Author: dbgoog99

  • Foto Bugil gadis cantik diatas gunung pmaer pantat bahenol

    Foto Bugil gadis cantik diatas gunung pmaer pantat bahenol


    2048 views

    Duniabola99.com – foto gadis manis pirang pakai bikini meleaspkannya saat diatas bukit dengan pemandangan laut yang indah memamerkan toketnya yang bagus dan juga memeknya yang berwana pink sanggat bergairah dan merangsang.

  • Asian Amateur Bimbo Goes Wild In Full Hardcore

    Asian Amateur Bimbo Goes Wild In Full Hardcore


    1958 views

  • Amateur Airi Sasaki Gets Fucked And Stimulated

    Amateur Airi Sasaki Gets Fucked And Stimulated


    1963 views

  • Video Bokep Eropa adik melihat ibu tiri lagi ngocok kontolku

    Video Bokep Eropa adik melihat ibu tiri lagi ngocok kontolku


    2642 views

  • Cerita Sex Orgasme

    Cerita Sex Orgasme


    2844 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Orgasme ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita Sex – Pengalaman ini terjadi 7 tahun yang lalu aku mempunyai banayk cerita seksku dimana kali ini aku akan ceritakan satu persatu, saat ini aku berusia 39 tahun dan aku bekerja di kota Kalimantan aku sudah menikah sajak 17 tahun yang lalu dimana umurku masih 22 tahun sekarng sudah mempunyai 2 orang anak.

    Dulu sehabis kuliah selesai aku pernah bekerja di perusahaan swasta, karena tuntunan pekerjaan aku diharuskan berpindah pindah kota. Pada saat itu istri dan anakku tidak ikut serta karena istriku harus bekerja dan terikat kontrak kerja yg tidak memperkenankannnya mengundurkan diri atau bermohon pindah sebelum 5 tahun masa kerjanya.

    Sehingga jadilah aku sendiri di sana dan tinggal di salah satu rumah orang tuaku yg mereka beli untuk investasi. Krn kebutulan aku pindah ke sana maka aku tinggal sendiri.

    Rumah tersebut berada di kompleks perumahan yg cukup luas namun cenderung sepi krn kebanyakan hanya menjadi tempat investasi alternatif saja, dan kalau ada yg tinggal adalah para pendatang yg mengontrak rumah di sana. Jadi lingkungan relatif apatis di sana.

    Pada beberapa kesempatan aku kadang-kadang berkunjung ke tempat nenekku yg tinggal di suatu kabupaten (sekitar 4 jam dari kota tempat aku tinggal sekarang) utk sekedar silaturahmi dengan famili di sana.

    Pada salah satu kunjungan saya ke sana, saya sempat bertemu dengan salah seorang yg dalam hubungan kekerabatan bisa disebut nenekku juga di rumah salah satu famili, sebetulnya bukan nenek langsung.

    Persisnya ia adalah adik bungsu dari istri adik kakekku (susah ya ngurutnya). Usianya lebih tua sekitar 8-9 tahunan dariku. Profil mukanya seperti Yati Octavia (tentu Yati Octavia betulan lebih cantik), dengan kulit cenderung agak gelap, dan badannya sekarang sedikit agak gemuk.

    Walaupun terhitung nenekku, ia biasanya saya panggil bibi saja krn usianya ia risih dipanggil nenek. Pertemuan tsb sebetulnya biasa saja, tapi sebetulnya ada beberapa hal yg sedikit spesial terkait pertemuan tersebut.

    Cerita Sex Orgasme Pertama, saya baru tau kalau suaminya baru meninggal sekitar 1 tahunan yg lalu. Ia yg berstatus honorer di sebuah instansi pemerintah sedikit mengeluhkan kondisi kehidupannya (untung ia hidup di kota kabupaten yg kecil) dengan 2 anak perempuannya yg berusia 12 dan 8 tahun.

    Saat itu aku bilang akan mencoba utk membantu memperbaiki status honorernya dgn mencoba menghubungi beberapa relasi/kolegaku. Hal spesial yg lain adalah sedikit pengalamanku di masa lalu dgn dia yg sebetulnya agak memalukan bila diingat (saat itu saya berharap ia lupa).

    Wkt saya masih di bangku SMA, ia dan kadang bersama famili yg lain sering berkunjung ke rumahku krn ia pernah kuliah di kota kelahiranku namun kost di tempat lain. Ia kadang2 menginap di rumahku.

    Pada waktu ia nginap dengan beberapa famili yg lain, aku sering ngintip mereka mandi dan tidur. Sialnya sekali waktu, saat malam2 aku menyelinap ke kamarnya (di rumahku kamar tidur jarang di kunci), dan menyingkap kelambunya (dulu kelambu masih sering digunakan).

    Saya menikmati pemandangan di mana ia tidur telentang dan dasternya tersingkap sampai keliatan celana dalam dan sedikit perutnya. Saat itu saya mencoba mengusap tumpukan vaginanya yg terbungkus celana dalam dan pahanya.

    Setelah beberapa kali usapan ia tiba2 terbangun dan saya pun cepat2 menyingkir keluar kamar. Sepertinya ia sempat melihat saya, hanya saja ia tidak berteriak. Hari2 berikutnya saya selalu merasa risih bertemu dia, namun iapun bersikap seolah2 tdk terjadi apa2.

    Sejak saat itu saya tdk pernah coba2 lagi ngintip ia mandi dan tidur. Hal itu akhirnya seperti terlupakan setelah saya kuliah ke Jawa, ia menikah dan sayapun akhirnya menikah juga. Inilah pertemuan saya yg pertama sejak saya kuliah meninggalkan kota kelahiran saya.

    Beberapa wkt kemudian pada beberapa instansi ada program perekrutan pegawai termasuk yg eks honorer termasuk pada instansi nenek mudaku tersebut.

    Pada suatu pembicaraan seperti yg pernah saya singgung sebelumnya, nenek mudaku tersebut sempat minta tolong agar ia bisa diangkat sbg pegawai tetap dan akupun kasak-kusuk menemui kenalanku agar nenek mudaku tersebut dapat dialihkan status honorernya menjadi pegawai.

    Aku beberapa kali menelpon nenek mudaku tersebut untuk meminta beberapa data dan dokumen yg diperlukan. Entah karena bantuan kenalanku atau bukan, akhirnya ia dinyatakan diterima sebagai pegawai. Nenek mudaku itu beberapa kali menelponku utk mengucapkan terima kasih, dan aku yg saat itu memang tulus membantunya juga ikut merasa senang.

    Beberapa bulan kemudian aku mendapat telpon lagi dari nenek mudaku tersebut yang mengabarkan bhw ia akan ke kota tempatku bertugas karena ia harus mengikuti pelatihan terkait dengan pengangkatannya sebagai pegawai di salah satu balai pelatihan yang tempatnya relatif dekat dengan rumahku. Waktu itu ia menginformasikan akan menginap di balai pelatihan tersebut namun akan berkunjung ke rumahku juga.

    Pada suatu hari Sabtu sore ia tiba di rumahku dengan membawa koper dan oleh2 berupa penganan khas daerahnya tinggal dan buah2an. Ia mengatakan hari pelatihannya dimulai hari Senin namun ia takut terlambat dan akan segera ke balai pelatihan tersebut malamnya.

    Aku tawarkan untuk istirahat dulu dan menginap satu malam. Namun karena kekahwatiran tersebut ia menolak untuk menginap dan hanya beristirahat saja. Maka ia kutunjukkan kamar tidur yang ada di samping kamar tidurku utk istirahat sejenak.

    Tidak ada kejadian apa2 sampai saat itu, dan pada malam harinya ia kuantar ke balai latihan. Namun di balai latihan tersebut suasananya masih sepi dan baru 3 orang yang melapor itupun masih keluar jalan2.

    Melihat keraguan untuk masuk ke balai latihan tersebut kembali aku tawarkan untuk menginap di rumah dulu dan nanti Senin pagi baru kembali. Ia langsung menerima tawaranku sambil menambahkan komentar bahwa ia dengar balai pelatihan tersebut agak angker.

    Malam minggu ia menginap dan tidak ada kejadian yg spesial kecuali kami mengobrol sampai malam dan ia menyiapkan makanan/minumanku. Sampai saat itu belum terlintas apa2 dalam pikiranku. Namun ketika ia selesai mencuci piring dan melintas di depanku yaitu antara aku dan televisi yg sedang aku tonton ia berhenti untuk melihat acara televisi sejenak.

    Saat itu aku melihat silhuote tubuhnya di balik daster katunnya yang agak tipis diterobos cahaya monitor televisi. Saat itulah pikiranku mulai mengkhayalkan yang tidak2. Maklum aku jauh dari istri dan kalau ngesekspun dengan orang lain juga kadang2 (aku pernah ngeseks dengan PSK yg agak elit dan beberapa mahasiswi tapi frekuensinya jarang krn biaya tinggi).

    Cerita Sex Orgasme Saat itu ia saya suruh duduk dekat saya utk nonton TV bersama2. Kami pun ngobrol ngalor ngidul sampai malam dan ia pun pamit utk tidur.

    Malam Seninnya juga tidak terjadi apa2 kecuali saat ngobrol sudah mulai bersifat pribadi tentang masalah-masalahnya seperti anaknya yg perlu uang sekolah dan lainnya. Aku katakan bahwa aku akan bantu sedikit keuangannya dan iapun berterima kasih berkali2 dan mengatakan sangat berhutang budi padaku.

    Senin paginya ia kuantar ke balai pelatihan tersebut dan dengan membawakan kopernya saya ikut masuk ke kamarnya yang mestinya bisa untuk 6 orang. Dengan menginapnya ia di sana, maka buyarlah angan2 erotisku pd dirinya dan akupun terus ke kantorku utk kerja seperti biasa.

    Namun pada sore hari aku menerima telpon yang ternyata dari nenek mudaku tersebut. Ia mengatakan bahwa agak ragu2 menginap di balai pelatihan tersebut krn ternyata semua teman2 perempuannya tidak menginap di situ, tapi di rumah familinya masing2 yg ada di kota ini sehingga di kamar yg cukup utk 6 orang itu ia tinggal sendiri kecuali jam istirahat siang baru beberapa rekan perempuannya ikut istirahat di situ.

    Dgn bersemangat aku menawarkan ia menginap di rumah lagi sambil melontarkan kekhawatiranku kalau ia sendiri di situ (sekedar akting). Ia terima tawaranku dan aku berjanji akan menjemput dia sepulang kantor.

    Akhirnya iapun menginap di rumahku dan rencananya akan sampai sebulan sampai pelatihan selesai. Angan2ku kembali melambung namun aku masih tdk berani apa2 mengingat penampilannya yg sdh sangat keibuan, kedudukannya dalam kekerabatan kami yg terhitung nenek saya, dan sehari2nya kalau keluar rumah pakai kerudung (tapi bukan jilbab).

    Aku betul2 memeras otak namun tdk pernah ketemu bagaimana cara bisa menyetubuhinya tanpa ada resiko penolakan. Aku sedikit melakukan pendekatan yg halus. Sekedar utk memberi perhatian dan sedikit akal bulus sempat aku belikan ia baju dan daster.

    Utk daster aku pilihkan ia yg cenderung tipis dan model you can see. Hampir setiap malam ia aku ajak keluar makan malam atau belanja (walupun pernah ia sekali menolak dgn alasan capek). Kalau ada kesempatan aku kadang2 mendempetkan badanku ke badannya bila lagi jalan kaki bersama atau duduk makan berdua di rumah makan.

    Aku juga sering keluar kamar mandi (kamar mandi di rumahku ada di luar kamar tidur) dgn hanya melilitkan handuk di badan. Selain itu aku juga kadang menyapa dan memujinyaa sambil memegang salah satu atau kedua pundaknya bila ia memasak sarapan pagi di dapur.

    Dari semua itu saya belum bisa menangkap apakah responnya positif terhadap aku. Dan setelah hampir 1 minggu, yaitu pada hari Sabtu pagi iapun pamit pulang ke kotanya untuk menengok anaknya yg agak sakit dan akan kembali minggu malamnya. Iapun pulang dan aku yg sendirian di rumah akhirnya juga keluar kota ke kota kelahiranku yg jaraknya cuma 1 jam dr kota tinggalku utk main2 dgn teman2 masa SMAku serta silaturahmi ke rumah orang tuaku.

    Saat bertemu teman2 lamaku aku agak banyak minum bir dan waktu tidurku agak kurang. Sore menjelang Maghirib akupun pulang ke kota di mana aku tinggal, terlintas sebuah rencana utk menggauli nenek mudaku yg saya perkirakan akan lebih duluan sampai di rumahku (ia kukasihkan kunci duplikat rumah utk antisipasi seandainya aku tdk ada dirumah bila ia datang).

    Sayapun sampai di rumah dan memang benar ia sudah ada di rumah. Ia bertanya kepadaku kenapa aku pucat dan keringatan dan saat ia pegang dahi dan tanganku ia bilang agak hangat (mugkin krn pengaruh begadang).

    Cerita Sex Orgasme Aku hanya berkomentar bhw aku mau cerita tapi tdk enak dan minta agar malam ini makan malam di rumah saja krn aku tdk enak badan. Ia tdk keberatan dan tanya aku mau makan apa, aku bilang aku cuma mau makan indomie telur dan iapun setuju. Seperti kebiasaannya ia selalu buatkan aku kopi dan teh utk dirinya, tak terkecuali malam itu. Markas Judi Online Dominoqq

    Melihat aku masih pucat ia menawarkan obat flu tapi aku bilang aku tdk flu dan tdk bisa cerita sambil pergi dengan pura2 sempoyongan ke kamarku dan bilang aku mau istirahat. Aku masuk kamar dan membuka baju dan berbaring di tempat tidur dgn hanya pakai celana pendek.

    Iapun menyusulku ke kamarku dan dgn iba bertanya kenapa dan apa yg bisa ia bantu. Dalam hatiku aku mulai tersenyum dan mulai melihat suatu peluang.

    Ia bahkan menawarkan utk memijat atau mengerik punggungku, tapi aku mau langsung ke sasaran saja dengan mempersiapkan sebuah cerita rekayasa.

    Akhirnya aku menatap ia dan menanyakan apakah ia mau tau kenapa aku begini dan mau menolong saya. Ia segera menjawab bahwa ia akan senang sekali bisa menolong saya krn saya sudah banyak membantunya.

    Iapun kusuruh duduk di tempat tidur dan dengan memasang mimik serius dan memelas sambil memegang salah satu tangannya akupun bercerita. Aku karang cerita bhw aku baru saja kumpul2 sama teman2ku waktu ke luar kota tadi sore.

    Terus ada salah satu temanku yg bawa obat perangsang yg aku kira adalah obat suplemen penyegar badan. Karena tdk tau, obat itu aku minum dan skrg efeknya jadi begini di mana aku kepingin ML dgn perempuan.

    Aku karang cerita bhw bila tdk tersalur itu akan membahayakan kesehatanku sementara istriku tdk ada di sini. Aku juga mengarang cerita bhw aku sudah mengupayakan onani tapi tdk berhasil dan tdk mungkin aku mencari PSK krn tdk biasa. Aku katakan bhw dgn terpaksa dan berat hati aku mengajak ia bersedia utk ML denganku utk kepentingan kesehatanku.

    Mendengar ceritaku ia terdiam dan menundukkan wajahnya, tapi salah satu tangannya tetap kupegang sambil kubelai dengan lembut.

    Melihat itu, aku lanjutkan dgn berkata bhw kalau ia tdk bersedia agar tdk usah memaksakan diri dan aku mohon maaf dgn sikapku krn ini pengaruh obat perangsang yg terminum olehku.

    Selain itu kusampaikan bahwa biarlah kutanggung akibat kesalahan minum obat tersebut dan aku katakan lagi bhw aku sadar kalau permintaanku itu tdk pantas tapi aku tdk bisa melihat jalan keluar lain sambil minta ia memikirkan solusi selain yg kutawarkan.

    Ia tetap diam, namun kurasakan bhw nafasnya mulai memburu dan dengan lirih ia berkata apa aku benar2 mau ML sama dia padahal ia merasa ia sudah agak tua, tdk terlalu cantik, agak sedikit gemuk dan berasal dari kampung.

    Aku jawab bahwa ia masih menarik, namun yg penting aku harus menyalurkan hasratku. Ia diam lagi dan aku duduk dikasur sambil tanganku merangkul dan membelai pundaknya yg terbuka karena dasternya model you can see.

    Kulitnya terasa masih halus dan sedikit kuremas pundaknya yg agak lunak dagingnya. Mukanya pucat dan bersemu merah berganti2, ia juga terlihat gelisah.

    Sedikit lama situasi seperti itu terjadi tapi aku tdk tau entah berapa lama, sampai aku mengulang pertanyaanku kembali (walaupun aku sudah yakin ia tdk akan menolak) dan akhirnya ada suara pelan dan lirih dari mulutnya.

    Aku tdk tau apa yg ia katakan tapi instingku mengatakan itu tanda persetujuan dan dengan pelan aku dekatkan mukaku ke wajahnya. Mula2 aku cium dahinya, setelah itu mulutku menuju pipinya. Ia hanya memejamkan mata, namun gerakan wajahnya yg sedikit maju sudah menjadi isyarat bhw ia tdk keberatan.

    Sedikit lama aku mencium kedua pipinya dan aku sejenak mencium hidungnya (di situ kurasakan desah nafasnya agak memburu) lalu akhirnya aku mencium bibirnya yg sudah agak terbuka sejak tadi. Sambil melakukan itu kedua tanganku juga beraksi dengan halus.

    Tangan kananku merangkulnya melewati belakang kepalanya kadang di bahu kanannya dan kadang di tengkuknya di belakang rambutnya yg terurai. Sedang tangan kiriku merangkul punggungnya dan mengusap paha kanannya secara bergantian.

    Ciuman bibir mulai kuintensifkan dengan memasukan lidahku ke mulutnya. Ia gelagapan namun tangan kananku memegang tengkuknya untuk meredam gerakan kepalanya. Ternyata ia tidak biasa dicium dgn memasukan lidah ke mulut yg kelak baru saya ketahui belakangan.

    Tangan kiriku terus bergerilya, aku menarik bagian bawah dasternya yg ia duduki agar tangan kiriku bisa masuk ke sela2 antara daster dan punggungnya. Berhasil, tanganku mengusap punggungnya yg halus namun masih kurasakan tali BH nya di situ.

    Cerita Sex Orgasme Dengan pelan2 kubuka tali BH nya. Terasa ada sedikit perlawanan dari dia dengan menggerak2an punggungnya sedikit. Iapun hampir melepaskan mulutnya dari mulutku. Namun bibirku terus mengunci bibirnnya dan tugas tangan kiriku membuka pengait BH nya dibelakan sudah terlaksana.

    Tangan kananku langsung berpindah dengan menyelinap di balik daster bagian depan dan menuju BH nya yg sudah terbuka. Aku biarkan BH tsb dan tangan kananku menyelinap di antara BH dan payudaranya.

    Aku elus2 dan cubit2 pelan payudara di sekitar putingnya beberapa saat sebelum akhirnya menuju puting sampai akhirnya payudara yang memang sudah tidak terlalu kencang tapi cukup besar itu kuremas2 bergantian kiri dan kanan.

    Saat itu mulutnya menggigit bibirku, aku terkaget2, dan dengan cepat kutanggalkan daster dan BHnya dan ia kutelentangkan dikasurku. Ia rebah di kasurku dengan hanya mengenakan celana dalam yg sudah tua dan sedikit lubangnya di bagian selangkangannya.

    Aku langsung menggumulinya dengan mulutku langsung menuju mulutnya. Ia sempat melenguhkan suara yg sepertinya menyebut namaku.

    Aku tidak peduli. Mulutku bergeser ke lehernya dan kudengar ia berkata dgn tidak jelas …. ?aduh kenapa kita jadi begini??.

    Aku tdk peduli dan mulutkupun bergeser ke payudaranya secara bergantion. Akhirnya suaranya yg awalnya seperti keberatan menjadi berganti dengan lenguhan dan desahan yg lirih.

    Aku bangkit dr badannya sejenak utk melepaskan celanaku sampai akupun telanjang bulat. Kulihat ia sedikit kaget dan matanya terbuka melihatku seolah2 tak rela aku melepaskan tubuhnya. Namun secepat kilat setelah aku telanjang bulat aku kembali menggumulinya dan melumat bibirnya habis2an.

    Kedua tanganku merangkulnya dengan memegang erat bahu dan belakang kepalanya. Kupeluk ia erat2 dan iapun membalas ciuman bibirku dengan hangat bahkan liar. Matanya terpejam dan kedua tangannyapun memeluk diriku dan kadang megusap punggungku.

    Mulutku beralih ke payudaranya. Sekarang aku baru bisa melihat jelas bentuk payudara dan tubuhnya yg lain. Memang bukan bentuk yg ideal sebagaimana umumnya diceritakan di cerita2 saru lainnya. Payudaranya memang besar (aku tidak tau ukurannya) tapi sedikit turun dan tdk kencang.

    Tubuhnya masih proporsional walaupun cenderung gemuk dengan adanya lipatan2 lemak di pinggangnya dan perut yg kendur karena bekas melahirkan (mungkin), namun kulitnya begitu halus. Mulutku lalu melumat puting payudaranya yg kiri dan tangan kiriku meremas payudara yg kanan.

    Sedang tangan kananku bergerilya ke selangkangannya dan mengusap2 bagian yg masih terbungkus celana dalam tersebut.

    Jari2 tanganku menemukan lubang pada robekan celana dalamnya yg sudah tua sehingga jari2ku tsb bisa mengakses ke bagian selangkangannya yang mulai lembab pd rambutnya yg kurasakan cukup lebat.

    Jari2 kananku memainkan klitorisnya dan kadang2 kumasukkan ke dalam lubangnya sambil menggesaek2annya. Kurasakan desahan dan lenguhannya sedikit lebih keras menceracau. Sekilas kulihat kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan pelan tapi mulai liar.

    Tangan kirinya dia angkat sehingga jarinya ada didekat telinga kirinya sambil meremas2 seprai dan ujung bantal tidak karuan. Tangan kanannya mengusap kepala dan menarik2 rambutku.

    Akupun mulai tdk bisa menahan diri lagi karena penisku sudah berdiri tegak sejak tadi. Ukuran penisku biasa2 saja (sebetulnya aku agak heran dgn ceritaa erotis yg bilang sampai 20 cm, aku tdk pernah mengukur sendiri).

    Cerita Sex Orgasme Kutarik celana dalamnya sampai lepas. Kemudian aku melepaskan tubuhnya dan mengambil posisi di antara dua pahanya.

    Waktu kulepas tubuhnya sejenak tadi ia sempat tersetak dan matanya terbuka seolah2 bertanya kenapa. Tapi begitu melihat aku sudah dalam posisi siap mengeksekusi dirinya iapun mulai memejamkan matanya lagi.

    Sambil kuremas2 payudaranya sebelum memasukan rudalku ke liangnya aku sedikit berbasa basi dan menanyakan apa ia ikhlas aku setubuhi malam ini. Dengan lirih ia mempersilakan dan bibirnya sedikit tersenyum.

    Kedua tangannya menarik badanku dan akupun mulai memasukkan penisku ke lubangnya. Walaupun sudah lembab dan ia pernah melahirkan, ternayata aku tdk bisa langsunga memasukkan penisku. Sampai2 tangan wanita yg telah lama menjanda dan kehidupan sehari2nya begitu kolot ini ikut membantu mengarahkan rudalku ke lubangnya.

    Rupanya nafsunya sudah membuat ia terlupa. Di luar terdengar hujan mulai turun dengan lebat menambah liarnya suasana di kamarku dan pintu kamarku masih terbuka krn aku yakin tdk ada siapa2 lagi di rumah tipe 60 milik orang tuaku ini.

    Ujung rudalku mencoba merangsek kelubangnya scr pelan2 dgn gerakan maju mundur dan kadang2 berputar di area mulut lubangnya. Tidak terlalu lama rudalku mulai menembus liang senggamanya. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan.

    Matanya merem dan kadang setengah terbuka. Tangannya ke sana kemari kadang meremas seprai dan ujung bantal, kadang meremas rambutku dan kadang mengusap punggung dan bahkan mencakar punggung atau dadaku.

    Pinggulnya kadang menyentak maju menuju rudalku seolah2 sangat ingin agar rudalku segera masuk. Akhirnya rudalku yg sudah masuk sepertiganya ke liang senggamanya kucabut tiba2. Terlihat ia kaget dan membuka matanya.

    Ia memanggil namaku dengan suara yg sudah dikuasai birahi dan bertanya ada apa. Namun sebelum selesai pertanyaannya aku langsung dengan cepat dan sedikit tekanan menghujamkan rudalku ke liangnya yg walaupun sedikit seret tapi akhirnya bisa masuk seluruhnya ke dalam lubangnya dan aku memeluknya dengan mukaku begitu dekat dengan mukanya sambil menatap wajahnya yg penuh kepasrahan namun juga dikuasai birahi yg kuat.

    Ia tersentak dan melenguh keras ………….. aaaaaaaahh …. sejenak aku mendiamkannya dengan posisi seperti itu. Ia mencoba menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan ruang gerak yg terbatas.

    Aku pun mulai menggerakkan pinggulku ke belakang dan ke depan dengan gerakan pelan tapi pasti. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya dengan liar. Ia menceracau dan terus mendesah dan pinggulnya mencoba utk membawa diriku menggoyangnya lebih cepat lagi.

    Entah beberapa kali namaku ia sebut. Ia juga menceracau ia sayang dan mencintaiku. Dan aku yg sudah terbawa gelombang birahipun tidak memanggil ia ?bibi? lagi (ia sebetulnya terhitung nenekku, namun krn usianya tdk terlalu tua maka ia sering dipanggil bibi). Ya … dalam keadaan birahi tsb aku juga kadang menceracau memanggil namanya saja. Seperti tdk ada perbedaan usia dan kedudukan di antara kami.

    Entah berapa lama aku menggoyangnya dengan gerakan yang sedang2 saja, tiba2 kedua tangannya merangkul tubuhku utk lebih merapat dengan dia. Aku pun melepaskan payudaranya dan juga akan merangkul tubuhnya.

    Kurasakan betapa lunak dan empuk tubuhnya yg agak gemuk dan memang sudah tidak terlalu sexy itu ketika kudekap. Semua bagian tubuhnya tidak ada yg kencang lagi.

    Namun kelunakan tubuhnya dan kehalusan kulitnya ditambah pertemuan dan gesekan antara kulit dadaku dgn kedua payudaranya membawa sensasi yg luar biasa bagi diriku. Irama gerakan pinggulku dan pinggulnya tetap stabil.

    Tiba2 ia mendesah dengan suara yg agak berbeda dan kedua matanya memejam rapat2. Ia mempererat dekapannya dan mengangkat pinggulnya agar selangkangannya lebih rapat dengan selangkanganku.

    Setelah itu kedua kakinya mencoba mengkait kedua kakiku. Gerakan bibir dan raut mukanya menunjukan kelelahan tercampur dengan kenikmatan yg amat sangat. Rupanya ia sudah orgasme. Ia membuka matanya dan wajahnya ia dekatkan ke wajahku sambil bibirnya terbuka dan memperlihatkan isyarat utk minta aku cium.

    Bibirkupun menyambar bibirnya dan saling melumat. Ketika lidahku masuk kemulutnya, ternyata ia sudah bisa mengimbangi walaupun dengan terengah2.

    Terbayang reaksinya waktu orgasme tadi maka gairahku menjadi meningkat. Walaupun tau ia sudah orgasme beberapa saat setelah itu aku mulai meningkatkan kecepatan irama gerakan pinggulku utk membawa rudalku menghujam2 liang senggamanya.

    Walaupun sambil berciuman aku tetap mempercepat gerakan pinggulku. Awalnya pinggulnya mencoba mengikuti gerakan pinggulku. Namun tiba2 ia melepaskan mulutku dan kepalanya bergerak kekiri dan diam dengan posisi miring ke kiri sehingga aku hanya bisa mencium pipi kanannya.

    Matanya merem melek. Dekapan tangannya ketubuhkupun ia lepaskan dan ia angkat ke atas sehingga jari2 kedua tangannya hanya meremas2 seprai di atas kepalanya. Kedua kakinya berubah gerakan menjadi mengangkang dengan seluas2nya.

    Aku jadi mempecepat gerakan pinggulku. Bahkan gerakan rudalku menjadi lebih ganas yaitu saat aku memundurkan pinggulku maka rudal keluar seluruhnya sampai di depan mulut liang senggamanya namun secepat kilat masuk lagi ke dalam lubangnya dan begitu seterusnya namun tdk pernah meleset.

    Tangan kiriku kembali meraba payu daranya dan kadang2 ke klitorisnya. Ia menceracau dan kali ini tidak menyebut namaku namun berkali bilang ?aduh …. ampun … sayang …? atau ?kasian aku sayang? dan bahkan ia bilang sudah tidak tahan lagi. Namun aku tau ia terbawa kenikmatan yg luar biasa yang sekian tahun tidak pernah ia rasakan. Malam dingin dan AC di kamarku tdk bisa menahan keluarnya keringat di tubuh kami.

    Tiba2 kembali ia melenguh, kali ini lebih keras dan mulutnya maju mencari bibirku. Ya, ia kembali orgasme. Aku tidak menghiraukan mulutnya namun lebih berkosentrasi utk mempercepat gerakan pantatku sambil aku putar.

    Putus asa ia mencoba mencium bibirku ia rebah kembali, namun pd saat itu akupun mencapai puncaknya dan rudalku menyemburkan sperma yang banyak ke liang senggamanya. Sementara liang senggamanya berdenyut menerima sperma hangatku.

    Aku terkulai di atas tubuhnya dengan rudalku masih di dalam liang senggamanya. Kami berpelkan dgn sangat erat seolah2 tubuh kami ingin menjadi satu. Kami berciuman dan saling membelai.

    Cerita Sex Orgasme Berkali2 kami saling mengucapkan sayang. Iapun mengungkapkan betapa bahagianya ia krn selain bisa menolongku menyalurkan libidoku, juga ia merasa terpuaskan kebutuhan yang tdk pernah ia rasakan sekian tahu.

    Apalagi ketika setelah itu ia semapat bercerita betapa almarhum suaminya begitu kolot dalam bercinta dan sekedar mengeluarkan sperma saja. Ia baru tau bahwa bercinta dengan laki2 dapat lebih nikmat dibanding yg pernah ia rasakan.

    Kami tertidur sambil berpelukan. Paginya ketika terbangun jam 8 pagi kami bercinta lagi dengan sebelumnya menelpon ke tempat diklatnya utk memberitahukan bahwa ia tdk enak badan. Ia adalah tipe wanina yg juga agak kolot.

    Beberapa variasi ia lakukan dgn kikuk. Ia sering tdk bersedia bila vaginanya aku oral dgn alasan tdk sampai hati melihat aku yg banyak menolongnya mengoral vaginanya. Tapi ia mau mengoral penisku kadang2. Biasanya ia mau kalau ia sudah tdk bisa mengimbangi permainanku sedang aku masih mau bercinta.

    Selama sebulan ia tinggal di rumahku dan kami sudah seperti suami istri …. bahkan percintaan kami sering lebih panas. 2 hari setelah percintaan kami yg pertama aku malah sempat mengantar ia ke dokter utk pasang spiral agar tdk terjadi hal2 yg tdk diinginkan.

    Hal yg kusuka darinya adalah ia ternyata pandai menyembunyikan hubungan kami. Jadi bila ada tamu atau famili datang ke rumahku, sikap kami biasa2 saja.

    Memang aku sempat mendoktrin dia bhw hubungan kami ini adalah hubungan terlarang, namun krn awalnya menolongku maka tdk apa2 dilanjutkan krn ia harus mengerti dgn kebutuhanku sbg laki2 drpd aku kena penyakit bercinta di luaran maka ia tdk perlu tanggung2 menolongku.

    Selain itu hal yg kusukai dr dia adalah sikapnya yg berbakti kepadaku bila kami berdua saja. Hampir semua permintaanku mau ia terima selama ia anggap permainan normal. Ia bilang itu ia lakukan krn aku banyak menolongnya.

    Kadang2 aku memutarkan kaset video BF utk memperlihatkan beberapa variasi padanya. Aku bahkan sempat melakukan penetrasi di anusnya. Sebetulnya kesediaannya utk disodomi itu dilakukan dgn terpaksa krn pd saat kami melakukan foreplay ternyata ia menstruasi.

    Melihat aku sudah di puncak birahi ia mencoba melakukannya dengan tangan dan mulut tapi tdk berhasil krn ia mmg tdk terlalu lihay. Akhirnya dengan dibantu hand body cream maka anusnya lah yg jadi sasaranku.

    Sebetulnya aku kasian juga melihat ia menitikan airmata waktu aku mulai menusukan rudalku ke anusnya. Tapi karena aku sudah berada di ujung kenikmatan maka aku tetap melakukannya.

    Krn di rumah hanya kami berdua maka kami melakukannya di mana saja, bisa di kamar mandi, bisa di depan TV, dan lainnya.

    Hal yg paling mengesankan adalah suatu hari pada saat saya pulang jam istirahat siang, ternyata iapun baru pulang juga utk istirahat di rumah krn ada informasi instrukturnya akan datang terlambat sekitar setengah atau satu jam.

    Mendengar penyampaiannya itu aku langsung mutup pintu rumah dan menyergapnya. Aku baringkan ia di atas hambal di ruang tengah depan TV. Ia gelagapan dan berteriak2 senang sambil berpura2 protes.

    Aku hanya menurunkan celana tidak sampai lepas dan iapun cuma kusingkapkan rok panjangnya dan melepaskan celana dalamnya. Baju PNS nya hanya kubuka kancingnya dan menarik BHnya ke atas. Kerudungnya aku biarkan terpasang.

    Sehingga kamu bercinta dgn tdk sepenuhnya telanjang. Mungkin krn agak tegang permainan kami menjadi lebih lama dr permainan biasanya. Akhirnya kami istirahat di rumah dengan hanya makan nasi dan telur dadar krn waktu istirahat tersita utk bercinta.

    Pada saat ia kembali ke kotanya kami masih berhubungan sebulan 3-4 kali dalam sebulan. Namun setelah aku pindah ke kota lain hubungan kami jadi sangat jarang. Terakhir ia menikah lagi dengan seorang duda yang usianya 7 tahun lebih tua dari dia.

    Itupun ia terima setelah aku yg mendorong utk menerimanya wkt ia menceritakan bhw ada orang yg mau melamarnya.

    Demikianlah ceritaku. Sebetulnya sampai saat ia bersuamipun aku tau kalau aku datang kepada dirinya dan ia punya waktu maka ia akan bersedia melayaniku. Tunggu kisah selanjutnya dariku semoga tidak ada yang tersinggung dalam ceritaku diatas tadi.

    cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,

  • Kisah Memek Kasih Sex di Sekolah

    Kisah Memek Kasih Sex di Sekolah


    2746 views

    Duniabola99.com – Memasuki masa kuliah adalah masa yg menyenangkan untuk semua orang, tak terkecuali untuk Verika dan Reymond yg dianggap sudah cukup dewasa dan bertanggungjawab akan masa depannya. Jika masa SMA mereka harus agak backstreet dgn keluarga Verika karena dianggap belum cukup umur, maka masa kuliah mereka sudah mulai dilepas untuk saling antar jemput dan pulang malam dgn alasankuliah.


    Semester pertama adalah masa awal adaptasi dimana biasanya mereka terikat dgn jam sekolah dan masa ini harus mengikuti jam kuliah yg bisa sudah dipilih berdasarkan jadwal yg tersedia. Dikarenakan beda fakultas, Verika dan Reymond terkadang saling menunggu satu sama lain untuk dapat sekedar bertemu, bercengkrama, dan atau makan bersama. Dimasa Verika harus menunggu waktu kuliah berikutnya dan Reymond sedang kosong jadwalnya, terkadang mereka menunggu di kos Reymond dimana.petualangan ini dimulai.

    Pagi itu tanpa disangka dosen yg mengajar mata kuliah yg Verika ambil sedang kosong karena sang dosen sedang berhalangan, Reymond yg dari pagi sudah suntuk karena harus bangun pagipagi menjemput kekasihnya untuk kuliah pagi mendadak tersenyum sambil menawarkan kekasihnya itu untuk mampir ke kosnya sambil menunggu mata kuliah berikutnya yg kebetulan bersamaan dgnnya. Verika yg cukup lega dgn absennya dosen killer itu tampaknya tak ragu mengiyakan ajakan Reymond, mengingat dia malas pulang lagi untuk ganti baju karena dosen killer yg absen itu mengharuskan formal dress bagi para mahasiswa/siswi yg mengikuti kelasnya, pagi itu Verika mengenakan rok span coklat selutut dgn kemeja ketat dibalut cardigans yg membuatnya tampak lebih anggun dan manis.

    Dgn motor honda klasiknya Reymond membonceng Verika menuju kosnya dgn pemikiran polos bisa tidur lagi mengingat semalam dia tidur cukup larut bersamasama teman kosnya menonton bola. Kos Reymond sebenarnya adalah kos khusus cowok namun mengingat sang pemilik sering keluar kota dan menitipkan dgn penjaganya yg merupakan temen nonton bola Reymond, sehingga dia tak terlalu sulit untuk memasukkan Verika ke kamartoh pikirnya dia mau tidur lagi dan mungkin Verika mau bukabuka komputer melihat dvd yg kemarin dia sewa atau bermain game.

    Sesampai di kos, Reymond memarkirkan motornya tepat didepan kamar kos sementara suasana kos sendiri cukup hening karena kebanyakan penghuni kos sudah berangkat ke kampus atau kerja. Verika yg baru pertama masuk ke kamar kos Reymond nampaknya cukup canggung mengingat biasanya dia cuma bertemu Reymond diruang tamu depan yg memang diperuntukkan untuk bertamu. Kamar kos Reymond tak terlalu besar namun cukup nyaman, ada satu buah kasur, lemari, meja belajar dan kursi yg agak berantakan khas kamar cowok .


    Reymond langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur berusaha untuk membayar hutang tidurnya sementara naluri kewanitaan Verika muncul untuk membereskan bukubuku dan cd yg berserakan. Tak sampai sepuluh menit Verika sudah sedikit membereskan kekacauan kamar Reymond dan duduk didepan komputer untuk bermain mini game untuk mengisi kekosongan waktu. Reymond tampaknya tak benarbenar tertidur mengingat dia juga tak mau kekasihnya bosan menunggu beberapa jam untuk kembali kampus, masa Verika sedang asik bermain, tibatiba Reymond berdiri memeluk Verika dari belakang, Verika yg sdg duduk asik bermain game sempat kaget namun kembali melanjutkan permainannya.

    Reymond yg dalam posisi berdiri memeluk Verika yg sdg dalam posisi duduk dari belakang, punya keleluasaan untuk mengusap payudara mungil Verika yg berbalut kemeja dan cardigans, Verika agak cuek karena pacaran mereka dari SMA memang sebatas maen raba, french kiss, HJ atau petting dalam kondisi berpakaian. Melihat kekasihnya yg tampaknya sudah terbiasa dgn aksinya, Reymond semakin agresif mengusap dan meremas lembut payudara mungil Verikaketika hasrat tak tertahan, Reymond menarik Verika berdirimemutar badannya sehingga berhadapan dan melumat bibir indah Verika. Bibir mereka saling bertemu dan sesekali lidah nakal Reymond memasuki rongga mulut Verikaberkeliaran dgn nakalnya, sementara kedua tangannya meremas pantat bulat Verika yg terbalut rok span warna coklat.

    Beberapa masa mereka melakukan french kiss sudah cukup untuk membakar gairah muda yg menggeloraReymond membalik tubuh Verika dan kembali memeluknya dari belakang, namun kali ini dilakukan didepan kaca sambil sesekali dia melihat ekspresi wajah Verika masa payudaranya diremas lembut kedua tangan besarnya itu, Verika mendesah pelanapalagi ketika merasakan tonjolan menekan pantatnyasensasi petting yg sering dirasakan Verika! Dgn perlahan Reymond membuka cardigans Verika, melemparkannya sembarang ke pojokan kamardan dgn napas memburu, membuka satu persatu kancing kemeja Verika dari belakang tubuh Verika sambil menatapnya melalui pantulan kaca. Kancing kemeja itu satu persatu terbuka, dan dgn lembut Reymond menyibakkan kemeja Verika namun tak melepaskannyasehingga terlihat bagian depan tubuh Verika yg hampir telanjang.


    Dari pantulan kaca, sebentar dia memandangi perut Verika yg mulus dan rata serta payudara mungil yg terbungkus bra warna kremReymond mencium cuping telinga Verika sambil berkata

    I Love Youkata klise yg mampu mendobrak pertahanan wanita yg sedang mabuk cinta.

    Sambil menciumi bagian belakang telinga Verika dan sesekali tengkuknya, kedua tangan Reymond aktif mengusap perut rata Verika sambil sesekali meremasi payudara Verika yg terbungkus bra krem berenda tersebut. Verika mendesah, menggigit bibir bawahnya sendiri masa lidah Reymond menyapu tengkuknya yg dipenuhi bulubulu halus. Kedua tangan Reymond yg terus meremasi payudara Verika yg masih tertutup bra tampaknya tak sabar lagi untuk memilin puting payudara dan meremasi tanpa ada halangan apapundan dgn satu sentakan, cup bra Verika dinaikkan keatas sehingga payudara mungil Verika mencuat keluar dgn puting payudara coklat kemerahan yg mengeras.

    Secara kasar Reymond memelintir puting payudara indah itu sehingga Verika menjerit kecilmemaksa Reymond meminta maaf dgn kecupan lembut di pipi kiri Verika (Posisi Reymond msh dibelakang Verika dan mereka masih samasama berdiri didepan kaca). Interupsi kecil itu memaksa Reymond mengalihkan tangannya ke bagian restleting rok span Verika yg berada dibelakang.dia berusaha meloloskan rok span itu dan membuka ikat pinggang kecil yg dikenakan Verika. Reymond memaksa diri untuk tak melakukan hal yg lebih lagi ketika dia berhasil membuka rok span Verikadia memilih untuk melepas kemeja Verika yg sdh terbuka kancingnya sehingga Verika cuma mengenakan cd dan bra berdiri didepan kacaReymond melihat tubuh indah kekasihnya dari pantulan kaca sambil berkata

    I Love You kembalikatakata sakti yg membuat Verika luluhpasrah tak bisa melawan kehendak nafsu yg ada. Reymond menyibakkan rambut Verika dan menciumi punggung halus Verika sambil membuka kaitan bratak seberapa lama kaitan itu terlepas dan dgn sabar meloloskan bra krem berenda itu dari tubuh Verika. Reymond memilih untuk tak melihat tubuh bagian atas Verika yg sudah telanjang dari pantulan kaca namun meneruskan membuka cd Verika sambil menciumi punggungnya dari atas hingga kebagian pinggang tepat diantara belahan gundukan padat pantat Verika. Dgn posisi telanjang penuh, Verika sedikit gemetar mengingat udara pagi itu cukup dingin, namun dia cuma dapat memejamkan mata menunggu sensasi berikutnya yg terjadi


    Jantung Reymond berdegup kencang ketika memandang tubuh polos kekasihnya untuk pertama kali melalui pantulan cermindgn perlahan Reymond membuka celana panjang dan cdnya sendiri sehingga kemaluan hitam besarnya mengacung bebas dgn arogankembali Reymond memeluk Verika yg masih berdiri terpaku didepan cermin sambil menyelipkan kemaluannya diantara kedua belah bongkahan pantat Verikadigesekkannya perlahan sehingga menimbulkan campur aduk antara ngilu, geli dan nikmattangan kanannya mengusap rambut kemaluan Verika yg tak terlalu lebat sambil sesekali jari tengahnya menyentuh klitoris Verika.

    Verika mendesah merasakan sensasi petting tanpa sehelai benang pun menutupi kemaluan mereka berduakemaluannya terasa geli kenikmatan menerima gesekangesekan lembut kemaluan hitam besar milik Reymond dgn uraturat yg menonjol keluar.sementara klitorisnya terangsang sentuhansentuhan nakal jemari Reymond. Desahan demi desahan sambung menyambung tatkala kemaluan mereka saling bersentuhan skin to skintangan kiri Reymond menggenggam kuat payudara kiri Verika sambil sesekali memelintir puting payudaranya dgn lembut dan terkadang kasar. Reymond menciumi bahu, pundak, leher Verika sambil terus membisikkan katakata sakti

    I Love Youdan setelah beberapa menit Reymond berbisik

    membungkuk dikit sayg, Verika cuma menurut pasrah sambil kedua tangannya bertopang pada sisi kanan dan kiri kaca didepannya.sesungguhnya dia antara sadar dan tak sadar mengikuti kemauan kekasihnya itu, dan masa Verika merasa benda bulat hangat yg cukup besar sudah berada didepan bibir kemaluannya, dia tersentak dan spontan berbalik ke arah menghadap Reymond sambil berkata

    Enggakjangan sekarang, dulu kita sudah komit tdk mau ML sebelum resmidan kamu sudah menyggupinya, kedua tangan Verika sedikit mendorong tubuh Reymond untuk agak memberi ruang bagi keduanya


    Iya sayg, aku serius sama kamuaku ga akan lari dari tanggung jawab, begitu gombalnya jawaban Reymond. Verika tetap menolak dan berusaha memungut pakaiannya yg berserakan dilantai kamar kos itunamun dgn cepat Reymond mencengkram kedua pergelangan tangan Verika dan menghempaskan tubuh polos kekasihnya itu keatas tempat tidurVerika terjatuh telentang dan mencoba berontak, namun cengkraman tangan Reymond yg kuat dan besar membuat usacuma siasia..

    Reymond! Aku gamau!, rengek Verika memohon kepada kekasihnya yg terkenal cukup temperamen dikalangan temantemannya. Reymond menindih Verika sambil mencari sesuatu untuk menahan rontaan tangan Verika yg cukup menyulitkannya untuk menuntaskan aksinyadan dia mendapati ikat pinggang Verika yg akhirnya digunakan untuk mengikat kedua tangan Verikakedua tangan Verika terikat dipergelangan dan disangkutkan kepinggir besi tempat tidur, sehingga posisi Verika terlentang sementara kedua tangan terikat keatas

    Verika mencoba untuk berteriak, namun dgn sigap tangan kanan Reymond membekap mulutnya sambil berkata

    ga usah teriak sayg, kamu ga malu nanti ketauan anak kos yg lain lg bugil begini? Aku serius sama kamu Entah terbuai atau pasrah dgn kondisi yg ada, Verika menahan diri untuk tak berteriak namun agak sedikit terisaksementara Reymond mulai melakukan aksinya.

    Dimulai dari kecupan lembut dibibir yg lamalama semakin kasar, melahap seluruh bibir Verika, menciumi leher jenjangnya dgn dibumbui jilatanjilatan buas yg mau tak mau membangkitkan gairah Verika juga. Tak ada satupun yg luput dari wajah dan leher Verika dari sapuan mulut buas Reymondsementara kedua tangannya meremas kencang kedua payudara mungil Verika hingga menyisakan puting payudaranya yg semakin mencuat kencangsejenak Reymond berhenti melakukan aksinya, memegang kemaluan besarnya sendiri lalu duduk disamping kepala Verika sambil menjambak rambutnya menyorongkan mulut Verika untuk mengulum kemaluan besar hitamnya itu


    Verika berusaha untuk tak membuka mulutnya namun dgn paksa Reymond terus menyodokkan kemaluannya sehingga bagian kepalanya masuk sedikit didalam mulut Verikadgn satu sentakan, Reymond menyodokkan dgn paksa kemaluannya kedalam mulut Verikaagak sedikit nyeri terkena deretan gigi Verika, namun terasa hangat ketika hampir setengahnya sudah masuk! Pelanpelan Reymond mengocokkan kemaluannya dalam mulut Verikawalau tak dapat masuk sepenuhnya namun sensasinya sangat luar biasa mengingat baru pertama kali Verika melakukan blow job walau dgn sedikit terpaksa.

    Nikmati saja sayg, spt masa kamu menghisap permen lolipop kesukaanmu, desah Reymond membujuk kekasihnya yg mulai menitikkan air mataVerika cuma dpt terpejam dan mencoba menikmati kemaluan Reymond yg terlalu besar untuk mulutnya dan sedikit berasa asinapalagi masa ada sedikit cairan keluar dari lubang kemaluan itu. Beberapa kali Reymond bergejolak dan menahan kocokannya, dia berusaha menahan agar jangan sampai orgasme terlebih dahulu.dgn cepat dia menarik kemaluannya dari mulut Verika lalu merangsek keantara paha Verika, membukanya lebarlebar sambil memegang kedua lutut Verika.

    kemaluan Verika terpampang jelas dihadapannya, dgn rambut kemaluan yg tdk terlalu lebat dan tdk terlalu tipis, bibir kemaluan yg merekah merah berkilatan cairan kenikmatandan yg lebih membuatnya bergairah adalah klitoris Verika yg tampaknya sedikit mengeras karena rangsanganrangsangan paksa yg dibuatnya. Tanpa berkatakata lagi Reymond segera menjilati klitoris Verika sambil menggigitinya pelanpelansesekali dia menghisapnya seperti masa menikmati puting payudara Verika

    Arrrggg Reymondapa yg kamu lakukanarrgggg geliiiii Verika meracau sendiriReymond yg sadar bahwa kekasihnya mulai menikmati kondisi yg ada semakin aktif melancarkan aksinyamengulumi klitoris Verika, menjilati bibir kemaluannyanaik kepusar lalu menerkam kedua payudara Verika dgn rakusnya! Dia benarbenar mencengkram kedua payudara mungil nan sekel itu, sehingga puting payudaranya mencuat dan lebih mudah dilahapnyaentah berapa menit dia menikmati payudara Verika sehingga timbul memarmemar dibawah payudara dan sekitar puting Verika.

    Reymond menindih tubuh telanjang Verika dan siap mengarahkan kemaluannya ke lubang kemaluan Verika


    Reymondjangan pleaseaku belum mau ngelakuin itu, pinta Verika dgn wajah memelasReymond terus mengarahkan kemaluannya ke arah lubang kenikmatan Verika.Verika sendiri sudah merasakan kepala kemaluan Reymond berada tepat didepan lubang kemaluannya yg masih rapat itu! Reymond berusaha pelanpelan mendorongnyadan setiap dorongan membuat Verika menjerit kecilsenti demi sentiReymond merasakan seluruh kepala kemaluannya sudah masuk dalam lubang kemaluan Verikanamun cukup sulit memang mengingat ini pertama kali buat mereka berdua melakukannya.

    Verika merontaronta mencoba melepaskan ikatan tangannya sambil mencoba menggoygkan tubuh polosnya yg ditindih badan besar Reymond.dia merasakan nyeri yg luar biasa dilubang kemaluannya masa kepala kemaluan besar itu sudah mulai masuk. Reymond agak kesulitan untuk mendorongnya lebih dalam karena rontaan kekasihnya itudgn agak kesal dia memegang kedua paha Verika dan membentangkannya lebarlebar sehingga memudahkan langkah selanjutnya untuk memasukkan seluruh kemaluannya kedalan kemaluan Verika

    Reymondplease jgn dimasukkin.kamu sudah janji kan?, rengek Verika.

    Kenapa sayg? Sakit ya kemaluannya? Kamu nikmatin aja.nanti kemaluanmu akan terbiasa, jawab Reymond sekenanya.

