
Author: dbgoog99
-

Amazing girl deepthroat
-

1-Miku Airi catwalk poison vol 45

-

Foto Bugil Ariana Marie memperkenalkan payudara besarnya

Duniabola99.com – foto gadis rambut coklat Ariana Marie berpose hot dan melepaskan semua pakaiannya menampilkan tubuhnya yang hot dan menampakkan toketnya yang gede dan juga ngangkang lebar menampilkan memeknya diatas sofa.
-

Kisah Memek Pemuas Nafsu Seks
Cerita Sex ini berjudul ” Pemuas Nafsu Seks ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2018.

Duniabola99.com – Aku bekerja di perusahaan kontraktor swasta di daerah Indramayu yang mempunyai sekitar 20 pegawai dan 3 orang diantaranya adalah wanita. Pada umumnya pegawai-pegawai itu datang dari desa sekitar perusahaan ini berada dan rata-rata pegawai prianya sudah bekerja di perusahaan ini sekitar 15 tahunan lebih, sedangkan aku diperbantukan dari kantor pusat di Jakarta dan baru sekitar 1 tahun di kantor cabang ini sebagai kepala personalia merangkap kepala keuangan. Karena pindahan dari kantor pusat, maka aku dapat tinggal di rumah yang disewa oleh perusahaan. Istriku tidak ikut tinggal di sini, karena dia juga kerja di Jakarta, jadi kalau tidak aku yang ke Jakarta setiap Jum’at sore dan kembali hari Minggu sore atau istriku yang datang.
Hubungan antar para pekerja begitu akrab, sehingga beberapa diantara mereka ada yang sudah menganggap aku sebagai saudara atau anaknya saja. Dalam situasi seperti sekarang ini, perusahaan dimana aku bekerja juga mengalami krisis yang cukup serius dan jasa pekerjaan yang kami terima dari perusahaan kilang minyak dan perusahaan lainnya juga semakin berkurang. Hal ini mengakibatkan pimpinanku memerintahkan untuk mengurangi beberapa orang pegawainya dan ini harus kulaksanakan dalam waktu sebulan ini.Setelah kupilah-pilah dari 20 orang pegawai itu, lalu aku mengambil 5 orang pegawai yang paling tua dan yang dalam 1 atau 2 tahun ini akan mencapai usia 55 tahun, lalu aku menyuruh sekretaris kantor yang bernama Sri (samaran) dan juga dari penduduk di sekitar perusahaan untuk mengetik draft surat-surat yang sudah kupersiapkan dan rencanaku dalam 2 minggu ini masing-masing pegawai akan kupanggil satu persatu untuk keberikan penjelasan sekaligus memberikan golden shake hand pesangon yang cukup besar. Sri adalah salah satu diantara 3 pekerja wanita di sini dan umur mereka bertiga sekitar 30 tahunan. Sri, menurut teman-teman kerjanya adalah seorang pegawai yang agak sombong, entah apa yang disombongkan atau mungkin karena merasa yang paling cantik diantara ke 2 wanita lainnya.Padahal kalau aku bandingkan dengan pekerja wanita di kantor pusat Jakarta, belum ada apa-apanya. Suaminya Sri menurut mereka itu sudah setahun ini bekerja di Arab sebagai TKI. Di hari Jum’at sore, sewaktu aku besiap siap akan pulang, tiba-tiba muncul salah seorang pegawai yang biasa kupanggil Pak Tus datang menghadap ke ruangan kantorku.“Ada apa Pak Tus”, tanyaku.“Ini…, Pak…, kalau Bapak ada waktu, besok saya ingin mengajak Bapak untuk melihat kebun buah-buahan di daerah pegunungan sekitar Kuningan dan peninggalan orang tua saya, siapa tahu Bapak tertarik untuk membelinya”. Setelah kipikir sejenak dan sekaligus untuk menyenangkan hatinya karena Pak Tus ini adalah salah satu dari pegawai yang akan terkena PHK, segera saja permintaannya kusetujui.
“Oke…, Pak Tus, boleh deh, kebetulan saya tidak punya acara di hari Sabtu dan Minggu ini…, kita pulang hari atau nginap Pak…?
“Kalau Bapak nggak keberatan…, kita nginap semalam di gubuk kami…, Pak.., dan kalau Bapak tidak berkeberatan, saya akan membawa Istri, anak dan cucu saya, Biar agak ramai sekaligus untuk masak.., karena tempatnya agak jauh dari warung”, jawab Pak Tus dengan wajah berseri.
“Yapi…, Pak…, saya tidak punya kendaraan.., lanjut Pak Tus dengan wajah agak sedih”.“Pak…, Tus…, soal kendaraan jangan terlalu di pikir, kita pakai Kijang saya saja.., dan Pak Tus boleh membawa semua keluarganya, asal mau berdesak-desakan di Kijang dan besok jam 10 pagi akan saya jemput ke rumah Pak Tus”, sahutku dan Pak Tus dengan wajah berseri kembali lalu mengucapkan terima kasih dan pamit untuk pulang. “Besok paginya sekitar jam 10 pagi aku menjemput ke rumah Pak Tus yang boleh dibilang rumah sangat sederhana. Di depan rumahnya aku disambut oleh Pak Tus dan Istrinya. Aku agak terkejut, karena Isrinya kelihatan jauh lebih muda dari yang kuduga. Dia kutaksir berumur sekitar 35 tahunan dan walau tinggal di kampung tapi sepertinya tidak ketinggalan jaman. Istri Pak Tus mengenakan rok dan baju agak ketat tanpa lengan serta ukuran dadanya sekitar 36C.“silakan masuk…, Pak…”, katanya hampir serentak,
“Ma’af Pak…, rumahnya jelek”, sambung Pak Tus.“Ah, Bapak dan Ibu.., bisa saja, Oh iya…, anak dan cucu nya apa jadi ikut?”, sahutku sambil bertanya karena aku tidak melihat mereka.
“Oh…, si Nining (mana disamarkan) sedang di belakang menyiapkan barang-barang bawaannya dan cucu saya tidak mau pisah dari ibunya”, sahut Pak Tus.Tidak lama kemudian dari belakang muncul wanita muda yang tidak bisa dibilang jelek dengan tinggi sekitar 160 Cm serta memakai T shirt ketat sedang menggendong anak laki-laki dan tangan satunya menjinjing tas agak besar, mungkin berisi pakaian.“Pak..”, kata Pak Tus, yang membuatku agak kaget karena aku sempat terpesona dengan body Nining yang yang aduhai serta berjalan dengan dada yang menantang walau ukuran dadanya boleh dibilang tidak besar.“Paak…, ini kenalkan anak perempuan saya…, Nining dan ini cucu saya Dodi”. Kusambut uluran tangan Nining serta kujabat tangannya yang terasa agak dingin dan setelah itu kucubit pipi Dodi.
“Ayo…, Pak…”, ajak Pak Tus, “Kita semua sudah siap dan bisa berangkat sekarang”.
“Lho…, apa bapaknya Dodi tidak ikut…, Pak?, tanyaku dan kulihat Pak Tus saling berpandangan dengan Istrinya, tapi yang menyahut malah Nining. “Enggak kok…, Pak…, dia lagi pergi jauh”.
“Ayo…, lah kalau begitu…, kita bisa berangkat sekarang.., Pak”, kataku walau aku masih ada tanda tanya besar dalam hatiku soal suami Nining.Sesampainya tempat yang dituju, aku jadi terkagum-kagum dengan kebun yang dimiliki Pak Tus yang cukup luas dan tertata rapi serta seluruhnya ditanami pohon buah-buahan, bahkan banyak yang sedang berbuah. Rumah yang boleh dibilang tidak besar, terletak di bagian belakang kebun itu.“Ayo…, Pak, kita beristirahat dulu di gubuk, nanti setelah itu kita bisa keliling kebun melihat pohon-pohon yang ada”, kata bu Tus dan disambut dengan sahutan Pak Tus.
“Iyaa…, Pak…, silakan istirahat ke rumah dulu, biar Istri saya menyiapkan minum buat Bapak, sedang saya mau ketemu dengan yang menjaga kebun ini.Lalu aku dan Bu Tus berjalan beriringan menuju rumahnya dan sepanjang perjalanan menuju rumah kupuji kalau kebunnya cukup luas serta terawat sangat baik.“Aahh…, Bapak…, jangan terlalu memuji…, kebun begini.., kok dibilang bagus.., tapi inilah kekayaan kami satu-satunya dan peninggalan mertua”, kata bu Tus yang selalu murah senyum itu. Ketika mendekati rumah, Bu Tus lalu berkata,
“silakan Pak…, masuk”, dan aku segera katakan, “silakan…, sambil bergeser sedikit untuk memberi jalan pada bu Tus.Entah mengapa, kami berdua berjalan bersama masuk pintu rumah sehingga secara tidak sengaja tangan kiriku telah menyenggol bagian dada bu Tus yang menonjol dan kurasakan empuk sekali. Sambil kupandangi wajah bu Tus yang kelihatan memerah, segera kukatakan.“Maaf…, bu…, saya tidak sengaja”, Bu Tus tidak segera menjawab permintaan maafku, aku jadi merasa agak nggak enak dan takut dia marah, sehingga kuulangi lagi.
“Benar…, buu…, saya tidak sengaja…”.“Aahh..”, Pak Pur.., saya nggak apa apa kok…, hanya…, agak kaget saja, lupakan.., Pak…, cuma gitu saja…, kok”, kata bu Tus sambil tersenyum. “Oh iya…, Bapak mau minum apa”, tanya bu Tus.
“Terserah Ibu saja deh”.
“Lhoo…, kok terserah saya..?”.“Air putih juga boleh kok bu”. Setelah bu Tus ke belakang, aku lalu duduk di ruang tamu sambil memperhatikan ruangan nya model rumah kuno tetapi terawat dengan baik.Tidak terlalu lama, kulihat bu Tus yang telah mengganti bajunya dengan baju terusan seperti baju untuk tidur yang longgar berjalan dari belakang sambil membawa baki berisi segelas teh dan sesampainya di meja tamu dimana aku duduk, bu Tus meletakkan gelas minuman untukku sambil sedikit membungkuk, sehingga dengan jelas terlihat dua gundukan besar yang menggantung didadanya yang tertutup BH dan bagian dalam badannya, membuat mataku sedikit melotot memperhatikannya.“Iihh…, matanya Pak Puur…, kok…, nakal.., yaa”, katanya sambil menyapukan tangannya dimukaku serta tersenyum.Aku jadi agak malu dikatakan begitu dan untuk menutupi rasa maluku, aku jawab saja sambil agak bergurau.“Habiis…, bu Tus berdirinya begitu…, sih. “Aahh…, bapak ini…, kok sepertinya…, belum pernah melihat seperti itu saja”, sahut bu Tus yang masih berdiri di dekatku dan mencubit tanganku.
“Betul kok…, buu…, saya belum pernah melihat yang seperti itu, jadi boleh kan buu…, saya lihat lagi..?”.“aahh…, bapak..”, kembali mencubitku tetapi sekarang di pipiku sambil terus berjalan ke belakang.Setelah minuman kuhabiskan, aku lalu balik keluar menuju ke kebun dan ngobrol dengan pak Tus yang sedang membersihkan daun-daun yang berserakan. Selang berapa lama, kulihat bu Tus datang dari dalam rumah sambil membawa gulungan tikar dan setelah dekat lalu menggelar tikarnya di kebun sambil berkata kepada suaminya.“Paak…, kita ajak Pak Pur makan siang disini saja…, yaa”, dan pak Tus tidak menjawab pertanyaan istrinya tetapi bertanya kepadaku.
“Nggak…, apa-apa…, kan.., paak.., makan di kebun..? Biar tambah nikmat”.“Nggak apa apa kok.., paak”, jawabku.Tidak lama kemudian dari arah rumah tetangganya, kulihat Nining yang sudah mengganti bajunya dengan baju terusan yang longgar seperti ibunya datang membawa makanan dan sambil membungkuk meletakkan makanan itu di tikar dan aku yang sedang duduk di tikar itu kembali melihat buah yang menggantung di dada, dan sekarang dadanya Nining. Kelihatan sekali kalau Nining tidak mengenakan BH dan ukurannya tidak besar. Nining tidak sadar kalau aku sedang memperhatikan buah dadanya dari celah bajunya pada saat menaruh dan menyusun makanan di tikar.Setelah Nining pergi, sekarang datang Ibunya sambil membawa makanan lainnya dan ketika dia membungkuk menaruh makanan, kembali aku disungguhi pemandangan yang sama dan sekarang agak lama karena makanan yang disusun oleh Nining, disusun kembali oleh bu Tus. Tidak kuduga, tiba-tiba bu Tus sambil tetap menyusun makanan lalu berkata agak berbisik, mungkin takut didengar oleh suaminya yang tetap masih bekerja membersihkan daun-daun tidak jauh dari tempatku duduk.“Paak…, sudah puas melihatnyaa..?” . Lalu kudekatkan wajahku sambil membantu menyusun makanan dan kukatakan pelan,
“Beluum…, buu…, saya kepingin memegangnya dan menghisapnyaa”. Bu Tus langsung mencubitkan tangannya di pahaku sambil berkata pelan,
“Awas…, yaa…, nanti saya gigit punya bapak.., baru tahu”, sambil terus berjalan.Sekarang muncul lagi Nining dan kembali meletakkan makanan sambil membungkuk dan kembali terlihat buah dadanya dan kepingin rasanya kupegang. Rupanya Nining tahu kalau aku sedang memperhatikan dadanya, lalu dia berbisik.“Paakk…, matanya kok nakal…, yaa…”, tapi tanpa menutupnya dan langsung saja kujawab,“aam…, habis bagus siih…, pingin pegang…,boleh apa nggak?”, Nining hanya tersenyum sambil mencubit tanganku lalu pergi.Setelah itu kami berempat makan di tikar dan nikmat sekali rasanya makan di kebun dan setelah selesai makan, Nining pamit untuk memberi makan anaknya di rumah bibinya. Ketika kutanyakan ke Pak Tus, kemana suaminya Nining segera Pak Tus menceritakan keluarganya., bahwa Istri Pak Tus ini adalah adik kandung dari Istri pertamanya yang sudah meninggal dan Nining adalah anak satu-satunya dari istri pertamanya. Sedang Nining sudah bercerai dari suaminya pada saat Nining hamil, suaminya meninggalkan begitu saja karena kawin dengan wanita lain. Tidak terasa kami ngobrol di kebun cukup lama dan mungkin karena hawanya agak dingin dan anginnya agak keras, aku merasa seperti sedang masuk angin.Sementara Pak Tus dan istrinya membereskan sisa makan siang, aku memukul-mukul perutku untuk membuktikan apa benar aku sedang masuk angin dan ternyata benar. Perbuatanku memukul perut rupanya diketahui oleh Pak Tus dan istrinya.“Kenapa paak..”, tanya mereka hampir serentak.
“Nggak apa apa kok…, cuman masuk angin sedikit”.
“Paak…, masuk angin kok…, dibilang nggak apa apa..”, jawab Pak Tus
“Apa bapak biasa dikerokin”, lanjutnya.
“Suka juga sih paak”, jawabku. “Buu…, biar saya yang beresin ini semua…, itu tolong kerokin dan pijetin Pak Puur, biar masuk anginnya hilang”, kata Pak Tus.
“Oh…, iya.., Buu”, lanjut Pak Tus,
“Habis ini saya mau mancing ikan di kali belakang, siapa tahu dapat ikan untuk makan malam nanti…”.
“Pak Tuus…, nanti kalau masuk angin saya hilang, saya mau ikut mancing juga”, kataku.
“Ayoo…, pak Puurr.., kita ke rumah…, biar saya kerokin di sana…, kalau di sini nanti malah bisa sakit beneran.Sesampainya di dalam rumah lalu bu Tus berkata,“Paak…, silakan bapak ke kamar sini saja”, sambil menunjuk salah satu kamar, dan“Saya ke belakang sebentar untuk mengambil uang untuk kerokannya”. Tidak lama kemudian bu Tus muncul ke dalam kamar dan menutup pintunya dan menguncinya.
“Paak…, kerokannya di tempat tidur saja yaa…, dan tolong buka kaosnya”. Setelah beberapa tempat di punggungku dikerokin, bu Tus berkomentar. “Paakk…, rupanya bapak masuk angin beneran…, sampai merah semua badan bapak”.Setelah hampir seluruh punggungku dikerokin dan dipijitin, lalu bu Tus memintaku untuk tidur telentang.“Paak…, sekarang tiduran telentang…, deh…, biar bisa saya pijitin agar angin yang di dada dan perut bisa keluar juga. Kuturuti permintaannya dan bu Tus naik ke tempat tidur di samping kiriku dan mulai memijit kedua bahuku.Dengan posisi memijit seperti ini, tentu saja kedua payudara bu Tus terlihat sangat jelas dan bahkan seringkali menyentuh wajahku sehingga mau tak mau membuat penisku menjadi tegang. Karena sudah tidak kuat menahan diri, kuberanikan untuk memegang kedua payudaranya dan bu Tus hanya berkata pelan.“Jangaan…, paak…, sambil tetap memijit bahuku.
“Kenapa buu…”, tanyaku sambil melepas pegangan di payudaranya.
“Nggak…, apa apa kok…, paak”, jawabnya pelan sambil tersenyum.Karena tidak ada kata-kata lainnya, maka kuberanikan lagi untuk menyelusupkan tangan kiriku ke dalam bajunya bagian bawah serta kupegang vaginanya dan kembali terdengar suara bu Tus.“Paakk…, sshh…, jangaan…, aahh…”, dan badannya dijatuhkan ke badanku serta bibirnya bertemu dengan bibirkuDengan tidak sabar, lalu kuangkat rok terusannya ke atas dan kulepaskan dari kepalanya sehingga badannya telanjang hanya tertutup oleh BH dan CD saja, lalu segera badannya kubalik sehingga aku sekarang ada di atas badannya dan segera kaitan BH-nya kulepas sehingga tersembul buah dadanya yang besar.Kujilati dan kuhisap kedua payudaranya bergantian dan bu Tus hanya berdesah pelan.“sshh…, aahh…, paak…, sshh…, dan tangan kiriku kugunakan untuk melepas CD-nya dan kumasukkan jariku diantara belahan vaginanya yang sudah basah dan ini mungkin membuat bu Tus semakin keenakan dan terus mendesah.
“sshh…, aduuhh…, paakk…, sshh…, aahh”.Sambil tetap Kujilati payudaranya, sekarang kugunakan tanganku untuk melepas celana panjang dan CD-ku dan setelah berhasil, kembali kugunakan jari tanganku untuk mempermainkan vaginanya dan kembali kudengar desahannya.“sshh…, aahh…, paak…, sshh…, ayoo.., paak”, dan kurasakan bu Tus telah membukakan kedua kakinya agak lebar.Walau tidak bilang kurasa bu Tus sudah tidak tahan lagi, maka segera saja kuarahkan penisku ke arah vaginanya dan kedua tangannya telah melingkar erat di punggungku. Belum sempat aku siap-siap,“Bleess…”, penisku masuk ke dalam vaginanya akibat bu Tus menekan kuat-kuat punggungku dan bu Tus berteriak agak keras,
“aahh..”, sehingga terpaksa mulutnya segera kusumpal dengan bibirku agar teriakannya tidak terdengar sampai keluar kamar.Sambil kujilati payudaranya, aku menggerakkan pantatku naik turun sehingga penisku keluar masuk vaginanya dan menimbulkan bunyi.“ccrreett…, ccrreett…, ccrreett”, dan dari mulut bu Tus terdengar desahan yang agak keras,
“Aahh…, sshh…, paak…, aahh..”, dan tidak lama kemudian bu Tus semakin cepat menggerakkan pinggulnya dan tiba-tiba kedua kakinya dilingkarkan kuat-kuat di punggungku sehingga mempersulit gerakan keluar masuk penisku dan terdengar suaranya yang agak keras,“aaduuhh.., sshh…, aahh…, aaduuhh…, paakk…, aarrhh.., sambil menekan kuat-kuat badanku lalu bu Tus terdiam, dengan nafas yang cepat.Untuk sementara, kudiamkan dulu sambil menunggu nafas bu Tus agak normal kembali dan tidak lama kemudian, sambil menciumi wajahku, bu Tus berkata. “Paakk…, sudah lamaa…, saya…, tidak pernah seperti ini…, terima kasih…, paak”. Setelah nafasnya kembali normal dan penisku masih tetap di dalam vaginanya, lalu kuminta bu Tus untuk menungging.
“Paak…, saya belum pernah seperti itu”, katanya pelan.
“Nggak apa-apa kok buu…, nanti juga bisa”, kataku sambil mencabut penisku dari vaginanya yang sangat basah.Kubalik badannya dan kuatur kakinya sehingga posisinya nungging, bu Tus hanya mengikuti kemauanku dan menaruh kepalanya di bantal. Lalu kudekatkan wajahku di dekat vaginanya dan kujulurkan lidahku ke dalam lubang vaginanya dan kupermainkan, sambil kupegang kedua bibir vaginanya, bu Tus hanya menggerakkan pantatnya pelan-pelan. Tetapi setelah bu Tus memalingkan kepalanya dan menengok ke arah bawah serta tahu apa yang kuperbuat, tiba-tiba bu Tus menjatuhkan badannya serta berkata agak keras,“Paakk…, jangaan”, sambil berusaha menarik badanku ke atas.Terpaksa kudekati dia dan sambil kucium bibirnya yang mula-mula ditolaknya, lalu kutanya,“Kenapa…, buu..?
“Paakk…, jangaan…, itu kan kotoor..”, Sambil agak berbisik, segera kutanyakan.
“Buu…, apa ibu belum pernah…, dijilati seperti tadi..?”.
“Beluum.., pernah paak..”, katanya.“Buu…, nggak apa-apa.., kok…, coba deh…, pasti nanti ibu akan nikmat..”, sambil kutelentangkan dan kutelisuri badannya dengan jilatan lidahku.Sesampainya di vaginanya, kulihat tangan bu Tus digunakan untuk menutupi vaginanya, tapi dengan pelan-pelan berhasil kupindahkan tangannya dan segera kuhisap clitorisnyanya yang membuat bu Tus menggelinjang dan mendesah.“Paakk…, jangaann…, aahh…, aduuhh”, tapi kedua tangannya malah diremaskan di kepalaku dan menekannya ke vaginanya.Kelihatannya bu Tus sudah tahu nikmat vaginanya dihisap dan dijilati, sehingga sekarang semakin sering kepalaku ditekan ke vaginanya disertai desahan-desahan halus,“aahh…, sshh…, aahh…, aaccrrhh”, seraya menggerak-gerakkan pinggulnya.Jilatan serta hisapanku ke seluruh vagina bu Tus membuat gerakan pinggulnya semakin cepat dan remasan tangannya di rambutku semakin kuat dan tidak lama kemudian, lagi-lagi kedua kakinya dilingkarkan ke bahuku dan menjepitnya kuat-kuat disertai dengan desahan yang cukup keras“aahh…, aaduuh…, sshh…, aaccrrhh…, paakk…, adduuhh…, aacrrhh.Kulihat bu Tus terdiam lagi dengan nafasnya yang terengah-engah sambil mencoba menarik badanku ke atas dan kuikuti tarikannya itu, sesampainya kepalaku di dekat kepalanya, bu Tus sambil masih terengah-engah mengatakan,“Paakk…, enaak…, sekalii…, paak..,. terima kasiih..”. Pernyataannya itu tidak kutangapi tetapi aku berusaha memasukkan penisku ke dalam vaginanya, dan karena kakinya masih terbuka, maka penisku yang masih sangat tegang itu dapat masuk dengan mudah.Karena nafas bu Tus masih belum normal kembali, aku hanya menciumi wajahnya dan diam menunggu tanpa menggerakkan pinggulku, tetapi dalam keadaan diam seperti ini, terasa sekali penisku terhisap keras oleh vaginanya dan terasa sangat nikmat dan kubilang,“Buu…, ituu…, Buu…, enaakk…, laggii…, buu”, dan mungkin ingin membuatku keenakan, kurasakan sedotannya semakin keras saja dan,
“Buu…, teruuss…, buu…, enaakk.., aaduuh”. Setelah nafasnya kembali normal, lalu kuangkat kedua kaki bu Tus dan kutempatkan di atas bahuku dan bu Tus hanya diam saja mengikuti kemauanku.Dengan posisi begini, terasa penisku semakin dalam menusuk ke vaginanya dan ketika penisku kuhentakkan keluar masuk vaginanya, bu Tus kembali berdesah,“Aahh…, Paakk…, enaakk…, Paakk…, aahh…, sshh”, dan akupun yang sudah hampir mendekati klimaks ikut berdesah,
“aahh…, sshh…, aaccrrhh…, Buu.., aahh”, sambil mempercepat gerakan penisku keluar masuk vaginanya dan ketika aku sudah tidak dapat menahan air maniku segera saja kukatakan,
“Buu…, Buu…, saayaa…, sudah mau keluar…, aahh…, taahaan…, yaa…, Buu..”, dan bu Tus sambil memelukku kuat-kuat, menganggapinya dengan mengatakan,
“Paakk…, ayoo…, cepaatt…, Paakk…”, dan kutekan penisku kuat-kuat menusuk vaginanya sambil berteriak agak keras,
“aahh…, aacrrhh…, bbuu…, aahh..”, Aku sudah tidak memperhatikan lagi apa yang diteriakkan bu Tus dan yang aku dengar dengan nafasnya yang terengah-engah bu Tus menciumi wajahku sambil berkata,
“Teriimaa…, kasiih…, paakk…, saayyaa…, capeek…, sekali.., paakk”. Setelah istirahat sebentar dan nafas kami kembali agak normal, bu Tus mengambil CD-nya dan dibersihkannya penisku hati-hati.Aku segera mengenakan pakaianku dan keluar menuju sungai untuk menemani pak Tus memancing. “Sudah dapat berapa Paak ikannya..”, tanyaku setelah dekat.“ooh…, bapaak…, sudah tidak masuk angin lagi…, paak..?”, dan lanjutnya, “Lumayan paak.., sudah dapat beberapa ekor dan bisa kita bakar nanti malam.Malam harinya setelah makan dengan ikan bakar hasil pancingannya pak Tus, kami berempat hanya ngobrol di dalam rumah dan suasananya betul-betul sepi karena tidak ada TV ataupun radio, yang terdengar hanyalah suara binatang-binatang kecil dan walaupun sudah di dalam rumah tetapi hawanya terasa dingin sekali, maklum saja karena kebun pak Tus berada di kaki bukit.Sambil ngobrol kutanyakan pada Nining,“Aam…, ke mana anaknya..? Kok dari tadi tidak kelihatan”“oohh…, sudah tidur paak”, katanya.Karena suasana yang sepi ini, membuat orang jadi cepat ngantuk dan benar saja tidak lama kemudian Nining pamit mau tidur duluan. Sebetulnya aku juga sudah mengantuk demikian juga kulihat mata bu Tus sudah layu, tetapi karena pak Tus masih bersemangat untuk ngobrol maka obrolan kami lanjutkan bertiga. Tidak lama kemudian, bu Tus juga pamit untuk tidur duluan dan mungkin pak Tus melihatku menguap beberapa kali, lalu pak Tus berkata padaku,“Paak…, lebih baik kita juga nyusul tidur”.
