Author: dbgoog99

  • Cerita Sex Tante Sange

    Cerita Sex Tante Sange


    3318 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Tante Sange ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita SexPeristiwa ini terjadi saat akhir tahun kemarin, saat itu aku pulang malam sekali biasa kalau rapat
    selalau begitu berkepanjangan hingga bertele tele yang di bicarakan ini itu gak ada titik temunya
    membuat aku capek pikiran dan capek badan, langsung saja setelah sampai rumah aku masuk ke kamar tidur
    dan melepaskan jas kantor dan rok miniku ke lantai.

    Menuju ke lemari pakaian untuk memilih celana dalam dan bra, kulemparkan CD dan Bra ku di atas kasur
    aku menuju kemar mandi, di dalam kamar mandi, aku membuka celana dalamku yang berwarna putih dan bra
    yang berwarna sama yang kukenakan sejak pagi.

    Kubiarkan saja tergeletak di lantai kamar mandi. Aku segera masuk ke dalam tempat shower dan mandi.
    Hanya dengan mandi yang bersih yang bisa mengusir segala kepenatanku seharian di kantor.

    Saat menyabuni badanku, aku menyabuni bagian payudara dan vaginaku agak lama. Aku menikmati sensasi
    saat kedua bagian tubuhku itu tersentuh, walaupun oleh tanganku sendiri. Tak lama kemudian acara
    mandiku berakhir. cerita hot tante

    Aku kemudian keluar dari tempat shower dan menggapai handuk yang selalu tergantung di belakang pintu
    kamar mandiku. Dengan handuk itu, aku mengeringkan tubuhku.

    Kembali ke kamar tidur, aku kemudian mengambil pakaian dalam yang di taruh di atas tempat tidur dan
    kupakai. Setelah itu, handuk yang kupakai kuhamparkan di sandaran kursi yang ada di kamarku. Link Alternatif DewiFortunaQQ

    Aku membaringkan diriku ke atas tempat tidur. Bagian tubuhku yang tidak terutup oleh bra dan celana
    dalam yang kupakai, langsung menyentuh lembutnya sprei tempat tidurku. Aku memutuskan untuk
    beristirahat.

    Saat baru saja hendak terlelap, aku mendengar suara bel pintu. Aku kemudian bangkit dari tempat
    tidurku dan menggapai jubah tidur satinku yang berwarna merah muda yang tergantung di balik pintu
    kamarku.

    Sambil berjalan ke arah pintu depan, aku memakai jubah tidurku dengan terburu-buru. Hal ini tentu saja
    menyebabkan pada bagian dada tidak tertutup dengan rapi. Langkah-langkah kakiku menyebabkan celana
    dalamku terlihat dari belahan jubah tidurku yang panjangnya hanya sepaha. Aku tidak perduli, aku hanya
    berpikir siapa yang datang.

    Cerita Sex Tante Sange Saat aku membuka pintu, aku melihat seorang anak laki-laki berumur 14 tahun. Dia adalah anak dari
    tetangga di depan rumahku. Ditangannya dia membawa sebuah kotak. Pertama-tama sepertinya dia terkejut
    melihat penampilanku sebab dia bisa melihat sebagian bra yang tidak tertutup oleh jubah tidurku.

    “Ferdy, ada apa, sayang ?” tanyaku.

    Dengan agak gelalapan dia menjawabku,

    “Anu Tante, ini ada titipan dari Mama..”

    “Apa ini ? “, tanyaku.

    Sambil menyodorkan kotak yang dibawanya, dia berkata,

    “Cuma kue saja.”

    Aku kemudian mengambil kotak itu dari tangannya dan mempersilahkan dia masuk.

    “Mama kemana ?”, tanyaku.

    “Keluar sama papa. Mungkin agak malam baru pulang, soalnya mau ngurusi pesta”

    “Pesta apa ?”

    “Perayaan ulang tahun perkimpoian yang ke 25″

    “Oh begitu..”

    Aku kemudian mempersilahkan dia duduk di kursi ruang keluargaku. Aku kemudian mengambil air dari dapur
    dan membawanya keluar.

    “Ini silahkan di minum..”

    “Terima kasih, Tante..”

    Aku tersenyum kecil, sebab sewaktu aku menaruh air tadi ke meja, aku melihat kalau matanya melirik ke
    dalam jubah tidurku, tepat ke arah buah dadaku yang tertutup oleh braku. Diam-diam aku berencana untuk
    menggoda anak ini.

    Aku kemudian duduk di sebelahnya. Sejenak kemudian, anak itu aku ajak berbincang-bincang. Sebetulnya
    anak itu duduknya tidak tenang, tetapi aku pura-pura tidak memperhatikannya, sampai suatu ketika dia
    berkata,

    “Anu Tante, bra Tante bagus ya..”

    Aku tersenyum kecil. Dalam hatiku aku bersorak gembira. Anak ini memperhatikanku.

    “Memangnya bra Mamamu tidak bagus ? “, tanyaku.

    “Ngak sebagus punya Tante”

    “Lho, pernah ngintip Mamanya ya..,” godaku.

    Dengan muka yang agak kemerahan dia berkata,

    “Bukan gitu kan tahu dari jemuran..”

    “Kalau gitu cuma tahu branya aja ? Celana dalamnya ?”

    “Celana dalam juga”

    “Kalau gitu bagusan mana dengan punya Tante ?”

    Aku kemudian mengangkat sedikit jubah tidurku. Celana dalamku terlihat dengan jelas oleh anak itu.
    Dengan muka yang tambah merah, Ferdy menjawab,

    “Punya Tante jauh lebih bagus. Punya Mama potongannya biasa saja. Warnanya pun paling putih. Punya
    Tante bagus sekali ..”

    Aku tersenyum dan terus bertanya,

    “Pernah lihat Mama hanya pakai bra sama celana dalam ?”

    Anak itu menggeleng,

    “Belum ..”

    “Mau lihat kalau Tante yang pakai ?”

    Anak itu menganggukkan kepalanya. Aku segera berdiri. Sambil tersenyum aku melepaskan jubah tidurku.
    Kini di depannya aku hanya mengenakan bra dan celana dalam saja.

    “Bagaimana ? ..”

    “Tante kelihatan cantik. Kayaknya Mamanya Ferdy kalah deh”

    “Hush .. masa Mamanya Ferdy kalah ?”

    “Benar, Tante.. Tante cantik sekali..”

    Aku kembali duduk di sofa. Kali ini aku bertanya lebih berani,

    “Kamu pernah lihat payudara yang tidak tertutup bra ?”

    “Ngak pernah”

    “Mau lihat ?”

    Dengan muka memerah, dia mengangguk kecil. Sambil tersenyum aku melepaskan kait braku. Setelah lepas,
    braku kuhamparkan di samping sofa. Payudaraku terpampang untuknya. Mulut anak itu terngangga sedikit.

    “Tante betul-betuk cantik”, hanya itu komentarnya. Matanya terus saja menggerayangi kedua payudaraku.
    Aku tambah nakal, lalu bertanya,

    “Mau Tante telanjang sekalian ?”

    Cerita Sex Tante Sange Dia mengangguk pula. Aku melepaskan celana dalam yang kupakai. Setelah itu, kubuka kedua kakiku.
    Vaginaku beserta bulu-bulunya terlihat olehnya. Kini seluruh tubuhku bebas dinikmati oleh anak itu.
    Matanya tak henti-hentinya melalap semua bagian tubuhku.

    Sebentar-sebentar terlihat sepertinya dia tidak tahan untuk tidak menyentuh tubuhku, tetapi karena
    dari aku tidak ada tanggapan, maka dia hanya bisa menahan saja.

    Setelah agak lama, aku kembali berusaha mencairkan suasana dengan obrolan yang lain. Mungkin karena
    tubuhku dalam keadaan telanjang, anak itu sepertinya kurang menanggapi. Akhirnya setelah beberapa
    saat, aku mengingatkannya agar segera pulang.

    Aku mengambil kembali celana dalam, bra dan jubah tidurku dan memakainya kembali di depan anak itu.
    Saat hendak keluar pintu, anak itu berkata kepadaku,

    “Tante, terima kasih ya. Tante betul-betul cantik”

    Aku tersenyum saja. Dia meneruskannya,

    “Maukah Tante merahasiakannya untuk kita berdua saja?”

    Sambil tersenyum aku mengangguk. Anak itu tersenyum juga. Dengan langkah yang riang, dia kembali ke
    rumahnya. Aku segera mengunci pintu dan kembali ke kamarku. Aku kembali melepaskan jubah tidurku.
    Hanya dengan mengenakan bra dan celana dalam, aku membaringkan tubuhku ke tempat tidur.

    Peristiwa tadi membuat aku sangat gembira sekaligus terangsang. Aku kemudian mengambil penis dari
    karet dari laci tempat tidurku. Aku membuka bra dan celana dalamku dan membaringkan tubuhku yang
    telanjang kembali ke ranjang.

    Penis karetku kumasukan ke liang vaginaku dan kugerakkan maju mundur. Pikiranku kupenuhi dengan adegan
    dimana aku menelanjangi diri di depan anak itu.

    Nafsuku yang semakin memuncak akhirnya membuatku orgasme. Setelah mengalami orgasme berkali-kali, aku
    serasa tidak punya tenaga untuk melakukan apa-apa lagi. Dengan tubuh telanjang yang terkulai lemas dan
    penis karet yang tertancap di liang vaginaku, aku tertidur dengan pulas sampai pagi.

    Sejak hari itu, anak tetanggaku selalu ke rumahku bila kedua orang tuanya pergi. Tentu saja setiap
    kali datang, aku selalu memamerkan pakaian dalam yang aku pakai dan tubuh telanjangku. ceritasexdewasa.org Pernah satu dua
    kali aku membiarkannya melihatku sedang mandi. Selain itu, anak itu mulai berani meminjam pakaian
    dalamku untuk dipakai dan dimainkan.

    Kalau bertamu ke rumahku, dia akan meminjamnya dan memakainya selama di rumahku. Saat pulang, barulah
    dia memakai kembali pakaiannya. Tentu saja biasanya pakaian dalam yang dipakainya ikut dipakai ke
    rumah juga. Biasanya dikembalikan saat bertamu berikutnya. Aku memikirkan kalau bisa aku ingin
    memotret anak itu dengan memakai pakaian dalamku. Pasti terlihat sexy dan lucu.

    Cerita Sex Tante Sange Selain untuk masturbasi di kamar, dia mengaku kalau sering memakainya ke sekolah apalagi saat ujian,
    pikirannya lebih encer. Aku sendiri agak heran juga, bagaimana kalau teman-temannya mengetahui dia
    pakai bra di balik seragamnya, tetapi sepertinya dia bisa menyiasatinya.

    Aku sangat senang kalau ternyata anak itu betul-betul mengagumiku, apalagi dia mau memakai pakaian
    dalamku. Aku tidak merasa jijik dengan laki-laki demikian, sebaliknya aku malah merasa senang.

    Anak itu paling menyukai kumpulan g-stringku, tetapi aku tidak mengijinkannya untuk dipakai, sebab
    harganya mahal. Bagaimanapun juga aku takut jika g-stringku menjadi rusak karena dipakai olehnya.
    Tentu saja gaun dan jubah tidur tidak boleh juga.

    Koleksi string bikiniku yang bermacam-macam model dan warna adalah yang paling sering dibawa pulang
    selain celana dalam dan braku yang biasa aku pakai ke kantor sebab string bikini berbahan awet
    sedangkan pakaian dalam yang kupakai ke kantor tidak terlalu mahal.

    Dalam hati diam-diam aku berharap suatu saat aku memperoleh kesempatan untuk mencicipinya, tetapi aku
    tidak boleh terlalu berani. Aku hanya berharap suatu saat dia akan memintaku untuk melayani nafsunya.

    Biasanya perasaan itu akan memuncak bila aku melihatnya memakai string bikiniku. Aku berharap bisa
    menyusui anak itu, walaupun tanpa air susu, hehehe.. Aku juga ingin mencoba kemaluannya yang masih
    tanpa bulu itu baik di mulut maupun di vaginaku. Aku belum pernah mencoba dengan anak yang belum
    dewasa. Mungkin rasanya akan berbeda, ya?

    cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,

  • Kisah Memek Pengalaman Ngentot Sama Pamanku

    Kisah Memek Pengalaman Ngentot Sama Pamanku


    3014 views

    Duniabola99.com – Pengalamanku di Entot Paman Siang itu cuaca mendung menambah dingin dalam kamarku, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Masih terbayang pijatan majikanku tadi siang, begitu takut, aneh dan juga nikmat, terus terang ini pengalamanku yang pertama dimana tubuhku dijamah tangan lakilaki. Rasa yang menjalar di semua poripori kulit, kurasakan keanehan yang terjadi dalam tubuhku yang berujung pada suatu kenikmatan. Aku bingung dan bertanyatanya, apakah yang terjadi dalam diriku? Ketika di dalam kamar mandi, betapa kagetnya aku, kulihat celana dalamku dalam keadaan basah, padahal tadi tidak merasa ingin buang air, kenapa basah? Setelah aku cium ternyata tidak berbau, air apa yang keluar?


    Sebelum kulanjutkan ceritaku ini, perkenalkan namaku Menik, umurku menginjak 18 tahun dan aku anak bungsu dari lima bersaudara yang kesemuanya wanita. Kakakkakakku juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ibuku sudah tiada sejak aku berusia dua tahun, sehingga ayahku menikah lagi tetapi tidak mempunyai keturunan.

    Ketika kakakkakakku pergi merantau, tinggal aku bersama ayah dan ibu tiriku di desa terpencil pantai utara Jawa Tengah. Sejak setahun lalu aku bekerja pada sebuah keluarga muda dengan satu orang putri yang baru berusia dua tahun. Majikan perempuanku yang kupanggil ibu adalah seorang karyawati, sedang majikan lakilakiku seorang pegawai negeri sebuah instansi pemerintah. Kehidupan di dalam rumah tangga majikanku dapat dikatakan harmonis, itu yang membuatku kerasan tinggal bersama mereka. Ibu majikan seorang wanita yang baik, begitu pula dengan suaminya.

    Hari Sabtu dimana ibu bekerja, sedang bapak setiap Sabtu dan Minggu libur. Di rumah tinggal bapak, aku dan anaknya. Aku merasa tidak enak badan sejak hujanhujanan kemarin waktu aku pergi ke pasar. padahal malam harinya aku sudah minum obat, tetapi hingga pagi hari ini aku merasa sakit disekujur tubuh. Walau begitu tetap kupaksakan diri untuk bekerja, karena sudah kewajibanku seharihari dalam keluarga ini. Setelah anaknya tidur, kurebahkan diriku di kamar. Cuaca mendung bulan November, setengah terpejam sayupsayup kudengar bapak memanggil namaku, tetapi karena badan ini terasa berat, aku tak sanggup untuk bangkit, sampai bapak datang ke kamarku. Bapak terkejut melihat kondisiku, dihampirinya aku dan duduk ditepi ranjang. Aku berusaha untuk bangkit walau kepala ini seperti dibebani ribuan batu, tibatiba tangan bapak menyentuh dahiku kemudian merengkuh bahuku untuk memintaku tiduran kembali. Bapak bilang kalau tubuhku demam, kemudian dia memijit keningku, mataku terpejam menikmati pijitan itu, terasa sakit di kepala dan lemas sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat bapak menyuruhku untuk telungkup, akupun menurutinya.


    Kuraskana kain bajuku disingkap ke atas oleh bapak, kemudian tali pengait behaku dicopotnyanya. Aku terkejut, tetapi karena lemas aku pasrah saja, kurasakan pijitan bapak dipunggungku. Disinilah awal keanehan itu terjadi. Walaupun kondisi demam, tetapi perasaan itu tetap saja kurasakan, begitu hangat, begitu damai, begitu takut dan akhirnya begitu nikmat, mata kupejamkan sambil menikmati pijatan bapak. Umur bapak sudah tiga puluhan dan kuakui kalau bapak mempunyai wajah yang awet muda. Disaat aku merasakan pijitan bapak, tibatiba kurasakan resluiting celana pendekku di belakang diturunkan oleh bapak. Aku ingin berontak dan membalikkan badan, tetapi ditolak oleh bapak dengan mengatakan bahwa bagian bawahpun harus dipijat, akhirnya aku mengalah walau disertai rasa malu saat bapak melihat pantatku. Jujur, yang ada di dalam benakku tidak ada prasangka lain selain aku dipijit bapak. Setelah agak lama, bapak menyudahi pijitannya dan aku diberi lagi obat demam yang segera kuminum, bapak kemudian meninggalkan kamarku. Sebelum tidur kuputuskan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Seperti yang telah aku ceritakan di atas, bahwa celana dalamku basah, dan ternyata bukan pipis. Aku raba dan rasakan ternyata berlendir dan agak lengket, aku tidak tahu hubungan basah ini dengan pijatan bapak tadi. Aku tak mampu berpikir jauh, setelah dari kamar mandi, kuputuskan untuk tidur di kamar.

    Sore hari gerimis turun, ketika aku tidur, siang tadi ibu majikan dan anaknya pergi kerumah famili serta menginap di sana karena ada hajatan, sementara bapak tinggal di rumah sebab besok Minggu ada acara di komplek. Setelah sesiang tadi aku tidur, kurasakan tubuhku agak mendingan, mungkin karena pengaruh obat turun demam yang aku minum tadi, sehingga aku berani untuk mandi walau dengan air hangat. Selesai mandi terdengar suara bapak dari ruang TV memanggil namaku, aku bergegas kesana.

    Bapak menanyakan keadaanku yang kujawab sudah baikan. kemudian bapak menyuruhku membuatkan teh hangat untuknya. Teh kubuat dan kuhidangkan di meja depan bapak, kemudian bapak menyuruhku duduk di bawah depan tempat duduk bapak, kuturuti perintahnya. Ternyata bapak sedang menikmati TV, kemudian bapak memegang pundaku serta memijit perlahanlahan dan bertanya apakah pijitannya enak, kujawab enak sekali sembari tersenyum, sembari tetap memijat pundakku kami berdua membisu sambil menonton TV. Lamakelamaan perasaan aneh itu menjalar lagi, aku merasakan sesuatu yang lain, ku tak mengerti perasaan apa ini, kurasakan sekujur bulu tubuhku mermang.


    Tibatiba kurasakan hembusan nafas di samping leherku aku melirik, ternyata wajah bapak telah sampai di leherku, aku merasakan getarangetaran aneh yang menjalar kesemua tubuhku, aku tidak berontak, aku takut, tetapi getarangetaran aneh itu kurasakan begitu nikmat hingga tanpa kusadari kumiringkan kepalaku seakan memberi keleluasaan bapak untuk mencmbunyanya. Tak terasa aku memejamkan mata dan menikmati setiap usapan bibir serta lidah bapak di leherku. Getaran itu kini menjalar dari leher terus turun ke bawah, yang kurasakan tubuhku melayang, tidak mempunyai beban, terasa ringan sekali seolah terbang. Otakku seakan buntu, tidak dapat berpikir jernih, yang kutahu aku mengikuti saja karena pengalaman ini belum pernah aku rasakan seumur hidup, antara takut dan nikmat. Tangan bapak masih memijat pundakku sementara dia masih mencumbui leherku, tak lama kemudian kurasakan tangan itu meraih kancing baju depanku dan membukanya satu persatu dari atas ke bawah. Setelah semua kancing bajuku terlepas, kembali tangan bapak memijat bahuku, semua itu aku rasakan dengan melayanglayang, perlahan tapi pasti kedua tangan bapak menyentuh ke dua payudaraku, aku kaget.

    Kedua tanganku lalu memegang tangan bapak, bapak membisikkan supaya aku menikmati saja pijitannya, tanganku akhirnya terlepas dari tangan bapak. Lagilagi kurasakan sesuatu getaran aneh, hanya getaran ini lebih dahsyat dari yang pertama, payudaraku diremas tepatnya dari pada dipijit, walau masih memakai bh. Kemudian tangan bapak kembali kepundakku, ternyata diturunkannya tali bhku, perlahanlahan diturunkan sebatas lengan, sementara ciuman bapak masih di leher, kadang leher kiri, kadang leher kanan. Aku melayang hebat, dimana kedua tangan bapak meraih payudaraku dari bagian atas turun ke bawah, sesampai di putingku remasan berubah menjadi pilinan dengan jari, aku sempat membuka mata, tetapi hanya sesaat, getaran aneh berubah menjadi sengatan. Sengatan kenikmatan yang baru ini kualami, dipilinpilinnya kedua putingku, tak sadar ku keluarkan desahan pelan. Secara tidak kusengaja, tangan kiriku meraba celana dalamku sendiri, kurasakan gatal disekitar kemaluaku, ternyata kemaluanku basah, aku tersentak dan memberontak. Bapak kaget, kemudian menanyakan ada apa, aku tertunduk malu. Setelah didesak aku menjawab malu, kalau aku ngompol. Bapak tersenyum dan berkata bahwa itu bukan ompol, lalu bapak berdiri dan membimbingku duduk di sofa.

    Bapak menanyakan padaku, yang kujawab bahwa ini pengalamanku yang pertama, kemudian bapak mengatakan ingin memberi pengalaman selanjutnya dengan catatan supaya aku tidak menceritakan pengalaman ini pada siapa saja. Aku hanya mengangguk dan menunduk, tak berani kutatap mata bapak karena malu. Di luar hari sudah berganti malam, gerimis pun berubah menjadi hujan, tetapi aneh, hawa di ruang TV berubah menjadi hangat, apakah ini hanya perasaanku saja? Sementara aku duduk di sofa, bapak malah jongkok dihadapanku. Aku rikuh dan menundukkan kepalaku. Tibatiba bapak maju menuju payudaraku dan menciuminya, seperti bayi menetek ibunya. Aku berkata malu, tetapi di jawab bapak untuk menikmati saja. Sengatan itu kembali menyerangku ketika ciuman bapak berubah menjadi jilatan dan kuluman di putingku, aku kembali terpejam dan mengerang, tak kusadari tanganku berada di kepala bapak, mengelus dan sedikit menjambak rambut bapak. Aku tidak kuat menyangga tubuhku, perlahan dan pasti tubuhku terjatuh di sofa, bapak membetulkan posisiku sehingga tiduran disofa. Kemudian jilatan bapak berlanjut diperutku, sementara tangan kiri bapak di payudaraku, tangan kanan meraba dari betis naik ke paha serta menyingkap rok yang kukenakan.


    Aku sudah kehilangan akal sehat, hanya bisa diam dan menikmati setiap jilatan dan elusan bapak. Aku terkejut pada saat jilatan bapak sampai ke celana dalamku, aku mengatakan bahwa itu kotor dan pesing, tetapi dengan sabarnya bapak menenangkanku untuk tetap saja menikmatinya. Aku hanya terdiam dan pasrah, di antara takut dan malu serta rasa nikmat yang tak kuduga sebelumnya. Perlahan bapak membuka rok serta mencopot celana dalamku dan menciumi rambut kemaluanku, Takut bercampur geli berkecamuk di dalam dadaku, kurapatkan kedua pahaku menahan geli, tetapi keanehan terjadi lagi, lama kelamaan tanpa kusadari kedua pahaku membuka dan semakin lebar. Posisi ini memudahkan bapak untuk mencumbu lebih dalam. Tiba pada bagian tengah atas kemaluanku, kurasakan ujung lidah bapak menyengat yang lebih dahsyat lagi, tanpa kusadari kunaikkan pantatku ke atas ke bawah, aku meracau tidak karuan, sukar kulukiskan dengan katakata perasaan ini. Kurasakan dunia gelap dan berputar, sayupsayup kudengar suara kecipakan di sekitar selangkanganku, hingga ada suatu desakan dari dalam kemaluanku, desakan itu tak dapat kutahan, sesuatu yang akan meledak keluar, seperti bila ingin pipis, tetapi ini lebih dari itu. Tanganku tak dapat kukendalikan, kujambak rambut bapak sambil menekan kepalanya pada kemaluanku. Aku melonjak, mengejan. menahan, meracau, tibatiba sesuatu itu keluar dari dalam kemaluanku, kemaluanku basah bahkan banjir kurasakan aku ngompol

    Setelah itu tubuhku lemas, keringat membanjiri tubuhku, tulangtulangku terasa lepas dari tempatnya perasaan apa ini? antara nikmat kebelet pipis dan lemas Kulihat bapak tersenyum dan mengelus rambutku, bapak menanyakan apa yang aku rasakan. Kubalas dengan tatapan yang bertanyatanya, tetapi aku tidak dapat berkatakata, diantara nafasku yang masih memburu, aku hanya tersenyum dan memandangnya sayu.

    Bapak berlutut di sampingku, melepas sarungnya, meraih tanganku dan membimbingnya untuk memegang tengah celana dalamnya, kuturuti, kuraba dari luar celana dalam bapak, ini pun pengalaman pertamaku memegang kemaluan lakilaki. Kurasakan sesuatu menonjol keras ke atas di tengahnya, bapak menikmati elusanku dan kuliirik mata bapak setengah terpejam. Tak lama, dia menurunkan celana dalamnya, sesaat kuterpekik melihat benda yang baru kali ini kulihat. Bapak mengajariku untuk mengurut benda itu dari atas ke bawah, aku geli memegang benda itu, empuk tapi keras keras tapi lentur Bapak membangkitkanku dari rebahan, kemudian menyuruhku untuk menjilat benda itu, karena tadi bapak sudah menjiltati kemaluanku, apa salahnya kalo sekarang aku menjilati kemaluannya, pikirku. Pertama memang kujilati benda itu, lamakelamaan kumasukkan benda itu ke dalam mulutku, aku ingat masa kecilku ketika menjilati es krim. Benda itu berdenyutdenyut di dalam rongga mulutku, aku merasa aneh tetapi senang, seperti anak keci mendapat makanan kesukaannya. Tibatiba bapak mengerang sambil menarik kepalaku, benda itu berkeduk hebat, aku heran ada apa ini, tetapi benda itu tak dapat kulepaskan, karena kepalaku ditahan tangan bapak, kemudian kurasakan suatu cairan terasa di mulutku yang akhirnya daripada tersedak, cairan itu kutelan habis, terasa amis gurih sedikit asin. Kulihat bapak mendengus, seperti habis lari jauh, nafasnya tersengalsengal. Dia tersenyum dan memelukku, aku merasa damai dalam pelukannya.

    Bapak mengajakku ke kamar mandi, sebelum kami masuk, bapak melucuti sisa pakaianku dan juga pakaiannya. Aku merasa heran, aku menurut tanpa ada perlawanan, mungkin karena nikmat yang baru saja pertama kali aku dapat. Di dalam kamar mandi, bapak memandikanku, bapak mengagumi bulubulu yang tumbuh di ketiak dan selangkanganku dan berpesan agar aku tetap memelihara dan melarang memotongnya. Pada saat bapak menyabuniku, getarangetaran aneh menyerangku lagi. Geli bercampur nikmat menyelimuti seluruh tubuhku, sehingga tak terasa aku mulai mendesis lagi, bapak bilang bila aku tidak tahan keluarkan saja erangan itu, tapi aku malu.


    Setelah aku selesai disabuni, bapak menyuruhku menyabuninya, dengan rasa takuttakut kusabuni punggung sampai kakinya, pada giliran tubuh bagian depan, kulihat kemaluan bapak yang tadinya lemas tampak kokoh berdiri. Bapak mengatakan enak disabuni olehku, dia meraih wajahku dan mencium mulutku, aku merasakan getaran semakin hebat ketika lidah bapak bermain di dalam rongga mulutku, aku hanya terdiam dan menikmati permainan lidah bapak, perlahan kuimbangi permainan lidah bapak dengan lidahku sendiri, kami saling berpagutan. Bapak membimbing tanganku untuk menyentuh kemaluannya yang masih terbalut sabun, aku merasakan licin serta mengocoknya. Payudaraku pun menyentuh dada bapak yang licin oleh sabun, terasa mengeras di kedua putingku, kami berpelukan berciuman dan saling bergesekan aktivitas ini menimbulkan gelinjang kenikmatan yang tiada tara bagiku. Setelah tubuh kami berdua tersiram air dan bersih dari sabun, bapak menyuruhku untuk menghadap wastafel setengah menunduk sembari kakiku direnggangkannya, bapak jongkok membelakangiku dan mulai menjilati pantatku, aku menengok ke belakang dan bapak hanya tersenyum. Pada saat lidah bapak menyentuh dan mempermainkan duburku, aku tersentak dan sedikit mengangkat kakiku, kurasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan, aku mendesis, kemaluanku basah dan lengket, sehingga tangan kiriku tak sadar meraba daging bulat kecil yang mengeras di tengah kemaluanku sembari mengosokgosok dan menekannya, secara naluri bagian itu yang kurasakan dapat memberi kenikmatan yang tiada terkira. Tak lama berselang aku berasa ingin pipis lagi. Tangan kananku mencengkeram erat bibir wastafel, mengerang hebat, tangan kiriku kutekan kuat pada benjolan kenikmatanku, aku meladak lagi, nafasku memburu tidak karuan, sesaat aku merasa lemas dan seakan hilang pijakan tempatku berdiri. Bapak menangkapku kemudian membopongku menuju kamarku.

    Direbahkannya diriku di tempat tidur, bapak duduk di tepi tempat tidurku sembari mengelus rambutku, tersenyum dan mengecup keningku, hatiku tentram, nafasku mulai teratur kembali. Setelah semuanya kembali normal bapak merebahkan dirinya di sisiku, tanpa bicara, bapak meraba payudaraku, serta menjilatinya. Getarangetaran itu datang kembali menyerangku, aku menggelinjang serta mengeluarkan suarasuara desisan, kuremas kepala bapak sembaru kutekan ke arah dalam payudaraku. Bapak naik ke atas tubuhku, menyodorkan kemaluannya untuk kujilat lagi, kuraih dan kukulum kemaluan bapak seperti layaknya menjilati es krim, bapak memajumundurkan pantatnya sehingga kemaluan bapak keluar masuk dalam mulutku. Aku menikmati keluar masuknya kemaluan bapak di dalam mulutku. setelah beberapa saat, bapak melepaskan kemaluannya dari mulutku. Bapak menggeser tubuhnya, kedua pahaku di kesampingkannya, perlahanlahan kemaluan bapak didekatkan pada kemaluanku sambil berkata bila terasa sakit aku harus bilang. Pertama menyentuh kulit luar kemaluanku, aku agak tersentak kaget, mulailah rasa sakit itu timbul setelah kemaluan bapak mulai sedikit demi sedikit memasuki vaginaku. Aku menjerit kesakitan yang kemudian diikuti dengan dicabutnya kemaluan bapak, bapak mencium bibirku sembari membisikkan kata supaya aku menahan rasa sakit tersebut sembari mempermainkan lidahnya di dalam mulutku. Kemudian bapak mulai menusuk lagi, walau kemaluanku sudah basah total. tapi rasa sakit itu tak terkira, aku tak sanggup mengaduh karena mulutku tersumbat mulut bapak. Tak terasa air mataku meleleh menahan sakit yang tak terkira, kedua tanganku mencengkeram erat pinggang bapak, Akhirnya kemaluan bapak menembus lubangku diusapnya air mataku, kemaluan bapak masih tetap tertancap dalam lubangku. Bapak berhenti menggoyang, setelah dilihatnya aku agak tenang, mulailah bapak memajumundur kemaluannya lagi secara perlahan, aku sempat heran, rasa sakit itu berangsur hilang digantikan dengan nikmat. Aku merasa kemaluanku berkedutkedut dengan sesuatu benda asing di dalamnya, sementara itu air lendirku juga sudah membasahi liang kemaluanku, sehingga rasa sakit itu hilang tergantikan oleh kenikmatan yang sukar dikatakan. Tidak begitu lama kemudian aku merasa ingin pipis kembali, aku peluk bapak, aku naikkan pantatku seolah ingin menelan semua kemaluan bapak. Aku kejang, aku melenguh panjang, aku menggigit pundak bapak, sesuatu yang nikmat aku rasakan lagi, dunia berputarputar, semua terlihat berputar, sungguh kejadian ini nikmat sekali. Aku terhempas lemas setelah aku mengalami apa yang baru aku alami, rasa sakit sudah hilang. Bapak menghentikan aktifitas seakan memberi kesempatan diriku untuk menikmati puncak kenikmatan yang baru saja kualami. Setelah beberapa saat, dengan kemaluan yang masih mengacung ke atas, bapak mencabut kemaluannya dan menyerahkannya kedalam mulutku lagi, aku kulum kemaluan bapak, tak lama kemudian bapak melenguh dan cairan itu kembali mendera mulutku, karena pengalaman tadi, semua cairan itu aku telan tanpa tersisa sedikitpun. Bapak merebahkan tubuhya disampingku, dan mengucapkan terima kasih, dia mengatakan bahwa perawanku telah hilang. Aku tercenung kulihat ke bawah, sprei tempat tidurku ternoda merah darah perawanku, tetapi aku tidak menyesal, karena hilang oleh orang yang aku kagumi sekaligus aku sayangi, Aku tidur di dalam pelukan bapak, kami kelelahan setelah mengarungi perjalanan puncak kenikmatan bersama, dalam tidurku, aku tersenyum bahagia, kulirik bapak, dia terpejam sembari tersenyum juga.


    Seperti kebiasaanku seharihari dalam rumah tangga majikanku ini, aku bangun pada pukul 5, kulihat bapak masih tertidur lelap, kami masih dalam keadaan bugil, karena semalam tidak sempat berpakaian karena kelelahan. Aku turun dari tempat tidur, selangkanganku masih berasa perih seakan benda tumpul panjang itu masih mengganjal di dalam lubangku. Dengan agak tertatih aku menuju kamar mandi, kubersihkan seluruh tubuhku beserta lendirlendir yang mengering bercampur bercak darah di sekitar kemaluan dan bulubuluku, sembari mandi aku bersiul gembira. Kuraba lubang kemaluanku, masih terasa sisasisa keperihan di dalamnya, aku mengerti sekarang, dimana perbedaan antara air seni dengan lendir hormon yang keluar dari kemaluanku bila dirangsang, Aku tersenyum geli memikirkan kebodohanku selama ini.

    Selesai mandi, aku membereskan rumah seperti kewajibanku seharihari, setelah itu aku buatkan segelas kopi panas dan kubawa ke kamarku, dimana bapak masih terlelap di sana. Perlahan kuletakkan kopi di atas meja, aku melangkah ke arah tempat tidur, kuperhatikan wajah bapak yang tertidur. Betapa tenang, betapa damai, betapa gantengnya, perlahan kuusap pipi bapak serta kubelai rambutnya, dengan sedikit takut kucium sudut bibir bapak. Pandanganku menyapu dada bapak, kemudian turun ke salangkangannya yang tertutup selimut, kulirik benda asing yang semalam telah memaksa masuk ke dalam lobangku. Aku tersentak kaget, walau tertutup selimut kulihat jelas benda itu tegak berdiri mengeras, ku usap perlahan sembari tertawa geli dalam hati. Perlahan kusingkap selimut itu, sekarang terpampang jelas benda itu dimana pantulan cahaya lampu menerpa ujung kepala kemaluan bapak yang seperti helm itu. Kudekatkan wajahku ke benda itu agar terlihat lebih jelas lagi, perlahan kugenggam, kukocok, kujilati dan kumasukkan ke dalam mulutku. Bapak bergerak perlahan, aku terkejut dan berhenti mengulumnya, tetapi bapak melihat padaku dan menyuruh untuk meneruskan aktivitasku, kembali kuulangi kuluman kemaluan bapak sembari tersenyum, dielusnya rambutku sembari kudengar erangan bapak.

    Bapak bergeser sedikit, tangannya meraih pantatku serta menyingkapkan dasterku ke atas, perlahan diusapnya belahan dalam pantatku, dengan tangan kanan kuraih tangan bapak di selangkanganku, ternyata kemaluanku sudah basah kembali. Aku pun kembali terangsang dengan usapan tangan bapak di kemaluanku, sedikit kugoyang pantatku kekiri dan kekanan tanpa melepaskan kulumanku pada kemaluan bapak. Beberapa saat kemudian, bapak meminta untuk menghentikan aktifitasku, bapak bangkit dari tempat tidur, dan menyuruhku untuk menunggi di tepi tempat tidur. Dari arah belakang, perlahan bapak memasukkan kemaluannya ke dalam lubangku, aku heran, gaya apa lagi yang bapak berikan untukku, kuraih bantal untuk mengganjal kepalaku, sementara dari belakang, bapak memajumundurkan pantatnya. Sensasi baru kurasakan, dengan posisi yang belakangan kuketahui bernama doogy style itu, seakan dapat kuatur jepitanku pada kemaluan bapak. Aku merasa ingin pipis lagi, kugigit bantal sembari mengerang dahsyat, ototototku kakiku mengejang sampai ke arah pantat, sedikit kujinjitkan kakiku, kucoba bertahan semampuku, kujambak speri di sampingku. Aku tak tahan lagi, dengan kedutankedutan hebat, jebolah pertahananku, aku teriak dan mendesis kugigit bantal sekeraskerasnya, pantatku berkedutkedut ke atas bawah, aku lemas, aku jatuhkan tubuhku ke atas kasur sembari nafasku haru memburu. Kulihat bapak tersenyum ke arahku, kemaluannya semakin berkilat akibat lendirku tertimpa cahaya dari luar kamar. Kuraih kemaluan bapak, kukocokkocok sembari aku mengatur nafasku, tangan bapak merengkuh rambutku, diusapusapnya kepalaku, diciumnya keningku. Setelah nafasku teratur, kuraih kemaluan bapak dan kukulum lagi, tidak berapa lama, bapak mengejang dan mengeluarkan cairan dari kemaluan bapak yang kutelan habis tanpa bersisa.


    Bapak kemudian pergi mandi, sementara aku kembali kekesibukanku hari ini yaitu memasak. Pukul delapan pagi, kulihat bapak selesai mandi dan bersiap untuk menghadiri acara komplek. Setelah berpamitan padaku, aku meneruskan memasak, hari ini kubuatkan masakan spesial untuk bapak, semua bahan telah tersedia di dalam kulkas yang kubeli hari Jumat kemarin di pasar.

    Pukul 12 siang, bapak kembali dari acara di komplek, aku sedang menonton acara TV setelah selesai masak, kemudian bapak menyuruh membuatkan es teh manis untuknya, aku bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan bapak. Di saat aku sibuk mengaduk gula, tibatiba dari arah belakang bapak memelukku, aku tersentak karena melihat bapak tidak mengenakan pakaian selembar pun. Tanpa bicara, dicumbuinya diriku dari belakang, aku menggelinjang kegelian, diusapnya leherku dengan lidah bapak sampai ke telingaku dan digigitgigitnya daun kupingku. Aku tersentak kegelian, tanganku menyenggol teh yang sedang kubuat, gelas jatuh dan air di dalamnya tumpah membasahi dasterku. Tanpa memeperhatikan peristiwa itu, bapak melahap mulutku dengan ciumanciuman ganasnya, aku terpengarah tidak siap, sedikit kehabisan nafas melayani ciuman bapak. Dengan tidak melepas ciumannya, tangan bapak mencopot dasterku, kemudian dengan terburuburu, dilepasnya beha dan celana dalamku, aku hanya pasrah menghadapi kelakuan bapak. Sedikit membopong, didudukannya aku di atas meja makan, kemudian bapak melebarkan selangkanganku serta menjilati kemaluanku. Dengan berpegang pada tepi meja, aku menggelinjang keenakan, kurasakan sapuansapuan lidah bapak dikemaluanku sebagai sensasi yang tiada duanya. Mungkin karena sebentar lagi aku merasa akan datang bulan, sehingga nafsu yang ada dalam diriku sedang dalam puncakpuncaknya. Aku pipis lagi, kujambak rambut bapak dengan tidak sungkan lagi, kutekan kepala bapak ke dalam kemaluanku, kurasakan lidah bapak menembus di dalam lobangku, aku menjerit tertahan, meledaklah kenikmatanku, bapak menyedot habis semua lendir nikmatku sampai tuntas serta menjilati rambut lebatku. Dengan menahan posisiku, bapak berdiri dan memasukkan kemaluannya ke dalam lobangku, perlahan tapi pasti kemaluan bapak masuk. Aku membisikkan sesuatu ke bapak, aku mengatakan bila ingin merasakan semprotan cairan bapak di dalam rongga kemaluanku, bapak menanyakan apakah aku subur atau tidak, aku jawab bila dalam dua atau tiga hari ke depan akan datang bulan. Setelah bapak mendengar pengakuanku, dia tersenyum dan semakin bersemangat untuk menusukan kemaluannya di lobangku. Ternyata bapak lama juga mengalami puncak, kebalikannya dalam diriku, aku merasakan suatu kedutan nikmat lagi dan berasa ingin pipis kembali. Aku peluk bapak, kucium bibirnya, sementara kedua kakiku menjepit pinggang bapak. Dengan berpangku pada tepi meja makan, bapak bertambah kencang volume memaju mundurkan kemaluannya di dalam lobangku. Aku terpekik, aku menjerit, aku mendekap eraterat tubuh bapak, kurasakan ledakan kembali menyerang dalam lubang kenikmatanku. Sementara bapak kulihat semakin cepat dan berkata bila kita berdua akan mencapai puncak secara bersamasama. Tapi aku sudah tidak tahan lagi, aku mengerang mengejang kugigit bibir bapak, ternyata demikian pula dengan bapak. Kami berdua mencapai puncak tinggi bersamaan, kurasakan cairan hangat bapak dan cairanku menyatu di dalam lubang kemaluanku. Aku berkedut, bapak berkedut, kami semakin erat berpelukan, peluh membanjiri seluruh tubuh, jepitan kakiku di pinggang bapak, diimbangi pelukan tangan bapak di tubuhku, kami berdua sesak, kami berdua klimaks, kami berdua memejamkan mata sesaat tidak peduli dengan sekitar.

    Sampai pada suatu ketika, ibu mengunjungi orang tuanya di lain propinsi, ibu berangkat dengan anaknya menggunakan kereta Api sementara bapak tidak ikut karena tidak dapat cuti. Ibu pergi sekitar lima hari.


    Pagi hari sesuai dengan tugasku seharihari, aku mengepel ruangan, sengaja kulepas bh dan celana dalamku, aku hanya mengenakan daster saja tanpa dalaman. Kulihat kamar majikanku masih tertutup pintunya, kuketuk pintu dengan maksud ingin mengepel kamar majikanku, kemudian bapak membukakan pintu, aku masuk dan langsung mengepel, sementara bapak masuk kekamar mandi yang terletak juga di lama kamar majikanku. Sengaja agak berlamalama mengepel dengan maksud memancing reaksi bapak, kutarik dasterku lebih agak ke atas, sehingga kedua pahaku terlihat jelas. Pancinganku mengena, bapak keluar dari dalam kamar mandi dan mengomentariku bahwa pahaku tampak putih mulus, kubalikkan badan sengaja menghadap ke arah bapak, dengan posisiku mengepel akan terlihat jelas kedua payudaraku yang tak tertutup beha. Bapak tersenyum menghampiriku dan berkata bila aku sengaja memancing dirinya, kubalas senyuman bapak dengan berkata memang aku sengaja, karena aku ingin disetubuhi bapak lagi. Kulihat bapak menurunkan sarungnya, yang ternyata juga tidak mengenakan celana dalam, terlihat kemaluan bapak sudah berdiri tegang. Setelah pamit untuk mencuci tanganku, kuhampiri bapak, aku elus kemaluan itu, bapak duduk ditepi tempat tidur, sementara aku jongok di antara kedua paha bapak, perlahan tapi pasti, kemaluan bapak aku cium dan kumasukkan kedalam mulutku. Terdengar desisan bapak, sementara tangan kiriku menyentuh kemaluanku, ternyata sudah basah, terus kuelus perlahan kemaluanku.

    Bapak merengkuh bahuku, menarik supaya aku berdiri, dan memposisikan aku jongkok di atas kemaluan bapak. Dengan perlahan kuturunkan pantatku dan dibantu dengan tangan bapak untuk mengarahkan kemaluannya menuju lobang kemaluanku, pertama agak susah untuk masukkan kemaluan bapak, kucoba memasukkannya sedikit demi sedikit. Setelah posisi dan kedalaman kemaluan bapak sudah pas, mulailah kuturunnaikan pantatku, tangan bapak tidak tinggal diam, diarihnya dasterku untuk dilepas, kemudian diremasremaslah kedua payudaraku. Lamakelamaan aku merasakan sengatan yang luar biasa, kupercepat goyanganku, kugesekgesek kemaluanku, dan tak lama kemudian aku tak sanggup lagi menahan kebelet pipisku, kupeluk bapak dengan posisi masih tertancap kemaluan bapak, jebolah pertahananku, aku kebanjiran lagi. Kami bertukar posisi, aku sekarang di bawah, ditepi ranjang, sedang bapak berdiri di sisi ranjang, Sebelum bapak memasukkan kemaluannya dia bertanya kapan aku mens, kujawab kirakira lima hari lagi aku mens. Setelah tahu jawabanku, bapak segera mengangkat kedua kakiku dan perlahan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluanku, digoyangkannya pantat bapak majumundur, sensasi kemasukan kemaluan bapak di dalam kemaluanku terulang lagi, aku merasa terangsang lagi, kubantu dengan menggoyangkan pantatku.

    Aku klimaks lagi, tetapi bapak mengajak untuk bersamasama karena beliau juga sudah hampir. setelah beberapa saat kutahan, akhirnya jebol lagi pertahananku, kulihat hampir bersamaan pertahanan bapak juga jebol, akhirnya kami dapat mencapai klimaks secara bersamaan. Lama posisi kemaluan bapak tertancap dalam kemaluanku, akupun tidak dapat berbuat apaapa karena nikmat, setelah beberapa saat kami terdiam, baru dicabutlah kemaluan bapak. Kami berdua mandi bersama layaknya suami istri, aku bilang kepada bapak bila aku sayang kepadanya, dijawab dengan senyuman bapak. Setiap hari semenjak kepergian ibu, kami selalu memadu kasih, tetapi jelas setelah bapak kembali dari kantor. Kadang di kamarku, di kamar bapak, di dapur, di ruang belakang, bahkan pernah di garasi dan di dalam mobil. Hatiku senang, tentram, hingga ibu pulang dari luar kota.


    Hingga suatu malam aku tidak dapat tidur, udara sangat panas sehingga membuatku kegerahan, kucopot beha dan celana dalamku, hingga hanya memakai daster saja, kondisi seperti ini membuat aku menjadi terangsang. Kugosokgosok kemaluanku dan kurabaraba payudaraku sambil membayangkan kejadiankejadian yang kulalui bersama majikan lakilakiku. Tibatiba aku mendengar suara desahan dari kamar tidur majikanku, aku keluar dan jongkok di bawah jendela mendengarkan desahandesahan nikmat kedua majikanku, letak kamar majikanku tidak jauh dar kamarku, hanya dibatasi oleh gudang. Aku terdiam mendengarkan kegiatan di dalam kamar majikanku, kutaksir posisi ibu di atas tubuh bapak.

    Suarasuara itu membuat tegang seluruh tubuhku, kuraba selangkanganku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku meremas payudaraku. Aku terhanyut, mataku terpejam membayangkan kenikmatan itu, tanpa terasa gosokan tangan kanan di kemaluanku semakin cepat, dan jari tengahku sudah masuk kedalam kehangatan kemaluanku, terasa melayang diriku. Tak lama datanglah klimaks, posisiku sudah selonjor kenikmatan, sementara suarasuara di dalam kamar juga tambah seru, tak lama kudengar bapak dan ibu telah mencapai klimaks, kemudian hening.

    Aku terhuyung kembali ke kamarku dan berbaring di tempat tidurku, nafasku masih tersenggal, sisasisa kenikmatan masih terasa, aku melap kemaluanku dengan celana dalamku. Setelah nafasku teratur, kurasakan hatiku sakit, cemburukah aku. dadaku bergejolak, seakan tidak rela bila kedua majikanku bersetubuh. Perasaan ini tidak boleh jawab hati kecilku, tetapi perasaanku tidak dapat dibohongi, aku telah jatuh cinta kepada bapak majikanku. Pikiranku bergejolak, antara logika dengan perasaan, yang aku rasa tidak akan mencapai titik temu, bagaimanakah ini?


    Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pekerjaanku, semula ibu menahan dengan menjanjikan gajiku dinaikkan, tetapi aku menolak, kukatakan bahwa aku akan mencari pengalaman di tempat lain. Malamnya bapak mengintrogasiku, menanyakan kenapa aku pindah dari keluarga itu. Aku bilang bila aku mulai menyukai dan mencintai bapak serta tidak rela bila bapak berdua sama ibu, bapak sendiri tidak dapat berbuat apaapa, kemudian ia mencium pipiku lama sekali, tak terasa menetes air mataku. Besoknya aku pergi dari rumah itu, bapak memberiku uang tujuh kali gajiku, untuk modal katanya yang pasti tanpa sepengetahuan ibu. Sebetulnya berat hatiku meninggalkan keluarga ini, tetapi hati kecilku memberontak, terhadap orang yang aku sayangi. Keputusanku sudah bulat, mungkin nanti suatu saat aku mendapatkan jodoh yang juga menyayangiku seperti bapak.

  • Kisah Memek Sensasi Sinto

    Kisah Memek Sensasi Sinto


    2491 views

    Duniabola99.com – Mungkin libidoku yang tinggi atau apa aku sendiri tidak tahu. Sejak menikah, hubunganku dengan Hariono sudah tidak baik. Hariono adalah tipe anak Mama. Setelah kami menikah aku diboyong ke rumah orang tuanya. Di rumah tersebut aku merasa tidak betah karena Mama Hariono yang cerewet dan selalu membela anaknya dari pada peduli terhadap diriku. Sehingga ringkas cerita tak lama usia perkawinan kami.

    Aku pun pulang ke rumah kedua orang tuaku. Suamiku tetap tinggal bersama orang tuanya karena kami masing-masing berkeras untuk mempertahankan ego dan pendapat kami. Namun hubungan suami istri tetap berlangsung hingga kami dikarunia 3 orang anak. Terkadang hubungan kami lakukan di rumah Hariono, terkadang kami lakukan di rumah orang tuaku. Tak jarang kami lakukan di hotel tatkala Hariono memiliki uang lebih, karena sebenarnya Hariono tidak memiliki penghasilan selain bergantung dari pemberian orang tuanya.

    Dan aku pun hidup bersama ke-3 anakku dari kedua orang tuaku juga. Ini berlangsung bertahun-tahun hingga saat ini. Kehidupan macam ini kusadari tidak baik namun aku pun tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin beginilah garis hidupku. Celakanya Hariono bukanlah tipe lelaki yang setia. Di luar sepengetahuanku, dia sering berganti perempuan. Hingga pernah suatu hari seorang teman baikku memergoki suamiku sedang intim dengan Merry yang juga sahabatku. Mereka berhubungan hingga di atas tempat tidur. Laporan yang sampai ke telingaku ini juga sempat kubuktikan saat Hariono sedang check in di sebuah hotel bersama Merry, karena diam-diam kubuntuti dari belakang sepak terjang mereka mulai saat Hariono menjemput Merry di rumahnya hingga mereka berangkulan mesra memasuki kamar di sebuah hotel.

    Dengan demikian jatah Hariono meniduriku jadi berkurang. Biasanya kami bisa melakukan 3 kali seminggu. Akhir-akhir ini paling banyak hanya seminggu sekali Hariono mengajakku making love. Itu pun atas inisiatif dariku dan tak jarang ia lakukan secara terburu-buru karena harus dilakukan di atas mobilnya. Hal ini terus terang membuatku sangat tersiksa karena kehausan akan permainan sex yang selalu kudambakan.


    Untuk mencapai hasrat yang kuinginkan, sering kulakukan dengan masturbasi di rumah. Kulakukan di kamar tidur atau di kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurku. Aku memang tidur sendirian karena ke-3 anakku setiap hari selalu bersama kedua orang tuaku. Memang sejak aku kembali ke rumah orang tuaku, anak-anakku praktis menjadi milik ibuku yang sangat mencintai cucu-cucunya.

    Walau aku sudah memiliki 3 momongan, body dan penampilanku tetap bagaikan seorang gadis. Apa lagi usiaku yang relatif sangat muda. Bahkan tidak seorangpun percaya kalau aku sudah menikah, apa lagi sudah memiliki anak. Ini merupakan suatu karunia yang luar biasa bagi diriku. Dan yang membuatku lebih bangga lagi, bila aku sedang jalan di Mall, selalu kurasakan banyak mata nakal memandangku penuh arti dan tak jarang mereka juga berani menggodaku. Aku merasakan nikmat saat itu. Apa lagi kalau ada cowok ganteng dan macho yang berani menggangguku. Hatiku terasa sangat sejuk sekali. Akibatnya tak jarang saat aku pulang, kubayangkan wajah laki-laki di mall tadi sambil melakukan masturbasi. Kuusap sendiri vagina, klitorisku dan kumainkan jari lentikku ke dalam lubang vaginaku hingga aku mengalami klimaks yang luar biasa.

    Pada suatu saat, tanpa sengaja aku berkenalan dengan seorang cowok yang usianya jauh di atas usiaku. Sebut saja Sinto yang berusia 40 tahun. Sinto sudah memiliki keluarga dan berpenghasilan cukup, bahkan merupakan salah seorang tokoh masyarakat di kotaku. Aku tidak akan menceritakan kisah perkenalanku dengan Sinto. Ringkas ceritanya kami telah sering berkirim SMS. Sinto yang selalu meneleponku karena selain menghemat pulsaku, juga demi menjaga hubungan Sinto dengan keluarganya.


    Sinto orangnya dewasa sekali, demikian juga tutur katanya. Orangnya juga cukup ganteng bila dibandingkan dengan Hariono. Yang jelas postur tubuh Sinto lebih atletis. Maklum, dia juga mantan olahragawan. Terus terang sosok Sinto sudah merasuki tubuh dan kehidupanku. Sering kubayangkan Sinto saat masturbasi. Saat itu kami belum pernah melakukan hubungan sex karena Sinto pandai menghargaiku, tidak seperti laki-lain yang langsung mengarah ke hal yang satu itu. Hal ini justru menyiksa batinku yang memang sebenarnya sudah haus akan sex.
    Semakin hari SMS dari Sinto sudah mulai menjurus ke arah sana. Mulai dari menanyakanku sedang apa, pakai baju apa dan sebagainya. Saat itu kujawab sejujurnya melalui SMS bahwa aku sedang horny di kamar.

    Kuceritakan keadaanku dengan sejujurnya bahwa aku baru saja selesai mandi, tubuhku bugil hanya dibalut kimono tipis saat itu. Dan Sinto membalas SMS-ku yang mulai menjurus ke arah yang jorok namun aku tidak tersinggung bahkan justru menikmatinya, karena terus terang hal ini telah lama kunanti-nantikan. Sinto membalas SMS-ku dengan mengatakan bahwa ia jadi terangsang saat membayangkan seandainya saat ini dia berada di sampingku saat aku berada dalam posisi seperti saat ini. Sinto mengatakan via SMS bahwa hal yang akan dilakukannya adalah menciumku, mengulum bibirku, menjilat telingaku, leherku rata ke bawah hingga payudaraku, kemudian menjilat serta menghisap putingku secara bergantian.

    Sambil membaca SMS Sinto, aku membayangkan kata-katanya sambil tanganku yang satu mulai meraba serta meremas-remas payudaraku. Akibatnya bibir kemaluanku pun mulai basah karena cairan hangat mulai mengalir deras dari liang vaginaku. Pada SMS berikutnya, Sinto mengatakan bahwa jilatannya akan terus turun menjelajah perut hingga pusarku dan dia tidak akan melewati sejengkal pun tubuh mulusku yang memang telah lama ia idam-idamkan. Jilatannya akan terus berlanjut ke bawah hingga kedua belah pahaku, lututku hingga seluruh jari-jari dan telapak kakiku. Bersamaan dengan itu aku juga melakukan rabaan dan belaian pada tubuhku sesuai dengan isi SMS Sinto. Aku hanya dapat mengerang karena dari liang vaginaku dapat kurasakan cairan bening yang terus mengalir deras membasahi sprei tempat tidurku. Kimono yang kukenakan pun sudah awut-awutan hingga akhirnya kulepaskan sekalian hingga aku pun dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhku.


    Ingin rasanya aku meremas dan mengusap vaginaku yang sudah terasa sangat gatal menanti belaian. Namun aku bertahan hingga mengikuti alur cerita Sinto yang dikirim melalui SMS. SMS berikutnya, Sinto menyampaikan bahwa ia meneruskan jilatan lidahnya naik ke pahaku hingga bagian dalam selangkanganku. Lidahnya akan menjelajah bibir vaginaku. Dan saat itu jari-jari tanganku pun menjelajah ke vaginaku. Jariku mengelus lembut bibir vaginaku. Sungguh tak tak dapat kulukiskan dengan kata-kata kenikmatan yang luar biasa melanda diriku, hingga aku melenguh bagaikan seekor sapi..

    “Ooouuhh.. Uuhh! Aahh..! Clep..! Sleep..!”

    Bersahutan antara suara lenguhanku dengan suara kecipak vaginaku. Akupun mengalami orgasme yang luar biasa hanya dengan khayalanku bersama SMS dari Sinto. Rupanya Sinto masih mengirim SMS-nya bahwa ia akan menjilati klitorisku, menggigit kecil dan menghisap habis cairan yang mengalir dari dalam vaginaku.
    Kubalas SMS Sinto dengan menyampaikan sejujurnya apa saja yang kulakukan saat membaca SMS-nya dan juga kuceritakan sejujurnya bahwa aku telah mengalami orgasme dan sensasi yang luar biasa. Selanjutnya Sinto meneleponku dan mengajakku untuk bertemu. Dia berjanji akan memberikan kenikmatan yang nyata bagi diriku. Terus terang hatiku berdebar karena selama ini kami belum pernah mengobrol sejauh itu dan aku pun belum pernah melakukan hubungan sex dengan orang lain selain dengan Hariono, namun ajakan Sinto untuk bertemu kusetujui. Kami berjanji besok pagi bertemu di sebuah hotel berbintang tertua di kotaku. Sayangnya hotel tersebut saat ini sudah tutup karena pailit dan baru akan direnovasi setelah mendapat investor baru.

    Keesokan harinya kami pun bertemu di hotel M. Rupanya Sinto sudah memesan kamar. Jadi kami pun tidak perlu berlama-lama di lobby hotel dan langsung masuk ke kamar. Dalam kamar, Sinto langsung mencium dan melumat bibirku. Kubalas pagutannya dengan liar karena aku memang sudah sangat haus dan sangat mendambakannya. Tangan Sinto meremas bongkahan pantatku. Aku pun tak ketinggalan melepas kancing bajunya. Tak berapa lama kami pun sudah hampir telanjang bulat. Sinto hanya mengenakan CD dan aku pun hanya menggunakan setelan BH dan CD mini berenda yang berwarna hitam.


    Melihat apa yang kukenakan saat ini, Sinto sepertinya bertambah nafsu. Batang kemaluannya yang cukup besar tersembul dari CD warna putihnya yang segera kuperosotkan dan kuremas batang kemaluannya yang sudah membesar sejak tadi. Ukuran panjangnya normal tapi diameter dan kekerasannya luar biasa menurutku. Batang kemaluan laki-laki yang panjang sering kulihat di BF, tapi batang kemaluan sebesar ini belum pernah kulihat, memang luar biasa.

    Sinto pun mulai melakukan serangan dengan bibir dan lidahnya sesuai dengan janjinya kemarin. Kalau kemarin dia hanya menyampaikannya via SMS, saat ini langsung dia praktekkan ke tubuhku. Mulai dari bibir, telinga, leher hingga kedua payudaraku habis dilalapnya. Memang Sinto sangat piawai melakukan hal ini karena tanpa kusadari BH-ku sudah terlepas sejak tadi. Mungkin aku terlalu menikmati jilatannya sambil tanganku terus meremas dan mengocok batang kemaluannya hingga aku tidak sadar saat BH-ku terlepas.

    Semua ini kami lakukan sambil berdiri hingga kakiku terasa lumpuh dan tubuhku mulai gontai bagaikan ingin pingsan sampai saatnya Sinto membopong tubuhku ke tempat tidur sambil terus melakukan jilatan sensasionalnya hingga ke tubuh bagian bawahku. Tangan kirinya tetap meremas payudaraku. Mulutnya menjelajah ke perutku sambil sesekali lidahnya menjulur di pusarku. Tangan kanannya memerosotkan CD miniku hingga ke lutut dan diteruskannya dengan kedua kakiku hingga aku benar-benar bugil tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh molekku.


    Kami telah benar-benar bugil saat lidah Sinto menjelajah terus ke bawah pahaku. Dijilatinya terus hingga ke jari dan telapak kakiku bergantian kiri dan kanan, hingga entah berapa banyak sudah cairan hangat yang mengalir deras dari dalam liang vaginaku saat itu. Aku pun merasakan sensasi dan kenikmatan yang luar biasa. Aku tak kuasa lagi meremas batang kemaluan Sinto. Kedua tanganku telentang meremas bantal dan sprei di sekelilingku sambil tubuhku menggeliat bagaikan ular di padang pasir kepanasan.

    Sementara itu bibir dan lidah Sinto terus bergeriliya menelusuri pahaku hingga belahan paha bagian dalam. Naik sedikit ke arah selangkanganku, sesekali lidahnya menyentuh bibir vaginaku sehingga cairan hangat dari dalam lubang kenikmatanku mengalir tak terbendung. Sinto tahu dan merasakan itu. Dan langsung dibenamkan mulutnya di vaginaku seakan tak rela cairan itu mengalir merembes ke sprei dengan sia-sia. Dihisap dan ditelannya semua cairan yang ada.

    Bibir vaginaku dan bibir Sinto saling menempel hingga lubang vaginaku berhadap-hadapan dengan mulut Sinto, seakan dua buah ujung selang karet yang saling menempel. Disedotnya semua cairan yang ada dan yang mengalir keluar hingga seakan liang vaginaku disedot vaccum cleaner. Belum cukup sampai di situ, lidah Sinto terus dijulurkannya dan menari-nari di klitorisku dan sesekali lidahnya dijulurkan memasuki liang vagina dan menyentuh dinding vaginaku, hingga aku pun mengalami orgasme, mungkin yang kedua karena saat orgasme yang pertama tadi kurasakan saat jilatan Sinto menyentuh bibir vaginaku. Saat ini jiwaku seakan sudah melayang ke langit ke tujuh. Desahanku sudah meracau sangat keras sambil tanganku meremas dan menjambak rambut kepala Sinto.


    Selesai dengan jilatannya, Sinto pun kembali mencium bibirku sambil batang kemaluannya diarahkannya ke bibir vaginaku. Didorong-dorongkannya pelan, tapi karena vaginaku sudah mengalami lubrikasi sejak tadi maka tanpa kesulitan batang kemaluan Sinto yang mirip rudal itu langsung dengan mudahnya bisa masuk ke dalam lubang vaginaku yang nampaknya sudah menganga lebar saat kubuka pahaku lebar-lebar dan aku mengalami kenikmatan yang luar biasa dan entah berapa kali aku mengalami orgasme lagi selama permainan ini, hingga akhirnya aku dan Sinto mencapai orgasme yang bersamaan.

  • Foto Bugil cewek cantik tinggi lagi sarapan tiba-tiba sange

    Foto Bugil cewek cantik tinggi lagi sarapan tiba-tiba sange


    2393 views

    Duniabola99.com – foto cewek cantik yang lagi sarapan tiba tiba sange dan melepaskan semua pakainannya dan melakukan mastrubasi di kursi dan memamasukkan alat bantuk sex kememeknya hingga basah dan becek.

  • Foto Bugil Remaja dengan payudara eksotis Stacie Jaxxx menggosok klitorisnya

    Foto Bugil Remaja dengan payudara eksotis Stacie Jaxxx menggosok klitorisnya


    2128 views

    Duniabola99.com – foto cewek cantik remaja toketnya padat kenyal bagus melepas BHnya dan juga melepas celana dalamnya dan memainkkan sambil baring di kursi di memeknya yang berwana pink tanpa bulu.

  • Foto Bugil cewek pirang Katrin Tequila suka melepas pakaian di luar sebelum melakukan masturbasi

    Foto Bugil cewek pirang Katrin Tequila suka melepas pakaian di luar sebelum melakukan masturbasi


    1882 views

    Duniabola99.com – foto cewek eropa pirang Katrin Tequila melepas bajunya yang pendek dan juga melepas celana jinsnya yang pendek dikursi taman tempat umum menampakkan toketnya yang kecil dan pantatnya yang bahenol dan juga memamikan memeknya yang hingga becek dengan alat bantu sex.

  • Aika Hoshino Amazes In POV Japanese Solo Show

    Aika Hoshino Amazes In POV Japanese Solo Show


    2367 views

  • Foto Ngentot Latina Yurizan Beltran mengambil cumshot keras setelah blowjob

    Foto Ngentot Latina Yurizan Beltran mengambil cumshot keras setelah blowjob


    2123 views

    Duniabola99.com – foto gadis latin Yurizan Beltran berambut hitam pakai bikini merah sexy toket gede dan memeknya yang temben ngentot dengan pria kekar bekontol gede diatas tempat tidurnya dan memberikan titsjob hingga spermanya munctar diats kedua payudaranya yang gede. Targetqq

     

  • Hentai013

    Hentai013


    2327 views

  • Foto Bugil Model amatir Kylie Quinn olahraga sebelum melepas celana dalamnya

    Foto Bugil Model amatir Kylie Quinn olahraga sebelum melepas celana dalamnya


    2577 views

    Duniabola99.com – foto cewek toket padat pirang Kylie Quinn melepas baju dan celana dalamnya diatas ranjangnya sambil berpose pose.

  • Video Bokep Eropa ngento cewek cantik dalam mobil pertama kali bertemu

    Video Bokep Eropa ngento cewek cantik dalam mobil pertama kali bertemu


    13161 views

  • Foto Bugil tante pirang melepas bikini ungunya

    Foto Bugil tante pirang melepas bikini ungunya


    2323 views

    Duniabola99.com – foto tante pirang cantik pakai bikini berwarna ungu dan memamerkan toketnya yang berukuran sedang dan juga memamerkan memeknya yang tanpa bulu dan tembem.

  • Cerita Sex Mabuk

    Cerita Sex Mabuk


    4516 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Mabuk ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita SexKali ini aku ada bisnis yang harus diselesaikan secepatnya sekarng giliran kota Surabaya yang aku datangi sangat menyenangkan karena disana aku bisa bertemu dengan teman lama yang tak lama jumpa, tapi sayangnya suamiku tidak bisa ikut karena kesibukan kantornya.

    Ya udah aku suruh orang untuk menemaniku dia bernama Andi dia adalah kepercayaan suamiku kami berdua berangkat sore hari agar bisa beristirahat mengingat besok ada meeting dengan client membahas soal kontrak dan negosisai bersama calon klienku bernama pak Reza pukul 9 pagi.

    Pukul 19:00 kami check in di Sheraton Hotel, setelah menyelesaikan administrasinya kami langsung masuk ke kamar masing masing untuk istirahat. Kurendam tubuhku di bathtub dengan air hangat untuk melepas rasa penat setelah seharian meeting di kantor menyiapkan bahan meeting untuk besok.

    Cukup lama aku di kamar mandi hingga kudengar HP ku berbunyi, tapi tak kuperhatikan, paling juga suamiku yang lagi kesepian di rumah, pikirku. Setelah puas merendam diri, kukeringkan tubuhku dengan handuk menuju ke kamar.

    Kukenakan pakaian santai, celana jeans straight dan kaos ketat full press body tanpa lengan hingga lekuk tubuhku tercetak jelas, kupandangi penampilanku di kaca, dadaku kelihatan padat dan menantang, cukup attraktif, di usiaku yang 32 tahun pasti orang akan mengira aku masih berumur sekitar 27 tahun.

    Kutelepon ke rumah dan HP suamiku, tapi keduanya tidak ada yang jawab, lalu kuhubungi kamar Andi yang nginap tepat di sebelah, idem ditto. Aku teringat miss call di HP-ku, ternyata si Rio, gigolo langgananku di Jakarta, kuhubungi dia.

    “hallo sayang, tadi telepon ya” sapaku

    “mbak Eva, ketemu yok, aku udah kangen nih, kita pesta yok, ntar aku yang nyiapin pesertanya, pasti oke deh mbak” suara dari ujung merajuk

    “pesta apaan?”

    “pesta asik deh, dijamin puas, Mbak Cuma sediakan tempatnya saja, lainnya serahkan ke Rio, pasti beres, aku jamin mbak” bujuknya

    “emang berapa orang” tanyaku penasaran

    “rencanaku sih aku dengan dua temanku, lainnya terserah mbak, jaminan kepuasannya Rio deh mbak”

    “asik juga sih, sayang aku lagi di Surabaya nih, bagaimana kalo sekembalinya aku nanti”

    “wah sayang juga sih mbak, aku lagi kangen sekarang nih”

    “simpan saja dulu ya sayang, ntar pasti aku kabari sekembaliku nanti”

    “baiklah mbak, jangan lupa ya”

    “aku nggak akan lupa kok sayang, eh kamu punya teman di Surabaya nggak?” tanyaku ketika tiba tiba kurasakan gairahku naik mendengar rencana pestanya Rio.

    “Nah kan bikin pesta di Surabaya” ada nada kecewa di suaranya

    “gimana punya nggak, aku perlu malam ini saja”

    “ada sih, biar dia hubungi Mbak nanti, nginapnya dimana sih?”

    “kamu tahu kan seleraku, jangan asal ngasih ntar aku kecewa”

    “garansi deh mbak”

    Cerita Sex Mabuk Kumatikan HP setelah memberitahukan hotel dan kamarku, lalu aku ke lobby sendirian, masih sore, pikirku setelah melihat jam tanganku masih pukul 21:00 tapi cukup telat untuk makan malam.
    Cukup banyak tamu yang makan malam, kuambil meja agak pojok menghadap ke pintu sehingga aku bisa mengamati tamu yang masuk. Ketika menunggu pesanan makanan aku melihat Pak Reza sedang makan bersama seorang temannya, maka kuhampiri dan kusapa dia.

    “malam Bapak, apa kabar?” sapaku sambil menyalami dia

    “eh Mbak Eva, kapan datang, kenalin ini Pak Edwin buyer kita yang akan meng-export barang kita ke Cina” sambut Pak Reza, aku menyalami Pak Edwin dengan hangat.

    “silahkan duduk, gabung saja dengan kami, biar lebih rame, siapa tahu kita tak perlu lagi meeting besok” kelakar Pak Edwin dengan ramah.

    “terima kasih Pak, wah kebetulan kita bertemu di sini, kan aku nginap di hotel ini” jawabku lalu duduk bergabung dengan mereka.

    Kami pun bercakap ringan sambil makan malam, hingga aku tahu kalau Pak Edwin dan Pak Reza ternyata sobat lama yang selalu berbagi dalam suka dan duka, meskipun kelihatannya Pak Reza lebih tua, menurut taksiranku sekitar 45 tahun, sementara Pak Edwin, seorang chinesse, mungkin usianya tidak lebih dari 40 tahun, maximum 37 tahun perkiraanku. Setelah selesai makan malam, aku pesan red wine kesukaanku, sementara mereka memesan minuman lain yang aku tidak terlalu perhatikan.

    “Bagaimana dengan besok, everything is oke?” Tanya Pak Reza

    “Untuk Bapak aku siapkan yang spesial, kalau tahu bapak ada disini pasti kubawa proposalku tadi” kelakarku sambil tersenyum melirik Pak Edwin, si cina ganteng itu.

    Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 22:30, cukup lama juga kita ngobrol dan entah sudah berapa gelas red wine yang sudah meluncur membasahi tenggorokanku hingga kepalaku agak berat, tak pernah aku minum wine sebanyak ini, pengaruh alcohol sepertinya sudah menyerangku. Tamu sudah tidak banyak lagi disekitar kami. Kupanggil waitres untuk menyelesaikan pembayaran yang di charge ke kamarku.
    Kamipun beranjak hendak pulang ketika tiba tiba kepalaku terasa berat dan badanku terhuyung ke Pak Edwin, Pak Reza sudah duluan pergi ketika Pak Edwin memeluk dan membimbingku ke lift menuju kamar, aku sendiri sudah diantara sadar dan tidak, ketika Pak Edwin mengambil tas tanganku dan mengambil kunci kamar lalu membukanya.

    Dengan hati hati Pak Edwin merebahkan tubuhku di ranjang, dilepasnya sepatu hak tinggiku dan perlahan membetulkan posisi tubuhku, aku sudah tak ingat selanjutnya.

    Kesadaranku tiba tiba timbul ketika kurasakan dadaku sesak dan ada kegelian bercampur nikmat di antara putingku, kubuka mataku dengan berat dan ternyata Pak Edwin sedang menindih tubuhku sambil mengulumi kedua putingku secara bergantian, tubuhku sudah telanjang, entah kapan dia melepasnya begitu juga Pak Edwin yang hanya memakai celana dalam.

    Bukannya berontak setelah kesadaranku timbul tapi malah mendesah kenikmatan, kuremas rambut kepala Pak Edwin yang masih bermain di kedua buah dadaku. Tangannya mulai mempermainkan selangkanganku, entah kapan dia mulai menjamah tubuhku tapi kurasakan vaginaku sudah basah, aku Cuma mendesah desah dalam kenikmatan.

    “sshh.. eehh.. eegghh” desahku membuat Pak Edwin makin bergairah, dia kemudian mencium bibirku dan kubalas dengan penuh gairah. Kuraba selangkangannya dan kudapati tonjolan mengeras di balik celananya, cukup besar pikirku. Markas Judi Online Dominoqq

    Sambil berciuman, kubuka celana dalamnya. Dia menghentikan ciumannya untuk melepas hingga telanjang, ternyata penisnya yang tegang tidak sedasyat yang aku bayangkan, meski diameternya besar tapi tidak terlalu panjang, paling sepanjang genggamanku, dan lagi belum disunat, ada rasa sedikit kecewa di hatiku, tapi tak kutunjukkan.

    Dia kembali menindih tubuhku, diciuminya leherku sambil mempermainkan lidahnya sepanjang leher dan pundakku, lalu turun dan berputar putar di buah dadaku, putingku tak lepas dari jilatannya yang ganas, jilatannya lalu beralih ke perut terus ke paha dan mempermainkan lututku, ternyata jilatan di lutut yang tak pernah kualami menimbulkan kenikmatan tersendiri. Daerah selangkangan adalah terminal terakhir dari lidahnya, dia mempermainkan klitoris dan bibir vaginaku sambil jari tangannya mulai mengocok vaginaku.

    “sshh.. eegghh.. eehhmm.. ya Pak..truss Pak” desahku merasakan kenikmatan dari jilatan dan kocokan jari Pak Edwin. Pak Edwin kembali ke atasku, kakinya dikangkangkan di dadaku sambil menyodorkan penisnya, biasanya aku tak mau mengulum penis pada kesempatan pertama, tapi kali ini entah karena masih terrpengaruh alcohol atau karena aku terlalu terangsang, maka kuterima saja penisnya di mulutku.
    Kupermainkan ujung kepalanya dengan lidah lalu turun ke batang penis, kemudian tak lupa kantung bolanya dan terakhir kumasukkan penis itu ke dalam mulutku, cukup kesulitan juga aku mengulum penisnya karena batang itu memang besar.

    Dia mengocok mulutku dengan penisnya selama beberapa saat, cukup kewalahan juga aku menghadapi kocokannya untung, tidak berlangsung lama. Pak Edwin kembali berada diantara kakiku, disapukannya penisnya ke bibir vaginaku lalu mendorong tanpa kesulitan berarti hingga melesaklah penis itu ke vaginaku semua, aku merasa masih banyak ruang kosong di bagian dalam vaginaku meski di bagian luarnya terasa penuh oleh besarnya batang penis Pak Edwin.

    “ehh.. sshh.. eeghghgh” aku mulai mendesah ketika Pak Edwin mulai mengocokkan penisnya, dengan cepat dia mengocokku seperti piston pada mesin mobil yang tancap gas, ada perbedaan rasa atas kocokan pada penis yang tidak disunat itu, gesekan pada dinding vaginaku kurang greger, tapi tak mengurangi kenikmatan malahan menambah pengalaman, tanpa ampun pantatnya turun naik di atas tubuhku sambil menciumi leher jenjangku, kurasakan kenikmatan dari kocokannya dan kegelian di leherku.

    Cerita Sex Mabuk Pak Edwin menaikkan tubuhnya dan bertumpu pada lutut dia mengocokku, dengan posisi seperti ini aku bisa melihat expresi wajahnya yang kemerahan dibakar nafsu, tampak sekali rona merah diwajahnya karena kulitnya yang putih tipikal orang cina, wajah gantengnya bersemu kemerahan.

    Kutarik wajahnya dan kucium bibirnya karena gemas, kocokannya makin cepat dan keras, keringat sudah membasahi tubuhnya meski belum terlalu lama kami bercinta. Kugoyangkan pantatku mengimbangi gerakannya, ternyata itu membuat dia melambung ke atas dan menyemprotlah spermanya di vaginaku, kepala penisnya kurasakan membesar dan menekan dinding vaginaku, denyutnya sampai terasa di bibir vaginaku, lalu dia terkulai lemas setelah menyemprotkan spermanya hingga habis.

    Agak kecewa juga aku dibuatnya karena aku bahkan belum sempat merasakan sensasi yang lebih tinggi, terlalu cepat bagiku, tak lebih dari sepuluh menit.

    “sorry aku duluan” bisiknya di telingaku sambil tubuhnya ditengkurapkan di atas tubuhku.

    “nggak apa kok, ntar lagi” kataku menghibur diri sendiri, kudorong tubuhnya dan dia rebah disampingku, dipeluknya tubuhku, dengan tetap telanjang kami berpelukan, napasnya masih menderu deru.

    Aku berdiri mengambil Marlboro putih dari tas tanganku, kunyalakan dan kuhisap dalam dalam dan kuhembuskan dengan keras untuk menutup kekesalan diriku.

    “I need another kontol” pikirku kalut

    Kulihat di HP ada SMS dari Rio dengan pesan “namanya Rino, akan menghubungi mbak, dari Rio”
    Jarum jam sudah menunjukkan 23:20, berarti cukup lama aku tadi tidak sadarkan diri sampai akhirnya “dibangunkan” Pak Edwin, kulihat Pak Edwin sudah terlelap kecapekan, kupandangi dia, dengan postur tubuh yang cukup atletis dan wajah yang ganteng sungguh sayang dia tidak bisa bertahan lama, pikirku.
    Kunyalakan Marlboro kedua untuk menurunkan birahiku yang masih tinggi setelah setelah mendapat rangsangan yang tak tuntas, lalu kucuci vaginaku dari sperma Edwin, kalau tidak ingat menjaga wibawa seorang boss, sudah kuminta si Andi menemaniku malam ini, tapi ketepis angan itu karena akan merusak hubungan kerjaku dengannya.

    Kulayangkan pandanganku keluar, gemerlap lampu Kota Surabaya masih kukenali meski sudah bertahun tahun kutinggalkan. Kalau tidak ada Pak Edwin mungkin sudah kuhubungi Rio untuk segera mengirim Rino kemari, tapi aku jadi nggak enak sama dia.

    Ketika akan kunyalakan batang rokok ketiga, kudengar bel pintu berbunyi, agak kaget juga ada tamu malam malam begini, kuintip dari lubang intip di pintu, berdiri sosok laki laki tegap dengan wajah ganteng seganteng Antonio Banderas, maka kukenakan piyama dan kubuka pintu tanpa melepaskan rantai pengamannya.

    “mbak Eva? saya Rino temannya Rio” sapanya

    Agak bingung juga aku, disatu sisi aku membutuhkannya apalagi dengan penampilan dia yang begitu sexy sementara di sisi lain masih ada Pak Edwin di ranjang.

    “Sebentar ya” kataku menutup pintu kembali, terus terang aku nggak tahu bagaimana menentukan sikap, sebenarnya aku nggak keberatan melayani mereka berdua malah itu yang aku harapkan tapi bagaimana dengan Pak Edwin, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu aku kenal, tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang bisnis women professional, aku bingung memikirkannya.

    “kudengar ada bel pintu, ada tamu kali” kata Pak Edwin dari ranjang

    “eh..anu..enggak kok Pak” jawabku kaget agak terbata

    “jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi dengan apa yang baru saja terjadi, panggil Edwin atau Koh Edwin saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua”

    “iya teman lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aku suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi” kataku

    “ah nggak pa pa kok, santai saja” jawabnya ringan.

    Aku kembali membuka pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, usia paling banter 26 tahun, makin membuat aku kepanasan.

    “di dalam ada rekanku, bilang aja kamu teman lama dan apapun yang terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa apa kamu harus nurut, besok aku telepon lagi, aku mohon pengertianmu” kataku pada Rino tegas.

    “Nggak apa mbak, aku ikuti saja permainan Mbak Eva, aku percaya sama Rio dan aku orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri” katanya lalu kupersilahkan masuk.
    Kulihat Edwin masih berbaring di ranjang dengan bertutupkan selimut. Aku jadi canggung diantara dua laki laki yang baru kukenal ini sampai lupa mengenalkan mereka berdua, basa basi kutawari Rino minuman, tiba tiba Edwin bangkit dari ranjang dan dengan tetap telanjang dia ke kamar mandi. Aku kaget lalu melihat ke Rino yang hanya dibalas dengan senyuman nakal.

    “wah ngganggu nih” celetuk Rino

    “ah enggak udah selesai kok”jawabku singkat

    “baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Lily” teriak Edwin dari kamar mandi, entah basa basi atau bercanda atau serius aku nggak tau.

    “Rio udah cerita sama aku mengenai mbak” bisik Rino pelan supaya tidak terdengar Edwin.
    Edwin keluar dari kamar mandi dengan tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan keberadaan Rino dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua.

    Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Edwin mulai menjamah buah dadaku, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Edwin mengulum putingku secara bergantian, kuremas remas rambutnya yang terbenam di kedua buah dadaku.
    Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya.

    Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan tubuhnya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Edwin di seluruh tubuhku, kupejamkan mataku sambil menikmati cumbuan Edwin.

    Ketika jilatan Edwin mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaku dari belakang, kubuka mataku ternyata Edwin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba raba Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaku membuat aku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang secara bersamaan, terutama yang dari Rino lebih menarik konsentrasiku.

    Mereka merebahkan tubuhku di ranjang, Edwin tetap berkutat di vaginaku sementara Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai penis Rino yang menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa penisnya lebih panjang, hampir dua kali punya Edwin meski batangnya tidak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar membuat aku semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk mendapatkan ketegangan maximum dari penisnya.

    Edwin membalikkan tubuhku dan memintaku pada posisi doggie, Rino secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi penisnya tepat menghadap ke mukaku persisnya ke mulutku.
    Untuk kedua kalinya Edwin melesakkan penisnya ke vaginaku dan langsung menyodok dengan keras hingga penis Rino menyentuh pipiku.
    Kuremas penis itu ketika Edwin dengan gairahnya mengobok obok vaginaku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yang diberikan Edwin, kujilati Penis Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Edwin menghentakkan tubuhnya ke pantatku, meski tidak sampai menyentuh dinding terdalam vaginaku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya.

    Kukulum penis Rino dengan gairah segairah kocokan Edwin padaku, Rino memegang kepalaku dan menekan dalam dalam sehingga penisnya masuk lebih dalam ke mulutku meski tidak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Edwin meraba raba punggungku hingga ke dadaku, sementara Rino tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan penisnya dari mulutku.

    “eegghhmm.. eegghh” desahku dari hidung karena mulutku tersumbat penis Edwin.

    Tak lama kemudian Edwin menghentikan kocokannya dan mengeluakan penisnya dari vaginaku meski belum kurasakan orgasmenya, Rino lalu menggantikan posisi Edwin, dengan mudahnya dia melesakkan penisnya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari penis Edwin, kini ini kurasakan dinding bagian dalam vaginaku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika penis Rino menyentuhnya.
    Dia langsung mengocok perlahan dengan penuh perasaan seakan menikmatai gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat, tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan dengan gerakan tubuhnya sehingga penisnya makin masuk ke dalam mengisi rongga vaginaku yang tidak berhasil terisi oleh penis Edwin.

    Ada kenikmatan yang berbeda antara Edwin dan Rino tapi keduanya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku saat ini. Cukup lama Rino menyodokku dari belakang, Edwin entah kemana dia tidak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tidak orgasme duluan.

    Rino lalu membalikku, kini aku telentang di depannya, ditindihnya tubuhku dengan tubuh sexy-nya lalu kembali dia memasukkan penisnya, dengan sekali dorong amblaslah tertelan vaginaku, dengan cepat dan keras dia mengocokku, penisnya yang keras dengan kepala besar seakan mengaduk aduk isi vaginaku, aku mendesah tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat.

    “eehh..yess..fuck me hard..yess” desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu. Sambil mendesah kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tidak lebih dari 26 tahun, membuat aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya.

    Kulihat Edwin berdiri di samping Rino, tatapan mataku tertuju pada penisnya yang terbungkus kondom yang menurutku aneh, ada asesoris di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkal penisnya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku dengan pandangan dan senyum nakal.

    Ditepuknya pundak Rino sebagai isyarat, agak kecewa juga ketika Rino menarik keluar penisnya disaat saat aku menikmatinya dengan penuh nafsu.
    Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama ketika Edwin menggantikan posisinya, begitu penisnya mulai melesak masuk kedalam tak kurasakan perbedaannya dari sebelumnya tapi begitu penisnya masuk semua mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan, ternyata kepala kondom itu langsung menggesek gesek klitorisku saat Edwin menghunjam tajam ke vaginaku, klitorisku seperti di gelitik gelitik saat Edwin mengocok vaginaku, suatu pengalaman baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah.

    Cerita Sex Mabuk Edwin merasakan kemenangan ketika tubuhku menggelinjang menikmati sensasinya. Rino kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu tubuhnya naik ke atas tubuhku dan mekangkangkan kakinya di kepalaku, disodorkannya penisnya ke mulutku, aku tak bisa menolak karena posisinya tepat mengarah ke mulut, kucium aroma vaginaku masih menempel di penisnya, langsung kubuka mulutku menerima penis itu.

    Sementara kocokan Edwin di vaginaku makin menggila, kenikmatannya tak terkirakan, tapi aku tak sempat mendesah karena disibukkan penis Rino yang keluar masuk mulutku. Aku menerima dua kocokan bersamaan di atas dan dibawah, membuatku kewalahan menerima kenikmatan ini.

    Setelah cukup lama mengocokku dengan kondom kepalanya, Edwin menarik keluar penisnya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke vaginaku, tak lama kemudian kurasakan denyutan dari penis Edwin yang tertanam di vaginaku, denyutannya seakan memelarkan vaginaku karena terasa begitu membesar saat orgasme membuatku menyusul beberapa detik kemudian, dan kugapailah kenikmatan puncak dari permainan sex, kini aku bisa mendapatkan orgasme dari Edwin.

    Tahu bahwa Edwin telah mendapatkan kepuasannya, Rino beranjak menggantikan posisi Edwin, tapi itu tak lama, dia memintaku untuk di atas dan kuturuti permintaannya.

    Rino lalu telentang di sampingku, kunaiki tubuhnya dan kuatur tubuhku hingga penisnya bisa masuk ke vaginaku tanpa kesulitan berarti. Aku langsung mengocok penisnya dengan gerakan menaik turunkan pantatku, buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya, diremasnya dengan penuh gairah seiring dengan kocokanku.
    Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Rino, makin dia melawan makin dalam penisnya menancap di vagina dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. Karena gairahku belum turun banyak saat menggapai orgasme dengan Edwin, maka tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Rino, denyutanku seolah meremas remas penis Rino di vaginaku.

    “OUUGGHH.. yess.. yess.. yess” teriakku

    Rino yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah, tubuhku ambruk di atas dadanya, sambil tetap mengocokku dia memeluk tubuhku dengan erat, kini aku Cuma bisa mendesah di dekat telinganya sambil sesekali kukulum.

    Tak berapa lama kemudian Rino pun mencapai puncaknya, kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di vaginaku terutama kepala penisnya yang membesar hingga mengisi semua vaginaku.

    “oouuhh..yess..I love it” teriakku saat merasakan orgasme dari Rino.

    Kurasakan delapan atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang dan lemaslah batang penis di vaginaku itu.

    Kami berpelukan beberapa saat, kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya, Rino memiringkan tubuhnya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di tubuhku sambil tangannya ditumpangkan di buah dadaku, kurasakan hembusan napasnya di telingaku.

    “mbak Eva sungguh hebat” bisiknya pelan di telingaku.

    Aku hanya memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi.

    Akhirnya kami dikagetkan bunyi “beep” satu kali dari jam tangan Rino yang berarti sudah jam 1 malam.

    “Rino, kamu nginap sini ya nemenin aku ya, Koh Edwin kalau nggak keberatan dan tidak ada yang marah di rumah kuminta ikut nemenin, gimana?” pintaku

    “Dengan senang hati” jawabnya gembira, Rino hanya mengangguk sambil mencium keningku.
    Kami bertiga rebahan di ranjang, kumiringkan tubuhku menghadap Edwin, kutumpangkan kaki kananku ke tubuhnya dan tanganku memeluk tubuhnya, sementara Rino memelukku dari belakang, tangannya memegang buah dadaku sementara kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku
    Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan, aku berada ditengah diantara dua laki laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.

    Entah berapa lama kami tidur dengan posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik vaginaku, kubuka mataku untuk menepis kantuk, ternyata Rino berusaha memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang dengan posisi seperti itu.

    Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan padanya, lalu kembali dia melesakkan penisnya ke vaginaku, aku masih tidak melepaskan pelukanku dari Edwin sementara Rino mulai mengocokku dari belakang dengan perlahan sambil meremas remas buah dadaku.

    Cerita Sex Mabuk Tanganku pindah ke penis Edwin dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Edwin masih memejamkan matanya, sepuluh menit kemudian Rino kurasakan denyutan kuat dari penis Rino pertanda dia orgasme, tanpa menoleh ke Rino aku melanjutkan tidurku, tapi ternyata Edwin sudah bangun, dia memintaku menghadap ke Rino ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi sambil aku memeluk tubuh Rino dan memegangi penisnya yang sudah mulai melemas.

    Berbeda dengan kocokan Rino yang pelan pelan, Edwin melakukan kocokan dengan keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan, cukup lama Edwin mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus.

    Kami terbangun sekitar pukul delapan ketika telepon berbunyi, kuangkat dan ternyata dari Andi.

    “pagi bu, udah bangun?” tanyanya dari seberang

    “pagi juga Andi, untung kamu bangunin kalau tidak bisa ketinggalan meeting nih, oke kita ketemu di bawah pukul 9, tolong di atur tempat meetingnya, cari yang bagus” jawabku memberi perintah

    “beres bu” jawabnya

    “Edwin, aku ada meeting dengan Pak Reza jam 10, kamu bagaimana?” tanyaku

    “lho meetingnya kan juga sama sama aku” jawab Edwin

    “oh ya? dia tidak pernah cerita tuh, dia Cuma bilang meetingnya antara aku, dia dan satu orang lagi rekannya”

    “oke anyway, aku tak mau datang ke tempat meeting dengan pakaian yang sama dengan kemarin”

    “Ayo mandi lalu kita cari pakaian di bawah” kataku

    “Rino, kamu boleh tinggal disini atau pergi, tapi yang jelas aku nanti memerlukanmu setelah meeting” kataku sambil menuju ke kamar mandi menyusul Edwin yang mandi duluan.

    Kami berdua mandi dibawah pancuran air hangat, kami saling menyabuni satu sama lain, dia memelukku dari belakang sambil meremas remas buah dadaku dan menjilati telingaku, kuraih penisnya dan kukocok, tubuh kami yang masih berbusa sabun saling menggesek licin, ternyata membuatku lebih erotis dan terangsang.

    Tanpa menunggu lebih lama kuarahkan angkat kaki kananku dan mengarahkan penisnya ke vaginaku, dengan ketegangannya ditambah air sabun maka mudah baginya untuk masuk ke dalam, Edwin langsung menancapkan sedalam dia bisa.
    Pancuran air panas membasahi tubuh kami berdua lebih romantis rasanya, tapi itu tak berlangsung lama ketika Edwin menyemprotkan spermanya di dalam vaginaku, tidak banyak dan tidak kencang memang tapi cukuplah untuk memulai hari ini dengan dengan penuh gairah.

    Setelah mandi aku mengenakan pakaian kerja resmi, entah mengapa kupilih pakaian yang resmi tapi santai, mungkin karena terpengaruh perasaanku yang lagi bergairah maka tanpa bra kukenakan tank top dan kututup dengan blazer untuk menutupi putingku yang menonjol di balik tank top-ku, lalu kupadu dengan rok mini sehingga cukup kelihatan resmi, aku merasa sexy dibuatnya.
    Kutinggalkan amplop berisi uang di meja dan kucium Rino.

    “Kalau kamu mau mau keluar ada uang di meja, ambil saja ntar aku hubungi lagi, kalau mau tinggal up to you be my guest” bisikku yang dibalas ciuman dan remasan di buah dadaku.

    Pukul 9:15 kami keluar kamar, bersamaan dengan Andi keluar dari kamarnya tepat ketika aku keluar bersama Edwin dan Rino memberiku ciuman di depan pintu, dia menoleh ke arah kami tapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain seolah tidak melihat, tapi aku yakin dia melihatnya.

    “Morning Andi” sapaku

    “eh morning Bu, ruang meeting sudah aku atur dan semua dokumen sudah saya siapkan, copy file-nya ada di laptop ibu” jawabnya memberi laporan ketika kami menuju lift.

    “Thanks Ndi” jawabku singkat.

    Cerita Sex Mabuk Kami bertiga terdiam di lift, aku yang biasanya banyak bicara mencairkan suasana jadi kaku dan salah tingkah, masih memikirkan apa yang ada di pikiran Andi bahwa aku keluar dari kamar dengan seorang laki laki dan ada laki laki lainnya di kamarku, ah persetan pikirku, saking kikuknya sampai aku lupa mengenalkan Edwin pada Andi.

    Dalam kebekuan kuamati Andi dari bayangan di cermin lift, baru kusadari kalau sebenarnya Andi mempunyai wajah tampan dan berwibawa, meski umurnya baru 27 tahun tapi ketegasan tampak di kerut wajahnya.

    Sedikit lebih tinggi dariku tapi karena aku pakai sepatu hak tinggi, maka kini aku lebih tinggi darinya, posturnya tubuhnya cukup proporsional karena dia sering cerita kalau fitness secara teratur 3 kali seminggu, aku baru sadar bahwa selama ini aku nggak pernah melihat Andi sebagai seorang laki laki, tapi lebih kepada pandangan seorang Bos ke anak buahnya.

    Diluar dugaan, Andi ternyata memergokiku saat mengamatinya, pandangan mata kami bertemu di pantulan cermin.

    “Ting”, untunglah lift terbuka, aku segera keluar menghindar dari pandangan Andi, kami langsung breakfast setelah terlebih dulu mencarikan Edwin pakaian dan dasi pengganti, meski Shopping Arcade masih belum buka karena terlalu pagi, tapi dengan sedikit paksaan akhirnya mereka mau juga melayani kami.

    “Eh Bu Eva, saya kok belum dikenalin dengan Mas ini” Tanya Edwin bersikap resmi, mengingatkanku akan kekonyolanku pagi ini.

    “Oh iya, Andi, ini Pak Edwin, clien dari Pak Reza yang akan menjual produk kita ke Cina yang berarti Clien kita juga, dan nanti Pak Edwin akan gabung dengan kita di meeting” kataku yang disambut uluran tangan Edwin ke Andi.

    “Pak Edwin, Andi ini salah satu orang kepercayaan saya, dialah yang in charge nanti, meski baru dua tahun ikut saya tapi naluri bisnisnya boleh di uji” lanjutku memuji Andi, itu biasa kulakukan untuk memperbesar rasa percaya diri anak buah sekaligus supaya

    clien lebih confident.

    Ini adalah breakfast terlama yang pernah aku alami, serba salah tingkah dan yang pasti aku tak berani memandang Andi, entah mengapa. Untunglah Edwin bisa mencairkan suasana bengan berbagai joke-nya.

    Bertiga kami masuk ke ruang meeting yang sudah di booking Andi, ternyata cukup nyaman suasananya, tidak seperti ruang meeting biasa yang kaku dan menjemukan, tapi lebih terkesan bernuansa santai tapi serius, Meeting table bulat dengan dikelilingi 6 kursi putar, sementara dipojokan ada sofa dan meja kecil, di ujung yang lain terdapat tea set lengkap dengan electric kettle.
    Aku dan Andi duduk bersebelahan menyiapkan dokumen di meja, kuletakkan laptop di depanku, Pak Edwin duduk di sebelah kiriku.

    “Ndi tolong nyalakan laptop, aku ke toilet sebentar” kataku sambil meninggalkan mereka berdua. Kuhabiskan sebatang Marlboro di toilet untuk menghilangkan keteganganku dan kurapikan baju dan make up ku.

    Pak Reza sudah berada di ruangan ditemani dengan wanita yang muda dan cantik ketika aku kembali ke ruangan meeting.

    “Pagi Pak Reza, pagi Bu” sapaku sambil menyalami mereka berdua

    “Pagi juga Mbak Eva, anda kelihatan cantik pagi ini” kata Pak Reza

    “emang selama ini nggak cantik” jawabku

    “Eva” sapaku pada wanita di samping Pak Reza sambil mengulurkan tangan

    “Lisa” jawabnya sambil tersenyum manis

    “bukan begitu, tapi pagi ini lebih cantik dan cerah”

    “Oh Mbak Meli, selama ini kita hanya bertemu lewat telepon dan faximile” kataku lagi

    “dan sekarang inilah dia orangnya” lanjut Pak Reza.

    Ternyata Andi belum menyalakan laptopku, agak marah juga aku melihat dia tidak melaksanakan perintahku, maka dengan mata melotot ke arahnya kuambil kembali laptopku dari hadapannya lalu kunyalakan.

    Cerita Sex Mabuk Betapa terkejutnya aku ketika laptop itu menyala, tampak di monitor laptopku seorang wanita sedang telentang menerima kocokan di vaginanya sementara mulutnya mengulum penis kedua dan tangan satunya memegang penis ketiga, aku baru tersadar kalau sebelum berangkat dari kantor kemarin sempat membuka koleksi pic yang ada laptop-ku dan karena buru buru mungkin saat mematikan laptop bukan “shut down” yang aku pilih tapi “stand by”.

    Mukaku merah dibuatnya, untung tak ada yang memperhatikan, langsung aku “re-booting”, kulirik Andi tapi dia menyiapkan document dan tidak memperhatikanku, pantesan dia langsung mematikannya, pikirku. Aku jadi lebih salah tingkah lagi terhadap Andi, tapi segera aku kembali konsentrasi untuk meeting ini.
    Meeting dimulai dengan presentasi Andi dan dilakukan tanya jawab, justru yang banyak bertanya adalah Meli dan itu dilayani dengan cekatan oleh Andi, sementara aku Cuma kadang kadang saja menguatkan pendapat Andi atau membantunya membuat keputusan untuk menerima atau klarifikasi.

    Hal ini kulakukan untuk lebih meyakinkan Meli maupun Pak Reza disamping untuk memperbesar rasa percaya diri pada Andi. Cukup alot juga pembicaraan antara mereka berdua, tapi aku tak mau mencampuri sebelum dia benar benar kepepet. Aku kagum sama Meli yang cantik tapi piawai dalam negosiasi.

    Setelah masalah teknis dan kontrak selesai sampailah pada masalah harga dan itu adalah tugasku dengan Pak Reza, dengan beberapa alternatif harga yang aku tawarkan akhirnya dicapailah kesepakatan.

    “Ndi, kamu revisi dan di print di Business Center supaya bisa ditandatangani sekarang juga, jangan lupa materei-nya” perintahku

    “baik bu”jawabnya lalu dia keluar sambil membawa laptopku dokumen dokumen yang diperlukan.
    Kupesan champagne merayakan kerja sama ini ketika Andi sudah meninggalkan ruangan.

    “Selamat Mbak Eva semoga sukses dengan kerja sama kita ini” Pak Edwin menyalamiku sambil mencium kedua pipiku.

    Aku menyalami lalu memeluk Meli dan menempelkan pipiku padanya.

    “Anda begitu hebat dalam negosiasi” kataku

    Tanpa kuduga dia menjawab berbisik di telingaku.

    “terima kasih, Pak Reza tahu lho apa yang terjadi tadi malam di tempat Ibu”

    “oh ya? apa itu”jawabku kaget

    “Pak Edwin menginap di tempat mbak” katanya pelan mengagetkanku

    “dan satu orang cowok lagi” lanjutnya

    Kulepas pelukannya dan kupandangi Meli yang masih kelihatan polos itu, lalu pandanganku beralih ke Edwin sebagai protes, tapi dia hanya mengerutkan kening dan mengangkat bahu saja sambil senyum.

    Tak sempat terbengong lebih lama, Pak Reza menyalamiku

    “Selamat atas kerja sama kita” katanya sambil menyalamiku dan tak kusangka sangka dia menarik tubuhku ke pelukannya

    “I know what you did last night” katanya sambil mempererat pelukannya dan mengelus elus punggungku.

    Aku masih tertegun tak merespon ucapan maupun tindakan Pak Reza, tapi kurasakan buah dadaku tergencet di dadanya saat dia memelukku erat. “Pak Reza banyak orang, malu ah” jawabku pelan

    “banyak orang? ini kan kita kita juga” jawabnya tanpa melepas pelukannya tapi malah meremas pantatku

    Kulirik Pak Edwin, dia hanya bediri di pojok melihat kami, sementara Meli malah mendekat ke Pak Edwin.

    “Mari kita rayakan kerja sama ini dengan penuh persahabatan” bisiknya sambil mencium pipi dan bibirku bersamaan dengan tangannya menyingkap rok miniku hingga ke pinggang, aku yakin Meli maupun Edwin bisa melihat celana dalam model “Thong” yang hanya terdapat penutup segitiga kecil di depan, hingga pasti mereka sudah melihat pantatku.

    Ciuman Pak Reza sudah sampai di leherku, dilepasnya blazer yang menutupi bagian luarku hingga tampak tank top pink yang kukenakan dibaliknya. Dengan hanya mengenakan tank top, maka tampaklah putingku yang menonjol di baliknya.
    Sebenarnya aku bisa saja menolak cumbuan Pak Reza kalau mau, tapi melihat pandangan Pak Reza yang penuh wibawa dan wajahnya yang galak tegas membuat aku takluk dalam pelukan dan ciumannya.

    Cerita Sex Mabuk Bukan ketakutan masalah bisnis, aku yakin sebagai seorang professional dia bisa membedakan antara bisnis dan pribadi, tapi memang pada dasarnya aku juga mau dicumbunya.
    Kulihat Pak Edwin sudah berciuman dengan Meli sementara tangannya meremas remas buah dada Meli yang montok itu.

    Pak Reza lalu menelentangkan tubuhku di atas meja meeting, disingkapkan rokku dan dari celah celana dalam mini dia mulai menciumi dan menjilati vaginaku dengan gairahnya.

    Tiba tiba kami dikagetkan ketukan di pintu, segera aku berdiri dan membetulkan rok miniku dan kuambil blazerku, tapi Pak Reza memberi tanda supaya nggak usah dipakai.

    Meli membuka pintu, ternyata room boy yang mengantar champagne pesananku, Meli menerima dan menyelesaikan pembayarannya ke kamarku dan dia minta supaya di depan pintu diberi tanda “DO NOT DISTURB”.

    Setelah mengunci pintu Meli membuka dan menuangkan untuk kami.

    Pak Reza tak mau kehilangan waktu, begitu pintu ditutup, dia kembali memelukku lalu menurunkan tali tank top ku hingga ke tangan, setelah meremas remas sambil mencium leherku, ditariknya tank topku hingga ke perut, maka terpampanglah buah dadaku di depan semua orang.

    “wow, very nice breast, begitu kencang, I love it” komentar Pak Reza lalu kepalanya dibenamkan di antara kedua bukit itu sambil tangannya meremas remasnya. Ciumannya dengan cepat berpindah ke puncak bukit dan secara bergantian dia mengulum dari satu puncak ke puncak lainnya.

    Dengan cepat ciuman Pak Reza turun ke perut dan selangkanganku setelah terlebih dahulu melemparkan tank top ke Edwin dan kembali merebahkan aku di meja meeting, dijilatinya vaginaku dari balik celana dalamku.

    Edwin mendekatiku dari atas lalu mencium bibirku dan meremas buah dadaku kemudian mengulum putingnya, sementara jilatan Pak Reza makin menggila di vaginaku, tapi aku tak berani mendesah.

    Meli sudah melepas blazernya hingga kelihatan buah dadanya yang montok menantang dibalik kaos you can see ketatnya, dia hanya duduk memperhatikan kami, tak seorangpun menyentuh champagne yang sudah kupesan, ternyata akulah yang menjadi santapan selamat, bukan champagne itu. Disaat aku lagi meregang dalam kenikmatan, kembali kami dikagetkan suara handle pintu dibuka, lalu berganti dengan ketukan.

    “Andi” teriakku panik aku tak ingin Andi melihatku dalam keadaan seperti ini, akan mengurangi wibawaku dimatanya.

    Kudorong kepala Pak Reza dengan halus, aku mencari tank top atau blazerku tapi terlambat, Meli sudah membuka dengan hati hati pintu itu dan masuklan Andi dengan membawa laptop dan dokumen dokumennya sebelum aku sempat menutupi tubuh atasku.

    Kulihat wajah Andi melongo terkaget kaget melihat aku duduk di meja meeting dalam keadaan topless dan kaki di atas kursi, sementara Pak Reza masih jongkok di bawahku dan Edwin ada dibelakangku dengan bertelanjang dada.

    “eh ma..ma..maaf mengganggu” katanya lalu berbalik ke pintu, tapi Meli segera menghalangi dan menutup kembali pintu itu.

    “Udah duduk saja di sini” jawab Meli sambil menghalangi pintu itu dengan tubuhnya.

    “tapi..tapi ..tapi ini harus ditandatangani” jawabnya belum sadar dengan apa yang terjadi.

    “nggak ada tapi, tanda tangan mah gampang, sini aku Bantu” kata Meli sambil mengambil dokumen dan laptop dari tangan Andi dan meletakkannya di meja pojok ruangan di samping champagne.

    “taruh di sini saja, kamu lihat sendiri kan mereka sedang sibuk” kata Meli sambil menarik Andi duduk disebelahnya di sofa.

    Kulihat wajah Andi masih melongo kaget melihat bagaimana tingkah lakuku.

    “Sudah terlambat, persetan, apa yang terjadi terjadilah” pikirku dan kembali telentang di meja menuruti permintaan Pak Reza, dipelorotnya rok mini dan celana dalamku.

    Pada mulanya agak risih juga bertelanjang di depan Andi tapi selanjutnya sudah tak kuperhatikan lagi kehadiran Andi di ruangan itu ketika lidah Pak Reza dengan cantiknya kembali menggelitik klitorisku. Edwin membimbing tanganku dan dipegangkan ke penisnya yang sudah tegang, ternyata dia sudah mengeluarkan penisnya dari lubang resliting, tanpa menunggu lebih lama kukocok penis itu.

    Pak Reza melepas celana dalamku dan dilemparkannya ke arah Meli dan Andi, ternyata Meli sudah duduk di pangkuan Andi dan mereka sedang berciuman. Pak Reza menarikku duduk di tepi meja, ternyata dia masih berpakaian lengkap.

    Kubantu melepaskan pakaiannya, lalu aku jongkok di depannya, kupelorotkan celananya, ternyata dia tidak memakai celana dalam, dan wow penisnya yang menegang membuatku terpesona, besar dengan guratan otot di batangnya menonjol dengan jelas.

    Segera kujilati kepala penisnya dan memasukkan kepala penisnya ke mulutku, kupermainkan dengan lidahku di dalam, tak tahan diperlakukan seperti itu, Pak Reza menaikkanku kembali duduk di meja, disapukannya kepala penis itu ke bibir vaginaku, pelan pelan mendorong hingga masuk semua lalu didiamkannya sejenak, maka melesaklah penis kedua di hari untuk vaginaku.

    Dia memandangku dengan penuh nafsu, mencium bibirku, lalu mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur mengocok vaginaku, tangannya meraba buah dadaku lalu wajahku dan jarinya dimasukkan ke mulutku, kukulum dan kupermainkan jarinya dengan lidahku.

    Pak Edwin mendekat lalu meremas remas buah dadaku, kuraih penisnya yang masih tegang nongol dari lubang resliting dan kukocok seirama kocokan Pak Reza.

    Kudengar desahan dari tempat lain, ternyata Meli sudah semi telanjang di pangkuan Andi sedang mendapat kuluman dan remasan darinya di kedua putingnya, buah dada Meli yang montok itu hampir menutup wajah Andi yang sedang terbenam di celah celahnya.

    Melihat hal itu, Pak Edwin meninggalkan kami menuju ke Meli dan Andi, segera dia mengulum puting Meli yang merah menantang berbagi dengan Andi, mendapat kuluman dari dua orang, Meli sepertinya ingin teriak tapi ditahannya dengan menggigit jarinya.

    Setelah puas mengocokku dari depan sambil meremas remas buah dadaku, Pak Reza memintaku berbalik, maka aku berdiri membelakangi dia dan tubuhku membungkuk ke depan bertumpu pada meja, kaki kananku kunaikkan di kursi.
    Pak Reza kembali melesakkan penisnya di vaginaku, dia mengocok dengan kerasnya hingga meja meeting itu begoyang goyang. Dengan posisi seperti ini aku bisa melihat Meli sedang duduk di sofa menerima jilatan Andi di vagina mengulum penis Pak Edwin yang berdiri di sampingnya.

    Kocokan Pak Reza serasa menggesek semua sisi dinding vaginaku, begitu nikmat hingga aku melayang dibuatnya, ingin aku menjerit karenanya tapi kutahan dengan menggigit bibirku

    Terbuai oleh kenikmatan dari Pak Reza, tanpa kusadari ternyata Meli, Andi dan Edwin ternyata sudah bergeser ke meja di dekatku hingga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Andi mempermainkan klitoris Meli sambil mengocokkan jarinya, ternyata dia sudah mahir juga, batinku. Sementara Pak Edwin berada di antara aku dan Meli, sambil mengulum puting Meli dia meremas buah dadaku.

    Terkaget aku ketika melihat Andi mengusapkan penisnya di vagina Meli, ternyata penis Andi begitu besar, sepertinya jauh lebih besar dari punya Pak Reza apalagi Pak Edwin, mungkin sama besar dengan punya suamiku tapi dengan bentuk yang melengkung ke atas membuatku ingin menikmatinya, itu adalah bentuk penis favoritku.

    Sepertinya dia kesulitan memasukkan penis besarnya ke vagina Meli, berulang kali dia berusaha memasukkan tapi gagal meski vagina Meli sudah basah, dicoba lagi dan dicoba lagi hingga berhasil meski hanya separuh, tapi Meli sudah menggelinjang gelinjang entah kesakitan atau ke-enak-an.

    Kupegang tangannya dan dia meremasnya dengan kuat saat Andi berusaha mendorong lebih dalam, memasukkan mili demi mili penisnya ke dalam vagina Meli. Sementara kocokan Pak Reza juga tak kalah nikmatnya, goyangannya semakin bervariasi menghunjam vaginaku dari berbagai arah dan gerakan. Tangan kami saling meremas dalam kenikmatan.

    Andi mulai mengocok Meli dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, desah tertahan keluar dari hidung Meli, dia kelojotan menerima kocokan Andi meskipun pelan menurutku, sambil meremas buah dada Meli Andi mulai mempercepat dan menyodok dengan keras. Remasan tangan Meli makin kencang, sekencang kocokan Andi padanya.

    “Aaauughh..eeghh..ss” teriak Meli tak dapat menahan kenikmatan yang diberikan Andi

    “sstt” bisikku sambil menutupkan tanganku ke mulutnya, meski aku sendiri sedang terbakar nafsu dan kenikmatan.

    Andi mengocok Meli dengan penuh gairah nafsu, buah dada Meli yang besar bergoyang goyang liar seiring dengan kocokannya, tapi segera dihentikan dengan kuluman Pak Edwin yang sepertinya nggak rela membiarkan buah dada itu bergoyang sendirian.

    Kokocakan Pak Reza sungguh bervariasi, baik kecepatan, arah maupun goyangannya, sungguh trampil dia dalam bercinta, membuatku panas dingin dibuatnya.

    Setelah puas mengocokku, Pak Reza menarik keluar penisnya, dan digantikan dengan Pak Edwin mengocokku. Aku berjongkok di kursi dan tanganku bersandarkan sandaran kursi hingga Pak Edwin mengocokku dengan doggie style dengan tetap menghadap ke Meli dan Andi dan juga Pak Reza yang kini berdiri di sisi Andi menunggu giliran sambil meremas dan mengulum buah dada Meli yang montok manantang itu menggantikan posisi Pak Edwin.

    Andi mengocok Meli makin ganas, dengan satu kaki terangkat di pundaknya sedang satu kaki lagi dipegang tangannya dengan posisi terpentang pasti penis Andi melesak masuk ke vagina Meli hingga menyentuh dinding terdalamnya, dengan disertai dorongan yang keras pasti Meli sudah terbang ke awang awang kenikmatan.

    Andi lalu memiringkan tubuh Meli hingga dia menghadap ke arahku, lalu dia kembali mengocoknya dengan keras, buah dada Meli ikut bergoyang goyang seirama kocokan Andi. “gila hebat juga ini anak” batinku.

    Kocokan Pak Edwin tak terlalu kuperhatikan karena setelah mendapatkan Pak Reza punya Pak Edwin tidaklah terlalu berasa meski aku bisa menikmati sedikit kenikmatan yang berbeda, dengan melihat bagaimana Andi memperlakukan Meli aku bisa dengan cepat bergairah kembali, maka kugoyangkan pantatku melawan gerakan Pak Edwin, secepat kocokan Andi pada Meli, aku begitu horny dibuatnya, sambil berharap supaya Andi tidak orgasme di vagina Meli terlebih dahulu supaya aku bisa menikmati semprotan pertamanya.

    Sambil menunggu giliran yang belum juga diberikan Andi, Pak Reza menggapai buah dadaku dan tangan satunya meremas buah dada Meli yang lebih montok seolah hendak membandingkan, kedua tangannya meremas dua buah dada yang berlainan bentuk dan ukuran.

    Aku sudah khawatir cemas kalau ternyata Andi menyemprotkan spermanya di vagina Meli terlebih dahulu, karena sudah cukup lama dia mengocokkan penisnya ke vagina Meli, sudah setengah jam lebih.

    “gila kuat juga si Andi ini” batinku.

    Kini Andi mengocok Meli dengan posisi doggie di atas kursi, meniru posisiku hingga kami saling berhadapan, buah dada Meli yang besar menggantung dan bergoyang dengan indahnya ketika Andi mengocoknya.

    Pak Reza yang masih menunggu giliran dari Andi duduk di meja antara kami, hingga kami bisa mengulumnya secara bersamaan antara kuluman dan jilatan. Meli mengulum maka aku menjilati sisanya begitu juga sebaliknya, dua lidah di satu penis.

    Mendapatkan perlakuan seperti itu dari dua wanita cantik seperti aku dan Meli membuat Pak Reza merem melek, tangannya meremas rambutku juga rambut Meli. Sepertinya Meli sudah bisa merasakan nikmatnya penis Andi yang besar itu hingga dia bisa membagi konsentrasi dengan kuluman pada penis Pak Reza.
    Andi menghentikan kocokannya dan menyerahkan Meli ke Bos-nya dan mereka bertukar tempat, Andi mengganti posisi pada mulut Meli setelah terlebih dahulu memutar kursi Meli menjauh dariku, kecewa juga aku dibuatnya karena tidak bisa menikmati penis Andi itu, ingin minta tapi masih ada perasaan segan atau gengsi. Masih bisa kulihat dengan lebih jelas betapa nikmatnya penis Andi itu hingga Meli mengulum dengan ganasnya meski tak bisa memasukkan semuanya.

    Aku yakin Meli kurang bisa menikmati Pak Reza setelah merasakan penis Andi. Kocokan Pak Edwin tidak kuperhatikan lagi, tapi aku lebih menikmati kuluman Meli pada penis Andi itu meski Pak Edwin mulai melakukan variasi gerakannya, tangannya mengelus punggung dan buah dadaku, dia lalu memutar kursi hingga Aku dan Meli berjejer, tapi Andi malah menggeser tubuhnya ke sisi lain malah menjauhiku.

    Pak Reza meremas buah dadaku sambil mengocok Meli, sementara Pak Edwin meremas buah dada Meli sambil mengocokku dan Andi meremas remas buah dada montok yang satunya dari sisi lainnya, kini Meli mendapat servis dari tiga orang, sementara aku menginginkan Andi tapi dia selalu menghindariku sepertinya dia segan menyentuhku.

    “come on Andi, satu remasan atau satu kuluman saja darimu, I need you” jerit batinku tapi kembali rasa gengsi sebagai Bos terhadap dia masih tinggi. Andi berciuman dengan Meli sambil tangannya tetap meremas buah dadanya, aku iri melihatnya.

    Cerita Sex Mabuk Bahkan ketika Pak Reza dan Pak Edwin bertukar tempat, Andi tetap tak mau beranjak ke arahku. Kembali aku mendapat kocokan dari Pak Reza, oh much better than before, kurasakan kenikmatan kembali dari Pak Reza, ouh betapa nikmatnya sodokan dan kocokan beliau jauh lebih nikmat dibanding dengan Pak Edwin tadi, kini aku kembali tenggelam dalam kenikmatan birahi.

    Tapi itu tak berlangsung lama ketika Pak Reza dan Pak Edwin bertukaran tempat lagi, hingga tiga kali.

    Tak lama kemudian ketika Pak Reza sedang keras kerasnya menyodokku, kembali aku dibuat iri pada Meli saat Pak Edwin dan Andi bertukar tempat, Meli sudah mendapat kocokan Andi untuk kedua kalinya, kepalanya mendongak dan tubuhnya menggeliat ketika Andi memasukkan kembali penisnya tapi tak lama setelah itu dia sudah mulai mengulum penis Pak Edwin.

    Pak Reza kembali meremas remas buah dada Meli sambil mengocokku tapi Andi tak mau melakukan hal itu padaku, dia tetap serius mengocok Meli sampai berulang kali dia menggeliat ketika Andi mengocoknya dengan keras. “Lisa sudah mendapatkan tiga penis, di mulut maupun vagina, tapi aku baru dua, itupun kurang memuaskanku” teriak batinku.

    Kupandangi wajah Andi ketika mengocok Meli begitu ganteng dan cool, expresinya tidak berubah seperti biasa saja kecuali keringatnya yang menetes membasahi tubuhnya yang atletis itu sehingga makin sexy. Belum sekalipun Andi menyentuhku, entah dia mau menghukumku atau karena segan, aku tak tahu.

    Kuhibur diriku dengan berkonsentrasi pada kocokan Pak Reza, aku tak mau tersiksa terlalu lama mengharapkan Andi, maka kugerakkan pinggangku mengimbangi Pak Reza dan hasilnya sungguh luar biasa, dia bergerak semakin liar dan akhirnya tak bisa bertahan lama, maka menyemprotlah spermanya ke vaginaku dengan kencangnya, kurasakan denyutan yang keras dari penisnya di dalam vaginaku seakan menghantam dinding rahimku. Bersamaan dengan semprotan Pak Reza, ternyata Pak Edwinpun menyemprotkan spermanya di muka Meli, sperma itu menyemprot kemana mana baik di mulut, wajah dan sebagian ke rambutnya.

    Pak Reza menarik penisnya yang sudah lemas begitupun dengan Pak Edwin, aku belum mencapai orgasme, hanya satu penis yang masih berdiri yaitu Andi, akhirnya aku harus mengalahkan gengsiku yang dari tadi mencegahku.

    Kuhampiri Andi yang sedang menyocok Meli, dari belakang kupeluk dia hingga tubuh telanjangku menempel di punggungnya, keringat kami menyatu, aku elus dadanya yang bidang berbulu. Sesaat dia menghentikan gerakannya tapi kemudian dilanjutkan kembali dengan lebih keras.

    Merasa belum mendapat respon darinya, aku bergeser ke depan, kujilati puting dadanya sambil mengelus kantung bolanya, Andi masih tetap tak mau menyentuhku malah makin cepat mengocok Meli, maka kupegang tangannya dan kuletakkan di buah dadaku, kugosok gosokkan.

    Barulah dia mulai merespon dengan remasan halus tanpa berhenti mengocok Meli, lalu kucium bibirnya, tanpa kuduga dia langsung memegang kepalaku dan diciumnya bibirku dengan penuh gairah, full of passion, seperti orang melepas rindu berat, mungkin dari tadi Andi memang menginginkanku tapi tidak berani.

    Ciuman pada bibirku yang penuh nafsu tak menghentikan kocokan pada Meli, lalu turun ke leherku sebagai sasaran selanjutnya dan berhenti di kedua putingku.
    Dengan penuh nafsu dan dengan liarnya dia mengulum, menjilat, menyedot dan meremas remas puting dan buah dadaku. Ouuhh aku menggeliat dalam kenikmatan yang indah.

    Konsentrasiku terganggu ketika kudengar teriakan dari Meli yang sedang mencapai kenikmatatan tertinggi, dia mengalami orgasme dengan hebatnya, terlihat badannya bergetar hebat dan kepalanya digoyang goyangkan seperti orang yang kesetanan, beberapa detik kemudian tubuhnya melemas di atas kursi dengan napas terputus putus.

    Bersamaan dengan ditariknya penis dari vagina Meli, dia mendorong tubuhku ke bawah lalu disodorkannya penis besar itu ke wajahku, agak ragu sejenak tapi kemudian tanpa membuang waktu lebih lama kukulum juga penis anak buah kepercayaanku itu, seperti dugaanku ternyata aku tak mampu mengulum penis itu semuanya, lalu kukocok pelan, aroma dari vagina Meli tercium olehku tapi tak kupedulikan, Andi memegang kepalaku dan mengocokkan penisnya di mulutku dengan liar, hampir aku tak bisa bernafas.

    Meli sudah duduk di antara Pak Edwin dan Pak Reza, kemudian Andi memintaku duduk di kursi, dipegangnya kedua kakiku dan dipentangkannya, kuraih penis besar yang dari tadi kuimpikan, kusapukan di bibir vaginaku dan kuarahkan masuk, ternyata Andi tak mau terlalu lama bermain main di luar, dengan keras di sodoknya penis besar itu masuk ke vaginaku.

    “OOUUGGHHh” teriakku spontan lalu kututupi mulutku dengan tangan sambil melotot ke arahnya.
    Vaginaku terasa penuh hingga aku tak berani menggerakkan tubuhku, tapi Andi seperti tak peduli, langsung mengocokku dengan cepat dan keras.

    Kurasakan penisnya menggesek seluruh dinding dan mengisi semua rongga di vaginaku, begitu nikmat hingga seakan aku melayang layang dalam kenikmatan birahi yang tinggi. Kakiku kujepitkan di pinggangnya, kedua tangannya meremas dengan keras kedua buah dadaku dan memilin ringan putingku sambil mencium bibirku dengan ganasnya.

    Begitu liar dan ganas dia mencumbuku seakan menumpahkan segala dendam yang lama tesimpan, kocokannya yang keras seakan mengaduk aduk vaginaku. Kulawan gerakannya dengan menggerakkan pinggulku secara acak, dan aku mendapatkan kenikmatan yang bertambah.

    Entah sudah berapa lama kami bercinta di kursi hingga dia memintaku untuk rebah di karpet lantai ruangan, lalu segera dia menyetubuhiku, tubuh atletisnya menindih tubuhku sambil pantatnya turun naik mengocok vaginaku, ciumannya sudah menjelajah ke seluruh wajah dan leherku tanpa sedikitpun bagian yang terlewatkan.

    Aku mengagumi kekuatan fisik Andi yang begitu kuat, dinginnya AC tak mampu mencegah peluh kami sudah bertetesan di seluruh tubuh. Kuraih kenikmatan demi kenikmatan dari setiap gerakan Andi di atas tubuhku.

    Selanjutnya kami bergulingan, kini Andi telentang dan aku duduk di atasnya, secepatnya kugoyangkan pantatku mengocok penis Andi, goyanganku kubuat tidak aturan dan banyak variasi hingga dia menggigit bibirnya, dipandanginya wajahku, lalu dia kembali meremas buah dadaku dengan kerasnya, tanpa kusadari ternyata Pak Reza sudah berdiri di sampingku dan menyodorkan penisnya ke mulutku, kugapai dan langsung kukulum dengan gairahnya sambil tetap menggoyang pantatku.

    Pak Reza ternyata tak mau diam saja, dia ikut mengocokkan penisnya di mulutku sambil memegangi kepalaku. Tak mau kalah Andi kemudian ikutan menggoyangkan pinggulnya hingga kami seolah berpacu meraih kenikmatan birahi.
    Andi lalu duduk hingga tubuhku berhadapan dalam pangkuannya, kujepitkan kakiku di pinggangnya sambil tetap menggoyangkan pantat tanpa melepas kocokan mulutku pada penis Pak Reza, Andi menjilati seluruh leher dan dadaku, disedotnya putingku dengan keras, kurasakan gigitan gigitan kecil di sekitar buah dada dan putingku tapi tak kuperhatikan.

    Akhirnya kurasakan tubuh Andi menegang dan sedetik kemudian kurasakan kepala penisnya membesar memenuhi rongga dalam vaginaku lalu menyemprotkan spermanya, sementara gigitan dan sedotan di dadaku terasa semakin kuat, denyutannya membuat aku terbang melayang tinggi hingga ke puncak kenikmatan.

    Maka akupun orgasme saat penis Andi sedang berdenyut dengan hebatnya di vaginaku, kami sama sama menggapai orgasme dalam waktu yang relatif bersamaan, tubuhku sudah mulai melemas tapi penis Pak Reza masih di tanganku.

    Maka kukeluarkan kemampuanku untuk segera mengakhiri kemauan Pak Reza sambil masih tetap duduk di atas Andi, tangan Andi masih meremas dengan lembut kedua buah dadaku, tapi konsentrasiku hanya tertuju ke Pak Reza, tak lama kemudian berdenyutlah penis Pak Reza di mulutku, tak kurasakan cairan sperma keluar dari penis itu, hanya denyutan denyutan ringan hingga melemas dengan sendirinya.

    Aku terkulai lemas di atas tubuh Andi, anak buahku itu, dan dia membalas dengan ciuman dan elusan di punggung telanjangku, beberapa saat kemudia aku tersadar dan berdiri menjauhinya, duduk kembali di kursi.

    Meli memberikan teh hangat, kami semua masih telanjang, masih kurasakan seakan penis Andi masih mengganjal vaginaku.

    Baru aku sadari ternyata ada empat titik memerah bekas gigitan Andi pada dada dan sekitar buah dadaku, kulirik Andi tapi dia tidak memperhatikan. Jarum jam menunjukkan pukul 13:30, ketika kami menandatangani kontrak itu dalam keadaan telanjang, sambl memangkuku Pak Reza menandatangani lembaran itu dan di atas pangkuan Pak Reza pula aku menandatanganinya. Sementara Pak Edwin sebagai saksi, ikut menandatangani kontrak itu sambil memangku Meli yang masih telanjang.

    “Alangkah asiknya kalau kita bisa makan siang bersama sambil telanjang” usul Pak Edwin
    Aku hanya tersenyum menanggapi usulan nakal Pak Edwin, kukenakan kembali pakaianku meski tanpa celana dalam karena diminta Pak Edwin yang masih bujangan itu.

    Tak lama kemudian kami semua sudah berpakaian lengkap, kubereskan dokumen yang berserakan di lantai maupun meja dan kuberikan semuanya ke Andi. Dan selesailah official meeting hari ini.

    Sebenarnya aku tak mau mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan seperti ini, baru pertama kali terjadi. Awal bisnis yang di awali seperti ini terus terang membuat aku takut, tapi apa bedanya dengan para bisnisman lainnya yang memberikan wanita cantik untuk dapat mendapatkan proyek, toh proyek itu jalan juga.

    Setelah makan siang, aku dan Andi mengantar mereka hingga ke lobby dan disanalah kami berpisah, Aku dan Andi naik ke atas, tak ada pembicaraan sepanjang jalan ke kamar meskipun di lift Cuma kami berdua, suasana menjadi kaku, hal seperti inilah yang tidak aku inginkan

    “Andi apapun yang telah terjadi adalah tidak pernah terjadi, tolong camkan itu demi kebaikan kita semua” kataku pada Andi sambil mengecup bibirnya, sebelum dia masuk kamarnya.

    Dan kami kembali ke Jakarta sebagai mana tidak terjadi sesuatu kecuali kenangan indah.
    Aku tidak pernah bisa memenuhi kata kataku sendiri seperti yang aku pesan di atas, karena bercinta dengan Andi terlalu nikmat untuk di tinggalkan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Berhubungan Yang Tidak Dapat Di Hindarkan

    Cerita Sex Berhubungan Yang Tidak Dapat Di Hindarkan


    2142 views

    Terlebih-lebih waktu Meyta sedang tidur terlentang pada tempat tidurnya, terbayg dan berasa kemaluan besar hitam lelaki itu mengaduk-aduk lobang kemaluannya yang memunculkan hati kesan dan membuat semua badan Meyta panas dingin diliputi kepuasan yang tidak terbaygkannya. Kadang- terkadang ada hati yang mendesaknya untuk ingin alami kejadian itu, tetapi di lain faksi hati lembutnya dan harga diri sebagai seorang wanita yang bermartabat tinggi, mengingati jika kejadian yang dirasakan itu merupakan sesuatu setubuhian yang beringas yang tidak patut untuk diingat kembali.

    Cersex StwHari untuk hari berakhir dgn cepat tidak ada peristiwa spesial, beberapa pekerjaan di kantornya makin repot mengambil alih waktu Meyta, hingga peristiwa itu bisa mulai dilupakannya. Sampai di suatu hari, mendadak terjadi demo beberapa mahasiswa disekitaran Bundaran Semanggi tidak jauh dari kantor tempat Meyta bekerja. Karena keadaan di saat itu benar-benar menghangat, karena itu pimpinan kantor memilih untuk pulangkan beberapa pegawainya lebih cepat untuk menghambat terjadi beberapa hal yang tidak diharapkan.

    Saat itu baru memberikan jam 14.30 siang, tiap pegawai cepat-cepat mengepaki barang- barangnya di meja, mengamankan laci dan lemari-lemari pada ruangan kerja masing-masing serta cepat- cepat turun dari gedung kantor untuk cepat-cepat pulang. Demikian pula dgn Meyta, dgn cepat ia membenahi beberapa surat yang bersebaran di meja kerjanya dan selekasnya ditempatkan ke laci meja kerjanya. Setelah mengamankannya dgn rapi Meyta selekasnya keluar ruangan kerjanya dan segera ke arah lift untuk turun ke bawah.

    Di lantai 25 tempat Meyta bekerja itu telah kosong, semua pegawai telah turun lebih dulu, hanya Meyta sendiri yang menanti lift untuk turun ke bawah. Setelah lift yang turun di atas terbuka, Meyta dgn cepat selekasnya masuk ke dalam dalamnya dan selekasnya lift itu tutup lagi dan bergerak turun. Mendadak Meyta mengetahui, ia hanya berdua dgn seorang dalam lift itu dan waktu bersama orang itu menegur Meyta dgn lembut,

    “Meyta, ingin pulang ya!” dgn terkejut Meyta selekasnya mengusung wajahnya dan menyaksikan ke belakang, ke suara itu berasal. Wajahnya tiba-tiba jadi merah setelah mengetahui jika orang itu yang hanya berdua saja dgn ia ialah Mr. Rasyid yang bejad tersebut. Meyta hanya diam tidak menyongsong panggilan Mr. Rasyid itu. Mr. Rasyid coba tawarkan jasanya untuk mengantarkan Meyta pulang dgn argumen di saat itu kendaraanumum tidak ada yang bekerja karena demo beberapa mahasiswa di sepanjangnya jalan Sudirman. Namun penawaran Mr. Rasyid itu ditampik dengan lembut oleh Meyta.

    Sesampainya di bawah, demikian lift terbuka, Meyta cepat-cepat keluar dan jalan di depan gedung untuk cari taksi, sedangkan Mr. Rasyid ke arah tempat parkir untuk ambil mobilnya yang kebenaran hari itu dibawa sendiri olehnya tanpa supir. Dgn resah Meyta menanti taksi di muka kantor, namun tidak kelihatan satu juga taksi dan kendaraan umum yang lain lewat di muka gedung itu, sedangkan tindakan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di sepanjangnya jalan itu makin panas saja. Sementara dalam kegundahan itu, mendadak sebuah mobil stop di depannya dan waktu kaca jendela mobil itu terbuka, kepala Mr. Rasyid menonjol keluar,

    “Ayolah, jangan takut, silahkan kuantar anda pulang, kondisi makin beresiko jika anda terjerat di sini!” Menyaksikan keadaan sekitarnya yang makin genting itu, dgn mau tak mau Meyta terima ajakan Mr. Rasyid itu. Dgn cepat Meyta masuk ke mobil Mr. Rasyid dan mobil itu selekasnya tinggalkan pas itu. Dalam mobil, Mr. Rasyid bertanya Meyta arah tempat tempat tinggal Meyta. Selekasnya Meyta menerangkan jika ia ada di wilayah Kebayoran Baru. Karena arah ke Kebayoran Baru lewat Jl. Sudirman tertutup oleh beberapa mahasiswa yang sedang berdemonstrasi arah Jl. Gatot Subroto untuk putar lewat Jl. Buncit Raya masuk ke dalam wilayah Kebayoran Baru. Namun sepanjangnya jalan Gatot Subroto rupanya macet keseluruhan, pada akhirnya Mr. Rasyid mengajukan usul untuk singgah dahulu ke apartement temannya yang berada di dekat situ sekalian menanti lalu lintas lancar kembali. Karena tidak ada alternatif lain, karena itu pada akhirnya Meyta menyepakati saran itu. Mendapatkan kesepakatan Meyta, selekasnya Mr. Rasyid ambil lajur kiri darijalan dan berbelok pada suatu jalan kecil yang ke arah sebuah bangunan apartement yang tidak jauh tempatnya.

    Setelah memarkir mobilnya, ke-2 nya masuk ke dalam lobby dan ke arah lift. Apartment teman Mr. Rasyid berada di lantai 9, setelah lift stop mereka ke arah apartement dengan nomor 916. Mr. Rasyid selekasnya menekan bel yang berada depan pintu dan selang beberapa saat pintunya terbuka dan kelihatan seorang lelaki India yang berusia lebih kurang 35 tahun, berparas ganteng dgn badan yang tinggi tegap dan berkulit gelap dgn ke-2 tangannya dan dadanya yang sektor banyak rambut hitam lebat. Mr. Rasyid selekasnya mengenalkan Meyta ke temannya yang rupanya namanya Kumar Punjab yang ialah seorang tenaga pakar pada suatu pabrik tekstil yang berada di Jakarta Selatan.

    Ke-2 lelaki itu terturut sesaat dalam pembicaraan dengan bahasa mereka, yang tidak dipahami oleh Meyta, yang hanya dapat melihat mereka dgn pandangan mata berprasangka buruk. Setelah ambil tempat duduk pada suatu bangku panjang yang berada di kamar tamu, Meyta memerhatikan kondisi apartement itu. Apartement itu hanya terdiri dari 1 kamar, dan ruangan duduk yang menyambung jadi satu dgn kamar makan dan dapur yang berada paling ujung dari ruang itu. Kelihatan apartement itu ialah apartement yang ditempati oleh bujangan, di mana pada tempat bersihkan piring kelihatan gelas dan piring kotor tetap menggeletak belum dicuci. Setelah bercakap-cakap sesaat, Kumar minta diri sesaat untuk keluar, karena akan beli minuman dingin dan makanan kecil di toko makanan yang berada di ground floor.

    Sepergian Kumar, situasi antara Meyta dan Mr. Rasyid jadi cukup kikuk, kepala Meyta hanya menunduk ke bawah tanpa berani melihat ke Mr. Rasyid. Kelihatan bibir bawah Meyta cukup tergetar dan ke-2 jari-jari tangannya sama-sama memegang dgn kuat. Meyta cukup gugup, sekalian membaygkan apa yang terjadi beberapa waktu lantas, waktu lelaki di hadapannya itu memerkosanya dgn beringas. Tebersit dgn terang bagaimana lelaki itu menekan badannya ke atas meja dan mengangkangi ke-2 pahanya, dan menidurinya dgn garang. Seolah-olah tetap berasa nyeri kemaluannya dikocak-kocok oleh senjata lelaki itu, namun hati nikmat mendadak menerpanya waktu membaygkan ke-2 puting susunya tergores-gesek pada dada sektor memiliki rambut tebal dari Mr. Rasyid, waktu ia terduduk dan terlonjak-lonjak di atas pangkuan Mr. Rasyid karena senjata Mr. Rasyid menyikat-nyodok lobang kemaluannya. Membaygkan hal itu, mendadak kemaluannya dirasa basah.

    Menyaksikan raut muka Meyta yang beralih-alih dan matanya yang makin sayu saja, Mr. Rasyid yang telah eksper itu, tidak ingin melewati momen yang menguntungkannya. Selekasnya ia beralih duduk dari sisi Meyta di bangku panjang dan saat sebelum Meyta mengetahui apa yang terjadi, ke-2 tangan Mr. Rasyid dgn cepat telah merengkuh pundak Meyta dan selekasnya menarik badan Meyta melekat ke badannya. Dagu Meyta diangkatnya menengadah ke arahnya hingga ke-2 mata mereka sama-sama melihat. Mata Mr. Rasyid berkilat-kilat melihat muka Meyta yang ayu itu dan pada akhirnya terdiam pada ke-2 bibir Meyta yang merah mengembang yang sedang tergetar dgn lembut.

    Pelan-pelan Mr. Rasyid tundukkan kepalanya dan bibirnya yang kasar yang banyak kumis lebat sentuh ke-2 bibir Meyta yang imut dan pelan-pelan mulai melumat bibir-bibir yang cantik yang telah pasrah tersebut. Mendekati beberapa saat, waktu Mr. Rasyid mulai rasakan badan Meyta tidak tegang kembali dan bibirnya mulai melemas, karena itu lidahnya selekasnya didesak masuk menerobos ke mulut Meyta dan sapu langit-langit dan permainkan lidah Meyta. Ini membuat badan Meyta tergetar dan kepalanya terasanya melayg-layg dan tanpa berasa kedengar keluh kesah lembut keluar mulut imut itu,

    “Ooohh.. eehhmm..!” Rasakan Meyta mulai memberi respon laganya itu, Mr. Rasyid selekasnya tingkatkan gempurannya. Secara perlahan tangannya selekasnya buka kancing-kancing blouse yang dikenai Meyta dan selekasnya melepasnya dari badan Meyta.

    Selekasnya kelihatan BH Meyta yang putih tutupi ke-2 buah dadanya yang kecil imut tersebut. BH itu tidak dapat tahan lama membuat perlindungan ke-2 gundukan daging kenyal itu, karena selekasnya tercampakkan oleh tangan-tangan lelaki itu. Dgn cepat ke-2 bukit kenyal imut itu jadi target mulut dari Mr. Rasyid, yang selekasnya mencium dan menghisap-hisap puting yang telah tegang tersebut. Badan Meyta hanya dapat menggelinjang-geliat dan dari mulutnya keluar suara mirip orang kepedasan. Menyaksikan kondisi Meyta yang telah pasrah itu, Mr. Rasyid tidak ingin sia-siakan momen yang ada, dgn terampil ke-2 tangannya selekasnya menanggalkan rok dan sekaligus CD Meyta, hingga saat ini Meyta terbujur terlentang di atas bangku dgn badan yang mulus yang tidak tertutupi selembar benang juga.

    Lelaki India itu menindihkan badannya pada Meyta yang telah terbujur pasrah di atas bangku, sekalian ia membenahi posisi badannya supaya senyaman mungkin, lelaki itu dgn ke-2 tangannya buka kaki Meyta dan selekasnya tempatkan badannya pas ada di tengah, antara ke-2 paha Meyta yang telah terkangkang tersebut. Dgn tangan kirinya menggenggam gagang kemaluannya yang besar itu, lelaki itu mulai arahkan kemaluannya, ke targetnya yang telah pasrah terbuka di bawahnya. Demikian kepala kemaluan berjumpa dgn belahan bibir kemaluan luarnya, badan Meyta kelihatan tergetar dan ke-2 tangannya mencekram dgn kuat di bangku, pandangan matanya jadi sayu, wajahnya keringatan. Dgn pelan-pelan Mr. Rasyid mulai menggerakkan kemaluannya masuk lubuk badan Meyta yang paling rahasia tersebut. Selaras dgn masuknya kemaluan Mr. Rasyid yang besar itu, mata Meyta kelihatan membalik ke atas dan rintihan enaknya kedengar terang keluar mulut imutnya,

    “Aahh.. eehhmm..” pada awalnya cukup sulit masuknya, sedikit-sedikit, kelihatan Mr. Rasyid gerakkan pantatnya mundur-maju dgn pelan-pelan, sekalian mulutnya mencium bibir cantik Meyta.

    Tidak berlalu selanjutnya mendadak dgn sesuatu sentakan keras, lelaki itu menekan pinggulnya dan terus menggerakkan kemaluannya, hingga tenggelam semuanya ke lobang kemaluan Meyta. Cocok waktu mentok tidak dapat masuk kembali Meyta menggigit bibirnya, dan..

    “Aahdduhh..” kedengar jeritan lembut kesakitan atau mungkin kepuasan keluar mulutnya. Seterusnya perlahan-lahan Mr. Rasyid mulai gerakkan masuk keluar kemaluannya, bangku itu berderit-derit meredam pergerakan dan penekanan badan Mr. Rasyid yang besar itu dalam tubuh imut Meyta, kembali rintihan, desahan, dan lenguhan ciri khas kepuasan kedengar penuhi ruang, makin lama makin keras, badan Meyta menggelinjang dalam dekapan ketat Mr. Rasyid yang besar, terkadang kelihatan Meyta mengusung kepalanya, giginya menggigit bibir bawahnya meredam kepuasan yang menerpa semua pori-pori badannya, terkadang ia menjerit kecil jika lelaki India itu menekan terlalu dalam.

    Beberapa saat selanjutnya, rintihan Meyta makin keras, dan cairan badannya berasa makin banyak, badannya melenting kaku dan dari mulutnya keluar suara mirip orang kritis, Meyta tengah dibuai hatinya yang sedang ke arah pucuk kepuasan. Wajahnya betul-betul elok di saat itu, setelah diterpa stres demikian lama, kelihatannya ini seperti pelepasan untuk dia. Sisi dalam dinding kemaluannya menjepit keras dan berdenyut, badannya terhentak- hentak, Meyta alami orgasme yang hebat, yang membuat hatinya melayg-layg dan setelah saat kepuasan itu berkurang, badannya terhempas lemas di bangku. Dadanya kelihatan turun naik dgn napas mengincar seolah-olah orang yang baru menuntaskan lari cepat 100 m dan ke-2 matanya terkatup rapat. Bercak-bercak keringat menghiasi pelipisnya mengisyaratkan satu ronde dari sesuatu pertarungan hebat yang banyak makan tenaga, yang barusan diakhirinya.

    Namun untuk Mr. Rasyid pertempuran ini belum usai, bahkan juga untuknya ini baru set permulaan atau set pemanasan saja. Menyaksikan Meyta yang ayu itu telah tergeletak lemas itu dgn ke-2 matanya yang tertutup dan badannya yang langsing itu terbaring pasrah, memunculkan sesuatu hati kesan pada Mr. Rasyid. Lelaki India itu benar-benar mengucapkan syukur dapat kuasai dan nikmati badan wanita ayu itu yang langsing dan mulus tersebut. Dgn kemaluannya yang besar tetap tenggelam dalam kemaluan wanita itu, Mr. Rasyid merengkuh badan Meyta dan mengusungnya dari bangku.

    Saat ini badan yang langsing dari wanita itu digendong oleh lelaki itu, ke-2 bukit kecil dgn putingnya yang mencolok keras dari buah dada Meyta tertekan rapat dan tergores-gesek pada rambut-rambut lebat pada dada Mr. Rasyid. Kepala Meyta terkulai lemas bertumpu pada bahu lelaki itu, ke-2 tangan Mr. Rasyid menggenggam ke-2 bongkahan pantat Meyta dan ke-2 kaki Meyta melingkar pada pinggang Mr. Rasyid. Dari belakang terlihat belahan pantat Meyta mengembang dan kemaluan hitam besar lelaki India itu tetap bersarang dalam lobang kemaluan wanita itu yang menjepit rapat gagang kemaluan itu. Mr. Rasyid bawa badan wanita itu mendekat ke tembok ruang itu, memencetnya di tembok dan memulai menggerakkan pantatnya sendiri mundur-maju menekan pantat Meyta ke tembok, akibatnyakemaluanku yang hitam besar itu menerobos masuk keluar kemaluan Meyta yang telah basah oleh cairan kepuasan yang keluar di saat wanita itu alami orgasme. Pergerakan pantat lelaki itu makin lama makin cepat dan tekanannya makin dalam saja. Badan Meyta menggelinjang-geliat,

    “Ooohh.. oohh.. eehhmm..!” suara lirih kedengar keluar mulut Meyta setiap lelaki itu menekan pantatnya dgn kuat.

    Sementara sedang asyik-asyiknya Mr. Rasyid mengerjai Meyta yang telah lemas itu, mendadak pintu apartement tersebut terbuka di luar dan Kumar Punjab yang ucapnya akan beli minuman masuk, ke-2 tangannya bawa minuman Fanta merah 2 botol besar. Ia menyaksikan sesaat pada tindakan Mr. Rasyid yang sedang mengerjai Meyta itu dgn senyuman-senyum. Sementara itu Meyta yang kaget dgn kehadiran Kumar itu, merasa benar-benar malu dan coba melepas diri dari Mr. Rasyid, namun Mr. Rasyid dgn kuat masih tetap merengkuh Meyta dan meneruskan aktivitasnya tersebut. Selanjutnya Mr. Rasyid dgn masih tetap menanamkan kemaluannya ke kemaluan Meyta ambil sikap duduk di atas bangku dgn ke-2 kakinya terjulur mengangkang di lantai dan Meyta ada dalam sikap duduk di atas pinggul Mr. Rasyid dgn ke-2 kakinya terkangkang di sisi kiri kanan pinggul Mr. Rasyid. Kemaluan Mr. Rasyid masih tetap ada dalam kemaluan Meyta dan saat ini ke-2 tangan Mr. Rasyid menggenggam pinggul Meyta dan mengusung ke atas dan menekan lagi ke bawah berulang- kembali hingga kemaluan Meyta saat ini yang kelihatan aktif menelan dan keluarkan kemaluan hitam besar tersebut.

    Itil V3
    Sementara itu Kumar Punjab yang telah menempatkan minuman yang dibawa ke atas meja, dgn cepat selekasnya melepas pakaian yang dikenainya dan sekaligus CD-nya, hingga telanjang bundar. Kelihatan senjatanya yang tidak kalah besarnya dgn Mr. Rasyid telah tegang siap tempur. Badannya tegap dengan bulu dgn ke-2 pahanya yang gempal tertutupi rambut tebal. Selanjutnya Kumar dekati ke-2 orang yang sedang bergulat di atas bangku itu dan berjongkok antara ke-2 kaki Mr. Rasyid yang terbuka, hingga tempatnya pas ada di belakang pantat Meyta.

    Menyaksikan itu Meyta selekasnya mengetahui akan bahaya yang akan menerpanya dan coba melawan, namun dgn cepat ke-2 tangan Mr. Rasyid selekasnya membungkam badan Meyta ke badannya, hingga Meyta telungkup di atas badan Mr. Rasyid yang bertumpu 1/2 tidur di bangku. Ternyata dalam soal mengerjai wanita dengan bersama, ini bukan yang pertama kalinya mereka kerjakan, pada dua minggu yang lantas, mereka mengolah Kinan, wanita manis yang memiliki tubuh putih langsing yang bekerja pada perusahaan tempat Kumar Punjab bekerja. Masih terbayg-bayg di pikiran Kumar bagaimana badan putih mulus Kinan menggelinjang-geliat dan jeritan- jeritan ketahan yang keluar mulutnya, waktu kemaluannya mulai menerobos belahan pantat Kinan dalam posisi yang sama dengan waktu ini. Kumar berkemauan untuk rasakan kembali pengalaman yang mengasyikan tersebut.

    Kumar yang telah ada pas pada posisi belakang pantat Meyta, merundukan kepalanya dan menjilat-jilat pantat Meyta. Lidahnya bermain pada lobang dubur Meyta, hingga memunculkan hati yang benar-benar geli pada Meyta yang tidak dapat digambarkan, mengakibatkan badan Meyta menggelinjang-geliat dgn kuat dan..

    “Aagghh.. jaanggaan.. jaanggaan.. kerjakan itu!” Meyta berusaha melepas diri, namun bekapan tangan Mr. Rasyid pada badannya terlampau kuat, hingga Meyta hanya dapat menggerak-gerakan pantatnya ke kanan kiri, tapi juga tidak dapat berubah terlampau jauh, karena kemaluan besar Mr. Rasyid tetap tertanam dalam kemaluan Meyta.

    Kumar meneruskan aktivitasnya itu dan saat ini ia membasahi pantat dan sisi dubur Meyta dgn ludahnya, sedangkan dgn ibu jarinya yang telah basah dgn ludah, mulai didesak masuk ke lobang dubur Meyta dan diputar-putar di situ. Meyta terus menggelinjang-geliat dan mendesah,

    “Jaannggaann jaannggaan.. aadduuhh.. aadduuhh.. saakiitt.. saakiitt..!” namun Kumar tidak menanggapinya dan terus meneruskan aktivitasnya. Selang saat setelah merasa cukup membasahinya, Kumar sekalian menggenggam dgn tangan kiri kemaluannya yang telah tegang itu, tempatkan kepala kemaluannya pas di tengah-tengah lobang masuk dubur Meyta yang telah basah dan licin tersebut.

     

    “aaduhh, janggaann! Sakkiit! aammpuunn, aammppuunn! Aagkkh” Kumar mulai menggerakkan masuk, terus masuk. Sementara Meyta menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar kesakitan. Meyta meronta- ronta tidak memiliki daya, hanya makin menambahkan nafsu Kumar untuk selalu menggerakkan masuk. Meyta terus menjerit, waktu perlahan-lahan semua kemaluan hitam besar Kumar masuk ke dalam duburnya.

    “aauugghh..! Saakkiit! jerit Meyta waktu Kumar mulai bergerak perlahan-lahan masuk keluar dubur Meyta. Pada akhirnya dgn badan berkeringat meredam sakit, Meyta terkulai lemas telungkup di atas badan Mr. Rasyid kecapekan dan tidak memiliki daya.

    Secara memiliki irama Kumar menekan dan menarik kemaluannya dari lobang dubur Meyta, di mana setiap Kumar menekan ke bawah, tidak saja kemaluannya yang tenggelam ke lobang dubur Meyta, tapi kemaluan Mr. Rasyid tertekan masuk lebih dalam ke lobang kemaluan Meyta. Sangat memengapkan menyaksikan ke-2 kemaluan besar hitam itu ada di ke-2 lobang bawah Meyta.Kelihatan ke-2 kaki Meyta yang terkangkang itu tergetar-getar kurang kuat setiap Kumar menekan masuk kemaluannya ke lobang duburnya. Dalam kesakitan dan ketakberdayaan itu, Meyta telah pasrah terima tindakan ke-2 lelaki itu.

    Selang beberapa saat mereka tukar posisi, saat ini Kumar duduk melonjor di atas bangku dgn kemaluannya masih tetap ada dalam lobang dubur Meyta, hingga badan Meyta tertidur terlentang di atas badan Kumar dgn ke-2 kakinya terpentang lebar diambil melebar oleh ke-2 kaki Kumar dari bawah dan Mr. Rasyid ambil posisi di atas Meyta. Mr. Rasyid mulai memompa kemaluannya masuk keluar kemaluan Meyta, yang saat ini makin basah saja, cairan pelumas yang keluar dalam kemaluan Meyta mengucur ke bawah, hingga membasahi dan melicinkan lobang duburnya, ini membuat kemaluan Kumar yang tengah bekerja pada lobang duburnya jadi licin dan lancar, hingga dgn pelan-pelan hati sakit yang dirasa Meyta perlahan-lahan lenyap ditukar dgn hati nikmat yang menjalar ke semua badannya.

    Meyta bisa mulai nikmati ke-2 kemaluan besar lelaki itu yang sedang mengolah kemaluan dan lobang duburnya. Pelan-pelan hati nikmat yang dirasanya melingkupi seluruh kesadarannya, menyebar dgn deras tidak tertahan seperti air terjun yang tumpah deras ke danau tempat penampungan, memunculkan getaran luar biasa pada semua sisi badannya, tidak teratasi dan meletus menjadi orgasme yang fantastis menerpanya. Setelah itu badannya terkulai lemas, Meyta terlentang pasrah seolah-olah tidak sadarkan diri dgn ke-2 matanya terkatup. Menyaksikan kondisi Meyta itu makin menghidupkan gairah Mr. Rasyid, lelaki itu jadi benar-benar kasardan ke-2 tangan Mr. Rasyid menggenggam pinggul Meyta dan lelaki itu menekan pinggulnya keras-keras di depan dan

    “Aduuh.. aauugghh..!” keluh Meyta rasakan seolah-olah kemaluannya terbelah dua diterobos kemaluan Mr. Rasyid yang besar tersebut. Ke-2 mata Meyta terbeliak, kakinya menggelepar-gelepar dgn kuatnya di ikuti badannya yang meliuk meredam serangan kemaluan Mr. Rasyid pada kemaluannya.

    Dgn buasnya Mr. Rasyid gerakkan pinggulnya mundur-maju dgn cepat dan keras, hingga kemaluannya masuk keluar pada kemaluan Meyta yang sempit tersebut. Mr. Rasyid merasa kemaluannya seperti diapit dan dipijit-pijit dan Meyta rasakan kemaluan lelaki itu seolah-olah sampai pada dadanya, mengaduk-aduk didalamnya, selain itu sesuatu hati yang benar-benar aneh mulai berasa menyebar dari sisi bawah badannya mengambil sumber dari kemaluannya, langsung ke semua badannya berasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya.

    Meyta tidak dapat memvisualisasikan hati yang sedang menyelimuti, namun badannya kembali terasanya mulai melayg-layg dan sesuatu hati nikmat yang tidak dapat digambarkan berasa menyelimutinya semua badannya. Hal yang dapat dilakukan di saat itu hanya mengerang-erang,

    “aahh.. sshh oouusshh!” sampai sesuatu saat hati enaknya itu tidak dapat dikontrol kembali terasanya menyebar dan kuasai semua badannya dan mendadak meletus membajiri keluar berbentuk sesuatu orgasme yang hebat yang menyebabkan semua badannya tergetar tidak teratasi dibarengi tangannya yang menggapai-gapai seolah-olah orang yang ingin terbenam cari pegangan. Ke-2 kakinya berkelejotan. Dari mulut Meyta keluar sesuatu erangan,

    “aaduhh.. laagii.. laagii.. oohh.. oohh..” Ini berjalan lebih kurang 20 detik terus-terusan. Sementara itu ke-2 lelaki itu terus lakukan kegiatannya, dgn memompa kemaluan-kemaluan mereka masuk keluar kemaluan dan dubur. Mr. Rasyid jadi benar-benar terangsang menyaksikan gestur muka Meyta dan mendadak Mr. Rasyid rasakan sisi dalam kemaluan Meyta mulai bergerak- gerak lakukan pijitan-pijitan kuat pada keseluruhnya gagang kemaluannya. Pergerakan kaki Meyta dibarengi goygan pinggulnya datangkan sesuatu kepuasan pada kemaluan ke-2 lelaki itu, berasa seperti diurut-urut dan diputar-putar.

    Mendadak dengan bersama Mr. Rasyid dan Kumar rasakan suatu hal gelombang yang menerpa dari pada tubuh mereka, cari jalan keluar lewat kemaluan masing-masing, berasa sesuatu ledakan yang mendadak menggerakkan keluar, hingga secara besamaan kemaluan mereka berasa membesar seolah-olah ingin pecah dan..

    “Aaduuh!” dengan bersama tangan-tangan mereka merengkuh erat-erat badan Meyta dan pinggul mereka dgn kemampuan penuh yang satu menekan ke bawah dalam-dalam pada pinggul Meyta yang menyebabkan keseluruhnya kemaluannya tenggelam ke kemaluan Meyta, dibarengi sesuatu semprotan air mani yang keluar dan menyemprotkan dengan deras ke kemaluan Meyta, sedang Kumar mengusung ke atas pinggulnya menggerakkan masuk kemaluan tenggelam habis ke lobang dubur Meyta, sekalian menyembur cairan kental panas ke lobang dubur Meyta. Terima semprotan cairan kental panas pada lobang kemaluan dan lobang duburnya Meyta rasakan sesuatu kesan yang tidak dapat digambarkan dgn kata-kata, hanya reaksi badannya yang tergetar-getar dan gestur wajahnya yang seolah-olah rasakan sesuatu kengiluan yang tidak terbaygkan, di ikuti badannya yang terbaring lemas, tidak dapat bergerak. Meyta terbuai oleh kehebatan orgasme yang dirasakannya dan diterima dari ke-2 lelaki itu.

    Setelah istirahat sesaat, Kumar dgn cepat selekasnya sembuh kembali dan kemaluannya telah tegak dgn gagah siap tempur. Meyta yang masih terlentang lemas di bangku tidak dikasih peluang oleh Kumar, selekasnya ditindihnya. Dgn cepat kemaluannya dilelepkan ke kemaluan Meyta dan Kumar Punjab terus mengerjai Meyta yang terlihat sangat lemas dan hanya dapat mengikuti saja apa yang diharapkan oleh Kumar. Berulang-kali terlihat Meyta alami orgasme yang hebat, itu terlihat setiap kali dari getaran badannya yang di ikuti oleh ke-2 kakinya yang berkelejotan. Ke-2 matanya kelihatan sayu, seolah-olah orang yang sangat mengantuk.

    Mr. Rasyid dan Kumar Punjab terus mengerjai wanita ayu itu dengan berganti-gantian terus- menerus sampai mendekati sore hari. Meyta alami orgasme berkali-kali selama waktu tersebut. Mendekati jam 5 sore mereka hentikan aktivitasnya, tinggalkan Meyta yang terlentang lemas di bangku dgn kaki yang terkangkang dan dari kemaluannya tetap mengucur beberapa sisa air mani dari ke-2 lelaki itu. Sejam setelah tenaganya sembuh, Meyta dgn tertatih-tatih bangun dari bangku dan pergi ke kamar mandi untuk bersihkan badannya. Setelah itu bersama Mr. Rasyid yang 1/2 memapahnya mereka pamitan dan Mr. Rasyid mengantarkan Meyta ke tempat tinggalnya. Sepanjangnya jalan pulang, Meyta hanya dapat diam diri merenung akan apa yang barusan dirasakannya. Ada hati kebingungan yang menerpa dianya yakni di antara hati senang atas kepuasan yang dirasanya dan hati tidak suka pada ke-2 lelaki itu atas tindakan mereka pada dianya.

    Peristiwa ini adalah kejadian buruk yang paling akhir yang dirasakan Meyta, karena selang beberapa saat Mr. Rasyid dan beberapa tenaga asing di grup perusahaan tempat Meyta bekerja memilih untuk tidak lagi perpanjang kontrak kerja mereka sehubungan dgn kritis ekonomi yang terjadi yang berpengaruh pada usaha grup perusahaan itu. Satu tahun selanjutnya Meyta berjumpa dgn seorang lelaki yang asal dari pulau seberang yang benar-benar memesonanya dan benar-benar menyukainya dan setelah pacaran beberapa waktu, mereka meneruskan dgn pernikahan. Meyta saat ini tetap bekerja pada perusahaan itu dan di kehidupan keluarganya hidupnya benar-benar bahagia dgn suaminya yang penuh pemahaman, hingga secara perlahan dia dapat lupakan semua peristiwa jelek yang sebelumnya pernah dirasakannya itu, dan dapat nikmati curahan kasih sayang suaminya kepadanya.

  • Foto Bugil Shyla Jennings melepaskan lingerie sebelum mastrubasi

    Foto Bugil Shyla Jennings melepaskan lingerie sebelum mastrubasi


    2237 views

    Duniabola99.com – foto cewek berambut coklak Shyla Jennings bugil sambil mengocok memeknya dikamar mandi.

    Kumpulan majalah online dewasa, Foto majalah dewasa, cerita dunia, Dunia artis, Dunia maya, Dunia model, Popular word, Foto Cewek Cantik, Foto Cewek Seksi, Foto cewek cantik asia, Cewek mulus, cewek tokek besar, cewek cantik, cewek seksi, Foto cewek tokek kecil, Foto cewek tokek besar, Foto cewek manis

  • Cerita Sex Di Kocokin Sama Anak Sekolah Yang Bohay di Toilet

    Cerita Sex Di Kocokin Sama Anak Sekolah Yang Bohay di Toilet


    984 views

     

    Tetapi lomba kekinian dance ini tidak diselenggarakan antara kelas, tapi antara angkatan yang membuat acara ini jadi hebat dan semarak ialah supporter dari tiap-tiap kelas dan angkatan yang sama-sama beradu mulut sampai beradu jotos untuk tim yang mereka menjagokan!biasa sajalah anak muda seperti kami egonya kembali tinggi-tingginya

    Cersex Terbaru – Oke kembali lagi ke acara ultah sekolah saya ini diawali dari jam 9 pagi.-cerita cabul terbaru- Tetapi saya tiba jam 11 siang! hehe.. mahfum lah anak bandel yang menyukai cari kesan dan menyengaja saya hadirnya terlambat cuma untuk menonton band-band ibukota dan melihat lomba kekinian dance saja. Dan pada akhirnya saat yang ditunggu tiba .
    Kekinian dance angkatan kelas 3 yakni angkatan saya sendiri yang dengan anggota lima orang. Tetapi yang saya mengenal dekat cuma Putri yang mempunyai nama komplet Putri hermansyah.
    ohhh ya saya kok telah mengenaln seseorang walau sebenarnya saya saja belum kenalan!hhehee..nama saya Boy sob nama panjangnya gak perlu dech ya buruk masalahnya.

    Acarapun diawali dari performa kelas 1 lantas di ikuti kelas 2 dan sebagai penutup ialah kelas 3. Mereka segera masuk ke lapangan tengah. Baju yang mereka gunakan cukup seksi. Meskipun pada bagian perutnya tidak terbuka. Baju yang mereka gunakan ketat tentunya, menunjukkan buah dada mereka yang baru ‘tumbuh’.

    Cukup membuat mata pelajar lelaki melotot. Dengan disertai beberapa lagu techno mereka semuanya yang muda belia seumuran saya meliuk-liukan tubuhnya dengan seksi. Bersamaan lompatan-lompatan atau beberapa gerakan seksi mereka buah dada mereka bergoyang-goyang cantik dan tergetar-getar!cantiknya terasanya dunia waktu itu
    Mata saya cuma tertuju pada Putri seorang. Selain mukanya yang elok, dia mempunyai buah dada yang cukup seksi tentu saja. Rambutnya yang terurai panjang menambahkan seksi badan cantiknya. Meskipun ada juga rekan 1 team dancernya yang saya berpikir cukup bohai .

    Dimulai dari buah dada yang lebih besar dibanding Putri, dia mempunyai paha yang gempal. Tetapi perhatian saya masih tetap tertuju pada Putri. Lumrah saja saya merhatiin terus, menurut saya ia cewek terseksi secara fisik atau non. Sesudah mereka bermodern dance riang dan menghidupkan nafsu pada lelaki, dengan keringat bercucur di kening, leher dan beberapa bagian yang lain, mereka selekasnya ganti pakaian.
    Putri selekasnya ke arah kelas untuk mengenakn lagi seragamnya. Bersamaan jalannya jalan, payudaranya yang baru tumbuh bergoyang-goyang. Setelah dia ambil baju mengganti dari tasnya, dia juga ke arah wc untuk ganti pakaian.

    Lantas saya ikutin ia dari belakang. Kelihatan, tali branya nyeplak karena keringat yang basah ke badannya. wowww sedapnyo. Sesudah masuk itu, dia masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa dia ketahui bra dan celana dalemnya yang warna hitam jatuh di muka pintu kamar mandi.

    Saya juga langsung ambil bra an cdnya yang jatuh itu dan secara langsung saya pegang. Saya juga masuk ke dalam kamar mandi cowo dengan tujuan ingin kencing tanpa tujuan untuk sembunyikan ke dua barang itu. Dalam pikiran saya, saya akan beri sesudah saya kencing.
    Sesudah saya kencing, saya simak Putri mondar-mandir disekitaran kamar mandi. Langsung saja saya tegor,
    “Cari apa Putri?”
    “Eh lo Boy, ini nih saya cari bh sama cd saya, lo lyat tidak?”
    “Ohhh, ini mksd lo?” Langsung saya tunjukin bra dan cdnya.
    “Iya, ni ia yang saya mencari. Ni lo nemu di mana?”
    “Ni barusan jatoh. Lo gak tau…”
    “Oh yaudah, thanks ya Boy.
    “Iya sama Putri.”
    “Yaudah dech, saya mo mengganti pakaian dahulu yah. Panas sekali nih.”
    “Ngapain Putri?”
    “Mengganti baaajuuu… mengapa?? Mo ikuuut??” Bertanya Putri nakal.
    “Hhhee. Emg bisa Putri??”
    “Hmmm…” ia melihat ke sekitaran. Kemudian ia segera nyruh masuk saya untuk 1 kamar mandi dengannya.
    “Ywdh yok masuk.”
    “Putri, saya mo kencing dahulu yah. Lo jangan ngintip.” Langsung saya membuka clana saya sekalian ngebelakangin Putri. Terus kencing. dan Mendadak Putri berbicara
    “Oh my god. Besar sekali Boy barang (Penis saya) lo” Saya juga terkejut.
    “Putri, disebut jangan ngintip. Ko ngintip sich?”
    “Hhehe. Sori Boy, setelah tidak sengaja… hehee boong ding, saya ingin tahu saja ingin liat…”
    “Ah, dsar lo Putri. Ywdh, mengganti pakaian barusan ucapnya mo mengganti pakaian?”
    “Yaudah”Saya juga menggunakan clana saya kembali.
    Putri juga repot buka pakaian dancenya. Terus celananya. Terus branya. Lantas cdnya.
    Saya juga merhatiin semua.
    “Eh Boy, jgn melihatin kesini donk.” Sekalian dia tutupi toketnya yang sekel dengan tangan kirinya. Terus memiawnya tertutupin sama cdnya yang baru dibuka.
    “Hehehe. saya ingin tahu Putri…”
    “Ingin tahu??”
    “Iya”
    “Lo barusan ingin tahu sama barang saya kan?”
    “Iya sich” sekalian dia senyuman-senyum.
    “Putri, saya mo remes-remes toket lo donk. Bisa gak?”
    “Ha? Tai lo Boy. Memang lo siapa saya!!”
    “nanti saja Putri”
    “Tetapi saya pegang-pegang barang lo ya Boy? Agar adil.”
    “Oh yaudah” dan saya juga ngebuka resleting saya. Nyingkap CD saya. Terus ngeluarin Penis saya.
    Saya dengan semangat ngeremes-ngremes buah dada Putri yang sekel. Tetapi ia cukup takut-takut buat megang Penis saya.

    “mengapa Putri? Pegang dong… saya saja sudah megang toket lo nih. Sekel sekali sich Putri toket lo?”
    “Ihh, saya baru pertama nih megang barang cowo. Hahaha.”
    “Sstt. Jgn kenceng2 ktawanya…”
    dan saya coba bawa tangannya buat megang Penis saya secara perlahan-lahan dan sedikit desakan pada akhirnya, Penis saya juga terjamah oleh tangan Putri.
    “Oowwhhh… kocok-kocok donk Putri…” Pinta saya.
    Ia juga cukup malu cocok ingin ngocok Penis saya.
    Pada akhirnya pelan2 ia kocok Penis saya. saya juga sekalian ngeremes2 toket ia.
    “Owwhhh… sedap Putri… cukup kencang donk megangnya…”
    “Iya… ohh besar bgt sich Boy?? Lo dah ngaceng ya nih??”
    “Iya sudah lah. Secara saya ngeremes2 toket lo sudah gairah begini. Tentu dah ngaceng.”
    “Putri… saya isep yah toket lo??”
    “Ihh, edan lo ah.”
    “Bentar…”
    “Yaudah… nih…” dia juga memberikan toketnya ke dalam mulut saya. Tetapi dia ngelepasin kocokannya dari Penis saya.
    “Putri, sekalian kocokin Penis saya donk. Jangan berenti…”
    “Uwhh… iya iya… cerewet lo ahh…” Ia juga ngocok Penis saya cukup cepat.
    “Aahhhh… ohhhh… sedap Putrii…” suara saya mendesah. Terus saya kenyot2 toketny.
    “Ahhh… yang cepat kembali Putri… oohh… uuhhh… ssshhh…” sekalian saya kulum lehernya, langsung ke bibirnya.
    “Putri, sepongin donk sebentar…”
    “Ha?”
    “Sepongiiin… masukkan Penis saya ke dalam mulut lo… terus kocokin pakai mulut lo…”
    “Aaahhh!! Tidak ahh!! Pakai tangan saja yah Boy? Nnti kapan-kapan dech.” Putri nolak.
    “nanti Putrii… ingin nihh…” saya meminta.
    “Ah lo Boy. Yaudah, tp bentar saja ya”
    “iya, sampai keluar…”
    “Ahh, tp peju lo jgn dikeluarin dimulut saya!!”
    “Iya, gak… nnti kalau saya dah ingin muncrat saya cabut Penis saya dari mulut lo…”
    “Yaudah, maen cepat yaa. Takut didugan nih saya nanti sama beberapa anak yang laen.”
    “iya” jwab saya.
    Putri juga jongkok di muka saya. Mulutnya cocok sekali sudah berhadepan sama Penis saya.
    Saya juga memberikan Penis saya ke mulutnya. Putri juga tanpa sangsi buka mulutnya lebar2. saya terus dorong semua Penis saya masuk ke dalam mulutnya Putri. Kemudian ia rapetin mulutnya dan memulai menggerakkan mulutnya mundur-maju sekalian skali-kali mainkan lidah dan bibirnya buat mijet-mijet Penis saya.

    Penis saya kerasa agak-agak anget. Terus ada juga rasa-rasa benyek-lembek sedap yang dari lidahnya.
    Itu semua saya imbangin dengan turut gerak-gerakin Penis saya mundur-maju.
    “Ooohh… Putriiii… enaaaaaakkk… mmmhhhhhh… ooohhh… sshhhh…” sekalian saya belai-belai rambutny yang gak terlampau panjang.
    “mmmmpphhhh… mmmppphhhh… mmpphh…” Putri juga mendesah samabil terus nyepongin Penis saya.
    “Ooohhhhhhhhh… teeruusss Putriiii… ooohhh… eeennnaaakkk… terus Putri…”
    “mmmpphhhh… mmmppphhhh…”
    “Cepatin lagii Putriiii…” pinta saya.
    “Mmmhhh… mhhhh… mmmhhhhhhmmhhhh…” Putri juga sedkit cukup kerepotan nyepongin Penis saya.
    “Aaahhhh… ooouhhhcchhh… sedap Putriii… oowwwhhhwwwwwhhh… sshhhhhh”
    Putri juga makin percepat kocokan mulutnya di mulut saya. Saya juga menyeimbangin dengan memajumundurkan Penis saya di mulutnya.
    Karena sangat berasa pesatnya. Pada akhirnya saya sudah merasakan kalau peju saya ingin keluar.
    “Aaohhh… Putriii… saya ingin keluar nihhhh…”
    Secara cepat ia ngelepasin mulutnya dari Penis saya. Terus ia berdiri dari yang pernah cocok nyepongin saya dalam posisi jongkok. Saya juga raih tangan kanannya. Terus saya bimbing buat megang Penis saya yang sudah ngaceng sekali krn ingin keluar.
    “Kocokin yang cepat Putri…”
    Putri juga mengocak Penis saya cepat. Cocok ia kembali ngocokin Penis saya, saya kissing bibirnya yang imut2, sekalian kadang2 saya remes2 toketnya yang sekel tidak terlampau besar.

    Pada akhirnya sesudah kurang lebih 3 menit dikocakin pakai tangannya.
    “Aaarrghhhh… cchhaaaaaa… saya mauuu keluarrrrr nihh…”
    “Uwwhh, yaudah keluarin saja Boy…” ia juga ngarahin Penis saya ke wc agar peju saya nnti langsung ke membuang ke lubang wc tanpa bertebaran di lantai.
    “Aaarghhh… oooooooooouhhhhhhhh… sssssssshhhhhhhhhhh… aaaaah… saya keluar Putriii…” pada akhirnya peju saya juga keluar.
    Peju saya muncrat 6x. dari banyak mulai sampai keluar setetes setetes.
    “Oouhwwww… edan Boy, sangat banyak peju lo… duuhh terkena tangan saya kembali nih…” Putri juga ngelepasin tangannya dari Penis saya.
    Terus ia ngebersihin tangannya yang terkena peju saya sedikit pakai aer di gayung.
    “Uuffhh… iya nih Putri, sudah lama sich saya tidak colai… tetapi pada akhirnya saat ini saya justru dicoliin sama lo… lelah nih Putri… Putri bersihkan donk peju saya nih sedikit kembali pakai mulut lo…” pinta saya kea ca.
    Itil V3
    “Apa?” Putri terkejut.
    “Jilatin sedikit nih ujung Penis saya, kan masih ad sisa2 pejunya…”
    “Ih malas. Tidak ah. Jijik saya.”
    “Yah, tanggung nih Putri… sedikit kembali”
    “Tidak. Nnti saja yah kapan-kpan Boy…” Putri memberikan keinginan.
    “Huh. Dsar lo Putri. Tanggung nih. Yaudah dech.”
    “Nih saya bersihkan peju lo yang di sini saja nih.” Kata Putri sekalian nyiramin aer ke dalam wc yang pernah banyak peju saya.
    Sesudah nyiramin peju saya yang bertebaran di wc, Putri juga ganti lagi pakaian. Begitupun saya. Saya juga menggunakan celana dalam saya kembali selanjutnya resleting celana panjang saya.
    Saya perhatiin Putri. Dia kleiatan seksi sekali. Satu-satu dia gunakan bajunya. Dimulai dari celana dalemnya yang berwana hitam. Branya yang warna hitam. Tetapi dia cukup kesusahan ketika akan menyangkutkan branya. Lantas dia juga minta bantuan saya.
    “Boy tolong pakein donk.” Dia juga membelakangi saya minta menyangkutkan pengait branya.
    “Tetapi ada ketentuannya yaa…” sebut saya ngeledek.
    “Persyaratan apaan?”
    “Terka donk”
    “Hmmm apa ya. Gak tahu ah! Sudah cepatan pakein!!” dia juga cukup sedikit ngotot.
    “Itu tuch.” Saya juga menunjuk ke memiawnya.
    “Ohh ini… lo ingin ngewe sama saya?” Putri juga menanyakan dengan suara cukup sedikit terkejut.
    “Iaa, saya ingin ngewe sama lo Putri… blh gak?”
    “Anjjrriitttt lo Boy, apa masih tidak cukup yang sekarang?”
    “Kurang laaaah… saya ingin nyicipin badan lo pakai Penis gue…”
    “Aaaaaaaahhh!”
    “Sssstt, jgn kenceng-kenceng Putri… Ayoo donk Putriiiii… kapan-kapan yaaahh?? Gak saat ini kok…” sebut saya meminta kembali.
    “Saya masih virgin laaahh Boyyy.”
    “Ahh yakinnn lo??”
    “IYA!”
    “Kalau dari toket lo yang saya pegang barusan sich kayanya lo sudah gak virgin deh…”
    “Hah? Tahu darimanakah lo???”
    “Ya tahu laaahh, kalau toket cewe yang sudah gak virgin tuch sudah cukup kendor sedikit, gak terlampau sekel banget…”
    “Hahhha edan ya lo, kayanya sudah pakar sekali nih masalah beginian”. Sekalian ia repot membereskan pakaiannya.
    “Iya lah, karena itu kapan-kapan ingin coba ngewe sama saya gak?”
    “Hmmm bagaimana yaaaaa, yaa simak kelak saja deehhh”. Sekalian berkaca di cermin kecil sekalian membereskan rambut dan poninya.

    “Yawdahhh nnti kapan-kapan kita coba yaa??” Sebut saya pastikan.
    “Iya ahh, yaudah, saya ingin kembali ke beberapa anak dahulu nih. Natar saya didugan kembali mengganti pakaian doang kok lama sekali.” Ia juga buka pintu dan keluar kamar mandi.
    “Sipp, ati-ati lo. Thankss Putrii atas handjob dan blowjob lo… Hehhhe”
    “Haahh, akan sedap nih kalau andaikan kelak saya ML dengannya” Berpikir saya.
    dan sesudah berapakah menit saya keluar toilet itu rasa menyesal juga tiba mendekati! biasa sajalah penyesalan selalu hadirnya terakhir dan tidak pernah lebih dulu! menyesal mengapa Boy? he…menyesal mengapa ya gak saya paksakan Putri untuk segera saja ngajakin ngentot!hahahaha…
    sekalian membayangkan andaikan cocok di dalam toilet cewek itu saya ngentot sama Putri, tetapi saya punyai obsesi untuk ngedapetin perawan sang Putri bagaimapun triknya saya harus yang pertama menyetubuhi ia jika masih perawan! OK dech sob begitu dahulu narasi seks terkini dari saya, terima kasih,.

     

  • Cerita Sex Menikmati Hubungan Intim Dengan Istri Tetangga Super Mesum

    Cerita Sex Menikmati Hubungan Intim Dengan Istri Tetangga Super Mesum


    3397 views

    Pagi mas Ramailhan. Pergi kerja?” sapa seorang wanita. Ia ialah istri tetangga kos kami yang namanya Sutrisno, wanita ini namanya Sabrina. “Iya nih Neng. Ingin bersama?” tanyaqu ke Sabrina atau Neng Sabri demikian kami biasa menyapanya. Memang lokasi kerjanya bersisihan dgn Officeku.

    Cersex Stw – Neng Sabri selanjutnya menggangguk pertanda sepakat, “Bisa mas. Tetapi tidak apapun nih numpang di mobilnya mas Ramailhan? Nanti Neng Nia geram kembali.” Kata Neng Sabri kepadaqu. Aqu cuma ketawa kerana saat itu Nia, istriku ada disampingku. Nia turut ketawa dengar gurauan Neng Sabri.

    Aqu dan Nia memang pasangan baru. Kami baru menikah satu tahun selanjutnya dan belom dianugerahi seorang anak. Istriku Nia berumur 27 tahun, dua tahun lebih muda dariku. Sementara itu pasangan Sutrisno dan Sabrina berumur sekitaran 32 tahun dan 29 tahun . Maka dapat disebut Neng Sabri itu seumuran dgnku. Suaminya, Sutrisno memang tidak bekerja kerana telah setahun inilah di PHK, makluk sedang kritis ekonomi menjadi banyak PHK dimana saja. Dahulunya ia bekerja di perusahaan plastik sementara istrinya bekerja sebagai karyawan perusahaan keuangan yang cukup populer di Indonesia walaupun ia cuma untuk bawahan. Sesampai di Office aqu pisah dgn Neng Sabri yang memang jalan kaki dari Officeku ke arah Office tempat ia bekerja.
    Sejumlah pegawai melihat mengarah kami dan aqu percaya mereka bertanya siapa sebetulnya wanita yang dibawa atasannya tersebut. Aqu sich tidak memusingkan kerana memang pada pokoknya Sabrina memang lumayan elok walaupun tidak secantik istriku. Tapi badan nya memanglah lebih yahud dan berisi.

    Khususnya payudaranya yang sejak dari barusan kuperhatikan sekitaran F-Cup lebih besar dibanding istriku yang hanyan C-Cup. Ah ada apakah dgn diriku ini? Mengapa aqu justru pikirkan berkenaan badan istri orang. Pada akhirnya aqu juga masuk ke gedung Officeku sekalian berusaha melepas pikiran cabul itu dari otakku. Hari untuk hari berkemudian dan aqu sering kali pergi bersama dgn Neng Sabri, memang sich baik istriku atau suami Neng Sabri tidak pernah cemburu atau berkeberatan. “Kasihan Neng Sabri mas jika sendiri jalan.” Kata istriku waktu aqu katakan apa ia berkeberatan jika aqu pergi bersama dgn Neng Sabri. Memang sich dari tempat kos kami untuk capai wilayah tempat kerjaqu harus jalan sekitaran 100 mtr. ke arah jalan besar yang selanjutnya harus naik angkot sekitar 2x supaya dapat sampai ke wilayah tujuan kami. Aqu dapat membaygkan jika Neng Sabri pergi kerja sebelom ada aqu dahulu seperti apakah sulitnya. Pagi hari itu aqu seperti umumnya siap-siap untuk ke Office dan istriku membawa aqu perbekalan makan siang. Nia memang juru masak yang andal. Sejauh ini aqu tidak menampik setiap kali ia membawa perbekalan kerana memang masakannya hebat sedap, mahfum satu tahun pelatihan masak waktu kuliah dahulu.
    “Mas, maaf sudah nungguin lama yah? Habisnya mas Sutrisno barusan rewel terus meminta dilayanin sich.
    Maaf ya kalau kelamaan nunggunya.” Kata Neng Sabri ramah. Aqu kaget menyaksikan performa Neng Sabri ini kali. Memang ia kenakan pakaian kerja tapi rok nya kusaksikan lebih pendek dari umumnya begitupun dgn kerah pakaiannya seperti lebih lebar dan berkesan lebih turun. Neng Sabri selanjutnya kenakan sepatunya dgn posisi 1/2 menungging. Aqu yang saat itu sedang berdiri dimukanya, kontan saja menyaksikan panorama aduhai dari depan. Sepasang payudara Neng Sabri seperti menggelantung seakan ingin melepas dianya dari bra warna ungu yang membuntelnya. Besar dan memiliki bentuk sangat indah, batinku dalam hati. Mas Sutrisno betul-betul untung mempunyai istri seperti Neng Sabrina.

    Telah elok, badannya bagus, dadanya besar, tentulah luar biasa waktu bermain diranjang. Saat aqu memperbandingkan dgn istriku. Penyesalan ada dipikiranku. Akh, lelaki jenis apa aqu ini, membaygkan istri seseorang sementara aqu sendiri telah beristri dan istrikupun kerap setia padaku. Bahkan juga belakangan ini setaknya satu minggu akhir-akhir ini istriku berasa lebih hangat dari sebelomnya. Kami jadi seperti pasangan suami istri baru . Semalam saja ia meminta untuk bercinta sampai 2x walau sebenarnya sebelomnya paling tiga atau empat hari sekali. Entahlah apa yang memengaruhi keinginan seksualnya saat ini. “Wah kok macet ya? Walau sebenarnya jika melalui jalan ini tidak macet tuch jam begini.” Celetukanku perlahan. Neng Sabri tersenyum terus melanjutkan membaca buku neraca keuangan yang ia pegang. Kadang-kadang aqu melihat mengarah pahanya yang terkuak kerana mobilku ini tempat duduknya cukup rendah menjadi aqu dapat menyaksikan paha mulus Neng Sabri dgn terang.

    “Eh mas. Kelihatannya ada demonstrasi dech disitu? Aduh akan terlambat kalau begini.” Neng Sabri terlihat mulai cemas. Memang benar-benar ada demonstrasi di persilangan jalan dimuka kami. Entahlah apa topik demonya kerana aqu tidak demikian perduli kembali, yang kupedulikan hanya pekerjaanku di Office dan peluang lirik-lirik paha Neng Sabri. Cukup buat penyeling, batinku. Habis telah rasa penyesalanku barusan. Untungnya kami sampai Office pas ketika waktunya. Ini kali sampai di Office ada surprise yakni temanku waktu kuliah dahulu yang saat ini bekerja sebagai manajer sebuah perusahaan kimia swasta bertandang. “Wah, Rid, saat ini kamu sudah sukses ya. Telah menjadi pimpinan cabang sekarang ini. Hahaha…” canda sobatku yang satu ini. Aqu cuma membalas enteng, aqu memanglah bukan type orang yang sukai memperlihatkan prestasi sich. “Eh, wanitak yang barusan bersama dengan kamu itu siapa sich? Keren tuch wanitak. Badannya kece dan mukanya oke punyai tuch. Siapa sich? Kenalin dong!” goda Dirman temanku ini.

    Aqu cuma tersenyum simpul saja tetapi ia justru makin ingin tahu dan membombardirku dgn beragam pertanyaan susulan. “OK, OK, gua jawab. Ia tuch tetangga kos gua. Ia ada di kamar samping indekos gua. Lagian ia kerja didekat sini oleh karena itu gua anterin ia ke sini berbarengan ma gua. And sekadar informasi, ia sudah punyai suami gan.” kataqu menerangkan dibanding kelak di berondong pertanyaan kembali. “Heh? Emangnya istrimu tidak cemburu tuch? Kalian khan pasangan muda, umumnya istri sukai cemburu jika suaminya bersama wanitak lain yang elok. Khan atribut dari saat berpacaran masih tetap ada hahaha…” Dirman memikatqu lagi sekalian melihat-lihat beberapa foto pada dinding ruangan Officeku. Aqu cuma menghela napas saja, “Istriku tidak semacam itu kembali. Ia orangnya kagak pencemburu. Ia yang suruh gua buat nganterin Neng Sabri daripada nanti ia jalan sendiri khan kasihan.” Kataqu kepadanya. Dirman ketawa kembali, “Wah bisa tuch. Kalau nanti aqu punyai istri aqu ingin kaya istrimu tuch, orangnya tidak cemburuan.

    Tidak kaya kekasihku saat ini, cemburuannya meminta ampun. Setiap jam telephone terus jika tidak ya sms. Disangka aqu pembantunya apa yah…” candanya sekalian ketawa. Memang sich kekasih Dirman pencemburu berat walau sebenarnya telah berpacaran sepanjang tiga tahun lebih. “Tetapi Rid…” Dirman menyahut kembali, “Memang kamu tidak ada rasa tertarik sama Neng Sabri itu? Ia elok lho dan seksi kembali. Baygin saja jika kamu di tempat tidur dilayanin ia sama istrimu…pasti hebat tuh…hahahaha….threesome begitu.” Ucapnya kembali. Aqu memang tidak kaget dengar perkataan itu dari Dirman kerana semenjak waktu kuliah dahulu memang mulutnya kerap keluarkan ucapan-ucapan seronok apa yang ada. Ia paling suka bicara masalah sex walaupun tidak pernah berhubungan seksual dgn wanita mana saja sejauh ini. “Halah…lo ini bicara apaan sich. Mana ingin istri gua dibawain threesome. Ia orangnya konservatif kok.” Kataqu pada Dirman. Memang sejauh ini istriku kerap konservatif saat bermain cinta. Sepanjang setahun ini kami cuma bermain cinta memakai style-gaya yang itu melulu.

    Terkecuali 2 hari paling akhir ini di mana kami berdua memakai style baru benar-benar dalam bercinta dan memang dampaknya hebat. Aqu sendiri tidak tahu darimanakah ia memperoleh style itu. Sesiang ini aqu pikirkan perkataan teman dekatku tersebut. Threesome, kelihatannya menarik tetapi mana ingin istriku melaqukannya. Apalagi mana ingin Neng Sabri melaqukannya kerana didekat kami ada suaminya. Sudah pasti risiko tinggi sekali bila suaminya sampai tahu tentang ini. Sore harinya aqu mendapatkan surprise ke-2 qu. Neng Sabri tiba bertandang ke Officeku. Memang saat itu Officeku telah tutup dan tinggal aqu bersama dgn 2 orang satpam di luar dan 2 orang petugas cleaning servis. “Lho, Neng Sabri belom pulang? Ini khan telah jam 5 sore. Bukanlah Neng Sabri usai kerja jam 4 barusan?” kataqu sekalian menyilahkan wanita elok ini masuk Office kerjaqu. Neng Sabri tersenyum manis, “Iya nih mas. Barusan saya terlambat pulang kerana pembukuan bulan akhir tetap menimbun selanjutnya saya kerjain saja sekaligus agar esok lebih lengang waktunya. Kirain mas Ramailhan belom usai kerjanya rupanya telah ya…”

    “Akh, ini Neng, biasa tender dgn client telah usai dan rapatnya ditunda 3 hari kembali kerana client yang satunya ada halangan datang. Sebetulnya sich agendanya pulang jam 6 kelak tetapi jika sudah tidak ada yang ditangani ya ingin apalagi.” Kataqu menerangkan. Memang beberapa pegawai telah pulang semenjak jam 4 barusan sementara aqu masih tetap di sini kerana menghindar dari macet dan biasa mulai pulang jam 7 atau 1/2 7 untuk menghindar dari kemacetan. “Ohh begitu. Kirain sedang ada apakah. Wah bermakna saya untung donk kerana tidak ketinggal hehehe…” kata Neng Sabri bergurau. Dalam hatiku sich aqu senang- suka saja malam hari ini ia pulang bersama dgnku kerana malam hari ini ia gunakan baju yang benar-benar seksi. Mengapa harus dilewati, iya khan? Kami selanjutnya bercakap berdua di ruang Officeku sekalian minum sereal hangat yang kubuat. Kadang-kadang Neng Sabri mengubah persilangan kakinya dari kiri ke kanan waktu tersebut aqu dapat menyaksikan terang celana dalam Neng Sabri kerana kami duduk berhadap-hadapan.

    Pahanya yang mulus putih itu makin lama membuatku makin tidak dapat meredam rasa ingin merengkuhnya dan mencumbu wanita elok ini dan meremehkan jika ia ini istri seseorang. Jam telah memperlihatkan jam 6 malam. Masih sisa waktu 1/2 jam kembali buat kami berduaan. Terasanya hatiku ini tidak ikhlas untuk pulang dan ingin lama-lama dgn wanita dimukaku ini. Aqu tahu ini salah tapi keinginan sebagai seorang lelaki membuatku tidak bisa berpikir tenang. “Mas, bagaimana jika sekalian menanti jam tujuh kita makan dahulu. Dimuka Office ada warung makan yang sedap.” Saran Neng Sabri kepadaqu. Aqu sich setuju-setuju saja. Apalagi perutku mulai lapar. Walau sebenarnya umumnya aqu kerasan-betahin untuk meredam lapar hingga sampai di rumah kelak dapat makan masakan istriku. Tapi ini kali berlainan . Maka pada akhirnya kami berdua makan di warung makan tersebut. Walaupun tidak demikian besar tapi bersih dan masakannya sedap walaupun tidak seenak masakan istriku tentu saja. “Telah jam 7 kurang 15 menit.

    Kita masuk mobil saja dahulu kelihatannya jalanan mulai kendur tuch.” Kataqu pada Neng Sabri. Wanita ini menggangguk sepakat dan pada akhirnya kami masuk ke dalam mobil sedanku. Sebuah kejadian tidak tersangka terjadi secara tidak menyengaja. Neng Sabri terganjal waktu akan masuk ke mobil. Badannya terhempas ke depan dan menindih aqu yang telah duduk di atas bangku. Untung saja kepalanya tidak terbentur kemudi mobilku. Tapi yang membuatku grogi ialah kepalanya cocok sekali roboh di atas selangkanganku. Tanganku tidak menyengaja terhimpit payudaranya yang besar tersebut. Entahlah apa yang menyusupiku, tanganku tidak bisa kukendalikan kembali meremas payudara wanita ini. Neng Sabri melenguh perlahan selanjutnya bangun dari tersuruknya. Mukanya memeras kelihatannya meredam malu. Aqu sendiri malu setelah sadar jika gagang kemaluanku rupanya telah tegang waktu muka Neng Sabri tanpa menyengaja sentuh selangkanganku ini. Kami berdua termenung lumayan lama dalam mobil ini. Aqu coba buka pembicaraan dan waktu tersebut kami bertatapan muka. Pandangan kami beradu lumayan lama.

    Entahlah apa yang memengaruhiku, aqu mulai berani dekatkan mukaku padanya. Saat selanjutnya bibir kami sama-sama bersinggungan. Setan apa yang mendorongku aqu sendiri tidak tahu. Yang terang selang beberapa menit saja kami telah sama-sama melumat bibir keduanya. Mobil itu jadi saksi begitu panasnya kecupan kami berdua, di luar sangkaan Neng Sabri benar-benar mengusai dalam berciuman. Ia tidak malu saat aqu memakai lidahku dalam berciuman. Tidak hanya cukup itu, tanganku mulai meraba-raba payudara Neng Sabri kembali yang saat itu tetap berbalutkan baju kerja. Aqu lepas jas kerjanya selanjutnya satu per satu kancing baju Neng Sabri aqu bebaskan sampai saat ini tinggal bra warna krem-lah yang jadi penghambat mataqu dgn payudara cantik wanita elok ini. Remasan-remasan tanganku kelihatannya telah sukses menghidupkan nafsu terkubur punya Neng Sabri. Ia makin liar saja. Bahkan juga tangannya telah berani mengusup di dalam celana panjangku dan cuma perlu waktu beberapa menit saja sebelom pada akhirnya ia sukses temukan gagang kemaluanku yang memanglah bukan cuma telah tegang tapi telah basah.

    Neng Sabri tersenyum demikian tahu jika aqu terangsang berat. Selanjutnya ia merebahkan kursinya dan melepas bra yang ia gunakan hingga aqu dapat dgn bebas nikmati panorama cantik itu. Payudara Neng Sabri memang sungguh besar. Sama sesuai dgn sangkaanku yakni F-Cup. Aqu tidak sabar ingin meremas dan menciumi payudara cantik itu dan puting susunya yang telah tegang melawan tersebut. Kadang-kadang badan Neng Sabri membusung setiap kali aqu mengisap puting susunya yang mancung tersebut. Tanganku meraba-raba kemaluan wanita elok ini dan rupanya celana dalamnya telah basah sekali. Tanpa berpikir panjang selekasnya ku sibak rok mininya itu hingga terkuak keatas selanjutnya kutarik celana dalamnya sampai lepas. Saat ini tidak cuma payudara Neng Sabri yang kelihatan terang tapi juga kemaluannya dapat terang kusaksikan. Wanita ini masih tetap sedikit malu saat aqu sukses menanggalkan celana dalamnya. Samping tangannya berusaha untuk tutupi kemaluannya yang tercukup rapi tersebut. Tapi aqu tidak memusingkan, jariku selekasnya bekerja disitu.

    Jemari telunjuk dan jemari kelingkingku buka bibir kemaluan Neng Sabri yang telah basah itu sementara jaru tengan dan jemari manisku kuarahkan di dalam kemaluannya. Dgn pergerakan menusuk- nusuk membuat Neng Sabri makin kalang kabut dibikinnya. Desahan untuk desahan tidak terhindar kembali keluar mulutnya. “Akhh..Mas..jangan disitu…akhhh…” desahnya kembali waktu jariku berkreasi di lubang kewanitaannya. Cairan pelumas selekasnya meluber lagi membasahi bibir kemaluan wanita elok ini. Memang masalah permainan jemari aqu telah pakar. Istriku saja sampai kubuat klimaks dgn jemari saja. Klitorisnya mulai menegang dan pertanda ia akan klimaks makin dekat saja. Beberapa saat selanjutnya karena permainan jariku di kemaluannya ditambahkan dgn cumbuan tangan dan bibir dan lidahku di sepasang payudaranya, Neng Sabri capai klimaksnya. Ia mendesah lumayan keras sekalian meredam jeritan nikmat. Bibir bawahnya ia gigit sendiri meredam kesan kepuasan yang melimpah dari dalam dianya. Badannya melafalkanng saat selanjutnya 1/2 menit selanjutnya ia lemas.

    Peluh membasahi badan seksi dan montok wanita ini. Neng Sabri pada akhirnya capai klimaksnya cuma dgn petting saja. Aqu tersenyum menyaksikannya terduduk lemas di kursi mobilku yang telah disandar. “Neng Sabri betul-betul luar biasa. Mas Sutrisno untung punyai istri secantik dan seseksi Neng Sabri.” Pujiku. “Aqu sebetulnya telah lama sukai dgn Neng Sabri namun kerap kutahan, saat ini aqu telah senang dapat bermesraan dgn wanita secantik Neng ini.” Pujiku kembali. Muka Neng Sabri memeras entahlah kerana pergumulan barusan atau kerana meredam malu kerana telah menyerahnya setengah dianya padaqu walau sebenarnya ia punyai seorang suami yang menantinya di rumah.
    “Mas Ramailhan ini menyanjungnya kok tinggi sekali sich? Nanti aqu menjadi ke ge-er-an lho. Lagian mas Ramailhan khan punyai istri elok. Tentu Neng Nia tiap malam rasakan ketrampilan tangan mas Ramailhan ini, untungnya Neng Nia ya…” tutur Neng Sabri. Aqu tersanjung dibikinnya kerana ia mengaqui kedahsyatan jariku ini. Belom sebelumnya sempat aqu berbicara mendadak tangan Neng Sabri sentuh kemaluanku selanjutnya dgn cekatan ia mengocaknya perlahan-lahan.

    Gagang kejantananku yang sebelomnya telah 1/2 tiang saat ini kembali gagah cuma dgn sedikit sentuhan dan rangsangan dari Neng Sabri. Selanjutnya tanpa kuduga Neng Sabri arahkan bibirnya ke ujung kemaluanku dan menciumnya perlahan-lahan selanjutnya lidahnya main di ujung kemaluanku itu dan pada akhirannya semua gagang kemaluanku itu dilumatnya masuk ke mulut wanita elok ini. Rasanya seperti di atas awang-awang. Dibarengi dgn rangsangan tangannya pada buah zakarku, mulut Neng Sabri mundur-maju seakan mengocak kemaluanku sambil dari dalam, lidahnya tidak berhenti-hentinya melumat gagang kemaluanku ini. “Neng Sabri…akhhh…” desahku meredam rasa nikmat. Tidak perlu waktu yang lama hingga kemudian aqu merasa akan capai klimaks. Selanjutnya Neng Sabri mengambil kemaluanku dari mulutnya demikian ia mengetahui jika aqu telah cari ejaqulasi. Aqu selanjutnya arahkan kemaluanku ke belahan payudaranya.

    Neng Sabri selanjutnya memakai himpitan sepasang payudaranya untuk mengocak gagang kemaluanku ini. “Keluarin saja semua mas. Aqu ingin mas Ramailhan rasakan nikmat seperti yang aqu merasai barusan.” Kata Neng Sabri sekalian kadang-kadang menjilat-jilati ujung kemaluanku.

    “Akhh..Neng…aqu keluar…akhhh…” racauku sekalian ke-2 tanganku menekan bahu Neng Sabri. Gagang kemaluanku berdenyut cepat sekali selanjutnya cairan putih kental menyemburkan membasahi sepasang payudara wanita elok ini sejumlah sebelumnya sempat menyemprotkan mengarah muka Neng Sabri. “Maaf Neng. Barusan tidak sempat aqu kontrol. Muka Neng menjadi kotor dech.” Kataqu mohon maaf. Neng Sabri cuma tersenyum sekalian bersihkan mukanya dgn tissue sementara aqu menolong bersihkan payudaranya dgn tissue . “Tidak apapun kok. Jika mas Sutrisno kerap nakal sich menyemprot di dalam mulut tanpa bilang-bilang walau sebenarnya saya tidak sukai dgn rasanya, menjadi ingin muntah mas.” Sahutnya perlahan. “Mungkin kerana belom biasa saja kali Neng.” Kataqu. Walau sebenarnya istriku sendiri tidak pernah ingin menelan air maniqu. Ia kerap geram-marah saat aqu tanpa menyengaja atau menyengaja menyemprot cairan maniku di dalam mulutnya saat melaqukan oral sex. Mengakibatkan ia kerap kali menampik melaqukan oral sex itu. Jam telah memperlihatkan jam 1/2 delapan malam.

    Kami selanjutnya membereskan diri dan segera pulang. Sepanjang perjalanan aqu tidak berhenti-hentinya meraba-raba payudara Neng Sabri yang telah terbungkus oleh bra tersebut. Wanita elok itu cuma tersenyum menyaksikan tingkahku. Ia sebelumnya sempat membalasnya dgn meraba-raba dan mengocak lagi kemaluanku tapi kerana aqu hampir kehilangan kendalian atas kemudi mobilku karena itu keinginan itulah stop. Sesampai di rumah, Neng Sabri masuk langsung kamarnya sementara aqu telah dinanti istriku.

    “Mas, kok baru pulang? Macet ya?” bertanya istriku, aqu cuma menyetujui saja. Andaikan ia mengetahui jika aqu habis petting mati-matian dgn Neng Sabri entahlah apa yang dia akan laqukan. Malam itu istriku tumben tidak minta porsi malamnya. Tetapi buatku tidak jadi masalah kerana aqu telah cuma hanya blow job saja. 2 hari selanjutnya, pas akhir minggu, pekerjaanku kelihatannya telah usai semua dan aqu memiliki waktu senggang lumayan banyak.Semua laporan dan pembukuan telah diatasi dan semenjak jam 12 siang aqu telah terbebas dari tugas.
    Sebetulnya aqu bisa jadi pulang tapi aqu main-main ingin mengulangi lagi kebersama-samaanku dgn Neng Sabri kemarin. Iseng aqu telephone Neng Sabri melalui telephone Officeku dan ia menyahutnya. Rupanya Neng Sabri sedang lengang. Selanjutnya kami makan siang berdua.
    “Wah kebenaran mas, saya sedang tidak ada pekerjaan. Mahfum sepanjang 2 hari paling akhir ini kerap lembur menjadi semua laporan telah usai. Mas sendiri habis ini ingin ke mana?” bertanya Neng Sabri diselang makan siang kami. “Hmmm, tidak tahu yah. Tetapi jika Neng Sabri memang sudah tidak ada pekerjaan bagaimana jika kita keluar saja. Kebenaran barusan ada dengan lebaran promosi berkenaan tempat karaoke yang baru. Tempatnya tidak sangat jauh disini dan ucapnya sich cukup terbatas begitu.” Ajakku. Dalam hati aqu mengharap supaya ia sepakat. Neng Sabri habiskan minumannya selanjutnya bergerak berdiri. “Bisa tuch mas. Mari! Kembali juga daripada bengong di Office.” Ia sepakat dan dgn hati senang penuh pengharapan aqu melesatkan mobilku mengarah tujuan kami. Rupanya tempat karaoke itu betul-betul terbatas, menjadi lumrah saja jika promosinya besar di perOfficean.

    Aqu selanjutnya pesan kamar buat kami berdua sepanjang dua jam. Pelayan disitu selanjutnya menyuguhkan menu makanan dan minuman enteng untuk teman karaoke kami. Setelah usai administrasinya kami segera ke arah kamar yang dimaksud. “Wah, besar yah. Ini mah dapat untuk delapan sampai sepuluh orang mas.” Kata Neng Sabri kepadaqu. Memang sich kamarnya lumayan besar dgn tv LCD ukran 30 Inchi dan sound komplet. Sofanya yang besar empuk bahkan juga cocok untuk istirahat sekalinya….tidur? Ya, pikiran itu tebersit di otakku barusan. Sepanjang lima belas menit pertama kami cuma berkaraoke berdua sekalian kadang-kadang menenggak minuman dalam botol. Aqu tahu minuman itu memiliki kandungan alcohol sekitaran 5% tapi Neng Sabri kelihatannya tidak sadar dan memandang jika muniman itu hanya soft drink biasa. Setelah nyaris dua botol minuman itu habis kami tenggak, aqu mulai menyaksikan Neng Sabri mulai tipsy walaupun belom seutuhnya mabok. Bicaranya mulai sedikit melantur. Aqu menggunakannya untuk dekatinya.

    Menyengaja aqu dekatkan mukaku dgn mukanya dan sama sesuai sangkaanku tidak perlu waktu yang lama untu pada akhirnya kami berdua berciuman dgn mesra ataupun lebih persisnya dgn panas. Gairah telah tiba diujung kepala dan tidak tertahan kembali. Baik aqu atau Neng Sabri masing-masing sama-sama menanggalkan pakaian pasangannya. Sejak awal kali memang aqu telah mengamankan pintu kamar ini hingga aqu telah bebas kekuatiran bila ada orang masuk. Saat ini di depanku ialah Neng Sabri yang telah bugil keseluruhan. Ia tidak kenakan satu helai benangpun ditubuhnya begitupun dgnku. Kami selanjutnya berpagutan mulut kembali. Lidah kami berdua sama-sama melilit dan menjilat keduanya sementara ke-2 tangan kami bergerilya ke tempat riskan pasangan masing-masing. Tangan Neng Sabri mulai mengocak kemaluanku sementara tangan yang satunya mengelus dadaqu yang sektor ini. Sementara itu ia biarkan ke-2 payudaranya aqu mainkan justru dgn tangannya ia arahkan samping tanganku yang satu kembali untuk menstimulsi kemaluannya yang benar-benar basah tersebut. Kembali Neng Sabri rasakan kepuasan permainan tanganku yang pernah membuat klimaks 2 hari selanjutnya. Saat ini tidak ada bunyi orang menyanyi yang ada cuma bunyi desahan kami berdua yang sedang berlomba dgn kepuasan.

    Aqu selanjutnya merebahkan badan Neng Sabri ke sofa yang lebar itu selanjutnya mengusung ke-2 tungkai kakinya dan menyandar ke-2 tungkai kakinya itu ke bahuku. Perlahan-lahan aqu arahkan kemaluanku mengarah kemaluan Neng Sabri tapi Neng Sabri kelihatannya sadar hal itu dan dgn ke-2 tangannya berusaha untuk tutupi kemaluannya supaya aqu tidak dapat penetratif. “Mas Ramailhan, jangan! Aqu masih belom siap. Aqu tidak mau mengkhianati mas Sutrisno lebih dari ini.” Tutur Neng Sabri sekalian berusaha menghambatku. Tapi gairahku telah tiba di ubun-ubun membuatku tidak perduli kembali. Aqu selanjutnya menindih badannya sekalian ke-2 tanganku tarik tangannya keatas kepala Neng Sabri dan menangkapnya agar tidak berontak sekalian bibirku terus menelusuri bibir, leher dan payudara wanita elok ini. Pada akhirnya Neng Sabri kekurangan tenaga untuk menantang, mungkin saja kerana ia telah tipsy sebelomnya. Wanita elok itu cuma berserah demikian saja saat ujung kemaluanku mulai sentuh bibir kemaluannya yang merah mengembang tersebut. Dgn sedikit dorongan pada akhirnya kepala kemaluanku juga masuk di dalam lubang senggamanya disertai dgn desahan yang keluar mulut wanita seksi ini. “Mas Ramailhan…akhhh…” desahnya sekalian mengalihkan wajahnya kesamping mungkin Neng Sabri malu kerana kemaluanku saat ini telah membobol batasan kesetiaannya ke suaminya. Saat ini kemaluan pria yang bersarang di kemaluannya bukan punya suaminya tetapi punya seseorang.

    “Neng Sabri, rupanya kemaluan Neng Sabri masih sempit ya. Mas Sutrisno tentu suka setiap hari mendapat porsi dari Neng Sabri.” Ujarku dan Neng Sabri makin malu dibikinnya. Mukanya memeras dan tidak ada satu patah katapun terkata dari bibir manisnya tersebut. “Akhhh…pelan mas…” tutur Neng Sabri saat aqu mulai menggerakkan lagi masuk gagang kemaluanku yang sisa. Apa mungkin kemaluanku ini lebih besar dibanding punya Mas Sutrisno atau memang kemaluan Neng Sabri yang memang sempit. Perlahan-lahan tetapi tentu pada akhirnya aqu sukses melepaskan semua sisi kemaluanku di dalam kemaluan Neng Sabri. Perlahan-lahan aqu mulai menyikat-nyodok kemaluanku yang bersarang di lubang kewanitaan wanita elok ini. Saat ini Neng Sabri seakan terbaring tidak memiliki daya di depanku. Aqu menindihnya dgn gairah yang semakin bertambah. Pompaanku yang sebelumnya perlahan saat ini mulai cepat. Entahlah berapakah kali pompaanku sukses membuat ujung kemaluanku menyikat dinding kandungan Neng Sabri. “Akhh..mas..perlahan-lahan!” sebut Neng Sabri lirih disertai desahan suaranya.

    Suara seksi desahan yang keluar mulut wanita ini bersatu dgn bunyi kecipak cairan ke-2 kemaluan kami yang sama-sama beradu. Suara ciri khas orang bercinta ini penuhi semua ruang. Untungnya ruang ini kedap suara kerana bila tidak karena itu dapat kedengar di luar sana. Aqu mengusung badan Neng Sabri sampai kami saat ini duduk berhadap-hadapan sementara badannya aqu pangku dgn pahaqu. Aqu tidak berhenti-hentinya mengusung-angkat bokongnya supaya kemaluanku masih tetap dapat memompa kemaluan Neng Sabri sekalian kadang-kadang menggoygnya kekiri dan kekanan hingga ujung kemaluanku ini dapat mencari dinding lubang senggama istri Mas Sutrisno ini. Tapi tidak perlu waktu yang lama sampai Neng Sabri mulai terbawa dalam permainanku dan ia dgn suka-rela menaik turunkan selangkangannya sendiri hingga saat ini aqu tinggal nikmati servis Neng Sabri ini. Dgn style women on hebat wanita ini makin brutal saja. Aqu dapat menyaksikan payudaranya bergoyg ke sana kesini kerana ukuran yang besar hingga jadikan panorama
    seksi sekali buatku kerana punya istriku tidak sampai sehebat itu bergetarnya.

    Sekalian tanganku meremas-remas payudaranya aqu turut membombardir kemaluan Neng Sabri dari bawah. Cairan kemaluan keluar deras dari kemaluan Neng Sabri dibarengi badannya yang melafalkanng. Rupanya Neng Sabri telah capai klimaksnya ini kali. Tapi aqu masih belom senang, selanjutnya aqu menindih lagi wanita elok ini dan menumpangkan lagi ke-2 tungkai kakinya di bahuku dan menindih badan seksinya itu hingga lutut Neng Sabri saat ini sentuh payudaranya sendiri. Selanjutnya dgn tidak kalah brutal aqu memompa kemaluanku di dalam kemaluannya dgn cepat sampai beberapa saat selanjutnya aqu rasakan kemaluanku mulai berkedut keras dan pada akhirnya menyembur cairan putih kental dalam kandungan Neng Sabri. Tidak ada suara protes dari mulut Neng Sabri walaupun saat itu ia mengetahui jika di dalam rahimnya telah penuh cairan air maniqu. Sejumlah bahkan juga mengucur keluar melalui bibir kemaluannya. Tidak ada pikiran taqut akan risiko hamilnya Neng Sabri kelak. Kami berdua cuma pikirkan kepuasan keinginan kami saja.

    Sepuluh menit selanjutnya kami selanjutnya membereskan diri dan mengakhiri acara karaoke ini walaupun baru satu jam lebih kurang kami memakai ruang itu. Setelah menuntaskan masalah administrasi kami selekasnya cabut dari tempat itu dan pulang kerumah. Cuma ada diam saat di dalam mobil yang melesat saat tersebut. Neng Sabri termenung begitupun dgn aqu. Mungkin Neng Sabri menyesali semua ketetapannya yang memberikan kesetiaan cintanya akan si suami dgn keinginan seksualnya dgnku. Aqu sendiri diam kerana kebingungan harus bicara apa dgnnya. Sesampai di rumah kos, kelihatannya rumah masih sepi dan semua penghuni kos tidak ada di rumah. Wajarlah kerana semua penghuni kos adalah pegawai apabila ada pasangan suami istri tinggal disitu ialah pasangan muda yang baik lelaki atau wanitanya bekerja dan pulang umumnya jam 5 malam atau sore malah. Bermakna tinggal ada istriku Nia dan suami Neng Sabri, batinku dalam hati. Saat kami berdua mengambil langkah dan dekati kamar kami yang berdekatan, aqu dengar suara rintihan dan desahan dari kamar Mas Sutrisno dan Neng Sabri.

    Kelihatannya Neng Sabri ketahui hal itu dan mintaqu supaya jalan perlahan-lahan. Seperti maling yang membidik barang bernilai, kami berdua pelan-pelan dekati jendela kamar Neng Sabri. Kerana jendela sisi depan kamar tertutup rapat karena itu kami memilih untuk melihat dari sisi belakang. Sisi belakang kamar mereka memang ada lubang kecil dgn ukuran sekitaran 30cm-40cm yang dahulu adalah sisa exhause fan tapi saat ini tinggal lubangnya saja. Makin dekat dgn lubang itu aqu makin dengar terang desahan yang keluar kamar tersebut. Itu pasti desahan seorang wanita tapi siapa? Makin dekat aqu makin terang dan mendadak tebersit dalam benakku jika desahan dan rintihan wanita itu seperti punya istriku, Nia. Desahan itu benar-benar serupa sekali dan demikian aqu melihat melalui lubang itu betul saja aqu kaget bukan kepalang. Aqu menyaksikan Nia, istriku sedang ditiduri oleh Mas Sutrisno. Ke-2 nya telah pada kondisi telanjang. Suara tv yang di hidupkan tidak bisa menipu suara desahan yang keluar mulut mereka berdua. Mereka sedang bercinta.

    Istriku dgn posisi merayap sedang Mas Sutrisno ada di belakangnya terus membombardir kemaluan istriku dgn sikatan-sodokan kemaluannya. Badan istriku yang langsing dan putih mulus berkebalikan dgn badan Mas Sutrisno yang cokelat kehitaman dan sedikit gendut. Neng Sabri meredam rasa kagetnya menyaksikan suaminya bermain cinta dgn wanita lain. “Akhh…mas Sutrisno…terusss…masss..” desah istriku. Aqu tidak yakin istriku minta Mas Sutrisno supaya terus menidurinya. “Sedap ya dik dientotin sama mas Sutrisno? Jika sampai Mas Ramailhan tahu bagaimana coba…hehe…” tutur Mas Sutrisno sekalian menyikat kemaluan istriku dgn keras. Istriku menjerit kecil, “Akhh…nggak apapun. Mas Ramailhan jarang-jarang di rumah pulang baru…akhhh…nanti malam…” katanya selanjutnya ke-2 nya berciuman hangat. Brak!!! Ke-2 nya kaget saat pintu dibuka oleh Neng Sabri. Memang Neng Sabri memiliki duplikat kunci untuk jaga-jaga andaikan ia pulang cocok Mas Sutrisno sedang pergi. Ke-2 nya belingsatan cari kain untuk tutupi badan mereka yang telanjang. Tapi selimut yang dicapai Mas Sutrisno telah cepat-cepat di serobot oleh Neng Sabri.

    Dalam ketidaktahuan, istriku cuma menangis selanjutnya menghambur kearahku dan bersujud dikakiku sekalian berlinang air mata. Semua jenis perkataan keinginan maaf keluar bibirnya. Dadaqu sesak menyaksikan istriku yang telanjang ini telah habis di buat oleh seseorang selainnya diriku. Tapi tebersit perkataan Dirman kemarin berkenaan macam sex selanjutnya aqu menghambat waktu Neng Sabri akan mendamprat suaminya. Selanjutnya meng-kode-nya supaya ia tenang dan kelihatannya ia mengetahui tujuanku. Setelah tutupi tubu bugil Mas Sutrisno dan istriku kami tutup pintu kamar dan menanyai jalinan mereka berdua. Dari semua pengaquan mereka rupanya jalinan Mas Sutrisno dgn istriku baru berjalan 2 hari yang selanjutnya saat aqu terlambat pulang Office. Sementara itu istriku telah telanjur meminum obat perangsang. Itu menerangkan kenapa beberapa hari sebelomnya ia demikian hangat, rupanya ia minum obat perangsang jumlah tinggi hingga ia kerap meminta porsi berkali-kali padaqu dan 2 hari selanjutnya ia justru tidak meminta benar-benar, rupanya ia telah mendapat porsinya dari Mas Sutrisno, suami Neng Sabri. Bahkan 4 kali dalam dua jam.

    Aqu selanjutnya menanyakan apa mereka memakai perlindungan saat itu dan mereka menjawab tidak kerana istriku menjelaskan ia telah minum pil KB sebelom dan setelah melakukan hubungan intim itu. Ia benar-benar tidak menyengaja bercinta dgn Mas Sutrisno bila bukan kerana dampak obat itu. Kerana saat itu Mas Sutrisno sedang tiba untuk pinjam tang untuk menggunting kawat sementara istriku tidak tahu tempat penyimpanannya hingga mereka berdua dikamar menelusurinya. Saat itu istriku cuma kenakan daster untuk tidur kerana memang ia gagasannya akan menyongsong kepulanganku. Tidak diduga yang memetik justru Mas Sutrisno. Sore itu juga merekaberdua bercinta mati-matian. Dan kejadian baru saja kerana istriku dan Mas Sutrisno berdialog supaya hal tersebut tidak terjadi kembali tapi kerana rayuan Mas Sutrisno pada akhirnya istriku kalah untuk ke-2 kalinya. Dan mereka berdua bercinta mati-matian kembali, namun ini kali telah kedapatan lebih dulu. Dgn beraga geram aqu dan Neng Sabri mengadili mereka. Baik istriku atau Mas Sutrisno sama mohon maaf berkali-kali dan tidak ingin berpisah.

    Bahkan juga Mas Sutrisno sampai menyembah-nyembah kami berdua supaya memaafkannya. Sebuah gagasan yang telah lama tertancap diotakku secara langsung kukeluarkan. “OK jika demikian. Kerana kalian berdua seringkali bercinta karena itu sebagai balasannya aqu dan Neng Sabri akan bercinta . Bukan hanyan itu tetapi kami akan melakukan hubungan intim dimuka kalian berdua.” Ucapku. Mas Sutrisno protes tapi kerana Neng Sabri menakannya lagi karena itu ia cuma pasrah. Pada akhirnya menjadi aqu bercinta dgn Neng Sabri. Siang itu aqu memompa lagi kemaluan Neng Sabri ini kali dgn posisi doggy model seperti yang dilaqukan istriku dgn Mas Sutrisno. Aqu menyengaja memeperlihatkan air muka Neng Sabri dimuka suaminya yang masih bugil itu (baik Mas Sutrisno atau Nia tidak diizinkan untuk menggunakan baju mereka saat itu). Aqu ketawa dalam hati menyaksikan kemaluan Mas Sutrisno yang menegang menyaksikan istrinya aqu kerjai. Tidak senang cuma mengolah Neng Sabri saat ini aqu panggil Nia supaya gabung. Saat ini Nia, istriku aqu meminta untuk tiduran telentang sementara diatasnya aqu meminta Neng Sabri dalam posisi merayap.

  • Diriku Dikuasai Nafsu

    Diriku Dikuasai Nafsu


    3279 views


    Aku adalah seorang pegawai sebuah perusahaan di Aceh. Aku sudah menikah sejak tahun 2014, dengan seorang wanita bernama Wulan. Adik iparku (adik kandung istriku) menikah dengan seorang wanita bernama Rini yang menjadi teman selingkuh ku untuk beberapa waktu.

    Sedikit curhat, pernikahanku kali ini di ujung tanduk. Yah kalau diliat dari biografi singkat yang kuceritakan di atas, bisa diambil kesimpulan apa dan siapa penyebabnya. Yak, selingkuh dan aku pelakunya. Untungnya, teman selingkuhku yang ketahuan kali ini bukan istri adik iparku, melainkan “teman” dari aplikasi media sosial “KitaNgobrol”. Ruginya, ya banyak banget. Salah satunya adik iparku sontak memusuhiku, sekaligus istrinya terpaksa ikut perintah suaminya. Rini (Dalam suatu kesempatan, Rini bertemu dan langsung memohon agar hubungan kami jangan disebarluaskan. Aku pegang tangannya dan kupastikan bahwa aku bukan orang seperti itu. Sampai sekarang kami belum berkomunikasi lagi)

    Pertengkaran dengan istriku tidak bisa dielakkan. Aku hanya mampu menyembunyikan bahwa aku baru melakukannya sekali , dan memastikan itu hanya coba2 dan tidak akan pernah terulang lagi. Tapi yang namanya emosi kadang tidak bisa dikendalikan, istri mengamuk sejadinya dan membawa masalah ke ranah keluarga besar. Berabe.

    Akupun terpaksa pindah ke tempat kos karena istri muak liat wajahku. Dalam keadaaan terlunta2 mental dan tertekan seperti ini, aku pun berusaha mencari pelarian dengan menginap di kantor dan merepotkan pegawai lainnya dengan sesekali nginap di rumah mereka.

    Adalah rekan kerjaku sejak tahun 2016 kemarin, bernama Putri, seorang wanita kelahiran medan berdarah batak. Putri ini seorang alpha-woman-type, artinya keras kepala dan cenderung egois. Awal mula kehadirannya saja sudah langsung nyuruh2 orang lain jelasin peraturan/SOP ke dia, padahal jelas orang lain itu (aku) jauh lebih lama bekerja disini.

    Soal perawakan, Putri tidak didukung wajah yang menarik. 3-size-measurement? Minus malah di bagian depan. Parahnya, putri lebih senang untuk tidak memakai make-up bahkan dalam situasi formal sekalipun. Makanya di usia nya yang menginjak 30 tahun ini, aku paham kenapa pacarnya mutusin dia. Padahal kalau memakai make up, Putri dapat kelihatan lebih menarik.

    Kami sudah setim hampir 2 tahun lamanya. Baik profesional ataupun urusan personal sudah sering kami bahas. Makanya ketika dia tahu aku bertengkar dengan Wulan, dia langsung bertanya “Kau apain dia?” dengan gaya khas anak bataknya. Kalau sudah pake gaya begini, mendingan dijawab dengan serius atau langsung cabut, sebelum diajak debat yang ujungnya ngabisin energi.

    Akupun menerangkan secara garis besar apa masalahnya. Kata2 bodat pun keluar dari mulutnya ditujukan padaku. Aku hanya bisa tersenyum meringis, membayangkan bahwa rekan kerja ku pun bakal memusuhiku (aku mengerti kenapa, kan dia diputusin pacarnya . Jadi dimata dia, aku sama brengseknya dengan mantan co nya). Hari aku menceritakan kasusku, adalah hari dimana Putri sama sekali tidak memperdulikanku. Untungnya kerjaan kami sedang tidak banyak dan mampu kuhandle sendiri. Tapi aku bertekad baikan sama dia, karena urusan kantor memang tidak boleh bercampur dengan urusan pribadi. Sangat mempengaruhi output dan kinerja.

    Esoknya kubeli sebatang chunky bar dan sebungkus chitato besar. Berhubung meja kami sebelahan, gampang saja kutawarin dia makanan tersebut. Dengan pelototan dan jawaban ketus, dijawabnya tidak. Aku langsung ketawa2. Kuhimbau pada nya untuk tidak melarutkan masalahku ke profesionalisasi kami. Dia menatapku dan menjulurkan tangannya ke bungkus chitato. Yah, setidaknya rekan kerjaku tidak memusuhiku.

    Untuk meredakan bencinya, kubiarkan dia sepanjang pagi itu merepet dan memaki ku atas tindakan ku kepada Wulan. Tidak sekalipun kusanggah, tidak sekalipun kutepis. Suaranya sampai bergetar, air mata mulai memupuk di matanya. Aku hanya bisa bilang maaf berulang kali. Siangnya, suasana sudah mulai berubah karena dia mulai bertanya di mana aku tinggal.

    “sesekali di kantor” jawabku. “hah, tidur dimana kau?” tanya nya. “noh korsi2 itu kalo dijejer bisa buat tempat tidur. Yang penting punggungku nyandar aja”. Dia geleng2 kepala dan bilang aku gila. Padahal dia ga tau kalo tinggal di kantor dengan air bersih, listrik gratis, serta wifi dengan kuota gede itu menyenangkan <<< korupsi. Kami pun kembali fokus ke kerjaan masing2.

    Selepas istirahat, darah batak yang mengalir di tubuhnya kembali menghangat. Tapi tidak memanas, hanya interogasi kecil yang ingin dituntaskannya.

    Putri (P) : Kok bisa lah kau gituin dia rud?
    Aku (A) : bah, masih belum puas?
    P : bukan loh, ga abis pikir aku soalnya. Kalian (red:laki2) kek ga ada puas2nya. Ngebuang bunga demi sampah di jalan
    A : Ini mau digimanain lagi coba? Aku kan dah minta maaf juga. Penyesalan kan selalu datang telat, kalo di awal kan namanya pendaftaran.

    Berkat perkataan cuek ku, aku berhasil membuatnya tertawa. Mungkin, mungkin karena aku belum “menyentuh” wanita selama 3 minggu terakhir, tawa dan ekspresi Putri membuat nafsuku tidak stabil. Wanita rekan kerjaku selama ini yang kuliat biasa saja, bahkan cenderung tidak menarik perhatianku, membuat insting lelaki ku aktif. Tanpa sadar, aku memegang kedua tangannya yang bersila di paha nya. Kugenggam dan kutatap matanya sambil tersenyum.

    Putri kaget dan langsung menarik tangannya. Aku kembali mengeluarkan perkataan cuek “Lumayan megang tangan cewek” sebelum dia berkata apa2. Putri langsung merespon “segitu pengennya ya?”, yang langsung kujawab “udah hampir sebulan loh. Bosen pake tangan sendiri”. Putri langsung melotot tajam “Jadi kau kira aku tempat pelampiasan?” dengan nada meninggi. Akupun langsung berkilah “enggak loh put. Bukan pelampiasan, kau tempat aku mencurahkan rinduku” disertai senyum seringaiku, berharap ini tidak jadi pembantaian umum.

    Putri langsung menjawab “sama aja kampret” dan kembali menghadapi kerjaannya. Dalam artian lain, sebenarnya aku sudah di zona selamat karena berhasil mengalihkan pembicaraan kasus ku ke mesumku. Namun, sekarang otakku dipenuhi pikiran mesumku. Aku ingin bersetubuh. Tepatnya, aku ingin memasukkan alat kelaminku ke lubang kenikmatan Putri. Kupandangi tubuhnya terutama di bagian payudara. Sadar aku memperhatikan dirinya, Putri balas menatap tajam dan sedikit membentak “apa?”

    Pikiranku langsung cepat bereaksi. Putri adalah seorang alpha-type, dia ga akan segampang itu peduli, meskipun kepada rekan kerjanya sendiri. Pikiranku berlanjut, Putri sudah lama tidak pacaran. Ini berarti taruhan 50-50. Aku harus mencoba, batinku berkata.

    “Enggak. Aku cuma mau pijet2 badanmu aja” sergahku sambil mengarahkan kursi ku ke belakang nya dan sekaligus memegang bahu nya. Putri sedikit berteriak “apaan seh?” sambil menepis tanganku dari bahu nya. Langsung sigap kutangkap tangannya. Putri langsung melotot tajam sambil berkata “Rud, aku marah. Lepasin”.

    Taruhanku sepertinya salah. Tapi otakku masih dipenuhi pikiran mesum. Dengan sedikit tercekat, aku mengeluarkan kata2 “Put, tolong aku put” sembari tidak menghiraukan perintahnya untuk melepaskan tangannya. Putri menjawab tegas “ENGGAK. LEPASIN”. “Put, bantuin napa. Ga usah sampe “kesana” deh. Bantuin aku “keluar” aja. Janji (janji? lol)” kataku dengan penuh harap sambil tetap memegang tangannya.

    Putri terdiam sejenak. Disaat seperti ini, aku tidak membiarkannya berpikir. Aku langsung menyambung perkataanku “Iya ga sampe ngapa2in. Nanti aku bantuin juga kau deh” sambil menurunkan tangan kami berdua ke arah paha nya. Aku memanjangkan jari kelingkingku ke arah paha nya, sedikit membelai, berharap semoga rangsangan ini sampai. Putri tidak berkata apa2. Putri diam, seperti terpasrah. Aku celingak- celinguk liat keadaan, dan langsung menghambur ke depan memeluk putri seraya berkata “Makasih ya put”. Aroma rambutnya menelusuk hidung, bercampur dengan nafsu yang ingin segera kutuntaskan. Putri berbisik “jangan disini. dimana?”. Akupun berdiri, memberinya kode untuk mengikutiku ke ruang kesehatan.

    Ruang kesehatan kantor kami terletak di ujung lantai 2. Ruang ini sederhana, hanya ada tempat tidur rawat, meja dan kursi kerja dokter, kursi tunggu dan AC. Ruangan ini serba praktis, sering dipakai untuk tempat istirahat ataupun tempat kongkow. Dan seperti biasa, kunci ruangan ini selalu tertinggal di dalam. Mungkin memang ada pegawai atau pejabat lain yang memakai nya seperti yang akan kulakukan. Tapi itu bukan urusanku.

    Putri pun masuk. Aku langsung mengunci pintu dan mendekap dia dari belakang. Tangan kananku langsung menggerayangi payudaranya, sedang tangan kiriku membelai area wanita nya dari luar celana hitamnya. Kali ini putri tidak bisa terdiam. Suara lirihan kecil mulai terdengar di telinga kiriku. Putri langsung membalikkan badan dan menyambar mulutku dengan mulutnya. Bibir kami beradu, aku berusaha memasukkan lidahku ke mulutnya. Sedikit kuremas payudaranya barulah lidahku bertemu dengan lidahnya. Tangan kiriku bergerilya masuk kedalam celananya. Gila ya put, pikirku dalam hati. Kuyakin kau juga menginginkan hal ini. Kau juga merindukan diginiin. Buktinya dengan basahnya celana dalammu.

    Jari tengahku menerobos masuk ke liang vaginanya. Ciuman Putri mulai tak teratur dan terlepas. Desahan tertahan keluar dari mulutnya, yang memancing ku untuk meneruskan foreplay ini lebih lanjut. Tangan kananku bergerak melolosi kancing kemejanya, hingga Bh hitamnya terpampang dan tanganku bebas merabanya. Lidahku sekarang bergerak di leher kiri Putri, tangan kananku memilin dan meremas apa yang dapat di raihnya dibalik Bh hitam tersebut. Tangan kiriku tetap dinamis mengorek isi dalam lubang itu. Pikiranku dipenuhi dengan nafsu. Aku yakin putri sudah lupa dengan janji ku (janji yang mana? hahaha)

    Kudorong pelan Putri ke arah meja kerja dokter. Putri mengerti dan duduk diatas meja tersebut. Kutanggalkan celana Putri, kulepaskan celana dalamnya sehingga liang kenikmatan yang sudah basah itu terpampang di hadapanku. Putri terkangkang pasrah di hadapanku, hanya kemeja yang terbuka separuh dan Bh hitamnya yang melekat di badannya saat ini. Kumajukan kepalaku untuk melekatkan mulutku ke vagina Putri. Sepertinya Putri juga mengharapkan ini, terbukti dengan dijambaknya rambutku ketika cairan vaginanya mulai kuisapi. Desisan desisan nafsu ini semakin membangkitkan gairahku.

    Aku menurunkan celanaku. Kuhisap kembali lidah Putri sambil melepaskan Bh hitamnya. Kupilin putingnya dan aku berbisik di telinganya “Enak sayang?”. Putri menggigit pundakku sebagai jawaban. Kuciumi lehernya, kupermainkan puting payudaranya, kutekan2 klitorisnya. Sepertinya Putri akan membantu ku keluar kali ini. Tangannya menggenggam k0ntolku, naek turun, dan mulai mengarahkannya ke vaginanya….tanpa kuminta. Aku harus membantu Putri juga. Kudorong perlahan batangku, sekujur badanku dipenuhi kenikmatan duniawi itu. Kudorong terus sampai melekat kelamin kami. Kutatap mata Putri, kami kembali berciuman, dan Putri kembali menggigit pundakku.

    Kami saling menyangga dan mengkait ketika aku mulai menggerakkan batangku maju-mundur. Setiap hentakan yang kulakukan dibalas dengan baik oleh goyangan Putri. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi apabila kami ketahuan. Putri pun sepertinya sama. Bunyi meja berderit, desahanku, desahan Putri aku rasa dapat menjelaskan keadaan kami pada orang yang mungkin sedang tepat ada di luar ruangan. Aku tidak peduli. Putri sekarang terlentang di atas meja, kaki kiri nya kuangkat ke pundakku yang barusan digigitnya. Kupacu kembali tempo tadi. Putri semakin belingsatan. Tangan kiriku menekan klitorisnya. Gerakan putri semakin tidak karuan. Aku tetap memaju-mundurkan batangku di dalam lubang yang semakin basah tersebut.

    Kenikmatan ini ekstasi bagi kami. Putri sepertinya kelelahan setelah batangku dipijat vaginanya beberapa kali. Kedua kakinya kuangkat, kucium betis nya seraya kembali menghentakkan batangku. Aku hampir keluar. Kupercepat irama gerakan pinggulku sebisa yang aku mampu. Makin cepat dan tak terkendali, Putri sudah seperti kehabisan napas, deritan meja makin keras, aku mulai teriak, teriak kenikmatan yang kulepaskan seketika cairanku mengisi dalam lubang vagina itu. Aku goyangkan terus, meresapi sisa2 kenikmatan yang masih ada.

    Putri bangkit duduk dan merangkul leher ku, mencium ku, dan berkata “Enak sayang”. Aku pun tersenyum dan menjawab “Makasi ya sayang. Benar2 nikmat abang rasa” (padahal kami seumuran. Aku memakai kata abang ke dia biar mesra soalnya. hahaha). Aku langsung mengambil tisu dan mengelap baik kelaminku dan kelamin Putri. Putri sedikit merasa geli ketika kusentuhkan tisu itu ke vaginanya. “Padahal tadi niatnya cuma pake tangan. Aku malah mau pake mulut. Ujung2 nya ngentot juga kita ya” Ujarnya sambil tersenyum cemberut. Aku tertawa dan berkata “Lain kali di tempat tidur yok put. Mau?” . Putri hanya tersenyum mengangguk. Kami berdua bergegas memakai pakaian kami dan meninggalkan ruangan tempat pengalaman pertama kami, dengan disertai rasa was was dan teliti agar tidak ada bukti yang tertinggal. (Bersambung?)

  • Kisah Memek Aku tidak mau tapi menikmatinya

    Kisah Memek Aku tidak mau tapi menikmatinya


    3221 views


    Duniabola99.com – Pertemanan adalah suatu hal yang sangat penting dalam hidup seseorang dimana kita bisa saling berbagi dan saling menolong dalam kesulitan. Tapi arti pertemanan tidaklah seindah yang sering dibicarakan orang bagi Helena, saya sebut saja demikian namanya.


    Kisah nyata ini dipaparkan oleh responden yang bersangkutan dilengkapi dengan foto diri dan foto lainnya yang terjadi sebagai bukti penguat. Tapi karena etika yang harus saya pegang teguh, maka data-data pendukung tersebut tidak akan pernah saya ekspose untuk dan kepada siapapun. Menurut pengakuan Helena, kejadian berikut ini terjadi beberapa bulan yang lalu ketika liburan sekolah anaknya tiba..

    Sebagai keluarga dari kalangan atas, menghabiskan waktu liburan berbintang lima di Nusa Dua Bali bukanlah masalah bagi keluarga Helena. Selama beberapa hari Helena menghabiskan waktu liburan dengan suami dan dua orang anaknya disana. Setelah beberapa hari, suami Helena mengajaknya untuk ke Lombok. Tapi dengan alasan Helena merasa bosan dengan tempat itu, juga perjalanan dengan kapal fery yang yang cukup makan waktu, maka Helena menolak ajakan suaminya itu.

    Akhirnya suami dan kedua anaknya segera menuju Lombok tanpa Helena. Helena, 30 tahun, walau sudah punya anak dua orang tapi penampilan dan gayanya mirip dengan layaknya gadis kota masa kini. Wajah sangat cantik, putih, dan tubuh sintal selalu membuat lelaki manapun akan tertarik. Salah satu nilai lebih dari rumah tangga Helena adalah kebebasan yang diberikan suaminya kepada Helena untuk boleh bergaul atau jalan dengan siapa saja asal Helena selalu jujur kepada suaminya itu. Hal ini terjadi karena suaminya sangat tahu akan libido Helena yang sangat tinggi hingga suaminya agak kewalahan dalam melayani kebutuhan seksual Helena. Dan nilai lebih dari Helena adalah kejujuran kepada suaminya bila dia jalan dan main dengan pria lain.


    Pagi itu di restoran hotel, ketika Helena sedang makan pagi..

    “Hei..!”, terdengar suara diiringi dengan tepukan tangan di pundak Helena.
    “Hei, Ani.. Abiem.. Pak Randi..”, sahut Helena senang ketika melihat mereka bertiga.
    “Mana suamimu?”, tanya Ani.
    “Sedang ke Lombok dengan anak-anak”, jawab Helena.
    “Duduklah di sini, temani aku makan..”, kata Helena.

    Mereka pun segera duduk dan makan pagi bersama satu meja. Ani dan Abiem adalah teman bisnis suami Helena di Jakarta, sedangkan Randi adalah seorang dokter, duda, yang jadi dokter keluarga Helena. Randi dikenalkan kepada keluarga Helena oleh Ani dan Abiem dulunya.

    “Nanti malam kita turun yuk? Kita habiskan malam bersama di diskotik”, ajak Abiem kepada Helena.
    “Entahlah..”, kata Helena.
    “Loh kenapa? Ayolah Bu Helena, kita sekali-sekali bergembira bersama”, kata Randi ikut menyela sambil tersenyum menatap Helena.
    “Ikutlah, Helena.. Masa cuma aku seorang ceweknya..”, kata Ani.
    “Baiklah kalau begitu.. Aku ikut”, kata Helena sambil tersenyum.

    “Kamu tinggal di kamar berapa?”, tanya Abiem kepada Helena.
    “Aku di suite room..”, kata Helena sambil menyebutkan nomor kamarnya.
    “Ha? Kalau begitu kita bersebelahan dong..”, kata Ani sambil menyebutkan nomor kamar mereka.
    “Yee.. Kok aku tidak tahu, ya? Kapan kalian check in?”, tanya Helena.
    “Semalem. Tadinya kami mau tinggal di kamar lain, tapi karena sudah penuh, akhirnya kami ditunjukkan kamar yang masih pada kosong..”, kata Abiem.
    “Tau nggak kalau kamar kita terhubung oleh connecting door, Ni?”, kata Helena kepada Ani.
    “Iya? Berarti kita bisa kumpul-kumpul nih..”, kata Ani girang.
    “Oke deh, Helena.. Nanti malam kita pergi bareng ke Diskotik, ya?’, ujar Abiem.
    “Aku bawa minuman enak dari Perancis nanti..”, kata Abiem lagi.
    “Baiklah. Kalian pada mau kemana?”, tanya Helena.
    “Kami ada keperluan dulu. Bye..”, kata Ani sambil bangkit diikuti Abiem dan Andi, lalu mereka pergi.


    Malamnya, dengan memakai T-shirt ketat plus rok katun sangat mini sehingga paha mulusnya tampak dengan indah, Helena berangkat dengan mereka ke diskotik.

    “Kita minum dulu deh agar hangat”, kata Abiem sambil menuang minuman bawaannya ke dalam gelas dan disodorkan kepada Helena.
    “Okay.. Siapa takut..”, kata Helena sambil meneguk minumannya.
    “Hm.. Enak.. Manis.. Give me more, please.”, kata Helena kepada Abiem. Abiempun segera menuang lagi minuman ke gelas Helena yang sudah kosong.
    “Jangan terlalu banyak, Helena.. Nanti kamu jadi hot, loh..”, kata Ani sambil tertawa. Mereka tertawa-tawa sambil menikmati minuman berakohol diiringi lagu yang diputar DJ.
    “Turun, yuk..”, ajak Randi kepada Helena.
    “Ayo..”, kata Helena sambil bangkit.

    Perasaannya sudah mulai terpengaruh alkohol. Akhirnya Ani dan Abiem serta Helena dan Randi melantai mengikuti hentakan irama yang cepat. Sampai akhirnya ketika lagu berganti ke irama slow, Helena dan Randi saling berangkulan dan berdansa mengikuti alunan irama lagu.

    “Mmhh..”, Helena mendesah hampir tak tedengar ketika dadanya bersentuhan dengan dada Randi.

    Entah karena pengaruh alkohol atau memang karena libido Helena yang tinggi, puting susu Helena mengeras dan makin mengeras ketika dadanya bersentuhan dengan badan Randi. Gairah Helena bangkit karenanya. Tapi Helena masih bisa menahan dirinya. Mereka terus menikmati waktu yang ada sambil meneguk minuman hingga wajah mereka memerah. Helena benar-benar menikmati malam itu selagi bisa bebas dari beban pekerjaan dan anak-anaknya. Sampai ketika waktu menunjukkan jam 1.00 pagi mereka segera pulang ke hotel.

    “Kita ngobrol di kamar saja, yuk?”, kata Abiem.
    “Okay.. Nanti aku buka connecting door-nya”, kata Helena sambil berlalu menuju kamarnya.

    Sementara Ani, Abiem dan Randi masih duduk-duduk di lobby. Sesampai di kamar, Helena segera membuka connecting door-nya, lalu dia ketuk pintu sebelahnya. Tidak ada jawaban.


    “Ah, masih pada di bawah barangkali..”, pikir Helena sambil merebahkan badannya di ranjang.

    Hampir setengah jam menunggu, ternyata mereka tidak datang juga. Akhirnya helena memutuskan untuk berendam air hangat dan mandi selama beberapa menit.

    “Hei.. Sorry kami kelamaan..”, suara Ani yang tiba-tiba masuk kamar mandi mengagetkan Helena yang baru saja memakai kimono.
    “Abiem dan Randi di ruang tengah..”, kata Ani lagi sambil agak sempoyongan.
    “Kamar kamu enak juga ada ruang tamunya.. Kita bisa ngobrol disini..”, kata Ani lagi.
    “Shit!! Ngapain kumpul di kamar aku?”, bisik hati Helena.
    “Hei perempuan! Cepatlah kemari.. Kita habiskan sisa minuman tadi”, terdengar suara Abiem memanggil. Akhirnya mereka berempat lagi-lagi meneguk bergelas alkohol yang dibawa Abiem.
    “Ohh.. Gawat! Kenapa aku jadi pengen..”, hati Helena berbisik ketika pengaruh alkohol mulai menjalar di tubuhnya.

    Terasa oleh Helena buah dada serta puting susunya mulai mengeras lagi, sementara memeknya terasa berdenyut basah menahan gairah..

    “Aku akan hirup udara segar dulu..”, kata Helena sambil bangkit agak terhuyung menuju teras. Dihirupnya udara malam dalam-dalam untuk mengurangi sesuatu di dalam tubuhnya yang mulai menggoda imannya.
    “Ohh..”, tiba-tiba terdengar suara Abiem mendesah keras dari dalam. Helena segera melongokan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.
    “Oh my God!”, batin Helena ketika melihat apa yang terjadi. Gairah dan denyutan memeknya semakin terasa menggoda.

    Di depan matanya, Helena melihat bagaimana Ani berciuman dengan suaminya di kursi sambil tangannya mengocok kontol Abiem yang sudah tegak. Celana Abiem hanya di buka dan diperosotkan sebatas pahanya saja.


    “Ohh.. Cepat hisap kontol aku, bitch!”, kata Abiem kepada Ani. Dengan serta merta Ani menurunkan kepalanya, lalu dengan segera kontol Abiem sudah dilahapnya sambil tetap dikocok pelan.
    “Ooh..”, desah Abiem ketika lidah Ani menjilati kepala kontolnya sambil batangnya tetap dikocok tangan Ani.
    “Apa yang harus aku lakukan?”, batin Helena ketika melihat kontol Abiem yang basah di jilat dan dihisap mulut Ani.

    Gairahnya semakin memuncak. Dengan mata agak nanar terus dilihatnya Ani dan Abiem. Antara sadar dan tidak, tak terasa oleh Helena ketika Randi menempelkan tubuhnya dari belakang. Tangan Randi menyusuri kaki Helena dari betis sampai paha lalu naik ke pantat Helena yang belum sempai memakai pakaian dalam sejak selesai mandi tadi..

    “Hei! Pak Randi ngapain?!”, kata Helena kaget sambil menepis tangan Randi dari pantatnya.
    “Kita sama-sama tahu sama-sama mau kan..”, kata Randi sambil mendekati Helena.

    Helena segera menghindar dan berlari menuju kamarnya melewati Ani dan Abiem yang sedang asyik melakukan oral seks. Ani dan Abiem sampai kaget dan menghentikan cumbuan mereka ketika melihat Helena melintas. Di dalam kamarnya Helena masih bingung dan teringat akan oral seks Ani dan Abeim serta perlakuan Randi kepadanya. Sebetulnya gairah Helena sudah sangat memuncak saat itu, tapi entah kenapa masih ada rasa ragu di hatinya.

    “Ada apa, Helena?”, tiba-tiba Ani masuk kamar dan menghampiri Helena yang masih berdiri.
    “Entahlah, An.. Aku.. Aku aku tak tahu..”, kata Helena sambil melepas kimono lalu segera memakai celana dalamnya.

    Tapi ketika Helena akan memakai memakai Bra, tiba-tiba Ani memeluknya dari belakang hingga Helena tidak jadi memakai Bra tersebut.

    “Ayolah Helena, kita nikmati malam ini..”, bisik Ani ke telinga Helena.
    “Mmhh..”, desah Helena ketika tangan Ani mengusap seluruh badannya. Usapan dan belaian tangan Ani kembali mengobarkan gairah Helena yang sempat surut.
    “Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini?”, bisik Ani lagi sambil tangannya meremas kedua buah dada Helena dari belakang.
    “Ohh..”, desah Helena sambil terpejam menikmati sensasi jari tangan Ani ketika memainkan dan memelintir puting susunya.
    “Mmhh.. Ohh..”, desah Helena makin keras ketika lidah dan bibir Ani menyusuri telinga, tengkuk dan lehernya sembari tangannya tetap meremas dan memainkan puting susu Helena.
    “Nikmati saja malam ini..”, bisik Ani sambil membalikan badan Helena dan merebahkannya di ranjang.
    “Oww..”, jerit lirih Helena ketika lidah dan bibir Ani menciumi dan menjilati buah dada serta puting susunya.
    “Aniihh.. Oohhsshh..”, jerit Helena makin keras ketika jari Ani masuk ke celana dalam dan menggosok memeknya.


    Tubuh Helena menggeliat terbawa rasa nikmat dan terlepasnya himpitan gairah yang tertahan sebelumnya.

    “Kamu menyukai ini?”, bisik Ani sambil lidah dan mulutnya turun menyusuri perut sementara tangannya melepas celana dalan yang dipakai Helena.
    “Ohh.. Anniihh..”, jerit Helena ketika ada rasa nikmat yang menjalar ketika lidah Ani dengan liar menyusuri belahan memeknya.
    “Ohh Ani.. Enakkhh”, desah Helena waktu lidah Ani menjilati kelentit dan sesekali mengulumnya.
    “Anniihh.. Akku.. Keluarrhh..!”, jerit Helena sambil menggelinjang dan mendesakan kepala Ani ke memeknya ketika ada semburan hangat terasa di memeknya yang disertai rasa nikmat yang luar biasa.

    Ani tersenyum sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir Helena.

    “Aku baru kali ini merasakan bercumbu dengan wanita.. Ternyata memuaskan..”, bisik Helena sambil sesekali mengecup bibir Ani. Ketika Helena dan Ani saling lumat bibir, terasa oleh Helena ada tangan yang menjamah, membelai dan meremas pelan buah dadanya.
    “Sayang, kamu layani si Randi..”, Abiem menyuruh dan menarik tubuh Ani dari atas tubuh Helena.
    “Kamu menyukai permainan istriku, Helena?”, kata Abiem yang sudah telanjang bulat sambil menindih tubuh Helena serta mulai menciumi leher lalu turun ke buah dada Helena.
    “Jangaann!! “, teriak Helena sambil meronta menjauhkan wajah Abiem dari buah dadanya. Tapi Abiem dengan cepat memegang kedua tangan Helena, lalu lidah dan mulutnya kembali meneruskan menjilati buah dada dan puting susu Helena.

    “Ohh.. Jangaannhh.. Janghh.. Jangannhh..”, rintih Helena diantara rasa malu, rasa terhina, serta rasa nikmat ketika lidah Abiem bisa memberikan rasa itu. Apalagi ketika kontol Abiem yang tegang dan tegak mengesek-gesek memeknya yang sudah basah. Bahkan ketika lidah Abiem turun ke perut, turun lagi hingga mencapai memeknya, Helena kembali menggelepar dalam kenikmatan walau hatinya menolak diperlakukan demikian.
    “Jangannhh, Biem..!”, jerit lirih Helena ketika Abiem mulai mengarahkan kontol ke lubang memeknya. Ani-pun yang sedang asyik disetubuhi Randi, sempat menghentikan persetubuhannya lalu bangkit dan mencoba memegang kontol Abiem agar tidak menyetubuhi Helena.

    “Sudah! Kamu nikmati saja kontol si Randi sana!”, kata Abiem aga keras sambil mendorong tubuh Ani.
    “Sudahlah, Ani.. Sini!”, kata Randi sambil menarik dan merebahkan tubuh Ani di karpet lalu kembali menyetubuhi istri temannya itu.
    “Ohh..!”, terdengar desah Helena ketika kontol Abiem masuk ke memeknya lalu dengan kasar dan cepat Abiem menggenjotnya.


    “Jangan, Biemm.. Lepaskan aku!”, jerit lirih Helena di sela rasa sakit dan nikmat ketika kontol Abiem keluar masuk memeknya.
    “Fuck you, bitch!”, kata Abiem sambil mengangkat satu kaki Helena dan di tahan oleh pundaknya.
    “Ohh.. Memekmu nikmat, Helena..”, kata Abiem sambil memompa kontolnya lebih dalam dengan posisi demikian.
    “Ohh.. Mmhh..”, desah Helena sambil terpejam. Rasa sakit yang ada kini berganti rasa nikmat yang luar biasa.
    “Bagaimana rasanya, sayang..”, terdengar suara Ani di samping Helena ketika Ani mengganti posisi dengan doggy style di atas ranjang.
    “Kamu nikmati saja malam ini, Helena.. Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini..”, Randi menyela sambil mengenjot memek Ani dalam posisi menungging.
    “Mmhh.. Sshh.. Ohh”, Helena hanya menjawab dengan desahan pertanda sedang menikmati suatu kenikmatan ketika Abiem dengan ganas mengeluarmasukkan kontol ke memeknya.

    “Ooww.. Ohh..!”, terdengar suara Helena menjerit sambil memegang tangan Abiem dengan kencang. Sementara tubuhnya menggeliat serta mendesakkan memeknya ke kontol Abiem dan menggoyangnya dengan cepat.
    “Serr! Serr! Serr!”, kembali memek Helena mengeluarkan air mani yang menyembur hangat di dalam memeknya.
    “Ohh.. Fuck you! Fuck you!”, kata Abiem sambil menggenjot kontolnya makin cepat dan makin cepat.
    “Crott! Croott! Crott!”, air mani Abiem menyembur banyak di dalam memek Helena.
    “Oohh..!!”, desah Abiem sambil merebahkan tubuhnya menindih tubuh Helena.

    Helena hanya bisa memejamkan mata setelahnya. Rasa lelah serta pengaruh alkohol yang masih ada membuatnya tak mempedulikan lagi keadaan disekelilingnya. Yang sempat terdengar oleh telinga Helena adalah teriakan kenikmatan yang keluar dari mulut Ani dan Randi yang sedang asyik bersetubuh di depan suami Ani sendiri. Mata Helena sedikit demi sedikit makin berat. Hanya rasa nyaman dan sisa-sisa kenikmatan di memek Helena yang membuat memeknya berdenyut-denyut hingga Helena tertidur..


    Helena tertidur sampai siang hari dalam kedaan telanjang bulat. Tubuhnya tertidur hanya diselimuti oleh bed cover. Tak terdengar olehnya ketukan pintu oleh cleaning service. Sehingga ketika cleaning service membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa, dia begitu terkejut melihat tubuh molek tergolek di ranjang.

    “Eh.., maaf, Bu.. Saya kira tidak ada siap-siapa di dalam”, kata petugas kebersihan tersebut.
    “Tidak apa-apa.. Kembali lagi saja dan bereskan kamar saya nanti agak siang..”, kata Helena sambil menyelimuti tubuhnya lebih rapat.

    Setelah petugas itu keluar, Helena hanya bisa merenungi apa yang terjadi semalam. Helena sendiri merasa heran, dirinya tidak mau dipaksa, diperkosa, entah apapun namanya, tapi yang jelas dirinya begitu menikmati perlakuan orang lain yang begitu kasar pada dirinya pada akhirnya..

    Helena memang sangat suka berpetualang seks dari sebelum menikah sampai sekarang, tapi belum pernah merasakan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan semalam.. Ingin rasa hati Helena menceritakan hal ini kepada suaminya, tapi pertentangan batin terjadi dalam hatinya karena hal ini menyangkut kepada teman-teman baik suaminya. Bahkan terbersit keinginan Helena untuk kembali ingin mendapatkan sensasi kenikmatan dengan menjadi objek pemaksaan seksual..

  • Kisah Memek Semoknya Body Tante Marry

    Kisah Memek Semoknya Body Tante Marry


    2647 views

    Duniabola99.com – Sejak kecil aku tinggal bersama nenekku, dan bersama nenekku tinggal om-om dan tante-tanteku (anak-anak dari nenekku). Omku yang ketiga menikah dengan seorang wanita yang bernama Merry yang kupanggil dengan sebutan Tante Merry. Tante Merry orangnya cantik, wajah dan tubuhnya cukup sexy dan orangnya mudah bergaul, terutama denganku.


    Oh ya, namaku adalah Dharma, masih sekolah di SMA waktu itu. Semula omku tersebut tinggal bersama kami, dan aku yang saat itu sedang menikmati masa remaja kira-kira umur 16 tahun sering melihat Tante Merry sedang bercumbu dengan suaminya, dan kadang-kadang di depanku Tante Merry mengusap penis omku, sebut saja Om Chandra. Batang kemaluanku yang saat itu sedang remaja-remajanya langsung menjadi tegang, dan setelah itu aku melakukan onani membayangkan sedang bersetubuh dengan Tante Merry.

    Setelah mereka menikah 1 tahun, akhirnya mereka pindah dari tempat nenek kami dan membeli rumah sendiri yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah nenek kami. Kalau Tante Merry hendak pergi, biasanya dia memanggilku untuk menjaga rumahnya, takut ada maling. Suatu hari aku dipanggil oleh Tante Merry untuk menjaga rumahnya.

    Ketika aku datang, dia sedang ada di kamar dan memanggilku, “Dharma, masuk ke kamar..!” teriaknya.
    “Ya Tante..” jawabku.
    Ternyata di dalam kamar, tante sedang memakai BH dan celana dalam saja, aku disuruh mengaitkan tali BH-nya. Dengan tangan gemetaran aku mengaitkan BH-nya. Rupanya Tante Merry tahu aku gemetaran.
    Dia bertanya, “Kenapa Dharma gemetaran..?”
    “Enggak Tante,” jawabku.
    Tapi tante cepat tanggap, dipeluknya tubuhku dan diciumnya bibirku sambil berkata, “Dharma, Tante ada perlu mau pergi dulu, ini Tante kasih pendahuluan dulu, nanti kalau Tante pulang, Tante akan berikan yang lebih nikmat.”
    “Ya Tante.” jawabku.

    Kepalaku terasa pusing, baru pertama kali aku menyentuh bibir seorang wanita, apalagi wanita cantik seperti Tante Merry. Lalu aku ke kamar mandi melakukan onani sambil membayangkan tubuh Tante Merry.

    Kira-kita jam 3 sore, tante pulang dan aku menyambutnya dengan penuh harap. Tante Merry langsung masuk kamar, sedangkan aku menunggu di ruang tamu, kira-kira 10 menit kemudian, dia memanggil pembantunya untuk disuruh ke supermarket untuk membeli sesuatu, jadi tinggallah di rumah aku dan Tante Merry saja.

    Setelah pembantunya pergi, Tante Merry menutup pintu dan menggandengku untuk masuk ke kamarnya.
    Lalu Tante Merry berkata, “Dharma, seperti yang kujanjikan, aku akan meneruskan pendahuluan tadi.”
    Aku diam saja, gemetar menahan nafsu.
    Tiba-tiba Tante Merry mencium bibirku, dan berkata, “Balaslah Dharma, hisap bibirku..!”
    Aku menghisapnya, dan terasa bibirnya sangat enak dan bau tubuhnya wangi, karena dia memakai parfum Avon yang merangsang, aku menjadi salah tingkah.


    Tiba-tiba dia memegang batang kemaluanku, aku sangat kaget.
    “Wah punyamu sudah tegang dan besar Dharma,” sahut Tante Merry.
    Lalu Tante Merry berkata lagi, “Apakah kamu pernah berhubungan sex dengan wanita?”
    Aku menjawab sambil gemetar, “Jangankan berhubungan sex, mencium wanita saja baru kali ini.”
    Tante Merry tersenyum dan berkata, “Hari ini Tante akan ajarkan cara berhubungan sex dengan seorang wanita.”
    Lalu Tante Merry membuka bajunya sehingga telanjang bulat, lalu dipegangnya tanganku dan dibawanya ke buah dadanya yang cukup besar. Solaire99

    Sambil gemetaran aku memegang buah dadanya dan memegang putingnya.
    Tante Merry mendesis merasakan kenikmatan usapanku dan berkata, “Terus Dharma.., terus..!”
    Lalu dengan memberanikan diri aku mencium putingnya, dan Tante Merry bertambah mendesis. Dibukanya celana pendekku dan CD-ku, sehingga aku juga menjadi telanjang bulat sepertinya. Penisku dielus-elusnya sambil berkata, “Dharma, punyamu besar amat, lebih besar dari punya Om Chandra.”

    Setelah puas menghisap puting buah dada tante, aku mencium pusarnya, dan akhirnya sampai di vaginanya.
    “Ayo Dharma, cepat hisap punyaku..!”
    Aku memberanikan diri mencium kemaluannya dan menjilat-jilat dalamnya, sedangkan tante tambah mendesis.
    Tante berkata, “Sabar Dharma, Tante kepingin mencium punya Dharma dulu.”
    Lalu dia membaringkanku di tempat tidur dan mulai mencium biji kemaluanku dan menghisap penisku perlahan-lahan. Serasa dunia ini melayang, alangkah nikmatnya, baru pertama kali batang kemaluanku dihisap oleh seorang wanita cantik, apalagi oleh Tante Merry yang sangat cantik.

    Penisku semakin membesar, dan rasanya seperti mau kencing, tetapi rasanya sangat nikmat, ada yang mau keluar dari kemaluanku.
    Aku menjerit, “Tante, Tante.., lepas dulu, aku mau kencing dulu.”
    Tetapi rupanya tante sudah tahu apa yang mau keluar dari kemaluanku, malah dia semakin kuat menghisap penisku. Akhirnya meletuslah dan keluarlah air maniku, dengan mesranya Tante Merry menghisap air maniku dan menjilat-jilat penisku sampai bersih air maniku.


    Batang kemaluanku terkulai lemah, tetapi nafsuku masih terasa di kepalaku.
    Lalu tante berkata, “Tenang Dharma, ini baru tahap awal, istirahat dahulu.”
    Aku diberi minum coca-cola, setelah itu kami berciuman kembali sambil tiduran. Tanpa kusadari kemaluanku sudah membesar lagi dan kembali aku menghisap buah dadanya.
    “Tante.., aku sayang Tante.”
    Lalu tante berkata, “Ya Dharma, Tante juga sayang Dharma.”
    Lalu aku menjilat vagina tante sampai ke dalam-dalamnya dan tante menjerit kemanjaan.
    “Ayo Dharma.., kita mulai pelajaran sex-nya..!”
    Penisku yang sudah tegang dimasukkan ke dalam liang kemaluan Tante Merry yang sudah licin karena air vaginanya.

    Perlahan-lahan batang kemaluanku amblas ke dalam lubang kemaluan tante, dan tante mulai menggoyang-goyangkan pantatnya. Aduh terasa nikmatnya, dan kembali kami berciuman dengan mesranya.
    Lalu aku berkata kepada Tante Merry, “Tante.., kalau tahu begini nikmatnya kenapa enggak dulu-dulu Tante ajak Dharma bersetubuh dengan Tante..?”
    Tante hanya tersenyum manis. Terasa penisku semakin mengembang di dalam vagina Tante Merry, tante semakin mendesis.
    Tante mengoyang-goyangkan pantatnya sambil berkata, “Dharma.., Tante kepengen keluar nih..!”
    Kujawab, “Keluarin saja Tante, biar Tante merasa nikmat..!”

    Tidak lama kemudian tante menjerit histeris karena orgasme dan mengeluarkan air kemaluannya, penisku masih tegang rasanya.
    Dengan lembut aku mencium tante dan berkata, “Tante sabar ya, Dharma masih enak nih..,”
    Kemudian aku semakin memperkuat tekanan batangku ke liang tante, sehingga tidak lama setelah itu aku memuncratkan air maniku di dalam vagina Tante Merry bersamaan dengan keluarnya cairan tante untuk kedua kalinya. Terasa tubuh ini menjadi lemas, kami tetap berpelukan dan berciuman. Setelah istirahat sebentar, kami mandi bersama saling menyabuni tubuh kami masing-masing, dan kami berjani untuk melakukannya lagi dilain waktu.


    Setelah peristiwa itu, setiap malam aku selalu terkenang akan vagina Tante Merry, sehingga rasanya aku ingin tidur bersama Tante Merry, tetapi bagaimana dengan Om Chandra. Rupanya nasib baik masih menemaniku, tiba-tiba saja Om Chandra dipindahkan tugasnya ke Bandung, dan untuk sementara Tante Merry tidak dapat ikut karena Om Chandra tidurnya di mess. Sambil mencari kontrakan rumah, Tante Merry tinggal di Jakarta, tetapi setiap Sabtu malam Om Chandra pulang ke Jakarta.

    Atas permintaan Tante Merry, setiap malam aku menemaninya, aku harus sudah ada di rumah Tante Merry jam 8 malam. Untuk tidur malam, aku disiapkan sebuah kamar kosong, tapi untuk kamuflase saja, sebab setelah pembantunya tidur aku pindah ke kamar Tante Merry. Tentunya Tante Merry sudah siap menyambutku dengan pelukan mesranya, dan kami bercumbu sepanjang malam dengan nikmatnya dan mesranya. Kalau waktu pertama kali aku hanya menghisap kemaluannya, sekarang kami sudah saling menghisap atau gaya 69. Lubang kemaluan Tante Merry sudah puas kuciumi, bahkan sekarang bukan saja lubang vagina, tetapi juga lubang anus, rasanya nikmat menghisapi lubang-lubang tante. Penisku juga dihisap tante dengan ketatnya dan terasa ngilu ketika lubang kencingku dihisap Tante Merry, tapi nikmat.

    Setelah kami saling menghisap, akhirnya barulah kami saling memasukkan kemaluan kami, dan kali ini tante berada di atasku. Batang kemaluanku yang sudah tegang dan berdiri tegak dimasukkan ke kemaluan tante, aduh nikmatnya. Lalu aku menghisap buah dada tante sambil menggoyang-goyangkan pantatku. Kira-kira sepuluh menit, tante mengeluarkan air maninya sambil menjerit nikmat, namun aku belum mengeluarkan air maniku. Lalu aku bertukar posisi, sekarang tante di bawah, aku yang di atas. Karena tante sudah keluar, terasa mudah memasukkan kemaluanku ke dalam vagina tante, dan kembali kami berpacu dalam nafsu.


    Sambil mencium bibir Tante Merry, aku berkata, “Tante… Tante.., kenapa sih lubang Tante enak banget, punyaku terasa dijepit-jepit lubang Tante yang lembut.”
    Sambil tersenyum tante menjawab, “Dharma.., batang kamu juga enak, kalau dengan Om Chandra Tante hanya bisa orgasme sekali, tetapi dengan kamu bisa berkali-kali.”
    Kembali aku menekan batang penisku erat-erat ke liang kemaluan tante sambil mengoyang-goyangkan pantatku, dan akhirnya aku menjerit, “Tante.., Tante.., aku keluar..!”
    Alangkah nikmat rasanya.

    Perlahan-lahan aku mengeluarkan batang kemaluanku dari liang senggama tante. Setelah itu kembali kami berciuman dan tidur sambil berpelukan sampai pagi. Ketika bagun pagi-pagi aku kaget, karena aku tahu di sampingku ada Tante Merry yang tidak memakai apa-apa, nafsuku timbul kembali. Kubangunkan Tante Merry dan kembali kami bersetubuh dengan nikmatnya, dan akhirnya kami mandi bersama-sama.

    Selama hampir 1 bulan lamanya kami seperti sepasang suami istri yang sedang berbulan madu, kecuali hari Sabtu dan Minggu dimana Om Chandra pulang. Pengalaman ini tidak akan terlupakan seumur hidupku, walaupun sekarang aku sudah beristri dan mempunyai 2 orang anak. Kadang-kadang Tante Merry masih mengajak aku bersetubuh di hotel. Tetapi sejak aku beristri, perhatianku kepadanya agak berkurang, lagipula usia Tante Merry sudah bertambah tua.

  • 1-Ruka Kanae Kirari 77 rental girl

    1-Ruka Kanae Kirari 77 rental girl


    2488 views

  • Foto Ngentot Aksi hardcore gonzo dengan rambut coklat luar biasa Stella Cox

    Foto Ngentot Aksi hardcore gonzo dengan rambut coklat luar biasa Stella Cox


    4186 views

    Duniabola99.com – foto gadis cantik pirang toketnya gede ngentot dengan pacarnya yang berkontol besar ngentot dikamarnya melakukan penetrasi kememeknya yang sempit danjuga pantantnya yang masih perawan hingga merasakan kesakitan dan kenikmatan berakhir dengan menumpahkan air mani diatas toketnya yang gede.Beberapa foto dari Stella Cox.

  • Foto Ngentot Cewek pirang, Lyra Law bercinta dengan stocking funky

    Foto Ngentot Cewek pirang, Lyra Law bercinta dengan stocking funky


    2518 views

    Duniabola99.com – foto cewek toekt gede pantat bahenol yang sangat merangsang Lyra Law pirang ngentot anal dengan pria muda berkontol besar diatas sofa putih dan menembakkan semua sperma kepantatnya.

  • Saya Tachibana catwalk poison 102

    Saya Tachibana catwalk poison 102


    2061 views

  • Foto Bugil  Pirang remaja Foxy perlahan mengungkap lekuknya yang seksi

    Foto Bugil Pirang remaja Foxy perlahan mengungkap lekuknya yang seksi


    2003 views

    Duniabola99.com – foto cewek pirang melepaskan semua pakaiannya diatas temapt tidurnya menampakkan memeknya yang tembem jembul dicukur rapi dan tipis-tipis dan juga menampilakan toketnya yang gede.

  • Video Bokep Eropa tante pirang minta tumpangan dan dientot dimobil

    Video Bokep Eropa tante pirang minta tumpangan dan dientot dimobil


    3041 views

  • Video Bokep Eropa cewek cantik diantar ke tempat sepi ngentot dalam mobil

    Video Bokep Eropa cewek cantik diantar ke tempat sepi ngentot dalam mobil


    2694 views

  • Cerita Sex Thalia

    Cerita Sex Thalia


    15705 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Thalia ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Cerita SexPerpisahan sekolah sudah semakin dekat, aku dan teman teman berencana berlibur di pantai pangandaran, kami sudah menyewa penginapan yang mana dekat dengan bibir pantai kami semua berpasangan dengan pacarnya, kita sangat senang dan keliling bersama sama saat malam hari yang mempunyai pacar jalan jalan menyusuri suara ombak di pantai.

    Terlalu asyik ada sebagian mereka untuk kembali ke penginapan dan ada juga yang bercinta dengan pasangannya masing masing, pada malam ke dua teman temanku melanjutkan dengan mengelilingi di sekitar pantai, singkat cerita tinggallah aku dan Thalia di penginapan, aku tanya dia “kenapa kamu tidak ikut keluar”

    Thalia menjawab “Kepalaku lagi pusing nih jadi agak malas untuk keluar. Karena aku sebagai teman kasihan melihat keadaan Thalia seperti itu jadi aku temenin dia di kamarnya, malam itu aku menonton tv kira kira pukul 7 malam karena Thalia gerah dia izin mau mandi , aku sih cuek saja mendengar perkataan itu aku masih asikk nonton tv nya.

    Setelah 10 menitan Thalia memanggil aku unutk mengambilkan handuknya karena lupa tidak terbawa saat masuk ke kamar mandi, ya udah aku bantu dia katanya suruh bawa masuk handuknya dan tiak terkunci pintu kamar mandinya aku sedikit kaget mendengar perkataan tersebut, lalu aku masuk dengan mata sedikit tertutp takutnya entar dikira ngintip atau gimana.

    Aku sungguh gugup dan hatiku berdebar dengan perlahan lahan tanganku yang kanan memberikan handuk kepada Thalia tangan kiriku menutup mataku,

    “Ini handuknya Thalia taruh mana”kataku

    “bawa sini soalnya tangaku tidak nyampe saya lagi di shower masuk saja gak apa apa kok “ kata Thalia , mendengar perkataan itu aku langsung masuk saja.
    “saya taruh sini ya handuknya di tempat wastafel , karena jaraknya wastafel dan shower hanya tertutup oleh tirai tipis jadi seakan akan siluet tubuh Thalia terkihat jelas, sungguh kagetnya lagi saat meletakkan handuk tangan Thalia langsung menyentuh tanganku kemudian dia kelaur dari tirai tipisnya terlihat tubuh telanjang Thalia masih basah total.

     

    Aku terpesona dengan payu daranya yang besar dan indah itu, kulitnya yang putih dan mulus tiba tiba penisku langsung tegang dan keras pemandangan indah pokoknya, tak lama kemudian tangan Thalia memegang tanganku menyuruh untuk memegang buah dadanya dan merasakan detak jantungnya.

    Dia berkata “ooh, Wolf. Saya sudah tidak tahan lagi.

    Usaplah payudaraku ini dan kita main yuk!”. Slot Online

    Sebagai cowok normal, saya pasti ereksi. Lalu pelan-pelan tangan kananku memeras payudaranya yang kanan.

    “Yaa, itu Wolf. Nikmat sekali.

    Teruskan Wolf!”. Sewaktu tanganku meremas pelan payudaranya, Tangan Thalia dengan ringan membuka kancing-kancing bajuku.

    Setelah kancing bajuku terlepas semua, Bibirnya yang ranum dan merah merekah itu pelan-pelan mencium dan menjilati dadaku.

    Lidahnya yang panjang itu terasa nikmat sekali di dadaku. Lalu dia kubalas dengan tangan kananku yang kuarahkan ke pantatnya yang besar dan bersih dan tangan kiriku memeluknya yang diteruskan dengan ciuman saya yang hot di bibirnya itu.

    Dia mengerang dan menikmatinya, beberapa detik kemudian tangannya membuka retseleting celanaku dan kemudian memelorotinya. Begitu celana dalamku dibuka, penisku yang sudah ereksi dari tadi langsung meloncat keluar.

    Melihat penisku yang sudah membesar dan memanjang, dia langsung membungkukkan badannya dan mulutnya itu dengan pelan mengulum penisku.

    Terasa nikmat sekali “Aah.., Thalia.., enak.., terusin!”. Lidahnya itu dengan leluasa menjilati permukaan penisku dan puncaknya, lidahnya diarahkan ke pucuk penisku.

    Setelah berselang beberapa detik, giginya itu langsung menggigit penisku dan langsung mengocoknya. Setelah setengah jam kita melakukan foreplay di kamar mandi, ternyata dia masih belum puas juga.

    “Wolf, yuk kita lanjutin di tempat tidur! saya pengin lebih hot lagi”.

    Dengan perlahan, saya angkat dia dalam keadaan sama-sama telanjang bulat. Setelah sampai di pinggir tempat tidur, perlahan-lahan saya taruh badannya di atas tempat tidur. Masih dalam keadaan membungkuk, saya ciumi bibirnya dan saya jilat payudaranya yang makin membesar itu.

    “Oyaa, terusin Wolf, terusin”, Mendengar omongannya saya jadi semakin buas menikmati tubuhnya. Saya rebahkan badannya menjadi dalam keadaan telentang, susunya yang membesar terlihat bagai Gunung Bromo yang menjulang tinggi.

    Payudaranya itu langsung saya serbu dengan jilatan lidahku. Setelah itu, mulutku diarahkan ke arah selangkangannya. Terlihat bulu vaginanya lebat bak hutan perawan yang masih belum terjamah.

    Cerita Sex Thalia Dengan asyik, tanganku mengobrak-abrik bulu vaginanya dan terlihatlah dinding daging tipis alias vaginanya. Langsung saya jilati vaginanya dengan buas dan Thalia langsung menjerit kenikmatan sambil mengerang dan berkata

    “Terusin Wolf, terusin”. Masukin lidahmu itu ke ‘dompet’ku”.

    Anehnya vaginanya yang rata-rata orang bilang vagina cewek itu biasanya kebanyakan bau tak sedap, tapi vagina Thalia terasa harum dan nikmat. Baunya yang justru harum itu membuat saya makin terangsang lagi untuk lebih lama menikmati vaginanya. 

    Sambil menciumi vaginanya, kedua tanganku juga meraba kedua belah payudaranya, Thalia hanya mengerang lagi dan memegang kedua tanganku dengan erat. Setelah setengah jam saya terus begitu, akhirnya Thalia minta posisinya diganti ke atas.

    Saya turuti dech, masa saya terus yang gerilya? Saya langsung pindah jadi di bawah dan Thalia di atas. Sebelum mulai aksinya, Thalia pertama-tama meremas sendiri kedua payudaranya dan mimik wajahnya itu yang membuatku tambah syuur.

    Sehabis meremas-remas sendiri kedua payudaranya, dia langsung memulai aksinya dengan mencium dan menjilati bibirku seraya tangannya meremas-remas dadaku yang agak bidang dan meraba-raba puting susuku.

    Bibirnya benar-benar fantastik, terasa nikmat dan pokoknya tidak bisa saya uraikan dengan kata-kata. Puas dengan menciumi dan menjilati bibirku, perhatiannya mengarah pelan-pelan ke bawah. Slot Online

    Pertama-tama dia menciumi dan menjilati leherku dan kadang-kadang menggigit leherku, serasa benar-benar nikmat.

    Sambil menikmati leherku, tangan kanannya berpindah posisi menjadi di penisku. Dengan enaknya dia mengocok penisku, ke atas.., ke bawah.., ke atas.. Dan seterusnya. Kocokannya benar-benar membuat mataku merem melek.

    Kemudian setelah menciumi, menjilati dan menggigit leherku, matanya tertuju ke dadaku. Lidahnya langsung menjilati puting susuku.

    Tapi dia cuma sebentar menjilati puting susuku, perhatiannya langsung tertuju ke penisku yang sudah besar dari tadi.

    Bibirnya langsung menjilat penisku, terasa nikmat sekali. Lidahnya itu yang membuatku puas sekali, dengan pelan-pelan lidahnya mnjilati penisku sambil tangannya yang kecil itu terus mengocoknya.

    “Aach Thalia.., Nikmat sekali Ohh”, Selang beberapa menit kemudian, sewaktu dia masih mengocok penisku.

    Terasa ada sesuatu yang hangat mengalir dari penisku dan serasa hendak meletus keluar. saya bilangin ke Thalia,

    “Awas, saya mau keluar. Tahan dulu kocokanmu

    Jangan sampai spermaku keluar saya masih pengin nerusin!!”,

    Tapi dengan cuek dia malah bertambah giat dan keras mengocok penisku sambil lidahnya menjilati pucuk penisku. ceritasexdewasa.org Beberapa menit kemudian keluarlah cairan kenikmatan yang berwarna putih yang disebut sperma.

    Dan spermaku mengenai mulutnya dan ada sebagian yang sengaja dijilat dan ditelan Thalia. Terasa nikmat sekali!, Thalia terus menjilati sisa-sisa sperma yang keluar dari penisku. Sementara Thalia masih sibuk dengan penisku, aku istirahat sejenak dalam kenikmatan yang tiada taranya.

    Sewaktu saya masih istirahat, terasa Thalia masih sibuk dengan penisku. Karena saya kasihan Thalia belum mencapai orgasme, Langsung saja saya bangun dan meneruskan aksi. Saya suruh Thalia pindah posisi jadi di bawah, langsung dia turuti.

    Sejenak sebelum memasukkan penisku, saya kocok sebentar penisku agar membesar dan Thalia membantuku dengan ikut mengocoknya. Selang beberapa detik kemudian penisku langsung berdiri lagi dan langsung saya masukkan ke vaginanya.

    Thalia langsung teriak dan mengerang kenikmatan, “Aacchh”. Tetapi terasa posisiku kurang nikmat, saya cabut lagi penisku dan saya taruh bantal di atas pantat Thalia supaya penisku terasa nikmat masuk divaginanya.

    Cerita Sex Thalia Begitu saya masukin penisku dalam-dalam, terasa vaginanya hangat dan sudah penuh cairan yang membuat penetrasi penisku terasa nikmat dan licin. Ini pertanda Thalia sudah mengalami orgasme sebelum saya masukin penisku.

    Penisku, aku tarik pelan-pelan, masukin lagi pelan-pelan dan demikian seterusnya. Thalia lagi-lagi berteriak kecil dan mengerang. Saya biarin Thalia berteriak dan mengerang, saya terusin aksiku dengan membuat variasi seperti menggoyang pinggulku.

    Selang 45 menit saya meneruskan aksiku, Thalia pelan-pelan berbisik “Wolf, saya sudah tidak kuat lagi.., saya sudah pengin keluar.., Cairan spermaku sudah mau keluar!”.

    Ternyata benar juga, beberapa detik kemudian di penisku terasa ada banyak cairan yang menyelimuti. Saya biarkan penisku di dalam vagina Thalia selama beberapa menit selama Thalia orgasme. Sebab saya baca, cewek senang kalau sewaktu dia orgasme, penis cowoknya berada dalam-dalam di vaginanya.

    Dan benar juga kata buku, Thalia terlihat sangat puas. Begitu dia selesai orgasme, beberapa menit kemudian selama penisku masih di dalam, terasa spermaku masih mau keluar. Buru-buru saya cabut penisku dari vagina Thalia dan Thalia langsung menyambutnya dengan kuluman yang hebat sekali.

    Sekali lagi spermaku langsung tumpah ke arah muka Thalia, sekeliling bibirnya langsung dipenuhi dengan spermaku yang ternyata banyak sekali. Sebagian cairan putih itu masuk ke mulutnya dan sebagian ada yang tumpah ke payudaranya dan ke sprei.

    Thalia memintaku untuk menjilat spermaku yang tumpah ke payudaranya dan saya turuti. Lidahku menyapu sisa-sisa spermaku di payudaranya dan Thalia terlihat benar-benar menikmatinya. Setelah puas, saya dan dia langsung lemas dan langsung tidur sambil dalam keadaan polos sampai pagi (tanpa berselimut).

    Cerita Sex Thalia

    Cerita Sex Thalia

    Pagi-paginya dia sudah bangun dan nonton TV masih dalam keadaan telanjang. Langsung tubuhnya yang indah itu saya tutupi dengan jaketku supaya tidak masuk angin, dia menolak seraya berbisik,

    “Wolf, lue hebaat sekali tadi malam. Baru lu cowok yang bisa muasin saya. cowok yang lain yang pernah nidurin saya terasa hambar. saya pengin lagi Wolf. saya pengin pagi dan malam selanjutnya kita terus bertelanjang bugil dan main terus.

    Kita cek out saja dari penginapan ini. Kita bilang ke anak-anak kalau kita ada urusan lain dan harus cepat pulang ke Bandung.

    Terus kita cek in ke hotel lain”.
    Ternyata saya lebih gila daripada dia, saya terima saja. Beberapa jam kemudian teman-temanku datang, saya langsung pamit mau pulang sama Thalia.

    Mereka percaya saja. Langsung deh kita cabut dan cek in di penginapan yang jauh dari mereka. Dan pengalaman itu diteruskan di hotel yang baru, siang malam saya dan Thalia mengadakan pesta seks tanpa istirahat. Slot Online

    Kecuali buat makan, dan minum. Setiap kali sehabis bersetubuh, saya dan Thalia merasakan kenikmatan yang tiada tara.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Nozomi Yui disiksa kenikmatan oleh alat bantu sex sampai muncrat

    Nozomi Yui disiksa kenikmatan oleh alat bantu sex sampai muncrat


    2247 views

  • Kisah Memek Citra Sodara-Ku Yang Manis

    Kisah Memek Citra Sodara-Ku Yang Manis


    2627 views

    Duniabola99.com – Jadi begini, (begitu juga boleh). hari minggu ada acara keluarga didaerah bo*or. nah, waktu itu ane ngeliat Citra ponakan dari tante ane. waktu pertama ane ngeliat dia, ane udah jatuh hati sama doi, terus ane kenalan sama doi.
    kalo diliat dari badannya .. jadi, dadanya sekitar B Cup, untuk remaja seperti Doi luar binasa gan. kulitnya putih, langsing. terus ada tatto disekitar lehernya.
    kamu kuliah di universitas mana ?? (ane mulai percakapan)
    Citra: aku kuliah di universitas yang gk jauh dari rumah ane.
    nah… akal bulus ane pun jalan, ane mintain nomer hpnya doi. nah, malam pun datang, Doi ngajakin ane jalan² kedaerah yang gk bisa ane sebutin namanya.
    daerah itu pas banget deh, tempat yang cocok buat remaja pacaran. nah, ane nanya sama doi. “kamu udah punya pacar belum ??” , terus doi bilang kalo doi masih jomblo. behhh… kesempatan nggak bakal 2 kali. langsung aja ane tanya kenapa doi belum punya pacar !.


    terus Doi bilang, “nggak ada yang naksir sama aku”
    ane nggak percaya tuh doi bilang begitu.
    terus ane pancing, “kok dileher kamu ada tatto sih ?”
    terus doi bilang ini cuman tatto yang nggak permanen,

    nahh… menit pun berjalan seiiring waktu berputar.
    waktu tepat pukul 21:00. ane bilang ke Doi, “udah malem nih, kita pulang yuk”, niatnya sih ane pengen lama² sama DOI. tapi keburu ane bilang begitu dan DOI pun setuju, ya udah deh, ane sama DOI cabut sambil melihat indahnya kota BO*OR, ane bawa motor kesayangan ane yang sering diikut sertakan balap liar di kota.

    waktu diperjalanan pulang, DOI meluk badan ane. udah mana tangannya tepat dibawah si otong lagi, udah mana didaerah BO*OR cuacanya dingin.

  • Video Bokep Yui Nishikawa memainkan toketnya sendiri

    Video Bokep Yui Nishikawa memainkan toketnya sendiri


    2333 views

     

  • Kisah Memek Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus

    Kisah Memek Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus


    2821 views

    Duniabola99.com – Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),Bisa saya bantu? kataku kepada mereka.Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang.Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya, jawabku.Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu? lanjutku lagi.


    Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, Kurang ajar si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih, yang berwajah Jepang protes.Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha, sekarang bule bermata biru nyeletus.Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga. Iya deh, sekalian numpang minum, kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.

    Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.Nama saya Jacky, kataku.Khira, kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).Yang berambut panjang menyusul, Emily, (Campuran Italia dengan Inggris).Saya Eve, gadis bermata biru ini asal Jerman.Jacky, kamu berasal dari mana? lanjutnya.Jakarta, Indonesia, jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.Aduh, panas sekali nich?! si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.

    Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,Jacky, boleh kami main internetnya?Silakan, jawabku.Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.Mau nge-chat yah? tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan, lanjut Emily lagi.Eh, kaliankan masih di bawah umur? kataku mencoba untuk protes.Paling umur kalian 17 tahun kan? sambungku lagi.


    Khira menyambut, Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja. Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar gituan yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya, Ada apa? Eve menjawab, Khira bilang, sikutnya terbentur barangmu, katanya.

    Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab, Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal. Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?Aku tersentak dengan pertanyaan itu.Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur.(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji, si Emily mewakili mereka.Please Jacky! sambungnya.Oke, tapi jangan diketawain yah! ancamku sambil tersenyum nafsu.

    Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.Gila gede banget! kata mereka hampir berbarengan lagi.Nah! Sekarang apa lagi? tanyaku.Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. Boleh kupegang Jack? tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, Uuuh karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, Kamu punya film biru Jack? Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja langsung ke video.


    Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.Uuh ssshh uuuhh ssshhh aku merasa nikmat.Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.Jacky ooohh Jacky terusss ooohhh nikmat Eve terdengar.Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.Slep slep chk chkItulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.

    Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.Aaahhh Jacky aaahhh enak Jacky teruskan aaahhh terussss Jacky! jerit Emily.Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.Aaaahhh Eve sampai puncaknya.

    Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi, Aahhh Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar, Heeerrkk Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, Sudah sudah aku ngiluuu sudah pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, I Love you, Jacky! aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, Thank you Khira!
    Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira.


    Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.



  • Tanteku Yang Nafsu

    Tanteku Yang Nafsu


    2922 views


    Duniabola99.com – Waktu aku tinggal di rumah tante aku dimanja seperti anaknnya sendiri tapi dimanjaku adalah soal sex enak sekali bukan , suatu ketika ada teman tanteku Deshi yang bernama Tante Vita maen kerumahnya dia berasal dari Manado dimana logatnya yang masih mendok, tante Vita juga cantik seperti tanteku Deshi posturnya yang tinggi dan putih.

    Aku dan Tante Vina beberapa kali sering bercandaan sehingga kami mudah akrab ternyata dia juga lucu punya jiwa humoris wajahnya cantik seperti ke indo dengan tinggi aku taksir 168 cm pinggangya yang seksi dan langsing yang gilanya lagi adalah Payudaranya yang menjulang keluar seakan akan mau keluar dari Bhnya.

    Pikiran kotorku mulai bermain dan mengirangira. Apakah Tante Vita haus sex seperti kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya nggak dicoba? Akan merupakan sebuah pengalaman sex yang seru kalo aku bisa menidurinya.

    Pikiranpikiran seperti itu berkecamuk dibenak kotorku. Apalagi dengan bisanya aku tidur dengan tanteku, (dan banyak wanita STW) rasanya semua wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap akan lebih mudah ditiduri, hanya dengan sedikit pujian dan rayuan.

    Dirumah, tante Deshi sudah beberapa kali berpesan padaku jangan sampe aku perlakukan Tante Vita sama sepertinya, rupanya Tante Deshi cemburu karena ngeliat kemungkinan itu ada. Sampai suatu ketika tante sedang pergi dengan om ke Surabaya selama dua hari.

    Sehari sebelum berangkat aku sempat melampiaskan nafsuku bersama tanteku di sebuah motel deket rumah, biar aman. Disana sekali lagi tante Deshi berpesan Aku mengiyakan, aku bersusaha meyakinkan.

    Setelah tante dan om berangkat aku mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal aku, Tante Vita dan seorang pembantu. Hari pertama niatku belom berhasil. Beberapa kali aku menggoda Tante Vita dengan ceritacerita menjurus porno tapi Tante nggak bergeming.

    Saking nggak tahan nafsu ingin menyetubuhi Tante Vita, malamnya aku coba mengintip saat dia mandi. Dibelakang kamar mandi aku meletakkan kursi dan berencana mengintip dari lubang ventilasi.

    Hari mulai malam ketika Tante Vita masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang dan mulai melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi. Perlahan kulihat Tante Vita menanggalkan daster merah jambunya dan menggantungkan di gantungan.

    Ups! Ternyata Tante Vita tidak memakai apaapa lagi dibalik daster tadi. Putih mulus yang kuidamidamkan kini terhampar jelas dibalik lubang fentilasi. Pertama Tante Vita membasuh wajahnya. Sejenak dia diam dan tibatiba tangannya mengeluselus lehernya, lama.

    Perlahan tangan itu mulai merambah buah dadanya yang besar. Aku berdebar, lututku gemetaran melihat adegan sensual didalam kamar mandi. Jemari Tante Vita menjelajah setiap jengkal tubuhnya yang indah dan berhenti diselangkangannya.

    Badan Tante Vita bergetar dan dengan mata menutup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan melemas. Dia orgasme. Begitu cepatkah? Karena Mr. Happyku juga sudah menggeliatgeliat, aku menuntaskan nafsuku dibelakang kamar mandi dengan mata masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga mengerang dan spermaku terbang jauh melayang.

    Dalam beberapa detik aku memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika kubuka mata, wajah cantik Tante Vita sedang mendongak menatapku. Wah ketahuan nih. Belum sempat aku bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar mandi Tante Vita memanggilku lirih.

    Ryo, nggak baik mengintip, kata tante Vita.

    Aduh mati aku ketahuan deh, gumamku dalam hati.

    Maaf, tante ga sengaja, kataku pelan

    Nggak apaapa, dari pada disitu mendingan.., kata Tante Vita lagi sambil tangannya melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.

    Aku paham maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku langsung loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejap aku sudah stand by di depan pintu kamar mandi. mataku sedikit melongok sekeliling takut ketahuan pembantu.

    Hampir bersamaan pintu kamar mandi terbuka dan aku bergegas masuk. Kulihat Tante Vita melilitkan handuk ditubuhnya. Tapi karena handuknya agak kecil maka paha mulusnya jelas terlihat, putih dan sangat menggairahkan.

    Kamu pake ngitip aku segala, ujar Tante Vita.

    Aku kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisabisa aku kena tampar, hehehe, balasku.
    Tante Vita memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan busanya dia mencumbuku.

    Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas dari sapuan lidah dan bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo Tante Vita tuh orang desa. Ternyata keahlian bercinta itu tak memandang desa atau kota yah.

    Sekali sentak kutarik handuknya dan wow! Pemandangan indah yang tadi masih jauh dari jangkauan kini benerbener dekat, bahkan menempel ditubuhku. Dalam posisi masih berdiri kemudian Tante Vita membungkuk dan melahap Mr. happy yang sudah tegak kembali.

    Lama aku dihisapnya, nikmat sekali rasanya. Tante Vita lebih rakus dari tante Deshi. Atau mungkin disinilah letak kampungannya, liar dan buas. Beberapa menit kemudian setelah puas menghisap, tante Vita mengambil duduk dibibir bak mandi dan menarik wajahku. Kutau maksudnya.

    Segera kusibakkan rambut indah diselangkangannya dan bibir merah labia mayora menantangku untuk dijilat. Jilatanku kemudian membuat Tante Vita menggelepar. Erangan demi erangan keluar dari mulut Tante Vita.

    Ryo kamu hebat, pantesan si Deshi puas selalu, cerocos Tante Vita.

    Emangnya Tante Vita tau? jawabku disela aktifitas menjilat.

    Ya tantemu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia berpesan jangan menggodaku, dia cemburu tuh, balas Tante Vita.

    Ups, rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu setiap jengkal kulit putih mulus Tante Vita.

    Sedari awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan kusengaja aja tadi purapura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku belum keluar tadi, hehehe kamu tertipu ya, tapi yo, sekarang masukin yuk, aku benerbener nggak tahan mau keluar, kata Tante Vita lagi.
    Aku sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.

    lalu aku bilang padanya Sebentar lagi tante belom juga apaapa masa mau langsung sih.

    Creeep secara tibatiba ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah vaginanya itu.

    Aaahh kamu nakaal, jeritnya cukup keras. Terus terang vaginanya adalah terindah yang pernah kucicipi, bibir vaginanya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah bibir vagina itu dengan mulutku. Ooohh lidahmu.. oooh nikmatnya Ryo lirih Tante Vita.

    Aahh.. sayang Tante suka yang itu yaahh.. sedooot lagi dong sayang oooggghh, ia mulai banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah panggilan yang sepertinya terlalu mesra untuk tahap awal ini.

    Lima menit kemudian Sayang.. Aku ingin cicipin punya kamu juga, katanya seperti memintaku menghentikan tarian lidah di vaginanya.

    Ahh baiklah Tante, sekarang giliran Tante lagi yah.., lanjutku kemudian berdiri mengangkang tepat di depan wajahnya . Tangannya langsung meraih Mr. Happyku dan sekejap terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas ratarata.

    Okh Ryo indah sekali punyamu ini.. katanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah kepala Mr. Happyku yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu.

    Mungkin ini nggak akan cukup kalau masuk di.. aah mm ngggmm, belum lagi katakata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan kearah mulutnya dan, Crooop.. langsung memenuhi rongganya yang mungil itu.

    Cerita Seks Tante Punya Nafsu Tinggi

    Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras.

    Aduuuh enaak ooohh enaknya Tante ooohh.. sementara ia terus menyedot dan mengocok Mr.Happyku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak.

    Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu.

    Sesekali ia menggigit kecil kepala Mr. Happyku dalam mulutnya, Mm hmmm hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya.

    Crop ia mengeluarkan Mr. Happyku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagilagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir vaginanya.

    Aoouuuhh Tante nggak tahan lagi sayang ampuuun Ryoooo hh masukin sekarang juga, ayooo.. pintanya sambil memegang pantatku. Segera kuarahkan Mr. Happyku ke selangkangannya yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi liang vaginanya yang terbuka lebar, pelan sekali kutempelkan di bibir vaginanya dan mendorongnya perlahan,

    Nggg aa.. aa.. aa.. iii.. ooohh masuuuk aduuuh besar sekali sayang, ooohh ia merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris.

    Ooohh.. aa aahh aahh mmhh geliii ooohh enaknya, Ryyooo oooh, desah Tante Vita.

    Yaahh enaak juga Tante.. ooohh rasanya nikmat sekali, yaahh.. genjot yang keras Tante, nikmat sekali seperti ini, ooohh enaakk ooohh Tante ooohh.. katakataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa kendali.

    Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan vaginanya yang tertusuk Mr. Happyku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara refleks pula vaginanya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang kejantananku.

    Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Tante Vita terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, Ryooo aahh aku nngaak nggak kuaat aahh.. aahh.. ooohh

    Taahaan Tante tunggu saya dulu nggg.. oooh enaknya Tante.. tahan dulu jangan keluarin dulu.. Tapi siasia saja, tubuh Tante Vita menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya.

    Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras payudaranya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. Ooo nggg aahh sayang sayang.. sayang.. oooh enaak..

    Tante kelauaar.. ooohh.. ooohh teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan vaginanya disekeliling Mr. Happyku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang vaginanya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku.

    Kemudian aku genjot lagi tanpa memberikan waktu untuk istirahat untuk Tante Vita. Selang tak berapa lama Tante Vita mengerang nikmat dan merem melek setiap kali kugenjot dengan batang kejantananku yang sudah besar dan memerah.

    Lama kami bertarung dalam posisi ini, sesekali dia menarik tubuhku biar lebih dalam. Setelah puas dengan sensasi ini kami coba ganti posisi. Kali ini dalam posisi duaduanya berdiri, kaki kanannya diangkat dan diletakkan diatas toilet.

    Agak sedikit menyamping kuarahkan Mr. Happy ke vaginanya. Dengan posisi ini kerasa banget gigitan vaginanya ketika kugenjot keluar masuk. Kami berpelukan dan berciuman sementara Mr. Happy masih tetep aktif keluar masuk.

    Puas dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini doggie style. Sambil membungkuk, tante Vita menopangkan tangan di bak mandi dan dari belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa nikmatnya karena batang Mr. Happy seakan dijepit dengan daging yang kenyal. Kutepuk tepuk pantatnya yang mulus dan berisi. Tante Vita mendesisdesis seperti kepedesan. Lama kami mengeksplorasi gaya ini.

    Dalam beberapa menit kemudian Tante Vita memintaku untuk tiduran di lantai kamar mandi. Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak benerbener tiduran karena punggungku kusenderkan didinding sementara kakiku selonjoran.

    Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki mengangkangi tubuhku. Dan perlahan tangan kanannya memegang Mr. Happy, sedikit dikocoknya dan diarahkan ke vagina yang sudah membengkak. Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante Vita sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya terpejam dan desisannya menguat.

    Lama kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium bibirnya dan kumainkan pentil buah dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan sejenak tibatiba raut mukanya berubah rona.

    Dia meringis, mengerang dan berteriak.

    Ryo, aku mau nyampe lagi nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya, erangnya.

    Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliatgeliat panas sekali.
    Ohh, ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.

    Dalam hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih dalam posisi lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa mencabut mr happy dari vaginanya. Dan perlahan mulai kugenjot lagi.

    Dia mengerang lagi mendapatkan sensasi susulan. Uh tante Vita memang dahsyat, baru sebentar lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya sudah bisa mengikuti alur irama goyanganku. Lama kami menikmati alunan irama seperti itu, kini giliranku mau sampai.

    Tante aku mau keluarin ya, kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.

    Samasama ya Ryo, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh.

    Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megapmegap. Sejurus kemudian kami sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi.

    Persetan dengan lantai ini, bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Vita dan kamipun mandi bersama.

    Selesai mandi, kami bingung gimana harus keluar dari kamar mandi. Takut Bi Ijah tau. Kubiarkan Tante Vita yang keluar duluan, setelah aman aku menyusul kemudian. Namun bukannya kami kekamar masingmasing,

    Tante Vita langsung menyusul ke kamarku setelah mengenakan daster. Aku yang masih telanjang di kamarku langsung disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan babak babak berikutnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh nafsu membara.

    Kuhitung ada sekitar 7 kali kami keluar bersama. Aku sendiri sudah terbiasa dengan orgasme sebanyak itu. Walaupun di ronderonde terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi, tapi rasa puas karena multi orgasme tetap jadi sensasi.

    Selama 2 hari Tante Deshi di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku dengan Tante Vita. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Vita tinggal dirumah Tante Deshi. Selama itu pula aku kucingkucingan bermain cinta.

    Aku harus melayani Tante Deshi dan juga bermain cinta dengan Tante Vita. Semua pengalaman itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus melayani dua wanita STW yang duaduanya punya nafsu tinggi karena aku juga menikmatinya.

  • Kisah Memek Enaknya

    Kisah Memek Enaknya


    3231 views


    Duniabola99.com – Kisah ni berlaku masa aku umer 18, waktu tu aku baru balik cuti semester ‘U’. Entah macam mana bila aku sampai je rumah semua tak de orang. Yang ada cuma Minah, pembantu rumah aku je. Dia tu indon

    Dia bagitau ayah aku balik kampung. Aku pun suruh minah buat air. Lepas minum aku pun masuk ke bilik aku. Lepas mandi semua aku pun keluar ke ruang tamu. Tengok movies ‘Basic Instinct’. Entah macam mana aku rasa stim pulak.

    Lepas tu aku pun panggil minah. Aku cakap aku lengoh. minta talong urut. Sambil urut tu aku pun tukar blue film yang aku beli kat petaling street. Dalam film tu aksi senggama sedang hebat. Aku tengok minah resah je. Lepas tu aku pelan pelan pegang tangan dia. Dia diam je

    Lepas tu aku pun pegang punggung dia dan usap pipi dia. Aku pun cium pipi, bibir dan lidah. Sambil tu aku hisap lidah dia.Tangan aku meraba raba kat buah dada minah, Aku rasa seronok pulak ramas buah dada tu

    Aku ajak minah masuk bilik aku. Dia pun ikut. Aku susuh dia tanggalkan baju dan dia turut je . Minah tak pakai coli rupanya. Putihnya tetk minah. Akupun usap ,hisap dan jilat buahdad minah. Aku suruh dia bukak kain tapi dia tak nak . Aku pun raba punggung dia dan tanggalkan kain batik dia.


    Tanpa membuang masa aku jilat kelankang minah, masa tu dia pakai seluar dalam lagi. Tak lama lepas tu minah merengek rengek. Aku pun buka seluarnya dan raba kemaluannya dengan tangan, lepas tu dengan lidah. Minah tak tahan dah aku suruh dia hisap batang ku. Dia ikut.

    Kemudian aku suruh minah telentang, Aku bukakan kangkangnya dan main kemaluannya dengan tangan. Ada cecair keluar dari pantatnya. Aku pun pelan pelan masukkan batangku dan hayun keluar masuk , keluar masuk. ….


    Bila nak pancut aku cabut batang ku dan terpancutlah ke cadar aku . Lepas tu aku bagi hadiah minah RM50. Terpaksalah minah basuh cadar tu.

    Malam tu aku tidur bilik minah. Biasalah buat projek lagi. Kadang Kadang sengaja aku malas ikut parent aku keluar dinner, lebih baik aku duduk rumah banyak benda berfaedah aku boleh buat.


    Sampai sekarang aku selalu buat projek dengan minah.

  • Hentai010

    Hentai010


    2686 views

  • Akiho Little Asian Cocksuckers

    Akiho Little Asian Cocksuckers


    2229 views