    Usaha Reymond menerobos lebih dalam lagi cukup sulitnamun dgn satu sentakan cepat.blesssssss! Tiga perempat kemaluannya sudah masuk kedalam liang kemaluan Verika.dia membiarkannya beberapa masa lalu mulai mengocokannya pelan2.

    Ahhhhh..Verikakemaluan kamu enak sekalisempit dan hangat.tititku geli!.racau Reymond sambil memegang kedua paha Verika agar terbuka lebar sambil mengocokan kemaluannya. Verika yg mulai kehabisan tenaga dgn keringat bercucurandan memar sana sini didaerah dada, payudara, perut bekas cupangan Reymond cuma menggigit pelan bibirnya sendiri sambil menahan antara sakit dan nikmat yg datang bersamaan! Reymond tahu bahwa kekasihnya itu mulai menikmati perkosaan yg terjadipelan2 dia melepaskan cengkraman kedua tangan besarnya dikedua paha mulus Verika.menyusuri dada Verika dgn kecupankecupan lembut yg diakhiri dgn lumatan penuh kasih dibibir sementara kedua tangannya melepaskan ikatan tangan Verika.sambil terus mengocokngocok pelan kemaluan kekasihnya dgn kemaluan besar hitamnya itu! Setelah tangan Verika terlepas, terlihat memar bekas jeratan karena kuatnya ikatan ituVerika tak melawan lagi, dia sudah tak berdayaapalagi ketika Reymond membalikan tubuh telanjangnyadan memposisikan tubuh Verika utk telungkup dan menaikan pantatnya utk sedikit nunggingdia cuma pasrah dan merasakan sentakan demi sentakan kemaluan besar Reymond menghujam liang kemaluannya, entah sudah berapa kali dia merasakan orgasme.


    Reymond menyetubuhi Verika dari belakang dan sesekali menekan dalamdalam kemaluannya sambil meremas kuatkuat payudara mungil Verika dari belakang sehingga bertambah merahkontras dgn kulitnya yg halus sawo matang. Tibatiba tubuh Reymond bergetar dan mencabut kemaluannya dgn cepat! Dan Verika merasakan cairan kental hangat membasahi pantat bulat dan sebagian punggungnya

    Arrggggghhh Verika.nikmat sekali kemaluan kamu sayg!

    Reymond membersihkan spermanya yg berceceran ditubuh kekasihnya itu dan tibatiba dia tersadar.kenapa tak ada darah yg keluar?

  • Cerita Sex Nafsu Bosku

    Cerita Sex Nafsu Bosku


    3618 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Nafsu Bosku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita Sex – Aku baru kerja 4 bulan di perusahaan asing di Jakarta bos saya namanya M Richard yang berasala dari
    USA umurnya 45 tahun dengan waktu yang cepat kami semua karyawan sudah kenal dekat dengan Mr. Rich
    biasanya dipanggil seperti itu.

    Hobi kita sama yaitu bermain golf perusahaan kami bergerak di bidang advertising katanya teman
    sekantor istri dari sibos cantik tubuhnya seksi kayak bintang Hollywood, karena aku belum pernah
    melihat istri si Bos, hanya meilhat fotonya yang terpampang di ruangannya.

    Meja kantor saya memang aku desain dengan nyaman dan aku selipakn foto aku dan istriku Nindy yang
    berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Richard melihat foto itu,
    secara spontan dia memuji kecantikan Nindy dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Richard sering
    melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

    Suatu hari Richard mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek,
    sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.

    “Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nindy juga, sekalian makan malam”.

    “Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.

    “Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

    “Okelah!”, kataku.

    Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nindy. Pada mulanya Nindy agak segan juga untuk
    pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan
    tetapi setelah kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nindy
    mau juga pergi.

    “Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

    “Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yang mau didiskusikan”.

    “Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas.
    Kalau melihat Nindy, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang,
    dia selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang.

    Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Richard yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku
    mengenakan kemeja batik, sementara Nindy memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan
    tergerai tanpa hiasan apapun.

    Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu
    terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi
    sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.

    “Oh Diko dan Nindy yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard”.

    Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis
    dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Richard. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.
    “Hallo Mam.., kenalin, ini Nindy istriku”.

    Cerita Sex Nafsu Bosku Setelah Nindy berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam,
    sementara Richard mengajakku ke teras balkon apartemennya.

    “Gini lho Dik.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani
    nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

    “Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih,
    ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”.

    Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.
    Senyum Richard segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.

    “Eh Dik.., gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

    “Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.

    “Seksi nggak?”.

    “Lha.., ya.., jelas dong”.

    “Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu
    gimana?”.

    Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan
    tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu.

    Sambil masih tersenyum-senyum, Richard melanjutkan, “Nggak ada paksaan kok, aku jamin Nindy dan
    Lillian pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada
    saya.., aman kok!”.

    Membayangkan tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa
    menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue
    film.

    Tapi dilain pihak kalau membayangkan Nindy dikerjain si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar,
    rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Richard telah melanjutkan dengan
    pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Nindy sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.

    Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak suka style yang aneh-aneh,
    maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat
    terangsang!”.

    “Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar
    dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Richard.

    “Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job” lanjutnya.
    Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan
    senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.

    Kemudian lanjut Richard meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar aku yang atur. Ngomong-ngomong
    my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.

    “Nanti minuman Nindy aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”,
    saya agak terkejut juga, apakah Richard akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau
    begitu tidak rela aku.

    Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Richard cepat-
    cepat menambahkan,

    “Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya,
    “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nindy di sampingku”.

    Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Richard. Setelah makan malam selesai
    kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat
    halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan
    keringatnya lebih banyak keluar.

    Cerita Sex Nafsu Bosku Melihat tanda-tanda itu, Richard mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nindy, “Nin.., mari
    duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Nindy, Richard segera
    berdiri, menarik kursi Nindy dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di ruang tengah.
    Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku.

    “Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang
    makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Richard mulai bergerilya di pundak dan punggung
    Nindy, memijit-mijit dan mengusap-usap halus.

    Sementara Nindy kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya
    terdengar desahan setiap kali tangan Richard yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit
    pundaknya.

    Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut,
    dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi
    panjang tersebut.

    Terlihat tindakan Richard semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan
    kancing kemeja batik Nindy hingga kancing terakhir. BH Nindy segera menyembul, menyembunyikan dua
    bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya.

    Kelihatan mata Nindy terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga,

    “Apakah Nindy telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Richard?, atau apakah Nindy pingsan
    atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Richard?”.

    Nindy tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu
    berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nindy seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan
    Richard dikulitnya dan ciuman nafsu Richardpun disambutnya dengan gairah.

    Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung,
    aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Richard yang sedang duduk di
    sampingku.

    Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok
    Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya
    sedang mengerjai wanita mungil.

    Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari
    tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yang mungil itu, “aahh..,
    aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

    Sementara itu di ruang sebelah, Richard telah meningkatkan aksinya terhadap Nindy, terlihat Nindy
    telah dibuat polos oleh Richard dan terbaring lunglai di sofa.

    Badan Nindy yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya
    yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang
    membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka
    dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Richard.

    Kemudian Richard menarik Nindy berdiri, dengan Richard tetap di belakangnya, kedua tangan Richard
    menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Nindy, yang dengan
    matanya yang setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian
    yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka.

    Menunjukan Nindy menikmati benar permainan dari Richard terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari
    Richard berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Richard meremas-remas puting
    susunya, terlihat seluruh badan Nindy yang bersandar lemas pada badan Richard, bergetar dengan hebat.

    Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus
    berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan
    melepaskan bajuku sendiri.

    Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus
    seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah
    mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang.

    Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Richard, tentu aku kalah jauh dan kalau aku
    langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai
    teknik yang lain dari lain.

    Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara
    kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

    Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah
    vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya.

    Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan
    dengan suara keras,

    ” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya
    menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat
    bersamaan suara Nindy terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah,

    “Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang diperbuat
    Richard pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nindy sekarang telah telentang di atas
    sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha Nindy
    yang sudah terpentang dengan lebar.

    Kepalanya terbenam diantara kedua paha Nindy yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard
    sedang mengaduk-aduk kemaluan Nindy yang mungil itu. Terlihat badan Nindy menggeliat-geliat dan kedua
    tangannya mencengkeram rambut Richard dengan kuat. ‘’

    Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yang badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan
    dan dari mulutnya terdengar erangan,

    “Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot
    penisku.

    “Aahh.., Dik.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan
    ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan
    hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia
    mencapai organsme.

    Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap
    lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih
    jauh.

    Ketika aku menengok ke arah Richard dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nindy kini
    telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi
    sofa, punggung Nindy bersandar pada sandaran sofa.

    Sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak
    Richard. Richard mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nindy yang telah terpentang
    lebar.

    Cerita Sex Nafsu Bosku Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Richard yang terletak diantara kedua pahanya yang
    berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yang
    kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

    Terlihat Richard memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan
    Nindy yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nindy dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata
    Richard yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya.

    Kedua tangan Nindy kelihatan mencoba menahan badan Richard dan badan Nindy terlihat agak melengkung,
    pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Richard pada bibir vaginanya.

    Akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nindy dan tangan kirinya tetap menuntun
    penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nindy, sambil mencium telinga kiri Nindy, terdengar
    Richard berkata perlahan,

    “Niinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Nini hanya menggeleng-
    geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke
    arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Richard itu dan mulutnya terkatup rapat
    seakan-akan menahan kengiluan.

    Richard, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nindy yang
    telah basah itu, biarpun kedua tangan Nindy tetap mencoba menahan tekanan badan Richard.

    Mungkin, entah karena tusukan penis Richard yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over
    size, langsung saja Nindy berteriak kecil,

    “Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis,
    mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nindy yang mengangkang itu terlihat menggelinjang.

    Kepala penis Richard yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nindy, kedua bibir
    kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Richard, sehingga belahan kemaluan Nindy terlihat
    terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Richard itu.

    Kedua bibir kemaluan Nindy tertekan masuk begitu juga clitoris Nindy turut tertarik ke dalam akibat
    besarnya kemaluan Richard.

    Richard menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf.., Nin.., saya sudah
    menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!”.

    “aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih..,
    sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”.

    Nindy mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di
    pungung Richard.

    Cerita Sex Nafsu Bosku

    Cerita Sex Nafsu Bosku

    “Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Nindy masih merasa sakit”,
    sahut Richard dan tanpa menunggu jawaban Nindy, segera saja Richard melanjutkan penyelaman penisnya ke
    dalam lubang vagina Nindy yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

    Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nindy, terlihat muka Nindy
    meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup
    erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

    Terdengar Richard bertanya lagi, “Niinn.., sakit.., yaa?”, Nindy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,
    sambil kedua tangannya meremas bahu Richard dan Richard segera kembali menekan penisnya lebih dalam,
    masuk ke dalam lubang kemaluan Nindy.

    Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya.
    Ketika penis Richard telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nindy, terlihat Nindy telah
    pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Richard.

    Akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Richard menekan lebih
    dalam lagi, kembali terlihat wajah Nindy meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat
    menggeletar,

    Tetapi karena Nindy tidak mengeluh maka Richard meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja,
    “Blees”, Richard menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan
    memepetin pinggul Nindy rapat-rapat pada sofa.

    Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nindy, “Aduuh”, sambil kedua tangannya
    mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke
    atas menahan tekanan penis Richard di dalam kemaluannya.

    Richard mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nindy sejenak, agar tidak menambah sakit
    Nindy sambil bertanya lagi,

    “Niinn.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”, Nindy dengan mata
    terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang,

    “aagghh.., kit!”, lalu Richard mencium wajah Nindy dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat
    Richard bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nindy dalam
    pelukannya.

    Tak selang lama kemudian terlihat badan Nindy bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan
    panjang,

    “Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Nindy bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada
    pantat Richard, Nindy mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat badan Nindy
    terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Richard yang masih tetap berayun-ayun
    itu.

    Cerita Sex Nafsu Bosku aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh
    penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.

    “Dik.., ayo aku mau kamu”, suara Lillian penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lillian sama
    dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan
    Lillian masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lillian pada saat rudalku
    hendak menerobos masuk.

    “Lill.., kok masih rapet yahh”. Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos
    liang vaginanya. “Aagghh”, mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit.

    Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan
    gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku menyodokkan
    penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa
    liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.

    “Ahh.., ahh”, Lillian makin keras teriakannya.

    “Ayo Dik.., terus”.

    “Enakk.., eemm.., mm!”.

    Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..” “Lill.., boleh di dalam..,
    yaah”, aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.

    “mm..”.

    Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan
    sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.

    “Nih.., Lill.., terima yaa”.

    Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lillian
    dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan
    maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian.

    Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian, sementara cairan hangat
    maniku masih terus memenuhi rongga vagina Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan
    kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya,
    “..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Lillian juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

    Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan
    erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa
    yang baru kami alami.

    Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lillian. Dengan
    isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati
    penisku hingga bersih. “Ahh..”. Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping
    Lillian.

    Kini kami menyaksikan bagaimana Richard sedang mempermainkan Nindy, yang terlihat tubuh mungilnya
    telah lemas tak berdaya dikerjain Richard, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Richard
    terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan.

    Mulai saat ini Richard mengerjai Nindy dengan sangat brutal dan kasar. Nindy benar-benar dipergunakan
    sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Richard menyakiti Nindy, tetapi dilihat dari
    ekspressi muka dan gerakan Nindy ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nindy atas
    apa yang dilakukan oleh Richard terhadapnya.

    Richard mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nindy berjongkok diantara kedua
    kakinya, kepala Nindy ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Nindy sambil
    memegang belakang kepala Nindy.

    Dia membantu kepala Nindy bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut
    Nindy. Kelihatan Nindy telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh
    Richard, hal ini dilakukan Richard kurang lebih 5 menit lamanya.

    Richard kemudian berdiri dan mengangkat Nindy, sambil berdiri Richard memeluk badan Nindy erat-erat.
    Kelihatan tubuh Nindy terkulai lemas dalam pelukan Richard yang ketat itu. Tubuh Nindy digendong
    sambil kedua kaki Nindy melingkar pada perut Richard dan langsung Richard memasukkan penisnya ke dalam
    kemaluan Nindy.

    Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nindy terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Richard
    menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Nindy terlihat
    seperti anak kecil dalam gendongan Richard.

    Kaki Nindy terlihat merangkul pinggang Richard, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Richard.
    Richard berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nindy. Pantat Nindy terlihat merekah dan
    tiba-tiba Richard memasukkan jarinya ke lubang pantat Nindy.

    “Ooohh!”. Mendapat serangan yang demikian serunya dari Richard, badan Nindy terlihat menggeliat-geliat
    dalam gendongan Richard. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

    Ketika Richard merasa capai, Nindy diturunkan dan Richard duduk pada sofa. Nindy diangkat dan
    didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nindy terkangkang di samping paha Richard dan Richard
    memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nindy dari bawah.

    Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Richard memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan
    Nindy yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Richard menyentuh paha Nindy.

    Kedua tangan Richard memegang pinggang Nindy dan membantu Nindy memompa penis Richard secara teratur,
    setiap kali penis Richard masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di
    pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis
    Richard. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

    Kemudian Richard mendorong Nindy tertelungkup pada sofa dengan pantat Nindy agak menungging ke atas
    dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Richard akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi
    yang paling disukai oleh Nindy.

    Dari belakang pantat Nindy, Richard menempatkan penisnya diantara belahan pantat Nindy dan mendorong
    penisnya masuk ke dalam lubang vagina Nindy dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua
    penisnya amblas ke dalam vagina Nindy.

    Jari jempol tangan kiri Richard dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nindy setengah berteriak,
    “aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Richard yang dahsyat itu. Badan Nindy dicoba ditarik
    ke depan, tapi Richard tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nindy dan
    mengikuti arah badan Nindy bergerak.

    Nindy benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan
    sudah berubah menjadi teriakan, “Ooohhmm.., aaduhh!”. Richard mencapai payudara Nindy dan mulai
    meremas-remasnya.

    Tak lama kemudian badan Nindy bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari
    mulutnya terdengar,

    “Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!”. Nindy mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Richard mendorong habis
    pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nindy, penisnya terbenam seluruhnya
    ke dalam kemaluan Nindy dari belakang.

    Sementara badan Nindy bergetar-getar dalam orgasmenya, Richard sambil tetap menekan rapat-rapat
    penisnya ke dalam lubang kemaluan Nindy, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya
    yang berada di dalam lubang vagina Nindy ikut berputar-putar mengebor liang vagina Nindy sampai ke
    sudut-sudutnya.

    Setelah badan Nindy agak tenang, Richard mencabut penisnya dan menjilat vagina Nindy dari belakang.
    Vagina Nindy dibersihkan oleh lidah Richard. Kemudian badan Nindy dibalikkannya dan direbahkan di
    sofa. Richard memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nindy ikut aktif membantu memasukkan
    penis Richard ke vaginanya.

    Kaki Nindy diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Richard. Richard terus menerus memompa vagina Nindy.
    Badan Nindy yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Richard, yang terlihat oleh saya hanya pantat
    dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Richard.

    Kadang-kadang terlihat tangan Nindy meraba dan meremas pantat Richard, sekali-kali jarinya di masukkan
    ke dalam lubang pantat Richard.

    Gerakan pantat Richard bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan
    cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Nindy, tiba-tiba,

    “Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak,
    Richard menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nindy ke sofa, sehingga penisnya
    terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nindy.

    Pantat Richard terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nindy, sambil
    kedua tangannya mendekap badan Nindy erat-erat. Dari mulut Nindy terdengar suara keluhan, “Sssh..,
    sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

    Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Richard kemudian merebahkan diri di atas badan Nindy
    yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Nindy. Nindy melihat ke saya dan
    memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat.

    Aku tidak bisa melihat ekspresi Richard karena terhalang olah tubuh Nindy. Yang jelas dari sela-sela
    selangkangan Nindy mengalir cairan mani. Kemudian Nindypun seperti kebiasaan kami membersihkan penis
    Richard dengan mulutnya, itu membuat Richard mengelinjang keenakan.

    Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat
    bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.

    cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,

  • Video Bokep Eropa ibuku mengajari aku dan temanku ngentot saat belajar

    Video Bokep Eropa ibuku mengajari aku dan temanku ngentot saat belajar


    2299 views

  • Kisah Memek Kebinalan Anak Kandungku Membuatku Basah

    Kisah Memek Kebinalan Anak Kandungku Membuatku Basah


    3837 views

    Duniabola99.com – Setelah memiliki seorang anak, aku mendapatkan vonis dokter jika rahimku bermasalah dan tidak dianjurkan jika menambah momongan lagi. Mendengar hal itu tentu saja membuat diriku sedih dan tidak karuan.


    Dengan kondisiku yang seperti itu, suamiku pun meminta izin untuk menikah lagi dengan wanita lain karena dirinya ingin memiliki anak lagi. Hal tersebut ia lakukan saat anakku berusia 1 tahun. Walaupun berat, akhirnya aku izinkan suamiku untuk menikah lagi mengingat keterbatasan yang kumiliki saat ini sebagai seorang wanita.

    Sejak pernikahannya, dia jarang pulang ke rumah. Paling sekali dalam seminggu. Kini setelah usia anakku 15 tahun, suamiku justru tak pernah pulang ke rumah lagi. Dia telah memiliki 4 orang anak, tepatnya dua pasang dari istri mudanya dan dua anak lagi dari istrinya yang ketiga.

    Aku harus puas, memiliki tiga buah toko yang serahkan atas namaku serta sebuah mobil dan sebuah taksi selain sedikit deposito yang terus kutabung untuk biaya kuliah anakku Wendi nanti.

    Wendi sendiri sudah tak perduli pada ayahnya. Malah, kalau ayahnya pulang, kelihatan Wendi tak bersahabat dengannya. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Semoga saja Wendi tidak berdosa pada ayahnya.

    Setiap malam Aku selalu mengeloni Wendi agar tubuhku tak kedinginan ditiup oleh suasana dingin AC di kamar tidurku. Wendi juga kalau kedinginan, justru merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Wendi memang anak yang manja dan aku menyayanginya.

    Sudah menjadi kebiasaanku, kalau aku tidur hanya memakai daster mini tanpa sehelai kain pun di balik daster miniku. Aku menikmati tidurku dengan udara dinginnya AC dan timpa selimut tebal yang lebar. Nikmat sekali rasanya tidur memeluk anak semata wayangku, Wendi. Kusalurkan belai kasih sayangku padanya. Hanya padanya yang aku sayangi.

    Sudah beberapa kali aku merasakan buah dadaku diisap-isap oleh Wendi. Aku mengelus-elus kepala Wendi dengan kelembutan dan kasih sayang. Tapi kali ini, tidak seperti biasanya. Hisapan pada pentil payudaraku, terasa demikian indahnya. Terlebih sebelah tangan Wendi mengelus-elus bulu vaginaku. Oh… nikmat sekali. Aku membiarkannya. Toh dia anakku juga. Biarlah, agar tidurnya membuahkan mimpi yang indah.

    Saat aku mencabut pentil payudaraku dari mulut Wendi, dia mendesah.

    “Mamaaaaa…”

    Kuganti memasukkan pentil payudaraku yang lain ke dalam mulutnya. Selalu begitu, sampai akhirnya mulutnya terlepas dari payudaraku dan aku menyelimutinya dan kami tertidur pulas. Malam ini, aku justru sangat bernafsu. Aku ingin disetubuhi.


    Ah… Mampukah Wendi menyetubuhiku. Usianya baru 15 tahun. Masih SMP. Mampukah. Pertanyaan itu selalu bergulat dalam bathinku.

    Keesokan paginya, saat Wendi pergi ke sekolah, aku membongkar lemari yang sudah lama tak kurapikan. Di lemari pakaian Wendi di kamarnya (walau dia tak pernah meniduri kamarnya itu) aku melihat beberapa keping CD. Saat aku putar, ternyata semua nya film-film porno dengan berbagai posisi. Dadaku gemuruh.

    Apaah anakku sudah mengerti seks? Apakah dia sudah mencobanya dengan perempuan lain? Atau dengan pelacur kah? Haruskah aku menanyakan ini pada anakku? Apakah jiwanya tidak terganggu, kalau aku mempertanyakannya? Dalam aku berpikir, kusimpulkan, sebaiknya kubiarkan dulu dan aku akan menyelidikinya dengan sebaik mungkin dengan setertutup mungkin.

    Seusai Wendi mengerjakan PR-nya (Disekolah Wendi memang anak pintar), dia menaiki tempat tidur dan memasuki selimutku. Dia cium pipi kiri dan pipi kananku sembari membisikkan ucapan selamat malam dan selalu kubalas dengan ucapan yang sama.

    Tapi kalau aku sudah tertidur, biasanya aku tak menjawabnya. Dadaku gemuruh, apaah malam ini aku mempertanyakan CD porno itu. Akhirnya aku membiarkan saja. Dan Aku kembali merasakan buah dadaku dikeluarkan dari balik dasterku yang mini dan tipis. Wendi mengisapnya perlahan-lahan. Ah… kembali aku bernafsu.

    Terlebih kembali sebelah tangannya mengelus-elus bulu vaginaku. Sebuah jari-jarinya mulai mengelus klentitku. AKu merasakan kenikmatan. Kali ini, aku yakin Wendi tidak tidur. Aku merasakan dari nafasnya yang memburu.

    Aku diam saja. Sampai jarinya memasuki lubang vaginaku dan mempermainkan jarinya di sana dan tangan yang satu terus memainkan payudaraku. Ingin rasanya aku mendesah, tapi…

    Aku tahu, Wendi menurunkan celananya, sampai bagian bawah tubuhnya sudah bertelanjang. Dengan sebelah kakinya, dia mengangkangkan kedua kakiku. Dan Wendi menaiki tubuhku dengan perlahan. Aku merasakan penisnya mengeras. Berkali-kali dia menusukkan penis itu ke dalam vaginaku. Wendi ternyata tidak mengetahui, dimana lubang vagina.


    Berkali-kali gagal. Aku kasihan padanya, karena hampir saja dia putus asa. Tanpa sadar, aku mengangkangkan kedua kakiu lebih lebar. Saat penisnya menusuk bagian atas vaginaku, aku mengangkat pantatku dan perlahan penis itu memasuki ruang vaginaku. Wendi menekannya. Vaginaku yang sudah basah, langsung menelan penisnya.

    Nampaknya Wendi belum mampu mengatasi keseimbangan dirinya. Dia langsung menggenjotku dan mengisapi payudaraku. Lalu

    *crooot…croot…croooootttt..*

    Spermanya menyemprot di dalam vaginaku. Tubuhnya mengejang dan melemas beberapa saat kemudian. Perlahan Wendi menuruni tubuhku. Aku belum sampai… tapi aku tak mungkin berbuat apa-apa.

    Besok malamnya, hal itu terjadi lagi. Terjadi lagi dan terjadi lagi. Setidaknya tiga kali dalam semingu. Wendi pun menjadi laki-laki yang dewasa. Tak sedikit pun kami menyinggung kejadian malam-malam itu. Kami hanya berbicara tentang hal-hal lain saja. Sampai suatu sore, aku benar-benar bernafsu sekali.

    Ingin sekali disetubuhi. Saat berpapasan dengan Wendi aku mengelus penisnya dari luar celananya. Wendi membalas meremas pantatku. Aku secepatnyake kamar dan membuka semua pakaianku, lalu merebahkan diri di atas tempat di tutupi selimut. Aku berharap, Wendi memasuki kamar tidurku. Belum sempat usai aku berharap, Wendi sudeah memasuki kamar tidurku.

    Di naik ke kamar tidurku dan menyingkap selimutku. Melihat aku tertidur dengan telanjang bulat, Wendi langsung melepas semuapakaiannya. Sampai bugil. Bibirku dan payudaraku sasaran utamanya. AKu mengelus-elus kepalanya dan tubuhnya. Sampai akhirnya aku menyeret tubuhnya menaiki tubuhku. KUkangkangkan kedua kakiku dan menuntun penisnya menembus vaginaku.

    Nafsuku yang sudah memuncak, membuat kedua kakiku melingkar pada pinggangnya. Mulutnya masih rakus mengisapi dan menggigit kecil pentil payudaraku. Sampai akhirnya, kami sama-sama menikmatinya dan melepas kenikmatan kami bersama. Seusai itu, kami sama-sama minum susu panas dan bercerita tentang hal-hal lain, seakan apa yang baru kami lakukan, buka sebuah peristiwa.


    Malamnya, seisai Wendi mengerjakan PR-nya dia mendatangiku yang lagi baca majalah wanita di sofa. Tatapan matanya, kumengerti apa maunya. Walau sore tadi kami baru saja melakukannya. Kutuntun dia duduk di lantai menghadapku. Setelah dia duduk,aku membuka dasterku dan mengarahkan wajahnya ke vaginaku. AKu berharap Wendi tau apa yang harus dia lakukan, setelah belajar dari CD pornonya.

    Benar saja, lidah Wendi sudah bermain di vaginaku. Aku terus membaca majalah, seperti tak terjadi apa-apa. AKu merasa nikmatr sekali. Lidahnya terus menyedot-nyedot klentitku dan kedua tangannya mengelus-elus pinggangku. Sampa akhirnya aku menjepit kepalanya, karean aku akan orgasme.

    Wendi menghentikan jilatannya Dan aku melepaskan nikmatku. Kemudia kedua kakiku kembali merenggang. AKu merasakan Wendi menjilati basahnya vaginaku. Setelah puas, Wendi bangkir. Aku turun ke lantai. Kini Wendi yang membuka celananya dan menarik kepalaku agar mulutku merapat ke penisnya. Penis yang keras itu kujilati dengandiam. Wendi menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Kepalaku ditangkapnya dan dileus-elusnya.

    Aku terus menjilatinya dan terus melahap penisnya, sampai spermanya memenuhi mulutku. Sampai akhirnyanormal kembali dan kami duduk bersisian menyaksikan film lepas di TV. Seusai nonton film, aku mengajaknya untuk tidur, karean besok dia harus sekolah, dan aku harus memeriksa pembukuan toko.

    “yuk tidur sayang,” kataku.Wendi bangkit dan menggamit tanganku, lalu kami tertidur pulas sampai pagi.

    Siang itu, aku mendengar Wendi pulang sekolah dan dia minta makan. Kami sama-sama makan siang di meja makan. Usai makan siang, kami sama-sama mengangkat piring kotor dan sama-sama mencucinya di dapur. Wendi menceritakan guru baruya yang sangat disiplin dan terasa agak kejam. Aku mendengarkan semua keluhan dan cerita anakku.

    Itu kebiasaanku, sampai akhirnya aku harus mengetahui siapa Wendi. Aku juga mulai menanyakan siapa pacarnya dan pernah pergi ke tempat pelacuran atau tidak. Sebenarnya aku tahu Wendi tidak pernah pacaran dan tidak pernah kepelacuran dari diary-nya. Kami sama-sama menyusun piring dan melap piring sampai ke ring ke rak-nya, sembari kami terusbercerita.

    “Ma…besok Wendi diajak teman mendaki gunung…boleh engak, Ma?” tanya Wendi meminta izinku sembari tangannya memasuku bagian atas dasterku dan mengelus payudaraku.

    “Nanti kalau sudah SMA saja ya sayang…” kataku sembari mengelus penis Wendi.

    “Berarti tahun depan dong, Ma,” katanya sembari mengjilati leherku.

    “Oh… iya sayang… Tahun depan” kataku pula sembari membelai penisnya dan melepas kancing celana biru sekolahnya dan melepas semua pakaiannya sampai Wendi telanjang bulat.


    “Kalau mama bilang gak boleh ya udah. Wendi gak ikut,” katanya sembari melepaskan pula kancing dasterku sampai aku telanjang bulat.

    Ya.. kami terus bercerita tentang sekolah Wendi dan kami sudah bertelanjang bulat bersama

    “Sesekali kita wisata ke puncak yuk ma…” kata Wendi sembari menjilati leherku dan mengelus payudaraku. Aku duduk di kursi kamar dan Wendi berdiri di belakangku. Uh… anakku sudah benar-benar dewasa. Dia ingin sekali bermesraan dan sangat romantis.

    “Kapan Wendi maunya ke puncak?” kataku sembari menkmati jilatannya. Aku pun mulai menuntunnya agar berada di hadapanku.

    Wendi kubimbing untuk naik ke atas tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku dan bertumpu pada kursi. Panttanya sudah berada di atas kedua pahaku dan aku memeluknya. Kuarahkan murnya untuk mengisap pentil payudaraku.

    “Bagaimana kalau malam ini saja kita ke puncak sayang. Besok libur dan lusa sudah minggu. Kita di puncak dua malam,” kataku sembari mengelus-elus rambutnya.

    “Setuju ma. Kita bawa dua buah selimut ma,” katanya mengganti isapan nya dari payudaraku yang satu ke payudaraku yang lain.

    “Kenapa harus dua sayang. Satu saja..” kataku yang merasakan tusukan penisnya yang mengeras di pangkal perutku.

    “Selimutnya kita satukan biar semakin tebal, biar hangat ma. Dua selimut kita lapis dua,” katanya. Dia mendongakkan wajahnya dan memejamkan matanya, meminta agar lidahku memasuki mulutnya. Aku membernya. Sluuupp… lidahku langsung diisapnya dengan lembut dan sebelah tangannya mengelus payudaraku.

    Tiba-tiba Wendi berdiri dan amengarahkan penisnya ke mulutku. Aku menyambutnya. Saat penis itu berada dalam mulutku dan aku mulai menjilatinya dalam mata terpejam Wendi mengatakan.

    ”Rasanya kita langsung saja pergi ya ma. Sampai dipuncak belum sore. Kita boleh jalan-jalan ke gunung yang dekat villa itu,” katanya.

    Aku mengerti maksudenya, agar aku cepat menyelesaikan keinginannya dan kami segera berangkat. Cepat aku menjilati penisnya dan Wendi Meremas-remas rambutku dengan lembut. Sampai akhirnya, Wendi menekan kuat-kuat penisnya ke dalam mulutku dan meremas rambutku juga.


    Pada tekak mulutku, aku merasakan hangatnya semprotan sperma Wendi beberapa kali. Kemudian dia duduk kembali ke pangkuanku. Di ciumnya pipiku kiri-kanan dan mengecup keningku. Uh… dewasanya Wendi. Au membalas mengecup keningnya dengan lembut.

    Wendi turun dari kursi, lalu memakaikan dasterku dan dia pergi ke kamar mandi. Aku kekamar menyiapkan sesuatu yang harus kami bawa. Aku tak lupamembawa dua buah selimut dan pakaian yang mampu mebnghangatkan tubuhku. Semua siap. Mobil meluncur ke puncak, mengikuti liuknya jalan aspal yang hitam menembus kabut yang dingin.

    Kami tiba pukul 15.00. Setelah check in, kami langsung makan di restoran di tepi sawah dan memesan ikan mas goreng serta lapannya. Kami makan dengan lahap sekali. Dari sana kami menjalani jalan setapak menaik ke lereng bukit. Dari sana, aku melihat sebuah mobil biru tua, Toyota Land Cruiser melintas jalan menuju villa yang tak jauh dari villa kami.

    Mobil suamiku, ayahnya Wendi. Pasti dia dengan istri mudanya atau dengan pelacur muda, bisik hatiku. Cepat kutarik Wendi agar dia tak melihat ayahnya. Aku terlambat, Wendi terlebih daulu melihat mobil yang dia kenal itu. Wendi meludah dan menyumpahi ayahnya.

    ”Biadab !!!” Begitu bencinya dia pada ayahnya. Aku hanya memeluknya dan mengelus-elus kepalanya. Kami meneruskan perjalanan. Aku tak mau suasana istirahat ini membuatnya jadi tak indah.

    Sebuah bangku terbuat dari bata yang disemen. Kami duduk berdampingan diatasnya menatap jauh ke bawah sana, ke hamparan sawah yang baru ditanami. Indah sekali.
    Wendi merebahkan kepalanya ke dadaku. AKu tahu galau hatinya. Kuelus kepalanya dan kubelai belai.

    “Tak boleh menyalahkan siapapun dalam hidup ini. Kita harus menikmati hidup kita dengan tenang dan damai serta tulus,” kata ku mengecup bibirnya.

    Angin mulai berhembus sepoi-sepoi dan kabut sesekali menampar-nampar wajah kami. Wendi mulai meremas payudaraku , walau masih ditutupi oleh pakaianku dan bra.

    “Iya. Kita harus hidup bahagia. Bahagia hanya untuk milik kita saja,” katanya lalu mencium leherku.


    “Kamu lihat petani itu? Mereka sangat bahagia meniti hidupnya,” kataku sembari mengelus-elus penisnya dari balik celananya. Wendi berdiri, lalu menuntunku beridiri. Aku mengikutinya. Dia mengelus-elus pantatku dengan lembut.

    “Lumpur-lumpur itu pasti lembut sekali, Ma,” katanya terus mengelus pantatku. Pasti Wendi terobsesi dengan anal seks, pikirku. Aku harus memberinya agar dia senang dan bahagia serta tak lari kemana-mana apalagi ke pelacur. Dia tak boleh mendapatkannya dari perempuan jalang.

    Kami mulai menuruni bukit setelah mobil Toyota biru itu hilang, mungkin ke dalam garasi villa. Wendi tetap memeluk pinggangku dan kami memesan dua botol teh. Kami meminumnya di tepi warung.

    “Wah… anaknya ganteng sekali bu. Manja lagi,” kata pemilik warung. Aku tersenyum dan Wendipun tak melepaskan pelukannya. Sifatnya memang manja sekali.

    “Senang ya bu, punya anak ganteng,” kata pemilik warung itu lagi. Kembali aku tersenyum dan orang-orang yang berada di warung itu kelihatan iri melihat kemesraanku dengan anakku. Mereka pasti tidak tau apa yang sedang kami rasakan. Keindahan yang bagaimana. Mereka tak tahu.

    Setelah membayar, kami menuruni bukit dan kembali ke villa. Angin semakin kencang sore menjelang mahgrib itu. Kami memesan dua gelas kopi susu panas dan membawanya ke dalam kamar. Setelah mengunci kamar, aku melapaskan semua pakaianku. Bukankah tadi Wendi mengelus-elus pantatku? bukankah dia ingin anal seks? Setelah aku bertelanjang bulat, aku mendekati Wendi dan melepaskan semua pakaiannya.

    Kulumasi penisnya pakai lotion. Aku melumasi pula duburku dengan lotion. Di lantai aku menunggingkan tubuhku. Wendi mendatangiku. Kutuntun penisnya yang begitu cepat mengeras menusuk lubang duburku.

    Aku pernah merasakan ini sekali dalam hidupku ketika aku baru menikah. Sakit sekali rasanya. Dari temanku aku mengetahui, kalau mau main dri dubur, harus memakai pelumas, katanya. Kini aku ingin praktekkan pada Wendi


    Wendi mengarahkan ujung penisnya ke duburku. Kedua lututnya, tempatnya bertumpu. Perlahan…perlahan dan perlahan. Aku merasakan tusukan itu dengan perlahan. Ah.. Wendi, kau begitu mampu memberikan apa yang aku inginkan, bisik hatiku sendiri. Setiap kali aku merasa kesat, aku denga tanganku menambahi lumasan lotion ke batangnya. Aku merasakan penis itu keluar-masukdalam duburku.

    Kuarahkan sebelah tangan Wendi untuk mengelus-elus klentitku. Waw… nimat sekali. Di satu sisi klentitku nikat disapu-sapu dan di sisi lain, duburku dilintasi oleh penis yang keluar masuk sangat teratur. Tak ada suara apa pun yang terdengar.

    Sunyi sepi dan diam. Hanya ada desau angin, desah nafas yang meburu dan sesekali ada suara burung kecil berkicau di luar sna, menuju sarangnya.

    Tubuh Wendi sudah menempel di punggungku. Sebelah tangannya mengelus-elus klentitku dan sebelah lagi meremas payudaraku. Lidahnya menjilati tengkukku dan dan leherku bergantian. Aku sangat beruntung mememiliki anak seperti Wendi.

    Dia laku-laki perkasa dan penuh kelembutan. Tapi… kenapa kali ini dia begitu buas dan demikian binal? Tapi… Aku semakin menikmati kebuasan Wendi anak kandungku sendiri. Buasnya Wendi, adalah buas yang sangat santun dan penuh kasih.

    Aku sudah tak mampu membendung nikmatku. AKu menjepit tangan Wendi yang masih mengelus klentitku jugamenjepit penisnyadengan duburku. Wendi mendesah-desah…

    “Oh… oh….oooooohh…”

    Wendi menggigit bahuku dan mempermainkan lidahnya di sela-sela gigitannya. Dan remasan pada payudaraku terasa begitu nikmat sekali.

    “Ooooooooooohhhh..” desahnya dan aku pun menjerit.

    “Akhhhhhhhhhhhh..” Lalu aku menelungkup di lantai karpet tak mampu lagi kedua lututku untuk bertumpu.

    Penis Wendi mengecil dan meluncur cepat keluar dari duburku. Wendi cepat membalikkan tubuhku. Langsung aku diselimutinya dan dia masuk ke dalam selimut, sembari mengecupi leherku dan pipiku. Kami terdiam, sampai desah nafas kami normal.

    Wendi menuntunku duduk dan membimbingku duduk di kursi, lalu melilit tubuhku dengan selimut hotel yang tersedia di atas tempat tidur. Dia mendekatkan kopi susu ke mulutku.


    Aku meneguknya. Kudengar dia mencuci penisnya, lalu kembali mendekat padaku. Dia kecul pipiku dan mengatakan:”Malam ini kita makan apa, Ma?”

    “Terserah Wendi saja sayang.”

    “Setelah makan kita kemana, Ma?” dia membelai pipiku dan mengecupnya lagi.

    “Terserah Wendi saja sayang. Hari ini, adalah harinya Wendi. Mama ngikut saja apa maunya anak mama,” kataku lembut.

    “OK, Ma. Hari ini haerinya Wendi. Besok sampai minggu, harinya mama. Malam ini kita di kamar saja. Aku tak mau ketemu dengan orang yang naik Toyota Biru itu,” katanya geram. Nampaknya penuh dendam. Aku menghela nafas.

    Usai makan malam, kami kembali ke kamar dan langsung tidur di bawah dua selimut yang hangat dan berpelukan. Kami tidur sampai pukul 09.00 pagi baru terbangun.

  • Hollie Mack dan Adriana Chechik pecinta ngentot anal

    Hollie Mack dan Adriana Chechik pecinta ngentot anal


    2405 views

  • Cerita Sex Terkini Kontol Wawan Menusuk Sampai Dalam

    Cerita Sex Terkini Kontol Wawan Menusuk Sampai Dalam


    3009 views

    Cersex Terbaru – Cerita Hot Dewasa Terkini, Koleksi Cerita Cabul Siswa, Cerita Sex Amoy Elok, Narasi Cabul Paling langka, Narasi Seks Terbaru, Narasi Abg Binal Ngentot, Ungkap Narasi Ngentot Tersembunyi, Tante Riang Bisyar, Mahasiswi Sange Nakal, Sekitar Seks Terhits, Birahi Tinggi Remaja, ABG IGO Bispak Horny, Seks Pemerkosaan Terganas, Seks Sedarah Terhits, Kasus Cabul Tante Riang, Cerita Acara pesta Seks Remaja, Photo Syur Hot, Photo Bugil Terbaik, Panduan Seksual Terkomplet dan Paling dipercaya.

     

    Bacaan Seks Terkini 2023 Pelet Tukang Bangunan – Bacaan seks, bacaan dewasa, bacaan ngentot, bacaan panas, narasi sex terkini 2023. Pagi itu ibarat biasa saya bangun lebih pagi dari mas Deni, kusiapkan makan pagi walau cuma beberapa lembar roti dan selai dan satu gelas kopi hitam hangat saat sebelum dia pergi kerja. Demikian dia usai berpakian dia juga makan pagi dengan rileks nya didampingi olehku. Saat sebelum tidak lupa mas Deni mencium keningku mesra disertai senyumannya yang hangat dan pergi pagi-pagi sekali memburu kereta ke arah tempat dia bekerja.
    Demikianlah sehari-harinya kami berdua. Telah tiga tahun lama waktunya kami menikah. Dengan modal tabungan dan sedikit kontribusi orang-tua kamipun dapat pergi dari “Pondok Mertua Cantik” dan mencicil rumah imut di luar kota jakarta untuk tempat tinggal kami.

    Kelompok Bacaan Seks Terkini 2023 Pelet Tukang Bangunan
    Bacaan Seks Terkini 2023 Pelet Tukang Bangunan
    Setiap hari saya bekerja di dalam rumah sebagai ibu rumah-tangga, walaupun memang tragisnya saya belum patut memiliki predikat “ibu”. Mungkin memanglah belum rezeki, dan memang waktunya belum pas untuk kami untuk mempunyai turunan . Maka setiap hari saya isi waktu luangku dengan membenahi rumah dan mengolah. Komplek rumahku termasuk baru, dan beberapa rumah belum berisi menjadi saya banyak beraktivitas apa pun untuk hilangkan kesepianku.
    Telah 5 ini hari saya mempunyai kegiatan baru, yakni memantau tugas tukang yang tengah meluaskan bangunan rumahku. Kebenaran bulan kemarin mas Deni mendapatkan tambahan uang dari bonus akhir tahunnya. Uang itu lalu kami tabung dan bekasnya kamu gunakan untuk membuat kanopi penutup garasi di area depan rumah kami.
    “Selamat pagi bu..” Sapa si mandor pak Ihksan secara ramah.

    “Oh pak Ihksan, silahkan masuk pak” Ujarku dengan tidak kalah ramah.
    Pas jam 9 pagi pak Ihksan dan anak buahnya mengawali kerjanya. Tugas membuat kanopi termasuk gampang dan tidak makan banyak tenaga, hingga sanggup dilaksanakan cukup dengan dua orang saja. Pagi itu ibarat beberapa hari awalnya pak Ihksan tiba bersama Wawan atau umum diundang Acong sepupunya untuk menolong kerjakan kanopi kami.

    Pak Ihksan yang telah berusia sekitaran 40-an itu semakin lebih mengarah me-mandori tugas anak buahnya saja yang tenaganya semakin kuat. Dan Wawan sepupunya itu yang kurang lebih berusia sekitaran tengah 20-an, tidak berbeda jauh denganku, semakin banyak lakukan tugas berat di bawah instruksi pak Ihksan.
    “Silakan pak diminum airnya” Sapaku ramah sekalian membawa nampan berisi kopi dan air putih dan meletakkannya di teras.
    “Oh ya terima kasih bu Santi..” Jawab pak Ihksan secara santun sekalian tersenyum sekalian terus meneruskan kerjanya.

    Berlainan dengan pak Ihksan, Wawan tidak banyak berbicara. Dia semakin banyak diam dan fokus bekerja. Bahkan juga sebelumnya kupikir dia mempunyai abnormalitas sangking dia tidak pernah kudengar bicara 1x juga. Tetapi satu perihal yang membuatku cukup risi dengan Wawan ialah bagaimana dia sering memerhatikanku. Sering dia melihatku dengan tajam, yang membuatku menjadi cukup salah kelakuan jika berjumpa mata dengannya.. Hal tersebut yang terkadang membuatku tidak ingin semakin lama di luar, walau sebenarnya kapan saya punyai rekan mengobrol walau cuma hanya pak Ihksan.
    Dan waktu itu sama dengan beberapa hari awalnya, ini kali juga Wawan melihatku secara cermat. Dia melihatiku lekat-lekat dari ujung rambut sampai ujungnya kaki sambil menggergaji kerangka kanopi di teras rumah. Harus kuakui, Wawan mempunyai aura misteri yang membuatku ingin tahu. Entahlah karena sikapnya yang demikian pendiam, atau karena argumen lain. Bukan sekali 2x dia mendapatiku secara cepat saat saya sedang sembunyi-sembunyi memerhatikannya. Secara cepat melihat dan membalasnya pandangan mataku seolah tahu jika saya sedang memperhatikannya.
    Namun ada satu perihal yang mengganggu rasa penasaranku. Walau selalu bekerja tanpa memakai pakaian, Wawan tidak pernah melepas Kalung hitam yang melingkar di lehernya. Kalung warisan itu ibarat dibuat dari kulit dengan bandul berwujud persegi warna hitam yang mengingatiku pada aksesori yang kerap digunakan di film sinetron pertandingan di tv. Ada satu perihal kembali yang membuatku ganjil, yakni dia seringkali menyeka-usap atau memain-mainkan kalung yang terlingkar di lehernya itu sambil dia berbisik-bisik seperti berzikir. Seringkali dia melihatiku lekat-lekat sambil lakukan kebiasan anehnya itu yang membuatku semakin risi saja.
    Entahlah semenjak kapan diawalinya, tetapi belakangan ini saya sering mendapatkan mimpi aneh. Sebuah mimpi kabur di mana saya dikunjungi sosok pria tanpa baju. Saya tidak bisa ingat terang bagaimana muka pria itu terkecuali tubuhnya yang tegap berotot. Tanpa basa-basi sang pria dalam mimpiku itu mendekapku dan memulai merangkul badanku. Selanjutnya entahlah bagaimana ceritanya, sang pria itu mulai menjamahku. Dia secara brutal meniduriku sampai pada akhirnya aku juga terjaga di tengah mimpi aneh/jelek itu secara bercucur keringat.
    Yang membuat semakin aneh ialah saya terus mendapatkan mimpi itu terus-terusan sepanjang sejumlah sesudahnya. Dan seperti umumnya, di dalam mimpi itu si pria mendadak tiba dan meniduriku. Satu perihal yang jadi kemiripan setiap mimpi ialah saat sebelum menjamahku, figur misteri itu selalu memaksakanku untuk mengoral kemaluannya, yang anehnya dalam mimpi itu selalu kulayani dengan suka hati.
    Walau saya tidak dapat ingat bagaimana perawakan sang figur yang sering tiba di mimpiku itu, antiknya saya dapat ingat benar bagaimana bentuk kemaluan sang pria tersebut.
    Saya dapat rasakan bagaimana baunya, teksturnya saat saya mengulumnya dalam mulutku. Bahkan juga saya dapat ingat rasanya di kemaluanku. Saya menjadi seperti dibikin mimpi basah setiap malam, dan terjaga dengan cairan kemaluan yang menetes-netes di celana dalamku.
    Dan demikianlah sepanjang sekian hari beruntun, saya terjaga dari mimpi jelek itu dengan keringat yang mengalir deras. Tetapi tetap saya tidak dapat ingat mukanya seperti apakah. Sampai di suatu saat saya sedang duduk di teras, memerhatikan tugas pak Ihksan dan Wawan. Tanpa sadar saya sedang memperhatikan Wawan lekat-lekat. Kuperhatikan tubuhnya yang berotot, berkilat keringat didera matahari, kulitnya yang gelap tetapi bersih.. dan aku juga tercekat saat Wawan kembali melihatku, seolah ketahui jika dia sedang dilihat.

    Aku juga selekasnya masuk ke rumah dan menenggak air putih dengan napas tersengal-sengal. Mungkinkah saya bermimpi Wawan sejauh ini?
    Makin hari saya makin tidak dapat lupakan mimpi-mimpiku pada malam hari itu. Terkadang saya merasa kebingungan temukan diriku tengah melamun membaygkan mimpiku itu. Aku juga tidak memahami mengapa saya menjadi kerap mengingat mimpi erotis itu, dan membaygkan bilaman sang pria yang tiba itu ialah Wawan. Aku juga terus berusaha untuk hilangkan beberapa pikiran aneh itu dan berusaha untuk tidak pikirkannya benar-benar dan membuangnya jauh.
    Sesuatu saat pada minggu ke dua, saya sedang menyiapkan kopi dan air putih untuk pak Ihksan dan Wawan. Hari itu saya malas sekali untuk mandi pagi, dan masih tetap memakai gaun tidurku tadi malam yang dilapisi oleh cardigan tipis sewarna dengan gaun tidurku tersebut. Saya terkejut saat menyaksikan Wawan tiba sendiri tanpa ditemani pak Ihksan.
    “Eng.. pak Ihksan ke mana?” Tanyaku dengan canggung.
    “……..Pak Ihksan sakit. Istirahat di rumah.” Jawab Wawan pendek. Kupikir-pikir baru ini kali saya dengar suaranya dan menanyakan secara langsung padanya.
    “Ooh.. Saya simpan di sini ya minumnya..” Ujarku perlahan sambil menyimpan nampan. Entahlah mengapa suaranya yang berat membuatku menjadi sedikit menciut.
    Wawan tidak menjawab dan secara langsung menyimpan perlengkapan yang dibawa. Dengan rileks dia melepaskan pakaiannya dan menggantungnya di pagarku. Saya termenung. Entahlah ini kali saya demikian berkeinginan untuk melihati tubuhnya semakin lama. Kupandangi tubuhnya yang mulai berkeringat mengeduk semen, berkilat-kilat. Entahlah bagaimana reaksi mas Deni jika mendapatiku tengah melamun memelototi pria lain semacam ini. Yang terang waktu itu saya benar-benar lupa dengan mas Deni, betul-betul lupa.
    Lamunanku tersadarkan saat kembali lagi Wawan mendapatiku ketangkap basah melihatinya. Dengan muka bersemu aku juga selekasnya masuk tanpa banyak berbicara. Di dalam rumah saya atur napas, saya tidak mengerti dapat melakukan perbuatan sebodoh tersebut. Beberapa saat berlalu saya memilih untuk melihat tv saja. Tetapi kembali lagi saya tidak dapat fokus dan pikiranku melayg membaygkan beberapa mimpi erotis yang kualami.
    Sebuah ketukan perlahan membubarkan fantasiku. Aku juga terlonjak duduk dari lamunanku. Kucoba untuk menurunkan debaran jantungku yang sejak dari barusan berdegap kuat melamunkan mimpi tidak pantas itu. Aku juga selekasnya jalan keluar dan buka pintu.
    “Izin bu. Hujan, saya stop dahulu.” Tutur Wawan pendek.
    Saya mirip orang bodoh cuma berdiri dimuka pintu dengan mata terbeliak dan mulut menganga. Tidak menygka Wawan ada di depan pintu berdiri sedekat itu denganku.
    “I-iya mas, silahkan saja.” Ujarku cepat.
    Kusaksikan badannya basah kuyup diguyur hujan. Rupanya saya tidak mengetahui turun hujan sangking asyiknya melamun barusan. Aku juga kembali tubuh dan tinggalkan Wawan yang berdiri mematung di teras melihati hujan deras yang mengguyuri teras rumah. Ternyata dia barusan sebelumnya sempat mengalihkan rangka-rangka kanopi lebih dulu hingga tubuhnya basah kuyup kehujanan. Kupikir-pikir kasihan jika dia kedinginan semacam itu, bisa jadi dia sakit dan justru tugas rumahku menjadi tidak terurus.
    “…. Eng, silahkan mas jika ingin beres-beres di dalam kamar mandi..” Ujarku canggung sekalian menunduk buka pintu sedikit mempersilakannya masuk.
    Sementara Wawan balas melihatiku sesaat, selanjutnya jalan meng ikutiku masuk ke rumah. Selekasnya sesudah memberinya handuk aku juga berlari di dalam kamar dan diam diri.
    “Duh, mengapa menjadi deg-degan ini sich?!” Umpatku dalam hati.
    Saya terduduk di kasur, selanjutnya merebahkan diriku ke-2 kakiku menjuntai kebawah. Saya pejamkan mata berusaha menurunkan debaran jantungku. Pikiranku melayg tidak teratasi, membaygkan badan kekar Wawan yang tengah diguyur shower dalam kamar mandiku, membaygkan bulir-bulir air jatuh ke antara badannya. Saya menghela napas panjang, tidak memahami dengan pikiranku sendiri.
    Tanpa kusadari Wawan rupanya sudah usai bersihkan badannya. Dia jalan perlahan keluar kamar mandi dan melihat masuk ke kamar. Posisi kamar mandi itu berseberangan dengan kamar tidurku, menjadi siapa saja yang keluar kamar mandi bisa secara gampang melihat di dalam kamar tidurku jika pintunya terbuka. Dan apesnya saat itu saya lupa tutup pintu kamar tidurku, hingga Wawan bisa langsung melihatku yang tengah merebahkan diri di atas kasur demikian dia keluar kamar mandi.
    “Saya telah usai, bu.” Tutur Wawan pendek.
    Saya terlonjak terkejut dan terduduk. Suara itu benar-benar dekat. Dan betul saja, Wawan ada di tingkat pintu kamar tidurku. Saya termenung mematung merunduk kebawah menghindar dari sorotan matanya. Entahlah semenjak kapan dia berdiri disitu. Mungkinkah sejak dari barusan dia melihatiku yang sedang merebahkan diri di atas kasur?. Yang paling mengagetkan ialah mendadak dengan perlahan-lahan Wawan mengambil langkah masuk ke kamarku, dan rapatkan pintu ada di belakangnya.
    Saya tercekat diam seribu bahasa. Otaku berusaha mengolah apa yang sedang dilakukan Wawan, dan pikirkan bagaimana dia berani sekali punyai nyali masuk ke kamarku. Nyaliku semakin menciut setiap kali Wawan mengambil langkah merapat, perlahan-lahan dia mempersempit jarak di antara kami berdua. Tubuhku lemas, di antara cemas, takut dan terpana. Terpana oleh badan telanjangnya yang menarik yang saat itu cuma terbelit selembar handuk putih di atas lututnya. Wawan melihatiku lekat-lekat tanpa kata-kata.
    Sementara saya semakin menunduk ketakutan dan cemas didera sorotan matanya yang tajam.
    Jantungku berdegap kuat saat kurasakan sentuhan halus Wawan di ujung-ujung rambutku. Apakah benar itu tangannya? Apa ini cuma Angan-anganku semata?. Sementara itu saya tetap tidak berani mendangak dan menentukannya. Entahlah mengapa tidak terbesit untuk menyingkirkannya. Kenekatan Wawan saat itu ciutkan nyaliku.
    Sementara itu jantungku tidak stop berdetak kuat tidak teratasi setiap punggung jari menyeka halus rambut pendek tergerai ku. Disekanya halus dari ujung ke pangkal rambutku yang terurai disebelah mukaku. Saya tidak sanggup menantang dan cuma dapat mematung. Ingin rasanya saya menantang, tetapi anehnya saya tidak sanggup. Jangankan berontak, mengusung muka menantang pandangannya juga saya tidak mampu.
    Sampai pada akhirnya dengan seluruh kemampuanku, saya sukses berontak dan menepiskan tangannya dari mukaku. Kutampar tangannya sampai melayg, dan dengan langsung kudorong tubuhnya dengan ke-2 tanganku dengan keinginan menyingkirkannya keluar kamarku.
    “Egghh! Keluar kamu!!”
    Tetapi tubuhku yang lebih imut darinya pasti tidak membuat bergerak sedikitpun. Justru kembali saya yang terjengkang kebelakang dan jatuh berlutut di lantai. Saat tersebut mendadak Wawan memegang tepi handuknya, dan loloskan handuknya turun sampai jatuh ke lantai. Posisi ku yang berlutut di hadapannya automatis segera bertemu dengan anggota badan bawahnya, sejajar dengan pinggangnya. Sekarang Wawan telanjang bundar di depanku tanpa satu helai benangpun terkecuali kalung warisan yang melingkar di lehernya.
    Dan di waktu itu lah semua jadi semakin tidak teratasi. Tidak lama kemudian saya kembali termenung mematung berlutut, di antara terkejut dan terkesima. K0ntol Wawan yang 1/2 keras itu pas bertemu satu jengkal jauhnya dari mukaku. Otakku segera bereaksi mengganggu alam bawah sadarku, mengulangi kembali memory beberapa mimpi yang kualami sejumlah malam hari ini. Bentuk k0ntol yang ada di depanku ini betul-betul familier. Ya, ini ialah k0ntol sang figur misteri yang sering menghantui malamku. Saya memang tidak pernah ingat dengan figurnya, tetapi saya hafal benar dengan k0ntol tersebut. Rupanya memang betul, tidak lain dan tidak bukan k0ntol itu ialah k0ntol Wawan sendiri.
    Seperti dilanda rasa haru dan kangen karena pada akhirnya dapat menyaksikannya langsung, kuperhatikan secara cermat k0ntol Wawan yang pas menodong mukaku tersebut. Bagaimana setiap goresan di tangkai k0ntolnya, kantung zakarnya, urat-urat di sekliling batagnya, kepala k0ntolnya yang sedikit lonjong berkilat, bahkan juga bentuk rambut kemaluannya memang betul benar-benar kuhapal.
    Bak tengah menyaksikan ular kobra yang siap mematuk, kupandangi k0ntolnya yang gagah melawan. Kuakui panjangnya kemungkinan cuma beda lebih panjang 2-3CM dari punya mas Deni. Karena mungkin ukuran kepala k0ntolnya yang berlainan dan sedikit besar. Tetapi yang paling jelas ialah diameternya. Walau mungkin cuma berbeda 2-3CM diameternya dari punya mas Deni, tetapi yang terang membuat menjadi kelihatan lebih tebal dan gemuk. Saya menjadi menelan ludah gugup saat terpikir bagimana rasa k0ntol itu di mulutku dan di kemaluanku dalam mimpiku.
    Bacaan Seks Terkini 2023 Pelet Tukang Bangunan
    Dan tanpa berbicara, Wawan mengelus lagi mukaku halus dengan tanganya. Sementara itu dia perlahan-lahan lebih memajukan pinggangnya semakin merapat, memperkecil jarak di antara mukaku dan kemaluannya. Tetapi ini kali saya tidak lagi cemas atau berontak, saya justru merasa tenang bahkan juga menanti-nanti. Sampai pada akhirnya saya dapat mengisap wewangian kemaluannya yang bersatu sabun merasuk di dalam hidungku. Secara perasaanah saya pejamkan mata nikmati baunya yang ciri khas. Mataku perlahan-lahan terpejam syahdu bersamaan Wawan dekatkan k0ntolnya.
    “Ach…”
    Saya terpekik kecil saat pipi halusku bergesekan secara hangatnya kulit tangkai k0ntol Wawan. Teksturnya yang tidak rata demikian berasa di pipi kananku. Tetap dengan mata terpejam kubiarkan k0ntol Wawan menelusuri mukaku. Dimulai dari pipi, selanjutnya berpindah ke hidungku sampai daguku dapat rasakan kantung zakarnya di daguku. Tangan Wawan yang semula cuma mengelus pipiku, sekarang berpindah memegang belakang kepalaku. Automatis bibirku menjadi mengecup pangkal kemaluan Wawan. narasi seks
    “Hhhmm…”
    Itil V3
    Wawan mendengus perlahan. Ditujukannya kembali kepalaku sampai sekarang bibirku mengecup naik ke tangkai kemaluannya, dan mengecup kepala k0ntolnya halus. Dan aku juga seperti memahami akan kemauan Wawan, kugerakkan bibirku mencumbui lubang urine nya yang berasa sedikit basah dan asin.
    “Mmhcch.. Mmmhcccup.. Cuppphmm.. Cupphhmmmmm…”
    Dengan jinaknya kutimpali dengan ciuman mesra pergerakan kepala k0ntol Wawan yang berputar-putar di sekitar bibirku. Perlahan-lahan tetapi tentu Wawan menggerakkan k0ntolnya maju, buka bibirku yang tertutup rapat. Sekarang tanpa banyak menggerakkan tangannya, kepalaku dengan automatis bergerak perlahan mencumbui k0ntolnya sampai masuk dikit demi sedikit.
    Bibirku sekarang sedikit menganga, ganti dari menciumi jadi mengulum kecil walau baru hanya kepala k0ntolnya saja.
    Kunikmati dan kukecap mesra rasa k0ntol Wawan di mulutku. Saya tidak pernah mengoral k0ntol siapa saja awalnya, bahkan juga k0ntol mas Deni sekalinya. Pengalaman oralku cuma dari beberapa mimpi yang kualami saja. Tetapi sekarang dengan giatnya saya menghisapi tangkai kemaluan Wawan semakin dalam sampai sekarang telah 1/2 batangnya masuk ke mulutku.
    Wawan juga semakin semangat dan memulai gerakkan pinggulnya lebih kuat. Sekarang saya cuma diam dan pasif saja memperlebar mulutku biarkan kontol tebal Wawan mengawini mulutku. Kepalaku sekarang bertumpu di tepi kasur meredam sikatan k0ntol Wawan masuk keluar di mulutku. Wawan mulai cukup sedikit brutal. Dipeganginya kuat-kuat ke-2 segi mukaku sekalian kadang-kadang dia menjejali k0ntolnya sampai ke tenggorokanku. Saya terbatuk-batuk mual karena tingkahnya, tetapi tetap saya memasrahkan diriku sepasrah-pasrahnya.
    “Uuggghhhhh…”
    Wawan juga menggeram saat dia memasukkan k0ntolnya dalam dalam di dalam mulutku. Baru saya tahu besarnya berbeda 2-3CM itu. Dadaku berasa sesak, oksigen ketahan di tenggorokanku karena k0ntol Wawan yang tenggelam dalam. Saya tercekik sampai tidak berasa mukaku merah padam dan air mataku mengucur dari segi sisi mataku yang tetap terpejam. Berasa ujung k0ntol Wawan sentuh segi paling dalam kerongonganku.
    “OHOK.. OHOK.. OHOKKK..!!!”
    Saya terbatuk-batuk saat oksigen kembali masuk ke dalam paru-paruku. Kumuntahkan sedikit lendir lekat kerongonganku sampai jatuh membasahi gaun malamku. Terlihat k0ntol Wawan berkilat basah oleh ludahku saat dia mengambilnya dari dalam mulutku. Sisa hubungan bening lendir ludahku barusan yang tetap terpaut disebelah bibirku dan kepala k0ntolnya. Rasanya lama sekali barusan dia men- deep throat ku, mungkin 30 detik, mungkin 1 menit saya tidak tahu. Tetapi entahlah bagaimana saya tidak geram malah demikian senang dapat mengoral k0ntolnya semacam itu.
    Wawan secara halus mengusap tersisa sisa ludah di bibirku. Dengan perlahan-lahan dia mambantuku berdiri yang masih cukup lemas barusan. Tetapi selanjutnya secara cepat Wawan menggerakkan badanku sampai saya jatuh terbujur di kasur. Dengan sedikit berdebar saya memerhatikan Wawan yang tetap berdiri disebelah kasur. Dengan perlahan-lahan diangkatnya ke-2 kakiku keatas kasur. Disekanya halus telapak kakiku, dan dimainkan sesaat gelang kaki yang terlilit di pergelangan kananku. Tanpa basa-basi selanjutnya Wawan mencium telapal kakiku gaungs. Dikecupnya jari kaki imutku dan diisapnya kuat-kuat.
    “Emggghhh..!”
    Langsung tubuhku menggelinjang karena kesan geli yang diakibatkannya. Selanjutnya seperti macan yang dekati mangsanya, Wawan turut naik keatas kasur dan merayap di atas badanku. Telapaknya yang kasar meraba-raba pergelangan kakiku dan naik sampai ke lututku. Tubuhku sekarang bergidik sejadi-jadinya. Apalagi sekarang tangannya telah naik kembali telusuri pahaku serta telah datang di pinggiran celana dalamku. Kontan saya rapatkan pahaku malu mungkin dia akan menanggalkan celana dalamku. Tetapi saya dikejuti oleh pergerakannya yang benar-benar tiba-tiba, daripada turunkan cd ku dia justru menjambak ujung gaun tidurku dan menyingkapnya keatas.
    Saya menggelinjang kecil meredam mukaku yang merah padam saat Wawan sukses membuka gaunku sampai ke atas dadaku. Terpampanglah telah ke-2 payudaraku di hadapannya. Saya yang memang saat itu tidak kenakan bra, sekarang harus mengikhlaskan ke-2 gunung kembarku jadi tontonannya. Yang membuatku semakin malu ialah ke-2 puting sususku rupanya telah muncul keras, pertanda jika saya memang senang juga diberlakukan semacam itu olehnya.
    Wawan melihati nanar dadaku. Kuakui memang payudaraku tidak terlampau besar (cuma 32B), tetapi memiliki bentuk yang bundar padat dan ke-2 puting susuku yang sedikit panjang warna kemerahan tentulah masih tetap membuat Wawan dahaga. Betul saja, tanpa banyak berbicara Wawan selekasnya menyantap dada kiriku sampai habis.
    “Aaaauuhhh..!!”
    Saya mendesah geli sambil membekap bibiku saat Wawan mengisap payudaraku kuat-kuat. Tidak cuma disantapnya dadaku, tetapi dengan lidahnya dia menjawil-jawil puting susuku dalam mulutnya seperti hewan yang kelaparan.
    “Aaahmmm…sslrrrpp.. Nyaammhhh…ccttttt..”
    Sampai berdecit-decit bibirnya menetek di payudaraku. Payudaraku yang sampingnya ikut juga dimainkan memakai tangannya. Kasar memang, tetapi berasa sangat nikmat menurutku. Puting susuku berubah-ubah digelitkinya, diambilnya, dipuntirnya, diambilnya kuat-kuat sampai semakin memanjang, bahkan juga disinggung-sentilnya sampai berasa cukup nyeri.
    Senang menetek kiri dan kanan, Wawan mengakhiri bermainnya. Tidak cuma ia, aku juga menjadi tersengal-sengal dibikinnya. Sesudah napasnya terkumpul kembali, Wawan sekarang bergerak turun menciumi perut dan pusarku. Saya cuma dapat tengadah kegelian dan kadang-kadang melihat kebawah cari tahu perlakuannya.
    “Aakh!!”
    Kembali saya tersentak terkejut saat tangan Wawan menyekai paha dalamku dan ganti menyekai selangkanganku. Sia-sia saja kuapit pahaku erat-erat, karena Wawan juga telah mengetahui ada suatu hal di celana dalamku. Dengan berkekuatan disentaknya ke-2 pahaku sampai terkangkang. Kembali kualihkan mukaku meredam malu saat Wawan temukan bintik basah memanjang dari muka celana dalamku. Bintik basah vertikal itu tercetak di sepanjang garis khayal bibir kemaluanku. Secara halus, Wawan mencolek bintik basah itu yang tidak salah turut mencolek kemaluanku di luar.
    “Aungghhhh…”
    Saya meringis dan membekap lagi bibirku ketika kurasakan saluran listrik yang melecut badanku saat Wawan mencolek celana dalamku. Menyaksikan reaksiku Wawan semakin menggalakkan pergerakan telunjukku. Sekarang diseka dan digosok-gosokkannya semakin cepat telunjuknya, seolah memancinf cd saya supaya lebih basah . Saya cuma dapat menggelinjang dan mendesah terbata-bata berjinjit di atas kasur karena rasa sedap yang diakibatkannya.
    Tubuhku semakin menggelinjang liar saat pada akhirnya telunjuk Wawan sukses masuk menelusup dari antara celana dalamku. Kugigit bibirku kuat-kuat saat pada akhirnya kurasakan langsung telunjuk Wawan di bibir kemaluanku. Telunjuknya menyekai bibir kemaluanku turun naik dari pojok atas sampai kebawah berkali-kali. Dinikmatinya telunjuknya yang sekarang menjadi basah berminyak oleh memekku. Yang membuatku semakin lupa dataran yakni saat Wawan mengelitiki pojok atas bibir memekku. Secara tepat dia temukan benjolan kecil yang terselinap itu dan diutak-utiknya secara cepat. Kontan saja tubuhku semakin menggelinjang bak cacing kepanasan.
    “Heemmmff..heeemmmgfffff….”

    Saya mendesah berat saat klentitku dirangsang oleh ujung telunjuknya. Dia mengetahui benar saya betul-betul menikmatinya sampai dia sekarang cuma fokus mainkan klentitku saja. Tubuhku melayg layg keasikan saat Wawan putuskan loloskan cd ku, dan secara cepat menukar telunjuknya dengan ujung lidahnya. Lidahnya yang basah yang hangat, dan Teksturnya yang ciri khas semakin menambahkan keasikan yang kurasakan.
    Sekarang ganti gantian Wawan yang mengoral diriku. Saya baru kali rasakan rangsangan foreplay yang ini enaknya, hampir menyamakan nikmat hubungan seksual yang kulakukan dengan mas Deni. Mas Deni tidak pernah menggairahkanku sebegitu binal dan kotor. Kemana sajakah saya sejauh ini? Baru kali saya demikian senang dan tidak ingin telah dimainkan semacam ini. Wawan dengan semangat mencumbu memekku. Bibirnya dan lidahnya men- French kiss kemaluanku tanpa sangsi. Baru kali berikut kurasakan memekku sebecel ini.
    Tidak cuma dari cairan pelumasku saja, tetapi juga dari ludah Wawan yang mencumbu kemaluanku Posisiku yang sekarang terlihat seperti katak yang siap dibedah, mengangkang dengan lebar-lebarnya biarkan Wawan terus lakukan perlakuan biadabnya kepadaku. Mataku terpejam-pejam sangking demikian enaknya rangsangan Wawan. Tetapi pas saat di mana tinggal sedikit kembali saya capai pucuk kepuasan, Wawan mengakhiri oralnya. Entahlah karena capek, atau memang dia menyengaja. Yang tentu saya segera jengkel dan merasa kecewa. Ingin rasanya saya berteriak dan merengek padanya meminta dilanjutkan kembali, tetapi saya malu. Saya cuma dapat melihat Wawan dengan pandangan bertanya dan sedikit melihat meminta.
    Wawan kelihatannya memang tahu terang saya telah mempasrahkan diriku seutuhnya kepadanya. Dengan perlahan-lahan dia menjajarkan dianya diatasku. Tanpa ingat malu kurengkuh leher Wawan dan kuciumi gaungs bibirnya. Biarkanlah dia berpikiran saya pelacur atau binal, yang penting saya ingin sekali diselesaikan birahiku sekarang ini . Wawan juga untungnya diam dan cuma membalasnya cumbuanku tanpa berbicara apapun. Kuciumi bibirnya mesra seolah membujuknya kembali untung meneruskan pencabulannya padaku. Wawan rupanya sembunyi-sembunyi telah menyiapkan diri.
    Tanpa kusadari Wawan telah arahkan moncong k0ntolnya tepar di muka bibir memekku. Mataku membelalak berbinar saat kurasakan kepala k0ntolnya mencocol halus lubang kemaluanku. Dengan berdebar tidak sabaran, selekasnya kuposisikan kembali ke-2 kakiku mengangkang siap-siap menyongsong k0ntol yang sangat kurindui tersebut.
    Wawan tidak terlampau cepat-cepat mempenetrasi diriku, sampai saya menjadi kegatalan sendiri dibikinnya. Pertama kali Wawan menggesek-gesekkan tangkai k0ntolnya dulu, membalurinya dengan cairan pelumasku. Lantas secara halus digosoknya juga kelentitku dengan moncong k0ntolnya, yang membuat tubuhku ngilu-ngilu enak. Sambil terus kucumbui lehernya dan dagunya, terkadang menyengaja kuangkat dan kumajukan pinggulku supaya cepat-cepar Wawan masukkan tangkai jantannya walau terus melenceng.
    Pada akhirnya ketika birahiku sudah tidak terbensung kembali di ubun-ubunku, saat tersebut Wawan mengincar lubang kemaluanku. Perlahan-lahan tetapi tentu kepala k0ntol Wawan mulai tenggelam masuk di rongga memekku. Dengan mendesah ketahan, kunikmati seluruh tangkai Wawan yang berjubal masuk di lubang yang sejauh ini cuma bisa dimasuki oleh maa Deni.
    “Ooooouugghhhhhh…nggg..oohhhhhhh…”
    Kurasakan bagaimana lezatnya otot dinding kemaluanku yang dipaksakan merenggang lebih dari umumnya. Diameter k0ntol Wawan yang melampaui punyai mas Deni memaksakan memekku menyesuaikan kembali. Walau licin dan telah sangat basah, tetap berasa bagaimana sesak dan sempitnya memekku menantang k0ntol gemuk Wawan. Wawan dengan mahirnya menarik undur tangkai k0ntolnya, selanjutnya memacu lebih dalam dari sebelumnya. Terus perlahan-lahan semacam itu sampai pada akhirnya bermenit-menit selanjutnya ke-2 pangkal kemaluan kami berjumpa. Wawan menggeram senang rasakan k0ntolnya yang tenggelam dalam di rahimku. Begitupun saya yang temukan kesan kepuasan sanggup menelan habis k0ntol Wawan yang notabene lebih hebat yang umumnya kurasakan.
    Kami berdua lantas termenung sesaat nikmati pertautan kemaluan kami. Berasa ada chemistry antara kami karena ke-2 kemaluan kami berasa demikian cocok satu dengan sama lain. Umumnya punya mas Deni tidak pernah dapat se-pas ini. Tetapi sekarang k0ntol Wawan bersatu dengan prima dengan memekku. K0ntolnya sanggup raih beberapa sudut rongga paling dalam yang tidak pernah diraih mas Deni sebelumnya. Begitupun besarnya, baru ini saya rasakan memekku sesak penuh dipenuhi k0ntol sebegitu gemuk. Walaupun cukup nyeri kurasa, tetapi tidak dapat kupungkiri saya betul-betul menyenangi otot memekku merenggang lebar semacam ini.
    Bermenit-menit selanjutnya kami masij saja diam sama-sama nikmati kedutan dan remasan kemaluan keduanya. Kami sama-sama berpandangan mesra sambil berciuman halus. Sampai pada akhirnya Wawan memiliki inisiatif memacu pinggulnya perlahan-lahan.
    “PLOK!”
    “Ouuwwwwhhh..mmsssssshhh”
    Sekali pukulan cepat bunyi kemaluan kami beradu. Wawan dengan perlahan menarik undur k0ntolnya keluar. Saya dapat rasakan bagaimana rongga memekku seolah turut ketarik keluar saat dia ambil ancang ancang undur. Dan secara cepat Wawan mendesak maju menghajar memekku sampai mentok kembali semuanya.
    Tempat tidur pernikahanku dan mas Deni sekarang berderit-derit kuat. Terlihat bagaimana badan Wawan yang berkilat seksi oleh keringat bergerak memiliki irama diatasku. Dari belakang saya terlihat terbenam di bawah tubuh Wawan. Yang kelihatan kemungkinan cuma punggung Wawan saja, dan cuma ada 2 buah tangan yang mencengkeram tengkuk dan mencakar punggungnya gaungs. sepasang kaki yang melilit pinggul Wawan erat-erat sambil merenggangakan dan menjinjitkan jari-jari kaki imutnya bak seorang balerina.
    “Ouggh.. Ugghh.. Uuuuuhmmmm…”
    Wawan menggeram saat mengakhiri pacuannya sesudah temponya turun. Saya cuma dapat tersengal-sengal dengan gestur sakau di bawah badan Wawan. Wawan melihat sepintas ke almari di seberang tempat tidur, dan dia punseperti memperoleh gagasan. Dia juga putar badanku sampai saya tiduran kesamping. Selanjutnya diputarnya tubuhku secara gampangnya (karena tubuhku lebih kecil darinya) hingga sekarang saya berposisi merayap di depannya.
    Semua dilaksanakanya tanpa mengambil k0ntolnya dari memekku. Lalu dia geser badanku sampai sekarang kami berdua bertemu dengan cermin pada pintu almari itu. Sekarang saya berpegangan di tepi kasur sementara Wawan mulai memicu kembali kuda poninya.
    “Aaaawwwwh… Aaaaaaahhhh… Aaaaaaaaaaaaahhh…!”
    Sekarang tanpa kembali malu saya mulai berteriak sekencang-kencangnya. Saya menjerit-jerit bak orang disiksa. Tentu saja saya sedang disiksa kepuasan oleh Wawan sekarang ini. Entahlah mengapa dengan menghadap cermin semacam itu perasaan binalku ada perlahan-lahan. Saya seperti tidak mengenali figur wanita yang tengah asyik menjerit-jerit di dalam cermin tersebut.
    Apakah benar itu santi? Istri dari Deni? Aku juga tidak yakin jika itu ialah diriku. Wanita di dalam cermin itu sedang asyik mengerang dan mendesah biarkan dianya dicicipi oleh tukang bangunan yang nista. Ya, mungkin wanita di cermin itu wanita nista. Nista karena biarkan dianya nikmati kepuasan terlarang dan mengkhianati suaminya. Simak juga: Bacaan Seks Terkini 2023 Ibu Sandra Pimpinan Bank
    “Aaaghhh terusss.. Terus mas Wawaniiii.. Terussssssss”
    Aku juga mulai berani buka mulut dan panggil-manggil Wawan. Wawan secara brutalnya menjambak rambutku dan mencengkeram bahuku dari belakang, supaya hentakannya dapat semakin kuat . Wawan juga mencondongkan tubuhnya dan berbisik tidak kalah binal dariku.
    “Iyaaa mas Wawan.. Aaauwwwwh… Bantai terus masss bantai masss..”
    “Hmmmggg..rrrr…kamu sukai kan?!”
    “Iya masss… Santi sukai masss.. Sukai sekali maaaasssh.. Aaaauuggghh”
    “Hmmmgghhh.. Saya kuat khan? Ugfhh.. Uffghh.. Gak kaya suami kamu lemah.. Uffghh”
    “He eh mass.. Enakk masss.. Santi senang massss.. Auuuuhh!!
    “Tentukan mana.. Uffgh.. Saya apa suami.. Ufgh.. Kamu??”
    “Aaaasgghh… Santi sama mas Wawan ajaaa… Aaahhh santi nikmatt sama aauhh.. Mas Wawaniiii…!”
    “Mulai sekarang ini.. Nffhhh…kamu selesai..ssshhm..istriku saja yah.. Uufgghh…”
    “Mhmhhh.. Iyah iyah mass.. Santi ingin menjadi istri mas Wan.. Awwugh.. Mas Wawanii…!!”
    “Gghrrrr.. Bagusss… Tidak hamilin yaah?? Ingin?? Uffgh..”
    “Iya mas Wawaaannnn.. Hamilin santi masshhh.. Hamilin masss.. Semprotin aauwwwhh yang.. Banyak massss.. Ighhh..aaahhhh…”
    “Uggfhhg nih.. Nih… Mmmggaaaaaaaaahhh!!!!”
    Wawan selanjutnya menghentakkan dalam-dalam k0ntolnya dan menyembur benihnya di dalam rahimku. Sudah pasti lusuhbut semprotannya dengan orgasme ku yang talah kalah hebat. Kami berdua sama kejang nikmati klimaks paling indah yang sebelumnya pernah kami alami ini. Sampai akhirnya badan kami berdua roboh di atas kasur. Benih Wawan menetes-leleh antara celah kemaluanku. Kami berdua selekasnya hampir lelap bahkan juga tidak sampai ingat untuk mengambil kemaluan kami berdua. Kamipun pada akhirnya tertidur sama-sama menerpah keduanya masih pada kondisi seperti barusan. Kurengkuh mesra suami baruku yang mengorok di atas badanku ini dan turut lelap dengannya.

  • Kisah Memek Tetangga yang menyuruhku emut susu besar nya sampai vagina basah

    Kisah Memek Tetangga yang menyuruhku emut susu besar nya sampai vagina basah


    3030 views

    Duniabola99.com – Ini adalah pengalaman saya dengan Bu Edi, tetangga saya. Waktu itu kira-kira jam 9 pagi saya berniat mau kerumahnya untuk membayar listrik karena memang dibantu oleh beliau dengan menyalur listrik di rumahnya krn kebetulan belum pasang listrik sendiri…


    Trus sesampai dirumahnya ternyata sepi sekali. Aku kira tidak ada orang di rumah. Tapi aku liat pagar tidak dikunci, jadi inisiatif aku buka aja kemudian aku ketuk pintu rumah bu Edi… “Pagi bu” sapaku “Eh, mas leo…,masuk..”

    Aku pun langsung masuk kedalam rumah, kulihat Bu Edi pagi itu begitu seksi dengan menggunakan daster tanpa lengan yang serba tipis dan mini sehingga terlihat tubuh bu edi yang montok..”Wah kalo kayak gini bisa kacau ni otak…” kataku dalam hati “Ini bu, saya mau bayar listrik untuk bulan ini dan bulan depan.

    Saya dobel aja, kebetulan ada rejeki…” aku memulai pembicaraan. “Oalah….kenapa kok pake didobel segala sih mas?? Gak apa2 kok bayar satu aja dulu, khan tanggalnya jg msh muda gini, barangkali ada keperluan mendadak khan bisa dipakai dulu…” katanya. “Ah gak apa2 kok bu. Mumpung lagi ada aja. Daripada ntar kepakai bln depan saya jd bingung bayarnya….” Jawabku.

    “Mas leo ini bisa aja..masalah itu mah gampang mas bisa diatur…lagian tetangga dekat aja kok. Santai aja lah” serunya ramah. “Iya bu gak apa kok…dibayar dobel aja.” Kataku lagi. “Kalo gitu tunggu ya,,ibu ambil catatannya dulu..Oh iya mas leo mau minum apa? Panas apa dingin??” tanyanya lagi. “Ah gak usah repot2 bu….bentar lagi juga pulang kok..” seruku.


    “Udah gak apa2…kopi ya?? Biar gak buru2 pulang…” katanya lagi. “Boleh deh bu, terima kasih…..” jawabku sambil tersenyum. Ibu Edi pun langsung masuk kedapur, Sementara aku hanya terdiam sambil menghitung uang dari dompetku untuk memastikannya tidak kurang. Ibu Edi keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi.

    “Silakan diminum mas…” “Terima kasih bu..” Jawabku. Bu Edi duduk disampingku sambil membuka2 lembaran buku catatan pembayaran listrik bulan lalu. Aku mencium aroma wangi sekali, ditambah pemandangan indah krn daster bu edi agak rendah sehingga aku bisa melihat belahan dadanya yg putih dan padat berisi. Situs Poker Online

    Nampaknya bu edi baru selesai mandi. Aku merasakan ****** aku mulai membesar melihat pemandangan yahud ini… “Nah ini mas, totalnya masih sama seperti bulan kemarin, delapan puluh lima ribu. Jadi dibayar dobel kah?” Aku agak terkejut karena pikiranku masih melayang entah kemana.

    “Eh….oh…iya bu, jadi bayar dobel. Berarti totalnya berapa bu??” Jawabku sekenanya. “Berarti ya seratus tujuh puluh ribu…” kata bu edi sambil senyum. “Oh…eh….ii….iya bu saya bayar semua. Ini a…ada dua ratus ribu saya titipkan semua aja..” kataku gugup.

    Bagaimana tidak. Ketika menyebutkan jumlah tadi, pose bu edi sangat menantang, dengan belahan dada yg nampak jelas dan paha yg menganga.. “Lho kok kaget?? Kenapa?? Dibayar satu dulu aja gak apa2 kok mas” katanya. “eh…anu….nggak kok bu.

    Beneran saya ada kok. Saya bayar semua aja..” kataku sambil melirik belahan dada bu edi yg begitu menantang.. Nampaknya bu edi mengetahui aku menyelidiki dadanya yg sekal itu..Namun bu edi hanya tersenyum tanpa berusaha menutupinya. “Ya udah kalo gitu gak apa2 deh. Emang mas leo liatin apa sih koq kayaknya jadi gak konsentrasi gitu??”


    “Oh…eh…nggak kok bu.., anu….” aduh aku mulai bingung, sementara bu edi tersenyum memandang ku. “Kopinya diminum gih mas,, keburu dingin lho” serunya sambil tersenyum. “Masalah duitnya ntar aja deh, keliatannya mas leo lagi bingung gitu…” katanya sambil tersenyum nakal. Tiba2 bu edi menyentuh pahaku, “dari tadi ngliatin ini aja kenapa mas??” Tanya bu edi sambil menunjuk dadanya.

    “Oh….eh….anu…itu….gak sengaja bu…” jawabku makin gugup “Gak sengaja apa gak sengaja?? Koq diliatin terus sampai gak berkedip gitu..?” katanya sambil semakin mendekat ke aku. “Suka ya???” Tanyanya lagi “Mau??” aku semakin tidak bisa menjawab. Tapi kontolku semakin tegang krn bu edi mengelus-elus pahaku.

    “Eh..m..m…maksud ibu??” Srup bibirnya bu edi langsung melumat bibirku dan tangannya meramas-remas ****** ku, pikiranku sangat kacau, aku masih bingung dan belum percaya kalo saat ini aku bermesraan dengan bu edi, yang selalu jadi fantasi sex ku. Birahiku pun mulai bangkit, aku pun mulai meremas-remas payudara bu edi yang tadinya hanya aku liatin saja.

    Kami saling melumat dan tangan bu edi terus meremas-remas kontolku. Tanganku pun mulai menelusup dari sela-sela daster bu edi dan masuk ke dalam BHnya. Aku mainkan dan aku pilin-pilin puting susu bu edi yang mulai mengeras.

    “Terus mas leo…ssshhs, enak banget..” dan tangan bu edi mulai membuka celana jeans ku, aku pun membantunya dan kemudian kulepas kaosku sehigga kini tinggal cd yang melekat. “Mas…kita ke kamar aja ya…jangan disini nanti diliat orang..” Dan kemudan mencium bibirku.

    Bu edi langsung masuk kekamar dan membuka dasternya, tubuh bu edi kini tinggal berbalut BH dan cd saja. Kemudian sambil menatapku nakal bu edi mulai membuka bh dan cd nya. Kini bu edi telah telanjang bulat dihadapanku…

    “Wow bener2 seksi nih….” Gumamku sambil memelototi tubuh bu edi satu per satu dari atas sampai bawah. Tubuh bu edi memang sangat mulus, kulitnya putih, payudara nya begitu menantang dengan puting kemerahan yg mengacung. Apalagi memek bu edi, begitu indah dengan klitoris yg menonjol, serta tidak ada satu helaipun bulu jembutnya..nampak sehabis dicukur.


    “Kok malah bengong mas leo….sini dong” Bu Edi duduk di tepi ranjang dan kemudian aku mendekat dan menunduk mencium bibirnya. Tangan bu edi melepaskan cd ku dan keluarlah kontolku. “Waaahhh….. mas…ini besar banget, apa begini ya kalo orang arab?” Kebetulan memang aku keturunan arab….

    ”lebih besar dari punya suamiku nih….wah muat gak ya??” kata bu edi sambil mengelus-elus ****** ku, sesekali dijilati ujung hingga buah pelirku jg tak lepas dari jilatan bu edi. Aku hanya terpejam menikmati servis dari bu edi ini. Bu edi kemudian berdiri dan menciumku kemudian turun kedadaku, putingku di hisap dan dijilati.

    Ouh..bu enak banget bu, terus bu. Kemudian bu edi berjongkok dihadapan ku dan menjilat kontolku seperti menjilat es krim. Kemudian memasuk kan kontolku kemulutnya. Dia pun mengulum kontolku dengan lihai. Nikmat sekali rasanya, lebih nikmat dari hisapan istriku…. “ahh….Terus bu”, aku pun mulai memompa kontolku didalam mulut bu edi sehingga mulut bu edi terlihat penuh.

    Sesekali bu edi menggunakan giginya untuk mengulum kontolku…aaaauuhhhh rasanya benar-benar nikmat. Sekitar 10 menit bu edi mengoralku, sebelum akhirnya menciumi buah pelirku, menjilatinya lalu berdiri dan kembali mencium bibirku.

    Ternyata bu edi sangat menyenangi foreplay. Terbukti berkali-kali dia menjilat leher hingga belakang telingaku dan memainkan lidahnya di putingku. Bener-bener sensasi yang luar biasa. Aku pun tidak tinggal diam. Kini aku remasi payudara bu edi sambil aku jilat lehernya.

    Payudara nya jg tak luput dari jilatan dan remasanku sampai aku mulai mengulum putingnya. Bu edi hanya mengeliat-mengeliat dan mendesah mendapat perlakuan ini dariku. Sesekali aku gigit2 kecil putingnya dan bu edi melenguh nikmat karenanya….

    Perlahan aku baringkan bu edi sambil terus melumati payudara nya. Ciumanku turun ke perutnya..”Bener2 putih dan perfect tubuh ini” batinku. “Ahhhh…..sssssshshhh…..ouh…..terus mas….ahhhhh….enak banget lidahmu….ahhh….mas leo pinter…..eeehmm..” bu edi mengeliat.


    Aku pun menjulurkan lidahku ke memeknya, asin, ternyata cairannya bu edi banyak banget keluar. Memek yang kemerahan itu bener-bener basah oleh ludahku yg bercampur lendirnya.. Aku pun mengangkangkan kakinya agar bisa menjilat lebih dalam, ku jilat klitorisnya lalu aku kulum-kulum dan sesekali kugigit pelan-pelan.

    Ouch…nikmat banget mas……terus…..auhhh…ouhhh…, hisap terus mas…” Aku pun menjilatnya dan kemudian ku masukkan jari ku kadalam memeknya dan bu indah pun menggelinjang keenakan…. Ouch..mas….ahhhhhh….terusin mas…aku gak pernah senikmat ini……jari kamu enak banget ahhh pinter mas…..shhhh…”

    Tak lama kemudian bu edi menjepit kepalaku dan menjambak rambutku dan aku pun mepercepat permainan fucking finger ku di memeknya.. “Shhhhh…,uhhhhffff…aku mau keluar mas..oouuuuhh….hisap terus mas….,ohh……” Akupun menghisap kuat kuat lubang kenikmatan itu dan “cret..cret..” Cairan bu edi menyemprot mulutku dan aku pun menjilatnya sampai bersih.

    Bu edi keliatan lemas….aku pun kembali berjongkok di atas kepala bu edi dan kembali ku sodorkan kontolku.. Bu edi pun menghisap dengan kuat kontolku..aku membalikkan badanku sehingga posisi kami sekarang 69, aku menahan badanku dengan lutut dan terus memompa mulut bu edi. Sementara memek bu edi kembali basah dan aku terus mengelus elusnya.

    Aku pun memperbaiki posisiku dan kini kami sama-sama berbaring.. Kulumat bibir bu edi yang sensual dan menggemaskan, sambil tanganku memainkan klitorisnya.. “Shh..uhf.. nikmat banget mas…aaahh….masukin sekarang mas….auuhhhh..cepet mas aku udah ga tahan nih..gatel banget rasanya.”

    Bu edi pun kusuruh mengangkang dan mengangkat kakinya kedepan hingga terlipat menyentuh payudara nya… Kini bibir memek bu edi muncul keluar dan menganga seakan berteriak minta dientot. Aku pun mengarahkan kontolku ke vagina bu edi dan mulai menggesek-gesekannya.. ”sssshhhh….aaahh…uuuhhh ayo maas masukin dong…ahhhhh”.. Aku pun menancapkan kontolku dengan cepat masuk ke dalam vagina bu edi yang sudah basah.

    “Ouhhhh….pelan-pelan mas….ahhhhhhhhhh……kontolmu gede banget mas….”. Ternyata memek bu edi masih sempit dan enak banget kontolku serasa dipilin-pilin. Aku pun memompa terus memek bu edi…semakin lama semakin cepat.. “Ouh..terus mas…..iih…ahhh….sshhhh…”.

    Kemudian aku berhenti dan menancapkan kontolku sedalam-dalamnya lalu aku diamkan…..aku ciumin payudara bu edi…lalu aku kulum putingnya…Dan secara tiba2 aku goyang lagi dengan gerakan menekan dan memutar.

    “Shhhhhh…..ahhhhhh,,,masss pinter banget kamu…a.oooohhh…..enak mas….” Bu edi meracau tak karuan. Kemudian tubuh bu edi mengejang dan kontolku terasa dijepit kuat sekali..


    “Ouh..aku keluar lagi mas…..enak mas…..enak banget,” Aku pun membalikkan badan bu edi dan ternyata bu edi langsung mengerti apa mauku dan dia pun langsung menungging dan kini kami dogy style..aku pun memasukan kontolku kedalam memek bu edi..

    “Ouhh…..mas….kamu kuat banget….ahhhhhh…..leo…..terus sayang…..nikmat banget “ Aku terus memompa memek bu edi sambil meremas-remas payudara bu edi yang bergelantungan.. ”Ouh..ahh..terus mas….,aku gak tahan lagi mas….ahhhhh….. “ rintih bu edi.

    Aku pun merasa ada yang mau keluar dari kontolku,,,,aku semakin mempercepat kocokanku di memek bu edi. “huffft….aahhh….oh….sayang….aku mau keluar nih…” seruku. Aku tak peduli lagi dengan beda usia kami. Aku panggil bu edi dengan sayang. “ahhhh….uuhhh….iya sayang gak apa-apa terusin aja….shhhshhhh…” teriaknya.

    Rupanya tak dapat kutahan lebih lama lagi. Dengan tusukan terakhir aku berhenti dan cret…cret…..cret…. “ahhhh….. sayang….. uuuhhhh” teriakku mengiringi semprotan spermaku ke memek bu edi.

    “Auuuuuuuhhhh……oooooohhhh……” rintih bu edi. Aku merasa ada rasa hangat di sekujur kontolku…nampaknya bu edi orgasme lagi.. “aahh….” Kami berdua rebahan di kasur…bu edi tersenyum puas…lalu aku kecup bibirnya….. “makasih mas……enak bgt…..” ujar bu edi.

    “Iya sayang….aku juga merasa enak bgt….puaaaassss sama km….” seruku sambil lalu mengulum bibirnya lagi. Tanganku mulai meraba payudara nya lagi. “mas….aahhhh udah dulu mas…..capek….ssshhh..” “Iya sayang,,,,aku cm gemes aja sama ini …” jawabku sambil mencubit payudara nya.. Kami pun berpakaian lagi. Ketika hendak pamit, bu edi melumat bibirku dan meremas kontolku….


    “Uangnya dibawa aja dulu ya…..bln depan aja bayarnya…..” kata bu edi di sela2 ciuman kami. “Aku balas meremas payudara nya lalu aku kulum lagi bibirnya. “kalo bulan depan kelamaan….ini gak betah “ kataku sambil menunjuk kontolku. “Iya gampang….ntar aku sms kalo rumah lagi sepi….ok sayang…..”jawabnya..

    “Dengan senang hati” jawabku dan aku kulum bibirnya lagi sambil aku mainkan puting payudara nya…. Aku pun pamitan pulang. Sejak itu kami jadi sering ML kalo rumah bu edi lagi sepi. Bahkan pernah juga di hotel kalo bener2 gak tahan tapi di rumah lagi ada anak-anaknya.

    Dan aku juga sering dibebaskan bayar listrik karena bu edi puas dengan pelayanan yang aku berikan, dan aku bisa puas memainkan payudara nya.

  • Kisah Memek Dari Adik Dapat Kakaknya

    Kisah Memek Dari Adik Dapat Kakaknya


    3793 views


    Duniabola99.com – Selesai sekolah Sabtu itu langsung dilanjutkan rapat pengurus OSIS. Rapat itu dilakukan sebagai persiapan sekaligus pembentukan panitia kecil pemilihan OSIS yang baru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemilihan dimaksudkan sebagai regenerasi dan anak-anak kelas 3 sudah tidak boleh lagi dipilih jadi pengurus, kecuali beberapa orang pengurus inti yang bakalan “naik pangkat” jadi penasiha
    Usai rapat, aku bergegas mau langsung pulang, soalnya sorenya ada acara rutin bulanan: pulang ke rumah ortu di kampung. Belum sempat aku keluar dari pintu ruangan rapat, suara nyaring cewek memanggilku.

    “Didik .. “ aku menoleh, ternyata Sarah yang langsung melambai supaya aku mendekat. “Dik, jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang pengin aku omongin sama kamu,” kata Sarah setelah aku mendekat.

    “Tapi Rah, sore ini aku mau ke kampung. Bisa nggak dapet bis kalau kesorean,” jawabku.

    “Cuman sebentar kok Dik. Kamu tunggu dulu ya, aku mberesin ini dulu,” Sarah agak memaksaku sambil membenahi catatan-catatan rapat. Akhirnya aku duduk kembali.

    “Dik, kamu pacaran sama Nita ya?” tanya Sarah setelah ruangan sepi, tinggal kami berdua. Aku baru mengerti, Sarah sengaja melama-lamakan membenahi catatan rapat supaya ada kesempatan ngomong berdua denganku.

    “Emangnya, ada apa sih?” aku balik bertanya.

    “Enggak ada apa-apa sih .. “ Sarah berhenti sejenak. “Emmm, pengin nanya aja.”

    “Enggak kok, aku nggak pacaran sama Nita,” jawabku datar.

    “Ah, masa. Temen-temen banyak yang tahu kok, kalau kamu suka jalan bareng sama Nita, sering ke rumah Nita,” kata Sarah lagi.

    “Jalan bareng kan nggak lantas berarti pacaran tho,” bantahku.

    “Paling juga pakai alasan kuno ‘Cuma temenan’,” Sarah berkata sambil mencibir, sehingga wajahnya kelihatan lucu, yang membuatku ketawa. “Cowok di mana-mana sama aja, banyak bo’ongnya.”

    “Ya terserah kamu sih kalau kamu nganggep aku bohong. Yang jelas, sudah aku bilang bahwa aku nggak pacaran sama Nita.”


    Aku sama sekali tidak bohong pada Sarah, karena aku sama Nita memang sudah punya komitmen untuk ‘tidak ada komitmen’. Maksudnya, hubunganku dengan Nita hanya sekedar untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa janji atau ikatan di kemudian hari. Hal itu yang kujelaskan seperlunya pada Sarah, tentunya tanpa menyinggung soal ‘seks’ yang jadi menu utama hubunganku dengan Nita.

    “Nanti malem, mau nggak kamu ke rumahku?” tanya Nita sambil melangkah keluar ruangan bersamaku.

    “Kan udah kubilang tadi, aku mau pulang ke rumah ortu nanti,” jawabku.

    “Ke rumah ortu apa ke rumah Nita?” tanya Sarah dengan nada menyelidik dan menggoda.

    “Kamu mau percaya atau tidak sih, terserah. Emangnya kenapa sih, kok nyinggung-nyinggung Nita terus?” aku gantian bertanya.

    “Enggak kok, nggak kenapa-kenapa,” elak Sarah. Akhirnya kami jalan bersama sambil ngobrol soal-soal ringan yang lain. Aku dan Sarahpun berpisah di gerbang sekolah. Nita sudah ditunggu sopirnya, sedang aku langsung menuju halte. Sebelum berpisah, aku sempat berjanji untuk main ke rumah Nita lain waktu.

    *****

    Diam-diam aku merasa geli. Masak malam minggu itu jalan-jalan sama Sarah harus ditemani kakaknya, dan diantar sopir lagi. Jangankan untuk ML, sekedar menciumpun rasanya hampir mustahil. Sebenarnya aku agak ogah-ogahan jalan-jalan model begitu, tapi rasanya tidak mungkin juga untuk membatalkan begitu saja. Rupanya aturan orang tua Sarah yang ketat itu, bakalan membuat hubunganku dengan Sarah jadi sekedar roman-romanan saja. Praktis acara pada saat itu hanya jalan-jalan ke Mall dan makan di ‘food court’.

    Di tengah rasa bete itu aku coba menghibur diri dengan mencuri-curi pandang pada Mbak Indah, baik pada saat makan ataupun jalan. Mbak Indah, adalah kakak sulung Sarah yang kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota ‘Y’. Dia pulang setiap 2 minggu atau sebulan sekali. Sama sepertiku, hanya beda level. Kalau Mbak Indah kuliah di ibukota propinsi dan mudik ke kotamadya, sedang aku sekolah di kotamadya mudiknya ke kota kecamatan.


    Wajah Mbak Indah sendiri hanya masuk kategori lumayan. Agak jauh dibandingkan Sarah. Kuperhatikan wajah Mbak Indah mirip ayahnya sedang Sarah mirip ibunya. Hanya Mbak Indah ini lumayan tinggi, tidak seperti Sarah yang pendek, meski sama-sama agak gemuk.

    Kuperhatikan daya tarik seksual Mbak Indah ada pada toketnya. Lumayan gede dan kelihatan menantang kalau dilihat dari samping, sehingga rasa-rasanya ingin tanganku menyusup ke balik T-Shirtnya yang longgar itu. Aku jadi ingat Nita. Ah, seandainya tidak aku tidak ke rumah Sarah, pasti aku sudah melayang bareng Nita.

    Saat Sarah ke toilet, Mbak Indah mendekatiku.

    “Heh, awas kamu jangan macem-macem sama Sarah!” katanya tiba-tiba sambil memandang tajam padaku.

    “Maksud Mbak, apa?” aku bertanya tidak mengerti.

    “Sarah itu anak lugu, tapi kamu jangan sekali-kali manfaatin keluguan dia!” katanya lagi.

    “Ini ada apa sih Mbak?” aku makin bingung.

    “Alah, pura-pura. Dari wajahmu itu kelihatan kalau kamu dari tadi bete,” aku hanya diam sambil merasa heran karena apa yang dikatakan Mbak Indah itu betul.

    “Kamu bete, karena malem ini kamu nggak bisa ngapa-ngapain sama Sarah, ya kan?” aku hanya tersenyum, Mbak Indah yang tadinya tutur katanya halus dan ramah berubah seperti itu.

    “Eh, malah senyam-senyum,” hardiknya sambil melotot.

    “Memang nggak boleh senyum. Abisnya Mbak Indah ini lucu,” kataku.

    “Lucu kepalamu,” Mbak Indah sewot.

    “Ya luculah. Kukira Mbak Indah ini lembut kayak Sarah, ternyata galak juga!” Aku tersenyum menggodanya.


    “Ih, senyam-senyum mlulu. Senyummu itu senyum mesum tahu, kayak matamu itu juga mata mesum!” Mbak Indah makin naik, wajahnya sedikit memerah.

    “Mbak cakep deh kalau marah-marah,” makin Mbak Indah marah, makin menjadi pula aku menggodanya.

    “Denger ya, aku nggak lagi bercanda. Kalau kamu berani macem-macem sama adikku, aku bisa bunuh kamu!” kali ini Mbak Indah nampak benar-benar marah.

    Akhirnya kusudahi juga menggodanya melihat Mbak Indah seperti itu, apalagi pengunjung mall yang lain kadang-kadang menoleh pada kami. Kuceritakan sedikit tentang hubunganku dengan Sarah selama ini, sampai pada acara ‘apel’ pada saat itu.

    “Kalau soal pengin ngapa-ngapain, yah, itu sih awalnya memang ada. Tapi, sekarang udah lenyap. Sarah sepertinya bukan cewek yang tepat untuk diajak ngapa-ngapain, dia mah penginnya roman-romanan aja,” kataku mengakhiri penjelasanku.
    “Kamu ini ngomongnya terlalu terus-terang ya?” Nada Mbak Indah sudah mulai normal kembali.

    “Ya buat apa ngomong mbulet. Bagiku sih lebih baik begitu,” kataku lagi.

    “Tapi .. kenapa tadi sama aku kamu beraninya lirak-lirik aja. Nggak berani terus-terang mandang langsung?”

    Aku berpikir sejenak mencerna maksud pertanyaan Mbak Indah itu. Akhirnya aku mengerti, rupanya Mbak Indah tahu kalau aku diam-diam sering memperhatikan dia.

    “Yah .. masak jalan sama adiknya, Mbak-nya mau diembat juga,” kataku sambil garuk-garuk kepala.


    Setelah itu Sarah muncul dan dilanjutkan acara belanja di dept. store di mall itu. Selama menemani kakak beradik itu, aku mulai sering mendekati Mbak Indah jika kulihat Sarah sibuk memilih-milih pakaian. Aku mulai lancar menggoda Mbak Indah.

    Hampir jam 10 malam kami baru keluar dari mall. Lumayan pegal-pegal kaki ini menemani dua cewek jalan-jalan dan belanja. Sebelum keluar dari mall Mbak Indah sempat memberiku sobekan kertas, tentu saja tanpa sepengetahuan Sarah.

    “Baca di rumah,” bisiknya.

    ***

    Aku lega melihat Mbak Indah datang ke counter bus PATAS AC seperti yang diberitahukannya lewat sobekan kertas. Kulirik arloji menunjukkan jam setengah 9, berarti Mbak Indah terlambat setengah jam.


    “Sori terlambat. Mesti ngrayu Papa-Mama dulu, sebelum dikasih balik pagi-pagi,” Mbak Indah langsung ngerocos sambil meletakkan hand-bag-nya di kursi di sampingku yang kebetulan kosong. Sementara aku tak berkedip memandanginya. Mbak Indah nampak sangat feminin dalam kulot hitam, blouse warna krem, dan kaos yang juga berwarna hitam. Tahu aku pandangi, Mbak Indah memencet hidungku sambil ngomel-ngomel kecil, dan kami pun tertawa. Hanya sekitar sepuluh menit kami menunggu, sebelum bus berangkat.

    Dalam perjalanan di bus, aku tak tahan melihat Mbak Indah yang merem sambil bersandar. Tanganku pun mulai mengelu-elus tangannya. Mbak Indah membuka mata, kemudian bangun dari sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.

    “Gimana, Mbaknya mau di-embat juga?” ledeknya sambil berbisik.

    “Kan lain jurusan,” aku membela diri. “Adik-nya jurusan roman-romanan, Mbak-nya jurusan … “ Aku tidak melanjutkan kata-kataku, tangan Mbak Indah sudah lebih dulu memencet hidungku. Selebihnya kami lebih banyak diam sambil tiduran selama perjalanan.

    ***

    Yang disebut kamar kos oleh Mbak Indah ternyata sebuah faviliun. Faviliun yang ditinggali Mbak Indah kecil tapi nampak lux, didukung lingkungannya yang juga perumahan mewah.

    “Kok bengong, ayo masuk,” Mbak Indah mencubit lenganku. “Peraturan di sini cuman satu, dilarang mengganggu tetangga. Jadi, cuek adalah cara paling baik.”

    Aku langsung merebahkan tubuhku di karpet ruang depan, sementara setelah meletakkan hand-bag-nya di dekat kakiku, Mbak Indah langsung menuju kulkas yang sepertinya terus on.

    “Nih, minum dulu, habis itu mandi,” kata Mbak Indah sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas.

    “Kan tadi udah mandi Mbak,” kataku.

    “Ih, jorok. Males aku deket-deket orang jorok,” Mbak Indah tampak cemberut. “Kalau gitu, aku duluan mandi,” katanya sambil menyambar hand-bag dan menuju kamar. Aku lihat Mbak Indah tidak masuk kamar, tapi hanya membuka pintu dan memasukkan hand-bag-nya. Setelah itu dia berjalan ke belakang ke arah kamar mandi.

    “Mbak,” Mbak Indah berhenti dan menoleh mendengar panggilanku. “Aku mau mandi, tapi bareng ya?”

    “Ih, maunya .. “ Mbak Indah menjawab sambil tersenyum. Melihat itu aku langsung bangkit dan berlari ke arah Mbak Indah. Langsung kupeluk dia dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi. Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus kulot. Terdengar desahan Mbak Indah, sebelum dia memutar badan menghadapku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku.

    “Katanya mau mandi?” setelah berkata itu, lagi-lagi hidungku jadi sasaran, dipencet dan ditariknya sehingga terasa agak panas. Setelah itu diangkatnya kaosku, dilepaskannya sehingga aku bertelanjang dada. Kemudian tangannya langsung membuka kancing dan retsluiting jeans-ku. Lumayan cekatan Mbak Indah melakukannya, sepertinya sudah terbiasa. Seterusnya aku sendiri yang melakukannya sampai aku sempurna telanjang bulat di depan Mbak Indah.


    “Ih, nakal,” kata Mbak Indah sambil menyentil rudalku yang terayun-ayun akibat baru tegang separo.

    “Sakit Mbak,” aku meringis.

    “Biarin,” kata Mbak Indah yang diteruskan dengan melepas blouse-nya kemudian kaos hitamnya, sehingga bagian atasnya tinggal BH warna hitam yang masih dipakainya. Aku tak berkedip memandangi sepasang toket Mbak Indah yang masih tertutup BH, dan Mbak Indah tidak melanjutkan melepas pakainnya semua sambil tersenyum menggoda padaku.

    Birahi benar-benar sudah tak bisa kutahan. Langsung kuraih dan naikkan BH-nya, sehingga sepasang toket-nya yang besar itu terlepas.

    “Ih, pelan-pelan. Kalau BH-ku rusak, emangnya kamu mau ganti,” lagi-lagi hidungku jadi sasaran. Tapi aku sudah tidak peduli. Sambil memeluknya mulutku langsung mengulum tokenya yang sebelah kanan.

    Mbak Indah tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusap-usap rambutku. Aku makin bersemangat saja, mulutku makin rajin menggarap toketnya sebelah kanan dan kiri bergantian. Kukulum, kumainkan dengan lidah dan kadang kugigit kecil. Akibat seranganku yang makin intens itu Mbak Indah mulai menjerit-jerit kecil di sela-sela desahannya.

    Beberapa menit kulakukan aksi yang sangat dinikmati Mbak Indah itu, sebelum akhirnya dia mendorong kepalaku agar terlepas dari toketnya. Mbak Indah kemudian melepas BH, kulot dan CD-nya yang juga berwarna hitam. Sementara bibirnya nampak setengah terbuka sambil mendesi lirih dan matanya sudah mulai sayu, pertanda sudah horny berat.

    Belum sempat mataku menikmati tubuhnya yang sudah telanjang bulat, tangan kananya sudah menggenggam rudalku. Kemudian Mbak Indah berjalan mundur masuk kamar mandi sementara rudalku ditariknya. Aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus pengin tertawa melihat kelakuan Mbak Indah itu.

    Mbak Indah langsung menutup pintu kamar mandi setelah kami sampai di dalam, yang diteruskan dengan menghidupkan shower. Diteruskannya dengan menarik dan memelukku tepat di bawah siraman air dari shower. Dan …

    “mmmmhhhh …. “ bibirnya sudah menyerbu bibirku dan melumatnya. Kuimbangi dengan aksi serupa. Seterusnya, siraman air shower mengguyur kepala, bibir bertemu bibir, lidah saling mengait, tubuh bagian depan menempel ketat dan sesekali saling menggesek, kedua tangan mengusap-usap bagian belakang tubuh pasangan, “Aaaaaahhh,” nikmat luar biasa.

    Tak ingat berapa lama kami melakukan aksi seperti itu, kami melanjutkannya dalam posisi duduk, tak ingat persis siapa yang mulai. Aku duduk bersandar pada dinding kamar mandi, kali ku luruskan, sementar Mbak Indah duduk di atas pahaku, lututnya menyentuh lantai kamar mandi. Kemudian kurasakan Mbak Indah melepaskan bibirnya dari bibirku, pelahan menyusur ke bawah. Berhenti di leherku, lidahnya beraksi menjilati leherku, berpindah-pindah. Setelah itu, dilanjutkan ke bawah lagi, berhenti di dadaku. Sebelah kanan-kiri, tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. Kemudian turun lagi ke bawah, ke perut, berhenti di pusar. Tangannya menggenggam rudalku, didorong sedikit ke samping dengan lembut, sementara lidahnya terus mempermainkan pusarku. Puas di situ, turun lagi, dan bijiku sekarang yang jadi sasaran. Sementara lidahnya beraksi di sana, tangan kanannya mengusap-usap kepala rudalku dengan lembut. Aku sampai berkelojotan sambil mengerang-erang menikmati aksi Mbak Indah yang seperti itu.


    Pelahan-lahan bibirnya merayap naik menyusuri batang rudalku, dan berhenti di bagian kepala, sementara tangannya ganti menggenggam bagian batang. Kepala rudalku dikulumnya, dijilati, berpindah dan berputar-putar, sehingga tak satu bagianpun yang terlewat. Beberapa saat kemudian, kutekan kepala Mbak Indah ke bawah, sehingga bagian batanku pun masuk 2/3 ke mulutnya. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahan-lahan, berkali-kali. Kadang-kadang aksinya berhenti sejenak di bagian kepala, dijilati lagi, kemudian diteruskan naik turun lagi. Pertahananku nyaris jebol, tapi aku belum mau terjadi saat itu. Kutahan kepalanya, kuangkat pelan, tapi Mbak Indah seperti melawan. Hal itu terjadi beberapa kali, sampai akhirnya aku berhasil mengangkat kepalanya dan melepas rudalku dari mulutnya.

    Kuangkat kepala Mbak Indah, sementara matanya terpejam. Kudekatkan, dan kukulum lembut bibirnya. Pelan-pelan kurebahkan Mbak Indah yang masih memejamkan mata sambil mendesis itu ke lantai kamar mandi. Kutindih sambil mulutku melahap kedua toketnya, sementara tanganku meremasnya bergantian.

    Erangannya, desahannya, jeritan-jeritan kecilnya bersahut-sahutan di tengah gemericik siraman air shower. Kuturunkan lagi mulutku, berhenti di gundukan yang ditumbuhi bulu lebat, namun tercukur dan tertata rapi. Beberapa kali kugigit pelan bulu-bulu itu, sehingga pemiliknya menggelinjang ke kanan kiri. Kemudian kupisahkan kedua pahanya yang putih,besar dan empuk itu. Kubuka lebar-lebar. Kudaratkan bibirku di bibir memeknya, kukecup pelan. Kujulurkan lidahku, kutusuk-tusukan pelan ke daging menonjol di antar belahan memek Mbak Indah. Pantat Mbak Indah mulai bergoyang-goyang pelahan, sementara tangannya menjambak atau lebih tepatnya meremas rambutku, karena jambakannya lembut dan tidak menyakitkan. Kumasukkan jari tengahku ku lubang memeknya, ku keluar masukkan dengan pelan. Desisan Mbak Indah makin panjang, dan sempat ku lirik matanya masih terpejam. Kupercepat gerakan jariku di dalam lubang memeknya, tapi tangannya langsung meraih tanganku yang sedang beraksi itu dan menahannya. Kupelankan lagi, dan Mbak melepas tangannya dari tanganku. Setiap kupercepat lagi, tangan Mbak Indah meraih tanganku lagi, sehingga akhirnya aku mengerti dia hanya mau jariku bergerak pelahan di dalam memeknya.

    Beberapa menit kemudian, kurasakan Mbak Indah mengangkat kepalaku menjauhkan dari memeknya. Mbak Indah membuka mata dan memberi isyarat padaku agar duduk bersandar di dinding kamar mandi. Seterusnya merayap ke atasku, mengangkang tepat di depanku. Tangannya meraih rudalku, diarahkan dan dimasukkan ke dalam lubang memeknya.

    “Oooooooooooohh ,” Mbak Indah melenguh panjang dan matanya kembali terpejam saat rudalku masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Mbak Indah mulai bergerak naik-turun pelahan sambil sesekali pinggulnya membuat gerakan memutar. Aku tidak sabar menghadapi aksi Mbak Indah yang menurutku terlalu pelahan itu, mulai kusodok-sodokkan rudalku dari bawah dengan cukup cepat. Mbak Indah menghentikan gerakannya, tangannya menekan dadaku cukup kuat sambil kepala menggeleng, seperti melarangku melakukan aksi sodok itu. Hal itu terjadi beberapa kali, yang sebenarnya membuatku agak kecewa, sampai akhirnya Mbak Indah membuka matanya, tangannya mengusap kedua mataku seperti menyuruhkan memejamkan mata. Aku menurut dan memejamkan mataku.

    Setelah beberapa saat aku memejamkan mata, aku mulai bisa memperhatikan dengan telingaku apa yang dari tadi tidak kuperhatikan, aku mulai bisa merasakan apa yang dari tadi tidak kurasakan. Desahan dan erangan Mbak Indah ternyata sangat teratur dan serasi dengan gerakan pantatnya,sehingga suara dari mulutnya, suara alat kelamin kami yang menyatu dan suara siraman air shower seperti sebuah harmoni yang begitu indah. Dalam keterpejaman mata itu, aku seperti melayang-layang dan sekelilingku terasa begitu indah, seperti nama wanita yang sedang menyatu denganku. Kenikmatan yang kurasakan pun terasa lain, bukan kenikmatan luar biasa yang menhentak-hentak, tapi kenikmatan yang sedikit-sedikit, seperti mengalir pelahan di seluruh syarafku, dan mengendap sampai ke ulu hatiku.

    Beberapa menit kemudian gerakan Mbak Indah berhenti pas saat rudalku amblas seluruhnya. Ada sekitar 5 detik dia diam saja dalam posisi seperti itu. Kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku sambil melontarkan kepalanya ke belakang. Kubuka mataku, kupegang kuat-kuat kedua telapak tangannya dan kutahan agar Mbak Indah tidak jatuh ke belakang. Setelah itu pantatnya membuat gerakan ke kanan-kiri dan terasa menekan-nekan rudal dan pantatku.

    “Aaa .. aaaaaa … aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,” desahan dan jeritan kecil Mbak Indah itu disertai kepala dan tubuhnya yang bergerak ke depan. Mbak Indah menjatuhkan diri padaku seperti menubruk, tangannya memeluk tubukku, sedang kepalanya bersandar di bahu kiriku. Ku balas memeluknya dan kubelai-belai Mbak Indah yang baru saja menikmati orgasmenya. Sebuah cara orgasme yang eksotik dan artistik.


    Setelah puas meresapi kenikmatan yang baru diraihnya, Mbak Indah mengangkat kepala dan membuka matanya. Dia tersenyum yang diteruskan mencium bibirku dengan lembut. Belum sempat aku membalas ciumannya, Mbak Indah sudah bangkit dan bergeser ke samping. Segera kubimbing dia agar rebahan dan telentang di lantai kamar mandi. Mbak Indah mengikuti kemauanku sambil terus menatapku dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Kemudian kuarahkan rudalku yang rasanya seperti empot-empotkan ke lubang memeknya, kumasukkan seluruhnya. Setelah amblas semuanya Mbak Indah memelekku sambil berbisik pelan.

    “Jangan di dalam ya sayang, aku belum minum obat,” aku mengangguk pelan mengerti maksudnya. Setelah itu mulai kugoyang-goyang pantatku pelan-pelan sambil kupejamkan mata. Aku ingin merasakan kembali kenikmatan yang sedikit-sedikit tapi meresap sampai ke ulu hati seperti sebelumnya. Tapi aku gagal, meski beberapa lama mencoba. Akhirnya aku membuat gerakan seperti biasa, seperti yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Nita. Bergerak maju mundur dari pelan dan makin lama makin cepat.

    “Aaaah… Hoooohh,” aku hampir pada puncak, dan Mbak Indah cukup cekatan. Didorongnya tubuhku sehingga rudalku terlepas dari memeknya. Rupanya dia tahu tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya. Seterusnya tangannya meraih rudalku sambil setengah bangun. Dikocok-kocoknya dengan gengaman yang cukup kuat, seterusnya aku bergeser ke depan sehingga rudalku tepat berada di atas perut Mbak Indah.

    “Aaaaaaaah … aaaaaaahhh … crottt… crotttt ..,” beberapa kali spermaku muncrat membasahi dada dan perut Mbak Indah. Aku merebahku tubuhku yang terasa lemas di samping Mbak Indah, sambil memandanginya yang asyik mengusap meratakan spermaku di tubuhnya.

    “Hampir lupa ya?” lagi-lagi hidungku jadi sasarannya waktu Mbak Indah mengucapkan kata-kata itu.

    ***

    Selama di bus dalam perjalanan pulang aku memejamkan mata sambil mengingat-ingat pengalaman yang baru saja ku dapat dari Mbak Indah. Saat di kamar mandi, dan saat mengulangi sekali lagi di kamarnya. Seorang wanita dengan gaya bersetubuh yang begitu lembut dan penuh perasaan.

    “Kalau sekedar mengejar kepuasan nafsu, itu gampang. Tapi aku mau lebih. Aku mau kepuasan nafsuku selaras dengan kepuasan yang terasa di jiwaku.”

    Kepuasan yang terasa di jiwa, itulah hal yang kudapat dari Mbak Indah dan hanya dari Mbak Indah, karena kelak setelah gonta-ganti pasangan, tetap saja belum pernah kudapatkan kenikmatan seperti yang kudapatkan dari Mbak Indah. Kepuasan dan kenikmatan yang masih terasa dalam jangka waktu yang cukup lama meskipun persetubuhan berakhir.

    “Ingat ya, jangan pernah sekali-kali kamu lakukan sama Sarah. Kalau sampai kamu lakukan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu!” Aku terbangun, rupanya dalam tidurku aku bermimpi Mbak Indah memperingatkanku tentang Sarah, adiknya. Dan bus pun sudah mulai masuk terminal.

    Kisah Seks, Cerita Sex, Cerita Panas, Cerita Bokep, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Sex Bergambar, Cerita ABG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex Pasutri

  • Hentai001

    Hentai001


    2244 views

  • Video bokep  Konatsu Hinata disiram minyak dan diikat dikursi

    Video bokep Konatsu Hinata disiram minyak dan diikat dikursi


    2916 views

  • Video Bokep Asia Doremi Miyamoto memek temben merah muda

    Video Bokep Asia Doremi Miyamoto memek temben merah muda


    2975 views

  • Hentai037

    Hentai037


    2551 views

  • Foto Bugil Gadis remaja kurus Rebel Lynn memuaskan vaginanya yang horny dengan Magic Wand

    Foto Bugil Gadis remaja kurus Rebel Lynn memuaskan vaginanya yang horny dengan Magic Wand


    1927 views

    Duniabola99.com – foto gadis remaja cantik rambut pirang keriting Rebel Lynn melepaskan semua pakaiannya diatas sofa putih yang empuk memperlihatkan toketnya yang baru tumbuh dan kenyal sambil mamainkan memeknya yang masih sempit tanpa bulu dengan alat penggetar yang besar sampai memeknya becek.

  • Rion Nishikawa Catwalk poison 100

    Rion Nishikawa Catwalk poison 100


    2054 views

  • Kisah Memek ngewe teman kakak yang haus seks

    Kisah Memek ngewe teman kakak yang haus seks


    3592 views

    Duniabola99.com – Suatu hari yang cerah,, pagi pagi sekali sekitar pukul 8 pagi… kenapa ku sebut pagi,, ya biasanya seeh aku bangun tidur sekitar jam 11 Siang.
    Makannya jam 8 pagi aku sebut masih pagi-pagi sekali… he he he he.. Biasa seeh, setelah menjalani rutinitas keseharianku di malam hari, maklum sebagai freelance profesional alias pengacara pengangguran banyak acara.. Kalo malam aku banyak menghabiskan waktu,, kaya super hero Batman gitu lah he.. he .. he.. he.

    “Bangun.. Bangun.. dah siang,, masih molor aja terus..” kata kakakku sambil mengoyak-mengoyak tubuhku dengan tergesa-gesa…
    “Apaan sih,, orang lagi enak-enak tidur di gangguin aja” kataku sembari kesal…
    “Cepat bangun, aku mau nyuruh kamu,, ke rumah mbak Fera!!! udah jangan kuatir nanti aku kasih uang bensin ama uang rokok deh” Sahut kakaku.


    Dalam batin,, wah surprise niih fulus.. fulus.. lumayan lagi bokek.. untuk membasahi dompetku yang kering kerontang ini He he he he.

    Segera aku bergegas bangun dari ranjang yang kumel ini…
    “Udah sana buruan mandi Rif, ga enak sama mbak fera udah nungguin, karena kakak kemarin udah janji ma dia mau kasih uang setoran untuk bayar baju kakak, jam 8 pagi” Ucap kakaku untuk segera menyuruhku mandi.
    “Oke” jawabku spontan, dalam hati berbisik kalau ada duitnya seeh ga pake lama dah langsung aku kerjain.

    Byar.. Byur.. Byaaar.. suara air nan segar membasahi tubuh kekar yang penuh dosa ini.. Ha.. Ha.. Ha..
    Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku segera keluar kamar.

    “Itu sarapan pagi, dimakan dulu” Kata kakakku sambil menunjuk meja makan, yang udah tersedia semangkok Soto hangat.

    Ga Pake Lama dah langsung aku sikat aja tuh soto yang udah menggiurkan, apalagi perut ini udah mulai berorkestra ria, karena lapar.

    “Ini uang untuk bayar setoran baju kakak ke mbak Fera!!” Ucap kakakku Sambil memberikan uang 50.000 kepadaku.
    “Dan ini untuk beli bensin dan rokok kamu!” sembari memberikan uang 50.000 juga kepadaku..
    “Wah tumben-tumbenan kasih duit sebanyak ini sama aku, baru cair ya, dapat jatah bulanan dari si Brotu” kataku sambil menggoda kakakku.

    Yah begitulah nasib kakakku mujur banget dia,, paras cantiknya cuma dikasihkan sama Brondong Tua alias suaminya yang notabene umurannya jauh lebih tua daripada kakakku, malahan seperti bapak dengan anaknya.. Kagak seperti suami-istri dah.. Sumpeh ajib benar… Memang cinta sekarang bisa di beli dengan uang.. Hufftt.

    Setelah makan pagi dengan semangkok Soto aku segera mengendarai motorku langsung meluncur ke TKP, ke rumah mbak Fera yang imut-imut.

    “Kak, aku berangkat dulu ya,” ucapku penuh semangat mengemban misi untuk membayar hutang kepada si Rentenir cantik Hahahaha….
    “Ya hati-hati, ga usah ngebut naik motornya” Sahut Kakakku.

    Setelah beberapa menit sampe juga aku ke TKP,, di rumah mbak Fera.

    Langsung aja aku ketuk pintu rumah mbak Fera… Tok tok tok tok suara pintu berbahan kayu jati di Rumah gedongan itu berbunyi.

    Seketika muncul, cewek seksi membukakan pintu.

    Terbelalak mata ini sampe tidak berkedip “Oh my god” pemandangan indah di pagi indah ini,, sungguh anugerah yang menyehatkan mata yang masih belekan ini.

    Mbak Fera masih menggunakan baju tidur alias lingerie tipis berwarna merah muda yang seksi… membukakan pintu rumahnya untukku.

    “Ehhhhh,, Arif,, sini masuk rumah dulu,, wah pasti kamu di suruh kakak kamu ya,, tumben-tumbenan kamu main ke rumah mbak Fera…” Ucap mbak Fera dengan nada centilnya.


    Ga pake lama dah langsung aja aku masuk rumah mbak Fera, dan duduk di Sofa empuknya,, sembari si Viktor merusak pikiran ini dan menemani mata ini yang bosan berkedip melihat kemolekan tubuh mbak Fera.

    “Bentar Rif,, mbak buatin teh hangat dulu ya” Mbak Fera yang seksi itu menawarkan kehangatan teh di pagi ini.

    Tiba-tiba terdengar gonggongan dari makhkluk buncit yang berirama noise.

    “Mah… Papa mo berangkat kerja dulu ya..” Suara suami mbak Fera.

    Terpapar di depanku sebuah penampakan yang menjemukan,, Mas Pur suami mbak Fera yang bertubuh buncit, serta di poles lapangan golf dijidatnya lewat di depanku yang sedang duduk di sofa empuk.

    “Oh Arif tho,, mampir dulu pasti di suruh kakak kamu ya?,”Ucap mas Pur dengan nada ramah kepadaku..
    “Ia ini mas,, mau berangkat kerja ya?” Sapaku penuh malu-malu dan sungkan.
    “Ia ini Rif, ya udah itu tehnya diminum ya jangan malu-malu” Kata mas Pur yang ditemani mbak Fera diantar keluar rumahnya untuk berangkat kerja.

    Brrrmmm Brrmmmm suara mobil Jazz berwarna putih mengkilap menderung… Mas pur sembari mendapat kecupan kecil dari mbak Fera mengantar dia mengawali rutinitasnya hari ini.

    “Papa berangkat dulu ma!” Kata mas Pur..
    “Iya pa.. hati-hati di jalan ya!! Kata mbak Fera,, yang membuat ku merasa iri.


    Dalam batin ini berkecamuk penuh dengan perasangka buruk.. Emang jaman sekarang,, wajah tampan tidak bisa menjadi modal untuk mendapat permaisuri cantik.. Udah jamannya brotu.. brotu meraja lela mendapatkan wanita cantik dengan modal uangnya.. Bahkan pikiranku pesimis “Apakah aku harus menjadi brotu yang tajir dulu untuk mendapat cewek cantik yang bisa memuaskan hati dan menyehatkan Cucak Rowo ku ini…” tanyaku dalam batin.

    Mobil mas Pur udah jalan,, mbak Fera pun kemudian menghampiriku.

    “Ada apa ini,, kok tumben main kesini” Nada manja mbak Fera menanyaiku..
    “Ini mbak aku disuruh kakakku untuk membayar hutang bajunya sama mbak Fera” ucapku penuh malu-malu sambil menyodorkan uang 50 ribuan..
    “Ohh itu ya,.. ia mbak terima ya… kenapa buru-buru main dulu dong ke rumah mbak,, lagian sepi neeh,, mbak ga ada temannya..” Kata mbak Fera penuh lemah lembut menggetarkan hati.

    “he.. he.. he.. he..,,” tawa kecilku penuh malu-malu tapi mau..
    “Kamu sekarang gede-gede kok tambah ganteng aja,, padahal waktu kecil dulu kamu itu item,, tengil,, kribo pula,, sekarang kok berubah 180 derajat…” Mbak Fera penuh manja menggodaku sembari dia berpindah posisi duduknya mendekatiku.

    “Gimana dah punya pacar belom kamu sekarang??” tanya mbak Fera sambil mengelus pipiku dengan tangannya yang lembut seperti busa spoon pencuci piring…
    “He.. He .. He.. ,, belum kok mbak, susah mencari pacar sekarang” jawabku
    “Loohh.. ganteng-ganteng kok ga laku seeh wah kurang nyali pasti kamu,” sahut mbak Fera menggodaku..
    “Apa perlu mbak Fera ajarin cari pacar buat kamu,, kalo mbak masih muda,, mbak aja mau kok jadi pacar kamu,, sayang mbak kan udah berumur.. lagi pula dah punya suami..” Dengan suara centilnya mbak Fera menggodaku.

    “Ahh mbak bisa aja.. ini walaupun mbak udah cukup umur tapi mbak masih cantik dan seksi malahan mbak Fera masih kaya seumuran anak kuliahan lhooo.. hehehehehe…” Sahutku merayu mbak Fera
    “Boong kali ye… mau merayu mbak neeh… mbak aja udah kepala 3 kok umurnya masak dibilang ABG masih kuliah..Pintar juga gitu kok kalau merayu cewek,, masak cari pacar aja ga bisa?” Sahut mbak Fera.
    “Iya beneran mbak.. Arif ga bohong.. sumpeh dah…Kalau ada edisi ke duanya cewek kaya mbak Fera gini.. Ga Pake Lama dah Arif pacarin…” Kataku sambil merayu mbak Fera.

    “Pintar juga ini adik temanku merayu cewek duh duh duh,, makin gede makin pintar aja kamu ya” sambil menempelkan bodynya yang aduhai dan jari-jari tangannya yang lentik mbak Fera mengusap leherku.
    “Ah geli mbak.. mau di geli-geli in X lainnya dong…” spontan aku berucap sungguh bergetar bulu kuduk ini diusap leher ini ama jari-jari lentik mbak Fera.

    “Duh kamu nakal deh Rif… emang kamu belum pernah di cumbu cewek ya,, mbak gituin aja udah ga tahan.. hahahahaha” sembari ketawa kecil mbak Fera menggoda iminku…
    “Pacaran aja ga pernah mbak,, ngerasain yang namanya dicium cewek apalagi??? bikin penasaran seeh,, tapi apa mau di kata nasib ya nasib mbak..” Dengan nada polos aku utarakan kejujuranku kepada mbak Fera.

    “Masa seeh hari gini loohh.. ada perjaka ting tong nyangkut di rumahku,,” Mbak Fera berkata sambil centil-centil nakal…
    “Iya mbak sumpah demi apa aja deh asal jangan demi di kejar-kejar dedemit,, hehehehehe” Spontan kepolosanku berucap.
    “Mau ga mbak ajarin caranya” Dengan manja mbak Fera dan menjetikkan jarinya di lingerie tepat di atas belahan toket payudaranya yang putih montok seperti pepaya belgia.. Menggodaku..
    “Ohhhhh… ga kuat dah si Viktor menggerayangi pikiran ini…” Dalam batinku tersayat.


    Mbak Fera penuh kehausan langsung to the Point menjulurkan lidahnya tepat dibibirku.

    “Enak kan…” Sahut mbak Fera memotong aksinya.

    Bibir mbak Fera yang merah merekah langsung mencibir tepat ke bibirku ini… Lidahnya bergentayangan menggeliat membasahi bibirku… Oh serasa surga dunia… Mbak Fera penuh dengan kehausan tangannya meremas-remas payudaranya yang putih itu dihiasi lingerie tipis berwarna merah muda.. Srruuupp Srruuupp… Cepp.. Cepp.. Slurup.. nada hawa nafsu dari dua bibir yang sedang bergejolak terdengar.

    Aku pun tak mau kalah aku lumat bibir mbak vera … yang merah merekah nan seksi itu.. lidah ku dan lidah mbak Fera bertempur menggeliat geliat menari di dalam mulut saling bersahutan…Air liurnya pun ikut membasahi kehausan ini.

    “Enak kan sayang”.. Mbak Fera berucap sembari dia melanjutkan pertempuran bibir ini.

    Lidahnya sungguh menggelikan berputar-putar menari di bibirku,, beraduan dengan lidahku yang tak mau kalah melawan kehausan mbak Fera.

    Aku hanya bisa menganggukan kepala sembari menikmati kehangatan tubuh dan bergumal berciuman dengan mbak Fera.

    Tangan mbak Fera meraih tanganku menunjukan kepadaku bahwasanya Payudaranya ingin diremas penuh lemah lembut.

    Jari – jari ini meremas penuh dengan kelembutan menggerayangi payu dara mbak Fera yang putih seperti pepaya Belgia itu.. ouuhh seksi sekali.. aku remas-remas.. semakin bernafsu aku mainkan jemariku di puting mbak fera yang merah merekah itu.. Sembari lidah dan bibir ini terus bergumal penuh dengan kenafsuan.

    Mbak fera pun lebih melonggarkan lingerie yang menutupi keindahan tubuh mbak Fera itu.. dilepas lah BH ukuran 34 itu.. di bukanya lingeri itu lebih longgar muncullah payudara yang seksi itu.

    Mbak Fera memegangi kepalaku ini mengarahkan tepat di depan payudara yang seksi, putih dan segar itu.

    Ga pake lama langsung aja bibirku menuju ke payudara itu,, aq lumat penuh dengan nafsu payu dara mbak Fera yang montok itu.. Aku julurkan lidah ku tepat di putingnya yang merah merekah penuh kehangatan itu.

    Lidahku menari-nari menggeliat menjilati puting mbak Fera.

    Ohhh Ouuhhh Ahhh… sambil memegangi dan menggeleng-gelengkan kepala ku mbak Fera menikmati lidahku menjulur membasahi dan menari-nari di putingnya.

    Aku gigit kecil-kecil putingnya aku remas payudara satunya,, bibirku melumat dan menghisap puting itu .. cupp cclloopp crooopp cuuppp.. aku nikmati kenyotan bibirku mengenyot puting mbak vera.

    Ohhh Ouuuuhhh AAAhhhh mbak Fera menikmati, matanya merem melek menikmati putingnya aq hisap.


    Hisap lebih kencang dong rif,, mbak Fera berkata sambil tangannya memegangi tanganku yang meremas payudara satunya.

    OOhhh Ouuhhh mbak Fera semakin kencang berdesah, sambil menggoyang-goyangkan payudaranya yang sedang aku hisap itu.

    Kami berdua larut dalam permainan sex itu,, dan aku terus menghisap dan mengigit kecil-kecil puting mbak Fera yang merah merekah itu.

    Tangan mbak Fera meraih bajuku dan melucutinya membugiliku.

    Kehausan mbak Fera sungguh tak terbendung langsung saja dia juga melucuti celana jeansku yang berwarna hitam itu.

    Dilepaslah juga lingerie tipis merah muda mbak Fera.

    Kemudian mbak Fera melepas celana dalamnya, tangannya memegang kepalaku ini, mengarahkan kepadaku tepat di depan memeknya yang berbulu tipis tipis teratur itu… gundukan bulu kemaluan yang tertata rapi,, terpampang dihadapanku.. Sungguh mengisyaratkan bahwa mbak Fera cinta kebersihan dan kesehatan.. dirawatnya kebun bulu kemaluannya yang tertata rapi.. Tidak seperti sarang walet yang bertumpuk ga karuan.

    Mbak Fera memegang kepalaku.. mengarahkan memeknya tepat di bibirku… suatu isyarat kalau memeknya ingin dijilatin dengan lidahku.

    Langsung saja bibir ini mengenyot memek yang merah segar itu ditumbuhi bulu kemaluan yang tumbuh rapi.

    Aku ciumi memek mbak Fera yang merah seperti daging segar itu… lidahku pun ikut menari-menari di atas mulut kemaluan mbak Fera yang seksi itu.

    Ohhhh AAAggghhhhh OOOOuuuwwwhhh mbak Fera berdesah menikmati… tanganku pun ikut meraih vagina mbak Fera,, aku buka lebih lebar mulut kemaluan mbak Fera supaya lidahku bisa bergeliat lebih ke dalam… Mbak Fera semakin asik menikmati permainanku,, desahan mbak Fera pun semakin tak terbendung dan semakin kencang.

    Cerita Sex Tante | Lebih lebar vagina mbak Fera terbuka lidahku semakin menjulur aku lumat dan lidahku bergeliat menari di vagina mbak Fera… Itil mbak Fera yang centil itu pun membuatku semakin haus .. aku jilatin itil mbak Fera… dan aku gigit kecil.. kecil.. mbak Fera yang berdiri dan aku sedang duduk.. tubuhnya terus bermolek sambil berdesah tak tertahankan.

    ” Enak Rif.. ouuhhh Uwwwhh Aghhhh mbak Fera berdesah keenakan aku hisap memeknya dengan dashyat sembari lidah ini menyentil-nyentil itil mbak Fera.. yang bergelayutan.

    Kemudian, mbak Fera merebahkan tubuhku di atas sofa empuk itu.

    Mbak Fera langsung ditepatkannya memeknya di atas wajahku mengisyaratkan kalau memeknya masih ingin di hisap dan di jilatin bibirku ini.

    Dengan posisi tidur dan mbak Fera diatas ku tepat memeknya di atas kepalaku aku jilatin memek mbak Fera..
    Tanganku pun ikut diraih untuk meremas-remas payudara mbak Fera, yang tidak ingin dianggurin,, ingin ikut dimainin.

    Tubuh mbak Fera bergeliat.. memeknya bergoyang-goyang serasa haus ingin dijiliatin, dan dihisap lebih kencang..
    Aku gigit kecil memek mbak Fera sambil aku hisap dengan lebih kencang… tak kalah lidah ini menari-nari dalam vagina mbak Vera yang sudah basah.


    Mbak Fera semakin mendesah ga karuan aaahh ouuhhh ahhhhh.. aku pun semakin dasyat mencibiri memek mbak Fera itu.. Aku kenyot lebih kencang dengan mulutku,, tanganku pun ga ikut kalah meremas-remas payudara mbak Fera lebih kencang… mbak Fera semakin bergoyang-goyang lebih kencang.. ditekannya lebih kedalam memeknya ke mulutku,, untuk di kenyot lebih kencang.. Ouuhhh Ouuhhhh mbak Fera berdesah keasikan sambil merem melek.

    Kemudian mbak Fera berganti posisi… kami berdua memainkan posisi 69…
    mbak Fera masih haus memeknya masih ingin di jilatin.. sembari dia mengenyot dan menghisap kontolku yang mengeras dan tegang itu.

    Clurrupp Sluruppp Sluurruppp.. nada suara berdesahan bersahutan.. Aq jilatin mekinya mbak Fera aq masukin jariku ke memek mbak Fera aku gesek-gesekin keluar masuk memek mbak Fera yang semakin banjir di basahi air kemaluan mbak Fera.

    Mbak Fera pun ga ingin kalah dia hisap kontolu yang super tegang dengan tegangan 220000000 watt.

    Sluurruupp Sluurrruuupp Sluurruupp suara kenyotan bibir kami berdua mengenyot alat kelamin…
    Ouuhhh Ahhhh semakin basah memek mbak Fera.. desahannya pun semakin meronta… lalu mbak Fera berdiri berpindah posisi.. dia tetap diatas ku.. Dirahkannya kontolku memasuki lubang memek mbak Fera yang udah gatal ingin digenjot itu.

    Dengan penuh penghayatan mbak Fera memasukan kontolku memasuki memeknya..oouuhh Uhhhh ahhhh desahan mbak Fera dan desahanku bersahutan…. badan mbak fera bergoyang-goyang diatas badanku.. sambil naik turun secara perlahan mengatur irama memeknya yang disodokkan di kontolku.

    Aku pun hanya bisa pasrah menikmati permainan mbak Fera… sambil berdesah.. mbak Fera semakin kencang naik turun menyodokan memeknya yang naik turun dimasukin kontolku.

    Ouuhh Ouuhhh Ahhhh mbak Fera berdesah keasyikan.. Dia bergoyang goyang menggerakan memeknya di genjot kontolku.. semakin kedalam dan semakin kencang mbak Fera naik turun.. menyodokan memeknya ke kontolku.

    Mbak Fera bergoyang memutar-mutarkan bokongnya.. memasukan lebih dalam kontolku di memeknya…
    di tekannya lebih dalam kontolku dengan memeknya sambil menggeliat-geliatkan badannya.

    Ahhh Ouuwwwhh Ouuugghhh Nada desahan mbak Fera semakin menggila sambil menggoyang-goyangkan badannya… ditekan lebih kencang Memeknya yang dimasuki kontolku itu… Ouugghh Agghhh kami berdua asik menikamti kenikmatan sex.

    Berganti posisi,, mbak Fera masih diatas, tapi kami duduk,, aku pangku mbak Fera diatas Sofa hijau yang empuk… Aku naikan tubuh mbak Fera dengan tanganku.. Dan aku naik turunkan tubuh mbak Fera yang molek itu,, kontolku semakin kencang menyodok memek mbak Fera yang semakin basah.. Aku sodok-sodokan kontolku ke memek mbak Fera, aku naik turunkan tubuh mbak Fera lebih cepat… Sambil aku kenyot puting mbak Fera yang merah mungil itu.

    Ouhhh Ouuuhhh Ahhhh desah mbak Fera keenakan.


    “Enak Rif”,,, Lebih kencang Rif Owwhhh Uhhhh Agghhhhhh.. mbak Fera mendesah,, sodok lebih kencang kontolmu ke memek ku Rif… Hisap Memekku lebih kencang Rif… Ouuuhhh Ahhh Enak Rif… Mbak Fera berkata dan mendesah.

    Jeritan desahan mbak Fera semakin meronta dan aku semakin keras memainkan kontolku menyodok memek mbak Fera….
    Ahhhhhhhhhh Ouuhhhhhh.. aku keluar Rif… Haaaaaaaaa Ouuhhhhhhh mbak Fera sambil menghela napas…. Nikmat banget Rif… Merasakan puasnya permainan sex.

    “Ganti posisi dong Rif” Ucap mbak Fera yang masih haus.

    Lalu mbak Fera menungging…. karena aku sering menonton film bokep pastinya aku udah tau dong apa yang di inginkan mbak Fera.. Dia ingin posisi Dogy Style.

    Mbak Fera nungging di atas Sofa dan aku berdiri.. Aku dibelakang mbak Fera aku masukin lagi kontolku ke memek mbak Fera yang basah basah basah itu… Aku sodok-sodokan perlahan.. mbak Fera mendesah…. aku pun juga mendesah.

    Aku atur irama sodokan kontolku ke memek mbak Fera yang merah dan basah itu… maju mundur seperti tukang parkir.

    Slurupp Slurrupp Slurruppp Sluruupp … nyoott nyoott nyottt,,, prettt..prettt..pret… suara kontolku menyodok-nyodok memek mbak Fera… Ouuhhhh Aggghhhh Owwwhhh mbak Fera meronta.

    Terus aku atur irama … maju mundur kontolku menyodok memek mbak Fera…. Ouuhhh Ahhhhh mbak Fera meraih tanganku untuk meremas Payudaranya.. jari jariku memutar di puting mbak Fera yang imut-imut itu.

    “Enak Rif.. terus Riff.. Ouuhhh Agghhhhh Ahhhhhhhh ,, desahan mbak Fera meronta..
    “Sodokin lebih dalam Rif”.

    Semakin kencang aku sodokan kontolku ke memek mbak Fera.. semakin cepat aku maju mundurkan kontolku menyodok memek mbak Fera… Dan aku lebih tekan kontolku menyodok memek mbak Fera.

    Ahhhhh Ahhh Owwhhh terus Rif… mbak Fera meronta keenakan … Ahhhhh Ahhhh.

    Owwhwhhhh.. Ahhhh Ouuuwwwggghhhhh mbak Fera menjerit meronta.. mau keluar aku Rif lebih kencang Rif sodokanmu.

    Ouuuwwwhhhh Aggghhhhh.. mbak Fera merasa keenakan.

    AAAAGGGGHHhhhhhhhh OOwwwwhhhhhh sambil menghela napas.. hmmm hmmmmm hmmmm keluar Rif.

    Lalu tak lama kita langsung berganti posisi.. sini rif masukin lagi kontolmu ke memekku ya.. masih gatel neeh Rif.. memekku ingin di genjot lagi.

    Mbak Fera tidur dan mengangangkan kakinya diatas Sofa.


    Tanpa komando langsung aku hajar lagi.. memek merah.. mbak Fera.

    Aku masukin kontolku ke memek mbak Fera… posisi mbak Fera yang mengangkangkan kakinya lebar lebar.. aku lebih leluasa menyodokkan kontolku ke dalam memek mbak Fera.

    Aku atur perlahan-lahan maju mundur kontolku menyodok memek mbak Fera yang merah merekah,, dan sudah berair itu.

    Cerita Sex Tante | Maju mundur;…. prrtttt prtttt prtttt slurup slurrruupp slurrruppp prrtt.. prrrttt suara kontolku dan memek mbak Fera meronta… enak Rif.. enak sambil mengangkangkan kaki dan merem melek mbak Fera pasrah aku sodok-sodokan kontolku ke memeknya.

    Ohhh Ouuhhh Owwwhhh Aggghhhh Hmmm Hmmmm desah kami berdua bersahutan.

    Lebih kencang Rif… Geli banget neeh memekku Rif… Enak Banget…. Sodokkan kamu Rif… Hmmm Hmmmm Ouugghhhh Ougghhh desahan mbak Fera.

    Agghhh Aghhhh desahan ku yang merasakan kehangatan dan kegelian memek mbak Fera yang mengenyot Kontolku.

    Ouhhh Ouhhh Agghhhh nikmat Rif Terus Rif… Ahhhhgggghhh mbak Fera meronta kegirangan.

    Selang berapa waktu aku semakin sodok lebih kencang memek mbak Fera… Kontolku sudah menegang ga karuan.. kontolku sudah tegang banget ga tahan di kenyot memek mbak Fera yang masih rapet itu,,, aaGghhhh Gggghhhh Ouwwwhhhggg hhhhh
    Ouwwhhhh… desahan ku.

    Semakin kencang aku sodok.. mbak Fera pun semakin mengakangkan kakinya dengan tangannya semakin lebar.

    Aaahhhh Ouuwwhhhh Srruuppp Prrttttt Hmmmmm suara desahan dan suara kontolku yang menyodok memek mbak Fera bersahutan.

    GA kuat aku mbak.. mau keluar aku mbak… Ouuhhhh
    Agghhh Ouuhhhh sama Rif,, mbak juga horny banget mo keluar .. keluarin bareng yuk.

    Tak lama kemudian… Kontolku terasa hangat seperti diguyur air hangat.. tanda kalau mbak Fera dah keluar… Langsung aku sahut dengan cipratan air kenikmatan dari kontolku.. sambil aku sodokan kontolku ke memek mbak Fera lebih kencang.

    OOOwwwwhhhhh Ouuuggghhhh Agghhhhh Agghhhhhh… kami berdua meronta keenakan.. Hmmmm keluar bareng kami dua mengluarkan air kenikmatan.

    Hmmm Hmmm Hmmmm puas Rif enak banget sahut mbak Fera… merasakan kepuasan setelah keluar.


    “Iya mbak enak banget.. hmmm hmmmm”” sahut aku menghela napas.

    Kami berdua bergumal manja-manjaan sambil mbak Fera mengecup keningku penuh kehangatan.. menandakan kalau dia udah puas.

    Bobokan dulu yuk.. Capek Rif… Pulang ntar dulu ya,, istirahat bentar sini aja gapapa. Kemudian kami merebahkan Badan kami berdua yang capek ga karuan…. Setelah bertempur dengan Cinta dan Nafsu.

  • Video Bokep Alex Grey penuh nafsu dengan pacarnya berkontol besar

    Video Bokep Alex Grey penuh nafsu dengan pacarnya berkontol besar

  • Cerita Sex Gigolo

    Cerita Sex Gigolo


    3811 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Gigolo ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita SexSenang bisa berbagi pengalaman sex, aku akan menceritakan kisahku menjadi pria gigolo, cerita ini
    nyata terjadi di kehidupanku dan pernah aku alamai , perkenalkan namaku Andi umurku 25 tahun aku dari
    Bandung, dan yang mengejutkan aku melayani semalan dengan 4 wanita sekaligus, profesi ini aku jalankan
    dari 3 tahun lalu.

    Aku mempunyai langganan namanya tante Mira dia janda tapi belum mempunyai anak dia tinggal di bandung
    orangnya cantik, payudaranya besar dia seorang yang kaya dan memiliki perusahaan di Bandung dan Di
    Surabaya dan memliki sahan di hotel berbintang di Bandung.

    Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP
    Tante Mira.

    “Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya.

    “Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?” kataku.

    “Kamu nanti sore ada acara nggak?” katanya.

    “Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?” tanyaku.

    “Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?” katanya.

    “Bisa tante.. aku siap kok?” jawabku.

    “Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu”, katanya.

    “Oke.. Tante”, balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi
    untuk mandi. Dewapoker88

    Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante Mira akan membawa teman relasinya.
    Selang beberapa menit sebuah mobil mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku.

    Ternyata itu mobil Tante Mira, langsung aku keluar menghampiri mobil itu sesudah aku mengunci seluruh
    pintu rumah dan jendela. Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang, setelah
    masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan.

    Di dalam mobil, aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka cantik-cantik
    walaupun umur mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Lisa umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya
    besar,

    Dia merupakan istri seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Sari 39 tahun, payudaranya juga besar,
    kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta. Mereka adalah relasi bisnis Tante Mira dari
    Jakarta yang sedang melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Mira refreshing ke villanya di
    kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.

    Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka diberitahu bahwa aku ini seorang
    gigolo langganannya dan mereka juga mengatakan ingin mencoba kehebatanku. Selang beberapa menit
    obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Lisa yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya
    mulai nakal meraba-raba paha dan selangkanganku.

    Cerita Sex Gigolo Aku mengerti maksudnya, kugeser dudukku dan berdekatan dengan Tante Lisa, lalu tangan Tante Lisa,
    meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri, aku membuka reitsleting celana
    panjangku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Lisa kaget
    dan matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah membengkak itu.

    Tante Lisa langsung bicara kepadaku,

    “Wow.. Ded, kontol kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu..” katanya.

    “Masa sich Tante”, kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.

    “Iya.. boleh minta nggak, Tante pengen ngerasain kontol kamu ini sambil kontolku dikocok-kocok dan
    diremas-remas, lalu dibelai mesra?” katanya.

    “Boleh aja.. kapan pun Tante mau, pasti Andi kasih”, kataku.

    Langsung disambut Tante Lisa dengan membungkukkan badannya lalu batang kemaluanku dijilat-jilat dan
    dimasukakkan ke dalam mulutnya, dengan rakusnya batang kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya sambil
    disedot-sedot dan dikocok-kocok.

    Tante Sari yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan tertawa kecil melihat batang
    kemaluanku yang sedang asyik dinikmati oleh Tante Lisa. Tanganku mulai membuka beberapa kancing baju
    Tante Lisa dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya. lalu kuremas-remas.

    “Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Andi minta?” tanyaku.

    Tante Lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku mulai meremas-remas payudaranya.

    Tangan kiriku mulai turun ke bawah selangkangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu
    lalu naik ke atas selangkangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat
    jariku masuk, mata Tante Lisa merem melek dan medesah kenikmatan,

    “Akhhh.. akhhhh.. akhhh.. terus sayang..”

    Beberapa jam kemudian, aku sudah tidak tahan mau keluar.

    “Tante… Andi mau keluar nich..” kataku.

    “Keluarain di mulut Tante aja”, katanya.

    Selang beberapa menit, “Crooot.. crooot.. crottt..” air maniku keluar, muncrat di dalam mulut Tante
    Lisa, lalu Tante Lisa menyapu bersih seluruh air maniku.

    Kemudian aku pun merobah posisi. Kini aku yang membungkukkan badanku, dan mulai menyingkap rok dan
    melepaskan CD warna hitam yang dipakainya. Setelah CD-nya terlepas, ceritasexdewasa.org aku mulai mencium dan menjilat
    liang kewanitaannya yang sudah basah itu.

    Aku masih terus memainkan liang kewanitaannya sambil tanganku dimasukkan ke liang senggamanya dan
    tangan kiriku meremas-remas payudara yang kiri dan kanan. Sepuluh menit kemudian, aku merubah posisi.

    Kini Tante Lisa kupangku dan kuarahkan batang kemaluanku masuk ke dalam liang senggamanya, “Blesss..
    belssss.” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaannya, dan Tante Lisa menggelinjang
    kenikmatan, ku naik-turunkan pinggul Tante Lisa, dan batang kemaluanku keluar masuk dengan leluasa di
    liang kewanitaannya.

    Cerita Sex Gigolo Satu jam kemudian, kami berdua sudah tidak kuat menahan orgasme, kemudian kucabut batang kemaluanku
    dari liang kewanitaannya, lalu kusuruh Tante Lisa untuk mengocok dan melumat batang kemaluanku dan
    akhirnya, “Crooot.. crott.. croottt..” air maniku muncrat di dalam mulut Tante Lisa. Seketika itu juga
    kami berdua terkulai lemas.

    Kemudian aku pun tertidur di dalam mobil. sesampainya di villa Tante Mira sekitar jam 8 malam. Lalu
    mobil masuk ke dalam pekarangan villa. Kami berempat keluar dari mobil. Tante Mira memanggil penjaga
    villa, lalu menyuruhnya untuk pulang dan disuruhnya besok sore kembali lagi.

    Kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur
    yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Mira.

    Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke
    dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya.
    Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil
    melucuti pakaianku hingga bugil.

    Batang kemaluanku diserang oleh Tante Sari dan Tante Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia
    mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa. Dengan
    ganasnya mereka berdua secara bergantian menjilati, menyedot dan mengocok batang kemaluanku, hingga
    aku kewalahan dan merasakan nikmat yang luar biasa.

    Kemudian kulihat Tante Sari sedang mengatur posisi mengangkang di selangkanganku dan mengarahkan
    batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, “Blesss.. bleeesss..” batang kemaluanku masuk ke dalam liang
    kewanitaan Tante Sari, lalu Tante Sari menaik turunkan pinggulnya dan aku merasakan liang kewanitaan
    yang hangat dan sudah basah itu. Aku terus menjilat-jilat dan sesekali memasukkan jariku ke dalam
    liang kewanitaan Tante Lisa, sedangakan Tante Mira meremas-remas payudara Tante Sari.

    Beberapa jam kemudian, Tante Sari sudah orgasme dan Tante Sari terkulai lemas dan langsung menjatuhkan
    tubuhnya di sebelahku sambil mencium pipiku.

    Kini giliran Tante Mira yang naik di selangkanganku dan mulai memasukan batang kemaluanku yang masih
    tegak berdiri ke liang senggamanya, “Bleesss.. bleesss..” batang kemaluanku pun masuk ke dalam liang
    kewanitaan Tante Mira. Sama seperti Tante Sari, pinggul Tante Mira dinaik-turunkan dan diputar-putar.

    Setengah jam kemudian, Tante Mira sudah mencapai puncak orgasme juga dan dia terkulai lemas juga,
    langsung kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaan Tante Mira, lalu kusuruh Tante Lisa untuk
    berdiri sebentar, dan aku mengajaknya untuk duduk di atas meja rias yang ada di kamar itu,

    Lalu kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya,
    “Blesss.. .bleeess..” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa.

    Kukocok-kocok maju mundur batang kemaluanku di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, dan terdengar
    desahan hebat,

    “Akhhh.. akhhh.. akhhh.. terus sayang.. enak..”

    Aku terus mengocok senjataku, selang beberapa menit aku mengubah posisi, kusuruh dia membungkuk dengan
    gaya doggy style lalu kumasukan batang kemaluanku dari arah belakang.

    “Akhhh.. akhhh..” terdengar lagi desahan Tante Lisa.

    Cerita Sex Gigolo

    Cerita Sex Gigolo

    Aku tidak peduli dengan desahan-desahannya, aku terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di liang
    kewanitaannya sambil tanganku meremas-remas kedua buah dada yang besar putih yang bergoyang-goyang
    menggantung itu. Aku merasakan liang kewanitaan Tante Lisa basah dan ternyata Tante Lisa sudah keluar.

    Aku merubah posisi, kini Tante Lisa kusuruh tiduran di lantai, di atas karpet dan kubuka lebar-lebar
    pahanya dan kuangkat kedua kakinya lalu kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya,
    “Blesss.. blessss.. blessss..” batang kemaluanku masuk dan mulai bekerja kembali mengocok-ngocok di
    dalam liang kewanitaannya. Selang beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi, lalu kutanya ke Tante
    Lisa,

    “Tante, aku mau keluar nich.. di dalam apa di luar?” tanyaku.

    “Di dalam aja Sayang..” pintanya.

    Kemudian, “Crottt.. crooottt.. croottt..” air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Lisa,
    kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap
    dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya.

    Kami berempat pun tidur di kamarku, keesokan harinya kami berempat melakukan hal yang sama di depan TV
    dekat perapian, di kamar mandi, maupun di dapur.

    cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,

  • Vaginaku di Santap Rico Dengan Bringas

    Vaginaku di Santap Rico Dengan Bringas


    2878 views

    Duniabola99.com – Namaku Anggi, umurku 22 tahun. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Saat ini aku sudah berada di tingkat akhir dan sedang dalam masa penyelesaian skripsi. Sebelum aku memulai kisah yang akan menjadi kisah indah bagiku, perkenankan aku mendeskripsikan diriku. Tinggiku 160 cm dengan berat 45 kg. Rambutku hitam panjang sepinggul dan lurus. Kulitku putih bersih. Mataku bulat dengan bibir mungil dan penuh. Payudaraku tidak terlalu besar, dengan ukuran 34 B.

    Sebulan yang lalu, seorang laki-laki usia 28 tahun memintaku jadi pacarnya. Permintaan yang tak mungkin aku tolak, karena dia adalah sosok yang selalu ku impikan. Dia seperti pangeran bagiku. Badannya yang tinggi dan atletis serta sorot matanya yang tajam selalu membuatku terpana. Namanya adalah Rico, kekasih pertamaku. Rico sudah bekerja di perusahaan swasta di Jogja. Rico sangat romantis, dia selalu bisa membawaku terbang tinggi ke dunia mimpi.


    Ribuan rayuan yang mungkin terdengar gombal selalu bagai puisi di telingaku. Sejauh ini hubungan kami masih biasa saja. Beberapa kali kami melakukan ciuman lembut di dalam mobil atau saat berada di tempat sepi. Tapi lebih dari itu kami belum pernah. Sejujurnya, aku kadang menginginkan lebih darinya. Membayangkannya saja sering membuatku masturbasi.

    Hari ini tepat sebulan hari jadi kami. Rico dan aku ingin merayakan hari jadi tersebut. Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan weekend kita berlibur ke kaliurang.

     

    Sabtu yang ku tunggu datang juga. Rico berjanji akan menjemputku pukul 07.00 WIB. Sejak semalam rasanya aku tidak bisa tidur karena berdebardebar. Untuk hari yang istimewa ini, aku juga memilih pakaian yang istimewa. Aku mengenakan kaos tanpa lengan berwarna biru dan celana jeans 3/4. Rambut panjangku hanya dijepit saja. Karena takut nanti basah saat bermain di air terjun, aku membawa sepasang baju ganti dan baju dalam. Tak lama kemudia Rico datang dengan mobil honda jazz putihnya. Ahh,, Rico selalu tampak menawan di mataku. Padahal dia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans panjang.

    Sudah siap berangkat, Nggi? aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan masih cukup sepi. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai di tempat wisata. Ternyata pintu masuk ke area wisata masih ditutup.

    Masih tutup, mas.. Kita jalan dulu aja ke tempat lain, gimana? tanyaku
    Iya.. coba lebih ke atas. Siapa tau ada pemandangan bagus.

    Rico segera menjalankan mobilnya. Tidak begitu banyak pemandangan menarik. Begitu sekeliling tampak sepi, Rico memarkir mobilnya.

    Kita nunggu di sini aja ya, sayang. Sambil makan roti coklat yang tadi aku beli. Kamu belum sarapan, kan?
    iya, mas.. Anggi juga lapar

    Sambil makan roti, Rico dan aku berbincang-bincang mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Tiba-tiba.


    Aduh Anggi sayang, udah gede kok makannya belepotan kayak anak kecil,,, ucapnya sambil tertawa. Aku jadi malu dan mengambil tisue di dashboard. Belum sempat aku membersihkan mukaku, Rico mendekat, Sini, biar mas bersihin. Aku tidak berpikir macam-macam. Tapi Rico tidak mengambil tisue dari tanganku, namun mendekatkan bibirnya dan menjilat coklat di sekeliling bibirku. Oooh,, udara pagi yang dingin membuatku jantungku berdebar sangat kencang.

    Nah, sudah bersih. Ucap Rico sambil tersenyum. Tapi wajahnya masih begitu dekat, sangat dekat, hanya sekitar 12 cm di hadapanku. Sekuat tenaga aku mengucapkan terima kasih dengan suara sedikit bergetar. Rico hanya tersenyum, kemudian dengan lembut tangan kirinya membelai pipiku, menengadahkan daguku. Bisa ku lihat matanya yang hitam memandangku, membuatku semakin bergetar. Aku benar-benar berusaha mengatur nafasku. Seketika, ciuman Rico mendarat di bibirku. Aku pun membalas ciumannya. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya.

    Ku rasakan tangan kanan Rico membelai rambutku dan tangan kirinya membelai lenganku. Tak berapa lama, ku rasakan ciuman kami berbeda, ada gairah di sana. Sesekali Rico menggigit bibirku dan membuatku mendesah, uhhhh refleks aku memperat pelukanku, meminta lebih. Tapi Rico justru mengakhirinya, I love you, honey Lalu mengecup bibirku dengan cepat dan melepaskan pelukannya. Aku berusaha tersenyum, I love you, too. dalam hati aku benar-benar malu, karena mendesah. Mungkin kalau aku tidak mendesah, ciuman itu akan berlanjut lebih. Aaahh,,, bodohnya aku. Rico lalu menjalankan mobilnya menuju tempat wisata.

    Kami bermain dari pagi hingga malam menjelang. Tak terasa sudah pukul 19.00 WIB. Sebelum kembali ke kota, kami makan malam dulu di salah satu restoran. Biasa, tidak ada makan malam hanya 1 jam. Selesai makan, ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30

    Waduh, mas,,, sudah jam segini. Kos Anggi dah tutup, nih. Anggi lupa pesen maw pulang telat. Gimana, ini?
    Aduuh,, gimana, ya?? Ga mungkin juga kamu tidur di kos mas.
    Uuuh,, gimana, dong??
    Udah, jangan cemas. Kita cari jalan keluarnya sambil jalan aja.

    Selama perjalanan aku benar-benar bingung. Di mana aku tidur malam ini??

    Sayang, kita tidur di penginapan aja, ya. Daerah sini kan banyak penginapan. Gimana?
    Iya deh, mas.. dari pada Anggi tidur di luar

    Tak lama kemudia Rico berhenti di sebuah penginapan kecil dengan harga murah. Tapi ternyata kamar sudah penuh karena ini malam minggu dan banyak yang menginap. Sampai ke penginapan kelima, akhirnya ada juga kamar kosong. Tapi cuma satu.

    Karena sudah hampir pukul 23.00 kami memutuskan mengambil kamar tersebut. Sampai di kamar, Rico langsung berbaring di kasur yang ukurannya bisa dibilang single bed. Aku sendiri karena merasa badan lengket, masuk ke kamar mandi untuk ganti baju. Selesai mandi, dalam hati dongkol juga. Kalau tau nginap begini, satu kamar, aku kan bisa bawa baju dalamku yang seksi. Terus pake baju yang seksi juga.


    Soalnya aku cuma bawa tank top ma celana jeans panjang. Hilang sudah harapanku bisa merasakan keindahan bersama Rico. Selesai mandi, aku segera keluar kamar. Tampak Rico sudah tidur. Sedih juga, liat dia udah tidur. Aku pun naik ke atas kasur dan membuat dia terbangun.

    Dah selesai mandi, ya..
    Iya,, mas ga mandi??
    Ga bawa baju ganti ma handuk
    Di kamar mandi ada handuk, kok. Pake baju itu lagi aja, mas

    Rico mungkin merasa gerah juga, jadi dia pun mengikuti saranku. Gantian aku yang merasa mengantuk. Segera ku tarik selimut dan memejamkan mata tanpa berpikit apaapa. Baru beberapa saat aku terlelap, ku rasakan ada sentuhan dingin di pipiku dan ciuman di mataku. Saat aku membuka mata, tampak Rico telanjang dada. Hanya ada sehelai handuk membalut bagian bawah. Badannya yang atletis tampak begitu jelas dan penampilannya membuatku menahan nafas.

    Ngga dingin mas, ga pake baju. Cuma pake handuk Kataku dengan senyum penuh hasrat.

    Tidak ada jawaban dari Rico. Dengan lembut dan cepat di rengkuhnya kepalaku dan kami pun berciuman. Bukan ciuman lembut seperti biasanya. Tapi ciuman penuh gairah. Lebih dari yang tadi pagi kami lakukan. Lidah kami saling bermain, mengisap, mmmmmmm..

    Ku lingkarkan tanganku di punggungnya, ku belai punggungnya. Tangan kananku lalu membelau dadanya yang bidang, memainkan puting susu yang kecil. Gerakanku ternyata merangsang Rico, di peluknya aku lebih erat, ku rasakan badannya tepat menindihku. Rico mengalihkan ciumannya, ke telingaku, aaah,,mmm,,

    Tangannya menjelajahi badanku, menyentuh kedua gunung kembarku. Di belainya dengan lembut, membuatku mendesah tiada henti

    aaah,,mm,, masss,,,uhh,,, badanku sedikit menggeliat karena geli. Bisa ku rasakan vaginaku mulai basah karena tindakan tadi. Tangan Rico, kemudian masuk ke dalam tank topku, menjelajahi punggungku. Seakan mengerti apa yang dicari Rico, ku miringkan sedikit badanku dan ku lumat bibirnya penuh nafsu. Rico pun membalas dengan penuh nafsu dan tidak ada 1 detik kait BH lepas. Ku rasakan tangan Nico langsung kembali ke badanku dan mmbelai langsung kedua payudaraku.

    aaah,,,uhhh,,,
    Sayang,,, tank topny dilepas, ya ujarnya dengan nafas tersengal karena penuh gairah. Tanpa persetujuan dariku, lepaslah tank top dan juga BHku. Bagian atasku sudah tak berbusana. Rico langsung menikmati kedua payudaraku. Di remasnya payudaraku,,, membuatku menggeliat, mendesah,

    aaah,,sssmaass,,uhhh,,,, Erangan dari mulutku tampaknya membuat Rico semakin bernafsu, dia kemudian mengulum dan mengisap pentil payudaraku, aaaahh,,,,ohhh,,,,,mmmm,,, aku mengerang, mendesah, menggeliat sebagai reaksi dari setiap tindakannya. Tangan kiri Rico membelai perutku dengan tangan kanan dan mulut yang masih sibuk menikmati payudaraku yang mengeras.

    Ku rasakan tanga kiri Rico cukup kesulitan membuka celana jeansku. Ku naikkan pinggulku dan kedua tanganku berusaha membukan kaitan celana jeans dengan gemetar. Susah payah celana jeans itu akhrinya terlepas juga. Tanga kiri Rico tanpa membuang waktu langsung menyusup ke dalam celana dalamku, membelai vaginaku yang sudah basah, aaahh,,,maass,,aah,,teruus,,ssshh,,mmmmm

    Kurasakan Rico menekan klitorisku, aaahh,,,, membuatku semakin mendesah dan bergetar. Apalagi Rico masih mengisap puting payudaraku. Tidak lama kemudian ku rasakan seluruh badanku terasa kencang, vaginaku mengalami kontraksi dan aku menggeliat hebat, AAAHHH,,,,,, sambil memegang pinggiran tempat tidur menyambut orgasme pertamaku.

     

    Rico tampak puas dapat membuatku merasakan orgasme. Belum selesai aku mengatur nafas, Rico berada di antara kedua pahaku, dijilatinya kedua payudaraku, turun ke bawah, menjilat kedua perutku. Membuatku merasa geli penuh nikmat, Oooh,,mass,, Seakan tau apa yang ku inginkan, kedua tangan Rico melepas celana dalamku.


    Tampakalah vaginaku yang memerah dengan sedikit rambut halus di sekitarnya. Rico kemudian memainkan lidahnya di vaginaku. Rico menjilati, mengulum vaginaku, membuatku menggelinjang hebat dan ku rasakan kedua kalinya, adanya kontraksi, aaaaahh,,,,. Aku orgasme untuk kedua kalinya. Sensasi yang sangat menyenangakan.

    Rico belum puas dengan orgasmeku tadi. Setelah dia membersihkan vaginaku, bisa kurasakan lidah Rico menerobos masuk dan menyerbu klitorisku. Nafasku semakin memburu dan dari bibirku a terus mengalir alunan desahan kenikmtan yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.

    Aahh,, mas,,aah,,uuhh,,, eeenaakk,,mmm,,sss

    Aku sangat menikmati oral yang diberikan Rico. Kurasakan dorongan lidah Rico lebih dalam lagi ke dalam vaginaku, membuat cairan dari dalam vaginaku terus mengalir tanpa henti. membuat Desahan yang keluar dari mulutku semakin kencang. Semakin lama Rico memberikan rangsangan di dalam vaginaku, membuatku menggeliat dan mengerang semakin kuat. Kurasakan lagi vaginaku berkontraksi, dan aku pun orgasme.

    Setelah orgasmeku reda, Rico dengan wajahnya yang basah dan penuh gairah menindih badanku yang sudah telanjang bulat. Rico mengulum bibir dan lidahku. Tangan kiriku kemudian menarik handuk yang masih menutupi bagian bawahnya. Membuatku merasakan penisnya menusuk perutku, membuatku semakin bergairah. Ciuman kami semakin basah. Mulut kami terbuka lebar, bibir saling beradu.

    Lidah Rico dengan lincah menelusuri bagian luar dari mulut dan daguku. aku pun membalas kelincahannya. Lidahku membasahi mulut dan dagunya. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kulitku, kurasakan api hasrat liarku makin membesar. Lidah kami akhirnya bertemu. Aku makin bertambah semangat dan terus mendesah nikmat. Tanganku menelusuri seluruh bagian dari punggungku. Rico membelai kepalaku dan tangan kirinya meremasremas pantatku yang bulat.

    aaahh,, mass,,,
    Rico tiba-tiba menghentikan cumbuannya, sayang aku mencintaimu, aku ingin kamu seutuhnya dan mencium lembut bibirku yang sudah basah. Aku sudah terlalu dipenuhi gairah karena segala tindakan Rico. Hingga rasanya bicara aku sulit. Kulingkarkan kedua lengaku di leher Rico dan kuhisap kedua bibirnya dalamdalam sebagai jawabanku. Aku ingin segera menanggalkan keperawananku dalam pelukan Rico.

    Rico mengalihkan ciuman bibirnya keleherku yang putih, menciuminya, menjilatinya, membuatku semakin terangsang. Kurasakan penis Rico mengusap vaginaku, membuatku semakin bergairah, apalagi kedua payudaraku yang sudah sangat mengeras dimainkan oleh Rico. Jilatan Rico dari leherku terus kebawah hingga lidahnya menyentuh ujung puting susuku yang makin membuat aku mengerang tak karuan, aaahh,,,oohh,,,mmm,,aahh.

    Sementara puting susuku yang satu lagi masih tetap dia pilin dengan sebelah tangannya. Kemudian tangannya terus kebawah payudaraku dan terus hingga akhirnya menyentuh permukaan vaginaku. Tak lama kemudian kurasakan penis Rico tenggelam di dalam vaginaku setelah susah payah karena vaginaku yang sempit.

    Uuuh,,,aarggh,,,, ku rasakan nyeri yang sangat hingga menangis.
    Sakit ya, sayang sabar, ya.. Ntar juga hilang kok Rico menenangkanku, sambil mencium mataku yang mengeluarkan air mata. Setelah kurasakan vaginaku mulai terbiasa dengan kehadiran penis Rico, Rico kemudian menggerakkan penisnya perlahan, keluarmasuk vaginaku. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan membuatku mendesah nikmat.

    Makin lama makin cepat, kembali aku hilang dalam orgasmenya yang kuat dan panjang. Tapi Rico yang tampaknya nyaris tidak dapat bertahan, semakin mempercepat gerakannya. Aku yang baru saja orgasme merasakan vaginaku yang sudah terlalu sensitif berkontraksi lagi..

    Sayaang,, aku sudah mau keluar, dikeluarin di mana? tanya sambil terengahengah.
    Di dalam saja, mass,, Toh, aku juga dalam masa tidak subur. jadi buat apa dikeluarin di luar, pikirku.

    Tak lama kemudian aku segera mengalami orgasme bersamaan dengan Rico. Ku rasakan semburan di dalam liang vaginaku yang memberikan kenikmatan tiada tara.

    Rico kemudian merebahkan diri di sampingku dan memeluk erat tubuhku. Tubuh mungilku segera tenggelam dalam pelukannya. Tangan Rico dengan lembut membelai rambut panjangku, Anggi sayang Selamanya kita bersama ya, sayang. dan ciuman lembut, romantis mendarat di bibirku.

    Iya, mas.. ku cium bibirnya lambat tapi sesaat. kemudian ku rapatkan badanku ke badannya. Ku lihat jam di kamar menunjukkan pukul 01.00, mataku pun sudah lelah dan kami pun tidur dengan pulas.

    Pagi menjelang, sinar matahari masuk ke dalam kamar melalu jendela dan membangunkanku. Ada sedikit rasa terkejut melihat wajah Rico karena baru pertama aku tidur dengan lakilaki. Tapi teringat kejadian semalam membuatku kembali terangsang. Perlahan, ku cium bibi Rico yang sedikit terbuka. Ternyata ciumanku membangunkan Rico yang kemudian membalas ciumanku dengan lebih bergairah dan menggigit telingaku.

    Selamat pagi sayangku, cintaku,, ucapnya.
    Pagi,,, ku cium lagi bibirnya dan tak lama kami pun saling mengulum bibir satu sama lai, dan memainkan lidah, menambah kenikmatan di pagi hari. Karena ingin sedikit iseng, ku lepas ciumanku

    Aku mandi dulu, ya belum sempat aku berdiri, baru duduk, Rico menarik perutku, menciuminya dengan lembut. Membuatku menahan keinginan untuk meninggalkan tempat tidur. Nanti saja sayang.. Perlahan ciuman Rico dari perut naik menuju leherku, menjilatinya, membuatku mendesah nikamat, aahh..mmm..


    Rico menjilati leherku dari belakang. Tangan kanannya meremasremas payudaraku dan tangan kirinya menekan vaginaku. Ku rasakan jarinya masuk menyusuri liang vaginaku, memainkan klitorisku. Tak lama badanku pun menggeliat, pinggulku terangkat, dan orgasme pertama pagi itu datang.

    Dengan lembut Rico memangkuku. Diletakannya aku di atas kedua pahanya. Kakiku melingkar di punggungnya. Kami pun berciuman dan Rico perlahan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Rico kemudian memompa penisnya, membuatku menggelinjang penuh nikmat. Sambil memainkan penisnya, Rico menikmati kedua payudaraku yang mengeras.

    aaah,,aah,,aahh,, semakin lama, semakin cepat, dan aku merasakan vaginaku kembali berkontraksi. Ku peluk kepala Rico dengan erat dan aku mengerang karena orgasme Aaaaaaahhhh. yang disusul dengan Rico yang juga mencapai puncaknya. Setelah itu kami bercumbu lagi beberapa saat kemudian baru mandi dan pulang ke kota meninggalkan seprei kamar yang basah karena cairanku dan Rico serta bercak darah pertanda hilangnya keperawananku.

    Sebelum memulangkanku ke kos, kami mampir ke kos Rico untuk bercinta lagi. Sejak saat itu, setiap akhir minggu jika tidak ada kesibukan kami pasti check in di hotel untuk bercinta.

  • Kisah Memek Sahabatku sangat liar

    Kisah Memek Sahabatku sangat liar


    3049 views

    Duniabola99.com – Pеrkеnаlkаn nаmаku Ringgo, аku mаѕih kеlаѕ 3 SMU. Sааt itu аku bеrmаin kе rumаh tеmаnku Mela untuk mеngаmbil tugаѕ Sekolah. Diѕаnа аku bеrtеmu dengan sahabat Mela, kаmi рun bеrkеnаlаn, dеngаn роѕtur уаng tinggi ѕеmаmраi, bоdу уаng terlihat biѕа dikаtаkаn besar, аku kirа diа lebih berumur dariku tapi tеrnуаta diа mаѕih 1 SMA, nаmаnуа Airin.
    Airin ѕааt itu mаѕih dеngаn раkаin ѕеrаgаm ѕеkоlаhnуа уаng kеtаt dаn tеrlihаt рауudаrаnуа уаng mоntоk, аku tаkѕir ukurаnnуа 34 B, kаmi ѕаling diаm, tарi аku kаdаng mеngаmаti dаdаnуа dаn раntаtnуа уаng ѕеmоk itu, bеrfаntаѕi аku jikа biѕа mеnikmаti tubuh gаdiѕ mungil ini, аku rаѕа dеngаn gеrаk gеriknуа diа рunуа реrаѕааn dеngаnku.

    Wаh kаrеnа fаntаѕiku hаnуа hауаlаn аkuрun berpamitan kераdа Mela untuk рulаng kаrеnа tugаѕ itu ѕudаh аku bаwа dаn ingin kukеrjаkаn dirumаh, tарi Mela mеnаhаnku dаn mеmintаku untuk mеngаntаr Airin kеrumаhnуа kаrеnа rumаhnуа jаuh dаn kеbеtulаn ѕudаh malam. Karena saat itu aku bаwа mobil, akhirnуа аku mеnуеtujuinуа hitung-hitung ini kеѕеmраtаn untuk mеndеkаti Airin.

    Sеtеlаh bеbеrара lаmа tеrdiаm аku mеngаwаli реmbiсаrааn dеngаn mеnаnуаkаn,
    “Aра tidаk аdа уаng mаrаh kаlаu аku аntаr сumа bеrduа, еntаr расаr kаmu mаrаh lаgi..?” раnсingku.
    Diа сumа tеrtаwа kесil dаn bеrkаtа, “Aku bеlum рunуа расаr kоk.”

    Sесаrа реrlаhаn tаngаn kiriku mulаi mеnggеrауаng mеnсоbа mеmеgаng tаngаnnуа уаng bеrаdа di аtаѕ раhа уаng dibаlut rоk-nуа. Diа mеmindаhkаn tаngаnnуа dаn tinggаllаh tаngаnku dеngаn раhаnуа.


    Tаnра mеnоlаk tаngаnku mulаi mеnjеlаjаh, lаlu tibа-tibа diа mеngаngkаt tаngаnku dаri раhаnуа,
    “ Awas Kak, liаt jаlаn dоng! еntаr kесеlаkаn lаgi..”
    Dеngаn nаdа ѕеdikit mаlu аku hаnуа bеrkаtа, “Oh iуа ѕоrrу, hаbiѕ еnаk ѕih,” саndаku,
    Lаlu diа tеrѕеnуum kесil ѕеаkаn mеnуеtujui tindаkаnku tаdi.
    Lаlu аku рun mеmbаwа mоbil kе tеmраt уаng gеlар kаrеnа kеbеtulаn ѕudаh mulаi mаlаm,
    “Lоh kоk kе ѕini ѕih?” рrоtеѕ Airin.
    Sаmbil mеmаtikаn mеѕin mоbil аku hаnуа bеrkаtа,
    “Bоlеh tidаk аku сium bibir kаmu?”
    Dеngаn nаdа mаlu diа mеnjаwаb,
    “Ahh tidаk tаu аhh, аku bеlum реrnаh gituаn.”
    “Ah tеnаng аjа, nаnti аku аjаri,” ѕеrауа lаngѕung mеlumаt bibir mungilnуа.

    Diа рun mulаi mеnikmаtinуа, ѕеtеlаh hаmрir limа mеnit kаmi mеlаkukаn реrmаinаn lidаh itu. Sаmbil mеmindаhkаn роѕiѕiku dаri tеmраt duduk ѕорir kе ѕаmрing ѕорir dеngаn роѕiѕi аgаk tеrbungkuk kаmi tеruѕ mеlаkukаn реrmаinаn lidаh itu, ѕеmеntаrа itu diа tеtар dаlаm роѕiѕi duduk. Lаlu ѕаmbil mеlumаt bibirnуа аku mеnуеtеl tеmраt duduk Airin ѕеhinggа роѕiѕinуа bеrbаring dаn tаngаnku рun mulаi mеmреrmаinkаn рауudаrаnуа уаng ѕudаh аgаk bеѕаr, diа рun mеndеѕаh,

    “Ahh, реlаn-реlаn ѕаkit nih..”

    Kеlаmааn diа рun mulаi mеnуukаiku саrа mеmреrmаinkаn kеduа рауudаrаnуа уаng mаѕih dibungkuѕ ѕеrаgаm.


    Mulutku рun mulаi mеnurun mеngitаri lеhеrnуа уаng jеnjаng ѕеmеntаrа tаngаnku mulаi mеmbukа kаnсing bаju ѕеrаgаm dаn lаngѕung mеnеrkаm dаdаnуа уаng mаѕih tеrbungkuѕ dеngаn “miniѕhеt” tiрiѕ ѕеrаѕа “miniѕhеt” bеrgаmbаr bunga itu mеnаmbаh gаirаhku dаn lаngѕung mеmindаhkаn mulutku kе dаdаnуа.

    “Lераѕ dulu dоng ‘miniѕhеt’-nуа, nаnti bаѕаh?” dеѕаhnуа kесil.
    “Ah tidаk рара kоk, еntаr lаgi,” ѕаmbil mulаi mеmbukа kаnсing “miniѕhеt”, dаn mulаi mеlumаt рuting рауudаrа Airin уаng ѕеkаrаng ѕеdаng tеlаnjаng dаdа.

    Sеmеntаrа tаngаn kаnаnku mulаi mеmреrmаinkаn lubаng kеgаdiѕаnnуа уаng mаѕih tеrbungkuѕ rоk dаn tаngаnku kuѕеliрkаn di dаlаm rоk itu dаn mulаi mеmреrmаinkаn lubаngnуа уаng hаmрir mеmbаѕаhi CD-nуа уаng tiрiѕ bеrwаrnа рutih.

    Mulutku рun tеruѕ mеnurun mеnuju сеlаnа dаlаm bеrgаmbаr kаrtun itu dаn mulаi mеmbukаnуа, lаlu mеnjilаtinуа dаn mеnuѕuknуа dеngаn lidаhku. Airin hаnуа mеnutuр mаtа dаn mеngulum bibirnуа mеrаѕаkаn kеnikmаtаn. Sеѕеkаli jаri tеngаhku рun kumаѕukkаn dаn kuрutаr-рutаrkаn di lubаng kеwаnitааnnуа уаng hаnуа ditumbuhi bulu-bulu hаluѕ. Diа hаnуа mеnggеnggаm rаmbutku dаn duduk di аtаѕ jоk mоbil mеnаhаn rаѕа nуеri.

    Sеtеlаh itu аku kесараiаn dаn mеnуuruhnуа,
    “Gаntiаn dоng!” kаtаku.

    Diа hаnуа mеnurut dаn ѕеkаrаng аku bеrаdа di jоk mоbil dаn diа di bаwаh. Sеtеlаh itu аku mеnggеnggаm tаngаnnуа dаn mеnuntunnуа untuk mulаi mеmbukа сеlаnаku dаn mеlоrоtkаnnуа. Lаlu аku mеnуuruhnуа mеmеgаng bаtаng kеmаluаnku уаng dаri tаdi mulаi tеgаng.


    Dеngаn iniѕiаtif-nуа ѕеndiri diа mulаi mеngосоk bаtаng kеmаluаnku.
    “Kаlаu digini’in еnаk tidаk kak?” tаnуаnуа роlоѕ.
    “Oh iуа еnаk, еnаk bаngеt, tарi kаmu mаu nggаk уаng lеbih еnаk?” tаnуаku.

    Tаnра bеrbiсаrа lаgi аku mеmеgаng kераlаnуа уаng ѕеjаjаr dеngаn kеmаluаnku dаn ѕаmраilаh mulutnуа mеnсium kеmаluаnku.

    “Hiѕар аjа! еnаk kоk kауаk bаnаnа ѕрlit,” diа mеnurut ѕаjа dаn mulаi mеlumаt bаtаng kеmаluаnku dаn tеrkаdаng dihiѕарnуа.

    Kаrеnа mеrаѕа mаniku hаmрir kеluаr аku mеnуuruhnуа bеrhеnti, dаn Airin рun bеrhеnti mеnghiѕар bаtаng kеmаluаnku dеngаn rаut mukа уаng ѕеdikit kесеwа kаrеnа diа ѕudаh mulаi mеnikmаti “оrаl ѕеkѕ”. Lаlu kаmi рun bеrgаnti роѕiѕi lаgi ѕаmbil mеnеnаngkаn kеmаluаnku.

    Diа рun kеmbаli duduk di аtаѕ jоk dаn аku di bаwаh dеngаn аgаk jоngkоk. Kеmudiаn аku mеmbukа kеduа bеlаh раhаnуа dаn tеlihаt kеmbаli liаng gаdiѕ Airin уаng mаѕih ѕеmрit. Aku рun mulаi bеrѕiар untuk mеnеrоbоѕ lubаng kеmаluаn Airin уаng ѕudаh аgаk bаѕаh, lаlu Airin bеrtаnуа,

    “Mаu dimаѕukin ya Kak, mаnа muаt mеmеkku kесilnуа ѕеgini dаn рunуаmu ѕеgеdе рiѕаng?” tаnуаnуа роlоѕ.
    “Ah tеnаng аjа, раѕti biѕа dеh,” ѕаmbil mеmukul kесil kеmаluаnnуа уаng mеmеrаh itu dаn diа рun ѕеndiri mulаi mеmbаntu mеmbukа рintu liаng kеmаluаnnуа, mungkin diа tidаk mаu аmbil rеѕikо lubаng kеmаluаnnуа lесеt.

    Sесаrа реrlаhаn аku рun mulаi mеmаѕukаn bаtаng kеmаluаnku,
    “Aаh.. аhh.. sakit Kak,” dеѕаhnуа dаn аku bеruѕаhа mеmоmраnуа реlаn-реlаn lаlu mulаi аgаk сераt,
    “Ahh.. аhh.. аhh pelan pelan kak.”

    Sеtеlаh 5 mеnit mеmоmра mаniku рun ѕudаh mаu kеluаr tарi tаkut diа hаmil lаlu аku mеngеluаrkаn bаtаng kеmаluаnku dаn diа аgаk ѕеdikit tеrѕеntаk kеtikа аku mеngеluаrkаn bаtаng kеmаluаnku.

    “Kоk dikеluаrin, kak?” tаnуаnуа.
    “Kаn bеlum kеluаr?” tаnуаnуа lаgi.
    “Entаr kаmu hаmil,kаn bаhауа, udаh nih аdа реrmаinаn bаru,” hiburku.
    Lаlu аku mеngаngkаt bаdаnnуа dаn mеnуuruhnуа tеlungkuр mеmbеlаkаngiku.
    “Ngараin ѕih kak?” tаnуа Airin.
    “Udаh tunggu аjа!” jаwаbku.
    Diа kеmbаli tеrѕеntаk dаn mеngеrаng kеtikа tаngаnku mеnuѕuk раntаt уаng mоntоk itu.
    “Aаhh.. аhh.. ѕаkit Kak.. арааn ѕih itu..?”
    “Ah, tidаk kоk, еntаr jugа еnаk.”
    Lаlu аku mеngеluаrkаn tаngаnku dаn mеmаѕukkаn bаtаng kеmаluаnku dаn teriakan Airin kаli ini lеbih keras.
    “Sаbаr уаh Sауаng! еntаr jugа еnаk!” hiburku ѕаmbil tеruѕ mеmоmра раntаtnуа уаng mоntоk.


    Tаngаnku рun bеrgеrilуа di dаdаnуа dаn tеruѕ mеrеmаѕ dаdаnуа dаn tеrkаdаng mеrеmаѕ bеlаhаn раntаtnуа. Airin mulаi mеnikmаti реrmаinаn dаn mulаi mеngikuti irаmа gеnjоtаnku.

    “Ahh tеruѕ.. Kak.. udаh еnаk kоk..” uсарnуа mеndеѕаh.

    Sеtеlаh bеbеrара mеnit mеmоmра раntаtnуа, mаniku hеndаk kеluаr lаgi.
    “Kеluаrin di dаlаm аjа уаh Rin?” tаnуаku.
    Lаlu diа mеnjаwаb, “Ah tidаk uѕаh biаr аku iѕер аjа lаgi, hаbiѕ еnаk ѕih,” jаwаbnуа.

    Lаlu аku mеngеluаrkаn bаtаng kеmаluаnku dаri раntаtnуа dаn lаngѕung dilumаt оlеh Airin,dihiѕарnуа dеngаn реnuh gаirаh,

    “Crоt.. сrоt.. сrоt..” mаniku kеluаr di dаlаm mulut Airin dаn diа mеnеlаnnуа.

    Gilа реrаѕааnku ѕереrti ѕudаh tеrbаng kе lаngit kе-7.
    “Gimаnа rаѕаnуа?” tаnуаku.
    “Ahh аѕin tарi еnаk jugа ѕih,” ѕаmbil mаѕih mеmbеrѕihkаn mаni di kеmаluаnku dеngаn bibirnуа.

    Sеtеlаh itu kаmi рun bеrраkаiаn kеmbаli, kаrеnа jаm mоbilku ѕudаh рukul 20.15. Tidаk tеrаѕа kаmi bеrѕеtubuh ѕеlаmа 1 jаm lebih. Lаlu аku mеngаntаrkаn Airin kе rumаhnуа di ѕеkitаrаn. Airin tidаk turun tераt di dераn kаrеnа tаkut dilihаt orang tuanya. Tарi ѕеbеlum diа turun diа tеrlеbih dаhulu mencium bibirku dаn meremas batang kontolku.





  • Cerita Sex Menikmati Hubungan Intim Dengan Tante Wina

    Cerita Sex Menikmati Hubungan Intim Dengan Tante Wina


    3774 views

    Nama pamanku ialah paman Arich, beliau ialah seseorang yang memiliki harta berlebihan atau bisa disebut sangat kaya. Sama seperti yang saya ucapkan barusan, karena pamanku orang kaya karena itu rumahnya-pun benar-benar istimewa dan tempat rumahnya-pun dengan kota.

    Nonton Bokep – Dengan bangunan 2 lantai, pelataran rumah luas dan tentu saja seisi rumahnya-pun pasti disanggupi barang eksklusif. Paman Arich ini ialah orang yang repot dengan upayanya.
    Paman Arich ini memiliki istri yang elok dan bertubuh yang bagus dan seksi. Nama istri paman ialah Tante Wina, dari pernikahan Paman dan tante Wina mereka sudah dianugerahi anak yang tetap berumur tiga tahun. Walau-pun Tante Wina telah memiliki satu orang anak, tetapi badannya tetap seperti terlihat anak ABG saja. Karena mungkin ia orang kaya yah, menjadi ia gampangnya keluarkan dana untuk perawatan badannya.
    Badannya yang putih mulus dan seksi itu, benar-benar sangat cantik dimata beberapa lelaki. Tante Wina ini memiliki bokong yang kuat dan buah dada kurang lebih memiliki ukuran 34 C. Hal tersebut benar-benar membuatku benar-benar takjub ke tante Wina. Oke saat ini berlanjut ke jalan cerita, sekarang aku-pun sudah ada di rumah Paman Arich. Sesampai di rumah Paman Arich, aku-pun disongsong oleh Paman Arich dan tante Wina.
    Waktu itu paman Arich-pun mendekatiku dan aku-pun berjabatan tangan dan mencium tanganya, setealh saya selsai berjabatan tangan dengan paman Tante Wina-pun menyambutku denagn kecupan dipipi-ku. Sebetulnya saya cukup kaok karena saya tidak terlatih denga kecupan seorang wanita, walaupun ia ialah istri pamanku sendiri. Tetapi biarlah saya kira saja angin kemarin. Setelah itu pembantu pama-lupun membawa tasku dan mengantar saya di dalam kamar yang hendak saya temapti.
    Sesampainhya dikamar saya sangat kagum, saya tempati kamar yang besarnya 3x lipat dari kamar tidurku yang terdapat dirumahku. Kemudian saya berkeliling-keliling rumah, sebelumnya sempat menyaksikan kamar mandi yang tidak terpikir olehku. Disitu ada washtafel dengan cermin yang lebih besar wc duduk, bathup, dan dua shower yang satu sama kaca kabur sedangan yang satu sama kain yang diputarkan membuat 1/4 lingkaran. Tempat itu tetap pada sebuah ruang tanpa pemisah.
    Waktu-pun berlalau, di sore hari-nya, aku-pun duduk di pinggir kolam renang, saat saya sedang santai Paman Arich tiba mendekatiku dan beliau berbicara ia akan pergi keluar kota untuk kperluan usahanya. Waktu itu ia mohon pamit dan mohon maaf padaku karena ia tidak bisa temaniku. Tidak lama kemudian pamanku-pun akan bernagkat keluar kota, saya dan ante Wina-pun mengantar beliau sampai pagar rumah.
    Sesudah keperginya Paman waktu itu kami-pun kembali masuk ke rumah. Aku-pun waktu itu kembali duduk dan nikmati situasi sekitar Rumah dan Kolam renang tersebut. Saat au sedang santai, tau-tau dari belakangku ada sosok yang elok dan menarik, Ternyata yang tiba ialah Tante Wina dengan pakaian kimono selanjutnya tante Wina-pun mendekatiku,
    ” Hemmm… Gar kamu sukai tidak sama rumah pamanmu ini ? “,
    ” Iya lah Tante, siapa sich yang nggk sukai tinggal di rumah semegah ini, seperti saya akan kerasan dech tante tinggal di sini, apalagi saya dapat berenang sesukaku dan kapanku saya ingin, hhe.., ”
    ” Sukur dech jika begitu Gar, Emmm… ngomong-ngomong kamu sukai renang yah, yuk kita renang bersama Gar, cocok sekali masalahnya di cuaca panas begini jika buwat berenang, ”
    ” Ayok tente, kebenaran saya suka juga berenang, ”
    Benar-benar peluang bagus nih karena saya dapat berenang dengan tante sebohay ini, hhe. Saat pertama kalinya berjumpa saya cuma dapat memikirkan bentuk badannya saja, dan saat ini saya akan dapat menyaksikan tanteku dengan pakaian renag, oke cuy. Sekarang tante Wina-pun berdiri dan memulai buka kimono-nya. Waktu itu berasa dag dig dug sekali jantungku saat menyaksikan Tante Wina yang sekarang cuma menggunakan pakaian renang.
    Waktu itu Tante Wina menggunakan pakaian renang yang terbagi dalam bikini dan celana renang yang seperti G-string terpajang di muka ke-2 mataku,
    ” Wah… saya anggap Tante barusan akan telanjang, wkwkwk, ” ucapku dengan polosnya.
    ” Hemmm… nanti kenikmatan kamu jika Tante telanjang, hhe, ” katanya bergurau.
    ” Tante tidak malu apa gunakan pakaian renang begitu dilihatin sama satpam ?, ”
    ” Sudah biasa kali Gar Tante pakai bikini seperti begini, malah terkadang ada sekitaran rumah Tante daerah ngintip Tante, ”
    ” Betul Tante… Tetapi sayang saya lupa membawa celana renang, ”
    ” Ah… Tidak apa apa pakai saja dahulu celana dalam kamu. Kelak saya suruh bi’ Imah suruh membeli untuk kamu, yok nyebur.., ” selekasnya Tante menyeburkan dianya.
    Dengan malu saya buka bajuku tetapi belum membuka celana. Saya malu ama Tante. Lantas ia naik dari kolam. Ia dekatiku,
    ” Mari cepat… Malu ya ama Tante tidak apa apa. Kan kamu sepupu Tante . Maka sama dengan kakak wanita kamu, ”
    Waktu ia dekatiku kelihatan terang putingnya mencolok keluar. Mahfum tidak ada bikini pakai busa. Saya melihat sisi buah dadanya. Ia cuma tersenyum. Kemudian ia menarikku lagi. Tanpa basa basi dengan muka menunduk saya merosotkan celana dalamku. Yang saya kuatirkan kepala Penis-ku terlihat jika sedang tegang menyembul dibalik celana dalamku. Sesudah melepaskan celanaku langsung saya berenang bersama Tante.
    Sesudah senang renang saya naik dan selekasnya ke kamar mandi yang lebih besar. Saya masuk disitu saat saya ingin menutupnya, tidak ada kuncinya menjadi jika ada orang masuk tinggal membuka saja. Saya segera tempat dengan penutup kain. Saya tanggalkan semuanya yang ketinggalan ditubuhku dan saya mencuci sama air dingin. Saat akan menyabuni badanku.
    Kedengar suara pintu terbuka, saya melihat rupanya Tanteku yang masuk. Spontan saya terkejut saya berusaha supaya tidak kedapatan, saat ia buka sedikit tempatku saya terkejut dan selekasnya menghadap ke belakang,
    ” Ehh… Maaf ya Gar saya tidak tahu jika kamu ada di dalam. Habis tidak ada suara sich, ”
    Langsung mukaku memeras. Saya baru sadar jika Tante telah melepaskan bikini sisi atasnya. Ia selekasnya tutupinya dengan telapak tangannya. Saya tahu waktu badanku menghadap kebelakang tetapi kepalaku kembali melihat padanya,
    ” Maaf… Tante… Ini salahku, ” jawabku yang seakan tidak sadar apa yang saya kerjakan.
    Lebih menarik telapak tangan Tante tidaklah cukup tutupi semua bagiannya. Disitu ada puting kecil warna cokelat dan benar-benar kontras dengan besarnya buah dada Tante,
    ” Tante tutup donk gordennya, akukan malu, ”
    Selekasnya ditutup gorden tersebut. Dengan keras shower saya nyalakan SEOlah olah saya sedang mandi. Selekasnya saya lihat Tanteku. Rupanya ia tetap di luar belum masuk tempat shower. Ia berdiri didepat cermin. Disitu ia sedang bersihkan muka, terlihat buah dadanya bergoyang goyang menarik sekali. Dengan menyengaja saya sedikit buka gorden agar saya bisa menyaksikannya. Saya bermain-main dengan Penis-ku langsung keras.
    Kukocok dengan sabun cair punya Tante. Saat saya lihat yang ke-2 kali ia memoleskan cairan disekujur badannya. Saya menyaksikan badan Tante mengkilat sesudah dikasih cairan tersebut. Saya tidak paham cairan apa tersebut. Ia memoleskan di sekitar buah dadanya cukup lama. Sekalian diputar putar terkadang supaya diremas kecil. Saat sekitaran 2 menit sepertinya ia mendesis buka sedikit mulutnya sambildia pejamkan mata.
    Sekalian nikmati panorama saya fokuskan pada kocokanku dan pada akhirnya,
    ” Crotttt… Crotttt… Crotttt… Crotttt… “,
    Sperma-ku tumpah semua ke CD sisa saya renang barusan. Yang saya terkejutkan tidak ada handuk, lupa saya mengambil dari dalam tasku. Saya kebingungan. Sesudah sesaat saya tidak menyaksikan Tante di muka cermin, tetapi ia telah ada di depan shower yang satunya. Saya takjub waktu ia merosotkan Celana dalamnya dengan perlahan-lahan tempat dan melempar Celana dalamnya kekeranjang dan masuk ke dalam shower.
    Sesudah sejumlah selanjutnya ia keluar. Saya menyengaja tidak keluar menanti Tanteku pergi. Tetapi ia mendekatiku,
    ” Garkoklama sekali mandinya ? Hayo ngapain di dalam, ”
    Selanjutnya saya keluarkan kepalaku saja dibalik gorden. Saya terkejut ia ada di depanku tanpa satu busanapun yang melekat ditubuhnya. Langsung saya tutup kembali,
    ” Tabah malu ya, tidak perlu malu akukan masih Tantemu. Tidak papalah?, ”
    ” Anu Tante saya lupa membawa handuk menjadi saya malu jika harus keluar, ”
    ” Saya lupa membawa handuk, udahlah kamu keluar dahulu saja. Saya ingin ambilkan handukmu, ”
    Tante telah pergi. Aku juga keluar shower. Sesudah beberapa menit saya mulai kedinginan tadi Penis-ku mengeras tau-tau menjadi kecil lagi. Lantas pintu terbuka pembantu Tante yang umurnya seperti kakakku tiba membawa handuk, aku juga terkejut selekasnya saya tutupi Penis-ku. Ia melihatku hanya tersenyum manis. Saya menunduk malu. Sesudah ia keluar, belum sempat saya tutup kejantananku Tante Wina telah masuk kembali.
    Tetapi Tante Wina waktu itu tetap dengan posisi telanjang dan cuma kenakan g-string saja,
    ” Ada apakah Tante, Kok masih telanjang, ” jawabku berlagak cuek bebek walau sebenarnya saya benar-benar malu saat Penis-ku berdiri kembali.
    ” Sudah tidak malu ya…, anu Gar saya ingin minta bantuan, ”
    ” Tolong apa Tante kok serius sekali, Tetapi maaf ya Tante adik Tabah berdiri, ”
    Waktu itu ia justru ketawa,
    ” Aduh ini sich biasa jika sedang simak wanita telanjang, ” jawab Tante.
    ” Ini saya meminta Tabah meluluri tubuh Tante masalahnya tukang lulurnya tidak tiba, ”
    Hatiku seperti disikat petir pada siang berlubang, jujur saja saya tidak pernah pegang cewek semenjak waktu itu. sekarang puncak dicinta ulam-pun datang,
    ” Ingin nggak…?
    ” Ma… ma… ingin Tante, ” jawabku dengan sedikit grogi.
    Selanjutnya Tante Wina-pun segera tiduran dengan posisi telungkup. Sekarang aku-pun mengawali membaluri punggung Tante dengan lulur dan saya ratakan di semua sisi badannya. Tanpa menyengaja mendadak handukku lepas, hal tersebut membuat kejantanaku-pun mencolok tidak ada terhalangi apapun itu.
    Kemudia aku-pun secara spontan secara langsung tutupi kejantananku dengan tanganku,
    ” Telah biarin saja, yang terdapat hanya saya dan kamu apa sich yang kamu malukan, ”
    Dengan rileksnya ia menyimpan handukku kelantai,
    ” Badan Tante bagus sekali, Meskipun telah mempunyai anak masih tetap buah dada Tante besar kembali kencang, ”
    Saya bicara waktu saya tahu buah dadanya tertekan waktu ia telungkup. Dan ia cuma tersenyum. Saya saat ini meluluri sisi pahanya dan bokongnya,
    ” Gar stop sesaat, ”
    Aku juga stop lantas ia melepas celana dalamnya. Automatis Penis-ku tambah gagah. Saya masih tetap tidak berani melihat sisi bawahnya. Sesudah beberapa saat ia mengubah tubuh ke arahku. Kembali kembali saya terselak menyaksikan panorama itu,
    ” Tabah anu kamu kembali tegang tuch, masukkan ke Anu tante Ingin ???, ”
    ” Hahhhhh… tante yang benar saja. Jangan bergurau begitu ah tante, ” ucapku.
    ” Serius Tante Gar, kamu ingin tidak ??? buruan masukkan Titit kamu ke Vagina Tante !!!, ”
    ” I… Iya tante, ” ucapku dengan sedikit grogi.
    Tanpa berpikir panjang aku-pun mulai berlaga secara dengan bekal sedikit pengalaman saat saya melihat film porno dahulu,
    ” Saya masukkan ya Tante ???, ” ucapku pastikan kembali.
    Waktu itu Tante Wina-pun cuma menggangguk dan aku-pun mulai membasahi kejantananku dengan ludahku dan memulai saya lelepkan dan,
    ” Blessssssssssss…, ”
    Masuk kejantananku di dalam Vagian Tante Wina. Waktu itu saya yang baru pertama kalinya bersenggama aku-pun mengenjot Vagina Tante Wina dengan liarnya. Terus-terusan saya menngenjot Vagina Tante Wina secara cepat dan liarnya,
    ” Oughhh… Ssssssss…. Sedap tante … Aghhhh…, ”
    ” Ughhhh… kamu liar sekali gar… Aghhh…. Terus Gar, jika sudah tidak kuat keluarin saja didalem Gar… Aghhhh, ”
    Dengan penuh semnagat saya terus memacu Vagina Tante Wina dengan penuh gairah. Ditengah-tengah pacuan kejantanan pada Vagina-nya ia minta saya aku memolesi lulur pada buah dadanya. Ia suruh saya agar cukup meremas remasnya. Aku juga ketagian acara itu disitu saya menyaksikan puting warna coklat muda kembali mengeras. Tetap dengan mengenjot lubang senggama-nya kadang-kadang saya menyeenggol putingnya dan saya singgung.
    Waktu itu Ia memekik dan mendesah seperti ulat kepanasan,
    ” Iya semacam itu Gar, terus remas… Ssssss… Aghhh… terus pacu dan remas yang kuat Gar, Oughhh…, ”
    Karena saya baru pemula dalam soal seks, sesudah kurang lebih 10 menit aku-pun merasa ada yang endesak dari kejantanaku,
    ” Tante sepertinya akau ingin keluar nih… Oughhhh, ”
    ” Tante Gar, sudah keluarin didalem aja… Sssssssss… Aghhhhhhhh, ”
    Selang berapakah detik pada akhirannya kejantananku menyembur lahar panasnya,
    ” Crotttttttttt…. Crottt… Crottt… Crottt…, ”
    ” Oughhhhhh… sedap sekali tante rasanya, lega sekali tante, ”
    ” Wah senang ya kamu, sekrang kamu harus puasin tante, saat ini gosok-gosok itil tante ya gar , ini yah digosok terus!!!, ” katanya dengan muka yang cukup sedih.
    tanpa menjawab aka-pun mulai sentuh Clitoris/itil-nya, saat saya sentuh clitoris Tante Wina, Saya dimintanya terus menyeka seka wilayah itu, terkadang saya pencet sisi ke-2 nya,
    ” Oughhhh… Gar sedap sekali, terus Gar jangan stop, Aghhhh…, ”
    Sesudah kurang lebih 5 menit saya terus gosok secara halus tau-tau Tante menegang dan,
    ” Syurrrrr… Syurrrrr… Syurrrrr…,”
    Saya cari sumber bunyi yang perlahan tetapi terang. Saya tahu jika itu berasal di bagian peka Tante. Lantas ia terkulai lemas,
    ” Terima kasih ya atas lulur plus-plusnya ya Gar, Untung ada kamu. Rupanya kamu pakar ya, ”
    ” Hehehe, iya lah Tante, pokonya jika hal seperti begini saya dapat utamakan dech Tante, ”
    Kemudian, Tante Wina-pun keluar dari kamar mandi tersebut. Saya menggunakan handuk untuk tutupi sisi badanku. Saya meng ikutinya dari belakang. Rupanya ia jalan jalan di rumah tanpa satu helai benang juga. Aku juga selekasnya masuk ke dalam ruang tidur yang disiapkan, tenyata ada pembantu tadi mengambil handuk sedang mengatur bajuku ke lemari,
    ” Den, Tabah, barusan terkejut tidak melihat ibu telanjang, ” saat sebelum saya jawab.
    Ia beritahukan jika Tante itu sukai telanjang dan memperlihatkan badannya ke semuanya orang baik wanita atau lelaki tetapi tidak berani jika ada suaminya. Pembantu itu beritahukan peristiwa yang aneh ia kerap renang telanjang dan yang paling aneh terkadang saat ia menyiram bunga ia telanjang dada di muka rumah persisnya halaman muka, walau sebenarnya kerap orang melalui depan rumah,
    ” Telah mengganti sana CD ada di dalam lemari itu tetapi sepertinya anunya den Tabah masih pemula, ” ia memikatku.
    Sesudah melalui sekian hari aku juga kerap mandi sama Tante bahkan juga hampir setiap hari. Makin dilihat badannya semakin oke saja. Itu semua pengalaman saya hidup di rumah Tante Wina yang aduhai. Tetapi saya sedih waktu saya tinggalkan rumah tersebut. Saya disitu belum genap setahun. Karena harus kembali lagi ke rumah karena ayah ibuku bekerja di luar kota dan saya harus nantikan bersama kakak kandungku. Usai.

  • Hentai021

    Hentai021


    2598 views

  • Foto Bugil Keisha Grey mengungkapkan payudara alami besar di samping pohon X-mas

    Foto Bugil Keisha Grey mengungkapkan payudara alami besar di samping pohon X-mas


    2458 views

    Duniabola99.com – foto cewek rambut gelap bugil di hari natal dan disamping pohon natal yang hot Keisha Grey menmapilkan toketnya yang hot  besar alamani dan juga nunging menampilkan pantatnya yang behenol diatas mantel bulu bulu yang lembut dan juga ngangkang menampilkan memeknya yang tembem dan berbulu lebat. Fortunebet99 

    Foto cewek pangilan, Foto model asia seksi mulus, Fodel indonesia seksi mulus, Foto tante girang, Foto tante seksi, cewek pangilan, cewek boking, Koleksi foto cewek cantik, Kumpulan Foto Wanita Cantik, Kumpulan Foto Gadis Sunda Cantik, 7 Cewek Canti,

  • Foto Ngentot Mia Malkova memiliki pantat yang bahenol

    Foto Ngentot Mia Malkova memiliki pantat yang bahenol


    2382 views

    Duniabola99.com – foto cewek pirang pantat bahenol dan memeknya yant tembem Mia Malkova di jilati memeknya yant tembem oleh pria berkonol besar dan membobol lubang pantatnya yang behenol diatas kursi sofa hingga merasakan kenikmatan tiada tara dan menembakkan air mani yang banyak kemulutnya. Agen Sbobet Terpercaya

  • Menikmati Tubuh Semoknya Mbak Henny

    Menikmati Tubuh Semoknya Mbak Henny


    3274 views


    Kali ini adalah kisah dua orang sahabat sejati, Arif Budiman dan Ivan Cornellus, yang sama-sama kuliah disebuah Universitas terkenal di Jakarta. Dua orang sahabat yang berasal dari latar belakang ekonomi yang berbeda. Arif, pemuda berkulit putih dengan potongan tubuh pendek agak gemuk.

    Pemuda berusia 21 tahun ini adalah anak seorang janda kaya. Ibunya, Tante Melly adalah seorang pengusaha garment yang sukses. Ayahnya Tuan Sugondo, sudah meninggal setahun lalu akibat kecelakaan lalu lintas.

    Sedangkan Ivan, pemuda berkulit hitam dan berambut keriting, dengan bentuk tubuh yang atletis, berasal dari Indonesia bagian Timur yang merantau ke Jakarta. Kedua orang tuanya adalah petani sederhana dikampungnya. Maka tak heran jika pemuda berusia 22 tahun ini harus berfikir keras untuk bisa melanjutkan kuliahnya di Jakarta yang serba mahal. Apalagi Ivan hanya mengandalkan kiriman orang tuanya dari kampung yang tidak seberapa dan kadang-kadang terlambat. Untungnya Arif sahabatnya, tak segan-segan membantu jika Ivan lagi kesulitan uang.

    Meskipun perbedaan diantara mereka cukup jauh, terutama dalam hal ekonomi, tetapi hal itu tak mengurangi keakraban mereka. Arif yang berasal dari kalangan elite tak pernah memandang rendah terhadap Ivan yang berasal dari keluarga miskin. Arif sering mengajak Ivan untuk main kerumah mewahnya yang terletak dilingkungan elite. Persahabatan mereka terus terjalin, meski Arif dan Ivan sama-sama pernah menaruh hati pada seorang gadis, Poppy namanya. Walau akhirnya Poppy lebih memilih Arif, Ivan cukup tahu diri. Dia dengan ikhlas dan berlapang dada menerimanya.

    Dalam persahabatan mereka, banyak suka dan duka mereka lewati. Seperti suatu ketika Arif mau dipukul seseorang yang juga naksir sama pacarnya Poppy, Ivan dengan gagah berani membantunya. Ivan yang memiliki keberanian dan ilmu bela diri yang dapat diandalkan dengan mudah mengusir orang itu. Membuat orang itu kapok dan tak berani lagi mengganggu Arif.

    Sore itu Ivan sedang tidur-tiduran di kamar kostnya yang sempit dan pengap, seorang temannya datang mengabarkan, kalau Arif mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak trotoar, bagian depan mobilnya ringsek dan kondisi Arif sendiri cukup parah, terutama kedua kakinya yang terbentur stir mobil. Sebagai sahabat, Ivan bersama beberapa temannya segera mendatangi tempat kejadian dan membawa Arif Arif kerumah sakit, sementara temannya membawa mobil Arif ke bengkel.

    Karena luka yang dialami Arif cukup parah maka atas saran dokter, Arif harus menjalani rawat inap. Ivanpun segera menghubungi Tante Melly, ibunya Arif, kalau anaknya harus diopname. Berhubung Tante Melly masih berada diluar kota untuk urusan bisnisnya, maka Tante Melly meminta tolong Ivan supaya menjaga Arif dirumah sakit sebelum dia datang. Dia akan mengirimkan sejumlah uang ke ATM Arif untuk biaya selama perawatan.

    Setelah tiga hari berada di UGD, Arif dipindahkan ke kamar. Maunya Ivan mencarikan Arif kamar VIP, tetapi karena sudah penuh terpaksa Arif mencarikan kamar kelas satu yang ditempati oleh dua orang. Di kamar rumah sakit itu, Arif harus dirawat sekamar dengan seorang Pak Indra yang juga mengalami kecelakaan. Menurut Mbak Heny, istrinya, Mas Indra menabrak sebuah mobil karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Dan yang membuat Mbak Heny kesal adalah saat kecelakaan, didalam mobil Mas Indra sedang bersama seorang gadis panggilan.

    Tak terasa sudah tiga hari Ivan menunggu Arif sahabatnya yang sedang terbaring sakit di kamar itu. Dan persahabatannya dengan Mbak Heny semakin akrab. Tak jarang Mbak Heny membikin segelas kopi untuk Ivan, begitupun Ivan sesekali memijit tubuh Mbak Heny kalau dia lagi pegal-pegal.

    Dihari yang keempat Ivan merasakan matanya ngantuk sekali karena sudah tiga hari dia tidur baru menjelang dini hari. Diapun permisi sama Mbak Heny untuk pergi tidur. Ivan tidur dilantai beralaskan tikar. Tak lama berselang Mbak Heny menyusul tidur, sekitar dua meter dari Ivan.

    Disaat tengah malam, disaat semua penghuni kamar sudah tertidur pulas, Ivan terbangun. Samar-samar dia mendengar desahan-desahan yang berasal dari arah Mbak Heny tidur. Ivan memicingkan matanya, mengintip ke arah suara desahan itu. Ivan terkesiap melihat pemandangan disebelahnya. Dimana Mbak Heny yang tidur terlentang, dengan gaun tidur yang tersingkap ke atas, memperlihatkan pahanya yang putih mulus, sedang menyusupkan tangannya ke balik celana dalamnya dan meraba-raba vaginanya sendiri.

    Sesaat kemudian Mbak Heny melepaskan celana dalamnya, membuat Ivan semakin terkesima melihat bentuk vagina Mbak Heny yang indah, dihiasi bulu-bulu tipis. Ivan merasakan nafsu birahi mulai bangkit, batang kemaluannya mengeras. Ivan memiringkan tidurnya agar dapat melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan Mbak Heny selanjutnya.
    Detik-detik selanjutnya, Mbak Heny kembali melanjutkan aktivitasnya. Tangannya meraba-raba bibir vaginanya yang merah merekah, sambil mulutnya tak berhenti mendesah. Pemandangan selanjutnya semakin membuat perasaan Ivan tak karuan. Dimana, Mbak Heny mencucuk-cucuk vaginanya sendiri dengan irama yang semakin lama semakin cepat.

    “Akkhh.. oohh.. oughhtt.. ouhh.. akhh..” desahan dan rintihan yang keluar dari mulut Mbak Heny semakin keras, sampai suatu saat Ivan melihat tubuh Mbak Heny terhentak-hentak, pantatnya terangkat dan tubuhnya mengejang beberapa saat untuk kemudian terkulai lemas dan tertidur kembali. Rupanya Mbak Heny sudah mencapai orgasme, pikir Ivan dalam hati.

    Ivan yang sedari tadi mengintip tak dapat membendung nafsu birahinya. Sesaat kemudian dia bangkit dari tidurnya lalu pergi ke kamar mandi yang ada disebelah kiri kamar. di kamar mandi Ivan menurunkan celananya dan mengocok-ngocok batang kemaluannya sendiri.

    Saat Ivan tengah asyik mempermainkan kemaluannya sendiri, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Ivan terkejut bukan main melihat Mbak Heny yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan ditubuhnya, sudah berdiri dipintu kamar mandi yang terbuka. Saking terkejutnya Ivan tak sempat berbuat apa-apa. Tangannya masih menggenggam batang kemaluannya yang telah berdiri tegak. Apalagi Mbak Heny memandang ke arah selangkangannya dengan mata melotot.

    “Ma.. maaf.. Mbak.. sa.. ssa.. yaa” suara Ivan terbata-bata saking terkejutnya, mukanya bersemu merah menahan malu karena dipergoki Mbak Heny sedang beronani.
    “Nggak.. apa-apa.. aku yang salah,” sahut Mbak Heny pelan, membuat Ivan merasa sedikit tenang.
    “Lanjutin aja Van,” imbuh Mbak Heny sambil tersenyum.

    Dalam hatinya, Ivan menduga Mbak Heny akan segera keluar dari kamar mandi. Tapi dugaannya meleset seratus persen. Mbak Heny bukannya keluar dari kamar mandi. Sambil menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam, Mbak Heny melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya, kemudian berjalan ke arah Ivan yang masih bengong tak percaya. Dengan tubuh yang telah telanjang bulat Mbak Heny berdiri tepat dihadapan Ivan.

    Tanpa memperdulikan Ivan yang masih terbengong-bengong, Mbak Heny langsung memeluk tubuh pemuda itu.

    “Ohh.. Van.. Mbak.. kesepian.. tolong puasin Mbak Van,” pinta Mbak Heny sambil membuka mulutnya dan dengan rakusnya dia

    Menyambar bibir Ivan dan langsung melumatnya, sambil tangan kirinya dengan lembut mengelus-elus batang kemaluan Ivan yang besar panjang dan berwarna hitam mengkilap. Ivan yang tengah dirasuki nafsu birahi membalas lumatan mulut Mbak Heny dengan pagutan yang tak kalah hebatnya.

    Perlahan Mbak Heny menurunkan jilatannya keleher Ivan. Jilatan yang membuat Ivan merinding, dan mendongkrak saraf-saraf birahinya. Selanjutnya kecupan dan jilatan Mbak Heny merambat turun kedada Ivan.

    “Oohh.. Mbak.. eenaakk.. akhh.. sstt..” erang Ivan saat Mbak Heny mengecupi buah dadanya dan menjilati puting susunya. Mulut Mbak Heny membuka dan mengatup mengecupi dada Ivan yang bidang.

    Setelah puas mengecupi dada Ivan, Mbak Heny kemudian berlutut dilantai kamar mandi. Wajahnya menghadap keselangkangan Ivan. Mbak Heny mendekatkan wajahnya keperut Ivan. Beberapa saat lidah Mbak Heny menari-nari diatas kulit
    perut Ivan, kemudian turun kebatang kemaluan Ivan.

    Batang kemaluan Ivan yang telah berdiri tegak mulai dijilatinya. Mbak Heny menusuk-nusuk lubang kencing Ivan dengan lidahnya. Membuat lubang kencing Ivan memerah. Ivan mendesah saat lidah Mbak heny menyentuh saraf-saraf peka pada lubang kencingnya. Desahan yang membuat Mbak Heny semakin bersemangat meningkatkan serangan birahinya. Dengan buasnya Mbak Heny menjilati, menyedot dan mengulum batang kemaluan Ivan yang mengkilap dengan urat-urat kasar disekelilingnya. Buah pelir Ivan tak luput dari jilatannya.

    “Oohh.. Mbakk.. nikk.. matt.. terus.. isseepp.. truuss.. Mbak,” desah Ivan.

    Gelombang nikmat yang datangnya bertubi-tubi, membuat Ivan merintih berusaha menahannya. Perlakuan Mbak Heny pada batang kemaluannya membuatnya serasa melayang kesorga kenikmatan. Dengan penuh nafsu, Ivan mengamati mulut Mbak Heny yang sedang menjilati dan mengulum kemaluannya, sambil mengelus-elus rambut istri Mas Indra itu.

    Mbak Heny semakin ganas menjilati dan sesekali menggigit batang kemaluan Ivan ketika dia merasakan batang kemaluan itu semakin mengeras dan berkedut-kedut.

    “Oohh.. akhh.. Mbaakk.. truuss.. nikk.. matt.. enak..” racau Ivan tak karuan.

    Dan saat merasakan orgasmenya akan segera tiba, Ivan menjambak rambut Mbak Heny dan membenamkan kepala wanita itu diselangkangannya, sambil mendorong pantatnya maju mundur melawan gerakkan kepala Mbak Heny.

    “Akhh.. Mbak.. ak.. uu.. mauu.. ke.. luarr.. oohh,” erang Ivan keras.

    Sedetik kemudian sperma Ivan menyemprot dan tumpah didalam mulut Mbak Heny. Setiap semprotan spermanya ditandai dengan anggukan-anggukan batang kemaluannya. Tanpa rasa jijik sedikitpun Mbak Heny menelan seluruh sperma yang keluar dari kemaluan Ivan. Dan sambil tersenyum ke arah Ivan, Mbak Heny menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan dibatang kemaluan Ivan.

  • Aku memuaskan Tante Dewi

    Aku memuaskan Tante Dewi


    3241 views


    Saya adalah seorang pegawai swasta yang bergerak dalam bidang komputer. Beberapa minggu yang lalu saya ditelpon melalui HP untuk memperbaiki komputer pada salah satu pelanggan yang belum saya kenal yang jelas suaranya seorang wanita, saya perkirakan berumur 25 tahunan karena suaranya sangat manja dan dewasa.

    Pada waktu yang ditentukan saya datangi, rumahnya tak terlalu luas tapi cukup apik penataan taman, saya pencet bel, yang keluar seorang wanita setengah tua dengan penampilan yang mempesona, dengan kulit bersih tanpa make up dan bibirnya yang sensual hingga membuat buyar konsentrasi. Setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu saya dipersilakan masuk ke ruang kerja, dimana komputer tersebut berada. Beberapa waktu berselang selesai pekerjaan saya, sebelum pamit saya menyuruh mencoba komputer tersebut apa sudah baik atau masih ada yang tertinggal.

    Berawal dari coba mencoba akhirnya saya jadi akrab untuk berbincang-bincang dengan wanita setengah baya, yang mengaku bernama Dewi (nama samaran). Yang ternyata seorang istri yang selalu ditinggal oleh suaminya yang gila kerja. Waktu suaminya hanya tersita oleh pekerjaan, memang soal materi selalu diberikan dengan sangat cukup tapi soal batin yang tak pernah terpikirkan oleh suaminya terhadap istrinya, saya pikir hal ini persoalan klise belaka, tetapi dampaknya sangat berarti bagi kehidupan berumah tangga.

    Tak terasa waktu berjalan terus seiring dengan konsultasi Dewi terhadap saya tentang persoalan rumah tangganya, katanya saya dapat berbicara seperti konsultan rumah tangga, hal ini memang saya akui suatu kelebihan saya bila menghadapi wanita yang sedang dirundung musibah, tapi bukan sebagai kedok untuk berbuat yang tidak-tidak.

    Setelah selesai saya pamit dan memberikan No. HP saya dengan pesan bila terjadi sesuatu dan memerlukan saya hubungi saya.
    Beberapa hari kemudian saya ditelpon untuk bertemu disuatu tempat yang menurut saya sebagai tempat yang sangat romantis bagi dua insan yang sedang kasmaran namanya (ada aja).
    “Mas, saya sangat berterima kasih atas konsultasinya waktu lalu”, ujar Dewi dengan mata yang sendu dan bibir tergetar halus.
    “Saya hanya orang biasa yang hanya dapat berbicara untuk mencari jalan keluar”, jawab saya sebisanya karena dengan tatapan matanya saya dapat merasakan getaran birahi yang sangat besar.
    “Saya ingin Mas temani saya untuk berbagi rasa dengan perasaan Mas yang sebenarnya”
    Wah mati aku, akhirnya saya bimbing kedalam tempat yang nyaman dan privacy. Bagaikan seorang kekasih saya berkasi-kasihan diatas sebuah ranjang empuk dan berudara nyaman.

    Saya lumat bibirnya dengan penuh perasaan dan saya genggam kedua telapak tangannya sehingga kami merasakan kebersamaan yang bergelora. Lidahnya terus bergoyang didalam rongga mulut seirama dengan alunan musik bossas. Lama kami ber ciuman mesra, kurengkuh lehernya dengan jilatan halus yang merindingkan bulu kuduknya, Dewi melenguh.
    “Mas terus Mas jangan kecewakan saya” sebentar-bentar tangannya bergreliya ke dada dan selangkangan saya, tak tinggal diam dengan gaya yang meyakinkan saya kecup putingnya dengan sedotan-sedotan kecil dan gigitan mesra, bibir saya meluncur kebawah menuju pusar, saya mainkan lidah saya dibundaran pusarnya wah wangi farfumnya menyentuh birahi saya. Tangannya merengkuh alat pitas saya yang sudah tegang, Dewi kaget, mass kok besar sekali, saya bisikan, jangan takut pasti muat. Memang Dewi belum dikaruniai anak, jadi masih seperti perawan, apalagi punya suaminya tak terlalu besar.

    Saya jilat permukaan vaginanya, Dewi bergelinjang menarik pantatnya hingga menjauhi bibir saya, saya terperanjat, kenapa?
    “Mass saya belum pernah seperti itu, maaf yah”, saya hanya tersenyum dan meneruskan permainan bibir kebagian betis dan seluruh paha.
    Beberapa waktu berselang tangannya mendekap kepala saya dengan sangat kencang seolah-olah tak mau dilepaskan, sesak napas saya. saya tau Dewi sudah klimaks tapi dalam dalam benak saya ini baru permulaan. Setelah dekapannya melemah saya baringkan celentang, terhamparlah padang rumput dan pegunungan yang indah seindah tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Dengan gaya konpensional saya mulai melaksanakan tugas saya sebagai seorang lelaki, saya selipkan punya saya disela-sela bibir kemaluannya hingga ambles kepalanya, Dewi menjerit kecil.
    “Mass, tahan Mass ngiluu Mas terlalu besar”.

    Memang saya sadar dan tak langsung main tancap, saya tarik dan tekan secara perlahan-lahan, setelah vaginanya teradaptasi Dewi berubah dengan gaya yang agresip ditekan pantatnya ke atas hingga punya saya ambles semua, saya imbangi dengan gerak-gerakan yang atraktif, saya balikkan tubuhnya, saya dibawah dan Dewi di atas dengan demikian Dewi lebih leluasa untuk mengekspresikan birahinya yang selama ini tertahan. Benar adanya dengan gerakan yang dahsyat Dewi bergerak naik turun sambil berdesis-desis hingga saya bingung membedakan antara desisan bibir bawah dengan bibir atas. Beberapa saat kemudian Dewi mengejan dan menegang sambil menggigit dada saya, setelah itu saya tak mau kehilangan momen saya lakukan penyerangan dengan gaya profesional atas, bawah, depan, belakan, kiri dan kanan, hanya satu yang tak mau saya paksakan yaitu mengoral punya saya, karna saya tau Dewi nanti stress, saya pikir bila nanti pada satnya tiba mungkin bukan batangnya yang dilumat tapi sekalian bijinya dan sangkarnya.
    “Dewwii saya mau sampai nihh. saya keluarin dimanaa?”
    “Mas di luar saja dulu yah”.

    Dengan secepat kilat saya tarik kemaluan saya dan saya keluarkan di dadanya hingga beberapa semprotan protein meleleh diantara dua bukit dan sedikit terciprat ke dagu. Setelah semprotan terakhir keluar, matanya terbuka dan tangannya menggenggam kemaluan saya, tanpa saya sadari dikulumnya kemaluan saya, hingga saya terperajat dan tak yakin, yah mungkin inilah yang dinamakan puncak dari birahi kaum hawa yang sudah mencapai batas ambang sehingga tak berlaku lagi rasa malu, jijik, dan kotor yang ada hanya nafsu dan nafsu.

    Tanpa istirahat kemaluan saya bangun kembali sehingga menegang sampai kuluman mulut Dewi terasa sempit dan rongga mulutnyapun membesar. Gerakan maju mundur mengakibatkan saya bergelinjang kekanan dan kekiri sambil sesekali mencengram rambutnya yang terurai lepas. Konsentrasiku hampir terganggu dengan gerakannya yang cepat hampir klimaks saya dibuatnya, tapi sebelum itu saya lepaskan untuk mengurangi ketegangan saya, saya balik menyerang dengan jari jemari menari-nari diseputar liang vaginanya dan sesekali menggesekkan ke area G-Spot wanitanya sehingga Dewi merancau tak karuan, tangannya menarik sprei hingga terlepas dari sangkutannya. semakin lama semakin dahsyat pergolakan birahi saya dan Dewi, saya rasakan aliran cairan hanggat membasahi jari saya dan tak mau ketinggalan moment yang indah ini saya balikan tubuhnya sehingga tengkurap dan saya tekan dengan kemaluan saya dari arah belakang, Dewi meringis.
    “Mas pelan-pelan, ngilu”

    Saya atur irama sehingga lama kelamaan menjadi asyik dan Dewipun melakukan gerakan yang membuatnya bertambah assyik dan masyukk. Dadaku bergetar ketika hasrat itu akan mencapai puncak, ku tarik kemaluanku dan kusemprotkan ke atas punggungnya dangan kedua tangan ku mencengram kedua bongkah pantatnya yang masih kencang untuk ukuran Dewi. Dan lubang anusnya masih bersih tak ada tanda-tanda bekas gesekan atau luka atau penyakit wasir, nafsu saya melihatnya tapi hasrat itu saya pendam, mungkin (dalam benak saya) lain waktu Dewi meminta untuk di setubuhi anusnya karena memang bila nafsu sudah datang birahipun memuncak yang pada akhirnya dunia terasa sangat-sangat indah melayang-layang dan sukar diutarakan yang ada hanya dirasakan. Pikiran ngeres saya ternyata terbaca oleh Dewi, dengan sedikit mesra tangannya menarik kepalaku dan membisikan sesuatu.
    “Mas, coba dong masukin dari belakang, Dewi ingin coba sekali aja tapi pelan-pelan yah”.

    Antara sadar dan tak sadar saya anggukan kepala tanda setuju. Karena badan saya sangat lelah saya istirahat sebentar dan membersikan sisa-sisa mani yang menempel pada kaki dan perut. Saya minum beberapa teguk minuman yang dihidangkan dikamar tamu, setelah rilek saya kembali kekamar, ternyata Dewi masih tergolek diatas tempat tidur dalam posisi tengkurap, wah inilah yang dinamakan lubang surga, terletak hanya kurang lebih tujuh centimeter antara lubang vagina dengan lubang anus. Saya berfikir mana yang lebih sempit, wah yang pasti lubang anus yang lebih sempit, tanpa basa-basi saya mainkan jari saya dengan sedikit ludah untuk pelicin kesekitar permukaan anusnya, Dewi terbangun dan merasakan adanya sesuatu yang lain dari pada yang lain, dan jariku terus menusuk nusuk lubang anusnya, saya tidak merasa jijik karena memang anus Dewi bersih dan terawat.

    Dengan hati-hati saya masukkan kejantanan saya kedalam anusnya, susah sekali masukinnya karena memang punya saya besar dibagian kepalanya sedang Dewi anusnya masih sangat rapat, saya nggak abis akan saya ludahin agar licin, lama-lama kepala kemaluan saya masuk kedalam anusnya, Dewi menjerit kecil, saya tahan beberapa saat kemudia dengan rileks saya tekan setengah dan tarik kembali, begitu terus-enerus sehingga Dewi merasakan sensasi yang luar biasa.
    “Mas kok enak sih, lain gitu dengan melalui vagina”.
    Saya pun waktu itu baru merasakan lubang anus tuh seperti itu, menyedot dan hangat, hampir-hampir saya tidak kontrol untuk cepat-cepat keluar, dengan tarik nafas secara perlahan saya bisa kendalikan emosi saya sehingga permainan berjalan dengan waktu yang panjang, Dewi meringis dan bola matanya sebentar-bentar putih semua menandakan birahi yang sangat dahsyat.

    Kemaluan saya semakin tegang dan berdenyut tanpa memberi tahu kepada Dewi saya semprotkan mani saya kedalam liang anusnya, Dewi kaget dan mengejan sehingga kemaluan saya seakan-akan disedot oleh jetpump kekuatan besar. saya tergeletak diatas punggungnya sambil memeluk perutnya yang indah, walaupun ada sedikir kerutan, karena memabg umur tidak bisa dikelabui, saya dan Dewi tertidur sejenak seakan melayang-layang di dunia lain. Kami bersetubuh dengan kemesraan hingga dua jam setengah sebanyak tiga ronde dipihak saya.

    Saya lihat tatapan matanya mengandung kepuasan yang sangat dahsyat begitu pula saya sehingga membuat motivasi saya untuk bersetubuh dengan wanita-wanita setengah baya yang memang membutuhkan siraman biologis, karena wanita setengah baya secara teori sedang dalam puncak-puncaknya mengidamkan kepuasan birahi yang tinggi, istilahnya sedang mengalami fase puber kedua, apalagi bila sang suami tak memberikannya. Saya memang lebih menyukai wanita setengah baya dari pada ABG, karena wanita setengah baya mempunyai naluri kewanitaan yang besar sehingga dalam bersetubuh dapat saling memberikan respon yang sangat artistik bila dilakukan dengan mesra.

    Setelah kami mandi kamipun bergegas untuk kembali pada tugas masing-masing, dari akhir pembicaraan saya dengannya, saya dipesankan agar merahasiakan hubungan ini, setelah itu saya diselipkan sehelai cek untuk konsultasi katanya. tanpa kwitansi dan tanda terima seperti biasanya bila terjadi transaksi. Sebenarnya saya tak tega mengambil cek tersebut, karena apa yang saya lakukan dengannya adalah sama-sama iklas sehingga hubungan menjadi sangat sangat sangat asyik masyuk, tapi saya pikir uang buat Dewi nggak masalah karena memang untuk biaya pengeluaran lebih kecil dari pada yang diterima dari suaminya, selain itu saya juga sedang memerlukan biaya untuk memperbaiki kendaraan saya yang secara kebetulan pada waktu itu sedang mengalami perbaikan mesin.

    Setelah peristiwa itu saya masih terus dihubungi bila Dewi perlu, dan pernah saya dikenalkan dengan rekan-rekan yang senasib dan saya pernah dihubungi oleh teman-temanya dengan saling menjaga rahasia satu sama lain, tapi ceritanya tak jauh beda, yang jelas saya akan rahasiakan sampai akhir hayat.

    *****

    Oke saya pikir cerita ini bukanlah membuka rahasia tapi hanya membagi pengalaman dalam dunia maya, dan lagi nama dan tempat adalah fiktif belaka, bila ada rekan-rekan yang berminat konsultasi dengan saya saya siapkan waktu, hubungi saya, selanjutnya terserah anda. Dan motto saya, kerahasiaan adalah segalanya buat hidup saya.

  • Foto Bugil Model pirang dengan payudara bagus melepas celana pendek dan celana dalamnya

    Foto Bugil Model pirang dengan payudara bagus melepas celana pendek dan celana dalamnya


    2152 views

    Duniabola99.com – foto cewek bugil berambut pirang melepas rok dan celana dalmanya memamerkan toketnya yang gede dan memeknya yang dicukur botak sambil baring dilantai dan mengangkang. Starbet99

    Kumpulan foto gadis, kumpulan foto cewek cantik Tumblr, Foto-foto Cewek Cantik karyawan Indomaret Imut Banget, Gudang Foto Cewek Cantik & seksi, Kumpulan Foto Cewek2 Cantik Berjilbab Terbaru 2019, Kumpulan Foto Cewek Cantik,

  • Foto Bugil Kenna James menggoda dengan kakinya sebelum dia menunjukkan pantatnya

    Foto Bugil Kenna James menggoda dengan kakinya sebelum dia menunjukkan pantatnya


    2093 views

    Duniabola99.com – foto cewek pakai celana dalam biru berambut pirang melepaskan pakaiannya dan berpose hot di ats ranjangnya.

  • Kisah Memek Ngentot Crot di Dalem Memek

    Kisah Memek Ngentot Crot di Dalem Memek


    2954 views

    Duniabola99.com – kiki gadis cantik muda belia toket gede memeknya mulus banget coy,

    “Apa nanti nggak terlihat aneh?” tanya Kiki pada suaminya di telpon.

    “Aku rasa tidak. Kamu kan sudah tahu siapa adikku. Jadi tidak harus sama aku untuk pergi ke sana kan?”

    “Memang sih,” jawab Kiki, sambil memainkan kabel telpon.

    “Lagian dulu kamu juga sudah pernah melihat pembukaan pertandingannya bareng mereka juga. Jadi sekarang sama saja kan kalau kamu pergi sendiri untuk lihat finalnya.”

    “Ok, aku paham maksudmu, sayang. Meskipun dulu ada kamu, cuman? aku akan jadi satu-satunya wanita di sana.”

    “Oh, kamu salah. Dina kan ikut juga ke sana.”

    “Oh baguslah, sempurna.” jawab Kiki, dengan nada suara sedikit tajam. Wanita genit itu, batin Kiki.


    “Aku tahu, kamu dan Dina? agak kurang cocok, tapi sebenarnya dia wanita yang baik. Kamu hanya perlu lebih mengenal dia Ki.”

    “Hendra,” Kiki hampir mulai memprotes, tapi ditahannya dirinya. Sudah terlalu sering pembicaraan tentang hal ini berakhir dengan pertengkaran, dan dia sudah memutuskan kali ini harus berakhir bahagia. “Kamu mungkin benar. Setidaknya, lebih baik nonton finalnya bersama-sama dari pada sendirian saja.”

    “Aku harus pergi, sayang. Selamat bersenang-senang!”

    “Pasti.” Kiki berusaha untuk terdengar gembira.

    “I love you.”

    “I love you, too.”

    Hendra sudah pergi sangat lama, pikir Kiki. Bicara lewat telpon memang bagus, tapi dia merindukan kehadirannya secara fisik. Dia rindu untuk meringkuk dalam peluknya di Sabtu pagi, dan saling bergandengan tangan sewaktu jalan sore. Semuanya, pikirnya, diayunkan langkahnya menuju kamar mandi, dia merindukan seks. Mereka sudah menikah selama dua tahun dan kehidupan seksual mereka tak pernah menunjukkan gejala menurun. Paling tidak, tiga atau empat kali dalam seminggu. Sekali waktu, kadang mereka membuat janji untuk berkencan di hotel selayaknya sepasang kekasih, hanya sekedar untuk sebuah ?quickie? di sela waktu makan siang. HokiJudiQQ

    Dia bersihkan rambut sebahunya dengan shampoo, lalu mulai menyabuni tubuh rampingnya. Erangan lirih mulai lepas dari mulutnya saat tangannya menggapai payudaranya, lalu memilin putingnya. Hendra menyukai payudaranya. Dia bilang kalau ukuran B-cupnya adalah ukuran yang tepat untuk digenggam dan diremas. Kiki sendiri senang dengan bentuk payudaranya karena sangat sensitive dan cepat membuatnya terangsang begitu dipermainkan.

    Tangannya yang sebelah kanan bergerak turun menelusuri perut kencangnya dan mengarah pada gundukan vaginanya yang mungil dan rapat. Dia menyukai rasa dari air hangat yang seakan tusukan jarum kecil pada permukaan kulitnya saat dia mainkan jemari pada kelentitnya yang licin.

    Membawa dirinya sendiri ke puncak ledakan orgasme, tubuh telanjangnya merosot menyandar pada dinding kamar mandi, dan berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Kiki belum pernah melakukan masturbasi selama dua tahun pernikahannya dengan Hendra. Sekarang hal ini dilakukannya dalam kesehariannya, dan bahkan dia sedang mempertimbangkan untuk membeli sebuah vibrator untuk mengisi hari-harinya yang sepi semenjak ditinggal pergi Hendra ke luar kota. Meskipun memikirkan tentang alat itu masih tetap membuat dirinya tersipu malu dan serasa bergolak perutnya, tapi godaan itu semakin besar dan bertambah besar.

    Diraihnya alat pencukur dan merampungkan ritual mandinya: shampoo, sabun, masturbasi dan mencukur.

    Dia keringkan tubuh basahnya dengan handuk sambil mengamati pantulan bayangannya di dalam cermin. Seperti kebanyakan gadis keturunan jawa, kulit kuning kecoklatan membalut tubuhnya yang semakin menyiratkan daya tarik seksualitas yang eksotis dan nakal tapi tetap anggun. Berjalan dengan masih dalam keadaan telanjang menuju ke kamarnya, sambil mempertimbangkan akan memakai pakaian apa untuk acara di rumah Johan nanti.

    Johan, yang adalah adiknya Hendra, seorang eksekutif muda yang terbilang sukses, memiliki beberapa perusahaan yang penjualannya selalu dengan rating yang bagus. Dan dia merupakan tipe pria yang menikmati hidup. Memiliki rumah tinggal di pusat kota dan sebuah tempat peristirahatan yang berada di puncak, yang sering dipakainya saat berakhir pekan dan juga untuk acara kali ini. Sebuah tempat peristirahatan yang selalu membuat kagum Kiki saat di sana, dengan area yang sangat luas dan bentuk campuran antara gaya tradisional dan modern yang sangat nyaman untuk beristirahat melepaskan diri dari kepenatan kota.

    Rumah peristirahatan itu terletak di atas bukit, dan mempunyai sudut pandang yang luas untuk menikmati indahnya pemandangan lembah di bawahnya. Ini dikarenakan banyaknya bukaan dari pengaruh gaya tradisionalnya. Tempat ini juga mempunyai sebuah lapangan tenis ? yang hanya digunakan sesekali ? dan sebuah kolam renang besar ? yang paling sering dipakainya setiap waktu. Dan yang paling membuat nyaman adalah privasi dari tempat ini, tetangga terdekat terletak jauh di bawah lereng bukit. Saat semua pintu yang terletak di sepanjang ruang tengah hingga kolam renang, akan dapat membuat kita dapat menghirup segarnya udara perbukitan ini.

    Sebuah TV layar datar berukuran besar terletak di ruang tengah yang mana itu akan dipakai untuk menyaksikan pertandingan final nanti. Johan sebenarnya tidak begitu peduli tim mana yang akan menang, karena tim jagoannya sudah tersisih sebelum final.

    Semua tamunya sudah hadir di sini, kecuali kakak iparnya, Kiki. Jimy, Dany, dan Dina adalah teman masa kecilnya. Ahmad merupakan rekan bisnisnya yang kemudian jadi sahabat karibnya, yang sekarang juga akrab dengan Jimy dan Dany dan Dina. Kelimanya menjadi sahabat karib tak terpisahkan dalam lima tahun terakhir, dan Johan merasa senang bisa menyaksikan pertandingan final nanti bersama mereka semua.

    “Kapan nih isteri Hendra yang seksi itu datang?” tanya Jimy yang sudah agak mabuk. Sebagai seorang keturunan Chinese, membuat wajahnya sangat bersemu merah, dengan sangat cepat setiap kali dia mengkonsumsi alkohol meskipun sedikit kadarnya. Dan dia selalu berubah dari seorang ahli komputer yang pemalu menjadi penggila pesta yang liar.


    “Harusnya Kiki tiba sebentar lagi. Dia menelpon satu setengah jam yang lalu dan bilang kalau dia sudah berangkat,” jawab Johan, sambil membalik daging panggangnya. Ini sudah hampir pukul empat sore. Pertandingannya sendiri mulai pukul lima nanti, tapi Jimy sudah tak sabar untuk mulai minum duluan.

    “Yeah, aku harap dia datang sebentar lagi. Aku mulai bosan lihat Dina!” jawab Jimmy menggerutu.

    “Hey!” Dina berteriak protes dari dalam. “Aku dengar itu!” dia melompat bangkit dari sofa dan berjalan keluar. “Jadi, kamu pikir aku membosankan untuk dilihat ya?” tanyanya dengan mulut cemberut.

    Dina berpose layaknya seorang model, tangan di pinggang, berpose untk para pria. Sebenarnya dia bukannya tipe yang membosankan untuk dipandangi. Sama sekali bukan. Rambut berombak panjang sepinggang di cat kecoklatan, tubuh montok menggiurkan tapi jauh dari kata gemuk, dan kulit putih yang membungkus tubuh indahnya. Jika kamu melihat majalah model, maka akan kamu temukan gambaran sosok Dina di sana. Kegemarannya membentuk tubuh di pusat kebugaran membuat tubuhnya selalu tepat saat memakai berbagai macam busana, dari busana resmi hingga bikini. Hari ini, dia kenakan sebuah kaos ketat dan celana jeans selutut yang juga ketat, memeperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu mengundang selera pria untuk mencicipinya.

    Johan selalu suka pada bentuk pantat Dina. Sebenarnya, semua orang suka. Sangat ideal, kencang dan merupakan sebuah bentuk yang diimpikan semua wanita. Dina juga menyukainya, dia selalu memakai busana yang bisa memperlihatkan betapa seksinya bongkahan pantatnya, dia selalu berusaha mempertunjukkan tampilan terseksinya. Tapi berpose seperti itu di hadapan para pria sebenarnya membuatnya jengah. Walaupun dia menyukai perhatian pria pada tubuhnya, tapi orang-orang ini adalah sahabat terdekatnya. Dan mereka hampir seperti keluarga saja.

    Tak mau ambil pusing, diputuskannya untuk berjalan melewati mereka dan duduk di tepian kolam renang, memasukkan kaki indahnya ke dalam air yang dingin. Dia hanya senang menggoda saja bukan seorang wanita jalang.

    Bel di pintu berbunyi dan Dany pergi untuk membukakan, itu pasti Kiki, isteri Hendra yang sangat menarik.

    Kiki masuk sambil membawa satu renteng bir kaleng, dan Dany seperti terpaku menatapnya. Kiki mengenakan gaun selutut warna putih yang terikat di balik lehernya sebagai penyangga. Rambut sebahunya di kuncir ekor kuda. Dia memakai sandal warna putih yang memperlihatkan kukunya yang terawat baik dan diwarnai merah muda senada dengan kuku jari tangannya.

    Kiki menelan ludah, terlihat keadaan Danny yang agak mabuk membuatnya lupa akan waktu. Dia seakan mematung menatap sekujur tubuh Kiki tak berkedip. Sudah diputuskannya sejak dulu dia akan tidur dengan wanita ini, meskipun ada Hendra atau tidak.

    “Silahkan masuk, tuan putri.”

    Kiki merasa jengah dengan cara memandang Dany yang tanpa tedeng aling-aling pada tubuhnya. Jikalau dilain waktu mungkin Kiki akan merasa dilecehkan dengan cara tatap Dany, tapi dengan keadaan gairahnya yang masih menggantung selama ditinggal Hendra seperti ini membuatnya melirik sekilas ke arah Dany. Tampan juga, nilainya. Tinggi, berkulit sawo matang, dan penuh percaya diri, Kiki tahu kalau Dany sangat cerdas dan kecerdasannya itu selalu digunakan untuk menaklukan wanita. Hampir pada setiap kesempatan, dia selalu menggodanya. Kiki sudah pernah membicarakan hal ini dengan Hendra, tapi reaksinya hanya tertawa saja dan, “Anak muda memang begitu.” Hendra, yang hanya tiga tahun lebih tua dibandingkan Dany yang berusia 28 tahun selalu menyebut Johan dan Dany beserta seluruh teman-tamannya dengan sebutan anak muda.

    Kiki, yang juga berusia 28 tahun, sadar jika dia harus berhati-hati saat berada di dekat pria pecinta seni ini.


    “Kamu kenal Ahmad, kan?” Tanya Dany, saat berjalan di belakang Kiki menuju ke ruang tengah. Kiki bisa merasakan mata Dany tak pernah lepas dari pantatnya.

    “Ya, kami sudah pernah ketemu,” jawab Kiki. Ahmad sudah menarik simpati Kiki. Pria keturunan timur tengah yang tak banyak bicara, tampan dan berotak encer, hanya dialah yang tak menunjukkan ketertarikan seksual vulgar terhadap dirinya. Ahmad sangat sopan dan Kiki berharap perilaku ini bisa menular pada para sahabatnya yang ?liar? ini.

    Kiki melihat Johan dan Jimy sedang berada di beranda belakang. “Mau ditaruh di mana ini?” tanya Kiki, mengangkat bir kaleng yang di bawanya.

    “Si cantik sudah datang!” komentar Jimy yang setengah mabuk terlontar sebelum Johan mampu menjawab.

    “Hei, tenang sedikit,” bisik Johan pada temannya. “Jimy, kenapa nggak kamu taruh birnya dalam almari es dan sekalian ambilkan pizzanya juga.”

    Mata Jimy seakan dilem pada tubuh wanita bersuami ini saat berjalan melewatinya menuju ke dalam rumah.

    Johan minta maaf atas kelakuan kasar teman-tamannya. Kakaknya memang pria beruntung, pikirnya untuk yang entah keberapa kalinya. Dia coba untuk tidak membiarkan matanya terlalu lama memandang tubuh indah kakak iparnya ini, atau bahkan membayangkan seperti apa bentuk tubuhnya saat telanjang.

    “Aku senang akhirnya kakak mau datang juga,” katanya. Untuk sesuatu alas an, dia merasa sedikit malu. Jarang sekali dia pergi keluar dengan Kiki tanpa Hendra, tapi sejujurnya dia sangat menikmati keberadaannya tanpa kakaknya. Dan kebetulan juga Kiki lebih gila dengan pertandingan ini dibandingkan kakaknya.

    Kiki tersenyum pada Johan, mulai merasa nyaman dan percaya diri, lalu bilang, “Aku senang melihat pertandingan rame-rame. Meskipun harus dengan pria-pria tidak karuan seperti kalian.”

    “Ada wanitanya juga lho,” kata Dina, sambil mengangkat tangannya tanpa memalingkan muka, dia masih tetap berada di tepian kolam renang, asik dengan lamunannya sendiri.

    Isteri Hendra sudah datang. Isteri Hendra yang cantik dan penuh percaya diri telah datang. Yang selalu yakin bila berhadapan dengan pria. Dina suka Kiki, setiap kali dia perhatikan semakin dia merasa iri padanya. Dina belum pernah sama sekali memikirkan untuk menjalin ‘hubungan’ dengan seorang wanita, tapi bila dia di suruh memilih seorang wanita, maka pilihannya pasti akan jatuh pada Kiki.

    Kiki tidak memperhatikan Dina saat datang ke sini. “Hai, Dina,” sapanya, dengan nada suara seramah mungkin. Dina bahkan sama sekali tak memalingkan muka membalas sapaan itu. Selalu ada sedikit ketegangan diantara dua wanita ini. Hampir saja Kiki merasa putus asa untuk mulai menjalin sebuah hubungan baik dengan wanita ini.

    Ketika pertama kali menikah, Kiki merasa sangat cemburu terhadap Dina. Dia merasa kalau wanita cantik ini selalu mencoba menggoda dan merebut suaminya. Bahkan dia hampir saja menuduh kalau Henrdra punya affair dengan wanita ini. Dan Hendra selalu bilang kalau hubungannya dengan Dina hanya seperti kakak adik saja. Kiki masih merasa belum percaya tapi dia terus berusaha untuk mempercayai apa yang dikatakan suaminya itu. Johan berusaha mencairkan suasana dengan menawarkan minuman pada kakak iparnya ini.

    Pizza dan pertandingan jadi menu utama berikutnya. Mereka semua larut dalam ketegangan pertandingan itu dan Kiki dan Dina menemukan kalau mereka punya sebuah kesamaan; punya tim andalan yang sama…

    Akhirnya, hal inilah yang mempersatukan mereka. Keduanya saling duduk bersebelahan, saling bersorak memberikan dukungan pada tim andalannya dan juga semakin bertambah mabuk karena minuman beralkohol yang disuguhkan di sepanjang pertandingan ini.

    Kiki menduga Dina akan bersikap ‘sangat wanita’ tentang olah raga, seperti mengucapkan, “Oh, lihat, yang itu ganteng sekali….” Tapi, kebalikannya, Dina benar-benar serius memperhatikan jalannya pertandingan, komentarnya tentang tim andalannya benar-benar mengejutkan semua orang, tak hanya Kiki.

    Di akhir pertandingan, saat akhirnya tim andalannya kalah, Dina hanya mengangkat bahunya dan bilang, “Aku rasa aku sudah agak mabuk.”

    Kiki juga sudah merasa sedikit melayang karena bir yang dikonsumsinya selama pertandingan, dan berkata, “Ini baru putaran pertama, nggak masalah.”

    “Hey guys, aku rasa aku mau langsung pulang nih,” si chinese berkata dengan muka yang sangat merah.

    “Sampai jumpa, Jimy,” jawab semuanya.

    “Aku juga sebaiknya segera pulang,” kata Kiki, segera berdiri dan meregangkan tubuhnya. Dany melirik payudaranya yang membusung ke depan.

    “Oh nggak boleh,” jawab Dina, menarik tangannya hingga Kiki kembali duduk di tempatnya lagi. “Kamu terlalu kebanyakan minum buat nyetir mobil.”

    “Tapi kalau dia?” Tanya Kiki, sambil menunjuk pada Jimy.

    “Oh, dia akan baik-baik saja.”

    “Aku sudah nggak minum beberapa menit lalu. Memang wajahku saja yang kelihatan merah.”

    “Lagipula,” kata Dany, berdiri dan memukul punggung Jimmy, “Rumahnya juga dekat dari sini. Ya kan Jimmy?” Dany juga sudah mabuk.


    Jimy pergi, meninggalkan tiga pria dan dua orang wanita yang sudah setengah sadar semuanya itu. Dina sudah mabuk. Dia tahu karena dia merasa lebih berani dan terbuka untuk mulai bicara pada Kiki. “Mm… jadi sudah berapa lama Hendra pergi ke luar kota?” Tanya Dina.

    Kiki, meskipun kesadarannya tidak penuh dan baru menemukan sesuatu yang disukainya dari Dina, dia menatap wanita ini dengan pandangan penuh pertahanan. “Dua bulan.”

    “Dua bulan! Wow… itu sangat… ” akhirnya Dina melihat pandangan ‘siaga’ Kiki, dan tiba-tiba dia merasa takut. Dia takut jika Kiki mulai membencinya. Dia merubah topiknya. “Aku Cuma merasa, ini pasti saat yang berat buat kamu, dan juga pasti berat juga buat Hendra.”

    “Apa maksudmu?” Tanya Kiki, masih sedikit bertahan, tapi juga sedikit penasaran.

    “Yah, aku yakin dia sudah bilang, kalu dia sangat mencintai kamu. Dia selalu saja cerita tentang kamu! Dan nggak hanya karena dia berpisah dengan isteri yang dicintainya, tapi juga sahabatnya. Setidaknya lebih baik kamu sering menghabiskan waktu bersama kita.” Dina meletakkan tangannya di lutut Kiki, mencoba untuk menenangkan.

    Kiki tersenyum, tak menghiraukan tangan Dina, perasaannya dibalut pengaruh minuman.

    Dany dan Ahmad masih asik berdebat soal pertandingan tadi dan Johan bergerak mendekati kedua wanita ini, dia membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinga Dina. Wanita cantik ini tersenyum nakal pada Johan lalu mengangguk. Johan menghilang ke lantai atas, lalu wanita cantik ini bergerak merapat pada Kiki dan bertanya pelan, “Kamu merokok nggak?”

    “Mmm… kadang-kadang.” Jawab Kiki heran.

    Dina tersenyum lebar, sambil menyibakkan rambutnya ke belakang telinganya. Matanya yang tajam semakin berbinar menggoda , dan dia kembali berbisik lebih pelan lagi, “Bukan, bukan rokok yang itu. Maksudku itu lho… kamu tahu kan,” matanya mengedip penuh arti pada Kiki

    “Oh,” kata Kiki, akhirnya tahu yang dimaksud Dina. Segera saja wajah Kiki terasa hangat. Kadang-kadang dia sangat naïf soal hal-hal tersebut. Awalnya dia ingin berbohong dengan teman barunya ini, tapi akhirnya dia ingin berkata apa adanya. “Belum, belum pernah.”

    “Yang benar?” Tanya Dina, raut wajah Dina menandakan perasaan herannya. “Dan kamu menikah dengan Hendra sudah dua tahun?”

    “Ya. Kenapa?”

    Tiba-tiba Dina merasa sudah masuk ke wilayah yang terlalu pribadi “Nggak, Cuma pengen tanya saja.”

    *****

    Sebentar kemudian, Johan sudah kembali, dia duduk diantara dua wanita ini dan membuka sebuah bungkus rokok. Di dalamnya ada beberap lintingan rokok lalu diambilnya sebuah. Dia lalu mengambil sebuah pemantik, dinyalakannya, dihisapnya dalam-dalam kemudian menyodorkan rokok yang baru saja dihisapnya itu pada Dina.

    Menatap ujung Candu itu yang menyala merah di bibir penuhnya Dina, membuat perut Kiki terasa bergolak. Dia sadar apa yang menantinya dan dia tahu apa yang harus dilakukannya…

    Dina sedikit terkejut saat menyodorkan rokok itu pada Kiki dan melihat tangan wanita ini sedikit gemetar. “Santai saja dan hisap pelan-pelan ke paru-parumu. Tahan selam mungkin sebelum kamu keluarkan,” Dina mengajarkan pada Kiki.

    Kiki mengangguk dan mencoba apa yang diinstruksikan oleh Dina. Dia menganggap saja kalau rokok ini adalah sebuah rokok menthol biasa hingga akhirnya dengan mudah dia mulai menghisapnya. Rasanya berbeda dengan rokok biasa, mungkin lebih manis dan lebih pekat rasanya. Tak dia rasakan sesuatu dalam hisapan pertama.

    Giliran itu kembali berputar sekali lagi saat Dany duduk di sebelah Kiki, katanya, “Hey, kesinikan Candunya.”

    Tangan Dany merangkul pinggang Kiki, dan saat Kiki menolehkan kepalanya untuk melihat Dany setelah dia menghisap rokok itu kedua kalinya, reaksi Candu itu menghantamnya telak.

    Kiki merasakan pusing yang amat sangat dan itu baru dialaminya kini. Pandangannya segera mengabur. Suara di sekelilingnya seakan sebuah film dalam slow motion, dan segera saja dia juga merasa gerakannya ikut melambat. Gerakan dan bahkan pikirannya terasa bergerak melambat. Perlahan disodorkannya rokok itu pada Dany, yang tersenyum kepadanya. “Barang yang bagus, bukan,” katanya, suaranya seakan berasal dari ruangan yang teramat sangat jauh. Kiki hanya mengangguk.


    “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Ahmad. Dia jongkok di depan Kiki, memegangi kepala Kiki dan membuatnya menatapnya. Suara Ahmad bergema di dalam kepala Kiki, “nggak apa-apa… nggak apa-apa… nggak apa-apa…”

    Kata Ahmad, “Ambil nafas. Ambil nafas yang dalam…” Dan Kiki melakukannya dan rasanya mengagumkan.

    Seakan ada seseorang yang menekan tombol play pada remote control, dan segalanya berubah menjadi normal kembali. Atau hampir normal. Semuanya masih terlihat agak kabur, tapi tak lagi dalam gerakan lambat dan suara yang terdengar sudah kembali normal. Semua orang kecuali Dany menatap Kiki dengan penuh perhatian, dan Kiki segera dapat merasakan di mana keberadaannya kini. Kiki bias merasakan tangan Ahmad yang terasa dingin pada pipinya dan juga hidungnya dapat menghirup parfumnya yang maskulin. Kiki juga merasakan tangan Dany yang melingkar di pinggangnya dengan jarinya yang bergerak menggodanya. Lalu Kiki merasa wajah wajah dengan ekspresi khawatir itu berubah tersenyum geli, sama dengan senyum gelinya. Seakan dia baru saja mengucapkan sesuatu yang lucu, tapi tak ada seorangpun yang tertawa.

    Kiki ingin bilang, “Aku lupa bernafas!” Ingin dia teriakkan pada mereka, seakan hal ini adalah sesuatu yang paling lucu di seluruh dunia. Tapi, reaksi yang diberikan oleh otaknya hanya tertawa sekeras-kerasnya. ‘Penyumbat’ itu telah tercabut dan semua orang ikut tertawa lepas.

    Setelah beberapa putaran kemudian, Kiki merasa kaalu dia sudah cukup melayang tinggi. “Aku butuh udara segar,” katanya sambil bangkit perlahan. Dia merasa kedua kakinya tidak stabil menopang tubuhnya. Dina menyusul bangkit dan bilang, “Udara segar, kedengarannya ide yang bagus,” dan bersama, mereka berjalan dengan terhuyung-huyung di tepian kolam renang.

    Keduanya kemudian duduk di tepian ujung yang lain kolam renang itu, kaki mereka masuk ke dalam air yang terasa menyejukkan.

    “Kamu nggak apa-apa?” tanya Dina setelah sekian lama keduanya berdiam diri. Hanya suara serangga yang terdengar mengisi heningnya suasana malam ini.

    “Yeah…” kata Kiki, tak yakin dengan ucapannya sendiri. “Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya… tapi aku lega karena akhirnya sudah mencobanya.”

    “Aku mengerti maksudmu, bagaimana perasaanmu sekarang?”

    Kiki menatap wanita di sisinya ini, “Melayang, tinggi. Dan… horny.” Dia tak bermaksud mengucapkannya, tapi ini keluar begitu saja dari mulutnya.

    “Ya… Candu juga selalu membuatku merasa sangat horny.”

    “Bukan Cuma itu saja, tapi…” Kiki merasa jengah. “Aku tak percaya sudah menceritakan ini padamu.”

    Dina merasa tersanjung. Mereka mulai masuk pada subyek dimana keduanya merasa nyaman dan saling percaya untuk saling bebagi, dan untuk pertama kalinya dia merasa percaya diri di hadapan Kiki. “Kamu mau bicara soal Hendra, kan. Dua bulan memang waktu yang lama…”

    “Oh, ya,” jawab Kiki, menendangkan kakinya ke dalam air.

    Keduanya saling membisu untuk beberapa menit lamanya hingga tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Kiki, “Kamu sudah pernah tidur dengan salah satu dari pria-pria di sana belum?”

    Kini giliran Dina yang merasa jengah. Dia enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Ini hanya akan semakin menambah jelek reputasinya di hadapan wanita yang sangat dia inginkan untuk menjadi sahabatnya ini. “Mm…”

    Kiki tersenyum pada Dina dan berkata, “Aku janji nggak akan menghakimi.”

    “Ok…” Dina memutuskan setelah beberapa saat. “Ini pasti akan terdengar betepa jalangnya aku, tapi aku berani sumpah kalau aku bukan tipe wanita seperti itu. Mungkin kadang-kadang aku bertingkah seperti itu, tapi sungguh, yang kamu dengar beredar di luar sana itu hanyalah gossip yang dibesar-besarkan saja… ” Dina menjelaskan panjang lebar.

    “Dina! Dengar, aku benar-benar cuma penasaran saja. Dan itu juga bukan urusanku.”

    “Aku sudah pernah tidur dengan mereka semua kecuali Ahmad.” Mata Kiki terbelalak lebar, tidak seperti janjinya sebelumnya. “Bukannya dengan semuanya sekaligus. Waktunya berlainan semua. Kamu paham maksudku kan. Johan adalah… pria yang mengambil perawanku pertama kali… my first. Kejadiannya sewaktu masih di SMU. Dany dan aku… yahl, persahabatan kami selalu ada nilainya, kalau kamu paham maksudku.”

    “Kamu sudah pernah tidur dengan Hendra?” Kiki bertanya begitu saja tanpa berpikir. Candu dan alkokoh akan membuatmu berbuat begitu juga.

    Dina menatap Kiki, dia merasa sedikit nervous dengan pertanyaan tersebut, juga sedikit terkejut karenanya. Sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut, suara dari sebuah handphone memecahkan suasana malam itu.

    “Sial, itu HP-ku,” kata Kiki, segera berlari menuju tasnya di dekat panggangan. “Pasti Hendra.”

    “Aku akan ke dalam,” kata Dina begitu di dengarnya suara Kiki yang mulai bicara di telpon. Dina melangkah ke dalam rumah dengan meninggalkan jejak kaki basah di sepanjang lantai beranda belakang.

    “Kamu abis ngisep Candu ya?” tanya Hendra di telpon.

    “Mm… ken-kenapa kamu Tanya brgitu?” jawab Kiki, mencoba sebisanya untuk bersikap normal.

    “Kamu bener-bener mabuk Candu!” Kiki harus menjauhkan HP dari telinganya karena Hendra tertawa keras sekali di seberang telpon sana. “Rupanya adikku sudah berhasil membuat kamu ngisep Candu. Wow…”

    “Apa maksudnya ini, Tuan?” Tanya Kiki.

    “Maksudnya aku sudah kalah taruhan. Ah, lupakan saja. Apa kamu senang di sana?”

    “Ya… lebih dari yang aku kira.”


    “Tuh kan, teman-temanku nggak brengsek-brengsek amat.”

    “Apa kamu sudah pernah tidur dengan Dina?” tamya Kiki, pertanyaan itu masih mengendap dalam kepalanya.

    “Sayang, jangan bercanda. Tentu saja tidak.”

    Jika saja dia tidak dalam pengaruh Candu dan alcohol seperti sekarang ini, pasti dia akan mengatakan kalau Hendra bohong. Kiki sudah mengenal cukup lama untuk mendeteksi hal-hal seperti itu. Tapi dengan keadaannya yang seperti sekarang ini, dia tak pasti.

    “Kamu… kamu nggak bohong kan?” tanyanya tak yakin. “Astaga, aku… aku nggak bisa. Hendra, apa kamu bicara jujur?”

    “Oh Kiki, aku berani sumpah, Dina dan aku tidak pernah… tidur bareng. Kenapa kamu tanyakan ini?”

    “Soalnya, dia sudah pernah tidur dengan adikmu. Dan dia sudah kenal kamu sejak dulu ”

    “Itu waktu masih kuliah, ingat kan kalau aku lebih tua dari merka. Dia benar-benar sudah pernah tidur dengan Johan?”

    “Ya,” jawab Kiki. Sekarang semua yang dikatakan Hendra terdengar bohong. Kiki tak tahu bagaimana mengatasi hal ini.

    “Wow. Johan belum pernah menceritakan ini padaku… menarik.”

    “Hey, aku dengar mereka memanggilku,” Kiki berbohong. “Aku harus pergi.”

    “Ok. I love you, baby. Aku akan telpon lagi besok.” Kiki menganggukd. Kenapa itu juga terdengar bohong?

    “I love you, too. Good night.”

    “Night.”

    Dimatikannya HP itu, Kiki bangkit lalu berjalan menuju ke dalam rumah dengan hati-hati, dia melangkah dengan hati tak pasti bukan hanya karena Candu yang dihisapnya, tapi juga karena percakapannya dengan suaminya di telpon tadi. Pikirannya benar-benar kosong hingga dia sampai tidak menyadari akan kejadian yang tengah berlangsung di ruang tengah sampai akhirnya dia berada sangat dekat…

    Dina sedang duduk di sofa, diantara Ahmad dan Johan. Saat Kiki berjalan mendekat, Dina sedang asik bercumbu dengan Ahmad sedangkan Johan tak hentinya meraba tubuh dan pahanya. Johan menelusuri sekujur tubuh Dina, tangannya meremasi payudara montok itu sambil memberi ciuman pada leher Dina.

    Kiki berdiri di sana seakan binatang buruan yang terperangkap, menyaksikan Dina yang bergantian berciuman dengan Ahmad lalu melumat bibir Johan.

    Dany duduk di pojok lain ruang tengah ini, dia terlihat sangat mabuk dan tersenyum seperti orang idiot. Dia menoleh dan melihat Kiki, lalu berkata sambil menunjuk pada pangkuannya. “Ayo ke sini saja. Pemandangannya lebih indah dari sini.”

    Bergerak seperti bukan dengan kehendaknya sendiri, Kiki duduk di ujung kursi di samping Dany. “Apa… yang terjadi?” akhirnya dia bertanya.

    “Well,” bisik Dany, sambil bergerak mendekat, “ini berawal dari sebuah kontes: ‘who was a better kisser.’ Berawal dari situ, yah… bisa kulihat kalau Dina nggak keberatan dengan kedua peserta itu.” Kiki diam saja membiarkan Dany menariknya ke pangkuannya, dan segera saja dia rasakan ereksi pria ini menekan pantatnya dari balik gaunnya.

    Kiki masih shock untuk bereaksi dengan kejadian dihadapannya ini dan terlalu mabuk oleh Candu dan minuman yang dikonsumsinya. Dia juga merasa sedikit marah pada Hendra, dan dia tak mampu berpikir kenapa. Tangan Dany terasa nikmat saat melingkar di perutnya, dan Kiki merebahkan tubuhnya bersandar pada Dany, sambil menyaksikan Dina yang menerima ciuman dari kedua pria itu.

    Dany merasa sangat excited mendapati Kiki berada dalam pangkuannya. Dengan cepat lengannya melingkari pinggang ramping itu, dan senyumnya semakin lebar saja ketika Kiki menyandarkan tubuh padanya. Rambutnya terasa halus dan harum, dan parfumnya sungguh meracuni benaknya yang pekat. Dany sangat menginginkan wanita ini melebihi apapun, dan saat ini, jika dia dapat mengarahkan moment ini ke arah yang benar, dia yakin akan bisa memenangkan hadiahnya.


    Akhirnya Dina menghentikan percumbuan itu dan mengipasi dirinya menggunakan tangan. “Wow! Tadi sangat hot. Aku nggak bisa memutuskan siapa better kisser-nya. Aku rasa imbang.”

    “Oh, nggak adil! Kiki, kamu yang putuskan,” kata Dany, sambil meremas pinggang Kiki.

    Kiki menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku tidak bisa… ”

    “Ya, aku rasa itu bukan ide yang bagus,” jawab Johan. Bagaimanapun juga, ini adalah istri kakaknya. Dia tak yakin bisa melakukannya dengan kakak iparnya sendiri. Itu adalah sisi rasioanalnya yang bicara. Ketika dia memandangi tubuh Kiki, nafsunya berteriak untuk melakukannya. Ayao lakukan saja!

    “Oh, Johan, it’s just a kiss,” kata Dany, dia menatap dengan Johan dengan pandangan penuh arti. Johan tahu kalau Dany punya hasrat pada Kiki. Mereka semua mengincarnya. Hanya saja Dany yang terus terang menunjukkannya. Dia tak peduli apa Kiki sudah menikah atau bercerai atau jadi janda atau apa sajalah. Kalu dia sedang tertarik pada seorang wanita, maka dia akan terus mengejarnya. Meskipun itu isteri temannya. Tidak bisa mempercayai Dany begitu saja, tapi itu jugalah yang merupakan salah satu daya tariknya.

    “Ya…, hanya ciuman saja,” Kiki berkata pada Johan, menengahi. Johan tak bisa mempercayai hal ini! Dia tahu kalau Dany akan berkata begitu, tentu saja. Tapi Kiki?

    Dina tertawa pelan dan bangkit dari himpitan dua pria ini. “Sorry jadi melibatkan kamu, Ki. Aku benar-benar nggak bisa memilih.”

    Kiki juga tertawa, dia merasa tak yakin dengan perbuatannya, tapi juga tak mau mempertanyakannya lagi. Dia duduk diantara dua pria tampan ini dan menepuk kedua lutut mereka layaknya seorang ibu yang menghibur puteranya. Ahmad, yang juga memendam hasrat pada wanita ini, wanita yang sudah menikah ini, buah terlarang untuk dipetik. Cincin berlian yang melingkari jari manisnya yang menandakan bahwa dia sudah dimiliki, terlihat bersinar lebih terang. Tapi Kiki memang selalu terlihat menggairahkan. Ahmad diam saja menunggu Kiki yang memulainya.

    Kiki menghadap ke arah Johan, lengannya bergerak melingkari leher adik iparnya ini. Dia tersenyum dan bilang, “Santai saja,” sebelum pejamkan matanya dan mendekat. Johan merasa bibir kakak iparnya ini terasa sangat lembut di bibirnya, hangat dan lembut. Sekilas, dia membayangkan bagaimana rasanya jika bibir ini memagut penisnya. Bibir Kiki membuka dan dia mulai menggerakkan lidahnya menggoda diantara ciuman mereka.

    *****

    Setelah sekitar dua atau tiga menit berciuman, Kiki melepaskan diri, senyumnya terlihat jelas pancaran terpuaskan di wajahnya lalu dia mencium ujung hidung Johan. Tanpa berkata apapun dia berpaling ke arah Ahmad, tangannya segera mengalung di leher pria ini, dan langsung melumat bibirnya. Pria keturunan timur tengah ini merasa kalau sebuah ciuman yang indah adalah awal dari sebuah hubungan seksual. Dia tak percaya anggapan ‘sebuah ciuman hanyalah sebuah ciuman’ karena dia tahu betapa dahsyatnya kekuatan sebuah ciuman itu. Dia menggoda dengan bibirnya, karena kalau dia bisa membuat wanita terkesan karenanya, Ahmad tahu kalau sang wanita akan mengharapkannya agar dibuat terkesan diseluruh bagian tubuhnya. Dia mencium isteri Hendra tak beda sedikitpun terhadap wanita lainnya, dan dirasakannya kalau batang penisnya mengeras oleh gairah. Kiki juga adalah seorang yang mahir berciuman. Dia suka bermain dengan bibir dan lidahnya, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menggoda dengan gerakan sensual. Ahmad langsung menyambut tantangan ini.

    Johan seorang kisser yang hebat, Kiki harus mengakuinyat, tapi Ahmad jauh lebih hebat. Dia bermain dengannya hanya menggunakan bibirnya saja untuk melumatnya, dan Kiki benar-benar merasa jadi sangat basah hanya karena sebuah ciuman ini. Sama sekali tak ada tarian lidah di sini. Ketika Kiki merasa merasakan tangan Ahmad berada di payudaranya yang kencang, reflek dia mengerang di mulut pria ini, merasa mulai melayang akan cumbuannya, dan Kiki sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi. Dia harus berhenti, dunianya terasa berputar.

    Akhirnya Kiki menghentikan ciumannya, nafasnya tersengal, dan wajahnya merona merah. “Itu sangat… hebat… kelaian berdua hebat.”

    “Mereka berdua sama hebatnya, kan?”

    Kiki mengangguk, tapi harus diakuinya kalau Ahmadlah sang pemenangnya. “Maaf Johan, Tapi Ahmad…” Dia hanya goyangkan kepalanya.

    “Nah,” kata Dina, sambil berdiri. “Ini semua… harus jadi seorang juri benar-benar membuatku… kepanasan. Setuju kan, Kiki?” Kiki hanya mengangguk. “Ada yang mau gabung dengan aku dan Kiki untuk renang?”

    Tangan Dina terjulur ke arah Kiki dan membantunya berdiri. Tanpa berkata-kata apapun lagi, kedua wanita itu mulai berjalan keluar ke arah kolam renang. Ketika keduanya sudah berada diluar, dalam dinginnya udara malam itu, Kiki berbisik, “Aku nggak bawa pakaian renang.”

    “Pakai bra celana dalam saja,” jawab Dina.

    “Aku nggak pakai bra juga.”

    “Ngak apa-apa,” jawab Dina lagi. “Aku juga nggak pakai kok.” Dina tersenyum pada Kiki yang tampak terkejut, tapi langsung meraih ujung kaos katunnya dan kemudian melepaskannya dari tubuhnya. Payudara besarnya membusung menantang pada dadanya seakan sebuah balon udara. Gundukan dua buah daging yang terlihat indah di dadanya, dan putingnya menghias mungil di kedua ujungnya, benar-benar alami tak seperti putting putting pada payudara hasil silicon yang melebar karena operasi. Dina tertawa kesil melihat mata Kiki yang tak lepas dari kedua payudaranya yang terpampang jelasitu.


    “Bagaimana? Mau gabung denganku tidak?” Tanya Dina, masih tetap tersenyum. Dia tahu para pria akan segera bergabung dengan mereka. Momen ini terlalu saying untuk dilewatkan. Tapi untuk sebuah alas an yang terasa liar dan menggoda, dia ingin wanita cantik yang sudah menikah ini untuk bergabung dengannya dalam aksi ekshibisionisnya.

    Johan melihat dari pintu yang terbuka. Dina memiliki tubuh yang fantastis dan tubuh itu layaknya tubuh para model majalah Playboy. Rambutnya yang panjang dicat kecoklatan. Tubuhnya adalah fantasi dari semua pria dengan payudara besar, pinggang langsing dan pinggul dengan lekuk merangsang. Paha jenjangnya merupakan satu kesatuan dari menggodanya tiap lekukan tubuh itu. Kulitnya putih bersih dan Johan tahu bentuk tubuh indah itu merupakan hasil kerja kerasnya dari olah tubuhnya di gym yang hampir tiap hari itu. Singkat kata apa yang kamu lihat di majalah-majalah model dan pria dewasa, itulah gambaran sosok Dina.

    Tapi karena sebuah alasan yang tak pernah dapat dijelaskan, Dina tak memiliki rasa percaya diri tinggi yang biasanya dimiliki wanita dengan ‘killer-body’. Sebenarnya dia mampu dan berotak cerdas, tapi dia tidak pernah mendapatkan pekerjaan selain sebagai seorang sekretaris kantor biasa saja karena isu-isu yang beredar tentang dirinya. Kadang Johan merasa khawatir dengan sahabatnya ini dan ingin merangkul dan melindunginya, yang mana Dina memang tipe wanita yang menginginkan diperlakukan sepeti itu. Tapi, isu-isu itu benar-benar membuat rasa percaya diri Dina meredup dan hanya teman-teman dekatnya sajalah yang mengerti siapa dia sebenarnya.

    Dan saat ini, semua yang terjadi malam ini membuat Dina punya keberanian dan rasa percaya diri untuk melucuti pakaiannya sendiri di hadapan teman-teman prianya dan kakak ipar Johan, memperlihatkan indahnya bentuk payudaranya. Reaksi Kiki seperti yang diharapkan Dina, malu dan juga ingin ikut sedikit beraksi gila. Kiki menatap tajam mata Dina seakan ini adalah sebuah tantangan.

    Sejak pertama kali merka berjumpa, Johan selalu merasa ada sisi lain yang liar dari kakak iparnya yang selalu terlihat penuh percaya diri ini. Hendra selalu mengatakan padanya betapa beruntungnya dia menikah dengan Kiki, tapi sebagai seorang saudara sekandung, Johan merasakan ada sesuatu yang terpendam dan tak tersalurkan. Hendra adalah seorang pria yang suka dengan tantangan dan bahaya sebelum dia menikah dan Kiki kelihatannya tak bisa selaras dengan gaya hidup itu.

    Menyaksikan kakak iparnya saat ini saat tangannya bergerak ke belakang lehernya dan melepaskan tali pengait gaunnya, Johan berkata dalam hati, “Inilah yang kamu inginkan kak, jika saja aku bisa mengatakan padamu saat ini.”

    Bentuk tubuh Kiki sangat beda dengan Dina, dan saat kedua wanita itu berdiri berdampingan dihadapan mata para pria itu, mereka benar-benar bisa melihat perbedaan itu. Kiki memiliki tubuh yang lebih tinggi dan lebih langsing. Payudaranya lebih kecil tapi terlihat sangat tepat ukurannya di tubuh bak penarinya itu. Lekuk tubuhnya juga sangat tak bisa dipandang sebelah mata, lingkar pinggulnya lebih halus, pahanya juga selalu terlihat menggoda dalam ukurannya sendiri. Saat dia melepas gaunnya melewati pingangnya, memperlihatkan tali celana dalam putihnya, Johan memperhatikan meskipun Kiki sedikit lebih kurus dibandingkan Dina, Kiki tetap memiliki bentuk pantat yang menakjubkan, lebih kecil tapi masih tetap tepat dalam ukuran tubuhnya itu

    Dengan tersenyum Dina menurunkan resleiting celana jeans selututnya dan melepaskannya turun dari pinggulnya. Dibaliknya, dia mengenakan g-string berwarna biru yang sangat mini dan hanya terlihat tak begitu bisa menutupi gundukan selangkangannya.

    “Kalian mau gabung dengan kita?” Tanya Kiki, sedikit menggoda para pria dengan mempperlihatkan putting merah mudanya sekilas saja sebelum berbalik menghadap ke air dan kemudian terjun menyelam, membelah air layaknya sebuah pisau tajam. Dina berjalan menghampiri Johan, dia tersenyum dan menggandeng tangannya kemudian menarik Johan ke kolam renang. Johan hanya mampu sebisanya untuk membuka baju dan celana panjangnya sebelum tercebur ke dalam air.

    Dany sangat gembira dengan ke mana arah mengalirnya moment di malam ini. Bentuk tubuh Kiki memang seperti apa yang selama ini diimpikannya. Tapi masih ada satu mistery yang ingin dia ketahui, dan itu berada dibalik celana dalam putihnya Kiki.

    Sebelum menuju ke kolam renang untuk bergabung dengan Johan dan kedua wanita itu, dia mengambil kotak pendingin dan mengisinya dengan botol-botl bir kemudian membawanya ke pinggir kolam renang.


    “Kamu nggak ikut gabung?” tanyanya pada Ahmad sambil membuka sebuah botol.

    “Nggak tahu. Aku rasa aku lebih senang duduk di sini saja.”

    Mata Dany terangkat. “Kenapa kamu? Main sama dua orang wanita cantik di kolam, setengah telanjang lagi. Kenapa juga kamu lebih memilih duduk di kursimu itu?”

    “Anu, itulah masalahnya. Kamu lihat Johan, kan? Dia pakai boxer dan aku lupa nggak pakai. Dan dengan dua wanita cantik ada disini… ”

    “Aku paham! Begini saja, kamu jangan sampai keluar dari air saja. Itu pasti lebih baik. Ambil nafas, pikirkan tabrakan kereta atau apalah sampai setidaknya kamu sudah tak terlalu tegang, lalu langsung terjun ke air.”

    Ahmad terlihat masih ragu, tapi dia paham maksud Dany. He needed and looked away, into the darkened hills of Portola Valley. Dany melepaskan kaosnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang berotot. Dia mempunya bentuk tubuh yang paling baik dibandingkan para sahabatnya. Setelah melupaskan celana jeans-nya, dia langsung terjun ke air, berenang ke arah Kiki dan merabai sekujur tubuh halus Kiki.

    Kelimanya berenang dan juga minum dan mabuk lagi dan saling bercanda dalam air untuk beberapa jam kedepan. Dany sangat terlihat menggoda Kiki dengan terang-terangan, dan yang mengejutkan semuanya, termasuk Kiki juga, isteri Hendra tak keberatan sama sekali dengan tingkah laku Dany. Pada sebuah kesempatan, Kiki berenang ke tepian kolam untuk meminum lagi birnya, Dany sudah berada tepat dibelakangnya. Dan saat Kiki membalikkan tubuhnya, Dany menekan tubuhnya ke pinggiran kolam, mendorongkan tubuhnya sangat dekat pada tubuh Kiki.

    Pria ini punya tubuh yang bagus, pikir Kiki, lalu menyumpahi dirinya sendiri karena memikirkan hal itu. Pria ini adalah seorang pembual, orang brengsek yang sangat percaya diri. Tapi ada sesuatu dari pria ini yang dirasakannya… sangat menarik dan tak dapat dicegahnya.

    “Kamu sudah memberi ciuman pada Johan dan Ahmad. Bagaimana dengan ciumanku?” tanya Dany. Kiki merasakan tangan pria ini berada di pinggangnya, membuatnya semakin merapat ke tubuh Dani. Dia sudah sangat keras… Kiki bisa merasakannya saat ereksinya menekan bagian bawah perutnya.

    “Kamu juga ingin?” Kiki nggak tahu, apakah ini pengaruh dari alcohol ataukah dua bulannya yang tak terjamah, tapi dia meneruskan, “Baiklah, biar adil.”

    Dan kemudian kedua mulut mereka menyatu dalam sebuah ciuman yang sangat panas.

    Johan menyaksikan dari ujung lain kolam renang saat keduanya saling bercumbu layaknya sepasang remaja kasmaran. Dia sadar kalau seharusnya dia menghentikan kejadian ini sebelum semuanya jadi terlalu jauh. Bagaimanapun juga wanita itu adalah isteri kakaknya! Tapi sisi lain dirinya mulai terangsang, saat membayangkn apa yang bisa didapatkannya dari kakak iparnya yang manis dan penuh rasa percaya diri itu.

    Akhirnya dia putuskan untuk membiarkan saja moment ini mengalir sewajarnya…

    Dina sedang sibuk sendiri menggoda Ahmad. Batang penisnya yang setengah ereksi tak luput dari pengawasan matanya saat pria ini menceburkan diri ke dalam air, dan saat dia menerka berapa ukurannya, dia jadi semakin penasaran untuk mengetahui berapakah ukurannya saat dalam keadaan ereksi penuh. Diluar semua kejadian spesial dengan para sahabat prianya, sebenarnya tak begitu banyak pria lain yang pernah tidur dengannya… bagaimanapun juga tidaklah sebanyak isu-isu yang beredar di luaran… dan sebenarnya dia belum pernah merasakan batang penis yang sangat besar. Dan Ahmad mungkin akan memberinya pengalaman itu.

    Kiki akhirnya mulai merasa terangsang di akhir sesi berenang mereka. Dia tahu kalau dia sedikit mabuk, mungkin juga masih dalam pengaruh Candu dan tak merasakan ‘rasa sakit’. Dan dia sadar kalau beberapa kejadian yang sudah dilakukannya itu tidak semestinya dia lakukan, tapi rabaan dan elusan pada tubuhnya yang nakal sungguh memberinya sebuah getaran yang nyata.

    Saat dia keluar dari air, dia tahu kalau mata Dany tak pernah lepas sedetikpun dari bongkahan pantatnya dimana secarik kain satin yang kecil itu menghilang, dan hatinya terasa menari-nari saat mengetahuinya.

    Tak lama berselang Dany menyusulnya, Tubuh basah kekarnya tampak berkilauan ketika tersapu cahaya lampu, dan Kiki sadar kalau putingnya yang semakin keras mencuat bukanlah disebabkan oleh dinginnya udara malam.

    “Kami lupa handuknya,” Kiki tersadar, memandang sekelilingnyashe realized, looking around.

    “Nggak direncanakan ya?” Dany tertawa. “Ayo, kutunjukkan tempat handuknya.” Apakah ada yang lebih baik dari tawaran ini, piker Kiki. Hatinya berdebar membayangkan apa yang akan terjadi menunggunya. Haruskah dia pergi?

    “Kamu yang depan,” kata Kiki apada akhirnya. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak menoleh ke belakang untuk melihat reaksi dari yang lainnya.

    ****

    Johan menatap Kiki dan Dany yang menghilang ke dalam rumah. Kepalanya terasa mati rasa karena kebanyakan minum dan ganja. Kembali dia merasa kalau dia harus menghentikan apa yang akan terjadi, tapi dia tak mampu. Kiki memang terlalu merangsang dengan pakaian renangnya itu…

    Dany membimbing Kiki ke dalam rumah yang besar itu, menaiki tangga lalu masuk ke dalam ruangan yang gelap. led Kiki through the large house, up some stairs, and into a darkened room. Kiki sudah merasa menggigil kedinginan, lengannya terasa merinding, lengannya menyilang rapat di depan payudaranya memeluk tubuhnya.

    “Aku rasa handuknya ada di sini,” kata Dany, sambil menyalakan lampu. Mereka berada dalam sebuah kamar tidur. Kamar tidur tamu yang tertata dengan rapi.

    Dany melangkah mendekati sebuah almari, membukanya dan menyodorkan pada Kiki sebuah handuk halus berwarna putih, kemudian mengambil satu untuk dirinya sendiri.

    Setelah tubuh mereka kering, Kiki mengambil tiga buah handuk lagi dari dalam almari untuk yang lainnya. Ketika dia berbalik, Dany sudah berdiri tepat di belakangnya, seperti saat di kolam renang, hanya saja kali ini, situasinya terasa lebih serius. Dany berkata pelan, “Kita nggak perlu tergesa-gesa.”

    Dibelainya rambut Kiki yang basah di belakang telinganya sambil tersenyum

    “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Kiki, memberikan sebuah senyuman yang keduanya tahu akan arti senyuman itu dan melangkah semakin mendekati Dany.

    “Aku rasa kamu tahu,” katanya, bibirnya semakin dekat.

    “Oh ya?” jawab Kiki, sambil menyentuh bibir Dany dengan bibirnya perlahan.

    “Ya,” jawab Dany.

    Kebimbangan tersebut hanya sebentar, dan bibir mereka kembali menyatu.

    Mereka saling berciuman, dan tangan Dany menarik lepas handuk yang membungkus tubuh Kiki, menjatuhkannya ke lantai. Kiki tersentak akan udara dingin yang menyengat tubuhnya yang hampir telanjang, menyadari betapa terlarangnya hal ini, tapi menginginkannya dengan amat sangat.

    Masih tetap dalam perasaan yang seperti mimpi di sepanjang malam ini, Kiki membiarkan dirinya dibawa Dany ke atas ranjang, kemudian Dany menyuruhnya agar rebah dan rileks. Dany membungkus bibir Kiki dengan bibirnya lagi, tangannya bergerak menelusuri sekujur tubuh mungl Kiki. Ciumannya berjalan turun menelusuri sepanjang leher Kiki, bahunya, payudara hingga putingnya.


    “Ohhhhh!” Kiki mendesah, mendorongkan dadanya ke mulut Dany. Lidah Dany membuat lingkaran di sekitar putingnya, mengirimkan riak kenikmatan ke pusat indera seksualnya. “Ohhhhh, Dannnn…” kembali Kiki mendesah. Dany berganti dari payudara satu ke satunya lagi, memberi perhatian yang sama pada kedua daging sekal ini sebelum melanjutkan perjalanannya ke arah tujuannya yang pasti.

    Kiki sadar kalau dia seharusnya menghentikan Dany. Dia sadar kalau permainan kecil ini sudah terlampau jauh. Permainan ini memang menyenangkan, tapi dia sudah menikah. Dia sudah memiliki seorang suami yang… yang berada sangat jauh saat ini.

    Dany menyapu celana dalam Kiki dengan lidahnya, tepat di atas bibir vaginanya. Dany tahu kalau Kiki sudah jadi miliknya sekarang dan dia memutuskan untuk sedikit menggodanya. Dany akan menikmati ini. Dapat dirasakannya bibir vagina Kiki dengan lidahnya, dan aroma birahi Kiki segera menyergapnya. Dua jari Dany menyelinap dibalik celana dalam Kiki, hanya di daerah tepiannya saja, bergerak turun pada selangkangan Kiki yang sudah basah. “Ohhh, jangan terus menggodaku, Dany!” rintih Kiki. Dany mendongak ke atas dan melihat wajah Kiki yang merona dan dengan mata terpejam, sebelah tangannya sedang menjambak rambutnya sendiri.

    Dany menyibak celana dalam itu ke samping, ditatapnya penutup terakhir di tubuh wanita seksi dan sudah menikah ini. Dany merasa terkejut sekaligus senang akan aroma manis dari vagina Kiki yang terawat dengan baik. Bibir yang terus berdenyut lembut itu tercukur bersih, dan hanya membiarkan sedikit rambut berbentuk segitiga tercukur rapi tepat di atas celahnya. Dany menjilat sepanjang bibir vagina yang masih tertutup itu, yang mengakibatkan wanita di atas tubuhnya bernafas dengan berat. Dijilatnya sekali lagi sebelum akhirnya merenggut lepas celana dalam itu.

    Dany selalu terkesan betapa setiap vagina itu punya perbedaan masing-masing. Labia Kiki kecil dan gemuk, bibirnya menutup rapat sekan malu-malu, tidak seperti kebanyakan perempuan yang merekah terbuka saat merekea sedang terangsang. Kepala Dany terkubur menghilang di antara paha Kiki dan dia membelah bibir vagina yang masih merapat itu dengan lidahnya, membuat Kiki semakin terbang tinggi menuju surga. Dany terus menggoda Kiki. Dany adalah ahlinya dalam hal oral seks, dengan lidah, bibir dan jarinya untuk menyalakan api jauh di dalam jiwa Kiki. Kiki sangat membutuhkan pelepasan, tapi setiap kali otot perutnya mulai mengejang, Dany memperlambat aksinya yang membuat ledakan itu mereda kembali. “Ohhh, hentikan! OHHHH!” protes Kiki, tapi dia benar-benar berada di bawah kendali Dany.

    Hendra jarang memberinya oral seks, dan jikalaupun dia melakukannya, sungguh sangat berbeda dengan ini. Sungguh lain dengan yang diberikan pria yang bukan suaminya ini. Apa yang dilakukan Dany padanya membuat Kiki saekan berada di tepi batas pertahanannya dan itu sangat merenggut seluruh rasa di jiwanya. Sekujur tubuhnya bergetar dan rahangya terasa pegal menahan beban rasa ini. Ketika gelombang kenikmatan itu terbangun sekali lagi, dia tidak akan membiarkan pria ini mempermainkannya lagi. Dijambaknya rambut Dany dan menyentakkannya ke arah selangkangannya, mencekik Dany dengan vaginanya dan paha Kiki melingkar erat di belakang kepala Dany. “Uh, UHH! OHH, YAA! YES! YES!! UH!! HAMPIR! YES, OHHHHHHHHHH!!!”

    Dany tak mampu berbuat apa-apa. Dia tetap mengoral Kiki dengan lidahnya hingga orgasma atau tercekik kalau melawan. Kiki menggelinjang hebat begitu orgasme diraihnya. “UHHHHHHHHH NGHHGHHHHHHH!!!! OOOHHHHHHHHHH!!!” Dia menghentak liar ke wajah Dany, dan Dany hanya bias diam saja tak menghindar, lidahnya terus mengaduk dalam vagina Kiki, bibir atasnya menggetar di kelentit Kiki. “Ohhhhhh…” Gelombang itu mereda, Kiki mulai tenang, matanya terpejam selama beberapa saat membiarkan dirinya terhempas ke dalam samudera orgasmenya yang luar biasa.

    Dany merangkak naik ke sebelah tubuh Kiki dan memberinya sebuah kecupan di bibirnya. Kiki sedikit terkejut begitu merasakan cairan vaginanya sendiri yang ada di bibir, dagu dan lidah Dany. Belum pernah dia merasakan dirinya sendiri. Dia tidak pernah mengijinkan Hendra menciumnya setelah memberinya oral seks. Tidak mengijinkannya sebelum suaminya menggosok giginya terlebih dulu. Rasanya… sungguh berbeda.

    Saat bibir mereka saling melumat, tangan Kiki merayap turun menuju celana dalam Dany. Dapat dirasakannya bagian itu berkedut hidup. Jujur saja ini lebih besar dari milik Hendra dan lebih keras juga. Kiki memijitnya dengan bernafsu dan segera saja dia menyadari kalau dirinya membutuhkan kejantanan ini. Didorongnya Dany hingga rebah dan dikeluarkannya batang penis Dany. Mulut Kiki segera menyergap batang keras kenyal ini, dihisapnya dari bagian samping, jemari Kiki mengocok dengan cepat disertai dengan cengkraman tangna yang keras, dan Kiki tahu kalau Dany menyukai aksinya ini.

    Saat Dany sudah hampir keluar, Kiki berhenti, mulutnya melepaskan hisapannya dari batang penis ini, dan segera bergerak mengangkangi tubuh Dany. “Astaga, oh Dany, aku nggak tahu apa yang merasukiku, tapi aku sangat menginginkan penismu sekarang juga.” Bibir vagina Kiki berada tepat di atas kepala penis Dany, digesekkannya kepala penis itu di sepanjang garis bibir vaginanya yang sudah dangat licin. “Aku ingin penis kamu dalam vagina milik suamiku ini, Dany. Apa kamu tidak ingin menyetubuhi wanita yang sudah menikah ini Dany? Aku ingin kamu mengeluarkan spermamu yang hangat jauh di dalam vaginaku sekarang. Vagina seorang istri pria lain ini” Kiki hanya bicara kotor saat benar-benar sedang sangat-sangat terangsang. Dan ini biasanya terjadi saat Hendra pulang dari perjalanan luar kotanya, tidak saat Hendra MASIH berada di luar kota… Tidak pernah dengan pria lain, Tapi persetan, Kiki sudah tak peduli lagi. Dan sama sekali tidak ambil pusing lagi saat kepala penis yang gemuk ini mulai mendorok masuk menyeruak dalam kelopak bunga dari vaginanya. Tidak saat batang ereksi Dany membelah bibirnya dan mengisinya dinding lembut vaginanya dengan sesak

    “Ohhhhh,” erang Kiki begitu tubuhnya mulai bergerak turun ke tubuh Dany di bawahnya. “Oh, sayangku, rasanya saaaangat nikmat…”

    Dany tak bias mempercayai betapa mencengangkannya pengalamannya kali ini. Dia sudah pernah tidur dengan beberapa wanita yang sudah menikah sebelumnya. Dalam pengalamannya, pertama kali sulit untuk menembus pertahanan mereka, tapi berikutnya kalu sudah takluk, mereka akan sangat liar di ranjang. Tapi Kiki lain, dia tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan untuk sampai di titik ini, dan sekarang, dia seperti benar-benar terbakar birahinya. Tubuhnya bergerak naik turun pada batang penisnya, tangannya di rambutnya sendiri, tubuhnya dengan punggung melengkung tengadah ke belakang. Dany dapat melihat tulang rusuk Kiki dengan posisi tubuhnya sekarang ini. Payudara sekalnya terguncang menantang di dadanya, berkilat oleh keringatnya.

    “Uh, uh, oh, OH!” Jika saja ada seseorang di lantai dua rumah Johan ini, orang itu pasti akan mendengar sura Kiki. Dia mendesah, mengerang, tersengal, menggeram bahkan kadang menjerit pelan. Kiki bersetubuh dengan berisik, tapi itu malah semakin membuat Dany terbakar birahinya. Sudah sangat lama Dany ingin meniduri wanita bersuami ini. Dan sekarang ini, itu sudah tercapai dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tidak pernah mau jika affairnya dengan seorang wanita bersuami berkelanjutan. Terlalu rumit, tapi begitu dia merasakan sinding vagina Kiki yang cantik dan rapat ini menggesek batang penisnya turun naik, dia memberikan pengecualian untuk kasus ini.

    “Oh, keluarkan untukku! Oh, Dany, keluarkan dalam vaginaku! Aku ingin merasakannya–ohhhh! Fuck me, fuck! Fuck! Yes! OHHHH!” Pertahanan Kiki jebol terlebih dulu, dia keluar dan Dany membiarkan semua reaksi tubuh Kiki, dibiarkannya Kiki mengocok pelan naik turun batang pennisnya dengan dinding vaginanya yang terasa licin. Dany tahu kalau dia tidak bias bertahan terus, tapi dia terus berkonsentrasi untuk memberikan persetubuhan yag terhebat untuk wanita bersuami ini dan terlebih lagi bagi dirinya sendiri.

    “Ohh, Dan… jangan… mempermainkanku terus! Hentikan dan… cepat keluarkan!” Kata-kata Kiki tercekat oleh nafasnya yang terhenti sesaat. Kiki kembali berada di tepi orgasmenya ketika Dany batang penis Dany mulai berkedut hebat.

    “Ohhh!!! ARGHHH!!” teriak Dany. Dany belum pernah berteriak sekeras ini saat bersetubuh. Tapi sekarang ini dia melakukannya, Gerungan, dan erangan layaknya binatang liar keluar dari mulutnya. Dan wanita cantik di atas tubuhnya ini terus menggoyang tubuhnya seakan menandakan penaklukannya atas burannya ini. Dany sekan mengenakan sebuah helm virtual dikepalanya, dia menyaksikan Kiki menari telanjang di atas salju di hadapannya. Dia merasakan gairah peperangan, gairah kemenangan, gairah penaklukan. Dan kemudan dia mengosongkan kantung spermanya ke dalam rahim terlarang Kiki, menyemburkan sebanyak-banyaknya sperma panasnya ke dalam rahim istri pria lain yang sangat terpuaskan.. “AAAARRRRGHHHHHHH!! AH! AHHHH!!!” Dany tak mampu mengontrol dirinya.

    Kiki juga tak dapat menghentikan dirinya. Dia tetap memompa, meskipun ketika batang penis Dany tengah menyemburkan spermanya dengan hebatnya ke dalam rahimnya. Kiki menghentak turun pinggulnya ke arah Dany, semakin keras dan bertambah keras saja, otot vaginanya meremas dan memerah setiap tetes intisari dari Dany. Kiki merasakan semburan hangat itu menghantamnya dan dia tak mampu menahan pertahanannya lagi.

    “OOHHHHHHHHH YEAHHHHHHHH!!! YES–YESSSSSSS!!!”

    Kiki merasa setengah sadar dibuai orgasmenya yang sangat intens. Tubuhnya rebah terkulai di atas dada indah Dany, batangnya yang sudah menyusut masih terbenam sebagian dalam vagina Kiki. Kiki dapat merasakan sperma Dany yang hangat meleleh keluar diantara jepitan selangkangan mereka. She felt light headed from the intensity of her orgasm. She was laying on Dany’s beautiful chest, his shrinking member still half buried in her cunt. She could feel his warm jism leak out from between them. Hal ini membuatnya pusing, memikirkan apa yang sudah mereka perbuat. Hal ini sangat terlarang. Sangat salah tapi juga sangat menyenangkan.

    Kiki memberi sebuah ciuman ringan di bibir Dany dan berkata “Aku rasa lebih baik kita segera bawa handuk handuk ini untuk yang lainnya.”

    Kiki mengangkat pinggulnya mengeluarkan batang penis Dany dan keduanya mendesah begitu batang itu tercabut keluar. “Aku mau mandi dulu,” kata Kiki dengan tersenyum sambil melangkah ke arah kamar mandi. Dia merasa begitu nakal saat dirasakan vaginanya yang penuh sperma menimbulkan jejak putih menurun di pahanya, dia sangat menyukainya.

    *****

    Dany dan Kiki turun untuk berkumpul kembali dengan yang lain setelah menghilang kurang lebih setengah jam. Sebuah handuk membungkus tubuh Kiki, melilit hingga atas belahan dadanya. Dia menemukan sebuh penjepit rambut di kamar mandi dan menguncir rambutnya ke belakang. Saat menuruni anak tangga yang menuju ke ruang tengah, dia merasa bagaikan seorang putri, dan ini bukan hanya karena ‘pakaian’ yang dikenakannya. Pada sofa di bawahnya, sekali lagi, terpampang adegan yang membuat vaginanya basah kembali.

    Si keturunan timur tengah yang berkulit gelap itu duduk dengan posisi kedua kaki terpentang lebar, telanjang seutuhnya dan memperlihatkan ereksi yang sungguh mendebarkan hati. Dina berada di lantai di antara pahanya, sedang sibuk menjilati batang ereksi luar biasa itu. Dia masih tetap memakai g-string biru kecilnya, tapi jemarinya terlihat jelas sedang sibuk juga di balik kain sutera tipis itu.

    Duduk di kursi yang bersebelahan dengan sofa itu, Johan, yang celana renangnya sudah turun hingga lututnya dan sedang sibuk mengocok batang penisnya sambil melihat adegan di hadapannya. Kiki terpaku di tangga sampai Dany menarik tangannya dan menuntunnya turun.

    Johan segera beranjak mengambil handuk saat Dany dan Kiki menghampiri mereka. Dia menawarkan minuman pada mereka, dan tentu saja kedua temannya menyambutnya dengan suka cita. Saat dia kembali dengan membawa vodka tonic, dia mendapati Dina sudah duduk diatas pangkuan Ahmad, menciumnya sebentar dan memintanya untuk memperlihatkan kejantanannya.

    “Belum pernah kulihat yang sebesar ini. Aku hanya… hanya ingin melihatnya.” Dina mengerjapkan matanya dengan mimik yang polos yang melumerkan hati Ahmad. Bagaimana mungkin dia menolaknya?

    Kemudian yang dia tahu, dia merasakan batang penisnya yang gemuk dan panjang sudah berada di dalam mulutnya dan Dina sedang menghisapnya menuju surga. Betapapun dia mencoba sebisanya, Dina tak mampu menampung batang kejantanan itu masuk seluruhnya ke dalam mulutnya. Ini terlalu besar dan panjang. Jadi kemudian dia mengeluarkannya, mengangkat tubuhnya sedikit hingga batang penis itu berada di antara belahan payudaranya yang sekal, lalu tersenyum manja padanya. “Pernah melakukannya?” tanyanya, sekali lagi dengan ekspresi kekanak-kanakan.

    “Hah?” tanyanya, tak mengira ini akan terjadi.

    “Seperti ini,” Dina tersenyum dengan nakal, tangannya berada di kedua sisi payudaranya dan menekannya bersamaan, menjepit batang itu diantara kedua bongkahan daging kenyal itu. Lidah Dina membantu melicinkan gerakannya, dan dia mulai menggesekkan payudaranya pada batang penis itu.

    “Ohhh,” rekasi Ahmad, kedua bola matanya melotot terpana menyaksikan apa yang dilakukan wanita ini padanya. Ahmad cukup berpengalaman, sudah banyak wanita yang tidur dengannya, tapi seks selalu terjadi setelah rangkaian kencan yang mesra. Dia selalu punya hasrat terpendam terhadap Dina dan selalu menghayalkannya, tapi belum pernah sekalipun hal seperti ini ada dalam fantasinya. Ketika kepala penis Ahmad muncul dari jepitan payudaranya, Dina menyambutnya dengan jilatan lidahnya, sekali, dan kembali melenyapkannya ke dalam hangatnya buah dadanya. Kepala Ahmad terhentak ke belakang dan menggeram.

    Kiki tak sanggup mempercayai apa yang disaksikannya. Dany membimbingnya menuju ke kursi di seberang Dina dan Ahmad, dia merasa pipinya memerah saat menyaksikan wanita ini memanjakan pasangannya menggunakan buah dadanya sendiri. Ini seperti sebuah film porno yang sering dia dengar. Ini membuatnya semakin terangsang. Dia rebahkan tubuhnya bersandar pada Dany. Kiki tak mampu menahannya lagi. Dia mencium bibir Dany dengan rakus sambil tangannya bergerak meraih penisnya yang mengeras, dan Kiki mengocoknya agar semakin bertambah keras.

    Johan harus memejamkan matanya untuk meredam ledakan orgasmenya saat menyaksikan Dina yang menjepit penis Ahmad di antara payudaranya, dan kemudian melihat Kiki dan Dany yang juga memulai adegannya sendiri. Ketika dia membuka matanya, Kiki sudah duduk diatas pangkuan Dany, dengan punggung yang menghadap ke arah Dany dan kedua tangan Dany meremas payudaranya. Tubuh keduanya kembali menyatu dan mulai bersetubuh lagi. Kiki terlihat sangat menawan saat sedang dibakar gairah. Jauh lebih cantik dari biasanya, termasuk di saat hari pernikahannya. Rambut sebahunya, terkuncir ke belakang, terlihat kusut dan basah. Sebagian menempel lekat pada dahi dan pipinya. Matanya setengah terbuka, giginya saling beradu keras dalam erangannya yang rendah, pelan dan berat. Dia mengayun berlawanan mengiringi hentakan Dany, dengan keras, layaknya seorang wanita yang sudah sangat lama tidak mendapatkan sentuhan pria.

    “Oh, YA!” Ahmad berteriak, saat spermanya menyembur. Dengan cepat Dina menangkapnya dengan mulut, membiarkan hanya sebuah gumpalan sperma yang lolos menghantam dagunya. Dia sangat menyukai rasa dari sperma pria, dan pria ini tak terkecuali.

    “Aku ingin keluar dalam mulut kamu,” bisik Dany di telinga Kiki. “Aku ingin merasakan bibirmu mengulum penisku saat kamu membuatku orgasme untuk yang kedua kali malam ini.” Kata-kata nakalnya membuat Kiki merasa jengah bercampur dengan birahinya yang semakin tinggi karenanya.

    Kiki mengeluarkan penis Dany dari dalam vaginanya, lalu memutar tubuhnya di antara paha Dany, dan memasukkan penis Dany yang basah oleh cairan madunya sendiri ke dalam mulutnya. Dia merasakan cairan madunya sendiri untuk yang kedua kalinya. Kali ini rasa itu membatnya bergairah. Hal ini sangatlah keliru! Benaknya menjerit dan lidahnya menjulur membasahi lidahnya dengan penuh rasa nikmat. Dia gunakan cairan vaginanya sendiri sebagai pelican, tangan kanannya mengocok seiring dengan kuluman bibirnya, sedang tangan kirinya dengan mesra menggenggam buah zakar Dany.

    Johan tak mempercayai semua yang tengah terjadi. Tak lama berselang adegan oral, adegan berikutnya langsung menyusul. Kiki tak membutuhkan waktu lama mengoral. Dany sudah berada di garis ketahanannya saat dia rasakan kepala penisnya menyentuh tenggorokan Kiki dan mulai masuk. “Ohhhh, fuck, baby! YEAAHH!”

    Dina mengorek sperma yang lepas dari tangkapannya tadi dan menghisapnya habis dari ujung jemarinya, sambil melirik nakal ke arah Johan. Pria muda ini terlihat sangat manis, duduk di sana dengan penis dalam genggaman tangannya, bingung menentukan adegan mana yang harus disaksikannya. Terasa sudah cukup lama sejak terakhir kali Dina melihat penisnya yang indah. Bagi Dina, itu adalah ukuran yang paling tepat untuknya, dan setiap kali dia bercinta dengan Johan itu adalah persetubuhan terbaik yang pernah didapatkannya.

    Johan melihat wanita berambut ikal panjang sampai punggung ini berdiri dan berjalan ke arahnya. Dina membetulkan g-string biru kecil yang melingkari pinggulnya dan Johan seketika membayangkan apakah wanita ini masih mencukur bersih vaginanya. Dina menghampirinya, duduk di sebelah kirinya dan dapat dirasakannya sesuatu yang berbeda yang akan segera dia ketahui.

    Perasaan Johan campur aduk saat menyaksikan Dina memuaskan Ahmad. Di satu sisi, dia merasa cemburu. Bagaimanapun juga Dina bukanlah miliknya dan dia tidak berhak merasa cemburu. Di sisi lainnya, dia merasakan ini sangat merangsang birahinya ketika menyaksikan Dina memuaskan sahabatnya.

    Johan tergetar akan keberadaan Dina yang merapat. Dapat dia rasakan kehangatan dari tubuh Dina yang hampir telanjang di dekatnya. “Kamu terabaikan,” kata Dina dengan suara jalang dan dalam. Tangannya menggenggam ereksi Johan, tepat di atas tangan Johan berada. “Kedua temanmu sudah bersenang-senang. Sekarang giliran tuan rumah.”

    Diturunkannya boxerg Johan dari kakinya hingga batas lutut. Sebelum Dina mulai mengulum penis Johan dengan mulutnya, entah kenapa, dia menoleh pada istri kakaknya Johan dan berkata, “Mau bantu?” dengan suaranya yang termanis.

    Kiki, yang sedang menatap penis Johan, melirik ke mata Johan, lalu kearah Dina, kembali lagi ke Johan, dan mengedip. “Dengan senang hati.”

    Tubuh telanjang Kiki mendekati Dina dan Johan. Birahi Johan semakin terbakar melihat selangkangan isteri kakanya yang dihiasi rambut kemaluan yang tercukur rapi mengecil ke bawah. Dia tak mengira kakak iparnya ini sebagai tipe wanita seperti ini. Dan lagi, dia tak pernah menyangka kakak iparnya adalah tipe wanita yang mau bersama dengan wanita lain memberikan oral seks padanya.


    Kedua wanita ini saling bergantian memanjakan penisnya. Saat yang satu mengulum batangnya, yang satunya lagi menjilati buah zakarnya. Kemudian, bagaikan kedua pikirannya saling terhubung, mereka bergantian posisi hampir tanpa jeda. Tehnik keduanya sangat berbeda, tapi ini jadi terasa menakjubkan. Bibir Kiki menciptakan jepitan cincin yang kencang melingkari batang penis Johan, sedangkan Dina menggunakan lidahnya untuk memberi kepuasan yang maksimal bagi Johan. Yang paling menggairahkan adalah menyaksikan tangan Dina membelai wanita berambut sebahu ini. Sejauh yang dia tahu, Dina belum pernah melakukan dengan wanita lain. Tapi kemudian, bukan berarti hal ini sama sekali mustahil.

    Johan sadar orgasmenya sudah dekat, dan kelihatannya Dina juga tahu akan hal itu. Dilepasnya batang penis Johan dari kuluman mulutnya, dan mencegah Kiki yang ingin ganti mengulum. Dia berbisik pada Kiki, “Maafkan aku, tapi aku benar benar ingin segera disetubuhi.” Tanpa berpikir panjang apa reaksinya, Dina mencium dengan lembut bibir wanita di hadapannya ini dan berdiri. Jemarinya bergerak ke tali pengikat g-stringnya, dengan perlahan diturunkannya, membuat dirinya telanjang tak beda dengan semua yang berada dalam ruangan ini.

    Johan sangat terkejut saat melihat ciuman singkat yang dilakukan oleh kedua wanita cantik ini dan membuatnya tak merespon langsung akan kecantikan dari wanita yang telanjang seutuhnya di hadapannya. Kulit putihnya terlihat indah dan Johan merasa senang melihat Dina tak mencukur habis rambut kemaluannya. Dia masih menyisakan segaris tebal rambut di atas bibir vaginanya yang tebal. Rambut itu terlihat sangat pendek seakan baru saja tumbuh, dan vulva yang membuka karena gairahnya dan seakan mengisyaratkan sudah benar-benar siap. Dina menaiki pangkuannya, menggosokkan payudaranya ke wajah Johan, dan mulai menurunkan pinggulnya pada batang terbaik yang pernah dia setubuhi. Tak ada halangan di pintu masuk, dan segera saja, bibir vaginanya yang sensitif bertemu dengan rambut ikal dari kemaluan Johan.

    Kiki memandang penis Johan memasuki vagina Dina dan sebuah getaran melandanya. Belum pernah dia menyaksikan pasangan lain melakukan hubungan seks di hadapannya, tidak sedekat ini! Ini sangat membakar gairahnya.

    Kiki menyapukan pandangnya ke sekitar. Dany sudah nggak ada, tapi Ahmad masih duduk di situ, sendirian di tengah sofa, memegangi batang penis terbesar yang pernah dilihat dalam hidupnya dengan tangannya. Ekspresinya seperti layaknya seorang anak kecil yang menatap mainan di balik kaca toko. Dia tak tahu mana yang harus di lihat, terlalu banyak pemandangan untuk direkam ingatannya. Kiki tertawa melihatnya, merasakan betapa naturalnya semua ini terjadi.

    Dia merangkak ke arah sofa dan meringkuk di sebelah Ahmad. “Apa yang kamu pikirkan?” bisiknya di telinga pria ini.

    Ahmad memikirkan sesuatu, tapi tak mampu mengucapkannya. Dia pandangi wanita cantik di sebelahnya ini, tak pernah sekalipun dalam hidupnya akan bisa melihat wanita seperti ini telanjang. Dia sangat cantik, sagat cerdas, terlalu berkelas baginya. Tapi disinilah dia berada sekarang, duduk dengan kaki melipat di bawahnya, payudaranya menekan erat lengannya dan tangannya yang mengelus kejantanannya.

    “Aku berpikir, apa yang sudah kulakukan hingga aku bisa menerima ini?’”

    Kiki tertawa pelan. “Kamu sudah memenangkan kontes ciuman,” jawabnya, dan perlahan mengangkat kepalanya, mendekatkan bibirnya pada pria muda ini. Mereka saling berciuman dengan mesra dan penuh gairah, membuat Kiki semakin bergairah dan terangsang. Sebuah ciuman selalu membuatnya terangsang, tapi belum pernah dia seterangsang ini hanya dengan sebuah ciuman sederhana saja.

    “Ohhh,” dia melenguh, merasakan jemari pria ini menelusuri bagian dalam pahanya, hingga pada belahan vaginanya. Dia hentikan ciuman ini untuk melepaskan erangannya, lalu dengan lapar kembali melumat bibir Ahmad. Nggak lagi ciuman singkat, dia membutuhkan ciuman yang lebih dalam seiring jari Ahmad yang mulai memasuki vaginanya yang basah.

    Kiki menjauh darinya dengan cepat, menatap matanya yang tajam. Mata itu penuh dengan hasrat dan birahi, dan tiba-tiba dia merasakan punya kekuatan yang besar. Dia yang mengendalikan di sini, seperti halnya Dina. Kembali dia merapatkan bibirnya, dia merebahkan tubuhnya kebelakang dan menarik Ahmad ke atasnya. Dengan sebelah kakinya menekuk dan sebelahnya bersandar pada sandaran sofa, dia benar-benar terbuka dan siap menyambutnya untuk menggantikan jari dengan batang penisnya yang seperti milik bintang film porno itu.

    Kiki membimbing batang penis besar itu ke arah vaginanya, membelah bibir vaginanya yang hangat. “Uhhhh!” erangnya, sedikit rasa sakit bercampur dengan kenikmatan, saat penisnya membelah dan mendorong dan mengisinya melebihi semua yang pernah dirasakan Kiki sebelumnya. Dia merasa rapat seperti perawan, dan itu membuat Kiki semakin gila oleh hasratnya. Ingin rasanya agar Ahmad menyentakkan dengan keras ke dalam vaginanya, tapi sadar jika Ahmad tak akan melakukan hal itu.

    Ahmad sangat berhati-hati dengan wanita menggiurkan di bawah tubuhnya ini. Dia selalu sabar jika berhubungan dengan seks. Dia tahu kalau dia lebih besar dari kebanyakan pria, dan dia merasa kalau itu adalah sebuah anugerah. Beberapa wanita merasa ngeri dengan ukuran penisnya. Yang lainnya berusaha memasukkannya, tapi mengatakan kalau itu terlalu menyakitkan. Dia hampir tak pernah mendapatkan oral seks. Karena terlalu besar.

    “Lebih keras,” kata Kiki disela geretakan giginya. Ahmad melihat ke bawah dan melihat ekspresi wajah Kiki yang diselimuti campuran antara kesakitan dan birahi. Ditekannya masuk lebih keras batang penisnya, menariknya sedikit, lalu mendorongnya masuk lebih ke dalam. “Lebih keras lagi,” perintahnya lagi, dan Ahmad mengulangi gerakan mengayunnya, hanya saja kali ini lebih cepat. Wajahnya mengisyaratkan rasa sakit, tapi Kiki mengerang nikmat, “Ohhhh, yesss!”

    “Ayo sayang, setubuhi aku seperti dalam semua mimpimu.” Suaranya terdengar berat dan menahan nafas.

    Ahmad memompa dengan lebih keras lagi dan Kiki memintanya lebih keras lagi. Ahmad menghentak hingga dia merasakan tulang selangkangannya menghantam rambut mungil di atas kelentitnya, dan Kiki menggeram. Mencengkeram erat batang penis didalam tubuhnya dengan dinding vaginanya, dia tersengal dan mengerang keras. “Yess! Oh fuck, rasanya sangaatt nik-mattt!” Ahmad semakin terpacu. Tak lagi dengan gerakan romantis yang lembut, yang biasanya dia lakukan saat berhubungan seks dengan wanita, tapi lebih cepat dan hentakan yang lebih keras dan kasar. Ditariknya separuh bagian dari batang penisnya sebelum menyentakkan masuk kembali didiringi erangan dari wanita di bawah tindihan tubuhnya ini. “Ya! Ya! YA!” Punggung Kiki terangkat melengkung ke atas, payudaranya terdorong ke depan, putingnya menonjol keras bagaikan sebuah berlian kecil.

    Ahmad merasa saat menyetubuhi tubuh Kiki sangat nikmat, dia merasa takut jika dia akan membuat wanita ini terluka tapi tak mampu menghentikan dirinya sendiri. Dia menyentaknya lebih keras dan jauh lebih keras lagi, yang semakin membuat Kiki mengerang bertambah keras. “Uh! Uh! UH! NGH! UH!” Seluruh tubuhnya terguncang ketika gelombang demi gelombang orgasme menggulungnya, membuat seluruh persendian tubuhnya terguyur kenikmatan dan rasa sakit dan birahi yang tak pernah terpuaskan. “Fuck, sayang… AK-KU… KELUAR SEKARANG! NGH! NGHHHH!”

    Mendengar kalimat ini keluar dari bibir isteri pria lain sudah lebih dari cukup baginya. Sebelah tangannya mencengkeram keras payudara wanita ini satunya lagi memegangi pinggulnya dan mengejang keras saat dia meledak di dalam rahim Kiki. “UHHH!” erangnya, kenikmatan ini hampir meledakkan jantungnya. Batang penisnya berdenyut tak terkendali di sepanjang dinding vagina lembut milik Kiki, yang membuat orgasme Kiki mencapai titik puncaknya.

    Kiki tak mampu menahannya lagi. Pandangannya kabur. Sekujur tubuhnya dipeluk kebahagiaan dari surga ke tujuh. Dapat dirasakannya semburan sperma Ahmad menyembur seakan aliran magma yang panas memenuhinya, mengisikan madu cintanya jauh ke dalam rahimnya yang sudah terikat dalam pernikahan. Ini terlalu berlebih! Dia kehabisan nafas. Tubuhnya seakan terhempas dan ditelan jauh kedalam sofa ini. Segalanya terasa pudar. Hal terakhir yang diingatnya sebelum tak sadarkan diri adalah betapa indahnya merasakan ‘terisi dengan penuh’.

    Ahmad rubuh menindih Kiki. Tubuh mereka lengket oleh keringat yang membasahi sekujur tubuh dan juga sofa ini. Ditariknya keluar batang penisnya dari vagina Kiki yang sekarang terlihat terbelah lebar dan lalu memelukya mesra. Tiba-tiba dia merasa sangat lelah, dan merasa sangat bahagia memeluk wanita ini dalam dekapannya. Tak ada tempat lain yang diinginkannya selain di sini.

    *****

    Saat Kiki terbangun, dia berada sendirian di ruang tengah ini, sebuah selimut hangat menutupi tubuhnya. Sebuah lampu temaram menyinari ruangan ini. Dia nggak tahu jam berapa sekarang ini, kepalanya masih terasa pusing karena minuman yang dikonsumsinya sebelumnya.

    Dia bangkit, melilitkan selimut menutupi tubuh telanjangnya, dan merasakan sperma Ahmad meleleh turun di pahanya. Setengah tersenyum pada dirinya sendiri, mengingat persetubuhan yang dahsyat, dan kemudian melangkah pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

    Membasuh wajahnya dengan air, Kiki bertanya pada dirinya, “Apa yang kamu lakukan, Ki? Kamu sudah menikah.” Dia sadar jika apa yang sudah diperbuatnya sebelumnya tadi sepenuhnya salah. Belum pernah dia menghianati Hendra atau pada semua kekasihnya sebelumnya, dan sekarang telah dia biarkan dua orang pria berejakulasi di dalam rahimnya… tanpa perlindungan… belum lagi dia juga telah berikan sebuah oral seks pada adik suaminya.

    Tapi untuk sebuah alasan yang aneh, dia tidak merasa begitu bersalah seperti yang dia kira seharusnya terasa. Hendra pergi sudah sebulan lamanya meninggalkan dirinya saat ini, suaminya juga yang sudah ‘memaksanya’ untuk datang kemari. Dia menggelengkan kepalanya, menatap matanya dalam pantulan cermin. Dia tahu bahwa untuk waktu sekarang ini, di tempatnya berdiri, dia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya. Segalanya terasa menyenangkan. Ini adalah kesenangan terbesar yang pernah dialaminya tanpa kehadiran Hendra dalam dua tahun usia perkawinan mereka, dan tiga tahun masa pacaran mereka. Tidak termasuk mantan kekasihnya yang pernah bersamanya. Dia tidak akan melakukan hal ini lagi. Malam ini adalah malam yang unik, sangat menyenangkan, malam yang penuh dengan petualangan dan eksplorasi. Malam ini, dia bebaskan ‘gadis nakal’ dalam dirinya yang berperan. Besok, kembali pada perannya ‘gadis manis’ yang sudah menikah kembali.

    Dia berjalan menapaki tangga dan mengira semua orang sudah lelap dalam tidur, sebuah rintihan panjang keluar dari kamar tidur utama menunjukkan dugaannya salah.

    Kiki melangkah menuju satu-satunya pintu di depan tangga. Sedikit terbuka dan dia mengintip ke dalam. Dia kira nggak ada yang bisa membuatnya tersipu malu lagi, tapi setiap kali dia menyaksikan sendiri perilaku seksual yang baru, seakan api kembali ke wajahnya lagi. Dina sedang disetubuhi Dany dari belakang sedangkan mulutnya masih mengulum batang penis milik Johan. Mereka berada di atas ranjang ukuran King size. Kamar itu sendiri mempunyai jendela kaca besar yang mengelilingi hampir semua bagian, suara rintihan dan lenguhan pecinta yang mereguk kenikmatan memenuhi kamar ini.

    Johan menoleh dan melihat Kiki sedang berdiri di pintu masuk, sebuah selimut membungkus tubuh rampingnya. Dia tersenyum padanya, berharap Kiki tidak mempermasalahkan akan semua yang terjadi. Johan sebenarnya sangat menginginkan Kiki, tapi rasa hormatnya terhadap kakaknya membuatnya mengesampingkan kenikmatan itu. Tapi saat Kiki menjatuhkan selimut yang membungkus tubuhnya, lalu berjalan memasuki kamar ini dengan tubuh telanjang, dan mencium bibirnya dengan dalam, dia merasa dinding pendiriannya mulai retak.

    Kiki mendorongnya ke atas kasur dan menaiki kepalanya, menghadap membelakangi jadi dia bisa menyaksikan tubuh-tubuh telanjang yang saling ‘terkait’. Vaginanya serasa terbakar api dan dia membutuhkan sesuatu untuk meredakannya. Karena kedua penis yang tersedia sedang terpakai, dia memutuskan untuk melihat sebagus apa adik parnya dalam oral seks. Sebuah getaran yang sangat nakal menggetarkannya saat memikirkan hal tersebut.

    Dina melirik ke atas dan bertemu dengan mata Kiki. Dia tersenyum dengan mulut masih penuh terisi batang penis Johan dan mengedipkan mata pada Kiki. Dina sangat bahagia bertemu dengan Kiki, dan sangat gembira akan perubahan suasana yang terjadi malam ini. Semua ini tak akan terjadi jika isteri Hendra nggak berada di sini. Itu sudah pasti. Sesuatu tentang rasa percaya diri seorang wanita dan ledakan seksualitas memicu terjadinya pesta seks pada mereka semua


    Dilepaskannya mulutnya dari batang indah penis Johan dan memberi tanda pada Kiki dengan jarinya untuk bergabung dengannya. Kiki tersenyum pada wanita ini dan mendekatkan mulutnya pada penis Johan, membuatnya dalam posisi 69. Ini adalah posisi 69 bagi sejarah kehidupan seksual Kiki. Sementara itu, Dina bergerak ke buah zakar Johan yang terekspos, menjilatinya dengan lidahnya sebelum bergerak turun ke celah sensitif diantara lubang anus dan kantung buah zakarnya.

    Untuk kali yang kedua, Johan mendapatkan penisnya dilayani oleh dua orang wanita menawan. Hanya saja kali ini, wajahnya dipenuhi oleh vagina basahnya Kiki dan pantatnya yang indah.

    Saat Kiki tidak sedang mengulum batang penis Johan, posisinya yang nggak memungkinkannya untuk bergantian memanjakan buah zakar Johan, maka hanya membuatnya melihat saja Dina ganti yang mengulum penisnya yang penuh ke dalam mulutnya yang terlihat seksi. Kiki kira batang panjang itu tak mungkin mampu tertampung menghilang seluruhnya ke dalam mulut Dina yang berkilat basah, tapi ternyata itu dapat ditelan Dina seluruhnya, selalu. Dan saat giliran itu tiba padanya, Kiki berusaha untuk memasukkan batang penis ini kedalam mulutnya, tenggorokannya seluruhnya, dan dia dapat merasakan, lebih dari hanya mendengarkan, Johan mengerang di bawah tubuhnya.

    Dina harus menghentikan pelayanannya terhadap penis yang berbulu di hadapannya ketika Dany dengan lambat tapi mantap membawanya pada orgasme kecil. Dina kembali konsentrasi pada batang penis yang menghujamnya dari belakang, menyamakan irama ayunan pinggul Dany dan menghisapnya semakin ke dalam.

    Dany menyaksikan pesta di hadapannya sambil menyetubuhi Dina dari belakang. Dia selalu menikmati jalan masuk dari vaginanya Dina yang menyengkeram kejantanannya dengan erat ketika dia mengayunkan ke dalam tubuhnya. Dia harus berhati-hati untuk tidak menyemburkan spermanya saat menyaksikan kedua wanita ini bergantian melayani penis Johan bagaikan sebuah permen yang lezat. Dia berharap andaikan itu adalah penis miliknya.

    Dina mengeluarkan suara basah yang berisik saat mengoral pria. Dany menyukai suara itu dan kadang menjadi terangsang ketika mendengar orang lain yang ‘berisik saat menyantap hidangannya’. Dina tahu kalau oral seks yang basah adalah oral seks yang baik. Dany suka pada ekspresi takjub Kiki saat melihat wanita lain sedang mengoral adik iparnya. Kiki menjilat bibirnya sendiri dan Dany tahu kalau Kiki sedang menantikan gilirannya untuk menikmati batang daging yang lembut itu ke dalam mulutnya lagi.

    Dany menyaksikan kepala Dina bergerak naik turun bagaikan seorang yang profesional. Dina mengeluarkan mainannya dari mulutnya sepenuhnya, dan menatap tepat pada mata indah Kiki. Kiki tertawa kecil lalu tersenyum lebar, menggenggamkan tangannya pada batang keras yang berada tepat di bawah wajah Dina. Sebelum dia memasukkan kembali batang itu ke dalam mulutnya, wajah kedua wanita ini saling mendekat dan mencium satu sama lain. Ini terjadi begitu natural, hampir seperti tak mereka rencanakan.

    Para wanita memiringkan kepalanya masing-masing dan saling membuka mulut untuk satu sama lainnya, menikmati rasa manis saat lidah mereka saling melilit dan air liurnya bercampur. Saat itu semua terjadi, suara dalam kepala Kiki berteriak pada dirinya The, “Apa yang kamu lakukan?! Apa yang sedang kamu lakukan?!” Tapi itu sudah menjadi ‘suara bisu’ yang tak lagi di dengarnya, bahkan saat semua ini berawal. Bahkan, dia hanya mengikuti kemana alur ini menyeretnya masuk pada pesta ini, dan sekarang ini, melakukan sebuah French Kiss dengan satu-satunya wanita yang seksi selain dirinya di malam ini, di rumah ini, dan terjadi begitu saja secara alami dan sangat menggairahkan.

    Dany nggak mampu mempercayai apa yang dia lihat. Dina menaruh tangannya di pipi Kiki, membelainya dengan lembut saat mereka berciuman, penuh dengan gairah. Dany sering meminta agar Dina mempertimbangkan untuk membawa wanita lain dalam permainan cinta mereka. Dina selalu menggelengkan kepala tanda nggak setuju. Sekarang…

    Kedia wanita ini menghentikan ciuman mereka dan mulut Kiki berganti membungkus batang penis Johan. Dina menarik nafas dengan berat, benaknya kacau. Dia nggak pernah punya keinginan untuk melakukan hal tadi pada kegiatan seksual yang nyata. Bahkan sekarang, dia tidak merasa bahwa dirinya tertarik untuk jadi biseksual. Dia menikmati ciuman tadi, ya. Tapi itu tidak membuatnya mengkatagorikan dirinya sebagai seseorang yang lain. Baginya ini adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan di saat yang tepat.

    Johan nggak mampu menahannya lebih lama lagi. Penisnya sudah dioral lebih dari sepuluh menit, dan dia sudah berusaha sebisanya untuk menahan orgasmenya, ini sudah melampaui dari yang bisa ditahan oleh pria manapun. Dengan lidahnya yang masih terkubur dalam lembutnya bibir vagina Kiki, dia berejakulasi dalam salah satu mulut wanita ini. Dia nggak tahu pasti mulut siapa, tapi dia juga sudah nggak peduli lagi. Sepuluh menit berlalu dan itu adalah pengalaman terbaik.

    Kiki mulai merasakan orgasmenya mulai datang tak lama berselang setelah Johan, dan dia menggesekkan selangkangannya pada wajah Johan dan daging kenyalnya ke bibir dan hidung Johan. “Oh! Ohhh!” Kiki dapat mendengar erangannya sendiri.

    Johan keluar dengan hebatnya dalam mulut Dina. Dia menelan sebagian sperma itu, tapi menyisakan cukup untuk teman barunya. Kembali lagi, mulut kedua wanita ini saling merapat untuk sebuah ciuman penuh gairah, kali ini saling bertukar cairan sperma yang putih dan kental. Hal ini lebih dari cukup bagi Dany dan dia meledak, samar-samar sadar jika kedua wanita ini juga mengalami hal yang sama.

    Keempatnya rubuh saling bertindihan. Mereka merangkak dan menggerakkan tubuh lelah mereka untuk merebahkan kepala pada bantal, telanjang dan menatap langit-langit. Nafas berat, tersengal, hanya suara nafas yang memenuhi senyapnya kamar ini. Para pria rebah di kedua sisi ranjang, dengan para wanita diapit di tengahnya.

    Setelah beberapa menit beristirahat, Dina setengah bangkit dan bergerak menindih Kiki, tangannya membelai rambut Kiki sambil keduanya saling bertatapan. Para pria hanya menyaksikan dengan seksama, menahan nafas.

    “Belum pernah aku melakukan dengan…” Kiki memulai, tapi Dina dengan lembut memotongnya dengan “shhh…”

    Dia semakin merapat dan membisikkan, “Aku juga.” Saling memejamkan mata, kedua wanita ini berciuman lagi. Kali ini, ciuman yang perlahan, pada awalnya hanya sentuhan bibir dengan penuh rasa kewanitaan dan saling melumat lembut. Dan semakin bergerak cepat, mulut terbuka cukup untuk lidah mereka saling menyentuh dan menari. Posisi kepala mereka berganti, kedua bibir semakin masuk ke dalam untuk menyentuh bagian mulut mereka yang paling pribadi. Dengan cepat mereka saling berciuman layaknya dua orang kekasih, dan untuk pertama kalinya Dina mengeksplorasi wanita cantik ini. Jika sebelumnya Kiki menilai Ahmad adalah serang yang hebat ciumannya…

    Kiki nggak tahu apa yang tengah terjadi, tapi dia tahu kalau dia menyukai apapun ini. Ciuman antara wanitanya dengan Dina adalah ciuman yang paling erotis yang pernah dilakukannya dengan seorang manusia. Sekujur tubuhnya bergetar oleh kenikmatan dari erotisnya sebuah ciuman yang tabu. Dia merasakan sebuah tangan wanita yang kecil, nikmat, menelusuri badannya, bergerak naik ke arah payudaranya, ibu jari yang memainkan putingnya dengan penuh rasa nikmat.

    Kiki membawa tangan kirinya pada kepala Dina, menariknya lebih merapat untuk sebuah ciuman yang lebih mendalam. Tangannya yang satunya lagi mencengkeram payudara Dina, meresapi lembutnya kekenyalan daging wanita lain untuk pertama kalinya. Payudara Dina lebih kencang dibandingkan dengan miliknya, tapi kulitnya terasa luar biasa lembut.

    Jemari Dina bermain di tubuh wanita lain, menari di atas rambut di atas selangkangan wanita lain. Kiki melenguh dalam mulut Dina dan harus menghentikan lumatan bibir mereka. Mendengar reaksi dari seorang wanita lain karena rangsangannya mengirimkan sebuah kejangan kecil dalam vaginanya sendiri.

    Para pria menyaksikan saat kedua wanita ini saling bermain satu sama lain, mengeksplorasi tubuh lembut mereka dengan tangan dan, tak lama kemudian dengan mulut dan lidah mereka. Johan nggak bisa mempercayai kalau dia menyaksikan istri kakaknya menghisap puting wanita lain, mempermainkan dengan lidahnya yang panjang.

    Saat ciuman dan hisapan Dina mulai bergerak turun menyusuri lekukan tubuh Kiki menuju ke arah vaginanya yang terbakar, para pria hampir tidak bisa menguasai diri, mata isteri Hendra terpejam rapat rintihannya terdengar seperti. “Mmmmmm-uh! Ngh! Uh! Yyaaa…”

    Merasakan sentuhan pipi dari seorang wanita lain pada sisi bagian dalam dari pahanya adalah sebuah perasaan yang akan dialaminya, dan tidak pernah menyangka jika dia menyukainya. Sekarang, dia merasa nggak cukup hanya dengan semua ini. Dina pasti sudah berbohong saat mengatakan kalau dia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, karena semua yang dilakukannya membawa sebuah sensasi yang bahkan tidak dibayangkannya jika ini bisa tercipta dari sepasang bibir, sebuah lidah, dan kedua jari.

    Dina sendiri, di sisi yang lain, sudah sangat basah di antara pahanya saat dia memberi jilatan pada daging manis dan empuk milik teman wanitanya ini. Dia kini tahu kenapa pria suka pada vagina yang tercukur bersih. Dia dapat menarikan lidah bibirnya berulang-ulang di atas lembutnya keseluruhan bagian dari daging vagina, menghisap daging di sekitar kelentitnya untuk membawanya tinggi dan semakin tinggi. Dina menyentuh dan menjilat Kiki sangat tepat pada bagian di mana dia tahu kalu dia sendiri akan menyukainya, dan suara erotis yang keluar dari bibir Kiki serasa sebuah penghargaan untuk apa yang dilakukan kepadanya.

    “Oh Tuhan, Dina! Rasanya s-sangat en-naakk! Ya! Jilat vaginaku, sayang- ohhhhhh… Ya, ya, ya! Oh, lagi, yes! Uh, uhhhh!” ingin rasanya tangan Dina bergerak ke vaginanya sendiri, tapi ditahannya. Dia ingin memberikan perhatiannya 100% pada kekasih wanitanya ini, memanjakan kewanitaan Kiki dengan kedua tangannya saat lidahnya menari dan menyapu kelentitnya yang sensitivf.

    “Oh sayang, Dina, ohhhhh! Aku mau punyamu juga… aku ingin menjilat vaginamu! B-balikkan tubuhmu, kekasihku! Berputarlah… ohhhh… dan biarkan aku menjilatmu j-jugaa…”

    Para pria perlahan mulai megocok batang penisnya yang kembali mengeras, dengan mata yang terbuka lebar menyaksikan para wanita saat berputar mengatur posisinya untuk sebuah 69 yang sangat merangsang. Ini nggak nyata. Ini nggak mungkin terjadi! Tapi semuanya sedang terjadi.

    Merasakan untuk pertama kalinya rasa dari seorang wanita sangat menggoda. Dina terasa berbeda dibandingkan dirinya, tapi sama sekali bukan sebuah rasa yang buruk. Dari vagina yang tak berambut Dina terasa campuran rasa asin dari sperma milik Dany dengan sebuah rasa yang akrab tapi masih terasa asing. Secara perlahan Kiki menemukan iramanya, dan seperti halnya semua kejadian malam ini, dia melakukannya secara alami.

    Setiap kali, kedua wanita ini menarik kepalanya dari vagina masing-masing untuk melenguh, mengerang dan mengambil nafas. Saat itu terjadi, para pria disuguhi pemandangan yang erotis di hadapan mereka, dagu yang terlumuri oleh madu cinta masing-masing, sebelum kemudian saling menyelam kembali. Mereka saling memberi orgasme yang berkesinambungan sebelum akhirnya Dina bangkit dan berkata dalam suara bisikan yang bergetar lirih, “Johan… kenapa kamu nggak… ke belakangku dan-mmmm… masukkan… penismu yang indah itu ke dalam vaginaku… ohhhhh…”

    Dia melakukan seperti apa yang diperintahkan padanya, dirasakannya lidah Kiki menjilati sepanjang batang penisnya saat dia mengarahkan ke pintu masuk vagina Dina. Dany nggak mau menunggu untuk diminta melakukan hal yang sama pada wanita satunya yang sudah menikah, dan segera saja, keempatnya saling memainkan sebuah babak lagi dari malam yang penuh kenikmatan surgawi ini.

    Kiki menengadah ke atas dan melihat saat buah zakar adik iparnya menampari untaian kecil dari rambut di selangkangan Dina. Kiki menjilat dan menghisapi semua yang ada di hadapannya sambil menyaksikan batang penis Johan meluncur keluar masuk dalam vagina Dina, berkilat dank keras dan seakan sedang mengamuk. Dia sendiri merasakan penis Dany membelah bibir vaginanya untuk yang ketiga kalinya malam ini, dan dia merasa kalau tak lama lagi orgasmenya segera meledak.

    Bagaimana mungkin dia bisa kembali pada kehidupan perkawinannya?

    Dengan cepat, keempatnya mulai merasa sangat kelelahan dan tak satupun yang bisa melakukan sesuatu kecuali terlelap dalam tidur tidur yang nyenyak, saling berpelukan dengan telanjang antara lembutnya tubuh wanita dan kerasnya tubuh kekar pria.


    *****

    Kiki bangun pertama kali keesokan paginya dan menemukan dirinya meringkuk manja dalam pelukan hangat Johan. Kamar ini, yang dikelilingi sebagian besar oleh jendela dibanjiri oleh rasa hangat dari sinar mentari pagi yang baru terbit.

    Saat dia berbalik dalam pelukannya, mata Johan yang masih ngantuk mulai terbuka dengan malas dan kemudian tersenyum padanya. Kiki teringat semua kejadian semalam, dia tidak bercinta dengan pria ini, belum.

    Kiki mencium bibirnya dengan mesra dan berbisik, “Johan, terima kasih untuk yang semalam.” Dia berusaha hati-hati agar tidak membangunkan Dany dan Dina di sisi lain ranjang ini. “Rasanya… sangat indah dan manakjubkan.”

    Mereka saling berciuman lagi, dan tiba-tiba perasaan sedikit bersalah merasuki Kiki. Sekarang sudah pagi. Sekarang waktu untuk kembali ke kehidupannya yang normal sebagai seorang isteri yang setia dan mengabdi. Tapi hasratnya bercampur dengan kebimbangan dan itu terlalu berat untuk dihadapinya. Dia berbisik, “Kita tidak boleh menceritakan hal ini pada Hendra.”

    Johan, menganggapnya tentang kejadian pada malam sebelumnya, dan dia terkejut saat Kiki menggerakkan kakinya melewati tubuhnya dan kemudian menindihnya. Seakan takdir sudah digariskan, dia sudah ereksi dan siap untuk melaju, tubuhnya yang masih terasa pegal sudah jadi persoalan yang lain lagi. Dan tentu saja, semua itu sirna dalam sekejap begitu bidadari yang gemulai ini mulai merendahkan selangkangannya beserta vaginanya yang lembut dan sudah basah turun ke arah kerasnya batang kejantanannya.

    Johan mengerang dan tubuh Kiki bersandar ke depan, wajah bidadari ini hanya beberapa senti saja dari wajahnya, dan berbisik pelan, “Shhh…” sebelum memberinya sebuah ciuman ringan.

    Johan selalu menganggap kalau Hendra akan tetap sendiri selamanya. Karena dia mempunyai prinsip bahwa hidup membujang terlalu berharga untuk ditukar pada seorang wanita saja. Dan kemudian Kiki muncul dan mencuri hatinya. Dan baru sekarang dia benar-benar mengerti betapa sungguh wanita ini mampu menawan hatinya. Dia memiliki semangat hidup yang tinggi dan percaya diri yang tinggi untuk menjalani hidup ini dengan caranya dan itu tidak pernah menjadi memalukan karenanya… Dia cantik, lucu, cerdas, dan bercinta layaknya wanita panggilan seharga 1 milyar. Semua yang kamu impikan dari seorang wanita. Seandainya dirinya adalah Hendra, dia akan secepatnya berhenti dari pekerjaannya begitu perusahaannya mengirimnya dinas ke luar kota meskipun untuk dua hari saja.

    Menyadari betapa salahnya karena bersetubuh dengan isteri kakaknya sama sekali tidak mengurangi kenikmatan dalam melakukannya, malah nyatanya yang dirasakan adalah sebaliknya… Disamping rasa sakit karena ereksinya, dia merasa bersukur karena dia telah mengalami orgasme berulang kali semalam tadi karena sekarang, dia bisa merasakan kenikmatan tak terperi dari rasa vagina Kiki yang selembut beludru lebih lama lagi.

    Kedua insan ini berusaha bercinta dengan ‘tidak berisik’ sebisa mungkin, tapi tak lama kemudian Dina dan Dany mulai terbangun dari tidur lelapnya.

    Dina hanya berbaring saja di atas ranjang, dalam dekapan Dany, dan menyaksikan pemandangan indah dari dua pasang pecinta muda di depannya. Mata Kiki perlahan terpejam, kepalanya mendongak ke belakang untuk menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Tangannya bersandar pada dada Johan, dan tangan Johan memegangi pinggang langsing Kiki. Dina merasa mulai basah dan dia tersenyum saat merasakan bibir Dany menjalari samping leher dan bahunya. Dany mulai memasukinya dari belakang, dan keempat insan itu perlahan mulai saling bersetubuh. Pagi masih sangat dini…

    Kiki mendengar rintihan dari sisi lain ranjang ini. Dia menoleh dan bertemu dengan tatapan mata Dina. Buyar sudah ayunan dan goyangan pelan yang mereka lakukan dibalik selimut, dan Kiki tertawa pada dirinya sendiri. Dina sungguh terlihat cantik. Sinar matahari pagi yang menyorot dari jendela, menyinari rambut hitam legamnya yang panjang dan membuatnya berkilau indah. Setelah apa yang mereka lakukan semalam tadi, Kiki tahu bahwa Dina tak beda dengan dirinya.

    Dia merasa malu sendiri, memikirkan tentang itu semua, rasa dari vagina wanita lain sekilas melintas dalam benaknya. Dina, sepertinya dapat menebak apa yang dipikirkan oleh wanita di sampinya ini, dia berikan sebuah senyuman dan mengedipkan mata padanya, lalu pejamkan matanya dan berkonsentrasi pada batang penis yang keras di belakangnya.

    Irama percintaan pagi ini terasa berbeda jauh dengan persetubuhan liar semalam. Kiki mengayun pinggulnya naik turun pelan dan panjang, ingin benar benar diresapinya rasaka dari setiap mili batang penis adik iparnya di bawah tubuhnya. Serasa setiap gerakan dipenuhi rasa dahaga dan sayang. Di sisi lain dari ranjang ini tampak Dany yang mengayun Dina dari belakang.

    Kemesraan terasa memenuhi kamar ini, guyuran sinar matahari tampak semakin membuat tubuh-tubuh basah oleh keriangat terlihat indah tiap lekuknya menyilaukan. Irama keempat insan ini seiring, mendaki kenikmatan terakhir, mereka sadar ini adalah sesi terakhir untuk hari ini dan waktu tak lagi mau kompromi.

    Suara erangan, desahan, rintihan dari puncak kenikmatan yang sekali lagi direguk mereka kembali terdengar keluar lepas dari mulut mereka seiring dengan orgasme pertama dan terakhir dipagi ini. Ingin rasanya surga ini tak berujung tapi bagaimanapun juga waktu sudah menghadang. Setelah beberapa waktu beristirahat meredakan nafas yang memburu, mereka berjalan berangkulan menuju ke kamar mandi, suara kicau burung mengiringi langkah kaki mereka untuk membersihkan tubuh dari peluh dosa termanis, untuk kembali ke kehidupan masing-masing lagi…

    *****

    Di depan pintu keluar, keempatnya saling mengucapkan salam perpisahan. Kiki mencium kedua pipi Dany dan berkata, “Terima kasih untuk yang semalam. Aku… sangat bahagia karena kamu sangat bersedia tidur dengan seorang wanita yang sudah menikah.” Dany tertawa lepas oleh kiasan jujur tersebut, dan mengangguk membalas pernyataan terima kasih itu.

    Kemudian, Kiki memeluk Johan dan berkata, “Ingat, jangan pernah menyinggung hal sekecil apapun tentang ini lagi.”

    Johan pura-pura menutup resleting di bibirnya mengunci dan kemudian membuang jauh kuncinya. Kiki tertawa lepas karenanya, pura-pura ‘menangkap kembali kunci yang dibuang tadi’, dan ‘membuka’ mulut Dany. “Satu ciuman lagi untuk perpisahan?”

    Ciuman perpisahan Kiki sama bergairahnya dengan ciuman pertamanya, di sofa, sehari yang yang lalu.

    Ketika ciuman itu berakhir, mata mereka saling menatap untuk beberapa waktu yang terasa tak nyaman, kemudian dia ‘mengunci’ mulutnya kembali.

    Dina dan Dany asik sendiri dengan ciuman perpisahn mereka, dan Kiki harus memisahkan mereka. “Pulang bareng mobilku, kan?” tanyanya pada Dina.

    “Ya, kalau nggak merasa keberatan.”

    “Tidak sama sekali,” Kiki tersenyum. “Dengan senang hati.”

    Dina memberi Johan ciuman kecil di bibir dan bilang, “Ku telpon nanti.”

    Kemudian dalam perjalanan pulang hanya saling berdiam diri tanpa kata. Kedua wanita ini tahu apa yang akan diucapkan tapi saling menunggu. Akhirnya, Dina memecahkan kesunyian. “Hey, aku rasa, mungkin nanti kita bisa keluar bareng lagi… ke kafe atau hanya jalan-jalan ke mal.”

    “Kelihatannya menyenangkan,” jawab Kiki, berharap itu akan terdengar tulus.

    Dia terlihat kurang percaya. “Dengar, Kiki, aku sangat menyukaimu…”

    Kiki merona karenanya, dan baru saja dia akan mengucapkan sesuatu ketika Dina memotongnya: “Bukan, nggak seperti itu.” tawanya terdengar natural. “Maksudku, ya itu memang menyenangkan, tapi…” tawanya mulai terdengar sedikit nervous, dan dia menggelengkan kepala, “Tapi aku nggak bermaksud begitu. Maksudku… kamu adalah wanita pertama yang sangat ku inginkan jadi temanku. Dan… ku harap kejadian semalam tidak merusak hal tersebut.”

    Kiki menganggap sangat serius apa yang diucapkan oleh wanita ini. Akhirnya dia mengangguk. Dia percaya padanya. Dia tidak manangkap ada maksud tersembunyi dibalik ucapannya. Dan pada kenyataan sesungguhnya Kiki juga menyukai Dina.

    Sebenarnya Dina mulai merasakan air mata di matanya ketika wanita di depannya ini mengangguk, dan tiba-tiba sebuah beban yang berat terangkat dari bahunya. Dia merasa bebas dan dia mendapatkan seorang sahabat baru. Mereka saling bertukar nomer telpon sebelum sampai di apartemen Dina

    “Apa yang akan kamu lakukan pada Hendra?” Tanya Dina ketika mereka berhenti di depan pintu apartemennya.

    “Mungkin aku akan ceritakan padanya… suatu saat nanti. Tapi tidak saat ini. Dan kurasa, juga tidak untuk waktu dekat.”

    Dina mengangguk dan kedua wanita ini saling berpelukan. Lalu mata mereka saling bertemu dan gairah kembali menyala. Kiki menatap bibir Dina, yang hanya beberapa senti dari bibirnya, basah dan sedikit terbuka. Untuk beberapa saat yang Kiki inginkan sepenuhnya adalah merasakan bibir lembut itu pada bibirnya. Ciuman yang akan terjadi secara natural.

    Dan waktu berlalu lalu kedua wanita ini tertawa sendiri. “Ku telpon nanti,” kata Dina, keluar dari mobil dan berlari kecil menuju pintu depan apartemennya.

    Hendra menelpon dari hp tak lama setelah Anggie tiba dari apartemen Dina.

    “Apa aku membangunkanmu, sayang?” tanyanya. Sekarang baru jam 7 pagi.

    “Nggak. Aku sudah bangun dari tadi. Nggak bisa tidur semalam.”

    “Maafkan aku. Apa kamu sakit?”

    “Nggak… hanya butuh istirahat saja.”

    “Menyenangkan nggak sama adikku dan teman-temannya?”

    “Yah,” jawabnya, wajahnya memerah oleh rasa bersalah. “Aku senang kamu sudah memaksaku untuk pergi.”


    “Oh, aku nggak menyuruhmu melakukan apapun,” dia tertawa. Wajah Kiki sedikit merona. “Tapi aku senang kamu bisa menikmatinya. Mungkin kamu bisa keluar lebih sering lagi, sekarang kamu sudah menemukan kesenangan lain di luar rumah.” Oh, ironis.

    “Mungkin,” jawabnya dengan pikiran jauh berada entah dimana. “Tapi ku rasa perjalanannya sedikit terlalu jauh jaraknya.”

    “Ya, aku tahu maksudmu.” Dalam jedanya sejenak, yang memenuhi pikirannya hanyalah kenikmatan dari pesta seks yang telah dialaminya, dan bagaimana dia tidak akan mengulanginya lagi, tak akan pernah. “Hey, Kiki, coba tebak?”

    “Apa?”

    “Ini adalah perjalanan dinas ke luar kotaku yang terakhir kalinya!”

    “Benarkah?” Oh ku mohon, ya!

    “Benar. Aku katakan pada mereka kalau perjalanan-perjalanan dinas itu benar benar membuatku kecapaian. Ku katakan pada mereka aku akan berhenti dan keluar kalau mereka mengirimku ke luar kota lagi.”

    “Dan?”

    Dia tertawa. “Aku berhenti.”

  • Foto Ngentot anal pakai kondom dengan Perempuan Latina

    Foto Ngentot anal pakai kondom dengan Perempuan Latina


    2190 views

    Duniabola99.com – foto cewek pirang sexy pantat bahenol memek pink ngentot anal pakai kondom dengan pria berkontol gede.

  • Foto Bugil Jenna Sativa melepas legging ketat dari kulit

    Foto Bugil Jenna Sativa melepas legging ketat dari kulit


    2448 views

    Duniabola99.com – foto cewek cantik beramput pendek Jenna Sativa melepas celana yoga ketatnya dan baju yang ketat menampakkan toketnya yang gede dan memamerkan memeknya yang berbulu lebat tidak dicukur.

    Kumpulan Foto Cewek Cantik Spesialis Penghibur, Koleksi Foto Cewek Cantik di Google Plus, Foto Foto Cewek Cantik YouTube, Foto cewek cantik Facebook, Foto Cewek cantik Instagram, koleksi foto gadis cantik, Kumpulan Foto Cewek Cantik Imut dan Manis 2019, Para Gadis Cantik dan Seksi di Indonesia, Gadis cantik berkerudung,

  • Video Bokep Asia cewek jepang pijit plus plus ngentot hot

    Video Bokep Asia cewek jepang pijit plus plus ngentot hot


    2614 views