“Betul…, paak, karena hawanya dingin membuat orang cepat mengantuk”, jawabku.
“ooh…, iyaa…, paak.., silakan bapak tidur di kamar yang sebelah depan”, kata pak Tus sambil menunjuk arah kamar dan lanjutnya lagi,
“Maaf…, yaa.., paakk.., rumahnya kecil dan kotor lagi”.
“aahh…, pak Tus…, ini selalu begitu”,jawabku.Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar depan yang ditunjuk oleh pak Tus. Tetapi setelah masuk ke kamar yang ditunjuk oleh pak Tus, aku jadi sangat terkejut karena di kamar itu telah ada penghuninya yang telah tidur terlebih dahulu yaitu Nining dan anaknya. Karena takut salah kamar, aku segera keluar kembali untuk menanyakan kepada pak Tus yang kebetulan baru datang dari arah belakang rumah, lalu segera kutanyakan,“Maaf…, paak…, apa saya tidak masuk kamar yang salah?”, kataku sambil menunjuk kamar dan pak Tus langsung saja menjawab,“Betuul…, paak…, dan maaf kalau Nining dan anaknya tidur di situ…, habis kamarnya hanya dua…, mudah-mudahan mereka tidak mengganggu tidur bapak”, kata pak Tus.
“ooh…, ya sudah kalau begitu paak…, saya hanya takut salah masuk kamar…, oke kalau begitu paak…, selamat malaam”. Aku segera kembali masuk ke kamar dan menguncinya.Dapat kuceritakan kepada para penggemar situs 17Tahun, kamar ini mempunyai hanya satu tempat tidur yang lebar dan Nining serta anaknya tidur disalah satu sisi, tetapi anaknya ditaruh di sebelah pinggir tempat tidur dan dijaga dengan sebuah bantal agar supaya tidak jatuh.Setelah aku ganti pakaianku dengan sarung dan kaos oblong, pelan-pelan aku menaiki tempat tidur agar keduanya tidak terganggu dan aku mencoba memejamkan mataku agar cepat tidur dan tidak mempunyai pikiran macam-macam, apalagi badanku terasa lelah sekali. Baru saja aku akan terlelap, aku terjaga dan kaget karena dadaku tertimpa tangan Nining yang merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Aku jadi penasaran, ini sengaja apa kebetulan tetapi setelah kulirik ternyata nafas Nining sangat teratur sehingga aku yakin kalau Nining memang telah tidur lelap, tetapi kantukku menjadi hilang melihat cara Nining tidur.Mungkin sewaktu tidur tadi dia lupa mengancingkan rok atasnya sehingga agak tersingkap dan belahan dada yang putih terlihat jelas dan rok bawahnya tersingkap sebagian, hingga pahanya yang mulus itu terlihat jelas. Hal ini membuat kantukku hilang sama sekali dan membuat penisku menjadi tegang. Kepingin rasanya memegang badannya, tetapi aku takut kalau dia berteriak dan akan membangunkan seluruh rumah. Setelah kuperhatikan sejenak lalu kugeser tubuhku menjauh sehingga tangannya yang berada di dadaku terjatuh di samping badannya dan kudengar Nining menarik nafas panjang seperti terjaga.Setelah kudiamkan sejenak, seolah mengganti posisi tidur lalu kumiringkan tidurku menghadap ke arahnya dan kujatuhkan tangan kiriku pelan-pelan tepat di atas buah dadanya. Nining tidak bereaksi jadi aku mempunyai kesimpulan kalau dia memang telah tidur nyenyak sekali. Perasaanku semakin tidak menentu apalagi tangan kiriku berada di badannya yang paling empuk, tetapi aku tidak berani berbuat lebih jauh, takut Nining jadi kaget dan berteriak. Aku berpikir harus bagaimana agar Nining tidak kaget, tetapi belum sempat aku menemukan apa yang akan kulakukan, Nining bergerak lagi mengganti posisi tidurnya dan sekarang menghadap ke arahku dan tangan kanannya dipelukkan di pinggangku.Dengan posisi ini, wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku, sehingga nafasnya terasa menyembur ke arahku. Dengan posisi wajahnya yang sudah sangat dekat ini, perasaanku sudah semakin kacau dan penisku juga sudah semakin tegang, lalu tanpa kupikir panjang kulekatkan bibirku pelan-pelan di bibirnya, tetapi tanpa kuduga Nining langsung memelukku erat sambil berbisik,“Paakk..”, dan langsung saja dengan sangat bernafsu mencium bibirku dan tentu saja kesempatan ini tidak kusia-siakan.Sambil berciuman, kupergunakan tangan kiriku untuk mengusap-usap dahi dan rambutnya. Nining sangat aktif dan bernafsu serta melepaskan ciuman di bibir dan mengalihkan ciumannya ke seluruh wajahku dan ketika menciumi di dekat telingaku, dia membisikkan,“Paak…, sshh…, cepaatt…, Paakk…, toloong…, puasiinn…, am.., Paakk..,sshh”, setelah itu dia mengulum telingaku.Setelah aku ada kesempatan mencium telinganya, aku segera mengatakan,“Aamm…, kita pindahkan Dody di bawah…, yaa”, dan Nining langsung saja menjawab,“Yaa…, paak”, dan segera saja aku melepaskan diri dan bangun menyusun batal di bawah dan kutidurkan dody di bawah.Selagi aku sibuk memindahkan Dody, kulihat Nining membuka pakaian dan BH-nya dan hanya tinggal memakai CD berwarna merah muda dan kulihat buah dadanya yang boleh dibilang kecil dan masih tegang, sehingga sulit dipercaya kalau dia sudah pernah kawin dan mempunyai anak. Aku langsung saja melepaskan semua pakaian termasuk CD-ku dan baru saja aku melepas CD-ku,langsung saja aku diterkam oleh Nining dan kembali kami berciuman sambil kubimbing dia ke tempat tidur dan kutidurkan telentang.“Ayoo…, Paak…”, kembali Nining berbisik di telingaku,
“Am…, sudah…, tidak tahaan…, paak”. Nining sepertinya sudah tidak sabar saja, ini barangkali karena dia sudah lama cerai dan tidak ada laki-laki yang menyentuhnya, tetapi permintaannya itu tidak aku turuti.Pelan-pelan kualihkan ciumanku di bibirnya ke payudaranya dan ketika kusentuh payudaranya dengan lidahku, terasa badannya menggelinjang dan terus saja kuhisap-hisap puting susunya yang kecil, sehingga Nining secara tidak sadar mendesah,“Sshh…, aahh…, Paakk.., aduuh…, sshh”,dan seluruh badannya yang berada di bawahku bergerak secara liar.Sambil tetap kijilati dan kuhisap payudaranya, kuturunkan CD-nya dan kupermainkan vaginanya yang sudah basah sekali dan desahannya kembali terdengar,“sshh…, aahh…, ayoo…, paak.., aduuh.., paak”, seperti menyuruhku untuk segera memasukkan penisku ke vaginanya.Aku tidak segera memenuhi permintaannya, karena aku lebih tertarik untuk menghisap vaginanya yang kembung menonjol dan tidak berbulu sama sekali.Segera saja kulepaskan hisapanku di payudaranya dan aku pindahkan badanku diantara kedua kakinya yang telah kulebarkan dahulu dan ketika lidahku kujilatkan di sepanjang belahan bibir vaginanya yang basah dan terasa agak asin, Nining tergelinjang dengan keras dan mengangkat-angkat pantatnya dan kedua tangannya mencengkeram keras di kasur sambil mendesah agak keras,“aahh…, Paakk…, adduuhh.., paak.” Aku teruskan jilatan dan hisapan di seluruh vagina Nining sambil kedua bibir vaginanya kupegangi dan kupermainkan, sehingga gerakan badan Nining semakin menggila dan tangannya sekarang sudah tidak meremas kasur lagi melainkan meremas rambut di kepalaku dan menekan ke vaginanya dan tidak lama kemudian terdengar Nining mengucap,
“Aaduuhh…, adduuh…, Paak…, aahh…, aduuh.., aahh.., paak”, dan badannya menggelepar-gelepar tidak karuan, lalu terdiam dengan nafas terengah-engah, tetapi dengan masih tetap meremasi rambutku.Aku hentikan jilatanku di vaginanya dan merayap keatas lalu kucium dahinya, sedangkan Nining dengan nafasnya yang masih terengah-engah menciumi seluruh wajahku sambil memanggilku,“Paakk…, paak”, entah untuk apa. Ketika nafas Nining sudah mulai agak teratur, lalu kutanya,
“aam.., boleh kumasukkan sekarang.., aam..”, Nining tidak segera menjawab hanya terus menciumi wajahku, tetapi tak lama kemudian terdengar suara pelan di telingaku,
“Paak…, pelaan…, pelaan…, yaa…, Paak”, dan dengan tidak sabar lalu kupegang batang penisku dan kugesek gesekan pada belahan vaginanya dengan sedikit kutekan dan ketika kuanggap pas di lubang vaginanya, segera kutekan pelan-pelan dan Nining sedikit mengeluh,
“Paak…, sakiit…, paak”.Mendengar keluhannya ini, segera kuhentikan tusukan penisku ke vaginanya. Sambil kucium dahinya, kembali ketekan penisku pelan-pelan dan terasa kepala penisku masuk sedikit demi sedikit ke lubang vaginanya dan lagi-lagi terpaksa gerakan penisku kuhentikan, ketika Nining mengeluh,“Adduuh…, paak..”. Setelah kudiamkan sebentar dan Nining tidak mengeluh lagi, kuangkat penisku keluar dari vaginanya dan kembali kutusukkan pelan-pelan, ketika penisku terasa masuk, kulihat wajah Nining hanya mengerenyit sedikit tetapi tidak ada keluhan, sehingga kembali kutusukkan penisku lebih dalam dan,
“Bleess..”, masuk disertai dengan teriakan Nining,
“Aduuh…, paak”, dan tangannya mencengkeram pantatku, terpaksa penisku yang sudah masuk sebagian kutahan dan kudiamkan di tempatnyaTidak lama kemudian, terasa tangan Nining menekan pantatku pelan-pelan dan kembali kutekan penisku sehingga sekarang sudah masuk semua dengan tanpa ada keluhan dari Nining.“Aam…, masih sakiitt..?”, Tanyaku dan Nining hanya menggelengkan kepalanya pelan.Karena Nining sudah tidak merasakan kesakitan lagi, segera saja aku mulai menggerakkan penisku pelan-pelan keluar masuk vaginanya, sedangkan Nining hanya mengelus-eluskan tangannya di punggungku.Makin lama gerakan penisku kupercepat dan Nining mulai ikut menggerakkan pinggulnya sambil bersuara,“aahh…, sshh…, aahh…, aahh…, sshh…, teruus…, Paak”. Aku tidak menuruti permintaannya dan segera kuhentikan gerakan penisku dan kucabut keluar dari vaginanya dan Nining kelihatannya memprotes kelakuanku,
“Paak…, kenapaa..”. Aku tidak menjawab protesnya tetapi kubilang,
“aam…, coba sekarang Nining berbalik dan nungging”.Nining menuruti permintaanku tanpa protes dan setelah kuatur kakinya, secara pelan-pelan kutusukkan penisku ke dalam vaginanya dari belakang dan kutekan agak kuat sehingga membuat Nining berteriak kecil,
“aahh..”, dan segera kugerakkan penisku keluar masuk vaginanya dan Nining bersuara,
“aahh…, oohh…, aah…, ooh…, aahh”, seirama dengan kocokan penisku keluar masuk.Tidak lama kemudian kudengar keluhan Nining,“Paak…, aam…, capeek…, paak”, sambil terus menjatuhkan badannya tengkurap, sehingga penisku jadi lepas dari vaginanya.Langsung badan Nining kubalik telentang dan kembali kutancapkan penisku dengan mudah ke dalam vaginanya yang masih tetap basah dan kuayun keluar masuk, sehingga membuat Nining merasa keenakan dan mendesah,“aahh…, oohh…, sshh…, aahh…, ssh”, demikian juga aku.Setelah beberapa saat, lalu kuhentikan gerakan senjataku dan kubalik badanku sehingga posisi Nining sekarang berada di atas.“aam…, sekarang Nining yang maiin…, yaa…, biar aku juga enaak”, kataku.Mula-mula Nining hanya diam saja, mungkin malu tetapi lama-lama mulai mau menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah sehingga vaginanya menelan penisku sampai habis dan gerakannya semakin lama semakin cepat yang membuatku semakin keenakan,“aahh…, sshh…, aamm.., truus…, aam…, enaak.., aam”, dan Nining hanya mendesah,
“aahh…, oohh…, aahh..”. Karena gerakan Nining semakin cepat, membuatku semakin mendekati klimaks dan segera saja kukatakan,
“Aam…, sshh…, ayoo…, aam…, sayaa…, sudah mau keluaar.., cepaat.., aam”.“Paak…, ayoo.., kita.., sama samaa”, katanya sambil mempercepat gerakan pinggulnya ke atas dan ke bawah dan akhirnya aku sudah nggak kuat menahan air maniku supaya tidak keluar dan,
“Aam…, sekaraang”, kataku cepat sambil kutekan pinggulnya kuat-kuat dan Nining hanya berteriak,
“aahh”, dan terus sama-sama terdiam dengan nafas terengah-engah.Kami berdua lalu tidur dengan penisku tetap masih berada di dalam vaginanya.Pagi harinya, ketika aku makan pagi ditemani oleh bu Tus sendiri dan Pak Tus katanya sedang ke kebun dan Nining sedang menyuapi anaknya di depan, bu Tus bertanya,“Paak…, apa benar…, suami saya…, akan di PHK?”.Aku jadi sangat terkejut dengan pertanyaan itu, karena setahuku belum ada orang lain yang kuberitahu, kecuali pimpinanku dan sekretaris yang kusuruh menyiapkan surat-surat.
“Buu…, lebih baik kita bicarakan dengan Bapak sekalian agar bisa tuntas.’“Ayoo…, kita temui Bapak di kebun’ ajakku.Karena Pak Tus sudah tahu dan mungkin dari sekretaris kantor, lalu aku terangkan semuanya dan apa yang menjadi pertimbanganku dan yang lebih penting soal pesangonnya yang spesial dan cukup besar.Pada mulanya, di wajah Pak Tus kulihat ada perasaan kurang senang, tetapi setelah kuberikan penjelasan dan kuberitahu besar uang pesangonnya, Pak Tus dengan wajah berseri malah berbalik bertanya,“Paak…, kapan uang pesangonnya bisa diambil…, saya mau gunakan untuk kebun saya ini dan ditabung”.Aku jadi lega bisa menyelesaikan masalah ini dan sekaligus dapat vaginanya bu Tus dan Nining.Siangnya kami kembali ke Indramayu dan sesampainya di rumah mereka, Pak Tus mengatakan,“Paak…, jangan kapok…, ya paak”, dan kujawab,
“Paak…, pokoknya kalau Pak Tus ajak lagi…, saya akan ikut”, sambil aku melihat bu Tus yang tersenyum penuh arti.Pada hari Senin pagi kupanggil Sri sekretaris kantor yang pernah kusuruh mempersiapkan surat berhenti untuk pegawai-pegawai yang telah kupilih.Setelah Sri menghadap di kantorku, kumarahi dan kudamprat dia habis-habisan karena tidak bisa menjaga rahasia.Kuperhatikan wajah Sri yang ketakutan sambil menangis, tetapi apa peduliku dan saking kesalku, kusuruh dia untuk pulang dan memikirkan apa yang telah dilakukannya.Aku lalu meneruskan pekerjaanku tanpa memikirkan hal tadi.Malam harinya, dengan hanya mengenakan kaos singlet dan sarung, aku duduk di ruang tamu sambil melihat acara sinetron di salah satu stasion TV, tiba-tiba kudengar ada orang mengetuk pintu rumahku yang sudah kukunci.Aneh juga, selama ini belum ada tamu yang datang ke rumahku malam-mala, aku jadi sedikit curiga siapa tahu ada orang yang kurang baik, maklum saja di masa krisis seperti sekarang ini, tetapi ketika kuintip ternyata yang di depan adalah Sri.Hatiku yang tadinya sudah melupakan kejadian tadi siang, mendadak jadi dongkol kembali dan sambil kubukakan pintu, kutanya dia dengan nada dongkol,“Ngapain malam-malam ke sini”. Sri tidak menjawab tapi malah bertanya,
“Paak…, boleh saya masuk?“Yaa…, sana duduk”, kataku dengan dongkol, sambil menutup pintu rumah.Sri segera duduk di sofa panjang dan terus menangis tanpa mengeluarkan kata-kata apapun.Aku diamkan saja dia menangis dan aku segera duduk di sampingnya tanpa peduli.Lama juga aku menunggu dia menangis dan ketika tangisnya agak mereda, dengan tanpa melihat ke arahku dan diantara suara senggukan tangisnya, Sri akhirnya berkata dengan nada penuh iba,“Paak…, maafkan Srii…, paak, saya mengaku salah…, paak dan tidak akan mengulangi lagi”, dan terus menangis lagi, mungkin karena tidak ada jawaban dariku.Lama sekali si Sri menangis sambil menutup mukanya dengan sapu tangan yang sudah terlihat basah oleh air matanya, lama-lama aku menjadi tidak tega mendengar tangisannya yang belum juga mereda, lalu kugeser dudukku mendekati Sri dan kuraih kepalanya dengan tangan kiriku dan kusandarkan di bahuku.Ketika kuusap-usap kepalanya sambil kukatakan,“Srii…, sudaah…, jangan menangis lagi…, Srii”, Sri bukannya berhenti menangis, tetapi tangisnya semakin keras dan memeluk pinggangku serta menjatuhkan kepalanya tepat di antara kedua pahaku.Dengan keadaan seperti ini dan apalagi kepala Sri tepat ada di dekat penisku yang tertutup dengan sarung, tentu saja membuat penisku pelan-pelan menjadi berdiri dan sambil kuusap punggungnya dengan tangan kiriku dan kepalanya dengan tangan kananku lalu kukatakan,“Srii…, sudah…, laah…, jangan menangis lagi”.Setelah tangisnya mereda, perlahan-lahan Sri menengadahkan kepalanya seraya berkata dengan isaknya,
“Paak…, maafkan…, srii…, yaa”, sambil kucium keningnya lalu kukatakan,
“Srii…, sudah.., laah…, saya maafkan…, dan mudah-mudahan tidak akan terulang lagi”. Mendengar jawabanku itu, Sri seperti kesenangan langsung memelukku dan menciumi wajahku berulangkali serta mengatakan dengan riang walaupun dengan matanya yang masih basah,
“Terima kasiih…, paak…, terima kasiih”, lalu memelukku erat-erat sampai aku sulit bernafas.
“Sudah.., laah…, Sri”, kataku sambil mencoba melepaskan pelukannya dan kulanjutkan kata-kataku.
“Gara-gara kamu nangis tadi…, aku jadi susah…”.
“Ada apa paak”, tanyanya sambil memandangku dengan wajah yang penuh kekuatiran.Sambil kurangkul lalu kukatakan pelan di dekat telinganya,“Srii…, itu lhoo…, gara-gara kamu nangis di pangkuanku tadi…, adikku yang tadi tidur…, sekarang jadi bangun”, kataku memancing dan mendengar jawabanku itu, Sri mencubit pinggangku dan berguman,
“iihh…, bapaak”, dan sambil mencium pipiku kudengar Sri agak berbisik di dekat telingaku,
“Paak…, Sri…, suruh…, tiduur…, yaa?”, seraya tangannya menyingkap sarungku ke atas dan menurunkan CD-ku sedikit sehingga penisku yang sudah tegang dari tadi tersembul keluar dan dengan dorongan tanganku sedikit, kepala Sri menunduk mendekati penisku serta,
“Huup..”, penisku hilang setengahnya tertelan oleh mulutnya.Sri segera menggerakkan kelapanya naik turun serta terasa lidahnya dipermainkan di kepala penisku sehingga membuatku seperti terbang di awang-awang,“Sshh…, aahh…, oohh.., Srii…, sshh…, aahh”, desahku keenakan tanpa sadar.“Srii…, lepas sebentaar…, Srii…, saya mau lepas sarung dan CD-ku dulu..”, kataku sambil sedikit menarik kepalanya dan setelah keduanya terlepas, kembali Sri melahap penisku sambil tangannya sekarang mempermainkan buahku dan aku gunakan tanganku untuk meremas-remas payudara Sri dan sekaligus mencari serta membuka kancing bajunya.Setelah baju atas Sri berhasil kulepas dari tubuhnya, maka sambil kuciumi punggungnya yang bersih dan mulus, aku juga melepas kaitan BH-nya dan kulepas juga dari tubuhnya. Sementara Sri masih menggerakkan kepalanya naik turun, aku segera meremas-remas payudaranya serta kucium dan kujilati punggungnya, sehingga badan Sri bergerak-gerak entah menahan geli atau keenakan, tetapi dari mulutnya yang masih tersumpal oleh penisku terdengar suara,“Hhmm…, hhmm…, hhmm”.Dalam posisi seperti ini, aku tidak bisa berbuat banyak untuk membuat nikmat Sri, segera saja kukatakan,
” Srii…, sudah duluu…”, sambil menarik kepalanya dan Sri lalu kupeluk serta berciuman, sedang nafasnya Sri sudah menjadi lebih cepat.“Srii…, kita pindah ke kamar…, yaa”, kataku sambil mengangkat Sri berdiri tanpa menunggu persetujuannya dan Sri mengikuti saja tarikanku dan sambil kurangkul kuajak dia menuju kamarku lalu langsung saja kutidurkan telentang di tempat tidurku.Segera kulepas singletku sehingga aku sudah telanjang bulat dan kunaiki badannya serta langsung kucium dan kujilati payudaranya yang terasa sudah lembek.Tapi…, ah.., cuek saja.Sambil terus kujilati kedua payudara Sri bergantian yang makin lama sepertinya membuat Sri semakin naik nafsunya, aku juga sedang berusaha melepas kaitan dan ritsluiting yang ada di rok nya Sri.Sementara aku menarik roknya turun lalu menarik turun CD-nya juga, Sri sepertinya sudah tidak sabar lagi dan terus mendesah,“Paak…, paak…, ayoo…, paak…, cepaat…, paak…, masukiin…, sshh”, dan setelah aku berhasil melepas CD dari tubuhnya, segera saja Sri melebarkan kakinya serta berusaha menarik tubuhku ke atas seraya masih tetap berguman,
“Paak…, ayoo…, cepaat.., Srii…, aah…, sudah nggak tahaan…, paak”. Aku turuti tarikannya dan Sri seperti sudah tidak sabar lagi, segera bibirku dilumatnya dan tangan kirinya berhasil memegang penisku dan dibimbingnya ke aah vaginanya.
“Srii…, aku masukin sekarang…, yaa”, tanyaku minta izin dan Sri cepat menjawab,
“Paak…, cepaat…, paak”, dan segera saja kutekan penisku serta,
“Blees..”, disertai teriakan ringan Sri,”aahh..”, masuk sudah penisku dengan mudah ke dalam vaginanya Sri.Sri yang sepertinya sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, mendekap diriku kuat-kuat dan menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan kuimbangi dengan menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya disertai bunyi“Ccrreet…, creet.., crreet”, dari vaginanya mungkin sudah sangat basah dan dari mulutnya terdengar,
“oohh…, aahh…, sshh…, paak…, aah”.Gerakan penisku kupercepat sehingga tak lama kemudian gerakan badan Sri semakin liar saja dan berteriak,
“Adduuh…, paak…, aahh…, oohh…, aduuhh…, paak…, aduuhh…, paak”, sambil mempererat dekapannya di tubuhku dan merangkulkan kedua kakinya kuat-kuat di punggungku sehingga aku kesulitan untuk bergerak dan tak lama kemudian terkapar dan melepas pelukannya dan rangkuman kakinya dengan nafasnya yang memburu.Aku agak sedikit kecewa dengan sudahnya Sri, padahal aku juga sebetulnya sudah mendekati puncak, hal ini membuat nafsuku sedikit surut dan kuhentikan gerakan penisku keluar masuk.“Srii…, kenapa nggaak bilang-bilang…, kalau mau keluar”, tanyaku sedikit kecewa.
“Paakk.., jawab Sri dengan masih terengah engah,
“Sri…, sudah nggak…, tahaan…, paak..” Agar Sri tidak mengetahui kekecewaanku dan untuk menaikkan kembali nafsuku, aku ciumi seluruh wajahnya, sedangkan penisku tetap kudiamkan di dalam vaginanya.eeh, tidak terlalu lama terasa penisku seperti terhisap dan tersedot-sedot di dalam vaginanya.“Srii…, teruus…, Srii…, enaak…, teruuss…, Srii”, dan membuatku secara tidak sadar mulai menggerakkan penisku kembali keluar masuk, dan Sri pun mulai menggerakkan pinggulnya kembali.Aku semakin cepat mengerakkan penisku keluar masuk sehingga kembali terdengar bunyi,
“Ccrroot…, crreet…, ccrroot…, creet”, dari arah vaginanya.
“Srii…, Srii…, ayoo…, cepaat…, Srii”, dan seruanku ditanggapi oleh Sri.
“Paak…, iyaa…, paak…, ayoo”, sambil mempercepat gerakan pinggulnya.
“aahh…, sshh…, Ssrrii…, ayoo…, Srrii.., saya.., sudah dekaat srii.”
“Ayoo…, paak…, cepaatt…, sshh…, paak” Aku sudah tidak bisa menahan lagi dan sambil mempercepat gerakanku, aku berteriak
“Srrii…, ayoo…, Srrii…, sekaraang”, sambil kutusukan penisku kuat-kuat ke dalam vaginanya Sri dan ditanggapi oleh Sri.
“Paak…, ayoo…, aduuh…, aah…, paak”, sambil kembali melingkarkan kedua kakinya di punggungku kuat-kuat.Setelah beristirahat cukup lama sambil tetap berpelukan dan penisku tetap di dalam vaginanya, segera aku ajak Sri untuk mandi, lalu kuantar dia pulang dengan kendaraanku.Minggu depannya, aku berhasil melaksanakan PHK tanpa ada masalah, tetapi beberapa hari kemudian setelah pegawai-pegawai yang tersisa mengetahui besarnya uang pesangon yang diberikan kepada 5 orang ter-PHK, mereka mendatangiku untuk minta di-PHK juga. Tentu saja permintaan ini tidak dapat dipenuhi oleh pimpinanku.Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Pasutri.
-

Video Bokep Ui Kinari toket gede main main di jendela

-

Video Bokep Eropa mengerjai pacar bersama ibuku saat lagi main billiar

-

Foto Ngentot anal Kacy Lane dikamarnya

Duniabola99.com – foto cewek ngentot Kacy Lane sampe becek oleh pria yang gak dia kenal dirumahnya saat bangun tidur dan mendapatkan banyak sperma di mukanya. Starbet99
-

Video Bokep Karina Grand memijiti kontol gede lalu masuk kememeknya

-

Kisah Memek Mumpung Rumah Sepi

Duniabola99.com – Kisah ini terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari dan berlangsung sampai saat ini. Katakanlah ini kisah nyata, walau tempat, hari dan tanggal, nama serta isi cerita sedikit berbeda dengan kenyataannya.
Saya Robby, pria berusia 34 tahun (saat ini), seorang pengusaha yang berkantor di Bandung, usaha saya berjalan dengan baik dan tidak terkena imbas krisis moneter. Wajah dan perawakan saya tergolong keren, tinggi besar, dada bidang, badan atletis, dan berlibido tinggi.
Singkat cerita, yaitu empat tahun yang lalu tepatnya di usiaku 30 tahun, aku terpikat dan jatuh cinta dengan seorang janda yang telah memiliki 3 anak, yang saat ini menjadi istri pertamaku. Siska nama janda itu, usianya lebih tua dariku 8 tahun, keturunan Sunda Belanda. Walau lebih tua dariku namun bila disandingkan dengan wanita seusiaku penampilannya tidak kalah, bahkan sulit untuk dibedakan mana yang tua dan mana yang lebih muda.Saat ini ketiga anaknya yaitu anakku juga (anak tiri), yang paling besar Mona, mahasiswa semester 4 di PTS swasta, adiknya Mira kuliah di Akademi sekretaris, semester satu, dan yang paling kecil Mia masih duduk di kelas 3 SMU. Ketiganya sangat dekat denganku, manja dan cantik-cantik, putih dan segar, karena mereka tergolong anak-anak yang rajin merawat tubuh seperti mamanya.
Satu tahun belakangan ini aku sering memperhatikan pertumbuhan dan perubahan tubuh mereka, mulai dari kulitnya sampai dengan buah dada mereka yang ranum. Dan sejak itu pula sering tersirat di benakku untuk menikmati tubuh yang indah-indah itu. Sudah pasti cara menikmatinya yaitu dengan memandangi, memegang, menjilati dan merasakan sentuhan batang kelaminku di semua kulitnya.
Kalau keinginan memandang sudah sering kudapati, seperti kalau sedang duduk bersama satu keluarga atau kalau sedang bercanda, sering kulihat pangkal paha mereka, bahkan pemandangan sekilas tubuh mereka tanpa busana pun pernah kulihat, tapi itu kan hanya sekilas, sedangkan kenikmatan yang kuinginkan adalah memandanginya tanpa putus. Pokoknya aku ingin merasakan ketiganya, gilakan… Itu semua memang ketiganya sangat menggairahkan birahi kelaki-lakianku. Fontana99
Kesempatan pertama tiba juga, yaitu pada waktu acara perkawinan emas mertuaku di Cimahi, semuanya kami diundang untuk pesta acara tersebut, pesta diadakan satu malam suntuk dimulai dari jam 7 malam. Waktu itu aku tidak dapat hadir lebih awal, karena harus bertemu tamu bisnisku dari Eropa, sehingga kuputuskan untuk menyusul saja.
Sekitar pukul 6 sore, Siska istriku menghubungiku di HP, pesannya bahwa sebelum berangkat aku mampir ke rumah dulu untuk jemput Mia, karena Mia juga pulangnya telat karena ada pertandingan basket di Sekolahannya. Sedangkan istriku berangkat terlebih dahulu dengan Mona dan Mira kakaknya Mia.Jam 7.40 malam aku tiba di rumah, mobil kuparkir di halaman, tidak langsung kumasukkan ke garasi, karena memang aku akan keluar lagi.
“Non Mia sudah pulang mang Udin..?” tanyaku kepada pembantu rumah kami.
“Sudah Tuan, barusan saja..,” jawab Mang Udin singkat sambil menutup pintu mobil.
Aku langsung berjalan menuju teras rumah dan ruang tamu. Setibanya di ruang tamu kutemui Mia sedang berbaring di sofa sambil memijit-mijit bahu kanannya.Mia berbaring telentang dengan pakaian basket yang seksi, celana strite basketnya yang ketat membentuk bayangan gundukan di antara pangkal paha yang putih itu, dan kaos basket yang basah lusuh juga membentuk dua buah dadanya mumbul ke atas. Posisinya yang telentang membuatku terperanjat dan menghentikan langkahku.
“Mia.., kok kamu belum rapi sayang..?” sapaku halus penuh dengan kemanjaan.Yang satu ini memang lain, maklum yang paling kecil jadi sangat manja denganku. Dia sering berlendotan denganku, bahkan tidak perduli bila pada saat bercanda, buah dadanya sering tersentuh dengan tanganku, sebaliknya tanggannya secara tidak sengaja kadang menyentuh kejantananku.
“Ayo buruan, nanti kita telat sayang..” lanjutku sambil berlalu menuju ke kamar.
“Mia tidak ikutan aja ya.. Pa..,” jawabnyanya manja pula.
Langkahku terhenti dan berbalik ke arahnya yang sudah tidak terlihat karena terhalang sandaran sofa.
“Memangnya kamu kenapa sayang..?”Kutanya dan kuhampiri anak tiriku itu sambil berlutut di samping wajahnya di depan sofa dengan kedua siku tangganku kuletakkan di busa dudukan sofa, dan kedua telapak tanganku menopang dagu, persis seperti orang sedang melamun. Pada posisi ini wajahku dengan gundukan dadanya sangat dekat, lebih kurang satu jengkal, sedang dengan wajahnya lebih kurang dua jengkal. Aroma keringat bercampur wangi parfumnya bercampur membangkitkan nafsuku.
“Kenapa.., kamu kecapean..?” tanyaku lagi dengan pelan, sambil mengusap rambutnya dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku tetap menompang pada dagu.“Ini Pa.., bahu Mia keseleo, tadi terjatuh pada saat bertanding..,” lapornya sambil memiringkan badannya ke kiri menghadapku, yang maksudnya ingin menunjukkan bahu yang sakit itu. Tanganku yang kiri yang sedang menompang dagu menempel rapat dengan kedua dadanya pada saat Mia memiringkan badan tadi. Jantungku langsung berdebar, dan batang kemaluanku terasa perlahan bergerak membesar.
Kubiarkan terus tangan kiriku menempel sambil kuperiksa bahu kanan yang katanya sakit tadi dengan tangan kananku membuka sedikit lingkaran t-shirt Mia. Terlihat jelas di depan mataku bulu roma yang halus di sekitar lehernya dan pundak yang putih mulus, kupijit-pijit halus sambil kuelus lembut bahunya. Hatiku berkata tercapai sedikit keinginanku.
“Ah.., ini tidak terlalu parah sayang..,”
“Tapi sakit Pa..,” jawabnya cepat.
“Bukannya ini alasan kamu saja untuk tidak ke pesta Oma..” sanggahku, “Kamu jangan bohong, Papa kan tahu, Papa ini guru karate..”
“Benar Pa.., sakit..” jawabnya meyakinkan.
Pembicaraan singkat ini berlangsung terus sambil tanggan kananku memijat lembut bahunya, dan sekali-sekali mengelus sampai ke punggungnya. Tidak ketinggalan beberapa kali kuciumi pipi kanannya. Soal ciuman pipi sudah tradisi di keluargaku, tapi ciuman ini aku bedakan, ciuman kudekatkan ke telinganya, sehingga terkadang Mia terasa geli. Batang kemaluanku sudah semakin mengeras, pikiranku semakin ngeres, dan kuputuskan kesempatan ini untuk tidak kusia-siakan mencapai keinginanku. Mumpung di rumah tidak ada siapa-siapa, jarang suasana ini terjadi.
“Ayo sudah, sekarang sudah sembuh, cepat salin sana..” tegasku dengan gaya kebapakan sambil kucium pipinya.
Aku bangun dan beranjak ke kamar, seolah tanpa memperdulikannya. Kutahu Mia masih tiduran di Sofa sambil malas-malasan. Sambil menuju kamar, kususun rencana jitu untuk menikmati tubuh Mia. Sambil jalan menuju kamar melewati meja telepon, kucabut kabelnya, agar saat aku bereaksi nanti tidak terganggu dengan dering telepon.
Setibanya di kamar, aku langsung melepas baju kerjaku, tidak lupa kaos dalam dan CD-ku. Sekelibat kusambar kimono yang tergantung di belakang pintu kamar, kubalut tubuhku yang ateletis ini dengan kimono, sehingga saat aku bereaksi nanti sudah tidak merepotkan lagi. Segera kumulai niatku dengan memanggil Mia yang masih di sofa tamu.“Mia.., sini Papa benerin ototmu yang keseleo..” panggilku.
“Kamu tidak boleh tidak datang di acara Oma..” kutegaskan tanpa menunggu jawaban dari luar kamar.
Kudengar suara langkah diseret dari arah ruang tamu, sudah pasti itu Mia, dan kuberkata dalam hati, “Tehnik pertama berhasil, yaitu membawa Mia masuk ke dalam kamar.”
Kudengar suara pintu terbuka, aku pura-pura tidak memperhatikan siapa yang masuk dan sudah pasti Mia, dan aku pura-pura sibuk dengan mencari baju di lemari pakaian. Mia masuk dan duduk di tepi ranjangku, dan segera tidur telentang sambil kedua kakinya masih menyentuh lantai. Aku dapat melihatnya dari kaca lemari pakaianku. Keadaan ini hapir membuatku tidak sabar dan gegabah memainkan peranku.Langkahku mantap bergerak ke sebelah lemari pakaian menuju meja hias yang di atasnya terdapat tumpukan perlengkapan make-up istriku. Kusambar hand body yang ada di situ, dan berbalik menuju ke tempat tidur yang di situ Mia masih terbaring telentang menantang. Kudekati gadis mungil dan montok ini, sambil mengeplak samping pantatnya kuperintahkan dia naik tengah tempat tidur.
“Sekarang Mia duduk bersila..” perintahku lembut.
Dia menuruti perintahku dengan malas-malasan bangun dari telentang dan naik ke tengah tempat tidur, duduk bersila menghadap ke dinding kamar mandi yang ada di sisi kanan tempat tidurku. Aku duduk berlutut tepat di belakangnya, dan kutarik ujung t-shirt-nya dengan kedua tanganku ke atas perlahan-lahan dengan maksud ingin membukanya.
Sesampainya di kedua ketiak Mia, tiba-tiba ia berkata sambil mengepit ketiaknya.
“Kok dibuka Pa..?”“Lah ia dong sayang.., kalau tidak bagaimana Papa mengurutnya..?” jawabku.
“Kalau Mia malu, tutupi saja bagian depan tubuh Mia dengan t-shirt..”
Tanpa menunggu jawaban Mia, kuteruskan rencana kedua ini, dan ternyata dia tidak menolak seperti sebelumnya tadi. Benar t-shirtnya ditutupi ke bagian depan tubuhnya, dengan kedua tangannya menempel ke atas payudaranya menahan t-shirt. Terlihat jelas punggung yang mulus, putih tanpa sedikit bercak pun, beberapa detik kuperhatikan dan selanjutnya kuberkata.
“Sebentar Papa matikan lampu, biar Mia tidak malu..”
Aku langsung saja melompat ke arah saklar lampu, “Tik..!, lampu kamar mati, yang tinggal hanya lampu ranjang kiri dan kanan, serta lampu meja hias. Sengaja aku lakukan ini untuk membuat suasana romantis. Aku kembali lagi ke posisi semula, yaitu berlutut di belakangnya. Aku mulai dengan mengurut pundaknya. Kuoleskan hand body yang memang sudah kupersiapkan. Kulakukan pijatan sebagaimana mestinya, aku sedikit mengerti mengurut orang keseleo, karena dulu kupelajari pada saat aku belajar ilmu bela diri.
Pijatanku membuat Mia terkadang meringsis dan mengeluarkan suara rintih kesakitan. Otot-otot pundak sudah selesai aku benarkan, sekarang aku beralih ke pangkal tanggannya, kubenarkan otot yang keseleo, tangan kananku mengurut pangkal lengan yang atas dan tangan kiriku menahan dada atasnya tepat di atas buah dada yang menonjol. Posisiku sudah agak tegak, dan karena aku harus menarik ototnya dari mulai dada atas, maka terpaksa tangan Mia yang kanan sedari tadi memegang t-shirt terpaksa dilepas. Terlihat gundukan buah kanannya menonjol dari balik BH yang berukuran 32.
Kemaluanku berdiri semakin keras di balik kimono, dan melongok keluar di antara belahan kimono yang kupakai hampir menyentuh punggung belakang Mia. Mataku terus memperhatikan gundukan buah dada Mia, daya kontrolku hampir hilang dikarenakan nafsu yang sudah mulai bergolak. Untung saja aku tersadar dengan rintihan suara Mia yang kesakitan.“Aduh Pa.., sakit..!” rintihnya.
“Pelan-pelan dong Pa…” pintanya lagi.
Aku terkejut dengan suara tadi, dan langsung kunetralisir.
“Kalau mau tidak sakit, itu namanya dielus-elus bukan diurut..” sanggahku, “Nanti kalau Mia mau setelah semua otot yang keseleo bener, baru Oapa elus-elus..” kataku lagi.
“Idih Papa jorok..,” sambutnya malu.
Aku teruskan mengurut bagian pangkal tangannya, sekarang melingkar ke pergelangan pangkal tangannya, dan dengan gaya professional, kusisipkan telapak tangan kananku di bawah ketiak kanan Mia, sambil sebentar-sebentar menyentuh samping atas buah dadanya yang kanan juga. Bagian tangan sudah cukup kurasa karena sedari tadi sambil kuurut sambil menyentuh bagian atas buah dada anak tiriku ini. Dia diam saja tanpa komentar apapun, dan yang kutahu dia merasakan sedikit kenikmatan.
Gerakanku berpindah ke leher belakangnya dengan kedua telapak tangan kuurut dari atas menuju ke dua pundak atasnya dengan lembut. Gerakan ini berlangsung 5 menit. Tanpa ada protes dari Mia, suasana hening masing-masing dari kami menikmati apa yang terjadi, yang jelas aku terus mengatur siasat dengan jitu, tapi yang kutahu Mia diam sambil memejamkan mata. Pijitan lembutku sekarang kupindahkan ke bagian punggung belakang Mia. Perlahan kubuka pengait tali BH-nya yang melintang di punggung. Tidak ada reaksi menolak, misi berjalan dengan sempurna.
Kutelusuri kedua telapak tangan ini dari atas sampai ke panggal pinggangnya berulang kali, terkadang dari atas ke bawah. Sedikit demi sedikit posisi telapak tangan kurubah seperti seolah-olah aku sedang memegang sebuah benda bulat dengan kedua jempol tanganku berada di punggungnya, dan keempat jari kanan dan kiriku berada di samping tulang rusuk Mia. Sesekali kusentuh bagian samping buah dadanya secara bergantian antara yang kiri dan yang kanan, terasa masih sangat kencang dan mumbul. Posisi dudukku sekarang sudah agak merendah, tidak lagi tegak seperti tadi. Kuberanikan diri sekarang menyentuh hampir seluruh bagian samping buah dada Mia dengan pelan dan lembut, tidak ada sanggahan, Mia semakin menikmati.
Suasana remang dan hening yang terdengar hanya suara motor fan AC yang sejuk menambah kenikmatan Mia. Kalau diperhatikan oleh yang professional, kegiatan sekarang bukanlah kegiatan mengurut yang keseleo, tapi kegiatan mengelus sebagaimana yang kujanjikan pada Mia tadi. Kegiatan telapak tanganku sekarang sudah mulai berani menyentuh semua bagian samping buah dada Mia yang memang bagian depannya masih tertutup oleh BH yang baru telepas pengait bagian belakang, sedangkan kedua tali yang di pundak masih menempel.Perlahan kunaikkan keempat ujung jariku ke bagian atas buah dada yang ranum itu, kedua tangganku masuk di antara kedua tangan Mia, dan jari-jariku, kiri dan kanan tidak termasuk jempol, masuk menelusuri bawah tali BH. Mia diam seribu bahasa, tanpa berkomentar dan bersuara, namun satu reaksi yang menggembirakanku yang membuktikan misiku berjalan mulus ialah, posisi duduk Mia tidak bersila lagi, perlahan digerakkan kakinya lurus ke depan dan saling bertindih, itu pertanda Mia sudah mulai terangsang.
Dengan posisi tadi tentu saja ketahanan tubuhnya tidak ada, sehingga secara tidak sadar Mia telah bersandar di dadaku. Untung saja posisiku masih berlutut, sehingga si batang ganas yang sudah mengamuk ini tidak menyentuh punggung Mia yang sedari tadi tidak berbusana. Kepala Mia sekarang bersandar di dada atasku, mata terpejam, bibirnya yang merah tertutup rapat, kedua tanggannya lunglai di samping. Entah apa yang sedang dipikirkannya, apakah menikmati permainan jariku di sekeliling buah dadanya atau tertidur karena kelelahan bertanding basket tadi. Aku tidak perduli semua itu.
Sementara Mia bersandar di dadaku, jariku terus bermain di sekeliling buah dada Mia, sambil kuperhatikan gundukan kemaluan Mia yang masih tertutup celana karet ketat, dan kuberpikir bahwa sebentar lagi aku akan menjilatinya. Bim Sala Bim, kuberanikan sekarang kedua telapak tanganku menelusuri ke dalam penutup BH Mia. Perlahan ujung jariku menyentuh samping puting susu Mia, dan tidak ada masalah, semua berjalan mulus. Dengan lembut kujalankan telapak tanganku menutupi kedua buah dada Mia dari belakang, buah dadanya yang kiri kututupi dengan telapak tanganku yang kiri, dan yang kanan dengan telapak tanganku yang kanan, posisiku seolah-olah sedang memeluk dari belakang.
Jantungku semakin berdebar, hanya baru dapat kubayangkan bahwa besarnya buah dada Mia sebesar telapak tanganku, keras dan menempel tegak karena memang masih tertutup BH-nya. Tidak ada penolakan ,dan aku semakin bergairah, perlahan kutempelkan pipiku di pipinya, lembut kucium pipinya, ujung atas daun telinganya, dan jari telunjukku sekarang sudah mulai bermain dengan kedua putting susu Mia.
Kulihat kakinya makin mengejang, sehingga dapat kupastikan dia tidak tertidur tapi sedang menikmati permainanku. Kulihat juga sekali-sekali Mia menggigit bibir bawahnya nan merah itu. Ingin rasanya aku melumatnya. Tapi nantilah ada masanya. Perlahan tangan kiriku keluar dari sarung BH Mia yang sedari tadi asyik bermain dengan puting susu kiri Mia, sementara jari kiriku masih tetap asyik dengan puting kanan Mia. Tugas tangan kiriku sekarang ialah melorotkan tali BH yang sebelah kiri, dan sekarang telah jatuh ke bawah, tugasnya selesai dan kembali lagi dengan permainan puting susu tadi, tapi tidak lagi masuk melalui bawah ketek Mia, datangnya sekarang dari arah atas.Bergantian tugas dengan tangan kiri, si tangan kananku juga melakukan tugas yang sama dan kembali lagi dengan kegiatan semula, yaitu bermain dengan puting susu Mia persis seperti yang kiri, yakni dari atas. Lebih leluasa lagi aku bereaksi, dengan lembut kuturunkan semua penutup BH Mia dari atas ke bawah, seolah-olah takut Mia terbangun. Dan setelah BH Mia terlepas dari posisinya, terlihat jelas buah dada yang masih muda, ranum, keras dan menonjol ke depan dengan puting susu yang asyik kumainkan tadi, rupanya kecil berwarna merah dan sangat menggairahkan.
Kuelus-elus lembut sambil kucium leher Mia, dan dia hanya bersuara, “Ahk.., ahk..” sambil mengencangkan lipatan kakinya. Kupindahkan kedua telapak tanganku ke bagian belakang pundak Mia dan kutahan serta kubimbing pelan-pelan Mia untuk berbaring telentang. Kuperhatikan Mia masih terpejam dengan posisi telentang saat ini. Sementara posisiku masih di belakangnya, atau berada di ujung kepalanya.
Indah sekali tubuh ini gumamku dalam hati, dada mumbul, pinggang kecil dan vagina membukit. Tanganku masih bermain di sekeliling buah dada Mia. Kubungkukkan badanku dengan mendekati wajahku ke buah dada Mia, sehingga posisi perutku tepat berada di atas wajah Mia yang sedang memejamkan mata tadi, akau masih mengenakan kimono. Kutempelkan wajah ke buah dada Mia yang kiri dan kanan bergantian. Dan kukecup di antara kedua belah dada Mia, lembut kugerakkan ke arah puting kiri, lidahku menjulur dan berputar-putar, bergantian dengan puting sebelah kanan.
Mia mulai bersuara lagi seperti tadi mengerang nikmat, tapi hanya sekali. Tidak kusangka Mia benar-benar menikmati. Entah obsesi apa yang membuat dia begini, yang pasti aku berhasil menikmati tubuh yang sudah lama kuangan-angankan. Ciuman demi ciuman kulakukan terus di kedua buah dada Mia, rasanya tidak puas-puasnya. Batang kemaluanku sudah menonjol keluar di antara komonoku, keras dan besar, karena posisiku di atas Mia dengan berlawanan arah maka tidak terlihat oleh Mia batang yang sedari tadi mengintip keluar.Sambil tetap menciumi dada yang mumbul itu, tanganku mulai meluncur ke bagian bawah tubuh Mia, lembut kutempelkan di atas gundukan vagina yang sedang dijepit kedua paha yang berlipat sedari tadi. Sedikit demi sedikit kumiringkan telapak tanganku memasuki jepitan paha Mia. Dia sedikit berontak, tapi diam lagi, ahk.., mungkin kaget kurasa. Terasa jepitan pahanya mulai mengendor, dan perlahan kaki Mia mulai merenggang, dan dengan bantuan kedua tanganku, kulebarkan belahan kakinya.
Kini jari-jariku leluasa bermain di atas gundukan yang masih terbalut celana karet ketat ini. Jari tengah kanan kugosok naik turun di antara belahan vagina Mia. Suaranya sekarang mulai banyak terdengar, sudah tentu suara mengerang, nafasnya juga sudah mulai tidak beraturan, ini dapat kudengar dari hembusan udara yang keluar dari hidungnya menerpa daguku.
Tanganku kutarik ke atas perut Mia, perlahan kedua tanganku masuk ke dalam celananya. Dan sekarang sudah kurasakan bulu-bulu lembut yang tumbuh di atas gundukan tadi. Kuteruskan gerakan tanganku, tapi tidak langsung menuju vagina Mia. Kuarahkan sedikit ke samping di antara kedua pangkal pahanya sambil sedikit-sedikit menyentuh bibir vagina yang masih keras itu. Kupindahkan telapak tanganku menutupi vaginanya, dan kutarik ke atas sedikit, sehingga jari tengah tanganku berada pas di belahan vagina Mia.
Dia tersentak dan berkata, “Pa..,”
Selanjutnya diam, aku terus bermain dengan jariku sambil mencium buah dadanya.
Kesabaranku hilang. Kukeluarkan tanganku dari celana Mia, dan dengan lembut kuturunkan celana berikut CD Mia sekaligus ke bawah, namun baru sampai di posisi dengkul Mia berontak dan menekuk kakinya seraya berkata, “Papa.., Jangan Pa.., Sudah Pa..,” pintanya merintih.
Aku tidak menjawab, tanganku masih memegang celana dan CD-nya, tapi gerakanku berhenti, tidak memaksa untuk melepaskan celananya.Aku tidak kehabisan akal, dengan cepat kupindahkan ciumanku yang dari tadi di buah dada montok dan keras itu menuju ke sela-sela paha Mia. Dengan sangat terlatih lidahku sudah menyentuh klistoris Mia. Dan dia merintih lagi dengan memanggilku.
“Pa.., Mia..,” suaranya terhenti entah kenapa, yang pasti merasa nikmat dengan permainan lidahku yang sudah pakar ini, terbukti kakinya yang sedari tadi ditekuk sekarang sudah lurus lagi.
Sambil bermain dengan lidah di bibir vagina Mia, kedua tanganku meneruskan melepas celana dan CD Mia, terlepas sudah.
Kusadari sekarang apa penyebab sapaan Mia barusan tadi terhenti, rupanya kemaluanku sedang menonjol berdiri tepat di atas wajah Mia, yang posisinya telentang di bawahku. Posisi kami sebagaiman yang sering disebut orang dengan posisi 69. Kulihat Mia melototi kejantananku. Aku terus bermain dengan vagina Mia, vaginanya sudah basah dan wangi, dan asin rasanya. Kujilati sepuas-puasnya, dan kuraih tangan kanan Mia, kubimbing menuju ke batang kemaluanku, kutempelkan telapak tangannya, kutuntun untuk memegang, dia menurut saja, tapi hanya memegang dan tidak lama kemudian dilepaskannya.
Kulihat Mia mulai menggerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan, didorong-dorong ke atas merapatkan ke bibirku. Dan mendesah, “Eehk.., Ahk.., ahk..,”
Keadaan ini tidak kusia-siakan, aku langsung berpindah posisi sambil melepas kimonoku, berputar searah dengan posisi Mia, dan secepat kilat juga aku sudah berada di atas Mia, namun tidak menindih tubuhnya dengan tubuhku yang besar dan berat ini.
Bagian yang belum kunikmati dari tadi ialah mencicipi bibir yang merah dan mungil kecil ini, dan langsung saja bibirku mengulum bibir Mia. Dia menyambut dengan nafsu, tidak kusangka kudapatkan semua dengan sempurna. Sambil berciuman, aku rapatkan zakarku yang sudah mengeras dari tadi ke bibir vagina yang masih rapat dan kecang itu. Sulit aku menemukan lubang vagina Mia, apa karena masih rapat atau karena beda panjang badan yang mencolok, kalau berdiri tinggi Mia memang setinggi pundakku.
Sambil menekan-nekan posisi badanku, sekarang sudah menekuk, tidak lagi mencium Mia, tapi tidak kusia-siakan yang ada di depanku, yakni kucium buah dadanya lagi. Mia merintih, kali ini rintihannya benar menahan sakit, padahal batangku belum menembus ke dalam, baru kepala batangku berada di bibir luar vagina Mia, tapi dia sudah merintih.“Papa.., sakit Pa..” rintihnya.
“Aduh Sakit Pa..” ulangnya.
“Ahk.., u.. hk..”
“Papa.. sakit..!” teriaknya.ku tersentak karena teriakannya, Mia berteriak sakit, tapi aku belum memasukkan batang kemaluanku sedikit pun, baru hanya menyentuh bagian luarnya. Akhirnya aku berpikir bahwa kalau kupaksakan untuk menusuk semua batang zakarku yang panjang 17 cm, dan berdia meter 5 cm ini, akan berakibat fatal, yakni Mia bisa jadi tidak ikut ke pesta atau datang ke pesta dengan jalan terjingkat-jingkat. Aku putuskan bermain dengan menggesekkan batangku di bibir vagina yang tembam itu. Aku berhenti sejenak, dan bertanya pada Mia.
“Apa kamu merasakan nikmat Nak..?” tanyaku lembut sambil mengelus keningnya.
“Ia Pa.., tapi ada sakitnya..” jawab Mia lugu.
“Kamu pernah seperti ini Sayang..?” tanyaku lagi.
“Belum Pa.., Ciuman aja baru sama Papa tadi ini…” katanya lugu.
“Benar kamu belum pernah ciuman..?”
“Benar Pa.. sumpah…”
Kalau soal di luar ciuman aku percaya dia belum pernah, karena dari tadi sejak aku mulai mengelus buah dadanya sampai menciumi dan bahkan menekan zakarku ke vaginannya, dia kaku tanpa mengibangi, hanya pinggulnya yang bergerak, itu pun dikarenakan naluri kewanitaannya.
Percakapan aku sambung lagi sambil tetap berpelukan tanpa busana dengan posisi aku masih di atas, dan batang besarku tetap kutempelkankan pada vagina Mia. Memang kuraskan mulai agak mengendur.
“Kamu pasti belum puas..?” kataku.“Maksud Papa puas itu seperti apa..?” tanyanya lugu.
“Puas itu ialah mencapai kelimaks, yang tandanya Mia merasakan seolah-olah kayak pipis, tapi tidak pipis, dan setelah itu badan Mia terasa lemas.” jelasku.
“Ah.., Mia enggak ngerti ah Pa..” dia kelihatan binggung.
“Tapi Mia maukan mencoba dan merasakannya..?” tanyaku merayu.
“Emm.., mau sih Pa.., tapi tidak pakai sakit Pa..” jawabnya manja.
“Boleh deh..” jawabku singkat.
“Janji ya Pa..!” pintanya manja.
“Janji..” kataku.
“Sekarang Mia peluk Papa dan cium bibir Papa sperti tadi..”
Tanpa malu-malu lagi Mia memeluk dan menciumku dari arah bawah. Aku pun segera menyambut ciumannya dengan menjulurkan lidahku masuk ke dalam mulutnya, Mia pun langsung bermain dengan lidahnya. Sedangkan bagian bawah mulai kutempelkan, dan aku gerakkan ke kiri dan ke kanan. Naik dan turun, sehingga sedikit demi sedikit kemaluanku mulai membesar lagi. Dan sekarang sudah mengeras seperti tadi, tetap kutempelkan di vagina Mia, naik dan turun kugesekkan pada bibir tumpukan daging yang tembab itu.
Ciuman bibir kami berhenti, karena Mia sekarang lebih banyak bersuara.“Pa.., ahk, Pa..,”
“Enak Sayang..?”
“Ia Pa.”
“Sakit Sayang..?””Tidak.. ahk..! Au..,”
“Sakit Sayang..?”
“Ahk.., i.. au.. ahkkk..!”
Kuteruskan gerakanku naik dan turun sambil menekan batang kemaluanku yang sudah mengeras. Dan pelukan Mia semakin erat kurasakan.
“Apa rasanya Sayang.., enak Nak..?” tanyaku manja.
“Enggak tau Pa.., Mia rasanya mau pipis Pa.. ahk..!”
“Pa… a.., Mia mau pipis Pa..,”
“Ah.. uhk.., ahhkk.. ahhhkkk.., Papa.., Mia.. Pa.. Mia mau.. Pa.., Mau pi..”
Kuhentikan gerakanku dan kurenggangkan zakarku dari vaginanya. Dan aku merosot ke bawah menuju selangkangan Mia untuk menciumi vagina yang merah jambu ini, sambil meraih dua remote untuk menyalakan TV dan VCD, yang sudah kupersiapkan, bila misi urut mengurut gagal, maka akan kualihkan dengan misi nonton VCD Porno. Tapi VCD ini akan bermanfaat untuk Mia berlajar saat aku memintanya nanti mengulum batang ajaib ini.
“Sekarang Mia pipis sepuasnya sambil Papa cium dan Mia juga sambil nonton ya..!”
“Ia Pa..”Aku mulai mencium bagian yang sangat sensitive, Mia mengerang dan bergerak.
“Au.., Ahhk.., ahhhkk.., Enak Pa.., he.. ahhk.., Pa terus yang itu Pa… Enak yang di situ ahhkkk.., Pa.. Mia sudah.. ahhkk.. aaakkk..
“Papa.., Mia pipis ya.., ahhkkk..,”
Aku mengangguk sambil mempercepat lumatan lidahku di vaginanya, dan tidak lupa meremas-remas buah dada yang sekal itu.“Pa.., Mia.., Pa.. pi.. aaa.. hhh.. akkk ahhhhkkk.., Mia iii… Papa udah Pa.. ahhkkk, Mia udah pipis Pa.., uhhh..!”Benar dia sudah dapat dan mencapai orgasmenya, aku merasakan hangat di bibirku, dan badan Mia sekarang melemas sambil melipat kedua kakinya. Aku langsung naik ke atas dan berbaring di samping sisi kanan Mia. Aku cium pipinya dan kupeluk badannya yang sedang tidur telentang.Kuelus lembut buah dadanya, dia diam dan telentang tidak merasakan malu seperti tadi. Sementara batang kemaluanku masih mengeras.
TV masih menyala dengan gambar adengan porno seorang wanita bule sedang mengulum batang kemaluan pria bule. Kulihat Mia memperhatikan adengan yang ada di TV, kubimbing tangan kanan Mia menyentuh zakarku yang mengeras. Dia tidak menolak, bahkan sekarang menggenggamnya dengan keras, dan sebentar-sebentar digerakkan, aku sadar dia belum mengerti apa maksudku, sehingga kubiarkan berjalan apa adanya.
Setelah beberapa menit saling diam, sementara Mia merasakan nikmatnya pipis yang dia maksud dengan sambil menonton TV, aku juga terus memandangi tubuh yang indah ini, aku pun berkata memecahkan kesunyian.
“Sekarang kita mandi Sayang.., nanti kita terlambat ke rumah Oma..”Dia kaget dan langsung melihat dan memelukku, dan berkata, “Terima kasih Pa..”
Aku tersenyum dan langsung menggendong tubuh mungil ini ke kamar mandi.
“Kita mandi bareng ya.., biar rapihnya cepat..” kupeluk Mia dalam gendonganku sambil kucium bibirnya, dia membalas dengan mesra.“Lagi pula Mia kan tugasnnya belum selesai..” sambutku lagi.
“Tugas apa Pa..?” Mia bertanya sambil mengerutkan kening, dan memang dia benar-benar tidak tahu.
Sesampainya di kamar mandi, kuturunkan Mia dari gendonganku dan masih berhadapan denganku. Kukulum lagi bibirnya, dia berusaha melepas dan bertanya.“Tugas apa Pa..?” tanyanya penasaran.
“Papa kan belum pipis seperti Mia, jadi tugas Mia bikin pipis Papa..”
Kubungkukkan badanku untuk mencium bibirnya lagi, belum puas rasanya aku menciumi semua badannya, untuk itu aku ajak dia mandi bareng.
Dia lepaskan lagi ciumanku dan bertanya, “Caranya bagaimana Pa.., apa seperti yang di film tadi..?” tanyanya lugu.
Aku tidak menjawab dengan jelas, sambil berkata aku langsung mencium bibir Mia lagi.
“Pokoknya Mia pasti bisa bikin Papa pipis.., Mia ikuti aja apa yang Papa suruh..!” tegasku.
“Tapi tidak sakit kan Pa..?” tanyanya.“Ya.., tidak Sayang..” jawabku.
Dan langsung saja kuciumi bibirnya, sangat kunikmati, kepeluk dan kujilati lehernya sambil berdiri dan berpelukan. Kuangkat badannya dan kududukkan Mia ke atas Meja westafel yang berada di belakangnya. Kucium dengan leluasa buah dadanya di bawah sinar lampu kamar mandi yang terang menderang. Puas dengan bermain di buah dadanya dan memperhatikan dengan jelas, ciumanku pindah ke bawah perlahan, dan menuju ke arah sela-sela paha.
Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar tumpukan daging nikmat itu kujilati dengan mesra, sesekali menyentuh bagian bibir vagina Mia, sengaja kubasahi bulunya agar tidak menutupi bagian yang sangat indah ini. Kuangkat kedua kaki Mia ke atas meja westafel yang sedang dia duduki, sehingga posisinya duduk mengangkang dengan kaki menekuk. Sekarang terlihat jelas bagian dalam vagina yang muda ini, berwarna merah, cantik, masih asli dan belum melar. Kujurkan lidahku menjilati sampai ke bagian dalam, kulihat Mia menikmatinya.
“Ahhhkk Pa.., udah Pa.., Mia kan tadi udah dapat pipisnya Pa..”“Ia sayang, Papa hanya cium aja, Papa tidak bikin Mia pipis lagi..”
Kuhentikan ciumanku pada vagina Mia, karena kurasakan sudah cukup puas, dan aku pun merasa sudah tidak kuat lagi menahan desakan air maniku yang sedari tadi sudah mau keluar. Aku angkat turun Mia dan kucium bibirnya, dia membalas dengan mesra pula. Kupeluk rapat badannya dan sambil berputar, dimana aku yang membelakangi westafel. Kubimbing kepalanya ke bawah dan kudekatkan batang kemaluanku ke bibirnya.
“Mia.., Sekarang Mia bikin pipis Papa ya Nak..?”
Dia duduk berlutut bingung sambil memandangiku ke atas, aku tahu apa artinya itu.
“Mia ciumi itu seperti yang Mia lihat di film tadi.”
“Mia isap-isap seperti Mia minum es krim..”
Tanpa berkomentar Mia pun bereaksi, awalnya memang aneh, hanya pada bagian ujung batang kemaluanku saja yang di kecup. Kubiarkan apa saja yang dia lakukan. Perlahan kurasakan dia mulai memegangi batang kemaluanku dengan kedua tangannya. Bibirnya pun mulai terbuka lebar, dan pelan masih gerakannya, tapi sudah mulai kurasakan setengah dari batangku masuk ke mulutnya.
Tidak begitu lama aku sudah merasakan kemahiran Mia seperti yang kurasakan kalau Mamanya bertugas seperti ini. Kupeganggi rambunya dan kepalanya lembut sambil menggerakkan maju mundur.
“Iya.., Sayang.., Papa hampir pipis Nak..”“Terus..! Yang kencang Sayang… Ah.. enaknya Nak.. Mia.., aduh Sayang.., enak Nak..!”
“Pintar kamu manja..”
Terus kugerakkan kepalanya maju mundur.
“Sayang terus Sayang.., jangan berhenti..! Papa hampir.., ahhhkkk.”
“Kalau Papa mau pipis Mia langsung berdiri ke samping Papa ya.. ahhmm..!””Terus Nakkk, auuu ya.., Terus cium Nak..! Sambil dihisap Nak..”
“Ya, gitu.. Ya… Ahh.., kkkk..,”
“Sudah Mi.., kesini..!”
Kutarik Mia ke samping dan kupegang tangan kanannya tetap memegang batang yang keras ini dan ajarkan untuk mengocok, ternyata dia cepat mahir, sehingga kulepas tangganku, dan dia terus menocok barangku. Kupeluk dia dari arah samping yang memang sudah berdiri di sisi kananku. Badannya agak sedikit membungkuk, karena tangan kanannya sedang mengocok barangku.“Terus Sayang, yang cepat lagi, ahhkkk, diremas lagi Nak..!”
“Ya.. Papa dapat sekarang sayang, terus Nak.., jangan berhenti sampai Papa berhenti pipisnya, ahhkkk.”
Lunglai sudah badanku lemas rasanya, kupeluk Mia dengan mesra, dan sambil kuperhatikan semburan air maniku yang mencapai satu meter itu. Pelan zakarku mengecil. Selanjunya kami pun mandi bersama saling menggosok badan tanpa ada rasa malu lagi. Mia pun tidak merasakan keseleonya yang tadi dia derita.
Selesai mandi kami pun bersalin di kamar masing-masing. Selesai berdandan aku dan Mia berangkat menuju ke rumah Omanya. Dalam perjalanan aku berpesan bahwa kejadian tadi jangan diceritakan pada siapa pun, dan kalau tidak Mia akan tidak pernah dapat pipis yang enak lagi ancamku. Dia tersenyum seolah-olah setuju.Di pesta suasana kami berdua berjalan biasa, begitu juga sehari-hari, karena memang Mia sehari-harinya manja denganku.
-

Cerita Sex Berhubungan Yang Tidak Dapat Di Hindarkan
Terlebih-lebih waktu Meyta sedang tidur terlentang pada tempat tidurnya, terbayg dan berasa kemaluan besar hitam lelaki itu mengaduk-aduk lobang kemaluannya yang memunculkan hati kesan dan membuat semua badan Meyta panas dingin diliputi kepuasan yang tidak terbaygkannya. Kadang- terkadang ada hati yang mendesaknya untuk ingin alami kejadian itu, tetapi di lain faksi hati lembutnya dan harga diri sebagai seorang wanita yang bermartabat tinggi, mengingati jika kejadian yang dirasakan itu merupakan sesuatu setubuhian yang beringas yang tidak patut untuk diingat kembali.

Cersex Stw – Hari untuk hari berakhir dgn cepat tidak ada peristiwa spesial, beberapa pekerjaan di kantornya makin repot mengambil alih waktu Meyta, hingga peristiwa itu bisa mulai dilupakannya. Sampai di suatu hari, mendadak terjadi demo beberapa mahasiswa disekitaran Bundaran Semanggi tidak jauh dari kantor tempat Meyta bekerja. Karena keadaan di saat itu benar-benar menghangat, karena itu pimpinan kantor memilih untuk pulangkan beberapa pegawainya lebih cepat untuk menghambat terjadi beberapa hal yang tidak diharapkan.
Saat itu baru memberikan jam 14.30 siang, tiap pegawai cepat-cepat mengepaki barang- barangnya di meja, mengamankan laci dan lemari-lemari pada ruangan kerja masing-masing serta cepat- cepat turun dari gedung kantor untuk cepat-cepat pulang. Demikian pula dgn Meyta, dgn cepat ia membenahi beberapa surat yang bersebaran di meja kerjanya dan selekasnya ditempatkan ke laci meja kerjanya. Setelah mengamankannya dgn rapi Meyta selekasnya keluar ruangan kerjanya dan segera ke arah lift untuk turun ke bawah.
Di lantai 25 tempat Meyta bekerja itu telah kosong, semua pegawai telah turun lebih dulu, hanya Meyta sendiri yang menanti lift untuk turun ke bawah. Setelah lift yang turun di atas terbuka, Meyta dgn cepat selekasnya masuk ke dalam dalamnya dan selekasnya lift itu tutup lagi dan bergerak turun. Mendadak Meyta mengetahui, ia hanya berdua dgn seorang dalam lift itu dan waktu bersama orang itu menegur Meyta dgn lembut,
“Meyta, ingin pulang ya!” dgn terkejut Meyta selekasnya mengusung wajahnya dan menyaksikan ke belakang, ke suara itu berasal. Wajahnya tiba-tiba jadi merah setelah mengetahui jika orang itu yang hanya berdua saja dgn ia ialah Mr. Rasyid yang bejad tersebut. Meyta hanya diam tidak menyongsong panggilan Mr. Rasyid itu. Mr. Rasyid coba tawarkan jasanya untuk mengantarkan Meyta pulang dgn argumen di saat itu kendaraanumum tidak ada yang bekerja karena demo beberapa mahasiswa di sepanjangnya jalan Sudirman. Namun penawaran Mr. Rasyid itu ditampik dengan lembut oleh Meyta.
Sesampainya di bawah, demikian lift terbuka, Meyta cepat-cepat keluar dan jalan di depan gedung untuk cari taksi, sedangkan Mr. Rasyid ke arah tempat parkir untuk ambil mobilnya yang kebenaran hari itu dibawa sendiri olehnya tanpa supir. Dgn resah Meyta menanti taksi di muka kantor, namun tidak kelihatan satu juga taksi dan kendaraan umum yang lain lewat di muka gedung itu, sedangkan tindakan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di sepanjangnya jalan itu makin panas saja. Sementara dalam kegundahan itu, mendadak sebuah mobil stop di depannya dan waktu kaca jendela mobil itu terbuka, kepala Mr. Rasyid menonjol keluar,
“Ayolah, jangan takut, silahkan kuantar anda pulang, kondisi makin beresiko jika anda terjerat di sini!” Menyaksikan keadaan sekitarnya yang makin genting itu, dgn mau tak mau Meyta terima ajakan Mr. Rasyid itu. Dgn cepat Meyta masuk ke mobil Mr. Rasyid dan mobil itu selekasnya tinggalkan pas itu. Dalam mobil, Mr. Rasyid bertanya Meyta arah tempat tempat tinggal Meyta. Selekasnya Meyta menerangkan jika ia ada di wilayah Kebayoran Baru. Karena arah ke Kebayoran Baru lewat Jl. Sudirman tertutup oleh beberapa mahasiswa yang sedang berdemonstrasi arah Jl. Gatot Subroto untuk putar lewat Jl. Buncit Raya masuk ke dalam wilayah Kebayoran Baru. Namun sepanjangnya jalan Gatot Subroto rupanya macet keseluruhan, pada akhirnya Mr. Rasyid mengajukan usul untuk singgah dahulu ke apartement temannya yang berada di dekat situ sekalian menanti lalu lintas lancar kembali. Karena tidak ada alternatif lain, karena itu pada akhirnya Meyta menyepakati saran itu. Mendapatkan kesepakatan Meyta, selekasnya Mr. Rasyid ambil lajur kiri darijalan dan berbelok pada suatu jalan kecil yang ke arah sebuah bangunan apartement yang tidak jauh tempatnya.
Setelah memarkir mobilnya, ke-2 nya masuk ke dalam lobby dan ke arah lift. Apartment teman Mr. Rasyid berada di lantai 9, setelah lift stop mereka ke arah apartement dengan nomor 916. Mr. Rasyid selekasnya menekan bel yang berada depan pintu dan selang beberapa saat pintunya terbuka dan kelihatan seorang lelaki India yang berusia lebih kurang 35 tahun, berparas ganteng dgn badan yang tinggi tegap dan berkulit gelap dgn ke-2 tangannya dan dadanya yang sektor banyak rambut hitam lebat. Mr. Rasyid selekasnya mengenalkan Meyta ke temannya yang rupanya namanya Kumar Punjab yang ialah seorang tenaga pakar pada suatu pabrik tekstil yang berada di Jakarta Selatan.
Ke-2 lelaki itu terturut sesaat dalam pembicaraan dengan bahasa mereka, yang tidak dipahami oleh Meyta, yang hanya dapat melihat mereka dgn pandangan mata berprasangka buruk. Setelah ambil tempat duduk pada suatu bangku panjang yang berada di kamar tamu, Meyta memerhatikan kondisi apartement itu. Apartement itu hanya terdiri dari 1 kamar, dan ruangan duduk yang menyambung jadi satu dgn kamar makan dan dapur yang berada paling ujung dari ruang itu. Kelihatan apartement itu ialah apartement yang ditempati oleh bujangan, di mana pada tempat bersihkan piring kelihatan gelas dan piring kotor tetap menggeletak belum dicuci. Setelah bercakap-cakap sesaat, Kumar minta diri sesaat untuk keluar, karena akan beli minuman dingin dan makanan kecil di toko makanan yang berada di ground floor.
Sepergian Kumar, situasi antara Meyta dan Mr. Rasyid jadi cukup kikuk, kepala Meyta hanya menunduk ke bawah tanpa berani melihat ke Mr. Rasyid. Kelihatan bibir bawah Meyta cukup tergetar dan ke-2 jari-jari tangannya sama-sama memegang dgn kuat. Meyta cukup gugup, sekalian membaygkan apa yang terjadi beberapa waktu lantas, waktu lelaki di hadapannya itu memerkosanya dgn beringas. Tebersit dgn terang bagaimana lelaki itu menekan badannya ke atas meja dan mengangkangi ke-2 pahanya, dan menidurinya dgn garang. Seolah-olah tetap berasa nyeri kemaluannya dikocak-kocok oleh senjata lelaki itu, namun hati nikmat mendadak menerpanya waktu membaygkan ke-2 puting susunya tergores-gesek pada dada sektor memiliki rambut tebal dari Mr. Rasyid, waktu ia terduduk dan terlonjak-lonjak di atas pangkuan Mr. Rasyid karena senjata Mr. Rasyid menyikat-nyodok lobang kemaluannya. Membaygkan hal itu, mendadak kemaluannya dirasa basah.
Menyaksikan raut muka Meyta yang beralih-alih dan matanya yang makin sayu saja, Mr. Rasyid yang telah eksper itu, tidak ingin melewati momen yang menguntungkannya. Selekasnya ia beralih duduk dari sisi Meyta di bangku panjang dan saat sebelum Meyta mengetahui apa yang terjadi, ke-2 tangan Mr. Rasyid dgn cepat telah merengkuh pundak Meyta dan selekasnya menarik badan Meyta melekat ke badannya. Dagu Meyta diangkatnya menengadah ke arahnya hingga ke-2 mata mereka sama-sama melihat. Mata Mr. Rasyid berkilat-kilat melihat muka Meyta yang ayu itu dan pada akhirnya terdiam pada ke-2 bibir Meyta yang merah mengembang yang sedang tergetar dgn lembut.
Pelan-pelan Mr. Rasyid tundukkan kepalanya dan bibirnya yang kasar yang banyak kumis lebat sentuh ke-2 bibir Meyta yang imut dan pelan-pelan mulai melumat bibir-bibir yang cantik yang telah pasrah tersebut. Mendekati beberapa saat, waktu Mr. Rasyid mulai rasakan badan Meyta tidak tegang kembali dan bibirnya mulai melemas, karena itu lidahnya selekasnya didesak masuk menerobos ke mulut Meyta dan sapu langit-langit dan permainkan lidah Meyta. Ini membuat badan Meyta tergetar dan kepalanya terasanya melayg-layg dan tanpa berasa kedengar keluh kesah lembut keluar mulut imut itu,
“Ooohh.. eehhmm..!” Rasakan Meyta mulai memberi respon laganya itu, Mr. Rasyid selekasnya tingkatkan gempurannya. Secara perlahan tangannya selekasnya buka kancing-kancing blouse yang dikenai Meyta dan selekasnya melepasnya dari badan Meyta.
Selekasnya kelihatan BH Meyta yang putih tutupi ke-2 buah dadanya yang kecil imut tersebut. BH itu tidak dapat tahan lama membuat perlindungan ke-2 gundukan daging kenyal itu, karena selekasnya tercampakkan oleh tangan-tangan lelaki itu. Dgn cepat ke-2 bukit kenyal imut itu jadi target mulut dari Mr. Rasyid, yang selekasnya mencium dan menghisap-hisap puting yang telah tegang tersebut. Badan Meyta hanya dapat menggelinjang-geliat dan dari mulutnya keluar suara mirip orang kepedasan. Menyaksikan kondisi Meyta yang telah pasrah itu, Mr. Rasyid tidak ingin sia-siakan momen yang ada, dgn terampil ke-2 tangannya selekasnya menanggalkan rok dan sekaligus CD Meyta, hingga saat ini Meyta terbujur terlentang di atas bangku dgn badan yang mulus yang tidak tertutupi selembar benang juga.
Lelaki India itu menindihkan badannya pada Meyta yang telah terbujur pasrah di atas bangku, sekalian ia membenahi posisi badannya supaya senyaman mungkin, lelaki itu dgn ke-2 tangannya buka kaki Meyta dan selekasnya tempatkan badannya pas ada di tengah, antara ke-2 paha Meyta yang telah terkangkang tersebut. Dgn tangan kirinya menggenggam gagang kemaluannya yang besar itu, lelaki itu mulai arahkan kemaluannya, ke targetnya yang telah pasrah terbuka di bawahnya. Demikian kepala kemaluan berjumpa dgn belahan bibir kemaluan luarnya, badan Meyta kelihatan tergetar dan ke-2 tangannya mencekram dgn kuat di bangku, pandangan matanya jadi sayu, wajahnya keringatan. Dgn pelan-pelan Mr. Rasyid mulai menggerakkan kemaluannya masuk lubuk badan Meyta yang paling rahasia tersebut. Selaras dgn masuknya kemaluan Mr. Rasyid yang besar itu, mata Meyta kelihatan membalik ke atas dan rintihan enaknya kedengar terang keluar mulut imutnya,
“Aahh.. eehhmm..” pada awalnya cukup sulit masuknya, sedikit-sedikit, kelihatan Mr. Rasyid gerakkan pantatnya mundur-maju dgn pelan-pelan, sekalian mulutnya mencium bibir cantik Meyta.
Tidak berlalu selanjutnya mendadak dgn sesuatu sentakan keras, lelaki itu menekan pinggulnya dan terus menggerakkan kemaluannya, hingga tenggelam semuanya ke lobang kemaluan Meyta. Cocok waktu mentok tidak dapat masuk kembali Meyta menggigit bibirnya, dan..
“Aahdduhh..” kedengar jeritan lembut kesakitan atau mungkin kepuasan keluar mulutnya. Seterusnya perlahan-lahan Mr. Rasyid mulai gerakkan masuk keluar kemaluannya, bangku itu berderit-derit meredam pergerakan dan penekanan badan Mr. Rasyid yang besar itu dalam tubuh imut Meyta, kembali rintihan, desahan, dan lenguhan ciri khas kepuasan kedengar penuhi ruang, makin lama makin keras, badan Meyta menggelinjang dalam dekapan ketat Mr. Rasyid yang besar, terkadang kelihatan Meyta mengusung kepalanya, giginya menggigit bibir bawahnya meredam kepuasan yang menerpa semua pori-pori badannya, terkadang ia menjerit kecil jika lelaki India itu menekan terlalu dalam.
Beberapa saat selanjutnya, rintihan Meyta makin keras, dan cairan badannya berasa makin banyak, badannya melenting kaku dan dari mulutnya keluar suara mirip orang kritis, Meyta tengah dibuai hatinya yang sedang ke arah pucuk kepuasan. Wajahnya betul-betul elok di saat itu, setelah diterpa stres demikian lama, kelihatannya ini seperti pelepasan untuk dia. Sisi dalam dinding kemaluannya menjepit keras dan berdenyut, badannya terhentak- hentak, Meyta alami orgasme yang hebat, yang membuat hatinya melayg-layg dan setelah saat kepuasan itu berkurang, badannya terhempas lemas di bangku. Dadanya kelihatan turun naik dgn napas mengincar seolah-olah orang yang baru menuntaskan lari cepat 100 m dan ke-2 matanya terkatup rapat. Bercak-bercak keringat menghiasi pelipisnya mengisyaratkan satu ronde dari sesuatu pertarungan hebat yang banyak makan tenaga, yang barusan diakhirinya.
Namun untuk Mr. Rasyid pertempuran ini belum usai, bahkan juga untuknya ini baru set permulaan atau set pemanasan saja. Menyaksikan Meyta yang ayu itu telah tergeletak lemas itu dgn ke-2 matanya yang tertutup dan badannya yang langsing itu terbaring pasrah, memunculkan sesuatu hati kesan pada Mr. Rasyid. Lelaki India itu benar-benar mengucapkan syukur dapat kuasai dan nikmati badan wanita ayu itu yang langsing dan mulus tersebut. Dgn kemaluannya yang besar tetap tenggelam dalam kemaluan wanita itu, Mr. Rasyid merengkuh badan Meyta dan mengusungnya dari bangku.
Saat ini badan yang langsing dari wanita itu digendong oleh lelaki itu, ke-2 bukit kecil dgn putingnya yang mencolok keras dari buah dada Meyta tertekan rapat dan tergores-gesek pada rambut-rambut lebat pada dada Mr. Rasyid. Kepala Meyta terkulai lemas bertumpu pada bahu lelaki itu, ke-2 tangan Mr. Rasyid menggenggam ke-2 bongkahan pantat Meyta dan ke-2 kaki Meyta melingkar pada pinggang Mr. Rasyid. Dari belakang terlihat belahan pantat Meyta mengembang dan kemaluan hitam besar lelaki India itu tetap bersarang dalam lobang kemaluan wanita itu yang menjepit rapat gagang kemaluan itu. Mr. Rasyid bawa badan wanita itu mendekat ke tembok ruang itu, memencetnya di tembok dan memulai menggerakkan pantatnya sendiri mundur-maju menekan pantat Meyta ke tembok, akibatnyakemaluanku yang hitam besar itu menerobos masuk keluar kemaluan Meyta yang telah basah oleh cairan kepuasan yang keluar di saat wanita itu alami orgasme. Pergerakan pantat lelaki itu makin lama makin cepat dan tekanannya makin dalam saja. Badan Meyta menggelinjang-geliat,
“Ooohh.. oohh.. eehhmm..!” suara lirih kedengar keluar mulut Meyta setiap lelaki itu menekan pantatnya dgn kuat.
Sementara sedang asyik-asyiknya Mr. Rasyid mengerjai Meyta yang telah lemas itu, mendadak pintu apartement tersebut terbuka di luar dan Kumar Punjab yang ucapnya akan beli minuman masuk, ke-2 tangannya bawa minuman Fanta merah 2 botol besar. Ia menyaksikan sesaat pada tindakan Mr. Rasyid yang sedang mengerjai Meyta itu dgn senyuman-senyum. Sementara itu Meyta yang kaget dgn kehadiran Kumar itu, merasa benar-benar malu dan coba melepas diri dari Mr. Rasyid, namun Mr. Rasyid dgn kuat masih tetap merengkuh Meyta dan meneruskan aktivitasnya tersebut. Selanjutnya Mr. Rasyid dgn masih tetap menanamkan kemaluannya ke kemaluan Meyta ambil sikap duduk di atas bangku dgn ke-2 kakinya terjulur mengangkang di lantai dan Meyta ada dalam sikap duduk di atas pinggul Mr. Rasyid dgn ke-2 kakinya terkangkang di sisi kiri kanan pinggul Mr. Rasyid. Kemaluan Mr. Rasyid masih tetap ada dalam kemaluan Meyta dan saat ini ke-2 tangan Mr. Rasyid menggenggam pinggul Meyta dan mengusung ke atas dan menekan lagi ke bawah berulang- kembali hingga kemaluan Meyta saat ini yang kelihatan aktif menelan dan keluarkan kemaluan hitam besar tersebut.
Itil V3
Sementara itu Kumar Punjab yang telah menempatkan minuman yang dibawa ke atas meja, dgn cepat selekasnya melepas pakaian yang dikenainya dan sekaligus CD-nya, hingga telanjang bundar. Kelihatan senjatanya yang tidak kalah besarnya dgn Mr. Rasyid telah tegang siap tempur. Badannya tegap dengan bulu dgn ke-2 pahanya yang gempal tertutupi rambut tebal. Selanjutnya Kumar dekati ke-2 orang yang sedang bergulat di atas bangku itu dan berjongkok antara ke-2 kaki Mr. Rasyid yang terbuka, hingga tempatnya pas ada di belakang pantat Meyta.Menyaksikan itu Meyta selekasnya mengetahui akan bahaya yang akan menerpanya dan coba melawan, namun dgn cepat ke-2 tangan Mr. Rasyid selekasnya membungkam badan Meyta ke badannya, hingga Meyta telungkup di atas badan Mr. Rasyid yang bertumpu 1/2 tidur di bangku. Ternyata dalam soal mengerjai wanita dengan bersama, ini bukan yang pertama kalinya mereka kerjakan, pada dua minggu yang lantas, mereka mengolah Kinan, wanita manis yang memiliki tubuh putih langsing yang bekerja pada perusahaan tempat Kumar Punjab bekerja. Masih terbayg-bayg di pikiran Kumar bagaimana badan putih mulus Kinan menggelinjang-geliat dan jeritan- jeritan ketahan yang keluar mulutnya, waktu kemaluannya mulai menerobos belahan pantat Kinan dalam posisi yang sama dengan waktu ini. Kumar berkemauan untuk rasakan kembali pengalaman yang mengasyikan tersebut.
Kumar yang telah ada pas pada posisi belakang pantat Meyta, merundukan kepalanya dan menjilat-jilat pantat Meyta. Lidahnya bermain pada lobang dubur Meyta, hingga memunculkan hati yang benar-benar geli pada Meyta yang tidak dapat digambarkan, mengakibatkan badan Meyta menggelinjang-geliat dgn kuat dan..
“Aagghh.. jaanggaan.. jaanggaan.. kerjakan itu!” Meyta berusaha melepas diri, namun bekapan tangan Mr. Rasyid pada badannya terlampau kuat, hingga Meyta hanya dapat menggerak-gerakan pantatnya ke kanan kiri, tapi juga tidak dapat berubah terlampau jauh, karena kemaluan besar Mr. Rasyid tetap tertanam dalam kemaluan Meyta.
Kumar meneruskan aktivitasnya itu dan saat ini ia membasahi pantat dan sisi dubur Meyta dgn ludahnya, sedangkan dgn ibu jarinya yang telah basah dgn ludah, mulai didesak masuk ke lobang dubur Meyta dan diputar-putar di situ. Meyta terus menggelinjang-geliat dan mendesah,
“Jaannggaann jaannggaan.. aadduuhh.. aadduuhh.. saakiitt.. saakiitt..!” namun Kumar tidak menanggapinya dan terus meneruskan aktivitasnya. Selang saat setelah merasa cukup membasahinya, Kumar sekalian menggenggam dgn tangan kiri kemaluannya yang telah tegang itu, tempatkan kepala kemaluannya pas di tengah-tengah lobang masuk dubur Meyta yang telah basah dan licin tersebut.
“aaduhh, janggaann! Sakkiit! aammpuunn, aammppuunn! Aagkkh” Kumar mulai menggerakkan masuk, terus masuk. Sementara Meyta menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar kesakitan. Meyta meronta- ronta tidak memiliki daya, hanya makin menambahkan nafsu Kumar untuk selalu menggerakkan masuk. Meyta terus menjerit, waktu perlahan-lahan semua kemaluan hitam besar Kumar masuk ke dalam duburnya.
“aauugghh..! Saakkiit! jerit Meyta waktu Kumar mulai bergerak perlahan-lahan masuk keluar dubur Meyta. Pada akhirnya dgn badan berkeringat meredam sakit, Meyta terkulai lemas telungkup di atas badan Mr. Rasyid kecapekan dan tidak memiliki daya.
Secara memiliki irama Kumar menekan dan menarik kemaluannya dari lobang dubur Meyta, di mana setiap Kumar menekan ke bawah, tidak saja kemaluannya yang tenggelam ke lobang dubur Meyta, tapi kemaluan Mr. Rasyid tertekan masuk lebih dalam ke lobang kemaluan Meyta. Sangat memengapkan menyaksikan ke-2 kemaluan besar hitam itu ada di ke-2 lobang bawah Meyta.Kelihatan ke-2 kaki Meyta yang terkangkang itu tergetar-getar kurang kuat setiap Kumar menekan masuk kemaluannya ke lobang duburnya. Dalam kesakitan dan ketakberdayaan itu, Meyta telah pasrah terima tindakan ke-2 lelaki itu.
Selang beberapa saat mereka tukar posisi, saat ini Kumar duduk melonjor di atas bangku dgn kemaluannya masih tetap ada dalam lobang dubur Meyta, hingga badan Meyta tertidur terlentang di atas badan Kumar dgn ke-2 kakinya terpentang lebar diambil melebar oleh ke-2 kaki Kumar dari bawah dan Mr. Rasyid ambil posisi di atas Meyta. Mr. Rasyid mulai memompa kemaluannya masuk keluar kemaluan Meyta, yang saat ini makin basah saja, cairan pelumas yang keluar dalam kemaluan Meyta mengucur ke bawah, hingga membasahi dan melicinkan lobang duburnya, ini membuat kemaluan Kumar yang tengah bekerja pada lobang duburnya jadi licin dan lancar, hingga dgn pelan-pelan hati sakit yang dirasa Meyta perlahan-lahan lenyap ditukar dgn hati nikmat yang menjalar ke semua badannya.
Meyta bisa mulai nikmati ke-2 kemaluan besar lelaki itu yang sedang mengolah kemaluan dan lobang duburnya. Pelan-pelan hati nikmat yang dirasanya melingkupi seluruh kesadarannya, menyebar dgn deras tidak tertahan seperti air terjun yang tumpah deras ke danau tempat penampungan, memunculkan getaran luar biasa pada semua sisi badannya, tidak teratasi dan meletus menjadi orgasme yang fantastis menerpanya. Setelah itu badannya terkulai lemas, Meyta terlentang pasrah seolah-olah tidak sadarkan diri dgn ke-2 matanya terkatup. Menyaksikan kondisi Meyta itu makin menghidupkan gairah Mr. Rasyid, lelaki itu jadi benar-benar kasardan ke-2 tangan Mr. Rasyid menggenggam pinggul Meyta dan lelaki itu menekan pinggulnya keras-keras di depan dan
“Aduuh.. aauugghh..!” keluh Meyta rasakan seolah-olah kemaluannya terbelah dua diterobos kemaluan Mr. Rasyid yang besar tersebut. Ke-2 mata Meyta terbeliak, kakinya menggelepar-gelepar dgn kuatnya di ikuti badannya yang meliuk meredam serangan kemaluan Mr. Rasyid pada kemaluannya.
Dgn buasnya Mr. Rasyid gerakkan pinggulnya mundur-maju dgn cepat dan keras, hingga kemaluannya masuk keluar pada kemaluan Meyta yang sempit tersebut. Mr. Rasyid merasa kemaluannya seperti diapit dan dipijit-pijit dan Meyta rasakan kemaluan lelaki itu seolah-olah sampai pada dadanya, mengaduk-aduk didalamnya, selain itu sesuatu hati yang benar-benar aneh mulai berasa menyebar dari sisi bawah badannya mengambil sumber dari kemaluannya, langsung ke semua badannya berasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya.
Meyta tidak dapat memvisualisasikan hati yang sedang menyelimuti, namun badannya kembali terasanya mulai melayg-layg dan sesuatu hati nikmat yang tidak dapat digambarkan berasa menyelimutinya semua badannya. Hal yang dapat dilakukan di saat itu hanya mengerang-erang,
“aahh.. sshh oouusshh!” sampai sesuatu saat hati enaknya itu tidak dapat dikontrol kembali terasanya menyebar dan kuasai semua badannya dan mendadak meletus membajiri keluar berbentuk sesuatu orgasme yang hebat yang menyebabkan semua badannya tergetar tidak teratasi dibarengi tangannya yang menggapai-gapai seolah-olah orang yang ingin terbenam cari pegangan. Ke-2 kakinya berkelejotan. Dari mulut Meyta keluar sesuatu erangan,
“aaduhh.. laagii.. laagii.. oohh.. oohh..” Ini berjalan lebih kurang 20 detik terus-terusan. Sementara itu ke-2 lelaki itu terus lakukan kegiatannya, dgn memompa kemaluan-kemaluan mereka masuk keluar kemaluan dan dubur. Mr. Rasyid jadi benar-benar terangsang menyaksikan gestur muka Meyta dan mendadak Mr. Rasyid rasakan sisi dalam kemaluan Meyta mulai bergerak- gerak lakukan pijitan-pijitan kuat pada keseluruhnya gagang kemaluannya. Pergerakan kaki Meyta dibarengi goygan pinggulnya datangkan sesuatu kepuasan pada kemaluan ke-2 lelaki itu, berasa seperti diurut-urut dan diputar-putar.
Mendadak dengan bersama Mr. Rasyid dan Kumar rasakan suatu hal gelombang yang menerpa dari pada tubuh mereka, cari jalan keluar lewat kemaluan masing-masing, berasa sesuatu ledakan yang mendadak menggerakkan keluar, hingga secara besamaan kemaluan mereka berasa membesar seolah-olah ingin pecah dan..
“Aaduuh!” dengan bersama tangan-tangan mereka merengkuh erat-erat badan Meyta dan pinggul mereka dgn kemampuan penuh yang satu menekan ke bawah dalam-dalam pada pinggul Meyta yang menyebabkan keseluruhnya kemaluannya tenggelam ke kemaluan Meyta, dibarengi sesuatu semprotan air mani yang keluar dan menyemprotkan dengan deras ke kemaluan Meyta, sedang Kumar mengusung ke atas pinggulnya menggerakkan masuk kemaluan tenggelam habis ke lobang dubur Meyta, sekalian menyembur cairan kental panas ke lobang dubur Meyta. Terima semprotan cairan kental panas pada lobang kemaluan dan lobang duburnya Meyta rasakan sesuatu kesan yang tidak dapat digambarkan dgn kata-kata, hanya reaksi badannya yang tergetar-getar dan gestur wajahnya yang seolah-olah rasakan sesuatu kengiluan yang tidak terbaygkan, di ikuti badannya yang terbaring lemas, tidak dapat bergerak. Meyta terbuai oleh kehebatan orgasme yang dirasakannya dan diterima dari ke-2 lelaki itu.
Setelah istirahat sesaat, Kumar dgn cepat selekasnya sembuh kembali dan kemaluannya telah tegak dgn gagah siap tempur. Meyta yang masih terlentang lemas di bangku tidak dikasih peluang oleh Kumar, selekasnya ditindihnya. Dgn cepat kemaluannya dilelepkan ke kemaluan Meyta dan Kumar Punjab terus mengerjai Meyta yang terlihat sangat lemas dan hanya dapat mengikuti saja apa yang diharapkan oleh Kumar. Berulang-kali terlihat Meyta alami orgasme yang hebat, itu terlihat setiap kali dari getaran badannya yang di ikuti oleh ke-2 kakinya yang berkelejotan. Ke-2 matanya kelihatan sayu, seolah-olah orang yang sangat mengantuk.
Mr. Rasyid dan Kumar Punjab terus mengerjai wanita ayu itu dengan berganti-gantian terus- menerus sampai mendekati sore hari. Meyta alami orgasme berkali-kali selama waktu tersebut. Mendekati jam 5 sore mereka hentikan aktivitasnya, tinggalkan Meyta yang terlentang lemas di bangku dgn kaki yang terkangkang dan dari kemaluannya tetap mengucur beberapa sisa air mani dari ke-2 lelaki itu. Sejam setelah tenaganya sembuh, Meyta dgn tertatih-tatih bangun dari bangku dan pergi ke kamar mandi untuk bersihkan badannya. Setelah itu bersama Mr. Rasyid yang 1/2 memapahnya mereka pamitan dan Mr. Rasyid mengantarkan Meyta ke tempat tinggalnya. Sepanjangnya jalan pulang, Meyta hanya dapat diam diri merenung akan apa yang barusan dirasakannya. Ada hati kebingungan yang menerpa dianya yakni di antara hati senang atas kepuasan yang dirasanya dan hati tidak suka pada ke-2 lelaki itu atas tindakan mereka pada dianya.
Peristiwa ini adalah kejadian buruk yang paling akhir yang dirasakan Meyta, karena selang beberapa saat Mr. Rasyid dan beberapa tenaga asing di grup perusahaan tempat Meyta bekerja memilih untuk tidak lagi perpanjang kontrak kerja mereka sehubungan dgn kritis ekonomi yang terjadi yang berpengaruh pada usaha grup perusahaan itu. Satu tahun selanjutnya Meyta berjumpa dgn seorang lelaki yang asal dari pulau seberang yang benar-benar memesonanya dan benar-benar menyukainya dan setelah pacaran beberapa waktu, mereka meneruskan dgn pernikahan. Meyta saat ini tetap bekerja pada perusahaan itu dan di kehidupan keluarganya hidupnya benar-benar bahagia dgn suaminya yang penuh pemahaman, hingga secara perlahan dia dapat lupakan semua peristiwa jelek yang sebelumnya pernah dirasakannya itu, dan dapat nikmati curahan kasih sayang suaminya kepadanya.
-

Foto Ngentot Aidra Fox memek bagus dan toket gede

Duniabola99.com – foto Aidra Fox menghisap kontol besar lalu dimasukin kememeknya yang sempit dan mendapatkan sperma diatas pantatnya ya bulat bahenol.
-

Foto Bugil Model remaja Gloria Sol menghilangkan gaun merah

Duniabola99.com – foto gadis model cantik melepas gaun merahnya dan berpose hot memamerkan toketnya yang gede dan memeknya yang tidak berbulu.
-

Kisah Memek ngajakin ML pacar yang alim dan lugu

Duniabola99.com – Kenalkan nama saya Andra (nggak nama sebenarnya). Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus (sekeren namaku). Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi (emang sekarang udah nggak jamannya keperjakaan diutamakan). Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengin aku ceritakan.
Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah Rere. Tapi dalam kisah ini bukan Rere tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama Rere. Malah waktu itu aku aku lagi marahan sama doi.Waktu itu aku nganggap Rere nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak Rere hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee…). Tapi si Rere menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!
Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi.
Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Maidy, adiknya Murni entah nglayap kemana. Yang ada tinggal Maya, si bungsu dan Ersa, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya.
Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood. Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Maya datang menghampiriku.
“Lagi nggak ngapel nih, Mas Andra?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Maya memang orangnya ramah banget)
“Ngapel sama siapa, May?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.
“Ah… Mas Andra ini pura-pura lupa sama pacarnya.”Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Maya cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.
“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.
Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Maya. Gadis itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.
“Yah, kacian deh… habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”Aku menghentikan petikan gitarku.
“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Maya deh ketimbang sama dia.”
Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Maya ada mau sama aku.
“May, kok diam aja? Malu yah…”
Maya melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua SMA tapi kok perawakannya udah kayak anak kuliah aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya… waduh kok besar juga ya.
Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Maya yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.
“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Andra bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”
“Yah Maya, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Andra, iya nggak?” pancingku.
“Ah, Mas Andra ini bisa aja godain Maya..”Maya mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?
“Mau nggak Mas, tolongin Maya?”
“Ada upahnya nggak?”
“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih…”Cubitan kecil Maya kembali memburu di pahaku. Siiiir… kok malah tambah merinding begini ya?
“Kalau diupah sun sih Mas Andra mau loh.” pancingku sekali lagi.
“Aah… Mas Andra nakal deh…”Sekali lagi Maya mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Maya biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.
“Ya udah, Maya ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Andra aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik… pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku. Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.
“Sudah bilang sama Ersa kalo kamu kemari?”
“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Andra.”
“Trus si Ersa gimana? Nggak marah?”
“Ya enggak, ngapain marah.”
“Sendirian dong dia?”
“Mas Andra kok nanyain Ersa mulu sih? Sukanya sama Ersa ya?” ujar Maya merajuk.
“Yee… Maya marah. Cemburu ya?”Maya merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.
“Maya udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.
“Belum tuh.”
“Pacaran juga belum pernah?”
“Katanya Mas Andra mau ngajarin Maya pacaran.” balas Maya.
“Maya bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.
“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Maya tertunduk malu.
“Maya suka sama mas Andra?”Maya memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Maya.
“Maya suka sama Mas Andra?” ulangku.
“Iya.” gumamnya lirih.Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh…
“Mas Andra mau ngesun Maya, Maya nurut aja yah…” bisikku ke telinga Maya
Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Maya menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.
Mmm..muah… kuhisap bibir ranum itu.“Engh.. emmh..” Maya mulai melenguh.
Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya.
Kuperas-peras payudara Maya penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku. Bibirku merayap menyapu leher jenjang Maya. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Maya.
“Engh.. Masss… jangan… aku uuuh…”
Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Maya.
“May… kaosnya dilepas ya sayang…”
Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Maya satu persatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Maya bergantian dari balik kaos.
Tak tega rasanya membiarkan Maya kehilangan kenikmatannya. Jemari Maya menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Maya ciptakan.
Kaos pink Maya terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Maya dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.
Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow… payudara Maya (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Maya. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Maya memicingkan mata.
“May… adekmu udah gede banget May…”
“Udah waktunya dipetik ya mass…”
“Ehem, biar aku yang metik ya May…”Aku berada di atas Maya. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Maya. Putar… putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.
“Auh…Mass.. Aku nggak tahan Mass… kayak kebelet pipis mas..” rintih Maya.
Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Maya dengan mulutku.
“Mmmm… suuup… mmm…” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.
“Mass… sakiit…” rintih Maya sambil memegangi vaginanya.Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Maya sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta. Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Maya menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Maya telah basah.
“Maya kencing di celana ya Mass?”
“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”Maya tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Maya.
Merah merona, vagina yang masih perawan. Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.
“Tahan ya sayang…engh..”
“Aduh… sakiiit mass…”
“Egh… rileks aja….”
“Mas… aah!!!” Maya menjambak rambutku dengan liar.Slup… batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Maya yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.
“Aduuuh Masss… sakiiit…” rintih Maya.
Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.
“Jruub…”
Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Maya. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.
Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.“Sakit sayang…” kataku.
“Enakkk…eungh…” Maya menyukainya.Ia pun ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Maya berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Maya melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.
“Enggh.. ahhh..” desis Maya ketika tanganku mulai meremas-remasnya.
“Mass aku mau pipis…”
“Pipis aja May… nggak papa kok.”
“Aaach…!!!”
“Hegh…engh…”
“Suuur… crot.. crot.. “Lendir kawin Maya keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.
“Ah…” lega.
Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Maya menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Mayapun terlelap kecapaian.
-

Video bokep Minami Wakana digangbang rame-rame

-

1-Kaho Kirari 78 my onapet school girl

-

Hentai011

-

Foto Ngentot cewek cantik berambut pendek Cadey Mercury

Duniabola99.com – foto cewek berambut pendek cantuk tubuh sexy toket kecil ngentot dengan om om yang berkontol besar yang menjebol memeknya yang tercukur rapi dan menembakkan semua spermanya kedalama memeknya hingga gak tertampung menetes keluar.
-

Vidio bokep Konatsu Hinata diikat dan dilumuri banyak pelumas

-

Video bokep ngentot berempat dibayar dikamar hotel

-

Cerita Sex Sakit Tapi Enak
Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Sakit Tapi Enak ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Cerita Sex – Sempat bedekuk kencang jika aku melihat adegan video sampai mulutku melongo dan itu pun aku tidak menyangka apa yang aku tonton itu adalah rekaman istrtiku dengan suami adik iparku mereka berdua sedang berhubungan intim sungguh aku tidak bias mempercainya, kenyataannya istriku telah mengkhianati.
Erina, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah. Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yang tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yang lalu.
Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Erina menerimanya tanpa sepatah katapun. Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.
Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar.
Setidaknya aku masih lebih hebat dibagian itu. Tentu saja, Vita terlihat menikmati apa yang didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Vita akan hal ini.
Isteriku mempunyai bentuk tubuh yang atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Saat melihat adegan video tersebut, aku membayangkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaanaE|
Erina melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Erina berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yang lebih montok dibandingkan kakaknya. Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yang cantik dalam beberapa tahun belakangan.
Dia dan Bob menikah dua tahun yang lalu. Vita dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke duapuluh.
“Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?” tanyaku begitu video tersebut berakhir. Vita menggelengkan kepala.
“Mungkin sudah setahun lebih!” sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.
“Tidak, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Vita berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya,” jawabku.
“Kakak kandungku sendiri!” kata Erina dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.
“Aku belum tahu,” ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.
“Abang belum tahu?” tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu kembali.
“Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis.”
“Well, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan!” potong Erina. Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.
“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”
“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan,
“Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”
“Aku rasa tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.
“Apa?”
Cerita Sex Sakit Tapi Enak “Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yang suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.
“Kamu pasti bercanda,” tukas Erina. Aku hanya mengangkat bahu.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tak percaya kalau Vita dan Bob sengaja melakukan ini.”
“Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!” teriak Erina.
“Apa ada kelakuan Bob yang aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Vita sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yang ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah.”
“Itu bukan alasan!”
“Aku tidak bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya,” jawabku. Erina menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.
“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob,” jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah, “Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tidak lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!”
“Kamu benar,” jawabku, coba menenangkannya.
“Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar.”
“Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu,” tukasnya, Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.
“Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi,” tawarku. “Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri.”
Erina terlihat tidak puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tidak melakukan suatu tindakan yang bodoh sampai dia merasa tenang.
Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayanganku di dalam cermin.
Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yang panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.
Erina dating ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setidaknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.
“Jadi, apa keputusan abang?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Aku mengangkat bahu.
“Apa ini tidak membuat abang marah?” tanyanya gusar.
“Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yang sudah terlanjur terjadi.”
Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.
“Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Vita!” kata Erina.
Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.
“Itu tak akan terjadi. Kakakmu Vita dan aku punya tiga orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun,” kutarik nafas, lalu melanjutkan, “Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja. Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia.” Erina menatapku tajam.
“Abang akan memaafkannya,” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. Erina menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.
“Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob,” akhirnya dia berkata.
“Erina, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?” tanyaku. Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
“Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya,” jawabnya lirih.
“Ayo kita ambil minum dulu,” tawarku. Dia mengangguk setuju.
Cerita Sex Sakit Tapi Enak Gelas yang pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yang ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat Erina menuangk minuman pada gelas ketiganya.
Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.
“Kamu tahu kan, ini tak akan membantu,” kataku. Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Erina yang pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yang keempat. Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.
Erina keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yang berubah. Pertama, Erina terlihat sudah mengambil sebuah keputusan.
Yang kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yang atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.
“Erina, apa yang kamu lakukan?” tanyaku bingung.
“Aku akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang,” jawabnya.
Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku.
Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Vita, aku juga sama terlukanya dengan Erina. Meniduri Erina, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.
Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Erina bahkan lebih besar dari yang pernah kubayangkan.
Ukuran payudara Vita breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yang mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.
Payudara Erina yang jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup.
Putingnya tidak sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yang terpana melihat dadanya.
“Ini milikmu sepenuhnya,” kata Erina sambil menyangga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda.
Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Erina bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.
“Wah, punya abang besar sekali!” katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya. Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.
Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Erina mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya. Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menyangga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.
Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Erina menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yang dalam. Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.
“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanyaku. Dia mengangguk.“Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Vita diwaktu yang sama,” nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan,
“Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini.” Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.
“Aku merasa sangat penuh!”
Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tidak mengijinkanku.
Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat. Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.
“Oh mami!” teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya. Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku.
“Ayo bang! Setubuhi aku!” akhirnya dia berkata dan memang itu yang segera akan aku lakukan. Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Erina segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat. Markas Judi Online Dominoqq
Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.
“Erina, aku hamper keluar!” teriakku. Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.
“Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!” ucapnya semakin membakar gairahku.
“Tapi, kita tidak pakai pelindung!” kataku ragu.Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya. Kusemburkan begitu spermaku ke dalam vaginanya hingga meleleh keluar pada pahanya seiring pompaan naik turun tubuhnya di atasku.
Cerita Sex Sakit Tapi Enak
Kami berdua rebah tak bergerak dengan tubuhnya yang masih menindihku untuk beberapa waktu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan diam.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku khawatir tapi dia malah tertawa.
“Aku merasa sangat ehmmaE|! Saat ini, aku tidak tahu apakah akan meninggalkan Bob dan tak akan bicara dengan Vita lagi ataukah aku mestinya berterima kasih pada mereka. Abang sangat menakjubkan,” katanya. Aku tertawa dan menurunkan tubuhnya dari atasku.
“Aya mandi, aku sangat ingin bermain lagi dengan dada montokmu ini,” Kataku sambil meremas buah dadanya lalu menggamit tangannya. Kami bawa serta gelas minuman yang kosong, mengisinya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum bergandengan tangan masuk ke kamar.
Lansung saja kami habiskan gelas terakhir kami setelah mengatur suhu shower. Tawa riang tak hentinya keluar dari bibir kami saat air hangat mulai turun membasahi kedua tubuh berkeringat kami.
Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setidaknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yang bersamaan dia juga menyabuni batang penisku.
Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya. Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.
Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yang dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya.
Cerita Sex Sakit Tapi Enak Erina merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.
“Sorry! Ini masuk begitu saja…” aku berusaha menjelaskan, tapi Erina malah menyeriangai lebar dan mendorong pantatnya ke belakang membuat kepala penisku semakin menyelam ke dalam lubang anusnya. Aku mengerang keenakan.
“Jangan bilang kalau kak Vita tidak pernah mengijinkan abang melakukan anal seks?” tanyanya menggoda.
“Tidak, tidak pernah,” jawabku.
“Baiklah kalau begitu, kalau abang mau abang boleh merasa bebas menyetubuhi anusku semau abang!” katanya manantang dan bagai api yang disiram minyak, langsung saja aku lesakkan batang penisku jauh ke dalam lubang anusnya.
Kedua tangannya terjulur kedepan pada dindning untuk menahan tubuhnya yang terguncang dengan keras oleh sodokanku. Buah dadanya yang montok terayun menggoda, membuatku dengan segera bergerak meremas keduanya. Tapi tanganku langsung beralih untuk mencengkeram pinggulnya untuk menjaga keseimbangan kedua tubuh kami karena ayunanku.
“Ya! Terus bang! Dorong penis abang ke dalam anusku! Makin dalam bang!” teriak Erina dalam kenikmatan. Salah satu tangannya masih menahan tubuhnya pada dinding sedangkan yang satunya lagi mulai bergerak kea rah selangkangannya.
“Yes!” teriaknya saat aku semakin keras mengayunkan batang penisku semakin ke dalam. Dapat kurasakan otot pantatnya yang mulai mengencang saat dia menggesek kelentitnya sendiri.
Tak mampu lagi kutahan, kulesakkan seluruh batang penisku terkubur seutuhnya dalam cengkeraman lubang anusnya dan kembali, sekali lagi aku keluar dengan hebatnya.
Sentakanku yang terakhir membuat kaki Erina benar benar terangkat dari lantai kamar mandi karena kerasnya. Dan hal tersebut membuat Erina bergabung bersamaku dalam ledakan orgasmu sejenak kemudian.
Kami berjalan berpelukan dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur kembali. Aroma seks tercium sangat pekat di dalam kamar dan kami kesulitan untuk menemukan area sprei yang kering di tempat tidur.
We stumbled out of the shower and back to the bedroom. The room smelled like sex and we had problems finding a dry spot on the bed. I was barely settled before Erina crawled between my legs and started blowing me.
“Kamu benar-benar liar!” kataku.
“Ternyata balas dendam itu rasanya jauh lebih manis dari yang kudugatimpalnya dengan tersenyum puas. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia benar benar wanita muda yang penuh amarah, tapiaE| apapun itu adik iparku ini benar benar sangat menggairahkan!
Erina merapatkan kedua daging payudaranya yang kenyal menjepit batang penisku dan mengocoknya begitu batangku mengeras lagi. Dia masih asik melakukannya ketika tiba-tiba saja Vita berjalan masuk ke dalam kamar tidur…!!!
“Erina! Teganya kamu?” teriak Vita terdengar hamper menangis, tapi Erina Cuma tersenyum sinis.
“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Vita,” balas Erina said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Erina tak membiarkanku. Dia ingin agar Vita melihat aksi kami berdua.
“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan aE~a night out aloneaE?,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.
“Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?” Tanya Erina. Vita menggelengkan kepala.
Cerita Sex Sakit Tapi Enak “Kakak keliru,” kata Erina, lalu menambahkan dengan nada sinis.
“Nah, sekarang impas kan?” tangis Vita benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Erina menjauh dan pergi menyusul Vita.
Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yang berlinang air mata.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya.
“Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Erina tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadi kemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya.
Aku hendak mulai menjawab, tapi Erina sudah berada di ruangan ini.
“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Vita terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Erina dengan marah. Wajah Vita berubah merah oleh rasa malu.
“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Vita lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.
“Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Erina yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”
“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Erina dengan tajam.
“Aku mau menolaknya!” jawab Vita, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan, “Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”
“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Erina tak percaya.
Vita tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Vita barusan.
“Erina, Vita dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jika kakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”
“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Erina asked. Kugelengkan kepala.
“Tidak sampai hari ini,” jawabku. Vita mulai merasa tak nyaman.“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu,” kata Vita. Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Vita sudah tidak mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tidak benar.
“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama.”
“Bersama?” tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.
“Ya. Vita, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu.”
“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yang sangat dalam sebagai jawabannya.
“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Erina tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.
“Aku tak masalah jika Vita bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”
“Menakjubkan,” kata Erina, tak tahu harus berkata apalagi.
“Erina, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Vita, masih memelukku. Erina masih tetap menggelengkan kepala.
Kutarik kembali Vita dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Vita masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya.
Dan dia membantu mempercepatnya.
“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Erina. Vita memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.
“Erina, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya. “Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob.
Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!” Aku sama terkejutnya dengan Erina, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.
Vita dan aku tak menunggu jawaban Erina lagi. Kupanggul Vita menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap.
Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.
“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya. Vita tidak pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang buah zakarku.
Cerita Sex Sakit Tapi Enak “Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku pada Erina. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.
“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudia dia menampar pantat Vita dengan keras. Vita teriak terkejut.
“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yang sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.
“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Vita dan tidak ingin melihat dia disakiti.
“Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Vita, mengejutkanku, tapi kurasa Erina sudah mengira akan hal ini.
“Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Erina dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar.
Vita berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Vita malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.
Erina menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Vita pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.
“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Erina komplain. Vita tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Erina dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Erina kembali komplain.
“Wanita jalang!” teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Vita barusan. Isteriku hanya tersenyum.
“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?” jawab Vita, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Erina. Segera saja nafas Erina mulai tersengal.
“Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya, tapi Erina tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Vita.
“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?” Tanya Vita.
“Tapi aku kan adikmu!” jawab Erina. Vita tak menghiraukannya.
“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu,” jawab Vita, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.
“Wow! Vita, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar. Vita hanay mengangkat bahu.
“Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Erina dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Erina. Mengerang keras Erina mulai orgasme.
Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Erina juga. Erina membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.
Vita meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.
“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kata Erina dengan wajah menyeringai. Vita hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang.
Dia bergerak menaiki tubuh Erina dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Erina. Erina meronta beberapa saat, tapi Vita lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Erina.
“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Erina!” perintah Vita. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona.
Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Vita yang tak pernah kusangka dimilikinya. Erina mencoba memprotes, tapi Vita sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Erina menelusup ke dalam lubang vaginanya.
“Ya, begitu! Tepat di situ!” ceracau Vita. Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Erina mendorong tubuh Vita dari atasnya.
“Hey!” protes Vita, tapi Erina cuma tertawa. Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Erina langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Vita ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yang sama terhadap vagina Erina.
Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tidak sebuah orgasme.
Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yang akan kulakukan. Erina melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Vita. Vita mengerang.
Erina terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Vita sambil tetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Erina mengisyaratkan padaku untuk mendekat.
Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Vita. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Vita akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.
“Tunggu!” teriaknya, tapi Erina tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Vita kabur. Kumasukkan beberapa centi lagi.
“Hentikan, ini sakit!” erang Vita. Erina menampar pantat isteriku dengan keras.
“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku. Vita hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.
“Ya!” Vita semakin mengerang keras.
“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Erina menampar pantat Vita lagi. Erina merangkak ke bawah tubuh Vita dan mulai mempermainkan kelentitnya.
Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Vita. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tidak.
“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.
“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Vita. Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.
Kusodomi Vita dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Erina. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Vita dan aku rebah kecapaian sedangkan Erina meberi kami masing-masig sebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.
Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Erina. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya.
Dan itu membuat Erina merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.
Kuposisikan dia dalam dogy-style, Vita memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Erina dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Erina lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya.
Denyutan liar dinding vagina Erina tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.
Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Vita menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.
“Aku lapar,” Erina said.
“Aku juga,” timpalku.
“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Vita tersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Vita sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.
“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengar nervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Vita terkembang.
“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Vita pada adiknya.
“Mmm, aku belum tahu,” jawab Erina dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya,
“Yang kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yang juga menikmati hubungan incest?”
“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.
“Dia benar,” Vita menambahkan. “Kamu seorang biseksual yang menikmati hubungan incest.” Erina tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak. Vita dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.
“Erina, beri Bob kesempatan,” kata Vita dengan lebih serius. Erina menarik nafas.
“Akan kupikirkan.”
“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli.”
“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Erina dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.
“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadi masalahmu adalah Bob,” gurau Vita, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum. Senyuman Erina semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.
“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya.”
Alis Vita’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Erina. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.
“Itu issue untuk besok saja,” jawab Vita.
“Kalau memang jadi,” Erina menambahkan.
“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,” kataku, merubah topic pembicaraan. “Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Vita melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”
“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Erina menimpali aE~tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Vita dan dengan tersenyum menambahkan, “Tentu saja dengan kamu juga.”
“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Vita.
Erina memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Vita dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.
“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Vita. Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.
“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas. Vita tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.
“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gaya hidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,” Vita menambahkan.
“Setuju.”
“Kamu puny ide yang lain lagi?” Tanya Vita. Aku menyeringai.
“Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu.”
Cerita Sex Sakit Tapi Enak “Hukuman?” Tanya Vita, matanya berbinar.
“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”
“Apa yang kamu rencanakan?” Tanya Vita curiga. Aku hanya tersenyum lebar.
Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi.
Untuk pertama kalinya Vita dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yang bagus.
Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersih dan segar.
Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Manteri terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.
cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,
-

Foto Ngentot Twina dan berubah bentuk selama sesi bercinta keras

Duniabola99.com – foto cewek latin kurus kecil dientot oleh pria bule besar botak badan kekar memiliki kontol yang besar yang menghantam keras kememeknya yang sempit dan kecil hingga merasakan sakit kenikmatan didalam kamarnya. Targetqq
-

Cerita Sex Mama Dari Pacarku
Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Mama Dari Pacarku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Cerita Sex – Mungkin mendengar judul dari cerita ini akan membuat para pembaca menjadi aneh, tetapi inilah cerita
yang saya alami pada beberapa bulan yang lalu.
Perkenalkan namaku Budi ( nama di samaran ), saya mempunyai pacar yang namanya selvi.Pacarku ini mempunyai wajah tidak begitu cantik. Tetapi yang saya suka dari pacar saya ini adalah ukuran
payudaranya yang di atas rata- rata. Mungkin kutaksir ukuran buah Website Judi Online 303 dadanya yaitu 37B,gede banget kan??
Selvi ini orangnya lumayan gila sex. Tiap saya main kerumahnya, dia selalu memakai pakaian yang membuat
pria menelan ludah.Kisahku ini bukan tentang “mainku” dengan Selvi, tapi dengan mamanya. Mamah pacarku bernama Nani. Bu
Nani (begitulah ku panggil) beliau. Bu Nani mempunyai wajah yang biasa-biasa saja sama seperti anaknya
tetapi mempunyai tubuh yang sexy. Tiap saya main kerumahnya, Agen Judi Slot Pulsa Bu Nani selalu memakai daster “you can
see”. Biasa lah namanya juga Ibu- ibu kampung. Kebayang dong pembaca sekalian??. Ukuran payudara Bu Nani
bisa dibilang rata-rata, tak terlalu besar dan kecil.Sering saya dapati beliau ketika habis mandi cuma mengenakan handuk yang kecil. Ku lihat tetek bagian
atasanya yang seakan akan menyuruhku untuk ku sedot hehehehe….Kejadian ini saya alami pada tanggal 13
maret lalu, pada waktu itu saya main kerumah pacarku. Pada waktu itu jam menunjukan pukul 11.00 ku ketuk
pintu dan ternyata yang membuka pacar saya Selvi. Pada waktu itu dia memakai tengtop warna hitam dan
keliatannya dia tidak mengunakan BH karena jelas sekali kulihat putting susu pacarku ini.“Hai sayang” sapaku
“Hai juga say” jawabnya,
“ehem bajunya bikin anuku ngaceng” godaku.Lalu ku pegang susu pacarku dan ternyata benar dia tidak memakai BH.
“uuuuugggghhhh…” lenguhnya.
“Duduk dulu say”
“iya” jawabkuDia pergi ke dapur untuk membawa air, ketika saya sedang duduk Agen Judi Online Wallet menunggu pacarku tiba-tiba Bu Nani masuk
kerumah dan menyapaku.“eh, ada nak Budi” sapanya, aku hanya tersenyum dan bersalaman dengannya.
Dan harus pembaca tau, Bu Nani cuma memakai daster tanpa lengan. Bisa kulihat keteknya yang berbulu
sedikit dan teteknya yang memakai BH bewarna pink.“Dari mana bu” tanyaku,
“oh ini ibu habis dari warung beli keperluan mandi” jawabnya.Ketika kami ngobrol, pacarku Selvi datang membawa segelas air.
“Eh mamah, mana sabunnya, aku mau mandi” Tanya Selvi.
Lalu bu Nani memberikan sabun tersebut ke pacarku.
Cerita Sex Mama Dari Pacarku “Say, aku mandi dulu ya” kata Selvi. Judi Online Terpercaya 303 Aku hanya mengangguk dan Selvi berlalu ke kamar mandi.
Aku sedikit jengkel karena pacarku mandinya suka lama.
“Ibu mau nyuci piring dulu ya nak Budi, kalau mau nonton tv tinggal nyalain sendiri aja atau nak Budi
mau ikut liat Ibu nyuci piring?? ” ucap Bu Nani sambil bercanda.
“Iya bu” jawabku. Kunyalakan tv lalu ku nonton acara FTV.Sedang asyik- asyiknya nonton tiba- tiba hp Bu nani di meja bordering. Kulihat siapa yang menghubungi,
“ELIN” begitu nama yang ada di hp tersebut. Lalu ku bawa hp itu ke tempat cuci piring dan ku kasihkan ke
Bu nani.“Bu, ini ada telepon”,
“waduh dari siapa?” Tanya Bu Nani basa basi.Ketika dia menelepon, kulihat daster bu Nani tersingkap sampai paha. Deg deg jantungku berdetak. Putih
bener paha mama pacarku ini, mau rasanya ku elus dan ku cium paha yang putih itu. Ketika ku melamun, Bu
Nani membuyarkan lamunanku sambil tersenyum dan berkata“hayooo liatin apa nak Sefta”,
“hehehehe, engga bu” jawabku.
“Siapa yang menelepon bu?” tanyaku.
“Oh itu kakak ibu. Dia nyuruh bawa Tup****re pesenan Ibu” jawabnya.Ketika kami sedang ngobrol, pacarku Selvi keluar dari WC. Dia cuma memakai handuk sampai paha. Susunya
yang besar seakan akan mau loncat dari dalam handuk tersebut. Dia Website Judi Bola 303 cuma tersenyum karena sudah tau apa
yang aku bayangkan.Aku kembali lagi ke ruang tv. Tak lama kemudian Bu nani datang dan langsung masuk ke kamar Selvi. Entah
apa yang mereka bicarakan, tetapi nampaknya Selvi tidak senang dengan apa yang disuruh oleh mamanya.
Lalu mereka berdua keluar dari kamar.“Say, aku mau ke rumah Tante Elin dulu ya, mau ngambil pesenan barang mama” omongnya.
“Mau aku antar?” jawabku.
“Gak usah, aku sendiri aja, lagian deket ko cuma 15 menitan”. Lalu Selvi pergi dengan memakai motorku.Aku kembali termenung menonton tv. Tuk,tuk,tuk ternyata hujan mulai turun lama kelamaan hujan deras pun
datang.“wah hujan,bagaimana ini cucian ibu gk akan bisa di jemur”, lalu aku hanya tersenyum.
“Ibu mau mandi dulu ya nak Budi”,
“iya bu” jawabku. Sekitar 10 menit kemudian Bu nani keluar dari kamar mandi dengan cuma menggunakan
handuk dengan lilitan daster di bagian atasnya.Cerita Sex Mama Dari Pacarku Ketika dia mau ke kamar, ada telepon dari Selvi yang memberitahu kalau dia lagi di rumah tantenya sambil
nunggu hujan. Aku melihat Bu nani nelepon dengan Selvi sambil melongo. Lagi- lagi dia membuyarkan
lamunanku.“hayo lagi- lagi liatin ibu,masa kamu terangsang liat wanita tua gini” katanya,
“ah engga bu, meskipun ibu sudah tua tapi tubuh ibu masih bagus kok” rayuku.Mendapat jawabanku bu nani jadi salah tingkah dan dia langsung masuk kamar.
“nak Budi, tolong ibu” lalu aku masuk ke kamar sambil deg degan jantungku ini.
WOW ternyata dia sedang membelakangiku dengan cuma memakai celana dalam warna hitam dan BH warna hitam.
Tetapi BH tersebut belum di kenakan sepenuhnya.“Tolong apa bu”, “ini tolong kaitkan tali BH ibu”. Lalu aku kaitkan tali Bh itu dengan kontolku yang
telah ngaceng.Dia masih membelakangiku,dan ketika aku sedang mengaitkan tali BH tersebut, tak sengaja kontolku kena ke
pantatnya.“Ih dede nak Budi nakal”,
“Habis ibu menggoda sich” jawabkuAku beranikan mengesek- gesekan tanganku ke bagian sisi payudara bu nani, ku dengar nafasnya semakin
tidak teratur dan agak berat.“oohh nak sefta” lenguhnya.
Lalu dia membalikan badan dan menariku ku atas kasur.
Aku langsung ciumi bibir Bu nani
“ooohhh eegghhhh, enak nak Budi teruuusss”. Aku buka kembali kaitan BH bu nani dan ku lempar BH tersebut
entah kemana.Hujan diluar masih tetap deras dan membuat nafsu aku dan bu nani tambah hebat. Ku angkat tangan bu nani
ke atas dan kujilati keteknya yang berbulu sedikit“ooohhh terusssss terussss enak sayang enaaakkk”. Jilatanku di ketek bu Nani pindah ke susunya yang
indah terus turun dan akhirnya ke vaginanya.Wangi vagina Bu nani sangat enak, aku jilati memeknya.
“oh nak Budi jilat memek ibu jilat sayang yang kencang” teriaknya.
Aku jilat terus memeknya sambil ku cari itinya. Dan ketika aku sedot itilnya dia berteriak hebat dan
membuatku takut kalau terdengar oleh tetangga“iiitiiiiillllkuuuuuuuu oh itilkuuu enak sekali” Susunya membusung dan kurasakan air maninya muncrat.Ya,
dia orgasme.Bu nani tersenyum melihatku yang sedang memandangi tubuhnya sambil aku membuka semua pakaianku, Dia
terbelangak ketika melihat kontolku yang besar. Harus ku akui aku bangga mempunyai kontol yang
panjangnya 18 cm dan diameter sekitar 4 cm. Ini juga yang membuat Selvi tergila- gila padaku. “Gede banget kontol kamu sayang”. Lalu dia menarik kontolku dan menarik tubuhku ke atas kasur. Markas Judi Online Dominoqq“Aku sepong ya sayang kontolmu” aku tidak menjawab dan dia langsung memasukan kontolku ke mulutnya.
Rasanya beda sekali ketika disepong oleh Selvi. Tanganku tidak tinggal diam, aku raih susunya dan ku
mainkan putingnya, hal ini membuat dia menjadi belangsatan.“Bu aku entot ibu sekarang ya” “iya sayang” jawabnya.
Aku lebarkan kakinya lalu ku masukan kontolku ke memeknya. Dia melenguh
“ooohhhh sayang kontolmu enak sekali, entotin aku cepet sayang” kata- kata kasar keluar dari mulutnya
mungkin karena sedang enak.Dan ketika kontolku masuk, kembali dia berteriak
Cerita Sex Mama Dari Pacarku “memek kuuuuuu enaaaaakkkk ooohhhh”Lalu aku genjot pinggangku, setelah menggenjotnya 15 menit, dia
nampaknya akan orgasme
“terus sayang teruussss,aku mau muncrat” dan dia mencengkram punggunku sampai rasanya perih punggungku.Dia orgasme yang kedua.
”Tunggu dulu sayang, biarkan aku bernafas dulu, nanti kamu boleh entot aku lagi” aku hanya tersenyum.
Setelah itu aku suruh dia menyepong kontolku.
“Bu isep kontolku lagi dong”,
“iya sayang, sini”. Lalu dia menyepong kontolku selama 5 menit.Setelah itu aku balikan badan Bu Nani dan kusuruh nungging. Ya aku ingin
“doggy style”. Dengan posisi ini aku bisa melihat anus bu nani yang sudah bolong,dan ketika aku melihat
anus bu Nani dia berkata
“pantatku sudah bolong oleh papahnya Selvi sayang, ayo masukin kontolmu”
“aku ingin masukin ke anusmu ya Bu”,
“iya, tapi ludahin dulu anusku ya sayang”. Lalu aku jongkok dan menjilati anus Bu nani sambil ku korek-
korek liang memeknya.
“eeeggghhhh enaak sayang terusss”. Setelah ku ludahi anus Bu Nani aku arahkan kontolku ke arah anus bu
Nani.Dan luar biasa, sensasinya jauh lebih enak daripada ngenton memeknya
“oooohhhhh enak sekali anusmu bu” erangku, lalu ku ayunkan pinggulnya dan tanganku tidak tinggal diam,
kuraih susunya dan kuremas- remas.
“Terus syang terus entot anus ibu”. Kulihat dia memainkan itilnya sendiri.20 menit kemudian kusudahi posisi ini dan ku angkat tubuh Bu nani. Ku entot Bu nani dengan posisi
berdiri.“sayang, tubuhmu kuat sekali, enak sekali di entot sama kamu” pujinya.
Ku arahkan kontolku ke memeknya dan Bleessssssss….lalu ku entot Bu Nani sambil berdiri,
“ah uh ah uh” erangku. 10 Menit kemudian dia menggoyangkan pantatnya sendiri dan membuat kontolku
kelonjotan.
“Bu aku mau muncrat ah ah”,
“bareng sama ibu sayang” ayo buuu ayooo ah ah ahhhhhhh”,
“iya sayang,ah itillkkkkuuuuuuuu” dan crot crot crot kami berdua muncrat berbarengan.Aku dan Bu nani terkulai lemas. Di luar, hujan masih besar, lalu Bu nani pergi ke wc dan ku ikuti. Di
wc, kami saling menyabuni.“sedot itilku sekali lagi sayang” tanpa ampun aku sedot lagi memek san itilnya sampai dia terkulai
lemas.Kami pun memakai baju dan menonton tv sambil kuremas susunya di luar daster yang seksi itu. Sungguh
pengalaman yang sangat hot untukku. Sampai sekarang aku lebih sering ngentot sama Bu Nani daripada sama
pacarku Selvi.cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,
-

Tiny Blonde Student Fucks BBC Teacher

-

Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Yang Membara
Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Yang Membara ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

Cerita Sex – Namaku Boby, aku akan menceritakan pengalaman seks-ku yang luar biasa yang pernah kurasakandan kualami. Sekarang aku kuliah di salah satu PTS terkenal di Bandung,dan tinggal di rumah di kawasan sejuk dan elite di kawasan Bandung utara dengan ibu, adik dan pembantuku.
Sejak SMA aku dan adikku tinggal bersama nenekku di Bandung,sementara ibu dan ayahku tinggal di Surabaya karena memang ayah mempunyai perusahaan besar di wilayah Jawa Timur. Dan sejak nenek meninggal ibu kemudian tinggal lagi bersama kami, sedangkan ayah hanya pulang sebulan atau dua bulan sekali seperti biasanya sebelum nenekku meninggal. Sebenarnya kami diajak ibu dan ayahku untuk tinggal diSurabaya, namun adik dan aku tidak mau meninggalkan Bandung karena kami sangat suka tinggal di tempat kami lahir.
Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Membara Saat itu aku baru lulus SMA dan sedang menunggu pengumuman hasil UMPTN di Bandung, dan karena sehari-hari tidak ada kerjaan, ibu yang saat itu sudah tinggal bersama kami, memintaku untuk selalu menjemputnya dari tempat aerobik dan senam setiap malam. Ibuku memangpandai sekali merawat tubuhnya dengan senam/aerobik dan renang,sehingga walaupun usianya hampir 39 tahun, ibuku masih terlihat sepertiwanita 27 tahunan dengan tubuh yang indah dengan kulit putih mulus dandada yang masih terlihat padat dan berisi. Walaupun di wajahnya sudahterlihat sedikit kerutan, tetapi akan hilang bila ibu berdandan, hinggakemudian terlihat seperti wanita 27 tahunan.
Aku mulai memperhatikan ibuku, karena setiap kujemput dari tempatsenamnya, ibuku tidak mengganti pakaian senamnya dulu setelah selesaidan langsung pulang bersamaku, dan baru mandi dan berganti pakaiansetelah kami sampai di rumah. Karena setiap hari melihat ibuku dengandandanan seksinya, otakku mulai membayangkan hal-hal aneh tentang tubuhibuku. Bagaimana tidak, aku melihat ibuku yang selalu memakai pakaiansenam ketat dengan payudara yang indah menonjol dan pantat yang masihpadat berisi.
Suatu hari, saat aku telat menjemput ibuku di tempat senamnya, akutidak menemukan ibuku di tempat biasanya dia senam, dan setelah akutanyakan kepada teman ibuku, dia bilang ibuku sedang di sauna, danbilang agar aku menunggu di tempat sauna yang tidak jauh dari ruangansenam. Aku pun beegegas menuju ruangan sauna, karena aku tidak mauibuku menunggu terlalu lama.
Saat sampai di sana, wow.. aku melihatibuku baru keluar dari ruangan hanya dengan memakai handuk yang hanyamenutupi sedikit tubuhnya dengan melilitkan handuk yang menutupi dadaperut dan sedkit pahanya, sehingga paha ibu yang mulus dan seksi ituterlihat dengan jelas olehku. Aku hanya terdiam dan menelan ludah saatibuku menghampiriku dan bilang agar aku menunggu sebentar.
Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Membara Kemudian ibuku membalikkan tubuhnya, dan kemudian terlihatlah goyangan pinggul ibuku saat dia berjalan menuju ruangan ganti pakaian.Tanpa sadar kemaluanku mengeras saat kejadian tadi berlangsung. Aku berani bertaruh pasti semua laki-laki akan terpesona dan terangsangsaat melihat ibuku dengan hanya memakai handuk yang dililitkan ditubuhnya.
Di dalam perjalanan, aku hanya diam dan sesekali melirik ibuku yangduduk di sampingku, dan aku melihat dengan jelas goyangan payudaraibuku saat mobil bergetar bila sedang melalui jalan yang bergelombangatau polisi tidur. Ibuku berpakaian biasa dengan kaos oblong yang agakketat dan celana panjang ketat, dan setiap aku melirik ke paha ibu,terbayang lagi saat aku melihat paha ibuku yang putih mulus tadi ditempat sauna.
“Bob.. kok kamu diem aja, dan kenapa celana kamu sayang..?” tanya ibuku mengagetkan aku yang agak melamun membayangkan tubuh ibuku.
“Enggak Mi.. enggak,” jawabku gugup.Kami pun sampai di rumah agak malam, karena aku telat menjemput ibuku. Sesampainya di rumah, ibu langsung masuk ke kamarnya dan sebelum dia masuk ke kamarnya, ibu mencium pipiku dan bilang selamat malam.Kemudian dia masuk ke kamarnya dan tidur.
Malam itu aku tidak dapat tidur membayangkan tubuh ibuku, gilap ikirku dalam hati, dia ibuku, tapi.. akh.. masa bodoh pikirku lagi.Aku mencoba onani untuk “menidurkan burung”-ku yang berontak minta masuk ke sarangnya. Gila pikirku lagi. Mau mencari cewek malam sih bisa saja, tapi saat itu aku menginginkan ibuku.
Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Membara Perlahan-lahan aku keluar kamar dan berjalan menuju kamar ibuku dilantai bawah. Adik perempuanku dan pembantuku sudah tidur, karena saat itu jam satu malam. Otakku sudah mengatakan aku harus merasakan tubuhibuku, nafsuku sudah puncak saat aku berdiri di depan pintu kamar ibuku. Kuputar kenop pintunya, aku melihat ibuku tidur telentang sangat menantang. Ibuku tidur hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendekyang longgar. Aku berjalan mendekati ibuku yang tidur nyenyak, aku diam sesaat di sebelah ranjangnya dan memperhatikan ibuku yang tidur dengan posisi menantang. Kemaluanku sudah sangat keras dan meronta inginkeluar dari celana pendek yang kupakai.
Dengan gemetar aku naik ke ranjang ibu, dan mencoba membelai paha ibuku yang putih mulus dan sangat seksi. Dengan tangan bergetar akumembelai dan menelusuri paha ibuku, dan terus naik ke atas. Kemaluankusudah sangat keras dan terasa sakit karena batang kemaluanku terjepitoleh celanaku. Aku kemudian membuka celanaku dan keluarlah “burungperkasa”-ku yang sudah sangat keras.
Aku kemudian mencoba mencium leher dan bibir ibuku. Aku mencoba meremas payudara ibuku yang besar dan montok, aku rememas payudara ibu dengan perlahan. Takut kalau iabangun, tapi karena nafsuku sudah puncak aku tidak mengontrol remasantanganku ke payudara ibuku.
Aku kemudian mengocok batang kemaluanku sambil meremas payudara ibu, dan karena remasanku yang terlalu bernafsu, ibu terbangun.
“Bobi.. kamu.. apa yang kamu lakukan, aku ibumu sayang..” sahut ibuku dengan suara pelan.Aku kaget setengah mati, tapi anehnya batang kemaluanku masih kerasdan tidak lemas. Aku takut dan malah makin nekat, terlanjur pikirku.Aku langsung mencium leher ibuku dengan bernafsu sambil terus meremas payudara ibuku. Dalam pikiranku hanya ada dua kemungkinan, menyetubuhi ibuku, kemudian aku kabur atau dia membunuhku.
“Cukup Bobi.. hentikan sayang.. akh..” kata ibuku.
Tapi yang membuatku aneh, ibu sama sekali tidak menolak danberontak. Malah ibu membiarkan bibirnya kucium dengan bebas, dan malahmendesah saat kuhisap leher dan di belakang telinganya, dan aku merasaburungku yang dari tadi sudah keras seperti ada yang menekannya, danternyata itu adalah paha ibuku yang mulus.
“Sayang kalau kamu mau.. bilang aja terus terang.. Mami mau kok..” kata ibuku di antara desahannya.
Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Membara Aku kaget setengah mati, berarti ibuku sangat suka aku perlakukanseperti ini. Aku kemudian melepaskan ciumanku di lehernya, dan kemudianberlutut di sebelah ibuku yang masih berbaring. Batang kemaluanku sudahsangat keras, dan ternyata ibu sangat suka dengan ukuran batang kemaluanku, ibu tersenyum bangga melihat batang kemaluanku yang sudah maksimal kerasnya. Ukuran batang kemaluanku 15 cm dengan diameter kira-kira 4 cm.
Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Yang Membara
Aku masih dengan gemas meremas payudara ibu yang montok dan masih terasa padat. Aku membuka kaos yang ibu pakai, dan kemudian sambil meremas payudara ibu aku berusaha membuka bra yang ibu pakai. Dansa telah bra yang ibuku kenakan terlepas, kulihat payudara ibu yangbesar dan masih kencang untuk wanita seumurnya. Dengan ganas kuremas payudara ibu, sedangkan ibu hanya mendesah keenakan dan menjerit kecilsaat kugigit kecil puting payudara ibu. Kuhisap puting payudara ibudengan kuat seperti ketika aku masih bayi. Aku menghisap payudara ibusambil kuremas-remas hingga puting payudara ibu agak memerah karenakuhisap.
Payudara ibuku masih sangat enak untuk diremas, karena ukurannya yang besar dan masih kencang dan padat.
“Bob kamu dulu juga ngisep susu ibu juga kaya gini..” kata ibukusambil dia merem-melek karena keenakan puting susunya kuhisap danmemainkannya dengan lidahku.Ibu menaikkan pinggulnya saat kutarik celana pendeknya. Akumelihat CD yang ibu kenakan sudah basah. Aku kemudian mencium CD ibukutepat di atas kemaluan ibu dan meremasnya. Dengan cepat kutarik CD ibudan melemparkannya ke sisi ranjang, dan terlihatlah olehku pemandanganyang sangat indah. Markas Judi Online Dominoqq
Lubang kemaluan ibuku ditumbuhi bulu halus yang tidak terlalulebat, hingga garis lubang kemaluan ibuku terlihat. Kubuka paha ibukulebar, aku tidak kuasa melihat pemandangan indah itu. Dan dengan nalurilaki-laki kucium dan kuhisap lubang dimana aku lahir 18 tahun lalu.Kujilat klitoris ibuku yang membuat ibuku bergetar dan mendesah dengankuat. Lidahku bermain di lubang senggama ibuku, dan ibuku malah menekan kepalaku dengan tangannya agar aku makin tenggelam di dalam selangkangannya.
Cairan lubang kemaluan ibu kuhisap dan kujilat yang membuat ibuku makin tak tahan dengan perlakuanku, dia mengelinjang hebat, bergetar dan kemudian mengejang sambil menengadah dan berteriak. Aku merasakan ada cairan kental yang keluar dari dalam lubang kemaluan ibu, dan aku tahu ibu baru orgasme. Kuhisap semua cairan lubang kemaluan ibuku hingga kering. Ibu terlihat sangat lelah.
Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Membara Aku kemudian bangun dan dengan suara pelan karena kelelahan ibu bilang, “Sayang sini Mami isep kontolmu,”
Dan tanpa di komando dua kali, aku kemudian duduk di sebalah wajahibuku, dan kemudian dengan perlahan mulut ibuku mendekat ke burungkuyang sudah sangat keras. Ibuku membelai batang kemaluanku, tapi diatidak memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya. Padahal jarak antaramulut ibuku dengan batang kemaluanku hanya tinggal beberapa centi saja.
Aku sudah tidak tahan lagi, dan kemudian kudorong kepala ibuku dandengan leluasa batang kemaluanku masuk ke mulut ibu. Dengan cepat danliar ibuku mengocok batang kemaluanku di dalam mulutnya. Aku sudahtidak tahan lagi, kenikmatan yang kurasakan sangat luar biasa dan tidakdapat kulukiskan dengan kata-kata. Dan akhirnya aku sudah tidak tahanlagi dan, “Cret.. cret.. crett..” maniku kusemprotkan di dalam mulutibuku.
Ibu kemudian memuntahkannya dan hanya yang sedikiti dia telan, dan masih dengan liar ibuku membersihkan batang kemaluanku dari sisa-sisaair maniku yang menetes di batang kejantananku. Ibuku tersenyum dan kemudian kembali berbaring sambil membuka pahanya lebar-lebar. Ibuku tersenyum saat melihat batang kemaluanku yang masih dengan gagahnya berdiri, dan seperti sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam sarangnyayang hangat.
Aku kemudian mengambil posisi di antara kedua paha ibuku, batang kemaluanku terasa berdenyut saat ibu dengan lembut membelai dan meremasbatang kemaluanku yang sudah sangat keras. Dengan tangan yang bergetar,kuusap permukaan lubang kemaluan ibuku yang dipenuhi bulu-bulu halusdan sisa cairan lubang kemaluan yang kuhisap tadi masih membasahi bibirlubang kemaluan ibuku yang terlihat sangat hangat dan menantang.
“Ayo dong Sayang, kamu kan tahu dimana tempatnya..” kata ibuku pasrah.
Kemudian tangannya menuntun batang kemaluanku untuk masuk ke dalamlubang kemaluannya. Tanganku bergetar dan batang kemaluanku terasamakin berdenyut saat kepala batang kemaluanku menyentuh bibir lubangkemaluan ibu yang sudah basah. Dengan perasaan yang campur aduk,kudorong pinggulku ke depan dan masuklah batang kemaluanku ke dalamlubang kemaluan ibu yang sudah agak membuka, dan tenggelam sudah batangkemaluanku ke dalam liang senggama milik ibuku.Cerita Sex Nafsu Ibu Kandungku Membara Aku merasakan sensasi yang sangat dasyat saat dinding lubangkemaluan ibu seperti memijat batang kemaluanku. Gila.., meski akupernah ML dengan anak ABG, lubang kemaluan ibuku terasa sangat nikmatdan luar biasa di banding dengan yang lainnya. Aku menggoyang pinggulkunaik-turun diimbangi dengan goyangan pinggul ibuku yang sangat dasyatdan liar. Kami kemudian berganti posisi dengan ibu berada di ataskuhingga ia dapat menduduki batang kemaluanku, dan terasa sekalikenikmatan yang ibu berikan kepadaku. Goyangan yang cepat dan liar dangerakan tubuh yang naik turun membuat tubuhku hanyut ke dalamkenikmatan seks yang kurasakan sangat dasyat.
Tibalah saat ibuku orgasme, goyangannya makin cepat dan desahannyasemakin tidak karuan, aku dengan nikmat merasakannya sambil kuhisap danmeremas pauyudara ibu yang bergoyang seirama dengan naik-turunnya tubuhibuku menghabisi aku. Ibu mengerang dan mengejang saat kurasakan adacairan hangat yang membasahi batang kejantananku yang masih tertanam didalam lubang kemaluan ibuku.
Beberapa saat setelah ibu terkulai lemas aku merasakan bahwa aku akan mencapai puncak.
Dan dengan goyangan dan tusukan yang menghujam lubang kemaluanibuku, “Cret.. crett.. cret..” air maniku menghambur di dalam lubangkemaluan ibuku.
Aku merasakan nikmat yang tidak dapat kukatakan.Saat aku masih menikmati sisa-sisa kemikmatan itu, ibu menciumbibirku dan berkata, “Sayang.. Mami lupa kalo Mami enggak pakekontrasepsi. Tadi Mami mau bilang kalo kamu orgasme biar di mulut Mamiaja.. tapi Mami kagok..”
Aku hanya terdiam dan malah mencium bibir ibuku yang masihmenindih tubuhku dengan mesra. Kemudian ibuku berbaring di sampingku,aku memeluk dia dan kami berciuman dengan mesra seperti sepasangkekasih. Kami pun tertidur karena pertempuran yang sangat melelahkanitu.
cerita seks bergambar, cerita dewasa seks, cerpen seks, cerita seks hot, kisah seks, cerita seks tante, cerita sexx, cerita sex janda, cerita hot sex, cerita sex pembantu, cerita sex gay, sex dewasa, cerita sex 2019, cerita sex artis, cerita sex jilbab, cerita ngesex, cerita sex sma, cerita sex dengan tante, cerita sex mama, cerita dewasa tante, kumpulan cerita seks, cerita hot dewasa,
-

Kisah Memek Sex Dengan Gadis Tetangga

Duniabola99.com – Suatu siang karena suasana rumah juga kosong istri sedang pergi ke maratuanya dan dirumah aku sendiri aku habiskan untuk menonton film bokep sendirian di rumah sampai menjelang sore hari membuat kontolku tegang, gawat karena dirumah juga istri gak ada dan pelampiasanku juga terhalang, mencoba untuk menenangkan diri tapi kontolku juga masih tegang, aku berjalan ke belakang untuk mengambil air es dan menyalakan musik.
Dan sudah agak turun tegangannya tapi saat film itu berputar lagi dan ada suara suara yang menggairahkan membuat kontolku juga semakin berdiri , ahh apa aku keluar saja dan mencari pelampiasan di tempat SK tapi aku takut kalau nanti aku ketularan penyakitnya, aku hentikan niatku dan teringat sudah 4 hari ini kontolku juga tak di servis.Biasanya 2 hari sekali kontolku aku aku masukkan ke memek istriku, aku matikan film tersebut dan pindah ke bagian teras untuk membaca surat kabar sambil ngeteh di sore hari, saat serius membaca tiba tiba pintu pagar berbunyi “kreeekkkkkk” aku menoleh ke arah sana ternyata Nadine , anak tetangga
“om tante nya ada???
“tante kamu sedang pulang ke desanya katanya besok baru sampai sini, gimana nik , sini duduk saja dulu??
Dia menurut kata kataku sekarang dia duduk di sampingku, gadis yang baru masuk SMA ini sangat cantik dan polos, “ada perlu apa nik dengan tante??? Barangkali om juga bisa bantu”
“gini lho om kemarin tante bilang mau minjemi aku majalahnya”
“majalah yang mana sih nik, ??(mataku sambil melirik ke bagian tengah yang mana buah dadanya sudah mulai menonjol, sudah besar juga ni buah dada Nadine)
“ya kalau gitu masuk saja sambil milih mana majalahnya biar besok aku yang bilang sama tantemu??
Aku taruh koranku dan mengajak Nadine untuk masuk ke dalam ruang tengah, disitu biasanya tantemu menaruh majalahnya coba cari sendiri saja tepat di bagian bawah tv ada rak disitu biasanya menaruh majalahnya aku kemudian duduk disofa sambil memilih milih aku memperhatikan bentuk pantat Nadine yang sangat padat di usianya, dengan posisi jongkong aku membayangkan pantat itu jika aku masukkan kontolku seperti di film bokep tadi asyk kelihatnnya.
Apalagi dari BHnya yang telihat membekas pada kaos yang dia pakai, ditambah rambut yang panjang dan kulit putihnya, “om om ini majalahnya lawas semua, yang baru gak ada nih??kata Nadine membuyarkan lamunanku,
Apa mungkin ada di kamar tantemu coba masuk saja dan mencarinya, sungguh aku tak menyangka gadis ini yang awalnya biasa biasa saja sekarang membuat aku bernafsu ibarat dia buah apel yang mau matang dan enak untuk di makan, dan Nadine berjalan menuju ke kamar aku buntuti dia masuk kekamarku “dan inilah kesempatanku”bisik setan
Uhh tapi dia masih kecil apalagi dia tetanggaan denganku, tapi ahhhh aku sudah dipenuhi oleh nafsu dan harus diselesaikan, aku mulai masuk dan menutup pintu sambil aku kunci pelan pelan, “dimana nik udah ketemu belum??? “belum juga om masih mencari ini??“gimana kalau menonton film aja dulu nyarinya nantian lagi??
“film apaan om, bagus gak??
“bagus kok, coba duduk aja dulu??
Tanpa curiga Nadine duduk di samping ranjang,
Aku ambil film tersebut dan memasukan DVDnya “itu kok ada cover wanitanya om??
“udah lihat saja nik, nanti bagus kok”
“ihhhhh omm omm kok gitu sih filmnya, saat pembukaan film ada potongan potongan orang yang sedang bercumbu”
“omm omm itu kan film bokep kan?? “iya bener nik, kamu suka kan???
“ihhh ihh omm”
Sambil berkata , dia masih menatap matanya ke TV, saat adegan saling bercumbu dan bertelanjang aku memeluk dia dari belakang “Nadine kamu mau kan seperti di Film tersebut” “ahh omm gak mau om”tapi saat aku sentuh lehernya dia tidak menolak.aku endus endus dari belakang “kamu belum pernah coba kan, enak kok Nadine, “
“ahh omm jangan om” sambil mau melepaskan tanganku aku tetap saja menolak dan terus erat tanganku sambil meremas remas kedua buah dadanya”
Aku rebahkan tubuh Nadine ke ranjang , dan segera ingin melepas celana yang dia pakai, “ommm please jangan lakukan ini om”erangnya sambil memberontak menjepit kakinya, tapi aku yang kuat tak meghiraukan perkataannya , aku mulai menurunkan celana jeansnya dan kupelorotkan celana dalamnya juga,
Melihat pemandangan seperti itu membuat tergoda dan langsung tak menunggu lama aku daratkan bibirku di antara celah selakanganya kuhisap hisap memeknya dan lidahku menjilati di celah celah memeknya “hmm hmmmm omm omm dia mendesah” rupanya Nadine masih perawan.Saat kepalaku berada di selakangannya kurasakan getaran dari pahanya yang mengencang, menjepit kepalaku, seakan akan memberi kode untuk untuk lebih dalam menjilatinya dan aku memperdalam jilatanku “ahh ahhh ommm aku keluar dia sudah orgasme duluan, dan aku pelan pelan naik ke atas untuk melucuti pakaiannya.
Kucopot kaosnya dia sudah terbawa suasana dan menurut perintahku, Bhnya juga aku suruh untuk melepasnya lalu aku remas remas kedua toketnya sambil menciumi bibirnya “ahhh ommm enak omm” berganti memilin dan menjilati kedua putingnya bergantian, “Arhhhggggg argghhhh” tubuh Nadine menggelinjang.
Aku yang berada di atas tubuh Nadine dia meremas remas rambutku, mungkin ini baru pertama kalinya dia merasakan sentuhan laki laki, “enakk kan Nadine” “hooh om enak rupanya”
“pengen lebih enak lagi gak??? Langsung aku memegang kakinya dan aku kangkang tepat di tepian ranjang dan mengatur posisi dia terlihat pasrah, karena kontolku juga sudah tegang maksimal aku arahkan kontolku ke bibir memeknya dengan hati hati aku gesek gesekkan karena aku tau kalua Nadine masih perawan.
Ku basahi dulu memeknya agar licin kurasa sudah cukup basah aku kemabli berdiri dan siap untuk memerawani Nadine, kutempelkan dan kugesek gesekan dia mulai terangsang, “matanya merem melek sambil menggigit bibir bawahnya”
Perlahan lahan aku tusukkan ke memeknya dikit demi sedikit mulai masuk dari kepala kontol, kira kira sepuluh menitan aku gesek gesekan dan aku masuk keluarkan “Nadine nanti kalau sakit bilang saja yaa”dia menggangguk dan perlahan aku mulai menusukkan bless blesss dia kesakitan saat baru setengah kontolku masuk ke dalam, aku hentikan sejenak dan masih kontolku ada di dalamnya,sambil menunggu rasa sakitnya hilang aku sambil menciumi bibirnya.
Gerakanku mulai aku atur sambil menekan pelan pelan bless bless blessss “ahhhhhhhhhh omm sakit om” Nadine menjerit aku berhenti sejenak dulu sambil atur nafas karena memeknya belum terbiasa, sambil aku pijat memeknya kira kira 5 menitan aku masukkan lagi bless blesss dan hampir semua batangku kulihat sudah masuk.
“ommm ahhhh” kurasakan kontolku sudah menembus dinding rahimnya, dan kurasakan ada cairan yang keluar rupanya ada bercak bercak darah dan sekarang Nadine sudah tak perawan lagi, aku mencoba untuk menenangkan dirinya dengan meremas remas toketnya dan membasuh keringat yang keluar dari wajahnya sambil aku ciumi bibir mungilnya.Setelah tenang aku mulai menekan dan menggenjot tubunya “auuhh okkhh ussshhh ommm” dia mendesah saat tubuhku naik turun, mendengar erangan makin kencang aku terus genjot tubuh dia dan semakin aku bernafsu, “aohhh ommm aku keluar omm” getaran dari pantat dan mulut dia di gigit, “gimana nik, sekarang udah enakan kan , gak sakit kayak tadi??”
“iya omm sekarang enakan sekali, terusin om “
Aku ingin mengajak dia berbagai macam gaya tapi karena ini baru pertama kalinya mungkin gaya ini saja sudah cukup dan lain kali juga aku bisa menikmatinya lagi, yang penting aku bisa merasakan memek perawan lagi setelah istriku, kira kira satu jam aku mengentot tubuh Nadine dan aku keluarkan spermaku di luar di perut Nadine, setelah kucabut kontolku aku memeluk tubuh Nadine” gimana han, nikmat bener kan kata om” “iya om nikmat sekali, tapi Nadine takut om nanti kalau hamil gimana???”
“ya gak dong aku kan keluarnya di luar gak di dalam”
“jadi gak bakal hamil kamu”
Sambil rebahan kami saling ngobrol dengan masih kondisi telanjang, “nanti kalau pingin lagi bilang saja ama om ya, nanti om kasih gaya gaya yang lebih nikmat” “kalau nanti ketahuan tante gimana??
“ya jangan sampai ketahuan dong, kataku”Melihat dia masih telanjang dan berkeringat aku menjadi nafsu kembali dan kontolku yang layu sekarang tegang kembali, aku bangkit dan memegang tubuh Nadine menyuruh dia untuk menungging, karena sudah terbiasa dia tidak merasakan sakit lagi dan aku leluasa untuk menggenjot tubuh Nadine , uhhhh sangat enak sekali memek perawan tetanggaku ini.
-

Hitomi Oki catwalk poison 80 cream pie trip

-

Kisah Memek berhubungan dengan Tante Mei ibunya pacarku

Duniabola99.com – Gw Anggit, saat ini gw sedang kuliah di PTS Bandung dan ngekos di daerah Jl. Sikaloa. Kejadian yang akan gw ceritakan ini terjadi saat gw sedang berkunjung ke rumah pacar gw, Vina. Mungkin kirakira sekitar setengah sampai setahun kurang lah kejadian itu telah berlalu.
Dengan rasa canggung gw yang baru pertama kali datang ke rumah pacar gw itu, Cuma bisa terduduk menunduk malu di pekarangan rumah. Apalagi ketika kedua orang tua Vina datang menyapa gw, meskipun mereka berdua sangat baik pada gw, tetap saja gw merasa sangat malu. Mungkin emang pada dasarnya gw orangnya pemalu ya hehehehhe.Apalagi tante Mei, ibunya Vina. Beliau sangat ramah sekali pada gw, bahkan gw bisa langsung akrab dengannya hanya dalam satu pertemuan. Mungkin ini karena sifat tante Mei juga yang gaul dan gampang berbaur dengan anak muda. Sedangkan Om Heri, seperti para bapak biasanya, orangnya kaku dan sedikit cuek tentunya.
Akhirnya hari pertama gw ketemu dengan orang tua pacar gw berjalan dengan sukses, dan esoknya gw berjanji untuk datang kembali ke rumah mereka untuk berkunjung. Katanya sih tante Mei akan membuat kue pada hari itu, dan katanya gw harus mencobanya hehehe. Gw pun berjanji akan datang sekitar jam 10 pagi.
Esoknya sesuai janji gw dateng ke rumah Vina untuk berkunjung, namun ternyata Vina sama om Heri sedang pergi sebentar untuk membeli perlengkapan untuk acara nanti siang, gw juga ga tahu acara apa yang tante Mei maksud.
Akhirnya kami berdua berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan mereka berdua. Tante Mei sangat asyik diajak bicara, karena gw tidak merasa canggung sama sekali dengan tante Mei. Hingga akhirnya perbincangan gw dengan tante Mei mulai menjurus ke berbau sex, lebih tepatnya tante Mei tanpa canggung menceritakan keluhnya saat berhubungan dengan om Heri.
Iya, git. Si om Heri itu maunya buru-buru, eh pas dia dah keluar malah langsung tidur.Tante kan jadi kesel. Mana dia ga peka lagi. Ucap tante Mei menggerutu.
Mungkin sebaiknya tante ngomong secara jujur ke om Heri. Ucap gw dengan nada canggung.
Udah, Git. Tapi si omnya ajah yang ga peka, malah cuek gitu. Ucap tante Mei sambil menghirup air tehnya.
Ooo gitu ya, eh ngomong-ngomong hobi tante apa? Tanya gw yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Hobi ya? Hobi yang kaya gimana tuh? Tanya tante Mei.
Ya hobi apa saja, pokoknya sesuatu yang tante sukai. Ucap gw menjelaskan maksud gw.
Hobi tante itu nyium bau kontol. Ucap tante Mei datar, ekspresinya sama sekali tak berubah.Bahkan ia seperti sedang membicarakan sesuatu yang wajar saja.
Eh?
Iya, kan kontol ada aromanya tuh? Tante paling suka sama aromanya. Bikin tante rilex banget. Ucapnya.
Ooo begitu ya Ucap gw yang kini harus memutar otak lagi untuk mencari topik lain.
Tiba-tiba tante Mei mendekati gw dan mengarahkan hidungnya ke arah selangkangan gw. Tentu saja hal itu membuat gw kaget sekaligus terkejut. Gw sampe salah tingkah melihat tingkah aneh tante Mei itu.Eh tante, ngangapain?
Bau kontol kamu enak juga, tante boleh nyium baunya kan? Ucap tante Mei santai.
Tapi tante, Anggit malu kan.
Kenapa malu? Cuek ajah lagi. Boleh ya? Ucap tante Mei memohon.Karena gw bingung, gw pun mengangguk dan menyetujui keinginan aneh tante Mei. Begitu mendapatkan lampu hijau dari gw, kepala tante Mei langsung menyosor ke selangkangan gw dan menciumi kontol gw dibalik celana jeans gw.
Sumpah Git, bau kamu enak banget. Ucap tante Mei. Gw hanya diam saja, sebab gw ga tau itu tuh pujian atau apa.
Dalam pikiran gw, gw sangat tersiksa karena gw mencoba sebisa mungkin agar tidak konak saat tante Mei menciumi bau kontol gw. Tak lama kemudian tante Mei menatap gw dengan tatapan serius.
Git buka celananya gih, kena bahan jeans ga enak banget. Ucap tante Mei.
Tatapi Anggit Cuma pake boxer tanpa celana dalam ajah tante. Ucap gw dengan wajah merah saat mengatakan hal itu. Itu adalah pengakuan gw yang paling memalukan.
Ya ga apaapa, dibuka ya celananya,, please,,, Ucap tante Mei memohon.Melihat tatapan yang sangat memohon tante Mei membuat gw menjadi tidak tega dan lagi-lagi menyetujui keinginan aneh tante Mei itu. Gw langsung membuka celana jeans gw dan menanggalkannya di hadapan tante Mei. Tante Mei sedikit terpesona dengan tonjolan pada celana boxer gw.
Begitu gw duduk kembali tante Mei langsung kembali menciumi kontol gw. Sebenarnya gw ingin sekali keluar dari situasi ini, selain karena kami melakukannya di ruang tamu yang pintunya terbuka lebar, sehingga gw takut ada tetangga yang masuk. Gw juga takut hal ini ketahuan oleh si om Heri dan Vina.Dengan ganas menciumi kontol dan mengocoknya secara cepat, otomatis pertahanan gw akhirnya goyah juga dan kontol gw ereksi dengan cepat. Tanpa sadar gw menikmati apa yang tante Mei lakukan pada gw, begitu gw sadar dari rasa nikmat ternyata tanpa gw sadari tante Mei telah memploroti boxer gw dan sedang mengoral kontol gw dengan rakusnya.
Tanpa sadar tangan gw mulai menjenggut rambut tante Mei dan mendorongnya ke kontol gw dan memaksanya mengoralnya dengan cepat. Mendapatkan perlakuan seperti itu, tante Mei menjadi semakin bernafsu dan semakin liar mengoral kontol gw.
Kamu suka kan Git? Tanya tante Mei.
Iya tante,,, arrrrr. Ucap gw sembari mengerang kenikmatan.Tante Mei tiba-tiba menghentikan aksinya dan menggiring gw ke arah dapur, di sana tante Mei langsung melerotkan celananya hingga sepaha dan menuntun kontol gw untuk memasukannya ke dalam mekinya.
Tanpa komando dua kali gw langsung mengarahkannya ke arah meki tante Mei. Awalnya terasa sangat sulit dengan posisi seperti itu, namun berkat bimbingan jemari tante Mei, kontol gw akhirnya berhasil masuk juga ke dalam liang senggamanya.
Gw mulai mengocok dengan cepat kontol gw di dalam meki tante Mei. Meskipun tante Mei sudah memasuki usia kepala empat, tapi mekinya masih tetap seret dan kesat. Pasti tante Mei merawatnya dengan baik.Arrr,,, erang tante Mei.
Gimana tante?
Enak banget Git, lebih cepet.Tiba-tiba gw merasakan ada cairan hangat dari liang senggama tante Mei, dan capitan tante Mei pun semakin keras. Mungkin itu tanda tante Mei telah mencapai klimaksnya. Kini giliran gw yang mencapai klimaks gw.
Namun belum sempat gw mencapai klimaks, tiba-tiba sosok om Heri muncul dari ruang tamu dan melihat langsung ke arah gw. Untungnya gw masih mengenakan kaos, sehingga masih terlihat normal dihadapan om Heri karena bagian pinggul ke bawah gw tertutup meja dapur. Dan untungnya lagi celana dan boxer gw bawa ke dapur sehingga tak meninggalkan jejak di ruang tamu.
Eh, susudah pupulang om? Tanya gw gugup, sedangkan kocokkan gw masih terus.
Iya nih. Ucap om Heri.
Vi Vinanya mana om? Tanya gw.
Dia lagi ke warung dulu di depan perumahan, katanya ada yang lupa dibeli. Ucap om Heri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Tante mana?
E,,, mungkin lagi ke warung om. Tatadi katanya ada yang harus dibeli.Mendengar ucapan gw om Heri langsung mengangguk-angguk dan berjalan ke arah kamarnya untuk kamarnya untuk menaruh beberapa barangnya. Melihat itu gw langsung menghentikan kocokkan gw dan menyuruh tante Mei untuk segera merapikan dirinya. Tetapi tante Mei sama sekali tak mau mendengarnya dan langsung mengoral kembali kontol gw.
Om yang telah selesai menyimpan barang-barangnya kembali ke luar kamar dan mendekati gw. Ia mulai menyusun barang belanjaannya di meja dapur tepat di hadapan gw, secara otomatis gw pun sambil membantu om Heri untuk menyusunnya. Sumpah gw tersiksa banget dalam kondisi ini.Tiba-tiba gw merasakan akan ada sesuatu yang keluar dari kontol gw, dan tanpa gw pertahankan lagi sperma gw muncrat ke mulut tante Mei yang langsung ditenalnny. Crot,,,crot,,,crot,,,
Arrrrrgghhhh,, Erang gw secara spontan karena merasakan nikmat.
Ada apa Git? Tanya om Heri bingung.
Ga ada apaapa om.Untungnya om Heri percaya dengan ucapan gw dan beberapa saat kemudian masuk kembali ke kamarnya, begitu melihat kesempatan itu gw langsung memakai celana gw dan melesat ke ruang tamu, begitu juga tante Mei yang langsung merapikan dirinya dan berpura-pura tidak terjadi apaapa di dapur.
Loh mah kapan datang? Tanya om Heri yang terkejut melihat kehadiran tante Mei di dapur, sedangkan gw yang sudah ada di ruang tamu Cuma bisa harap-harap cemas mendengarkan di ruang tamu.
Baru ajah kok, pah. Emangnya ada apa? Tanya tante Mei.Meskipun pada sebelumnya tante Mei mengeluhkan tentang suaminya, gw lihat keduanya sangat mesra dan tanpa canggung berciuman di siang bolong, bahkan tak malu kalau tak sengaja gw melihat mereka. Lalu dengan menjilati bibirnya sendiri, om Heri terlihat sangat bingung.
Kok asin dan berlendir ya ma? Habis makan apa emangnya? tanya om Heri.
Ada ajah, tapi enak kan pa? Tanya tante Mei.
Iya, sih. Lalu keduanya kembali berciuman.Waduh sepertinya om Heri juga menikmati calon anak gw itu, dalam hati gw ingin ketawa juga melihat kejadian konyol itu. Setelah Vina kembali, kami berempat akhirnya menggelar acara panggang-panggang di pekarangan rumah.
Sejak saat itu gw sering sekali melakukan hubungan terlarang dengan tante Mei, dan untungnya Vina dan om Heri belum curiga sama sekali. Doakan jangan sampai terbongkar ya.
-

Kisah Memek Dengan Tiga Pembantu Sekaligus
Duniabola99.com – Karena prestasi gue yang lumayan bagus , gue pun di promosikan jadi manager operasional di perusahaan tempat gue kerja. Dengan posisi gue sekarang gue pun dapat jatah rumah dati perusahaan, setelah apartment gue jual, pindahlah gue ke rumah baru gue.Karena kondisi gue yang masih single, gue pun berinisiatif untuk cari pembantu buat di rumah gue. Pas libur kerja gue pun langsung keliling buat hunting pembantu, kriteria pembantu yang ada di kepala sudah pasti yang montok dan berkulit bersih.

Gue pun masuk ke salah satu tempat jasa yang menyediakan pembantu. Setelah bertemu dengan pemilik usaha gue pun mengutarakan maksud gue “Siang Bu, saya mau mencari pembantu untuk rumah saya”, kebetulan yang punya Ibu-ibu STW.“ Oh iya silahkan Mas, duduk dulu, kalo boleh tahu nama Masnya siapa?” tanya Ibu itu sambil menjulurkan tangan, gue pun menyambut tangan Ibu itu, “nama saya Timo, masih ada kan Bu tenaga pembantunya?” gue bertanya balik.
“masih ada kalo untuk Mas Timo sih, sebentar ya” ujar Ibu yang ternyata bernama Ibu Yana itu sambil mengedipkan sebelah matanya dan beranjak masuk ke dalam.
“gila genit juga nih Ibu” gumam gue dalam hati saat melihat kedipan matanya. Sambil menunggu si Bu Yana, gue pun memperhatikan keadaan rumah, ternyata besar juga, pasti Bu Yana banyak men-supply tenaga pembantu dari desa untuk di pekerjakan di kota.
Tidak lama Bu Yana pun keluar sambil membawa sebuah album foto.
“silahkan di lihat dulu Mas Timo, memang tinggal beberapa sih, tapi saya yakin pasti ada yang cocok buat kriteria Mas Timo yang masih single” ujarnya genit sambil menyodorkan album foto tadi dan duduk tepat di sebelah gue. Setelah gue lihat memang tidak banyak, tapi malah ada 3 orang yang memenuhi kriteria gue, gue pun minta Bu Yana untuk memanggil tiga-tiganya.
Setelah sejenak menunggu Bu Yana pun keluar lagi bersama dengan 3 calon pembantu rumah gue, ketiganya berambut panjang.
Gue pun di perkenalkan oleh mereka satu persatu, yang pertama bernama Minah, dari mereka bertiga dia yang paling tua, umurnya 38 tahun sekaligus yang paling montok badannya, kulitnya coklat bersih dengan ukuran pantat dan payudara di atas rata-rata, ukuran payudaranya mungkin sekitar 40 dengan status janda di tinggal suami dan beranak satu.
Yang kedua bernama Ratih, berumur 29 tahun dengan postur tubuh proporsional, gue pilih dia karena kulitnya yang bersih kuning langsat, dengan status janda dan belum punya anak.Yang terakhir yang paling muda bernama Sri, umurnya baru 17 tahun, tapi dengan body yang menggairahkan, badannya langsing tapi pantat dan payudaranya lumayan besar walau tak sebesar Minah, bibirnya pun tebal, lebih seksi di banding yang lain, warna kulitnya sama dengan Minah, status belum menikah, dia kabur dari kampung nya saat mau di kawinkan orangtuanya dengan saudagar tua beristri banyak.
Setelah berkenalan dengan ketiga calon pembantu yang ternyata sama-sama dari Indramayu itu gue pun berujar ke Bu Yana,
“baik kalo begitu Bu, saya akan mengambil mereka bertiga”, Bu Yana menampakkan raut wajah yang senang.
“Terima kasih ya Mas Timo, kalo begitu saya menyiapkan untuk administrasinya”, ujarnya sambil kembali masuk ke dalam.
Sambil menunggu Bu Yana, gue pun berujar ke ketiga pembantu gue,
“Sekarang kalian masuk mobil dulu semua, masalah baju nanti kita belanja dulu untuk semua kebutuhan kalian”, sambil mengajak mereka bertiga ke arah mobil gue.
Setelah mengantar pembantu gue ke mobil, gue pun masuk lagi ke dalam rumah untuk membayar administrasi kepada Bu Yana.
“Ini Mas Timo kuitansinya, seneng loh ketemu Mas Timo” ujar Bu Yana sambil memberikan kuitansi ke gue.
Gue pun mengambil kuitansi itu dan mengeluarkan duit pembayarannya.
Setelah menerima duit pembayaran dari gue, Bu Yana pun berujar,
“kalo nggak puas sama mereka, saya Siap selalu loh” sambil tangan kanannya menyelipkan kartu nama ke kantong baju gue, yang bikin gue kaget, tangan kiri mendadak mengelus celana jeans gue tepat di bagian kontol. Gue pun kaget, tapi Bu Yana malah santai dan mengedipkan matanya sambil tangan kirinya terus menikmati kontol gue.
“Eh Bu, maksudnya apa nih? entar ada yang liat” ujar gue spontan.“Kita ke kamar sebentar yuk, ada yang mau saya omongin ke Mas Timo” jawab Bu Yana sambil menggandeng tangan gue masuk ke kamar nya.
“wah bisa aja nih Ibu, rupanya udah horny dari tadi” gumam gue dalam hati sambil mengikuti Bu Yana menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang rumah, kalo gue perhatiin Ibu Yana mirip dengan artis Betharia Sonata, dengan body yang masih sintal untuk wanita seumurnya.
Begitu sampai kamarnya, Bu Yana menyuruh gue duduk di ranjang nya dan mengunci pintu kamar. Lalu dia pun menghampiri gue dan duduk di sebelah gue, “Saya mau kasih bonus buat mas Timo” ujarnya sambil bibirnya mencium pipi gue, dan tangannya menurunkan retsleting celana gue dan mengeluarkan kontol gue dari sarangnya. Kontol gue pun langsung tegang dengan sempurna, melihat itu Bu Yana pun kaget,
“Ya ampun gede banget Mas, langsung masukin ya, saya sudah nafsu dari tadi” ujarnya lagi sambil berdiri dan menurunkan celana dalamnya tanpa melepaskan roknya, dia pun menundukkan kepalanya untuk menjilat dan menghisap kepala kontol gue sebentar, setelah membasahi kontol gue dengan air liurnya Bu Yana pun langsung mengankangkan kakinya di pangkuan gue.
Dengan perlahan Bu Yana membenamkan kontol gue ke dalam memeknya,
“ah Mas Timo, gede banget kontolnya, saya kayak berasa perawan lagi”
ujarnya dan mulai memompa kontol gue naik turun di atas pangkuan gue.
Memek Bu Yana terasa menjepit kontol gue, dan terasa lembab dan licin di dalamnya. Mungkin karena saking hornynya, nggak lama Bu Yana mencapai klimaksnya.
“aaaahhhh Mas Timo, aku keluar Mas..aahh enak Mas” desah Bu Yana seiring cairan klimaks dari memeknya melumuri kontol gue.
Bu Yana tetap duduk di pangkuan gue dengan kontol gue masih membenam di dalam memeknya.
“Enak Mas, kontol Mas Timo gede banget, kapan-kapan gini lagi ya Mas”ucap Bu Yana dengan nafas masih tersengal dan senyum puas di bibirnya.
“Iya Bu, kan saya udah pegang kartu nama Ibu, nanti saya hubungi deh, ya udah saya pamit dulu Bu, mau belanja dulu buat keperluan tiga pembantu saya” Ujar gue sambil mengangkat badannya dari pangkuan gue.
“Tapi Mas Timo kan belum keluar” ucap Bu Yana sambil menatap gue yang sedang membenarkan celana dan baju gue.
“Nanti deh Bu, tenang aja, pokoknya kalo saya ada waktu kita puas-puasin deh”
“Ya udah deh Mas, terima kasih loh buat semuanya” ujar Bu Yana lagi sambil berdiri dan mencium bibir gue, lidahnya pun sempat bermain di dalam mulut gue, tangan gue pun meremas pantat Bu Yana yang montok dan bulat, dan sengaja gue selipin jari telunjuk gue ke dalam lubang pantatnya.
Setelah selesai dengan Bu Yana, gue pun bergegas keluar dari tempat penyalur pembantu itu, dan menuju mobil menemui tiga pembantu baru gue
“maaf ya Mbak, kelamaan ya?” tanya gue sekenanya, sambil langsung masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju tempat perbelanjaan.
Di dalam mobil, Minah duduk di depan, sedangkan Ratih dan Sri duduk di jok belakang. Sepanjang perjalanan mata gue selalu mencuri pandang ke Minah, bodynya benar-benar membuat celana gue terasa sesak.
Minah mengenakan t-shirt yang kekecilan sehingga lekuk payudaranya yang super itu membentuk indah di balik bajunya, di padu dengan rok sedengkul memperlihatkan betisnya yang mulus.
Setibanya di tempat perbelanjaan ketiganya saya suruh membeli semua yang mereka butuhkan, mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam hypermart, dan gue menunggu di cafe tak jauh dari hypermart tersebut agar mereka nggak bingung mencari gue.
Setelah membayar semua belanjaan tiga pembantu gue, kami pun jalan beriringan menuju mobil, cukup banyak juga belanjaan mereka, masing-masing membawa satu troley besar berisi penuh.
Selama perjalanan pulang kami pun mengobrol untuk mencairkan suasana dan untuk lebih mengakrabkan diri.
Minah sebagai yang paling tua membuka percakapan,
“Pak Timo, terima kasih banget nih udah belanjain kita semua” ujarnya sambil tersenyum, di iringi anggukan dua orang di jok belakang.
“Iya sama-sama, pokoknya saya nggak mau kalian kekurangan, kalo kurang ngomong ke saya ya, jangan malu-malu, nanti malu-maluin” canda saya.“Iya Pak” jawab mereka bertiga serempak sambil di iringi ketawa kecil.
Sesampainya di rumah, mereka bertiga langsung gue tunjukin kamar mereka yang mana satu ruangan yang udah gue isi tiga tempat tidur dan lemari serta kamar mandi di sebelahnya.
Sekedar informasi, gue bangun kamar mandi dan kamar tidur buat pembantu tepat di sebelah kamar gue, karena ada sesuatu yang gue rancang, yaitu microphone tersembunyi dan cermin yang terpasang di dua ruangan tersebut adalah cermin tembus pandang yang biasa ada di ruang interogasi polisi.
Sedangkan untuk menutup cermin itu di kamar gue samarkan dengan dua poster band artis favorite gue yang di beri bingkai.
Jadi kalau tiga pembantu gue itu lagi mandi atau ganti baju, bisa jadi tontonan gratis buat gue.
“ok ini kamar kalian bertiga, sudah saya siapkan” ujar gue sambil mempersilahkan mereka bertiga masuk.
“silahkan masuk semoga kalian betah di sini” ujar gue lagi.
“terima kasih pak” ujar mereka bertiga, mereka pun masuk ke dalam kamar.
Setelah mereka masuk kamar, gue pun beranjak segera ke kamar gue.
Lampu kamar gue matiin, lalu gue turunin dua poster yang menutupi cermin tenbus pandang dan gue nyalain speaker yang terhubung dengan microphone tersembunyi di kamar pembantu itu.
Gue pun dengan leluasa bisa mengamati kejadian yang terjadi di kamar mandi dan kamar tidur pembantu.
Di dalam kamarnya tiga pembantu baru gue itu pun langsung membereskan belanjaan masing-masing. Ratih dan Sri memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari, sedang Minah langsung mengambil handuk dan beranjak ke kamar mandi.Dalam kamar mandi, Minah langsung menanggalkan seluruh pakaiannya.
Bodynya benar-benar montok, dengan payudara dan pantat yang besar.
Melihat itu kontol gue pun menegang hebat, langsung tangan gue masuk ke dalam celana dan mengelus kontol gue.Malam harinya, setelah mereka bertiga selesai mandi dan berganti baju, gue pun memanggil mereka bertiga untuk membicarakan pembagian tugas masing-masing.
Setelah selesai membicarakan tugas apa yang akan mereka kerjakan gue pun mempersilahkan mereka untuk melihat sekeliling rumah, sedangkan gue sendiri masuk ke kamar lagi.
Di dalam kamar gue browsing internet, tapi pikiran gue nggak bisa lepas dari tubuh montok Minah, gue pun mencari akal.
Setelah dapat ide gue pun beranjak ke kamar pembantu dan memanggil Minah,
“Minah, bisa tolong bantu saya sebentar”, Minah pun keluar dari kamar.
“Tolong buatkan saya minuman, badan saya agak kurang enak, nanti tolong antarkan ke kamar ya” pinta gue lagi.
“baik Pak, sebentar saya buatkan”, Minah pun langsung ke dapur, sedangkan gue kembali ke kamar, menunggu di atas kasur.
Nggak lama pintu kamar gue pun di ketuk, setelah gue persilahkan masuk, Minah pun masuk sambil membawa segelas minuman hangat.
Gue pun langsung meminum minuman dari Minah.
“saya sudah boleh permisi Pak?”, tanya Minah lagi.
“eh sebentar Minah, kamu bisa mijit nggak, biasanya wanita jawa apalagi sudah berumur seperti kamu punya keahlian memijit” ujar gue, ini adalah rencana gue untuk mendapatkan tubuh Minah.
“bisa sedikit Pak, tapi nggak ahli” ujar Minah sambil tersipu malu.
“nggak apa-apa, tunggu di sini ya saya ganti baju dulu”, gue pun langsung ke kamar mandi, nggak lama gue pun keluar lagi hanya menggunakan handuk, dan tidak menggunakan CD lagi.
“ayo Minah sudah bisa di mulai” ujar gue sambil tengkurap di kasur.
Minah pun meneteskan baby oil yang udah gue siapkan di meja, dengan perlahan tangannya mulai memijat punggung gue, turun ke pinggang dan pantat gue. Merasakan sentuhan tangan Minah, kontol gue pun menegang.
Gue pun memulai obrolan untuk memancing minah.
“minah udah lama jadi janda?”
minah menjawab sambil terus memijat gue dengan tangan mulusnya.
“udah 5 tahunan Pak, emang kenapa pak?”
tanya minah.
“nggak, selama 5 tahun janda apa nggak ada minat untuk nikah lagi?”
tanya gue lagi.
“yang deketin sih banyak pak, tapi pada mau enaknya aja”
jawab minah lagi.“mau enaknya gimana maksudnya?”
gue semakin penasaran.
“ya itu, mau tidurnya aja, males saya pak, saya pergi aja ke jakarta, cari kerjaan, anak saya titipin neneknya di kampung”
jawab minah menjelaskan.
“loh bukannya sama-sama enak?, masa selama 5 tahun nggak kangen belaian laki-laki sih”
aku terus memancing.
Minah tertawa kecil.
“kangen sih ada pak, tapi masa mau gituan terus, emang nggak makan”
“oh gitu, minah sekalian pijat dada saya ya. Mau kan?”
ujar gue.
“boleh pak, sekarang bapak telentang dulu dong”
jawab minah.
Gue pun merupah posisi menjadi telentang, batang kontol gue yang dari terhimpit terasa bebas dan berdiri tegak di balik handuk.
Mata minah langsung kaget melihat pemandangan itu.
“iihh bapak punyanya berdiri”
ujarnya dengan mimik wajah bingung.
“emang kenapa kok kaget, kan udah pernah liat punya laki-laki”
Minah hanya tersipu dengan wajah memerah sambil tangan mulai memijat dada gue.
“untuk ukuran orang desa wajah dan tubuh kamu lumayan juga minah”
ujar gue memancing.
“ah bapak bisa aja, saja jadi nggak enak”
wajah minah makin memerah, sepertinya dia juga menahan nafsu.
Gue beraniin diri, tangan gue mulai meraba halus payudaranya yang montok
“kira-kira ini ukuran nya berapa ya, gede banget”
tanya gue sambil terus meraba payudara minah.
“ah bapak nakal, kalo saya biasa pake bh 42 pak”
jawab minah, sambil matanya terus melirik ke arah kontol gue.
Gue pun makin berani, rupanya minah sudah negrti apa yang gue pengen.“punya mantan suami kamu ada segini nggak gedenya”
sambil tangan gue membuka handuk yang dri tadi menutupi kontol gue.
Minah bertambah kaget, wajahnya semakin menahan nafsu.
“ya ampun pak, gede banget, kalo saya pengen sekarang gimana pak”
tanya minah dengan nafas terburu.
“justru itu yang saya pengen dari tadi sayang”
gue pun langsung meminta minah untuk segera telanjang.
Setelah telanjang minah duduk di pinggir ranjang, gue langsung peluk dia dan tangan gue langsung meremas payudaranya, sedangkan bibir gue langsung menyerbu bibirnya, di sertai permainan lidah gue dalam mulutnya.
Tangan minah sudah nggak sabar, langsung mengenggam dan mengocok batang kontol gue.
Puas dengan bibirnya, mulut gue turun ke payudara nya, gue isep dan gue jilat puting payudara minah yang sudah tegang berwarna coklat gelap.
Tangan gue pun sudah bermain di memek nya.
“ah enak pak terus pak, isep tetek saya pak”
desah minah sambil tangan nya semakin cepat mengocok kontol gue.
Puas menjilati payudara minah, gue minta minah untuk posisi 69.
Tanpa di perintah minah langsung melumat batang kontol gue dengan lahap.
Batang kontol gue terasa hangat di dalam mulut minah, sesekali lidahnya menjilat biji peler dan kepala kontol gue.
Melihat memek minah yang sudah basah di depan muka gue, lidah gue pun langsung menjulur, menjilati klitorisny yang sudah membesar, sesekali gue selipin lidah gue ke lubang memek minah.
“aaaahhhh enak pak terus jilatin memek minah pak”
desah minah keras, sambil mulutnya tetap sibuk mengulum kontol gue.
“aahhh udah pak, minah udah nggak tahan, masukin kontolny ke memek minah pak”minah pun langsung merubah posisinya, mengankangi memeknya di atas kontol gue.
Pelan tapi pasti minah memasukkan kontol gue ke dalam liang memeknya.
“aahh enak pak, kontol bapak gede banget pak”
minah mendesah, menggenjot kontol gue keluar masuk memeknya.
Dengan posisi minah di atas, tangan gue pun bebas meremas payudara montoknya, di sertai permainan liar lidah gue dalam mulutnya.
Setengah jam dengan posisi di atas, minah mulai menunjukan gelagat kalo dia sudah mau mencapai klimaks.
Minah mempercepat gerakan pantatnya, hingga tak lama kemudian.
“aaaahhhh minah keluar pak, aaahhh enak banget pak”
desah minah panjang, menikmati klimaksnya.
Kontol gue pun terasa hangat di dalam memek minah seiring keluarnya cairan dalam memeknya.
Minah pun langsung ambruk menindih badan gue.
“ah enak banget pak, kapan-kapan minah mau lagi pak”
ujar minah manja.
“boleh aja, tapi sekarang gimana, saya belum keluar”
jawab gue dengan muka bingung.
“waduh pak minah udah nggak kuat, minah panggil ratih aja ya pak”
gue pun kaget.
“emang ratih mau, entar dia marah lagi”
“tenang aja pak, dari awal kami semua udah ngerti dan siap melayani majikan, apalagi yang ganteng dan punya kontol gede kayak bapak”
minah pun berdiri dan memungut pakaian, dan berjalan keluar dengan kondisi tetap telanjang.
“tunggu sebentar ya pak, saya panggilin dulu”
wah malam ini gue pesta seks nih, punya pembantu semuanya pengertian sama majikan.Nggak lama minah pun masuk kamar gue. Yang bikin gue kaget selain ratih, sri juga ikut masuk kamar gue.
“wah malah ikut semua ini, minah yang ngajarin ya”ujar gue dengan senyum lebar.
“nggak kok mereka yang mau, ya udah pak saya keluar dulu mau istirahat”
jawab minah.
Minah yang masih telanjang pun keluar meninggalkan ratih dan sri di kamar gue.
Gue pun duduk di pinggir ranjang, sedangkan mereka berdua gue pangku.
“kalian nggak apa-apa punya majikan kayak saya?”
tanya gue ke mereka berdua.
“kalo saya emang pengen pak, abis udah lama nggak gituan”
jawab ratih, sambil tangan langsung mengocok kontol gue.
“kalo sri emang dari awal udah seneng sama bapak, di apain juga mau sama bapak”
jawab ratih, dia pun langsung mencium bibir gue dan lidah kita pun langsung berpagut liar….
Malam ini gue sangat puas, apalagi gue merawanin memek virginnya sri, mereka berdua, ratih & sri pun tidur di kamar gue, kami saling berpelukan.
Semenjak kejadian malam itu kami pun semakin liar, tidak jarang gue kewalahan melayani nafsu ketiga nya sekaligus.Gue dan 3 pembantu gue sepakat untuk telanjang di rumah, kecuali bila ada orang lain di rumah dan bila salah satu dari pembantu gue datang bulan.
Kisah Seks, Cerita Sex, Cerita Panas, Cerita Bokep, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Sex Bergambar, Cerita ABG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex Pasutri
-

Kisah Memek Tina, Asisten Dokter Gigi
Duniabola99.com – Aku, Haryanto (nama samaran), dipanggil singkat Yanto. Setelah kerja 2 tahun lebih, aku dipindahtugaskan ke kota B ini, tidak seramai kota besar asalku, tapi cukup nyaman. Aku dipinjamkan rumah kakak perempuanku yg bertugas mendampingi suaminya di luar negeri. Sekaligus menjaga dan merawat rumahnya, ditemani seorang mbok setengah tua yg menginap, dan tukang kebun harian yang pulang tengah hari.

Dua bulan sudah aku tinggal di rumah ini, biasa-biasa saja. Oya, rumah ini berlantai dua dengan kamar tidur semuanya ada lima, tiga di lantai bawah dan dua di lantai atas. Lantai atas untuk keluarga kakakku, jadi aku menempati lantai bawah. Di samping kamar tidurku ada ruang kerja. Aku biasa kerja disitu dengan seperangkat komputer, internet dan lain-lain.
Suatu ketika, aku kedatangan seorang dokter giri, drg Retno, ditemani asistennya, Tina. Mereka mau mengkontrak satu kamar dan garasi untuk prakteknya. Untuk itu perlu direnovasi dulu. Aku menghubungi kakakku melalui sarana komunikasi yang ada, minta persetujuan. Dia membolehkan setelah tanya-tanya ini itu. Maka mulailah pekerjaan renovasi dan akan selesai 20 hari lagi.
Sementara itu, drg Retno menugaskan Tina untuk tinggal di kamar tidur yg dikontrak juga, disamping garasi yg hampir siap disulap jadi ruang praktek. Mulailah kisah dua anak manusia berlainan jenis dan tinggal serumah….
Sudah dua minggu Tina tinggal di rumah ini. Dia biasanya membawa makan sendiri, seringkali aku ikut makan bersama dia kalau kebetulan masakan mbok dirasa kurang. Tina berlaku biasa saja mulanya, dan aku tidak berani lancang mendekatinya. Tina berperawakan hampir sama tinggi denganku, tidak gemuk tetapi tidak kurus. Selalu berpakaian tertutup sehingga aku tidak berhasil melihat bagian yang ingin kupandang. Wajahnya cukup manis.
Suatu hari, mbok minta ijin pulang kampung setelah bekerja 9 bulan lebih tanpa menengok anak cucunya. Aku mengijinkan mbok pulang. Mbok akan minta tolong pembantu tetangga menyediakan makanan untuk aku selama mbok pulang.
Nah, pagi hari itu aku mengantar mbok ke setasiun bus dengan mobil kantorku, baru pulang untuk mengambil berkas dan berangkat lagi ke kantor. Tina pergi ke klinik dokter gigi Retno dengan motor, biasanya jam setengah delapan pagi sudah kabur dan pulang jam lima atau enam petang, bergantung kepada banyaknya pasien. Untuk praktisnya, masing-masing membawa kunci rumah sendiri.Sore hari setelah mbok pergi itu suasana rumahku sepi. Aku pulang jam empat sore dan sempat melihat-lihat kebun dan mengambil daun-daun kering lalu membuangnya di tempat sampah. Tina baru sampai di rumah sekitar jam setengah enam, tanpa aku tahu. Dia ternyata ada di jendela memandangku bekerja di kebun. Ketika matahari sudah doyong ke Barat, aku baru melihat ke jendela dan nampak Tina tersenyum di baliknya. Segera aku masuk rumah. “Sudah lama kamu datang, Tina?” Dia mengangguk. “Aku melihat kamu bekerja di kebun, suatu pemandangan indah, laki-laki rajin bekerja keras… Kagum aku dibuatnya.”
Aku tertawa sendiri, lalu masuk kamar untuk mandi. Kamar mandiku ada dalam kamar tidur, jadi aku bebas berjalan telanjang masuk keluar atau dengan melilitkan handuk saja, seperti sore itu. Keluar kamar mandi, aku terkejut, karena Tina ada dalam kamar tidurku. “Aku masuk tanpa permisi, maaf ya, kamu marah?” Aku jawab, “ Ah tidak, masak marah sih, disambut perempuan seksi dan manis…? Aku mau tukar baju, kamu mau tetap di sini atau…?” Tina tersipu. “Oh, mau buka handuk, gitu? Aku tunggu di sofa, mau ada perlu sama kamu.” Tina keluar kamar.
Aku mengenakan kaos oblong dan celana boxerku, lalu menghampiri Tina di sofa, duduk di sebelahnya. Dia menjauh. “Kamu sudah mandi, aku belum… nanti kamu nggak betah di dekatku..” Aku cuma senyum saja. “Ada pelu bicara apa, Tina…?” Dia bimbang sebentar, lalu, “Aku mau numpang mandi di kamar mandimu. Ada shower air hangat kan? Water heater di kamar mandiku rusak, mbok belum sempat panggil tukang…” Sambil senyum, aku jawab, “Tentu, silahkan saja, tapi pintu kamar mandi jangan dikunci, sulit membukanya. Tenang, aku tidak akan mengintip kamu mandi, jangan takut…” Tina tertawa, “Tidak ngintip tapi langsung melihat…? Mana ada laki-laki membuang kesempatan.” Aku malu mendengarnya. “Ah, kamu bisa saja…” itu jawabku sambil memegang bahunya. “Tuh, mulai ya,..?” katanya sambil setengah berlari masuk kamarnya mengambil handuk dan lain-lain.
Dua puluh menit berlalu, Tina sudah kembali duduk disampingku. Bau wangi menyergap hidungku. “Eh, Yanto, mau nggak antar aku beli kacang rebus atau goreng di simpang jalan?” Segera aku mengiyakan.
Lima menit kemudian Tina dan aku sudah bergandengan tangan berjalan ke penjual kacang, sekitar 500 meter jauhnya. Sepulangnya, tangan Tina menggandeng lenganku dan aku sempat merasakan buah dada kanannya menyentuh lengan kiriku. Serrr, darahku berdesir, jantungku berdegub kencang. Ibu—ibu di warung dekat situ nyeletuk, “Wah bu dokter sudah punya calon suami… selamat ya?” Tina tertawa kecil. Ibu-ibu itu sudah akrab dengan Tina, mempersilahkan mampir untuk suatu pertanyaan tentang kesehatan giginya. Sempat terdengar Tina melayani salahsatu dari mereka sambil menyoroti mulut si pasien kampung itu dengan batere kecil, lalu menyuruhnya datang ke klinik besok pagi. Semua pertanyaan dijawab dengan ramah. Aku jadi kagum dengan keramahan Tina. Pantes kliniknya ramai setiap hari.Pulang rumah, aku dan Tina duduk di seputar meja makan sambil menikmati kacang rebus dan goreng. Sementara itu aku tetap mencuri-curi pandang wajahnya, atau turun ke dadanya. Tetap tidak kelihatan apapun. Tina seorang perempuan yang tetap menjaga kesusilaan, pikirku. Jadi, apakah aku bisa menikmatinya, waduh, mengajaknya tidur bersama, pikiranku melayang ke arah hal-hal yang erotis. Tina menyudahi makan kacang karena kenyang, katanya, lalu bangkit pergi ke tempat sikat gigi (wastafel). Aku merapikan meja makan, lalu menyusul Tina untuk sikat gigi di sampingnya.
Tanganku mulai nakal. Aku nekad menyentuh bokongnya, meremas lalu merangkul pinggangnya. Tina seakan kaget, lalu menepis tanganku sambil sedikit menatapku sementara mulutnya masih penuh busa.
Tina berkata, “Jangan mulai nakal… “ Lalu dia membalas mencubit bokongku dan meninju punggungku. “Nih, rasakan, ya…” Dia mencubit berkali-kali dan meninju juga. Lama-lama aku merasa sakit juga, lalu kutangkap tangannya dan kutarik tubuhnya mendekat, tetapi dia berontak dan lari ke sofa. Selesai sikat gigi, aku duduk disebelahnya. “Kamu masih marah, Tina?” Dia menutup matanya, lalu… menubruk dadaku seraya menangis. Aku heran sekali. “Kamu ini…. Kamu ini… bikin aku gemes! Aku jadi nggak tahan lagi. Dadamu basah ya, dengan air mataku. Buka saja kaosmu…” Aku menurut, dia kembali membenamkan wajahnya di dadaku, lidahnya menjilati putingku. Bibirnya menciumi dadaku ke kiri dan ke kanan samapi ke lipatan ketiakku. Ketika lidahnya mau menjilat ketiakku, segera kurapatkan sehingga dia gagal. Wajahnya nampak kecewa. Berbisik, “Kenapa? Nggak mau ya?” Aku jawab, “Nanti kamu nggak tahan baunya, bau keringat laki-laki. Tina, aku ada permintaan…” Tina menjawab lirih, “Minta apa? “ Kujawab, “Mau nggak kamu tidur di kamarku bersama aku?” Tina diam saja, tidak mau menjawab. Wajahnya sudah ditarik menjauh. Aku takut dia marah. Lalu berbisik, “Kalau aku bilang… tidak mau, kamu marah?” Aku jawab, “Aku tetap membujuk sampai kamu mau. Sinar mata dan wajahmu mengatakan kamu mau…”
Tiba-tiba Tina bangkit dan berjalan ke kamarnya. Di pintu masuk kamar, dia memalingkan wajahnya lalu menggapai aku supaya mendekat. Aku segera bangkit, menuju kamarnya. “Kamu saja yang tidur di sini, mau?” Aku menggelengkan kepala. “Kamar mandi untuk kamu kan ada di kamar tidurku,gampang untuk segala keperluan…” Tina tersenyum mengangguk. “Kalau begitu, kamu tunggu di kamar, ya, nanti aku menyusul kamu.” Jantungku hampir berhenti berdetak mendengarnya. (Tina mau lho, tidur denganku…!)
Segera aku berjalan ke kamarku, lalu merapikan ranjang, meletakkan dua handuk melintang di atasnya. Tak lupa mengoleskan krim tahan lama pada kepala kemaluanku, lalu memakai sarung setelah melepaskan semua pakaian.
Belum satu menit, Tina sudah berdiri di depan pintu kamar. Melihat aku memakai sarung, dia berkata, “Kamu ada sarung lagi? Aku ingin memakai. Rasanya praktis ya?” Aku mengangguk lalu membuka lemari pakaian, mengambil sarung lagi, kuserahkan kepada Tina. Dia membawa sarung itu masuk kamar mandi, melirik manis sambil berkata, “Jangan ikut masuk, ya?” Aku tertawa saja, lalu berbaring bertelanjang dada sampai pinggang. Sarung itu menutup bagian bawah setelah pinggang. Tina keluar kamar mandi dengan sarung menutup bagian dada sampai pinggul. Dia meletakkan pakaiannya, termasuk BH dan celana dalam kuning, di meja. Dia melirik lalu tersenyum, “Lihat BH dan celana dalamku? Nih, biar puas melihatnya.” Dia mendekati aku lalu memamerkan BH dan celana dalamnya ke dekat wajahku. Aku mendekatkan hidungku pada celana dalamnya, tetapi dengan cepat dia menariknya sambil tertawa.
Dua detik kemudian, dia merebahkan diri di sebelahku. Aku melihat wajahnya, berpandang-pandangan selama beberapa puluh detik. Kudekatkan bibirku pada pipi, dahi, lalu… ke bibirnya. Dia melumati bibirku, perlahan mulanya. Lalu perlahan membuka mulutnya, sehingga kini mulutku bisa mengisap mulutnya sambil bergoyang ke kiri ke kanan, lalu lidahku bertemu lidahnya. Tina menghembuskan napasnya seperti tersengal, lalu kembali mengisap mulutku bergantian. Lengannya merangkulku, dan kini, yah, benarlah, dadaku bersentuhan dengan buah dada Tina yang kencang mencuat dan berputing keras. Dalam berahi yang makin membara, aku dan Tina sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Tiga gerakan cukuplah melepas sarung-sarung itu, sehingga tubuh Tina yang telanjang bulat sudah nempel erat dengan tubuhku. Dia mendorongku sehingga telungkup di atas tubuhku yang telentang, sambil terus mengisap dan mengisap dan mengisap mulut seraya bergoyang-goyang ke kiri kanan dan buah dadanya menekan menggeser-geser di dadaku. Aku sudah terbawa ke awan yang tinggi. Lenganku merangkul tubuhnya erat-erat, jembut Tina bergesekan dengan jembutku, aduh bukan main nafsuku berbaur dengan nafsu Tina. Kemaluanku yang sudah keras itu bergesekan dengan bibir kemaluan Tina, pahanya bergerak-gerak sebentar menjepit pahaku sebentar menindih dan entah gerakan apa lagi.Sebelas menit kemudian Tina melepaskan diri, mengangkat tubuhnya sambil memandangku. “Bagaimana rasanya, enak dan nikmat..?” Aku jawab, “Bukan main… Tina, oh ina, buah dadamu.. padat mencuat, aku nikmati sekali. Kamu merasa nggak… jembut kita beradu? Jembutmu yg lebat, menambah nikmatnya….” Belum sempat kalimatku selesai, Tina sudah menindihku lagi, kali ini dia membuka lengannya sehingga lidahku bisa menjilat ketiaknya yang halus tidak berambut. Kuciumi ketiak Tina beberapa saat, dan tubuhnya menggelinjang. “Ohh, Yan… Yanto… geli sekali rasanya…” Aku pindah ke ketiak yang satu lagi, dan Tina kembali menggelinjang. “Kamu doyan ya, menilat ketiak cewek?” Kujawab, “Ketiakmu harum dan indah bukan main. … Siapa bisa tahan membiarkan tidak dicium?” Kujilati terus kedua ketiaknya, dan Tina mengaduh-aduh penuh nikmat. Didadaku masih terasa buah dadanya menggeser-geser. Pinggulnya bergoyang terus, sampai suatu ketika, dia setengah berteriak, “Yanto… aku nggak tahan…. Ayo kamu di atasku…”
Aku memutar tubuhku sehingga kini berada di atas tubuh Tina. Kedua lengannya merangkul punggungku, “Duh,.. tubuhmu sungguh kekar… aku sangat menikmati…. Ohh….” Sekarang aku menindih buah dadanya, sambil mulutku mengisap-isap dan isap mulutnya. Lidah Tina masuk ke dalam mulutku dan kuisap, alu giliran lidahku menelusuri mulutnya. Tina mengggelinjang, lalu membuka kedua pahanya. “Masukkan kemaluanmu…. pelan-pelan ya, besar sekali kemaluanmu… ooohhh… sudah… sudah masuk semuanya… oohh nikmatnya… nikmatttt sekali…..” Pinggulnya bergoyang naik turun makin cepat seiring dengan gerakan naik turun pinggulku. Terasa kemaluanku dijepit dan disedot kemaluannya. Aku mengeluh, “Tina, kemaluanmu sempit… duhh nikmatnya dijepit dan… disedot kemaluanmu… ooohhh Tina…” Dia menjawab, “Yan… jangan keluar dulu ya…. Aku masih ingin lama nih, menikmati … persetubuhan ini..” Lalu menggelinjang hebat ke kiri ke kanan, mulutnya tertutup rapat dalam mulutku dan mengeluarkan suara lenguhan seorang perempuan yang sedang penuh nikmat.
Gerakan tubuhku dan Tina menimbulkan bunyi kecupak-kecupak saat kemaluanku menembus jembut dan kemaluannya yang sudah basah. Aku bertanya, “Tina, boleh kujilat jembutmu,…kemaluanmu….?” Segera dia menggelengkan kepala, meski mulutnya masih dalam mulutku. “Jangan sekarang,… jangan dilepasss… nanti saja… oohh,… nikmatnya…” Aku menggeserkan tubuh Tina kesamping, supayua dia tidak kepayahan menanggung beban tubuhku. Dia berbaring disampingku sambil lidahnya terjulur minta diisap. “Tina,…. Aku minta ludahmu…” Dia menjulurkan lidahnya, kali ini penuh ludahnya. Segera kuisap dan kusedot mulutnya dan kuisap ludahnya semua. Tina menggelinjang. “Kamu di bawah, mau…” Aku menggeser kembali, telentang di bawahnya. Tubuh Tina seluruhnya menindih tubuhku, buah dadanya kembali bergeser-geser. Kemaluanku berhasil masuk dari bawah, dibantu tangan Tina. Tina mengdesah, “Ooohh… aduhhh… nikmatnya, aduuhh… kemaluanmu memenuhi…. Kemaluanku penuh kemaluanmu, ohhh… terus, Yanto, terus genjot dari bawah…. Oohh…. Ohhh, nikmat sekali, …. “Gerakan tubuh Tina dan aku makin cepat sampai, “ Aku tidak…. Tidak tahan lagi…. Mau keluar…. Oohhh… keluar… Yanto…! Aku sudah keluar…. teruskan, teruskan…. Masih nikmat…. Mau lagi.. Yanto…. Kemaluanmu… nikmat sekali….. adu jembut, nambah nikmat…. Aku mau keluar lagiiiii…! Yanto, aku … nggak tahan, …keluar lagi, sudah dua kali… sekarang kamu dong, semprotkan manimu… ooohhh… ohh… terus Yanto, kamu harus puasss…” Aku bergerak terus, tetapi pengaruh krim tahan lama membuatku tidak gampang keluar.
Aku berbisik, sambil lidahku menjilati lehernya, “Tina, masih nikmat… atau mau ke kamar mandi dulu, lalu berbaring sambil istirahat 30 menit dan ….. mulai babak kedua…?” Tina berbisik mesra. “Aku mau, Yanto, berkali-kali semalam suntuk bersetubuh dengan kamu…. Sekarang ke kamar mandi dulu… “ Dia beringsut mau turun ranjang, tangannya menggapai tissue lalu mengelap kemaluannya. Llau berjalan beringsut sambil terus memegang tissue di kemaluannya. Aku menyusul dia. Kemaluanku basah dengan air mani Tina, tetapi tidak sampai mengucur.
Di kamar mandi, Tina berbisik, “Yanto, kamu… hebat… sebagai laki-laki, bisa memuaskan aku berkali-kali.” Aku menjawab, “Baru dua kali, Tina… “ Dia tersenyum, berbisik, “Semalam suntuk bisa berapa kali, ya? Aku kepningin terus, berahiku tidak…. tidak terbendung, sudah ditahan berhari-hari. Untung mbok pergi ya, jadi kita bebas ….” Aku menunduk, lalu kuserbu kemaluannya, kuciumi jembutnya, kujilati kemaluannya sampai dia kembali mengeluh nikmat. “Duhh, Yanto, … kamu merangsang lagi… ooh… ohh, aku terangsang… ayo balik ranjang… tapi, aku mau mengisap kemaluanmu dulu… waduh, sudah tegang lagi…” Mulutnya mengulum, mengisap kemaluanku beberapa menit. “Tinaaa…. Sudah, sudah, nanti aku crot dalam mulutmu, saying sekali. Lebih nikmat crot di dalam kemaluanmu…” Tina tertawa, “Nggak kuat ya? Pakai krim lagi? Biar kuat berjam-jam?” Aku mengangguk lalu memeluk tubuh Tina, buah dadanya kembali nempel dipinggangku. “Tina,… merasakan buah dadamu, sungguh nikmat…”Sampai di ranjang, kembali dia menindihku. “Kamu di bawahku dulu ya… Eh, belum pakai krim?” Aku beringsut ke meja lalu mengoleskan krim di kepala kemaluanku. “Nih, sudah pakai krim. Tidak takut crot dulu, sejam lagi rasanya.” Kembali tubuhku ditindih Tina, mulutnya kembali menyeruput mulutku, buah dadanya bergerak ke kiri kanan di dadaku, aduh nikmat sekali. “Kamu nafsu lagi, Tina?” