit pahaku sebentar menindih dan entah gerakan apa lagi.

    Sebelas menit kemudian Tina melepaskan diri, mengangkat tubuhnya sambil memandangku. “Bagaimana rasanya, enak dan nikmat..?” Aku jawab, “Bukan main… Tina, oh ina, buah dadamu.. padat mencuat, aku nikmati sekali. Kamu merasa nggak… jembut kita beradu? Jembutmu yg lebat, menambah nikmatnya….” Belum sempat kalimatku selesai, Tina sudah menindihku lagi, kali ini dia membuka lengannya sehingga lidahku bisa menjilat ketiaknya yang halus tidak berambut. Kuciumi ketiak Tina beberapa saat, dan tubuhnya menggelinjang. “Ohh, Yan… Yanto… geli sekali rasanya…” Aku pindah ke ketiak yang satu lagi, dan Tina kembali menggelinjang. “Kamu doyan ya, menilat ketiak cewek?” Kujawab, “Ketiakmu harum dan indah bukan main. … Siapa bisa tahan membiarkan tidak dicium?” Kujilati terus kedua ketiaknya, dan Tina mengaduh-aduh penuh nikmat. Didadaku masih terasa buah dadanya menggeser-geser. Pinggulnya bergoyang terus, sampai suatu ketika, dia setengah berteriak, “Yanto… aku nggak tahan…. Ayo kamu di atasku…”

    Aku memutar tubuhku sehingga kini berada di atas tubuh Tina. Kedua lengannya merangkul punggungku, “Duh,.. tubuhmu sungguh kekar… aku sangat menikmati…. Ohh….” Sekarang aku menindih buah dadanya, sambil mulutku mengisap-isap dan isap mulutnya. Lidah Tina masuk ke dalam mulutku dan kuisap, alu giliran lidahku menelusuri mulutnya. Tina mengggelinjang, lalu membuka kedua pahanya. “Masukkan kemaluanmu…. pelan-pelan ya, besar sekali kemaluanmu… ooohhh… sudah… sudah masuk semuanya… oohh nikmatnya… nikmatttt sekali…..” Pinggulnya bergoyang naik turun makin cepat seiring dengan gerakan naik turun pinggulku. Terasa kemaluanku dijepit dan disedot kemaluannya. Aku mengeluh, “Tina, kemaluanmu sempit… duhh nikmatnya dijepit dan… disedot kemaluanmu… ooohhh Tina…” Dia menjawab, “Yan… jangan keluar dulu ya…. Aku masih ingin lama nih, menikmati … persetubuhan ini..” Lalu menggelinjang hebat ke kiri ke kanan, mulutnya tertutup rapat dalam mulutku dan mengeluarkan suara lenguhan seorang perempuan yang sedang penuh nikmat.

    Gerakan tubuhku dan Tina menimbulkan bunyi kecupak-kecupak saat kemaluanku menembus jembut dan kemaluannya yang sudah basah. Aku bertanya, “Tina, boleh kujilat jembutmu,…kemaluanmu….?” Segera dia menggelengkan kepala, meski mulutnya masih dalam mulutku. “Jangan sekarang,… jangan dilepasss… nanti saja… oohh,… nikmatnya…” Aku menggeserkan tubuh Tina kesamping, supayua dia tidak kepayahan menanggung beban tubuhku. Dia berbaring disampingku sambil lidahnya terjulur minta diisap. “Tina,…. Aku minta ludahmu…” Dia menjulurkan lidahnya, kali ini penuh ludahnya. Segera kuisap dan kusedot mulutnya dan kuisap ludahnya semua. Tina menggelinjang. “Kamu di bawah, mau…” Aku menggeser kembali, telentang di bawahnya. Tubuh Tina seluruhnya menindih tubuhku, buah dadanya kembali bergeser-geser. Kemaluanku berhasil masuk dari bawah, dibantu tangan Tina. Tina mengdesah, “Ooohh… aduhhh… nikmatnya, aduuhh… kemaluanmu memenuhi…. Kemaluanku penuh kemaluanmu, ohhh… terus, Yanto, terus genjot dari bawah…. Oohh…. Ohhh, nikmat sekali, …. “Gerakan tubuh Tina dan aku makin cepat sampai, “ Aku tidak…. Tidak tahan lagi…. Mau keluar…. Oohhh… keluar… Yanto…! Aku sudah keluar…. teruskan, teruskan…. Masih nikmat…. Mau lagi.. Yanto…. Kemaluanmu… nikmat sekali….. adu jembut, nambah nikmat…. Aku mau keluar lagiiiii…! Yanto, aku … nggak tahan, …keluar lagi, sudah dua kali… sekarang kamu dong, semprotkan manimu… ooohhh… ohh… terus Yanto, kamu harus puasss…” Aku bergerak terus, tetapi pengaruh krim tahan lama membuatku tidak gampang keluar.

    Aku berbisik, sambil lidahku menjilati lehernya, “Tina, masih nikmat… atau mau ke kamar mandi dulu, lalu berbaring sambil istirahat 30 menit dan ….. mulai babak kedua…?” Tina berbisik mesra. “Aku mau, Yanto, berkali-kali semalam suntuk bersetubuh dengan kamu…. Sekarang ke kamar mandi dulu… “ Dia beringsut mau turun ranjang, tangannya menggapai tissue lalu mengelap kemaluannya. Llau berjalan beringsut sambil terus memegang tissue di kemaluannya. Aku menyusul dia. Kemaluanku basah dengan air mani Tina, tetapi tidak sampai mengucur.


    Di kamar mandi, Tina berbisik, “Yanto, kamu… hebat… sebagai laki-laki, bisa memuaskan aku berkali-kali.” Aku menjawab, “Baru dua kali, Tina… “ Dia tersenyum, berbisik, “Semalam suntuk bisa berapa kali, ya? Aku kepningin terus, berahiku tidak…. tidak terbendung, sudah ditahan berhari-hari. Untung mbok pergi ya, jadi kita bebas ….” Aku menunduk, lalu kuserbu kemaluannya, kuciumi jembutnya, kujilati kemaluannya sampai dia kembali mengeluh nikmat. “Duhh, Yanto, … kamu merangsang lagi… ooh… ohh, aku terangsang… ayo balik ranjang… tapi, aku mau mengisap kemaluanmu dulu… waduh, sudah tegang lagi…” Mulutnya mengulum, mengisap kemaluanku beberapa menit. “Tinaaa…. Sudah, sudah, nanti aku crot dalam mulutmu, saying sekali. Lebih nikmat crot di dalam kemaluanmu…” Tina tertawa, “Nggak kuat ya? Pakai krim lagi? Biar kuat berjam-jam?” Aku mengangguk lalu memeluk tubuh Tina, buah dadanya kembali nempel dipinggangku. “Tina,… merasakan buah dadamu, sungguh nikmat…”

    Sampai di ranjang, kembali dia menindihku. “Kamu di bawahku dulu ya… Eh, belum pakai krim?” Aku beringsut ke meja lalu mengoleskan krim di kepala kemaluanku. “Nih, sudah pakai krim. Tidak takut crot dulu, sejam lagi rasanya.” Kembali tubuhku ditindih Tina, mulutnya kembali menyeruput mulutku, buah dadanya bergerak ke kiri kanan di dadaku, aduh nikmat sekali. “Kamu nafsu lagi, Tina?” Dia mengangguk, “Ya, kali ini sampai sejam baru aku keluar…. Ketiga keempat, kelima….”

    Aku menikmati posisi begini (sebutannya Woman on top missionary sex) selama sekitar 25 menit, terus menerus menyeruput mulut Tina, menelan ludahnya, merangkul erat tubuhnya, mencengkeram bokongnya yang aduhai, dan seterusnya. Tina juga menikmati perannya, memandang wajahku dengan sayu, menjulurkan lidahnya, masuk ke mulutku seraya menelusuri seluruh rongga mulutku, mengisap, mengisap, menyedot, menyedot, terus menerus. Pinggulnya bergerak ke kiri ke kanan, maka terasalah jembutnya bergesekan dengan jembutku, pahanya kadang-kadang menuruni pahaku supaya kemaluanku bisa menggeser-geser kemaluannya yang sudah basah itu.

    Setelah sekitar 25 menit itu, Tina melenguh dan mendorongku supaya bergeser ke samping, lalu berbisik, “Kamu naik ke atas ya… aku sudah nggak tahan, ingin dimasuki kemaluanmu…. Yang lama dan dalam,… jangan cepat-cepat, …. putar pinggulmu, nah gitu….ooh… nikmatnya, Yanto, terus… nikmatttt sekali…. Mauku sih yang lama,…. terus, … sekarang kemaluanmu… benamkan ke dalam kemaluanku, terus….. yang dalam… ohh, ohh, mmm… mmm…” Mulutnya kusedot sedot terus, dan dia membalas sedotanku, jadi cuma bisa mengeluarkan suara … mmm…. mmmm…. ahh… ahhh.. Sementara dadaku menindih buah dadanya, sungguh nikmat sekali. Buah dada yang mencuat dan kencang. Tiap lelaki pasti akan menikmatinya dalam posisiku ini. Aku sendiri mendesah kencang sambil menggerakkan pinggulku, naik turun dan putar-putar. “Tin… ooohh… jembut…. jembut kita…. beradu… nikmat sekali ya…?” Tina mendesah dalam mulutku, mmm… lalu menjawab, “Betul… jembut ketemu jembut…. dadamu menindih buah dadaku… nikmat sekali, Yantoooo… aku nggak tahan lagi… aku mau keluar lagi … Yantooo…. aku … keluar… crot crot…. Oohhh… nikmatnya….” Lengannya melingkari tubuhku dengan kencang. “Yanto,… tubuhmu… enak sekali kurangkul… kekar, … begitu jantan… nikmat sekali.. jangan lepas dulu ya…. teruskan, Yantoooo… aku masih bisa lagi, … “ Aku gerakkan pinggulku naik turun terus, kurasakan batang kemaluanku disedot dan dijepit kemaluan Tina… Kemaluannya berkedut-kedut… Untung aku pakai krim tahan lama. Siapa sih bisa tahan kemaluannya dijepit dan disedot begitu. Sekitar 12 menit, Tina kembali mengeluh panjang dalam mulutku, lalu pinggulnya mengejang keras dan… terasa lagi cairan hangat membasahi kemaluanku di dalam kemaluan Tina. Dia terengah-engah, sambil mengisap mulutku dia berbisik, “Yanto… aku sudah keluar… empat kali ya?” Aku menjawab, “Ya, baru empat kali. Masih mau empat kali lagi sampai pagi?”

    Tina berbisik, “Istirahat dulu yuk, setelah bersih-bersih di kamar mandi. Kamu hebat sekali, ya, belum keluar juga air manimu. Nanti aku mau mengisapnya ya, sisa-sisa air manimu, dalam mulutku, kalau sudah keluar dalam kemaluanku….” Dia menuntunku jalan ke kamar mandi sambil menempelkan buah dadanya di sampingku… Perasaanku sudah tidak karuan, lelaki menghadapi perempuan yang nafsunya besar dan tidak dapat dibendung lagi. Di kamar mandi, Tina mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil menjilati pipi dan leherku. “Yanto…. kamu jantan tulen… aku ingin terus dipeluk dan diapakan saja sampai pagi… “ Lalu menyabuni kemaluannya dan mengusap kemaluanku, dan menyirami lalu mengelap dengan handuk. Tina berbisik, “Mau kuisap… kemaluanmu?” Aku menolak, takut ngecrot di kamar mandi, lalu kepeluk dia menuju ranjang lagi.

    Kembali dia telungkup di atas tuuhku, lalu berbisik, “Mau main 69?” Aku mau, lalu dia menggeserkan tubuhnya, berbalik arah. Buah dadanya menggeser di dada dan perutku. Mulutku sekarang persis berhadapan dengan jembut dan kemaluannya, yang segera kujilat. Begitu juga dia, mulutnya menelusuri biji kemaluanku, lalu batangnya, dan menjilati kepalanya sebelum mengulum dengan penuh gairah. Dia mendesah ketika merasakan jembutnya kuciumi dan bibir kemaluan yang berwarna merah itu kujilati dengan sama gairahnya. Posisi ini berlangsung selama sekitar 10 menit, ketika aku merasakan puncak kenikmatanku nyaris sampai, lalu kuminta dia balik arah lagi. Kembali mulutku mengisap mulutnya, berbau jembut dan terasa agak asin. Dengan gairah penuh dia mengisap mulutku, menjulurkan lidahnya masuk keluar untuk beradu dengan lidahku. Buah dadanya bergerak kiri kanan di dadaku, nikmat sekali rasanya. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan main dengan boneka seks lagi. Kalah nikmat dibandingkan tubuh Tina. Lenganku melingkari punggung Tina, bokongnya kucengkeram dan kuelus. Tina mengerang, “Aku nafsu lagi, Yanto…. kamu begitu pinter… membangkitkan berahiku…”


    Dia mendorongku ke samping lalu menarik tubuhku sampai menindih tubuhnya. Kembali kutindih buah dadanya, begitu nikmat. Mulutku mengisap mulutnya, dan kemaluanku masuk ke dalam kemaluannya, jembutku bergesekan dengan jembutnya. Pinggulku naik turun, perlahan lalu tambah kencang. Selang lima menit, Tina sudah kelojotan, mengerang dalam mulutku, lengannya mencengkeram punggungku, pinggulnya bergerak cepat naik turun dan kesamping, dan… Tina menjerit tertahan dalam mulutku. Kemaluannya kembali memuntahkan cairan hangat, kurasakan kemaluanku disiram cairan hangat. Dia sampai puncaknya lagi.

    Dalam kondisi seperti itu, dia tetap memeluk aku. “Yantooo… terus yuk… aku masih bisa keluar lagi. Jangan lepas kemaluanmu, teruskan… 10 menit lagi aku crot… kamu juga kan? Aku merasakan kemaluanmu sudah kedut-kedut. Ayo sama-sama keluar, biar puas bareng…mau?” Aku mendesah sambil terus bergerak pelan, pinggulku naik turun. “Kamu ini, Tina… manis sekali… wajahmu bikin aku nafsu, buah dadamu bikin aku nggak tahan…. Tin, rasanya aku mau keluar nih, mana tahan sih, merasakan nikmatnya semua ini?” Tina senyum mendengar kata-kataku, lalu memandangku. “Aduhai, Yanto… kamu pemuda ganteng… jantan, … pandai membangkitkan nafsu perempuan … ayo terus… aku mau nih…. ooh… nikmatnya…” Tubuh Tina menggelinjang dibawah tubuhku, mulutnya menyedot mulutku, menyedot terus… buah dadanya bergoyang ditindih dadaku.

    Aku sudah tidak tahan lagi. Tadi lupa mengolesi krim tahan lama sekembali dari kamar mandi. Tuuhku bergerak naik turun dengan cepat, mengeluarkan bunyi kresek-kresek dan kecupak-kecupak ketika mulutku mengisap mulutnya dan jembutku beradu dengan jembutnya. “Tina,… buah dadamu… bikin akau tidak tahannn… aku mau keluar nih…” Tina mendesah, “Ayo, terus…. Aku juga mau keluar lagi… oohhh…. Yanto… mmm… ouww…. nikmat sekaliii…. “ Aku sampai puncaknya. “Tinaaa…. Aku keluar…. Aku keluar… oohhh… nikmatnya buah dadamu, jembutmu, kemaluanmu… oouww…. “ Maka crot-crot-crotlah air maniku dalam kemaluannya. Aku ingat pesannya supaya disisakan air mani untuk masuk mulutnya. Kuarahkan kemaluanku ke mulutnya dan…. crot-crot lagi dua tetes air mani dalam mulut Tina.

    Beberapa menit aku tergolek di atas tubuh Tina, mengatur napas. Tina juga begitu. Tina puas empat kai rasanya, dan aku satu kali. Dia berkata sambil senyum manis, “Yanto, kita sama-sama keluar ya? Sama-sama puas? Besok malam mau lagi? Saban malam… Aku ini perempuan penuh nafsu, ya? Aku sayang kamu, bakal jadi cinta.” Lalu berdua aku ke kamar mandi, membersihkan tubuh, lalu tidur sampai subuh.

  • Kisah Memek Ngentot pertama kali dengan pembantu baruku

    Kisah Memek Ngentot pertama kali dengan pembantu baruku


    3975 views

    Duniabola99.com – Saat ini aku sdh menjalin hubungan dgn seorang gadis yg sekolah di tempat yg sama dgnku. Dia bernama Echa dan hampir satu tahun aku bersamanya, aku merasakan senang dalam mengisi hari-hariku tp dia tak pernah mau melakukan hubungan badan, dia bilang kalau aku sayang dia aku tdk akan melakukan hal itu.


    Akupun akhirnya menyggupi permintaan Echa aku tdk pernah melakukan hal mesum padanya, walaupun sebenarnya aku ingin sekali melakukan hal itu sebagai cowok yg masih dalam masa labil, apalagi aku jg sering mendengar teman-temanku menceritakan tentang ngesex mereka dgn pacarnya. Dan aku hanya bisa jadi juru pendengar bagi mereka.

    Tanpa mengetahui apa yg dinamakan klimaks dan lainnya, tp akhirnya akupun dapat menikmati adegan seperti itu begitu mamaku menerima seorang pembantu baru utk membantu pekerjaan bi Narsih yg sdh agak lanjut usianya.Tp karena bi Narsih sdh dari dulu menjadi pembantu mama bahkan dia sdh di anggap salah satu anggota keluarga. Situs Judi Online

    Karena itu mama tdk memperhentikanya bahkan mama mencarikannya seorang teman, dan kali ini pilihan mama seorang gadis yg masih berumur 22 tahun. Wulan namnya, orangnya manis dan dia jg memiliki tubuh sintal dgn kulit kuning langsat yg bersih. kalau saja Wulan menjadi seorang model menurutku dia cocok sekali.


    Karena wajah dan tubuhnya begitu mendukung malah mamaku pernah bercanda padanya

    “Kenapa nggak jadi model saja kamu Nis…” Dia hanya tersenyum sambil berkata

    “Model apa bu.. orang Wulan cuma tamatan SD..” Aku lihat semakin hari Wulan terlihat centil bahkan sama papa saja dia langsung akrab dan mama hanya tersenyum melihat tingkah polah Wulan yg centil tanpa ada cemburu sekalipun.

    Singkat cerita, Hari ini aku baru pulang dari sekolah dan cuaca begitu menyeramkan dgn hujan deras yg mengguyur mulai pagi.
    Sedangkan ortu ku sdh 2 hari berada di luar kota, begitu sampai di rumah aku langsung masuk kedalam kamarku dan hanya main hp androidku. Makan siangku di anter oleh Wulan ke dalam kamar begitu jg piring setelah selesai makan Wulan yg mengambilnya ke kamarku.

    Ketika jam makan malam aku mendengar pintu kamarku terbuka sempat aku melihat dgn sedikit membuka kelopak mataku bi Narsih membangunkan aku

    “Den.. bangun makan malam dulu…” kata bi Narsih dgn malas aku jawab
    “Iya bi.. nanti aja.. ” Diapun bangun lalu pergi sambil berkata
    “Ya sdh nanti minta sama Wulan ya.. bibi mau tidur dulu udah ngantuk..” Diapun berlalu.

    Aku masih terasa malas sampai akhirnya perutku bersuara yg menandakan kalau dia sdh mulai lapar. Akupun teriak pada Wulan agar mebawakan makan malamku ke dalam kamar, dan setelah selesai makan malam aku segera beranjak masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku. Setelah agak lama berada di bawah shower akhirnya akupun keluar dari dalam kamar mandi.


    Dgn hanya menggunakan handuk yg melilit di pingganggku, sewaktu aku mau mengambil baju tiba-tiba Wulan masuk kedalam kamar melihatku setengah bugil dia teriak

    “Aduh mas Toni… iiiihhhh malu aaahhh..” Akupun bermaksud menggoda Wulan aku dekati dia

    “Wulan nggak pingin ini… ” Sambil aku sodorkan penisku padanya dan aku tdk menduga apa yg dilakukan oleh Wulan.

    Diapun langsung melorotkan handukku hingga terlihat penisku yg masih bergelantungan tanpa CD. Aku hendak mundur namun Wulan keburu menangkapnya lalu dia memasukkan penisku kedalam mulutnya

    “Oooooggghhhhhh… Wuullll… uuuugghh…. oooogghh… peelaaannnnnnn… Wuullll… mmmpphhhhh..” Agak sakit penisku ketika dia menggigitnya namun terasa begitu nikmat ketika mulutnya mulai mengulum penis itu.

    Sampai-sampai aku bergelinjangan di buatnya karena memang baru pertama kali aku melakukan adegan seperti ini. Aku tdk berbuat apa-apa hanya melihat perlakuan Wulan padaku diapun menatapku sambil melucuti bajunya jg, saat itulah aku melihat tubuh Wulan begitu mulus membuat penisku semakin tegang saja kembali Wulan mengulum dalam mulutnya.

    Akupun kembali mengerang


    “Aaaaggghhhh… mmmpphhhhh.. Wuullll… oooogghhhhhh…. oooogghhhhhh… oooogghhhhhh… ” Wulan berhenti lalu dia menyuruhku utk naik ke atas tubuhnya yg sdh terlentang dgn pasrah, akupun menusukan penisku kedalam meqinya awalnya aku mengalami kesulitan tp akhirnya dgn batuan tangan Wulan akupun dapat menmbus meqinya.

    Aku terdiam menikmati kenikmatan ini, aku merasa penisku terasa hangat dalam meqi Wulan. Dan aku sadar ketika pantat Wulan mulai bergerak di bawah tubuhku akupun menggoyang pantatku dan lama-lama akupun begitu fasih mengikuti gerakannya

    “Oooogghghhhhh…. Oooogghghhhhh… Oooogghghhhhh… mmmpphhhhh…. Oooogghghhhhh… Oooogghghhhhh… Oooogghghhhhh..” Enak sekali rasanya.

    Kini aku begitu fasih menggerakan menggoyang pantatku seperti pemain dalam adegan cerita ngentot. Dan berulang kali aku menggoyang pantatku hingga berklai-kali aku mendesah


    “Ooogghhh… Wuullllllll… mmmpphhhhh… eennnaakkk… Wuullll….. ooogghhh…. ooogghhh..” Seruku di sela tubuhku sambil bergoyang, dan tak lama kemudian akupun merasa.

    Akan segera mengeluarkan sesuatu yg menyatu dalam selangkanganku

    “Oooooggghhhhhhh… Wull.. aaaku… sampeeee… oooggghhh… oooggghhh…” Tumpah jg air mani pertama kali tumpah dalam meqi seorang wanita.




  • Asian Amateur Group Sex With Two Brunette Babes

    Asian Amateur Group Sex With Two Brunette Babes


    1994 views

  • Video bokep Katerina Kay dan Sammie Daniels teknik rayuan

    Video bokep Katerina Kay dan Sammie Daniels teknik rayuan


    2582 views

    Agen Joker688

  • Kisah Memek Enno Si Penyiar Cantik

    Kisah Memek Enno Si Penyiar Cantik


    2535 views

    Duniabola99.com – Kejadian ini merupakan suatu sejarah kehidupan biruku beberapa tahun yang lalu, tepatnya 27 Maret 20115, hampir setahun setelah lulus SMA di Magelang dan sedang menunggu panggilan bekerja dari sebuah perusahaan penerbangan di Jakarta.


    Pagi itu, aku bangun dengan penuh semangat, ada janji jalan-jalan bersama mantan adik kelasku di SMA **** (edited). Hari itu hari libur sekolah. Namanya Enno **** (edited), dia seorang penyiar remaja yang cukup dikenal di kota kecil itu, pada masa itu. (kalau ada yang kenal, tolong salamin ya?)

    Dengan Astrea 800 warna merah kesayangan, kujemput dia sekitar pukul sembilan pagi. Saat kebetulan sampai di sana Enno memang baru menungguku. Sementara menunggu Enno mandi, aku ngobrol dengan mamanya. O iya, si Enno tinggal berdua dengan mamaknya (dia panggil ibunya ’emak’)

    Tak lama kemudian Enno selesai mandi, emaknya masuk ke ruang tengah. Ruang tamu cuma kita bedua, setelah Enno berganti baju, adegan French kiss mengalun begitu saja. Singkat cerita, kayaknya kok tidak nyaman kissing di ruang tamu, lalu kita sepakat untuk jalan-jalan saja.

    Tepat pukul sepuluh, setelah sedikit berbasa-basi dengan mamanya, kita pergi menuju ke pinggiran kota. Sepanjang jalan kami sama-sama diam tak tahu mau ke mana. Kuarahkan sepeda motorku ke arah Borobudur, sebelum sampai ke kawasan candi, kubelokkan motorku ke arah kali Progo (melewati Mendut) menuju daerah Ancol salah satu tempat pacaran favorit di pinggiran kota Magelang. Dan di sana kissing kita teruskan lagi, maklum waktu itu status kita belun resmi pacaran, baru hobby sama lagu Slank “Ameican style” gitu… Kita belum terpikir untuk melakukan hubungan badan yang terlalu jauh waktu itu. Namun, setiap hal pasti memiliki sebuah awal, dan hanya alamlah yang tahu dari mana sang awal itu berasal.


    Tiba-tiba langit menjadi gelap (Padahal pagi tadi cerahnya bukan main). “Nduk.., (begitu panggilan sayangku padanya) kayaknya mau ujan nih..”.

    Gendhuk diam saja, Untuk beberapa saat dia memandangi mukaku yang hancur seperti si Komar 4 sekawan itu. Pandangannya agak meredup, lalu dia memelukku, satu kecupan mendarat di bibir tebalku, sesaat kemudian kulihat Gendhuk tersenyum penuh arti dan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu. Meskipun tiada kata cinta yang terucap, aku hanya mengerti, apa arti senyumannya itu.

    Tanpa banyak tanya, aku starter lagi motorku yang sejak tadi kuparkir di pinggiran sungai Progo, aku pacu seolah ingin berburu dengan hujan yang sewaktu-waktu mungkin tiba. Kupegang tangannya, kutarik agar dadanya lebih menempel di punggungku, terasa payudaranya yang mulai ranum itu menusuk lembut mata punggungku.

    Setelah beberapa kilometer kuhentikan motor dan kusuruh dia duduk di depan. Kujalankan lagi motor pelan-pelan. Saat itu gerimis mulai turun. Sementara dari kejauhan, kota Magelang sangat gelap, mungkin sudah deras hujannya. Posisi duduk kami di motor sangat romantis, Aku duduk di belakang, tangan kananku memegang stang gas, tangan kiriku menggenggam erat tangan kanannya. Tangan kiri Gendhuk memegar stang kiri.

    Sambil menyanyikan lagu Nothings Gonna Cahange, kusuruh tangan kanannya berpegangan pada speedometer. Sementara secara naluri, tangan kiriku mulai masuk ke sweaternya. Kucari dua gundukan itu, lalu kuremas-remas setelah kudapatkan.

    Motor kami masih berjalan pelan menyusuri jalan Borobudur – Magelang. Kendaraan lain hanya terkadang lewat, suasana alam cukup mendukung keberadaan kami untuk berduaan saja.

    Setelah beberapa menit, langit semakin menghitam, sementara Enno mulai menggeliat sembari mendesis-desis kecil. Saat tanganku berpindah ke arah celana jeans-nya, Enno tak melarangnya. Aku buka ritsluitingnya, kudorong sedikit duduknya sehingga posisinya agak kupangku, kumasukkan tangan kiriku ke dalam celananya, kumainkan jariku sedapat-dapatnya. Teman-teman, meski kejadiannya di atas motor, namun sensasi yang kami rasakan lumayanlah. Bulu-bulunya terasa halus di ujung jemariku dan sedikit ke bawah kemudian, jariku menyentuh kewanitaannya secara acak demikian juga klitorisnya. Sedikit desahan tersendat kurasakan di dadaku karena memang posisiku menempel ketat di belakangnya, sementara itu si ucok sudah tidak peduli terhadap cuaca yang lumayan dingin karena gerimis.


    Lalu bagai tak sadar, tangan Enno merayap ke belakang, mencari-cari pusakaku. Aku tahu posisinya agak sulit buat dia, makanya aku membantu buka ritsluiting celanaku, kubimbing tangannya memasukinya. Dan apa yang kami rasakan pastilah bisa kalian bayangkan saudara-saudaraku…

    Tak berapa lama kemudian, kami putuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, kepalang tanggung, jam sudah menunjuk angka dua. Setelah ber-petting di motor, kuarahkan motor melaju menuju Muntilan. Karena arah Magelang – Muntilan adalah jalan utama, kami menghentikan aktifitas kami yang cukup melelahkan perasaan dan tenaga tersebut.

    Kupacu sepeda motorku sampai di Blabag (sebelun Muntilan) kubelokkan stang ke kiri mendaki menuju arah gunung Merapi. Saat itu aku yakin, walau kubawa ke manapun dia tidak akan menolak. Benih cinta itu kami rasakan sedang berkembang saat itu. O Iya, sebelumnya kami sudah bertukar tempat duduk lagi sehingga aku di depan, sedangkan tangannya sudah tak mau lepas dari kepala kentangku, malah sekarang kedua tangannya telah masuk ke dalam. Motor tetap kupacu sekitar 40 Km/jam, kendaraan banyak berseliweran tapi kami sudah tak peduli. Enno masih melayang dengan kedua tangan di dalam celanaku dan tertutup oleh ujung sweaterku, sehingga orang sekilas akan mengira tangannya hanya memeluk pinggangku saja.

    Sementara aku masih berjuang untuk tetap konsentrasi mengemudikan motor ke arah Kedung Kayang, suatu tempat sakral para sejoli mencari tempat pacaran. Kedung Kayang terletak di tepian gunung Merapi, berupa sebuah jurang yang dalam dengan panorama yang luar biasa indahnya. Teman-teman, sebenarnya aku tak tahu kenapa kita ke tempat itu, (bukannya ke hotel misalnya..) naluri membawa tanganku untuk menuju ka sana.
    Sementara hujan akan segera mengucur…


    Sampai di Kedung Kayang suasana sangatlah sepi. Tak satupun kendaraan terparkir di sana. Maklum mendung dan gerimis. Kami turun dari motor, sedikit berjalan ke arah sebuah tempat berteduh, berjalan beriringan tanpa satupun kata terucap, kepala kami terlalu sarat dengan apa yang baru saja kami lakukan. (sebagai info: saat itu adalah pertama kali melakukan petting, sebelumnya hanya French kiss aja..)

    Gerimis mulai lenyap berganti hujan, kami telah cukup selamat berteduh, meski baju kami agak basah. Mata kami hanya saling beradu, cukup lama… Kami tidak tahu mau berkata apa, tetapi kami juga tidak merasa menunggu apa-apa. Di beberapa detik berikutnya, tangan kami telah berpegangan. Kuusap pipinya dengan beribu kata di hati. Terasa ada gemuruh, entah di dalam dada, entah di luar sana geledek yang lewat.

    Seiring dengan beriramanya hujan yang makin menderas, secara refleks kepala kami saling menyongsong, bibir kami saling berpagut.., lama dan mesra. Kedua tanganku memegangi kedua sisi rahangnya, lidah kami menari bersama. Kurasakan tangannya mulai naik merangkul leherku, semakin lama makin erat pegangannya. Kuturunkan bibir dowerku ke arah leher jenjangnya, kuciumi dengan nafsu yang sedikit kupendam sehingga tak meluap begitu saja.

    Tiba-tiba kepalanya terdongak, dan kali itulah aku melihat seorang wanita menggelinjang.. indah sekali, tangannya yang mengejang menambah erat pelukan di leherku. Kuhentikan secara mendadak ciumanku di lehernya, sempat kulirik hujan telah turun dengan derasnya bagai kesetanan.

    Enno sempat kaget saat kuhentikan ciumanku. Aku tersenyum, lalu dengan cepat kusambar lagi lehernya dengan nafsu yang tak dapat kutahan lagi. Kujilati lehernya, aku cupang pangkal lehernya.


    Irama hujan seolah menabuhi apa yang kami lakukan. Desahan nafas kami sama-sama memburu bagaikan bernyanyi dengan alam Kedung Kayang yang angker keindahannya. Lalu dengan kasar kunaikkan t-shirtnya sampai ke lehernya, kupegang pantatnya dengan tangan kiriku kuremas-remas dengan gemas, dan tangan kananku menarik kutangnya ke atas searah t-shirt yang kuangkat tadi. Kutemukan dua gundukan indah yang lebih ranum dari Merapi yang usianya sudah seumur bumi. Kumainkan kedua putingnya bergantian, kugosok sejadi-jadinya hingga wajahnya merah merasakan kekasaranku.

    Desahan-desahannya sudah tak kuhiraukan lagi (kelak aku meyadari bahwa cinta dan nafsu ternyata bagaikan Qobil dan Habil anak Adam dan Hawa). Kudorong tubuhnya ke arah tembok agar tak terlalu berat menyangga beban berat tubuhnya yang disesaki berahi itu. Kumajukan kaki kiriku ke arah selangkangannya, kutundukkan kepalaku dan kujilati puting susunya, kusedot-sedot dengan kekuatan penuh seperti dendam pada sang hujan kenapa baru sekarang aku dikenalkan dengan kenikmatan seperti ini. Kugesek-gesekkan kaki kiriku ke pangkal pahanya, matanya merem melek tak tahu sudah sampai di mana otaknya yang melayang. Aku masih tak perduli, sex is sex…
    Kini badannya lemas tidak.., kakupun tidak, hanya kepasrahan saja yang kudapati di raut mukanya yang tak lagi manis itu dan tak lagi cantik itu karena mataku juga sudah khilaf.

    Setelah beberapa cupanganku menghiasi sekitar putingnya, kini dengan satu tangan kuremas pantat, satu tangan lagi berkarya di ritsluitingnya. Kubuka celananya, masih dengan nafas yang memburu, kulorotkan celananya sampai dengkulnya, kumasukkan tangan kananku ke dalan CD-nya, bagai tanpa perasaan lagi kumainkan dengan ganas vaginanya, kusentil-sentil sekitar clitorisnya, dia melenguh di dunia tanpa akal. Kumasukkan jari tengahku ke arah lubang vaginanya, kumasukkan dengan ganas, kuputar-putar jari tengahku di dalam vaginanya yang sedamg ranum-ranumnya. Sambil kusedot dengan kuat susu kirinya, aku mainkan tangan kiriku di lubang pantatnya, masih terdengar jelas suaranya memanggil-manggil namaku dengan penuh kenikmatan.


    Akhirnya setelah orgasme yang kesekian baginya, kubuka celanaku, kuturunkan sebatas dengkul, kuturunkan juga celana dalamku, dengan posisi agak jongkok, kutarik kaki kiri pasanganku, dengan galak kunaikkan sedikit kakinya lalu dengan penuh nafsu kuarahkan moncong “hidung” pinokioku ke arah lubang sorganya. Susah, sempit dan erangan perih terdengar lirih di antara erangan kenikmatannya.

    Kini matanya terbuka, dipandanginya aku dengan sorot yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, lalu dengan cepat mulutnya menyambar mulutku. Permainan bertambah panas setelah itu, seolah-olah kami sudah tak ingin membuang waktu lagi. Dengan isyaratnya, kuhujamkan penisku dengan agak kasar, kurasakan mulutnya seakan menahan sesuatu saat berpagut dengan mulutku, tapi kini kami tak perduli. Dengan saling bantu, akhirnya sedikit-demi sedikit penisku berhasil ditelan dengan mesra oleh vaginanya. Benar-benar basah, panas dan berjuta perasaan meledak di dalam dada saat kurasakan vaginanya bagaikan mulut bayi yang menghisap kempongnya dengan gemas.

    Agak lama juga kami saling menggocok, menggoyang dan bertempur lidah.., sampai akhirnya batas kemampuan kami berdua telah sampai di ambang batas, dengan di awali suara gelegar geledek di atas tempat kami berlindung, sebuah erangan keras dan tubuh mengejang sama-sama mewarnai hari bersejarah tersebut. Kami mencapai orgasme bersama-sama semenit sebelum kaki kami lunglai menahan berat beban nafsu kami.


    Sekitar setengah menit kemudian kami berpelukan, kedua alat reproduksi kami masih berpelukan juga. Lalu hujan berhenti berganti dengan gerimis. Kami rapikan lagi baju kami berdua. Kami terdiam, menatap pemandangan basah di sekitar kami. Indah.., seindah suasana selanjutnya saat kupeluk tubuhnya dari belakang, dan kami menikmati sisa-sisa orgasme kami.

    Beberapa saat kemudian serombongan keluarga melewati kami. Aku bersyukur, mereka tidak datang sejak tadi mengingat tempat kami berkarya tadi relatif sangat terbuka. Seorang ibu sempat mengernyitkan dahinya melihat kami berpelukan. Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dan kulihat bagian belakang kaosnya berwarna merah.

    “Ndhuk..”, aku memanggilnya dan memberi tanda dengan mataku ke arah bagian bawah kaosnya. Sedikit ekspresinya menandakan kekagetannya. Darah…. Ya, sore itu kami melepaskan keperawanan kami berdua. Lalu dia tersenyum. Kami berpandangan, lalu berpelukan.

    Setelah gerimis agak reda, waktu telah menunjukkan pukul lima seperempat. Kami pulang dengan wajah sangat bahagia.

  • Kisah Memek LINDA

    Kisah Memek LINDA


    3493 views


    Duniabola99.com – Sebagai seorang lelaki, aku nie tidaklah termasuk dalam kategori kacak. Aku tak hansom. Sejak aku lepas berkhatan, muka aku tumbuh jerawat. Banyak. Orang kata jerawat batu. Kasar-kasar pulak tu. Jadi aku picit-picit, kekadang berdarah, ada isi putih. Lekeh lah. Bila dah berumur 23 sekarang ni, bopeng-bopeng lah muka aku. Kulit aku hitam macam kulit bapak aku. Bapak aku keturunan mamak Karala. Mak aku orang Melayu lah. Yang aku tahu, badan aku memang sasa. Tegap. Aku memang kaki sukan. Aku ada Naib Johan Sesi Angkat Berat disekolah ku.aktu aku berumur 16 tahun, bapak aku tiba-tiba dia kena tukar ke Kedah. Itulah nasib anak orang kerja polis. Sebab terpaksa meneruskan pelajaran sekolah aku di JB ni dan nampak ok, supaya jangan terganggu, Mak aku suruh aku tinggal saja dengan Mak Cik Haslinda. Jadi, dari usia 16 tahun hinggalah sekarang, sejak dari Tingkatan 4 hinggalah dah menuntut di IPT; aku masih duduk di rumah Mak Cik Linda. Kira-kira dah lebih tujuh tahun aku duduk dengan Mak Cik Linda – adik angkat Mak Aku sejak dari kecik. Nenek aku sendiri yang bela dia sejak kecil.

    Rumah Mak Cik Linda memang besar, ada 4 bilik. Bungalo. Tak apa lah. Dia pun duduk sorang, jadi cikgu sekolah menengah di Tampoi. Dia lepasan Universiti di Amerika. Umurnya baru 32 tahun, masih belum kawin lagi. Masih anak dara lagi. Khabarnya, ramai orang hendakkan dia, tapi dia memang tak nak kawin sebab dia duit banyak. Alasannya, nanti jantan tu kebas duit dia, habis ler. Dia cerita dengan Mak aku, dia takut bersalin sebab katanya ‘bendanya’ kecil sangat. Aku cuma dengar celah pintu dulu. Masa tu aku baru standard six. Jadi andartu pun tak apa, katanya. Mak aku geleng kepala. Aku tak tau lah.

    Sampai hari ini, dah 32 tahun umurnya, aku tengok Mak Cik Linda memang lawa. Memang ramai orang yang tergila-gila kepadanya. Tapi dia buta tak kisah saja. Mak Cik aku nih memang ada darah keturunan Cina (Mak Cik aku anak angkat keturunan Cina). Nenek aku tak ada anak perempuan ramai, jadi dia ambil sorang anak angkat keturunan Cina. Dipelihara dan disekolahkan hingga ke IPT di Amerika. Nenek aku memang banyak duit. Tampoi sekarang sedang membangun jadi kawasan perindustrian. Satu hektar harga sampai RM400 ribu. Nenek aku ada tanah luas – hampir 30 ekar hasil peninggalan arwah datuk aku dulu. Datuk aku seorang bekas Pegawai Daerah dalam zaman sebelum Merdeka. Sekarang dia dah meninggal. Begitulah.


    Dah 3 bulan aku duduk dengan Mak Cik Linda. Aku macam biasa saja. Aku segan-malu kepada Mak Cik aku tu sebab dia baik dengan aku. Dia sistematik betul orangnya. Semua perabutnya terjaga rapi dan mahal-mahal. Langsirnya harga beribu-ribu RM.

    Nak jadi cerita, satu hari aku terjumpa majallah dalam almari bukunya di ruang tamu. Majalah Playboy. Ada gambar. Tak pernah aku tengok gambar pompuan telanjang. Bederbar hati aku. Aku tengok habis-habis. Masa tu Mak Cik Linda di sekolah sebab ada klas tambahan murid-murid Tingkatan 6. Lepas tu aku pergi tidur petang tu. Aku memang suka tidur petang. Tapi petang tu aku tak boleh tidur sebab kepala aku asyik teringat gambar tadi. Kejap-kejap ku tengok, kemudian aku simpan bawah tilam. Masa itulah kote aku rasa tegang. Aku usap-usap. Aku rasa lain macam jer. Bila aku naik syok sikit aku rasa ada air meleleh kat hujung kote aku. Aku takut. Bukan air kencing. Jernih macam kencing tapi belendir. Aku tak faham.

    Petang tu aku sentiasa buat gitu. Sedap. Lelama aku pun tertidur. Lepas waktu Asar, aku masih juga tidur lagi. Aku tak sedar Mak Cik aku pulang. Kereta Mercedez 230 nya parking kat anjung rumah. Tak kisah lah sebab aku dalam bilik. Masa tu aku baru saja terbangun. Aku usik balik kote aku sambil bersandar di kepala katil. Aku lancapkan kote aku. Sedap ‘gak. Sambil tu aku tengok gambar telanjang tadi. Lagi naik nafsu aku. Kote aku jadi tegang. Tapi tak de lah besar sangat sebab aku baru berumur 14 tahun. Kerana kesedapan, mata aku sampai terlelap. Sambil itu tangan aku masih menggohed sorong tarik kencang.

    Dengan aku tak sedar, tetiba pintu bilik aku terbuka ditolak orang. Aduihhh….Mak Cik aku tersembul, tercegat kat pintu. Entah berapa lama dia tengok aku pun aku tak tau. Mesti dia terpandang aku sedang main sorong tarik kote aku. Aku terperanjat tergamam sakan. Kote aku sedang mencodak keras. Tangan aku menggenggam dan sedang melancap sorong tarik. Gambar playboy tadi terbentang atas tilam.

    Aku cepat-cepat berkalih membelakang dan sorokkan buku Playboy tadi. Aku takut campur malu pandang muka Mak Cik aku di pintu tu. Tak lama kemudian aku dengan pintu bilik aku ditutup. Dia dah berjalan keluar. Dalam ketakutan itu, aku dengar Mak Cik aku masuk kebiliknya. Tentu dia mandi agaknya, sebab dia baru balik sekolah petang. Biasalah gitu kalau lepas balik sekolah.

    Bila aku dengar senyap sikit, perlahan-lahan aku beranikan hati turun ke bilik air tingkat bawah. Sampai aku dibawah, cepat-cepat aku tolak pintu bilik air tu dan melompat terus masuk.


    ALAMAK..!! Bagai nak pengsan aku!!..Terperanjat besar! Rupanya Mak Cik ada dalam bilik air sedang buang air kecil. Bila aku menerpa masuk, dia meloncat bangun. Terperanjat. Sambil itu dia mengangkat kainnya. Rupanya dia kencing. Bila pintu bilik air tu aku tolak tadi, dia tergesa-gesa melompat bangun dari ‘bowl’ tandas tu. Aku pun terperanjat. Tersirap darah aku.

    Berdebar sekali lagi hati aku. Itulah pertama kali aku tengok cipap orang pompuan. Mak Cik tengah terkangkang. Dia belum habis kencing. Belum selesai…. meleleh basah menjejes ke pehanya yang putih melepas tu. Bulu cipapnya tebal hitam. Seram aku.

    Dia menjerit…”Man..Mak Cikkk…..!!” aku pun meloncat nak keluar. Malangnya aku terpijak hujung kain aku. Terburai. Aku tersungkur. Ta sengaja, aku langsung berpaut ke peha Mak Cik Linda. Sambil aku tengadah memegang kakinya, tak sengaja aku ternampak betul-betul berdepan dengan cipap Mak Aku yang masih menitis kencing. Peha dan kulit perutnya putih melepak. Kan aku kata keluarga Mak aku nih memang ada darah keturunan Cina. Menggelupur aku keluar, terdengkot-dengkot. Malu besar aku.

    Dah 2 kali aku buat salah yang memalukan hari tu. Aku tak jadi mandi. Terus masuk bilik. Hati aku risau. Tentu Mak Cik aku marah. Aku tunggu. Aku buat-buat tidur sambil menunggu Mak Cik aku masuk. Aku mesti terima maki hamun Mak Cik Linda.

    Lewat jam 8.00 malam aku tiba-tiba terbangun digerakkan orang. “Man, bangun makan..” Rupa-rupanya Mak Cik aku masuk bilik. Dia senyum jer. Aku terperanjat dan tutup muka aku. “Man malu ye?” kata Mak Cik aku. “Tak pe lah. Bukan Man sengaja….Maih makan ke bawah. Mak Cik dah siap hidang” katanya. Sedap sikit hati aku. Ditariknya lengan aku. Aku pun ikut. Malu-malu aku tak ketahuan lagi.


    Lepas makan aku pergi mandi. Mak Cik aku masuk bilik macam biasa. Selalu gitu lah. Dia baring-baring dalam biliknya. Biliknya memang besar. Dua dijadikannya satu. Aku duduk di ruang tamu, tengok TV diruang tetamu tu. Biasalah. Tapi kali ni hati aku rasa tak sedap. Jadi aku pun masuk bilik. Sebetulnya, aku dah ketagih nak tengok gambar Playboy tadi. Tapi puas aku mencari-cari majallah itu, tak jumpa. Lelama aku syak Mak Cik aku tentu ambil tak bagi aku tengok gambar lucah. Aku budak-dak lagi. Maklumlah, umur aku baru 14 tahu. Hai…rasa malu aku tak terkata lagi.

    Dalam aku termangu-mangu itu, aku dengar pintu bilik aku diketuk. Aku sahut..”Ya..!!!”

    “Man datang bilik Mak Cik kejap”. Kata Mak Cik ku memanggil. Aku pun simpul kain sarung aku. Aku nampak sekilas pandang dia masuk bilik. Dia pakai baju tidur warna merah jambu pucat. Wangi saja udara diruang lorong bilik tu. Memang Mak Cik Linda suka pakai lotion kulit yang berbau wangi. Dia selalu pergi shopping di Singapura.

    Aku katuk pintu biliknya, “Mak Cik panggil Man ke?” aku tanya. Dia tak pandang muka aku. Aku ketakutan sikit. “Hmmm..duduk kat situ.” Jawapnya perlahan-lahan sambil menunjukkan tepi katilnya. Aku tengok dia sedang mebalik-balik buku-buku sekolah dan buku teks lain. Kaca TV 22″ dalam biliknya masih lagi Warta Berita TV3. Baru jam 8.45 malam. Mak Cik Linda memang suka tengok TV dalam biliknya. Lagi pun dia memang ada Video dalam biliknya. Dia jarang tengok TV di bilik tetamu. Aku saja yang selalu. Aku diam saja. Tak tau nak kata apa.

    Tiba-tiba katanya, “Man tengok ke majalah ni tadi..?!” soalnya. Aku tergamam. Dia tak pandang muka aku. Majallah Playboy tadi diunjukkannya kepada aku. Dia terus membalik-membelek buku sekolah muridnya. Aku sambut dan aku diam saja. Takut pandang kearahnya.

    “Tunjuk sini, gambar mana yang Man tengok” katanya. Mak Cik Linda macam memaksa aku. Aku capai buku tu, dengan tangan terketar-ketar. Macam orang patuh, aku selak gambar muka tengah, gambar pompuan Jepun yang sedang terkangkang. Nampak ‘benda’ tu..!!

    “Oh…dah selalu tengok gambar macam ni ya..” ujarnya. Aku takut tak menjawap. Dia masih tak pandang muka aku. “Selalu ke tengok gambar macam ni?”soalnya lagi. “Tak pernah” jawab ku pendek. Ketakutan. Mak Cik masih terus membalik buku sekolah muridnya. Aku tergamam. Tentu kali ini aku parah kena hamun dek Mak Cik Linda – fikir ku.

    “Suka ke tengok gambar macam tu?” soalnya. Aku diam. “Ha..? Suka?” soalnya lagi. Aku jawab pendek saja, “Tak…!!”

    “Habis kenapa tengok?” soalnya lagi. Aku terdiam. “Dah pernah ke tengok orang perempaun telanjang” soalnya. Aku dah naik kecut. Menggigil aku satu badan. Aku tunduk dan gelengkan kepala. Aku rasa dia pandang kat aku. Tapi aku tak berani angkat muka.

    “Kenapa malu-malu pulak?” soalnya. Aku tunduk lagi. Tak berani aku padang arahnya. Air mata aku dah mula macam nak keluar. Takut sangat. Nanti aku kena halau, tentu Mak dan Abah marah kat aku. Aku pejamkan mata aku. Bilik yang terang berderang itu aku rasakan bagaikan gelap gelita. Aku terdengar Mak Cik Linda angkat kerusi, betul-betul depan aku. Lagi lah aku tundukan muka. Aku pejamkan mata. Takut betul. Tentu dia duduk depan aku dan lekcer aku habis-habis kali ni — perasan ku dalam hati.

    “Kalau bagi tau Mak dan Abah nanti, mau tak?” soalnya. Aku cepat-cepat geleng kepala. Mata aku masih pejam. Kepala aku tunduk. Suasana hening sekejap. Aku dah mula rasa cukup takut. Aku diam macam batu.


    Agak-agak se minit dua, aku dengar dia berjalan ke meja sikatnya. Aku dengar botol berlaga. Aku terbau harum semerbak. Boleh jadi se Mak Cik Linda sedang pakai losyen badan yang wangi tu. Kemudian terdengar dia menyapu-menyapu losyen itu kekulitnya. Kemudian aku terdengar dia berjalan semula ke kerusi dekat aku.

    “OK, kalau tak mau Mak Cik repot ngan Mak ngan Abah Man, habis Man nak tengok benda macam tu lain kali tak?” soalnya. Aku menaggeleng lagi. Terdiam. Hening.

    “Ok, angkat muka sini. Padang sini…!” dia perentahkan aku. Aku enggan sangat. Malu. “Tak apa pandang sini…” ujarnya lagi.

    Aku pun angkat muka dan buka mata. Demi terbuka mata aku, bagai nak pengsan aku!! Gown tidurnya terselak hingga kepusat, nampak seluar dalamnya. Cepat-cepat aku tutup muka aku dengan kedua-dua belah tangan.

    “Tak apa, bukak mata. Nah tengok sini.” Katanya. Lama sekali baru aku berani buka muka ku. Aku tengok dia berdiri. Sebelah kakinya dilantai dan sebelah lagi atas kerusi. Mak Cik Linda terkangkang. Seluar dalamnya nampak. Warna merah pink. Belum sempat aku buka mulut, Mak Cik Linda bersuara…

    “Nah, Man tengok puas-puas” Ujarnya. Aku menggigil. Berpinau-pinau mata aku. “Tengokkkk, jangan malu-malu.” Ulangnya dengan suara lembut seperti memujuk. Aku terdiam. Aku beranikan hati. Aku takut, kalau tak ikut cakapnya, nanti dia marah kat aku. Lagipun dia betul-betul serius suruh aku tengok. Rasanya macam satu perentah pulak.

    “Nah, usap peha Mak Cik.” Katanya. Sambil dia pegang tangan aku suruh usap pehanya. “Ramas-ramas-ramas” perentahnya. Aku buat dengan tak berapa yakin. “Picit kuat-kuat sikit” perentahnya lagi. “Tengoklah apa Man ingin nak tengok..!!” katanya.

    Aduh..berdebar-debar jantung ku. Berderau darah aku. Sepatah pun aku tak bercakap. “Tengok kat sini.” Sambil diangkatnya hujung gownnya melampaui pusat. Seluar dalamnya nampak jelas. Terbayang tompok hitam bulunya yang terlindung dibalik seluar dalamnya. Aku tengok saja sambil memicit-micit pehanya.

    “Nah, sekarang tarik kebawah seluar dalam Mak Cik” perentahnya. Sambil dia menarik dari pinggangnya. Diangkatnya tangan aku dan menyuruh aku menarik kebawah. Dia membantu hingga tanggal. Aku tengok bulu jembut nonoknya memang lebat. Menggeletar badan ku.

    “Rapatkan muka Man kat sini..” sambil menepuk ke cipapnya. Perlahan-lahan aku berhensut, melutut dan menyembamkan mukaku ku bahagian nonoknya. Owwwiihhhhh…ada satu macam bau. Ganjil sikit. Tak pernah aku tercium bau tengek macam itu.

    “Hidu lah..” katanya. Aku mula menghidu. Masuk saja aroma tengit-tengik cipapnya itu ke hidung ku; tersirap darah ku. Mak Cik Linda tekan kepala ku ke celah kangkangnya. Aku bernafas dengan aroma yang tengik itu. Lelama aku naik serasi dengan aroma tu. Digosok-gosokkannya muka ku ke cipapnya. Kesat kena bulu cipapnya kehidung ku.


    Sebentar kemudian ditolaknya kepala ku. Dia angkatnya seluruh baju tidurnya. Ditanggalkannya. Kini, terburai satu badannya bertelanjang bulat. Langsung tak ada berkain seurat benang pun. Teteknya yang mengkal putih melepak, perutnya yang kempis tegang macam gadis 20 tahun, pusatnya comel ….Semua aku perhatikan. Dia nampak macam senyum saja. Tenteram sikit hati aku.

    “Man duduk atas kerusi ni” ujar Mak Cik Linda. Aku ikut saja. Sebelah kakinya bertupang ke kerusi, sebelah lagi dilantai.

    “Nah, gentel..ramas-ramas!” sambil Mak Cik Linda memegang tanganku dan meletakkan ke buah dadanya. Dipegangnya bahu ku. Aku ikut saja. Aku mula meramas-ramas teteknya dan kepal-kepal. Kenyal saja rasanya. Tak pernah aku meramas tetek orang pompuan sebelum ini. Seram sejuk badan ku. Sambil dia memegang bahu ku, di ramas-ramasnya pula. Aku terus menggentel-gentel puting susunya dan meramas-ramas buah dadanya. Kenyal, gebu dan licin. Sambil aku menyembamkan muka ku ke cipapnya, aku menghidu sakan aroma ganjil bahagian itu. Sambil menghidu sambil aku menggoyang-goyang muka ku di bahagian tundunnya. Makin itu, makin kuat aroma itu menyengat hidung ku. Lama juga aku berbuat begitu. Kami tidak bercakap sepatah jua pun. Aku dengar Mak Cik Linda mengah dan tersenggut-senggut. Terasa kepala aku tersepit diantara dua pehanya yang gebu dengan bau bercampur baur antara wangi losyen dan aroma cipapnya.

    Kemudian aku terasa di berkalih. Aku buka mata ku. Kini Mak Cik beralih ke katil. Dia berbaring ditepi katil. Kedua-dua kakinya memijak tepi katil. Badannya terlentang. Buah datang membukit. Kangkangnya terbuka luas. Aku tak tau apa arahan Mak Cik Linda selanjutnya. Tapi, pasti aku akan patuh.

    “Man tengok lah” ujar Mak Cik dengan suara yang terketar-kertar. Matanya tertutup. Aku menjongkok ditepi katil. Aku berhadapan dengan nonok Mak Cik Linda yang terpongah dianatara kangkangnya yang terbukla luas.

    Aku tengok ada semacam lendir merengat dicelah bibir farajnya yang putih melepak itu. Bulu nonoknya macam basah. Aku beranikan hati untuk melihat apa yang tersembunyi disebalik gumpalan bulu hitam yang berserabut tu. Aku cuba siat dengan ibu jari ku. Aku selebek. Nampak jelas bahagian dalam cipap Mak Cik Linda ada emacam bibir. Bibir itu berwarna kemerah-merahan. Berlendir saja. Disebelah atasnya ada seketul daging sebesar kacang tanah. Tak sengaja aku tersentuh ‘biji kacang’ itu. Mak Cik Linda menggeliat dan mendengus. Aku pandang mukanya. Dadanya berombak. Aku sentuh lagi. Sekali lagi Mak Cik Linda menggeliat dan mendengus. Tahulah aku sekarang, bahagian itu amat sensitif. Aku gentel biji kacang itu antara ibu jari dan jari telunjuk ku. Makin itu Mak Cik menggeliat-geliat dan mendengus-dengus. Pinggulnya macam terangkat-angkat. Aku tengok tangannya menggerapai-rapai. Dicapainya tangan ku lalu diletakkannya ke buah dadanya. Tahulah aku apa maksudnya — dia mahu aku meramas-ramas buah dadanya sambil menggentel ketul daging sebesar “biji kacang” yang tersentil dicelah rekahaan cipapnya itu.

    Mak Cik Linda terus-menerus menggelepar dan menggeliat-geliat kekiri-kekanan. Tangannya memegang cadar dan menggenggam-genggamnya kuat-kuat. Suara dengusan Mak Cik Linda makin kuat. Kini aku bebas untuk melihat, mencelebek dan memain-mainkan seluruh bahagian dalam cipap Mak Cik.

    Aku hairan, dimanakah lubang kencing orang pompuan. Aku cuba cari. Lelama aku nampak macam satu lubang kecil berwarna merah dibahagian tengah nonoknya. Dibawah sedikit aku nampak satu lagi lubang yang agak besar sedikit. Disitu lah keluar lendir cipap Mak Cik yang makin mebasahi jari ku. Bau aromanya makin kuat. Syahwat ku juga mula naik. Kote ku terasa macam tegang. Tak pernah aku rasa kote ku tegang macam ini. Aku rasa macam ada pulak air yang mengalir keluar dari hujung batang kote aku pula. Mak Cik Linda masih memegang kepala ku dan menekan ke celah kangkangnya. Aku tak tau apa maksudnya.


    “Jilatttt, Mannnnn” ujar Mak Cik Linda. Suaranya bunyi macam merengek saja. Dipegangnya kepala ku dan ditekannya ke celah nonoknya yang sudah membanjir tu. Dalam keadaan geli geman, aku jelirkan lidah ku. Aku tak pernah buat begitu. Jangankan nak jilat, tengok cipap orang pompuan pun baru setakat gambar Playboy tadi saja. Dengan memberanikan hati, dan melupakan perasaan jijik, lalu aku jilat ‘biji kacang’ tadi. Demi tersentuh saja ‘biji kacang’ itu oleh lidah ku, penggol Mak Cik Linda bergoyang ke kiri ke kanan. Di kepitnya kepala ku. Aku tekan kedua-dua pehanya hingga terkangkang luas.

    Aku pula mulai membuka rekahan nonoknya luas-luas. Kemudian aku jilat dan pilin-pilin dengan hujung lidah ku ‘biji kacang’ itu. Aku lorot dari atas ke bawah. Kekadang aku gesel biji itu dengan gigi aku. Aku nyonyot sambil menggentel-gentel dengan hujung lidah ku. Sebelah tangan ku meramas-ramas kedua-dua buah dadanya silih berganti. Aku mainkan puting susunya yang dah mengeras. Aku tengok Mak Cik bagaikan terpukau. Aku agak dia seronok sangat. Aku tak peduli lagi. Aku tengok semua yang aku lakukan dilayan oleh Mak Cik tanpa bantahan. Dia seronok aku tengok. Aku suka tengok Mak Cik Linda rasa seronok.

    Aku jelirkan lidah ku sepanjang yang boleh lalu aku masukkan ke lubang yang paling bawah. Disitu aku tengok air lendir mengalir banyak. Aku tekankan lidah ku dalam-dalam. Aku gili-gili macam orang menggili lubang telinga dengan bulu ayam. Mak Cik Linda makin mendesah, mendengus, mengeluh…!!! “Mhhh…sedapppp…!! Mhhh….” Dia mengerang. Matanya tertutup. Tangannya mengerapai mencakar-cakap cadar tilam.

    Mak Cik Linda makin mendesah, mendengus dan mengeluh…!!! “Mhhh…sedapppp…!! Mhhh….Buat cam tu Mannnnn…” Dia mengerang. Aku teruskan seperti yang disukainya.

    Kemudian aku masukkan jari telunjukku kebahagian lubang yang agak luas dibahagian yang dibawah sekali cipap Mak Cik Linda. Aku masukkan hujung jariku, lebih kurang seruas jari. Tapi cepat-cepat Mak Cik menolak tangan ku keluar. Aku tau dia tak mau aku mencucukkan jariku ke lubang itu. Aku tengok ada air warna putih mengalir keluar dari lubang itu. Dalam hati aku bercakap sendiri, mungkin inilah lubang cipap tempat butoh masuk – fikir ku. Dalam hati ku bertanya, dimana pula bayi keluar? Kalau disinilah juga, macam mana boleh lubang sebesar ini bayi boleh keluar. Kenapa kecil sangat?

    Tapi, aku tak kesah, lalu aku gili semula dengan lidah. Mak Cik Linda makin mendesah. Dia menggeliat dan mendengus-dengus panjang. Lama juga aku buat begitu. Mak Cik Linda pun tak bagi arahan apa-apa lagi. Aku terus menjilat, menggentel dan menggili-gili dengan lidah ku. Kedua-dua tangan ku sentiasa memainkan peranan meramas-mengepal dan menguli kedua-dua buah dada Mak Cik.


    Lebih 10 minit kemudiannya aku rasa otot-otot peha Mak Cik makin menegang. Penggolnya bergoyang meneggelisah kekiri ke kanan. Sesekali terangkat-angkat keatas. Dengusan dan rengekannya makin kuat.

    “Mhhh…huuukkk..sssssttt.. ahhhhhh…” memanjang saja. Aku teruskan menjilat nonok Mak Cik Linda.

    Kemudian tiba-tiba aku rasa kepala ku dikepit kuat-kuat. Mak Cik Linda pulak macam orang meraung kecik, merengek panjang…”Huuukkkkk..ahhhh..!! Huuukkkkk..ahhhh..mmhhhhhh…!!” dia bersuara seperti orang kesakitan. Cuma kerana kepala ku tersepit di celah kangkangnya. Aku tak tanya mengapa dia merengek begitu. Adakah dia sakit atau apa-apa. Mak Cik Linda terus-menerus mendesah lagi. Merengek macam orang kesakitan.

    Bagi ku, jika apa yang aku buat ini boleh menjadikan Mak Cik Linda memaafkan kelakuan tak senonoh aku mencuri majalah Playboy tadi, aku sedia melakukan apa yang Mak Cik Linda suruh ini. Penggolnya bergoyang meneggelisah kekiri ke kanan. Sesekali terangkat-angkat keatas. Dengusan dan rengekannya makin kuat. “Mhhh…huuukkk..sssssttt.. ahhhhhh…” memanjang saja. Aku teruskan menjilat nonok Mak Cik Linda. Tangannya tergapai-gapai. Sebelah tangannya mengusap-usap kepala dan rambut ku.

    Sebentar begitu, baru aku rasa pehanya melemah. Kini kepala ku boleh bebas sedikit. Kedua-dua peha Mak Cik terdampar. Nafasnya mulai reda. Tidak sekencang tadi. Aku tengok air putih membanjiri bahagian cipap Mak Cik Linda hingga menitis kecadar. Dia dah releks, seolah-olah macam orang keletihan sangat. Aku pulak – seluruh mulut, dagu dan hidung ku habis berlumuran air lendir dari cipap Mak Cik Linda . Aku berhinti menjilat. Aku angkat hujung kain sarung ku. Aku tengok kote ku yang kini sedang menegang. Rupanya hujung kote ku juga mengeluarkan lendir meleleh hingga ke dagu butuh ku yang tak lah besar mana.

    Melihat Mak Cik Linda macam tertidur begitu, aku pun bangun. Aku angkat Mak Cik Linda yang dah longlai itu ke tengah katil. Dia membantu dengan berhinsut perlahan-lahan. Aku letakkan sebiji bantal di kepalanya. Aku buka selimut dan aku selimutkan dia. Dia macam orang keletihan sangat. Aku berbaring disisinya. Aku lihat rambut Mak Cik yang hitam dan ikal itu mengerbang. Makin cantik wajahnya yang memang sedia cantik seperrti bintang filem HongKong. Aku agak dia mesti letih sangat bergelut macam tadi. Aku juga letih. Sekejap aku terbaring telentang, maka aku pun terlena disisi Mak Cik Linda. Letih sangat.

    Kisah Seks, Cerita Sex, Cerita Panas, Cerita Bokep, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Sex Bergambar, Cerita ABG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex Pasutri

  • Foto Ngentot Gadis putih Nataly Gold mendapat entotan di pantat oleh detektif di ruang wawancara

    Foto Ngentot Gadis putih Nataly Gold mendapat entotan di pantat oleh detektif di ruang wawancara


    2291 views

    Duniabola99.com – sedang mencari foto ngentot yang terupdate setiap hari? temukan di Duniabola99 yang selalu update dan membagikan. Foto-foto ngentot pilihan terbaik duniabola99.

  • Foto Bugil cewek cantik berambut pirang berkelas, Kika, menikmati peregangan

    Foto Bugil cewek cantik berambut pirang berkelas, Kika, menikmati peregangan


    2410 views

    Duniabola99.com – foto cewek cantik pirang melepas gaunnya sambil ngangkang memamerkan memeknya yang tanpa bulu diatas tempat tidurnya sambil berpose hot.

  • Foto Ngentot bercinta hardcore oleh tukang pijat

    Foto Ngentot bercinta hardcore oleh tukang pijat


    2140 views

    Duniabola99.com – foto cewek putih ngentot dengan tukat pijat yang berkontol gede dan menghantam dengan keras kontolnya kememek berakhir dengna menembakkan sperma yang banyak kemulut dan wajah.

  • Hentai018

    Hentai018


    2282 views

  • Fuck my arse doctor

    Fuck my arse doctor


    2447 views

  • Yui Mizuna catwalk poison 77

    Yui Mizuna catwalk poison 77


    2272 views

     

  • Foto Bugil Gadis pirang muda mengagumi dirinya di cermin

    Foto Bugil Gadis pirang muda mengagumi dirinya di cermin


    2153 views

    Duniabola99.com – foto cewek pirang yang mengangkat gaunnya menampilkan toketnya yang kecil dan menangakang lebar menampilkan memeknya yang tanpa bulu didepan cermin sambil berpose hot.

  • Kisah Memek Onani Sampai Dapat Cewek Seksi

    Kisah Memek Onani Sampai Dapat Cewek Seksi


    2622 views

    Duniabola99.com –Sebut saja namaku (RUDI),aku pecandu ONANI dikarnakan blm punya pasangan,mau jjn gk brani tkt kena HIV trus syang duitnya,mnding bwt beli handbody atau sabun.”..semenjak umur 10thn aku udah belajar ONANI sebab suka nonton BF jd aku ngebatin,pengen bnget ngerasain ngentot kaya gimana.pas aku liat di filmnya kontol cwoknya di kocok-kocok,aku coba ikutin sambil bayangin yg ngocok kontolku cwek.


    …Sampe gak terasa ternyata enak,liat cwek sexy aku lari ke kamar mandi,liat yg ciuman lari ke kamar mandi,liat kucing kawin pun lari ke kamar mandi.hehe
    ..”Pada suatu hari aku liat tante tetanggaku rumahnya sebelahan tiap pagi hanya kupandangi,sambil kubayangkan coba bisa aku entot,gpp agak tua jg pling umurnya 35 taunan.
    “..tiap ngeliat dia kluar aku langsung onani,hampir tiap hari sampe” kontolku lecet merah krna kseringan di kocok,eh ntah si tante tau aku sring ngintipin,asalnya dandananya biasa hari itu jd sexy,dia mengenakan gaun transparan mpe kliatan BH ma CANGCUT (CD)nya krna saking transparannya.

    ..kuliat-liat trnyata blm tua-tua amat,teteknya msh mengkel,pantatnya msh singset.”.aduh enak bnget klo ngentot tuch sma si tante.”
    …akupun sengaja CAPER (CARI PERHATIAN) si tante,sengaja aku kluarin motor,pura”nya mwu di cuci.
    ..si tante sedang menyiram tanamannya,di dalam pikiranku ttp ngentot dan ngentot low gak kesampaian ya lari kamar mandi.
    ..pas kuliat lgi nungging,aduh sob kontolku tmbh ngaceng,mungkin udah kluar air mani alya krasa bsah celanaku.
    “..Tumben gak keluar”..tanya si tante.
    ..aku kget kirain bukan aku yg di tanya.
    “..iya,knpa!”jwbku gugup.
    “.iya,ko ada di rumah gak keluar”timbalnya.
    “owh gak tan lg malez nich”..jwbku.
    “owh,eh Rud ntr bsa tolongin tante gak?tanyanya.
    “..tlongin apa ya tan?tanyaku
    …”tlong bantuin geserin lemari yg di kamar tante”..jwbnya.
    “.owh bleh,skrg tnte? tnyaku lgi.
    “Ya trus km kn lgi nyuci mtor”jwbnya.
    “gpp nyucinya bsa ntr.”timpalku.
    ..kamipun menuju kamar si tante.
    “waduh lemarinya gede bget tan” .ujarku.
    “iya makanya mnta bantuan kamu,”jwbnya.
    “..geser kesana,geser kesini,lemarinya di geser hinga ada kejadian tak terduga,pas dorng lemari yg sebelahnya si tante kepleset dan nubruk bdanku hingga jtuh di kasur,kami saling tindih pas aku mwu bangun,si tante malah menarik aku lalu meraih mulutku dan membungkam mlutku dengan mulutnya,akupun kget dan tak mwu tinggal diam,lalu kubalas ciumannya trus si tante menjulurkan lidahnya lalu aku hisap,begitupun sebliknya.
    …lalu tanganku mulai nakal,ku usap”kn jari tengahku di memeknya yg msh trbungkus CD dan gaun itu,dn tangan yg stu lagi menjelajahi gnung kembarnya smbil meremas dngan hati”…
    kurasakan desahan nafasnya,yg membuat nafsuku menggebu”.


    ..setelah berciuman,aku mulai menuruni payudaranya dan kubuka BHnya dan kusibakan,woow trnyata teteknya msh mengkel krna jrang trjamah,aku tak tinggal diam ku isap” putingnya dan dìikuti remasan tanganku.
    ..Tantepun mulai terangsang di mulai memegang kontolku yg mulai mengeluarkan air mani encer.
    “.tante kulum ya rud??tanyanya menggoda.
    “..boleh tante”.jwbku.
    ..tantepun membuka clanaku dan mulai mengulum kontolku, aku merasakan ngilu sprti pngen pipis,”..ah.ah.ah enak bget tan”ujarku smbl mrasakan kulumannya.

    ..semakin cepat saja kulumannya”stop..stop tan aku gak kuat mwu kluar nich”..ujarku.
    lalu tante menghentikan kulumannya,dan bergantian kini aku yang menjilati memeknya,lalu ku buka CDnya dan woow ku lihat bulu jembutnya yg sangat tebal dan smpai hingga ke lubang pantatnya.
    ..kumulai pergerakanku,kujilati memeknya dan kubuka dengan jemariku lalu kuliat ada daging sgede kacang merah ku mainkan dengan lidahku sitantepun menggeliat keenakan,smakin kupercepat jilatanku smakin kncng pula dsahan si tante,trus ku coba julurkan lidahku ke dalam lubang memeknya,bergerak maju mundur kuliat cairan putih keluar dari lubang memeknya,owh ini yg di namakan orgasme.
    ..Lalu aku masukan kontolku dan SLEEEEB tanpa susah payah kontolku msuk lalu ku grakan mju mundur,smakin ku percepat gerakanku smakin erangan dan dsahan kluar dri mulutnya,lalu crot..crot..crot.
    keluarlah air pejuhku enaknya bukan kepalang,beda kaya ONANI bila di ungkapkan nikmatnya tak bisa di ungkapka hanya dengan kata”.
    ..Lalu aku tergeletak di kasur dan sitante bangun mendekati kontolku yg mulai lemes,lalu di kulumnya hingga sperma yg berlumuran di kontolku bersih di jilatinya.
    ..tak lama kemudian si tante msuk kmar mandi dan membrsihkan bdannya dan aku msh tergeletak lemas.


    …aku mulai bangun dan kuhampiri si tante yg lgi mandi,dan ku dekati lalu ku peluk dari belakang,tanganku mulai nakal lgi ku usap” memeknya lalu ku masukan 2 jariku ke memeknya dan sitante mulai terangsang lagi.
    ” km nakal dech…udah dlu ya tante mwu pergi arisan nich,psti udah di tungguin”ujarnya.
    .akupun tak bisa menolak,kejadian ini berulangkali di lakukan ONANIku mulai terobati bila trsalurkan,tetapi bila tak trsalurkan aku masih melakukan ONANI.

  • Ibuku ikut ngentot saat ku tercyduk lagi ngentot sama pacar

    Ibuku ikut ngentot saat ku tercyduk lagi ngentot sama pacar


    2484 views

     

  • Cerita Sex Desahan Kenikmatan

    Cerita Sex Desahan Kenikmatan


    3309 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Desahan Kenikmatan ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita Sex – Kali ini aku yang berprofesi sebagai bisnismen kayu hasil bumi aku sering terbang antar daerah untuk
    mencari relations dari pulau jawa maupun ke Pulau Kalimantan dan Sulawesi selama 7 minggu untuk urusan
    bisnisku. Tubuhku terasa letih dan stress yang luar biasa aku sungguh ingin bertemu dengan istriku.
    Dari luar ruang tamu nampak terang disinari lampu, berarti isteriku ada di rumah. Di rumah kami
    tinggal 4 orang saja. Aku yang berusia 38, isteriku 31, pembantu laki-laki 52, dan pembantu wanita 44.

    Oh ya, setelah 9 tahun menikah kami belum dikarunia anak. Jadi semakin menjadi-jadilah diriku
    menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Syukurlah
    selama ini bisnisku lancar-lancar saja demikian pula perkawinan kami.

    Ketika hendak kupencet bel kuurungkan siapa tahu pintu tidak dikunci. Tadi gerbang depan dibukakan
    oleh pembantu wanitaku karena kebetulan dia pas lagi mau keluar untuk membuang sampah.

    Setelahnya dia kembali ke kamarnya yang terletak di samping kiri bangunan utama. Pembantu-pembantuku
    kubuatkan kamar di luar. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang
    kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar
    pembantu dan jalan samping. Dari gerbang depan ke pintu kira-kira mencapai 25 meter.

    Cerita Sex Desahan Kenikmatan Benar, pintu tidak dikunci dan aku masuk dengan senyap demi membikin isteriku kaget. Aku suka sekali
    dengan permainan kaget-kagetan begini. Biasanya isteriku suka terpekik lalu menghambur ke pelukanku
    dan dibarengi dengan ciuman bertubi-tubi.

    Itulah santapan rohaniku. Dan itu sering terjadi karena aku sering bepergian dalam waktu lama pula,
    rekorku pernah sampai 3 bulan baru pulang. Pada awal perkawinan kami tidaklah demikian, namun 5 tahun
    belakangan ini yah begitulah. Dampaknya adalah kehidupan seks kami mulai menurun drastis frekuensinya
    maupun kualitasnya.

    Kali ini aku menangkap suasana lain. Memang biasanya sebelum pulang aku memberitahukan isteriku bahwa
    dalam 2 sampai 5 hari bakal pulang. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat
    pekikan-pekikan kangen isteriku itu.

    Di ruang tamu TV menyala agak keras. Lalu aku menuju dapur mengendap-endap siapa tahu isteriku di sana
    dan sekalian mau mengambil air putih. Tidak ada. Ah mungkin lagi tidur barangkali di kamar pikirku.

    Kuletakkan tas koperku di atas meja makan lalu aku mengambil sebotol air dingin di kulkas. Kuletakkan
    pantatku di atas kursi sambil minum. Kuambil sebatang rokok lalu kunyalakan. Ada sekitar 5 menit
    kunikmati asap-asap racun itu sebelum akhirnya kuputuskan untuk naik ke lantai 2 di mana kamar tidur
    kami berada.

    Pelan-pelan kunaiki tangga. Pelan sekali kubuka pintu, namun hanya seukuran setengah kepala. Aku ingin
    mengintip kegiatan isteriku di kamar spesial kami. Apakah lagi lelap dengan pose yang aduhai. Ataukah
    lagi mematut diri di cermin. Ataukah lagi.. Upss!! Berdebar jantungku.

    Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa)
    kulihat ada 2 manusia. Jelas salah satu sosoknya adalah isteriku, mana mungkin aku pangling. Dia lagi
    mengangkangi seseorang.

    Posisi kepalanya nampak seperti di sekitar kemaluan lawannya. Perasaanku mulai dilanda kekacauan.
    Sulit kudefinisikan. Marah. Kaget. Bingung. Bahkan penasaran.

    Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? Kepala isteriku nampak naik turun dengan teratur
    dengan ditingkahi suara-suara lenguhan tertahan seorang pria yang menjemput kenikmatan seksual.

    Mungkin saking asiknya mereka berolah asmara terkuaknya pintu tidak mereka sadari.
    Tiba-tiba perasaan aneh menjalari diriku. Darahku berdesir pelan dan makin kencang. Rasa penasaranku
    sudah mulai dicampuraduki dengan gairah kelelakianku yang membangkit.

    Ini lebih dahsyat ketimbang menonton film-film bokep terpanas sekalipun. Kesadaran diriku juga lenyap
    entah kemana bahwa yang di depan mataku adalah isteriku dengan pria yang pasti bukan diriku.

    Sekarang aku lebih ingin menyaksikan adegan ini sampai tuntas. Kontolku mulai mengejang. Posisi mereka
    mulai berbalik. Isteriku mengambil posisi di bawah sementara lawannya ganti di atasnya. Persis sama
    seperti tadi hanya saja sekarang kelihatannya memek isteriku yang dijadikan sasaran. Aku semakin
    ngaceng.

    “Ohh.. Sshh…” suara desisan isteriku berulang-ulang.

    Telaten sekali si pria (aku sudah menangkap sosok lawannya dengan jelas adalah pria) sehingga isteriku
    mulai bergerak meliuk-liuk dan menengadahkan kepalanya berkali-kali.

    “Uuhh.. Eehhss.. Teruss jilatthh.. Pak Minnh.. Ahh.. Uffh..”.

    Cerita Sex Desahan Kenikmatan Plong rasa dadaku demi akhirnya menemukan identitas sang pelaku pria. Pak Aryo pembantu priaku yang
    tua itu.

    Wah.. Wah.. Pantesan tadi aku agak mengenali sosoknya. Belum sempat aku banyak berpikir kesadaranku
    disedot kembali oleh suara-suara kesetanan isteriku dari hasil kerja persetubuhan itu.

    “Yyaahh.. Teruss.. Teruss.. Aahh.. Tusukk.. Tuussuukkhin liidaahhmu Pak.. Yaahh beegittu.. Oohh..”
    Semakin binal kepala isteriku tergolek sana sini. Nampaknya dia sudah berada di awang-awang
    kenikmatan. Aku juga semakin dilanda gairah sehingga tanpa sadar tanganku mulai meremas-remas burungku
    sendiri.

    “Ahh…”

    Ah isteriku akhirnya jebol juga. Aku tahu itu. Tapi nampaknya Pak Aryo masih meneruskan aktivitasnya.
    Sebentar kemudian kaki isteriku diangkatnya ke kedua bahunya yang bidang dan kekar itu (meskipun sudah
    tua tapi tubuh pembantuku masih gagah akibat pekerjaannya yang secara fisik membutuhkan kekuatan).

    Dimainkan jari-jarinya di liang memek isteriku. Lenguhan-lenguhan isteriku kembali terdengar. Semakin
    kencang kocokan jari Pak Aryo pada memek isteriku. Dengan menggelinjang mengangkat-ngangkat paha
    isteriku kembali dibuat mabuk kepayang.

    Akhirnya kulihat batang kemaluan Pak Aryo sudah diarahkan ke lobang kemaluan isteriku. Busseett gede
    juga nih punya si tua bangka. Semakin menggelegak gairahku ketika membayangkan bagaimana memek
    isteriku akan dihujami oleh benda sebesar itu.

    Bless. Masuk. Gleg ludahku tertelan.

    “Oohh.. Eyaahh.. Eenaakk.. Paakk..”.

    Pelan-pelan dipompanya memek isteriku dengan godam si Pak Aryo. Mulai menggila kembali goyangan pantat
    isteriku melayani rangsekan-rangsekan si batang besar itu.

    “Geennjoott.. Yaahh.. Genjoott.. Oohh.. Ennakk Banngeett.. Oohh..”

    Aku menyaksikkan tubuh isteriku terhentak-hentak naik turun akibat sodokan-sodokan yang bertenaga itu.
    Tangan Pak Aryo tak tinggal diam menyenggamai buah dada isteriku yang telah menjulang tegak.

    Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Setelah hampir 10 menit diangkatlah tubuh
    isteriku dan dibalikkannya menjadi posisi menungging.

    Gaya anjing rupanya dikenal juga oleh Si Tua ini. Kembali liang memek isteriku dihunjam dari arah
    belakang. Konsistensi gerakan kontol yang maju mundur itu beserta lenguhan-lenguhan isteriku semakin
    mengobarkan hasratku. Markas Judi Online Dominoqq

    “Ahh.. Aahh.. Ssooddooghh.. Kuaatt.. Kuat.. Paakkhh, oohh.. Giillaa..”

    Pompaan Pak Aryo semakin lama dibuat semakin bertenaga dan semakin cepat.

    “Oo hh.. Yaa.. Beggiittuu.. Teruss.. Paakkhh..”

    Kupikir bakalan selesai eh ternyata isteriku sekarang disuruh berdiri, Pak Aryo menyetubuhinya sambil
    berdiri. Tanpa sadar aku menoleh ke lantai bawah ternyata si Pembantu Wanita memergokiku sedang
    mengintip. Karena jengah atau bagaimana Mrs. Aryo merona mukanya lalu menyingkir ke belakang dengan
    tergesa. Pembantuku adalah suami isteri.

    “Yaahh.. Terruuss.. Mauuhh.. Keelluaarr.. Nihh Paakkh..”

    “Aku sebentar laggii.. Juuggaa.. Ibbuu..”

    “Baarrenng.. Yaahh.. Paakkh.. Ohh.. Ohh.. Yaahh.. Uuddaahh”

    Cerita Sex Desahan Kenikmatan Sambil mengejang-ngejang keduanya melepas energi terakhir dan terbesar yang disertai ledakan
    kenikmatan luar biasa. Pak Aryo akhirnya jebol juga pertahanannya. Begitu adegan selesai aku dengan
    perlahan sekali menutup pintunya. Kuturuni perlahan tangga menuju dapur kembali.

    Celanaku masih padat mnggembung tak terkira. Aku senewen ingin menuntaskan hasratku.
    Ketika sampai dapur kulihat Mrs. Aryo sedang duduk termangu. Kami saling menatap dalam keadaan bingung
    dan resah.

    Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya. Mungkin
    kejadian tadi telah berulang kali berlangsung selama aku tidak di rumah.

    “Sudah sering kejadianya Mbok?” tanyaku. Dia mengangguk.

    “Maafkan isteriku yah”

    Entah kenapa tiba-tiba mata kami bertatapan kembali. Selama ini dia tidak berani menatapku. Kali ini
    mungkin dia sedang kesepian dan masygul hatinya.

    “Ayo ke kamarmu Mbok.”

    Hasratku masih tinggi dan harus dituntaskan. Kami saat ini sedang masuk dalam situasi kejiwaan yang
    membutuhkan pertolongan satu sama lain. Plus gairah buatku. Ketika sampai kamarnya yang agak sempit
    itu, kusuruh dia duduk di ranjang.

    Kupegang tangannya dan kuelus. Sosok wanita ini sebenarnya tidak terlalu buruk. Kulit terang meskipun
    tidak semulus isteriku tapi lumayan bersih. Tinggi sedang dan hebatnya perut tidak terlalu melambung.

    Tetek cukup besar setelah kusadari saat ini. Dia selalu memakai kebaya dan kain.
    Kepalanya ditimpakan di dadaku. Meskipun dia lebih tua dari aku namun dalam kondisi begini dia
    memerlukan kekuatan dari dada laki-laki. Kubiarkan meskipun dibarengi aroma bumbu dapur.

    Tapi tidak terlalu menyengat. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Bau minyak rambut Pomade menyergap
    hidungku. Kucium-kucium dan kuendus-kuendus. Kujalari menuju ke telinga. Diam saja. Ke lehernya. Malah
    terdengar ketawa kegelian. Mulai kuusap lengannya.

    Semakin erat dia mendesakkan tubuhnya ke diriku. Sambil mengusap lengan kanannya naik turun sengaja
    kurenggangkan jariku sehingga menyentuh tipis teteknya. Terus kuulang sampai akhirnya kepalanya mulai
    bergoyang.

    Lalu kuelus langsung teteknya. Gemas aku. Dia mulai mendesah. Kuremas-remas lembut. Mulai melenguh.
    Kubaringkan. Menurut saja. Kubuka bagian dada dari kebayanya. Memang besar miliknya. Kuning agak pucat
    warnanya. Kuhisap-hisap. Menegak-negak kepalanya.

    “Ehhmm.. Eehhf..”

    Kusingkap kainnya dan kuelus pahanya.

    “Ehh.. Ehhshs..”

    Kuselusupkan tanganku jauh menuju pangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya.

    “Ehhss.. Ehhss.. Oohh…” tergolek kanan kiri kepalanya.

    Kutindih dia dengan mengangkangkan kakinya. Mulai kuselusuri dari tetek sampai leher kanan kiri dengan
    lidahku.

    “Oohh.. Paakk.. Oohh..”

    Kurenggut bibirnya yang tebal dengan bibirku. Kumasukkan lidahku menjangkau lidahnya. Pada mulanya
    pasif. Lalu dia mulai mengerti dan kami saling beradu lidah dan ludah. Berkecipak suara kuluman kami.
    Kutekan-tekan bagian bawah diriku sehingga tonjolan burungku menggesek wilayah memeknya. Mengerinjal
    pantatnya.

    “Esshh.. Ehhss.. Oohh…” desahnya berulang-ulang.

    Kami berdiri untuk melepas baju masing-masing setelah kubisikkan keinginanku. Kuamati dari ujung
    rambut sampai kaki. Keteknya dibiarkan berbulu, ah sensasional sekali. Baru kali ini kulihat wanita
    membiarkan keteknya berbulu. Isteriku licin sekali. Jembut mememknya lebat sekali dan cenderung tidak
    rapi. Luar biasa. Karena hasratku yang sudah tinggi sejak tadi langsung kugumul

    Dia dan menjatuhkannya di ranjang. Kujilati kembali mulai dari kening, leher, pipi, tetek, ketek (di
    sini aku berlama-lama karena penasaran sekali dengan rasa bulunya), perut dan memeknya. Kumainkan
    lidahku memutari labia mayoranya.

    “Oohh.. Paakk.. Ohh..”

    Dipegangi kepalaku dan ditekan-tekannya sesuai keinginannya. Kumasuki klitorisnya dengan lidahku. Aku
    tidak jijik kali ini. Hasratku yang menggila telah mengalahkan kebiasaanku selama ini.
    “Esshh.. Ahhss.. Esshh.. Oohh.. Mmass..”

    Dia memanggilku Mas berarti kesadarannya mulai kaca balau. Kuremas pantatnya sebelum akhirnya
    kujebloskan kontolku ke memeknya yang telah banjir bandang itu.

    Kupompa maju mundur tanpa tergesa. Yang penting bertenaga dan merangsek ke dalam. Menggeliat-geliat
    kayak cacing kepanasan si Mrs. Aryo ini. Semakin dikangkangkan pahanya. Kupegang ujung telapak kakinya
    sambil aku terus menyodokinya.

    “Yaahh.. Teruss.. Yangg dalaam .. Masshh.. Ohh.. Ennaakk banngeetts.. Shh.”
    Kubaringkin miring lalu kulipat kaki kanannya ke depan dan kuhujami memeknya dari belakang. Kami
    bersetubuh dalam posisi berbaring miring (kebayangkan?).

    Kuubah posisi menjadi dog-style. Namun dia telungkup sehingga tingkat penetrasinya lebih maksimal.
    Benturan-benturan dengan pantatnya yang bulat membuatku gemas. Kugenjot sedalam-dalamnya memeknya yang
    rimbun itu.

    “Yaahhss.. Ehhssh.. Oohhs…” begitu terus erangnya sambil membeliak-beliak.

    Cerita Sex Desahan Kenikmatan Akhirnya setelah 23 menit kami menegang bersama dan mencurahkan cairan masing-masing berleleran di
    dalam memeknya. Cairan miliknya sampai tumpah ruang merembes keluar memeknya, punyaku juga demikian
    saking tidak tertampungya semprotan maniku.

    Kubiarkan kontolku masih terbenam sambil aku tetap menindihnya. Aku jilatin lagi leher dan pipinya
    sampai kontolku sudah lemas tak berdaya.

    Tanganku masih aktif bergerilya mengusapi buah kembarnya yang masih mengencang. Kujilat-jilat dan
    kuhisap-hisap. Keringat kami campur aduk membanjiri spreinya yang sudah agak kusam itu.

    Sejak saat itu bila aku pulang dari bepergian maka aku mengunjungi Mrs. Aryo terlebih dahulu untuk
    bersetubuh di kamarnya baru masuk rumah setelah maniku terhambur ke memeknya yang mudah basah itu.
    Malah boleh dikata sudah tidak pernah lagi menggauli isteriku sendiri.

    Suatu kali Pak Aryo memergokinya ketika mau ambil rokok, namun aku cuek saja kepalang lagi hot, tapi
    dia mafhum saja. Toh ibaratnya kami seperti tukar pasangan. Pernah terbersit di kepalaku untuk
    melakukan sex party berempat. Tapi gagasan itu belum terlaksana, karena aku masih merasa risih kalau
    rame-rame begitu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Kisah Memek Mbak Nadia Pelampiasanku

    Kisah Memek Mbak Nadia Pelampiasanku


    3206 views

    Duniabola99.com – Perkenalkan nama saya Adi. Umur saya 22 tahun. Kejadian ini terjadi saat saya masih berumur 18 tahun. Saya kost di sebuah rumah di Surabaya karena saya sekolah di smu XXX. Tempat kost saya memang sepi karena pemilik rumah pindah ke rumah sebelah ( maklum kampung ).

    Tempat kost saya sebenarnya besar karena menjadi satu dengan ruang tamu, karena pemilik kost pindah jadi ruang itu dibagi jadi 3 bagian untuk jadi kamar kost. Dinding tempat kost saya hanya terbuat dari papan triplek. Saya menempati kamar paling ujung dekat kamar mandi. Saya kira tempat kost saya hanya untuk anak sekolah ternyata beberapa minggu kemudian datang sepasang suami istri kost ditempat itu. Mereka menempati kamar paling depan dekat pintu, jadi kamar tengah masih kosong. Nama mereka adalah Irfan umur 35 tahun sedangkan istrinya Nadia berumur 29 tahun dan belum punya anak. Kami cepat akrab karena hobi saya dengan mas irfan sama yaitu nonton bola. Jadi mau gak mau saya juga akrab dengan mbak Nadia.

    Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan mbak Nadia karena bodynya biasa saja agak gemuk tidak cantik tapi mempunyai payudara montok dan pantat yang montok juga. Suatu malam saya tak bisa tidur karena kontol saya ngaceng berat. Lalu terlintas dipikiran saya untuk mengintip mas irfan dan mbak Nadia. Saya keluar kamar masuk ke kamar tengah yang memang tak pernah dikunci saya mencari lubang untuk ngintip. Karena keadaan kamar gelap jadi mudah untuk mencari lubang karena kamar mereka terang jadi papan triplek yang berlubang akan mengeluarkan cahaya. Akhirnya saya menemukan sebuah lubang yang cukup untuk ngintip. Waktu saya ngintip saya kaget karena ternyata body mbak Nadia lumayan bagus kalau telanjang dengan pentil berwarna kecoklatan dan vaginanya ternyata mulus tanpa sehelai rambutpun mungkin baru saja dicukur. ‘’aaahhhh uuuuhhhhhhh yessssss’’, rintih mbak Nadia tak lama kemudian mas irfan mengejang sepertinya mau keluar dan benar ‘’aahhhhhh aakkkuuuuu keluaaarrrrrrr, aaaaaahhhhhh’’, telihat ekspresi wajah mbak Nadia kecewa mungkin dia belum keluar tapi suaminya udah selesai. ‘’ mas aku belum keluar nih’’, kata mbak Nadia dengan cemberut ‘’ maaf dik, aku udah gak kuat ‘’ kata mas irfan dengan ngos-ngsosan dan langsung tidur.

    Kemudian mbak Nadia memakai daster tanpa memakai daleman apapun lalu keluar kamar sepertinya mau ke kamar mandi. ‘’ kreeek’’, suara pintu dibuka. Aku masih di kamar tengah sambil menunggu mbak Nadia masuk kamar mandi. Setelah mbak Nadia masuk kamr mandi saya langsung keluar lalu pergi mengikuti mbak Nadia kekamar mandi untuk ngintip dia. Saya tahu di pintu kamar mandi ada lubang yang cukup besar tapi hanya saya yang tahu. Saya intip mbak Nadia ternyatadia lagi masturbasi dengan memasukan gagang sikat gigi ke vaginanya ‘ ’aaaaahahhhh ooooohhhhh’’, erang mbak Nadia ‘’kalau kau tak puas aku bisa memuaskanmu mbak’’, batinku, taklama kemudian ‘’aaaaaahhhhhhhhh’’, jerit mbak Nadia rupanya dia sudah orgasme. Setelah itu mbak Nadia membilas vaginanya dengan air. Aku langsung sembunyi di bawah meja yang tidak dipakai. Kulihat mbak Nadia masuk ke kamarnya lagi. Aku masuk kekamar mandi tercium aroma vagina mbak Nadia membuat aku terangsang berat dan langsung onani sambil membayangkan mbak Nadia. 15 menit kemudian aku merasa aku mau keluar ‘’ aaaaahhhhhh mbak Nadiaaaaaaaa’’, croot crooot banyak sekali sperma ku yang keluar.


    Suatu hari mbak Nadia mengalami kecelakaan. Motornya kena serempet mobil mbak Nadia yang kaget langsung jatuh ke aspal lalu membentur aspal dan akhirnya pingsan. Mbak Nadia koma selama beberapa hari di rumah sakit. Saya hanya beberapa kali menjenguk mbak Nadia karena kesibukan saya disekolah. Setelah 2 bulan dirawat mbak Nadia diperbolehkan pulang dengan syarat seminggu sekali dibawa lagi ke rumah sakit untuk control. Waktu hari kepulangannya saya membantu membawakan beberapa barangnya karena mas irfan yang mendorong mbak Nadia dengan kursi roda. Yang saya dengar mbak Nadia mengalami patah tulang tangan kiri dan luka lecet yang sangat berat di kaki kanan dan sedikit ditangan kanan. ’’ Terima kasih ya di untung ada kamu, kalau nggak mas bisa repot’’, kata mas irfan ‘’ya mas sama-sama namanya juga tetangga’’, setelah meletakan barang-barangnya dikamar saya langsung pergi karena sudah janjian dengan teman. Sebenarnya saya kasihan juga dengan mbak Nadia karena kalau mau buang air harus dipispot karena mbak Nadia tidak boleh terkena air, jadi kalau mandi ya harus seka pakai air hangat. Suatu hari sepulang sekolah waktu aku mau masuk kamar aku mendengar kalau ada yang memanggilku ‘’ adi,adii’’, ternyata mbak Nadia. Saya mendekat ke pintu kamarnya, saya tak langsung masuk karena jam segitu mas irfan lagi kerja. ‘’ ada apa mbak?’’, tanyaku, ‘’ kamu masuk aja gak papa’’, katanya. Lalu saya masuk ‘’ada apa mbak’’, ‘’tolong ambilkan pispot aku mau buang air ‘’, kata mbak Nadia. ‘’buka dasterku di’’, aku membuka bagian bawah dasternya.

    Aku kaget karena mbak Nadia tiodak memakai celana dalam langusung kelihatan vaginanya. Aku langsung bengong melihat itu dan kontolku langsung ngaceng. ‘’dekatkan ke memekku di’’, aku kaget mendengar itu ‘’ ta…tapi mbak’’, kataku. ‘’ sudahlah cepat aku sudah tak tahan’’, aku mendekatkan pispot ke vagina mbak Nadia. Ternyata vagina mbak Nadia lebih indah kalau dilihat dari dekat merah merekah dengan itil sebesar kacang tanah. Seerrrr suara kencing mbak Nadia. ‘’ tolong kamu cuci memekku ya di’’, katanya, aku kaget ‘’ tapi mbak ini ga’’, belum selesai aku ngomong mbak Nadia bilang ‘’ aku tahu kamu pasti malu kan tapi maaf di, tadi aku gak tahan karena mas irfan kerja jadi aku than dari tadi sambil nunggu kamu pulang. Kalau aku ngompol mas irfan bisa marah-marah’’, ‘’aku ganti baju dulu ya mbak soalnya besok masih dipakai’’. Lalu aku pergi kekamarku langsung ganti baju. Aku yang sudah terangsang berat jadi kepikiran untuk menyetubuhi mbak Nadia mumpung gak ada siapa-siapa. Aku pakai kaos dan celana pendek tanpa celana dalam.

    Aku masuk kekamar mbak Nadia ‘’ gimana caranya mbak’’, kataku ‘’ kamu basahi dulu kain lap yang ada diatas meja’’, lalu aku kekamar mandi untuk membasahi kain lap. ‘’ terus gimana lagi mbak’’, ‘’ kamu lap memeku’’, katanya. Tangan ku gemetar saat mengelap vaginanya ‘’ maaf mbak’’, kataku. Aku melap sambil duduk di bawah tempat tidurnya karena posisinya lagi tiduran. Sambil mengelap aku melorotkan celanaku tanpa sepengetahuan mbak Nadia. ‘’ sudah mbak’’, kataku tanpa berdiri ‘’ ya udah makasih ya di’’, kata mbak Nadia. Aku langsung berdiri dan menempatkan kontolku di lubang vaginanya ‘’ kamu mau ngapain di’’, kata mbak Nadia panic. Tanpa menghiraukan suaranya aku langsung memasukan kontolku bleesss ‘’ aaahhhh’’, erangku ‘’ aw sakit di’’, kata mbak Nadia. Langsung kugenjot vagina mbak Nadia, vagina mbak Nadia ternyata sangat sempit mungkin terlalu lama ga dipakai karena sakit atau kontol mas irfan yang kecil aku tak tahu yang penting nikmat. ‘’aaaahhhh mbaaakk nadiaaaaaa’’, erangku. Mbak Nadia tidak bisa berbuat banyak karena masih sakit. ‘’ tolong hentikan di’’, mohon mbak Nadia. Aku merasakan kalau vagina mbak Nadia mulai becek mungkin dia mulai bisa menikmatinya. Kontolku mulai lancar keluar masuk vagina mbak Nadia membuat aku melayang ‘’ ahhhhaa oooohhhhh’’, desah ku ‘’aaaahhhh uuhhhh sudah di aaahhh’’, kata mbak Nadia.


    Rupanya mbak Nadia sudah terangsang karena terdengar dari suaranya yang tak lagi menjerit tapi mendesah. Tak lama kemudian ‘’aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh’’, erangnya. Seeerrr seeerrrr, seperti ada yang menyiram kontolku. Sepertinya mbak Nadia sudah orgasme. Sudah 20 menit lebih aku menyetubuhi mbak Nadia aku merasa pertahananku akan jebol. ‘’aaaahhhhhhhhhh yeeeeeeeeeesssss ooooooohhhhhh mbaaaaaaaaaak Nadiaaaaaaaa’’, croot croot spermaku keluar. Seeerrrr seeeerr rupanya mbak Nadia orgasme untuk yang kedua kalinya. ‘’ maafkan aku mbak aku ga tahan’’, dengan memalingkan muka mbak Nadia berkata ’’sudah pergi sana’’. Sekilas terlihat kepuasan dari wajah mbak Nadia. Aku keluar dari kamar mbak Nadia lalu masuk kekamarku. Aku merenung sebentar aku merasa puas sangat puas akhirnya aku bisa merasakan vagina mbak Nadia.

    Tapi aku takut kalau mbak Nadia bilang ke suaminya, aku bisa dihajar. Beberapa hari setelah kejadian itu pukul 14 mbak Nadia memanggilku ‘’ di Adi’’. ‘’ ya mbak’’, aku masuk ke kamarnya ‘’ ada apa mbak’’, kataku sedikit gemetar ‘’ mbak mau ngomong sesuatu’’, jangan-jangan ngomongin itu pikirku. ‘’ kejadian yang kemarin aku minta maaf mbak, aku khilaf’’,, kataku ‘’ kenapa kamu ngelakuin itu’’. katanya ‘’ maaf mbak aku ga tahan melihat vagina mbak Nadia’’, kataku ‘’ tapi kamu kan ngerti keadaanku, seharusnya kamu harus bisa tahan’’. ‘’ sekali lagi maaf mbak’’, kataku ‘’ ya udah mbak maafin, tapi mbak mau minta tolong lagi’’, lanjutnya ‘’ mbak mau dibelikan makan?’’, tanyaku ‘’ enggak. mbak mau buang air besar tolong kamu anterin mbak ke kamar mandi’’, katanya ‘’ mbak bukanya aku mau nolak, tapi kalau aku khilaf lagi gimana mbak’’. Tanyaku ‘’ya kamu tahan dong’’, katanya ‘’ terus aku harus gimana mbak’’, ‘’ sekarang kamu gendong aku ke kursi roda’’. Lalu aku mebantu mbak Nadia bangun dan aku dudukan ke kursi roda. ‘’ bawa aku ke wc ‘’, katanya. Aku mendorong kursi roda kekamar mandi.

    ‘’gendong aku, terus dudukan ke kloset’’, katanya. Aku melakukan apa yang dia katakan. ‘’ aku tunggu diluar ya mbak’’, kataku. ‘ ’ya’’. ‘’ di’’, aku masuk ‘’ ya mbak aku udah selesai, tolong kamu cebokin aku ya pliss’’, katanya. ‘’Waduh cebokin?iuh”, pikirku. ‘’ gimana caranya mbak’’, tanyaku ‘’ ya kamu siram anusku lalu bersihkan tanganmu’’, katanya ‘’ kalau begini aku ga bisa mbak, kalau kaki mbak kena air gimana?’’, kataku ‘’ begini saja aku ambilkan plastic, terus aku bungkus kaki mbak gimana’’, kataku ‘’ya udah terserah kamu’’, katanya. Lalu akun pergi mengambil plastic di kamar ku sekalian melepas celana dalam ku karena dari tadi udah terangsang. Kemudian aku kembali, lalu aku bungkus kaki dan tangan mbak Nadia. ‘’ sekarang mbak nungging aja kalau duduk sulit mbak’’, kataku Berpikir sejenak ‘’ ya udah deh’’,katanya. Kemudian aku bantu mbak Nadia turun kemudian nungging ‘’buset bagus banget pantatnya kalau nungging’’, pikirku, kelihatan vaginanya sempit dan anusnya ada sedikit kotorannya. Setelah itu aku menyiram anusnya kemudian aku kasih sabun terus aku bilas. Tanpa sepengetahuanya aku melepas celanaku kemudian aku posisikan kontolku di vaginanya. ‘’sudah belum?’’, tanyanya. ‘’belum,bentarlagi masuk’’, kataku ‘’apanya yang masuk’’, katanya ‘’ kontolku’’, kataku. Blessss ‘’aaaahhhhhhh’’ ‘’ aw sudah jangan lagi di, aaaahhhhhhh’’, Aku setubuhi dia dikamar mandi, plok plok plok suara tubuhku berbenturan dengan pantatnya , tak lama kemudian ‘’aaaaahhhhhhh oooooooooohh”, erang ku bebarengan dengan erangannya croooot crooot seeerrr seerrr kita keluar sama-sama.


    Setelah itu aku antar dia ke kamarnya dia langsung menangis ‘’keluar kamu’’, katanya. aku keluar dan kembali kekamarku. Setelah kejadian itu dia tak pernah minta pertolonganku lagi sempai dia sembuh total. Suatu hari waktu aku lagi di kamar ada yang mengetuk pintu kamarku tok!tok!tok! ‘’masuk’’, kataku. Aku kaget karena yang masuk adalah mbak Nadia. ‘’ada apa mbak”, kataku, ‘’ aku mau ngomong sesuatu”, katanya. ‘’kejadian yang dulu aku minta maaf mbak”,kataku ‘’emangnya kamu ga bisa nahan nafsu kamu ya, udah tahu aku sakit masih kamu perkosa juga’’, katanya ‘’maaf mbak, aku khilaf”kataku ‘’dari dulu kamu ngomongnya khilaf terus, tapi masih aja aku kamu perkosa juga, dikamar mandi lagi, emang apa sih yang bikin kamu nafsu”. Katanya “aku kan lagi sakit, parah lagi”, lanjutnya “aku terangsang melihat vagina mbak”, kataku “aku g bisa nahan nafsuku kalau lihat vagina mbak”,lanjutku “emang kamu udah pernah lihat vagina”,katanya ‘’udah mbak, tapi di film atau di gambar porno mbak”,kataku ‘’tapi waktu kamu perkosa mbak kamu kan busa bilang dulu”,katanya.

    Aku kaget mendengar jawabannya. “maksudnya mbak?”,tanyaku “ya kamu bilang kamu terangsang, jangan main masukin aja, memeku masih kering langsung kamu masukin rasanya kayak dirobek vaginaku”,katanya “maaf mbak”, kataku “tapi jujur kontol kamu itu lebih besar daripada punya mas irfan”, katanya “aku juga tahu kamu biasnya ngintipin waktu mbak sama mas irfan berstubuh”,lanjutnya, aku kaget bukan main ternyata mbak Nadia tahu kelakuanku. “maaf mbak”,kataku “iya dari tadi kamu minta maaf terus kayak mau lebaran aja. Aku juga mau jujur setiap aku main sama mas irfan aku ga pernah ngerasain yang namanya orgasme, tapi sama kamu aku bisa keluar sampai dua kali”,katanya “sekarang kamu harus aku hukum, atau kamu aku laporin ke mas irfan”, katanya ‘’hukumanya apa mbak”, kataku “dulu kamu perkosan aku, sekarang aku yang perkosa kamu”, katanya, dia langsung menyerbuku menciumi aku sama meremas kontolku. Dia meremas bijiku sangat keras sampai aku keskitan “ aw sakit mbak jangan keras-keras”, kataku “ bodo amat dulu kamu perkosa aku, aku teriak sakit tapi kamu terus aja”’ katanya, rupanya dia mau balas dendam. Kemudian dia bangkit melepas pakaianya, terus dia juga melepas pakaian ku.

    Dia langsung menjilati kontolku “ooowwwhhh”, rasanya seperti diawang-awang nikmatnya,ternyata dia jago beginian. Setelah itu giliran ku menjilati vaginanya “ aaahhhhhhhn terus di nikmaaaaattt aaahhhhhh”, erangnya aku langsung memasukan kontolku bleessss ahhhhhhh ternyata kalau pakai rangsangan mudah sekali masuknya tidak sesulit waktu kuperkosa dia. “aaaaahhhhhhhyyeeeessssss oooohhhhh”, erang kami berdua “lebih cepat aku mau keluar oooooooohh”, katanya kemudian sseeeeerrr seeerr mbak Nadia sudah orgasme. Tak lama kemudian aku yang akan keluar “ aku maaaau keeluar mbak”, kataku “tunggu bentar lagi akujuga”, katanya dan “ aaahhhhhhhho ooooohhhh yyessssss”, erang ku bareng dengan mbak Nadia. Aku langsung ambruk ketubuh mbak Nadia. Aku cium bibirnya dia balas dengan ganas. “kamu hebat adi”, katanya “mbak juga hebat vagina mbak sempit nikmat”, kataku “tadi aku keluarin didalem apa mbak g takut hamil?”, tanyaku “kalau hamil mau diapain lagi, lagipula itunanti juga jadi anaknya mas irfan”, katanya. Lega aku mendengarnya.

    Setelah kejadian itu kami hamper tiap hari bersetubuh. Bahkan kami pernah nekat berhubungan, padahal suaminya lagi berbincang dengan pemilik kost didepan rumah. Aku masuk kamarnya langsung aku masukin kontolku ke vaginanya. Rasanya lebih nikmat dari biasanya. Kami juga pernah melakukan sambil dia masak. Aku masukin dari belakang, mbak Nadia sambil menggoreng. Ngentot sambil masak nikmaaaaat. Sampai akhirnya mbak Nadia melahirkan, aku berharap itu anaku tapi ternyata itu anaknya mas irfan. Tetapi anak keduanya adalah anaku. Akhirnya aku lulus dan harus kembali kekotaku sidoarjo. Tapi tak kehilangan kontak dengan mbak Nadia. Setiap minggu aku pergi ke Surabaya untuk bersetubuh dengan mbak Nadia yang montok.

  • Kisah Memek Ibu Nakal

    Kisah Memek Ibu Nakal


    5192 views

    Duniabola99.com – Pada kesempatan ini kami akan berbagi cerita dewasa sebuah kisah sex tentang hubungan sedarah antara seorang ibu yang nakal dan genit dengan anaknya yang masih duduk di bangku SMP.

    “Ma.. Pa.. Niko berangkat dulu” Kata Niko pamit mencium tangan ke dua orang tuanya.
    “Iya.. hati-hati yah sayang..” kata ibunya.
    “Maaf yah sayang, papa gak bisa antar” kata papanya karena papanya juga akan berangkat kerja tidak lama lagi.
    “Gak apa kok.. daaaah..” kata Niko dengan sedikit berlari meninggalkan rumahnya menuju sekolah.


    Namanya Niko, umur 14 tahun dan masih duduk di kelas 2 smp. Tampang Niko biasa-biasa saja bahkan dapat dikatakan culun dan cupu. Pengetahuannya akan seks juga sangat minim sampai akhirnya teman-temannya mulai memperkenalkannya vcd dan situs-situs porno hingga akhirnya dia mulai tertarik dan membuatnya kecanduan melihat sosok wanita telanjang.

    Keluarganya dapat dikatakan cukup mampu, rumah mereka cukup bagus meskipun tidak terlalu mewah. Papanya seorang pegawai swasta memiliki penghasilan lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya.

    Ibunya Niko, Anisa, berusia 33 tahun, telah melahirkan dua orang anak. Niko dan satu lagi si kecil Windy yang masih bayi dan masih menyusu. Usianya cukup muda meskipun telah memiliki dua orang anak, itu karena Anisa menikah dengan suaminya Panji, papanya Niko, saat masih berumur 19 tahun. Anisa sendiri memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang masih bagus.

    Keseharian Anisa dihabiskan untuk mengurus rumah dan keluarganya. Tapi siapa sangka, dia merupakan seorang wanita yang memiliki hasrat seksual yang cukup tinggi. Bahkan dia memiliki sifat eksibisionis yang dimilikinya sejak masih abg dulu. Tentu saja sekarang dia tidak bisa bebas lagi melakukan hal tersebut karena sudah berumah tangga. Tapi sesekali kalau ada kesempatan, nalurinya beraksi kembali.

    Kadang dia sengaja mengenakan pakaian yang sekedarnya saat menerima tamu laki-laki saat suaminya tidak ada di rumah, membuat tamu itu menjadi mupeng melihat kulit Anisa yang putih mulus tersaji di depan mata mereka. Atau pernah juga dia menggoda teman-teman Niko yang masih abg labil itu dengan sengaja menyusui Windy di depan mereka, memperlihatkan buah dadanya yang sekal dengan urat-urat hijau yang tampak membayang.

    Kalau sedang dirumah memang Anisa hanya mengenakan pakaian yang seadanya saja, termasuk dihadapan anaknya Niko. Awalnya Niko tentu saja tidak mempunyai pikiran macam-macam ke ibu kandungnya sendiri. Tapi karena pergaulan dengan teman-teman yang salah, otaknya mulai diracuni hal-hal mesum. Terlebih Niko juga semakin dewasa dan naluri kelakiannya sudah mulai muncul. Sehingga kini bila melihat paha ibunya, ataupun buah dada ibunya saat menyusui adiknya, darahnya mulai berdesir dan kemaluannya juga merespon. Agen Sbobet

    Suatu hari Anisa kedapatan memergoki Niko yang sedang nonton bokep di laptopnya. Agak kesal juga sebenarnya Anisa melihat kelakuan anaknya. Diberi fasilitas laptop dan internet ternyata malah digunakan seperti itu. Tapi dia paham kalau anaknya juga lelaki normal yang juga punya rasa penasaran dengan tubuh lawan jenis. Karena itu dia tidak terlalu memarahi anaknya, hanya sekedar menasehati saja.

    “Mama gak marah kan?” tanya Niko lesu karena masih takut dimarahi, apalagi kalau sampai diaduin ke papanya.
    “Hmm.. gak, tapi jangan keseringan yah.. gak baik” ujar Anisa.
    “Jangan kasih tau papa juga yah ma?” pinta Niko lagi.
    “Hihi.. kenapa emang? Takut yah.. iya deh mama bakal diam”
    “Ya udah, lanjutin deh sana kalau mau lanjut.. mama mau ke mini market dulu..” sambungnya lagi.

    “Hihi.. sepertinya kamu udah besar yah sekarang?” Goda Anisa lagi mengedipkan salah satu matanya sambil beranjak dari kamar Niko. Tentu saja hal itu membuat Niko jadi salah tingkah karena malu.

    Sejak saat itu Niko merasa malu bila berjumpa mamanya, terlebih kalau dirinya kedapatan mencuri pandang ke arah mamanya. Anisa hanya tersenyum dan tertawa renyah saja mendapati kelakuan anak sulungnya ini.

    Pernah saat itu Niko pulang sekolah dan menemukan ibunya membukakan pintu hanya mengenakan handuk, tampak butiran air masih menempel di kulitnya yang masih lembab. Saat itu Anisa sedang mandi dan acara mandinya terganggu karena Niko pulang. Niko tentu saja terpana melihat sosok indah di depannya ini. Anisa yang sadar diperhatikan Niko memergoki anaknya yang melongo memandang kearahnya.

    “Ayo kamu liatin apaan? Masa sama mama sendiri nafsu sih? Hihi..” goda Anisa.
    “Eh, ng-nggak kok ma..” jawab Niko tergagap karena mati kutu ketahuan melototi mamanya.
    “Beneran gak nafsu?” entah kenapa Anisa malah tertarik menggoda anaknya sendiri.
    “Ng-nggak mah.. maaf mah..”
    “Hihi.. gak usah grogi gitu ah kamunya.. ya udah.. masuk sana, ganti baju” suruh Anisa.

    “Kalau kamu mau mandi, sekalian aja mandi sama mama.. mama juga belum selesai mandinya” entah darimana lagi ide gila Anisa itu berasal. Mengajak anaknya yang sedang mupeng itu mandi bersama. Niko yang mendengar ajakan mamanya makin salah tingkah saja, dia tidak tahu harus menjawab apa, walaupun dia sebenarnya mau.

    “Kenapa? Gak mau? Ya udah terserah kamu deh.. mama lanjutin mandi dulu. Hmm.. ntar kalau kamu berubah pikiran datang aja.. hihi” kata Anisa menuju kamar mandi meninggalkan Niko yang masih melongo disana. Tampak hidungnya Niko mengeluarkan darah karena mimisan.

    Setelah mengganti pakaiannya, Niko sempat ragu menerima ajakan mamanya tadi atau tidak. Apa mamanya serius tentang hal itu? Pikirnya. Tapi dia yang memang penasaran akhirnya menuju kamar mandi yang mana mamanya masih berada di sana.


    “tok-tok” suara ketukan pintu kamar mandi oleh Niko. Tidak lama kemudian pintu kamar mandipun terbuka, kepala mamanya muncul dari balik pintu, menutupi tubuh telanjangnya.
    “Hihi.. beneran datang yah kamu akhirnya.. padahal mama cuma bercanda aja” kata Anisa pura-pura.
    “Oh.. bercanda aja yah ma.. ya udah deh..” kata Niko dengan wajah kecewa.

    “Eh eh, jangan ngambek gitu dong.. gak apa kok kalau kamu emang mau barengan.. sini masuk” ajak Anisa lagi. Niko dengan agak ragu akhirnya mau juga melangkah masuk. Dadanya berdebar bukan main ketika melangkah masuk ke kamar mandi. Dia mendapati mamanya telanjang bulat, dengan tubuh berlumuran busa sabun. Tampak busa sabun itu menggumpal menutupi daerah selangkangannya, memberi kesan seksi dan erotis. Kepala Niko terasa berat menyaksikan itu semua, hidungnya serasa mau berdarah lagi, sungguh membuatnya tidak tahan. Penis di dalam celananya berontak bukan main ingin bebas.

    “Ye.. cepetan buka bajunya.. katanya mau ikutan mandi.. buruan telanjang” suruh Anisa pura-pura tidak tahu kalau anaknya sedang mupeng berat ke dirinya. Niko yang tersadar dari lamunannya jadi salah tingkah lagi, dia bahkan seperti kesususahan membuka pakaiannya sendiri, membuat Anisa jadi tertawa geli melihatnya. Terakhir kali Niko mandi bareng dengan mamanya waktu dia kelas 4 sd sebelum Niko disunat, Niko masih ingat betul bagaimana lekuk tubuh telanjang mamanya waktu itu. Tapi dulu dia tidak punya nafsu sama sekali melihat tubuh mamanya, berbeda sekali dengan sekarang.

    Anisa tersenyum melihat penis anaknya yang sudah menegang maksimal walaupun ukurannya terbilang sedang. Sedangkan Niko merasa begitu malunya telanjang dengan penis tegang mengacung di depan mamanya yang juga telanjang bulat ini. Dia berusaha menutup-nutupi kemaluannya dengan tangannya.

    “Gak usah ditutup-tutupi segala sayang, kan mama sendiri.. lagian mama juga udah pernah lihat” goda Anisa. Memang Anisa sudah pernah melihatnya, tapi itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang sungguh berbeda, usia Niko sudah jauh bertambah dan tanda-tanda kelakiannya sudah muncul. Niko dengan masih malu-malu akhirnya membuka juga tangannya.

    Mereka akhirnya mandi bersama, Anisa berusaha untuk tidak terlalu memperdulikan Niko yang mupeng berat agar Niko tidak tambah malu. Busa sabun yang tadi menutupi selangkangan Anisa kini sudah terbilas bersih dengan air, sehingga kini Niko bisa melihat vagina berserta bulu kemaluan milik mamanya lagi yang sudah lama tidak dilihatnya. Anisa juga membantu Niko menyabuni punggung Niko dan membasuh rambut Niko dengan busa sampo selayaknya ibu yang perhatian pada anaknya. Selama acara mandi tersebut penis Niko selalu ngaceng, tentu saja karena terangsang karena keadaan ini.

    Akhirnya acara mandi itu selesai juga, mamanya keluar dari kamar mandi terlebih dahulu. Tapi sebelum keluar mamanya mengatakan sesuatu yang membuat Niko jadi terkejut dan malu.

    “Kamu pasti udah gak tahan kan? kamu keluarin deh.. tapi jangan lupa dibersihin.. hihi.. mama ke kamar dulu yah” bisik Anisa menggoda kemudian keluar dari kamar mandi. Sungguh malu Niko karena mamanya mengetahui bebannya itu. Setelah mamanya keluar dan menutup kamar mandi, Niko beronani menuntaskan nafsunya yang sudah sedari tadi diubun-ubun. Tentu saja yang menjadi objek onaninya kali ini adalah mamanya.


    Setelah saat itu, Anisa semakin berani saja menggoda anaknya Niko. Dia bahkan pernah hanya mengenakan kemeja dan celana dalam saja ketika hanya berduaan dengan anaknya di rumah. Saat Anisa menyusui bayinya, dia tidak berusaha menutup-nutupi padangan Niko ke arah buah dadanya, bahkan membuka kedua payudaranya sekaligus. Intensitas onani Niko semakin bertambah karenanya, tentu saja selalu mamanya yang menjadi objeknya. Pernah saat mandi bersama dengan Niko lagi, dia bahkan berada disana menyaksikan anaknya onani di depannya.

    “Gak apa nih ma? Niko malu nih..”

    “Iya gak apa, mama tahu kok kalau kamu sering bayangin mama. Kali ini mama kasih bonus deh.. mama bakal temanin kamu, gak perlu cuma ngayal lagi kamunya..” kata Anisa menggoda Niko. Darah Niko berdesir mendengarnya, walaupun malu dia sebenarnya senang bukan main mamanya mau menemaninya, bersedia membantunya onani dengan memandangi tubuh telanjang Anisa langsung. Niko akhirnya mulai beronani, dia mengocok penisnya sendiri. Sungguh berbeda sekali rasanya dengan hanya bisa membayangi, karena kini mamanya berada di depannya langsung. Bersedia tanpa paksaan menyerahkan tubuh telanjangnya menjadi objek onani anaknya.

    Anisa hanya tersenyum saja selama anaknya beronani tersebut, membuat Niko makin belingsatan. Tidak butuh waktu lama bagi Niko untuk keluar. Itu karena sensasi yang dia alami kali ini jauh lebih luar biasa dari pada hanya dapat membayangi mamanya saja. Mamanya tertawa renyah melihat anaknya ejakulasi begitu cepatnya. Tapi dia dapat memaklumi karena anaknya memang masih hijau dalam urusan begini.

    “Udah keluar yah sayang? Enak kan? enakan mana dari pada ngebayangin doang?” goda Anisa.
    “Enakan ini mah..” jawab Niko malu.
    “Hihi.. kalau kamu mau boleh kok kapan-kapan minta mama bantuin kamu lagi” kata Anisa tersenyum sambil mengedipkan mata kirinya ke Niko. Niko senang bukan main mendengar tawaran mamanya tersebut.

    “Eh.. tapi ngomong-ngomong tadi kamu keluarnya cepat amat”
    “Gak tau nih ma.. keenakan sampai gak tahan Niko” jawab Niko malu.
    “Hihihi.. iya.. mama maklum kok. Udah sana keringkan badan kamu. Mama masih mau lanjutin mandi, ini biar mama yang bersihin” kata Anisa menyiram genangan sperma Niko.

    Sebenarnya Anisa menyuruh Niko keluar karena dia juga merasa horni, dia ingin sedikit bersenang-senang dengan melakukan masturbasi dahulu sebelum menyelesaikan acara mandinya. Setelah Niko keluar dan pintu tertutup. Anisa berbaring di atas lantai kamar mandi berlapis marmer yang dingin, meskipun lantai itu terkesan kotor tapi dia tidak peduli lagi. Aksinya terhadap Niko tadi betul-betul sudah membakar birahinya, dia ingin segera menuntaskan nafsunya. Dia mainkan vaginanya sendiri menggunakan jarinya, mengusap-ngusap klirotisnya sendiri. Tapi entah kenapa dia malah memikirkan Niko, mungkin karena aksi nakalnya tadi yang cukup berani.

    “Ohh.. Niko.. kamu nakal sayang, onani di depan mama.. nggmmhh..” racau Anisa berbicara sendiri sambil mengusap-ngusap klirotisnya.

    “Kamu nakal Niko.. mesum ke mama kamu sendiri.. oughh.. kamu mau ngentotin mama kamu sendiri? Nih.. boleh.. masukin gih..” racaunya lagi. Dia masukkan jarinya sendiri ke dalam vaginanya setelah mengatakan hal itu. Dia aduk-aduk vaginanya sendiri menggunakan jarinya sambil terus meracau sendiri.

    “Iyaah.. terus sayang.. entotin mama sayang.. yang kencaaang.. ougghh” Dia terus memainkan jarinya di vaginanya sendiri selama beberapa saat serta memilin-milin putingnya hingga air susunya merembes keluar.

    “mama mau sampai sayang.. kita keluar barengan.. terus sayang.. iya.. teruuusss.. mama sampaaaaaiiiiiiii.. aaaaahhhhhhhh…” lenguh Anisa cukup kuat saat dia klimaks, dia tidak peduli kalau lenguhannya itu bisa terdengar oleh Niko. Anisa baru tersadar apa yang baru saja dia katakan saat masturbasi tadi, membayangi kalau dia bersetubuh dengan Niko anaknya. Dia sendiri bingung kenapa sampai membayangi hal tersebut, tapi dia tidak memungkiri sensasi nikmat berbeda yang baru saja dia alami. Apakah itu nikmatnya sensasi incest? Pikirnya.


    Setelah saat itu Niko beberapa kali mengajak Anisa mandi bersama, tentu saja selalu disertai dengan onani di depan mamanya. Dia yang awalnya malu-malu, sekarang tidak segan lagi untuk mengajak dan meminta bantuan mamanya. Tidak jarang juga Anisa melanjutkan masturbasi sendiri setelah itu, baik di kamar mandi maupun di kamar. Seiring waktu berlalu, Anisa mulai menggunakan tangannya membantu Niko onani. Mengocok penis anaknya dengan tangannya sendiri, sebuah kemajuan yang luar biasa dan cukup gila yang dilakukan oleh mereka. Anisa juga mempersilahkan anaknya untuk ngomong kotor padanya.

    “Gak apa mah? gak usah deh ma.. gak sopan rasanya” kata Niko berusaha menolak walaupun dia sebenarnya mau.
    “Hihi… Gak apa kali sayang.. kan pasti lebih enak, gak perlu ditahan-tahan lagi kalau kamu mau ngomong yang jorok-jorok ke mama.. keluarin aja dari mulut kamu apa yang kamu pikirin” kata Anisa tersenyum manis sambil meneruskan mengurut penis anaknya.

    “Oughh.. enak mah.. terus..” racau Niko. Sepertinya Niko masih berusaha menahan mulutnya untuk tidak berkata-kata kotor. Anisa putuskan untuk memancing anaknya dahulu.

    “Sayang.. menurut kamu mama cantik nggak?”

    “Cantik mah.. cantik banget..”

    “Seksi nggak sayang?”

    “iya mah..”

    “Berarti kamu nafsu dong liat mama?”

    “Iya mah.. Niko nafsu liat mama.. mama cantik banget, seksi, menggoda..” Anisa tersenyum mendengar jawaban Niko, sepertinya caranya cukup berhasil.

    “Hihi, kamu nakal yah.. Apanya mama yang bikin kamu nafsu sayang?” goda Anisa lagi sambil tetap mengocok penis Niko.

    “Semuanya mah.. wajah mama, susu mama, paha mama, memek mama.. kontol Niko ngaceng terus kalau liat mama” kata Niko mulai berani ngomong jorok.

    “Hihi.. mesum kamunya.. udah pandai yah ngomong jorok ke mama.. terusin sayang.. ngomong aja..”

    “Niko pengen ngentotin mama.. oughh.. ngulum tetek mama yang penuh susu sampai puas”

    “terus sayang? apa lagi? puas-puasin aja ngomong joroknya ke mama”

    “Niko pengen genjotin memek mama pake kontol Niko terus terusan.. siramin peju Niko ke memek mama tempat Niko lahir dulu sampai mama hamil anak Niko” Anisa tertawa renyah mendengar ucapan anaknya ini, ternyata bisa-bisanya anaknya berfantasi seperti itu ke mamanya.

    “Ngghh.. mau keluar mah.. gak tahan lagi..” lenguh Niko.

    “Keluarin aja sayang.. gak usah ditahan”

    “Aaah…. Anisaaaaa” teriak Niko menyebut nama mamanya. Anisa menutup kepala penis Niko dalam genggaman tangannya, sehingga akan membuat sperma Niko tertampung di tangannya.

    Beberapa detik kemudian muncratlah sperma Niko dengan banyaknya ke tangan Anisa. Melumuri tangan mamanya dengan spermanya sendiri. Niko merasa sangat puas sekali, semakin hari onani yang dia rasakan semakin nikmat saja.

    “Hihi.. banyak nih sperma kamu” kata Anisa menunjukkan tangannya yang berlumuran sperma anaknya.

    “Enak yah sayang? Puas kan?”

    “Eh, tapi kayaknya kamu masih cepat aja keluarnya.. sepertinya perlu mama kasih latihan nih” kata Anisa sambil membersihkan tangannya.
    “Latihan gimana mah?” tanya Niko yang tidak paham maksud mamanya.

    “Latihan biar kamu bisa tahan lebih lama.. kan malu ntar kamu sama pacar kamu kalau kamu kecepetan keluarnya” jelas Anisa. Sebuah ide yang gila yang entah dari mana datangnya tapi dia coba menjelaskannya dengan alasan yang masuk akal.

    “Oo.. emang gimana caranya mah?”
    “Hmm.. kamu biar mama bantuin onani, ntar kita hitung berapa waktunya sampai kamu keluar. Kita lihat perkembangan kamu tiap onani” kata Anisa menjelaskan layaknya seorang trainer, dan benar kalau dia mulai saat itu menjadi seorang trainer sex bagi anaknya Niko.


    Anisa mulai membantu melatih ketahanan Niko dengan tetap menggunakan tangannya, bagaimanapun dia tidak mau untuk melakukan hal lebih dari ini. Anisa sendiri tidak begitu yakin benar atau tidak cara ini ampuh bagi Niko. Tapi sedikit demi sedikit Niko mulai lebih lama jebol pertahanannya.
    Mereka melakukan itu siang atau sore hari saat papanya Niko sedang berkerja, rata-rata mereka melakukannya 1 sampai 2 hari sekali. Meski pernah juga dalam sehari Niko sampai 2 kali berlatih hal tersebut. Untuk memberi Niko semangat, mamanya kadang memberinya hadiah kalau Niko bisa mencapai waktu yang ditentukan Anisa. Bisa berupa ciuman, pelukan, dan uang jajan tapi Anisa tidak mau memberinya lebih dari itu seperti hadiah-hadiah erotis.

    Sampai saat ini mereka masih menjaga agar hal ini tidak ketahuan oleh papanya Niko. Pernah hari itu Niko yang tidak tahan minta dionanikan oleh mamanya, padahal papanya berada di rumah saat itu. Mereka melakukannya diam-diam di dalam kamar mandi saat papanya sedang menonton tv. Niko yang masuk duluan dengan dalih akan mandi, kemudian dengan diam-diam mamanya juga masuk tidak lama kemudian.

    “Gila kamu.. entar ketahuan papa bisa dihajar kamu”
    “Maaf deh ma..”
    “Hihi.. kayaknya makin hari kamu makin lancang aja yah.. tapi gak papa deh.. mama suka kalau kamu terus terang gini”

    Merekapun akhirnya melakukan hal itu lagi di sela-sela mandinya Niko, tapi Anisa masih tetap mengenakan pakaiannya. Tentu saja mereka tidak bisa bebas bicara mendesah seperti biasanya karena ada papanya di rumah.

    “Ayo sayang.. keluarin yang banyak” kata Anisa berbisik sepelan mungkin.

    “Ngghh.. mah..” lenguh Niko tertahan. Sperma Niko tumpah lagi di tangan mamanya. Tapi apa yang dilihatnya kemudian membuat darahnya berdesir, mamanya menjilati sedikit lelehan spermanya.

    “Ueekk.. asin yah ternyata peju kamu..” kata Anisa berbisik sambil tersenyum menggoda. Niko cuma merespon ucapan mamanya dengan tersenyum karena tidak tahu harus ngomong apa. Setelah itu mamanya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tangannya, meninggalkan Niko yang masih meneruskan mandinya.
    ***

    Hari itu Niko melakukan hal itu lagi dengan Anisa. Tapi lagi-lagi dia tidak dapat bertahan lama hanya dengan kocokan tangan mamanya. Spermanya kembali tumpah hanya dalam tiga menit lebih sedikit.
    “Udah keluar sayang?” tanya Anisa melihat ke arah mata anaknya yang sedang meringis kenikmatan sehabis ejakulasi. Dia sadar anaknya sedikit demi sedikt mulai menunjukkan perkembangan, yang dulunya hanya tidak mampu lebih dari satu menit kini sudah lebih baik.

    “Masih belum bisa lama nih ma..” kata Niko, terlihat wajah lesu di raut mukanya. Dia masih belum bisa untuk mencatatkan rekor waktu yang lebih lama lagi.

    “Udah lebih bagus kok.. setidaknya ada perkembangan, mama yakin kok kamu bisa lebih baik besok..” Kata Anisa sambil mengedipkan matanya. Dia ingin anaknya mendapatkan pengalaman seks yang cukup nantinya dan tidak ingin membuat anaknya mendapatkan malu dari pacarnya karena ejakulasi yang cepat.

    “Gimana kalau kamu ajak temanmu kemari, ikut latihan denganmu” sebuah usul yang terdengar gila meluncur dari mulut Anisa. Niko sendiri terkejut mendengar usul ibunya tersebut. Mengajak temannya kemari? Untuk ikutan merasakan kenikmatan dari tangan ibunya? sungguh gila ide mamanya.

    “Kok harus mengajak orang lain segala sih ma?” tanya Niko mencoba mengetahui apa yang sebenarnya mamanya pikirkan.

    “Gini sayang.. mama pikir kamu akan lebih semangat kalau kamu ada lawannya. Jadi ntar kamu lomba deh sama temanmu siapa yang paling lama, ntar yang menang dapat hadiah deh dari mama” jawab Anisa. Sebuah alasan yang Niko pikir ada benarnya juga omongannya, pasti dengan suasana seperti itu membuatnya lebih semangat dan tidak ingin cepat cepat keluar, pikir Niko.


    “Oke deh ma.” Kata Niko menyetujui. Niko sebenarnya sedikit ragu untuk mengajak temannya. Dia juga tidak tahu siapa yang akan dia ajak. Beberapa temannya memang ada yang menyukai mamanya Niko. Hal itu Niko ketahui saat mengajak temannya main ke rumah. Teman-temannya yang abg labil seperti halnya Niko tentu saja tidak bisa lepas melihat wanita cantik, termasuk Anisa, mamanya Niko. Mereka berkomentar betapa cantik dan seksi mamanya. Niko yang mendengar hal tersebut awalnya tidak suka, tapi setelah dia perhatikan ternyata omongan temannya ada benarnya juga. Walaupun Anisa sudah berumur 33 tahun dan sudah melahirkan 2 orang anak, bahkan yang paling kecil sedang tahap menyusui, tapi tubuh Anisa masih terawat dengan baik karena dia rajin olahraga untuk mengembalikan bentuk tubuhnya setelah melahirkan. Dengan kulit putih mulus dan bentuk tubuh yang bagus serta wajahnya yang manis menjadi daya tariknya. Suami-suami tetanggapun banyak yang melirik-lirik ke Anisa saat Anisa belanja ke warung ataupun melakukan aktifitas di luar rumah.

    Sungguh anak-anak remaja sekarang mudah sekali mendapat akses porno dari internet, hal itulah yang membuat mereka begitu labilnya kalau melihat wanita cantik. Niko yang sebenarnya polos, mulai ikut-ikutan temannya. Diantara teman-temannya yang rata-rata berpikiran mesum ini ada yang paling parah, Jaka namanya. Jaka sendiri dianggap bos oleh rombongan geng yang Niko ikut-ikutan ini. Itu karena usia Jaka yang sudah 17 tahun yang memang selayaknya sudah sma. Niko sering dimintai uang rokok oleh Jaka, walaupun berat hati tapi terpaksa juga diberi oleh Niko.

    Beberapa hari kemudian di sekolah, entah kenapa Niko malah ingin mengajak Jaka ke rumah. Ya.. sebaga rival latihannya bersama mamanya tentunya. Niko sendiri yang menerangkan panjang lebar ke Jaka tentang maksud tujuannya. Mendengar penjelasan Niko ini, tentu saja Jaka semangat bukan main dan menyetujuinya. Sudah lama dia tertarik pada mamanya Niko. Walaupun Anisa bukan gadis abg tapi sungguh menggoda dan nafsuin seperti artis milf Jav yang sering dia tonton. Akhirnya setelah pulang sekolah Niko mengajak Jaka ke rumahnya.

    “Ma.. Niko pulang mah.. Niko ajak teman nih..” kata Niko masuk ke rumah yang tidak terkunci dan mempersilahkan Jaka duduk di sofa tamu.

    “Mah, ni Jaka.. yang dulu juga pernah main kesini” kata Niko pada Anisa. Tidak lama kemudian Anisa muncul yang sepertinya habis menidurkan bayinya di kamar. Dia mengenakan daster rumahan biasa, meskipun begitu dia tetap saja terlihat cantik.

    “Oh.. Jaka” Anisa tersenyum manis sambil menerima salaman tangan teman anaknya itu. Jaka mencium punggung tangan Anisa. Mata Jaka tentu saja sudah mulai kelayapan kesana kemari menerawang ke tubuh wanita ini. Anisa sebenarnya sadar mata anak itu kelayapan melihat tubuhnya, tapi entah kenapa dia merasa horni diperhatikan seperti itu. Sepertinya sifat eksibisionisnya muncul kembali. Sifat nakalnya yang pertama dia alami saat dia masih gadis dahulu yang sampai sekarang masih tetap ada. Ya.. dia memang senang kalau dirinya menjadi pusat perhatian kaum Adam. Tidak terkecuali oleh teman-teman anaknya sendiri.

    “Kamu udah dengar kan dari Niko?”
    “Hehe.. udah tante, tapi beneran nih boleh ikutan?”
    “Hihi.. iya, boleh kok. Kamu mau kan bantu Niko?”
    “Hehe.. oke tante, Jaka senang malah bisa bantu kaya gini” Anisa tersenyum manis mendengar ucapan Jaka tersebut.

    “Ya udah, kalian mau sekarang?” tanya Anisa dengan senyum di bibirnya.
    “Ntar yang menang tante kasih uang jajan deh..” tambahnya lagi. Niko dan Jaka akhirnya setuju untuk saat itu juga memulai latihan ketahanannya. Niko cukup malu-malu juga untuk telanjang di depan Jaka. Tapi Jaka malah terlihat tidak sabaran dan langsung saja membuka celananya. Cukup terkejut Anisa melihat kelamin Jaka yang ternyata cukup besar, beda sekali dengan milik anaknya Niko. Anisa berusaha menyembunyikan keterkejutannya tersebut, walaupun matanya tetap menatap takjub anak seusia Jaka memiliki penis sebesar itu.

    “Umur kamu berapa sih Jaka?” tanya Anisa ke Jaka.
    “17 tahun tante”
    “Ohh.. pantesan” sebenarnya Anisa cukup heran juga Jaka masih smp dengan usia segitu, tapi Anisa tidak ingin terlalu mempedulikannya dan membahas hal tersebut.

    “Pantesan kenapa ya tante?” tanya Jaka karena sedikit bingung.
    “Ahh.. nggak, mau tau aja.. hihi”

    “Yuk mulai” ajak Anisa. Dia kemudian bersimpuh di tengah-tengah Niko dan Jaka yang telah bertelanjang bulat dan sudah ngaceng dari tadi. Niko sendiri sebenarnya masih merasa tidak nyaman dengan adanya Jaka yang ikut. Tapi sudah terlambat, dia sendiri yang mengajak Jaka kemari. Dada Niko berdebar karena akan melakukan hal ini lagi, bahkan kini temannya ikut serta. Tangan Anisa mulai mengocok kedua penis remaja tanggung ini di sisi kiri dan kanannya. Yang mana salah satunya milik anaknya sendiri.


    “Ahh… ma..” lenguh Niko penuh kenikmatan.
    “Enak sayang? Kamu sendiri gimana jaka? Enak kocokan tante?” tanya Anisa dengan wajah nakal pada dua remaja itu.

    “Iya tante, sedaap.. hehe, akhirnya kesampaian juga bisa dikocokin tante”
    “hmm?? Maksud kamu?”
    “hehe.. iya, sejak liat tante pertama kali Jaka jadi suka sama tante. Jaka jadi ngayalin tante tiap coli.”

    “Ha? jadi kamu sering ngayalin tante? Dasar kamu kecil-kecil udah gini..” kata Anisa sambil tetap mengocok penis mereka.

    Setelah beberapa saat, terlihat ekspresi dari Niko yang sepertinya sudah tidak tahan untuk keluar.

    “Ma… gak tahan.. agghh…”
    “Croot.. crroot” tumpahlah sperma Niko di hadapan ibu dan temannya itu. Spermanya berlumuran tumpah di tangan ibunya.
    “Oughhh.. mah.. enak..” lenguh Niko kenikmatan.
    “Yess.. gue menang, iya kan tante? Jaka yang menang kan?”
    “Iya-iya kamu yang menang. Hmm.. kamu mau tante lanjutin sampe keluar gak?”
    “hehe.. mau dong tante”
    “Ya udah..” tangan Anisa kembali mengocok penis Jaka. Tidak butuh waktu lama karena Jaka memang sudah horni dari tadi. Tangan Anisa pun kini berlumuran sperma Jaka.

    “Udah kan? kalian bersih-bersih dulu sana gih”
    “Iya ma..”
    “Iya tante..” jawab Niko dan Jaka bersamaan. Mereka akhirnya bersih-bersih tidak lama setelah itu. Niko dan Jaka kemudian menghabiskan waktunya dengan nonton tv sedangkan Anisa ke dapur mempersiapkan makan malam. Selang beberapa lama terdengar suara tangisan bayi, tidak lain adalah tangisan Windy, adiknya Niko. Anisa yang mendengar suara tangisan anaknyapun segera menghentikan aktifitasnya di dapur. Anisa kembali dari kamar sambil menenteng bayinya yang masih kecil, lalu duduk di kursi yang cukup jauh dari Niko dan Jaka.

    “Oi, Nik.. liat tuh.. jadi ngiler gue pengen nyusu ke nyokap lo” kata-kata yang sebenarnya sangat kurang ajar. Mengomentari ibunya seperti itu. Tapi entah kenapa Niko juga merasakan hal yang sama dengan Jaka. Nalurinya tidak dapat dibohongi kalau dia juga ngaceng liat payudara ibunya sendiri yang sedang menyusui adeknya.

    “Gini deh, gue punya ide” kata Jaka.
    “Tante, mulai lagi yuk ronde selanjutnya. Kami udah tegang lagi nih..” pinta Jaka ke Anisa.
    “Bentar yah sayang, tante lagi nyusuin Windy. Ntar dia gak kenyang lagi”
    “Tante.. hadiah untuk yang menang ronde selanjutnya tambahin dong tante.. masa cuma uang jajan”

    “Hmm.. terus?”
    “Gimana kalau.. ngggg… itu tante” kata Jaka sambil menunjuk ke arah payudara Anisa yang masih menyusui bayi kecilnya.

    “Hihihi.. dasar kamu. Maksudnya nyusu? Porno yah kalian.. hihi” Anisa malah merespon permintaan mesum Jaka sambil tertawa-tawa.

    “Oke deh, tante turutin. Niko, kamu harus menang yah kali ini, jangan biarkan teman kamu yang malah dapat susu mama, kan kamu yang anaknya mama. Hihi..”

    “Iya ma.. Niko usahain”

    Anisa melepaskan Windy dari sisinya. Tampak Windy sudah tenang, mungkin karena sudah kenyang menyusu. Anisa lalu meletakkan Windy ke kursi di sebelahnya.
    “Mau sekarang?” tanya Anisa dengan tatapan nakal tanpa menutup payudaranya dengan baju terlebih dahulu, membiarkan payudara sebelah kanannya menjadi santapan mereka. Membuat kedua remaja itu hanya mengangguk-angguk mupeng karenanya.
    Niko dan Jaka mendekati Anisa, meloloskan celananya hingga mereka sekali lagi mengacungkan penis mereka ke Anisa. Tangan Anisa mulai mengocok kedua penis itu lagi. Saat penis mereka dikocok Anisa, mata mereka tidak henti-hentinya menatap ke payudara yang terpampang bebas itu, membuat si punya penis makin kelojotan.


    “Ayo Niko.. semangat sayang, jangan kalah lagi” kata Anisa menyemangati anaknya.
    “Oughh.. iya ma..” jawab Niko. Tapi apa daya, ketahanan Niko masih belum dapat menandingi Jaka. Diapun akhirnya keluar duluan dan kalah lagi dari Jaka.

    “Yes, gue menang.. hehe” sorak Jaka penuh kemenangan dengan diiringi tawa mesum.
    “Tuh kan.. kamunya kalah lagi” kata Anisa dengan wajah yang dicemberutkan ke Niko.
    “Kamu mau ambil hadiahnya sekarang jaka?” tanya Anisa dengan tatapan nakal ke Jaka.
    “Boleh tante.. ”

    “Huu.. udah gak sabar yah kamunya, ya udah sini duduk dekat Tante” kata Anisa sambil menggeser posisi duduknya memberi tempat untuk Jaka untuk duduk di sebelahnya. Jakapun akhirnya duduk di sebelah Anisa dan mulai mengarahkan mulut hitamnya ke pucuk payudara Anisa yang siap menyambut mulutnya. Walau agak grogi, tapi akhirnya mulut Jaka menempel ke pucuk payudara kanan Anisa. Terasa cairan hangat mulai masuk ke mulutnya saat dia coba mengenyot putting payudara tersebut.

    Melihat temannya yang asik menyusu ke ibu kandungnya membuat perasaan Niko tidak karuan saat itu. Cemburu, sakit hati, horni, semua campur aduk. Bagaimanapun itu adalah ibu kandungnya dan kini payudara ibunya sedang dinikmati temannya yang cabul itu. Sambil menyusu ke Anisa, mata Jaka sesekali menatap ke Niko sambil cengengesan seperti sedang memberitahunya betapa nikmatnya menyusu ke ibunya.

    “Jaka, jangan godain Niko seperti itu dong, kasihan anak tante” kata Anisa yang tahu apa yang sedang dipikirkan Jaka.
    “Hehe.. gak kok tante..” jawab Jaka enteng.
    “Ma…” kata Niko lirih.
    “Ya sayang?”
    “Niko mau juga dong…”

    “Yee.. ini kan hadiah untuk yang menang. Jadinya khusus untuk Jaka dong.. kalau kamu juga mau, ronde selanjutnya kamu harus menang yah sayang..” jawab Anisa. Sekali lagi tampak Jaka cengengesan melirik ke Niko, membuat hati Niko makin pedih.

    “Tante, yang satu lagi buka juga dong..” pinta Jaka.
    “Lah, untuk apa? Emang kamu mau nyusu yang sebelah juga??”
    “Iya.. boleh yah tante..”
    “Hmm.. iya-iya, dasar kamunya” Anisa akhirnya menyetujui permintaan mesum Jaka. Dia lalu membuka sisi bajunya sebelah kiri sehingga kini kedua payudaranya terpampang bebas.

    “Tanggung tuh tante, buka aja semua bajunya..” pinta Jaka lagi.
    “Dasar nakal. Niko, gak papa kan mama telanjang dada? Temanmu nakal nih..” Anisa malah meminta persetujuan pada anaknya yang sedari tadi melongo mupeng ke arah mereka berdua.

    “Eh.. i-iya ma, gak papa” jawab Niko. Rasa pedih di hatinya entah kenapa kalah dengan rasa horni dan penasaran melihat tubuh telanjang dada ibunya. Mendengar jawaban anaknya Anisa cuma tersenyum, dia kemudian mulai meloloskan daster bagian atasnya sehingga kini bagian atas tubuhnya tidak tertutup kain sedikitpun. Memamerkan tubuh bagian atasnya dengan buah dada sekal yang penuh cairan susu.

    “Udah nih, puas kan kamu Jaka?”
    “Hehe.. tante emang baik”

    “Dasar” kata Anisa sambil mencubit pipi Jaka. Remaja itu kemudian melanjutkan acara nyusunya lagi. Kali ini payudara kiri Anisa yang dijilat dan dihisapnya, sambil payudara kanannya menjadi sasaran remasan tangan nakal Jaka. Memang tidak ada persetujuan kalau yang menang boleh melakukan hal mesum seperti meremas payudara Anisa. Tapi Anisa tidak menganggapnya masalah.

    “Tante, kocokin lagi dong.. kan tadi belum keluar. Pasti enak nih nanti rasanya ngecrot sambil nyusu.. hehe” pinta Jaka mesum.


    “Hmm.. iya-iya. Porno kamunya. Kamu baring deh sini.” setuju Anisa menyuruh Jaka berbaring di atas sofa dengan kepala Jaka berada di atas paha Anisa yang diberi bantal sofa, sehingga mulut Jaka kini tepat di depan payudara Anisa. Tangan Anisa kini meraih penis Jaka dan mulai mengocoknya lagi. Sungguh beruntung Jaka ini, merasakan kenikmatan menyusu dari payudara yang putih sekal sambil penisnya dikocok oleh wanita secantik dan seseksi Anisa. Sambil membiarkan Jaka menyedot susu dari buah dadanya, dia mengocok batang penis teman anaknya tersebut. Anaknya sendiri masih melongo menatap nanar aksi temannya yang semakin mesum ke ibu kandungnya. Jaka masih saja melirik cengengesan ke arah Niko. Kini ibunyapun juga ikut-ikutan melirik tersenyum ke Niko yang cemburu dari tadi, yang membuat hati Niko makin tidak karuan.

    Tapi suara rewelan Windy menganggu suasana mesum ini. Tentu saja Jaka yang merasa sangat terganggu karena aksinya belum selesai.

    “Jaka, bentar yah.. tante urus Windy dulu” kata Anisa melepaskan kocokan tangannya dari penis Jaka.
    “Duh tanggung nih tante, bentar lagi..” tolak Jaka tidak tahu diri.
    “Bentar kok sayang.. yah?” kata Anisa lagi ke Jaka, tapi Jaka sepertinya belum mau melepaskan kulumannya dari buah dadanya. Anisa akhirnya menuruti kemauan Jaka dan kembali mengocok penis Jaka.
    “Bentar yah Windy sayang.. Om jaka masih belum puas nih.. hihi” kata Anisa ke bayinya. Sungguh gila, Anisa lebih memilih memuaskan Jaka dulu dari pada mengurus bayinya yang sedang menangis ini.

    “Belum Jaka? Kasihan tuh Windy..” tanya Anisa.
    “Belum tante, duh si Windynya berisik amat siih tante. Suruh diam dong..” kata Jaka yang betul-betul tidak tahu diri.

    “Kamunya kan yang gak mau ngalah. Hmmhh.. dasar. Niko, tolong kamu timang-timang adek kamu dulu dong” suruh Anisa ke anaknya. Niko dengan perasaan yang tidak karuan menuruti saja perintah ibunya ini. Dia ambil Windy yang masih menangis dan menimang-nimangnya. Niko menggendong adeknya itu mutar-mutar rumah. Meninggalkan ibu dan temannya yang masih saja asik dengan aktifitas mesum mereka. Cukup lama untuk membuat Windy untuk tertidur lagi. Setelah Windy tertidur, barulah Niko kembali ke tempat tadi.

    “Ma, udah tidur nih.. bawa ke kamar aja yah Windynya?” tanya Niko berbisik sambil melihat ibunya yang masih saja menyusui Jaka.

    “Ngghh, iya sayang, bawa ke kamar aja” jawab Anisa. Dengan berat hati Niko membawa Windy ke kamar, sudah tidak dapat apa-apa malah harus urusin Windy, gerutunya.

    Saat Niko kembali dia melihat mereka sudah berganti posisi. Kali ini Anisa berada di bawah tindihan Jaka yang masih sibuk mengenyot buah ibunya ini. Penis Jaka pun masih tetap dikocok oleh Anisa dengan posisi seperti itu. Tampak daster yang dikenakan Anisa makin acak-acakan karena perbuatan Jaka ini. Temannya benar-benar melakukan hal mesum ke ibunya. Anisa sendiri mulai melenguh karena permainan lidah dan tangan Jaka di buah dadanya. Melihat anaknya sudah kembali Anisa berusaha untuk mendorong tubuh Jaka.

    “Jaka.. udah dong.. lama amat sih” kata Anisa. Jaka tidak memperdulikan omongan Anisa dan masih saja meneruskan menghisap payudara tersebut walau dia juga tahu bahwa Niko sudah kembali.
    “Udah dong Jaka sayang..” katanya lagi.

    Sebenarnya Niko cukup heran, padahal dia cukup lama menimang-nimang Windy tapi Jaka belum juga ngecrot. Apa Jaka sudah ngecrot waktu dia menimang-nimang Windy tadi? Pikirnya.
    Dugaannya sepertinya benar karena dia melihat ada bercak putih di bawah sofa itu. Sepertinya jaka yang belum puas meminta jatah lagi walau sudah ngecrot, pikirnya lagi.

    “Sayang, sorry yah. Ini Jaka masih belum puas aja” kata Anisa pada Niko. Memang tidak ada batasan waktu sampai kapan hadiah nyusu itu diberikan sehingga Jaka masih saja meneruskan aksinya. Jaka sebenarnya sudah kenyang meminum susu dari payudara Anisa, sekarang dia lebih tepatnya menjilati dan memainkan payudara Anisa dengan mulut dan lidahnya. Niko yang memang jadi pihak yang kalah terpaksa hanya menuruti apa yang telah dijanjikan.

    Melihat anaknya yang mupeng dari tadi Anisa tidak tega juga. Dia dorong dengan paksa tubuh Jaka dari dirinya.

    “Udah dulu Jaka, kasian Niko tuh.. kita mulai ronde selanjutnya yah.. kayaknya kalian udah tegang lagi tuh..”kata Anisa mencoba memberi Niko kesempatan sekali lagi.
    “Kalau gitu boleh dong Niko nyusu kalau Niko menang?” tanya Niko semangat.
    “Iya.. boleh..” jawab Anisa sambil tersenyum manis.
    “Terus kalau Jaka yang menang gimana tante?” tanya Jaka yang masih belum puas juga.
    “Hmm.. kamu maunya apa?” kata Anisa balik nanya.


    “gimana kalau Jaka boleh ngentotin tante.. hehe” jawab Jaka kurang ajar. Niko sendiri terkejut bukan main mendengar permintaan temannya ini, betul-betul kurang ajar. Ingin sekali rasanya dia melayangkan tinju ke mulut Jaka. Tapi dia melihat ibunya malah tertawa mendengar permintaan Jaka ini.

    “Hihi.. kamu ini, enak aja. Ini punyanya papanya Niko” kata Anisa sambil mencubit perut Jaka.
    “Gitu yah tante.. duh, pengen banget padahal genjotin memek tante.. hehe”
    “Hush.. kamu ini ngomongnya kurang ajar banget, ada Niko tuh..” kata Anisa sambil melirik ke anaknya.

    “Gimana Niko? Gak boleh kan?” tanya Anisa ke Niko.
    “Nggg…”
    “Boleh kan Nik? Gue hajar lo kalau gak boleh!!” kata Jaka main serobot.

    “Eh eh, enak aja main hajar anak tante. Gak boleh pokoknya, pake mulut tante aja yah.. gak apa kan? jejalin deh suka-suka kamu ke mulut tante kalau kamu menang.” tawar Anisa dengan senyum nakal. Memberi Jaka harapan kalau dia boleh melampiaskan nafsunya menggunakan mulutnya.

    “Ya udah tante.. oke deh.. hehe” setuju Jaka. Niko yang mendengar tawaran dari mulut ibunya makin membuat hatinya tidak karuan. Kalau dia kalah berarti dia kalah satu putaran lagi dari Jaka, yang juga berarti Jaka akan semakin berbuat tidak senonoh terhadap ibunya, tubuhnya jadi panas dingin dibuatnya. Dia ingin sekali menang dan mencoba mendapatkan kenikmatan itu. Tapi dia juga penasaran melihat apa yang akan dilakukan Jaka ke ibunya kalau dia kalah. Entah kenapa hatinya jadi bimbang begini.

    “Tante, lepasin aja dasternya, nanggung tuh” pinta Jaka.

    “Apaan nanggung-nanggung.. dasar kamu, iya deh tante lepasin” setuju Anisa. Diapun membuka dasternya yang sedari tadi memang sudah terpasang tidak karuan karena bagian atasnya sudah terbuka. Kini Anisa hampir benar-benar telanjang di depan kedua remaja tersebut, dia saat ini mengenakan celana dalam berenda yang menjadi satu-satunya pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Niko yang meskipun sudah pernah melihat tubuh telanjang ibunya tetap saja sekarang membuat dadanya berdecak kagum serta langsung membangkitkan nafsunya.

    “Niko.. semangat yah.. masa sih kalah terus” kata Anisa.
    “Gak bakal menang dia tante..hehe” serobot Jaka.
    “Ayo dong Niko, kalau kamu kalah lagi nanti mama dimesumin lagi nih sama teman kamu ini, kamu gak mau kan?” kata Anisa menyemangati anaknya.

    Ronde selanjutnyapun dimulai, Niko ternyata memang kalah pengalaman dari Jaka. Dengan berat hati dan kecewa dia harus merelakan kalau dia lagi-lagi harus kalah dari Jaka. Dia sungguh kecewa tidak bisa menyelamatkan ibunya dari perlakuan mesum Jaka.

    “Haha.. gue bilang juga apa? Gue yang bakal menang. Yes” sorak Jaka. Anisa tersenyum mendengarnya.

    “Iya-iya kamu menang.. menang terus nih kamunya, kasihan anak tante gak dapat dari tadi” kata Anisa sambil melirik ke Niko yang sedang terduduk kecewa. Jakapun mendorong tubuh Anisa ke sofa dan menghimpitnya lagi. Dia sepertinya ingin melanjutkan aksinya tadi yang belum selesai.

    “Duh.. aww.. Jaka, pelan-pelan dong..” kata Anisa. Tanpa menjawab Jaka meneruskan perbuatannya ini, dia mulai menciumi bagian tubuh Anisa yang lain, termasuk wajah dan mulut Anisa. Niko lagi-lagi hanya bisa memandang temannya berbuat mesum ke ibunya. lidah Jaka dan Anisa kini saling membelit, saling berbagi liur satu sama lain. Jaka lalu menjulurkan lidahnya, Anisa yang tahu berbuat apa langsung mengulum lidah Jaka tersebut, sungguh erotis sekali. Jaka juga melakukan hal yang sama dengan mengulum lidah Anisa yang dijulurkan, mereka lakukan hal tersebut bergantian beberapa kali.

    “Tante lihat tuh, anak tante ngiri tuh..” kata Jaka. Anisa melirik ke arah anaknya yang memang lagi mupeng berat melihat aksi mereka ini. Sebuah pemandangan yang malah membuat hati anaknya panas dingin tidak karuan.

    “Coba buka mulut tante..” suruh Jaka. Anisa mengikuti kemauan remaja ini dan membuka mulutnya lebar-lebar. Jaka kini dengan kurang ajarnya meludah ke dalam mulut Anisa, di depan mata anaknya sendiri yang dari tadi hanya memperhatikan mereka. Lagi-lagi Jaka cengengesan sambil melirik ke Niko setelah melakukan hal bejat tersebut, bahkan ibunya juga melirik sambil tersenyum ke arah Niko setelah menelan liur Jaka.


    Bagi Anisa sendiri ini juga merupakan sensasi yang baru pertama dia rasakan. Bergumul dengan pria yang seumuran anak laki-lakinya, bahkan di depan anak laki-lakinya itu sendiri. Menelan liur seperti inipun tidak pernah dia lakukan dengan suaminya, tapi kini dia malah melakukan hal menjijikkan ini dengan teman anaknya. Niko yang melihat itu begitu terbakar hatinya, tapi dia juga terangsang melihat aksi mereka. Membuatnya tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa.

    “Lagi ya tante..” kini Jaka tampak komat-kamit mengumpulkan liur sebanyak mungkin dan akhirnya menumpahkan kembali liurnya ke dalam mulut Anisa. Kini bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Tampak lelehan liur Jaka keluar dari mulut Anisa karena tidak mampu menelan semuanya.

    “Udah ah kamunya, ada-ada aja”
    “Hehe.. lanjut yah tante, hadiah utamanya belum nih, pengen rasain mulut tante”
    “Hmmhhh.. iya-iya, tapi jangan disini yah.. di kamar tante aja yuk.. malu nih di depan Niko”
    “hehe.. oke deh..” setuju Jaka. Mereka kemudian bangkit dan menuju kamar Anisa.
    “Tapi sebentar aja yah, gak lama lagi suami tante pulang nih, bisa dihajar kamu kalau nampak sama om, hihi..”

    “oke tante.. hehe” jawab Jaka.
    “Ma.. terus aku gimana nih?” tanya Niko dengan wajah kecewa. Dia sebenarnya masih ingin di antara mereka, walau hanya untuk sekedar melihat saja.

    “Maaf yah sayang, Kan Jaka yang menang. Kamu kalah sih.. kamu tolongin lihat situasi aja yah sayang, siapa tahu papa kamu pulang, gak papa kan?” Niko hanya mengangguk lesu menyetujui perintah mamanya ini. Sebelum mereka masuk ke kamar, lagi-lagi Jaka mengeluarkan cengengesan menjijikkannya ke arah Niko.

    Kini Niko tinggal sendiri di luar kamar, entah apa yang sedang mereka lakukan Niko benar-benar tidak mengetahuinya, sama sekali tidak terdengar suara dari luar kamar tempat Niko berdiri ini. Tubuh Niko jadi panas dingin membayangkan apa yang terjadi pada mamanya di dalam sana. Niko penasaran apa yang terjadi, selang beberapa lama dia putuskan untuk berusaha mencuri dengar apa yang sedang terjadi di dalam.

    “Enak sayang?” terdengar suara mamanya samar-samar.
    “Enak tante..”
    “Enak banget yah?? hihi”

    “…. Duh, aw.. Jaka, pelan-pelan sayang.. geli.. hahaha..” terdengar tawa renyah mamanya yang sepertinya sedang kegelian.
    “Oughh.. Anisa..”
    “Ngghh.. sayang, udah… sshhh.. kamu ini, ntar Windynya bangun”
    “Nggmmhh..”
    “Oughh..”

    Beberapa kali terdengar suara lenguhan ibunya dan Jaka, entah apa yang mereka lakukan. Niko betul-betul tidak tenang di luar sini. Hatinya begitu tidak karuan mendengar dan membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam. Suara Windypun terdengar dari sana, sepertinya Windy terbangun karena ulah Anisa dan Jaka di dalam sana.

    “Tuh kan.. anak tante bangun, kamu sih..”
    “Windy, kamu mau ikutan nyusu kaya om Jaka?, sini-sini..” kata mamanya. Deg, Niko terkejut mendengarnya. Dia semakin panas dingin karena membayangkan mamanya menyusui mereka sekaligus. Yang satu memang bayinya sendiri, tapi orang yang satu lagi?

    Niko putuskan untuk tidak meneruskan menguping. Hatinya sudah begitu panas mendengar dan membayangkan itu semua. Lebih setengah jam lamanya Niko hanya duduk di sofa terdekat dari kamar orangtuanya ini hingga akhirnya pintupun terbuka dan mereka keluar dari kamar. Tampak Anisa sudah kembali mengenakan pakaian lengkap, tapi rambut dan wajahnya terlihat acak-acakan, membuat Niko betul-betul penasaran apa saja yang telah mereka lakukan.

    “Lama amat sih ma?” tanya Niko dengan wajah kesal setelah mereka keluar.
    “Habis.. temanmu ini sih..” jawab Anisa sambil tersenyum ke Jaka.
    “Udah yah Jaka, pulang dulu yah.. bentar lagi Om pulang” katanya lagi.
    “Iya deh tante, makasih banyak ya.. hehe” Jakapun akhirnya pulang tidak lama kemudian. Jaka bahkan tidak pamit dengan Niko, Jaka hanya berpamitan dengan Anisa sambil mencium tangannya.

    “Ma..” kata Niko lirih memanggil mamanya.
    “hmm? Apa sayang?”
    “Niko juga mau dong..”
    “ Hihihi.. kamu mau juga?”
    “Iya mah..”
    “Kalau gitu besok kamu harus menang yah..”
    “Yah.. mama kok gitu sih, sekarang dong ma.. cuma nyusu aja juga boleh kok ma”

    “Gimana sih kamu ini, itu kan hadiah kalau kamu bisa menang. Ya udah sekali saja, ntar malam kamu tungguin mama yah, jangan tidur dulu” kata Anisa memberi harapan pada Niko sambil mengedipkan matanya.

    “Kok gak sekarang aja sih ma?”

    “Udah mau malam nih, ntar papa kamu keburu pulang. Ntar malam aja yah..” katanya lagi sambil mengelus kepala Niko. Akhirnya Niko setuju saja dari pada tidak sama sekali. Hati Niko senang bukan main mendengar perkataan ibunya, dia tidak sabar menunggu malam tiba.

    Malam itu Niko tidak sabaran menunggu mamanya datang ke kamarnya. Akhirnya setelah hampir jam 11 malam akhirnya mamanya datang juga.

    “Lama amat sih ma?”
    “Nungguin papa kamu tidur dulu”
    “Mau sekarang sayang?” tanya Anisa dengan senyum manisnya.

    “I-iya mah…” jawab Niko grogi. Anisa tersenyum sesaat kemudian mulai membuka beberapa kancing bajunya dan mengeluarkan buah dadanya. Sebenarnya Niko ingin melihat mamanya setengah telanjang seperti tadi siang waktu dengan Jaka, tapi dia tidak berani mengatakannya.

    “Ayo, katanya mau nyusu..” tawar Anisa tersenyum manis ke anaknya itu.

    “Eh, i-iya ma” Niko mendekatkan mulutnya dan mulai mengulum pucuk payudara Anisa. Air susu yang selama ini dia idam-idamkan akhirnya dapat dia rasakan. Air susu itu pun mulai masuk dengan nikmatnya ke dalam mulut Niko dan membasahi kerongkongannya.

    “Dasar kamu, udah gede masih nyusu” kata Anisa sambil mengusap kepala anaknya.

    “Enak sayang?” tanyanya. Niko hanya mengangguk tanpa melepaskan mulutnya dari sana. Lebih dari satu jam mamanya di sana menemani Niko. Memberi kedua payudaranya bergantian untuk dilahap anaknya yang sudah remaja ini hingga Niko puas. Niko sendiri sebenarnya berharap lebih dari hanya meminum asi mamanya. Tapi seperti janjinya, Niko hanya menyusu pada Anisa walaupun Anisa sedikit memberinya hiburan dengan memperbolehkan Niko memainkan payudaranya dengan sapuan lidah ataupun remasan tangan. Anisa sendiri tahu kalau anaknya sudah ngaceng dari tadi, tapi dia tidak ingin ini semua sampai melampaui batas.

    “Ma, tadi siang mama ngapain aja sih di dalam dengan Jaka? Lama amat” tanya Niko saat acara minum susu tersebut selesai.

    “Kamu mau tahu sayang?”
    “Iya mah, penasaran”
    “Ya, seperti yang mama bilang ke Jaka kalau dia menang, mama kasih mulut mama”
    “hmm.. mama jilatin penisnya Jaka?”
    “Iya, juga mama masukkan ke mulut mama semuanya” Niko yang mendengarnya begitu iri dengan Jaka.

    “Terus, apa lagi ma?”
    “Tapi dasar dia nakal, dianya pengen lihat mama telanjang sayang” Niko terkejut mendengarnya. Kurang ajar sekali si Jaka, geramnya.

    “Terus mama kasih?”
    “Dia maksa terus sih yang, akhirnya mama lepasin juga celana dalam mama. Jadinya kami sama-sama telanjang deh”

    “Itu aja kan mah? Dia gak macam-macam lagi kan?”
    “Dikit sih, habis itu dia mainin vagina mama pake jarinya, gak tahu deh dia belajar itu dari mana, pintar banget dianya. Ya.. lama-lama mama gak tahan juga digitukan terus sayang, jadi mama nikmatin aja” kata Anisa menerangkan.

    “ooh.. terus ma?” tanya Niko karena dia penasaran, walaupun dia sebenarnya ada rasa sakit hati pada Jaka berbuat bejat pada mamanya.

    “iya, habis itu si Jaka minta gesek-gesikin penisnya ke vagina mama. Tapi mama tolak, takut dia hilang kontrol” kata Anisa. Niko cukup lega mendengar jawaban mamanya.

    “Tapi dianya maksa terus sih, jadinya mama kasih juga. Dari pada dia ngentotin mama, iya kan sayang?” sambungnya lagi.
    “Tapi gak sampai masuk kan ma?”
    “Gak kok, cuma gesek-gesekin aja kok. Tapi sesekali kepalanya nyelip masuk juga sih.. hihi” jawab Anisa tertawa seakan itu hal yang lucu.
    “Terus kamu mau tau nggak Jaka muncratnya dimana?” kata Anisa lagi.
    “Dimana emangnya ma?” tanya Niko penasaran harap-harap cemas.
    “Di mulut mama, banyak amat” kata Anisa sambil tertawa. Kepala Niko makin berat mendengarnya.

    “Coba tadi kamu yang menang, pasti kamu yang dapat. Ya udah deh, mama balik dulu yah? Udah puas kan?”
    “Yah mama..” rengek Niko karena masih merasa belum puas ditemani mamanya.
    “Udah ya, udah lewat jam 12 ini, besok kamu sekolah kan?”
    “Iya deh ma” jawab Niko lesu. Akhirnya Anisa meninggalkan kamar Niko.

    Esoknya, Niko tidak melihat Jaka di sekolah. Apa dia sakit? Tapi kemarin dia masih sehat-sehat saja, bahkan melakukan hal mesum ke mama. Atau jangan-jangan Jaka bolos dan pergi ke rumahnya? Pikir Niko. Dia betul-betul tidak tenang di sekolah saat itu memikirkan kalau dugaannya itu benar. Saat pulang sekolah, Niko buru-buru pulang untuk mengetahui keadaan ibunya. Dia tidak menemukan Jaka di rumah, tapi dia tidak menanyakan pada mamanya apa Jaka tadi kesini atau tidak.

    Sorenya mereka melakukan latihan itu lagi saat Jaka datang ke rumah. Tapi berapa kalipun mencoba, Niko tidak pernah menang dari Jaka. Sehingga Jaka teruslah yang mendapatkan hadiah mesum dari Anisa.

    Esoknya, lagi-lagi Jaka tidak kelihatan di sekolah, dia mulai yakin kalau Jaka memang bolos dan pergi ke rumahnya. Dia putuskan untuk cabut dari sekolah diam-diam saat jam istirahat untuk pulang ke rumah. Yang ditakutinya sepertinya benar terjadi. Terlihat sepatu yang dia ketahui milik Jaka berada di depan pintu rumahnya saat Niko pulang ke rumah. Hati Niko jadi tidak karuan, dia penasaran apa yang sedang mereka lakukan di dalam, tapi dia putuskan untuk mengintip dari kaca samping rumah. Alangkah terkejutnya dia melihat mamanya dan Jaka sedang berciuman dengan mesranya. Sial si jaka!! anjing!! umpatnya dalam hati. Niko berusaha tenang mengawasi dan menguping pembicaraan mereka.

    “Tante emang yang paling cantik deh.. hehe”
    “Huu.. gombal kamu, umur tante udah 33 gini”
    “Benar deh, tetap cantik kok” goda Jaka lagi, membuat Anisa jadi malu karenanya.
    “Tante.. Jaka mau lihat tante telanjang lagi dong.. udah gak tahan nih”

    “Hihihi, gak tahan ngapain sih kamu? Belum puas tadi tante isap? Udah muncrat kan tadi di mulut tante? hihi” goda Anisa sambil tertawa. Tapi Anisa akhirnya bangkit juga dari duduknya dan melepaskan daster yang dia kenakan.

    “Celana dalamnya iya juga dong tante.. cepetan” suruh Jaka tidak sabaran.
    “Iya-iya.. dasar kamu..” kini Anisa juga melepaskan celana dalamnya sehingga dia telanjang bulat tanpa ditutupi selembar benangpun.

    “Tante, ngentot yuk..” ajak Jaka kurang ajar. Niko yang mendengarnya dari luar sini betul-betul geram dibuatnya.

    “Hush.. ngomong apaan sih kamunya, kan udah tante bilang kalau ini punyanya papa Niko. Gak boleh ya sayang..” tolak Anisa.

    “Yah.. pengen banget nih tante. Kan gak ada siapa-siapa tante, boleh ya? Bentar aja”
    “Duh, gimana yah sayang, tante sejujurnya penasaran juga sih.. hihi” kata Anisa binal. Dia sebenarnya juga penasaran bagaimana rasanya bersetubuh dengan remaja sebesar ini, terlebih penis Jaka juga cukup besar untuk seusianya.

    “Lah, tuh kan.. nunggu apa lagi? Yuk tante..”
    “Tapi tante gak enak nih sama Niko dan suami tante”
    “Bentar aja kok tante.. “ rayu Jaka lagi mencoba meluluhkan Anisa.

    “Ya udah deh, bentar aja yah.. dasar kamunya mesum. Mama teman sendiri dimesumin” setuju Anisa akhirnya. Anisa mengajak Jaka ke arah sofa di ruang tamu yang lebih panjang. Dari tempat Niko berdiri sekarang dia tidak dapat melihat mereka lagi. Tapi tidak lama kemudian terdengar suara desahan-desahan dari mereka. Niko tidak tahan lagi, dia putuskan untuk masuk ke rumah mengganggu mereka.

    “Tok-tok” Niko menggedor pintu rumahnya.
    “Ma..” teriak Niko dari depan pintu.

    “Iya sayang, sebentar..” teriak mamanya dari dalam. Tidak lama mamanya membuka pintu, dia telah mengenakan dasternya kembali, tapi tidak menggunakan dalaman apa-apa lagi.

    “Loh kok udah pulang sayang?” tanya Anisa
    “Lagi ngapain sih ma? Mandi? kok basah gini?” kata Niko balik nanya pura-pura tidak tahu melihat mamanya basah oleh keringat.

    “Ngg, tuh karena teman kamu.. Bukannya sekolah malah main kesini. Jadinya mama keringatan-keringatan lagi deh” jawab Anisa terus terang sambil malu-malu seperti gadis remaja.

    Niko segera masuk ke rumah untuk melihat keadaan, dia melihat Jaka yang sedang bertelanjang bulat duduk di sana. Tubuh Jaka juga bermandikan keringat seperti Anisa. Jaka bahkan cuek seakan tidak peduli anak Anisa sudah pulang walau dia baru saja mencumbui Anisa.

    “Kalian habis ngapain?” tanya Niko.
    “Gue habis ngentotin nyokap lo.. hahaha.. nganggu aja lo” jawab Jaka kurang ajar.
    “Jaka, apaan sih” kata Anisa dengan wajah sebal.
    “Tapi benar kan tante? Hehe”
    “Sorry yah sayang, habisnya teman kamu tuh.. nakal amat ke mama” hati Niko benar-benar merasa tidak karuan, mendengar itu dari mulut mamanya.

    “Tapi kok sampai gituan segala sih ma? Bukannya kitanya cuma latihan saja?” tanya Niko kesal ke mamanya.
    “Tante, lanjut di kamar yuk, masih tanggung nih” potong Jaka sebelum mamanya sempat menjawab.

    “Hmm.. Niko, gak apa kan kalo mama lanjutin lagi?” tanya Anisa meminta persetujuan Niko lagi, Anisa sendiri masih merasa tanggung dan kesal juga diganggu Niko.
    “tapi kan mah…” sebenarnya Niko ingin sekali menolak permintaan gila Anisa. Tapi saat itu Niko melihat Jaka mengepalkan tinjunya ke arahnya hingga membuat nyalinya ciut.

    “i-iya deh ma, gak papa” jawab Niko lesu. Anisa tersenyum kecil mendengar persetujuan anaknya.
    “Tante, suruh aja Niko ikut ke dalam. Biar dia lihat gimana mamanya aku entotin, hehe” kata Jaka kurang ajar.

    “Jaka!! Kok ngomongnya gitu sih. Lagian malu tahu dilihatin Niko”
    “Ya, gak apa lah tante, Niko pasti mau banget tuh lihat, iya kan Niko? hehe” cengengesnya ke Niko.

    “Ya udah, kamu mau ikut masuk ke dalam sayang?” tanya Anisa sambil tersenyum manis ke Niko. Niko hanya mengangguk menyetujuinya. Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar yang mana ternyata di sana ada Windy yang sedang tertidur.

    “Sini tante..” ajak Jaka. Jaka pun langsung mengulum bibir Anisa yang masih berdiri dan melepaskan daster yang dikenakannya sehingga kini Anisa jadi bugil lagi. Jaka menciumi bibir Anisa dengan buasnya sambil sesekali melirik ke Niko.

    “Jilatin lagi tante” kata Jaka melepaskan ciumannya. Anisa yang paham maksud Jaka langsung bersimpuh di depan remaja itu dan mulai menjilati penis tersebut. Saat menjilati penis Jaka, mata Anisa bahkan melirik Niko. Dia juga seperti berusaha tersenyum ke anaknya yang sedang melihat mamanya menjilati penis temannya itu, entah apa maksud senyuman mamanya itu Niko juga tidak mengerti. Jaka kini dengan kurang ajarnya membenamkan seluruh batang penisnya ke dalam mulut Anisa, dia lalu menggoyangkan pinggulnya seperti menyetubuhi mulut Anisa.

    “Cpak.. cpak..cpak.” suara peraduan penis jaka dengan mulut Anisa.

    Saat melakukan itu, Jaka sengaja menunjukkan ekspresi kenikmatan ke arah Niko, yang tentu saja makin membuat hati Niko sakit, tapi entah kenapa Niko juga ngaceng melihat tingkah mereka berdua.

    “Ngghm.. ngghmmm” suara Anisa mengerang karena mulutnya dijejali penis Jaka hingga mentok ke kerongkongannya. Jaka yang mengetahui hal tersebut malah menahan kepala Anisa, membuat Anisa menepuk-nepuk paha Jaka supaya dia mau berhenti. Jaka masih saja membenamkan penisnya hingga akhirnya Anisa terlihat muntah, mengeluarkan sedikit cairan dari lambungnya karena kerongkongannya sakit dijejali penis Jaka hingga mentok.

    “Hosshhh..hmmffhh, kamu kasar amat sih Jak?” kata Anisa agak kesal sesak nafas sambil mengelap dagunya yang basah oleh liur dan muntahannya kemudian menengok ke arah Niko yang berdiri di sana. Niko yang menyaksikan ini makin pedih saja hatinya, melihat mamanya diperlakukan tidak senonoh dan brutal oleh temannya sendiri.

    “Hehe.. lagi yah tante” ajak Jaka lagi. Tanpa memberi kesempatan Anisa menjawab, Jaka kembali menjejalkan penisnya ke dalam mulut Anisa lagi, mengaduk-aduk mulut Anisa dengan penis Jaka sebrutal tadi hingga Anisapun lagi-lagi muntah dibuatnya. Jaka melakukan hal tersebut beberapa kali lagi pada Anisa, di depan Niko. Puas melakukan hal tersebut, Jaka kemudian mendorong Anisa ke ranjang dan mencumbuinya lagi.

    “Tante.. masukin yah?” tanya Jaka yang sudah tidak sabar.
    “Tapi kan.. “ kata Anisa sambil melirik ke Niko. Dia begitu malu melakukannya di depan anaknya berbuat seperti ini walaupun dia sudah tidak tahan untuk dimasuki penis Jaka.

    “Udah.. biar aja tante, gak papa kan Niko gue entotin nyokap lho?” tanya Jaka dengan senyum licik. Niko tidak menjawab pertanyaan Jaka, dia tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan sendiri. Dia sangat marah, cemburu dan sakit hati melihat adegan ini semua, tapi dia juga sangat terangsang juga karenanya. Mamanya, telah diambil… oleh temannya sendiri.

    Melihat Niko tidak menjawab, Jaka hanya cengengesan sendiri. Jaka tau apa yang dipikirkan Niko, karena dia memang sengaja memperlihatkan ini pada Niko.

    “Sayang? Kok diam? Boleh gak nih?” tanya Anisa ikut-ikutan. Anisa sendiri sebenarnya sudah tidak tahan untuk ditusuk Jaka. Entah apa yang ada dipikiran Anisa, dia mengkhianati suaminya, bermain dengan teman anaknya sendiri dan di depan anaknya yang polos yang hanya bisa melihat saja.

    “Bo-boleh mah..” jawab Niko akhirnya dengan suara pelan. Kalau dia jawab tidak boleh bisa saja dia akan dihajar habis-habisan oleh Jaka diluar sana.

    “Boleh apa sayang?” tanya Anisa lagi, sepertinya dia malah sengaja menggoda anaknya ini. Niko sendiri merasa tidak enak lidahnya untuk menyebutnya secara vulgar begitu.

    “Boleh ng-ngetotin mama” kata Niko lagi. Sebuah senyuman terpancar dari bibir Anisa, yang tidak diketahui apa maksudnya oleh Niko. Jaka yang mendengar tanya jawab ibu dan anak itu juga ikutan terseyum dan mulai mengarahkan kemaluannya ke liang vagina Anisa. Dia mulai mengaduk kelamin Anisa dengan penisnya di depan Niko, bahkan didepan si kecil Windy yang ternyata sudah terbangun dari tidurnya. Kalau Windy bisa berpikir tentu saja dia juga akan marah melihat mamanya ditindih bukan oleh papanya. Tapi Windy yang masih kecil hanya bisa melihat saja mamanya yang sedang telanjang lagi disetubuhi oleh pria ini, bahkan dia sempat tertawa sendiri melihat mamanya yang tampak keenakan begitu. Gila memang, Anisa disetubuhi di depan anak-anaknya.

    “Nngh.. Sayang..” panggil Anisa ke Niko.
    “Ya mah?”
    “Jangan oughh.. kasih tau papa ya? Ngghmmhh..”
    “I-iya mah” jawab Niko.

    “Windy cayang.. kamu juga jangan kasih tau papa ya? Hihi” kata Anisa mengajak si kecil Windy bicara sambil tertawa. Tentu saja Windy tidak akan bisa memberitahu papanya apa yang sedang dilakukan ibunya ini. Tapi Anisa malah melakukan hal iseng bertanya seperti itu ke bayinya dan menganggapnya lucu. Si Windy yang tidak mengerti malah tertawa saja ke arah mamanya yang sedang disetubuhi. Betul-betul suasana yang gila.

    Niko yang menyaksikan hal ini tanpa sadar membuat penisnya berdiri dari balik celana. Dia ingin sekali rasanya menggantikan posisi Jaka disana, meskipun wanita itu adalah ibunya sendiri. Jaka yang mengetahui apa yang sedang Niko pikirkan malah berbisik ke Anisa.

    “Gak ah.. gila kamu..” jawab Anisa setelah dibisiki Jaka.
    “Gak apa lah tante.. kasihan tuh Niko nya.. hehe”
    “Nggak.. ada-ada aja kamunya”
    “Ada apa ma?” tanya Niko penasaran.
    “hmm.. Jaka ajak kamu ikutan tuh, tapi gak mama bolehin lah” jawab Anisa.

    “Yah.. tante.. Niko udah penasaran banget tuh pastinya, hehe.. tapi ya udah deh kalau gak boleh. Jaka bisa puas sendiri.. hehe” kata Jaka sambil tersenyum remeh ke Niko dan kembali menggoyangkan pinggulnya. Mereka kini berganti posisi, Anisa menungging dan Jaka menyetubuhinya dari belakang.

    “Nggh.. oughh.. terus sayang.. yang kencang…” racau Anisa.
    “ougghh.. rasain ini tante nakal, lonte binal” celoteh Jaka kurang ajar. Mereka saling melenguh dan meracau kenikmatan sambil berkata kotor. Bahkan kata-kata yang ditujukan Jaka pada Anisa menjurus melecehkan. Anisa yang mendengar hal tersebut malah makin bangkit birahinya, sedangkan Niko makin sakit saja hatinya mendengar mamanya dilecehkan begitu.

    “Nggmmh.. terus sayang, entotin tante sesukamu.. ngmmhh.. entotin tante di depan anak-anak tante.. ougghh” racau Anisa menggila.

    “Iya.. oughh, anak-anak tante harus tahu kalau mamanya binal dan nakal” balas Jaka.
    “Nggghh.. Iya sayang, tante memang nakal.. terus sayang.. entotin mamanya Windy dan Niko ini pake kontol kamu yang gedeee.. ougghh.. nggghhh” Mereka terus saja meracau gila-gilaan. Anisa yang paling gila karena dia melakukan ini di depan anak-anaknya, bahkan meladeni omongan vulgar Jaka. Entah apa yang akan terjadi pada diri anak-anak Anisa ini esok, terlebih bagi si kecil Windy. Untuk melihat mama dan papanya bersetubuh saja mungkin ini sudah tidak baik, tapi ini malah dia diperlihatkan adegan mamanya yang sedang selingkuh, melihat mamanya disetubuhi di hadapannya serta diperdengarkan kata-kata kotor yang vulgar oleh mamanya sendiri. Anisa sendiri malah seperti tidak ambil pusing karenanya.

    Niko yang memang dari tadi sudah tidak tahan hanya bisa mengelus penisnya dari balik celananya. Dari tadi bahkan dia belum sempat mengganti pakaian seragamnya karena terlebih dahulu disuguhi pemandangan seperti ini. Jaka yang melihat tingkah Niko lagi-lagi mulai memancing suasana hati Niko. Sambil masih menggenjot Anisa dari belakang, dia menciumi bibir Anisa dan meremas buah dada Anisa hingga tampak air susunya menetes-netes. Air susu yang seharusnya menjadi makanan bagi anaknya Windy kini terbuang percuma karena perlakuan Jaka.

    “Ngghh… Duh.. Jaka, pelan-pelan dong.. sakit” erang Anisa karena remasan tangan Jaka yang kasar di buah dadanya. Jaka seperti tidak mendengar perkataan Anisa dan masih saja meneruskan aksinya, membuat ranjangnya mulai basah karena ceceran susu Anisa. Niko yang dari tadi hanya menonton sudah melepaskan celana beserta celana dalamnya. Dia beronani menyaksikan adegan didepannya ini. Mamanya yang sedang disetubuhi oleh temannya sendiri. Meskipun hanya onani, tapi tetap saja dia kalah dengan Jaka yang masih bertahan menyetubuhi Anisa. Dia klimaks dengan hanya melihat adegan tersebut. Jaka yang melihat Niko sudah keluar malah tertawa melecehkan. Anisa juga hanya tersenyum melihat anaknya yang sudah muncrat.

    “Lihat tuh anak tante, lemah amat..” ejek Jaka.
    “Hihi.. sayang? kamu udah keluar yah?” tanya Anisa yang juga terdengar seperti nada melecehkan bagi Niko. Membuat Niko malu bukan main karenanya.

    “Tante.. nanti Jaka keluarin di dalam yah??”
    “Kamu mau keluarin di dalam? Itu tempat Niko lahir loh.. mau kamu siramin pake peju kamu yah? Nakal kamu..”

    “Iya.. boleh yah tante.. pasti enak nih..”

    “Iya deh.. Niko, gak apa kan kalau Jaka keluar di dalam? Di tempat kamu lahir dulu?” tanya Anisa pada anaknya itu. Niko yang mendengar pertanyaan mamanya ini malah membuat darahnya berdesir, perkataan mamanya begitu provokatif dan mengaduk hatinya.

    “Gimana Niko? Boleh nggak Jaka numpahin benihnya ke rahim mama kamu ini?” tanya Anisa lagi.

    “I-iya mah..” jawab Niko pelan, dia tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini. Anisa tersenyum mendengar jawaban anaknya, begitu pula Jaka. Sungguh perasaan Niko campur aduk dibuatnya.

    “Kamu harus belajar dari Jaka nih sayang.. dianya kuat” kata Anisa dengan meninggikan intonasi kata kuat. Jaka hanya cengengesan ke Niko mendengar perkataan Anisa. Setelah cukup lama Jaka menggenjot Anisa, akhirnya Jaka tidak bisa lagi menahan laju spermanya untuk menumpahkan spermanya membuahi rahim Anisa.

    “Ougghh.. terima peju Jaka tante.. ughh..”
    “nngghh… iya sayang.. keluarin yang banyak, penuhi rahim tante dengan peju kamu”
    “Oughhh.. Anisaaaa”

    “Iya sayang.. tante juga sampaaaaaiiiii” erang mereka kenikmatan saat peju Jaka muncrat dengan banyaknya memenuhi rahim subur Anisa. Entah apa jadinya kalau Anisa sampai hamil oleh Jaka, teman anaknya sendiri. Mereka akhirnya terbaring kelelahan di ranjang, sejajar dengan Windy yang juga terbaring di kasur yang sama.

    “Windy cayang.. om Jaka kuat amat loh.. kamu kalau sudah besar boleh tuh ikutan cobain..hihi” kata Anisa iseng dengan nafas nggos-ngosan mengajak Windy bicara. Betul-betul gila omongan Anisa, mengajak bicara anaknya seperti itu. Menawarkan anaknya untuk boleh disetubuhi pria ini kelak kalau sudah besar. Jaka yang mendengar omongan Anisa sampai cengengesan dibuatnya.

    “Tante, boleh gak Jaka main kesini tiap hari?”
    “Hmm.. boleh aja kok, tapi kamu sekolah dulu, baru kesini.. ntar gak lulus lagi kamunya gara-gara tante”

    “Hehe.. gak apa kok tante, biarin gak lulus asal bisa terus bersama tante”
    “Huu.. gombal kamunya, ada-ada aja. Udah sana kamu pulang, bentar lagi Om pulang”
    “Okey deh sayang..” setuju Jaka sambil mencium kening Anisa. Setelah beberapa saat beristirahat Jakapun pulang dari rumah Niko, Anisa mengantarnya hingga ke depan rumah dengan masih bertelanjang bulat sambil mengendong bayinya. Anisa bahkan mengangkat tangan Windy lalu melambai-lambaikannya seperti mengatakan bye-bye ke arah Jaka.
    “Ayo cayang.. bilang dadah ke Om Jaka.. dadaaah… hihihi” kata Anisa ke bayinya sambil tertawa-tawa. Jaka hanya tersenyum melihat tingkah Anisa ini, sedangkan Niko bertambah sakit hatinya. Dia akhirnya benar-benar telah menghilang dari pandangan Niko dan Anisa, tapi sebenarnya mimpi buruk baru saja dimulai.
    ***

    Esok hari, lagi-lagi Jaka tidak terlihat di sekolah. Niko yang menyadari bahwa Jaka pasti berada di rumahnya seakan tidak dapat berbuat apa-apa. Nyalinya begitu kecil untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan, rasa sakit melihat mamanya diambil orang lain, mengkhianati papanya dengan cara begitu. Dia menyesal karena membawa Jaka ke rumah, Niko merasa dia sendirilah yang menyebabkan hal ini terjadi. Seharusnya dia tidak menyetujui ide mamanya untuk membawa teman segala. Hatinya sangat sakit, pedih tak terkira. Seharusnya aku melawan, tapi kenapa hanya diam begini, sial, batinnya.

    Niko melihat perbuatan bejat Jaka lagi pada mamanya saat dia pulang ke rumah. Ya.. Jaka memang sengaja tidak sekolah tadi dan melakukan hal ini lagi. Esok hari dan seterusnya selalu begini, sekarang sudah seminggu Jaka tidak sekolah dan malah datang ke rumah Niko. Melakukan hal mesum terhadap ibu kandung Niko disaat papa dan anaknya tidak di rumah.

    Pagi itu lagi-lagi Jaka datang ke rumah Niko. Kebetulan sejak dua hari lalu suaminya sedang ada keperluan bisnis di luar kota selama seminggu.

    “Dasar kamu Jaka, udah seminggu kan kamu gak masuk sekolah?” tanya Anisa saat membukakan pintu untuk Jaka.

    “Hehe.. biarin tante”
    “Dasar kamu.. dikasih tahu malah bandel” kata Anisa gemas mencubit pipi Jaka.
    “Tante, Jaka bawa teman nih..”

    “Hah? Rese ah kamunya gak bilang-bilang.. kan tantenya bisa siap-siap dulu.. hihi” kata Anisa karena saat itu Anisa hanya mengenakan kemeja putih dan celana dalam saja. Ternyata di belakang Jaka ada tiga orang temannya yang lain. Dada Anisa entah kenapa jadi berdebar seperti ini. Dia penasaran apakah akan terjadi gangbang pada dirinya hari ini. Sebuah fantasi liar yang dia miliki dari dulu.

    “Ya udah.. ajak teman-temanmu masuk deh..”

    Saat masuk ke rumah, mereka mencium tangan Anisa layaknya anak yang baik, membuat Anisa jadi tersenyum. Mereka semua ternyata sudah sma, sepertinya itu teman-teman Jaka yang memang seumuran dengannya. Tampak penampilan mereka acak-acakan, dengan seragam yang lusuh dengan beberapa coretan. Jelas dari penampilan mereka kalau mereka adalah murid yang suka bolos sekolah, merokok, bahkan tawuran.

    “Anggap rumah sendiri yah.. Kalian mau minum apa?” tanya Anisa menawarkan.
    “Susu kalau ada tante..” kata salah satu dari mereka dengan lancangnya. Dia lalu tertawa diikuti teman-temannya.

    “Ye.. kalau itu nanti dong.. kalian pasti kebagian kok semuanya”
    “Stoknya gak terbatas ya tante? hehe” goda salah satu dari mereka.
    “Iya.. gak abis-abis pokoknya… hihi” jawab Anisa mengikuti pembiacaraan porno mereka.
    “Jadi kalian mau minum apa nih? Tante bikinin es teh aja ya?” kata Anisa lalu menuju ke dapur. Setelah membuatkan es teh untuk mereka berempat, Anisa ikut duduk dan mengobrol dengan mereka.

    “Nih minumnya..”
    “Makasih tante” kata mereka hampir bersamaan.
    “Nama kalian siapa aja sih? Satu sekolah semua?”
    “Iya tante, saya Rido tante..”
    “Bimo tante..”
    “Saya Amir tante..” kata mereka bergantian memperkenalkan diri.
    “Tante, katanya Jaka sering kesini yah? Ngapain aja tuh tante?” tanya Amir.
    “hmm? Dasar kalian pura-pura gak tahu.. mana mau kalian datang kesini kalau gak diberi tau Jaka.. dasar” mereka tertawa mendengar kata-kata Anisa.

    “Terus kami boleh juga gak tante?”
    “Boleh ngapain? Ayo udah mesum aja..” goda Anisa.
    “Itu tante… ngentotin tante” kata Rido vulgar.
    “Hushh.. gak sopan amat, datang-datang minta gituan, tante bilang suami tante ntar hihi..” kata Anisa sambil tertawa.

    “Jadi gak boleh yah tante?”
    “Hmm.. boleh nggak yah..” goda Anisa lagi main tarik ulur.
    “Boleh dong tante.. kalau gak boleh ntar kita paksa lho.. hehe” kata Rido.
    “Huu.. enak aja maksa-maksa. Boleh deh.. dari pada tantenya kalian perkosa.. hihi”
    “Hehe.. gitu dong tante.. kan enak.. hehehe”

    Jaka dari tadi hanya diam saja memperhatikan teman-temannya menggoda Anisa. Dia hanya tersenyum-senyum saja melihat bagaimana teman-temannya menggoda wanita bersuami ini.

    “Terus mau sekarang?” pancing Anisa.

    “Hehe.. boleh..” langsung mereka menyerbu Anisa, mereka berlomba-lomba melepaskan pakaian yang mereka kenakan. Salah satu fantasi liar Anisa sepertinya akan terwujud hari ini, melakukan gangbang dengan mereka.

    Mereka mulai menjamah tubuh Anisa bersamaan, menciumi dan menggerayangi Anisa. Kemeja yang digunakan Anisa sudah terbuka bagian depannya tapi masih dibiarkan tergantung dibadan Anisa, sehingga memberi kesan seksi. Mulut mereka berganitan mencicipi nikmatnya asi dari buah dada Anisa yang sekal. Mereka seperti ingin menyedot habis seluruh isi buah dada tersebut dan tidak menyisakannya untuk bayi kecil Anisa.

    “Duh.. geli, dasar kalian, beraninya keroyokan”
    “Hehe.. tapi tante suka kan kalau kita keroyok gini?”
    “Huh, dasar mesum..” kata Anisa sambil tertawa.
    “Aww.. pelan-pelan sayang..” kata Anisa ke Rido karena menggigit putingnya cukup keras.
    “Tante gak larang kalau mau gigit, tapi pelan-pelan dong.. jangan keras-keras amat”

    “Ini satu, jarinya nakal amat nyolek-nyolek memek tante..” kata Anisa pura-pura kesal ke Amir. Mereka hanya tertawa dan terus saja melakukan aksi mesumnya sambil bergantian menetek. Vagina Anisa bergantian dikobel oleh tangan-tangan nakal mereka, tangan mereka bergantian merasakan seluk beluk liang Vagina wanita bersuami ini.

    “Udah ah, kalian nakal. Sini tante jilatin dulu kontol kalian..” tawar Anisa nakal. Mereka berempat kemudian berdiri mengelilingi Anisa yang bersimpuh di bawah mereka. Anisa mulai menjilati penis mereka satu persatu sambil mengocok penis lainnya. Lagi asik-asiknya menikmati penis para remaja tersebut, Anisa dikejutkan oleh suara tangisan Windy.

    “Duh.. anak tante bangun tuh.. bentar yah, sepertinya dia lapar” kata Anisa beranjak dari hadapan mereka dan menjemput bayinya di kamar. Anisapun kembali dengan menenteng bayinya tidak lama kemudian.

    “Kamu nakal yah sayang ngangguin mama jilatin kontol mereka, kasian tuh om-om itu udah mupeng banget sama mama.. hihi” kata Anisa iseng mengajak bicara bayinya saat kembali duduk di antara para remaja itu.

    “Kamu lapar yah sayang? ayo cepetan mimik, kalo ga mama kasih om-om itu loh susunya..” kata Anisa sambil menyodorkan buah dadanya ke Windy sambil melirik tersenyum manis ke arah para remaja yang tentunya makin mupeng melihat tingkah Anisa itu. Si kecil Windy yang memang sedang lapar tentu saja langsung mengulum buah dada Anisa. Kalaupun ia mengerti apa yang dikatakan mamanya tentu saja dia juga tidak akan mau mereka mengambil air susu mamanya.

    “Mau lanjutin gak?” tawar Anisa sambil masih menyusui Windy.
    “Gak apa tante?” tanya mereka heran.

    “Iya.. gak papa kok” Sungguh gila, sekarang Anisa malah mengulum penis mereka bergantian yang mana Windy masih digendong dan menyusu padanya. Tangan Anisa menggendong bayinya, sehingga kini tidak bisa lagi mengocok penis mereka. Sungguh liar dan binal sekali pemandangan tersebut. Mereka bergantian menyuapi dan membenamkan penis mereka bergantian ke mulut Anisa, yang mererima penis mereka sambil tertawa-tawa sedangkan Anisa sendiri masih menyusui bayinya, atau dapat dikatakan keduanya sama-sama sedang menyusu, si kecil Windy menyusu ke ibunya sedangkan ibunya menyusu ke penis-penis remaja itu. Pemandangan itu membuat para remaja tersebut terkagum dan terheran-heran melihat betapa binal dan nakalnya Anisa. Apalagi kemeja yang masih menggantung ditubuhnya serta celana dalam yang masih tersisa menambah kesan seksi padanya. Anisa sendiri merasakan sensasi luar biasa. Sempat juga terlintas sebuah pikiran nakal Anisa kalau tiba-tiba suaminya pulang dan menemukan dirinya sedang berbuat mesum dengan para remaja berandal ini, tapi semakin dia pikirkan entah kenapa dia semakin terangsang dibuatnya.

    Tapi tiba-tiba Anisa dikagetkan oleh kehadiran Niko yang tiba-tiba datang dan menghantamkan tinjunya ke salah satu dari mereka hingga orang itu tersungkur. Tidak terima temannya dipukul, mereka langsung mengejar dan menghajar Niko hingga Niko pun tersungkur. Melihat anaknya dihajar membuat Anisa berteriak histeris minta berhenti.

    “Berhentiii… tolong berhenti.. ya Tuhan.. please stooooppppp!!!” teriak Anisa mencoba menghentikan mereka. Mereka pun akhirnya mau berhenti. Tampak disana Niko meraung kesakitan dihajar beramai-ramai. Tentu saja naluri keibuan Anisa muncul untuk menolong anaknya tersebut. Dia letakkan bayinya dan pergi ke tempat Niko tergeletak kesakitan.

    “Sayang.. kamu gak apa-apa?” tanya Anisa cemas. Tapi Niko tampak menepis tangan Anisa, kemudian bangkit dan jalan tertatih menuju ke kamarnya. Hati Niko menahan sakit yang lebih dari pada yang dirasakan tubuhnya ini.

    “Sayang?” panggil Anisa lirih. Niko terus saja berjalan ke kamarnya dan menghilang di balik pintu. Para remaja tersebut malah tertawa cengengesan saja melihat hal itu. Anisa sendiri ingin ke kamar Niko untuk memastikan keadaan anaknya, namun dicegah oleh para berandal tersebut. Mereka menarik lagi Anisa ke sofa dan mulai menjamah Anisa lagi. Anisa juga merasa tidak nyaman dihatinya, entah kenapa semua ini bisa terjadi dan berakhir seperti ini. Dia berusaha tetap tersenyum pada para remaja mesum ini walaupun pikirannya berkecamuk. Tetap saja melayani nafsu mereka padahal anaknya sedang merintih di sana. Suara erangan dan rintihan pun terdengar se isi rumah itu. Termasuk Niko yang mengurung diri di kamar. Niko dengan pandangan kosong menatap ke lantai kamarnya, suara-suara erangan mamanya terdengar jelas dari sini. Parahnya, mereka bahkan menginap di sana malam itu, menggangbang Anisa dengan liarnya sepanjang malam, menggenjot lubang vagina dan anus Anisa dalam waktu bersamaan, menyiram tubuh Anisa dengan sperma mereka, baik di dalam maupun di sekujur tubuhnya. Niko hanya menghabiskan waktunya mengurung diri di kamar malam itu, telinganya dicekoki suara-suara yang membuat hatinya semakin dan semakin sakit.

    Esoknya, hari minggu. Saat keluar kamar Niko melihat mamanya masih saja dicabuli orang-orang itu. Mereka bahkan tertawa cengengesan ke arah Niko, sedangkan mamanya ingin menyapa Niko tapi sayang mulut Anisa saat itu sedang tersumpal penis. Hari itu, hampir sepanjang hari juga Niko melihat dan mendengar hal-hal mesum yang dilakukan terhadap mamanya tersebut, meskipun lebih banyak dia habiskan waktunya mengurung diri di kamar. Baru menjelang malam mereka pulang dari sana setelah hampir dua hari menginap.

    Anisa merasa tidak nyaman di hatinya, dia putuskan untuk menemui Niko setelah dia membersihkan diri dan meniduri bayinya. Dia ketuk pintu kamar Niko, tapi tidak ada yang menjawab. Anisapun lalu membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Dia lihat anaknya sedang menonton tv di kamarnya, dengan pandangan hampa.

    “Sayang.. maaf yah sampai kayak ini. Kamu marah yah sama mama?” tanya Anisa, tapi terlihat Niko hanya diam saja. Ya.. melihat hal gila seperti itu setiap hari perlahan membuat mental Niko hancur, dia sekarang jadi sering menyendiri, bermenung dan hilang selera makan.

    “Sayang? Kok diam?”

    “Dasar pelacur..” jawab Niko dingin. Alangkah terkejutnya Anisa mendengar perkataan anaknya, dadanya serasa dihantam, air matanya ingin menetes. Anisa sadar dia telah melakukan hal yang betul-betul gila, sesuatu yang telah menyakitkan hati anaknya.

    “Sayang..” kata Anisa lirih.

    “dasar.. PELAACUUUUR!!” teriak Niko pada Anisa.

    “Plaaakk” sebuah tamparan keras hinggap di pipi Niko, meninggalkan jejak merah disana. Air mata Niko menetes, dia kini menangis. Anisa yang merasa bersalah memeluk anaknya tersebut, membiarkan Niko menangis dalam pelukannya. Anaknya menangis tersedu-sedu di sisinya. Tapi entah bagaimana mulanya, kini tangan Niko mengusap dan memeluk tubuh Anisa dengan penuh nafsu. Mulutnya menciumi bibir Anisa bertubi-tubi seperti seorang kekasih yang lama tak jumpa.

    “Sayang.. kamu kenapa?” tanpa menghiraukan pertanyaan mamanya Niko terus saja menjamah tubuh Anisa. Niko dorong tubuh Anisa sehingga kini Anisa terlentang di ranjang. Sekilas, Anisa melihat ke mata anaknya, tatapan matanya kini sudah berubah, tidak seperti Niko yang dia kenal sebelumnya. Pandangan mata dingin yang dipenuhi nafsu. Niko melanjutkan menindih tubuh ibunya tersebut, menjamah dan menciumi wajah Anisa penuh nafsu. Sekarang, dengan tergesa-gesa Niko melepaskan celananya, serta melepaskan celana dalam yang digunakan Anisa dari balik roknya. Dengan kesetanan dia hujamkan penisnya ke vagina ibunya tersebut.

    “Sayang..” kata Anisa lirih. Anisa merasa hatinya teriris, tidak menyangka perbuatannya ini telah merubah kepribadian anaknya. Dia sungguh menyesal, tapi sekarang sudah terlambat, biarlah yang akan terjadi terjadilah. Dia akhirnya mengikuti permainan Niko, sambil Niko menyetubuhinya dengan brutal, Anisa melayani ciuman anaknya. Niko menyetubuhi ibunya dengan brutalnya, entah kenapa sekarang dia menjadi lebih tahan untuk tidak segera ejakulasi. Sepertinya pelatihan dari Anisa berhasil, meski memerlukan pengorbanan yang besar akhirnya, sebuah pengorbanan yang tidak mereka sangka ini bisa terjadi.

    “Sayang.. terus.. entotin mama.. puasin nafsu kamu ke mama yang selama ini kamu pendam.. iya.. terus sayang.. maafin mama baru bisa memberinya sekarang.. oughh.. puaskan nafsumu anakku.. puaskan..” rintih Anisa.

    “Oughh…”
    “Ngmmhh.. sayang..”
    Suara erangan mereka terdengar memenuhi kamar Niko. Saling bersahutan hingga akhirnya Niko menumpahkan spermanya ke dalam rahim Anisa, ke tempat dia lahir dulu.

    “Sayang.. kamu puas?” tanya Anisa lirih ke Niko.
    “Iya mah.. maafin Niko” kata Niko yang sepertinya telah sadar apa yang telah dia lakukan.
    “Gak papa sayang.. biarlah yang sudah terjadi begitu adanya. Mulai sekarang mama milik kamu. Kamu gak usah segan dan malu lagi minta ke mama” mereka kini saling berpelukan. Malam itu mereka melanjutkan satu ronde lagi sebelum tidur bersama. Kini dan seterusnya, Anisa telah merelakan tubuhnya untuk dinikmati Niko, anaknya.
    ***

    Esoknya , Jaka masih saja datang ke rumah itu. Tapi kini dia hanya datang sendiri. Meski begitu ternyata Anisa tidak disetubuhi Jaka seorang, ya.. sekarang Niko ikut bersamanya, menyetubuhi ibunya, Anisa. Mereka melakukan threesome antara Anisa, Jaka, dan Niko.

    “Oughh… Sayang.. terus anak-anakku.. setubuhi aku..” racau Anisa menggila. Kedua lubangnya dimasuki penis mereka. Jaka menggenjot lubang vaginanya sedangkan anaknya, Niko menggenjot lubang anusnya.

    “Mah.. enak.. mau keluar..” erang Niko.
    “Saya juga tante.. udah gak tahan” erang Jaka.

    “Keluarin di mulut mama aja sayang..” pinta Anisa. Mereka mencabut penis mereka dan berdiri di depan Anisa yang kini bersimpuh dan membuka mulut lebar-lebar di bawah mereka.

    “Croot.. crooot” penis mereka memuntahkan lahar putih yang berlomba-lomba memasuki mulut Anisa. Tampak begitu banyak lelehan sperma di mulut Anisa, mulutnya tidak kuasa menampung semuanya hingga beberapa tercecer ke dagunya dan menetes di pahanya. Sebelum menelan sperma mereka, Anisa memanjakan mata remaja tersebut dengan memainkan sperma mereka di mulutnya. Mengenyam-ngenyamnya seperti makan nasi, berkumur-kumur dengan sperma tersebut hingga akhirnya dia menelan seluruh sperma tersebut masuk ke dalam lambungnya.

    “Gimana? Puas?” tanya Anisa sambil tersenyum manis ke mereka.
    “Iya tante.. puas banget hehe..”
    “Iya mah.. makasih yah ma..”

    “Hihi.. kan mama udah nih minum ‘susu kental’ dari kalian, sekarang giliran kalian deh kalau mau juga minum susu mama, mau nggak nih?” tanya Anisa menggoda.

    “Mauuu..” sorak mereka serempak menyerbu buah dada Anisa. Mereka menyusu ke kedua payudara Anisa. Jaka sebelah kanan, dan Niko sebelah kiri.

    “Hihi.. sabar dong kaliannya.. sisain untuk Windy juga..” tapi mereka terlalu sibuk mengulum dan meminum susu dari payudara Anisa hingga tidak mendengar apa yang dikatakannya. Anisa hanya tersenyum saja sambil mengusap rambut keduanya. Sesekali dia tertawa kecil kegelian karena permainan lidah dan gigi mereka.

    Sejak saat itu mereka terus melakukan hal tabu tersebut, bahkan saat papanya ada di rumah. Saat itu Niko mengajak Jaka untuk menginap di rumah. Tentu saja papanya tidak curiga sama sekali karena merupakan hal yang biasa. Tapi malamnya saat papanya sudah tertidur, barulah Anisa dikerjai, di belakang suaminya, oleh anaknya dan teman anaknya. Niko juga mulai ikut-ikutan membolos walau tidak sesering Jaka, Niko berpura-pura ke sekolah dan berpamitan pada kedua orangtuanya seperti biasanya.

    “Ma.. Pa.. Niko berangkat dulu” Kata Niko pamit mencium tangan ke dua orang tuanya.
    “Maaf papa gak bisa antar hari ini juga..” kata papanya karena dia juga akan berangkat kerja.
    “hati-hati sayang..” kata Anisa.
    Saat mencium tangan ibunya, Niko sempat berbisik pelan ke Anisa.
    “Mah.. tungguin yah.. bentar lagi Niko pulang” bisik Niko.
    “Dasar kamu, sekolah tuh yang benar, pake cabut segala.. ya udah, tapi cepetan yah.. hihi” bisik Anisa juga. Niko juga ikutan tertawa kecil.

    “Daaaah.. pa… ma…” Niko meninggalkan rumah, tapi yang tanpa sepengetahuan papanya, setelah papanya berangkat kerja, Niko malah kembali ke rumah. Menghabiskan harinya bermesraan dengan ibunya, Anisa. Mulai dari sekarang, apa yang akan terjadi hanya mereka yang tahu dan tetap akan menjadi rahasia mereka. Begitulah cerita sex tentang hubungan sedarah antara ibu dan anaknya.

  • Video bokep Jepang Ryo Makoto threesome

    Video bokep Jepang Ryo Makoto threesome


    3198 views

  • Kisah Memek Dosen Killer

    Kisah Memek Dosen Killer


    3101 views

    Duniabola99.com – Aku seorang laki-laki yg dilahirkan di kota Pekan baru di provinsi sumatera, kota yg panas karena terletak di dataran rendah. Selain tinggi tubuh seukuran orang-orang bule, kata kawanku wajahku lumayan. Mereka bilang Aku hitam manis. Sebagai laki-laki, bokep, Aku juga bangga karena ketika SMA dulu Aku banyak memiliki kawan-kawan wanita.

    Walaupun Aku sendiri tak ada yg tertarik satupun di antara mereka. Mengenang ketika-ketika dulu Aku kasertag tersenyum sendiri, karena walo bagaimanapun kenangan adalah sesuatu yg berharga dalam diri kita. Apalagi kenangan manis.

    Aku mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di kota S, mengambil jurusan ilmu perhotelan. Tapi para pembaca, sampai ketika ini pun Aku masih belom bisa menyelesaikan studiku hanya gara-gara satu mata kuliah saja yg belom lulus, yaitu mata kuliah yg berhubugan dgn hitung berhitung. Walopun sudah kuambil selama empat semester, tapi hasilnya belom lulus juga. Untuk mata kuliah yg lain Aku bisa menyelesaikannya, tapi untuk mata kuliah yg satu ini Aku benar-benar merasa kesulitan. Joker138

    “Coba saja dirimu konsultasi kepada dosen pembimbing akademis..,” kata kawanku Andi ketika kita berdua sesertag duduk-duduk dalam kamar kost.
    “Sudah, Di. Tapi beliau juga lepas tangan dgn masalahku ini.
    Kata beliau ini ditentukan oleh dirimu sendiri.” Kata Aku sambil menghisap rokok dalam-dalam.

    “Benar juga apa yg dikatakan beliau, Gi, semua ditentukan dari dirimu sendiri.” sahut Andi sambil termangu, tangannya sibuk memainkan korek api di depannya.

    Lama kita sibuk tenggelam dalam pikiran kita masing-masing, sampai akhirnya Andi berkata,

    “Gini saja, Gi, dirimu langsung saja menghadap dosen mata kuliah itu, ceritakan kesulitanmu, mungkin beliau mau membantu.” kata Andi.

    Mendengar perkataan Andi, seketika Aku langsung teringat dgn dosen mata kuliah yg menyebalkan itu. Namanya Ibu Miska, umurnya kira-kira 35 tahun.

    Orangnya lumayan cantik, juga seksi, tapi banyak kawanku begitu juga Aku mengatakan Ibu Miska adalah dosen killer, banyak kawanku yg dibuat sebal olehnya. Maklum saja Ibu Miska belom berkeluarga alias masih sendiri, wanita yg masih sendiri mudah tersinggung serta sensitif.


    “Waduh, Di, bagaimana bisa, dia dosen killer di kampus kita..,” Kata Aku bimbang.
    “Iya sih, tapi walo bagaimanapun dirimu harus berterus terang mengenai kesulitanmu, bicaralah baik-baik, masa beliau tak mau membantu..,” kata Andi memberi saran.

    Aku terdiam sejenak, berbagai pertimbangan muncul di kepala Aku. Dikejar-kejar ketika, pesan orang tua, dosen wanita yg killer.

    Akhirnya Aku berkata, “Baiklah Di, akan kucoba, besok Aku akan menghadap beliau di kampus.”
    “Nah begitu dong, segala sesuatu harus dicoba dulu,” sahut Andi sambil menepuk-nepuk pundakku.

    Siang itu Aku sudah duduk di kantin kampus dgn segelas es teh di depanku serta sebatang rokok yg menyala di tanganku. Sebelom bertemu Ibu Miska Aku sengaja bersantai dulu, karena bagaimanapun nanti Aku akan gugup menghadapinya, Aku akan menenangkan diri dulu beberapa ketika. Tanpa Aku sadari, tiba-tiba Andi sudah berdiri di belakangku sambil menepuk pundakku, seketika Aku kaget dibuatnya.

    “Ayo Chris, sekarang ketikanya. Bu Miska kulihat tadi sesertag menuju ke ruangannya, mumpung sekarang tak mengajar, temuilah beliau..!” bisik Andi di telingAku.
    “Oke-oke..,” Kata Aku singkat sambil berdiri, menghabiskan sisa es teh terakhir, kubuang rokok yg tersisa sedikit, kuambil permen dalam saku Aku, kutarik dalam-dalam nafasku. Aku langsung melangkahkan kaki. “Kalau begitu Aku duluan ya, Chris.

    Sampai ketemu di kost,” sahut Andi sambil meninggalkanku.

    Aku hanya bisa melambaikan tangan saja, karena pikiranku masih berkecamuk bimbang, bagaimana Aku harus menghadapai Ibu Miska, dosen killer yg masih sendiri itu.

    Perlahan Aku berjalan menyusupi lorong kampus, suasana sangat lengang ketika itu, maklum hari Sabtu, banyak mahasiswa yg meliburkan diri, lagipula kalau saja Aku tak mengalami masalah ini lebih baik Aku tidur-tiduran saja di kamar kost, ngobrol dgn kawan. Hanya karena masalah ini Aku harus bersusah-susah menemui Bu Miska, untuk bisa membantuku dalam masalah ini.

    Kulihat pintu di ujung lorong. Memang ruangan Bu Miska terletak di pojok ruangan, sehingga tak ada orang lewat simpang siur di depan ruangannya. Kelihatan sekali keadaan yg sepi.

    Pikirku,
    “Mungkin saja wanita yg belom bersuami inginnya menyendiri saja.” Perlahan-lahan kuketuk pintu, seketika kemudian terdengar suara dari dalam,

    “Masuk..!”

    Aku langsung masuk, kulihat Bu Miska sesertag duduk di belakang mejanya sambil membuka-buka map. Kutup pintu pelan-pelan. Kulihat Bu Miska memansertagku sambil tersenyum, sesaat Aku tak menygka beliau tersenyum ramah padAku. Sedikit demi sedikit Aku mulai bisa merasa tenang, walopun masih ada sedikit rasa gugup di hatiku.

    “Silakan duduk, apa yg bisa Ibu bantu..?” Bu Miska langsung mempersilakan Aku duduk,

    Seketika Aku terpesona oleh kecantikannya. Bagaimana mungkin dosen yg begitu cantik serta anggun menbisa julukan dosen killer. Kutarik kursi pelan-pelan, kemudian Aku duduk.

    “Oke, Bertho, ada apa ke sini, ada yg bisa Ibu bantu..?” sekali lagi Bu Miska menanyakan hal itu kepada Aku dgn senyumnya yg masih mengembang.

    Perlahan-lahan kuceritakan masalahku kepada Bu Miska, mulai dari keinginan orangtua yg ingin Aku agak cepat menyelesaikan studiku, sampai ke mata kuliah yg ketika ini Aku belom bisa menyelesaikannya.

    Kulihat Bu Miska dgn tekun mendengarkan cerita Aku sambil sesekali tersenyum kepada Aku. Melihat keadaan yg demikian Aku bertambah semangat bercerita, sampai pada akhirnya dgn spontan Aku berkata,

    “Apa saja akan kulakukan Bu Miska, untuk bisa menyelesaikan mata kuliah ini. Mungkin suatu ketika membantu Ibu membersihkan rumah, contohnya mencuci piring, mengepel, atau yah, katakanlah mencuci baju pun Aku akan melAkukannya demi agar mata kuliah ini bisa aku selesaikan. Aku mohon sekali, berikanlah keringanan nilai mata kuliah Ibu pada aku.”


    Mendengar kejujuran serta perkataanku yg polos itu, kulihat Bu Miska tertawa kecil sambil berdiri menghampiriku, tawa kecil yg kelihatan misterius, dimana Aku tak bisa mengerti apa maksudnya.

    “Apa saja Bertho..?” kata Bu Miska seakan menegaskan perkataanku tadi yg secara spontan keluar dari mulutku tadi dgn nada bertanya.

    “Apa saja Bu..!” kutegaskan sekali lagi perkataanku dgn spontan.

    Seketika kemudian tanpa kusadari Bu Miska sudah berdiri di belakangku, ketika itu Aku masih duduk di kursi sambil termenung. Sejenak Bu Miska memegang pundakku sambil berbisik di telingAku.

    “Apa saja kan Bertho..?” Aku mengangguk sambil menunduk,

    Ketika itu Aku belom menyadari apa yg akan terjadi. Tiba-tiba saja dari arah belakang, Bu Miska sudah menghujani pipiku dgn ciuman-ciuman lembut, sebelom sempat Aku tersadar apa yg akan terjadi. Bu Miska tiba-tiba saja sudah duduk di pangkuanku, merangkul kepala aku, kemudian melumatkan bibirnya ke bibirku. Ketika itu Aku tak tahu apa yg harus kulakukan, seketika kedua tangan Bu Miska memegang kedua tanganku, kemudian meremas-remaskan ke buah dadanya yg sudah mulai mengencang. Aku tersadar, kulepaskan mulutku dari mulutnya.

    “Bu, haruskah kita..” Sebelom Aku menyelesaikan ucapanku, telunjuk Bu Miska sudah menempel di bibirku, seakan menyuruhku untuk diam.

    “Sudahlah Bertho, inilah yg Ibu inginkan..” Setelah berkata begitu, kembali Bu Miska melumat bibirku dgn lembut, sambil membimbing kedua tanganku untuk tetap meremas-remas buah dadanya yg montok karena sudah mengencang.

    Akhirnya timbul hasrat kelelakianku yg normal, seakan terhipnotis oleh reaksi Bu Miska yg menggairahkan serta ucapannya yg begitu pasrah, kita berdua tenggelam dalam hasrat seks yg sangat menggebu-gebu serta panas.

    Aku membalas melumat bibirnya yg indah merekah sambil kedua tanganku terus meremas-remas kedua buah dadanya yg masih tertutup oleh baju itu tanpa harus dibimbing lagi.

    Tangan Bu Miska turun ke bawah perutku, kemudian mengusap-usap kemaluanku yg sudah mengencang hebat. Dilanjutkan kemudian satu-persatu kancing-kancing bajuku dibuka oleh Bu Miska, secara reflek pula Aku mulai membuka satu-persatu kancing baju Bu Miska sambil terus bibirku melumat bibirnya.

    Setelah bisa membuka bajunya, begitu pula dgn bajuku yg sudah terlepas, gairah kita semakin memuncak, kulihat kedua buah dada Bu Miska yg memakai BH itu mengencang, buah dadanya menyembul indah di antara BH-nya.


    Kuciumi kedua buah dada itu, kulumat belahannya, buah dada yg putih serta indah. Kudengar suara Bu Miska yg mendesah-desah merasakan kenikmatan yg kuberikan. Kedua tangan Bu Miska mengelus-elus dada Aku yg bisertag. Lama Aku menciumi serta melumat kedua buah dadanya dgn kedua tanganku yg sesekali meremas-remas serta mengusap-usap buah dada serta perutnya.

    Akhirnya kuraba tali pengait BH di punggungnya, kulepaskan kancingnya, setelah lepas kubuang BH ke samping. Ketika itu Aku benar-benar bisa melihat dgn utuh kedua buah dada yg mulus, putih serta mengencang hebat, menonjol serasi di dadanya. Kulumat putingnya dgn mulutku sambil tanganku meremas-remas buah dadanya yg lain.

    Puting yg menonjol indah itu kukulum dgn penuh gairah, terdengar desahan nafas Bu Miska yg semakin menggebu-gebu.

    Oh.., oh.., Bertho.. teruskan.., teruskan Bertho..!” desah Bu Miska dgn pasrah serta memelas.

    Melihat kondisi seperti itu, kejantananku semakin memuncak. Dgn penuh gairah yg mengebu-gebu, kedua puting Bu Miska kukulum bergantian sambil kedua tanganku mengusap-usap punggungnya, kedua puting yg menonjol tepat di wajahku. Buah dada yg mengencang keras. Lama Aku melakukannya, sampai akhirnya sambil berbisik Bu Miska berkata, Agen Joker138

    “Angkat Aku ke atas meja Bertho.., ayo angkat Aku..!”

    Spontan kubopong tubuh Bu Miska ke arah meja, kududukkan, kemudian dgn reflek Aku menyingkirkan barang-barang di atas meja. Map, buku, pulpen, kertas-kertas, semua kujatuhkan ke lantai dgn cepat, untung lantainya memakai karpet, sehingga suara yg ditimbulkan tak terkemudian keras.

    Masih dalam keadaan duduk di atas meja serta Aku berdiri di depannya, tangan Bu Miska langsung meraba sabukku, membuka pengaitnya, kemudian membuka celana Aku serta menjatuhkannya ke bawah. Serta-merta Aku segera membuka celana dalamku, serta melemparkannya ke samping. Kulihat Bu Miska tersenyum serta berkata lirih,

    “Oh.. Bertho.., betapa jantannya dirimu.. kemaluanmu begitu panjang serta besar..

    Oh.. Bertho, Aku sudah tak tahan lagi untuk merasakannya.” Aku tersenyum juga, kuperhatikan tubuh Bu Miska yg setengah bugil itu.

    Kemudian sambil kurebahkan tubuhnya di atas meja dgn posisi Aku berdiri di antara kedua pahanya yg telentang dgn rok yg tersibak sehingga kelihatan pahanya yg putih mulus, kuciumi buah dadanya, kulumat putingnya dgn penuh gairah, sambil tanganku bergerilya di antara pahanya.

    Aku memang menginginkan pemanasan ini agak lama, kurasakan tubuh kita yg berkeringat karena gairah yg timbul di antara Aku serta Bu Miska. Kutelusuri tubuh Bu Miska yg setengah bugil serta telentang itu mulai dari perut, kemudian kedua buah dadanya yg montok, kemudian leher. Kudengar desahan-desahan serta rintihan-rintihan pasrah dari mulut Bu Miska.

    Sampai ketika Bu Miska menyuruhku untuk membuka roknya, perlahan-lahan kubuka kancing pengait rok Bu Miska, kubuka restletingnya, kemudian kuturunkan roknya, kemudian kujatuhkan ke bawah. Setelah itu kubuka serta kuturunkan juga celana dalamnya.

    Seketika hasrat kelelakianku semakin menggebu-gebu demi melihat tubuh Bu Miska yg sudah bugil bulat, tubuh yg indah serta seksi, dgn gundukan daging di antara pahanya yg ditutupi oleh rambut yg begitu rimbun. Terdengar Bu Miska berkata pasrah,

    “Ayolah Bertho.., apa yg kau tunggu..? Ibu sudah tak tahan lagi.”

    Kurasakan tangan Bu Miska menggenggam kemaluanku, menariknya untuk lebih mendekat di antara pahanya. Aku mengikuti kemauan Bu Miska yg sudah memuncak itu, perlahan tapi pasti kumasukkan kemaluanku yg sudah mengencang keras layaknya milik kuda perkasa itu ke dalam kemaluan Bu Miska.

    Kurasakan milik Bu Miska yg masih agak sempit. Akhirnya setelah sedikit bersusah payah, seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam kemaluan Bu Miska. Terdengar Bu Miska merintih serta mendesah,

    Oh.., oh.., Bertho.. terus Bertho.. jangan lepaskan Bertho.. Aku mohon..!

    ” Tanpa pikir panjang lagi disertai hasratku yg sudah menggebu-gebu, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur dgn posisi Bu Miska yg telentang di atas meja serta Aku berdiri di antara kedua pahanya.


    Mula-mula teratur, seirama dgn goygan-goygan pantat Bu Miska. Sering kudengar rintihan-rintihan serta desahan Bu Miska karena menahan kenikmatan yg amat sangat. Begitu juga Aku, kuciumi serta kulumat kedua buah dada Bu Miska dgn mulutku. Kurasakan kedua tangan Bu Miska meremas-remas rambutku sambil sesekali merintih,

    “Oh.. Bertho.. oh.. Bertho.. jangan lepaskan Bertho, kumohon..!”

    Mendengar rintihan Bu Miska, gairahku semakin memuncak, goyganku bertambah ganas, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur semakin cepat. Terdengar lagi suara Bu Miska merintih,

    “Oh.. Bertho.. dirimu memang perkasa.., kau memang jantan.. Bertho..
    Aku mulai keluar.. oh..!”
    “Ayolah Bu.., ayolah kita mencapai puncak bersama-sama, Aku juga sudah tak tahan lagi,” keluhku.

    Setelah berkata begitu, kurasakan tubuhku serta tubuh Bu Miska mengejang, seakan-akan terbang ke langit tujuh, kurasakan cairan kenikmatan yg keluar dari kemaluanku, semakin kurapatkan kemaluanku ke kemaluan Bu Miska.

    Terdengar keluhan serta rintihan panjang dari mulut Bu Miska, kurasakan juga dada Aku digigit oleh Bu Miska, seakan-akan nmenahan kenikmatan yg amat sangat.

    “Oh.. Bertho.. oh.. oh.. oh..”

    Setelah kukeluarkan cairan dari kemaluanku ke dalam kemaluan Bu Miska, kurasakan tubuhku yg sangat kelelahan, kutelungkupkan tubuhku di atas tubuh Bu Miska dgn masih dalam keaserta bugil, agak lama Aku telungkup di atasnya.

    Setelah kurasakan kelelahanku mulai berkurang, Aku langsung bangkit serta berkata,

    “Bu, apakah yg sudah kita lakukan tadi..?


    ” Kembali Bu Miska memotong pembicaraanku,
    “Sudahlah Bertho, yg tadi itu biarlah terjadi karena kita sama-sama menginginkannya, sekarang pulanglah serta ini alamat Ibu, Ibu ingin cerita banyak kepadamu, dirimu mau kan..?”

    Setelah berkata begitu, Bu Miska langsung menyodorkan kartu namanya kepada Aku. Kuterima kartu nama yg berisi alamat itu.

    Sejenak kutermangu, kembali Aku dikagetkan oleh suara Bu Miska,

    “Bertho, pulanglah, pakai kembali pakaianmu..!”

    Tanpa basa-basi lagi, Aku langsung mengenakan pakaianku, kemudian membuka pintu serta keluar ruangan. Dgn gontai Aku berjalan keluar kampus sambil pikiranku berkecamuk dgn kejadian yg baru saja terjadi antara Aku dgn Bu Miska. Aku telah bermain cinta dgn dosen killer itu. Bagaimana itu bisa terjadi, semua itu diluar kehendakku. Akhirnya walo bagaimanapun nanti malam Aku harus ke rumah Bu Miska.

    Kubisai rumah itu begitu kecil tapi asri dgn tanaman serta bunga di halaman depan yg tertata rapi, serasi sekali keasertanya. Langsung kupencet bel di pintu, tak lama kemudian Bu Miska sendiri yg membukakan pintu, kulihat Bu Miska tersenyum serta mempersilakan Aku masuk ke dalam. K

    uketahui ternyata Bu Miska hidup sendirian di rumah ini. Setelah duduk, kemudian kita pun mengobrol. Setelah sekian lama mengobrol, akhirnya kuketahui bahwa Bu Miska selama ini banyak dikecewakan oleh laki-laki yg dicintainya.


    Semua laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya saja bukan cintanya. Setelah bosan, laki-laki itu meninggalkan Bu Miska. Kemudian dgn jujur pula dia meminta Aku selama masih menyelesaikan studi, Aku dimintanya untuk menjadi kawan sekaligus kekasihnya. Akhirnya Aku mulai menyadari bahwa posisiku tak beda dgn gigolo.

    Kudengar Bu Miska berkata, “Selama dirimu masih belom wisuda, tetaplah menjadi kawan serta kekasih Ibu. Apa pun permintaanmu kupenuhi, uang, nilai mata kuliahmu agar lulus, semua akan Ibu penuhi, mengerti kan Bertho..?”

    Selain melihat kesendirian Bu Miska tanpa ada laki-laki yg bisa memuaskan hasratnya, Aku pun juga mempertimbangkan kelulusan nilai mata kuliahku. Akhirnya Aku pun bersedia menerima tawarannya.

    Akhirnya malam itu juga Aku serta Bu Miska kembali melakukan apa yg kita lakukan siang tadi di ruangan Bu Miska, di kampus. Namun bedanya kali ini Aku tak canggung lagi melayani Bu Miska dalam bercinta.

    Kita bercinta dgn hebat malam itu, 3 kali semalam, kulihat senyum kepuasan di wajah Bu Miska. Walo bagaimanapun serta entah sampai kapan, Aku akan sekemudian melayani hasrat seksualnya yg berlebihan, karena memang ada jaminan mengenai kelulusan mata kuliahku yg tak lulus-lulus itu dari dulu.

  • Foto Ngentot cewek berbokong besar setelah diminyakin

    Foto Ngentot cewek berbokong besar setelah diminyakin


    2341 views

    Duniabola99.com – foto cewek pirang berpantat besar ngentot degan pria kekar berkontol gede yang menghujam memeknya dengan keras gaya doggystyle dan menembakkan spermanya yang banyak diatas pantatnya yang besar berkilat.

  • 1-Miku Airi catwalk poison vol 45

    1-Miku Airi catwalk poison vol 45


    2379 views

  • Kisah Memek Kisah Pembantu Dientot Bule

    Kisah Memek Kisah Pembantu Dientot Bule


    3247 views

    Duniabola99.com – Cerita ini mengisahkan tentang seorang cewek yang berkerja disebuah rumah yang dimiliki oleh pria bule. Cewek ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di pulau bali.


    Kisahku ini berawal dari semasa aku kerja di pulau bali sebagai pembantu rumah tangga, ya sebenarnya kisahku ini sangat menyedihkan sekaligus menyenangkan. singkat cerita aku bekerja di tempat bule asal australia. pada suatu malam setelah aku beres bersih-bersih rumah seperti biasa, keadaan rumahnya sih sangat sepi karena majikan perempuan saya dan anak-anaknya sedang berada di australia hendak mengurusi pendidikan anak mereka yang mau masuk ke bangku junior high school.

    Oh ya, nama saya sri sulastri sebut saja namaku sri aku berasal dari banyumas jawa tengah, ya gara-gara faktor ekonomi aku harus jadi pembantu rumah tangga. kembali ke majikan saya yang tadi, majikan saya yang laki-laki biasanya belum pulang jam segini, tapi kali ini dia tumben jam setengah enam sudah ada di rumah. saya sangat risih sekali tinggal berdua saja dengan majikan saya, gerak geriknya sangat aneh mondar-mandir di depan kamar saya,
    “sri, please come here” terdengar suara majikan saya memanggil, oh ya saya hampir lupa bahwa nama majikan saya ada lah john.
    “ya mister” jawab saya langsung menghampirinya.
    “tolong dong kerokin saya, kayaknya saya lagi masuk angin nih” kata mr john dari dalam kamarnya.

    Sebenarnya sih dia lancar berbahasa indonesia tapi dengan logat bulenya. dengan secara perlahan saya membuka pintu kamarnya, tapi mr john tidak ada di kamarnya. kemena ya mr john gumamku dalam hati. kemudian aku melangkahkan kakiku mencari keberadaan mr john, tiba-tiba terdengar suara pintu ada yang menutup dengan cepatnya.

    Aku berbalik kaget tanpa ku sangka mr john sudah berada di balik pintu dan tanpa mengenakan sehelai kain pun menutupi tubuhnya sementara itu kulihat juga tombak ajaibnya mengacung besar kekar dan panjang pokoknya bukan ukuran orang indonesia deh. aku berbalik menutup mataku, tapi tiba-tiba kurasakan mr john merangkulku dari belakang dan ku rasakan tombak ajaibnya menyerodok bagian belakang bokongku.


    Aku berusaha berontak sekuat tenaga tapi apalah daya perawakan mr john terlalu besar dan secepat kilat aku dibantingkan di atas kasur dan secepat kilat mr john melucuti helai demi helai baju yang aku kenakan seperti orang kesurupan. aku sungguh-sungguh takut dan bercampur malu pada saat itu, aku memejamkan mata sambil berlinang air mata. beberapa saat kemudian suasana menjadi hening tapi sesuatu yang aneh tengah terjadi di selangkanganku yaitu martabakku seperti ada yang menghisap hisap,sungguh aneh sekali rasanya geli-geli tapi bercampur nikmat, sungguh keadaan yang dilematis di satu sisi aku tidak ingin perkosaan ini terjadi tapi di sisi lain aku menikmati perkosaan in.

    Selang beberapa menit kemudian tombak ajaib mr john ditujukan kedalam lubang martabakku yang masih sempit karena masih perawan.
    “jangan mister, jangan” pintaku dengan histeris. tapi mr john tak menghiraukan permintaanku, malahan dengan buasnya dia menancapkan tombak ajaibnya kedalam lubang martabakku sehingga ku rasakan sakit yang teramat sangat dan darah mulai bercucuran melumuri tombak ajaib mr john, sepertinya martabakku sudah mulai sobek. aku menjerit sekuat-sekuatnya menahan rasa sakit itu, tapi mr john masih saja terus memompa tombak ajaibnya keluar masuk dengan garangnya.


    Pertama-tama memang hujaman dan ayunan penis mr john membuat vaginaku teramat sakit, tapi lama-kelamaan ku rasakan suatu hal yang belum pernah ku rasakan seumur hidupku, aku dibuatnya melayang ke angkasa, sepertinya memang benar ada yang bilang bahwa ini adalah sorga dunia. perlahan tapi pasti aku mengimbangi hujaman demi hujaman tombak ajaib mister john dan sepertinya rasa sakit yang ku rasakan kini berganti menjadi kenikmatan tiada tara.

    Kira-kira hampir setengah jam kamu berpacu dengan hujaman, pompaan. dan keringatpun sudah membanjiri tubuh kita masing-masing, bahkan diantara selangkangan kita terdengar suara yang berdecak cplak-cplok. huh sungguh saat-saat yang tak terlupakan. tiba-tiba beberapa saat kemudian tubuhku mulai mengejang keras bagaikan membatu dan kurasakan tubuh mr john mengalami hal yang serupa, “kayaknya aku mau keluar nih sri” kata mr john sambil merem melek. aku tidak tahu apa yang dimaksud mr john yang mau keluar. tiba-tiba tanpa terduga cairan putih muncrat dari ujung tombak mr john yang masih berasa di dalam lubang martabakku, cairan itu terasa hangat sekali membanjiri liang martabakku. kemudian aku juga merasakan hal yang sama, rasanya ada yang mau munycrat dari dalam liang martabakku yang sulit untuk dibendung lagi.


    Dan akhirnya kita berdua mengeluarkan lahar bersama-sama. kemudian dengan secepat kilat mr john terpelanting disampingku dengan tombak ajaibnya yang masih mengacung dan terlentang bebas. sungguh aku tak kuasa menahan kenikmatan yang disuguhkan oleh mr john. dengan secepat kilat aku langsung lari dari kamar mr john entah karena malu atau apa aku juga nggak ngerti. kemudian hari hari berikutnya kami berdua mulai sering-sering melakukan hal tersebut. kayaknya aku mulai kecanduan dan menjadi maniak.

  • Video bokep Rion Ichijo pantat bahenol squirt ngentot dengan banyak gaya

    Video bokep Rion Ichijo pantat bahenol squirt ngentot dengan banyak gaya


    3201 views

    Agen Joker128

  • Video Bokep Eropa pria berkontol hitam gede tercydyk beronani sambil lihat anak tiriku berjemur

    Video Bokep Eropa pria berkontol hitam gede tercydyk beronani sambil lihat anak tiriku berjemur


    2142 views

  • Foto Ngentot Emma Hix tercyduk mastrubasi dikamarnya

    Foto Ngentot Emma Hix tercyduk mastrubasi dikamarnya


    2165 views

    Duniabola99.com – foto gadis kurus pirang Emma Hix yang lagi melakukan mastrubasi dengan penis palsu yang besar dikamarnya tercyduk oleh adik tirinya yang berkontol besar dan menenggelamkan penisnya yang besar itu ke dalam memeknya Emma Hix dan juga menyemprotkan semau sepermanya kememenya.

  • Tiny teen Renee Roulette got bent over and drilled deep

    Tiny teen Renee Roulette got bent over and drilled deep


    2074 views

  • Vdeo Bokep Ryo Makoto ngentot threesome dengan cowok yang baru dikenalnya

    Vdeo Bokep Ryo Makoto ngentot threesome dengan cowok yang baru dikenalnya


    2164 views

  • Kisah Memek Aku tidak mau tapi menikmatinya

    Kisah Memek Aku tidak mau tapi menikmatinya


    3185 views


    Duniabola99.com – Pertemanan adalah suatu hal yang sangat penting dalam hidup seseorang dimana kita bisa saling berbagi dan saling menolong dalam kesulitan. Tapi arti pertemanan tidaklah seindah yang sering dibicarakan orang bagi Helena, saya sebut saja demikian namanya.


    Kisah nyata ini dipaparkan oleh responden yang bersangkutan dilengkapi dengan foto diri dan foto lainnya yang terjadi sebagai bukti penguat. Tapi karena etika yang harus saya pegang teguh, maka data-data pendukung tersebut tidak akan pernah saya ekspose untuk dan kepada siapapun. Menurut pengakuan Helena, kejadian berikut ini terjadi beberapa bulan yang lalu ketika liburan sekolah anaknya tiba..

    Sebagai keluarga dari kalangan atas, menghabiskan waktu liburan berbintang lima di Nusa Dua Bali bukanlah masalah bagi keluarga Helena. Selama beberapa hari Helena menghabiskan waktu liburan dengan suami dan dua orang anaknya disana. Setelah beberapa hari, suami Helena mengajaknya untuk ke Lombok. Tapi dengan alasan Helena merasa bosan dengan tempat itu, juga perjalanan dengan kapal fery yang yang cukup makan waktu, maka Helena menolak ajakan suaminya itu.

    Akhirnya suami dan kedua anaknya segera menuju Lombok tanpa Helena. Helena, 30 tahun, walau sudah punya anak dua orang tapi penampilan dan gayanya mirip dengan layaknya gadis kota masa kini. Wajah sangat cantik, putih, dan tubuh sintal selalu membuat lelaki manapun akan tertarik. Salah satu nilai lebih dari rumah tangga Helena adalah kebebasan yang diberikan suaminya kepada Helena untuk boleh bergaul atau jalan dengan siapa saja asal Helena selalu jujur kepada suaminya itu. Hal ini terjadi karena suaminya sangat tahu akan libido Helena yang sangat tinggi hingga suaminya agak kewalahan dalam melayani kebutuhan seksual Helena. Dan nilai lebih dari Helena adalah kejujuran kepada suaminya bila dia jalan dan main dengan pria lain.


    Pagi itu di restoran hotel, ketika Helena sedang makan pagi..

    “Hei..!”, terdengar suara diiringi dengan tepukan tangan di pundak Helena.
    “Hei, Ani.. Abiem.. Pak Randi..”, sahut Helena senang ketika melihat mereka bertiga.
    “Mana suamimu?”, tanya Ani.
    “Sedang ke Lombok dengan anak-anak”, jawab Helena.
    “Duduklah di sini, temani aku makan..”, kata Helena.

    Mereka pun segera duduk dan makan pagi bersama satu meja. Ani dan Abiem adalah teman bisnis suami Helena di Jakarta, sedangkan Randi adalah seorang dokter, duda, yang jadi dokter keluarga Helena. Randi dikenalkan kepada keluarga Helena oleh Ani dan Abiem dulunya.

    “Nanti malam kita turun yuk? Kita habiskan malam bersama di diskotik”, ajak Abiem kepada Helena.
    “Entahlah..”, kata Helena.
    “Loh kenapa? Ayolah Bu Helena, kita sekali-sekali bergembira bersama”, kata Randi ikut menyela sambil tersenyum menatap Helena.
    “Ikutlah, Helena.. Masa cuma aku seorang ceweknya..”, kata Ani.
    “Baiklah kalau begitu.. Aku ikut”, kata Helena sambil tersenyum.

    “Kamu tinggal di kamar berapa?”, tanya Abiem kepada Helena.
    “Aku di suite room..”, kata Helena sambil menyebutkan nomor kamarnya.
    “Ha? Kalau begitu kita bersebelahan dong..”, kata Ani sambil menyebutkan nomor kamar mereka.
    “Yee.. Kok aku tidak tahu, ya? Kapan kalian check in?”, tanya Helena.
    “Semalem. Tadinya kami mau tinggal di kamar lain, tapi karena sudah penuh, akhirnya kami ditunjukkan kamar yang masih pada kosong..”, kata Abiem.
    “Tau nggak kalau kamar kita terhubung oleh connecting door, Ni?”, kata Helena kepada Ani.
    “Iya? Berarti kita bisa kumpul-kumpul nih..”, kata Ani girang.
    “Oke deh, Helena.. Nanti malam kita pergi bareng ke Diskotik, ya?’, ujar Abiem.
    “Aku bawa minuman enak dari Perancis nanti..”, kata Abiem lagi.
    “Baiklah. Kalian pada mau kemana?”, tanya Helena.
    “Kami ada keperluan dulu. Bye..”, kata Ani sambil bangkit diikuti Abiem dan Andi, lalu mereka pergi.


    Malamnya, dengan memakai T-shirt ketat plus rok katun sangat mini sehingga paha mulusnya tampak dengan indah, Helena berangkat dengan mereka ke diskotik.

    “Kita minum dulu deh agar hangat”, kata Abiem sambil menuang minuman bawaannya ke dalam gelas dan disodorkan kepada Helena.
    “Okay.. Siapa takut..”, kata Helena sambil meneguk minumannya.
    “Hm.. Enak.. Manis.. Give me more, please.”, kata Helena kepada Abiem. Abiempun segera menuang lagi minuman ke gelas Helena yang sudah kosong.
    “Jangan terlalu banyak, Helena.. Nanti kamu jadi hot, loh..”, kata Ani sambil tertawa. Mereka tertawa-tawa sambil menikmati minuman berakohol diiringi lagu yang diputar DJ.
    “Turun, yuk..”, ajak Randi kepada Helena.
    “Ayo..”, kata Helena sambil bangkit.

    Perasaannya sudah mulai terpengaruh alkohol. Akhirnya Ani dan Abiem serta Helena dan Randi melantai mengikuti hentakan irama yang cepat. Sampai akhirnya ketika lagu berganti ke irama slow, Helena dan Randi saling berangkulan dan berdansa mengikuti alunan irama lagu.

    “Mmhh..”, Helena mendesah hampir tak tedengar ketika dadanya bersentuhan dengan dada Randi.

    Entah karena pengaruh alkohol atau memang karena libido Helena yang tinggi, puting susu Helena mengeras dan makin mengeras ketika dadanya bersentuhan dengan badan Randi. Gairah Helena bangkit karenanya. Tapi Helena masih bisa menahan dirinya. Mereka terus menikmati waktu yang ada sambil meneguk minuman hingga wajah mereka memerah. Helena benar-benar menikmati malam itu selagi bisa bebas dari beban pekerjaan dan anak-anaknya. Sampai ketika waktu menunjukkan jam 1.00 pagi mereka segera pulang ke hotel.

    “Kita ngobrol di kamar saja, yuk?”, kata Abiem.
    “Okay.. Nanti aku buka connecting door-nya”, kata Helena sambil berlalu menuju kamarnya.

    Sementara Ani, Abiem dan Randi masih duduk-duduk di lobby. Sesampai di kamar, Helena segera membuka connecting door-nya, lalu dia ketuk pintu sebelahnya. Tidak ada jawaban.


    “Ah, masih pada di bawah barangkali..”, pikir Helena sambil merebahkan badannya di ranjang.

    Hampir setengah jam menunggu, ternyata mereka tidak datang juga. Akhirnya helena memutuskan untuk berendam air hangat dan mandi selama beberapa menit.

    “Hei.. Sorry kami kelamaan..”, suara Ani yang tiba-tiba masuk kamar mandi mengagetkan Helena yang baru saja memakai kimono.
    “Abiem dan Randi di ruang tengah..”, kata Ani lagi sambil agak sempoyongan.
    “Kamar kamu enak juga ada ruang tamunya.. Kita bisa ngobrol disini..”, kata Ani lagi.
    “Shit!! Ngapain kumpul di kamar aku?”, bisik hati Helena.
    “Hei perempuan! Cepatlah kemari.. Kita habiskan sisa minuman tadi”, terdengar suara Abiem memanggil. Akhirnya mereka berempat lagi-lagi meneguk bergelas alkohol yang dibawa Abiem.
    “Ohh.. Gawat! Kenapa aku jadi pengen..”, hati Helena berbisik ketika pengaruh alkohol mulai menjalar di tubuhnya.

    Terasa oleh Helena buah dada serta puting susunya mulai mengeras lagi, sementara memeknya terasa berdenyut basah menahan gairah..

    “Aku akan hirup udara segar dulu..”, kata Helena sambil bangkit agak terhuyung menuju teras. Dihirupnya udara malam dalam-dalam untuk mengurangi sesuatu di dalam tubuhnya yang mulai menggoda imannya.
    “Ohh..”, tiba-tiba terdengar suara Abiem mendesah keras dari dalam. Helena segera melongokan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.
    “Oh my God!”, batin Helena ketika melihat apa yang terjadi. Gairah dan denyutan memeknya semakin terasa menggoda.

    Di depan matanya, Helena melihat bagaimana Ani berciuman dengan suaminya di kursi sambil tangannya mengocok kontol Abiem yang sudah tegak. Celana Abiem hanya di buka dan diperosotkan sebatas pahanya saja.


    “Ohh.. Cepat hisap kontol aku, bitch!”, kata Abiem kepada Ani. Dengan serta merta Ani menurunkan kepalanya, lalu dengan segera kontol Abiem sudah dilahapnya sambil tetap dikocok pelan.
    “Ooh..”, desah Abiem ketika lidah Ani menjilati kepala kontolnya sambil batangnya tetap dikocok tangan Ani.
    “Apa yang harus aku lakukan?”, batin Helena ketika melihat kontol Abiem yang basah di jilat dan dihisap mulut Ani.

    Gairahnya semakin memuncak. Dengan mata agak nanar terus dilihatnya Ani dan Abiem. Antara sadar dan tidak, tak terasa oleh Helena ketika Randi menempelkan tubuhnya dari belakang. Tangan Randi menyusuri kaki Helena dari betis sampai paha lalu naik ke pantat Helena yang belum sempai memakai pakaian dalam sejak selesai mandi tadi..

    “Hei! Pak Randi ngapain?!”, kata Helena kaget sambil menepis tangan Randi dari pantatnya.
    “Kita sama-sama tahu sama-sama mau kan..”, kata Randi sambil mendekati Helena.

    Helena segera menghindar dan berlari menuju kamarnya melewati Ani dan Abiem yang sedang asyik melakukan oral seks. Ani dan Abiem sampai kaget dan menghentikan cumbuan mereka ketika melihat Helena melintas. Di dalam kamarnya Helena masih bingung dan teringat akan oral seks Ani dan Abeim serta perlakuan Randi kepadanya. Sebetulnya gairah Helena sudah sangat memuncak saat itu, tapi entah kenapa masih ada rasa ragu di hatinya.

    “Ada apa, Helena?”, tiba-tiba Ani masuk kamar dan menghampiri Helena yang masih berdiri.
    “Entahlah, An.. Aku.. Aku aku tak tahu..”, kata Helena sambil melepas kimono lalu segera memakai celana dalamnya.

    Tapi ketika Helena akan memakai memakai Bra, tiba-tiba Ani memeluknya dari belakang hingga Helena tidak jadi memakai Bra tersebut.

    “Ayolah Helena, kita nikmati malam ini..”, bisik Ani ke telinga Helena.
    “Mmhh..”, desah Helena ketika tangan Ani mengusap seluruh badannya. Usapan dan belaian tangan Ani kembali mengobarkan gairah Helena yang sempat surut.
    “Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini?”, bisik Ani lagi sambil tangannya meremas kedua buah dada Helena dari belakang.
    “Ohh..”, desah Helena sambil terpejam menikmati sensasi jari tangan Ani ketika memainkan dan memelintir puting susunya.
    “Mmhh.. Ohh..”, desah Helena makin keras ketika lidah dan bibir Ani menyusuri telinga, tengkuk dan lehernya sembari tangannya tetap meremas dan memainkan puting susu Helena.
    “Nikmati saja malam ini..”, bisik Ani sambil membalikan badan Helena dan merebahkannya di ranjang.
    “Oww..”, jerit lirih Helena ketika lidah dan bibir Ani menciumi dan menjilati buah dada serta puting susunya.
    “Aniihh.. Oohhsshh..”, jerit Helena makin keras ketika jari Ani masuk ke celana dalam dan menggosok memeknya.


    Tubuh Helena menggeliat terbawa rasa nikmat dan terlepasnya himpitan gairah yang tertahan sebelumnya.

    “Kamu menyukai ini?”, bisik Ani sambil lidah dan mulutnya turun menyusuri perut sementara tangannya melepas celana dalan yang dipakai Helena.
    “Ohh.. Anniihh..”, jerit Helena ketika ada rasa nikmat yang menjalar ketika lidah Ani dengan liar menyusuri belahan memeknya.
    “Ohh Ani.. Enakkhh”, desah Helena waktu lidah Ani menjilati kelentit dan sesekali mengulumnya.
    “Anniihh.. Akku.. Keluarrhh..!”, jerit Helena sambil menggelinjang dan mendesakan kepala Ani ke memeknya ketika ada semburan hangat terasa di memeknya yang disertai rasa nikmat yang luar biasa.

    Ani tersenyum sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir Helena.

    “Aku baru kali ini merasakan bercumbu dengan wanita.. Ternyata memuaskan..”, bisik Helena sambil sesekali mengecup bibir Ani. Ketika Helena dan Ani saling lumat bibir, terasa oleh Helena ada tangan yang menjamah, membelai dan meremas pelan buah dadanya.
    “Sayang, kamu layani si Randi..”, Abiem menyuruh dan menarik tubuh Ani dari atas tubuh Helena.
    “Kamu menyukai permainan istriku, Helena?”, kata Abiem yang sudah telanjang bulat sambil menindih tubuh Helena serta mulai menciumi leher lalu turun ke buah dada Helena.
    “Jangaann!! “, teriak Helena sambil meronta menjauhkan wajah Abiem dari buah dadanya. Tapi Abiem dengan cepat memegang kedua tangan Helena, lalu lidah dan mulutnya kembali meneruskan menjilati buah dada dan puting susu Helena.

    “Ohh.. Jangaannhh.. Janghh.. Jangannhh..”, rintih Helena diantara rasa malu, rasa terhina, serta rasa nikmat ketika lidah Abiem bisa memberikan rasa itu. Apalagi ketika kontol Abiem yang tegang dan tegak mengesek-gesek memeknya yang sudah basah. Bahkan ketika lidah Abiem turun ke perut, turun lagi hingga mencapai memeknya, Helena kembali menggelepar dalam kenikmatan walau hatinya menolak diperlakukan demikian.
    “Jangannhh, Biem..!”, jerit lirih Helena ketika Abiem mulai mengarahkan kontol ke lubang memeknya. Ani-pun yang sedang asyik disetubuhi Randi, sempat menghentikan persetubuhannya lalu bangkit dan mencoba memegang kontol Abiem agar tidak menyetubuhi Helena.

    “Sudah! Kamu nikmati saja kontol si Randi sana!”, kata Abiem aga keras sambil mendorong tubuh Ani.
    “Sudahlah, Ani.. Sini!”, kata Randi sambil menarik dan merebahkan tubuh Ani di karpet lalu kembali menyetubuhi istri temannya itu.
    “Ohh..!”, terdengar desah Helena ketika kontol Abiem masuk ke memeknya lalu dengan kasar dan cepat Abiem menggenjotnya.


    “Jangan, Biemm.. Lepaskan aku!”, jerit lirih Helena di sela rasa sakit dan nikmat ketika kontol Abiem keluar masuk memeknya.
    “Fuck you, bitch!”, kata Abiem sambil mengangkat satu kaki Helena dan di tahan oleh pundaknya.
    “Ohh.. Memekmu nikmat, Helena..”, kata Abiem sambil memompa kontolnya lebih dalam dengan posisi demikian.
    “Ohh.. Mmhh..”, desah Helena sambil terpejam. Rasa sakit yang ada kini berganti rasa nikmat yang luar biasa.
    “Bagaimana rasanya, sayang..”, terdengar suara Ani di samping Helena ketika Ani mengganti posisi dengan doggy style di atas ranjang.
    “Kamu nikmati saja malam ini, Helena.. Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini..”, Randi menyela sambil mengenjot memek Ani dalam posisi menungging.
    “Mmhh.. Sshh.. Ohh”, Helena hanya menjawab dengan desahan pertanda sedang menikmati suatu kenikmatan ketika Abiem dengan ganas mengeluarmasukkan kontol ke memeknya.

    “Ooww.. Ohh..!”, terdengar suara Helena menjerit sambil memegang tangan Abiem dengan kencang. Sementara tubuhnya menggeliat serta mendesakkan memeknya ke kontol Abiem dan menggoyangnya dengan cepat.
    “Serr! Serr! Serr!”, kembali memek Helena mengeluarkan air mani yang menyembur hangat di dalam memeknya.
    “Ohh.. Fuck you! Fuck you!”, kata Abiem sambil menggenjot kontolnya makin cepat dan makin cepat.
    “Crott! Croott! Crott!”, air mani Abiem menyembur banyak di dalam memek Helena.
    “Oohh..!!”, desah Abiem sambil merebahkan tubuhnya menindih tubuh Helena.

    Helena hanya bisa memejamkan mata setelahnya. Rasa lelah serta pengaruh alkohol yang masih ada membuatnya tak mempedulikan lagi keadaan disekelilingnya. Yang sempat terdengar oleh telinga Helena adalah teriakan kenikmatan yang keluar dari mulut Ani dan Randi yang sedang asyik bersetubuh di depan suami Ani sendiri. Mata Helena sedikit demi sedikit makin berat. Hanya rasa nyaman dan sisa-sisa kenikmatan di memek Helena yang membuat memeknya berdenyut-denyut hingga Helena tertidur..


    Helena tertidur sampai siang hari dalam kedaan telanjang bulat. Tubuhnya tertidur hanya diselimuti oleh bed cover. Tak terdengar olehnya ketukan pintu oleh cleaning service. Sehingga ketika cleaning service membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa, dia begitu terkejut melihat tubuh molek tergolek di ranjang.

    “Eh.., maaf, Bu.. Saya kira tidak ada siap-siapa di dalam”, kata petugas kebersihan tersebut.
    “Tidak apa-apa.. Kembali lagi saja dan bereskan kamar saya nanti agak siang..”, kata Helena sambil menyelimuti tubuhnya lebih rapat.

    Setelah petugas itu keluar, Helena hanya bisa merenungi apa yang terjadi semalam. Helena sendiri merasa heran, dirinya tidak mau dipaksa, diperkosa, entah apapun namanya, tapi yang jelas dirinya begitu menikmati perlakuan orang lain yang begitu kasar pada dirinya pada akhirnya..

    Helena memang sangat suka berpetualang seks dari sebelum menikah sampai sekarang, tapi belum pernah merasakan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan semalam.. Ingin rasa hati Helena menceritakan hal ini kepada suaminya, tapi pertentangan batin terjadi dalam hatinya karena hal ini menyangkut kepada teman-teman baik suaminya. Bahkan terbersit keinginan Helena untuk kembali ingin mendapatkan sensasi kenikmatan dengan menjadi objek pemaksaan seksual..

  • Kisah Memek Horny melihat foto istri teman sendiri

    Kisah Memek Horny melihat foto istri teman sendiri


    3283 views

    Duniabola99.com – Akhir minggu aku sendirian di rumah; menjadi Ana manis saya jauh dari kota, mengunjungi beberapa teman lama di Barat.

    Pada hari Sabtu aku merasa sedikit horny dan kemudian mulai menonton beberapa film porno di internet, sampai akhirnya saya datang di situs baru; ada gambar perempuan kulit putih yang berbeda dengan laki-laki hitam
    Tapi kemudian aku terkejut melihat gambar Helena, pacar istri saya; jalang yang adalah seorang pelacur yang nyata; yang jalang saya kacau kadang-kadang, yang jalang yang telah mendapat suaminya Jorge menjadi cuckold sempurna …

    Saya mengklik pada link dan menonton video yang menunjukkan dia duduk telanjang di depan kamera, mengatakan namanya dan bagaimana dia adalah seorang pelacur untuk Penis hitam. Kemudian tiga orang hitam muncul di tempat kejadian; jadi, Helena pergi berlutut dan mulai mengisap kontol hitam besar dan menyentak dua yang lainnya …
    gundukan Helena segar bersih dicukur dan ada tato kecil di atas bibir vaginanya, tapi aku tidak bisa membaca apa yang mengucapkan kata-kata.

    Sebuah suara berat memintanya dari balik kamera bagaimana dia suka mendapatkan fucked dan pelacur menjawab. “Dengan banyak Penis hitam yang saya bisa.”

    Kemudian tiga orang hitam telanjang masuk tembakan. Salah satu dari mereka mulai cocok nya dengan leher anjing. Pas sekali dia menceritakan: “. Pada lutut Anda, jalang”
    Dia cepat berlutut sebagai pria mengepungnya dan terus menganiaya tubuhnya yang telanjang. Mereka menusuk vagina, pantat dan mencubit puting kerasnya.

    Ketika saya melihat aksi saya mulai tersentak penisku. Aku tidak pernah membayangkan apa yang pelacur untuk laki-laki hitam Helena telah menjadi membiarkan bajingan ini memperlakukannya seperti seperti jalang kotor.
    Tiba-tiba, seorang pria mendorongnya maju ke posisi doggie. Kamera pindah ke pantatnya sebagai salah satu pria menarik pipinya terpisah dan lain menghasilkan butt plug besar; setelah diminyaki mereka memasukkannya ke dalam pantatnya.

    Helena harus telah digunakan untuk itu karena dia hanya mengerang sedikit sebagai bajingan nya mudah melar terbuka untuk steker.


    Dengan pantatnya diisi enam orang hitam bergantian fucking pussy dan mulutnya selama dua puluh menit berikutnya. Penis mereka adalah berbagai bentuk dan ukuran tetapi semua yang besar. Helena dalam tenggorokan mereka sangat mudah …

    Begitu salah satu dari mereka datang di vagina mereka akan menarik keluar dan pergi ke mulutnya, ia akan menghisap dan menjilat Penis mereka bersih. vagina segera menetes air mani ke lantai.

    Ketika terakhir dari mereka selesai mendapatkan kemaluannya dibersihkan, mereka memerintahkan dia: “Pelacur, sekarang Anda membersihkan kekacauan Anda.” Dia berbalik masih di tangan dan lututnya dan mulai menjilat semua keberanian dari lantai, seperti pantatnya sekarang mengangkat tinggi.

    Salah satu pria kulit hitam mendapat belakangnya dan mengeluarkan butt plug. bajingan erat-erat sekarang membentang dan tidak dekat tetapi tetap terbuka. Orang yang sama yang telah dihapus steker mendorong kemaluannya ke dalam vaginanya. kamera semakin dekat saat ia ditarik keluar. Lalu ia berjajar kontol yang tebal dilapisi keberanian dengan pantat yang terbuka sebelum didorong sepenuhnya jauh di dalam di anusnya.

    Dia menampar pipi pantat Helena keras sebelum ia mulai bercinta anusnya, sepanjang waktu dia mengerang saat ia ditumbuk ke dalam dirinya. Dia bahkan memiliki orgasme, segera setelah orang datang di pantatnya dia ditarik keluar. Sekali lagi kamera melakukan close up dari bajingan yang terbuka sebelum diisi lagi dengan Penis hitam besar lain.


    Orang yang datang di pantatnya pindah bulat untuk kepala dan memerintahkan dia untuk menjilati penisnya membersihkan … Tanpa jeda pelacur kotor boneka yang kontol basah ke dalam mulutnya dan mulai menjilati itu …
    Semua enam orang kacau pantatnya sebelum mendapatkan dia untuk membersihkan Penis mereka, sebagai orang terakhir selesai dengan bokongnya butt plug didorong kembali Dalam tembakan berikutnya Helena berlutut dengan semua enam orang berdiri di sekelilingnya.; wanking Penis mereka, itu tidak lama sebelum mereka semua mulai datang di wajah sensual.

    Dia membuka mulutnya dan menjulurkan lidah, beberapa dari mereka ditembak keberanian mereka ke mulutnya yang terbuka karena mereka beristirahat Penis mereka di lidahnya. Lainnya akan menembak beban mereka di seluruh wajah dan rambutnya.

    Dia masih berlutut dengan kaki terbuka seperti kamera pindah dekat dengan vagina. Lalu aku jelas bisa membaca huruf tato di atas gundukan dicukur, melalui keberanian menetes antara dia spread paha.
    Bunyinya “COCK HITAM HANYA” …


    Kemudian dilarang lagi dengan tangan, karena ia mulai meraup cairan berantakan yang bocor dari kuncup mawar nya. Helena dilapisi jari-jarinya dan memindahkan mereka ke mulutnya sebelum dia menjilat mereka bersih saat ia melihat ke kamera, dengan tampilan yang jahat terburuknya di mata slutty seksi …
    Seseorang bertanya. “Katakan suami mengkhianati Anda apa pelacur Anda …”
    “Saya tidak pelacur … Aku mencintai suamiku, tapi dia belum kontol hitam besar …”
    Helena tersenyum pada kamera video yang berakhir …

  • Kisah Memek Pertemuan Dengan ABG Imut Pecinta BDSM

    Kisah Memek Pertemuan Dengan ABG Imut Pecinta BDSM


    2439 views

    Duniabola99.com – Malam yang gelap,tidak ada aktivitas lagi yang aku kerjakan setelah semua tugas-tugas kuliah kelar. Nonton Tv juga monoton saja,acara itu-itu aja ah bete,ngapain enaknya”Hp berdering si beb’,teman kampusku tlp.apalagi kalau bukan nanyain tugas dari Dosen A udah aku selesaikan belom,dasar gelo sering nyontek aku pekerjaannya tapi gak apa-apa demi teman karena kesibukannya sendiri paling lali mengerjakan materi kul setelah trima tlp.

    Usai utak-utik atau browsing di internet cari sohip-sohip dunia maya enak kali,mesti hanya memandang monitor tapi rasanya persahabatan tetep terjalin indah sampai aku berkenalan dengan wanita yang akan aku temui sebagai wujud kalau pertemanan ini tidak maya, Berawal dari email lalu SMS, aku berkenalan dengan Mini, panggilanku pada dominique.

    Kami sepakat untuk saling bertemu di sebuah kafe, daerah atas kota Bandung. Dari penampilan awalnya aku cukup tertarik, meskipun bodinya tergolong biasa-biasa saja tapi wajahnya yang sangat cute membuatku terdiam untuk sesaat.

    Perawakan Mini kurang lebih tinggi 165 cm, 50 kg dengan kulit putih, rambut hitam lurus sebahu, sama-sama keturunan cina sepertiku juga dan berumur 20 tahun merupakan mahasiswa di sebuah universitas swasta di Bandung, ukuran payudaranya 34B dibalut dengan kaos ketat sungguh ideal.

    Kami pun mulai mengobrol panjang di kafe tersebut dan pendek kata kami pun mulai serius tentang hubungan kami yang mungkin lain dari biasanya, yaitu kegiatan BDSM. Kuketahui juga Mini sudah tidak perawan karena pernah ML dengan cowonya yang sekarang tidak tahu ada dimana.

    Mini terlihat sedikit nakal dan sesuai harapanku yang sedang mendalami bidang ini. Mini menganjurkan di tempat kosnya, karena katanya dalam 2-3 hari ke depan tidak ada orang lain karena pada mudik liburan. Aku pun setuju dan berjanji besok aku akan langsung datang ke tempat kosnya. Nexiabet

    Hari yang telah ditentukan telah datang, aku pergi menuju 711, swalayan dekat kampusku, di sana aku membeli beberapa gulung tali pramuka, jepitan jemuran 1 pack, lilin merah besar yang biasa ada di kuil-kuil 2 buah, dan beberapa minuman. Siaplah aku menuju cafe yang telah ditentukan, aku dengan perlengkapan aku di tas sudah lengkap plus belanjaan tadi.

    Meluncurlah aku dengan menggunakan motor bebekku ke tempat kos Mini. Aku mulai memperlahan laju motorku dan melihat alamat yang tertera di HP-ku, setelah beberapa lama kutemukan sebuah rumah tinggal yang dijadikan tempat kos.

    “Biasa saja, lebih bagus kos gue”, pikirku.

    Aku langsung menelepon Mini agar keluar dari tempat kosnya.

    “It’s show time” dalam benakku.

    Lalu aku melihat Mini keluar dengan pakaian senam yang masih basah keringat hingga membuatnya makin aduhai.

    “Sori gue baru beres joging nih, masuk.., masuk”, kata Mini sambil membukakan gerbang.

    Akupun mulai masuk dan celengak-celinguk melihat kos-an yang berisi 4 kamar layaknya rumah tinggal biasa.

    “Beneran kaga ada sapa-sapa neh?”, tanyaku.
    “Kaga ada, pembokat dah pulang dari tadi, now cuma ada lo ama gue, kapan neh mulainya?”, Jawab Mini.

    Aku langsung mengeluarkan tasku dan Mini langsung ikut melihat barang yang kubawa.


    “Hehe.. kok gituan aja seh, disini juga ada kaga usah repot-repot”, kata Mini sambil mengeluarkan kotak di kamarnya.
    “Pake semua yang lu mau ke gue” jawabnya sambil memberikan kotak tersebut padaku.
    “Wahh.., gila lo dapat dari mana semua alat ini?”, tanyaku karena baru kali ini aku melihat alat-alat penyiksaan yang biasanya hanya aku liat di internet.

    “Jangan rewel, cepetan donk gue dah ga sabar lu bisa apa aja”, jawabnya.

    Tanpa menjawab karena aku masih keasyikan melihat “barang-barang” yang sebagian masih tidak kuketahui fungsinya.

    “OK., siplah ayo kita mulai”, jawabku.

    Permainan dimulai, Mini hanya duduk melihatku meninjau tempat yang ingin aku gunakan.

    “Sini lo, gue dapat tempat yang enak buat nyiksa lo”, kataku sambil tersenyum melihat lapangan basket dengan 1 tiang dengan luas 4×5 meter di ruangan tertutup belakang kos.

    Aku mulai mengambil bambu bulat berukuran 1 1/2 meter dengan diameter 10 cm dan mengikat tangan Mini bersama bambu tersebut. Hasilnya tangan Mini terentang ke arah berlawanan seperti orang yang disalib. Belum puas dengan itu aku mengikat “shibari”, sehingga payudaranya tampak menonjol.

    Mini merasa kesakitan terlihat dari wajahnya yang mulai merah, tapi saat kutanyakan Mini menjawab “Lanjutin aja gue nikmatin kok, jangan sungkan-sungkan gue kaga marah gue hepi kok” sambil tersenyum.

    Akupun tidak tanggung-tanggung lagi langsung mengambil sepatu hak tinggi merahnya sekitar 10 cm, penjepit yang telah kubeli, ball gag di kotak Mini, dan sun block untuk kuoleskan pada kulit Mini karena rencanaku akan kujemur Mini di lapangan tersebut dalam waktu cukup lama, matahari masih cukup terik meskipun jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Setelah kuoleskan pada sekujur tubuhnya, aku memasangkan ball gag ke mulutnya.

    Aku yakin Mini tidak akan bisa bersuara lagi. Kemudian sepatu tingginya untuk memberikan efek pegal dan kejang, aku mulai membuat simpul di bambu yang menempel di punggung Mini untuk digantung di tiang ring. Akhirnya Mini hanya menapak pada hak sepatu yang kecil dengan badan tergantung tanpa daya. Terakhir aku memasangkan penjepit di kedua belah puting, di ketiak, di paha, di perut, di bagian kemaluannya.


    “Erghh. Hh.. Hh..”, kudengar erangan Mini tapi tidak kuhiraukan.
    “Ok gue tinggal dulu, gue laper mo makan”, kataku dengan senyuman sambil memasangkan 2 jepitan tersisa di daun telinganya, langsung terlihat Mini berusaha melepasnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tapi percuma karena jepitannya cukup kuat.

    Maka tinggalah Mini sendirian, karena aku sudah pergi untuk melihat-lihat “lokasi” berikutnya, lalu aku benar-benar pergi membeli makan tak jauh dari situ ada tempat makan nasi campur yang sudah jadi langgananku meskipun aku tidak kuliah di daerah tersebut.

    Tak terasa aku sudah makan dan nonton TV, serasa pemilik rumah tersebut hingga sudah 1 jam lebih aku meninggalkan Mini. Sebenarnya aku bisa saja berbuat jahat, tapi jika aku hanya ingin kesenangan materi, aku sudah berkecukupan .

    Kutengok Mini yang sudah bersimbah keringat semua baju senamnya sudah basah. Pertama kulepaas jepitan-jepitan yang terpasang.

    “Aarrgg.. Hh..”, desah Mini karena aliran darahnya berjalan lagi.

    Mini terlihat pucat, lemah sekali kehabisan tenaga karena “upacara” tadi. Kulepaskan juga ikatan pada bambu tapi tali shibari yang mengelilingi tubuhnya tak kulepas malah kutekukkan pergelangan tangan Mini ke bagian belakang dan kuikat, dadanya makin menonjol.

    Sebenarnya aku cukup prihatin karena walau tak kuikatpun Mini sudah pasrah dan tidak akan kabur.

    Aku tanya padanya, “Lo masih kuat gak?”, sambil kulepas ball gag yang menyisakan garis merah di pipinya.
    “Gak papa kok gue cuma cape aja”, jawabnya sambil tersenyum kecil.

    Kemudian kupapah dirinya ke kamarnya lalu kusuapi makan dan minum dengan kondisi tangan masih terikat.

    “Sudah siap untuk selanjutnya?”, tanyaku setelah memberinya waktu istirahat setengah jam yang Mini lewatkan untuk rebahan di tempat tidurnya.
    “Ok”, jawabnya lemah.

    Lalu akupun mulai membuka semua ikatan yang ada di tubuh Mini. Meskipun aku sudah tidak tahan ingin ML dengan Mini aku masih kasihan melihat keadannya. Akupun memandikannya sambil meraba-raba sekujur tubuhnya dan membincangkan apa yang diinginkan Mini untuk permainan berikutnya.

    Jam telah menunjukkan pukul 7 malam saat aku mengajak Mini makan keluar, minipun menyetujuinya dan Mini tidak kuperbolehkan memakai pakaian dalam baik bra ataupun CD, sebelum Mini menjawab, aku sudah memainkan lidahku di puting susunya yang mulai menegak dan terdengar desahan Mini.


    “Lo boleh ikut tapi kukenakan ini ya”, kataku sambil mengambil rantai kecil dengan jepitan berskrup di kotak peralatan BDSM Mini.

    Kukenakan di sebelah putingnya yang telah menonjol lama, lalu kukencangkan skrupnya sehingga aku yakin tidak akan lepas, tidak hanya itu, aku juga mulai foreplay di selangkangan Mini dengan lidah hingga cukup membuat Mini terangsang dan hampir orgasme karena kumainkan jemariku juga di kemaluannya. Aku berhenti tapi Mini merengek dan kukatakan agar bersabar, sambil tersenyum dan mengambil dildo berbentuk kapsul yang biasa ada di film jepang dengan kekuatan 2 batere kecil.

    “Gue pakein ini juga OK”, ujarku sambil memasukkan dildo itu dalam vaginanya yang sudah basah sehingga mudah dimasuki.

    Terakhir kuambil tali dan merapatkan Mini dan mengikat paha atasnya sehingga mainanku akan tetap berada di dalam kemaluan Mini. Aku lalu mengambil rok hitam ketat sebatas lutut untuk menutupi badan bawah Mini, aku tertawa kecil ketika aku menyuruh Mini berjalan bak artis melenggok di cat walk, karena Mini harus menyilangkan kakinya akibat ikatan tadi.

    “Sip.. Deh OK kita pergi”, ajakku sambil kukenakan jaket bulu untuk menutupi badan Mini yang hanya dihiasi rantai.

    Kami keluar dengan motorku. Sebelum berjalan, aku menyalakan switch on pada mainan yang “tertanam” tadi sehingga bergetar dan membuat Mini kehilangan tenaga. Di sepanjang jalan Mini memelukku dengan tangan yang tidak berhenti meremas-remas jaket aku.

    “Dah mulai basah ya? Ga tahan ya?”, godaku. Mini tidak menjawab.

    Tak lama kemudian kami berhenti di tukang jagung bakar di daerah Dago dan memesan makanan dan minuman. Kulihat Mini agak salah tingkah dan seperti maling takut ketahuan polisi, banyak gerakannya yang tidak lazim dan aku mengingatkannya sambil memeluknya.

    “Anter gue beli pulsa ya di BEC”, suatu tempat elektronik di Bandung, pintaku.

    Mini hanya mengiyakan dan aku sengaja membawa jalan-jalan karena aku tahu bahwa semakin banyak gerakan maka Mini makin terangsang jadinya. Mini berusaha bertindak sebiasa mungkin. Perlu diketahui pacarku masih pulang kampung dan aku sudah biasa jalan dengan cewe-cewe sehingga tidak takut kalau kepergok teman. Minipun karena baru masuk kuliah dia belum punya banyak teman dan dia bukan asli orang Bandung.

    Pendek cerita kami berdua sudah sampai di tempat kos seks Mini lagi dan aku segera membuka jepitan di putingnya dan mengeluarkan dildo yang sudah basah. Kami berdua tidak tahan lagi hingga langsung saja kami melakukan ML dan setelah setengah jam aku mengeluarkan sperma di kondom, Kemudian dilepasnya kondom tersebut dan kusuruh Mini yang sudah terkulai lemas mengisap-isap kemaluanku.


    “Aarrgg.. ngghh”, erangku keenakan karena baru pertama kali mengalaminya, biasanya hanya “ngocok” di kamar .

    Aku menggapai tasku dan kuambil lilin yang tadi kubeli, dan menanyakan..

    “Pake ini kuat gak?”
    “Boleh dicoba tuch”, jawabnya dengan nada menantang hingga cukup membuatku bersemangat kembali.

    Tanpa ragu aku kembali dengan membawa tambang berwarna merah, dan mulai dengan mengikat kedua tangan Mini di belakang punggungnya hingga ke siku, terus ke depan tubuh hingga membentuk “breast-bondage” yang ketat. Lalu kurebahkan Mini menungging di lantai, dan siksaan dimulai dengan mencambuki Mini dengan cambuk kulit, tapi tidak terlalu keras dan hanya bertujuan merangsangnya. Kemudian tubuhnya kubalik telentang. Pergelangan kaki kirinya diikat menyatu dengan pangkal paha, yang kemudian ditambatkan ke pinggir ruangan, sedangkan ikatan pada pergelangan kaki kanan ditambatkan ke atas, sehingga bagai sedang memamerkan vaginanya.

    Kembali kucambuki tubuhnya dalam posisi begini. Mini mengerang keras dan meronta-ronta tapi ikatanku cukup kuat untuk dilawan seorang cewe hingga akhirnya Mini hanya bisa pasrah. Selanjutnya tubuh Mini kuikat dengan model “shibari”, di atas bondage-bra, sehingga payudaranya tampak menonjol. Dengan kedua tangannya yang terikat ke belakang, dia hanya bisa pasrah menerima cambukan bertubi-tubi pada kedua payudaranya. Begitu juga ketika kedua tonjolan itu masing-masing kujepit dengan penjepit jemuran berukuran besar. Kembali ujung-ujung cambuk mendarat ke arah perut dan payudaranya. Mini menjerit-jerit kesakitan, namun aku tetap tidak peduli dan terus mengayunkan cambuk, karena aku yakin dia juga menikmatinya walau sulit dijelaskan dari wajahnya di balik rasa sakitnya.

    Kini pada ronde berikutnya aku membaringkan Mini di tengah ruangan, lalu aku berjalan mengitarinya dan mengambil semacam minyak untuk dioleskan ke sepasang payudaranya. Kemudian tetesan-tetesan lilin panas jatuh menimpa puting dan seluruh daerah payudaranya. Tubuhnya meronta-ronta berkelojotan menahan panas dan rasa nyeri. Setelah itu lapisan lilin itu kukelupas sehingga menghasilkan bentuk gundukan menyerupai payudaranya.

    Tak tahan mendengar rintihan dan erangan Mini ditambah melihat gerakan Mini, “adik”-ku bangkit kembali dan kulepaskan ikatan tangan dan kaki Mini lalu kuambil dildo berbentuk kemaluan pria berukuran sedang dan kembali kusuruh Mini untuk menghisap penis (blow-job) aku.

    Sebelumnya aku sudah memasangkan dildo ke anusnya dan kemudian meneteskan lilin panas ke pinggulnya. Rangsangan dildo dan panasnya lilin membuat Mini kian agresif melakukan blow-job nya.

    Akhirnya aku mengeluarkan “lahar seks panas”-ku untuk kedua kalinya. Aku merebahkan Mini di ranjangnya dan tak terasa kami tertidur pulas karena kecapean, untung saja pada saat pulang dari BEC tadi kami sudah mengunci rapat semua pintu dan jendela.

    Jam telah menunjukan pukul 5 dini hari. Mini masih tertidur pulas. Aku mengingat kejadian semalam sambil menyiapkan mie instant untuk sarapan pagi lalu setelah siap kubangunkan Mini, lalu kami makan sambil mengobrol di ruang makan.

    “Gimana semalem?”, tanyaku.
    “Gila lo puting gue masih sakit gara-gara lilin, tanggung jawab lo”, jawabnya sambil tersenyum.

    Dari air mukanya aku tahu bahwa Mini menikmatinya. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, lalu aku mengajak Mini mandi bersama tapi tentu saja tak lepas dari aktifitas BDSM kesukaan kami berdua.


    Mini mulai kuikat bersujud di kamar mandi dan lalu kusuntikkan cairan ke dalam anusnya dengan menggunakan suntikan besar. Tidak puas dengan suntikan, aku memasukkannya dengan menggunakan selang infus.

    Setelah 1 liter air di tabung habis, tabung kembali kuisi penuh dan terus dialirkan memasuki anusnya. Mini menggeliat tanpa daya menahan rasa mual akibat air yang menyesakkan tersebut.

    Setelah berliter-liter air memasuki tubuhnya, selang kulepas. Karena sudah penuh, maka air itu memancur kembali keluar dari anusnya. Demikian kulakukan terus berulang-ulang, hingga akhirnya yang keluar bukan lagi hanya air bening memek, namun sudah bercampur dengan kotorannya. Aku sedikit merasa jijik tapi segera kubersihkan dan kutaruh badan Mini yang masih terikat di dalam bath-tub dan mulai merendamnya. Selama itu aku mandi dan menyiapkan diriku sendiri untuk acara selanjutnya. Setelah selesai, Mini kulepaskan ikatannya dan kusuruh untuk bersiap-siap juga.

    Mini keluar dari kamar mandi dengan handuknya dan akan menuju kamarnya untuk berpakaian, tapi aku melarangnya dan langsung berkata bahwa aku akan pergi dan aku ingin memajang dirinya dalam posisi bondage yang lain. Mini bertanya aku akan pergi kemana, karena dia takut kalau aku kabur, tapi aku memberi jaminan dan janji bahwa aku akan balik lagi, maka Mini pun pasrah mau menerima siksaan berikutnya.

    Kini Mini terbaring di lantai. Kedua tangannya kuikat terpisah masing-masing ke arah bawah, sedangkan kedua kakinya juga kuikat terpisah, namun masing-masing ke atas kepala, sehingga tubuhnya tertekuk sedemikian rupa dengan pinggul di udara, dan kedua lutut mengapit kepalanya. Dalam posisi seperti ini, dia bagaikan sedang memamerkan lubang duburnya yang menengadah ke udara. Tentu saja kondisi ini menimbulkan rasa pegal yang luar biasa.

    Tak lupa aku memasangkan ball gag di mulutnya dan kutaruh mangkuk untuk menampung air liur yang keluar dari mulutnya. Pergilah aku dan kukunci pintu kamarnya dan rumah kos itu untuk beberapa saat. Aku cukup khawatir meninggalkan Mini sendirian dengan posisi tersebut, untung saja teman yang berjanji akan menemuiku membatalkan dan aku langsung meluncur ke tempat kos Mini kembali dan itu juga sudah hampir 1 jam sejak kutinggalkan Mini.

    Aku langsung membuka ikatan yang menyebabkan tubuhnya sudah mulai membiru dan air liurnya sudah sebanyak setengah mangkuk lebih. Mini menangis dan tidak mau ditinggal olehku lagi. Aku tidak bisa berbicara lagi selain memeluknya. Kami mengamati garis-garis yang tampak jelas di badan Mini dan kami pun terbaring di ranjang kos sambil berbincang-bincang seputar bdsm yang telah dan akan kami lakukan.

  • submissive pretty girl is fucked hard in all her holes

    submissive pretty girl is fucked hard in all her holes


    2226 views

  • Vaginaku di Santap Rico Dengan Bringas

    Vaginaku di Santap Rico Dengan Bringas


    2906 views

    Duniabola99.com – Namaku Anggi, umurku 22 tahun. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Saat ini aku sudah berada di tingkat akhir dan sedang dalam masa penyelesaian skripsi. Sebelum aku memulai kisah yang akan menjadi kisah indah bagiku, perkenankan aku mendeskripsikan diriku. Tinggiku 160 cm dengan berat 45 kg. Rambutku hitam panjang sepinggul dan lurus. Kulitku putih bersih. Mataku bulat dengan bibir mungil dan penuh. Payudaraku tidak terlalu besar, dengan ukuran 34 B.

    Sebulan yang lalu, seorang laki-laki usia 28 tahun memintaku jadi pacarnya. Permintaan yang tak mungkin aku tolak, karena dia adalah sosok yang selalu ku impikan. Dia seperti pangeran bagiku. Badannya yang tinggi dan atletis serta sorot matanya yang tajam selalu membuatku terpana. Namanya adalah Rico, kekasih pertamaku. Rico sudah bekerja di perusahaan swasta di Jogja. Rico sangat romantis, dia selalu bisa membawaku terbang tinggi ke dunia mimpi.


    Ribuan rayuan yang mungkin terdengar gombal selalu bagai puisi di telingaku. Sejauh ini hubungan kami masih biasa saja. Beberapa kali kami melakukan ciuman lembut di dalam mobil atau saat berada di tempat sepi. Tapi lebih dari itu kami belum pernah. Sejujurnya, aku kadang menginginkan lebih darinya. Membayangkannya saja sering membuatku masturbasi.

    Hari ini tepat sebulan hari jadi kami. Rico dan aku ingin merayakan hari jadi tersebut. Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan weekend kita berlibur ke kaliurang.

     

    Sabtu yang ku tunggu datang juga. Rico berjanji akan menjemputku pukul 07.00 WIB. Sejak semalam rasanya aku tidak bisa tidur karena berdebardebar. Untuk hari yang istimewa ini, aku juga memilih pakaian yang istimewa. Aku mengenakan kaos tanpa lengan berwarna biru dan celana jeans 3/4. Rambut panjangku hanya dijepit saja. Karena takut nanti basah saat bermain di air terjun, aku membawa sepasang baju ganti dan baju dalam. Tak lama kemudia Rico datang dengan mobil honda jazz putihnya. Ahh,, Rico selalu tampak menawan di mataku. Padahal dia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans panjang.

    Sudah siap berangkat, Nggi? aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan masih cukup sepi. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai di tempat wisata. Ternyata pintu masuk ke area wisata masih ditutup.

    Masih tutup, mas.. Kita jalan dulu aja ke tempat lain, gimana? tanyaku
    Iya.. coba lebih ke atas. Siapa tau ada pemandangan bagus.

    Rico segera menjalankan mobilnya. Tidak begitu banyak pemandangan menarik. Begitu sekeliling tampak sepi, Rico memarkir mobilnya.

    Kita nunggu di sini aja ya, sayang. Sambil makan roti coklat yang tadi aku beli. Kamu belum sarapan, kan?
    iya, mas.. Anggi juga lapar

    Sambil makan roti, Rico dan aku berbincang-bincang mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Tiba-tiba.


    Aduh Anggi sayang, udah gede kok makannya belepotan kayak anak kecil,,, ucapnya sambil tertawa. Aku jadi malu dan mengambil tisue di dashboard. Belum sempat aku membersihkan mukaku, Rico mendekat, Sini, biar mas bersihin. Aku tidak berpikir macam-macam. Tapi Rico tidak mengambil tisue dari tanganku, namun mendekatkan bibirnya dan menjilat coklat di sekeliling bibirku. Oooh,, udara pagi yang dingin membuatku jantungku berdebar sangat kencang.

    Nah, sudah bersih. Ucap Rico sambil tersenyum. Tapi wajahnya masih begitu dekat, sangat dekat, hanya sekitar 12 cm di hadapanku. Sekuat tenaga aku mengucapkan terima kasih dengan suara sedikit bergetar. Rico hanya tersenyum, kemudian dengan lembut tangan kirinya membelai pipiku, menengadahkan daguku. Bisa ku lihat matanya yang hitam memandangku, membuatku semakin bergetar. Aku benar-benar berusaha mengatur nafasku. Seketika, ciuman Rico mendarat di bibirku. Aku pun membalas ciumannya. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya.

    Ku rasakan tangan kanan Rico membelai rambutku dan tangan kirinya membelai lenganku. Tak berapa lama, ku rasakan ciuman kami berbeda, ada gairah di sana. Sesekali Rico menggigit bibirku dan membuatku mendesah, uhhhh refleks aku memperat pelukanku, meminta lebih. Tapi Rico justru mengakhirinya, I love you, honey Lalu mengecup bibirku dengan cepat dan melepaskan pelukannya. Aku berusaha tersenyum, I love you, too. dalam hati aku benar-benar malu, karena mendesah. Mungkin kalau aku tidak mendesah, ciuman itu akan berlanjut lebih. Aaahh,,, bodohnya aku. Rico lalu menjalankan mobilnya menuju tempat wisata.

    Kami bermain dari pagi hingga malam menjelang. Tak terasa sudah pukul 19.00 WIB. Sebelum kembali ke kota, kami makan malam dulu di salah satu restoran. Biasa, tidak ada makan malam hanya 1 jam. Selesai makan, ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30

    Waduh, mas,,, sudah jam segini. Kos Anggi dah tutup, nih. Anggi lupa pesen maw pulang telat. Gimana, ini?
    Aduuh,, gimana, ya?? Ga mungkin juga kamu tidur di kos mas.
    Uuuh,, gimana, dong??
    Udah, jangan cemas. Kita cari jalan keluarnya sambil jalan aja.

    Selama perjalanan aku benar-benar bingung. Di mana aku tidur malam ini??

    Sayang, kita tidur di penginapan aja, ya. Daerah sini kan banyak penginapan. Gimana?
    Iya deh, mas.. dari pada Anggi tidur di luar

    Tak lama kemudia Rico berhenti di sebuah penginapan kecil dengan harga murah. Tapi ternyata kamar sudah penuh karena ini malam minggu dan banyak yang menginap. Sampai ke penginapan kelima, akhirnya ada juga kamar kosong. Tapi cuma satu.

    Karena sudah hampir pukul 23.00 kami memutuskan mengambil kamar tersebut. Sampai di kamar, Rico langsung berbaring di kasur yang ukurannya bisa dibilang single bed. Aku sendiri karena merasa badan lengket, masuk ke kamar mandi untuk ganti baju. Selesai mandi, dalam hati dongkol juga. Kalau tau nginap begini, satu kamar, aku kan bisa bawa baju dalamku yang seksi. Terus pake baju yang seksi juga.


    Soalnya aku cuma bawa tank top ma celana jeans panjang. Hilang sudah harapanku bisa merasakan keindahan bersama Rico. Selesai mandi, aku segera keluar kamar. Tampak Rico sudah tidur. Sedih juga, liat dia udah tidur. Aku pun naik ke atas kasur dan membuat dia terbangun.

    Dah selesai mandi, ya..
    Iya,, mas ga mandi??
    Ga bawa baju ganti ma handuk
    Di kamar mandi ada handuk, kok. Pake baju itu lagi aja, mas

    Rico mungkin merasa gerah juga, jadi dia pun mengikuti saranku. Gantian aku yang merasa mengantuk. Segera ku tarik selimut dan memejamkan mata tanpa berpikit apaapa. Baru beberapa saat aku terlelap, ku rasakan ada sentuhan dingin di pipiku dan ciuman di mataku. Saat aku membuka mata, tampak Rico telanjang dada. Hanya ada sehelai handuk membalut bagian bawah. Badannya yang atletis tampak begitu jelas dan penampilannya membuatku menahan nafas.

    Ngga dingin mas, ga pake baju. Cuma pake handuk Kataku dengan senyum penuh hasrat.

    Tidak ada jawaban dari Rico. Dengan lembut dan cepat di rengkuhnya kepalaku dan kami pun berciuman. Bukan ciuman lembut seperti biasanya. Tapi ciuman penuh gairah. Lebih dari yang tadi pagi kami lakukan. Lidah kami saling bermain, mengisap, mmmmmmm..

    Ku lingkarkan tanganku di punggungnya, ku belai punggungnya. Tangan kananku lalu membelau dadanya yang bidang, memainkan puting susu yang kecil. Gerakanku ternyata merangsang Rico, di peluknya aku lebih erat, ku rasakan badannya tepat menindihku. Rico mengalihkan ciumannya, ke telingaku, aaah,,mmm,,

    Tangannya menjelajahi badanku, menyentuh kedua gunung kembarku. Di belainya dengan lembut, membuatku mendesah tiada henti

    aaah,,mm,, masss,,,uhh,,, badanku sedikit menggeliat karena geli. Bisa ku rasakan vaginaku mulai basah karena tindakan tadi. Tangan Rico, kemudian masuk ke dalam tank topku, menjelajahi punggungku. Seakan mengerti apa yang dicari Rico, ku miringkan sedikit badanku dan ku lumat bibirnya penuh nafsu. Rico pun membalas dengan penuh nafsu dan tidak ada 1 detik kait BH lepas. Ku rasakan tangan Nico langsung kembali ke badanku dan mmbelai langsung kedua payudaraku.

    aaah,,,uhhh,,,
    Sayang,,, tank topny dilepas, ya ujarnya dengan nafas tersengal karena penuh gairah. Tanpa persetujuan dariku, lepaslah tank top dan juga BHku. Bagian atasku sudah tak berbusana. Rico langsung menikmati kedua payudaraku. Di remasnya payudaraku,,, membuatku menggeliat, mendesah,

    aaah,,sssmaass,,uhhh,,,, Erangan dari mulutku tampaknya membuat Rico semakin bernafsu, dia kemudian mengulum dan mengisap pentil payudaraku, aaaahh,,,,ohhh,,,,,mmmm,,, aku mengerang, mendesah, menggeliat sebagai reaksi dari setiap tindakannya. Tangan kiri Rico membelai perutku dengan tangan kanan dan mulut yang masih sibuk menikmati payudaraku yang mengeras.

    Ku rasakan tanga kiri Rico cukup kesulitan membuka celana jeansku. Ku naikkan pinggulku dan kedua tanganku berusaha membukan kaitan celana jeans dengan gemetar. Susah payah celana jeans itu akhrinya terlepas juga. Tanga kiri Rico tanpa membuang waktu langsung menyusup ke dalam celana dalamku, membelai vaginaku yang sudah basah, aaahh,,,maass,,aah,,teruus,,ssshh,,mmmmm

    Kurasakan Rico menekan klitorisku, aaahh,,,, membuatku semakin mendesah dan bergetar. Apalagi Rico masih mengisap puting payudaraku. Tidak lama kemudian ku rasakan seluruh badanku terasa kencang, vaginaku mengalami kontraksi dan aku menggeliat hebat, AAAHHH,,,,,, sambil memegang pinggiran tempat tidur menyambut orgasme pertamaku.

     

    Rico tampak puas dapat membuatku merasakan orgasme. Belum selesai aku mengatur nafas, Rico berada di antara kedua pahaku, dijilatinya kedua payudaraku, turun ke bawah, menjilat kedua perutku. Membuatku merasa geli penuh nikmat, Oooh,,mass,, Seakan tau apa yang ku inginkan, kedua tangan Rico melepas celana dalamku.


    Tampakalah vaginaku yang memerah dengan sedikit rambut halus di sekitarnya. Rico kemudian memainkan lidahnya di vaginaku. Rico menjilati, mengulum vaginaku, membuatku menggelinjang hebat dan ku rasakan kedua kalinya, adanya kontraksi, aaaaahh,,,,. Aku orgasme untuk kedua kalinya. Sensasi yang sangat menyenangakan.

    Rico belum puas dengan orgasmeku tadi. Setelah dia membersihkan vaginaku, bisa kurasakan lidah Rico menerobos masuk dan menyerbu klitorisku. Nafasku semakin memburu dan dari bibirku a terus mengalir alunan desahan kenikmtan yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.

    Aahh,, mas,,aah,,uuhh,,, eeenaakk,,mmm,,sss

    Aku sangat menikmati oral yang diberikan Rico. Kurasakan dorongan lidah Rico lebih dalam lagi ke dalam vaginaku, membuat cairan dari dalam vaginaku terus mengalir tanpa henti. membuat Desahan yang keluar dari mulutku semakin kencang. Semakin lama Rico memberikan rangsangan di dalam vaginaku, membuatku menggeliat dan mengerang semakin kuat. Kurasakan lagi vaginaku berkontraksi, dan aku pun orgasme.

    Setelah orgasmeku reda, Rico dengan wajahnya yang basah dan penuh gairah menindih badanku yang sudah telanjang bulat. Rico mengulum bibir dan lidahku. Tangan kiriku kemudian menarik handuk yang masih menutupi bagian bawahnya. Membuatku merasakan penisnya menusuk perutku, membuatku semakin bergairah. Ciuman kami semakin basah. Mulut kami terbuka lebar, bibir saling beradu.

    Lidah Rico dengan lincah menelusuri bagian luar dari mulut dan daguku. aku pun membalas kelincahannya. Lidahku membasahi mulut dan dagunya. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kulitku, kurasakan api hasrat liarku makin membesar. Lidah kami akhirnya bertemu. Aku makin bertambah semangat dan terus mendesah nikmat. Tanganku menelusuri seluruh bagian dari punggungku. Rico membelai kepalaku dan tangan kirinya meremasremas pantatku yang bulat.

    aaahh,, mass,,,
    Rico tiba-tiba menghentikan cumbuannya, sayang aku mencintaimu, aku ingin kamu seutuhnya dan mencium lembut bibirku yang sudah basah. Aku sudah terlalu dipenuhi gairah karena segala tindakan Rico. Hingga rasanya bicara aku sulit. Kulingkarkan kedua lengaku di leher Rico dan kuhisap kedua bibirnya dalamdalam sebagai jawabanku. Aku ingin segera menanggalkan keperawananku dalam pelukan Rico.

    Rico mengalihkan ciuman bibirnya keleherku yang putih, menciuminya, menjilatinya, membuatku semakin terangsang. Kurasakan penis Rico mengusap vaginaku, membuatku semakin bergairah, apalagi kedua payudaraku yang sudah sangat mengeras dimainkan oleh Rico. Jilatan Rico dari leherku terus kebawah hingga lidahnya menyentuh ujung puting susuku yang makin membuat aku mengerang tak karuan, aaahh,,,oohh,,,mmm,,aahh.

    Sementara puting susuku yang satu lagi masih tetap dia pilin dengan sebelah tangannya. Kemudian tangannya terus kebawah payudaraku dan terus hingga akhirnya menyentuh permukaan vaginaku. Tak lama kemudian kurasakan penis Rico tenggelam di dalam vaginaku setelah susah payah karena vaginaku yang sempit.

    Uuuh,,,aarggh,,,, ku rasakan nyeri yang sangat hingga menangis.
    Sakit ya, sayang sabar, ya.. Ntar juga hilang kok Rico menenangkanku, sambil mencium mataku yang mengeluarkan air mata. Setelah kurasakan vaginaku mulai terbiasa dengan kehadiran penis Rico, Rico kemudian menggerakkan penisnya perlahan, keluarmasuk vaginaku. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan membuatku mendesah nikmat.

    Makin lama makin cepat, kembali aku hilang dalam orgasmenya yang kuat dan panjang. Tapi Rico yang tampaknya nyaris tidak dapat bertahan, semakin mempercepat gerakannya. Aku yang baru saja orgasme merasakan vaginaku yang sudah terlalu sensitif berkontraksi lagi..

    Sayaang,, aku sudah mau keluar, dikeluarin di mana? tanya sambil terengahengah.
    Di dalam saja, mass,, Toh, aku juga dalam masa tidak subur. jadi buat apa dikeluarin di luar, pikirku.

    Tak lama kemudian aku segera mengalami orgasme bersamaan dengan Rico. Ku rasakan semburan di dalam liang vaginaku yang memberikan kenikmatan tiada tara.

    Rico kemudian merebahkan diri di sampingku dan memeluk erat tubuhku. Tubuh mungilku segera tenggelam dalam pelukannya. Tangan Rico dengan lembut membelai rambut panjangku, Anggi sayang Selamanya kita bersama ya, sayang. dan ciuman lembut, romantis mendarat di bibirku.

    Iya, mas.. ku cium bibirnya lambat tapi sesaat. kemudian ku rapatkan badanku ke badannya. Ku lihat jam di kamar menunjukkan pukul 01.00, mataku pun sudah lelah dan kami pun tidur dengan pulas.

    Pagi menjelang, sinar matahari masuk ke dalam kamar melalu jendela dan membangunkanku. Ada sedikit rasa terkejut melihat wajah Rico karena baru pertama aku tidur dengan lakilaki. Tapi teringat kejadian semalam membuatku kembali terangsang. Perlahan, ku cium bibi Rico yang sedikit terbuka. Ternyata ciumanku membangunkan Rico yang kemudian membalas ciumanku dengan lebih bergairah dan menggigit telingaku.

    Selamat pagi sayangku, cintaku,, ucapnya.
    Pagi,,, ku cium lagi bibirnya dan tak lama kami pun saling mengulum bibir satu sama lai, dan memainkan lidah, menambah kenikmatan di pagi hari. Karena ingin sedikit iseng, ku lepas ciumanku

    Aku mandi dulu, ya belum sempat aku berdiri, baru duduk, Rico menarik perutku, menciuminya dengan lembut. Membuatku menahan keinginan untuk meninggalkan tempat tidur. Nanti saja sayang.. Perlahan ciuman Rico dari perut naik menuju leherku, menjilatinya, membuatku mendesah nikamat, aahh..mmm..


    Rico menjilati leherku dari belakang. Tangan kanannya meremasremas payudaraku dan tangan kirinya menekan vaginaku. Ku rasakan jarinya masuk menyusuri liang vaginaku, memainkan klitorisku. Tak lama badanku pun menggeliat, pinggulku terangkat, dan orgasme pertama pagi itu datang.

    Dengan lembut Rico memangkuku. Diletakannya aku di atas kedua pahanya. Kakiku melingkar di punggungnya. Kami pun berciuman dan Rico perlahan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Rico kemudian memompa penisnya, membuatku menggelinjang penuh nikmat. Sambil memainkan penisnya, Rico menikmati kedua payudaraku yang mengeras.

    aaah,,aah,,aahh,, semakin lama, semakin cepat, dan aku merasakan vaginaku kembali berkontraksi. Ku peluk kepala Rico dengan erat dan aku mengerang karena orgasme Aaaaaaahhhh. yang disusul dengan Rico yang juga mencapai puncaknya. Setelah itu kami bercumbu lagi beberapa saat kemudian baru mandi dan pulang ke kota meninggalkan seprei kamar yang basah karena cairanku dan Rico serta bercak darah pertanda hilangnya keperawananku.

    Sebelum memulangkanku ke kos, kami mampir ke kos Rico untuk bercinta lagi. Sejak saat itu, setiap akhir minggu jika tidak ada kesibukan kami pasti check in di hotel untuk bercinta.

  • Step Mothers ultimate threesome fuck

    Step Mothers ultimate threesome fuck


    2248 views

  • Cerita Sex Berhubungan Intim Nikmat Seolah-olah Meletus

    Cerita Sex Berhubungan Intim Nikmat Seolah-olah Meletus


    6117 views

    Mereka berbicara dengan suara keras dan suara tinggi seolah tengah memperdebatkan suatu hal.sebuah hal. Saya tidak ingin ikut serta dengan perbincangan mereka. Toh saya pun tidak tahu ujung pangkalnya. Sesudah dilerai oleh Satpam, wanita yang hadirnya terakhir pada akhirnya pergi dengan tetap membentak-bentak wanita pertama dalam bahasa Sunda.

    Foto Bokep Barat – Saya yang cuma sedikit tahu bahasa Sunda masih tidak dapat seutuhnya tangkap apa yang terjadi di dekatku. Saya mulai tertarik dan memerhatikan mereka. Wanita pertama barusan cuma diam saja, walaupun raut wajahnya memperlihatkan kekecewaan. Kudekati dan kutanya,

    “Mengapa Teh, maaf keliatannya kembali berantem. Apa sich permasalahannya?”

    “Tidak papah kok. Ia mendakwaku ada jalinan dengan suaminya. Walau sebenarnya saya terkait dengan suaminya cuma hanya masalah tugas,” ucapnya. “Ya telah, teteh keliatannya tetap kecewa. Minum es dahulu yok agar tenang,” kuajak ia untuk duduk minum di cafe yang terdapat banyak di situ.

    Kami pesan es buah. Kutawarkan untuk makan tetapi ia menampiknya.

    “Terima kasih Aa. Saya teh sudah tidak ada selera makan dan lagian tetap kenyang,” ucapnya lembut. Aku juga maklum. Mungkin sesudah berkelahi barusan walaupun perut lapar menjadi tidak ada nafsu makan. Sesudah order kami tiba, dia mengeduk gelasnya pelan-pelan dengan sendoknya.

    “Telah tenang sekarang ini. Jika bisa tahu, apa sich permasalahan sebetulnya?” tanyaku.
    “Saya memang akhir-akhir ini kerap jalan dengan suaminya untuk masalah tugas. Eh si dia cemburu saat bertemu kami di Cibinong,” jawabannya.
    “Kan dapat dijelasin ama suaminya?”

    “Telah, tetapi ia tidak terima. Disebut saya gatel, wanita murahan dan lain-lainnya. Dibanding saya ladenin, kelak menjadi semakin ramai saya tinggal pulang saja ke kantor. Eh ia belum senang dan telepon ke kantor. Ucapnya tungguin malam nanti di Wartel sini supaya bisa usai. Sampai di sinipun saya tetap dimaki-maki. Untung dilerai sama Satpam”.

    Pada akhirnya saya tahu ia namanya Titin dan bekerja sebagai supervisor produksi di salah satunya pabrik tekstil yang terdapat banyak disekitaran Cibinong. Tempat tinggalnya disekitaran Biotrop. Suaminya minggat sama perempuan lain enam bulan kemarin.

    Jadi statusnya saat ini menggantung. Janda tidak, bersuamipun tidak . Ia belum mempunyai anak. Janda kembang menggantung, pikirku. Tubuhnya ramping condong kurus, kulitnya bersih dengan dada membusung dibalik seragamnya. Ada keelokan tertentu menyaksikan seorang wanita dalam baju seragam. Eksotik.

    Entahlah mengapa jika bertemu wanita sering statusnya janda. Tetapi sebetulnya aku juga tidak ingin menghancurkan keperawanan seorang gadis. Buatku beban beratnya. Lebih santai dengan janda atau gadis yang tidak perawan. Tak perlu mengajarkan .

    “Saya ingin pulang , tetapi pikiranku jemu. Dibawa tidurpun tentu tidak mau,” ucapnya kembali.
    “Jika begitu kita jalan ke Pucuk saja yok. Menentramkan pikiran,” ajakku.
    “Bisa, tetapi jangan kemalaman ya!”
    “Tidak, kan rumahmu tidak terlampau jauh ke Pucuk”.

    Saya mulai berpikiran, tentu kami tidak akan kemalaman, paling-paling kepagian. Kamipun selekasnya habiskan minuman dan selekasnya pergi ke Pucuk. Sampai di wilayah Cibogo, dia meminta turun dan ajak jalan kaki telusuri jalan raya.

    Beberapa GM yang menangkap mangsa tawarkan pemondokan pada kami. Saya cuma melihat Titin dan rupanya ia cuek saja dengan penawaran GM barusan. Dinginnya udara Pucuk mulai berasa. Dia mulai kedinginan dan mendekapkan ke-2 tangannya di dadanya.

    “Dingin?” tanyaku.

    Titin cuma menggangguk saja. Sekalian jalan kulingkarkan tangan kiriku pada pundak kirinya. Dia menggeliat sedikit, kelihatannya menampik dekapanku. Tetapi tanganku masih tetap didiamkan di pundaknya. Bahkan juga tangan kanannya melingkar di pinggangku dan mencubitku. Saya gerakkan pinggulku sedikit kegelian. Sampai di muka sebuah wisma kami stop.

    “Masuk yok!” ajakku.

    “Ingin ngapain. Ucapnya tidak sampai malam,” jawabannya. Ada suara kebimbangan atau mungkin saja kepura-puraan. “Ngapain saja terserah kita donk. Lagian jika 2 orang berlainan tipe masuk ke dalam hotel ngapain?” pancingku. “Tidur saja. Kamu merem, saya merem. Aman kan,” ucapnya.

    “Tidak mau. Jika kamu merem saya terbuka, kebalikannya jika kamu terbuka saya yang merem, agar ada yang menjaga,” kataku melemparkan umpan makin dalam.
    “Mari. Tetapi kamu janji jangan beberapa macam. Awas kelak,” ucapnya mengancamku.

    Dari suaranya umpanku telah termakan. Tinggal ulur tarik tali saja supaya ikannya tidak lepas. Kami masuk ke kamar. Kuperiksa sesaat kelengkapannya. Janganlah sampai kembali tanggung room boy tiba antara kekurangannya. Saya meminta air putih untuk dalam kamar.

    Walaupun udara dingin, saya percaya kelak tentu perlu minum. Titin masuk ke kamar mandi dan sesaat selanjutnya kedengar suara air yang keluar capitan pintu gua. Wsshh dan tidak lama suara siraman air. Saya keluar kamar, berdiri di teras kamar sekalian menyaksikan situasi.

    Sepi, karena memanglah bukan week end. Saya masuk kembali ke kamar. Kebenaran Titin juga keluar kamar mandi. Pintu keluar dan pintu kamar mandi bersisihan tempatnya. Kupandangi muka Titin, kupegang tangannya dan dengan sekali tarikan dia telah ada pada dekapanku. Dia sedikit meronta, tetapi rasanya cuma penampikan berpura-pura.

    “Jangan.. Jangan!”

    Jika memang ia tidak ingin, tentu kami berdua tidak sampai ke kamar ini. Kucium bibirnya yang tipis. Lemas sekali bibirnya hingga berasa kepuasan mulai menyebar, walaupun dia belum balas kecupanku. Kulepaskan kembali kecupanku dan kutatap matanya.

    “Saya minta.. Jangan.. Jangan. Jangan di sini sayang!” Dia akhiri ucapannya dengan menggempur bibir dan mukaku selanjutnya menarikku ke tempat tidur.
    “To, saya merasa kesepian dan kedinginan. Kamu ingin beri kehangatan?”

    Rasanya kebalik pertanyaan tersebut. Harusnya saya yang bertanya apa ia ingin bercinta denganku.

    “Tentu. Kita akan sama senang malam hari ini”.
    “Terima kasih To. Saya.. Saya..”.

    Sekalian berbicara demikian dia segera mencium bibirku. Aku juga langsung membalasnya kecupannya. Bibir kami sama-sama berpagut, lidah kami sama-sama menggerakkan dan menjepit sama-sama sedot. Lumayan lama kami menikmatinya. Bibirnya memang sungguh sangat terasa lemas hingga dapat kupermainkan dan kuputar-putar dengan mulutku.

    “Mari puaskan saya sayang.. Ah. Ah.” suaranya cuma mendesis saat kecupanku beralih turun ke leher dan daun telinganya.

    Tangan kiriku mulai menyebar di pahanya. Kusingkapkan roknya, betul-betul mulus sekali pahanya. Kuremas-remas sampai ke pangkal pahanya. Saat sampai di celana dalamnya, kutekankan jemari tengahku ke belahan di tengah-tengah selangkangannya dan ku gesek-gesekkan.

    “Ah sayang. Kamu nakal sekali”.

    Saya tidak mempedulikannya. Sementara itu tangan kananku meremas lembut buah dadanya di luar. Tangannya juga tidak ingin ketinggal menggenggam bahkan juga mencekram keras kejantananku di luar. Berasa sakit tetapi saya bisa menikmatinya.

    “Kita tidak kemalaman saat ini, tetapi kepagian,” bisikku memikatnya.
    “Biarin saja, saya esok shift siang jam 3″.

    Dengan garangnya saya menciuminya, seperti satu ekor kucing yang menyantap dendeng. Tangannya mengarah ke bawah dan langsung ke bawah. Dia buka kancing bajuku dan melepaskannya. Sekarang tiap jengkal badanku sisi atas tidak lepas dari kecupannya. Selanjutnya dia buka resleting celanaku dan secara langsung mencekram penisku.

    “Anto, punyai kamu bisa . Tidak terlalu besar tetapi keras sekali. Adakah wanita lain yang dulu pernah merasainya?”

    Pertanyaan itu kembali. Mengapa tiap wanita ingin tahu apa pria yang dikencaninya sebelumnya pernah tidur sama wanita lain.

    “Ada, saya bukan perjaka kembali,” jawabku tenang, yang terpenting ialah apa yang terjadi saat ini. Dan kembali keliatannya dia sekedar hanya menanyakan tanpa memedulikan jawabanku.

    Belum usai kata-kataku, dia sudah mengocak dan terkadang meremas kejantananku. Pandai sekali dia mainkan adik kecilku. Beberapa saat selanjutnya tegangan pada kejantananku telah optimal. Tiang bendera telah tegak berdiri, siap untuk melakukan apel malam. Kudorong badannya ke tempat tidur dan aku juga langsung menangkap badannya.

    “Sabar sayang, membuka pakaiannya dahulu dong.”

    Kamipun buka baju kami masing-masing. Sesudah telanjang bundar, langsung kubaringkan dia. Kuciumi senti untuk senti badan mulusnya. Di atas ke bawah sampai ke paha dalamnya. Kurenggangkan ke-2 pahanya. Tercium wewangian ciri khas yang dimiliki seorang wanita. Kurenggangkan labia mayora dan labia minoranya dengan jempol dan telunjukku.

    “Mari sayang.. Puaskan.. Saya.. Ya.. Ohh. Oohh.” Ucapannya terus meracau, apalagi saat saya menyantap habis biji kacangnya dengan mulutku, terkadang kusedot, kuhisap, dan kugigit secara halus.
    “Ah.. Ennak ssayang.. Kamu ppinnttarr. Ohh.. Oohh”

    Saya tidak memedulikan ucapannya. Saya semakin asyik dengan bermainanku. Kulepaskan mulutku dan kutindih ia. Kumasukkan jemari tengah kiriku ke lubang perlahan-lahan tempat. Badannya meronta-ronta mirip orang kesetanan, ke-2 payudaranya bergoyang kuat.

    Aku juga raih payudaranya tersebut. Dengan tangan kananku, kupelintir puting susunya yang samping kiri dan mulutku sekarang menggigit lembut puting kanannya. Sementara jemari kiriku masih tetap mengocak lubang vaginanya. Makin cepat kocokanku, makin cepat juga dia meronta.

    Kuhentikan permainan tanganku dan kuarahkan kejantananku untuk masuk lubang kepuasannya. Tanpa kesusahan saya selekasnya tembus guanya. Berasa basah dan hangat. Kugerakkan pinggulku dan dia membalasnya dengan putar pinggulnya dan menaik turunkan bokongnya menyeimbangiku. Satu kakinya menjepit pahaku dan kaki yang lain dibuka lebar dan disandar ke dinding kamar. Kuciumi leher dan dadanya. Seringkali kugigit kecil kulit dadanya sampai tinggalkan sisa kemerahan.

    “Ciumi leher dan bahuku! Saya benar-benar terangsang jika di cium di sana,” rintihnya.

    Ku ikuti tekadnya dan hingga kemudian dia menggeliat luar biasa, ke-2 tangannya mencekram keras kepalaku. Pinggulnya naik jemput kejantananku. Kutekankan kejantananku dalam-dalam dan pada akhirnya dia capai orgasmenya. Dia terkulai lemas. Ditekan-tekannya bokongku ke bawah dengan tangannya.

    Selanjutnya saya turun dari badannya dan biarkan istirahat sesaat. Sesudah napasnya sembuh dia naik ke atas badanku dan memulai mencium bibir, leher dan telingaku. Mulutku mengisap ke-2 payudaranya. Kadangkala kugigit putingnya berganti-gantian. Dia cuma mengeluhkan rasakan enaknya. Beberapa saat selanjutnya dia telah terangsang kembali.

    “Mari sayang. Saya siap memberikan kepuasanmu di set ke-2 ..”
    “Kita kerjakan secara berdiri,” kataku berbisik di telinganya. Dia cuma tersenyum dan menggangguk.

    Kuangkat badannya berdiri dari sisi tempat tidur. Kami masih sama-sama berciuman dengan garang. Dia selanjutnya mengusung kaki kirinya ke atas tempat tidur, kudorong sedikit sampai dia minim ke dinding kamar. Tangannya menuntun meriamku masuk guanya. Bokongnya sedikit disorongkan di depan dan perlahan-lahan tempat meriamku masuk, sampai..

    Blesshh..

    Semua sudah tenggelam dalam guanya. Oh hangatnya.

    “Mari sayang, goyang.. Sayang ohh.. Ohh”

    Ke-2 tangannya menggenggam bokongku dan menolong pergerakan pinggulku mundur-maju. Rasanya sangat nikmat bercinta sekalian berdiri. Tubuhnya dia lengkungkan ke belakang hingga meriamku dengan bebas menobrak-abrik guanya. Pinggangnya bergerak menyeimbangi pergerakanku. Mulutku masih tetap beraktivitas pada bagian atas badannya. Terkadang berciuman, terkadang mengisap dan mengulum putingnya. Lumayan lama saya mengocaknya, pada akhirnya kupercepat kocokanku saat kurasakan lahar panas akan keluar.

    “Tin, oh.. Saya ingin keluar. Di keluarin di mana nih ohh. Oohh”.
    “Nantikan sesaat. Saya ingin keluar, ohh. Ooohh sama ya sayang.. Ohh.. Dalam saja tidak apapun. Ohh berbarengan yah.”

    Pada akhirnya kutumpahkan spermaku dalam guanya. Saya capai klimaks lebih dulu. Titin tidak dapat capai klimaks yang ke-2 walaupun dia tetap berusaha gerakkan bokongnya mundur-maju karena meriamku telah perlahan-lahan melemas dan pada akhirnya lepas sendiri dari dalam guanya.

    Kami rebah bersebelahan di tempat tidur. Dia merengkuhku dan menciumku. Kuakui wanita satu ini hebat. Tidak dengan tiap orang saya bisa melakukan secara berdiri. Saya telah mencoba. Tetapi dengan Titin walaupun ia lebih pendek dariku rupanya saya dapat melakukan.

    “Sorry Tin. Saya tidak tahan kembali. Kelak kita mulai akan kembali dengan rileks dan sama-sama menanti hingga dapat capai klimaks bersama. Terima kasih ya sayang. Kamu betul-betul luar biasa.”
    “Tidak apapun. Saya dapat lebih dulu. Kamu luar biasa. Malam hari ini masih panjang. Kita tak perlu tidur sampai pagi agar dahagaku terpenuhi”.

    Pada akhirnya tersisa malam kami lewati secara berangkulan. Dia tersenyum selanjutnya menciumku dan merebahkan kepalanya di dadaku. Malam itu kami tetap melakukan kembali 3x sampai pagi. Sekali kami kerjakan di lantai beralas selimut. Rupanya saat main di lantai kami dapat rasakan nikmat yang hebat.

    Nafsu kami seolah-olah meletus sampai semua tubuh berasa sakit dan nyeri. Tapi sesudah mandi pagi nafsuku berpijar lagi dan saya sempat satu kali lagi bergumul dengannya. Kami pulang dengan bawa kepuasan dan rasa capek yang hebat. Sepanjang hari kuhabiskan dengan malas-malasan.

    Bahkan juga saya tidak sebelumnya sempat makan siang. Kemudian saya sempat dalam dua tatap muka rasakan kehebatannya bercinta dalam posisi berdiri. Pada akhirnya ia berpindah kost dan saya kehilangan tapak jejak.

     

  • Video Bokep Asia Yui Nishikawa malu malu ngentot bertiga

    Video Bokep Asia Yui Nishikawa malu malu ngentot bertiga


    2736 views