
Duniabola99.com – foto para mahasiswa yang lagi berpesta berakhit dengan melakukan pesata sex ngentot threesome dan menembakkan semua spermanya ke toket yang gede. agen sbobet terpercaya


Duniabola99.com – foto para mahasiswa yang lagi berpesta berakhit dengan melakukan pesata sex ngentot threesome dan menembakkan semua spermanya ke toket yang gede. agen sbobet terpercaya


Duniabola99.com – foto cewek kaca mata kutu buku mastrubasi meraba memeknya diatas sofa dan mencolokkan jarinya kedalam lobang memeknya hingga becek dan puas maximal dan terbaring gak bisa bergerak.

Cerita Sex ini berjudul ” Pembantu Muda Yang Panass ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Cerita Sex – Sebulan ini kami kerepotan soalnya yang biasanya membersihkan rumah pulang kampung, aku telepon dia untuk balik lagi kesini katanya sudah tidak bisa karena dia menjaga orang tuanya yang sudah tua di kampungnya, sedikit pusing juga tidak ada pembantu dirumah.
Tapi memang nasib sedang mujur atau beruntung tak lama kemudian satu hari orang tua mendapatkan penggantinya, sebut saja nama Sania dia berasal dari desa Jawa tengah dia tamatan SD wajahnya yang lugu tapi memberi khas wajah desa yang oriental di usianya yang masih 18 tahun wajahnya begitu cantik.
Awalnya istri aku tidak setuju akan pembantu ini karena dia tau kalau suaminya kadang kumat menjelma menjadi buaya darat hehe, tapi dengan segala cara aku meyakinkan istriku dengan berbagai alasan yang masuk akal.
Pembantu Muda Yang Panass Sudah sebulan Sania menjadi pembantu dirumah aku, dia cukup gesit melakukan semua pekerjaannya dari ngepel, mencuci pakain, membantu memasak dan lain sebagainya, hampir satu minggu ini aku amati terus pekerjaan sungguh teliti dia jika melakukan sesuatunya, tapi lama kelamanaan wajah Sania semakin cantik.
Sehingga aku melihat bodynya yang seksi bibirnya yang sensual, dagunya yang lancip membuat aku betah dirumah, saat itu di bulan Agustus 2015 tepatnya hari Sabtu karena memang di kerjaanku kalau sabtu dan minggu libur aku sengaja unutk bangun ebih awal dari hari sebelumnya, dan istriku kalau hari sabtu belum tentu libur karena dia bekerja di bidang jasa.
Aku putuskan untuk langsung mandi biar fresh aku baru ingat kalau uair PAM di tempat ku ini sudah empat hari ini mati, yang biasanya aku mandi di kamar mandi dalam terpaksa aku mandi di kamar mandi satunya, saat keluar dari kamar aku mendengar suara air yang mengacur siapa lagi kalau bukan Sania, ceritasexdewasa.org dia sedang mandi di belakang penampungan air PAM.
Kamar mandi ke dua pun aku lihat ternyata belum ada airnya jadi aku terus berjalan menuju dapur untuk mendidihkan air untuk membuat kopi biar segar, karena letak dapur dan penampunga air pam bersebelahan hanya terutup pintu aku iseng aja unutk mengintip Sania yang sedang mandi dan Waooooww tubuhnya bugil telanjang.
Tak disangka dia sedang asyk menyabuni tubuhnya aku lihat payudaranya yang tidak begitu besar tai menantang terlihat putingnya yang coklat masih keras dan kencang membikin rodalku yang di dalam celana langsung menunjukan kejantananya. Agen Poker
Sayangnya karena dia mandinya jongkok, meqinya nggak begitu keliatan bro, selesai mandi doi pakai handuk sambil deg-deg an takut ketahuan Aku keluar dari dapur menuju ruang tamu dan tanpa sepengetahuan doi.
Aku ikutin dari belakang menuju kamarnya, dan Aku intip lagi ohh… ternyata dia punya kebiasaan kalo mo Subuhan gak pake apa-apa cuma jubah luar aja(tau kan maksud Aku) yg nutupin seluruh badannya.
Pagi hari itu juga Aku gak nahan, sambil ngebayangin si Sania, Aku paksa istri Aku ngelayanin sampai 2 kali hahaha …gak kuat bro.
Pembantu Muda Yang Panass Hari-hari selanjutnya Aku jadi rajin bangun pagi dan walau PAM udah lancar lagi, tp Aku masih bisa ngintip Sania dikamarnya sehabis dia mandi.
Kebiasaan ngintip itu, bikin menambah ngeres otak Aku, dan keinginan mo menyetubuhi Sania makin bertambah besar.
Hari itu mungkin hari Naas bagi Sania, tp hari beruntung buat Aku bro… hari itu hari Minggu pagi buta, Bini Aku sepulang kerja hari sabtu ada acara di kantornya sampai malam, akhirnya bilang nggak pulang ke rumah, dia pulang ke rumah orang tuanya yang nggak begitu jauh dari kantornya.
Kesempatan neh, setan & iblis mulai main-main di otak Aku. seperti biasa, Sania bangun pagi terus langsung mandi, kali ini Aku nggak ngintip dia mandi.
Tapi langsung masuk ke kamarnya, sambil deg-deg an nunggu dia selesai mandi yang ditunggu akhirnya datang juga…(kayak acara di TV ). pas dia lagi buka handuk tanpa bra bre bro lagi dengan tenaga yang dipinjemin setan, Aku langsung peluk dan Aku cium, doi gelagepan dan tentunya kaget bukan kepalang.
“hhp..hppp” Sania berusaha untuk berontak tapi tau sendiri Setan ma Iblis udah nurunin ilmunya ma Aku, jadi doi gak bisa apa2 hehehe, mula-mula Sania Aku ancam, bahwa Aku udah punya photo bugilnya dan akan Aku sebarin ke kampungnya kalo dia nggak mau diem (padahal sih bohong, mana berani Aku moto doi, ketahuan bini berabe hehehe…) dan juga Aku ancam kalo dia gak mo nurut Aku bisa keras ma dia, dan Aku janji kalo dia nurut Aku akan tambah gajinya, akhirnya dengan terpaksa doi Nurut.
Pembantu Muda Yang Panass
“Pak… saya mau diapain”
“sttt diem aja … pokoknya kamu taunya enak..”
“Jangan perkosa saya pak!” kata Sania memelas
“Siapa yang mau perkosa kamu, saya nggak akan perkosa kamu kok…saya cuma pengen cium aja”kata Aku untuk berusaha nenangin dia.
Karena Aku udah yakin Sania gak berontak lagi, mulai bibir Aku yang dari tadi melahap ganas bibirnya, menjelajah kesekitar buah dadanya yang putih mulus dan bagai buah mangga mengkel itu.
Sekitar agak lama juga Aku nyiumin dan menghisap buah dada dan putingnya Sania, sambil tangan Aku membelai belai lembut bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat.
“Pak.. jangan pak… saya belum pernah begini” ujar Sania, walau begitu tubuhnya mulai bereaksi.
“Udah tenang aja gak papa kok…” jari tanganku mulai masuk pelan-pelan di sekitar bibir vaginanya puting susunya bertambah tegang.
“Pakk..jangannn.” namun tanngannya berkata lain, tangannya memegangi kepalaku yang asyik menyedot dan memainkan putting susunya, seakan didekapnya, tidak mau dilepaskan
Setelah puas dengan buah dadanya aku dorong dia ke tempat tidur dan mulailah menjelajah vaginanya uhh.. bersih bro vaginanya (ye..abis mandi, gimana gak bersih. dengan gemas Aku lahap dan Aku isep bibir meqinya, kadang Aku sedot. Sania meracau gak jelas
“ehmmm pakk…teruss..pak” sudah banyak cairan bening memenuhi rongga meqinya, dan lidah Aku terus bermain di dalam meqinya sambil tangan Aku berusaha untuk membuka celana Aku sendiri.
Mr. P Aku udah tegang dari tadi, setelah Aku lihat Sania udah horny banget, pelan pelan Aku pasang pengaman di Mr. P Aku dan Aku tempelin Mr.P Aku ke Miss V nya perlahan-lahan Aku masukin, ternyata walau udah banyak cairan susah juga Bro…maklum perawan hehehe…, kirain reaksi Sania nggak mau, ternyata karena udah horny kali ya, dia malah Bantu ngepasin Punya Aku ke Ms. V nya.
“Pak…sakit pak, perihh…”
“iya sakit sedikit, ntar juga enaknya banyak”
Pembantu Muda Yang Panass Akhirnya dengan perjuangan keras bobollah keperawanan Sania, beserta lumatan bibir Aku ke bibirnya yang seksi itu, Mr. P Aku maju mundur tak kenal lelah,
“Gimana sekarang udah enak kan?”
“Hhee.. ehh….”
Beberapa menit kemudian. Agen Poker
“Pak .. eh.. Pak….saya…saya mau Pipis “ sambil merem melek akhirnya kakinya mengejang dan tangannya mencegkeram pundak Aku keras banget.
Sania mencapai orgasme, mungkin untuk yang pertama kalinya. Dan Aku lihat dia lemas, tapi Aku gak perduli Aku kocok terus Mr. P Aku di dalam meqinya yang udah banyak cairan bercampur darah.
“Ampun pak…ampunn…Sania capek”
“Sebentar lagi sayang…” nggak sadar Aku ngomong sayang biasanya cuam ke bini,
Tidak lama berselang Aku juga mencapai Orgasme.
“Surt… Bapak juga dah mau keluar nehhh…”
“Ehmmm… crot..crot”
Seluruh badan Aku lemas, dan Aku rebah disamping Sania yang kelihatan menangis.
“Pak… Sania takut nih”
“Tenang…kamu gak bakalan hamil kok, dan nggak bakalan ada yang tahu…”
Hari berganti hari, perbuatan kayak gini Aku ulang setiap ada kesempatan dan Sania dengan rela sekarang ngelayanin Aku, dan yang pasti Aku selalu siap pakai pengaman demi keamanan Rumah tangga Aku juga tentunya.
Gaji yang Aku janjiin juga nggak lupa Aku tepatin, jadi lah Sania pengasuh yang multi fungsi, bisa ngasuh anaknya dan Bapaknya.
cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,


Duniabola99.com – Nama saya adalah Tohir, seorang anak smu yang doyan banget nge-seks dan jilatin memek seorang cewek. Aq punya adik cewek yang namanya Fina angelina. Aku dan adikku adalah anak orang kaya. Jika aku kelas 3 Smu, fina adikku saat ini duduk di kelas 3 smp mau lulus.
Fina di sekolahny termasuk gadis, cewek yang sangat populer karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Aq sebagai seorang kakaknya selalu membayangkan jika adikku yang manis dan cantik itu aku setubuhi sendiri. Pasti kontolku bakalan nut-nutan.
Singkat kata, adikku fina memang seorang gadis yang sangat cantik dan merupakan kebanggaan orang tuaku. Selain itu dia juga sangat pandai membawa diri di hadapan orang lain sehingga semua orang menyukainya. Namun di balik semua itu, sang “putri” ini sebetulnya tidaklah perfect. Kepribadiannya yang manis ternyata hanya topeng belaka. Di dunia ini, hanya aku, kakak laki-lakinya, yang tahu akan kepribadiannya yang sesungguhnya.
Kedua orang tuaku yang sering keluar kota untuk berbisnis selalu menitipkan rumah dan adikku kepadaku. Tapi mereka tidak tahu kalau aku kesulitan untuk mengendalikan adikku yang bandelnya bukan main. Di hadapanku, dia selalu bersikap membangkang dan seenaknya. Bila aku berkata A, maka dia akan melakukan hal yang sebaliknya. Pokoknya aku sungguh kewalahan untuk menanganinya.
Suatu hari, semuanya berubah drastic. Hari itu adalah hari Sabtu yang tak akan terlupakan dalam hidupku. Pada akhir minggu itu, seperti biasanya kedua orang tuaku sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Mereka akan kembali minggu depannya. Kebetulan, aku dan adikku juga sedang liburan panjang. Sebetulnya kami ingin ikut dengan orang tua kami keluar kota, tapi orang tuaku melarang kami ikut dengan alasan tak ingin kami mengganggu urusan bisnis mereka. Biarpun adikku kelihatan menurut, tapi aku tahu kalau dia sangat kesal di hatinya. Setelah mereka pergi, aku mencoba untuk menghiburnya dengan mengajaknya nonton DVD baru yang kubeli yaitu Harry Potter and the Order of Pheonix. Tapi kebaikanku dibalas dengan air tuba. Bukan saja dia tidak menerima kebaikanku, bahkan dia membanting pintu kamarnya di depan hidungku.
Inilah penghinaan terakhir yang bisa kuterima. Akupun menonton DVD sendirian di ruang tamu. Tapi pikiranku tidaklah focus ke film, melainkan bagaimana caranya membalas perbuatan adikku. Di rumah memang cuma ada kami berdua. Orang tua kami berpendapat bahwa kami tidak memerlukan pembantu dengan alasan untuk melatih tanggung jawab di keluarga kami. Selintas pikiran ngawur pun melintas di benakku. Aku bermaksud untuk menyelinap ke kamar adikku nanti malam dan memfoto tubuh telanjangnya waktu tidur dan menggunakannya untuk memaksa adikku agar menjadi adik yang penurut.
Malam itu, jam menunjukan pukul sebelas malam. Aku pun mengedap di depan pintu kamar adikku. Daun telingaku menempel di pintu untuk memastikan apa adikku sudah tertidur. Ternyata tidak ada suara TV ataupun radio di kamarnya. Memang biasanya adikku ini kalau hatinya sedang mengkal, akan segera pergi tidur lebih awal. Akupun menggunakan keahlianku sebagai mahasiswa jurusan teknik untuk membuka kunci pintu kamar adikku. Kebetulan aku memang mempunyai kit untuk itu yang kubeli waktu sedang tour ke luar negeri. Di tanganku aku mempunyai sebuah kamera digital.
Di kamar adikku, lampu masih terang karena dia memang tidak berani tidur dalam kegelapan. Akupun berjalan perlahan menuju tempat tidurnya. Ternyata malam itu dia tidur pulas terlentang dengan mengenakan daster putih. Tanganku bergerak perlahan dan gemetar menyingkap dasternya ke atas. Dia diam saja tidak bergerak dan napasnya masih halus dan teratur. Ternyata dia memakai celana dalam warna putih dan bergambar bunga mawar. Pahanya begitu mulus dan aku pun bisa melihat ada bulu-bulu halus menyembul keluar di sekitar daerah vaginanya yang tertutup celana dalamnya.
Kemudian aku menggunakan gunting dan menggunting dasternya sehingga akhirnya bagian payudaranya terlihat. Di luar dugaanku, ternyata dia tidak mengenakan kutang. Payudaranya tidak begitu besar, mungkin ukuran A, tapi lekukannya sungguh indah dan menantang. Jakunku bergerak naik turun dan akupun menelan ludah melihat pemandangan paling indah dalam hidupku. Kemudian dengan gemetar dan hati-hati, aku pun membuka celana dalamnya. Adikku masih tertidur pulas.
Pemandangan indah segera terpampang di hadapanku. Sebuah hutan kecil yang tidak begitu lebat terhampar di depan mataku. Sangking terpesonanya, aku hanya bisa berdiri untuk sekian lamanya memandang dengan kamera di tanganku. Aku lupa akan maksud kedatanganku kemari. Sebuah pikiran setanpun melintas, kenapa aku harus puas hanya dengan memotret tubuh adikku. Apakah aku harus mensia-siakan kesempatan satu kali ini dalam hidupku? Apalagi aku masih perjaka ting-ting. Tapi kesadaran lain juga muncul di benakku, dia adalah adik kandungku., For God Sake. Kedua kekuatan kebajikan dan kejahatan berkecamuk di pikiranku
Akhirnya, karena pikiranku tidak bisa memutuskan, maka aku membiarkan “adik laki-lakiku” di selangkangku memutuskan. Ternyata beliau sudah tegang siap perang. Manusia boleh berencana, tapi iblislah yang menentukan. Kemudian aku meletakan kamera di meja. Aku pun menggunakan kain daster yang sudah koyak untuk mengikat tangan adikku ke tempat tidur. Sengaja aku membiarkan kakinya bebas agar tidak menghalangi permainan setan yang akan segera kulakukan. Adikku masih juga tidak sadar kalau bahaya besar sudah mengancamnya. Aku pun segera membuka bajuku dan celanaku hingga telanjang bulat.
Kemudian aku menundukan mukaku ke daerah selangkangan adikku. Ternyata daerah itu sangat harum, kelihatan kalau adikku ini sangat menjaga kebersihan tubuhnya. Kemudian aku pun mulai menjilati daerah lipatan dan klitoris adikku. Adikku masih tertidur pulas, tapi setelah beberapa lama, napasnya sudah mulai memburu. Semakin lama, vagina adikku semakin basah dan merekah. Aku sudah tak tahan lagi dan mengarahkan moncong meriamku ke lubang kenikmatan terlarang itu. Kedua tanganku memegang pergelangan kaki adikku dan membukanya lebar-lebar.
Ujung kepala penisku sudah menempel di bibir vagina adikku. Sejenak, aku ragu-ragu untuk melakukannya. Tapi aku segera menggelengkan kepalaku dan membuang jauh keraguanku. Dengan sebuah sentakan aku mendorong pantatku maju ke depan dan penisku menembus masuk vagina yang masih sangat rapat namun basah itu. Sebuah teriakan nyaring bergema di kamar,” Aaaggh, aduh….uuuhh, KAK ADI, APA YANG KAULAKUKAN??” Adikku terbangun dan menjerit melihatku berada di atas tubuhnya dan menindihnya. Muka adikku pucat pasi ketakutan dan menahan rasa sakit yang luar biasa.
Matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan pinggulnya bergerak-gerak menahan rasa sakit. Tangannya berguncang mencoba melepaskan diri. Begitu juga kakinya mencoba melepaskan diri dari pegangannku. Namun semua upaya itu tidak berhasil. Aku tidak berani berlama-lama menatap matanya, khawatir kalau aku akan berubah pikiran. Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah selangkangan. Ternyata vagina adikku mengeluarkan darah, darah keperawanan.
Aku tidak menghiraukan semua itu karena sebuah kenikmatan yang belum pernah kurasakan dalam hidupku menyerangku. Penisku yang bercokol di dalam vagina adikku merasakan rasa panas dan kontraksi otot vagina adikku. Rasanya seperti disedot oleh sebuah vakum cleaner. Aku pun segera menggerakan pinggulku dan memompa tubuh adikku. Adikku menangis dan menjerit:” Aduhh..aahh..uuhh..am..pun..ka k…lep..as..kan..pana ss…sakitt!!” “Kak..Adii..mengo..uuhh..yak.. aduh…tubuhku!!! ” Aku tidak tahan dengan rengekan adikku, karena itu aku segera menggunakan celana dalam adikku untuk menyumpal mulutnya sehingga yang terdengar hanya suara Ughh..Ahhh.
Setelah sekitar lima belas menit, adikku tidak meronta lagi hanya menangis dan mengeluh kesakitan. Darah masih berkucuran di sekitar vaginanya tapi tidak sederas tadi lagi. Aku sendiri memeramkan mata merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku semakin cepat menggerakan pinggulku karena aku merasa akan segera mencapai klimaksnya. Sesekali tanganku menampar pantat adikku agar dia menggoyangkan pinggulnya sambil berkata:’ Who is your Daddy?” Sebuah dilema muncul di pikiranku. Haruskah aku menembak di dalam rahim adikku atau di luar? Aku tahu kalau aku ingin melakukannya di dalam, tapi bagaimana bila adikku hamil? Ahh… biarlah itu urusan nanti, apalagi aku tahu di mana ibuku menyimpan pil KBnya. Tiga menit kemudian..crott..crottt..akupu n menembakan cairan hangat di dalam rahim adikku. Keringat membasahi kedua tubuh kami dan darah keperawanan adikku membasahi selangkangan kami dan sprei tempat tidur
Aku membiarkan penisku di dalam vagina adikku selama beberapa menit. Kemudian setelah puas, aku mencabut keluar penisku dan tidur terlentang di samping adikku. Aku kemudian membebaskan tangan adikku dan membuka sumpalan mulutnya. Kedua tanganku bersiap untuk menerima amukan kemarahannya. Namun di luar dugaanku, dia tidak menyerangku. Adikku hanya diam membisu seribu bahasa dan masih menangis. Posisinya masih tidur dan hanya punggungnya yang mengadapku. Aku melihat tangannya menutup dadanya dan tangan lainnya menutup vaginanya. Dia masih menangis tersedu-sedu.
Setelah semua kepuasanku tersalurkan, baru sekarang aku bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya. Semua kejadian ini di luar rencanaku. Aku sekarang sangat ketakutan membayangkan bagaimana kalau orang tuaku tahu. Hidupku bisa berakhir di penjara. Kemudian pandangan mataku berhenti di kamera. Sebuah ide jenius muncul di pikiranku. Aku mengambil kameranya dan segera memfoto tubuh telanjang adikku. Adikku melihat perbuatanku dan bertanya: ”Kak Adi, Apa yang kau lakukan? Hentikan, masih belum cukupkah perbuatan setanmu malam ini? Hentikan…” Tangannya bergerak berusaha merebut kameraku. Namun aku sudah memperkirakan ini dan lebih sigap. Karena tenagaku lebih besar, aku berhasi menjauhkan kameranya dari jangkauannya. Aku mencabut keluar memori card dari kameranya dan berkata: “Kalau kamu tidak mau foto ini tersebar di website sekolahmu, kejadian malam ini harus dirahasiakan dari semua orang. Kamu juga harus menuruti perintah kakakmu ini mulai sekarang.”
Wajah adikku pucat pasi, dan air mata masih berlinang di pipinya. Kemudian dengan lemah dia mengganggukkan kepalanya. Sebuah perasaan ibaratnya telah memenangi piala dunia, bersemayam di dadaku. Aku tahu, kalau mulai malam itu aku telah menaklukan adikku yang bandel ini. Kemudian aku memerintahkan dia untuk membereskan ruangan kamarnya dan menyingkirkan sprei bernoda darah dan potongan dasternya yang koyak. Selain itu aku segera menyuruhnya meminum pil KB yang kudapat dari lemari obat ibuku. Terakhir aku menyuruhnya mandi membersihkan badan, tentu saja bersamaku. Aku menyuruhnya untuk menggunakan jari-jari lentiknya untuk membersihkan penisku dengan lembut.
Malam itu, aku telah memenangkan pertempuran. Selama seminggu kepergian orang tuaku, aku selalu meniduri adikku di setiap kesempatan yang ada. Pada hari keempat, adikku sudah terbiasa dan tidak lagi menolakku biarpun dia masih kelihatan sedih dan tertekan setiap kali kita bercinta. Aku juga memerintahkannya untuk membersihkan rumah dan memasakan makanan kesukaanku. Aku juga memberi tugas baru untuk mulut mungil adikku dengan bibirnya yang merah merekah. Setiap malam selama seminggu ketika aku menonton TV, aku menyuruh adikku untuk memberi oral seks. Dan aku selalu menyemprotkan spermaku ke dalam mulutnya dan menyuruhnya untuk menelannya.
Sejak itu, setiap kali ada kesempatan, aku selalu meniduri adikku. Tentu saja kami mempraktekan safe sex dengan kondom dan pil. Setelah dia lulus SMA, kami masih melakukannya, bahkan sekarang dia sudah menikmati permainan kami. Terkadang, dia sendiri yang datang memintanya. Ketika dia lulus SMA, aku yang sekarang sudah bekerja di sebuah bank bonafid dipindahkan ke Jakarta. Aku meminta orang tuaku untuk mengijinkan adikku kuliah di Jakarta. Tentu saja aku beralasan bahwa aku akan menjaganya agar adikku tidak terseret dalam pergaulan bebas. Orang tuaku setuju dan adikku juga pasrah.

Cerita Sex ini berjudul ” Selingan Ranjangku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2018.

Duniabola99.com – Kota Denpasar mungkin bukan hanya sebagian yg menjadi lokasi wisata, namun sebagai ibukota provinsi yg penuh dengan kantor pemerintahan dan perusahaan maka jalanan akan selalu ramai dan macet. banyak sepeda motor bersliweran dan para tour operator yg kadang naiknya tidak tertib menjadi jalanan semakin macet dan tak nyaman. apalagi pada saat jam pulang kantor, dimana para tour operator memulangkan clientnya ke hotel, orang kantoran pulang kerja dan selain itu transisi bagi para orang yg ingin menikmati suasana malam.
Aku duduk di kursi kemudiku mobil buatan Jerman ini, sambil mendengarkan lagu dari Jennifer Lopez yg On the Floor yg jinglenya seperti Sari Roti. sebagai seorang kepada bagian banyak yg menawariku untuk diberi fasilitas sopir agar aku tak terlalu capek dibelakang kemudi. namun tujuanku beli mobil ini aku ingin merasakan tenaganya dan kenyamanannya dibelakang kemudi, walau tenaga mobil ini tidak bisa kukeluarkan dengan maksimal karena kondisi jalanan yg selalu ramai dan harus selalu waspada. berjibaku di belakang kemudi selama hampir 30 menit menembus keramaian kota, akhirnya aku tiba dirumah dengan wajah super lelah.
“Hai mas, teh atau kopi?”, ujar istriku menyambut kedatanganku sambil bersalaman dan dia mencium tanganku.
“Teh aja yang, jangan manis-manis ya, minumnya sambil ngeliatin kamu soalnya”, ujarku dengan wajah datar.
“Capek masih bisa ngegombal ya”, balasnya sambil membuatkanku teh panas.
“Iya dong, anak-anak mana?”, tanyaku.
“Itu lagi main di taman sebelah”, ujarnya sambil melihat melalui jendela, “ada cerita apa hari ini?”, lanjut dia.
“Gak ada yang, biasa tadi rapat dengan PNS, huuh makanya capek, mereka susah nangkep maksud planning kita jangka panjang, malah minta persenan. sama-sama pegawai pemerintahan kok gitu, mainnya korup”, terangku kesal sambil membuka lembaran koran di meja makan.
“Haha udah biasa toh mereka gitu”, balas istriku yg berdiri dibelakangku sambil menciumi kepalaku.
Setelah kami berdua ngobrol di meja makan sambil minum teh, akhirnya anak-anakku datang dan memberiku salam.
“Papah..”, teriak kedua anakku.
“Abis dari mana?”, tanyaku pada mereka sambil memberi senyuman.
“Abis main di taman sebelah rumah Zaki”, ujar anakku yg tertua.
Lalu mereka lanjut bermain di depan TV, enak ya jadi anak-anak yg ada hanya bermain dan main, belum pusing ngurus rumah tangga, kerja, finansial dan lain-lain. istriku mempersilahkan aku untuk mandi duluan dan mengambil pakaian yg aku pakai tadi siang untuk di cuci. aku sungguh bersyukur memiliki istri yg pandai mengurusku dan urusan rumah selalu beres saat aku sibuk dengan pekerjaan.
Setelah semua selesai dengan mandi dan makan malam, kami berempat duduk bersama di depan TV. anak tertuaku sedang dibantu oleh Bella mengerjakan PR nya, sedangkan anak yg kecil berada di sebelahku bermain dengan Lego. dan aku duduk manis sambil membuka email dan membalasnya yg belum sempat aku lakukan saat di kantor.
“Eh yang, kamu tadi senam Zumba ya”, ujarku memecah keheningan sambil mata tetap fokus pada laptop.
“Ih gimana sih mas, besok aku senamnya, dan jumat aku arisan”, ujarnya dengan sedikit gemas karena aku sering lupa waktu.
“Oh iya haha maap”, balasku.
Selama disini kegiatan istriku hanya senam, arisan dan ngurus rumah tangga. teman arisan ini juga teman Zumbanya, yg sesama perantuan dan jumlahnya katanya hanya 6 orang. menurutku kalau hanya berenam bukan arisan, tapi ngerumpi.
“Maaah, udah jam 9, adik ngantuk”, ujar anakku yg kecil.
“Kakak udah ya nonton TV nya, ayok tidur, mamah temenin”, ujar istriku yg lalu beranjak dan mengantar kedua anakku ke kamarnya, aku masih saja fokus pada laptopku. kadang aku berpikir, kapan mereka bisa pisah, aku tak ingin kedua anakku memiliki hubungan diluar batas seperti pada kisah Rendy dengan Novita, yaitu kakaknya. mungkin kalau sudah berani, mereka akan segera aku pisahkan kamarnya.
“Mas, masih kerja?”, ujar istriku yg duduk dan bersender disebelahku sambil melihat aktifitasku di depan laptop.
“Hmm lumayan sih, kenapa sayang?”, balasku sambil mengarahkan pandang padanya.
“Gapapa, pengin gangguin kamu aja haha”, balasnya dengan genit. rambut dia yg lurus seleher membuatnya semakin cantik, namun saat dia berkerudung akan jauh lebih cantik dan anggun.
“Huuu sukanya”, balasku sambil mencubit pipinya.
“Kan kita bisanya mersa kalau anak-anak udah tidur mas”, ujarnya sambil memelukku.
“Iya sayang, udah ini aku tutup laptopnya”, ujarku sambil berberes di meja laptopku yg pendek ini.
Lalu kami berdua duduk didepan TV sambil ngobrolin hal ringan, tanpa gangguan HP dan gadget, benar-benar quality time dengan istri. aku senang dengan cara istriku yg saat kami berdua ngobrol bisa fokus dan tidak terganggu oleh gadget. tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 11. dimana beso pagi aku harus kembali ke kantor pada pukul 9, seperti biasa.
“Mau ke kamar yang? udah jam segini”, ajakku padanya.
“Yuuk, gendong!”, balasnya dengan manja.
Seperti saat jaman menikah pertama, aku sering menggendongnya untuk kubawa ke kamar, setelah menikah hingga 2 anak, masih aja mintanya sama. kebahagiaan yg tak bisa dibayar atau diganti dengan apapun. dengan posisi Bella digendong dipunggungku maka dia perlu naik keatas sofa untuk itu. dengan badan dia yg proporsional bukan jadi masalah buatku untuk menggendongnya. setelah aku jatuhkan dia di kasur, aku kembali berjalan untuk mengganti lampu kamar menjadi remang, dan dia senyum-senyum diatas kasur menyaksikanku.
“Ih kenapa ini senyum-senyum, mau ngajak ena-ena ya”, tanyaku sambil berbaring di sebelahnya sambil menjadikan dia gulingku.
“Hehe gapapa mas, kamu nggemesin”, balasnya sambil minta peluk aku.
“Yang, yuk yang hehe udah 4 hari nih gak main”, ajakku pada dia sambil sedikit menciumi lehernya.
“Ehhmmmm ngentot mas?”, tanya istriku.
“Iya dong hehhe”, balasku sambil meremasi susu istriku sendiri.
“Hmm aku sepong aja ya mas hehe itumu gede banget mas soalnya”, balas istriku sambil mengekspresikan mimik wajah nyeri, memang benar, kadang kalau pas aku bersemangat masuk pada gigi 5 dengan goyangan yg kencang, aku melihat istriku keenakan namun juga kesakitan kadang airmatanya sedikit keluar. entah kenapa istriku masih kurang menikmati yg mengakibatkan nyeri walau sudah lama menikah, apa mungkin ukuran yg kegedean. walau begitu, kami belum pernah konsultasi pada pakar seks, karena malu. namun banyak aku membaca melalui google bahwa kejadian seperti itu memang biasa saat pasangan kurang ikhlas atau kepikiran sesuatu yg membuatnya tak menikmati sehingga menjadikannya nyeri karena lubrikasi pada vagina yg tiba-tiba terhenti saat sedang panasnya.
“Bukannya yg gede yg enak ya yang, yauda deh disepong gapapa daripada kagak”, ujarku santai.
“Iya ii mas, kenapa ya, padahal aku ya berusaha menikmati, tapi ya karena entah kenapa jadi kaya gimana gitu, maaf ya suamiku”, ujarnya sambil memelukku.
Lalu tanpa membuang waktu aku langsung melepas celanaku dan istriku langsung meraih kontolku.
“Yaampun segede gini lho mas”, ujarnya sambil terus mengocok kontolku dengan pelan. sebelum kami mulai ritual, istriku kudekatkan pada bibirku untuk kulahap bibirnya.
“Smooocchhh cmooocchhh cmooooccchhhhh”, ciuman kami disertai dengan permainan lidah dan aku meraba badannya yg langsing. kami berdua bersilat lidah dengan cukup lama, bahkan nafas istriku mulai terengah engah saat ciuman kami berubah menjadi ciuman yg hot. aku harap istriku mengubah pikirannya dan ingin ngentot.
“Mas, bikin aku orgasme dong”, mintanya sambil wajah yg super sange.
“Ngentot ya sayang”, tanyaku.
“Ehmmm di kobel sama dijilat aja ya mas”, minta dia, walau sedikit kecewa namun tak apalah.
Lalu aku langsung berpindah posisi dan menarik celana istriku berserta dengan celana dalamnya dan terlihatlah vagina bersih tanpa bulu sedikitpun itu. kepalaku mendekat pada pangkal selangkangannya dan kujulurkan lidahku pada bibir vaginanya yg tipis tersebut, aroma khas sabun sirih membuatku semakin bernafsu.
“Sluuuuuuurrrrrpppppppppppppp”, aku menjilati bibir vagina istriku dari ujung bawah hingga ujung atasnya yg membuat dia klejotan tak karuan, bibir vagina yg sedikit terasa asin tak ku hiraukan selama bisa memberi kepuasan dan nafsu pada kami berdua.
“Awwwwwwhhhhhhh mass”, desah panjang istriku saat ujung lidahku mengenai klitorisnya. aku terus menjilati pada bagian itu, istriku hanya terdiam sambil klejotan, menahan desahnya dengan mengigit bibirnya sendiri dan tangannya memainkan payudaranya dari luar bajunya. terkadang tangannya mencengkram sprei saat aku sedang intens memberikan serangan pada alat vitalnya.
Cairan vaginanya turut keluar yg membantuku memainkan lidah semakin licin dan lihay. kedua kaki istriku terus bergerak-gerak untuk menghilangkan rasa geli yg menyerang tubuhnya. dia enggan mendesah kencang karena tepat kamar sebelah adalah kamar anak-anak. sejak memiliki anak kami terbiasa bermain senyap dengan desahan yg minimal. permainan senyap justru membuat semuanya semakin nikmat dengan saling melihat wajah yg sange namun menahan luapan nafsu yg seharusnya dikeluarkan menjadi sebuah desahan nikmat. istriku mengigit bibirnya sebelah bawah sambil terus mendesah ringah.
“Ssshhhh shhhhh hmmmm shhhhhh awhhhh shhhh stthhhmmm”
“Ahhhh mas Herii, enak banget sih mas”, desah dia sambil merancu tak jelas, “kalau udah capek gantian mas”, lanjutnya lembut disela-sela serangan lidahku.
“Pantang gantian sebelum kamu orgasme sayang”, balasku yg lalu memasukkan salah satu jariku kedalam vaginanya yg sudah sangat becek dan basah.
“Awwwhhhh massss, jangan pakai jari mas”, mintanya, namun tak ku hiraukan dan aku terus memainkan jariku berada di dalam rahimnya. jariku bergerak keluar masuk dan membentuk seperti pancing untuk menstimuli bagian atas rahimnya. istriku semakin klejotan bagaikan cacing yg terkena garam, tangannya berusaha menarik tanganku agar berhenti mengobok-obok vaginanya, namun tenaganya kalah denganku. kuperhatikan wajahnya semakin memerah dan matanya semakin sayu.
“AAHHHHH MAS ANDRRRRIIIIIIIWW AHHHWWHHHHHHH MASSSS”, teriak istriku yg sangat kencang diiringi dengan tubuh yg mengencang dan keenakan, diikuti dengan nafas yg berburu.
“Yanggg!! teriaknya kok gak diatur”, ujarku sambil tertawa.
“Abisnya kamu sih mas, ngobelnya gak aturan, langsung orgasme dong mas, kenceng banget ya teriakku, anak-anak bangun gak ya hahaha”, khawatirnya dengan anak kami terbangun, lalu istriku duduk sambil menyenderkan punggungnya pada tembok sebelah kasur dengan menutupi bagian bawahnya dengan selimut sembari mendengarkan jika ada suara tangis karena anak yg terbangun.
“Enggak deh kayanya”, balasku sambil konsentrasi mendengarkan.
Lalu istriku mendekat padaku yg berdiri di pinggir kasur, dia mulai memberiku blowjob dengan posisi seperti doggy style diatas kasur, bentuknya sungguh seksi. kontolku yg 18cm itu dia lahapnya dengan penuh penghayatan.
“Ehhhhmmmm ahhhhh enak banget yanggg”, ujarku sambil memejamkan mata.
Istriku bergerak maju dan mundur, lidahnya memainkan permainannya dengan lihai, membuatku merem melek keenakan. walau begitu, kontolku hanya bisa masuk separuh ke dalam mulutnya.
“Yang, dorong masuk terus hingga masuk mentok yang”, ujarku sambil memegangi kepalanya dan mendorongnya agar kontolku bisa masuk semua kedalam mulutnya. istriku berusaha memasukkan semua kontolku, yg sering disebut dengan deep throat.
“Uhuuuuk..uhuuuukkk..uhuuukkkk”, suara batuk istriku diiringi dengan dia mengeluarkan kontolku dari mulutnya dan ludahnya yg terkumpul keluar dari mulutnya. dari total panjang kontolku, hanya sepertiga yg bisa di telan, selain itu dia juga harus membuka mulutnya lebar-lebar untuk mengakomodasi lebar dan panjang penisku.
“Gak bisa mas, udah yg paling mentok tadi”, ujarnya sambil menatapku, lalu dia kembali memasukkan kontolku pada mulutnya. dia memainkannya dengan tempo cepat dibantu dengan tangan kanannya ngocokin bagian pangkal kontolku. aku hanya merem melek keenakan, dan membelai rambut istriku.
“Terus sayang aku bentar lagi mau keluar sayanggg”, ujarku sambil berbisik padanya dengan belaian yg lembut pada rambutnya. kontolku rasanya semakin mengencang dan ototku juga turut mengikutinya. istriku semakin bergerak dengan cepat.
“Ahhhh yanggg ahhhh aku mau keluar yanggggg”, aku mencengkram kepala istriku.
“Aahhkkkk sayanggggg ooowwhhhhh yangggggg awwhhhh croooooooot crooooooot crooooooot crooooooot croooooooooot”, semburan demi semburan keluar dari buah zakarku hingga rasanya tak ada yg tersisa, aku masih merem melek menikmati tiap tetes yg tersisa untuk terus keluar. bahkan saat aku sedang maksimal dalam memuncratkan cairan putih itu, istriku tetap menggerakkan tangannya maju mundur untuk mengeluarkan semua cairan pejuh.
Lalu dengan perlahan istriku mengeluarkan kontolku dari dalam mulutnya, dan dia menunjukkan betapa banyaknya pejuhku yg keluar dengan membuka mulutnya dihadapanku. lantas dia menutup mulutnya dan tersenyum, selanjutnya kembali menunjukkan bahwa pejuhnya sudah habis dia telan.
“Kamu gak bisa to mas, memberiku pas aja, selalu berlebihan, sperma sampai sebanyak itu, mulutku sampai penuh”, ujarnya sambil senyum.
“Itu tadi kamu telan semua”, aku masih tak percaya, karena istriku jarang mau menelan sperma.
“Iyaa mas, gurih ternyata”, balasnya sambil memunguti pakaian kami yg berserakan.
Secara reflek tanpa ada rasa jijik, aku langsung menundukkan kepalaku dan meraih bibirnya secara paksa karena istriku enggan aku cium setelah mulut kami saling menyentuh kelamin masing-masing.
“Smooocccchhhhhhh”, ciuman paksa aku yg berikan ke istri.
“Ihh mas, jangan mas, kan bibirku abis di kontolmu dan kena pejuh juga”, protes dia.
“Gapapa sayang, ciuman kasih sayang, ntar disangka aku jijik mencium kamu setelah memberikan nikmat padaku”, balasku padanya.
“Hihi iya deh mas Heri sayangku”, lanjutnya dengan malu-malu. lalu kami berdua berlanjut berciuman untuk sejenak dan saling memandangi satu dengan lainnya. betapa cantiknya istriku saat dia keadaan polos tanpa sehelai apapun yg menutupi tubuhnya ditambah wajah paska sange dan nafsu tinggi.
Setelah selesai dengan urusan nafsu kami, lalu kami merapikan kasur dan tidur. istriku tidur didalam pelukanku dengan wajah yg sangat cantik dan anggun, rasa syukur yg luar biasa aku bisa memiliki istri yg begitu cantik dan membanggakan. namun, walau aku puas dengan permainan tadi, tapi rasanya kurang puas jika gak dituntaskan dalam bentuk seks. aku jadi teringat kata Edo, katanya cewek suka dengan kontol yg gede, tapi kenapa sekarang sebaliknya.
Mungkin orang yg tau, bahwa keluarga Heri sangat harmonis, istri yg selalu disegani oleh para tetangga, aku yg sangat dihormati, siapa sangka kalau permainan ranjangnya kurang mencerminkan seperti yg orang lihat. tapi yaudalah, walau seks tak memuaskan, namun aku diberi kenikmatan yg lain yaitu, keluarga harmonis, ekonomi yg aman dan stabil, jabatan yg aman dan keluarga yg sehat. sudah saatnya tidur, aku besok harus kembali ke kantor.
Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Pasutri.

Foto Bokep Korea – Narasi Seks Dewasa Asyiknya Bercinta dengan Seorang Pramugari – Awalnya ada pula cerita cabul yang membuat birahi seksual anda segera naik berjudul Narasi Seks Terobsesi dengan Jalinan Sex Ayah dan Ibu. Cerita ini bermula dari perjumpaan Edi dan Wina di pesawat, yang kebenaran mereka berdua satu kursi. Singkat kata di saat itu merakpun jadi dekat, dan terjadi jalinan seks di antara Wina dan Edi di salah satunya hotel berkelas. Ingin tahu lanjutan ceritanya, Langsung saja yok baca dan baca baik baik narasi saat ini.

Sebutlah saja nama saya Edi, saya akan bercerita narasi sex-ku dengan seorang pramugari. Cerita ini bermula dari perkenalanku dengan Wina (nama rahasia), ia ialah seorang pramugari pada sebuah perusahaan penerbangan nasional. Peristiwa ini terjadi saat saya diperjalanan panjang dari Jakarta ke arah Jayapura.
narasi, seks, dewasa, terkini, 2024, narasi seks, narasi dewasa, narasi bercinta
Narasi Seks 2024 Waktu itu larut malam, saya berusaha keras sekedar untuk pejamkan mata, istirahat sesaat hilangkan mengantuk supaya bisa melakukan pekerjaan kantorku sesampai di kota tujuan. Bangku empuk berlapis kulit di kelas usaha tidak sanggup memberi kenyamanan yang kubutuhkan.
Walaupun begitu, bangku itu direncanakan untuk tempat duduk, bukan tempat untuk tiduran dan tidur. Akan lelap, saat kurasakan guncangan halus di atas kursiku. Seorang duduk menghempas dianya ke bangku kosong di sebelahku. Dengan cukup kecewa, kubuka mataku dan punya niat untuk memberinya teguran. Pandanganku terdiam pada sosok muka elok menarik, dengan matanya yang meskipun kelihatan mengantuk, masih tetap bening dan cantik. Seulas senyuman kelihatan di bibir imut yang merah, yang selanjutnya berbicara perlahan-lahan,
” Maafkan saya Bapak, karena sudah mengusik tidur Bapak … ”
Sekalian masih tetap melihat dan kagum pada kecantikannya, saya berbicara,
” Ah, tidak ada apa-apa. Saya belum tidur kok, ”
Selanjutnya kami bersalaman, lantas kudengar dia mengatakan namanya, yakni namanya Wina, Lenyap telah mengantukku. Ditambah lagi sesudah kutahu jika Wina ialah figur wanita yang menggembirakan sebagai rekan bercakap. Dia menceritakan mengenai sukai dukanya sebagai pramugari udara. Tangan dan jarinya yang lentik seolah menari-nari pada udara, ekspresikan ceritanya. Kadang-kadang dia sentuh tanganku, dan tidak malu untuk mencubitku jika kuganggu.
Sembunyi-sembunyi kupandangi dan kuperhatikan semua sisi badannya. Tingginya kuperkirakan sekitaran 167 cm, langsing dan benar-benar seimbang. Wina mempunyai tungkai kaki yang cantik prima. Kulitnya yang putih kontras dengan seragam warna birunya. Buah dadanya tidak besar, tapi kelihatan kuat melawan. Memikirkan dianya terlentang telanjang pada tempat tidur, membuat Penisku bangun, jadi membesar dan keras. Pikiran kotorku melayang-layang jauh.
Kebersama-samaan kami terusik oleh suara Kapten Pilot yang beritahukan jika pesawat akan landing di Biak, untuk isi bahan bakar dan penggantian awak kabin. Sesudah bersalaman dan sedikit basa basi, Wina lenyap dibalik gorden. Saya meneruskan istirahatku, sampai selanjutnya dibangunkan oleh pramugari udara lain, yang tawarkan makan pagi pagi.
Beberapa hari seterusnya di ibu-kota provinsi paling timur Indonesia itu, direpotkan oleh pekerjaanku sebagai Petugas Publikasi salah satunya program pemerintahan. Sebagai utusan Pusat , saya kerap diberlakukan seolah tamu agung, yang penting dihibur dan disanggupi semua keperluannya. Saya ditaruh di hotel A yang disebut hotel terbaik di kota tersebut. Sejumlah penawaran untuk menyiapkan rekan tidur kutolak dengan lembut. Saya takut terjangkit penyakit.
Waktu senggang di luar pekerjaan kuhabiskan secara jalan kaki keliling kota. Sesuatu rutinitas yang selalu kulakukan dalam tiap perjalanan, agar semakin mengenali wilayah baru. Kota Jayapura ada secara langsung di pinggir laut berair tenang. Saat malam hari, di sepanjang pinggir pantai bisa dijumpai beberapa warung yang jual masakan laut, langsung dimasak atau dibakar pada tempat. Sangat nikmat. Disitulah umumnya kuhabiskan malamku.
Di situ juga di suatu malam, saya berjumpa lagi dengan Wina yang tidak bekerja, bersama 2 rekan seprofesi. Wina langsung tawarkan untuk gabung, demikian melihatku tiba. Benar-benar menggembirakan ada di 3 gadis elok, walaupun dapat kupastikan jika kantongku akan terkuras untuk membayari mereka semua.
Panggilan Bapak saat di pesawat, beralih menjadi Mas sampai membuat malam itu makin dekat dan hangat. Dari perbincangan, kutahu jika mereka bertiga bermalam di hotel yang masih sama denganku. Usai makan, kami pisah. Di luar sangkaan, Wina ingin turut denganku nikmati malam sekalian jalan kaki.
Satu keinginan yang susah ditampik.
Kamipun jalan perlahan-lahan sekalian sama-sama tukar narasi dan bergurau.Angin pantai membuat Wina kedinginan. Kulepas jaketku, lantas kupasangkan di pundaknya. Kuberanikan diri merengkuh pundaknya, memberi kehangatan tambahan pada badannya yang cuma dilapis oleh kaos tipis warna merah. Wina tidak menghindari atau berusaha menampik, justru balas merengkuh pinggangku.
Saya bingung dengan gadis-gadis zaman sekarang ini. Makin gampang menjadi benar-benar dekat, dan memandang jika jalinan di antara pria dan wanita ialah biasa-biasa saja. Tidak lagi ada malu atau malu, meskipun saat perjumpaan yang relatif cepat. Kami jalan seperti dua pacar yang bermesraan. Tanganku terbawa oleh ujung rambutnya, dan kadang-kadang kurasakan kepalanya menyandarkan di bahuku.
Birahiku terpacu, otak kotorku memutar otak cari akal untuk membawa ketempat tidur di dalam kamar hotelku. Kelaminku merekah keras, membuatku merasakan tidak nyaman karena terjepit oleh ketatnya celana jeans yang kukenakan. Mulut kami berdua diam seribu basa, memberikan peluang untuk nikmati sentuhan kebersama-samaan dalam kesunyian. Langkah setiap langkah bawa kami masuk lobby hotel.
Kuajak Wina ke Coffee Shop, untuk nikmati satu cangkir minuman hangat sekalian nikmati musik hidup. Saya pilih tempat cukup di sudut, supaya tidak begitu mengundang perhatian orang. Kuperhatikan sekitar, sejumlah pasangan asyik berangkulan, dan sejumlah gadis berpembawaan seronok duduk sendiri. Berikut kemungkinan yang disebut oleh teman-kawanku sebagai “Ayam Menado “, saat sebelum saya pergi kemarin.
Tanganku masih tetap merengkuhnya, sedangkan Wina menyandar kepalanya di dadaku. Kurasakan kakinya bergoyang perlahan-lahan meng ikuti irama musik. Harum rambutnya membuatku ingin mencium kepalanya. Tetapi, apa dia akan geram ? Apa dia akan tersinggung ? Sejuta pertanyaan dan kekuatiran muncul pada pikiranku.
Sementara di lain sisi, otakku tetap terus berputar-putar cari akal untuk membawa ke kamarku malam hari ini. Jantungku berdebar-debar keras, sedangkan kelaminku makin bertambah besar dan keras. Musik dan situasi romantis tempat itu tak lagi menarik bagiku. Bagaimana dan bagaimana pertanyaan itu yang terus-terusan ada. Perlahan-lahan kucium ubun-ubun kepalanya, sekalian berbicara,
” Wina, telah malam, kita bobok yok … ”
Dia cuma menggangguk sekalian berdiri. Sesudah menuntaskan pembayaran, kami jalan ke arah lift. Tanganku tetap merengkuh pundaknya, meskipun dia tak lagi merengkuh pinggangku. Kutekan knop angka 3, untuk ke arah lantai di mana kamarku ada. Saya menyengaja tidak menanyakan di lantai berapakah dia tinggal, dan iapun diam saja.
Wina pun tidak berusaha untuk memencet tombol lain. Dalam hati saya bertanya, jangan-jangan kamarnya satu lantai dengan kamarku.
Sekalian menyender ke dinding lift, kutarik dia dan kusandarkan membelakangiku. Kupeluk dia dari belakang, sekalian kadang-kadang kucium rambut kepalanya. Jantungku berdetak makin cepat, sedangkan kelaminku makin sakit tertekan celana jeansku yang ketat. Semoga bokongnya yang pas melekat ke kelaminku tidak merasa kan ada suatu hal yang menjejal. Pikiranku tetap bertanya, mau…? tidak…? mau…? tidak…? sampai selanjutnya pintu lift terbuka. Sekalian terus ada dalam dekapanku, kubimbing ia ke arah kamarku.
Tidak ada perlawanan atau penampikan kurasakan. Setan yang ada dalam pikiranku menjerit suka. Malam hari ini bisa terjadi pergumulan birahi yang panas. Dalam hati saya punya niat untuk memberi kepuasan yang tidak tertahan kepadanya, seperti yang umum kuberikan dalam penjelajahan-petualangan cintaku, termasuk pada istriku tersayang. Demikian pintu terkunci, sekalian masih tetap berdiri kupeluk dan kucium bibirnya secara halus meskipun penuh gairah.
Wina membalas dengan tidak kalah garangnya. Lidah kami berjumpa, sama-sama berpagutan dan terkait. Kutelusuri geligi dan langit-langit mulutnya dengan lidahku yang lumayan panjang, kasar dan hangat.
Wina mendesah lirih, dan tangan kananku perlahan-lahan menyeka dan mencari punggungnya yang tetap terikat bajuya. Sementara jacketku telah lama terlontar jatuh. Dari leher, perlahan-lahan turun ke bawah, ke pinggang cari ujung kaos, lantas kembali lagi ke atas lewat bagian sisi dalam. Kurasakan kulit punggungnya benar-benar lembut dan mulus.
Itil V3
” Klik… “, Bunyi pengit lepas oleh tanganku yang sangat terbiasa sukses melepaskan pengait BRA-nya dengan berhati-hati.
Dengan ke-2 tangan, perlahan-lahan kutarik kaos itu ke atas sampai lepas sama sekalipun. Dengan perlahan-lahan dan berhati-hati, ke-2 tanganku selekasnya bergerilya mencari ke-2 pundaknya, pangkal lengannya, berpindah ke pinggang, perut, perlahan-lahan ke atas ke arah buah dadanya. Dalam pada itu, ke-2 tangannya sudah sukses buka Polo Shirt yang kukenakan. Tanganku hampir sampai ke buah dadanya, saat mendadak dia mendorongku perlahan-lahan.
” Maaf Mas, Wina pipis dahulu ya… ” ucapnya sekalian jalan membelakangiku ke arah kamar mandi.
Kuperhatikan kulit punggungnya yang putih dan mulus, hampir tanpa cacat. Pinggul rampingnya yang tetap terikat celana jeans, kelihatan makin cantik dan menggairahkan. Tidak sabar rasanya agar selekasnya melumat badannya, membawa mengawang-ngawang tinggi ke arah tingkat kepuasan yang tidak terhitung. Sementara menanti, saya tersadarkan jika saya belum bersihkan diri. Rutinitas yang selalu kulakukan saat sebelum bercinta sama wanita mana saja.
Saya selalu jaga kebersihan, dan berusaha untuk memakai parfum beraroma halus, yang kuyakini bisa tingkatkan nafsu wanita. Dari kamar mandi kedengar gemericik air, yang mengisyaratkan Wina sedang bersihkan dianya. Rupanya Wina termasuk type wanita yang kusukai, selalu bersihkan diri saat sebelum bercinta. Walaupun pada kondisi birahi tinggi, saya masih tetap terasa terusik dengan bebauan yang kurang enak, dari kelamin wanita yang tidak bersih.
Kubuka dompetku, lantas kuambil karet pengaman merek populer yang selalu kubawa dimanapun saya pergi. Kusisipkan ke bawah bantal tempat tidur, supaya gampang ambilnya di saat diperlukan kelak. Wina keluar kamar mandi dengan badan yang cuma terikat handuk. Ternyata ia betul-betul ingin dan siap bercinta denganku.
” Sesaat sayang, saat ini giliranku untuk bersihkan diri… ” kataku sekalian mencium keningnya lantas jalan ke kamar mandi.
Sayup-sayup kudengar suara TV yang baru dihidupkan olehnya. Sesudah menyikat gigi dan berkumur dengan larutan antiseptik, kubersihkan Penisku dan sekelilingnya dengan sabun. Siraman air dingin tidak sanggup kurangi kekerasannya. Penisku masih tetap mengacungkan gagah, besar dan berurat. Wina sedang duduk di tepi tempat tidur, saat saya keluar kamar mandi, dengan cuma terikat handuk. Kuhampiri dianya, dia berdiri lantas kami berciuman.
Dari mulutnya tercium wewangian obat kumur antiseptik punyaku, membuatku makin terangsang. Tangannya buka lilitan handuk di pinggangku, membuat Penisku terlepas lepas, mengacungkan besar dan keras. Perlahan-lahan tangannya sentuh pusarku, perutku, lantas perlahan-lahan turun ke bawah.
Wina menyeka-usap rambut Penisku yang cukup lebat, saat sebelum selanjutnya mengelus dan memegang halus tangkai kebanggaanku tersebut.
Jari tangannya yang lembut, memunculkan rasa nikmat yang sangat benar-benar. Tanpa kusadari, aku juga mendesah perlahan-lahan, lantas kulepas handuk yang melilit di badannya, selanjutnya perlahan-lahan tetapi tentu ke-2 tanganku menjalar perlahan-lahan ke arah ke-2 bukit kembarnya yang lembut dan putih.
Sesudah kutelusuri inch untuk inch, kuremas halus, dan kujepit puting susunya dengan jemari, lantas kupelintir sekalian kadang-kadang kutarik. Kubuka mataku, nikmati wajahnya yang elok. Matanya tertutup sementara bibirnya terbuka sedikit, benar-benar seksi dan menggairahkan. Wina melepaskan kecupannya, selanjutnya perlahan-lahan menciumi badanku. Dari dagu, leher langsung ke dadaku, selanjutnya mengulum dan menggigit perlahan-lahan puting kecil di dadaku.
Saya cuma sanggup mendangak, nikmati kesan yang tidak terhitung. Dengan lidahnya yang hangat, ditelusurinya badanku perlahan-lahan turun ke perut, menciumi pusar, lantas turun terus. Tidak sabar saya memikirkan kepuasan apa yang hendak kuterima seterusnya. Perlahan-lahan, diciumnya kepala Penisku yang memeras, selanjutnya ditempatkannya ke mulutnya, sampai sentuh kerongkongannya. Bukan bermain enaknya.
” Uuuhhhh… hhhhh… Aaahhhhhhh… hhhhh… ” desahku mendesah nikmat.
Hati nikmat dan mendesak kuat ingin keluar, kutahan sedapatnya. Saya nyaris capai titik kepuasan paling tinggi, dan itu jangan terjadi sekencang ini. Harus kuhentikan !! Kupegang kepalanya, selanjutnya kutarik badannya perlahan-lahan.
” Sssss… ahhhhh… sangat nikmat Wina, sangat nikmat “, kataku sekalian selanjutnya mencium bibirnya.
Lidah kami berkait dan bertaut dengan garang, membuat napasnya makin mengincar,
Sekalian masih tetap berciuman, kubimbing dia ke arah tempat tidur. Kurebahkan badannya, lantas kutindih dia dengan badanku. Kulepaskan kecupanku dari bibirnya. Kucium keningnya, ke-2 matanya, pipinya, dagunya, dan ke-2 telinganya berganti-gantian. Napasnya makin mengincar, sedangkan jari-jari ke-2 tangannya meremas rambutku.
Dengan lidah, kumulai pencarian badannya lewat leher.
Perlahan-lahan turun, ke arah belahan dadanya, selanjutnya naik puncak bukit cantik kepunyaannya. Kukitari puting susunya, saat sebelum kukulum dan kuhisap dengan mulutku. Dalam pada itu, tangan kananku yang bebas meremas dan permainkan puting susu sebelanya. Wina meracau tidak terang, sedangkan kuku jarinya mulai menusuk kulit kepalaku,
” Adddduuuuhhhh Mass… Aahhhhh… ouhhh…. ”
Senang main di buah dadanya, kulanjutkan pencarian makin ke bawah, ke arah Penisnya. Saya menempatkan badanku antara ke-2 kakinya yang terbuka. Penisnya kelihatan basah dan lembab. Bulu-bulu lembut yang tidak begitu lebat, teratur rapi dan hitam, kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Dengan jemari tengah, kuusap dan kumainkan klitorisnya.
Pinggangnya terangkut, membuat badannya meliuk. Perlahan-lahan, kuciumi Penisnya yang harum, kujulurkan lidahku, lantas kumainkan klitorisnya. Saya sebelumnya sempat menyaksikan kepala Wina yang terlontar ke kanan dan ke kiri meredam nikmat. Jemari jarinya makin garang meremas kepalaku.
” Aauwwwww… Aaahhhhhh… yhaaaaa… yhaaa… yhaaa… aaaccchhh… hhhh… aduhhhh… terrrussss… terus !! ach… ach… ach… Aaaaaaaaahhh… ”
Ke-2 pahanya menjepit kuat kepalaku, selanjutnya terkapar lemas. Kutahu Wina sudah capai pucuk kepuasannya.
” Itu baru yang pertama sayang, merasai dan cicipi yang seterusnya … ” kataku dalam hati.
Tidak lama-lama, dengan perlahan-lahan dan benar-benar berhati-hati, kumasukkan jemari tengah tangan kananku ke rongga Vaginanya. Tidak ada yang merintangi, mengisyaratkan Wina tidak perawan kembali. Tidak kenapa, justru lebih bagus pikirku. Saya menjadi tidak perpanjang dosaku memperawani anak orang .
Lantas Kusentuh semua dinding rongga yang lembut dan hangat itu dengan ujung jariku. Terkadang kutekan sedikit keras, membuat gairah birahinya bangkit kembali. Dengan posisi telapak tangan ke arah atas, kutekuk jariku sentuh dinding rongga sisi atas. Kulanjutkan penekanan di sejumlah tempat, sekalian kuperhatikan reaksi badannya.
” Auwww… aduh, Mas, maaf… maunya pengin pipis lagi… ” ucapnya mendadak,
” Sayang, tahan dan bernafaslah secara teratur. Saya akan memberimu kepuasan lainnya. Rileks saja dan cicipi… ”
Kutekan-tekan jariku berkali-kali di titik itu sampai seperti getaran. Kepalanya kembali terlontar kekiri dan kekanan. Matanya terbeliak ke atas, hinggga nyaris tidak kelihatan sisi hitamnya. Tangannya terlentang pasrah, masih capek dan lemas.
” Aaaacchhh… Aaahhhhhhh… Aaahhhhhh… ” erangannya makin keras.
Perlahan-lahan kuposisikan kepalaku di muka Vaginanya, kujulurkan lidahku, selanjutnya kuelus, kumainkan dan kupelintir sekalian kadang-kadang kumainkan klitorisnya. Wina teriak tidak tertahan,
” Aaahhhhh… Ouhhhh… Sssss… ahhhh… Ampuuuunnnnn… Aaahhhhhhhh… ”
Tangannya kembali buas meremas kepalaku, sedangkan ke-2 pahanya menjepit lagi kepalaku dengan kuat. Punggungnya terangkut tinggi membuat badannya meliuk. Kulanjutkan penekanan di titik sisi atas rongga Vaginanya, sekalian lidahku terus mengelus, melintir dan permainkan klitorisnya.
Mendadak Wina terduduk, secara kasar diambilnya kepalaku yang asyik main di Vaginanya, lantas digigitnya bibirku. Sakitnya lumayan, tapi kubiarkan saja. Kutahu dia nyaris capai pucuk kepuasannya yang ke-2 . Dengan mengeluh keras,
” Ouhhh… Sssss… ahhhhhh… ”
Badannya melafalkanng lantas terlontar keras ke belakang, ke atas kasur tempat tidur. Rongga Vaginanya berasa mendenyut-denyut, menjepit kuat jemari tengahku yang tetap ada dalam. Sesaat kusaksikan badannya mulai melemas. Terlentang pasrah telanjang di atas tempat tidur. Selanjutnya saya berdiri ke arah meja dan tuangkan air putih dingin ke gelas.
Kuteguk, selanjutnya kuberikan kepadanya sesudah kembali kuisi penuh. Sekalian melihatku, kusaksikan matanya menunjukkan kepuasan yang sangat benar-benar, meskipun capek. Saya paling suka menyaksikan muka wanita saat klimaks, kelihatan makin elok.
Belum gelas itu kuletakkan, masih pada kondisi berdiri disebelah tempat tidur, Wina menarik, mengelus selanjutnya mengulum tangkai Penisku dengan rakus, membuat jadi membesar lagi dan keras. Dengan lidahnya, dijilatinya sisi bawah batangku itu, memunculkan kepuasan yang sangat benar-benar. Sesudah saya menempatkan gelas, kudorong lantas kutindih badannya.
Mulut kami berciuman lagi, sedangkan satu tangannya mainkan tangkai Penisku. Tidak kuat dengan tindakannya, tanganku masuk ke dalam bawah bantal, mencari karet pengaman yang telah kusiapkan barusan. Kurobek buntelnya, lantas kuberikan kepadanya. Di luar sangkaan, dibuangnya benda itu, sekalian berbisik ke telingaku ,
” Mas, saya barusan usai Mens 2 hari lantas, menjadi amaaannn… ” katanya,
Lantas Kubimbing Penisku dengan tangan, kugosok-gosokkan, selanjutnya secara perlahan-lahan kuturunkan pinggulku, menusukkan tangkai yang lebih besar, keras dan padat itu ke rongga Vaginanya yang halus dan hangat. Kuku jarinya menancap keras di punggungku, dan kudengar rintihannya.
” Ouhhhh…. aahhhhh… ouhhhh…. ”
Kusaksikan alis matanya mengerut sementara ke-2 matanya tertutup rapat. Kurasa dia cukup kesakitan dimasukki oleh tangkai yang demikian besar, panjang dan sekuat batu. Perlahan-lahan tetapi tentu, inch untuk inch tangkai itu menyingkap masuk. Saya merasa telah sentuh dasarnya di saat batangku belum masuk semuanya. Wina mendesah,
” Aouw… Ssss… ahhhhh… ”
Perlahan-lahan dan berhati-hati kutekan dan kutekan lagi hingga masuk semuanya. Kudiamkan sesaat sampai Wina terlatih, saat sebelum kupompa masuk keluar. Ke-2 tanganku menyokong badanku supaya tidak menindihnya terlampau keras, sedangkan pinggulku giat bekerja maju undur berkali-kali. Wina mendesah makin keras,
” Accchhhh… yeaaah…ahhhhh… Auwwww… ouhhh… ”
Badannya bergoyang ke atas ke bawah, tergerak oleh tancapkan penis dan goyangan pinggulku. Rambutnya amburadul terurai di atas bantal, sedangkan matanya tertutup rapat. Wajahnya telah kelihatan rileks, pertanda dia telah bisa menikmatinya. Kadang-kadang kucium bibirnya yang terbuka sedikit. Hal tersebut menunjukkan giginya yang putih dan tersusun rapi, benar-benar menarik.
Butir-butir keringat mulai bercucur di badanku, di badannya. Di belahan dada antara ke-2 buah dadanya yang bergoyang, kusaksikan beberapa titik keringat banyak muncul. Benar-benar panorama yang seksi dan menarik, Entahlah berapakah lama dalam posisi itu, mendadak saya ingin coba posisi lainnya. Kutarik ke-2 kakinya dan kuletakkan di bahuku. Wina protes,
” Addduhhh Mas, sssaakkiiittt… ”
Keluh Wina tidak begitu kupedulikan, kupompa terus masuk keluar, berputar-putar, mundur-maju, awalnya perlahan-lahan lantas makin cepat. Wina mendesah meredam nikmat,
” Aaaachhhh… Yaaa… ouhh … tttteeerruuusssss… terusss… Ach… Ach… Ach… Ach… AAaahhhhhhhh… ”
Kurasakan renyutan berkali-kali dari rongga Vaginanya. Wina telah tiba ke pucuk kepuasan. Saya fokus rasakan kesan kepuasan yang diakibatkan oleh gesekan tangkai Penisku dengan rongga Vaginanya, kupompa makin cepat, makin cepat, makin cepat, dan dengan dibarengi erangan panjang,
” Aaaaacccchhhhhh… ”
kutusukkan Penisku sedalam-dalamnya, selanjutnya kusemprotkan cairan kepuasan sebanyaknya. Aku juga roboh menerpa badannya, lantas Wina merengkuhku dengan kuat. Sekalian kucium pipinya, saya berbicara,
” Terima Kasih-sayang, kamu luar biasa sekali … ”
Wina buka matanya, mencium bibirku lama, dan balas berbicara,
” Sama Mas… sedap sekali Mas… ampuuunnn, nikmat sekaliii, tetapi lelah. Wina tidak kuat lagi… “.
Malam itu kami tidur berangkulan sampai pagi. Kami melakukan kembali di dalam kamar mandi, walaupun tidak engganas malam sebelumnya. Wina harus selekasnya pergi menjalankan pekerjaannya sebagai Pramugari Udara, sedangkan saya harus bekerja menerangkan program pemerintahan yang kusosialisasikan. Kami pisah, dan janji untuk bertemu kembali. Tetapi entahlah kapan kami akan berjumpa lagi.


Duniabola99.com – Cerita ini adalah sebuah pengalaman saya yang terjadi sekitar 1 tahun yang lalu. Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan bersama Tante Yossie. Umur saya sekarang adalah 23 tahun, saya (Donnie) baru saja menyelesaikan kuliah saya di sebuah perguruan swasta yang terkenal di Jakarta.
Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya mempunyai teman bermain yang cukup akrab, namanya Jessy. Dia adalah teman dekat saya sejak perkenalan pertama kali ketika masih duduk di bangku SMP. Karena hubungan kami sangat dekat, maka saya sering bermain ke rumahnya di kawasan Menteng.
Hampir tiap minggu pasti saya bermain ke rumahnya, entah untuk mengajaknya pergi atau hanya bermain di rumahnya saja. Karena hubungan kami yang dekat, maka hubungan saya dengan keluarganya cukup dekat pula. Apalagi dengan Tante Yossie, yang tidak lain adalah ibu kandung Jessy. Perlu anda ketahui, Tante Yossie menikah di umur yang sangat muda dengan Om Anwar. Tante Yossie melahirkan Jessy ketika masih berumur 18 tahun. Selain Jessy, Tante Yossie juga mempunyai anak lagi yaitu George yang baru berumur 2 tahun saat itu. Memang perbedaan umurnya dengan Jessy sangat jauh, apakah mungkin Tante Yossie memang ingin mempunyai anak lagi ataukah..? Setiap hari Tante Yossie hanya di rumah saja, sedangkan Om Anwar-nya adalah seorang karyawan perusahaan asing yang cukup sukses. Pada akhirnya ketika baru menginjak SMA tahun ke-2 hubungan saya dan Jessy serta dengan keluarganya putus, ketika ternyata mereka sekeluarga harus pindah ke Jerman untuk mengikuti Om Anwar yang mendapat pekerjaan di Jerman.
Namun kira–kira setahun yang lalu saya mendapat berita bahwa Jessy sedang liburan ke Jakarta. Tentu saja saya senang sekali karena bisa bertemu teman lama saya. Ketika sudah berada di Jakarta, Jessy menelepon saya dan dia menyuruh saya datang ke apartmentnya di kawasan Kuningan. Dan akhirnya saya pun datang bertemu dengan dia di apartmentnya. Ketika datang saya sangat kaget, karena ternyata Tante Yossie sudah tinggal kembali di Jakarta. Tante Yossie ternyata tidak terlalu betah dengan suasana di Jerman, kira–kira setelah 1 tahun di Jerman dia memutuskan bersama George untuk kembali ke Jakarta. Sedangkan Om Anwar dan Jessy tetap tinggal di sana. George sekarang sudah sekolah pada sebuah SD swasta terkenal di kawasan Lippo Karawaci.
Ketika bertemu dengan Jessy maupun dengan anggota keluarganya yang lain, saya sangat senang sekali, karena sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan mereka semua. Namun setelah kira–kira 2 minggu berada di Jakarta untuk liburan, akhirnya Jessy harus kembali ke Jerman untuk meneruskan studinya. Namun setelah 1 minggu Jessy balik ke Jerman, tiba–tiba saya mendapat telepon dari nomor HP yang biasa dipakai Jessy ketika dia berada di Jakarta, dan ternyata setelah saya ingat nomor tersebut adalah nomor HP Tante Yossie.
“Don.. Tante nih, kamu lagi dimana?” tanya si Tante. Situs Judi Online
“Saya baru saja habis makan siang tuh sama teman saya Tante, ada apa memangnya?” tanyaku kembali.
“Gini.. ada yang aneh sama TV di rumah Tante, kamu bisa tolong kemari tidak?” tanyanya.
“Yah.. bisa deh Tante, cuman kira-kira 2 jam lagi deh yah,” jawab saya.
Akhirnya saya datang juga ke apartmentnya untuk membantunya. Setelah sampai di apartmentnya alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Yossie memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi bagiku, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Yossie masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam “BL” seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira–kira 36B. Ketika saya mengecek TV-nya ternyata memang ada yang rusak. Waktu saya sedang berusaha mengeceknya tiba–tiba Tante Yossie menempel di belakang saya. Mula–mula saya tidak menaruh curiga sama sekali mungkin karena dia ingin tahu bagian mana yang rusak, namun lama–lama saya merasakan ada sesuatu yang menempel di punggung saya, yaitu payudaranya yang montok. Setelah TV berhasil saya benarkan, kami berdua akhirnya duduk di ruang keluarganya sambil menonton acara TV dan berbicara tentang kabar saya.
“Don, kamu masih seperti yang dulu saja yah?” tanya Tante Yossie.
“Agh.. Tante bisa aja deh, emang nggak ada bedanya sama sekali apa?” jawabku.
“Iyah tuh.. masih seperti yang dulu saja, cuman sekarang pastinya sudah dewasa dong..” tanyanya.
Lalu belum saya menjawab pertanyaannya yang satu itu, tiba–tiba tangan Tante Yossie sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
“Don.. mau kan tolongin Tante?” tanya si Tante dengan manja.
“Loh.. tolongin apalagi nih Tante?” jawabku.
“Tolong memuaskan Tante, Tante kesepian nih..” jawab si Tante.
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Yossie yang memiliki rambut sebahu dengan warna rambut yang highlight, saya benar–benar tidak membayangkan kalau ibu teman dekatku sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk “bercinta” dengan Tante Yossie ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
“Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong?” tanyaku sambil bercanda.
“Yah.. kamu pikir sendiri dong, kan kamu sudah dewasa kan..” jawabnya.
Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulailah memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas–remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Yossie juga tidak mau kalah, ia langsung meremas–remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini, apalagi setelah kepulangannya dari Jerman. Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu seperti di atas, Tante Yossie menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya dia langsung melucuti semua baju saya, pertama–tama dia melepas kemeja saya kancing perkancing sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi’s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya. “Wah.. Don, gede juga nih punya kamu..” kata si Tante sambil bercanda. “Masa sih Tante.. perasaan biasa–biasa saja deh,” jawabku. Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Yossie yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.
Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba–tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas–remas, sementara itu Tante Yossie terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit–gigit putingnya yang sudah mengeras.
“Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Don..” desahnya.
“Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah?” kataku.
Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitorisnya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu–bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat–jilat kemaluan si Tante dengan pelan–pelan. “Ogh.. Don, pintar sekali yah kamu merangsang Tante..” dengan suara yang mendesah. “Wah.. natural tuh Tante, padahal saya belum pernah sampai sejauh ini loh..” jawabku. Tak terasa, tahu–tahu rambutku dijambaknya dan tiba–tiba tubuh tante mengejang dan aku merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, cuma berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apapun tentunya sudah tidak menjadi masalah.
Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar–benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Yossie sekarang meminta saya untuk memasukan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
“Don.. ayoo dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih,” minta si Tante.
“Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..” tanyaku.
“Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang–tenang aja deh,” sambil berusaha meyakinkanku.
Benar–benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya. Walaupun sakitnya juga lumayan. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan, karena masih terasa sakit. “Ahh.. dorong terus dong Don..” minta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali. Mendengar desahannya saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat walaupun rasa sakit juga terasa. Akhirnya saya mulai terbiasa dan mulai mendorong dengan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas–remas payudaranya, sampai tiba–tiba tubuh Tante Yossie mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya. Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar–benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, dan tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
“Oh.. oh.. nikmat sekali Donniie..!” teriak si Tante.
“Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..” kata saya.
“Sabar yah Don.. tunggu sebentar lagi dong, Tante juga udah mau keluar lagi nih..” jawab si Tante.
Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante. “Arghh..!” teriak si Tante Yossie. Tante Yossie kemudian mencakar pundak saya sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot–otot kemaluannya benar–benar meremas batang kemaluanku. Setelah itu kami berdua letih dan langsung tidur saja di atas ranjangnya. Tanpa disadari setelah 3 jam tertidur, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke dapur. Ketika di dapur saya melihat Tante Yossie dalam keadaan telanjang, mungkin dia sudah biasa seperti itu. Entah kenapa, tiba–tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata–kata, saya langsung memeluk Tante Yossie dari belakang, dan mulai lagi meremas–remas payudaranya dan pantatnya yang bahenol serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.
“Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya?” kataya sambil tertawa kecil.
“Agh Tante bisa aja deh,” jawabku sambil menciumi bibirnya kembali.
Saking nafsunya, saya mengajak untuk sekali lagi bersenggama dengan si Tante, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Yossie kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di dapurnya. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya doggie style.”Um.. dorong lebih keras lagi dong Don..” desahnya. Semakin nafsu saja aku mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokanku kepada si Tante, sementara itu tanganku menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
“Don.. mandi yuk?” mintanya.
“Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah?” jawab saya.
Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya mendudukkan Tante Yossie di atas wastafel, dan kemudian saya kembali menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
“Hm.. nikmat sekali jilatanmu Don.. agghh..” desahnya.
“Don.. kamu sering–sering ke sini dong..” katanya dengan nafas memburu.
“Tante, kalo tahu ada service begini mah saya tiap hari kalau bisa juga mau,” jawabku sambil tersenyum.
Setelah puas menjilatinya, saya memasukkan batang kemaluan saya kembali ke lubang kemaluan Tante Yossie. Kali ini, dorongan saya sudah semakin kuat, karena rasa sakit saya sudah mulai berkurang ataukah saya sudah mulai terbiasa yah? Bosan dengan gaya tersebut, saya duduk di atas kloset dan Tante Yossie saya dudukkan di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini saya sudah mulai tidak terlalu merasakan sakit sama sekali, namun rasa nikmat lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat akhirnya saya “KO” kembali, saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Yossie kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.
Setelah selesai mandi, Tante Yossie memasakkan makan malam untuk kami berdua, dan setelah itu saya pamitan untuk balik ke rumah. Setelah kajadian itu saya baru tahu bahwa kesepian seorang Tante dapat membawa nikmat juga kadang–kadang. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan bersetubuhan. Kami biasanya melakukan di apartmetnya di kala anaknya George sedang sekolah atau les. Dan sering juga Tante mem-booking hotel berbintang dan kami bertemu di kamar.



Duniabola99.com – Kala itu aku numpang kost di rumah temanku yang sudah berkeluarga, sedang seorang gadis adik temanku kebetulan numpang juga di rumah itu, sebagai pengasuh anak-anak temanku itu, berhubung suami istri bekerja.
Pada awalnya aku memandang gadis itu Nani namanya, biasa-biasa saja, maklum aku walaupun sudah cukup dibilang dewasa (27) tetapi sekalipun belum pernah mengenal wanita secara khusus apalagi namanya pacaran, maklum orang tuaku menekankan menuntut ilmu lebih utama untuk masa depan. Apalagi setelah aku selesai kuliah dan langsung bekerja, aku merasa berhasil menikmati hasilku selama ini. Itu sekedar background kenapa gadis itu aku pandang biasa saja, karena dia hanya lulus SD sehingga aku kurang peduli bila aku menyadari tingkat pendidikanku sendiri.
Namun dari hari kehari Nani si gadis itu selalu melayaniku menyediakan makan, menjaga kebersihan kamarku, dan bahkan mencuci bajuku yang terkadang tanpa aku minta walaupun aku sebenarnya biasa mencuci sendiri, namun adakalanya aku cukup sibuk kerja, sehingga waktuku terkadang serasa di buru-buru. Rupanya gadis itu sedikit menaruh hati, tapi aku tidak tanggap sekali. Terlihat dari cara memandangku, sehingga aku terkadang pura-pura memperhatikan ke arah lain. Sampai pada suatu saat, dimana temanku beserta anak istrinya pulang kampung untuk suatu keperluan selama seminggu, sedangkan adik perempuannya karena harus menyediakan makan setiap kali untukku, tidak diikutkan pulang, sehingga tinggal aku dan si gadis Nina itu di rumah.
Rupanya kesendirian kami berdua menimbulkan suasana lain di rumah, dan hingga pada suatu pagi ketika gadis itu sedang menyapu kamarku yang kebetulan aku sedang bersiap berangkat kerja, masuklah gadis itu untuk menyapu lantai. Sebagai mana posisi orang menyapu, maka saat gadis itu membungkuk, aduhh.., rupanya perh yang sedang bercermin tersapu juga oleh pemandangan yang menakjubkanku. Dua buah melon yang subur segar terhidang di depanku oleh gadis itu, dengan sedikit basa basi gadis itu menyapaku entah sadar atau tidak dia telah menarik perhatianku karena payudaranya yang tidak terbungkus BH, kecuali dibalut baju yang berpotongan dada rendah. Dengan tidak membuang kesempatan aku nikmati keindahan payudara itu dengan leluasa melalui cermin selama menyapu dikamarku.
Menjelang dia selesai menyapu kamarku, tiba-tiba dia dekap perutnya sambil merintih kesakitan dan muka yang menampakkan rasa sakit yang melilit. Dengan gerak refleks, aku pegang lengannya sambil aku tanya apa yang dia rasakan. Sambil tetap merintih dia jawab bahwa rasa mules perut tiba-tiba, maka aku bimbing dia ke kamarnya dengan tetap merintih memegangi perutnya sampai ditempat tidurnya. Kusuruh dia rebahan dan memintaku untuk diberikan obat gosok untuk perutnya. Segera aku ambilkan dan sambil berjaga dia gosok perutnya dari balik blousenya. Tetapi tiba-tiba saat menggosok lagi-lagi dia mengerang dan mengaduh, sehingga membuatku sedikit panik dan membuatku segera ikut memegangi perutnya dan sambil ikut mengurut juga. Dan nampak sedikit agak berkurang rintihannya, sambil masih tetap kuurut perutnya. Kepanikanku mulai hilang dan aku mulai sadar lagi akan keindahan payudara gadis itu bersamaan dengan bangkitnya perasaan gadis itu selama aku urut tadi mulai menelusuk ke tubuhnya merasakan kenikmatannya juga dan dengan tiba-tiba tanganku dipegangnya dan dibimbingnya tanganku ke taman berhiaskan buah melonnya yang subur segar dan aku turuti saja kenikmatan bersama ini untuk mengusap buah melon yang tidak terbungkus itu, dan tanganku terus menelusup diantara buah-buah itu sambil memetik-metik putingnya.
Gadis itu mulai merintih nikmat, dan erangan halus dan memberi isyarat tanganku untuk terus dan terus memilin puting buahnya yang semakin menegang. Baru aku sadari bahwa untuk kali pertama aku merasakan puting gadis yang menegang bila sedang terangsang dengan erangannya yang membuat penisku yang dari tadi ikut mengeras tambah menekan di dalam celanaku yang sebenarnya sudah siap untuk berangkat kerja, namun untuk sementara tertunda. “Eehh.. Mas.. gelii.. tapi nikmat, aahh.. eehmm aduuhh nikmat mass..” Posisi dia saat itu sambil duduk membelakangiku, dan tiba-tiba dia menyandar ke dadaku sambil menengadahkan mukanya dan mulutnya mengendus-endus leherku. Tanpa buang waktu, mulutku pun kuenduskan ke lehernya dan selanjutnya mulut kami saling berpautan, saling mengulum dan saling menjulurkan lidah dengan penuh nafsu, sementara tanganku terus menyusuri buah-buah yang subur itu untuk meningkatkan kegairahannya, sedang tangan gadis itu mulai hilang kesadarannya oleh kenikmatan itu dengan ditandai kegairahannya untuk melepas kaitan rok bawahannya dan dilanjutkan ke kancing-kancing blousenya. Kembali kesadaranku tertegun untuk pertama kali aku menikmati keutuhan tubuh seorang gadis yang hanya mengenakan CD-nya.
Namun untuk saat itu juga aku terperanjat, “Eiitt, Nina ini sudah jam delapan, aku harus berangkat kerja wahh, aku terlambat”, kataku. Kami saling tertegun pandang dan saling senyum tertahan dan kemudian kami berpeluk cium, sambil aku berkata, “Entar aku berangkat dan aku segera kembali, hanya untuk minta ijin kalau aku ada keperluan yahh, gimana?”. “He.. eh, Mas entar kita terusin lagi ya Mas, tapi janji lho, ehh tapi Mas?”. “Kenapa Nan..” tanyaku. “Mas kemot dulu dong buah dadaku, ntar baru boleh berangkat”. Achh lagi-lagi kenikmatan yang tak bisa ditunda pikirku, dengan “terpaksa” aku kemot putingnya dan dengan penuh gairah aku kemot buah dadanya sampai hampir merata bekas kemotan di kedua buah dadanya, sampai-sampai si Nani tak percaya keganasanku. Kami saling melepas pelukan yang seolah adalah kerinduan yang selama ini lama terpendam. Kebetulan kantorku hanya beberapa ratus meter dari rumah kost yang aku tempati. Selesai aku menyampaikan alasan yang dapat diterima atasanku, segera aku bergegas pulang lagi. Ketika aku sampai dirumah, yang memang setiap harinya sepi pada jam-jam kerja, maka menambah kegairahanku waktu aku membuka pintu depan yang tidak terkunci, dan langsung kukunci saat aku masuk. Tetapi pintu-pintu kamar tertutup.
Maka yang pertama aku tuju adalah kamarku. Aku buka kamarku untuk ganti baju kerjaku dengan maksud akan ganti baju kaos dengan celana pendek saja. Aku buka baju dan celanaku satu persatu, dan saat aku hanya kenakan celana dalamku, tiba-tiba dari belakang, Nina si gadis itu sudah di belakang mendekapku dan ohh, menakjubkan.., rupanya sedari tadi dia aku tinggalkan, dia tidak lagi kenakan bajunya sambil terus menunggu di kamarku. Maka kembali kenikmatan pagi itu aku teruskan lagi, dengan saling meraba dan dengan ciuman yang penuh nafsu dan kami masing hanya mengenakan celana dalam saja, sehingga kulit kami bisa saling bergesekan merasakan dekapan secara penuh, sementara kami berpelukan dan mulut berciuman, penisku merasakan keempukan tonjolan daging di selangkangan Nani yang seolah terbelah dua memberikan sarang ke batang penisku. Sedangkan dadaku merasakan tonjolan buah dadanya yang lembut dan torehan puting susunya di dadaku. Tanganku bergerak dari punggungnya beralih ke pantatnya yang bulat untuk aku remas-remas, sedang tangannya tetap memegang leher dan kepalaku dengan mulut, bibir dan lidah saling mengulum. Lama kami pada posisi berdiri “Eeehh.. mmaas eehh eegh enaak sayang ngg.., teruss, teruss.. gelii.. egghh eenaak” erangnya yang setiap saat keluar dari mulutnya.
Kegairahan pagi itu kami lanjutkan di lantai kamarku untuk saling berguling dan tetap saling peluk menaikkan gairah petting kami yang pertama kali di lantai kamarku. Maklum kamar indekost dengan tempat tidurku yang seadanya dan pas-pasan yang pasti kurang pas untuk kegairahan petting yang memuncak di pagi itu. Dengan leluasa tangan kami saling bergerak ke buah dada, penis, puting dan satu hal selama ini yang jadi obsesiku adalah keinginan yang terpendam untuk mengemot puting bila melihat buah dada wanita yang sedemikian montok dan menggairahkan, maka aku tumpahkan obsesiku pada kenikmatan pagi itu untuk pertama kalinya. “Mass sayang terruss kemot pentilku.. mmaass gelii, geelii,.. eehm Mas nikmat.. terus jilatin pentilku teruss aku peengin di jilatin terus pentilku..”. Dengan penuh gairah pertama aku puaskan menjilati putingnya yang aku rasakan semakin menegang dan demikian juga dengan penisku, sambil aku gesek-gesekkan ke tonjolan daging di selangkangannya. Aku kembali agak kaget ketika batang penisku merasa basah saat aku gesekkan di tonjolan daging selangkangan Nina yang masih memakai CD, yang bahkan penisku sendiri belum mengeluarkan cairan sperma.
Maka sambil mulutku mengemot dan menjilati puting susunya, tanganku mencoba meraba selangkangan Nina diantara belahan daging, namun tiba-tiba dia memekik “A’aa ehh jangan dulu Mas nggak tahan gelinya”. Maka sementara aku lepaskan kembali dan tangan ku kembali meremas buah dadanya sambil memilin-milin putingnya “Mass.. he’eh begitu kemotin pentilku teruss.., susuku diremass-re’eemas.. e’eenak eeh.. ehghhm.. yangg geli..”. Penisku terus aku gesek-gesekkan dicelah selangkangan Nina, “eeh, eehh.. eehh.. eehh.. eeheh.. eh”. Demikian lenguhannya setiap aku gesek selangkangannya. “Mas.. tarik CD-ku dan lepaskan celanamu..”, sampai pada ucapan Nina tersebut maka sementara kami lepas pergumulan itu sambil aku dengan ragu dan deg-degan menarik pelan-pelan CD-nya yang masih dalam keadaan telentang sementara aku duduk dan dia mulai angkat kakinya ke atas saat CD-nya mulai bergeser meninggalkan pantatnya, sambil terus kutarik perlahan-lahan dengan saling berpandangan mata serta senyum-senyumnya yang nakal, maka aku dihadapkan dengan sembulan apa yang disebut clitoris yang ditumbuhi rambut-rambut halus sedikit keriting dan bllaass, lepas sudah CD-nya tinggalah celah rapat-rapat menganga semu pink dan semu basah dengan sedikit leleran lendir dari lubang kenikmatan itu. “Nin.. kenapa sih” tanyaku nakal, “Apanya.. Mas” sahutnya sambil senyum, “Kalau dikemot-kemot payudaranya sama pentilnya tadi”. “Aduh rasanya geli banget, rasanya kaya mau mati saja tapi nikmat iih geli”. “Enggak sakit dikemot dipentilnya tadi” tanyaku, “Enak.. Mas, rasanya pingin terus, kalau sudah yang kiri, terus pingin yang kanan, rasanya pingin dikemot bareng-bareng sama mulut Mas.
Terus di liang kewanitaanku jadi ikut-ikutan geli nyut-nyutan sampai aku eeghh.. hemm gimana yach bergidik. hhmm” akunya. “Terus pingin lagi nggak dikemot-kemot?” tanyaku penasaran. “Iiih.. Mas nakal, ya.. Pingin lagi dong”, sambil tangannya merayap ke selangkanganku yang masih pakai CD, memencet penisku yang menonjol dan juga meremas. “Kalau adik Mas rasanya gimana tuh kalau kupegang-pegang gini?, geli nggak?” keingin-tahuannya besar juga. “Sama nikmat rasanya, pengin terus dielus-elus sama Nina terus, geli eh-eh.. eh” dengan penasaran dia mengesek-gesek pas lubang penisku, jadi geli rasanya. “Kalau ininya dipegang-pegang gini gimana Mas?” sambil dia pegang dan raba-raba buah pelirku.” Yah nikmat juga” tegasku sambil aku elus-elus pahanya yang tidak begitu putih tapi mulus. “Eh.., Mas tadi kutipu, pura-pura sakit, habis Mas kelihatannya cuek saja”, sambil dia senyum nakal menggoda. Brengsek juga nih anak batinku, nekat juga ngerjain aku. “Mas.. selama seminggu ini kita hanya berdua saja dirumah, terus gimana enaknya Mas?” tanyanya sambil iseng meremas-remas penisku yang tetap tegak sedang aku memilin-milin puting susunya yang juga tetap tegang, “Kita kelonan terus saja seminggu ini siang ataupun malam”.
Kebetulan kerjaku selama ini hanya sampai jam 14.00 sudah pulang. Dia menggoda “Terus nanti kalau kelonan terus Mas nanti nggak ada yang nyediain makan gimana dong”. “Yah nggak usah makan asal kelonan terus sama Nina entar kenyang”. Dia bangkit dan memelukku erat-erat dan diciuminya bibirku sambil lidahnya dijulurkan ke kerongkonganku. Sambil melepas dia berkata “Mas kita kelonan lagi yuk sampai sore, terus nanti mandi bareng”. Tanganku mulai mengelus clitorisnya dan mulutku terus mengulum bibirnya dan kembali dia telentang di lantai dan aku mulai menindihnya “Mas.. kalau gini terus aku rasanya mau pingsan kenikmatan eehh.. M eghhmm.. aduuh.. nikmat Mas di memekku.. geli rasanya teruuss eeghh.. eghh”. Dan aku rasakan clitorisnya semakin basah, dan dengan lahapnya jari tengahku aku cabut dari clitnya untuk kujilati jariku dan aku rasakan nikmat gurihnya lendir seorang perempuan pertama kalinya. “Eeehh.. eennak.. aahh.. aahh uuhhgg uughhg uuhh.. ehhehh” saat jariku kembali menelusup kedalam lubang clitorisnya. Lenguhan mulutnya dan dengus napasnya menaikkan gairahku yang kian meningkat tapi aku ragu untuk menuruti naluriku mencoba memasukkan penisku ke lubang senggamanya.
Maka sementara aku tahan walupun penisku pun juga sudah semakin basah oleh lendirku juga. Aku mulai merayap kebawah selangkangannya dan mulutku berhadapan dengan clitorisnya tanpa dia sadari karena matanya terpejam menikmati gairah yang dirasakan, saat lidahku mulai menjilatlubang clitorisnya, kembali dia terpekik “aahhuughh huu.. hu.. egghh aduh.. eggh nikmat, aduhh aku gimana nih Mass aahh aku nggak kuat, Mass.. Mas.. eghh.. egh hhgeehh.. Mas.” sambil dia aku perhatikan pantat, paha, perut dan kakinya seolah kejang seperti kesakitan tetapi aku sangsi kalau dia sakit, dan malahan kepalaku dia tekan kuat ke selangkangannya sambil terus berteriak “hehehggheh ahh.. ehhehh.. huhh.. mass.. aku.. akuu rasanya.. eghh” dan dia bangkit sambil menarik CD-ku yang masih aku kenakan, dan blarr, penisku menantang tegak “Mas masukkan Mas.. eeghheghh” dan dia angkat kakinya sambil telentang dia bentangkan lebar selangkangannya sambil tangannya membimbing penisku memasuki clitorisnya. “Mas.. kocok Mas eghh Mas yang dalam.. kocok terus selangkanganku aduhh eghh Mas enakk”. Sambil menekuk kaki, sementara tanganku sebagai tumpuan dan dengan berat tubuhku aku tindihkan dan kuamblaskan penisku ke lubang yang sedari tadi sudah menunggu, dan aku rasakan sedotan lubang yang sangat kuat pada batang penisku yang rasanya dikemot-kemot. “Eehhgehhg.. teruss. teruss Mas.. maass nikmat kocok terus aduuh rasanya aku nggak kuat mass ada yang keluar eghh.. eeghh. eehhgg aduuhh.. mass..” “ahhgg-agh.. Nani aku aduh egghh, Nani rasanya memekmu ngemot eghh eehhmm.. nikmat.. terus sedot” “Mass nikmat.. sekali nikmat.. dalam sekali. Aahh aduh.. hhaghhah Mass.., aku mau keluarr”. “Aku juga Nan.. ahhgh aku sudah mau keluar.. ahgghhah”.
Dan aku cabut penisku saat dia demikian bergetar dan menyedot sedot penisku sehingga aku tak tahan lagi untuk menyemburkan spermaku dan saat itu aku merasa dia terlepas dari penisku, dia bangkit dan menyongsong batang penisku dengan mulutnya menyambut semburan spermaku sambil tangannya menggosok lubang clitorisnya, ditimpali dengan lenguhannya yang tidak beraturan dimulutnya “Cppokklep.. plekk.. clepk.. clkek.. cslckek” bunyi mulutnya mengemot dan menyedot penisku sementara aku terasa bergetar dan tenagaku berangsur-angsur lemas, sampai dia menjilati sisa sperma pada penisku dengan bersih. Sesaat kemudian aku tidur ditempat tidurku siang itu kelonan berdua yang tidak terasa telah jam 3 sore, dan baru kemudian bangun dengan badan terasa agak pegal. Kami kembali berpagut lama dengan saling rabaan dan remasan masih dalam keadaan tanpa busana. Akhirnya kami mandi bersama dengan air yang sebelumnya kami. Itulah pengalaman pertama kaliku menikmati hubungan seks dengan seorang gadis kampung bernama Nani.


Duniabola99.com – foto gadis remaja pirang Mila Blaze cantik putih dan manis pantat bahenol menghisap kontol pacarnya yang berbadan kekar dan penisnya besar dan melakukan ngentot disofa diduduki oleh memeknya yang tanpa bulu dan bece dan menembakkan sperma yang banyak kedalam memeknya hinga lumer-lumer.


Duniabola99.com – foto cewek cantuk pirang Viola Bailey memakai bikini yang sexy menampilakn tokenya yang gede dan bulat dan memamerkan memeknya yang pink bulunya yang baru dicukur diatas tempat tidurnya.







Duniabola99.com – foto cewek pirang Smiley Nikki Gentry melepas pakaiannya menyembulkan toketnya yang gede dan padat dan juga memeknya yang mulus botak tanpa bulu sambil berpose diatas kursi sofa.
Koleksi Foto Memek Cewek Cantik Ngangkang, Foto Tante Cantik Cuma Pakai BH CD, Foto Hot Tante Janda Muda Kena Crot, Foto Hot Tante Janda Muda Kena Crot, Kumpulan Foto Cewek Cantik Terbaru & imut, Kumpulan foto cewek cantik, Kumpulan Gadis Cantik Berbaju Seksi,



Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Goyangan Hot Tante Dona Sangat Dasyat ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Cerita Sex – Kejadian ini merupakan sebagian dari kisah yang kualami, kurang lebih 4 tahun yang lalu. Berawal dari aku sangat menyukai wanita yang berusia 30-40 tahun, dengan kulit mulus. Bagiku wanita ini sangat menarik, apalagi jika ‘jam terbangnya’ sudah tinggi. Sehingga pandai dalam bercinta.
Namun sebagai pegawai swasta yang bekerja, aku memiliki keterbatasan waktu, tidak mudah bagiku untuk mencari wanita tersebut. Hal ini yang mendorong aku untuk mengiklankan diriku pada sebuah surat kabar berbahasa Inggris, untuk menawarkan jasa ‘full body massage’. Uang bagiku tidak masalah, karena aku berasal dari keluarga menengah dan gajiku cukup, namun kepuasan yang ku dapat jauh dari itu. Sehingga aku tidak memasang tarif untuk jasaku itu, diberi berapapun kuterima.
Sepanjang hari itu, sejak iklanku terbit banyak respon yang kudapat, sebagian dari mereka hanya iseng belaka, atau hanya ingin ngobrol. Di sore hari, kurang lebih pukul 18.00 seorang wanita menelponku.
“Hallo dengan Ivan?” suara merdu terdengar dari sana.
“Ya saya sendiri” jawabku.
Cerita Sex Goyangan Tante Dona Dasyat Dan seterusnya dia mulai menanyakan ciri-ciriku. Selanjutnya, “Eh ngomong-ngomong, berapa sich panjangnya kamu punya?” katanya.
“Yah normal sajalah sekitar 18 cm dengan diameter 6 cm.” jawabku.
“Wah lumayan juga yach, lalu apakah jasa kamu ini termasuk semuanya,” lanjutnya.
“Apa saja yang kamu butuhkan, kamu pasti puas dech..” jawabku. Dan yang agak mengejutkan adalah bahwa dia meminta kesediaanku untuk melakukannya dengan ditonton suaminya. Namun kurasa, wah ini pengalaman baru buatku.
Akhirnya dia memintaku untuk segera datang di sebuah hotel “R” berbintang lima di kawasan Sudirman, tak jauh dari kantorku. Aku menduga bahwa pasangan ini bukanlah sembarang orang, yang mampu membayar tarif hotel semahal itu. Dan benar dugaanku, sebuah president suite room telah ada di hadapanku. Segera kubunyikan bel di depan kamarnya. Dan seorang pria, dengan mengenakan kimono, berusia tak lebih dari 40 tahun membukakan pintu untukku.
“Ivan?” katanya.
“Ya saya Ivan,” jawabku. Lalu ia mencermatiku dari atas hingga bawah sebelum ia mempersilakan aku masuk ke dalam. Pasti dia tidak ingin sembarang orang menyentuh istrinya, pikirku.
“OK, masuklah” katanya. Kamar itu begitu luas dan gelap sekali. Aku memandang sekeliling, sebuah TV berukuran 52″ sedang memperlihatkan blue film.
Lalu aku memandang ke arah tempat tidur. Seorang wanita yang kutaksir umurnya tak lebih dari 30 tahun berbaring di atas tempat tidur, badannya dimasukkan ke dalam bed cover tersenyum padaku sambil menjulurkan tangannya untuk menyalamiku. “Kamu pasti Ivan khan? Kenalkan saya Donna” katanya lembut.
Cerita Sex Goyangan Tante Dona Dasyat Aku terpana melihatnya, rambutnya sebahu berwarna pirang, kulitnya mulus sekali, wajahnya cantik, pokoknya perfect! Aku masih terpana dan menahan liurku, ketika dia berkata “Lho kok bingung sich”.
“Akh enggak..” kataku sambil membalas salamnya.
“Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya.
“Oke tunggu yach sebentar,” jawabku sambil melangkah ke kamar mandi. Sementara, suaminya hanya menyaksikan dari sofa dikegelapan. Cepat-cepat kubersihkan badanku biar wangi. Dan segera setelah itu kukenakan celana pendek dan kaos.
Aku melangkah keluar, “Yuk kita mulai,” katanya.
Dengan sedikit gugup aku menghampiri tempat tidurnya. Dan dengan bodohnya aku bertanya, “Boleh aku lepaskan pakaianku?”, dia tertawa kecil dan menjawab, “terserah kau saja..”.
Segera kulepaskan pakaianku, dia terbelalak melihatku dalam keadaan polos, “Ahk.. ehm..” dan segera mengajakku masuk ke dalam bed cover juga. “Kamu cantik sekali Donna” kataku lirih.
Aku tak habis pikir ada wanita secantik ini yang pernah kulihat dan suaminya memperbolehkan orang lain menjamahnya, ah.. betapa beruntungnya aku ini. “Ah kamu bisa saja,” kata Donna. Markas Judi Online Dominoqq
Segera aku masuk ke dalam bed cover, kuteliti tubuhnya satu persatu. Kedua bulatan payudaranya yang cukup besar dan berwarna putih terlihat menggantung dengan indahnya, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. “Yaa aammpuunn..” bisikku lirih tanpa sadar, “Ia benar-benar sempurna” kataku dalam hati.
“Van..” bisik Tante Donna di telingaku.
Cerita Sex Goyangan Tante Dona Dasyat Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan wajahku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah.., kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik bed cover. Hmm.., betapa nikmatnya nanti saat batang kejantananku memasuki liang kemaluannya yang sempit dan hangat, akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang kemaluannya sebagai bukti kejantananku.
“Van.. mulailah sayang..” bisik Tante Donna, membuyarkan fantasi seks-ku padanya. Sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih membangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka, duh cantiknya. Kukecup lembut bibir Tante Donna yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya, terasa manis.
Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Kuraih tubuh Tante Donna yang masih berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku.
“Apa yang dapat kau lakukan untukku Van..” bisiknya lirih setengah kelihatan malu.
Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat, terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sambil kuberbisik, “Tante pasti tahu apa yang akan Ivan lakukan.. Ivan akan puaskan Tante sayang..” bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu.
Kuelus-elus seluruh tubuhnya, akhh.. mulus sekali, dengan sedikit gemas kuremas gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik bed cover. “Oouuhh..” Tante Donna mengeluh lirih.
Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Tante Donna. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat pada dan kenyal. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil membangir beradu mesra dengan hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Donna telah melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.
Cerita Sex Goyangan Tante Dona Dasyat Batang kejantananku terasa semakin besar apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang kejantananku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Tante Donna yang empuk, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Donna.
Wajahnya yang cantik tersenyum manis padaku, kuturunkan wajahku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling kusukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu.
“Ohh apa yang akan kau lakukan.. akh..” tanyanya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya. Beberapa saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin bawah dan.., “Nyam-nyam..” nikmat sekali kemaluan Tante Donna. Oh, bukit kecil yang berwarna merah merangsang birahiku.
Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan, “Creep..” ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah kemaluan yang sudah sedari tadi becek itu.
“Aaahh.. kamu nakaal,” jeritnya cukup keras. Terus terang kemaluannya adalah terindah yang pernah kucicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dengan mulutku. “Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Ivan..” lirih Tante Donna.
Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian, persis seorang gadis perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali, kasihan wanita ini dan betapa bodohnya suaminya yang hanya memandangku dari kegelapan.
“Aahh.. sayang.. Tante suka yang itu yaahh.. sedoot lagi dong sayang oogghh,” ia mulai banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah panggilan yang sepertinya terlalu mesra untuk tahap awal ini.
Cerita Sex Goyangan Tante Dona Dasyat Lima menit kemudian.. “Sayang.. Aku ingin cicipi punya kamu juga,” katanya seperti memintaku menghentikan tarian lidah di atas kemaluannya.
“Ahh.. baiklah Tante, sekarang giliran Tante,” lanjutku kemudian berdiri mengangkang di atas wajahnya yang masih berbaring. Tangannya langsung meraih batang kemaluan besarku dan sekejap terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas rata-rata.
“Okh Van.. indah sekali punyamu ini..” katanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah kepala kemaluanku yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu.
“Mungkin ini nggak akan cukup kalau masuk di.. aah mm.. nggmm,” belum lagi kata-kata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan burungku kearah mulutnya dan, “Croop..” langsung memenuhi rongganya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras.
“Aduuh enaak.. oohh enaknya Tante oohh..” sementara ia terus menyedot dan mengocok batang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil kepala kemaluanku dalam mulutnya, “Mm.. hmm..” hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya.
“Crop..” ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya.
“Aoouuhh.. Tante nggak tahan lagi sayang ampuun.. Vann.. hh masukin sekarang juga, ayoo..” pintanya sambil memegang pantatku. Segera kuarahkan kemaluanku ke selangkangannya yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi liang kemaluannya yang terbuka lebar, pelan sekali kutempelkan di bibir kemaluannya dan mendorongnya perlahan, “Ngg.. aa.. aa.. aa.. ii.. oohh masuuk.. aduuh besar sekali sayang, oohh..” ia merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris.
Cerita Sex Goyangan Tante Dona Dasyat Aku tahu kalau itu adalah reaksi dari bibir kemaluannya yang terlalu rapat untuk ukuran burungku. Dan Tante Donna merupakan wanita yang kesekian kalinya mengatakan hal yang sama. Namun jujur saja, ia adalah wanita setengah baya tercantik dan terseksi dari semua wanita yang pernah kutiduri. Buah dadanya yang membusung besar itu langsung kuhujani dengan kecupan-kecupan pada kedua putingnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan turun naiknya diatas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul hingga membuatnya semakin bernafsu, namun tetap menjaga ketahananku dengan menghunjamkan kemaluanku pada setiap hitungan kelima.
Cerita Sex Goyangan Hot Tante Dona Sangat Dasyat
Tangannya menekan-nekan kepalaku kearah buah dadanya yang tersedot keras sementara burungku terus keluar masuk semakin lancar dalam liang senggamanya yang sudah terasa banjir dan amat becek itu. Puting susunya yang ternyata merupakan titik nikmatnya kugigit kecil hingga wanita itu berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat sangat hebat, untung saja kamar tidur tersebut terletak di lantai dua yang cukup jauh untuk mendengar teriakan-teriakan kami berdua. Puas memainkan kedua buah dadanya, kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya kearah wajahku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga mulut secara bergiliran. Setelah itu lidahku menjalar liar di pipinya naik kearah kelopak matanya melumuri seluruh wajah cantik itu, dan menggigit daun telinganya. Genjotan pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, burungku semakin terasa membentur dasar liang senggama.
“Ooohh.. aa.. aahh.. aahh.. mmhh gelii oohh enaknya, Vann.. ooh,” desah Tante Donna.
Cerita Sex Goyangan Tante Dona Dasyat “Yaahh enaak juga Tante.. oohh rasanya nikmat sekali, yaahh.. genjot yang keras Tante, nikmat sekali seperti ini, oohh enaakk.. oohh Tante oohh..” kata-kataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa kendali. Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan kemaluannya tertusuk burungku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara refleks pula kemaluannya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang kejantananku.
Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Tante Donna terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, “Vann.. aahh aku nngaak.. nggak kuaat aahh.. aahh.. oohh..”
“Taahaan Tante.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya Tante.. tahan dulu .. jangan keluarin dulu..” Tapi sia-sia saja, tubuh Tante Donna menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras payudaranya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. “Ooo.. ngg.. aahh.. sayang sayang.. sayang.. ooh enaak.. Tante kelauaar.. oohh.. oohh..” teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan kemaluannya disekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang kemaluannya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku.
Sementara itu makin kupercepat gerakanku, makin terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluan saya dengan kemaluannya yang telah dibasahi oleh cairan dari kemaluan Tante Donna. “Aaakhh.. enakk!” desah Tante Donna sedikit teriak.
“Tante.. saya mau keluar nich.. eesshh..” desahku pada Tante Donna.
“Keluarkanlah sayang.. eesshh..” jawabnya sambil mendesah.
Cerita Sex Goyangan Tante Dona Dasyat “Uuugghh.. aaggh.. eenak Tante..” teriakku agak keras dengan bersamaannya spermaku yang keluar dan menyembur di dalam kemaluan Tante Donna.
“Hemm.. hemm..” suara itu cukup mengagetkanku. Ternyata suaminya yang sedari tadi hanya menonton kini telah bangkit dan melepas kimononya. “Sekarang giliranku, terima kasih kau telah membangkitkanku kau boleh meninggalkan kami sekarang,” katanya seraya memberikan segepok uang padaku.
Aku segera memakai pakaianku, dan melangkah keluar. Tante Donna mengantarkanku kepintu sambil sambil menghadiahkanku sebuah kecupan kecil, katanya “Terima kasih yach.. sekarang giliran suamiku, karena ia butuh melihat permainanku dengan orang lain sebelum ia melakukannya.”
“Terima kasih kembali, kalau Tante butuh saya lagi hubungi saya saja,” jawabku sambil membalas kecupannya dan melangkah keluar.
“Akh.. betapa beruntungnya aku dapat ‘order’ melayani wanita seperti Tante Donna,” pikirku puas. Ternyata ada juga suami yang rela mengorbankan istrinya untuk digauli orang lain untuk memenuhi hasratnya.
cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,


Duniabola99.com – Saya terlahir dari keluarga berada, dan cukup terhormat. Dan saya keturunan Indo, campuran dari berbagai suku bangsa (negara). Saya pun tumbuh layaknya gadis lain. Lincah, banyak teman dan di sekolahan termasuk murid pintar. Itu kata Bu Guru dan teman-teman. Tapi, dari nilai yang ada di rapor dengan rata-rata delapan bisa jadi kata Guru dan teman-teman itu benar. Namun dalam perjalanan pendidikan sempat mengalami hambatan. Dan akhirnya dapat juga menyelesaikan pendidikan diploma (2) bidang sekretaris, yang sempat terseok-seok disebabkan oleb pergaulanku yang sudah termasuk kelewat batas.
Saya memang termasuk anak yang menganut pergaulan bebas. Tepatnya kelas dua SMA sudah menjalin kasih dengan teman sekolah. Dan hubungan kami sampai di luar batas. Melakukan hal yang mestinya baru boleh dilakukan setelah ada ikatan resmi, nikah.
Itu terjadi karena dalam keluargaku saya bungsu dan empat bersaudara kurang mendapat didikan dan perhatian dari kedua orang tua. Kedua orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Dan kami anak-anaknya dipercayakan kepada pembantu. Ayah dan ibu seolah berkewajiban hanya menyiapkan uang untuk berbagai kebutuhan. Tapi dari segi kasih sayang sama sekali tidak merasakan. Karena ayah dan ibu pulang rata-rata sudah larut malam. Untuk sekadar makan bersama atau kumpul keluarga saja boleh dikatakan hampir tak pernah.
Kondisi itu sepertinya tidak dipedulikan oleh ketiga kakakku, dua pertama perempuan, dan ketiga laki-laki. Bisa jadi karena sudah biasa. Tapi bagi saya (bungsu), sangat mendambakan belaian dan kasih sayang yang hangat dari ayah dan ibu. Dan harapan itu sangat terasa saat menjelang tidur malam. Ingin rasanya mendapat pelukan dan ciuman khususnya dari ibuku. Namun akhirnya dari harapan kasih dari kedua orang tua yang tak kunjung tiba, membuat saya menjadi terbiasa mandiri. Bahkan menjadikan saya perempuan tegar tidak cengeng. Hampir semua persoalan hidup, saya hadapi dan coba selesaikan sendiri.
Akhirnya dalam pergaulan untuk menghilangkan stres dan rasa penat di dalam rumah, sering keluar jalan-jalan mencari hiburan nonton film ramai-ramai bersama teman atau sekadar kongkow-kongkow hingga larut malam. Di dalam pergaulan ini saya mengenal yang namanya obat-obatan dan mulai merokok. Sepertinya saat itu tidak ada beban dan rasa bersalah dengan keputusan yang saya ambil itu.
Apalagi ketiga kakakku juga tidak ada yang dapat sebagai panutan. Semua bersikap cuek. Jadi yang kuperbuat ya sah-sah saja. Tidak ada yang melarang, apalagi masing-masing (kakak-kakakku) punya kesibukan sendiri-sendiri. Yang pertama Kak Intan, yang saat itu sedang kuliah asyik dengan kehidupannya sendiri bersama sang pacar satu kampus.
Kak Mira (kedua) kelakuannya juga tidak terlalu berbeda dengan Kak Intan. Di samping kuliah juga terlalu asyik dengan pacarnya. Sementara Kak Niko (ketiga) memang lebih liar dibanding kedua kakak perempuannya. Hampir tiap hari pulang larut malam. Dan sekolahnya boleh dikatakan sudah drop. Kerjanya hanya main, dan kalau siang tidur. Tiap hari minta uang kepada ayah, jika tidak diberi pindah minta ke ibu. Ada saja alasan untuk kebutuhan. Saya sendiri sebagai adik sampai berpikir mau jadi apa nanti Kak Niko itu.
Pernah suatu hari, saya merasa kurang nikmat badan dan minta ijin pulang. Sampai di rumah, di kamar kakakku Intan yang bersebelahan dengan kamarku terdengar suara aneh, rintihan tapi disertai desahan. Yang sedianya pulang untuk istirahat, dengan adanya suara itu saya penasaran mencari tahu. Kondisi rumah, jika siang memang sepi. Karena semua kakakku dan aku pergi sekolah. Tinggallah pembantu sendirian. Kadang kakak Intan memang kuliah siang. Seperti siang itu, Kak Intan kuliah siang.
Saya coba membuka pintu kamar Kak Intan, dalam benak saya siapa tahu sakit seperti saya dan perlu pertolongan. Tapi pintu dikunci. Suara itu makin jelas, dan sepertinya Kak Intan tidak sendirian. Nah saya mencoba mengintip lewat lubang kunci. Degup jantungku bergetar keras dan kencang. Melihat adegan seni yang saya ketahui, meski masih dalam khayalan dari membaca stensilan yang dipinjami teman.
Cukup goyah lututku menyaksikan keasyikan kakakku yang tanpa pembalut tubuh bergelut dengan teman prianya. Perbuatan yang sebelumnya hanya saya khayalkan, kini terpampang di depan mata disajikan oleh kakakku Intan. Cukup lama pergumulan itu berlangsung. Dengan rasa tak tahan namun kepinginnya terus nonton, saya masuk kamar dan rebahan. Suara kakaku dan teman prianya terus menggoda. Akhirnya saya tidak lagi merasakan sakit, bahkan penyakit pusing itu lantas hilang begitu saja.
Suara desahan Kak Intan tidak kedengaran lagi, yang ada obrolan mereka berdua. Dan mereka lantas berangkat kuliah. Tidak tahu jika saya pulang lebih awal dan telah menyaksikan perbuatan bejatnya. Sayapun terus membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Namun terhadap Kak Intan saya bersikap biasa, seolah tidak tahu apa yang telah dilakukan dengan kekasihnya. Kepada ayah dan ibu saya juga tidak bercerita, saya pikir apa pedulinya toh sepertinya kakak saya begitu menikmati terlihat dan cara bermain dan pagutannya saat itu.
Sejak kejadian itu, saya jadi sering bolos sekolah. Ingin mengulang menonton ‘pergulatan’ Kak Intan. Dengan cara mengendap-endap masuk rumah takut ketahuan terus menyelinap masuk kamar. Namun harapan untuk mendapatkan tontotan menarik seperti siang kemarin sia-sia. Karena teryata Kak Intan kuliah pagi.
Nah saat saya dalam keadaan antara tertidur, terdengar sayup-sayup suara dua orang sedang ngobrol di kamar sebelah, kamar Kak Mira (kakak kedua saya). Pikir saya mereka baru pulang kuliah. Kamar Kak Mira memang bersebelahan dengan saya. Kamar kami (cewek) bertiga berjejer, dan saya yang di tengah. Sementara kakak laki-laki saya, Niko kamarnya di depan.
Kak Mira pulang kuliah mengajak teman laki-laki ke rumah. Pertama obrolan itu soal pelajaran. Namun lama-lama suara obrolan itu hilang, berganti suara desahan. Saya kontan bangun dan mengendap-endap mencari lubang kunci. Dan setelah di luar saya terkejut, karena pintu Kak Mira tidak ditutup dan terbuka cukup lebar. Saya sendiri jadi serba salah, takut ketahuan. Tapi suara musik di kamar Kak Mira membuat langkah dan gerakan saya tidak terdengar. Bahkan Kak Mira sepertinya tidak peduli dengan pintu yang masih terbuka itu.
Setelah mendapat posisi yang aman, saya mengamati dengan cermat gerakan demi gerakan yang dilakukan Kak Mira bersama temannya. Terlihat mereka masih mengenakan pakaian lengkap. Hanya saja rok Kak Mira mulai tersingkap, CD-nya terlihat. Sementara Si pria masih lengkap dengan t-shirt dan celana jeans. Tapi pagutan dan ciuman mereka berdua sepertinya membawa ke langkah yang makin seru. Masing-masing berlomba melucuti pakaian lawannya. Hingga akhirmya keduanya dalam kondisi telanjang. Cukup nanar dan gemetar juga saya menyaksikan adegan itu. Dan adegan seperti itu pernah saya saksikan lewat film BF bersama teman-teman usai sekolah, di rumah Linda (teman sekelas). Dan kedua saat melihat Kak Intan sedang main dengan pacarnya. Namun saat nonton Kak Intan kurang seru disamping lewat lubang kunci, shownya sudah setengah main.
Hari ini sungguh berbeda, saya menyaksikan seluruh permainan dari awal. Sungguh mendebarkan, Kak Mira meraih batang penis pacarnya, kemudian mulai dikocok-kocok dengan perlahan. Terlihat batang penis pacar kakakku mulai tampak membesar dan memanjang, sampai akhirnya dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan bagaimana batang penis yang tadinya layu kini telah berdiri dengan kerasnya dan sangat panjang, mengundang hasrat birahiku untuk turut merasakan kehangatan dan kedahsyatan penis pacar kakakku ini. Dengan penuh birahi kakakku mulai mengulum batang penis dihadapannya, sementara tangannya tetap mengocok-ngocok bagian tengah kebawah batang penis, kulihat tubuh pacar kakakku berkelejat-kelejat dan dari mimik wajahnya seakan menahan serangan kenikmatan yang datang bertubi-tubi di daerah sekitar batang kepala penisnya.
Pergulatan Kak Mira dan temannya semakin seru, saling memagut, mendesah, memburu, dan akhirnya saya lihat mereka berdua berada dalam permainan seks yang menggairahkan saat teman kakakku mulai memasukkan batang penisnya yang panjang kedalam vagina kakakku, kudengar kakakku mulai berteriak-teriak kecil dengan disertai desahan-desahan penuh birahi, kuakui memang teman kakakku ini memiliki stamina yang kuat sanggup bermain dalam satu jam dalam beberapa posisi yang pernah kulihat dalam video seks kamasutra, kuhitung-hitung kakakku sudah mengalami orgasme tiga kali dalam permainan tersebut, hingga pada akhirnya kulihat teman kakakku menggenjot-genjotkan batang penisnya secara cepat, dan.., tiba-tiba manarik batang penisnya dengan cepat dari vagina kakakku, dan beberapa detik kemudian kulihat semprotan sperma begitu banyaknya dan akhirnya teman kakakku mulai terkulai lemas dengan mandi keringat. Namun posisi mereka tetap berpelukan.
Saya pun dengan lemas dan gemetar masuk kamar. Namun pada saat menyaksikan adegan pergumulan itu tidak terasa tangan saya seperti dibimbing meraba dan menyentuh ‘barang’ terlarang milik saya. Dengan tidak sadar tangan saya mengusap-usap diantara selangkangan. Dan saya mendapatkan rasa kenikmatan. Sepertinya ada cairan yang keluar dari dalam, dan saya tidak tahu apa yang keluar itu. Yang ada rasa nikmat tiada tara saat itu.
Nah perbuatan itu (mengusap kemaluan) saya lakukan di saat sendirian di dalam kamar. Dan ternyata saya mendapat kenikmatan yang sama seperti saat sedang nonton Kak Mira bercumbu. Bahkan perbuatan itu terus diulang-ulang. Rasa penasaran pun makin menjadi-jadi, akhirnya saya ingin tahu bagaimana rasanya berhubungan. Suatu saat, sebetulnya tidak sengaja. Saya bermaksud pinjam catatan pelajaran kepada pacar, yang tidak sempat saya ikuti karena tidak masuk sekolah. Kebetulan buku itu ada di rumah. Maka saya diajak ke rumahnya mengambil buku itu.
Rumah pacar saya siang itu sepi. Kedua orang tuanya bekerja, sementara pacar saya anak satu-satunya. Yang ada di rumah hanya pembantu. Rumah itu cukup besar dan sepi. Saya dipersilakan masuk, dan diajak ke kamarnya. Setelah diambilkan minum, kami ngobrol. Pacar saya sepertinya telah berpengalaman dalam berpacaran. Terlihat dan saat ngobrol tangannya mulai aktif meraba daerah sekwilda (sekitar wilayah dada) milik saya. Namun anehnya saya menikmati, dan membiarkan tangan itu menelusuri daerah sensitif saya.
Teringat yang dilakukan pacar saya, seperti saat pacar Kak Mira melakukan hal yang sama. Saya pun terlena dalam kenikmatan, seperti terbang diawang-awang. Dan akhirnya perbuatan yang tadinya hanya dalam angan, kini kunikmati sungguhan. Kamipun sudah dalam kondisi polos, suara mendesah bercampur degup kencang jantung ada di dalam tubuhku. Saya pun rebah ditindih. Bukan sakit yang saya rasakan, tapi kenikmatan. Dan akhirnya kami pun sampai batas ‘perburuan’, lemas, lunglai dan bermandikan keringat. Untuk beberapa saat kami berpelukan, rasanya tidak ingin melepas, malah inginnya mengulang lagi. Dan perbuatan itu kami ulang setiap ada kesempatan. Sampai selesai sekolah diploma. Kamipun sebelum melakukan hubungan sering menggunakan obat-obatan terlebih dulu. Dan ternyata berdampak makin lebih nikmat dalam berhubungan. Hubungan kamipun lepas begitu saja, setelah pacar dengan alasan meneruskan sekolah, pergi ke luar negeri.
Bagi saya kepergian pacar saat itu tidak masalah. Toh dalam benak saya masih banyak pria lain yang antri untuk bisa kencan denganku. Mengingat dan merasakan pengalaman seks selama ini, banyak laki-laki yang mencoba mendekati saya dan mengutarakan cinta. Saya saja yang agak jual mahal. Nah saat baru selesai sekolah (diploma), sementara lagi kosong pacar tidak ada, saya banyak tinggal di rumah. Kegiatan diisi dengan baca buku, dan baca apa saja. Paling kalau jenuh, ke rumah teman ngobrol hingga malam, terus pulang langsung tidur.
Saat pulang pukul 24.00 WIB, dan pintu rumah memang hampir tidak pernah terkunci, saat buka pintu melewati depan kamar Kak Niko terdengar suara agak aneh. Ada desahan suara tertahan, sementara ada pula suara cekikikan. Saya yakin di kamar Kak Niko ada dua orang. Kebetulan saat itu ayah sedang tugas ke luar kota, dan ibu ikut mendampinginya. Ruang depan memang sudah gelap, tapi ruang Kak Niko terang, jadi cukup leluasa saya mencari tahu apa yang sedang dikerjakan kakakku. Kebetulan Kak Niko tidak pernah menutup jendela kamarnya yang terletak di dalam rumah. Dari jendela itu, saya mengendap mengintip. Dalam benak saya, yang terjadi di dalam kamar sama dengan kejadian seperti Kak Intan dan Kak Mira saat itu, ‘pergumulan’.
Benar saja. Kakak saya dan teman wanitanya setengab baya (35-an) namun masih terlihat cantik dan seksi sedang bergumul tanpa sehelai pakaian. Kak Niko terlihat begita asyik mencumbu, dan tak henti-hentinya menciumi seluruh bagian lekuk-lekuk tubuh si wanita. Si wanita menggelinjang, tertawa cekikikan di antara desahan yang tertahan.
Cukup lama permainan mereka itu berlangsung. Bahkan Si wanita sepertinya sudah tidak tahan, menjerit-jerit kecil dan memohon kepada Kak Niko, “Please, please”, katanya. Kak Niko sepertinya tidak peduli dengan kondisi wanita yang sudah seperti cacing kepanasan. Dan akhirnya, mereka berdua bergumul saling mendekap erat, berlomba mencapai perpaduan. Selesai sudah. tapi saya tidak lantas beranjak dari posisi. Penasaran ingin tahu apa lagi yang akan diperbuat. Posisi mereka telentang dan membiarkan tubuhnya terhampar tanpa pakaian. Tapi Si wanita, masih menggelayut dan mencumbu. Kakak saya bersuara, “Bayar dulu”, katanya.
“Jangan khawatir”, jawab Si wanita. Dan Si wanita bangkit, berjalan gontai menuju kursi belajar Kak Niko, di mana di situ terletak tasnya. Dari dalam tas wanita itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan, saya taksir sekitar satu juta.
Lantas uang itu dilemparkan kepada Kak Niko.
“Bagaimana”, kata wanita itu. “Thanks darling”, jawab Kak Niko.
Dan wanita itu tidur rebahan di sebelah kakakku. Mereka ngobrol tapi tangan masing-masing aktif menjamah daerah sensitif lawan. Lama-lama mereka mulai terangsang lagi. Ronde kedua jelas tinggal nerusin. Tidak perlu capai-capai pemanasan. Tapi saya melihat sebelum melakukan ‘pertempuran’ mereka berdua sepertinya mengkonsumsi obat. Sehingga permainan mereka terlihat lebih seru dan panas. Dan sayapun lama-kelamaan tidak tahan, mundur dan masuk kamar. Namun mata ini tidak bisa terpejam.

Cersex Terbaru – Bacaan Seks Ngentot Eva Ponakanku yang Menarik – Bacaan seks, bacaan dewasa, bacaan ngentot, bacaan panas, narasi sex terkini 2023. Kenalkan namaku Antony , saya berusia 29 tahun. Nama lain akrabku ialah Tony. Saat ini saya bekerja pada sebuah perusahaan multimedia desain dan pemasaran di Jakarta. Konsentrasi dari pekerjaanku lebih ke arah web desain. Statusku belum juga menikah, dan jg belum mempunyai kekasih yang serius.
Saya ialah anak ke-2 dari 3 bersaudara. Kakak dan adikku lelaki semua. Saat ini kakak kandungku sdh memiliki keluarga, dan ada di Denpasar, Bali. Adik kandungku barusan menuntaskan kuliah-nya di Jakarta, dan kami tinggal bersama-sama. -cerita seks terbaru- Semenjak saya berpindah ke Jakarta, orangtua kami beli rumah di Jakarta supaya saya dan adikku tidak mudah dipengaruhi oleh karakter dan rutinitas beberapa anak kos yang tidak betul. Memang saya mengakui itu kekuatiran yang terlalu berlebih, tp untuk kami itu ialah karena karena sudah dikasih rumah oleh mereka.

Kelompok Bacaan Seks Ngentot Eva Ponakanku yang Menarik
Bacaan Seks Ngentot Eva Ponakanku yang Menarik
Kakak pertamaku semenjak tamat dari kursi SMU langsung berpindah ke Denpasar, Bali. Ia ambil sektor kedokteran, dan sekarang saat ini ia sukses buka praktik sendiri di Denpasar dan tinggal di situ. Sesudah lama ia beralih dari 1 tempat ke arah tempat lain di wilayah terasing untuk ujian praktik dan jg karena suruhan pemerintahan.
Saya ingin bercerita pengalaman mengagumkan saat saya masih kuliah di kota pahlawan (Surabaya) nyaris sepuluh tahun yang kemarin. Pengalaman ini mengikutsertakan jalinan saya dgn kakak ponakanku yang berusia 5 tahun lebih tua dari saya. -cerita cabul terbaru- Jika saya pikir-pikir kembali saat ini, keperjakaanku diambil oleh kakak ponakanku sendiri, dan tidak ada rasa penyesalan dalam diriku.
Atau karena mungkin saya ialah lelaki, menjadi permasalahan keperjakaan tidak begitu penting untuk kami golongan Adam.
Kakak ponakanku namanya Evani, tp semenjak kecil saya selalu panggilnya Eva atau cuma Cici yang maknanya kakak wanita. Kami asal dari kota yang sama yaitu kota Surabaya. Eva ialah anak dari kakak wanita ibuku. Ia ialah anak bibi yang pertama dari 3 bersaudara.
Eva di saat sepuluh tahun yang lantas wajahnya elok, putih, dgn tinggi tubuh 165 cm. Dadanya montok, walaupun tidak demikian besar. Tp pinggulnya bukan bermain cantiknya.
Aneh-nya anak dari ibuku semua-nya lelaki, dan anak dari bibi semua-nya wanita. Rumah kami tdklah jauh, dan saat masih SMP dan SMA, Eva selalu singgah ke rumahku hampir setiap 3x satu minggu. Karena tempat les privat matematika, dan fisika-nya cuma sejumlah mtr. dari rumahku . Maka dibanding pulang ke rumah-nya dahulu sehabis sekolah, ia memutuskan untuk singgah di rumahku untuk makan siang lantas pergi kembali ke les private-nya.
Dapat disebutkan walaupun usia kami berbeda 5 tahun, tp kami benar-benar dekat. Eva ramah, halus, dan benar-benar perhatian ke kami. Kami memandang Eva seperti kakak kandungan sendiri. Tp saya sering merasakan Eva memberikan sedikit perhatian ekstra kepadaku. Saat itu saya berpikiran karena mungkin kakak pertamaku nyaris seumur dgn-nya, dan adik bungsuku umur-nya berbeda sangat jauh darinya. Tp sesudah peristiwa malam itu, saya baru ketahui mengapa Eva memberi perhatian ekstra kepadaku.
Eva kerap bercurah hati dgnku, walaupun saat itu saya masih duduk di kursi SD. Terkadang saya tidak memahami apa yang ia omongkan. Jika ia ketawa, aku juga turut ketawa. Walaupun saya saat itu tidak tahu mengapa harus ketawa. Mengingat itu kembali, saya dapat ketawa sendiri sekarang ini. Jiwa beberapa anak masih polos dan murni.
Sejak tamat SMA, Eva berpindah ke Bandung dan kuliah di situ.
Semenjak kepindahnya Eva, terang-terangan saya merasa kehilangan dan terkadang kangen dgn-nya. Cuma satu tahun 2x Eva pulang ke Surabaya, dan itu cuma untuk sejumlah minggu saja. Dan yang menjengkelkan, setiap kali Eva pulang, sering kali saat saya harus hadapi ujian umum . Maka waktuku untuk bermain dgn ia sangat terbatas.
Saya jg pernah cemburu oleh lelaki yang saat ini jadi suami Eva, saat Eva membawa-nya pulang berjumpa keluarga-nya dan keluargaku. Rasa cemburu ini sangat berbeda. Tidak sesakit rasa cemburu pada kekasih sendiri. Mungkin rasa cemburu karena takut akan kehilangan kakak kecintaan saja. Lelaki itu namanya Erik. Erik asal dari kota Samarinda, yang kebenaran kuliah di kampus yang sama dgn Eva.
Jalinan Erik dan Eva terus berjalan sampai akhir-nya sehabis kuliah, mereka putuskan agar selekasnya menikah. Keputusan menikah ini atas keinginan Erik, karena ia harus kembali lagi ke Samarinda dan meneruskan usaha orang tua-nya. Eva menikah di umur-nya yang ke 24 tahun. Sudah pasti sesudah menikah Eva harus turut Erik ke Samarinda.
Sejak kepindahnya Eva ke Samarinda, jalinan kami sebelumnya sempat terputus sepanjang dua tahun. Dan berita mengenai Eva cuma bisaku peroleh dari bibi (ibu Eva) saja. Di saat itu Eva masih belum sempat dianugerahi seorang anak. Setiap kali saya menanyakan ke bibi kenapa sampai waktu itu Eva belum mempunyai anak, jawaban bibi sering kali sama, yah di antara aktivitas Eva menolong usaha Erik atau Eva sendiri masih tidak siap mempunyai anak.
Rupanya memang betul, semenjak Eva menikah dan berpindah bersama Erik di Samarinda, usaha Erik betul-betul lancar dan berkembang cepat. Erik mempunyai toko yang luas dan terdiri jadi 2 sisi. Erik tangani usaha business di bagian smartphones dan aksesorinya. Dan Eva tangani usaha business pada bagian konveksi dan aksesorinya seperti capit rambut, anting-anting, dan lain-lain. Erik dan Eva kerap terbang ke Jakarta untuk order smartphones, dan beberapa barang mode terkini di Indonesia untuk dipasarkan di toko mereka.
Sesuatu hari sesudah dua tahun lama-nya tidak ada contact dgn Eva. Mendadak Eva terbang ke Surabaya karena kangen dgn orang tuanya. Erik tidak tiba dengannya dan Eva tinggal untuk 10 hari saja. Tp lawatan ini kali tidak pas ketika waktunya. Gagasan Eva pulang ini untuk memberikan surprise buat orang tuanya, justru ia lebih dikejuti oleh orang tuanya.
Saat itu bibi dan paman harus terbang ke Thailand karena berlibur dan tidak mungkin diurungkan karena ticket dan semua fasilitasnya sdh dibayarkan . Maka Eva berjumpa dgn bibi/paman cuma untuk 2/tiga hari saja. Seterusnya Eva harus jaga rumah dan ke-2 adiknya. Waktu itu saya masih duduk di kursi kuliah, dan kebenaran baru masuk semester baru. Tidak ada aktivitas yang bermakna ketika kami baru masuk semester baru.
Di hari Jumat siang (kurang lebih jam 2 siang), setelah dari kuliah, saya segera memilih untuk pulang ke rumah saja. Tidak sebagaimana umumnya. Umumnya tiap hari Jumat, saya dan beberapa teman kuliah tentu terus ngafe atau istilahnya mejeng (kalau bahasa kami bilangnya ‘mejeng’) di mall. Waktu datang di dalam rumah, Eva sdh berada di sana dan kembali melihat VCD bersama pembantu.
“Halo Eva, kapan tiba?”, sapaku.
“Halo Tony. Baru saja tiba. Cici jemu di dalam rumah. Tara dan Dina kembali keluar tuch ama cowok-cowoknya . Maka cici jemu di dalam rumah sendiri . Maka yah berpindah saja di sini.”, jawabannya enteng.
“Eva dah makan belum?”, bertanya saja.
“Sdh barusan. Tuch ada ikan goreng ama sambel lahapan mbak punyai. Mantep tuch!”, gurau Eva sekalian melihat ke pembantuku.
Saya selanjutnya masuk kamar dan menukar baju rumah. Eva saat itu sedang menonton film Armageddon (Bruce Willis). Salah satunya film favoritku. Selanjutnya saya gabung denganya menonton bersama sekalian makan siang di muka TV. Tp memang betul, ikan goreng sambel lahapan pembantuku memang tidak ada saingannya. Sebelumnya sempat saja saya tambah 2/3 piring.
Di tengah melihat VCD, pembantuku tawarkan kami juice buah. Sudah pasti penawaran yang tidak bisa dilewati. Pada siang berlubang ini, juice buah fresh ialah penawar yang paling tepat.
Saya duduk di sofa sekalian kakiku naik di atas meja, dan Eva duduk cocok di sebelahku. Makin lama Eva makin merapat ke saya. Saya tidak demikian peduli karena saya sdh terlatih dgn tersebut. Berbau wangi rambutnya sebelumnya sempat tercium waktu itu. Eva terlihat jemu, karena mungkin ia sudah menonton film itu dahulunya.
“Tony, cici jemu nih!”, ucapnya.
“Terus Eva ingin ngapain?”, tanyaku.
“Tidak tahu nih. Ingin ke Thailand cici.”, jawabannya sekalian ketawa.
“Ya sono, membeli ticket! Tony anterin dech saat ini”, responku seadanya. Mendadak Eva mencubit perutku.
“Eva ingin ke mall tidak?”, tawaranku.
“Malas ah. Mall mall terus-terusan. Tidak ada yang lain?”, bertanya Eva.
“Ada. Ingin ke Tretes? Nginep di sono.”, tawaranku kembali.
“Bisa sich, tp tidak ini hari. Masih panas dan macet kembali beberapa jam begini.”, jawabannya.
“Trus saat ini Eva ingin ngapain?”, tanyaku satu kali lagi.
“Ke kamar Tony yok. Ada komputer games baru tidak?”, bertanya ia.
“Simak saja sendiri.”, jawabku rileks.
Selanjutnya kami cabut dari depan TV dan biarkan pembantuku menonton film tersebut. Di dalam kamar saya menghidupkan AC dan komputer. Saya biarkan Eva bermain-main computerku, dan saya cuma tiduran pada tempat tidur sekalian membaca komik manga. Rupanya Eva tidak menjadi bermain games komputer, tp justru searching-browsing beberapa foto yang saya scanned sendiri. Zaman itu digital kamera masih mahal dan kwalitasnya buruk, tidak sekarang ini. Eva kelihatan senyuman-senyum sendiri menyaksikan beberapa foto kami waktu tetap kecil.
Mendadak bak tersambar petir, Eva membuat saya mati kutu. Saya lupa keseluruhan jika di komputer itu banyak koleksi beberapa film porno yang saya dapat dari beberapa teman kuliah.
“Hayo apa ini, Tony?!”, bertanya ia sedikit mengkritik.
“Weleh Eva jangan membuka itu donk! Barang privasi! Khusus lelaki.”, jawabku seadanya.
“Memang cewek tidak bisa simak yah?”, bertanya ia mengkritik kembali.
“Kalau cewek ingin simak, bisa saja, tp simak kelak saja atau kapan-kapan, jangan sekarang ini. “, jawabku sekalian malu tidak karuan.
“Cici ingin simak saat ini bisa kan?! Lagian hanya ini saja. Tony lupa yah, cici kan sdh punyai suami.”, jawab ia kembali.
“Ya sudah. Terserah Eva. Tp suaranya dikecilin yah. Nanti mbak terdengaran kembali.”, pintaku.
Tanpa basa-basi, Eva langsung putar saja beberapa film porno tersebut. Anehnya seolah-olah Eva kelihatan nikmati beberapa film porno itu. Koleksiku termasuk banyak dan dari banyak negara, ada Amrik, Australia, Canada, Jepang, Hongkong, Taiwan, Thailand, dan sedikit saja yang Indo. Mahfum bokep Indo waktu itu masih sulit didapatkan. Berlainan dgn zaman sekarang ini.
Lumayan lama Eva melihat beberapa film bokep itu, mendadak saya dikejuti oleh panggilannya. Panggilan berikut awalnya dari segala hal.
“Tony, pinjitin cici donk? Meminta mama tuch beliin bangku belajar yang sedap. Membuat pegal saja.”, kata Eva.
Terang-terangan dari dahulu, saya tidak sebelumnya pernah sungkan-sungkan untuk memijat Eva jika ia meminta. Tp ini kali saya berkeberatan, karena Eva sedang menonton film porno. Semenjak barusan saya ingin keluar kamar, dan biarkan Eva menonton sendiri. Tp jg sedikit ada rasa tidak sedap kalau tinggalkan ia sendiri. Saya berdiri pada posisi yang serba salah. Pada akhirnya saya memilih untuk penuhi keinginan Eva.
“Ehmm…ehmmm…”, suara Eva kenikmatan.
“Kurang keras, Eva?”, tanyaku.
“Cukup Tony. Tp agak turun ke lengan sedikit yah.”, pinta Eva.
Saat ini ingin tidak ingin saya turut menonton film bokep itu bersama Eva. Saya tidak berani berbicara apapun. Malu dan risi itu argumen yang paling tepat. Saya mengakui mulai dari barusan rudal saya sdh cukup berdiri, tp belum juga maksimal.
Lumayan lama saya memijat bahu dan lengan Eva. Mendadak saya dikejuti dgn suaranya yang membuat jantungku seolah-olah ingin lepas.
“Tony, ingin pijet susu cici tidak?”, bertanya Eva.
Jeblerrr, seperti tersambar petir, ingin selekasnya tidak sadarkan diri saja saya dgn pertanyaan Eva tersebut.
“Mmmm… tujuan Eva apa yah?”, tanyaku berpura-pura bego.
“Iya, cici bertanya Tony. Ingin tidak pijet susu cici?”, jawab Eva sekalian tangannya meraba-raba payu daranya sendiri.
“Mmmmm… “, cuma itu yang bisa jadi jawab.
Dgn malu saya turunkan ke-2 telapak tangan saya ke arah ke-2 payu daranya, dan meremasnya halus. Badan Eva mendadak kaget sesaat, selanjutnya rileks kembali. Cuma beberapa menit saja, mendadak Eva berbicara:
“Tony, setop dahulu. nanti, cici ingin lepas BH dahulu.”
Edan betul nih, saya dibuat tidak karuan saja. Eva melepas BH nya dari dalam kaos putihnya tanpa melepaskan kaosnya.
“Nach, kalau ini Tony lebih bebas.”, ucapnya rileks.
Jelas saja, saya dapat rasakan daging halus yang mencolok terang ia dadanya, walaupun tetap terbungkus kaos putihnya. Saya menelan ludah, malu, risi, gugup tp ke-2 telapak tangan tetap meremas-remas payu daranya. Rudal k0ntolku saat ini jadi berdiri yang tegak, dan sangat keras.
“Ehmm…ehmmm…ahhh”, suara Eva pelan-pelan berbeda seperti suara pemain wanita di film bokep yang sedang kami saksikan.
Tangan kanan Eva saat ini sdh tidak menggenggam mouse komputer kembali, tp meremas telapak tanganku yang sedang repot meremas-remas payu daranya.
Saya betul-betul masih hijau di bagian beginian. Pembelajaran sex yang saya peroleh cuma dari beberapa film bokep saja. Reality sex pengalaman masih tidak pernah sama sekalipun. Ini saja pertama kalinya saya meraba-raba, meremas payu dara seorang wanita.
“Ahh… Tony … ahhh … “, suara Eva semakin seksi dan berikut pertama kalinya saya menyaksikan muka Eva pada kondisi terangsang alias horny.
Kakak ponakan yang umumnya manis dan halus, sekarang beralih menjadi wanita yang sedang haus akan sex. Saya tidak sebelumnya pernah menygka jika Eva rupanya benar-benar mengusai di bagian ini.
Tanpa sungkan-sungkan kembali, Eva menanyakan dgn vulgarnya, “Tony, ingin gituan ama cici tidak?!”.
“Anu, gituan apa ci?”, tanyaku berpura-pura bego kembali.
“Tony jangan berpura-pura bloon ah”, jawab Eva sekalian mencubit tanganku.
“Tp Tony memang tidak tahu, ingin gituan apa sich?”, jawabku masih berpura-pura kembali.
“Aduhh Tony, reseh nih. Tujuan cici itu, Tony ingin tidak ngentot ama cici?”, ini kali pertanyaannya semakin vulgar.
Itil V3
Istilah ‘ngentot’ jarang-jarang digunakan di Surabaya waktu zaman tersebut. Istilah ini umum digunakan di Jakarta dan sekelilingnya. Karena mungkin dahulunya Eva sebelumnya pernah kuliah di Bandung, menjadi istilah ini sdh biasa diucap olehnya.
“Hah?! Percaya nih Eva? Di sini saat ini? Nanti terdengaran mbak loh.”, jawab cemas.
“Kunci saja pintunya. Sepertinya mbak kembali tidur siang. Lagian kita putar musik saja agar tidak kedengeran.”, jawab Eva.
Tanpa dikasih aba2, dgn cepat saya mengamankan pintu kamar, selanjutnya tutup film bokep barusan dan menggantinya dgn mp3 program. Eva sdh tiduran di atas ranjangku sekalian melihatku yang sedang berdiri dari sisi tempat tidur. Tidak tahu harus dimulai dari mana.
Seolah-olah memahami dgn kelakuan lakuku yang ingin hijau. Eva selanjutnya menarik badanku supaya gabung denganya di atas tempat tidur. Tanpa malu, tangan Eva menjulur ke celana boxerku, dan dgn singkat saja tangkai k0ntolku sudah digenggamnya dgn gampang.
“Wah, kok dah tegang nih?”, bertanya Eva memikat.
“Ah, Eva dapat saja nih?”, jawabku malu.
“Tony sebelumnya pernah tidak gituan ama cewek lain?”, bertanya Eva ingin tahu.
“Menurut Eva bagaimana?”, jawabku malu.
“Jika menurut cici sich, sepertinya tidak pernah yah. Tony masih malu begitu … tp MAU!”, godanya kembali.
“Cici ajarin Tony yah. Tp ini untuk ini kali saja. Tidak akan ada lain waktu. Cici ingin mengambil Tony punyai perjaka.”, kata Eva sekalian ketawa.
Saya seperti tidak mengenali Eva sebagai kakak ponakanku yang sebagaimana umumnya. Hati sayang saya sebagai adik ponakan pada kakak ponakan beralih menjadi hati gairah birahi. Ingin sekali saya menyetubuhinya dan nikmati badannya dari ujung rambut sampai ujungnya kaki.
Dgn selekasnya saja kulepas semua baju yang saya gunakan termasuk celana boxerku. Sekarang saya yang terlanjang bundar. Karena mungkin terlampau gairah dan gugup, saya sampai lupa jika Eva tetap kenakan pakaian komplet. Brrr… semprotan angin AC betul-betul dingin. Dgn selekasnya saya matikan AC di dalam kamar. Reflek badan saya untuk menghindar dari masuk angin.
“Eva, tidak lepas pakaian?”, bertanya saya polos.
“Nanti dahulu, perlahan-lahan donk sayang.”, jawab Eva rileks.
Terang-terangan panggilan kata ‘sayang’ di sini berlainan sekali rasanya dgn kata ‘sayang’ yang kerap Eva katakan dulu-dulunya. Ini kali seolah-olah kata ‘sayang’ yang bermakna seperti ‘aku punyamu’ atau ‘nikmatilah aku’, atau apalah begitu. Yang tentu bau sex.
Saya tiduran di atas tempat tidur dgn sikap tubuh telentang, ke-2 telapak tangan di atas perut, dan dgn tangkai k0ntol yang menegang. Eva seperti memahami apa yang harus ia lakukan. Eva arahkan badannya di atas badanku dan mengawali actionnya.
Pertama kali ia mencium leherku, selanjutnya menjilat-jilati kuping saya. Sudah pasti bulu romaku berdiri dibikinnya.
Saya coba mencium bibirnya, tp setiap kali saya coba, Eva selalu menghindari saja.
“Eva, Tony ingin cium bibir cici.”, kataku.
“Jangan Tony. Kecupan bibir kan cuma untuk pacar. Cici kan bukan kekasih kamu.”, jawab Eva.
Saya cuma menggangguk saja tanda sepakat, dan biarkan dianya menelusuri semua badanku. Eva betul-betul mengusai pada sektor beginian. Ia dgn cepat dapat ketahui di mana titik kekuranganku tanpa menanyakan kepadaku. Dgn tanpa ragu ia mengulum halus tangkai k0ntolku, dgn kadang-kadang menjilat-jilatnya. Badanku bak melayg di surga, tiap hisapan yang ia beri pada tangkai k0ntolku membuatku melayg-layg.
Lumayan lama ia bermain dgn tangkai k0ntolku, pada akhirnya ia stop dan buka kaosnya. Oh my gosh, pertama ini kali saya menyaksikan sepasang payu dara cantik punya Eva. Sepanjang saya cuma nikmati sisi atasnya saja yang putih mulus tertutupi oleh pakaian renang. Ini kali semua lebar terbuka. Demikian putih, mulus, dan warna putingnya yang coklat muda melawan di muka mataku.
Bacaan Seks Ngentot Eva Ponakanku yang Menarik
Eva menyuruhku mengulum puting susu-nya. Untuk yang ini saya dapat, seperti mengulum permen cup-pa-cup saja.
“ahh … ahh …”, kedengar suara erangan lembut Eva.
Ia berusaha meredam suaranya supaya tidak kedengar oleh pembantuku.
“Tony, tolong lepas celana cici donk?!”, pintanya halus. Sudah pasti penawaran yang mahal. Dgn selekasnya saya bebaskan celana jeansnya plus celana dalamnya.
Satu kali lagi … OH MY … saya jadi napas sesak sekarang ini. Saya saat ini dapat menyaksikan meki Eva dgn terang.
Benar-benar cantik, lebih cantik dari meki-meki yang sebelumnya pernah saya saksikan dari beberapa film porno. Jembutnya jg lembut dan tidak demikian lebat. Paha-nya mulus, dan perutnya langsing. Tidak sebelumnya pernah terpikirkan olehku awalnya jika Eva se-sexy ini. Meskipun sudah menikah lebih dari dua tahun, Eva masih rajin menjaga bentuk badannya.
Terpintas dalam pikiranku untuk menjilati meki punya Eva seperti yang kerap saya saksikan di film bokep. Tp niat ini ditampik oleh Eva, karena mungkin takut saya tidak tahan menghirup aroma meki . Maka saya cuma dibolehkan untuk mainkan tanganku pada bagian itilnya. Meki Eva halus sekali dan sekarang jadi basah. Suara erangan nikmat Eva semakin menjadi, dan terkadang sedikit lepas kontrol.
“Tonyyy, ahhh … ahhh … geli Tony…”, suara Eva yang sedang bernapsu.
“Sedap Eva?”, tanyaku.
Tp Eva seolah-olah tidak dengar pertanyaan ini. Ia tetap fokus dan nikmati tiap sentuhan-sentuhan yang saya beri.
Meki Eva makin basah dan licin. Ini kali badannya sedikit menegang. Waktu itu saya tidak memahami apa yang bisa terjadi denganya, yang kedengar dari mulutnya cuma
“Tony … ahh ahh … cici ingin tiba ggg … cici ingin tiba gg”. Cuma dalam perhitungan detik, mendadak badan Eva melafalkanng dan menjerit keras.
Saya cemas dan selekasnya saja saya tutup mulutnya dgn tanganku. Napasnya tersengal-sengal, dan merengkuhku sekencang mungkin. Badan Eva berkeringat, mahfum waktu itu AC sudah saya matikan, ingat Surabaya kota yang panas, tidak bingung Eva menjadi berkeringat.
“Tony … thank you …”, ucapnya sekalian tersengal-sengal.
“Tony ingin rasain masuk kesini tidak?”, ucapnya sekalian menunjuk mekinya yang sdh basah.
Saya cuma menggangguk malu sekalian berbicara,
“Kalau Eva ijinin, Tony ingin saja masuk ke situ.”.
“Aduh, genit kamu. Terang cici ijinin donk. Saat cici hanya ijinin pegang. Kan tanggung.”, jawabannya genit.
Selanjutnya ia menambah,
“Tony, tp ini cuma untuk ini hari saja yah. Dan ini cuma rahasia kita berdua saja. Janganlah sampai ini dibongkar pada orang lain, apalagi kalau sampai suami cici tahu. Cici dapat bunuh diri.”, ucapnya serius.
“Husss … mana bisa demikian Eva”, jawabku tegas.
“Karena itu, Tony harus menjaga rahasia ini, ok?!”, pintanya. Saya cuma memberi sinyal peace, yang bermakna ‘I swear’.
“Saat ini Tony mengambil posisi di atas cici. Cici bimbing dedek Tony dahulu. Jangan asal-asalan bermain tusuk yah?!”, ucapnya kembali. Saya cuma dapat menggangguk saja.
Dgn ambil posisi di atasnya, Eva coba membimbing tangkai k0ntolku masuk ke dalam saat mekinya. Saya jadi tidak sabar kembali, ingin segera masuk ke. Saya demikian bergairah waktu itu. Usai sukses tembus masuk ke dalam saat meki Eva, mata Eva terpejam dan mulutnya bernada basah “ugghh…”. Saat k0ntolku tenggelam didalamnya, saya belum ingin coba mainkan pinggulku. Saya ingin rasakan hangatnya meki Eva untuk sesaat. Pertama kalinya k0ntolku masuk ke dalam lubang kepuasan wanita.
“Mengapa Tony. Kok diam saja?”, bertanya Eva.
“Tony ingin diam dahulu ci. Punyai cici anget sekali.”, jawabku.
“Sedap?”, bertanya Eva satu kali lagi, dan saya mengganggukan kepalaku.
“Jika begitu kocok saat ini yah, nanti jika Tony ingin keluar pejunya, keluarin saja yah. Jangan berusaha untuk ditahan. Ini kan pertama kalinya buat Tony, menjadi cici dapat mahfum kalau Tony tidak dapat mengatur keluarnya peju.”, terang Eva.
Pelan-pelan saya mainkan pinggulku. Saya belum terlatih. Saya sedikit gugup. Eva menolongku mainkan pinggulku supaya dorongan dan irama kocokan tangkai k0ntolku lebih memiliki irama. Selangkangan Eva dibuka lebih lebar olehnya, supaya memberi ruang bagiku bergerak lebih bebas.
“Ahhh…Tony…cepet pintar kamu…yah di sono terus … terus lebih dalam lagi …”, puji Eva. Saya cuma tersenyum saja.
“Uhhh … ohhh… uhhh…”, desahan Eva semakin menjadi.
Eva berusaha sekeras mungkin meredam desahannya supaya tidak sampai kedengar terlampau keras. Eva terlihat bergairah sekali, dan memulai keluarkan ucapannya yang kotor. Aku juga dengar kata-kata kotor Eva, jadi semakin bergairah jg. Saya merasa seperti lelaki salah satu yang sanggup memberikan kepuasan gairah birahi Eva.
“Tonyyy … entotin cici terus … entot cici terus … k0ntolnya enakkk bangettt sichhh … uuuhhh…”.
Menyaksikan tingkah laku Eva, saya jadi seolah-olah terikut olehnya, dan seperti penyakit menyebar, aku juga mulai bicara yang jorok-jorok juga.
“Iya ci … Tony entotin terus meki cici … kalau dapat entot terus foreverrr …”, kacau-balau dech kata-kataku.
“Tonyyy … cici ingin kencinggg … geliii bangettt … uuhhh …”.
Makna ‘kencing’ di sini tidak bukan air seni betulan, tp karena terlampau gelinya Eva merasa seolah-olah ingin kencing. Yang tentu meki Eva semakin basah saja.
“Uhh…ohhh … sukai tidak ngentot ama cici … sukai tidak? meki cici sedap tidak? … “, bertanya Eva kacau-balau.
“Enakkk bangettt cici … enakkk sekali … Tony kelak kapan-kapan meminta kembali yah? … tidak ingin sekali doang, pleaseee …”, mintaku.
“Iyaaa … iyaaa … asal Tony sukaaa … Tony bisa entot cici terusss … uuhh … oohhh”, jawabannya.
Saya jadi sangat senang dengarnya.
“Eva sukai ngentot ternyataa yahhh … baru tahu Tony”, kataku.
“Siapaaa di bumi ini yang tidak sukai ngentot, heh? Cici jg manusia kann…”, jawab Eva.
Badanku terus memompa-mompa Eva, dan ini kali saya yang jadi berkeringat. Sebagian besar tubuhku basah, dan itu membuat Eva makin bergairah. Terkadang ia menyeka dadaku yang berkeringat dgn telapak tangannya, dan terkadang menjambak halus rambutku.
“Eva …ahhh… Tony sepertinya ingin meletuskk nanti lagii … bagaimana nihhh”, kataku cemas.
“Keluarin ajaaa kalau dah tidak tahann …”, jawabannya.
“Iyaaa … Tony ingin keluarrr nanti lagii … cici bersiap yah”, kataku kembali. Eva cuma menggangguk saja.
Kupercepat kembali goyangan pingguku. Eva jadi seperti cacing kepanasan.
“Tonyyy … cici jg ingin tiba gg … enakk benar k0ntolnya sichhh …”, puji Eva kembali.
“Eva … dah dipucukkk nihhh … nanti lagiii … nanti lagiii …”, kataku tidak karuan.
“Berbarengan yah sayanggg … ahhh ahhh … cici jg ingin tiba sayanggg …”, Eva mengingau.
Dengar kata ‘sayang’ kembali, saya jadi tambah bergairah kembali. Bendungan pejuku sesaat lagi bobol, dan saya tahu tentu jika itu akan tidak lama nantinya.
“Eva … Tony nanti lagiii datanggg …”, kataku memberikan aba-aba.
“Iya sayanggg, keluarin yah sayanggg … uuhhh … oohhh ….”.
Selang beberapa menit selanjutnya …
“Eva … Tony datanggg … ahhhh … ahhhh …”, kataku sekalian tangkai k0ntolku keluarkan semua pejunya dalam lubang meki Eva.
“Ahhh … Tony sayanggg … cici jg keluarrrr … ahhh … ahhh …”, sahut Eva sekalian merengkuh badanku yang basah kuyung.
Kubiarkan tangkai k0ntolku menumpahkan lava hangat dalam lubang meki Eva. Eva tetap merengkuh badanku dgn napas tersengal-sengal. Sesudah selang sesaat, muka kami sama-sama bertemu, dan Eva selekasnya mencium keningku.
“Tony, thank you satu kali lagi yah.”, kata Eva.
“Tony jg thank you buat Eva. Ini pengalaman bernilai Tony.”, jawabku.
“Tidak nyesel kamu Tony?”, bertanya Eva ingin tahu.
“Tidak sama sekalipun. “, jawabku tegas yang selanjutnya kelihatan Eva tersenyum manis.
“Aduh … peju perjaka sangat banyak. Tidak cukup meki cici yang memuat. Tp saat ini dah tidak perjaka kembali nih!”, gurau Eva. Saya cuma tersenyum saja.
“Tp untuk ukuran perjaka, Tony termasuk luar biasa loh. Masih sanggup membuat cici tiba satu kali lagi.”, pujinya.
“Eva, benar tidak sich kalau cewek menelan peju perjaka dapat tahan lama muda?”, tanyaku bergurau.
“Aduh … mana ada yang begituan. Itu kan hanya dogma saja”, jawab Eva.
Posisi tangkai k0ntolku tetap menancap di saat meki Eva. Masih cukup keras sich, tp gairah birahiku sdh berkurang. Saya diamkan tangkai k0ntolku dalam sana sekalian merengkuh badan Eva. Badanku basah kuyup, dan untungnya Eva tidak sungkan-sungkan merengkuh badanku yang sedang penuh bermandikan keringat. Saya merasa Eva memang sayang kepadaku.
Tidak berasa keseluruhan waktu kita berperang di atas tempat tidur lebih dari 3 jam. Jam 6 sorean Eva pamit pulang, karena ia ada janji dgn beberapa teman saat SMA-nya dahulu. Saat malam harinya saya terima sms darinya yang berbicara:
“Tony, ingat janjinya yah. Jangan bilang-bilang sama siapa saja. Nanti cici tidak kasih kembali loh?!”.
Selanjutnya saya balas smsnya,
“Jika Eva ingin Tony tutup mulut mengenai rahasia ini, tolong sumbat mulut Tony ama susu Eva kembali dech.”.
“Aduh … masih tidak cukup yah?! Dah suka nih yah?! Nanti sebelon cici pulang ke Smrd, cici kasih kembali dech.”, balesnya.
Malam itu saya tidak dapat tidur, terpikir-ingat peristiwa erotis siang hari tersebut. Saya tidak menygka kakak ponakan yang paling saya sayang dan yang paling saya hargai, sekarang sudah saya setubuhi. Saya tidak menygka jika Eva ialah wanita pertama yang sebelumnya pernah saya setubuhi. Yang lebih mengagetkan , ia ialah kakak ponakan sendiri yang mana kami berdua masih tetap ada sedikit jalinan darah (di antara ibuku dan ibunya).
Sedikit ada perasaan bersalah dan menyesal, tp karena saya tetap termasuk pemuda yang mudah bergairah, saya tetap mempunyai pertimbangan dan keinginan untuk menyetubuhi Eva satu kali lagi saat sebelum ia pulang ke Samarinda. Dan untungnya pertimbangan atau keinginanku ini tdklah percuma, sepanjang tersisa 6 hari berliburnya di Surabaya, kami selalu cari peluang untuk ‘bercinta’. Di kamarku, di kamarnya, dan sekali di bak mandi di tempat tinggalnya.
Eva sudah berbeda tidak saja sekadar kakak ponakan saja, tp lebih jadi guru seks-ku. Ia kelihatan benar-benar mengusai saat memberikan kepuasan gairah birahi lelaki. Jurus goyang pinggulnya dgn posisi ia di atas sanggup membuatku bonyok. Seolah-olah dgn tempatnya di atas, mekinya berasa seperti meremas-remas dan mengisap tangkai k0ntolku. Pertama kalinya Eva memperkenalkan jurus goyang pinggulnya, saya tidak sanggup bertahan, dan cuma seringkali goyangan pinggulnya, saya segera ejakulasi. Eva sebelumnya sempat mengkritik gurau saat itu, dan mahfum menyaksikan peristiwa ini.
Setelah sesudah bersetubuh dgn Eva, saya banyak menanyakan mengenai pengalaman seks-nya dgn Erik dan terkadang saya memperbandingkan diriku dgn Erik. Sudah pasti menurut dia, saya masih tetap sedikit kalah dibanding suami-nya sendiri. Tp Eva mengaku jika saya kerap ‘bermain’ denganya, saya semakin lebih ‘jago’ dibanding suami-nya sendiri. Permasalahan ukuran k0ntol, Eva katakan punyaku lebih panjang dibanding punyai Erik, tp punya suami-nya lebih melebar kesamping alias lebih gemuk.
Saat saya bertanya sedap mana yang panjang atau yang gemuk, ia menjawab keduanya mempunyai keasikan yang benar-benar berlainan. Dan ia menambah sekalian bergurau betapa lebih bagus jika ada yang panjang dan gemuk. Langsung saja saya memberi respon guraunya dgn ajak threesome dgn Erik. Eva menjawab lebih bagus ia mati dibanding harus threesome dgn suami-nya sendiri.
Eva sebelumnya pernah akui jika ia tidak sebelumnya pernah menyimpan hati gairah kepadaku. Karena hanya ia sudah lenyap contact dgnku lebih dari dua tahun lama waktunya, dan sekembalinya ia ke Surabaya, saya banyak berbeda khususnya dari sisi fisik.
Ia memujiku semakin bertambah ganteng, dan memiliki tubuh padat. Mungkin keaktifanku berenang satu minggu 2x, jadikan tubuhku kelihatan padat, walaupun tidak gempal. Karena berikut Eva akui jika ia benar-benar kagum pada peralihan fisikku ini, dan pada akhirnya memberanikan dianya untuk coba seducing atau memikatku dengan seksual atau secara singkat bermain api dgnku. Sebetulnya ia sendiri takut bukan bermain saat sebelum persetubuhan kami yang pertama.
Takut akan penolakanku, dan takut jika kedapatan pembantu rumahku. Tp sejak persetubuhan pertama kami sukses, Eva akui jadi makin bergairah dgnku. Tidak bingung setiap saya minta porsi untuk menidurinya, ia tidak sebelumnya pernah menampik sekali juga. Jika saja kondisinya tidak mengizinkan, ia cuma berbisik atau memberikan pertanda untuk meredam gairahku dahulu sampai kelak kondisinya mengizinkan.
Kembalinya Eva ke Samarinda jadi pil yang pahit bagiku. Karena guru seks-ku meninggalkanku di Surabaya sendiri. Hampir setiap hari saya ber-masturbasi sendiri sekalian memikirkan memori-memori cantik meniduri Eva. Saya merasa seperti pecundang waktu itu, hanya karena masturbasi yang dapat saya kerjakan. Kerap saya menelepon Eva melalui ponsel-nya, bercerita begitu berat saya ditinggalkan olehnya, dan begitu rindunya saya denganya.
Jujur saja, saya cuma kangen akan kehebatannya ‘bercinta’, berbau badannya, dan enaknya ejakulasi dalam lubang mekinya. Harus dipahami jika sepanjang bersetubuh dgn Eva saat itu, saya tidak sebelumnya pernah menggunakan kondom sekalinya, bahkan juga tidak pernah menggenggam apa itu kondom sampai hubungan seksual selanjutnya dgn kekasih pertama kaliku. Saya tidak sebelumnya pernah bertanya apa Eva oke saja dgn saya berejakulasi dalam lubang mekinya. Sebelumnya sempat saya khawatir jika ia hamil karena spermaku. Tetapi saya lega karena sesudah 1.lima tahun selanjutnya Eva baru dipastikan positif hamil . Maka jarak waktunya jauh berbeda dgn kekuatiranku.
Sejak itu, saya tidak pernah kembali ‘bercinta’ kembali dgn Eva. Walaupun terkadang setiap pulang ke Surabaya, saya sebelumnya sempat ajaknya ‘1 kali saja’. Tp ajakanku selalu ditampiknya, karena Erik berada di sana juga bersama anaknya yang baru lahir. Hingga kemudian saya memilih untuk berpindah ke Jakarta, cari karierku di situ. Simak juga: Bacaan Seks Ngentot Bercinta Tiap Hari Sama Atasan Elok
Saya belajar banyak dari Eva, ia selalu memberikan beberapa tips langkah mengalahkan wanita di atas tempat tidur. Walaupun kami sdh tidak sebelumnya pernah kembali ‘bercinta’, tp kamu tetap terkait baik. Seolah-olah tidak ada perasaan bersalah atau rasa aneh sejak peristiwa itu antara kami. Eva banyak menasihati kepadaku mengenai ketidaksamaan cinta dan gairah. Eva jujur menjelaskan kepadaku jika waktu itu ia cuma gairah padaku, dan cuma ada cinta pada Erik.
Beberapa tips pemberian Eva sangatlah manjur dan bervariatif. Sisa kekasih-pacarku dan beberapa teman ‘one night stand’ di Jakarta (mahfum jika di kota metropolis ini, sex bebas sudah jadi rahasia) menyenangi style permainan ranjangku.
Mungkin jika ada peluang, saya akan bercerita hal menarik lain yang saya alami dgn sisa kekasih-pacarku, dan jg beberapa teman ‘one night stand’. Perlu beberapa pembaca narasi seks seksigo.com, banyak wanita-wanita karier dan executive di Jakarta yang tidak kenakan celana dalam kurun waktu mereka sedang tandang di dugem-dugem Jakarta. Yakin atau tidak, ini umumnya mereka kerjakan dgn menyengaja. Sesudah saya tanya argumen mereka, satu diantaranya untuk membuat ringkas masukkan tangkai k0ntol pasangan-nya tanpa diketahui oleh beberapa orang sekitaran.


Duniabola99.com – kiki gadis cantik muda belia toket gede memeknya mulus banget coy,
“Apa nanti nggak terlihat aneh?” tanya Kiki pada suaminya di telpon.
“Aku rasa tidak. Kamu kan sudah tahu siapa adikku. Jadi tidak harus sama aku untuk pergi ke sana kan?”
“Memang sih,” jawab Kiki, sambil memainkan kabel telpon.
“Lagian dulu kamu juga sudah pernah melihat pembukaan pertandingannya bareng mereka juga. Jadi sekarang sama saja kan kalau kamu pergi sendiri untuk lihat finalnya.”
“Ok, aku paham maksudmu, sayang. Meskipun dulu ada kamu, cuman? aku akan jadi satu-satunya wanita di sana.”
“Oh, kamu salah. Dina kan ikut juga ke sana.”
“Oh baguslah, sempurna.” jawab Kiki, dengan nada suara sedikit tajam. Wanita genit itu, batin Kiki.
“Aku tahu, kamu dan Dina? agak kurang cocok, tapi sebenarnya dia wanita yang baik. Kamu hanya perlu lebih mengenal dia Ki.”
“Hendra,” Kiki hampir mulai memprotes, tapi ditahannya dirinya. Sudah terlalu sering pembicaraan tentang hal ini berakhir dengan pertengkaran, dan dia sudah memutuskan kali ini harus berakhir bahagia. “Kamu mungkin benar. Setidaknya, lebih baik nonton finalnya bersama-sama dari pada sendirian saja.”
“Aku harus pergi, sayang. Selamat bersenang-senang!”
“Pasti.” Kiki berusaha untuk terdengar gembira.
“I love you.”
“I love you, too.”
Hendra sudah pergi sangat lama, pikir Kiki. Bicara lewat telpon memang bagus, tapi dia merindukan kehadirannya secara fisik. Dia rindu untuk meringkuk dalam peluknya di Sabtu pagi, dan saling bergandengan tangan sewaktu jalan sore. Semuanya, pikirnya, diayunkan langkahnya menuju kamar mandi, dia merindukan seks. Mereka sudah menikah selama dua tahun dan kehidupan seksual mereka tak pernah menunjukkan gejala menurun. Paling tidak, tiga atau empat kali dalam seminggu. Sekali waktu, kadang mereka membuat janji untuk berkencan di hotel selayaknya sepasang kekasih, hanya sekedar untuk sebuah ?quickie? di sela waktu makan siang. HokiJudiQQ
Dia bersihkan rambut sebahunya dengan shampoo, lalu mulai menyabuni tubuh rampingnya. Erangan lirih mulai lepas dari mulutnya saat tangannya menggapai payudaranya, lalu memilin putingnya. Hendra menyukai payudaranya. Dia bilang kalau ukuran B-cupnya adalah ukuran yang tepat untuk digenggam dan diremas. Kiki sendiri senang dengan bentuk payudaranya karena sangat sensitive dan cepat membuatnya terangsang begitu dipermainkan.
Tangannya yang sebelah kanan bergerak turun menelusuri perut kencangnya dan mengarah pada gundukan vaginanya yang mungil dan rapat. Dia menyukai rasa dari air hangat yang seakan tusukan jarum kecil pada permukaan kulitnya saat dia mainkan jemari pada kelentitnya yang licin.
Membawa dirinya sendiri ke puncak ledakan orgasme, tubuh telanjangnya merosot menyandar pada dinding kamar mandi, dan berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Kiki belum pernah melakukan masturbasi selama dua tahun pernikahannya dengan Hendra. Sekarang hal ini dilakukannya dalam kesehariannya, dan bahkan dia sedang mempertimbangkan untuk membeli sebuah vibrator untuk mengisi hari-harinya yang sepi semenjak ditinggal pergi Hendra ke luar kota. Meskipun memikirkan tentang alat itu masih tetap membuat dirinya tersipu malu dan serasa bergolak perutnya, tapi godaan itu semakin besar dan bertambah besar.
Diraihnya alat pencukur dan merampungkan ritual mandinya: shampoo, sabun, masturbasi dan mencukur.
Dia keringkan tubuh basahnya dengan handuk sambil mengamati pantulan bayangannya di dalam cermin. Seperti kebanyakan gadis keturunan jawa, kulit kuning kecoklatan membalut tubuhnya yang semakin menyiratkan daya tarik seksualitas yang eksotis dan nakal tapi tetap anggun. Berjalan dengan masih dalam keadaan telanjang menuju ke kamarnya, sambil mempertimbangkan akan memakai pakaian apa untuk acara di rumah Johan nanti.
Johan, yang adalah adiknya Hendra, seorang eksekutif muda yang terbilang sukses, memiliki beberapa perusahaan yang penjualannya selalu dengan rating yang bagus. Dan dia merupakan tipe pria yang menikmati hidup. Memiliki rumah tinggal di pusat kota dan sebuah tempat peristirahatan yang berada di puncak, yang sering dipakainya saat berakhir pekan dan juga untuk acara kali ini. Sebuah tempat peristirahatan yang selalu membuat kagum Kiki saat di sana, dengan area yang sangat luas dan bentuk campuran antara gaya tradisional dan modern yang sangat nyaman untuk beristirahat melepaskan diri dari kepenatan kota.
Rumah peristirahatan itu terletak di atas bukit, dan mempunyai sudut pandang yang luas untuk menikmati indahnya pemandangan lembah di bawahnya. Ini dikarenakan banyaknya bukaan dari pengaruh gaya tradisionalnya. Tempat ini juga mempunyai sebuah lapangan tenis ? yang hanya digunakan sesekali ? dan sebuah kolam renang besar ? yang paling sering dipakainya setiap waktu. Dan yang paling membuat nyaman adalah privasi dari tempat ini, tetangga terdekat terletak jauh di bawah lereng bukit. Saat semua pintu yang terletak di sepanjang ruang tengah hingga kolam renang, akan dapat membuat kita dapat menghirup segarnya udara perbukitan ini.
Sebuah TV layar datar berukuran besar terletak di ruang tengah yang mana itu akan dipakai untuk menyaksikan pertandingan final nanti. Johan sebenarnya tidak begitu peduli tim mana yang akan menang, karena tim jagoannya sudah tersisih sebelum final.
Semua tamunya sudah hadir di sini, kecuali kakak iparnya, Kiki. Jimy, Dany, dan Dina adalah teman masa kecilnya. Ahmad merupakan rekan bisnisnya yang kemudian jadi sahabat karibnya, yang sekarang juga akrab dengan Jimy dan Dany dan Dina. Kelimanya menjadi sahabat karib tak terpisahkan dalam lima tahun terakhir, dan Johan merasa senang bisa menyaksikan pertandingan final nanti bersama mereka semua.
“Kapan nih isteri Hendra yang seksi itu datang?” tanya Jimy yang sudah agak mabuk. Sebagai seorang keturunan Chinese, membuat wajahnya sangat bersemu merah, dengan sangat cepat setiap kali dia mengkonsumsi alkohol meskipun sedikit kadarnya. Dan dia selalu berubah dari seorang ahli komputer yang pemalu menjadi penggila pesta yang liar.
“Harusnya Kiki tiba sebentar lagi. Dia menelpon satu setengah jam yang lalu dan bilang kalau dia sudah berangkat,” jawab Johan, sambil membalik daging panggangnya. Ini sudah hampir pukul empat sore. Pertandingannya sendiri mulai pukul lima nanti, tapi Jimy sudah tak sabar untuk mulai minum duluan.
“Yeah, aku harap dia datang sebentar lagi. Aku mulai bosan lihat Dina!” jawab Jimmy menggerutu.
“Hey!” Dina berteriak protes dari dalam. “Aku dengar itu!” dia melompat bangkit dari sofa dan berjalan keluar. “Jadi, kamu pikir aku membosankan untuk dilihat ya?” tanyanya dengan mulut cemberut.
Dina berpose layaknya seorang model, tangan di pinggang, berpose untk para pria. Sebenarnya dia bukannya tipe yang membosankan untuk dipandangi. Sama sekali bukan. Rambut berombak panjang sepinggang di cat kecoklatan, tubuh montok menggiurkan tapi jauh dari kata gemuk, dan kulit putih yang membungkus tubuh indahnya. Jika kamu melihat majalah model, maka akan kamu temukan gambaran sosok Dina di sana. Kegemarannya membentuk tubuh di pusat kebugaran membuat tubuhnya selalu tepat saat memakai berbagai macam busana, dari busana resmi hingga bikini. Hari ini, dia kenakan sebuah kaos ketat dan celana jeans selutut yang juga ketat, memeperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu mengundang selera pria untuk mencicipinya.
Johan selalu suka pada bentuk pantat Dina. Sebenarnya, semua orang suka. Sangat ideal, kencang dan merupakan sebuah bentuk yang diimpikan semua wanita. Dina juga menyukainya, dia selalu memakai busana yang bisa memperlihatkan betapa seksinya bongkahan pantatnya, dia selalu berusaha mempertunjukkan tampilan terseksinya. Tapi berpose seperti itu di hadapan para pria sebenarnya membuatnya jengah. Walaupun dia menyukai perhatian pria pada tubuhnya, tapi orang-orang ini adalah sahabat terdekatnya. Dan mereka hampir seperti keluarga saja.
Tak mau ambil pusing, diputuskannya untuk berjalan melewati mereka dan duduk di tepian kolam renang, memasukkan kaki indahnya ke dalam air yang dingin. Dia hanya senang menggoda saja bukan seorang wanita jalang.
Bel di pintu berbunyi dan Dany pergi untuk membukakan, itu pasti Kiki, isteri Hendra yang sangat menarik.
Kiki masuk sambil membawa satu renteng bir kaleng, dan Dany seperti terpaku menatapnya. Kiki mengenakan gaun selutut warna putih yang terikat di balik lehernya sebagai penyangga. Rambut sebahunya di kuncir ekor kuda. Dia memakai sandal warna putih yang memperlihatkan kukunya yang terawat baik dan diwarnai merah muda senada dengan kuku jari tangannya.
Kiki menelan ludah, terlihat keadaan Danny yang agak mabuk membuatnya lupa akan waktu. Dia seakan mematung menatap sekujur tubuh Kiki tak berkedip. Sudah diputuskannya sejak dulu dia akan tidur dengan wanita ini, meskipun ada Hendra atau tidak.
“Silahkan masuk, tuan putri.”
Kiki merasa jengah dengan cara memandang Dany yang tanpa tedeng aling-aling pada tubuhnya. Jikalau dilain waktu mungkin Kiki akan merasa dilecehkan dengan cara tatap Dany, tapi dengan keadaan gairahnya yang masih menggantung selama ditinggal Hendra seperti ini membuatnya melirik sekilas ke arah Dany. Tampan juga, nilainya. Tinggi, berkulit sawo matang, dan penuh percaya diri, Kiki tahu kalau Dany sangat cerdas dan kecerdasannya itu selalu digunakan untuk menaklukan wanita. Hampir pada setiap kesempatan, dia selalu menggodanya. Kiki sudah pernah membicarakan hal ini dengan Hendra, tapi reaksinya hanya tertawa saja dan, “Anak muda memang begitu.” Hendra, yang hanya tiga tahun lebih tua dibandingkan Dany yang berusia 28 tahun selalu menyebut Johan dan Dany beserta seluruh teman-tamannya dengan sebutan anak muda.
Kiki, yang juga berusia 28 tahun, sadar jika dia harus berhati-hati saat berada di dekat pria pecinta seni ini.
“Kamu kenal Ahmad, kan?” Tanya Dany, saat berjalan di belakang Kiki menuju ke ruang tengah. Kiki bisa merasakan mata Dany tak pernah lepas dari pantatnya.
“Ya, kami sudah pernah ketemu,” jawab Kiki. Ahmad sudah menarik simpati Kiki. Pria keturunan timur tengah yang tak banyak bicara, tampan dan berotak encer, hanya dialah yang tak menunjukkan ketertarikan seksual vulgar terhadap dirinya. Ahmad sangat sopan dan Kiki berharap perilaku ini bisa menular pada para sahabatnya yang ?liar? ini.
Kiki melihat Johan dan Jimy sedang berada di beranda belakang. “Mau ditaruh di mana ini?” tanya Kiki, mengangkat bir kaleng yang di bawanya.
“Si cantik sudah datang!” komentar Jimy yang setengah mabuk terlontar sebelum Johan mampu menjawab.
“Hei, tenang sedikit,” bisik Johan pada temannya. “Jimy, kenapa nggak kamu taruh birnya dalam almari es dan sekalian ambilkan pizzanya juga.”
Mata Jimy seakan dilem pada tubuh wanita bersuami ini saat berjalan melewatinya menuju ke dalam rumah.
Johan minta maaf atas kelakuan kasar teman-tamannya. Kakaknya memang pria beruntung, pikirnya untuk yang entah keberapa kalinya. Dia coba untuk tidak membiarkan matanya terlalu lama memandang tubuh indah kakak iparnya ini, atau bahkan membayangkan seperti apa bentuk tubuhnya saat telanjang.
“Aku senang akhirnya kakak mau datang juga,” katanya. Untuk sesuatu alas an, dia merasa sedikit malu. Jarang sekali dia pergi keluar dengan Kiki tanpa Hendra, tapi sejujurnya dia sangat menikmati keberadaannya tanpa kakaknya. Dan kebetulan juga Kiki lebih gila dengan pertandingan ini dibandingkan kakaknya.
Kiki tersenyum pada Johan, mulai merasa nyaman dan percaya diri, lalu bilang, “Aku senang melihat pertandingan rame-rame. Meskipun harus dengan pria-pria tidak karuan seperti kalian.”
“Ada wanitanya juga lho,” kata Dina, sambil mengangkat tangannya tanpa memalingkan muka, dia masih tetap berada di tepian kolam renang, asik dengan lamunannya sendiri.
Isteri Hendra sudah datang. Isteri Hendra yang cantik dan penuh percaya diri telah datang. Yang selalu yakin bila berhadapan dengan pria. Dina suka Kiki, setiap kali dia perhatikan semakin dia merasa iri padanya. Dina belum pernah sama sekali memikirkan untuk menjalin ‘hubungan’ dengan seorang wanita, tapi bila dia di suruh memilih seorang wanita, maka pilihannya pasti akan jatuh pada Kiki.
Kiki tidak memperhatikan Dina saat datang ke sini. “Hai, Dina,” sapanya, dengan nada suara seramah mungkin. Dina bahkan sama sekali tak memalingkan muka membalas sapaan itu. Selalu ada sedikit ketegangan diantara dua wanita ini. Hampir saja Kiki merasa putus asa untuk mulai menjalin sebuah hubungan baik dengan wanita ini.
Ketika pertama kali menikah, Kiki merasa sangat cemburu terhadap Dina. Dia merasa kalau wanita cantik ini selalu mencoba menggoda dan merebut suaminya. Bahkan dia hampir saja menuduh kalau Henrdra punya affair dengan wanita ini. Dan Hendra selalu bilang kalau hubungannya dengan Dina hanya seperti kakak adik saja. Kiki masih merasa belum percaya tapi dia terus berusaha untuk mempercayai apa yang dikatakan suaminya itu. Johan berusaha mencairkan suasana dengan menawarkan minuman pada kakak iparnya ini.
Pizza dan pertandingan jadi menu utama berikutnya. Mereka semua larut dalam ketegangan pertandingan itu dan Kiki dan Dina menemukan kalau mereka punya sebuah kesamaan; punya tim andalan yang sama…
Akhirnya, hal inilah yang mempersatukan mereka. Keduanya saling duduk bersebelahan, saling bersorak memberikan dukungan pada tim andalannya dan juga semakin bertambah mabuk karena minuman beralkohol yang disuguhkan di sepanjang pertandingan ini.
Kiki menduga Dina akan bersikap ‘sangat wanita’ tentang olah raga, seperti mengucapkan, “Oh, lihat, yang itu ganteng sekali….” Tapi, kebalikannya, Dina benar-benar serius memperhatikan jalannya pertandingan, komentarnya tentang tim andalannya benar-benar mengejutkan semua orang, tak hanya Kiki.
Di akhir pertandingan, saat akhirnya tim andalannya kalah, Dina hanya mengangkat bahunya dan bilang, “Aku rasa aku sudah agak mabuk.”
Kiki juga sudah merasa sedikit melayang karena bir yang dikonsumsinya selama pertandingan, dan berkata, “Ini baru putaran pertama, nggak masalah.”
“Hey guys, aku rasa aku mau langsung pulang nih,” si chinese berkata dengan muka yang sangat merah.
“Sampai jumpa, Jimy,” jawab semuanya.
“Aku juga sebaiknya segera pulang,” kata Kiki, segera berdiri dan meregangkan tubuhnya. Dany melirik payudaranya yang membusung ke depan.
“Oh nggak boleh,” jawab Dina, menarik tangannya hingga Kiki kembali duduk di tempatnya lagi. “Kamu terlalu kebanyakan minum buat nyetir mobil.”
“Tapi kalau dia?” Tanya Kiki, sambil menunjuk pada Jimy.
“Oh, dia akan baik-baik saja.”
“Aku sudah nggak minum beberapa menit lalu. Memang wajahku saja yang kelihatan merah.”
“Lagipula,” kata Dany, berdiri dan memukul punggung Jimmy, “Rumahnya juga dekat dari sini. Ya kan Jimmy?” Dany juga sudah mabuk.
Jimy pergi, meninggalkan tiga pria dan dua orang wanita yang sudah setengah sadar semuanya itu. Dina sudah mabuk. Dia tahu karena dia merasa lebih berani dan terbuka untuk mulai bicara pada Kiki. “Mm… jadi sudah berapa lama Hendra pergi ke luar kota?” Tanya Dina.
Kiki, meskipun kesadarannya tidak penuh dan baru menemukan sesuatu yang disukainya dari Dina, dia menatap wanita ini dengan pandangan penuh pertahanan. “Dua bulan.”
“Dua bulan! Wow… itu sangat… ” akhirnya Dina melihat pandangan ‘siaga’ Kiki, dan tiba-tiba dia merasa takut. Dia takut jika Kiki mulai membencinya. Dia merubah topiknya. “Aku Cuma merasa, ini pasti saat yang berat buat kamu, dan juga pasti berat juga buat Hendra.”
“Apa maksudmu?” Tanya Kiki, masih sedikit bertahan, tapi juga sedikit penasaran.
“Yah, aku yakin dia sudah bilang, kalu dia sangat mencintai kamu. Dia selalu saja cerita tentang kamu! Dan nggak hanya karena dia berpisah dengan isteri yang dicintainya, tapi juga sahabatnya. Setidaknya lebih baik kamu sering menghabiskan waktu bersama kita.” Dina meletakkan tangannya di lutut Kiki, mencoba untuk menenangkan.
Kiki tersenyum, tak menghiraukan tangan Dina, perasaannya dibalut pengaruh minuman.
Dany dan Ahmad masih asik berdebat soal pertandingan tadi dan Johan bergerak mendekati kedua wanita ini, dia membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinga Dina. Wanita cantik ini tersenyum nakal pada Johan lalu mengangguk. Johan menghilang ke lantai atas, lalu wanita cantik ini bergerak merapat pada Kiki dan bertanya pelan, “Kamu merokok nggak?”
“Mmm… kadang-kadang.” Jawab Kiki heran.
Dina tersenyum lebar, sambil menyibakkan rambutnya ke belakang telinganya. Matanya yang tajam semakin berbinar menggoda , dan dia kembali berbisik lebih pelan lagi, “Bukan, bukan rokok yang itu. Maksudku itu lho… kamu tahu kan,” matanya mengedip penuh arti pada Kiki
“Oh,” kata Kiki, akhirnya tahu yang dimaksud Dina. Segera saja wajah Kiki terasa hangat. Kadang-kadang dia sangat naïf soal hal-hal tersebut. Awalnya dia ingin berbohong dengan teman barunya ini, tapi akhirnya dia ingin berkata apa adanya. “Belum, belum pernah.”
“Yang benar?” Tanya Dina, raut wajah Dina menandakan perasaan herannya. “Dan kamu menikah dengan Hendra sudah dua tahun?”
“Ya. Kenapa?”
Tiba-tiba Dina merasa sudah masuk ke wilayah yang terlalu pribadi “Nggak, Cuma pengen tanya saja.”
*****
Sebentar kemudian, Johan sudah kembali, dia duduk diantara dua wanita ini dan membuka sebuah bungkus rokok. Di dalamnya ada beberap lintingan rokok lalu diambilnya sebuah. Dia lalu mengambil sebuah pemantik, dinyalakannya, dihisapnya dalam-dalam kemudian menyodorkan rokok yang baru saja dihisapnya itu pada Dina.
Menatap ujung Candu itu yang menyala merah di bibir penuhnya Dina, membuat perut Kiki terasa bergolak. Dia sadar apa yang menantinya dan dia tahu apa yang harus dilakukannya…
Dina sedikit terkejut saat menyodorkan rokok itu pada Kiki dan melihat tangan wanita ini sedikit gemetar. “Santai saja dan hisap pelan-pelan ke paru-parumu. Tahan selam mungkin sebelum kamu keluarkan,” Dina mengajarkan pada Kiki.
Kiki mengangguk dan mencoba apa yang diinstruksikan oleh Dina. Dia menganggap saja kalau rokok ini adalah sebuah rokok menthol biasa hingga akhirnya dengan mudah dia mulai menghisapnya. Rasanya berbeda dengan rokok biasa, mungkin lebih manis dan lebih pekat rasanya. Tak dia rasakan sesuatu dalam hisapan pertama.
Giliran itu kembali berputar sekali lagi saat Dany duduk di sebelah Kiki, katanya, “Hey, kesinikan Candunya.”
Tangan Dany merangkul pinggang Kiki, dan saat Kiki menolehkan kepalanya untuk melihat Dany setelah dia menghisap rokok itu kedua kalinya, reaksi Candu itu menghantamnya telak.
Kiki merasakan pusing yang amat sangat dan itu baru dialaminya kini. Pandangannya segera mengabur. Suara di sekelilingnya seakan sebuah film dalam slow motion, dan segera saja dia juga merasa gerakannya ikut melambat. Gerakan dan bahkan pikirannya terasa bergerak melambat. Perlahan disodorkannya rokok itu pada Dany, yang tersenyum kepadanya. “Barang yang bagus, bukan,” katanya, suaranya seakan berasal dari ruangan yang teramat sangat jauh. Kiki hanya mengangguk.
“Kamu nggak apa-apa?” Tanya Ahmad. Dia jongkok di depan Kiki, memegangi kepala Kiki dan membuatnya menatapnya. Suara Ahmad bergema di dalam kepala Kiki, “nggak apa-apa… nggak apa-apa… nggak apa-apa…”
Kata Ahmad, “Ambil nafas. Ambil nafas yang dalam…” Dan Kiki melakukannya dan rasanya mengagumkan.
Seakan ada seseorang yang menekan tombol play pada remote control, dan segalanya berubah menjadi normal kembali. Atau hampir normal. Semuanya masih terlihat agak kabur, tapi tak lagi dalam gerakan lambat dan suara yang terdengar sudah kembali normal. Semua orang kecuali Dany menatap Kiki dengan penuh perhatian, dan Kiki segera dapat merasakan di mana keberadaannya kini. Kiki bias merasakan tangan Ahmad yang terasa dingin pada pipinya dan juga hidungnya dapat menghirup parfumnya yang maskulin. Kiki juga merasakan tangan Dany yang melingkar di pinggangnya dengan jarinya yang bergerak menggodanya. Lalu Kiki merasa wajah wajah dengan ekspresi khawatir itu berubah tersenyum geli, sama dengan senyum gelinya. Seakan dia baru saja mengucapkan sesuatu yang lucu, tapi tak ada seorangpun yang tertawa.
Kiki ingin bilang, “Aku lupa bernafas!” Ingin dia teriakkan pada mereka, seakan hal ini adalah sesuatu yang paling lucu di seluruh dunia. Tapi, reaksi yang diberikan oleh otaknya hanya tertawa sekeras-kerasnya. ‘Penyumbat’ itu telah tercabut dan semua orang ikut tertawa lepas.
Setelah beberapa putaran kemudian, Kiki merasa kaalu dia sudah cukup melayang tinggi. “Aku butuh udara segar,” katanya sambil bangkit perlahan. Dia merasa kedua kakinya tidak stabil menopang tubuhnya. Dina menyusul bangkit dan bilang, “Udara segar, kedengarannya ide yang bagus,” dan bersama, mereka berjalan dengan terhuyung-huyung di tepian kolam renang.
Keduanya kemudian duduk di tepian ujung yang lain kolam renang itu, kaki mereka masuk ke dalam air yang terasa menyejukkan.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Dina setelah sekian lama keduanya berdiam diri. Hanya suara serangga yang terdengar mengisi heningnya suasana malam ini.
“Yeah…” kata Kiki, tak yakin dengan ucapannya sendiri. “Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya… tapi aku lega karena akhirnya sudah mencobanya.”
“Aku mengerti maksudmu, bagaimana perasaanmu sekarang?”
Kiki menatap wanita di sisinya ini, “Melayang, tinggi. Dan… horny.” Dia tak bermaksud mengucapkannya, tapi ini keluar begitu saja dari mulutnya.
“Ya… Candu juga selalu membuatku merasa sangat horny.”
“Bukan Cuma itu saja, tapi…” Kiki merasa jengah. “Aku tak percaya sudah menceritakan ini padamu.”
Dina merasa tersanjung. Mereka mulai masuk pada subyek dimana keduanya merasa nyaman dan saling percaya untuk saling bebagi, dan untuk pertama kalinya dia merasa percaya diri di hadapan Kiki. “Kamu mau bicara soal Hendra, kan. Dua bulan memang waktu yang lama…”
“Oh, ya,” jawab Kiki, menendangkan kakinya ke dalam air.
Keduanya saling membisu untuk beberapa menit lamanya hingga tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Kiki, “Kamu sudah pernah tidur dengan salah satu dari pria-pria di sana belum?”
Kini giliran Dina yang merasa jengah. Dia enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Ini hanya akan semakin menambah jelek reputasinya di hadapan wanita yang sangat dia inginkan untuk menjadi sahabatnya ini. “Mm…”
Kiki tersenyum pada Dina dan berkata, “Aku janji nggak akan menghakimi.”
“Ok…” Dina memutuskan setelah beberapa saat. “Ini pasti akan terdengar betepa jalangnya aku, tapi aku berani sumpah kalau aku bukan tipe wanita seperti itu. Mungkin kadang-kadang aku bertingkah seperti itu, tapi sungguh, yang kamu dengar beredar di luar sana itu hanyalah gossip yang dibesar-besarkan saja… ” Dina menjelaskan panjang lebar.
“Dina! Dengar, aku benar-benar cuma penasaran saja. Dan itu juga bukan urusanku.”
“Aku sudah pernah tidur dengan mereka semua kecuali Ahmad.” Mata Kiki terbelalak lebar, tidak seperti janjinya sebelumnya. “Bukannya dengan semuanya sekaligus. Waktunya berlainan semua. Kamu paham maksudku kan. Johan adalah… pria yang mengambil perawanku pertama kali… my first. Kejadiannya sewaktu masih di SMU. Dany dan aku… yahl, persahabatan kami selalu ada nilainya, kalau kamu paham maksudku.”
“Kamu sudah pernah tidur dengan Hendra?” Kiki bertanya begitu saja tanpa berpikir. Candu dan alkokoh akan membuatmu berbuat begitu juga.
Dina menatap Kiki, dia merasa sedikit nervous dengan pertanyaan tersebut, juga sedikit terkejut karenanya. Sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut, suara dari sebuah handphone memecahkan suasana malam itu.
“Sial, itu HP-ku,” kata Kiki, segera berlari menuju tasnya di dekat panggangan. “Pasti Hendra.”
“Aku akan ke dalam,” kata Dina begitu di dengarnya suara Kiki yang mulai bicara di telpon. Dina melangkah ke dalam rumah dengan meninggalkan jejak kaki basah di sepanjang lantai beranda belakang.
“Kamu abis ngisep Candu ya?” tanya Hendra di telpon.
“Mm… ken-kenapa kamu Tanya brgitu?” jawab Kiki, mencoba sebisanya untuk bersikap normal.
“Kamu bener-bener mabuk Candu!” Kiki harus menjauhkan HP dari telinganya karena Hendra tertawa keras sekali di seberang telpon sana. “Rupanya adikku sudah berhasil membuat kamu ngisep Candu. Wow…”
“Apa maksudnya ini, Tuan?” Tanya Kiki.
“Maksudnya aku sudah kalah taruhan. Ah, lupakan saja. Apa kamu senang di sana?”
“Ya… lebih dari yang aku kira.”
“Tuh kan, teman-temanku nggak brengsek-brengsek amat.”
“Apa kamu sudah pernah tidur dengan Dina?” tamya Kiki, pertanyaan itu masih mengendap dalam kepalanya.
“Sayang, jangan bercanda. Tentu saja tidak.”
Jika saja dia tidak dalam pengaruh Candu dan alcohol seperti sekarang ini, pasti dia akan mengatakan kalau Hendra bohong. Kiki sudah mengenal cukup lama untuk mendeteksi hal-hal seperti itu. Tapi dengan keadaannya yang seperti sekarang ini, dia tak pasti.
“Kamu… kamu nggak bohong kan?” tanyanya tak yakin. “Astaga, aku… aku nggak bisa. Hendra, apa kamu bicara jujur?”
“Oh Kiki, aku berani sumpah, Dina dan aku tidak pernah… tidur bareng. Kenapa kamu tanyakan ini?”
“Soalnya, dia sudah pernah tidur dengan adikmu. Dan dia sudah kenal kamu sejak dulu ”
“Itu waktu masih kuliah, ingat kan kalau aku lebih tua dari merka. Dia benar-benar sudah pernah tidur dengan Johan?”
“Ya,” jawab Kiki. Sekarang semua yang dikatakan Hendra terdengar bohong. Kiki tak tahu bagaimana mengatasi hal ini.
“Wow. Johan belum pernah menceritakan ini padaku… menarik.”
“Hey, aku dengar mereka memanggilku,” Kiki berbohong. “Aku harus pergi.”
“Ok. I love you, baby. Aku akan telpon lagi besok.” Kiki menganggukd. Kenapa itu juga terdengar bohong?
“I love you, too. Good night.”
“Night.”
Dimatikannya HP itu, Kiki bangkit lalu berjalan menuju ke dalam rumah dengan hati-hati, dia melangkah dengan hati tak pasti bukan hanya karena Candu yang dihisapnya, tapi juga karena percakapannya dengan suaminya di telpon tadi. Pikirannya benar-benar kosong hingga dia sampai tidak menyadari akan kejadian yang tengah berlangsung di ruang tengah sampai akhirnya dia berada sangat dekat…
Dina sedang duduk di sofa, diantara Ahmad dan Johan. Saat Kiki berjalan mendekat, Dina sedang asik bercumbu dengan Ahmad sedangkan Johan tak hentinya meraba tubuh dan pahanya. Johan menelusuri sekujur tubuh Dina, tangannya meremasi payudara montok itu sambil memberi ciuman pada leher Dina.
Kiki berdiri di sana seakan binatang buruan yang terperangkap, menyaksikan Dina yang bergantian berciuman dengan Ahmad lalu melumat bibir Johan.
Dany duduk di pojok lain ruang tengah ini, dia terlihat sangat mabuk dan tersenyum seperti orang idiot. Dia menoleh dan melihat Kiki, lalu berkata sambil menunjuk pada pangkuannya. “Ayo ke sini saja. Pemandangannya lebih indah dari sini.”
Bergerak seperti bukan dengan kehendaknya sendiri, Kiki duduk di ujung kursi di samping Dany. “Apa… yang terjadi?” akhirnya dia bertanya.
“Well,” bisik Dany, sambil bergerak mendekat, “ini berawal dari sebuah kontes: ‘who was a better kisser.’ Berawal dari situ, yah… bisa kulihat kalau Dina nggak keberatan dengan kedua peserta itu.” Kiki diam saja membiarkan Dany menariknya ke pangkuannya, dan segera saja dia rasakan ereksi pria ini menekan pantatnya dari balik gaunnya.
Kiki masih shock untuk bereaksi dengan kejadian dihadapannya ini dan terlalu mabuk oleh Candu dan minuman yang dikonsumsinya. Dia juga merasa sedikit marah pada Hendra, dan dia tak mampu berpikir kenapa. Tangan Dany terasa nikmat saat melingkar di perutnya, dan Kiki merebahkan tubuhnya bersandar pada Dany, sambil menyaksikan Dina yang menerima ciuman dari kedua pria itu.
Dany merasa sangat excited mendapati Kiki berada dalam pangkuannya. Dengan cepat lengannya melingkari pinggang ramping itu, dan senyumnya semakin lebar saja ketika Kiki menyandarkan tubuh padanya. Rambutnya terasa halus dan harum, dan parfumnya sungguh meracuni benaknya yang pekat. Dany sangat menginginkan wanita ini melebihi apapun, dan saat ini, jika dia dapat mengarahkan moment ini ke arah yang benar, dia yakin akan bisa memenangkan hadiahnya.
Akhirnya Dina menghentikan percumbuan itu dan mengipasi dirinya menggunakan tangan. “Wow! Tadi sangat hot. Aku nggak bisa memutuskan siapa better kisser-nya. Aku rasa imbang.”
“Oh, nggak adil! Kiki, kamu yang putuskan,” kata Dany, sambil meremas pinggang Kiki.
Kiki menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku tidak bisa… ”
“Ya, aku rasa itu bukan ide yang bagus,” jawab Johan. Bagaimanapun juga, ini adalah istri kakaknya. Dia tak yakin bisa melakukannya dengan kakak iparnya sendiri. Itu adalah sisi rasioanalnya yang bicara. Ketika dia memandangi tubuh Kiki, nafsunya berteriak untuk melakukannya. Ayao lakukan saja!
“Oh, Johan, it’s just a kiss,” kata Dany, dia menatap dengan Johan dengan pandangan penuh arti. Johan tahu kalau Dany punya hasrat pada Kiki. Mereka semua mengincarnya. Hanya saja Dany yang terus terang menunjukkannya. Dia tak peduli apa Kiki sudah menikah atau bercerai atau jadi janda atau apa sajalah. Kalu dia sedang tertarik pada seorang wanita, maka dia akan terus mengejarnya. Meskipun itu isteri temannya. Tidak bisa mempercayai Dany begitu saja, tapi itu jugalah yang merupakan salah satu daya tariknya.
“Ya…, hanya ciuman saja,” Kiki berkata pada Johan, menengahi. Johan tak bisa mempercayai hal ini! Dia tahu kalau Dany akan berkata begitu, tentu saja. Tapi Kiki?
Dina tertawa pelan dan bangkit dari himpitan dua pria ini. “Sorry jadi melibatkan kamu, Ki. Aku benar-benar nggak bisa memilih.”
Kiki juga tertawa, dia merasa tak yakin dengan perbuatannya, tapi juga tak mau mempertanyakannya lagi. Dia duduk diantara dua pria tampan ini dan menepuk kedua lutut mereka layaknya seorang ibu yang menghibur puteranya. Ahmad, yang juga memendam hasrat pada wanita ini, wanita yang sudah menikah ini, buah terlarang untuk dipetik. Cincin berlian yang melingkari jari manisnya yang menandakan bahwa dia sudah dimiliki, terlihat bersinar lebih terang. Tapi Kiki memang selalu terlihat menggairahkan. Ahmad diam saja menunggu Kiki yang memulainya.
Kiki menghadap ke arah Johan, lengannya bergerak melingkari leher adik iparnya ini. Dia tersenyum dan bilang, “Santai saja,” sebelum pejamkan matanya dan mendekat. Johan merasa bibir kakak iparnya ini terasa sangat lembut di bibirnya, hangat dan lembut. Sekilas, dia membayangkan bagaimana rasanya jika bibir ini memagut penisnya. Bibir Kiki membuka dan dia mulai menggerakkan lidahnya menggoda diantara ciuman mereka.
*****
Setelah sekitar dua atau tiga menit berciuman, Kiki melepaskan diri, senyumnya terlihat jelas pancaran terpuaskan di wajahnya lalu dia mencium ujung hidung Johan. Tanpa berkata apapun dia berpaling ke arah Ahmad, tangannya segera mengalung di leher pria ini, dan langsung melumat bibirnya. Pria keturunan timur tengah ini merasa kalau sebuah ciuman yang indah adalah awal dari sebuah hubungan seksual. Dia tak percaya anggapan ‘sebuah ciuman hanyalah sebuah ciuman’ karena dia tahu betapa dahsyatnya kekuatan sebuah ciuman itu. Dia menggoda dengan bibirnya, karena kalau dia bisa membuat wanita terkesan karenanya, Ahmad tahu kalau sang wanita akan mengharapkannya agar dibuat terkesan diseluruh bagian tubuhnya. Dia mencium isteri Hendra tak beda sedikitpun terhadap wanita lainnya, dan dirasakannya kalau batang penisnya mengeras oleh gairah. Kiki juga adalah seorang yang mahir berciuman. Dia suka bermain dengan bibir dan lidahnya, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menggoda dengan gerakan sensual. Ahmad langsung menyambut tantangan ini.
Johan seorang kisser yang hebat, Kiki harus mengakuinyat, tapi Ahmad jauh lebih hebat. Dia bermain dengannya hanya menggunakan bibirnya saja untuk melumatnya, dan Kiki benar-benar merasa jadi sangat basah hanya karena sebuah ciuman ini. Sama sekali tak ada tarian lidah di sini. Ketika Kiki merasa merasakan tangan Ahmad berada di payudaranya yang kencang, reflek dia mengerang di mulut pria ini, merasa mulai melayang akan cumbuannya, dan Kiki sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi. Dia harus berhenti, dunianya terasa berputar.
Akhirnya Kiki menghentikan ciumannya, nafasnya tersengal, dan wajahnya merona merah. “Itu sangat… hebat… kelaian berdua hebat.”
“Mereka berdua sama hebatnya, kan?”
Kiki mengangguk, tapi harus diakuinya kalau Ahmadlah sang pemenangnya. “Maaf Johan, Tapi Ahmad…” Dia hanya goyangkan kepalanya.
“Nah,” kata Dina, sambil berdiri. “Ini semua… harus jadi seorang juri benar-benar membuatku… kepanasan. Setuju kan, Kiki?” Kiki hanya mengangguk. “Ada yang mau gabung dengan aku dan Kiki untuk renang?”
Tangan Dina terjulur ke arah Kiki dan membantunya berdiri. Tanpa berkata-kata apapun lagi, kedua wanita itu mulai berjalan keluar ke arah kolam renang. Ketika keduanya sudah berada diluar, dalam dinginnya udara malam itu, Kiki berbisik, “Aku nggak bawa pakaian renang.â€
“Pakai bra celana dalam saja,†jawab Dina.
“Aku nggak pakai bra juga.”
“Ngak apa-apa,” jawab Dina lagi. “Aku juga nggak pakai kok.” Dina tersenyum pada Kiki yang tampak terkejut, tapi langsung meraih ujung kaos katunnya dan kemudian melepaskannya dari tubuhnya. Payudara besarnya membusung menantang pada dadanya seakan sebuah balon udara. Gundukan dua buah daging yang terlihat indah di dadanya, dan putingnya menghias mungil di kedua ujungnya, benar-benar alami tak seperti putting putting pada payudara hasil silicon yang melebar karena operasi. Dina tertawa kesil melihat mata Kiki yang tak lepas dari kedua payudaranya yang terpampang jelasitu.
“Bagaimana? Mau gabung denganku tidak?” Tanya Dina, masih tetap tersenyum. Dia tahu para pria akan segera bergabung dengan mereka. Momen ini terlalu saying untuk dilewatkan. Tapi untuk sebuah alas an yang terasa liar dan menggoda, dia ingin wanita cantik yang sudah menikah ini untuk bergabung dengannya dalam aksi ekshibisionisnya.
Johan melihat dari pintu yang terbuka. Dina memiliki tubuh yang fantastis dan tubuh itu layaknya tubuh para model majalah Playboy. Rambutnya yang panjang dicat kecoklatan. Tubuhnya adalah fantasi dari semua pria dengan payudara besar, pinggang langsing dan pinggul dengan lekuk merangsang. Paha jenjangnya merupakan satu kesatuan dari menggodanya tiap lekukan tubuh itu. Kulitnya putih bersih dan Johan tahu bentuk tubuh indah itu merupakan hasil kerja kerasnya dari olah tubuhnya di gym yang hampir tiap hari itu. Singkat kata apa yang kamu lihat di majalah-majalah model dan pria dewasa, itulah gambaran sosok Dina.
Tapi karena sebuah alasan yang tak pernah dapat dijelaskan, Dina tak memiliki rasa percaya diri tinggi yang biasanya dimiliki wanita dengan ‘killer-body’. Sebenarnya dia mampu dan berotak cerdas, tapi dia tidak pernah mendapatkan pekerjaan selain sebagai seorang sekretaris kantor biasa saja karena isu-isu yang beredar tentang dirinya. Kadang Johan merasa khawatir dengan sahabatnya ini dan ingin merangkul dan melindunginya, yang mana Dina memang tipe wanita yang menginginkan diperlakukan sepeti itu. Tapi, isu-isu itu benar-benar membuat rasa percaya diri Dina meredup dan hanya teman-teman dekatnya sajalah yang mengerti siapa dia sebenarnya.
Dan saat ini, semua yang terjadi malam ini membuat Dina punya keberanian dan rasa percaya diri untuk melucuti pakaiannya sendiri di hadapan teman-teman prianya dan kakak ipar Johan, memperlihatkan indahnya bentuk payudaranya. Reaksi Kiki seperti yang diharapkan Dina, malu dan juga ingin ikut sedikit beraksi gila. Kiki menatap tajam mata Dina seakan ini adalah sebuah tantangan.
Sejak pertama kali merka berjumpa, Johan selalu merasa ada sisi lain yang liar dari kakak iparnya yang selalu terlihat penuh percaya diri ini. Hendra selalu mengatakan padanya betapa beruntungnya dia menikah dengan Kiki, tapi sebagai seorang saudara sekandung, Johan merasakan ada sesuatu yang terpendam dan tak tersalurkan. Hendra adalah seorang pria yang suka dengan tantangan dan bahaya sebelum dia menikah dan Kiki kelihatannya tak bisa selaras dengan gaya hidup itu.
Menyaksikan kakak iparnya saat ini saat tangannya bergerak ke belakang lehernya dan melepaskan tali pengait gaunnya, Johan berkata dalam hati, “Inilah yang kamu inginkan kak, jika saja aku bisa mengatakan padamu saat ini.”
Bentuk tubuh Kiki sangat beda dengan Dina, dan saat kedua wanita itu berdiri berdampingan dihadapan mata para pria itu, mereka benar-benar bisa melihat perbedaan itu. Kiki memiliki tubuh yang lebih tinggi dan lebih langsing. Payudaranya lebih kecil tapi terlihat sangat tepat ukurannya di tubuh bak penarinya itu. Lekuk tubuhnya juga sangat tak bisa dipandang sebelah mata, lingkar pinggulnya lebih halus, pahanya juga selalu terlihat menggoda dalam ukurannya sendiri. Saat dia melepas gaunnya melewati pingangnya, memperlihatkan tali celana dalam putihnya, Johan memperhatikan meskipun Kiki sedikit lebih kurus dibandingkan Dina, Kiki tetap memiliki bentuk pantat yang menakjubkan, lebih kecil tapi masih tetap tepat dalam ukuran tubuhnya itu
Dengan tersenyum Dina menurunkan resleiting celana jeans selututnya dan melepaskannya turun dari pinggulnya. Dibaliknya, dia mengenakan g-string berwarna biru yang sangat mini dan hanya terlihat tak begitu bisa menutupi gundukan selangkangannya.
“Kalian mau gabung dengan kita?” Tanya Kiki, sedikit menggoda para pria dengan mempperlihatkan putting merah mudanya sekilas saja sebelum berbalik menghadap ke air dan kemudian terjun menyelam, membelah air layaknya sebuah pisau tajam. Dina berjalan menghampiri Johan, dia tersenyum dan menggandeng tangannya kemudian menarik Johan ke kolam renang. Johan hanya mampu sebisanya untuk membuka baju dan celana panjangnya sebelum tercebur ke dalam air.
Dany sangat gembira dengan ke mana arah mengalirnya moment di malam ini. Bentuk tubuh Kiki memang seperti apa yang selama ini diimpikannya. Tapi masih ada satu mistery yang ingin dia ketahui, dan itu berada dibalik celana dalam putihnya Kiki.
Sebelum menuju ke kolam renang untuk bergabung dengan Johan dan kedua wanita itu, dia mengambil kotak pendingin dan mengisinya dengan botol-botl bir kemudian membawanya ke pinggir kolam renang.
“Kamu nggak ikut gabung?” tanyanya pada Ahmad sambil membuka sebuah botol.
“Nggak tahu. Aku rasa aku lebih senang duduk di sini saja.”
Mata Dany terangkat. “Kenapa kamu? Main sama dua orang wanita cantik di kolam, setengah telanjang lagi. Kenapa juga kamu lebih memilih duduk di kursimu itu?”
“Anu, itulah masalahnya. Kamu lihat Johan, kan? Dia pakai boxer dan aku lupa nggak pakai. Dan dengan dua wanita cantik ada disini… ”
“Aku paham! Begini saja, kamu jangan sampai keluar dari air saja. Itu pasti lebih baik. Ambil nafas, pikirkan tabrakan kereta atau apalah sampai setidaknya kamu sudah tak terlalu tegang, lalu langsung terjun ke air.”
Ahmad terlihat masih ragu, tapi dia paham maksud Dany. He needed and looked away, into the darkened hills of Portola Valley. Dany melepaskan kaosnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang berotot. Dia mempunya bentuk tubuh yang paling baik dibandingkan para sahabatnya. Setelah melupaskan celana jeans-nya, dia langsung terjun ke air, berenang ke arah Kiki dan merabai sekujur tubuh halus Kiki.
Kelimanya berenang dan juga minum dan mabuk lagi dan saling bercanda dalam air untuk beberapa jam kedepan. Dany sangat terlihat menggoda Kiki dengan terang-terangan, dan yang mengejutkan semuanya, termasuk Kiki juga, isteri Hendra tak keberatan sama sekali dengan tingkah laku Dany. Pada sebuah kesempatan, Kiki berenang ke tepian kolam untuk meminum lagi birnya, Dany sudah berada tepat dibelakangnya. Dan saat Kiki membalikkan tubuhnya, Dany menekan tubuhnya ke pinggiran kolam, mendorongkan tubuhnya sangat dekat pada tubuh Kiki.
Pria ini punya tubuh yang bagus, pikir Kiki, lalu menyumpahi dirinya sendiri karena memikirkan hal itu. Pria ini adalah seorang pembual, orang brengsek yang sangat percaya diri. Tapi ada sesuatu dari pria ini yang dirasakannya… sangat menarik dan tak dapat dicegahnya.
“Kamu sudah memberi ciuman pada Johan dan Ahmad. Bagaimana dengan ciumanku?” tanya Dany. Kiki merasakan tangan pria ini berada di pinggangnya, membuatnya semakin merapat ke tubuh Dani. Dia sudah sangat keras… Kiki bisa merasakannya saat ereksinya menekan bagian bawah perutnya.
“Kamu juga ingin?” Kiki nggak tahu, apakah ini pengaruh dari alcohol ataukah dua bulannya yang tak terjamah, tapi dia meneruskan, “Baiklah, biar adil.”
Dan kemudian kedua mulut mereka menyatu dalam sebuah ciuman yang sangat panas.
Johan menyaksikan dari ujung lain kolam renang saat keduanya saling bercumbu layaknya sepasang remaja kasmaran. Dia sadar kalau seharusnya dia menghentikan kejadian ini sebelum semuanya jadi terlalu jauh. Bagaimanapun juga wanita itu adalah isteri kakaknya! Tapi sisi lain dirinya mulai terangsang, saat membayangkn apa yang bisa didapatkannya dari kakak iparnya yang manis dan penuh rasa percaya diri itu.
Akhirnya dia putuskan untuk membiarkan saja moment ini mengalir sewajarnya…
Dina sedang sibuk sendiri menggoda Ahmad. Batang penisnya yang setengah ereksi tak luput dari pengawasan matanya saat pria ini menceburkan diri ke dalam air, dan saat dia menerka berapa ukurannya, dia jadi semakin penasaran untuk mengetahui berapakah ukurannya saat dalam keadaan ereksi penuh. Diluar semua kejadian spesial dengan para sahabat prianya, sebenarnya tak begitu banyak pria lain yang pernah tidur dengannya… bagaimanapun juga tidaklah sebanyak isu-isu yang beredar di luaran… dan sebenarnya dia belum pernah merasakan batang penis yang sangat besar. Dan Ahmad mungkin akan memberinya pengalaman itu.
Kiki akhirnya mulai merasa terangsang di akhir sesi berenang mereka. Dia tahu kalau dia sedikit mabuk, mungkin juga masih dalam pengaruh Candu dan tak merasakan ‘rasa sakit’. Dan dia sadar kalau beberapa kejadian yang sudah dilakukannya itu tidak semestinya dia lakukan, tapi rabaan dan elusan pada tubuhnya yang nakal sungguh memberinya sebuah getaran yang nyata.
Saat dia keluar dari air, dia tahu kalau mata Dany tak pernah lepas sedetikpun dari bongkahan pantatnya dimana secarik kain satin yang kecil itu menghilang, dan hatinya terasa menari-nari saat mengetahuinya.
Tak lama berselang Dany menyusulnya, Tubuh basah kekarnya tampak berkilauan ketika tersapu cahaya lampu, dan Kiki sadar kalau putingnya yang semakin keras mencuat bukanlah disebabkan oleh dinginnya udara malam.
“Kami lupa handuknya,” Kiki tersadar, memandang sekelilingnyashe realized, looking around.
“Nggak direncanakan ya?” Dany tertawa. “Ayo, kutunjukkan tempat handuknya.” Apakah ada yang lebih baik dari tawaran ini, piker Kiki. Hatinya berdebar membayangkan apa yang akan terjadi menunggunya. Haruskah dia pergi?
“Kamu yang depan,” kata Kiki apada akhirnya. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak menoleh ke belakang untuk melihat reaksi dari yang lainnya.
****
Johan menatap Kiki dan Dany yang menghilang ke dalam rumah. Kepalanya terasa mati rasa karena kebanyakan minum dan ganja. Kembali dia merasa kalau dia harus menghentikan apa yang akan terjadi, tapi dia tak mampu. Kiki memang terlalu merangsang dengan pakaian renangnya itu…
Dany membimbing Kiki ke dalam rumah yang besar itu, menaiki tangga lalu masuk ke dalam ruangan yang gelap. led Kiki through the large house, up some stairs, and into a darkened room. Kiki sudah merasa menggigil kedinginan, lengannya terasa merinding, lengannya menyilang rapat di depan payudaranya memeluk tubuhnya.
“Aku rasa handuknya ada di sini,” kata Dany, sambil menyalakan lampu. Mereka berada dalam sebuah kamar tidur. Kamar tidur tamu yang tertata dengan rapi.
Dany melangkah mendekati sebuah almari, membukanya dan menyodorkan pada Kiki sebuah handuk halus berwarna putih, kemudian mengambil satu untuk dirinya sendiri.
Setelah tubuh mereka kering, Kiki mengambil tiga buah handuk lagi dari dalam almari untuk yang lainnya. Ketika dia berbalik, Dany sudah berdiri tepat di belakangnya, seperti saat di kolam renang, hanya saja kali ini, situasinya terasa lebih serius. Dany berkata pelan, “Kita nggak perlu tergesa-gesa.”
Dibelainya rambut Kiki yang basah di belakang telinganya sambil tersenyum
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Kiki, memberikan sebuah senyuman yang keduanya tahu akan arti senyuman itu dan melangkah semakin mendekati Dany.
“Aku rasa kamu tahu,” katanya, bibirnya semakin dekat.
“Oh ya?” jawab Kiki, sambil menyentuh bibir Dany dengan bibirnya perlahan.
“Ya,” jawab Dany.
Kebimbangan tersebut hanya sebentar, dan bibir mereka kembali menyatu.
Mereka saling berciuman, dan tangan Dany menarik lepas handuk yang membungkus tubuh Kiki, menjatuhkannya ke lantai. Kiki tersentak akan udara dingin yang menyengat tubuhnya yang hampir telanjang, menyadari betapa terlarangnya hal ini, tapi menginginkannya dengan amat sangat.
Masih tetap dalam perasaan yang seperti mimpi di sepanjang malam ini, Kiki membiarkan dirinya dibawa Dany ke atas ranjang, kemudian Dany menyuruhnya agar rebah dan rileks. Dany membungkus bibir Kiki dengan bibirnya lagi, tangannya bergerak menelusuri sekujur tubuh mungl Kiki. Ciumannya berjalan turun menelusuri sepanjang leher Kiki, bahunya, payudara hingga putingnya.
“Ohhhhh!” Kiki mendesah, mendorongkan dadanya ke mulut Dany. Lidah Dany membuat lingkaran di sekitar putingnya, mengirimkan riak kenikmatan ke pusat indera seksualnya. “Ohhhhh, Dannnn…” kembali Kiki mendesah. Dany berganti dari payudara satu ke satunya lagi, memberi perhatian yang sama pada kedua daging sekal ini sebelum melanjutkan perjalanannya ke arah tujuannya yang pasti.
Kiki sadar kalau dia seharusnya menghentikan Dany. Dia sadar kalau permainan kecil ini sudah terlampau jauh. Permainan ini memang menyenangkan, tapi dia sudah menikah. Dia sudah memiliki seorang suami yang… yang berada sangat jauh saat ini.
Dany menyapu celana dalam Kiki dengan lidahnya, tepat di atas bibir vaginanya. Dany tahu kalau Kiki sudah jadi miliknya sekarang dan dia memutuskan untuk sedikit menggodanya. Dany akan menikmati ini. Dapat dirasakannya bibir vagina Kiki dengan lidahnya, dan aroma birahi Kiki segera menyergapnya. Dua jari Dany menyelinap dibalik celana dalam Kiki, hanya di daerah tepiannya saja, bergerak turun pada selangkangan Kiki yang sudah basah. “Ohhh, jangan terus menggodaku, Dany!” rintih Kiki. Dany mendongak ke atas dan melihat wajah Kiki yang merona dan dengan mata terpejam, sebelah tangannya sedang menjambak rambutnya sendiri.
Dany menyibak celana dalam itu ke samping, ditatapnya penutup terakhir di tubuh wanita seksi dan sudah menikah ini. Dany merasa terkejut sekaligus senang akan aroma manis dari vagina Kiki yang terawat dengan baik. Bibir yang terus berdenyut lembut itu tercukur bersih, dan hanya membiarkan sedikit rambut berbentuk segitiga tercukur rapi tepat di atas celahnya. Dany menjilat sepanjang bibir vagina yang masih tertutup itu, yang mengakibatkan wanita di atas tubuhnya bernafas dengan berat. Dijilatnya sekali lagi sebelum akhirnya merenggut lepas celana dalam itu.
Dany selalu terkesan betapa setiap vagina itu punya perbedaan masing-masing. Labia Kiki kecil dan gemuk, bibirnya menutup rapat sekan malu-malu, tidak seperti kebanyakan perempuan yang merekah terbuka saat merekea sedang terangsang. Kepala Dany terkubur menghilang di antara paha Kiki dan dia membelah bibir vagina yang masih merapat itu dengan lidahnya, membuat Kiki semakin terbang tinggi menuju surga. Dany terus menggoda Kiki. Dany adalah ahlinya dalam hal oral seks, dengan lidah, bibir dan jarinya untuk menyalakan api jauh di dalam jiwa Kiki. Kiki sangat membutuhkan pelepasan, tapi setiap kali otot perutnya mulai mengejang, Dany memperlambat aksinya yang membuat ledakan itu mereda kembali. “Ohhh, hentikan! OHHHH!” protes Kiki, tapi dia benar-benar berada di bawah kendali Dany.
Hendra jarang memberinya oral seks, dan jikalaupun dia melakukannya, sungguh sangat berbeda dengan ini. Sungguh lain dengan yang diberikan pria yang bukan suaminya ini. Apa yang dilakukan Dany padanya membuat Kiki saekan berada di tepi batas pertahanannya dan itu sangat merenggut seluruh rasa di jiwanya. Sekujur tubuhnya bergetar dan rahangya terasa pegal menahan beban rasa ini. Ketika gelombang kenikmatan itu terbangun sekali lagi, dia tidak akan membiarkan pria ini mempermainkannya lagi. Dijambaknya rambut Dany dan menyentakkannya ke arah selangkangannya, mencekik Dany dengan vaginanya dan paha Kiki melingkar erat di belakang kepala Dany. “Uh, UHH! OHH, YAA! YES! YES!! UH!! HAMPIR! YES, OHHHHHHHHHH!!!”
Dany tak mampu berbuat apa-apa. Dia tetap mengoral Kiki dengan lidahnya hingga orgasma atau tercekik kalau melawan. Kiki menggelinjang hebat begitu orgasme diraihnya. “UHHHHHHHHH NGHHGHHHHHHH!!!! OOOHHHHHHHHHH!!!” Dia menghentak liar ke wajah Dany, dan Dany hanya bias diam saja tak menghindar, lidahnya terus mengaduk dalam vagina Kiki, bibir atasnya menggetar di kelentit Kiki. “Ohhhhhh…” Gelombang itu mereda, Kiki mulai tenang, matanya terpejam selama beberapa saat membiarkan dirinya terhempas ke dalam samudera orgasmenya yang luar biasa.
Dany merangkak naik ke sebelah tubuh Kiki dan memberinya sebuah kecupan di bibirnya. Kiki sedikit terkejut begitu merasakan cairan vaginanya sendiri yang ada di bibir, dagu dan lidah Dany. Belum pernah dia merasakan dirinya sendiri. Dia tidak pernah mengijinkan Hendra menciumnya setelah memberinya oral seks. Tidak mengijinkannya sebelum suaminya menggosok giginya terlebih dulu. Rasanya… sungguh berbeda.
Saat bibir mereka saling melumat, tangan Kiki merayap turun menuju celana dalam Dany. Dapat dirasakannya bagian itu berkedut hidup. Jujur saja ini lebih besar dari milik Hendra dan lebih keras juga. Kiki memijitnya dengan bernafsu dan segera saja dia menyadari kalau dirinya membutuhkan kejantanan ini. Didorongnya Dany hingga rebah dan dikeluarkannya batang penis Dany. Mulut Kiki segera menyergap batang keras kenyal ini, dihisapnya dari bagian samping, jemari Kiki mengocok dengan cepat disertai dengan cengkraman tangna yang keras, dan Kiki tahu kalau Dany menyukai aksinya ini.
Saat Dany sudah hampir keluar, Kiki berhenti, mulutnya melepaskan hisapannya dari batang penis ini, dan segera bergerak mengangkangi tubuh Dany. “Astaga, oh Dany, aku nggak tahu apa yang merasukiku, tapi aku sangat menginginkan penismu sekarang juga.” Bibir vagina Kiki berada tepat di atas kepala penis Dany, digesekkannya kepala penis itu di sepanjang garis bibir vaginanya yang sudah dangat licin. “Aku ingin penis kamu dalam vagina milik suamiku ini, Dany. Apa kamu tidak ingin menyetubuhi wanita yang sudah menikah ini Dany? Aku ingin kamu mengeluarkan spermamu yang hangat jauh di dalam vaginaku sekarang. Vagina seorang istri pria lain ini” Kiki hanya bicara kotor saat benar-benar sedang sangat-sangat terangsang. Dan ini biasanya terjadi saat Hendra pulang dari perjalanan luar kotanya, tidak saat Hendra MASIH berada di luar kota… Tidak pernah dengan pria lain, Tapi persetan, Kiki sudah tak peduli lagi. Dan sama sekali tidak ambil pusing lagi saat kepala penis yang gemuk ini mulai mendorok masuk menyeruak dalam kelopak bunga dari vaginanya. Tidak saat batang ereksi Dany membelah bibirnya dan mengisinya dinding lembut vaginanya dengan sesak
“Ohhhhh,” erang Kiki begitu tubuhnya mulai bergerak turun ke tubuh Dany di bawahnya. “Oh, sayangku, rasanya saaaangat nikmat…”
Dany tak bias mempercayai betapa mencengangkannya pengalamannya kali ini. Dia sudah pernah tidur dengan beberapa wanita yang sudah menikah sebelumnya. Dalam pengalamannya, pertama kali sulit untuk menembus pertahanan mereka, tapi berikutnya kalu sudah takluk, mereka akan sangat liar di ranjang. Tapi Kiki lain, dia tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan untuk sampai di titik ini, dan sekarang, dia seperti benar-benar terbakar birahinya. Tubuhnya bergerak naik turun pada batang penisnya, tangannya di rambutnya sendiri, tubuhnya dengan punggung melengkung tengadah ke belakang. Dany dapat melihat tulang rusuk Kiki dengan posisi tubuhnya sekarang ini. Payudara sekalnya terguncang menantang di dadanya, berkilat oleh keringatnya.
“Uh, uh, oh, OH!” Jika saja ada seseorang di lantai dua rumah Johan ini, orang itu pasti akan mendengar sura Kiki. Dia mendesah, mengerang, tersengal, menggeram bahkan kadang menjerit pelan. Kiki bersetubuh dengan berisik, tapi itu malah semakin membuat Dany terbakar birahinya. Sudah sangat lama Dany ingin meniduri wanita bersuami ini. Dan sekarang ini, itu sudah tercapai dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tidak pernah mau jika affairnya dengan seorang wanita bersuami berkelanjutan. Terlalu rumit, tapi begitu dia merasakan sinding vagina Kiki yang cantik dan rapat ini menggesek batang penisnya turun naik, dia memberikan pengecualian untuk kasus ini.
“Oh, keluarkan untukku! Oh, Dany, keluarkan dalam vaginaku! Aku ingin merasakannya–ohhhh! Fuck me, fuck! Fuck! Yes! OHHHH!” Pertahanan Kiki jebol terlebih dulu, dia keluar dan Dany membiarkan semua reaksi tubuh Kiki, dibiarkannya Kiki mengocok pelan naik turun batang pennisnya dengan dinding vaginanya yang terasa licin. Dany tahu kalau dia tidak bias bertahan terus, tapi dia terus berkonsentrasi untuk memberikan persetubuhan yag terhebat untuk wanita bersuami ini dan terlebih lagi bagi dirinya sendiri.
“Ohh, Dan… jangan… mempermainkanku terus! Hentikan dan… cepat keluarkan!” Kata-kata Kiki tercekat oleh nafasnya yang terhenti sesaat. Kiki kembali berada di tepi orgasmenya ketika Dany batang penis Dany mulai berkedut hebat.
“Ohhh!!! ARGHHH!!” teriak Dany. Dany belum pernah berteriak sekeras ini saat bersetubuh. Tapi sekarang ini dia melakukannya, Gerungan, dan erangan layaknya binatang liar keluar dari mulutnya. Dan wanita cantik di atas tubuhnya ini terus menggoyang tubuhnya seakan menandakan penaklukannya atas burannya ini. Dany sekan mengenakan sebuah helm virtual dikepalanya, dia menyaksikan Kiki menari telanjang di atas salju di hadapannya. Dia merasakan gairah peperangan, gairah kemenangan, gairah penaklukan. Dan kemudan dia mengosongkan kantung spermanya ke dalam rahim terlarang Kiki, menyemburkan sebanyak-banyaknya sperma panasnya ke dalam rahim istri pria lain yang sangat terpuaskan.. “AAAARRRRGHHHHHHH!! AH! AHHHH!!!” Dany tak mampu mengontrol dirinya.
Kiki juga tak dapat menghentikan dirinya. Dia tetap memompa, meskipun ketika batang penis Dany tengah menyemburkan spermanya dengan hebatnya ke dalam rahimnya. Kiki menghentak turun pinggulnya ke arah Dany, semakin keras dan bertambah keras saja, otot vaginanya meremas dan memerah setiap tetes intisari dari Dany. Kiki merasakan semburan hangat itu menghantamnya dan dia tak mampu menahan pertahanannya lagi.
“OOHHHHHHHHH YEAHHHHHHHH!!! YES–YESSSSSSS!!!”
Kiki merasa setengah sadar dibuai orgasmenya yang sangat intens. Tubuhnya rebah terkulai di atas dada indah Dany, batangnya yang sudah menyusut masih terbenam sebagian dalam vagina Kiki. Kiki dapat merasakan sperma Dany yang hangat meleleh keluar diantara jepitan selangkangan mereka. She felt light headed from the intensity of her orgasm. She was laying on Dany’s beautiful chest, his shrinking member still half buried in her cunt. She could feel his warm jism leak out from between them. Hal ini membuatnya pusing, memikirkan apa yang sudah mereka perbuat. Hal ini sangat terlarang. Sangat salah tapi juga sangat menyenangkan.
Kiki memberi sebuah ciuman ringan di bibir Dany dan berkata “Aku rasa lebih baik kita segera bawa handuk handuk ini untuk yang lainnya.”
Kiki mengangkat pinggulnya mengeluarkan batang penis Dany dan keduanya mendesah begitu batang itu tercabut keluar. “Aku mau mandi dulu,” kata Kiki dengan tersenyum sambil melangkah ke arah kamar mandi. Dia merasa begitu nakal saat dirasakan vaginanya yang penuh sperma menimbulkan jejak putih menurun di pahanya, dia sangat menyukainya.
*****
Dany dan Kiki turun untuk berkumpul kembali dengan yang lain setelah menghilang kurang lebih setengah jam. Sebuah handuk membungkus tubuh Kiki, melilit hingga atas belahan dadanya. Dia menemukan sebuh penjepit rambut di kamar mandi dan menguncir rambutnya ke belakang. Saat menuruni anak tangga yang menuju ke ruang tengah, dia merasa bagaikan seorang putri, dan ini bukan hanya karena ‘pakaian’ yang dikenakannya. Pada sofa di bawahnya, sekali lagi, terpampang adegan yang membuat vaginanya basah kembali.
Si keturunan timur tengah yang berkulit gelap itu duduk dengan posisi kedua kaki terpentang lebar, telanjang seutuhnya dan memperlihatkan ereksi yang sungguh mendebarkan hati. Dina berada di lantai di antara pahanya, sedang sibuk menjilati batang ereksi luar biasa itu. Dia masih tetap memakai g-string biru kecilnya, tapi jemarinya terlihat jelas sedang sibuk juga di balik kain sutera tipis itu.
Duduk di kursi yang bersebelahan dengan sofa itu, Johan, yang celana renangnya sudah turun hingga lututnya dan sedang sibuk mengocok batang penisnya sambil melihat adegan di hadapannya. Kiki terpaku di tangga sampai Dany menarik tangannya dan menuntunnya turun.
Johan segera beranjak mengambil handuk saat Dany dan Kiki menghampiri mereka. Dia menawarkan minuman pada mereka, dan tentu saja kedua temannya menyambutnya dengan suka cita. Saat dia kembali dengan membawa vodka tonic, dia mendapati Dina sudah duduk diatas pangkuan Ahmad, menciumnya sebentar dan memintanya untuk memperlihatkan kejantanannya.
“Belum pernah kulihat yang sebesar ini. Aku hanya… hanya ingin melihatnya.” Dina mengerjapkan matanya dengan mimik yang polos yang melumerkan hati Ahmad. Bagaimana mungkin dia menolaknya?
Kemudian yang dia tahu, dia merasakan batang penisnya yang gemuk dan panjang sudah berada di dalam mulutnya dan Dina sedang menghisapnya menuju surga. Betapapun dia mencoba sebisanya, Dina tak mampu menampung batang kejantanan itu masuk seluruhnya ke dalam mulutnya. Ini terlalu besar dan panjang. Jadi kemudian dia mengeluarkannya, mengangkat tubuhnya sedikit hingga batang penis itu berada di antara belahan payudaranya yang sekal, lalu tersenyum manja padanya. “Pernah melakukannya?” tanyanya, sekali lagi dengan ekspresi kekanak-kanakan.
“Hah?” tanyanya, tak mengira ini akan terjadi.
“Seperti ini,” Dina tersenyum dengan nakal, tangannya berada di kedua sisi payudaranya dan menekannya bersamaan, menjepit batang itu diantara kedua bongkahan daging kenyal itu. Lidah Dina membantu melicinkan gerakannya, dan dia mulai menggesekkan payudaranya pada batang penis itu.
“Ohhh,” rekasi Ahmad, kedua bola matanya melotot terpana menyaksikan apa yang dilakukan wanita ini padanya. Ahmad cukup berpengalaman, sudah banyak wanita yang tidur dengannya, tapi seks selalu terjadi setelah rangkaian kencan yang mesra. Dia selalu punya hasrat terpendam terhadap Dina dan selalu menghayalkannya, tapi belum pernah sekalipun hal seperti ini ada dalam fantasinya. Ketika kepala penis Ahmad muncul dari jepitan payudaranya, Dina menyambutnya dengan jilatan lidahnya, sekali, dan kembali melenyapkannya ke dalam hangatnya buah dadanya. Kepala Ahmad terhentak ke belakang dan menggeram.
Kiki tak sanggup mempercayai apa yang disaksikannya. Dany membimbingnya menuju ke kursi di seberang Dina dan Ahmad, dia merasa pipinya memerah saat menyaksikan wanita ini memanjakan pasangannya menggunakan buah dadanya sendiri. Ini seperti sebuah film porno yang sering dia dengar. Ini membuatnya semakin terangsang. Dia rebahkan tubuhnya bersandar pada Dany. Kiki tak mampu menahannya lagi. Dia mencium bibir Dany dengan rakus sambil tangannya bergerak meraih penisnya yang mengeras, dan Kiki mengocoknya agar semakin bertambah keras.
Johan harus memejamkan matanya untuk meredam ledakan orgasmenya saat menyaksikan Dina yang menjepit penis Ahmad di antara payudaranya, dan kemudian melihat Kiki dan Dany yang juga memulai adegannya sendiri. Ketika dia membuka matanya, Kiki sudah duduk diatas pangkuan Dany, dengan punggung yang menghadap ke arah Dany dan kedua tangan Dany meremas payudaranya. Tubuh keduanya kembali menyatu dan mulai bersetubuh lagi. Kiki terlihat sangat menawan saat sedang dibakar gairah. Jauh lebih cantik dari biasanya, termasuk di saat hari pernikahannya. Rambut sebahunya, terkuncir ke belakang, terlihat kusut dan basah. Sebagian menempel lekat pada dahi dan pipinya. Matanya setengah terbuka, giginya saling beradu keras dalam erangannya yang rendah, pelan dan berat. Dia mengayun berlawanan mengiringi hentakan Dany, dengan keras, layaknya seorang wanita yang sudah sangat lama tidak mendapatkan sentuhan pria.
“Oh, YA!” Ahmad berteriak, saat spermanya menyembur. Dengan cepat Dina menangkapnya dengan mulut, membiarkan hanya sebuah gumpalan sperma yang lolos menghantam dagunya. Dia sangat menyukai rasa dari sperma pria, dan pria ini tak terkecuali.
“Aku ingin keluar dalam mulut kamu,” bisik Dany di telinga Kiki. “Aku ingin merasakan bibirmu mengulum penisku saat kamu membuatku orgasme untuk yang kedua kali malam ini.” Kata-kata nakalnya membuat Kiki merasa jengah bercampur dengan birahinya yang semakin tinggi karenanya.
Kiki mengeluarkan penis Dany dari dalam vaginanya, lalu memutar tubuhnya di antara paha Dany, dan memasukkan penis Dany yang basah oleh cairan madunya sendiri ke dalam mulutnya. Dia merasakan cairan madunya sendiri untuk yang kedua kalinya. Kali ini rasa itu membatnya bergairah. Hal ini sangatlah keliru! Benaknya menjerit dan lidahnya menjulur membasahi lidahnya dengan penuh rasa nikmat. Dia gunakan cairan vaginanya sendiri sebagai pelican, tangan kanannya mengocok seiring dengan kuluman bibirnya, sedang tangan kirinya dengan mesra menggenggam buah zakar Dany.
Johan tak mempercayai semua yang tengah terjadi. Tak lama berselang adegan oral, adegan berikutnya langsung menyusul. Kiki tak membutuhkan waktu lama mengoral. Dany sudah berada di garis ketahanannya saat dia rasakan kepala penisnya menyentuh tenggorokan Kiki dan mulai masuk. “Ohhhh, fuck, baby! YEAAHH!”
Dina mengorek sperma yang lepas dari tangkapannya tadi dan menghisapnya habis dari ujung jemarinya, sambil melirik nakal ke arah Johan. Pria muda ini terlihat sangat manis, duduk di sana dengan penis dalam genggaman tangannya, bingung menentukan adegan mana yang harus disaksikannya. Terasa sudah cukup lama sejak terakhir kali Dina melihat penisnya yang indah. Bagi Dina, itu adalah ukuran yang paling tepat untuknya, dan setiap kali dia bercinta dengan Johan itu adalah persetubuhan terbaik yang pernah didapatkannya.
Johan melihat wanita berambut ikal panjang sampai punggung ini berdiri dan berjalan ke arahnya. Dina membetulkan g-string biru kecil yang melingkari pinggulnya dan Johan seketika membayangkan apakah wanita ini masih mencukur bersih vaginanya. Dina menghampirinya, duduk di sebelah kirinya dan dapat dirasakannya sesuatu yang berbeda yang akan segera dia ketahui.
Perasaan Johan campur aduk saat menyaksikan Dina memuaskan Ahmad. Di satu sisi, dia merasa cemburu. Bagaimanapun juga Dina bukanlah miliknya dan dia tidak berhak merasa cemburu. Di sisi lainnya, dia merasakan ini sangat merangsang birahinya ketika menyaksikan Dina memuaskan sahabatnya.
Johan tergetar akan keberadaan Dina yang merapat. Dapat dia rasakan kehangatan dari tubuh Dina yang hampir telanjang di dekatnya. “Kamu terabaikan,” kata Dina dengan suara jalang dan dalam. Tangannya menggenggam ereksi Johan, tepat di atas tangan Johan berada. “Kedua temanmu sudah bersenang-senang. Sekarang giliran tuan rumah.”
Diturunkannya boxerg Johan dari kakinya hingga batas lutut. Sebelum Dina mulai mengulum penis Johan dengan mulutnya, entah kenapa, dia menoleh pada istri kakaknya Johan dan berkata, “Mau bantu?” dengan suaranya yang termanis.
Kiki, yang sedang menatap penis Johan, melirik ke mata Johan, lalu kearah Dina, kembali lagi ke Johan, dan mengedip. “Dengan senang hati.”
Tubuh telanjang Kiki mendekati Dina dan Johan. Birahi Johan semakin terbakar melihat selangkangan isteri kakanya yang dihiasi rambut kemaluan yang tercukur rapi mengecil ke bawah. Dia tak mengira kakak iparnya ini sebagai tipe wanita seperti ini. Dan lagi, dia tak pernah menyangka kakak iparnya adalah tipe wanita yang mau bersama dengan wanita lain memberikan oral seks padanya.
Kedua wanita ini saling bergantian memanjakan penisnya. Saat yang satu mengulum batangnya, yang satunya lagi menjilati buah zakarnya. Kemudian, bagaikan kedua pikirannya saling terhubung, mereka bergantian posisi hampir tanpa jeda. Tehnik keduanya sangat berbeda, tapi ini jadi terasa menakjubkan. Bibir Kiki menciptakan jepitan cincin yang kencang melingkari batang penis Johan, sedangkan Dina menggunakan lidahnya untuk memberi kepuasan yang maksimal bagi Johan. Yang paling menggairahkan adalah menyaksikan tangan Dina membelai wanita berambut sebahu ini. Sejauh yang dia tahu, Dina belum pernah melakukan dengan wanita lain. Tapi kemudian, bukan berarti hal ini sama sekali mustahil.
Johan sadar orgasmenya sudah dekat, dan kelihatannya Dina juga tahu akan hal itu. Dilepasnya batang penis Johan dari kuluman mulutnya, dan mencegah Kiki yang ingin ganti mengulum. Dia berbisik pada Kiki, “Maafkan aku, tapi aku benar benar ingin segera disetubuhi.” Tanpa berpikir panjang apa reaksinya, Dina mencium dengan lembut bibir wanita di hadapannya ini dan berdiri. Jemarinya bergerak ke tali pengikat g-stringnya, dengan perlahan diturunkannya, membuat dirinya telanjang tak beda dengan semua yang berada dalam ruangan ini.
Johan sangat terkejut saat melihat ciuman singkat yang dilakukan oleh kedua wanita cantik ini dan membuatnya tak merespon langsung akan kecantikan dari wanita yang telanjang seutuhnya di hadapannya. Kulit putihnya terlihat indah dan Johan merasa senang melihat Dina tak mencukur habis rambut kemaluannya. Dia masih menyisakan segaris tebal rambut di atas bibir vaginanya yang tebal. Rambut itu terlihat sangat pendek seakan baru saja tumbuh, dan vulva yang membuka karena gairahnya dan seakan mengisyaratkan sudah benar-benar siap. Dina menaiki pangkuannya, menggosokkan payudaranya ke wajah Johan, dan mulai menurunkan pinggulnya pada batang terbaik yang pernah dia setubuhi. Tak ada halangan di pintu masuk, dan segera saja, bibir vaginanya yang sensitif bertemu dengan rambut ikal dari kemaluan Johan.
Kiki memandang penis Johan memasuki vagina Dina dan sebuah getaran melandanya. Belum pernah dia menyaksikan pasangan lain melakukan hubungan seks di hadapannya, tidak sedekat ini! Ini sangat membakar gairahnya.
Kiki menyapukan pandangnya ke sekitar. Dany sudah nggak ada, tapi Ahmad masih duduk di situ, sendirian di tengah sofa, memegangi batang penis terbesar yang pernah dilihat dalam hidupnya dengan tangannya. Ekspresinya seperti layaknya seorang anak kecil yang menatap mainan di balik kaca toko. Dia tak tahu mana yang harus di lihat, terlalu banyak pemandangan untuk direkam ingatannya. Kiki tertawa melihatnya, merasakan betapa naturalnya semua ini terjadi.
Dia merangkak ke arah sofa dan meringkuk di sebelah Ahmad. “Apa yang kamu pikirkan?” bisiknya di telinga pria ini.
Ahmad memikirkan sesuatu, tapi tak mampu mengucapkannya. Dia pandangi wanita cantik di sebelahnya ini, tak pernah sekalipun dalam hidupnya akan bisa melihat wanita seperti ini telanjang. Dia sangat cantik, sagat cerdas, terlalu berkelas baginya. Tapi disinilah dia berada sekarang, duduk dengan kaki melipat di bawahnya, payudaranya menekan erat lengannya dan tangannya yang mengelus kejantanannya.
“Aku berpikir, apa yang sudah kulakukan hingga aku bisa menerima ini?’”
Kiki tertawa pelan. “Kamu sudah memenangkan kontes ciuman,” jawabnya, dan perlahan mengangkat kepalanya, mendekatkan bibirnya pada pria muda ini. Mereka saling berciuman dengan mesra dan penuh gairah, membuat Kiki semakin bergairah dan terangsang. Sebuah ciuman selalu membuatnya terangsang, tapi belum pernah dia seterangsang ini hanya dengan sebuah ciuman sederhana saja.
“Ohhh,” dia melenguh, merasakan jemari pria ini menelusuri bagian dalam pahanya, hingga pada belahan vaginanya. Dia hentikan ciuman ini untuk melepaskan erangannya, lalu dengan lapar kembali melumat bibir Ahmad. Nggak lagi ciuman singkat, dia membutuhkan ciuman yang lebih dalam seiring jari Ahmad yang mulai memasuki vaginanya yang basah.
Kiki menjauh darinya dengan cepat, menatap matanya yang tajam. Mata itu penuh dengan hasrat dan birahi, dan tiba-tiba dia merasakan punya kekuatan yang besar. Dia yang mengendalikan di sini, seperti halnya Dina. Kembali dia merapatkan bibirnya, dia merebahkan tubuhnya kebelakang dan menarik Ahmad ke atasnya. Dengan sebelah kakinya menekuk dan sebelahnya bersandar pada sandaran sofa, dia benar-benar terbuka dan siap menyambutnya untuk menggantikan jari dengan batang penisnya yang seperti milik bintang film porno itu.
Kiki membimbing batang penis besar itu ke arah vaginanya, membelah bibir vaginanya yang hangat. “Uhhhh!” erangnya, sedikit rasa sakit bercampur dengan kenikmatan, saat penisnya membelah dan mendorong dan mengisinya melebihi semua yang pernah dirasakan Kiki sebelumnya. Dia merasa rapat seperti perawan, dan itu membuat Kiki semakin gila oleh hasratnya. Ingin rasanya agar Ahmad menyentakkan dengan keras ke dalam vaginanya, tapi sadar jika Ahmad tak akan melakukan hal itu.
Ahmad sangat berhati-hati dengan wanita menggiurkan di bawah tubuhnya ini. Dia selalu sabar jika berhubungan dengan seks. Dia tahu kalau dia lebih besar dari kebanyakan pria, dan dia merasa kalau itu adalah sebuah anugerah. Beberapa wanita merasa ngeri dengan ukuran penisnya. Yang lainnya berusaha memasukkannya, tapi mengatakan kalau itu terlalu menyakitkan. Dia hampir tak pernah mendapatkan oral seks. Karena terlalu besar.
“Lebih keras,” kata Kiki disela geretakan giginya. Ahmad melihat ke bawah dan melihat ekspresi wajah Kiki yang diselimuti campuran antara kesakitan dan birahi. Ditekannya masuk lebih keras batang penisnya, menariknya sedikit, lalu mendorongnya masuk lebih ke dalam. “Lebih keras lagi,” perintahnya lagi, dan Ahmad mengulangi gerakan mengayunnya, hanya saja kali ini lebih cepat. Wajahnya mengisyaratkan rasa sakit, tapi Kiki mengerang nikmat, “Ohhhh, yesss!”
“Ayo sayang, setubuhi aku seperti dalam semua mimpimu.” Suaranya terdengar berat dan menahan nafas.
Ahmad memompa dengan lebih keras lagi dan Kiki memintanya lebih keras lagi. Ahmad menghentak hingga dia merasakan tulang selangkangannya menghantam rambut mungil di atas kelentitnya, dan Kiki menggeram. Mencengkeram erat batang penis didalam tubuhnya dengan dinding vaginanya, dia tersengal dan mengerang keras. “Yess! Oh fuck, rasanya sangaatt nik-mattt!” Ahmad semakin terpacu. Tak lagi dengan gerakan romantis yang lembut, yang biasanya dia lakukan saat berhubungan seks dengan wanita, tapi lebih cepat dan hentakan yang lebih keras dan kasar. Ditariknya separuh bagian dari batang penisnya sebelum menyentakkan masuk kembali didiringi erangan dari wanita di bawah tindihan tubuhnya ini. “Ya! Ya! YA!” Punggung Kiki terangkat melengkung ke atas, payudaranya terdorong ke depan, putingnya menonjol keras bagaikan sebuah berlian kecil.
Ahmad merasa saat menyetubuhi tubuh Kiki sangat nikmat, dia merasa takut jika dia akan membuat wanita ini terluka tapi tak mampu menghentikan dirinya sendiri. Dia menyentaknya lebih keras dan jauh lebih keras lagi, yang semakin membuat Kiki mengerang bertambah keras. “Uh! Uh! UH! NGH! UH!” Seluruh tubuhnya terguncang ketika gelombang demi gelombang orgasme menggulungnya, membuat seluruh persendian tubuhnya terguyur kenikmatan dan rasa sakit dan birahi yang tak pernah terpuaskan. “Fuck, sayang… AK-KU… KELUAR SEKARANG! NGH! NGHHHH!”
Mendengar kalimat ini keluar dari bibir isteri pria lain sudah lebih dari cukup baginya. Sebelah tangannya mencengkeram keras payudara wanita ini satunya lagi memegangi pinggulnya dan mengejang keras saat dia meledak di dalam rahim Kiki. “UHHH!” erangnya, kenikmatan ini hampir meledakkan jantungnya. Batang penisnya berdenyut tak terkendali di sepanjang dinding vagina lembut milik Kiki, yang membuat orgasme Kiki mencapai titik puncaknya.
Kiki tak mampu menahannya lagi. Pandangannya kabur. Sekujur tubuhnya dipeluk kebahagiaan dari surga ke tujuh. Dapat dirasakannya semburan sperma Ahmad menyembur seakan aliran magma yang panas memenuhinya, mengisikan madu cintanya jauh ke dalam rahimnya yang sudah terikat dalam pernikahan. Ini terlalu berlebih! Dia kehabisan nafas. Tubuhnya seakan terhempas dan ditelan jauh kedalam sofa ini. Segalanya terasa pudar. Hal terakhir yang diingatnya sebelum tak sadarkan diri adalah betapa indahnya merasakan ‘terisi dengan penuh’.
Ahmad rubuh menindih Kiki. Tubuh mereka lengket oleh keringat yang membasahi sekujur tubuh dan juga sofa ini. Ditariknya keluar batang penisnya dari vagina Kiki yang sekarang terlihat terbelah lebar dan lalu memelukya mesra. Tiba-tiba dia merasa sangat lelah, dan merasa sangat bahagia memeluk wanita ini dalam dekapannya. Tak ada tempat lain yang diinginkannya selain di sini.
*****
Saat Kiki terbangun, dia berada sendirian di ruang tengah ini, sebuah selimut hangat menutupi tubuhnya. Sebuah lampu temaram menyinari ruangan ini. Dia nggak tahu jam berapa sekarang ini, kepalanya masih terasa pusing karena minuman yang dikonsumsinya sebelumnya.
Dia bangkit, melilitkan selimut menutupi tubuh telanjangnya, dan merasakan sperma Ahmad meleleh turun di pahanya. Setengah tersenyum pada dirinya sendiri, mengingat persetubuhan yang dahsyat, dan kemudian melangkah pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Membasuh wajahnya dengan air, Kiki bertanya pada dirinya, “Apa yang kamu lakukan, Ki? Kamu sudah menikah.” Dia sadar jika apa yang sudah diperbuatnya sebelumnya tadi sepenuhnya salah. Belum pernah dia menghianati Hendra atau pada semua kekasihnya sebelumnya, dan sekarang telah dia biarkan dua orang pria berejakulasi di dalam rahimnya… tanpa perlindungan… belum lagi dia juga telah berikan sebuah oral seks pada adik suaminya.
Tapi untuk sebuah alasan yang aneh, dia tidak merasa begitu bersalah seperti yang dia kira seharusnya terasa. Hendra pergi sudah sebulan lamanya meninggalkan dirinya saat ini, suaminya juga yang sudah ‘memaksanya’ untuk datang kemari. Dia menggelengkan kepalanya, menatap matanya dalam pantulan cermin. Dia tahu bahwa untuk waktu sekarang ini, di tempatnya berdiri, dia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya. Segalanya terasa menyenangkan. Ini adalah kesenangan terbesar yang pernah dialaminya tanpa kehadiran Hendra dalam dua tahun usia perkawinan mereka, dan tiga tahun masa pacaran mereka. Tidak termasuk mantan kekasihnya yang pernah bersamanya. Dia tidak akan melakukan hal ini lagi. Malam ini adalah malam yang unik, sangat menyenangkan, malam yang penuh dengan petualangan dan eksplorasi. Malam ini, dia bebaskan ‘gadis nakal’ dalam dirinya yang berperan. Besok, kembali pada perannya ‘gadis manis’ yang sudah menikah kembali.
Dia berjalan menapaki tangga dan mengira semua orang sudah lelap dalam tidur, sebuah rintihan panjang keluar dari kamar tidur utama menunjukkan dugaannya salah.
Kiki melangkah menuju satu-satunya pintu di depan tangga. Sedikit terbuka dan dia mengintip ke dalam. Dia kira nggak ada yang bisa membuatnya tersipu malu lagi, tapi setiap kali dia menyaksikan sendiri perilaku seksual yang baru, seakan api kembali ke wajahnya lagi. Dina sedang disetubuhi Dany dari belakang sedangkan mulutnya masih mengulum batang penis milik Johan. Mereka berada di atas ranjang ukuran King size. Kamar itu sendiri mempunyai jendela kaca besar yang mengelilingi hampir semua bagian, suara rintihan dan lenguhan pecinta yang mereguk kenikmatan memenuhi kamar ini.
Johan menoleh dan melihat Kiki sedang berdiri di pintu masuk, sebuah selimut membungkus tubuh rampingnya. Dia tersenyum padanya, berharap Kiki tidak mempermasalahkan akan semua yang terjadi. Johan sebenarnya sangat menginginkan Kiki, tapi rasa hormatnya terhadap kakaknya membuatnya mengesampingkan kenikmatan itu. Tapi saat Kiki menjatuhkan selimut yang membungkus tubuhnya, lalu berjalan memasuki kamar ini dengan tubuh telanjang, dan mencium bibirnya dengan dalam, dia merasa dinding pendiriannya mulai retak.
Kiki mendorongnya ke atas kasur dan menaiki kepalanya, menghadap membelakangi jadi dia bisa menyaksikan tubuh-tubuh telanjang yang saling ‘terkait’. Vaginanya serasa terbakar api dan dia membutuhkan sesuatu untuk meredakannya. Karena kedua penis yang tersedia sedang terpakai, dia memutuskan untuk melihat sebagus apa adik parnya dalam oral seks. Sebuah getaran yang sangat nakal menggetarkannya saat memikirkan hal tersebut.
Dina melirik ke atas dan bertemu dengan mata Kiki. Dia tersenyum dengan mulut masih penuh terisi batang penis Johan dan mengedipkan mata pada Kiki. Dina sangat bahagia bertemu dengan Kiki, dan sangat gembira akan perubahan suasana yang terjadi malam ini. Semua ini tak akan terjadi jika isteri Hendra nggak berada di sini. Itu sudah pasti. Sesuatu tentang rasa percaya diri seorang wanita dan ledakan seksualitas memicu terjadinya pesta seks pada mereka semua
Dilepaskannya mulutnya dari batang indah penis Johan dan memberi tanda pada Kiki dengan jarinya untuk bergabung dengannya. Kiki tersenyum pada wanita ini dan mendekatkan mulutnya pada penis Johan, membuatnya dalam posisi 69. Ini adalah posisi 69 bagi sejarah kehidupan seksual Kiki. Sementara itu, Dina bergerak ke buah zakar Johan yang terekspos, menjilatinya dengan lidahnya sebelum bergerak turun ke celah sensitif diantara lubang anus dan kantung buah zakarnya.
Untuk kali yang kedua, Johan mendapatkan penisnya dilayani oleh dua orang wanita menawan. Hanya saja kali ini, wajahnya dipenuhi oleh vagina basahnya Kiki dan pantatnya yang indah.
Saat Kiki tidak sedang mengulum batang penis Johan, posisinya yang nggak memungkinkannya untuk bergantian memanjakan buah zakar Johan, maka hanya membuatnya melihat saja Dina ganti yang mengulum penisnya yang penuh ke dalam mulutnya yang terlihat seksi. Kiki kira batang panjang itu tak mungkin mampu tertampung menghilang seluruhnya ke dalam mulut Dina yang berkilat basah, tapi ternyata itu dapat ditelan Dina seluruhnya, selalu. Dan saat giliran itu tiba padanya, Kiki berusaha untuk memasukkan batang penis ini kedalam mulutnya, tenggorokannya seluruhnya, dan dia dapat merasakan, lebih dari hanya mendengarkan, Johan mengerang di bawah tubuhnya.
Dina harus menghentikan pelayanannya terhadap penis yang berbulu di hadapannya ketika Dany dengan lambat tapi mantap membawanya pada orgasme kecil. Dina kembali konsentrasi pada batang penis yang menghujamnya dari belakang, menyamakan irama ayunan pinggul Dany dan menghisapnya semakin ke dalam.
Dany menyaksikan pesta di hadapannya sambil menyetubuhi Dina dari belakang. Dia selalu menikmati jalan masuk dari vaginanya Dina yang menyengkeram kejantanannya dengan erat ketika dia mengayunkan ke dalam tubuhnya. Dia harus berhati-hati untuk tidak menyemburkan spermanya saat menyaksikan kedua wanita ini bergantian melayani penis Johan bagaikan sebuah permen yang lezat. Dia berharap andaikan itu adalah penis miliknya.
Dina mengeluarkan suara basah yang berisik saat mengoral pria. Dany menyukai suara itu dan kadang menjadi terangsang ketika mendengar orang lain yang ‘berisik saat menyantap hidangannya’. Dina tahu kalau oral seks yang basah adalah oral seks yang baik. Dany suka pada ekspresi takjub Kiki saat melihat wanita lain sedang mengoral adik iparnya. Kiki menjilat bibirnya sendiri dan Dany tahu kalau Kiki sedang menantikan gilirannya untuk menikmati batang daging yang lembut itu ke dalam mulutnya lagi.
Dany menyaksikan kepala Dina bergerak naik turun bagaikan seorang yang profesional. Dina mengeluarkan mainannya dari mulutnya sepenuhnya, dan menatap tepat pada mata indah Kiki. Kiki tertawa kecil lalu tersenyum lebar, menggenggamkan tangannya pada batang keras yang berada tepat di bawah wajah Dina. Sebelum dia memasukkan kembali batang itu ke dalam mulutnya, wajah kedua wanita ini saling mendekat dan mencium satu sama lain. Ini terjadi begitu natural, hampir seperti tak mereka rencanakan.
Para wanita memiringkan kepalanya masing-masing dan saling membuka mulut untuk satu sama lainnya, menikmati rasa manis saat lidah mereka saling melilit dan air liurnya bercampur. Saat itu semua terjadi, suara dalam kepala Kiki berteriak pada dirinya The, “Apa yang kamu lakukan?! Apa yang sedang kamu lakukan?!” Tapi itu sudah menjadi ‘suara bisu’ yang tak lagi di dengarnya, bahkan saat semua ini berawal. Bahkan, dia hanya mengikuti kemana alur ini menyeretnya masuk pada pesta ini, dan sekarang ini, melakukan sebuah French Kiss dengan satu-satunya wanita yang seksi selain dirinya di malam ini, di rumah ini, dan terjadi begitu saja secara alami dan sangat menggairahkan.
Dany nggak mampu mempercayai apa yang dia lihat. Dina menaruh tangannya di pipi Kiki, membelainya dengan lembut saat mereka berciuman, penuh dengan gairah. Dany sering meminta agar Dina mempertimbangkan untuk membawa wanita lain dalam permainan cinta mereka. Dina selalu menggelengkan kepala tanda nggak setuju. Sekarang…
Kedia wanita ini menghentikan ciuman mereka dan mulut Kiki berganti membungkus batang penis Johan. Dina menarik nafas dengan berat, benaknya kacau. Dia nggak pernah punya keinginan untuk melakukan hal tadi pada kegiatan seksual yang nyata. Bahkan sekarang, dia tidak merasa bahwa dirinya tertarik untuk jadi biseksual. Dia menikmati ciuman tadi, ya. Tapi itu tidak membuatnya mengkatagorikan dirinya sebagai seseorang yang lain. Baginya ini adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan di saat yang tepat.
Johan nggak mampu menahannya lebih lama lagi. Penisnya sudah dioral lebih dari sepuluh menit, dan dia sudah berusaha sebisanya untuk menahan orgasmenya, ini sudah melampaui dari yang bisa ditahan oleh pria manapun. Dengan lidahnya yang masih terkubur dalam lembutnya bibir vagina Kiki, dia berejakulasi dalam salah satu mulut wanita ini. Dia nggak tahu pasti mulut siapa, tapi dia juga sudah nggak peduli lagi. Sepuluh menit berlalu dan itu adalah pengalaman terbaik.
Kiki mulai merasakan orgasmenya mulai datang tak lama berselang setelah Johan, dan dia menggesekkan selangkangannya pada wajah Johan dan daging kenyalnya ke bibir dan hidung Johan. “Oh! Ohhh!” Kiki dapat mendengar erangannya sendiri.
Johan keluar dengan hebatnya dalam mulut Dina. Dia menelan sebagian sperma itu, tapi menyisakan cukup untuk teman barunya. Kembali lagi, mulut kedua wanita ini saling merapat untuk sebuah ciuman penuh gairah, kali ini saling bertukar cairan sperma yang putih dan kental. Hal ini lebih dari cukup bagi Dany dan dia meledak, samar-samar sadar jika kedua wanita ini juga mengalami hal yang sama.
Keempatnya rubuh saling bertindihan. Mereka merangkak dan menggerakkan tubuh lelah mereka untuk merebahkan kepala pada bantal, telanjang dan menatap langit-langit. Nafas berat, tersengal, hanya suara nafas yang memenuhi senyapnya kamar ini. Para pria rebah di kedua sisi ranjang, dengan para wanita diapit di tengahnya.
Setelah beberapa menit beristirahat, Dina setengah bangkit dan bergerak menindih Kiki, tangannya membelai rambut Kiki sambil keduanya saling bertatapan. Para pria hanya menyaksikan dengan seksama, menahan nafas.
“Belum pernah aku melakukan dengan…” Kiki memulai, tapi Dina dengan lembut memotongnya dengan “shhh…”
Dia semakin merapat dan membisikkan, “Aku juga.” Saling memejamkan mata, kedua wanita ini berciuman lagi. Kali ini, ciuman yang perlahan, pada awalnya hanya sentuhan bibir dengan penuh rasa kewanitaan dan saling melumat lembut. Dan semakin bergerak cepat, mulut terbuka cukup untuk lidah mereka saling menyentuh dan menari. Posisi kepala mereka berganti, kedua bibir semakin masuk ke dalam untuk menyentuh bagian mulut mereka yang paling pribadi. Dengan cepat mereka saling berciuman layaknya dua orang kekasih, dan untuk pertama kalinya Dina mengeksplorasi wanita cantik ini. Jika sebelumnya Kiki menilai Ahmad adalah serang yang hebat ciumannya…
Kiki nggak tahu apa yang tengah terjadi, tapi dia tahu kalau dia menyukai apapun ini. Ciuman antara wanitanya dengan Dina adalah ciuman yang paling erotis yang pernah dilakukannya dengan seorang manusia. Sekujur tubuhnya bergetar oleh kenikmatan dari erotisnya sebuah ciuman yang tabu. Dia merasakan sebuah tangan wanita yang kecil, nikmat, menelusuri badannya, bergerak naik ke arah payudaranya, ibu jari yang memainkan putingnya dengan penuh rasa nikmat.
Kiki membawa tangan kirinya pada kepala Dina, menariknya lebih merapat untuk sebuah ciuman yang lebih mendalam. Tangannya yang satunya lagi mencengkeram payudara Dina, meresapi lembutnya kekenyalan daging wanita lain untuk pertama kalinya. Payudara Dina lebih kencang dibandingkan dengan miliknya, tapi kulitnya terasa luar biasa lembut.
Jemari Dina bermain di tubuh wanita lain, menari di atas rambut di atas selangkangan wanita lain. Kiki melenguh dalam mulut Dina dan harus menghentikan lumatan bibir mereka. Mendengar reaksi dari seorang wanita lain karena rangsangannya mengirimkan sebuah kejangan kecil dalam vaginanya sendiri.
Para pria menyaksikan saat kedua wanita ini saling bermain satu sama lain, mengeksplorasi tubuh lembut mereka dengan tangan dan, tak lama kemudian dengan mulut dan lidah mereka. Johan nggak bisa mempercayai kalau dia menyaksikan istri kakaknya menghisap puting wanita lain, mempermainkan dengan lidahnya yang panjang.
Saat ciuman dan hisapan Dina mulai bergerak turun menyusuri lekukan tubuh Kiki menuju ke arah vaginanya yang terbakar, para pria hampir tidak bisa menguasai diri, mata isteri Hendra terpejam rapat rintihannya terdengar seperti. “Mmmmmm-uh! Ngh! Uh! Yyaaa…”
Merasakan sentuhan pipi dari seorang wanita lain pada sisi bagian dalam dari pahanya adalah sebuah perasaan yang akan dialaminya, dan tidak pernah menyangka jika dia menyukainya. Sekarang, dia merasa nggak cukup hanya dengan semua ini. Dina pasti sudah berbohong saat mengatakan kalau dia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, karena semua yang dilakukannya membawa sebuah sensasi yang bahkan tidak dibayangkannya jika ini bisa tercipta dari sepasang bibir, sebuah lidah, dan kedua jari.
Dina sendiri, di sisi yang lain, sudah sangat basah di antara pahanya saat dia memberi jilatan pada daging manis dan empuk milik teman wanitanya ini. Dia kini tahu kenapa pria suka pada vagina yang tercukur bersih. Dia dapat menarikan lidah bibirnya berulang-ulang di atas lembutnya keseluruhan bagian dari daging vagina, menghisap daging di sekitar kelentitnya untuk membawanya tinggi dan semakin tinggi. Dina menyentuh dan menjilat Kiki sangat tepat pada bagian di mana dia tahu kalu dia sendiri akan menyukainya, dan suara erotis yang keluar dari bibir Kiki serasa sebuah penghargaan untuk apa yang dilakukan kepadanya.
“Oh Tuhan, Dina! Rasanya s-sangat en-naakk! Ya! Jilat vaginaku, sayang- ohhhhhh… Ya, ya, ya! Oh, lagi, yes! Uh, uhhhh!” ingin rasanya tangan Dina bergerak ke vaginanya sendiri, tapi ditahannya. Dia ingin memberikan perhatiannya 100% pada kekasih wanitanya ini, memanjakan kewanitaan Kiki dengan kedua tangannya saat lidahnya menari dan menyapu kelentitnya yang sensitivf.
“Oh sayang, Dina, ohhhhh! Aku mau punyamu juga… aku ingin menjilat vaginamu! B-balikkan tubuhmu, kekasihku! Berputarlah… ohhhh… dan biarkan aku menjilatmu j-jugaa…”
Para pria perlahan mulai megocok batang penisnya yang kembali mengeras, dengan mata yang terbuka lebar menyaksikan para wanita saat berputar mengatur posisinya untuk sebuah 69 yang sangat merangsang. Ini nggak nyata. Ini nggak mungkin terjadi! Tapi semuanya sedang terjadi.
Merasakan untuk pertama kalinya rasa dari seorang wanita sangat menggoda. Dina terasa berbeda dibandingkan dirinya, tapi sama sekali bukan sebuah rasa yang buruk. Dari vagina yang tak berambut Dina terasa campuran rasa asin dari sperma milik Dany dengan sebuah rasa yang akrab tapi masih terasa asing. Secara perlahan Kiki menemukan iramanya, dan seperti halnya semua kejadian malam ini, dia melakukannya secara alami.
Setiap kali, kedua wanita ini menarik kepalanya dari vagina masing-masing untuk melenguh, mengerang dan mengambil nafas. Saat itu terjadi, para pria disuguhi pemandangan yang erotis di hadapan mereka, dagu yang terlumuri oleh madu cinta masing-masing, sebelum kemudian saling menyelam kembali. Mereka saling memberi orgasme yang berkesinambungan sebelum akhirnya Dina bangkit dan berkata dalam suara bisikan yang bergetar lirih, “Johan… kenapa kamu nggak… ke belakangku dan-mmmm… masukkan… penismu yang indah itu ke dalam vaginaku… ohhhhh…”
Dia melakukan seperti apa yang diperintahkan padanya, dirasakannya lidah Kiki menjilati sepanjang batang penisnya saat dia mengarahkan ke pintu masuk vagina Dina. Dany nggak mau menunggu untuk diminta melakukan hal yang sama pada wanita satunya yang sudah menikah, dan segera saja, keempatnya saling memainkan sebuah babak lagi dari malam yang penuh kenikmatan surgawi ini.
Kiki menengadah ke atas dan melihat saat buah zakar adik iparnya menampari untaian kecil dari rambut di selangkangan Dina. Kiki menjilat dan menghisapi semua yang ada di hadapannya sambil menyaksikan batang penis Johan meluncur keluar masuk dalam vagina Dina, berkilat dank keras dan seakan sedang mengamuk. Dia sendiri merasakan penis Dany membelah bibir vaginanya untuk yang ketiga kalinya malam ini, dan dia merasa kalau tak lama lagi orgasmenya segera meledak.
Bagaimana mungkin dia bisa kembali pada kehidupan perkawinannya?
Dengan cepat, keempatnya mulai merasa sangat kelelahan dan tak satupun yang bisa melakukan sesuatu kecuali terlelap dalam tidur tidur yang nyenyak, saling berpelukan dengan telanjang antara lembutnya tubuh wanita dan kerasnya tubuh kekar pria.
*****
Kiki bangun pertama kali keesokan paginya dan menemukan dirinya meringkuk manja dalam pelukan hangat Johan. Kamar ini, yang dikelilingi sebagian besar oleh jendela dibanjiri oleh rasa hangat dari sinar mentari pagi yang baru terbit.
Saat dia berbalik dalam pelukannya, mata Johan yang masih ngantuk mulai terbuka dengan malas dan kemudian tersenyum padanya. Kiki teringat semua kejadian semalam, dia tidak bercinta dengan pria ini, belum.
Kiki mencium bibirnya dengan mesra dan berbisik, “Johan, terima kasih untuk yang semalam.” Dia berusaha hati-hati agar tidak membangunkan Dany dan Dina di sisi lain ranjang ini. “Rasanya… sangat indah dan manakjubkan.”
Mereka saling berciuman lagi, dan tiba-tiba perasaan sedikit bersalah merasuki Kiki. Sekarang sudah pagi. Sekarang waktu untuk kembali ke kehidupannya yang normal sebagai seorang isteri yang setia dan mengabdi. Tapi hasratnya bercampur dengan kebimbangan dan itu terlalu berat untuk dihadapinya. Dia berbisik, “Kita tidak boleh menceritakan hal ini pada Hendra.”
Johan, menganggapnya tentang kejadian pada malam sebelumnya, dan dia terkejut saat Kiki menggerakkan kakinya melewati tubuhnya dan kemudian menindihnya. Seakan takdir sudah digariskan, dia sudah ereksi dan siap untuk melaju, tubuhnya yang masih terasa pegal sudah jadi persoalan yang lain lagi. Dan tentu saja, semua itu sirna dalam sekejap begitu bidadari yang gemulai ini mulai merendahkan selangkangannya beserta vaginanya yang lembut dan sudah basah turun ke arah kerasnya batang kejantanannya.
Johan mengerang dan tubuh Kiki bersandar ke depan, wajah bidadari ini hanya beberapa senti saja dari wajahnya, dan berbisik pelan, “Shhh…” sebelum memberinya sebuah ciuman ringan.
Johan selalu menganggap kalau Hendra akan tetap sendiri selamanya. Karena dia mempunyai prinsip bahwa hidup membujang terlalu berharga untuk ditukar pada seorang wanita saja. Dan kemudian Kiki muncul dan mencuri hatinya. Dan baru sekarang dia benar-benar mengerti betapa sungguh wanita ini mampu menawan hatinya. Dia memiliki semangat hidup yang tinggi dan percaya diri yang tinggi untuk menjalani hidup ini dengan caranya dan itu tidak pernah menjadi memalukan karenanya… Dia cantik, lucu, cerdas, dan bercinta layaknya wanita panggilan seharga 1 milyar. Semua yang kamu impikan dari seorang wanita. Seandainya dirinya adalah Hendra, dia akan secepatnya berhenti dari pekerjaannya begitu perusahaannya mengirimnya dinas ke luar kota meskipun untuk dua hari saja.
Menyadari betapa salahnya karena bersetubuh dengan isteri kakaknya sama sekali tidak mengurangi kenikmatan dalam melakukannya, malah nyatanya yang dirasakan adalah sebaliknya… Disamping rasa sakit karena ereksinya, dia merasa bersukur karena dia telah mengalami orgasme berulang kali semalam tadi karena sekarang, dia bisa merasakan kenikmatan tak terperi dari rasa vagina Kiki yang selembut beludru lebih lama lagi.
Kedua insan ini berusaha bercinta dengan ‘tidak berisik’ sebisa mungkin, tapi tak lama kemudian Dina dan Dany mulai terbangun dari tidur lelapnya.
Dina hanya berbaring saja di atas ranjang, dalam dekapan Dany, dan menyaksikan pemandangan indah dari dua pasang pecinta muda di depannya. Mata Kiki perlahan terpejam, kepalanya mendongak ke belakang untuk menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Tangannya bersandar pada dada Johan, dan tangan Johan memegangi pinggang langsing Kiki. Dina merasa mulai basah dan dia tersenyum saat merasakan bibir Dany menjalari samping leher dan bahunya. Dany mulai memasukinya dari belakang, dan keempat insan itu perlahan mulai saling bersetubuh. Pagi masih sangat dini…
Kiki mendengar rintihan dari sisi lain ranjang ini. Dia menoleh dan bertemu dengan tatapan mata Dina. Buyar sudah ayunan dan goyangan pelan yang mereka lakukan dibalik selimut, dan Kiki tertawa pada dirinya sendiri. Dina sungguh terlihat cantik. Sinar matahari pagi yang menyorot dari jendela, menyinari rambut hitam legamnya yang panjang dan membuatnya berkilau indah. Setelah apa yang mereka lakukan semalam tadi, Kiki tahu bahwa Dina tak beda dengan dirinya.
Dia merasa malu sendiri, memikirkan tentang itu semua, rasa dari vagina wanita lain sekilas melintas dalam benaknya. Dina, sepertinya dapat menebak apa yang dipikirkan oleh wanita di sampinya ini, dia berikan sebuah senyuman dan mengedipkan mata padanya, lalu pejamkan matanya dan berkonsentrasi pada batang penis yang keras di belakangnya.
Irama percintaan pagi ini terasa berbeda jauh dengan persetubuhan liar semalam. Kiki mengayun pinggulnya naik turun pelan dan panjang, ingin benar benar diresapinya rasaka dari setiap mili batang penis adik iparnya di bawah tubuhnya. Serasa setiap gerakan dipenuhi rasa dahaga dan sayang. Di sisi lain dari ranjang ini tampak Dany yang mengayun Dina dari belakang.
Kemesraan terasa memenuhi kamar ini, guyuran sinar matahari tampak semakin membuat tubuh-tubuh basah oleh keriangat terlihat indah tiap lekuknya menyilaukan. Irama keempat insan ini seiring, mendaki kenikmatan terakhir, mereka sadar ini adalah sesi terakhir untuk hari ini dan waktu tak lagi mau kompromi.
Suara erangan, desahan, rintihan dari puncak kenikmatan yang sekali lagi direguk mereka kembali terdengar keluar lepas dari mulut mereka seiring dengan orgasme pertama dan terakhir dipagi ini. Ingin rasanya surga ini tak berujung tapi bagaimanapun juga waktu sudah menghadang. Setelah beberapa waktu beristirahat meredakan nafas yang memburu, mereka berjalan berangkulan menuju ke kamar mandi, suara kicau burung mengiringi langkah kaki mereka untuk membersihkan tubuh dari peluh dosa termanis, untuk kembali ke kehidupan masing-masing lagi…
*****
Di depan pintu keluar, keempatnya saling mengucapkan salam perpisahan. Kiki mencium kedua pipi Dany dan berkata, “Terima kasih untuk yang semalam. Aku… sangat bahagia karena kamu sangat bersedia tidur dengan seorang wanita yang sudah menikah.” Dany tertawa lepas oleh kiasan jujur tersebut, dan mengangguk membalas pernyataan terima kasih itu.
Kemudian, Kiki memeluk Johan dan berkata, “Ingat, jangan pernah menyinggung hal sekecil apapun tentang ini lagi.”
Johan pura-pura menutup resleting di bibirnya mengunci dan kemudian membuang jauh kuncinya. Kiki tertawa lepas karenanya, pura-pura ‘menangkap kembali kunci yang dibuang tadi’, dan ‘membuka’ mulut Dany. “Satu ciuman lagi untuk perpisahan?”
Ciuman perpisahan Kiki sama bergairahnya dengan ciuman pertamanya, di sofa, sehari yang yang lalu.
Ketika ciuman itu berakhir, mata mereka saling menatap untuk beberapa waktu yang terasa tak nyaman, kemudian dia ‘mengunci’ mulutnya kembali.
Dina dan Dany asik sendiri dengan ciuman perpisahn mereka, dan Kiki harus memisahkan mereka. “Pulang bareng mobilku, kan?” tanyanya pada Dina.
“Ya, kalau nggak merasa keberatan.”
“Tidak sama sekali,” Kiki tersenyum. “Dengan senang hati.”
Dina memberi Johan ciuman kecil di bibir dan bilang, “Ku telpon nanti.”
Kemudian dalam perjalanan pulang hanya saling berdiam diri tanpa kata. Kedua wanita ini tahu apa yang akan diucapkan tapi saling menunggu. Akhirnya, Dina memecahkan kesunyian. “Hey, aku rasa, mungkin nanti kita bisa keluar bareng lagi… ke kafe atau hanya jalan-jalan ke mal.”
“Kelihatannya menyenangkan,” jawab Kiki, berharap itu akan terdengar tulus.
Dia terlihat kurang percaya. “Dengar, Kiki, aku sangat menyukaimu…”
Kiki merona karenanya, dan baru saja dia akan mengucapkan sesuatu ketika Dina memotongnya: “Bukan, nggak seperti itu.” tawanya terdengar natural. “Maksudku, ya itu memang menyenangkan, tapi…” tawanya mulai terdengar sedikit nervous, dan dia menggelengkan kepala, “Tapi aku nggak bermaksud begitu. Maksudku… kamu adalah wanita pertama yang sangat ku inginkan jadi temanku. Dan… ku harap kejadian semalam tidak merusak hal tersebut.”
Kiki menganggap sangat serius apa yang diucapkan oleh wanita ini. Akhirnya dia mengangguk. Dia percaya padanya. Dia tidak manangkap ada maksud tersembunyi dibalik ucapannya. Dan pada kenyataan sesungguhnya Kiki juga menyukai Dina.
Sebenarnya Dina mulai merasakan air mata di matanya ketika wanita di depannya ini mengangguk, dan tiba-tiba sebuah beban yang berat terangkat dari bahunya. Dia merasa bebas dan dia mendapatkan seorang sahabat baru. Mereka saling bertukar nomer telpon sebelum sampai di apartemen Dina
“Apa yang akan kamu lakukan pada Hendra?” Tanya Dina ketika mereka berhenti di depan pintu apartemennya.
“Mungkin aku akan ceritakan padanya… suatu saat nanti. Tapi tidak saat ini. Dan kurasa, juga tidak untuk waktu dekat.”
Dina mengangguk dan kedua wanita ini saling berpelukan. Lalu mata mereka saling bertemu dan gairah kembali menyala. Kiki menatap bibir Dina, yang hanya beberapa senti dari bibirnya, basah dan sedikit terbuka. Untuk beberapa saat yang Kiki inginkan sepenuhnya adalah merasakan bibir lembut itu pada bibirnya. Ciuman yang akan terjadi secara natural.
Dan waktu berlalu lalu kedua wanita ini tertawa sendiri. “Ku telpon nanti,” kata Dina, keluar dari mobil dan berlari kecil menuju pintu depan apartemennya.
Hendra menelpon dari hp tak lama setelah Anggie tiba dari apartemen Dina.
“Apa aku membangunkanmu, sayang?” tanyanya. Sekarang baru jam 7 pagi.
“Nggak. Aku sudah bangun dari tadi. Nggak bisa tidur semalam.”
“Maafkan aku. Apa kamu sakit?”
“Nggak… hanya butuh istirahat saja.”
“Menyenangkan nggak sama adikku dan teman-temannya?”
“Yah,” jawabnya, wajahnya memerah oleh rasa bersalah. “Aku senang kamu sudah memaksaku untuk pergi.”
“Oh, aku nggak menyuruhmu melakukan apapun,” dia tertawa. Wajah Kiki sedikit merona. “Tapi aku senang kamu bisa menikmatinya. Mungkin kamu bisa keluar lebih sering lagi, sekarang kamu sudah menemukan kesenangan lain di luar rumah.” Oh, ironis.
“Mungkin,” jawabnya dengan pikiran jauh berada entah dimana. “Tapi ku rasa perjalanannya sedikit terlalu jauh jaraknya.”
“Ya, aku tahu maksudmu.” Dalam jedanya sejenak, yang memenuhi pikirannya hanyalah kenikmatan dari pesta seks yang telah dialaminya, dan bagaimana dia tidak akan mengulanginya lagi, tak akan pernah. “Hey, Kiki, coba tebak?”
“Apa?”
“Ini adalah perjalanan dinas ke luar kotaku yang terakhir kalinya!”
“Benarkah?” Oh ku mohon, ya!
“Benar. Aku katakan pada mereka kalau perjalanan-perjalanan dinas itu benar benar membuatku kecapaian. Ku katakan pada mereka aku akan berhenti dan keluar kalau mereka mengirimku ke luar kota lagi.”
“Dan?”
Dia tertawa. “Aku berhenti.”


Duniabola99.com – Namaku Son, mahasiswa semester III, tinggiku 168 cm dan berat 58 kg, Kejadian ini terjadi pada waktu aku melakukan pendakian gunung Lawu bersama temantemanku. Lokasiku saat itu berada dekat base camp pertama kearah pendakian gunung Lawu. Aku sedang beristirahat sendirian disini. Tadi malam aku bersama temantemanku 5 orang sudah melakukan pendakian menuju puncak Lawu dan telah berhasil mencapai puncak Lawu jam 6 pagi tadi.
Sekarang dalam perjalanan pulang, sementara teman2ku sudah pada turun gunung semua. Kuputuskan untuk istirahat sebentar di base camp pertama ini sambil mendirikan tenda, biar nanti agak sorean aku turun sendiri menuju pos kami yang dekat dengan rumah penduduk sekitar gunung Lawu ini.
Sore itu pukul 15.10 WIB, aku baru saja selesai menyeduh kopi instanku, ketika tibatiba dari arah semak belukar arah barat muncul dua cewek dengan baju dan kondisi acakacakan.
Hallo Mas? sapa salah satu cewek itu padaku.
Cewek yang kutaksir berusia 18 tahun kelihatannya anak SMA, rambutnya pendek seperti aktris Agnes Monica. Sedangkan temannya yang satu berambut panjang sebahu miripmirip bintang sinetron Bunga lestari.
Hallo juga jawabku menyembunyikan kekagetanku karena munculnya yang tibatiba, sempat terpikir ada setan atau penunggu gunung ini yang mau menggodaku.
Loh, dari mana, kok berduaan aja? tanyaku coba berbasabasi.
Iya, kita tadi misah dari rombongan, terus nyasar.. jawab cewek itu sambil duduk di depanku.
Boleh minta minum gak? Kita haus sekali, sudah 5 jam kita jalan mutermuter gak ketemu jalan sama orang lanjutnya kemudian.
Aneh juga pikirku, padahal perasaanku dari tadi pagi, sering sekali aku berpapasan dengan orangorang atau rombongan pecinta alam.
Ada juga air putih, tuh di botol atau mau kopi, sekalian aku buatin? jawabku.
Cewek yang berbicara denganku tadi ini tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung menghampiri botol minum yang kutunjukan dan segera meminumnya dengan terburuburu, sedangkan temannya yang satu lagi hanya memperhatikan dan kemudian meminta botol minumku dengan santun.
Kuperhatikan saja tingkah mereka, cewekcewek muda ini cakep juga khas ABG kota, tapi saat itu mukanya kotor oleh debu dan keringat, kaosnya cuma ditutupi jaket kain, celana jeans dan sepatu olah raga warna hitam, ini sih mau piknik bukan mau naik gunung, abis gak bawa bekal atau peralatan sama sekali.
Mereka minum terus sampai puas kemudian tiduran disamping kompor parafin yang sedang kugunakan untuk memasak air.
Mas namanya siapa? tanya cewek yang berambut pendek.
Namaku Adek sedangkan ini temenku Lina katanya lagi.
Namaku Son jawabku pendek sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Ada makanan gak, Mas? Adek laper banget nih.. tanya Adek tanpa basa basi kepadaku yang sedang memperhatikannya.
Ada juga mie kalo mau, sekalian aja masak mumpung airnya mendidih jawabku.
Ternyata Adek tidak mau masak sendiri, dia terus berbaring dan minta tolong padaku untuk dimasakin mie.
Wah kamu ini manja banget ya? Kenal aja barusan tapi udah nyuruhnyuruh? godaku pada Adek.
Tolong deh Mas.. Adek capek banget Nanti gantian deh.. rayu Adek padaku.
Gantian apa ya? Emang nanti kamu mau masak mie lagi? Bayarnya pake pijet aja ya? godaku lebih lanjut.
Maunya tuh.. tapi bereslah.. jawab Adek cuek sambil memejamkan matanya.
Kuperhatikan Lina, tapi dia ternyata diam saja, dan hanya mengangguk kecil ketika kutawarkan mie. Sementara aku masak mie instan, Adek kemudian bercerita kisahnya sampai dia dan Lina tersesat berduaan di tengah gunung Lawu ini. Adek berangkat bersama serombongan pecinta alam SMAnya jam 10 siang tadi. Rencananya malam nanti Adek dan rombongan akan mendaki gunung Lawu, tapi waktu menuju base camp kedua, perut Lina sakit, sehingga Adek menemani Lina mencari tempat untuk buang hajat, tetapi setelah selesai ternyata mereka tertinggal dan terpisah dari rombongan.
Setelah mienya siap segera saja pancinya kuberikan pada mereka untuk segera disantap. mMsih saja Adek protes kok tidak ada piringnya.
Emangnya ini di warung kataku cuek sambil tersenyum kearah Lina.
Lina hanya tersenyum tipis dengan bibir gemetar.
kamu sakit ya Lin? tanyaku.
Nggak Mas hanya kedinginan katanya pelan.
Butuh kehangatan tuh Mas Son potong Adek sekenanya.
Wah kaget juga aku mendengar celoteh Adek yang terkesan berani. Kuperhatikan keadaan sekitar yang sudah mulai berkabut dan langit gelap sekali. Waduh janganjangan sudah mau hujan. Segera saja kubereskan peralatanku.
Masih pada kuat jalan nggak? tanyaku pada 2 orang cewek ini.
Nanti kalau disini hujan, bisa basah semua.. Mending kalo masih bisa jalan kita cepat turun agar nggak kehujanan lanjutku.
Baru saja selesai aku bicara, tibatiba ada kilatan petir disusul dengan suaranya yang keras.
Duer!!
Disusul dengan tiupan angin yang kencang membawa rintikrintik air hujan.
Nah lo.. benerkan, telat deh kalo kita mau nekat turun sekarang kataku sambil mematikan kompor parafinku.
Ya udah, cepet masuk tenda sana, cuaca lagi nggak bersahabat nih, bakal hujan deres disini! perintahku sambil membereskan peralatanku yang lain karena hujan sudah mulai turun.
Aku, Adek, dan Lina segera berdesakdesakan di dalam tenda kecil parasut, sementara hujan semakin deras disertai bunyi angin yang keras, segera aku memasang lampu kemah kecil yang biasa kubawa kalau aku naik gunung. Lumayanlah cahayanya cukup untuk menerangi di dalam tenda ini. Sementara kurasa hari menjelang maghrib, dan hujan masih saja turun walau tidak deras.
Adek dan Lina duduk meringkuk berdampingan dihadapanku sambil tangannya mendekap kaki.
Kamu masuk aja ke sleeping bag itu, kelihatannya kok kamu kedinginan sekali saranku pada Lina yang mulai menggigil kedinginan.
Tapi copot sepatunya lanjutku kemudian.
Lina diam saja, tapi menuruti saranku. Akhirnya Adek dan Lina tiduran berhimpitan di dalam sleeping bag sambil berpelukan.
Kuperhatikan saja tingkah mereka berdua,
Hei kalian pada ngomong dong, jangan diem aja. Jadi serem nih suasananya ucapku pada Adek dan Lina.
Mas Son gak kedinginan.. tanya Lina tibatiba.
Ya dingin to, siapa juga yang nggak kedinginan di cuaca seperti ini? jawabku apa adanya.
Kalian enak berduan bisa berpelukan gitu.. gak adil kataku mencoba bercanda.
Ya Mas Son sini to, kita berpelukan bertiga kata Adek pendek, tak ada nada bercanda dalam nada omongannya.
Waduh, gak salah denger nih? pikirku.
Tak akan ada kesempatan kedua kalau hal ini kutanyakan lagi.
Ya udah, kalian geser dong. aku mau di tengah biar hangat kataku cuek sambil membuka resleting sleeping bagku.
Tidak sempat kuperhatikan ekspresi Lina atau Adek karena keadaannya yang remangremang. Aku merebahkan diri diantara dua cewek yang baru kukenal ini, tak ada katakata atau komentar apapun, kulingkarkan kedua tanganku kepada Adek di sebelah kiri dan Lina disebelah kanan. Walau awalnya aku merasa canggung tapi setelah kunikmati dan merasakan dua tubuh hangat mendekapku dan akupun merasa nyaman sekali. Kepala Adek dan Lina bersamaan rebah di dadaku. Kurasakan deru nafas yang memburu dari keduanya dan dariku juga.
Badan Mas Son hangat ya Lin? kata Adek pelan seraya tangannya melingkar kebawah dadaku dan kakinya naik menimpa kakiku, barangkali Adek lagi membayangkan aku seperti gulingnya kalau dia pas lagi mau tidur.
Iya tadi Lin takut sekali, sekarang dipeluk sama Mas Son, Lin jadi nggak takut lagi jawab Lina pelan sambil mengusap kepalanya di dadaku.
Samarsamar tercium bau wangi dari rambutnya. Kemudian darahku terasa terkesiap saat lutut Adek entah disengaja atau tidak menyenggol burungku.
Ehm.. aku hanya bisa berdehem kecil ketika kurasa hal itu ternyata mendorong birahiku naik.
Waduh, pikiranku langsung ngeres, rugi juga ya kalau kesempatan selangka seperti ini kusiasiakan, minimal harus ngelaba sesuatu nih..
Isengiseng tangan kiriku yang masih leluasa kuberanikan memeluk tubuh Adek mulai merabaraba kebagian daerah buah dada Adek.
Ehm.. Adek ternyata hanya berdehem pelan.
Akupun mulai berani meningkatkan aksiku lebih lanjut, aku mencoba meremas lembut susunya. Ternyata Adek hanya diam, dia hanya mendongakkan mukanya menatapku, sambil tangannya juga merabaraba dan mengeluselus dadaku. Kucoba mencium rambutnya lalu kukecup kening Adek, sementara tanganku terus meremasremas susunya dengan tempo agak cepat.
Aah.. Mas Son suara Adek terdengar lirih.
Ada apa Dek? tanyaku pelan melihat Lina sudah mulai curiga dengan aktivitas yang kulakukan.
Kamu masih kedinginan ya? kataku lagi sambil menggeser tubuhnya agar lebih naik lagi.
Sementara tanganku jadi lebih leluasa menelusup ke dalam balik jaketnya dan membuka pengait BHnya yang masih tertutup dengan kaos luarnya. Adek hanya diam saja saat kulakukan hal itu, bahkan saat tanganku sudah sempurna merengkuh susunya dibalik BHnya. Dia menggigit kecil dadaku.
Ah.. Mas Son.. katanya parau dengan tidak memperdulikan ekspresi Lina yang kebingungan.
Saat kupermainkan puting susunya, tibatiba Adek bangkit.
Mas Son, Adek ma.. masih kedinginan kata Adek dengan bergetar sambil menghadapkan mukanya ke wajahku sehingga jarak muka kami begitu dekat.
Kurasakan nafasnya memburu mengenai wajahku. Aku hanya bisa diam tercekat ketika Adek mulai menciumi mukaku dengan tidak beraturan, mungkin karena gelap hampir semuanya kena diciumnya. Kurasakan lagi kaki Adek sudah melakukan gerakan yang teratur menggesekgesek ******ku naik dan turun. Tanpa sadar akupun membalas ciuman Adek, hingga akhirnya bibir kami bertaut. Dengan penuh nafsu Adek mengulum bibirku sambil lidahnya terjulur keluar mencari lidahku. Setelah didapatnya lidahku, dihisapnya dengan kuat sehingga aku sulit bernafas.
Gila nih, cewek ABG sudah pintar french kiss ucapku dalam hati.
Tanpa sadar tangan kananku mencengkram pundak Lina.
Mas sakit Mas pundak Lina kata Lina tibatiba yang menghentikan aktivitasku dengan Adek.
Oh maaf Lin jawabku dengan terkejut.
Kuperhatikan ekspresi Lina yang bengong melihatku dengan Adek. Tapi rasa tidak enakku segera hilang karena ternyata Adek tidak menghentikan aktivitasnya, dia tampaknya cuek aja dengan Lina, seakan menganggap Lina tidak ada. Adek terus menciumi telinga dan leherku.
Mas Son, Adek jadi pengen.. Adek jadi BT, birahi tinggi kata Adek lirih di telingaku sambil tangannya sudah bergerilya mengusapusap ******ku yang masih tertutup rapat oleh celana jeansku.
Waduh.. bagaimana ini pikirku dalam hati.
Pikiranku serasa buntu. Kupandangi wajah Lina yang kaku melihat polah tingkah Adek yang terus mencumbuku. Lina pun bangkit dari rebahannya sambil beringsut menjauh dari badanku. Tak sempat ku berkata lagi, Adek yang sudah birahi tinggi tanpa ampun menyerangku dengan ganasnya, dicumbunya seluruh wajah dan leherku, malah kini posisinya menaiki tubuhku dan berusaha membuka bajuku.
Aku yakin walau suasananya remangremang, Lina pasti melihat jelas semua aktivitas kami, bahkan dengan kaos dan BH Adek yang sudah tersingkap keatas dan tanganku yang sedang meremasremas susu Adek, sekarang jelas terpampang di depan mata Lina. Kepalang tanggung, segera saja kurengkuh tubuh kecil Adek dan kuhisap puting payudaranya yang kecil dan berwarna merah kecoklatan itu secara bergantian dengan posisi adek diatas tubuhku. Pentil itu tampak sudah tegak mengacung karena pemiliknya sudah dilanda nafsu birahi yang sangat tinggi.
Ah.. ah.. Mas Son.. gumam Adek lirih.
Enak Mas, terus.. jangan dijilat terus, tapi disedot.. aah.. lanjutnya.
Aktivitas ini kuteruskan dengan mengelus dan meraba pantat Adek yang sejajar dengan ******ku. Kuremas pantat Adek sambil menggesekgesekan ******ku pada daerah kemaluan Adek yang masih terbungkus dengan celana jeans yang dikenakannya. Kujilati semua yang ada di dada Adek, bahkan kugigit kecil puting mancung itu yang membuat Adek melenguh panjang.
Aaahh.. sshh..
Aksiku ternyata membuat Adek blingsatan, dikulumnya bibirku dan diteruskan ke leherku sambil berusaha membuka semua bajuku, nampaknya Adek mau balas dendam melancarkan aksi yang sama dengan yang kulakukan tadi.
Benar saja, begitu bajuku terbuka semua, Adek segera menghisap putingku dan menggigitgigit putingku dengan ganas. Kurasakan sensasi yang luar biasa yang membuat ******ku semakin tersiksa karena tidak bisa bangun terhalang oleh celana jeansku. Saat itu bisa kuperhatikan Lina di samping kiriku yang sedang menatap nanar aktivitas kami, kulihat tangan kanannya dijepitkan pada dua belah pahanya, entah sedang terangsang atau sedang kedinginan.
Tanpa kata, kuberanikan tangan kananku mengelus paha Lina sambil berusaha meraih tangan Lina. Lina hanya diam saja, bahkan semakin terpaku saat melihat aksi Adek yang terus mencumbu bagian bawah pusarku. Aku yang merasa sangat geli hanya bisa menggelenggelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.
Aah.. Dek, jangan dijilat di daerah situ terus.. ge..li se..ka..li.. ujarku dengan nafas tersengal.
Tanpa sadar aku sudah meremas tangan Lina dan Linapun kurasa juga membalas remasan tanganku. Tapi kejadian demi kejadian berlangsung begitu cepat, Adek seolah sudah tidak peduli lagi, dia langsung membuka ikat pinggangku diteruskan dengan membuka resleting celana jeansku. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku saat itu, keperhatikan tingkah Adek sambil tanganku tetap memegang tangan Lina.
Saat resleting celanaku sudah terbuka, Adek meraih ******ku yang masih terbungkus celana dalamku, lalu dielusnya sebentar kemudian ditariknya sampai selutut celana jeansku berikut celana dalamku juga. Tanpa banyak kata, Adek hanya memperhatikan sebentar ******ku kemudian mencium dan menjilat permukaan ******ku.
Aah.. aku hanya bisa mengeluarkan kata itu saat Adek mulai mengulum ******ku dan mengisapnya.
Aargh .. Dek, enak sekali Dek erangku.
Gila nih anak, baru SMA sudah selihai ini, aku tak habis pikir gumamku dalam hati.
Saat Adek masih asik berkaraoke dengan ******ku, kulihat sekilas ke Lina, ternyata dia sedang memperhatikanku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya. Kemudian seperti ada dorongan lain kutarik tangan Lina sehingga tubuhnya rebahan lagi disampingku.
Lin, aku ingin cium bibir kamu bisikku perlahan di telinga Lina.
Saat itu Lina diam saja sambil tetap menatapku. Kutarik wajahnya mendekat dengan wajahku dan segera kulumat bibir Lina yang mungil itu.
Eemh .. suara yang terdengar dari mulut Lina.
Tak ada perlawanan yang berarti dari Lina, Lina diam saja tak membalas ciumanku, entah karena pasrah atau tidak tahu caranya berciuman. Kurasakan getaran birahi yang luar biasa saat ******ku terus dipermainkan oleh Adek sementara konsentrasiku terarah pada Lina yang pasrah. Segera saja aku menciumi dada Lina yang masih terbungkus oleh bajunya sementara tanganku yang satu mengeluselus selangkangan Lina.
Aah.. ah.. Lina mulai bereaksi panas saat kusibak bajunya sehingga aku bisa menjilati permukaan susu yang masih tertutup oleh BHnya yang berwarna pink.
Ya diajari tuh Lina, Mas Son.. sudah gede tapi belum bisa bercinta kata Adek tibatiba.
Kaget juga aku mendengar teguran itu, kuperhatikan Adek tenyata dia sudah tidak menghisap ******ku lagi, tapi sedang membuka celana jeans lalu celana dalamnya sendiri.
Adek masukkin ya Mas kata Adek pelan tanpa menunggu persetujuanku sambil mengarahkan ******ku ke lubang kawinnya yang tampak olehku disuburi bebuluan jembut keriting.
Pelan tapi pasti Adek membimbing ******ku untuk masuk penuh ke dalam tempiknya. Kurasakan rasa hangat menjalar dari ******ku ke seluruh tubuhku. Tempik Adek yang sudah basah oleh lendir pelumasnya memudahkan ******ku masuk ke dalamnya.
Ah.. burung Mas Son gede.. terasa penuh di tempik Adek katanya mendesis sambil menggoyangkan pantatnya dan memompanya naik turun.
Ah.. ash.. ah.. enak sekali Mas Son kata Adek parau sambil mencumbu dadaku lagi.
Aku yang menerima perlakuan demikian tentu saja tidak terima, kuangkat badan Adek dan mendekatkan teteknya ke mulutku sambil terus memompa dari bawah mengimbangi goyangan Adek.
Huuf.. uh..uh.. aah.. terus Mas erang Adek memelas.
Kujilati terus dan mengisap puting Adek bergantian kiri dan kanan, sementara Adek menerima perlakuanku seperti kesetanan.
Ayo Mas.. Son.. terus.. ayo .. teruuss.. Adek mau dapet ni.. katanya bernafsu.
Tak beberapa lama kemudian, dengan kasar Adek mencium dan mengulum bibirku.
Eeemhp.. aaah..
Dan kemudian Adek terkulai lemas di dadaku, sementara aku yang masih memompa dari bawah hanya didiamkan Adek tanpa perlawanan lagi.
Aaa.. berhenti dulu Mas Son, istirahat sebentar, Adek sudah dapat Mas Son kata Adek lirih mendekapku dengan posisinya masih di atasku dan ******ku masih di dalam liang senggamanyanya.
Kurasakan detak jantung Adek yang bergemuruh di dadaku dan nafasnya yang ngosngosan mengenai leherku.
Makasih ya Mas Son, enak sekali rasanya kata Adek pelan.
Aku yang belum mendapatkan orgasme, hanya bisa melirik ke arah Lina yang saat itu ada di sampingku, ternyata tangannya sedang meremasremas teteknya sendiri dibalik BH berendanya yang sudah terbuka. Segera saja kutarik Lina mendekatiku dan menyuruhnya agar ia berposisi push up mendekatkan teteknya kemulutku.
Aah .. Mas Son.. kata Lina pelan saat tetek kanannya kuhisap.
Saat itu Adek bangkit dari posisi semula dan mencabut tempiknya dari ******ku, kemudian berbaring di sisi kiriku sambil merapikan kaosnya. Aku yang kini leluasa berusaha bangkit sambil mencopot celana jeansku yang masih menempel di lututku. Kuterus meremasremas tetek Lina sambil mengulum bibir Lina yang kini posisinya berbaring di bawahku. Berbeda dengan yang tadi, kini Lina mulai agresif membalas kulumanku bahkan bibirnya menjulurjulur minta diisap.
Kubimbing tangan Lina untuk memegang ******ku yang masih tegang dan basah karena cairan kawin dari tempik Adek. Semula seakan ragu, tapi kini Lina mengenggam erat ******ku dan seperti sudah alami Lina mengocok ******ku waktu lidahku bermain di bawah telinganya dan lehernya.
Aah .. Mas Son.. geli .. hanya itu komentar dari bibir Lina yang seksi itu.
Perlahan lidahku mulai bermain di seluruh dada Lina, dari leher sampai gundukan teteknya kujilati semua, dan kugigit kecil pentil susu Lina yang berwarna kemerahan dan sudah tampak tegang itu.
Aargh.. aah .. Lina mulai menggelinjang.
Lina diam saja waktu kubuka ikat pinggangnya dan kubuka kancing celana jeansnya. Kuperhatikan Lina masih memejamkan matanya dan melenguh terus saat kucumbu bagian pentilnya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat ******ku, dan tangan kirinya menekannekan kepalaku, sesekali menjambak rambutku. Kemudian tanganku menelusup ke dalam balik celana dalam Lina waktu kancing celana jeans Lina sudah terbuka, kurasakan sambutan hangat bulubulu jembut yang masih jarang diatas tempiknya. Kueluselus sebentar permukaan liang kawinnya, lalu jarijariku tak ketinggalan bermain menekannekan tempiknya yang sudah basah oleh lendir kawinnya.
Ah.. Mas.. Son .. aah suara Lina semakin terdengar parau.
Aku segera mengalihkan cumbuan ke daerah perut Lina dan menurun menuju tempiknya. Kubuka celana dalam berenda yang juga berwarna pink itu tanpa melihat reaksi Lina dan segera menciumi permukaan tempik Lina yang masih ditumbuhi bulubulu jembut halus yang jarangjarang.
Ah.. jangan Mas Son .. ah.. kata Lina mendesis.
Tentu saja kubiarkan sikap yang menolak tapi mau itu. Lidahku sudah mencapai permukaan tempiknya lalu kujilati yang segera membuatnya menggelinjang dan dengan mudah aku menurunkan celana jeansnya sampai sebatas pahanya. Kujilati terus tempik Lina sampai kedalamdalam sehingga pertahanan Lina akhirnya jebol juga, pahanya semula yang mengapit kepalaku mulai mengendur dan mulai terbuka mengangkang, sehingga akupun leluasa mencopot seluruh celana jeans dan celana dalamnya.
Aah .. argh .. desis Lina pelan.
Posisiku saat itu dengan Lina seperti posisi 69, walau Lina tidak mengoral ******ku aku tidak peduli tetap menjilati tempiknya dengan ganas dan tanpa ampun.
Aah.. Mas .. truss.. ahhh .. enaak.. Mas .. aah .. teriak Lina tidak jelas, sampai akhirnya pahanya menjepit erat kepalaku dan ******ku terasa sakit digenggam erat oleh Lina.
Aaah.. Mas .. teriakan terakhir Lina bersamaan dengan sedikit cairan birahi yang menyemprot dari dalam tempiknya kedalam mulutku.
Rupanya Lina sudah mendapat orgasme pertamanya walau dengan lidahku.
Aah.. enak sekali.. Mas Son .. sudah ya Mas Son.. kata Lina pelan sambil tergolek lemah dan pasrah.
Akupun menghentikan aktivitasku dan mengambil nafas dulu karena mulutku jadi pegalpegal kelamaan asyik mengoral tempiknya. Aku berbaring di tengah dua cewek ini dengan posisi yang terbalik dengan mereka, kepalaku berada diantara kakikaki mereka.
Baru sebentar aku mengambil nafas, kurasakan ******ku sudah ada yang memegang lagi.
Mas main sama Adek lagi ya? Adek jadi nafsu ngeliat Mas Son main sama Lina kata Adek tibatiba yang sudah bangkit dan kini tangannya sedang memegang ******ku.
Aku tak sempat menjawab karena Adek sudah mengulum ******ku lagi, bahkan kini pantatnya beralih ke wajahku, menyorongkan tempiknya kemulutku untuk minta dioral juga seperti tadi aku dengan Lina. Posisiku dengan Adek kini 69 betulan tapi dengan posisiku yang di bawah. Kujilati tempik Adek dengan lidah yang menusuknusuk kedalamnya.
Eeemph .. emmph .. Adek tak bisa mendesah bebas karena mulutnya penuh dengan ******ku.
Lama kami bermain dengan posisi itu, sampai akhirnya kuhentikan karena aku tidak tahan dengan isapan Adek yang luar biasa itu dan kalau dibiarkan terus akibatnya ******ku bisa muntahmuntah di dalam mulut Adek. Aku bimbing agar Adek berbaring di samping Lina sedangkan aku di atasnya mulai mencumbu lagi dari teteknya dengan menggesekgesekan ******ku ke permukaan tempiknya yang dipenuhi oleh bulubulu jembut yang berwarna hitam pekat itu. Adek seperti mengerti, kemudian membimbing ******ku untuk masuk ke dalam lubang kawinnya. Akupun bangkit sambil mengarahkan ******ku siap untuk menghujam lubang senggama Adek. Pelan tapi pasti kumasukan ******ku mulai dari kepala hingga semuanya masuk ke dalam tempiknya.
Aaah .. Mas Son .. desis Adek sambil menggoyang pantatnya.
Kurasakan seret sekali tempiknya, beda sekali dengan yang tadi gesekan itu terasa nikmat menjalar di setiap centi dari ******ku dengan sesekali terasa denyutan pelan dari liang kemaluannya.
Mas yang keras dong goyangnya.. terasa sekali mentok kata Adek sambil melingkarkan tangannya ke leherku.
Akupun jadi semangat memompa tubuh ranum yang mungil ini. Di udara dingin seperti ini terasa hangat tapi tidak berkeringat.
Aah.. ah.. terus Mas .. terusss.. ah.. ah .. lanjutnya keenakan.
Mungkin sekitar 5 menit aku menggoyang Adek, sampai kemudian aku tidak tahan melihat teteknya yang bergoyang indah dengan puting kecil menantang. Akupun mengulum puting Adek sambil meremasremasnya dengan gemas, sementara pompaan ******ku telah diimbangi goyangan Adek yang bisa kupastikan goyangan ngebor ala Inul tidak ada apaapanya.
Ma.. Mas .. Adek mau dapet laggii.. bareeng yaa.. ah.. ah.. desis Adek histeris.
Aku jadi terangsang sekali mendengar lenguhan Adek yang merangsang itu, kuteruskan aksiku dengan menjilat dan mencium dada, ketiak, leher, telinga dan pipi Adek.
Aaarg .. erangnya keras.
Adek mengulum bibirku sambil memejamkan matanya. Nampaknya Adek telah mendapat orgasmenya yang kedua, sementara tubuhnya menegang sebentar dan kemudian melemas walau aku masih memompanya. Aku segera mencabut ******ku dan mengocoknya sebentar untuk menumpahkan pejuku ke perut Adek.
Crut.. crut..
Pejuku keluar banyak membasahi perut Adek dan mengenai teteknya.
Aaah.. akupun melenguh puas saat hasratku telah tersalurkan.
Adek mengusapusap pejuku di perutnya kemudian membersihkan dengan tisu yang diambil dari celananya, sedangkan Lina mendekat dan melihat aksi Adek, kemudian membantu membersihkan pejuku.
Baunya seperti santan ya? komentar Lina sambil mencium tisunya yang penuh dengan pejuku.
Ya udah. Semua dibereskan dulu kataku memberi perintah kepada dua cewek yang baru saja bermain cinta denganku ini.
Kita istirahat dulu ya sambil tiduran, nanti kalo sudah nggak hujan kita putuskan mau turun ke bawah atau bermalam disini ya lanjutku kemudian.
Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan dua cewek yang mendekapku. Entah mimpi apa aku semalam bisa terjebak dalam situasi seperti ini.
Tak kurasa kami bertiga telah bermalam dan sadar pada keesokan harinya, dan berjanji akan melakukannya lagi nanti sesampainya dibawah dan menginap di hotel terdekat.


Duniabola99.com – Sudah seminggu Sandi menjadi” suami”ku. Dan jujur saja aku sangat menikmati kehidupan malamku selama seminggu ini. Sandi benar-benar pemuda yang sangat perkasa, selama seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan.
Walaupun malam sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Sandi selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat kuliah saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau akibatnya aku harus merapikann bajuku lagi.
Malam itu sekitar jam setengah 10-an. Setelah menidurkan anakku yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Sandi meminta aku mengenakan pakaian yang biasa aku pergunakan ke sekolah. Setelah selesai berganti pakaian aku lantas keluar dan berdiri duduk di depan meja rias. Lalu berdandan seperti yang biasa aku lakukan jika ingin berangkat mengajar kesekolah.
Tak lama kudengar suara ketukan, hatiku langsung bersorak gembira tak sabar menanti permainan apa lagi yang akan dilakukan Sandi padaku.
“Masuk.. Nggak dikunci,” panggilku dengan suara halus.
Lalu Sandi masuk dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana putih sependek paha.
“Malam ibu… Sudah siap..?” Godanya sambil medekatiku.
“Sudah sayang…” Jawabku sambil berdiri.
Tapi Sandi menahan pundakku lalu memintaku untuk duduk kembali sembil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku dengan suara yang halus.
“Bu.. Ibu mau tahu nggak dari mana biasanya saya mengintip ibu?”
“Memangnya lewat mana..?” Tanyaku sambil membalikkan setengah badan.
Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Sandi berucap.
“Dari sini bu..” Bisiknya.
Dari cermin aku melihat disela-sela kerah baju yang kukenakan agak terbuka sehingga samar-samar terlihat tali BHku yang berwarna hitam. Pantas jika sedang mengajar di depan kelas atau mengobrol dengan guru-guru pria disekolah, terkadang aku merasa pandangan mereka sedang menelanjangi aku. Rupanya pemandangan ini yang mereka saksikan saat itu.
Tapi toh mereka cuma bisa melihat, membayangkan dan ingin menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Sandi masuk kecelah itu dan mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah terbuka semua Sandi lalu membuka bajuku tanpa melepasnya. Lalu ia meraih kedua payudaraku yang masih tertutup BH.
“Inilah yang membuat saya selalu mengingat ibu sampai sekarang,” Bisiknya ditelingaku sambil meremas kedua susuku yang masih kencang ini.
Lalu tangan Sandi menggapai daguku dan segera menempelkan bibir hangatnya padaku dengan penuh kasih dan emosinya. Aku tidak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Sandi dan menyedotnya dengan keras air liur Sandi, kulilitkan lidahku menyambut lidah Sandi dengan penuh getaran birahi. Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku dan membaringkannya ditengah ranjang.
Ia lalu memandang tubuh depanku yang terbuka, dari cermin aku bisa melihat BH hitam yang transparan dengan “push up bra style”. Sehingga memberikan kesan payudaraku hampir tumpah meluap keluar lebih sepertiganya. Untuk lebih membuat Sandi lebih panas, aku lalu mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sementara tangan kiriku membelai pussy yang menyembul mendesak CDku, karena saat itu aku mengenakan celana “mini high cut style”.
Sandi tampak terpesona melihat tingkahku, lalu ia menghampiriku dan menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya. Sementara tangan kanan Sandi mendarat disembulan payudara sebelah kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya dalam bra yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku. Ditekan dan dicarinya puting susuku, lalu Sandi memilinnya secara halus dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku melepas ciuman sandi dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan kekanan.
Selepas tautan dengan bibir hangatku, Sandi lalu menyapu dagu dan leherku, sehingga aku meracau menerima dera kenikmatan itu.
“Saan… Saann… Kenapa kamu yang memberikan kenikmatan ini..”
Sandi lalu menghentikan kegiatan mulutnya. Tangannya segera membuka kaitan bra yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan ibu jari sebelah kanan Sandi, Segera dua buah gunung kembarku yang masih kencang dan terawat menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah. Lalu Sandi menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu. Secepat itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang ke atas. Sandi mengulum putingku dengan buas, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi.
Aku hanya bisa mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku seraya melepaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang telah dibuka Sandi dan kulemparkan kekursi rias. Dengan giat penuh nafsu Sandi menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CDku dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar ke atas. Lalu Sandi merabanya ke arah vertikal, dari atas kebawah. Melihat CDku yang sudah basah lembab, ia langsung menurukannya mendororng dengan kaki kiri dan langsung membuangnya sampai jatuh ke karpet.
Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberikan sentuhan rangsangan pada memekku, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat adapun dibagian belahan vagina dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut. Rangsangan Sandi semakin tajam dan hebat sehingga aku meracau.
“Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase.”
Sandi segera membuka gundukan tebal vagina milikku lalu mulutnya segera menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari kloritasku yang semakin membesar dan mengeras. Dia menekan dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan kebawah. Aku menggelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasme yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya tanganku memegang kepala Sandi dan menekannya kebawah sambil mengerang.
“Ssaann.. Aarghh..”
Aku tak kuasa menahannya lagi hingga menjerit saat menerima ledakan orgasme yang pertama, magma pun meluap menyemprot ke atas hidung Sandi yang mancung.
“Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann..” Memekku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil tetap meracau.
“Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku sayang.. Cium ibu sayang.”
Sandi segera bangkit mendekap erat diatas dadaku yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasme. Ia lalu mencium mulutku dengan kuatnya dan aku menyambutnya dengan tautan garang, kuserap lidah Sandi dalam rongga mulutku yang indah. Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, Sandipun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan mataku yang terpejam dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat. Juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang kurasakan.
Setelah merasa aku cukup beristirahat Sandi mulai menyentuh dan membelaiku lagi. Aku segera bangkit dan medorong belahan badan Sandi yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya lalu kucium dan kujilati pipinya, kemudian menjalar kekupingnya. Kumasukkan lidahku ke dalam lubang telinga Sandi, sehingga ia meronta menahan gairahnya. Jilatanku makin turun kebawah sampai keputing susu kiri Sandi yang berambut, Kubelai dada Sandi yang bidang berotot sedang tangan kananku memainkan puting yang sebelah kiri. Mengelinjang Sandi mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu, sandipun mengerang dan mendesah.
Kegiatanku semakin memanas dengan menurunkan sapuan lidah sambil tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Sandi ditekan kebawah dfan kesamping terus kulepaskan dan kubelai perut bawah Sandi sampai akhirnya kekemaluan Sandi yang sudah membesar dan mengeras. Kuelus lembut dengan jemari lentikku batang kemaluan Sandi yang menentang ke atas, berwarna kemerahan kontras dengan kulit sandi yang putih kepalanya pun telah berbening air birahi.
Melihat keadaan yang sudah menggairahkan tersebut aku menjadi tak sabar dan segera kutempelkan bibir hangatku kekepala kontol Sandi dengan penuh gelor nafsu, kusapu kepala kontol dengan cermat, kuhisap lubang air seninya sehingga membuat Sandi memutar kepalanya kekiri dan kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya menahan keikmatan yang sangat tiada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.
“Buuu.. Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya,” Sandi mengerang.
Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya satu ke arah Sandi yang sedang kelejotan. Sukmanya sedang terbang melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun tanganku memijit dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, sementara lidahku menjilati seluruh permukaan kepala kontol tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil kupijat-pijat dengan penuh nafsu birahi.
Sadar akan keadaan Sandi yang semakin mendaki puncak kenikmatan dan akupun sendiri telah terangsang. Denyutan memekku telah mempengaruhi deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan kontol Sandi dan segera kuposisikan tubuhku diatas tubuh Sandi menghadap kekakinya. Dan kumasukkan kontol Sandi yang keras dan menengang ke dalam relung nikmatku. Segera kuputar memompanya naik turun sambil menekan dan memijat dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakanpun kutambah sampai kecepatan maksimal.
Sandi berteriak, sementara aku pun terfokus menikmati dera kenikmatan gesekan kontol sandi yang menggesek G-spotku berulang kali sehingga menimbulkan dera kenikmatan yang indah sekali. Tangan Sandipun tak tinggal diam diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada kontolnya. Dan akhirnya kami berdua berteriak.
“Buu Dennook.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih lagi bu.. Denyutan diujung kontolku sudah tak tertahankan”
“Ibu pandai… Ibu liaarr… Ibu membuatku melayang.. Aku mau keluarr” .
Lalu Sandi memintaku untuk memutar badan manghadap pada dirinya dan dibalikkannya tubuhku sehingga. Sekarang aku berada dibawah tubuhnya bersandarkan bantal tinggi, lalu Sandi menaikkan kedua kakiku kebahunya kemudian ia bersimpuh di depan memekku. Sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan yang cepat dan kuat. Aku bisa melihat bagaimana wajah Sandi yang tak tahan lagi akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seakan mau meledak.
“Buu… Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!”
“Tungguu Saan.. Orgasmeku juga mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa..”
Akhirnya… Cret.. Cret.. Cret tak tertahankan lagi bendungan Sandi jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara bersamaan akupun mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan. Segera kusambar bibir sandi, kukulum dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke dalam rongga mulut Sandi. Kudekap badan Sandi yang sama mengejang, basah badan Sandi dengan peluh menyatu dengan peluhku. Lalu ia terkulai didadaku sambil menikmati denyut vaginaku yang kencang menyambut orgasme yang nikmat yang selama ini kurindukan.
Lalu Sandi membelai rambutku dengan penuh kasih sayang kemudian mengecup keningku.
“Buu.. Thank you, i love you so much.. Terus berikan kenikmatan seperti ini untukku ya..” Bisiknya lembut.
Aku hanya mengangguk perlahan, setelah memberikan ciuman selamat tidur aku memeluknya dan langsung terlelap. Karena besok aku harus masuk kerja dan masih banyak lagi petualangan penuh kenikmatan yang akan kami lalui.


Duniabola99.com – foto gadis muda diajak cowok dijalan untuk berhubugan ngentot dirumahnya dan melakukannya diatas sofa putih yang membobol memeknya yang berwana merah dan menemabakkan sperma kememeknya.



Duniabola99.com – Jarum jam di tangan SisKa menunjukkan pukul 11.00 malam, saat ia membuka gerbang kosan yang telah ditutup sejak 2 jam yang lalu. Ia berjalan kelelahan setelah seharian mengerjakan tugas kelompok bersama 3 temannya. Santi adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi di salah satu PTN di wilayah Bandung. Saat ini ia tengah menempuh semester 6. Santi termasuk mahasiswi yang rajin dengan IPK di atas 3,5. Tetapi lain halnya untuk urusan asmara. Santi merogoh tas mencari kunci kamar kosannya. Saat itu penjaga kosan bernama Pak Damar menyapanya.
“Neng Santi. Baru pulang malam-malam begini?”
“Eh, Pak Damar.”, Ujar Santi dengan sedikit terkejut sambil menoleh,
“Iya, Pak. Habis ngerjain tugas di kostan teman.”
Pak Damar tidak lagi menjawab, Ia hanya menganggung sambil berjalan menuju pos jaga. Akhirnya Santi berhasil menemukan kunci di dalam tasnya. Ketika Ia membuka pintu, kamarnya terlihat gelap gulita, Ia baru teringat lampu kamar mati sejak pagi tadi sebelum Ia pergi.
“Pak Damar!” teriak Santi.
“Iya, Neng.” jawab Pak Damar.
Santi berjalan mendekat.
“Pak, bisa minta tolong? Lampu kamar saya mati, tadi lupa beli.”
“Oh, bisa Neng. Warung di depan masih buka. Sini saya belikan.”
Santi mengeluarkan selembar uang 20rb.
“Beli yang bagus ya Pak. Kembaliannya ambil saja.”
“Sip, Neng.”, Ujar Pak Damar sambil mengambil uang dan berjalan pergi.
“Oia, Pak. Tolong sekalian dipasang ya Pak. Langit-langitnya tinggi. Saya mau mandi, nanti langsung masuk saja. Pintunya ga dikunci.”
Pak Damar mengangguk sambil terus berjalan.
Pak Damar berusia sekitar 50 tahun. Pipinya yang tirus membuatnya terlihat tua. Selain menjadi penjaga kosan, Ia juga bertani di sawah belakang kosan. Itu sebabnya warna kulitnya terlihat sangat gelap kecoklatan. Santi memasuki kamar, menutup pintu, dan mulai membuka pakaiannya satu persatu. Ia membuka kaos dan jins yang dipakainya sejak pagi hari. Melemparkannya ke tumpukan pakaian kotor.
Dengan BH dan celana dalam Santi berjalan ke kamar mandi kemudian menyalakan keran air. Pintu kamar mandi ditutup. Santi melepas BH dan celana dalam, meletakkannya di ember yang khusus disediakan untuk pakaian dalam. Ia mulai mengguyurkan air dari ujung kepala. Segar sekali rasanya ketika tetesan-tetesan air membasuh rambut, wajah, leher, pundak, dan payudaranya. Beberapa tetesan kecil menyentuh puting Santi yang berwarna merah muda. Ia kembali mengguyur tubuhnya, kali ini air membasuh perut, paha, dan bongkahan pantat Santi yang begitu mulus berwarna putih bersih.
Sedikit tetesan air dengan genitnya menjalar ke selangkangan Santi, menyapu kulit vagina yang tembam, merangsek ke sela-sela vagina seperti sebuah lidah yang ingin menjilat klitoris. Santi mulai membersihkan tubuhnya dengan sabun cair. Dioleskan sabun cair di dada dan payudaranya. Ia menggosok perlahan sambil mengelus-elus payudaranya. Tiba-tiba darahnya mengalir lebih cepat. Ada gelombang nafsu yang mulai menguak dari dalam diri Santi. Tidak biasanya Ia menjadi nafsu karena sentuhan tangannya sendiri, mungkin karena sudah 1 bulan lebih tidak ada yang merambah tubuh indahnya. Elusan tangan kanan ke payudaranya mulai berubah menjadi remasan, sementara tangan kirinya bergerak menyentuh vagina yang sudah tidak sabar ingin dimanja.
“Mmpphhhh…” desah Santi keluar dari mulutnya.
Sudah lebih dari 1 bulan yang lalu Santi putus dengan Jaka. Laki-laki kedua yang pernah bersetubuh dengannya. Santi mengakui bahwa Jaka lebih pintar dalam urusan sex ketimbang pacar pertamanya. Dan itu yang membuat Santi selalu ingin bersama Jaka, hingga suatu hari Santi mengetahui ternyata jaka berselingkuh. Mengingat kejadian perselingkuhan Jaka, seketika itu emosi Santi muncul. Nafsu yang melanda sebelumnya hilang begitu saja. Santi bersegera menyelesaikan mandinya. Ia membasuh sabun-sabun di tubuhnya.
Saat ingin mengeringkan tubuh dengan handuk, ia baru tersadar handuknya tidak ada. Ia biasa melakukan hal seperti ini – tidak membawa handuk ke kamar mandi. Santi membuka pintu kamar mandi. Dengan sangat terkejut, ia melihat sosok seorang pria tua, berwajah tirus, berkulit coklat tua, sedang duduk di ranjang sambil melihat tubuhnya yang tanpa busana. Tubuh Santi kaku tak bergerak akibat syok, wajahnya memerah karena malu.
Sementara Pak Damar masih terus menatap Santi. Tubuh Santi yang masih basah terlihat kemilau akibat pantulan cahaya. Payudaranya membusung, meneteskan air tepat dari puting merah mudanya. Dari vaginanya yang seolah mengintip Pak Damar terlihat mengucurkan air sisa pembersihan tubuh Santi. Santi berusaha menguasai kembali tubuhnya. Setelah kesadarannya pulih, dengan cepat Santi kembali masuk ke kamar mandi. Menutup rapat pintu kamar mandinya.
“Ma… maaf Pak. Saya lupa handuknya. Bisa tolong ambilkan di meja?” minta Santi dengan suara gemetar. Klek.. Santi seperti mendengar suara pintu terkunci. Suaranya begitu samar hingga ia tidak yakin betul.
“Ini, Neng.” Ujar Pak Damar dari balik pintu kamar mandi.
Santi membuka sedikit celah kamar mandi, menjulurkan tangannya mengambil handuk dari tangan Pak Damar. Ia segera mengeringkan tubuhnya.
Santi keluar berbalut handuk – yang sialnya adalah handuk kecil. Handuk yang ia kenakan tidak mampu melilit seluruh tubuhnya. Ujung handuk ia pegang dengan tangan kiri, sementara sedikit celah memperlihatkan pinggul dan pahanya. Dada Santi pun tidak tertutup dengan baik, belahan indah payudara dan sedikit tepian puting berwarna merah muda mencuat begitu menggoda. Handuk bagian bawah hanya menutupi sekitar 5 cm ke bawah dari vagina Santi. Santi berjalan perlahan, mata Pak Damar tidak sedetik pun lepas dari tubuh Santi.
“Ee.. Neng, itu lampunya sudah saya pasang.” Ujar Pak Damar sambil berdiri memecah kebisuan.
“Iya, pakk..” jawab Santi pelan, “Maaf Pak, saya mau pakai baju.” Lanjut Santi, berharap Pak Damar sadar untuk meninggalkan kamarnya.
“Oh, iya Neng. Tapi saya boleh pinjam kamar mandi? Mau buang air kecil.” Pinta Pak Damar.
“Bukannya di luar ada pak yang biasa dipakai.” sergah Santi sedikit kesal.
“Kebelet Neng. Sebentar kok.” Dengan cepat Pak Damar masuk kamar mandi tanpa menunggu persetujuan Santi.
Santi mendengar kucuran air seni Pak Damar begitu deras. Segera ia mananggalkan handuk menggantinya dengan daster favoritnya.
Tak lama Pak Damar keluar. Berjalan menghampiri Santi.
“Neng Santi, ada yang bisa dibantu lagi?” Tanya Pak Damar. Sekarang ia telah berdiri tepat di depan Santi. Belum sempat Santi menjawab pertanyaan tersebut, Pak Damar mengelus rambut Santi.
“Bapakkk…” ujar Santi sambil berjalan mundur menghindari tangan kasar Pak Damar.
Pak Damar terus mendekati Santi, sementara Santi terus mundur menghindar hingga tubuhnya terbentur tembok. Pak Damar merapatkan tubuhnya ke Santi yang sudah terpojok.
“Pak, jangan pak.” Lirih Santi. Sementara tangan Pak Damar kembali mengelus rambut Santi yang wangi itu.
“Tenang aja neng. Itu neng Sasha juga lagi asik sama pacarnya. Kita jangan kalah dong.” Kata Pak Damar dengan tenang penuh keyakinan.
“Pak, tolong pak. Jangan. Saya teriak kalau bapak bagini terus.” Papar Santi penuh ketegaran di tengah posisinya yang tidak baik itu.
“Neng mau teriak? Lalu orang-orang datang. Saya diusir. Tapi besoknya saya ke sini sama temen-temen lho. Khusus buat Neng Santi.” Ancam Pak Damar penuh kemenangan.
Santi terteguh mendengar ancaman itu. Membayangkan dirinya dikroyok orang-orang sekelas Pak Damar. Mengerikan. Santi bukan termasuk wanita hipersex. Ketika ketakutan melanda pikiran Santi, Pak Damar melanjutkan kata-katanya.
“Sudah lah neng. Biasanya juga sama pacarnya kan. Kalau tidak salah udah lebih dari 1 bulan ga diservis ya neng? Sini sama bapak aja.” Pak Damar terus meraba Santi, kali ini lengannya menjadi sasaran.
Bulu kuduk Santi merinding ketika kulit putih mulusnya bersentuhan dengan tangan Pak Damar. Ditambah lagi kata-kata Pak Damar tentang aktivitas sexnya benar-benar membuat Santi malu. Wajahnya merah padam.
“Pak sudah pak. Jangan pak. Tolong.” Dengan wajah nanar Santi memohon.
Pak Damar menekan tubuh Santi ke bawah. “Isepin kontol bapak ya neng.” pinta Pak Damar.
Dalam posisi berjongkok, Santi kebingungan harus bagaimana. Tentu ia pernah menghisap penis tetapi bukan dalam keterpaksaan seperti ini.
“Ayo neng. Turunin dulu celana bapak. Trus isep. Ga perlu saya kasarin kan supaya neng mau. Ato ga harus saya panggil temen-temen saya kan.” Pak Damar kembali mengancam dengan sikap begitu tenang.
Santi mulai menurunkan celana pendek Pak Damar. Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur dari pori-pori kulitnya. Santi terus menarik hingga kaki Pak Damar, ia menatap celana yang telah terlepas tanpa melirik ke atas.
“Ayo neng, liat ke atas dong.” perintah Pak Damar sambil tertawa pelan.
Santi mengangkat wajahnya. Terkejut melihat sebuah penis yang sudah keras tidak lagi ditutupi celana dalam mengacung tepat mengarah ke wajahnya.
“Baa… pak ga pake celana dalam?” pertanyaan polos keluar dari mulut Santi.
“Itu ada di kamar mandi. Sama baju dalam kamu yang lain.” Jawab Pak Damar sambil terkekeh.
Pak Damar memajukan penisnya. Kepala penisnya menyentuh bibir Santi yang manis.
“Dibuka neng bibirnya.” Pinta Pak Damar.
Santi membuka mulutnya dengan penuh keraguan. Penis Pak Damar mulai masuk dengan perlahan ke mulutnya. Pak Damar mulai menggoyang-goyangkan penisnya menyodok mulut Santi, dengan kedua tangannya yang menggenggam kepala Santi. Sementara itu kedua tangan Santi memegang kaki Pak Damar sambil berusaha melepaskan diri. Mphhh….. mpphhhh… penolakan Santi hanya terdengar seperti lenguhan.
“Ahhh…. Achhh… bibirnya enak banget neng. Ahhh.. terus neng.” Rancau Pak Damar sambil terus menggoyangkan pantatnya.
Berselang 2 menit kemudian. Pak Damar berhenti mengocok penisnya, tetapi ia membiarkan penis hitamnya tetap di dalam mulut Santi. Nafas Santi mulai terengah-engah.
“Neng, lidahnya mainin dong di dalam.” pinta Pak Damar,
“Achh… iyaaahhh.. gitu neng… pinter bangettt.. achhhh….”
Lidah Santi bergoyang-goyang mengelus-elus penis di dalam mulutnya dengan lembut. Kepala penis Pak Damar selalu tersentuh lidah Santi. Sesekali ada hisapan yang Santi lakukan. Pak Damar semakir merancau menikmati penisnya dalam mulut Santi.
“Sudah Neng Santi. Saya ga kuat sama lidah neng. Ahhh….” Pak Damar mengangkat tubuh Santi.
“Pacar neng untung banget dapetin neng. Cantik, mulus, jago ngisep kontol.” Pak Damar mulai kembali mengelus lengan Santi yang tidak tertutupi.
“Pak sudah pa. haahhh… jangan dilanjutkan pak.” Keluh Santi dengan wajah memelas meminta menyudahi permainan Pak Damar dengan nafas terengah-engah.
Pak Damar menyibakkan rambut Santi ke belakang, lehernya yang jenjang terbuka lebar. Dengan sigap Pak Damar mulai mencium lembut dan menjilat leher Santi. Sementara tangannya meraba perut Santi.
“Mpphhhh… pak, sudaahh.. ahh.. mpphhh..” Gejolak nafsu mulai melanda Santi, namun ia tetap berusaha menahannya sekuat tenaga.
Pak Damar membalikkan tubuh Santi, ia menyibak rambut yang menutupi leher dan tungkuk. Pak Damar kembali menciumi sambil menjilat bagian sensitif Santi tersebut.
“ahhh… pak hentikannn.. mmppphhhh.”
Pak Damar mendekatkan bibirnya ke kuping Santi.
“Neng Santi ini seksi sekali. Tadi saya intip dari etalase waktu neng mandi. Enak ya neng ngeremes tetek sendiri. Saya bantu ya sekarang.” Bisik lebut Pak Damar ke telinga Santi.
Mendengar bisikan itu Santi seperti kehilangan harapan. Dilihat tanpa busana, ketahuan ML, dan sekarang ia tahu Pak Damar melihat saat ia akan masturbasi.
“Saya remes ya neng teteknya.” Jemari Pak Damar merambat menuju 2 payudara Santi. Saat jemari menyentuh payudara. “Lho, ga pake BH, neng?!” Tanya Pak Damar dengan sedikit terkejut. “Jangan-jangan?!” dengan cepat tangannya menyibak daster membuka bongkahan pantat Santi. “Wah, si Neng bisa aja. Bilang ga mau tapi udah siap-siap gini.” Ledek Pak Damar.
“Kan, mau tidur pak.” Ujar Santi membela diri dengan percuma sambil membalikan wajah sementara jarinya tergigit di mulutnya.
Pak Damar sibuk meremas pantat, sementara tangan kirinya meremas payudara Santi. Posisi berdiri Santi yang sedikit menungging semakin membuat seksi tubuhnya.
“Paakkkk…”,
“Iya neng Santi”,
“Sudah ya mpphhh.. pakkk..”,
“Yakin neng?” jemari Pak Damar menyentuh bibir vigina Santi.
“Achhh… paa..”. tangan Pak Damar menjulur ke wajah Santi, memperlihatkan jemarinya yang tadi menyentuh bibir vagina Santi.
“Neng Santi, ko basah ya?” canda Pak Damar. Santi menatap Pak Damar sambil tersenyum malu. “Bapak jahat ih.” suara manja terlontar dari mulut Santi yang sebelumnya diisi penis Pak Damar.
Tangan Pak Damar kembali mengelus pinggul Santi. Sambil menciumi leher, Pak Damar berbisik,
“Neng Santi, mau dilanjutin ga ni?”,
“Mmmpphhh.. lanjutin apa pakkk?”,
“ngentot”,
“ih, acchhh.. bapakkk..”
tangan Pak Damar mulai meremas payudara Santi.
“Iya pakkk.. lanjutinnnn paak.. aahhh..”
“Pakkk.. aku mau ciuman yah.” Pak Damar mendekatkan wajah.
“Mmpphhh.. pak, kontolnya aku pegang yah.. aku suka banget sama kontol bapak.” Bujuk Santi.
Pak Damar dan Santi mulai saling berciuman. Lidah mereka saling melipat, bergesekan dengan lembut. Meningkatkan birahi keduanya. Mmpphhh…. Mmpphhhh…
“Pak gendong aku ke kasur ya.”
Pak Damar langsung mengangkat Santi, merebahkannya ke atas kasur. Santi menapat Pak Damar.
“Pak, aku malu. Kayak cewe murahan.”,
“Ngga ko neng. Nikmatin aja.”, Pak Damar kembali melibas bibir Santi.
Mmpphhhh… desah Santi yang mulai tidak ditahan lagi. “Pak Damar. Mmphhh.. telanjangi aku. Mphh..”
Pak Damar mulai mengangkat daster Santi. Vagina Santi yang tembam ditutupi rambut-rambut tipis tercukur rapih. Pak Damar tak henti menatap tubuh Santi yang terbuka perlahan, memperlihatkan keindahannya. Santi mengangkat tangannya. Membiarkan daster favoritnya terlepas dari tubuh yang sekarang tidak tertutupi sehelai kain pun. Payudara Santi yang tidak terlalu besar membusung dengan puting menegang, seakan meminta dijamah. Pak Damar memulai kembali dengan menciumi dan menjilati leher Santi. Lenguhan terlepas dari mulut Santi. Darah mendesir lebih cepat.
Pak Damar menurunkan ciumannya ke payudara Santi. Menjilat turun di sisi payudara, berputar mengelilingi payudara Santi.
“eeuhhh.. pak, aku nafsu bangettt…” rancu Santi memohon Pak Damar meningkatkan agresivitas.
Pak Damar menjilat kecil puting Santi yang sudah sangat keras. Ia memberi kecupan kecil.
“Neng Santi, putingnya keras banget.” Ujar Pak Damar sambil menatap Santi yang sedang memejamkan mata.
“mmpphhh.. iya pak. Emut puting aku pakkk.. remesss…” pinta Santi.
Pak Damar mengemut puting Santi sambil memainkan lidahnya, sementara tangan kanannya merepas payudara Santi yang lain.
“aahhh… eemmmppp… enaakkk pakk..” Santi meremas rambut Pak Damar, menekan kepala Pak Damar ke payudaranya.
“uughhh… pakk, mau ngentottt. Mauu kontolll.. aahhh..” rancu Santi tak terkendali.
Ia melepas cengkraman dari kepala Pak Damar. Pak Damar mengangkat tubuhnya melepaskan mulutnya dari puting Santi. Ia mendekatkan diri ke wajah Santi. Penisnya yang keras mengacung tepat di wajah Santi.
“Tadi neng ga mau, bukan?” pancing Pak Damar.
Santi mendekatkan hidungnya ke ujung penis Pak Damar. Menyentuh tepat di lubang kecil penis Pak Damar. Ia menghirup perlahan aroma penis yang khas sambil memejamkan mata. Ujung hidungnya merambat ke pangkal penis, pipi Santi pun menempel ke batang penis Pak Damar.
“Sekarang aku mau pak. Sampe masuk kontol bapak ke memek aku juga aku mau.” Nafas Santi mulai memelan, “aku emut lagi ya pak.”
Pak Damar merubah posisinya, ia menyandarkan punggungnya ke tembok dengan posisi terduduk. Santi menundukkan wajahnya mendekati penis dengan posisi menungging di atas kasur. Jari jemarinya yang manis mulai menyentuh lembut kulit penis Pak Damar. Digenggamnya penis dengan satu tangan. Santi mulai menggerak-gerakkan tangannya ke atas-bawah.
“aacc..chhh… eehhh.. aahhh nenggg…”
“Enak ya pakk..” ucap Santi sambil menatap genit ke arah Pak Damar.
“eemmmhhhh…” Santi menjulurkan lidahnya menjilat ujung kepala penis yang semakin mengeras.
Tak lama jilatannya berubah menjadi emutan dan hisapan di kepala penis dengan tangannya yang masih terus mengocok.
Pak Damar terus mendesah semakin keras. Lidahnya bermain-main di dalam mulutnya, mengelus-elus kepala penis. Tiba-tiba Pak Damar bergetar kuat.
“aachhhhh….” Sebuah erangan panjang keluar dari mulutnya, cairan sperma meleleh dari dalam penis.
“mmpphhhh..” Santi masih mengocok penis dengan tangan kanannya, mulutnya masih diisi kepala penis Pak Damar menanti tetesan terakhir sperma.
Ia melepaskan penis dari mulutnya, mengangkat kepalanya menghadap Pak Damar dengan wajah penuh senyum.
“Liatin sperma bapak dong, neng.” Pinta Pak Damar. Sinta membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya yang dipenuhi cairan berwarna putih susu.
Santi kembali menutup mulutnya. Tidak segera menelan sperma, ia justru memainkan sperma itu di dalam mulutnya. Menikmati aroma dan rasa sekaligus sensasi tersebut. Glek… sperma Pak Damar menuju perut Santi. Santi menyeringai dengan wajah penuh kegembiraan. Ia mendekat ke Pak Damar, melupat bibir penjaga kosannya.
“Seneng banget sih, neng?” Tanya Pak Damar sambil mengelus payudara yang tidak tertutupi apapun.
“Sperma bapak enak.” Ucap Santi dengan sedikit malu-malu sambil merebahkan tubuhnya di atas dada Pak Damar.
“Istirahat dulu ya neng. Nanti lanjutin.”
“Lanjutin apa pak?” Tanya Santi sambil melihat Pak Damar.
Tidak langsung menjawab, Pak Damar menggerakkan tangannya. Menyentuh bibir vagina Santi, kemudian menyelusupkan jari tengahnya ke sela bibir vagina. “lanjutin ini. Ngeringin memek kamu. Nih, basah.”
“ahhhh… mpphhhh…” eluh Santi sambil menggigit bibir bawahnya,
“ga ah, pak. Malu aku ngentot sama penjaga kosan.” Ucap Santi sambil memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut di vaginanya.
“Supaya neng mau harus gimana?” Tanya Pak Damar.
Perlahan paha Santi menjepit tangan Pak Damar, sementara tangannya mencengkram pergelangan tangan Pak Damar. Tubuhnya tidak ingin jejari Pak Damar lepas dari vaginanya.
“Katanya tadi ga mau dilanjutin.” Protes Pak Damar.
“Aku binal ya pak?” Tanya Santi dengan wajah sayu.
“Neng Santi itu bispak. Bisa bapak entot kapan aja bapak mau.”
“aahhhh.. bapak jahat.. mmpphhh.. masukin jarinya pakk…”
“Lanjutin nanti ya neng. Istirahat dulu.”
“Bapak bilang yang mesum-mesum dulu dong.” Pinta Santi.
“Memek Neng Santi mau dijilatin nanti?” Santi mengangguk, “Dimasukin kontol bapak? Kita ngentot.”
“Mau banget, pak” jawab Santi dengan berbisik.
“Sampai puas!” ucap Pak Damar ikut berbisik. Mereka kembali berciuman. Kemudian tertidur bersama
Pukul 03.00, Santi masih tidur dengan nyenyak. Dalam mimpinya, Santi merasakan kenikmatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Entah ia sedang ‘mimpi basah’ atau tidak, tetapi ada eluhan-eluhan yang keluar dari mulutnya.
“Mmpphhhh… mmpphh…”
Santi mulai sadar di tengah tidurnya. Matanya masih terpejam, tetapi Ia semakin menyadari kenikmatan di sekujur tubuhnya. Membiarkan tubuhnya menggelinjang kenikmatan. Santi tidak ingin membuka matanya, kemudian terbangun dari tidurnya. Ia ingin menikmati tidurnya yang penuh kenikmatan. Lambat laun kesadarannya semakin menguat saat mendengar suara-suara kecupan. Santi mulai teringat bahwa Ia sedang tidur dengan Pak Damar tanpa busana yang menjanjikan kelanjutan permainan mereka. Santi membuka matanya untuk meyakinkan diri tentang apa yang dari tadi Ia rasakan.
“Pakkk… mmpphhhh.. curannggg..” ucap Santi sambil menggigit bibir bawahnya menatap Pak Damar yang sedang menjilat vaginanya.
Pak Damar mengangkat wajahnya.
“Neng tidurnya nyenyak banget. Bapak ga enak banguninnya.” Tangan Pak Damar mengelus-elus paha Santi.
“Jadi bapak mulai aja duluan.” Ucapnya sambil tersenyum.
Santi membalas dengan senyum manis, kedua tangannya menjulur ke arah Pak Damar. Pak Damar mendekat, mendekap dalam pelukan Santi.
“Enak ya, neng. Kayak mimpi melayang-layang.”
“Mmm..” Jawab Santi dengan suara menggoda.
Mereka mulai bercumbu, dengan tangan saling meraba tubuh lawannya. Mmpphhh… hhmmmm…. Eluh masing-masing. Pak Damar mulai menurunkan kecupannya ke leher, dada, payudara, puting, perut, hingga ia kembali berkonsentrasi ke vagina Sinta. Diawali dengan kecupan kecil. “mmpphhh.. pakkk…” kemudian jilatan panjang, menjilat seluruh bagian luar vagina Sinta. Sinta mendesah semakin keras. Akhirnya Pak Damar memulai emutan di vagina Sinta, lidahnya menjulur masuk menjilat-jilat bagian dalam.
“aaacchhh… ennakkk pakk.. eehhhmmpphhh…”
Slurrppp… slurrppp.. jilatan, hisapan, dan emutan Pak Damar bersuara semakin keras. Tubuh Santi tidak sanggup menahan kenikmatan dari vaginanya. Ia mengangkat pantatnya, mendorong vaginanya ke mulut Pak Damar yang sedari tadi menempel, seakan menginginkan lebih. Pak Damar paham betul, Ia mengangkat wajahnya, kemudian meletakkan jari jemarinya di bibir vagina Santi.
“Haahhh… aahhh..” nafas Santi memburu, “Iya begitu pakk.. eemmppphhh…” Santi menengadahkan wajahnya sambil mendesah saat jari tengah Pak Damar menekan dan mengelus klitorisnya.
Pak Damar mendekatkan wajahnya ke Santi, Santi menyambut dengan ciuman begitu ganas. Nafsu telah menguasai tubuhnya. Tangan Pak Damar sudah terjepit kuat paha Santi. Hanya jari jemarinya yang masih bisa bermain-main di vagina Santi.
Santi terus menggelinjang kuat dengan suara desahan yang tertahan akibat berciuman dengan Pak Damar, merapatkan tangannya di punggung Pak Damar.
“Acchhhh… Pakkk, enakkk.. mmpphhhh..” lenguh Santi melepaskan ciumannya. Pak Damar semakin bersemangat ketika melihat ekspresi wajah Santi dipenuhi nafsu.
Membayangkan seorang wanita yang usianya belum mencapai setengah usia Pak Damar, dipenuhi nasfu ingin bersetubuh. Pak Damar mempercepat gesekan jarinya di vagina Santi.
“Aaaaccchhhhh….” Desahan panjang Santi disertai tubuhnya yang tiba-tiba menjadi kaku.
Pahanya mencengkram kuat tangan Pak Damar hingga tidak bisa bergerak. Cairan bening keluar dari vagina Santi. Wajahnya meringis. Ia melonggarkan pahanya, melepaskan tangan Pak Damar. Sesekali tubuhnya masih mengejang, sementara dari vaginanya masih mengeluarkan cairan kenikmatan. Wajahnya masih dipenuhi ketegangan, hingga akhirnya senyum kepuasan menghiasi wajahnya.
“Enak banget, pak.” Ucap Santi dengan vagina yang masih menetesnya cairannya.
“Iya, bapak suka liat kamu lagi nafsu begitu.” Pak Damar mendiamkan Santi untuk beristirahat sejenak.
5 menit berlalu, mereka berbincang-bincang tertutama mengenai pengalaman Santi bersetubuh dengan lelaki lain. Santi merasa malu membicarakan hal tersebut, tetapi karena nafsunya masih tinggi membuatnya tidak lagi peduli.
“Pak Damar ga nikah?” Tanya Santi sambil mengelus-elus penis Pak Damar.
“Ada yang muda-muda kayak Neng Santi buat apa nikah.” Jawab Pak Damar membiarkan penisnya tetap mengeras.
Mendengar jawaban tersebut, Santi teringat Mbak Wulan dan 3 mahasiswi lainnya yang dulu menempati kosan ini.
“Mmm.. Pantesan Mbak Wulan sama yang lain dulu betah banget ya ngekos disini. Jadi gara-gara ini.” ucap Santi sambil mengocok penis Pak Damar,
“Enak ya pak. Bisa ngentotin mahasiswi cantik terus.” ketus Santi.
Selain dirinya masih ada 2 mahasiswi yang saat ini menempati kosan tersebut.
“Apa Sasha dan Nadya pernah begini juga ya?” Tanya Santi dalam pikirannya.
Pak Damar merubah posisinya, jari tangannya menyentuh bibir vagina Santi yang masih basah.
“Udah ga sabar ya neng dimasukin kontol bapak?” Santi hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak mampu menutupi kegembiraan atas pertanyaan Pak Damar.
Santi mengambil kondom di laci meja belajarnya. Dengan penuh kasih sayang, ia mengelus-elus penis Pak Damar kemudian mengulum, memastikan penis itu telah mengeras kuat. Kondom tipis dengan perlahan disarungkan ke penis Pak Damar. Santi tersenyum tipis, membayangkan kenikmatan yang akan didapatnya.
Pak Damar memposisikan diri di atas tubuh Santi. Dengan paha terbuka, Santi tidak sabar menanti penis memasuki liang vaginanya. Kepala penis Pak Damar menempel dan menggesek-gesek bibir vagina Santi.
“Neng, ga mau masuk nih. Mesti dibujuk dulu.” Ucap Pak Damar menahan jegolak nafsunya menyetubuhi Santi.
Santi paham maksud Pak Damar, Ia menggenggam pinggul Pak Damar.
Tetapi bukannya langsung menarik pinggul tersebut agar penis Pak Damar masuk, Santi mengawalinya dengan raut wajah penuh nafsu.
“Pakkk… Masukin kontolnya ke memek aku yah.” Ucap Santi dengan nada memohon,
“Aku udah ga kuat. Pengen ngentot, pakk.” Santi mulai menarik pinggul Pak Damar.
Nafsu Pak Damar meningkat mendengar permintaan Santi, Ia pun mulai mendorong penisnya. Penis Pak Damar mulai menjelajahi liang vagina Santi.
“Uughhh.. Neng, enak banget memeknya. Mmpphhh..”
“Dorong terus pak. Masukin semuanya. Kontol bapakk kerr..ass bangett.. mmpphhhh..” Ucap Santi diakhiri desahan.
Perlahan seluruh penis Pak Damar masuk ke dalam vagina Santi.
Mereka berdua bercium seperti sepasang kekasih.
“Ayo, pak. Kocokin ke dalem. Aku suka kontol bapak.” Rajuk Santi.
Pak Damar tersenyum senang, kemudian mulai menarik penisnya.
“Mmpphhhh…” keduanya berdesah.
Pak Damar memulai persetubuhannya dengan tempo perlahan. Ia menarik dan mendorong penisnya perlahan untuk menikmati betul vagina Santi yang masih sempit. Sesekali Pak Damar mendorong dalam penisnya, hingga Santi mendesah panjang. Perlahan Pak Damar meningkatkan kecepatannya menggesek vagina Santi.
“Accchhhh… iya pak. Terus pak.. enakkk.. eeuuhhhh.. mmpphhhh.. kontol bapak ennaaakkk…” Santi mulai merancau saat gesekan penis Pak Damar semakin cepat.
Nafas keduanya semakin menggebu.
“Memek neng sempit banget.. aaccchhhh… mmppphhhh…”
“Iya pakkk… teruss.. uugghhhh… kocok terus pakkk..” Pak Damar semakin cepat mengeluar-masukkan penisnya.
“Tengkurep neng. Aahhhh…”
“Iyah pakkk… accchhh… jangan dilepas pak kontolnya.. enak bangettt…” Santi membalik tubuhnya tanpa melepas penis dari vaginanya.
Pak Damar memandangi bongkahan pantat putih bersih dengan penisnya yang keluar-masuk vagina Santi. Nafsunya menggila. Ia mengocok semakin cepat.
“Accchhhh, enakan pakee jari ato kontol, nenggg?” Tanya Pak Damar dengan nafas menggebu.
“Kontol… Santi suka pakkeee konn.. toll bapak.. aaaahhhh.. terus pak..”
Pak Damar mengangkat pinggul Santi, ingin Santi menungging. Pak Damar terus mengocok vagina Santi yang semakin basah hingga terdengar suara kecipak air.
“Uuughhhh… ga kuat pakkk… aacccchhhhh.. oooghhhh…” Tubuh Santi bergetar, ada lelehan cairan keluar dari vaginanya.
Pak Damar menahan penisnya di dalam tanpa gerakan. Menidurkan Santi dalam posisi terkelungkup. Pak Damar menindih tubuh Santi, sambil menggoyang-goyangkan penisnya perlahan.
“hhaaahhhh… enak banget pak.” Pak Damar mengecup pipi Santi.
“Mau lagi neng?”
“Sampe bapak puas. Memek aku buat kontol bapak.” Ucap Santi sambil mencium bibir Pak Damar.
Pak Damar mulai kembali mengocok vagina Santi dengan penisnya. Tangannya menyelusup ke payudara Santi. Meremas kuat tetapi lembut. Nafas Santi kembali meningkat. Ia melirik kebelakang, melihat pantat Pak Damar yang hitam bergoyang naik-turun. Sementara pantatnya sendiri tertindih Pak Damar. Santi menjulurkan tangannya, mengelus pantat Pak Damar.
“Uuughhhh.. mmppphhh.. terusss pakk. Entotin akuuu..” rancau Santi sambil memejamkan matanya menikmati hujaman penis Pak Damar.
Pak Damar kembali mengangkat pinggul Santi. Menginginkan posisi itu kembali.
“aacchhh… pakkk udah mau keluuarr?” Tanya Santi dengan nafsu terus menggebu.
“Iya neng.. accchhh… sebentar lagii…” Pak Damar mempercepat kocokannya.
Santi menggigit bantal di depan wajahnya. Menahan kenikmatan di sekujur tubuhnya. Sementara tangannya meremas-remas kain sprei hingga sangat berantakan.
“Ooohhhh,,, ooogghhh…. Pakkk ga kuaattt. Mau keluar lagiii.. oouugghhhh…” lenguh Santi tidak mampu menahan diri.
“Iya, nengg. Bareng sama bapak.. aacchhhh…”
Pak Damar menekan dalam penisnya ke vagina Santi. Spermanya keluar tertahan kondom yang dikenakan. Sementara vagina Santi kembali mengeluarkan cairan bening. Keduanya melenguh bersamaan. Panjang. Terdengar penuh kenikmatan. Santi kembali tertidur dengan posisi terkelungkup, sementara Pak Damar menindih di atasnya. Penisnya tetap berada di dalam vagina Santi yang masih berkedut. Tubuh keduanya dibasahi keringat yang keluar dari pori-pori.
“Enak, neng?”
“Enak banget pak. Makasih ya.” Jawab Santi sambil mencium bibir Pak Damar.
“Bapak ke kamar ya neng.” Ucap Pak Damar sambil mencabut kondomnya kemudian membuangnya di tempat sampah.
“Iya pak. Aku mau langsung mandi. Ada kuliah pagi.” Jawab Sinta.
Pak Damar segera mengenakan pakaiannya kemudian kembali ke kamarnya setelah sebelumnya mencium Santi. Santi mengambil handuknya di atas rak. Menuju kamar mandi, menutup rapat pintunya. Ia melihat tumpukan pakaian dalam yang kotor. Celana dalam Pak Damar ada di sana. Santi meremas celana dalam itu. Ia memikirkan apa yang baru saja selesai Ia dan Pak Damar lakukan. Memalukan, tetapi dirinya sendiri tidak mampu menahan gejolak nafsu. Santi mendekatkan celana dalam itu ke hidungnya, teringat saat-saat hidungnya menyentuh ujung kepala penis Pak Damar. Santi tersenyum.


Duniabola99.com – Perkenalkan nama gw leo,aktifitas gw kuliah di tahun ke 4 sekarang dan gw punya pacar yang binalnya minta ampun dulu di smp gw namanya anggi,dan kalo bicara yang namanya tidur ama cw gw ngelakuiin pertama kali di bangku smp dulu sama dengan anggi ,dan karena itu juga gw punya pacar yang tetap ampe sekarang gw kuliah,kejadiannya tepat di gudang sekolah gw yang tercinta ini pas gw melakukan ini gw kelas 3 smp dan pacar gw kelas 2 smp. Ni ceritanya tapi kalo jelek jangan protes ya.
Gw sekolah di suatu smp swasta di jakarta,ngomong2x gw termasuk orang yang tenar di sekolah gw (maklum tajir,juga wajah gw juga lumayan dan gw osis di sana).Singkat cerita cewe di sekolah gw banyak yang ngejar dan mau ama gw tapi hanya sedikit cw yang gw ajak tidur ama gw,sekolah gw termasuk sekolah swasta yang favorit di daerah gw sekali kalo engga sekola gw menang sesuatu pasti ada yang mengharumkan nama sekolah gw,di sekolah gw di cap playboy tapi biar di cap gitu masih banyak cw yang mau ama gw dari sekian banyak cw di sekolah gw ada 1 cw di sekolah gw yang pengen banget gw cobaiin namanya anggilina,cantik,imut,kulitnya putih,rambut sebahu warna pirang biru dan sepintas mirip cina dan yang paling gw suka dari dia adalah pantat ama dada gadis tsb tumbuh gd melebihi temen cw ya .
Anggi pangilan tuk cw ini dan dia termasuk cw yang nakal ato bisa dikatakan binal sekali di sekolah,ada2x aja dulu tingkahnya yang buat orang awam ato guru geleng pala pernah dia tari telanjang di kelas,ciumman di kelas,ampe sepongin ama fetting di wc sekola nih cw termasuk primadona sekola gw banyak cowo yang mau ngajak dia jadian cuma tuk “tidur” ama dia tapi di tolak secara halus karena menurut dia,dia engga mau sembarang cowo yang masukin kontolnya ke memek dia.
Pas hari senin pagi seperti biasa gw ama gw berangkat dan engga biasanya gw terlambat ( gw kaga pernah terlambat sekalipun ) dan ternyata banyak siswa yang terlambat dan dari pada di hukum ,gw main di gudang sekolah sambil ngerokok di gudang sekolah ( gw sering ngerokok disitu ) dan digudang sekolah gw liat anggi lagi asyik baca buku,gila ni cw baca bacaan novel cowo dewasa.Dia baca sambil ngusap2x dadanya dan sesekali jarinya di masukkin ke memek,”ahhh….ahhh….ahhh” gitu kira2x desahan ya ni cw lagi coli kali pikiran gw ,
Langsung aja gw buka pintu gudang sekola itu kontan dia kaget gw cuma terpana ngeliat memek dia yang di hiasi jembut yang lumayan tebal ” ehhh…leo gw ngapain loe…kaget..gw ” kata dia terkejut sambil cepat – cepat ngerapiin celana dalamnya “ahh engga,lagi ngapain loe” kata gw ” iya,coli ya” kata gw nambahin ” ihhh…. engga… lagi baca aja” kata dia seraya nunjukin majalah itu ke gw “gi loe mau engga jadi bokin gw “kata gw “bokin loe”kata dia “iya “kata gw mendekat seraya mengelus memek anggi yang taunya udah basah itu “ehmmm….mauuu”kata anggi merem melek dan mundur serta memakai celana dalamnya lagi
“mau engga loe tidur ama gw ” kata gw langsung ” ama loe ” kata dia kaget.”Iya ama gw,abis ama siapa lagi loe kan bokin gw ” kata gw nambahin ” engga ahhh takutt ” kata anggi “takut,takut apaan ” kata gw “takut hamil “kata dia “engga la,kalo hamil ya gw tanggung jawab “kata gw “bener mau tanggung jawab” kata anggi senyum “kapan mau ML ama gw”kata anggi” disini aja entar siang abis anak2x ama guru balik” kata gw seneng kegirangan”
Entar sore jam 3 aja” kata anggi ” tapi gw boleh minta duit engga,buat bayaran sekola gw nunggak 4 bulan nih ” kata anggi “emang loe belum bayaran sekola gi ” kata gw bingung “belon kan uangnya gw pake buat beli majalah ini ” kata anggi senyum ” iya nih ” kata gw seraya mengeluarkan 4 lembar seratus ribuan ” kembaliannya buat loe aja gii ” kata gw ” gw tunggu loe disini ya nanti ” kata gw ” bye sayang,tunggu gw ya” kata anggi seraya mengecup gw dan kami masuk sekolah di pelajaran ke dua.
Jam 3 sore guru ama murid di sekola gw pulang dan gw minta ijin ama mang diman,pinjem kunci sekola buat urusan sesuatu seraya masukkin 2 lembar seratus ribu ke kantong mang diman,gw liat sepi gw ke gudang sekolah yang letaknya agak sepi dan terbelakang di sekolah gw,ada,anggi lagi nenggak minuman dingin.
“ayo mulai aja ” kata anggi ” ayo aja ” kata gw ” boleh,tapi jangan sangar ya ” kata anggi lalu gw melepas celana panjang dan celana dalam ” anggi kata lo siapa yang paling gd diantara cowok yang pernah loe liat ” kata gw seraya menyorongkan ****** gw ” ehhh…keliatanya sih lu udah putih panjang lagi ” kata anggi malu2x “gii… loe buka donk baju luu …” kata gw dan anggi pun membuka baju serta rok abu2xnya dan jreeng telah berdiri di hadapan gw si anggi cw seksi yang sudah telanjang bulat engga makai apa 2x berdiri di depan gw
“wuihhh..bener..kata…orang…badan loe kualitas nomer satu gi” kata gw,gw lalu memeluk anggi dan mencium anggi serta meraba pantat anggi dari belakang dan ciumman gw turun ke leher dan tangan gw pindah ke depan dan gw langsung mengusap – ngusap memek anggi dengan tangan dan memasukkan jari tengah gw di memek anggi “ahh..sakiitt..tauuu..”kata anggi terhentak.
Lalu jari gw berganti bermain di bibir memek anggi dan gw mau anggi melakukan sesuatu dan gw mengghentikan tangan gw di memek anggi dan gw meminta anggi berdiri di depan s*****kangan gw dan menyuruh melakukan blow job lalu dia segera melakukannya dan gw mengarahkan anggi ke depan ****** gw dan menyuruh memasukkan ****** gw ke mulut anggi dan mengangkat tangan anggi memegang pantat gw dan gw memaju – mundurkan ****** gw seperti menyetubuhi mulut mungil anggi
Dan dengan mulutnya anggi mengulum dan ****** gw di sedot sedot,****** gw di kulum biji zakarnya di maju mundurkan ****** gw di mulut anggi yang mungil itu ,****** gw kadang kadang di jepit diantara dada anggi yang bulat seksi tsb dan anggi menyedot kepala ****** gw dan sensasi yang di berikan anggi serta dadanya itu enak sekali dan gw tidak hentinya mengerang dan dengan keras kedua tangan gw menjambak rambut anggi kedepan dan ke belakang sampai biji zakar gw menghantam muka anggi dengan keras” eehhmmm… .eenakghhhh…. giii… enakgghhh… teruss. .giii” kata gw ngerasa kaya kesetrum listrik jutaan watt pas mulut imut anggi mengemut dan menyedot keras dan
Sesudah ****** gw mengkilat karena ludah anggi itu ,anggi berkata “sayy.. .isepp… memek… anggiii… donk” dan gw langsung ke bawah dan langsung mencium memek anggi baunya wangi merangsang itu dan gw langsung menjilat memek anggi seraya mengeluar mesukkan jari tengah gw ke memek anggi dan kadang2x kedalam anus anggi,gw sedot sedot clotoris anggi dan anggi pun tak hentinya mengerang “trerus…. leooo…. sedottt… memekkk… anggiiii” kata anggi,gw makin gila menyedot dan mengeluar masukan jari gw ke memek dan anus anggi “leooo… memekkk… anggiiii…”kata anggi “kenapa.. memek… anggiii” jawab gw seraya menekan nekan jari gw
“memek angggiii basahhh” kata anggi ” anggi… mauuu… keluarrrrr….” dan anggi mengejang dan menjambak rambut gw ke memeknya dan dia merasakan orgasme yang pertamanya sesudah itu gw berkata ” gi gw boleh kan masukin ****** gw ke sini ” sambil mengusap – usap kontolnya ke memek anggi ” boleh aja pelan2x ya ” kata anggi seraya merem melek akibat perlakuan jari dan ****** gw di memek anggi lalu gw pelan – pelan masukin kepala ****** itu ke guanya anggi dan tidak bisa masuk meleset lalu gw lumurin tangan gw dengan ludah dan gw mencoba dan setelah setengah ****** itu masuk anggi memekik keras “acchhh… ouww..
Sakitt.. dii..pelan.. pelan..donk… luu…. jangan sangar gitu ” setelah kepala batang keras tersebut masuk kemudian gw mencium leher anggi dan sesudah anggi terangsang gw menghentakkan batang ****** gw sehingga masuk seluruhnya ke memek anggi dan anggi menjerit seraya memeluk punggung gw ” achhh…. leooo.. perihhh….” jerit anggi setengah menangis “tenang gii entar juga enak cuma sebentar kok sayy” kata gw seraya mencium dan meremas dadanya supaya dia tenang lalu gw mulai bergerak maju mundur pelan sekali supaya anggi engga merasa sakit ”
achhh…ohhh… enakkkghhh…. leooo.. enakk… trusss.. leoooo…”kata anggi merem melek,mulut anggi tak hentinya meracau
“enakkk…leooo…terusss” racau anggi “enakkk….apa…”kata gw seraya mempercepat genjotan gw di dalam memek anggi “kontollll… leooo.. enakkk” racauan anggi yang sudah tak beraturan itu dan gw bergerak sedikit cepat dan anggi seraya menaikan kakinya dan terus mengusap – usap pantat gw yang gerakannya semakin cepat dan gw hanya bergerak maju mundur seraya memegang dan mengelus – elus paha putih anggi dan sesekali menampar paha anggi seraya sesekali menyedot dada anggi yang membusung keras dan leher anggi yang wangi tsb dan setelah 15 menit anggi di genjot oleh gw anggi merasakan sesuatu yang mau keluar dari liang memeknya
” achhh… diiii…. gw…. mauuuu….” jerit anggi “mauu…apa…”kata gw “memek anggii… keluarrr…. keluarrr… genjotttt…. yangg…. kerassss… donkkkk… sayyy” kata anggi dan gw segera mengeluar masukan ****** gw dengan cepat dan keras “keluariinn.. aja.. giii.. biar… memek… loe… jepit.. kontoll… leooo “kata gw seraya menaikkan lagi tempo genjotan di memek anggi dan anggi yang sudah tidak tahan itupun menjerit takkala menahan orgasmenya “anggi…. sayangg….. leoooo” dan anggipun merasakan orgasme keduanya dan tubuh anggi pun mengejang dan otomatis menjambak rambut gw kebelakang dan kedua kakinya naik dan menjepit pinggang gw sesudah itu langsung melemas dan jatuh di atas kardus di sampingnya ” dua.. kosong… sayang..” kata gw
“say…kita coba dogie style yu” kata gw seraya membalik tubuh anggi ke posisi seperti orang merangkak,lalu dengan cepat gw menusuk anggi dari belakang dan bleesssshhh ****** gw yang panjang dan putih itu masuk lagi ke memek anggi dari belakang lalu gw mulai kerja lagi keluar masuk memek anggi dan anggi hanya merem melek dan mengoyangkan kepalanya kekanan dan kiri dan sesekali juga mengoyang anusnya kekiri dan kekanan sesuatu ketika gw bergerak dengan cepat dan kasar sekali sampai bunyi anus anggi yang bersentuhan dengan perut gw berbunyi nyaring dan badan anggi tesodok – sodok dan terguncang – guncang dan buah dada anggi yang besar itu beranyun – anyun dan desahan anggi bertambah nyaring dan gerakan anus anggi semakin erotis.
Gw terus menyodok memek gw dengan gerakan yang sangat cepat dan setelah 10 menit berdogie style dengan anggi akhirnya gw menyerah dan merasa pertahanan gw akan jebol dan gw mengenjot anggi dengan cepat dan sesuatu ketika gw menancapkan kontolnya di memek gw dan meremas dada anggi dengan keras dan tiba – tiba gw berteriak kepada anggi seraya menancapkan batang ****** ke memek anggi yang sekali jadi sehingga anggi pun memekik dan kepalanya mendongak keatas seraya melepas ****** gw di mulutnya itu”achhhh….”jerit anggi
”accchhhh…. giii… gw… mauu…. keluarrrghhhh… terimaaa…. nihhhh…. pejuuuuu… gueee” gw mengerang dan tangannya berganti meremas buah anus anggi dengan kencang dan pada saat itu pula gw mengeluarkan spermanya yang jumlahnya banyak itu di dalam memek anggi ” enakk.. giii… enakkk… memek… loe… enakkk” kata gw seraya sedikit bergerak keluar masuk lagi di memek anggi tuk merasakan sedikit kenikmatan lagi sampai muncratan sperma terakhir ****** gw dan mencabut ****** gw dan menyuruh anggi membersihkan ****** gw dengan lidahnya.
Dan sesudahnya gw yang kecapaian duduk di kotak di samping tubuh anggi yang mengkilat akibat keringat itu lalu gw mau mendekati anggi lagi ,dan meminta sekali lagi tapi yag ini lain,gw dari dulu pengen nyoba yang namanya anal seks dan banget – banget pengen nyobain anus si anggi yang semok dan padat itu lalu dengan sedikit diolesi vaseline punya anggi gw lumuri batang gw yang mengeras lagi dan anus anggi dan gw mulai penetrasi dengan ****** keras gw ke dalam anus anggi ” achhh…. leo… sakiiitttt…. sakiittt….” rintih anggi pas kepala ****** gw memaksa masuk ke anus anggi yang kecil tsb
” gila…giii…pantat… loe… enakghhh..” seraya bergerak maju mundur pelan – pelan 5 menit waktu yang di butuhkan tuk ****** gw masuk seluruhnya “gila …. loe… pantat….. memang…. cocok… disodomi… gii…”kata gw lalu dengan semangat gw gerakin ****** gw keluar masuk anus anggi dengan cepat sambil mengusap buah pantat anggi dan juga kadang kadang seraya tangan kanan gw menjambak rambut anggi ke atas “gila…bener bener anus nomer satu ” kata gw sambil terus mengenjot anus anggi dan teriakan anggi terdengar semakin nyaring dan melengking ketika ****** gw bergerak keluar masuk anusnya dengan cepat,”achhh…. leooo… sakitttt…” erang anggi,gw tau teriakannya itu engga bisa kedengeran oleh siapapun karena gudang itu jauh dari depan sekolah dan sekolah lagian lagi sepi dan itu yang buat gw makin semangat memompa ****** gw di anus anggi .
Baru kali ini gw ngerasaiin yang namanya anal seks dan dengan kenikmatan anus seorang yang seksi padat pula dan kerasa nikmatnya ampe ubun – ubun gw,gw lalu mencengkram pinggul anggi dengan kedua tangan gw dan mengeluarkan – masukkan ****** gw dengan sangat cepat ” ayooo…. giii… ngentootttt… luuuu… ngenttttottt…..” caci gw seraya sesekali menampar anus semok anggi kiri dan kanan sampai kelihatan anusnya kelihatan memerah dan anggi hanya bisa menjerit seirama sodokan ****** gw di dalam liang anusnya yang sedang di tusuk oleh ****** gw ” ahhh.. .le… akiiittt… leoo.. .jangannnn…. cepeeettthhh…. cepettthhhh… donkkkkhhh… achhhh… sakittt..” rintih anggi meminta gw bergerak pelan
Tapi gw udah terbang ke langit ke tujuh dan tidak perduli akan permintaan anggi yang menjerit itu dan terus mengenjot anus semok ini dengan cepat dan gw ingin lebih kasar lagi mensodomi anus anggi yang semok ini dan menggenjot anus semok ini dan dengan gerakan cepat aku memulai aktivitas dengan anus semok ini lalu tiba – tiba anggi memekik panjang “achhhh…. achhhh…. gilaaaa… looooo…… perihhhhh…. tauuuu… sakiitttt” jeritan melengking dari anggi pas ****** gw tarik hingga tinggal ujungnya dan memasukkannya dengan cepat dan keras sekali jadi ke dalam anus anggi dan keringat dingin pun menetes deras di punggung anggi dan saat itu pula gw menggangkat anggi dan punggung anggi bersentuhan dengan dada gw dan tangan gw meremas – remas buah dada anggi yang bulat seksi tersebut seraya menyedot lehernya,
Bau harum dari lehernya yang buat gw makin gila menggenjot mundur maju anus anggi dan napas anggi kelihatan memburu dan tangan anggi tak henti – hertinya meremas tangan gw yang sedang meremas dada anggi sendiri dan gw memegang tangan anggi dan menaruh ke belakang punggung gw dan mengangkat paha anggi seperti orang buang air besar dan setengah menundukan anggi ke bawah dan gw mulai lagi bergerak mundur maju menyodok anus anggi dengan cepat dan semakin keras meremas buah dada anggi seraya mencaci dan memaki anggi,anggi hanya meremas anus gw dan bergerak maju mundur seirama ****** gw didalam anusnya yang sempit tersebut dan gw makin gila menyodok anus anggi dengan cepat seperti gw ingin menghancurkan anus seksi anggi
“ngenntootttt..luuu… pelacuurrrrhh…. caboo… .jebolhhh… luuuu… jebolllhhh… rasaiinnnchhh… nichhh… makann… nihhhhhh” caci gw seraya meremas dada anggi dengan keras sekali dan kadang kadang menampar buah dada anggi ” ohhhh….. ahhhh…. leooo… anggiiii.. .enggaaa.. .kuaaattt… lagiiiiii… ceeeppeettttaaannn…. donkkkk” rintihan anggi terdengar lagi ” ayooo…. giiii… sebentarrhhhh…. laghiiiiii…..” kata gw seraya menunggingkan dia lagi “ahhh… ohhhh.. .ahhhh…. ahhhh..”desahan anggi yang semakin tidak beraturan ,”giiii…..leooo engga tahann…. mauuu… leooo….. mauuu……. keluarrrghhh…. sayanghhh… diii… dalammm… pantattt… kamuuu” dan
“kamuuuu…. jadiiii…. pacarrrrr… akuuu….”kata gw dan gw menancapkan ****** gw di anus anggi sekali jadi sehingga terbenam seluruhnya sampai keliatan buah zakarnya saja di anus mungil seksi padat anggi “angggiiii…… sayanggg…. leooooo” jeritan terakhir anggi dan cratt crattt crattt sperma gw meledak kembali tapi ini meledak di dalam anus anggi dan gw seketika itu pula gw menekan ****** gw di anus anggi ke dalam sampai muncratan sperma terakhir gw kedalam anus anggi ini .
Napas gw dan anggi tersengal – sengal sehabis 20 menit gw menggenjot anus anggi habis habisan dan “achhh…. enakkk” jerit gw ketika ****** gw tercabut dengan sendirinya dari anus anggi ” makasih ya gi gw puas banget ” kata gw seraya mengelus rambut dan mencium pipi dan meremas buah dada anggi,anggi hanya tersenyum dan anggi kusuruh membersihkan ****** gw dari sisa sperma dan anggi pun berlutut di depan ****** gw dan dengan mulut dan lidahnya lagi
Dia membersihkan penis gw dari lumuran sperma sampai bersih serta memijit batang ****** gw dan tidak disangka dia menyedot ****** gw dan menelan sisa sperma gw yang sedikit keluar dari ****** gw dan rasanya ngilu dan enak banget ” iya…gw..juga nikmatin kok perlakuan loe tadi enak ” kata anggi seraya memakai bajunya kembali dan kami berdua keluar dari gudang dan sebelum keluar gw sempat melihat darah di atas karung buku yang menjadi alas kami “main” dan gw menunjuk tempat alas “main”gw dan anggi tadi “wahh… giii… loe..”kata gw ” iya… gw masih virgin..”kata anggi yang sayu karena kecapaian dan hanya melempar senyum ke gw
” elo nyesel gi berbuat gitu ama gw kalo nyesel,dan kalo terjadi apa apa gw mau kok tanggung jawab”kata gw seraya mengelus rambut anggi yang tiba – tiba memeluk dan menangis “:emang kamu engga main main dengan yang tadi” kata anggi dengan mata berair dan gw memeluk tubuh mungilnya “ehhmm… engga.. la .. gw serius ” kata gw “kan anggi hanya cw bispak disini apa kamu engga malu ama temen2x kamu “kata anggi terisak isak “cw bispak kok perawan,mau engga jadi bokin gw “kata gw “engga tau,tapi emang anggi suka ama leo dari dulu dan pas anggi pagi digudang anggi ngebayangin di entot ama leo ” kata anggi “wahhh… beneeerrr… nihhh… jadii..gimana donk” kata gw.
Dan anggi hanya tersenyum dan gw keluar mengambil mobil dan mengantar anggi ke rumahnya “gw tunggu tlp loe say” kata gw seraya mencium bibir anggi dan memasukan kartu nama berisi no tlp gw ke dalam saku bajunya dan sesudah itu gw pulang ke rumah dengan membawa perasaan yang bahagia dan membawa kenangan biru yang romantis di gudang sekolah gw dan menunggu calon pacar gw telpon dan malamnya jadi anggi menelepon gw dan mengatakan perasaannya dan bahwa dia mau jadi bokin gw dan ingin mengulang saat itu lagi,
Tapi dengan syarat dia mau jadi cewe satu satunya dan sejak itu gw ama anggi jadian dan pernah saat itu gw pacar gw anggi,andi dan pacar yang kami berdua menjebol keperawannya di gudang sekolah yang sama (gw jebol pantat anggi dan gw juga jebol pantat ita..maruk pantat ya ) ita selalu melakukan perbuatan nikmat itu berempat di wc sekolah,di hotel,kontrakan kami,ato dimana saja,pernah gw “tidur” ama anggi ama ita sekaligus dan kalo ama anggi tak terhitung jumlahnya kayanya tuh memek udah memble tapi ajaib lo memek ama anus anggi tetap sempit kaya dulu lain ama ita yang jalannya udah ngegang karena banyak di sodomi ama andi pacarnya dan itu yang ngebuat gw ketagihan dan nyeret dia tuk tidur bareng mulu dan engga mau coba memek ama anus selain punya cw gw,liburan anak – anak pada belajar tapi gw ama anggi malah ngentot abis – abisan pernah suatu hari gw ama anggi dan melakukannya di alam terbuka pas gw berempat kemping di gunung dan gw melakuannya di batu besar disana
Itulah cerita rahasia di gudang sekolah kami gw,temen gw andi serta anggi pacar semok gw yang seksi dan mungkin karena ketagihan ama memek ama anus anggi gw jadian ampe sekarang gw kuliah.

ia jg tidak pakai celana dalam bos,,kayaknye die memang uda siap buat dientot ni bos,,”.
Cersex Terbaru – “yaude,,lepasin jaketnye, Man,,agar ni cewek telanjang sekaligus,,”.
“oke bos,,”. Ke-3 preman itu menjadi meleng hingga otak Sari langsung bekerja untuk melepas diri dari 3 preman tersebut.
Sari menggerakkan kepalanya ke belakang hingga berkenaan muka sang bos preman.
“aarrgghh,,”, bos preman itu langsung menjauhi Sari sekalian memegang hidungnya yang nyaris patah karena kebentur sisi belakang dari kepala Sari. 1 preman telah lepas, 2 more to go
Sari mengusung kaki kanannya hingga lutut Sari langsung menghajar dagu preman yang memegang kakinya. Preman itu langsung jatu terjatuh ke belakang. Still 1 preman standing. Sari langsung memukul preman yang barusan ditugasi menanggalkan jaket Sari.
Walau tinju Sari kurang kuat, tp sanggup membuat preman itu jg jatuh ke belakang karena preman itu berjongkok dgn sedikit berjinjit. Sari juga mengambil langsung cara 2 ribu menjauhi dari 3 preman yang sedang kesakitan sekalian berteriak minta bantuan.

Ada orang keluar warung, Sari lari ke arah orang itu, sekalian berlari, Sari menarik resleting jaketnya ke atas kembali supaya payudaranya ditutupi jaket.
“tolong pak,,saya ingin disetubuhi,,”, kata Sari sekalian berlindung ada di belakang orang tersebut.
“mana Dek,,yang ingin merkosa,,”, tutur orang itu sekalian berangkat pinggang seperti jawara.
3 preman itu ada di hadapan abang pemilik warung dgn napas mereka yang tersengal-sengal. Sari merasa sedikit tenang menyaksikan sang abang pemilik warung keliatannya tidak gentar hadapi tiga orang preman tersebut.
Mendadak, trio preman itu segera mengarah ke belakang sang abang pemilik warung dan tangkap Sari.
“pak,,tolong saya,,”, pinta Sari dgn muka susahnya. Abang pemilik warung itu melihat ke belakang.
“ah,,kronis lo betiga,,sudah saya kasih minuman,,justru tidak ngajak saya cocok ingin merkosa cewek,,”, kata-kata yang keluar mulut sang abang pemilik warung membuat Sari seperti tersamber petir.
“gimane ingin ngajak lo Din,,die aje kabur,,”.
“kok dapat kabur?”.
“noh,,karena sang Maman membuka jaketnye kelamaan,,”.
“bukan salah saya bos,,karena sang Bagus,,megangin kakinye tidak benar,,”.
“sedap aje,,lo,,bos Hari jg salah,,”.
“udeh,,udeh,,mending,,kite mulai aje,,ngerjain ni cewek nyg seperti bidadari ini,,”.
“benar juge ape kate lo,,Yo,,”. Pada akhirnya, nama mereka tersingkap jg.
Sang bos preman namanya Hari, sang abang pemilik warung namanya Taryo, preman yang barusan memegang kaki Sari namanya Bagus, dan preman yang paling akhir namanya Maman.
“ngapain lo kabur barusan,,hah?!”, sebuah pukulan landing di pipi kanan Sari.
“udeh,,kite telanjangin aje nih cewek,,agar die jera,,”. Dalam sekejap, jaket Sari telah dibuang jauh oleh Hari.
“buset,,bodinye bohay sekali,,”, tutur Maman.
“simak tuch memeknye,,kayaknye,,masih perawan,,”.
“bermakna saya yang merawanin,,”, kata Udin.
“sedap aje lo, Din..saya bosnye di sini,,”, balas Hari.
“tp,,ini kan warung saya,,”, balas Udin tidak ingin kalah.
“yaude,,lo yang merawanin,,tp kite gratis minum di warung lo 1 minggu ye,,”, kata Hari.
“sip dah,,nyg penting dapat merawanin cewek,,”.
“jangan setubuhi saya,,”, pinta Sari, air matanya juga mengucur keluar.
“diem lo !! nanti lo jg sedap,,”, ledek Bagus.
“kite taro aje di kursi agar lebih sedap,,”, saran Maman.
“benar jg lo Man,,”. Maman dan Bagus mengusung badan Sari dan menyimpan Sari di atas bangku panjang dari kayu yang umum berada di warteg.
Bagus dan Maman mengusung kaki Sari ke atas hingga memek Sari yang ada di pinggir ujung kursi betul-betul terpampang dgn benar-benar terang.
Hari duduk di ujung kursi yang satunya, ia memegang ke-2 tangan Sari sekalian nikmati kehalusan dari bibir Sari yang tipis dan halus. Sari tahu jika ia tidak dapat lakukan perlawanan kembali karena ini kali ia betul-betul tidak memiliki daya. Sari tidak tahu apa yang bisa terjadi pada memeknya karena pandangannya ditutupi leher Hari.
“saya jilat dahulu ah,,ingin tahu,,memeknye perawan manis ape tidak,,hehe,,”, tutur Udin.
Udin berjongkok di muka memek Sari dan menatp panorama cantik di depannya seperti detektif yang memerhatikan dgn cermat untuk temukan tanda bukti.
“tidak ade bulunye kembali,,bertambah napsu saya,,”, kata Udin.
“udeh,,cepatan lo Din,,nanti giliran,,”, kata Hari kemarin Hari meneruskan melumat bibir Sari kembali.
“sabar nape lo,,”. Udin mengelus-elus ke-2 paha mulus Sari sampai sentuh pangkal paha Sari.
Lantas Udin dekatkan mukanya ke memek Sari. Udin makin gairah sesudah menyaksikan bentuk memek Sari yang masih prima dan harum alami dari memek Sari yang dirawat dgn baik oleh Sari.
Udin sapu belahan bibir memek Sari dari bawah ke atas dgn sekali sapuan saja. Sari menggeliat karena sapuan lidah Udin seperti sengatan listrik yang mengucur di sekujur badannya. Selanjutnya, Udin mengelitik klitoris Sari dgn lidahnya.
“mmmffhh,,”, desah Sari ketahan bibir Hari.
Bagus dan Maman tidak cuma memegang kaki Sari saja, tp masing-masing pada mereka jg ‘memegangi’ dan meremasi payudara Sari. Udin buka bibir memek Sari hingga ia dapat menyaksikan sisi dalam dari memek Sari yang kelihatan benar-benar menarik karena tetap merah mengembang.
Lidah Udin telah tersisip dalam lubang memek Sari. Udin memasukkan kepalanya ke selangkangan Sari supaya Udin dapat masukkan lidahnya lebih dalam ke memek Sari. Sari memang menampik, tp ia tidak dapat menygkal badannya yang dgn suka hati terima gempuran lidah Udin.
“nnggffhh,,,”, suara lenguhan Sari yang tetap ketahan bibir Hari.
Badan Sari jadi tegang karena ia mengalami orgasme.
“ssuurpp,,slluurrp,,”, Udin tidak sia-siakan satu tetes juga sampai cairan memek Sari tidak bersisa.
“gimane Din?”, bertanya Bagus.
“maknyus,,sedap sekali,,manis ‘n renyah,,”, jawab Udin.
“namanye jg memek perawan,,”, tutur Maman.
“giliran lo Din,,”, kata Hari.
“okeh,,”. Hari dan Udin tukar posisi.
Mereka berganti-gantian menjilat-jilati memek Sari sampai masing-masing mereka sudah mencicip cairan memek Sari. Sari telah pasrah karena tenaganya habis sesudah 4x orgasme. Saat ini, Udin bertemu dgn memek Sari kembali dgn celananya yang telah merosot hingga k0ntol Udin terlepas keluar sangkarnya.
“akhirnye,,****** saya dapat merasakan memek perawan jg,,”, tutur Udin. Udin sangat semangat ingin selekasnya menusukkan k0ntolnya ke saat memek Sari.
“hoi !!”, teriak seorang. empat orang itu melihat ke sumber suara yang mereka dengar.
“siape lo?!”, bertanya Udin.
“jangan kacaukan ia !!”, teriak orang tersebut. Udin segera menggunakan celananya kembali.
“mao menjadi jawara lo?”. Bagus dan Maman melepas kaki Sari dan maju bersama Udin ke orang itu sementara Hari mengikat kaki dan tangan Sari dgn tali rafiah yang Hari mengambil dari warung Udin.
“lo semua,,jangan kacaukan tuch cewek !!”, kata orang tersebut.
“oh,,lo mao menjadi jawara lo yee,,”, kata Hari yang gabung dgn Udin, Bagus, dan Maman.
“cari mati die,,kite matiin aje nih orang,,agar kite dapat ngentotin perawan,,”.
“Gus,,Man,,maju lo bedua,,bantai ampe sanggups nih jawara kemaleman,,”, perintah Hari.
“oke bos,,”, jawab Bagus dan Maman maju merapat pada orang tersebut.
Bagus serang lebih dulu, ia melaygkan tinju kanannya ke orang tersebut. Orang itu menangkis dgn tangan kanannya, lantas selekasnya menyepak perut Bagus dgn cepat.
Walau cuma 1 kali sepakan, Bagus langsung sujud sekalian memegang perutnya dan meringis kesakitan. Maman serang orang itu dari belakang dgn melaygkan sebuah pukulan.
Tp, dgn cekatan orang itu menghindari ke kiri lantas gerakkan siku tangan kanannya untuk berkenaan perut Maman. Maman secara langsung kesakitan karena pukulan siku orang itu demikian kuat. Orang itu langsung lakukan sepakan berputar-putar ke belakang dan berkenaan muka Maman hingga Maman secara langsung terlontar ke samping.
“sialan lo !!”, Hari dan Udin langsung maju serang orang tersebut.
Tp, orang itu melaygkan 2 jurus sepakan saja, Udin dan Hari langsung kesakitan.
“awas lo ye,,!!”, ancem Hari sekalian kabur.
Udin, Bagus, dan Maman jg lari dgn benar-benar kuat. Orang itu dekati Sari yang tidak berbusana dan tidak memiliki daya karena kaki dan tangannya terlilit ke kursi.
“lo tidak apapun?”, kata orang itu sekalian melepas ikatan di kaki dan tangan Sari.
“terima kasih,,”, jawab Sari masih kurang kuat.
“nih,,pakai jaket saya,,”, orang itu menggunakankan jaketnya ke Sari sesudah Sari duduk di kursi.
“terima kasih Mas,,”.
“kenalin nama saya Eno,,”.
“nama saya Sari,,”.
Rupanya, Eno ialah sabuk hitam dalam Taekwondo hingga tidak bingung ia menaklukkan empat orang barusan dgn benar-benar gampang walaupun muka Eno tidak dekati kata tampan sedikit juga.
“ngapain lo malem-malem berada di luar?”.
“saya baru dateng dari dusun Mas,,”.
“oh,,pantes saja,,wajahnya masih polos,,terus saat ini mana celana kamu? saat tidak pakai celana seperti begini,,”.
“tidak tahu Mas,,”.
“yaudah,,lo pakai celana pelatihan saya saja,,”, kata Eno memberikan celana trainingnya yang ia mengambil dari dalam tasnya.
“terima kasih Mas,,”.
“lo ingin ke mana saat ini?”.
“mm,,saya ingin ke rumah saudara saya,,”, Sari bohong.
“ingin saya anter?”.
“ah,,tidak perlu Mas,,saya jalan sendirian saja,,”, Sari menampik penawaran dari Eno karena ia telah tidak yakin ke lelaki.
“yaudah,,tp saya anterin ke arah tempat yang lebih ramai ya?”.
“apa tidak ngerepotin?”.
“tidak apapun,,yok,,”. Eno jalan ke motornya yang diparkirkan cukup jauh dari warung.
Sari menggunakan celana pelatihan Eno hingga pada akhirnya, memek Sari tertutup jg.
Eno tiba dekati Sari dgn memakai motornya.
“mari,,naik,,”.
“iya Mas,,”. Sari naik membonceng ada di belakang lantas Eno memicu motornya menjauhi dari warung itu ke arah tempat yang lebih ramai.
“terima kasih ya Mas,,”, Sari turun dari motor.
“lo tidak pakai alas kaki ya dari barusan?”.
“iya,,Mas,,ilang,,”.
“oh,,kalau begitu pakai sendal saya saja,,nih,,”.
“nanti Mas bagaimana?”.
“sudah,,tidak apapun,,pakai saja,,tp betulan lo tidak apapun jalan sendiri?”.
“iya Mas,,tidak apapun,,terima kasih banyak sudah nyelametin saya Mas,,”.
“yaudah dech,,saya lebih dulu ya,,ati-ati lo,,”. Eno juga pergi tinggalkan Sari karena ia ada masalah penting.
Sari jalan sendiri kembali, tp ini kali ia menggunakan celana untuk tutupi sisi bawah badannya dan sendal membuat perlindungan kakinya.
Tenaga Sari tinggal seperempat saja hingga Sari cuma meng ikuti kakinya tanpa tahu arah dan tujuan. Kakinya bawa Sari ke sebuah komplek perumahan yang cukup elit. Seperti komplek yang lain, ada pos satpam dan portal saat sebelum masuk ke dalam komplek, tp keliatannya satpamnya sedang tidak ada.
Sari masuk ke dalam wilayah komplek itu dgn cara sempoyong karena ia sangat lemas. Baterai empty, please recharge. Tenaga Sari telah betul-betul tidak sisa kembali ini kali hingga Sari jatuh tidak sadarkan diri di muka sebuah rumah yang besar.
Dgn mata yang samar-samar, Sari menyaksikan ada seorang yang mengusung badannya. Kemudian, Sari sudah tidak sadar diri. Saat bangun, Sari telah ada di atas tempat tidur yang benar-benar empuk. Ia meregangkan badannya alias ngulet.
Baterai full. Tubuh Sari telah betul-betul fresh setelah tidur hingga Sari memilih untuk bangkit dari tempat tidur. Kamar itu demikian besar, luas, dan penuh dgn barang yang kelihatannya mahal. Sari tidak berani sentuh apapun karena takut ada yang pecah.
Itil V3
Sari jalan ke arah pintu kamar yang besar sekali. Sari buka pintu kamar itu dan jalan keluar kamar. Sari menelusuri rumah yang cukup besar itu dan cari sang pemilik rumah yang mungkin barusan sudah membawa masuk ke rumah.
Tp, walau dicari ke mana saja, Sari tidak temukan siapa saja di dalam rumah itu . Maka, Sari cuma duduk di atas sofa yang ada di ruangan tamu. Mendadak Sari dengar suara pintu terbuka. Seorang bapak masuk ke ruangan tamu.
“eh,,kamu sudah bangun?”.
“bapak siapa?”, bertanya Sari ketakutan.
“nama bapak,,Dirman,,kamu?”.
“nama saya Sari,,mengapa saya ada di sini?”.
“barusan kamu tidak sadarkan diri di muka rumah bapak,,jadi bapak membawa kamu ke dalam rumah,,”.
“maaf,,saya ngerepotin bapak,,”.
“mengapa nak Sari dapat tidak sadarkan diri?”.
“saya tersesat,,”.
“oh,,kalau begitu,,nak Sari tinggal di sini saja dahulu,,”.
“aduh,,maap pak,,saya tidak ingin ngerepotin,,”.
“tidak apapun,,tentu kamu lapar,,sudah lah,,malem ini nak Sari tinggal di sini dahulu,,”.
“tp jika saya tinggal di sini,,apa istri bapak tidak apapun?”.
“oh,,nak Sari tenang saja,,istri bapak sudah tidak ada,,”.
“oh,,maap Pak,,saya tidak berniat,,”.
“ah,,tidak apapun,,mari nak Sari,,kita makan,,”.
“tidak perlu Pak,,”.
“kruukk,,,~~”, bunyi dari perut Sari yang keroncongan membuat Sari tersipu malu.
“tuch kan,,sudah mari kita makan,,”, Pak Dirman tarik tangan kanan Sari dan membawa ke kamar makan.
Bacaan Seks Dewasa Karena Cuma Menggunakan Jaket di Setubuhi
Sekalian jalan ke kamar makan, pikiran Sari bercabang jadi 2. Yang satu, Sari deg-degan dan cemas dgn Pak Dirman yang duda karena Sari terpikir peristiwa bersama ayah angkatnya.
Dan, pikiran Sari yang lain menjelaskan jika ia pergi malam hari ini, ia akan kelaparan dan mungkin ia akan disetubuhi oleh preman-preman yang sedang mabuk . Maka, Sari sudah memutuskan untuk ada di rumah itu untuk tadi malam.
“saya nginep di sini dahulu dech,,sepertinya ni bapak tidak punyai pikiran macem-macem,,”, berpikir Sari.
Pak Dirman memang seperti terlihat bapak yang baik, tp who knows?.
“makanan siap Pak,,”, sapa orang yang berada di dekat meja makan.
“oh,,terima kasih To,,kamu telah makan, To?”.
“saya mah mudah, Pak,,saya izin dahulu ke belakang ya Pak,,”.
Parto jalan keluar dapur.
“mari,,nak Sari,,silahkan makan,,”.
“tidak apapun nih Pak Dirman?”.
“tidak apapun,,hayo cepat,,mumpung masih anget,,”. Pak Dirman duduk terlebih dahulu, diikuti Sari yang masih cukup malu duduk di atas meja makan.
“mari Sari,,tidak perlu malu,,mari makan,,”.
“iya Pak,,”. Pak Dirman mulai ambil makanan dan Sari cuma sedikit ambil makanan karena Sari masih cukup malu.
“mmmm,,Pak Dirman,,saya bisa menumpang ke kamar kecil?”.
“oh bisa,,nak Sari terus saja terus belok ke kiri,,nach ruang yang berada di kanan,,itu wc,,”.
“terima kasih Pak,,saya izin dahulu,,”.
“oh iya,,ya,,silahkan,,”. Sari meng ikuti instruksi panduan dari Pak Dirman hingga ia dapat temukan kamar mandi.
Sesudah membuang air kecil, Sari membersihkan tangannya di wastafel sekalian melihat kaca yang berada di depannya.
Sari menyaksikan bayang-bayang seorang gadis berparas elok dgn kulit muka putih merona. Bayang-bayang itu tidak lain dan tidak bukan ialah dirinya.
Damn, my beautiful face. Sari berpikiran jika saja mukanya tidak elok mungkin hidupnya tidak seperti saat ini, mungkin ia akan hidup berbahagia. Tp, apa ingin dikata. Muka tidak dapat ditukar, operasi plastik tidak mungkin Sari kerjakan karena kantongnya cuma berisi angin saja alias boke’. Sari balik lagi ke kamar makan dan duduk kembali di bangkunya.
“mari nak Sari,,makan kembali,,”.
“aduh,,saya sudah kenyg Pak,,”, kata Sari sekalian minum tersisa air minumnya.
“benar nak Sari sudah kenyg? tidak ingin tambah?”.
“terima kasih,,Pak,,saya sudah kenyg sekali,,”, Sari merasa matanya sangat berat dan habis-habisan menantang rasa mengantuk yang mendadak serangnya.
“walau sebenarnya saya baru tidur,,mengapa saya sudah mengantuk kembali?”, bertanya Sari dalam hati. Sari mengucek-ngucek matanya.
“mengapa? nak Sari mengantuk?”.
“iya nih Pak,,walau sebenarnya saya baru istirahat,,”.
“ya telah,,Parto !!”, Pak Dirman panggil Parto. Dalam kurun waktu sesaat, Parto telah tiba.
“ada apakah Pak?”.
“tolong antar Sari ke kamarnya,,”.
“baik, Pak,,”.
“silahkan,,nona Sari,,saya perlihatkan kamarnya,,”.
“terima kasih Mas Parto,,Pak Dirman,,maaf,,saya tidur lebih dulu,,”.
“oh,,ya,,tidak apapun,,nak Sari memang harus istirahat,,”.
“saya izin dahulu ya Pak Dirman,,terima kasih sekali,,sudah bolehin saya makan,,”.
“sudah,,nak Sari istirahat sana,,”. Sari jalan ada di belakang Parto ke arah kamarnya.
“di sini,,kamarnya nona,,”, Parto buka pintu sebuah kamar yang dalamnya cukup eksklusif.
“terima kasih,,Mas Parto,,”. Sari masuk ke kamarnya sementara Parto pergi tinggalkan Sari.
“pada akhirnya,,”, barusan Sari mengambrukkan badannya ke kasur, ia segera tertidur.
Rupanya, ada yang masukkan obat tidur ke minuman Sari. Obat tidur itu bereaksi dgn cepat, tetapi cuma sesaat membuat orang tertidur kemungkinan cuma 1-2 jam saja.
Sari terjaga dan mengetahui jika ia benar-benar tidak dapat gerakkan kaki dan tangannya. Tangan Sari terlilit ke tiang tempat tidur dan kaki Sari terlilit ke tiang tempat tidur yang lain hingga sekarang, Sari dalam posisi X.
“tolong,,!!”, teriak Sari kuat.
Seorang masuk langsung ke kamar Sari.
“tolong saya,,Pak Dirman”, pinta Sari dgn kuatir.
Pak Dirman merapat ke Sari yang telanjang dan terlilit ke tempat tidur.
“tolo,,”, Sari stop minta bantuan ke Pak Dirman karena ia menyaksikan Pak Dirman tersenyum curang dan sorot matanya seperti srigala lapar.
“tol,,mmffhh,,”, mulut Sari langsung dibukam oleh Pak Dirman.
“tidak nygka,,malem-malem,,dapat rezeki nomplok,,”. Pak Dirman naik ke atas tempat tidur dan duduk di muka selangkangan Sari yang lebar terbuka.
Pak Dirman menindih badan Sari lantas Pak Dirman melepas bungkaman di mulut Sari.
Kemuan Pak Dirman secara langsung membekap mulut Sari kembali, tp ini kali dgn mulutnya. Pak Dirman mengulum bibir atas dan bibir bawah Sari. Lantas Pak Dirman melumat bibir Sari mati-matian sekalian terus mainkan lidahnya dalam rongga mulut Sari. Sari sadar ia tidak dapat menantang seperti peristiwa-kejadian awalnya hingga Sari telah pasrah apa yang bisa terjadi nanti.
Pak Dirman betul-betul mencumbu Sari sepuasnya karena Pak Dirman terus melumat bibir Sari dgn benar-benar bergairah. Sesudah senang nikmati bibir Sari, Pak Dirman bangun dari atas badan Sari.
“tubuh kamu bagus sekali,,”.
“tolonngg !!”.
“sia-sia kamu minta bantuan,,mending kamu pasrah saja,,”. Pak Dirman mencengkeram ke-2 buah payudara Sari yang memiliki bentuk benar-benar cantik tersebut.
Pak Dirman meremas-remas ke-2 buah payudara Sari sekalian kadang-kadang mencubit payudara Sari. Lantas Pak Dirman dekatkan mukanya ke payudara Sari, ia mulai menciumi, menggigiti, mencupangi, dan menjilat-jilati ke-2 buah payudara Sari dan putingnya.
“oouuummhh,,”, sebuah desahan keluar mulut Sari.
Muka Sari merah seperti kepiting rebus karena ia tidak dapat meredam malu, barusan ia menampik habis-habisan, tp sekarang ia justru keluarkan desahan karena Sari tidak dapat memungkiri begitu enaknya lidah Pak Dirman yang menari-nari di payudaranya.
Pak Dirman turunkan kecupannya ke perut Sari. Pak Dirman mencucuk-cucukkan lidahnya ke pusar Sari. Lantas Pak Dirman menciumi perut Sari langsung ke bawah sampai pada akhirnya sampai jg di lembah kepuasan punya Sari.
“harum,,harum sekali,,”, komentar Pak Dirman sesudah ia mengisap wewangian harum yang merebak di wilayah selangkangan Sari.
Pak Dirman turun dari tempat tidur, ia buka ikatan kaki kiri Sari lantas Pak Dirman mengikat kaki kiri Sari semakin tinggi selanjutnya Pak Dirman jg lakukan hal yang sama ke kaki kanan Sari hingga saat ini kaki Sari membubung ke atas seperti huruf V.
“nach,,kalau begini kan lebih mudah,,”. Pak Dirman naik ke atas tempat tidur dan posisi kepalanya telah ada di paha putih yang mulus Sari.
Pak Dirman mengawali dgn mengecup klitoris Sari berkali-kali hingga sebagai tanggapan, badan Sari menggeliat.
“saat ini sedap kan? karena itu,,kamu tidak perlu ngelawan kembali,,”, ledek Pak Dirman.
Sari merasa seperti wanita murahan karena ia demikian nikmati lidah Pak Dirman yang saat ini telah menelusuri sekitaran memeknya.
“mmmhhh,,”, desah Sari perlahan.
Pak Dirman memperlebar ke-2 bibir memek Sari hingga Pak Dirman dapat menyaksikan sisi dalam dari memek Sari yang tetap kelihatan merah memikat.
“jangan-jangan kamu masih perawan ya? untungnya malem ini,,”. Lidah Pak Dirman telah mengaduk-aduk lubang memek Sari.
“ooohhhh,,!!”, erang Sari memperoleh orgasmenya.
Pak Dirman tidak yakin dgn rasa cairan memek Sari. Manis, renyah, dan sedikit rasa asin bercampur dgn formasi yang benar-benar cocok hingga Pak Dirman mengais-ngais tersisa cairan memek Sari sampai tidak ada tersisa setetes juga.
Benjolan di celana Pak Dirman telah besar sekali yang mengisyaratkan jika Pak Dirman telah horny berat. Pak Dirman secara langsung menanggalkan baju dan celananya sendiri sampai perutnya yang buncit dapat disaksikan oleh Sari. Sari benar-benar terkejut menyaksikan apa yang mengacungkan tegak di bawah perut Pak Dirman.
K0ntol pertama yang Sari saksikan ialah k0ntol ayah angkatnya, dan k0ntol Pak Dirman semakin lebih besar.
“jangan,,”, lirih Sari perlahan.
Pak Dirman tidak menghiraukan Sari, Pak Dirman justru telah bersiap-sedia mencoblos memek Sari. Kepala k0ntol Pak Dirman telah ada di depan lubang memek Sari.
“tidaakk,,!!”, teriak Sari dgn suaranya yang kurang kuat halus.
Air mata Sari mengucur dari ke-2 matanya karena Sari tahu jika keperawanannya sudah tidak selamat kembali karena ia tidak dapat lakukan perlawanan. Pak Dirman menggerakkan k0ntolnya ke saat memek Sari. Perlahan-lahan tp tentu, k0ntol Pak Dirman menyelusup masuk ke dalam saat memek Sari.
“uugghh,,sempithh,,”, celoteh Pak Dirman sekalian menekan k0ntolnya ke saat memek Sari yang benar-benar kuat menjepit k0ntol Pak Dirman karena memek Sari masih sempit dan rapet..pet..pet. Good bye virginity, welcome paradise.
Sari rasakan ada yang robek di saat memeknya.
“nngghh,,,”, Sari terus menangis sekalian meringis kesakitan yang hebat karena Sari rasakan memeknya seperti kebakar dan melebar sampai seoptimal mungkin.
K0ntol Pak Dirman telah seutuhnya ada di saat memek Sari, Pak Dirman rasakan lubang memek Sari memijit dan menjepit k0ntolnya dgn benar-benar kuat.
“oohh,,sedap sekali,,”, desah Pak Dirman.
Lantas Pak Dirman menyaksikan ke k0ntolnya, sedikit ada darah yang menyelip keluar memek Sari.
“rupanya,,kamu benar-benar masih perawan ya,,tidak nygka,,saya untung sekali malam hari ini,,”. Sari cuma menangis saja.
“kalau begitu,,maennya perlahan-lahan saja ya,,”. Pak Dirman mulai memaju-mundurkan pinggulnya dgn benar-benar perlahan.
“heenngghh,,”, Sari tetap rasakan pedih sekalian bersedih.
Saat ini k0ntol Pak Dirman masuk keluar memek Sari bisa lebih cepat dari awal sebelumnya dan semakin bertambah cepat sampai mungkin 8 kali/detik. Sekalian mengaduk-aduk memek Sari yang hebat sempit itu, Pak Dirman membelai ke-2 buah payudara Sari dgn lidahnya.
“uummmhhh,,”, Sari mendesah karena rasa pedih yang ia rasa telah lenyap hingga tinggal rasa nikmat saja yang Sari merasai.
Air mata Sari juga telah tidak keluar kembali karena mata Sari telah kering.
“nach,,mulai sedap ya?”, ledek Pak Dirman menyaksikan Sari yang mulai kenikmatan. Rasa malu dan nista serang Sari hingga Sari melihatkan kepalanya ke kiri dan tutup matanya, tp Sari tidak dapat stop mendesah karena itu ialah lolongan jiwanya.
Pak Dirman menciumi leher Sari membuat Sari bergidik karena geli.
“aaahhh,,”, saluran listrik menyebar di sekujur badan Sari yang mengisyaratkan jika ia telah capai orgasme pertama kalinya.
“ccppllkk,,ccppllkk,,”, suara k0ntol Pak Dirman yang masuk keluar memek Sari yang sekarang telah becek karena cairan memek Sari sendiri.
Capitan memek Sari dan rasa hangat dari cairan memek Sari membuat Pak Dirman kerasan biarkan k0ntolnya lama-lama di saat memek Sari hingga Pak Dirman memacu memek Sari dgn tempo yang lamban.
“ooohh,,yeesshh,,”, erang Pak Dirman karena ia sedang menembaki kandungan Sari dgn spermanya.
Pak Dirman betul-betul senang nikmati bermainnya dgn Sari yang barusan usai. Walaupun berkeringat, tp badan Sari masih tetap keluarkan wewangian harum yang sedap untuk dihirup.
“ploop,,”, Pak Dirman mengambil k0ntolnya dari memek Sari. Cairan merah muda langsung menetes keluar memek Sari.
Cairan merah muda itu dibuat dari kombinasi darah keperawanan Sari, cairan memek Sari, dan sperma Pak Dirman yang bercampur dgn rata di saat memek Sari.
“wah,,sudah jam 2 malem,,esok harus bangun pagi,,kita lanjutin esok ya,,hehe”, kata Pak Dirman sekalian mencubit pipi Sari yang lembut tersebut.
Lantas Pak Dirman tinggalkan Sari yang tetap terlilit ke tempat tidur. Sari menangis kembali karena keperawanannya barusan direnggut oleh Pak Dirman, orang yang barusan ia mengenal, mending jika tampan, muka Pak Dirman benar-benar tidak ada segi baiknya. Pak Dirman lagi kembali ke kamar Sari.
“saya lupa,,”. Pak Dirman menggenggam dildo yang besar pada tangan kanannya dan menggenggam lakban dan gunting pada tangan kirinya.
Pak Dirman merapat ke Sari, lantas Pak Dirman menanamkan dildo ke memek Sari.
“nnghh,,”, Sari meredam pedih karena dildo itu cukup besar.
Tangkai dildo itu telah tertancap di saat memek Sari, lantas Pak Dirman memencet tombol on yang berada di pangkal dildo.
“mmmppphhhh,,”, Sari mendesah saat dildo itu mulai bergerak dan berputar di saat memeknya. Pak Dirman tutupi pegangan dildo itu dgn lakban secara horizontal dan vertical hingga membuat pertanda ‘+’.
“selamat tidur ya,,bidadari elok,,hehe,,”, Pak Dirman tinggalkan Sari yang terlilit ke tempat tidur dgn dildo yang mengobok-obok memek Sari.
Orgasme untuk orgasme Sari peroleh dari dildo yang terus mengobok-obok memeknya sepanjang malam hingga tenaga Sari habis hingga Sari juga tidak sadarkan diri.
Lakban membuat dildo itu tidak bisa bergerak ke mana saja hingga dildo itu tertanam di memek Sari sampai esok pagi. Mendadak pintu kamar Sari terbuka, dan masuk seorang yang telah tidak asing ke kamar Sari.
“hehehe,,”, orang itu tersenyum curang menyaksikan badan putih mulus Sari yang terbujur kurang kuat dan tidak memiliki daya di atas tempat tidur.
“akan senang nih,,hehehehehehe,,”.


Duniabola99.com – Gw Bram (nama samaran) pria yg sudah beristri, umur gw 35 th sedang istri 28 th… gw berumah tangga dan mempunyai rumah sendiri, letak rumah ibu mertua gw gak jauh dari rumah gw, sekitar 3 km an kurang lebih … tiap hari sabtu gw dan istri selalu bersilahturahmi dengan ibu mertua gw, secara ibu mertua tinggal sendiri dan sudah menjanda 2 th an.
Perlu agan tau setiap hari sabtu gw dan istri selalu menginap di rumah ibu, tidak ada hal yg istimewa setiap minggu nya pada saat itu, begitu juga dengan minggu minggu sebelumnya. semua berlalu dan berjalan normal-normal saja.
Gw bekerja di salah satu leasing motor terkenal di kota gw, saat itu hari panas nya luar biasa, akhirnya gw memutuskan untuk mampir ke rumah ibu yg letaknya tak jauh dari klien gw, niat gw saat itu cuma ingin istirahat plus minum air dingin gan ..
tibalah gw dirumah ibu mertua, saat itu keadaan rumah dengan pintu yang tertutup, benar saja ternyata pintu tersebut tidak dikunci sama ibu mertua gw, langsung kedapur buka kulkas dan minum gan, karena kondisi rumah sepi suara siulan senyap pun gw rasa saat itu pasti terdengar gan,
saat itu gw denger suara cik cik cik cik .. gw denger lama banget cik cik cik begitu dan begitu, sumber suara tersebut tidak jauh dari dapur dan ternyata di kamar belakang gan, gw memutuskan untuk melihat sumber suara tst, seperti berada dirumah sendiri gw langsung buka pintu tsb yg tidak terkuci ….
kaget gw bukan main melihat ibu mertua dengan keadaan telanjang sedang ber masturbasi menggunakan tangan nya sendiri, gw kaget luar biasa saat itu gan, begitu juga ibu mertua gw spontan teriak karena kaget jg, gw langsung lari keluar kamar dan duduk di depan rumah gan … dag dig dug perasaan gw saat itu,
gw gak percaya melihat ibu mertua sedang melakukan masturbasi padahal selama ini gw ngecap dia sebagai wanita yg alim gan, ibadahnya rajin …. serba salah akhirnya gw, tp gw memutuskan untuk kembali ke dalam rumah, tak lama ibu mertua gw pun melintas di depan gw seolah tak ada orang disitu ibu mertua cuekin gw gitu aja,
mungkin dia malu karena kepergok lg masturbasi sm gw, pikiran gw saat itu mesum banget, entah setan apa yg ngeracuni pikiran gw, yg ada dipikiran gw saat itu cuma pengen ngewe ibu mertua, lama gw tunggu ibu mertua gak kunjung keluar dari kamar gan, hampir sejam gw tunggu tp tetep gak keluar kamar juga, akhirnya gw memberanikan diri mengetuk pintu kamar ibu mertua …
tok tok tok (gw mengetuk pintu)
gw : bu.. bu..
Beberapa kali gw ketuk pintu gak ada sautan juga … akhirnya gw buka pintunya, ternyata ibu mertua sedang nangis tersedu-sedu …
gw : bu, ibu tidak apa2 kan ? ibu sakit ? (alesan gw membuka pembicaraan gan)
ibu : bram … (saut ibu) km jangan bilang siapa2 ya perihal ibu masturbasi tadi, ibu malu sekali bram (sesekali sambil menangis)
ibu : ibu khilaf bram … maafin ibu …
gw : (saat itu pikiran & niat gw emang mesum gan, gw pikir ini fantasi gw yang jadi kenyataan gan, sesekali liat badan ibu mertua yg tinggi besar, chubby dan montok,
Gambaran ibu mertua gw, umur 45 th an kulit putih, badan bersih, rambut tebal dan cantik persis kyk istri gw)
gw : tidak apa2 bu, ibu jangan khawatir, sy tidak akan memceritakan perihal tadi kpd siapapun jg …
ibu : (tak bisa mengucapkan kata2, gw pikir karena malu, nangis tersedu-sedu)
gw : (terus melihat badan ibu mertua dari atas ke bawah begitu seterusnya, gw pun memberanikan diri memeluk ibu mertua gw gan, serontak ibu mertua kaget dan melihat
Gw dengan rasa ketakutan, tp bagusnya ibu mertua gak melepaskan pelukan gw gan, pikiran gw makin mesum saat itu)
gw : bu, sudah lah jangan ditangisi itu, bram tidak akan bercerita kok bu ….
sampai akhirnya perbicaraan gw dengan ibu mertua berlangsung lama dan melelehkan suasana menjadi santai … padahal gw udah sange bgt saat itu, tp takut ditambah dag dig dug tak karuan, antara berani dan takut salah jalan .. akhirnya gw memutuskan kembali kedapur untuk mengambil air minum alesan gw kpd ibu mertua, saat itu gw merancang strategi yg bagus pada saat itu,
akhirnya gw memutuskan sms kepada ibu mertua gw karena gw takut banget klo ngomong langsung gan .. kurang lebih isi sms nya kyk gini : “bu, klo boleh bram kepengen liat ibu kyk tadi dikamar belakang”, terkirimlah pesan pendek tsb, tak lama balesan nyapun datang gan (yesss perasaan gw saat itu),
“maksud km apa bram, ibu tak mengerti” bales pesan dari ibu mertua, gw bales lagi “jujur bu, pas yadi lihat ibu dikamar dengan keadaan tanpa busana, bram jadi kepengen bu, hehe”, balesan ibu mertua “km kepengen apa bram, ibu makin tidak mengerti”, gw pikir pura2 bego doang itu ibu mertua, gw bales sms tsb to the poin gw gan ..
“bram kepengen jilat memek ibu”, dag dig dug tunggu balesan dari ibu tak kunjung datang … saat itu gw masih di dapur gan, takut luar biasa karena isi sms mesum gw tadi, 15 menit gw tunggu tp balesan tak kunjung datang, gw pun memberanikan diri kembali menghampiri ibu mertua yg berada di kamar tsb. gw hanya memandang ibu dan ibu pun memandang gw dengan ekspresi wajah yg malu2 dan genit, gw pun duduk disamping ibu …
gw : bu, kok sms dari bram gak dibales, kenapa bu ??
ibu : (tersenyum) kamu kok berani sama ibu mertua mu bilang spt itu (tp dengan suara yg manja dan genit)
gw : boleh gak bu ? bram pengen bgt bu (pembicaraan mesum gw mulai ditanggapi ibu saat itu)
ibu : jijik bram, masa itu ibu dijilat sih ? km mau memangnya ?
gw : mau banget bu .. boleh ya buuuu … (saut gw sambil merayu)
ibu : terserah klo memang km mau bram (perasaan gw yesssss akhirnya gw bakal ngewe sm ibu mertua gw)
pelan pelan gw merebahkan badan ibu mertua yg sedang duduk, gw buka daster ibu mertua, lalu gw buka selangkangan ibu gan … nafsu gw memuncak disaat lihat memek ibu mertua dengan jelas dan dekat, bulu bulu yg lebat dan terlihat basah, tak ambil lama gw pun langsung ambil posisi oral seks kepada ibu mertua, pelan pelan gw jilatin memek ibu mertua, becek bgt memeknya, bau memek nya tercium saat itu, sampe 5 menit gw jilatin memek ibu mertua …
ibu : bram cepet masukan aja, ibu sudah tak kuat … (sahut ibu)
gw langsung buka daster ibu mertua sampe bugil, begitu jg baju dan celana gw, sleb …. kontol gw masuk kedalam memek ibu mertua gw, enaknya luar biasa, badan ibu mertua yg chubby memang enak buat dipakenya gan … persetubuhan ku berlangsung 15 menit sampai akhirnya sperma ku dikeluarkan di dalam memek ibu mertua …
ibu : aduh bram kenapa dikeluarin di dalem ibu sudah tak pakai KB lagi bram …
gw : besok ibu pakai KB aja ya, biar bram bisa beginian lagi sm ibu (canda gw)
ibu : bram … jaga rahasia kt ya, klo kt sudah melakukan perbuatan spt ini …
gw : iya bu … (sesekali mengecup kening ibu mertua)
gw pun pulang dengan rasa amat seneng gan saat itu, gw berasa punya istri 2, yg satu anaknya yg satu ibunya, gila banget pengalaman gw hari itu, hampir setiap hari gw mampir dan ngewe sama ibu mertua, ternyata ibu mertua gw memang hyper sex, sampe2 bool nya pun pengen di ewe sm gw, permainan seks nya melebihi dari anak nya, betah yg gw rasain sampe2 tiap hari gw mampir kerumah ibu mertua … yg bikin gw nafsu ibu mertua mempunyai bentuk memek yang tebal dan chubby gan, bulunya banyak dan becek, bau memek nya apalagi bikin gw rela ceraiin istri gw.

setiap hari gw jilatin memek ibu mertua gan, ngewe dan ngewe setiap hari …. sampai saat ini pun masih berlanjut dan ibu mertua berhenti masturbasi.


Duniabola99.com – foto cewek cantik berambut coklat memakai gaun tipis tembus pandang dan membukannya menampakkan toketnya yang bulat baru tumbuh berwarna pink sambil memainkan memeknya dengan jari-jarinya diatas ranjang.
Foto cewek pangilan, Foto model asia seksi mulus, Fodel indonesia seksi mulus, Foto tante girang, Foto tante seksi, cewek pangilan, cewek boking, Koleksi foto cewek cantik, Kumpulan Foto Wanita Cantik, Kumpulan Foto Gadis Sunda Cantik, 7 Cewek Canti,



Duniabola99.com – foto pelacur cantik pirang toket menggoda melepas roknya memperlihatkan memeknya kepada pacar teman baiknya dan melakukan hubungan sex ngentot didalam toilet dengan gaya doggystyle yang hot dan menelan semua air mani yang dikeluarkan ini beberapa foto dari Alix Lynx. Agen Judi Bola Sbobet


Duniabola99.com – Kejadian ini aku alami saat aku masih bekerja part-time di salah satu lembaga pendidikan komputer di Jakarta. Waktu itu salah seorang temanku ada yang menawarkan lowongan di tempat tersebut sebagai instruktur komputer part-time. Aku pikir boleh juga, toh mata kuliahku juga tinggal sedikit sehingga dalam seminggu paling cuma dua hari kuliah. Sisanya ya nongkrong di tempat kost atau jalan sama temen-temen.
Kira-kira di bulan ketiga aku menjadi instruktur, aku mendapat murid yang mengambil kelas privat untuk Microsoft Office for Beginner. Sebetulnya aku paling malas mengajar beginner di kelas privat. Toh kalo cuma pengenalan ngapain mesti privat. Kalo advanced sih ketauan. Hampir saja aku tolak kalau waktu itu aku tidak melihat calon muridku tersebut.
Namanya Felice, siswi kelas tiga SMU di salah satu sekolah swasta yang cukup borju di Jakarta. Secara tak sengaja aku melihatnya mendaftar diantar maminya, saat aku mau mengambil beberapa CD di ruang administrasi. Tubuh Felice terbilang tinggi untuk gadis seusianya, mungkin sekitar 168 cm (aku mengetahuinya karena saat dia berdiri tingginya kira-kira sedaguku, sementara tinggiku 182 cm) dengan berat mungkin 45-an kg. Kulitnya putih bersih, wajahnya oval dengan kedua mata yang cukup tajam, hidung yang mancung dan bibir yang mungil. Rambut coklatnya yang dihighlight kuning keemasan tergerai sebatas tali bra.
Felice cukup cepat menangkap materi yang kuberikan. Materi beginner yang sedianya diselesaikan 24 session, dituntaskan Felice hanya dengan 19 session. Apa boleh buat, sisa waktu yang ada hanya bisa kugunakan untuk memberinya latihan-latihan, karena kebijakan dari lembaga pendidikan tidak memperbolehkan murid mengakhiri term meskipun materi telah selesai. Aku juga tidak diperbolehkan memberi materi yang lebih dari kurikulum yang diambil si murid. Ya sudah, aku hanya menjaga integritas saja.
Di sisa session, sambil latihan aku banyak mengobrol dengan Felice. Gadis manis itu sangat terbuka sekali denganku. Felice cerita mulai dari keinginannya kursus untuk persiapan kuliah di bidang kesekretarisan nanti, tentang pacarnya, keluarganya yang jarang memberinya perhatian karena kedua orang tuanya sangat sibuk, sampai urusan.. ehm seks. Aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa Felice sudah mulai berhubungan seks semenjak kelas tiga SMP dengan pacarnya yang berusia 7 tahun lebih tua darinya. Semenjak itu Felice merasa ketagihan dan selalu mencari cara untuk memuaskan nafsunya. Dia pernah pacaran dengan 4 cowo sekaligus hanya untuk mendapatkan kepuasan seksnya.
Kami saling bertukar cerita. Dan Felice juga terkejut ketika mengetahui bahwa hubungan badanku yang pertama malah dengan ibu kost. Kami pun banyak bertukar pengalaman. Sampai akhirnya Felice telah menyelesaikan term kursusnya, kami tetap kontak lewat telephone.
Suatu ketika Felice memintaku untuk mengajar di rumahnya. Rupanya setelah mahir menggunakan Microsoft Office, banyak teman-teman sekolahnya yang tertarik ingin belajar juga. Felice pun menawarkan mereka untuk ‘main belakang’. Karena biaya kursus di lembaga tempatku mengajar cukup mahal, Felice mengajak teman-temannya untuk membayarku mengajar di rumahnya dengan separuh harga. Sementara mereka minta kepada orang tua mereka harga kursus di lembaga.
Felice and the gank ada enam orang termasuk Felice sendiri. Dan aku baru tahu bahwa mereka korban kesibukan orang tuanya masing-masing. Yah, tipikal anak-anak metropolitan yang diberi kasih sayang hanya dengan uang. Angie, Vanya, Sisil, Lala dan Ike adalah teman-teman sekolah Felice. Seru juga ngajarin mereka. Kadang aku mesti meladeni candaan mereka, atau rela menjadi bahan ledekan (karena hanya aku yang cowo).
Hari itu baru jam 11 ketika Felice meneleponku. Dia memintaku untuk datang lebih cepat dari waktu belajar biasanya. Aku oke-oke saja karena waktunya memang cocok. Jam 2 aku sudah berada di rumah Felice.
“Tumben Fel, jam segini udah nyuruh gue dateng.” tanyaku.
“Iya, lagi bete..” jawabnya dengan wajah agak kusut. Aku mengacak-acak rambutnya pelan, lalu mencubit hidungnya.
“Kenapa nih? Cerita dong..” Felice tersenyum sambil mencubit pinggangku. Tiba-tiba gadis itu menarik lenganku dan mengajak ke kamar tidurnya.
“Hei..hei.. apa-apaan nih..” seruku.
“Nggak apa-apa hihihi..” Felice terus menarikku hingga ke atas ranjangnya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera merengkuh tubuh langsingnya yang terbungkus kaus ketat dan celana pendek. Aku lumat bibir mungilnya yang lembut.
“Mmmhh.. mm..” bibir kami saling melumat. Felice kelihatan asyik sekali menikmati bibirku. Kedua tangannya sampai meremas rambutku. Sementara kedua tanganku masuk dari bawah kaus untuk merengkuh payudaranya yang masih terbungkus bra. Ugh.. bulat sekali, bentuknya betul-betul sempurna. Aku meremas-remas payudara Felice. Gadis itu semakin bernafsu. Lidahnya semakin liar menjelajahi mulutku, dan remasan tangannya semakin erat.
Tanpa aku minta Felice melepas sendiri kaus yang ‘mengganggunya’ berikut dengan bra-nya. Hmm.. terlihat jelas sudah dua gundukan payudaranya yang bulat dan montok. Yang aku heran kenapa kedua puting susunya masih berwarna merah muda. Padahal Felice cerita bahwa dia sudah sering sekali berhubungan badan. Tanpa ampun aku langsung menyambar payudaranya dengan mulutku. Lidahku menari-nari lincah mengikuti lekukan payudaranya yang indah.
“Sshh.. Riioo.. aahh..” Felice mendesah keasyikkan. Kepalaku dipeluk erat ke dadanya. Upss.. hampir aku sesak nafas dibuatnya. Lidahku terus bermain di kedua payudaranya. Juga putingnya. Hhmm.. nikmat sekali, putingnya betul-betul kenyal. Aku menggigitinya pelan-pelan untuk memberikan sensasi di puting Felice.
“Aahh.. Yoo..” tubuh Felice menggelinjang menahan rasa nikmat. Kami saling berpelukan erat, dan tubuh kami bergulingan tak karuan di atas ranjang. Gairah Felice semakin memuncak. Dengan liar gadis itu mencopoti semua kancing bajuku dan menanggalkannya dari tubuhku.
“Uuhh.. awas ya, sekarang gantian..” katanya. Aku diam saja ketika Felice dengan penuh hasrat melepas celana panjang dan celana dalamku. Tubuhku sudah bugil tanpa busana.
Dengan penuh nafsu, Felice langsung menyambar batang penisku yang mulai mengeras, dan mengisapnya. Aku tersenyum melihat gayanya yang buas. Aku sedikit memiringkan tubuhku agar bisa mencapai celana pendeknya. Tanpa kesulitan aku melepas celana pendeknya dari tubuh Felice, sekaligus dengan celana dalamnya. Hmm.. paha gadis itu benar-benar putih dan mulus. Aku segera merangkul kedua pahanya untuk melumat kemaluan Felice yang tersembunyi di pangkal pahanya.
Kami ‘terjebak’ dalam posisi 69. Dengan liar lidahku menjelajahi permukaan vagina Felice. Jemari-jemariku membantu membeleknya. Aahh.. aroma khas itu langsung tercium. Aku langsung mengulum klitoris Felice yang seolah melambai padaku.
“Uughh.. aahh.. Yoo.. gila lo.. aahh..” Felice sampai menghentikan kulumannya di penisku untuk meresapi kenikmatan yang kuberikan di vaginanya. Aku tak mempedulikan desahan Felice yang keasyikan, lidahku semakin liar menjelajahi vaginanya. Klitoris Felice sampai basah mengkilat oleh air liurku.
Tak tahan oleh kenikmatan yang kuberikan lewat mulut, Felice segera bangkit dari posisinya dan memutar tubuhnya yang indah. Dalam sesaat saja tubuh putih mulus itu telah menindih tubuhku. Kedua tangannya bertumpu di ranjang mengapit leherku.
“Come on Yo.. give me the real one.. sshh..” desahnya penuh nafsu sambil mendekatkan vaginanya ke batang penisku. Aku membantunya dengan menuntun penisku untuk masuk ke dalam liang kenikmatan itu. Ssllpp.. bbleess..
“Sshh.. sshh.. oohh.. Yoo..” Felice merintih keasyikan seiring dengan tubuhnya yang naik turun. Sementara kedua tanganku asyik memainkan kedua puting susunya yang kenyal. Bibir mungil Felice yang terus mendesah kubungkam dengan bibirku. Lidahku bermain menjelajahi rongga mulutnya. Tubuh Felice mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang kuberikan dari segala arah. Pantatnya semakin cepat naik-turun.
Dengan gemas aku memeluk tubuh indah itu, dan berguling ke arah yang berlawanan. Sekarang aku yang menguasai permainan. Felice merentangkan kedua belah kakinya yang putih mulus itu. Tanpa ampun aku kembali menghujamkan batang penisku yang sudah basah ke dalam vaginanya. Felice kembali merintih tak karuan. Sementara kedua tanganku bergerilnya menjelahai pahanya yang mulus. Dengan jemariku aku berikan sensasi di sekitar paha, pantat dan selangkangan Felice. Tubuh Felice semakin menggelinjang. Gadis itu tak kuasa lagi menahan nikmat yang dirasakannya. Dinding vaginanya mulai berdenyut.
“Rioo.. sshh.. aahh..” akhirnya Felice mencapai klimaksnya. Cairan kewanitaannya membanjiri penisku di dalam sana. Tubuhnya langsung tergolek pasrah. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Tiba-tiba Felice merengkuh leherku dan mendekatkan ke wajahnya.
“Awas ya, bentar lagi tunggu pembalasan gue..” desahnya dengan nada menantang.
“Coba kalo bisa, gue mau liat..” jawabku balik menantang seraya mengecup bibirnya. Kemudian kami bersih-bersih bersama di kamar mandi. Aku dan Felice mengulangi lagi permainan tadi di kamar mandi, dan untuk kedua kalinya gadis manis itu mencapai klimaksnya.
Sekitar jam setengah empat sore sebenarnya waktu belajar akan dimulai, namun Felice memaksaku untuk melakukannya sekali lagi di ranjangnya. Gadis itu penasaran sekali karena aku belum mencapai klimaks. Semula aku menolak karena takut sebentar lagi yang lain datang. Namun Felice membungkam mulutku dengan puting susunya. Apa boleh buat, kami kembali melanjutkan permainan.
Benar saja, sepuluh menit sebelum jam empat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Rupanya kami baru sadar kalau pintu depan dari tadi tidak dikunci. Sisil dan Ike yang baru saja datang langsung nyelonong ke kamar setelah tidak mendapatkan Felice di ruangan lain.
“Hei.. gila lo berdua..!!” Sisil menjerit heboh. Aku dan Felice yang sedang dalam posisi doggie style terkejut dengan kedatangan mereka. Aku menatap Felice dengan bingung, tapi gadis itu tenang-tenang saja.
“Aduh Fel, lo kok gak bilang-bilang sih kalo mo barbequean.. ajak-ajak dong..” cetus Ike tak kalah hebohnya. Felice menanggapi dengan tenang.
“Udah nggak usah ribut, lo join aja langsung sini..” tanpa dikomando dua kali kedua gadis itu langsung melepas pakaiannya dan bergabung dengan aku dan Felice di ranjang. Hmm.. aroma sabun dan shampoo yang masih segar segera tercium karena mereka berdua baru saja mandi.
Entah kenapa hari itu Angie, Vanya dan Lala kebetulan tidak datang. Angie sempat menelpon untuk memberitahu bahwa dia harus mengantar kakaknya ke dokter. Vanya ada acara weekend dengan keluarganya, sehingga harus berangkat sore itu juga. Sedangkan Lala tidak ada kabar.
Hari itu otomatis tidak ada session. Kami berempat bersenang-senang di kamar Felice sampai menjelang malam. Aku sempat tiga kali mencapai klimaks. Yang pertama saat dengan Felice, tapi aku harus membuang spermaku di mulutnya karena Felice tidak mau ambil resiko. Klimaks yang kedua ketika Ike dan Felice melumat batang penisku berdua. Aku betul-betul tak tahan saat mulut mereka mengapit batang penisku dari sisi kiri dan kanan. Dan yang terakhir aku tuntaskan di dalam vagina Sisil. Semula aku akan mencabut penisku untuk mengeluarkan spermaku di luar. Namun Sisil yang sudah kepalang nafsu malah mempererat pelukannya di tubuhku, hingga akhirnya spermaku menyembur di dalam. Dan pada saat yang bersamaan Sisil juga mencapai klimaksnya.
Setelah makan malam, Sisil dan Ike menelpon ke rumah masing-masing untuk memberitahu bahwa mereka menginap. Dan kami pun mengulangi kenikmatan-kenikmatan itu semalam suntuk. Di rumah Felice betul-betul bebas, sehingga permainan kami berempat betul-betul variatif. Kadang di ranjang, di ruang tamu, di sofa, di meja makan, di kamar mandi, di kolam renang. Yang paling gila waktu Ike mengajakku bermain di gazebo kecil yang dibangun di halaman belakang rumah Felice. Waktu itu sudah jam 1 pagi. Asyik sekali ditemani hawa dingin kami saling menghangatkan.
Malam itu aku betul-betul akrab dengan Sisil dan Ike. Tak seperti sebelumnya, meskipun akrab namun mereka masih menganggapku seperti guru mereka, jadi masih ada rasa segan. Dari obrolan kami, aku mengetahui bahwa sebetulnya mereka berenam sama-sama pecandu seks. Felice cerita bahwa mereka sering sekali ngerjain anak-anak kelas satu yang baru di sekolah mereka. Rumah Felice ini sering sekali dijadikan ajang pesta seks mereka. Aku sampai geleng-geleng mendengar kegilaan mereka.
Hari-hari berikutnya aku jadi akrab dengan mereka berenam. Di kesempatan lain aku berhasil menikmati tubuh keenam abg itu pada hari yang sama. Hubungan aku dan mereka sempat berlangsung lama, hingga akhirnya setelah mereka lulus sekolah dan mereka saling berpencar. Vanya, Sisil dan Lala melanjutkan studi mereka ke Aussie, sedangkan Ike memilih belajar di USA, Angie dan Felice sama-sama ke Singapore. Tapi kami masih kontak via chat dan email. Beberapa bulan lagi rencananya mereka akan sama-sama pulang ke Indonesia, dan kami sudah mempersiapkan rencana pesta yang luar biasa. Tunggu aja ceritanya..
Kisah Seks, Cerita Sex, Cerita Panas, Cerita Bokep, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Sex Bergambar, Cerita ABG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex Pasutri


Duniabola99.com – Namaku rudi, usiaku 26 tahun, aku telah berumah tangga, tepat di deket rumahku tinggal seorang wanita cantik berusia sekitar 35 tahunan, tanpa suami tinggal sendiri, namanya irma dia karyawan sebuah bank swasta di kotaku menurut tetangga dia istri simpanan dari seorang pejabat.
cerita ini bermula ketika suatu pagi aku sekitar pukul 5 aku sedang lari pagi, lewat depan rumah mbaku irma, komplek rumahku memang masi sepi kalau jam segitu, tanpa sengaja aku melihat mbak irma hanya menggunakan pakaian dalam membuka gorden yang menutupi jendelanya, dengan tersipu malu mbak irma langsung lari masuk ke ruangan ternyata dia juga tahu kalau aku melihatnya. sejak saat itu aku selalu memikirkan mbak irma meski aku sudah punya istri, istriku lah yang menjadi pelampiasan ku setiap sehabis melihat mbak irma pulang kerja.
suatu hari istriku pergi ke rumah ibu nya di luar kota, aku tidaku bisa menemani karna memang banyak pekerjaan di kantor. aku berpikir inilah kesempatanku mendekati mbak irma, karena istriku akan di rumah ibunya selama seminggu, tapi apa cukup waktu segitu, cara demi cara aku pikirkan namun semuanya bakal buntu.
Ke esokan harinya aku menyempatkan lari pagi, aku lihat rumah mbak irma masih nyala lampunya, ah sepertinya dia masi tidur aku berputar memutari komplek,, tak lama kemudian aku melihat dia baru saja datang dengan mengendarai sepeda, membuka pagar rumahnya, suasana memang sepi sekali,aku pun berusaha mendekat
“hi mbak, darimana nih??” sapaku
“dari rumah temen mas” wajahnya yang menantang menjawabku
“nginep ya mbak?”
“iya mas” sambil gugup dia menjawabku sepertinya dia masi malu waktu itu pernah ku lihat hanya berpakaian dalam.
“ya sudah mbak capek kayaknya tuh mata masih merah, aku pulang dulu mbak, bersih2 rumah ga ada istri soalnya”
“hehe iya, emangnya kemana mbak dian nya??”
“lagi ke rumah ibunya mbak, kangen katanya”
“ow… berapa hari mas?? kalo butuh bantuan bilang aj mas, sapa tau bisa bantu”
“wah kebetulan tuh mbak” pikirku melayang untuk meminta puaskan nafsuku
“kebetulan apa mas??”
“ehhh ga kok mbak bercanda, ya sudah aku pulang dulu ya?? o ya tar kerja kah? kalo capek tar aku anter ga papa kok”
“ga mas aku libur, lagi ga enak badan nih”
aku pun pergi menuju rumah, hubungan ini ga aku sia sia kan, sampai di rumah aku sms mbak irma, ternyata nyambung juga hingga akhirnya sms an sampe malem, kata2 ku sudah mulai menjurus pada sex, tenryata mbak irma sedikit ngebales meskipun akhirnya dia takut akan hubungan ku dengan istriku. namun aku jawab mumpung ga ada dia
esok pagi mbaku irma telpn aku ” mas tolong belikan obat donk, bisa kan?? pusing nih mau minta tolong sapa lagi aku ga taw”
“ok sayang” jawbku
“idih sayang di bom istrimu baru tau rasa lo”
hari sabtu adalah hari libur aku pergi membeli obat. setelah dapat aku masuk ke rumah mbak irma.
“mbak ini obatnya”
“iya mas bentar”
jrennnnggggg mbak irma memakai lingerie tapi agak tebal dikit lah berwarna biru muda, serentak senjataku bergejolak melihat tubuhnya yang putih serasa sengaja disuguhkan pada ku.
“masuk mas, silahkan duduk dulu” celana dalam nya telihat samar2 di balik gaun tipis itu
mataku bener2 dimanjakan olehnya
“silahkan diminum mas” sambil menyuguhkan teh dia merunduk dan belahan dadanya terlihat jelas. BH yang berwarna hitam telihat membungkus barang indah itu.
“makasi mbak” mataku kembali terbelalak ketika melihat paha mulus saat mbak irma duduk di depanku, mulailah pikiranku melayang
“mas rud… mas rud… malah nglamun” suaranya membangunkanku dari lamunan ku
“heh maaf mbak lagi berfantasi”
“hayo fantasi apa? cerita di bbm itu ya ?? mas rudi ini bisa aja” sambil tertawa mbak irma menyingkap rambutnya. Rfbet99
“hhehe iya mbak diitnggal istri seminggu sih gini deh jadinya, apalagi mbak pakaiannya gitu, tambah deh”
“hahhaha cuma kelihat paha aja udah melayang nih mas rudi”
“banget mbak, hahaha”
“mas maaf ya, aku sbenarnya sih g sakit, cuma akal akalan ku aja biar mas ke rumah, maaf ya ??
“wah parah, kirain sakit beneran, kawatir nih, yang lebih parah lagi adek ni berdiri trus ngeliat paha ma dada, tanggung jawab donk?”
“ye mulai deh minta ma bini sono” nadanya marah pada ku
“becanda, gitu aja amarah”
“iya ga papa, mas masukin tuh motor, temenin aku donk bentar aja mumpung ga ada bini mas katanya, haha”
aku pun memasukkan motor ke garasi mbak irma, lalu aku masuk kembali, aku di ajak ke sebuah ruangan yang bagus sekali.
“mas ini aku namain ruangan surga, karna ini khusus kalo suami ku pulang, dia minta berhubungan disini, kedap suara soalnya ruangan ini mas, jadi meski teriak2 ga bakalan ada yang denger”
“wow keren juga ya mbak, boleh dicoba tuh mbak,” sambil duduk di kursi saya memandang ruangan itu
“itu disana ada kamar mandi, disini lah mas kalo aku lagi pengen puasin diri sendiri” mataku terbelalak ketika mbak irma duduk dengan kaki terbuka, celana dalamnya tipis, shingga terlihat dengan jelas jembut dan kemaluannya
“eh iya mbak” sambil menahan aku menjawab
“liat ini mas? jangan diliat aja dong mas, dari kemaren aku tau kok mas … kalo kamu pengen aku, itu yang lagi berdiri masukin donk kesini” sambil menunjuk ms v nya mbak irma menantangku
“hmmm siap ” saya pun langsung telanjang bulat
“wow gede, enaku tuh, dah lama nih”
aku langsung menunduk karna mbak irma duduk sambil membuka kakinya di kursi, langsung kujilat kemaluannya
“ooughhhh….ssssssssshhhhh mas inget istri…. ahhh enakkkk”
celana dalam nya aku copot, lidahku tetap bergerilya di kemaluan mbak irma, sesekali dia mencengkeram rambutku sesekali dia menjarit
“ooughhhhhhhhhhhhh fuck”
menit2 demi menit berlalu, jari pun telah aku masukkan, jari yang semula kering kini di lumuri cairan putih dan bening,
“mas aku keluar kerasin……..oughhhhhhhhhh” irma mencapai orgasme nya
aku naik untuk mencumbu bibirnya, sambil kucopot BH yang menempel di dada nya, namun lingerie yang indah itu aku biarkan menghiasi tubuhnya, kecupan demi kecupan saling kita berikan, tangan ku bergerilya di gunung surganya, ku hisap pentilnya sesekali kugigit secara perlahan
“ough mas kamu ahli…ahhhhh sayang”
“oouugh mas udah dulu” sambil mengangkat kepalaku irma berdiri dan merunduk di depanku
“kumakan ya mas kontolmu ini” sambil mengocok dia mendekatkan mulutnya ke kontolku
aku pun cuma bisa menganggukkan kepala
“ouughhh sayang” desahku ketika kontolku di lumat habis
menit demi menit aku di kulum nya, aku merasakuan sedikit lagi aku orgasme, aku mengangkat kepala irma, kemudian dia lepaskan kulumannya
“ada apa mas?”
“ga papa aku mau orgasme berhenti bntar, pengen orgasme saat di dalam ini” sambil ku tunjuk vaginanya
“itu tar aja, ga adil tadi aku keluar di mulut kamu, sekarang harus di mulut juga” langsung mengulum kembali penisku, di kocok sekeras munngkin
“ouughhhhhh,,,, aku kluar… crotzzz” beberapa menit kemudian aku orgasme dalam mulut irma, dia lari ke kamar mandi sambil memuntahkan sperma ku, meski dia menlean dikit tapi masih banyak spermaku yang di mulutnya
“widih masih siap tempur” sapanya dari kamar mandi, sambil meminum pil KB, kemudian irma berjalan ke tepi kasur, dan membuka kakinya
“hehe iya donk barang bagus nih” sambil kudekati irma aku peluk sambil cium
“buruan sayang ga tahan nih lubang dari tadi nganggur” tanpa pikir panjang langsung aku masukin
“ooouughhhh” desahan bersama sambil bercumbu kembali, aku gerakukan maju mundur penis in terasa menghujam lubang sempit yang membuat saraf2 di otaku bekerja dengan senang
“mas… oouughhhh ” desah irma
“mass…. kerasin donk…. ahhhhhh… shhhhhhh” desah irma sambil menggoyang badannya
aku kerasin doronganku dengan sekali2 aku dorong penuh sehingga rasanya penis ini menyentuh pangkal di dalam
oouughhh masssss lov u….. ahhhhhhhhhh
setelah beberapa menit irma menariku untuk di bawah tancapkan lah penisku kedalam vaginanya “ouughhhhhhh”
selang beberapa menit irma orgasme, gesekan yang dilakukan sangat keras gerakan naik turunnya bener2 ajib, sampai terdengan suara “plok..plok”
“aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh maaaaaaaaaaaaassssssssss aku kluar…. cairan sperma ku banyak terasa mengalir di penisku
kemudian aku tarik irma untuk berciuman
setelah itu irma aku ajak dogy style, nafsu yang menyelimuti kita menjadikan gaya ini sedikit brutal berulangkali irma berteriak dan bunyi yang di sebabkan tumbukan antara paha ku dan pantatnya sangat keras……..
beberapa menit aku angkat tubuh irma menuju tembok, aku hujam di atas pangkuanku
“ouughhhhh luar biasa mas” desahnya sambil tersenyum
selang beberapa menit aku merasakan hampir orgasme
“sayang aku beri kamu anak ya?” kataku sambil menggendongnya untuk kembali berbaring
“kalo bisa coba aja” candanya sambil memegang penisku untuk di arahkan ke lubangnya kembali
aku pun kembali menghujam vaginanya dengan penis ku, keras dan cepat tapi kadang aku menurunkan ritme dengan pelan2 tapi menusuk
“oughhhh masssssssss”
aku tersenyum sambil meronta keenakan
“mas aku mau keluar lagi……shhhhhhhhhh….. kerasin……..”
“aku juga sayang….oughhhhhhhhhhhh” tambah cepet aku genjot irma
beberapa menit kemudian
“oooouwwwwwwwwwwwwwwwwwhhhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh 3 kaaaaaaliiiiiiiiiiiiiii…. kumu hebat sayang” desah irma sambil mengejangkan tubuhnya memelukku
“ougggggggghhhhhhhh ini bentar lagi”
plok2 plok2…… suara penisku menghujam memeknya yang basah sekali
“crotzzzzzzzz…..zrotssssss” spermaku keluar di dalam vagina irma, akhirnya aku bisa menikmati irma dengan penuh…. kupeluk irma dan ku ciumi dan kujilati dad nya
“mas jangan pulang dulu, aku masih butuh kamu nanti” ucapnya pada ku
aku pun tersenyum, lalu ku kecup keningnya
hari itu aku benar2 ga pulang ke rumah sampai keesokan harinya
Hanya waktu istriku telpon … aku bilang lagi di rumah capek mau kemana2, begitu pula irma, padahal setelah telpon itu selesai permainan liar kami berlanjut
ketika istriku di rumah, aku dan irma masih sering ketemu dan melakukan hubungan ini di hotel, suatu saat irma memintaku memberinya anak, meski aku tidak usah bertanggung jawab akan hal itu karena dia bilang kalo itu anak dr suaminya yang datang sehari sebelum itu… kini irma sudah pindah dari komplek rumahku bersama anak hasil hubungan kami, namun komunikasi kami masih terjaga, sesekali kami bertemu di suatu kota untuk semata2 melakukan hubungan sex tidak lebih, dia tau aku sangat mencintai istriku.








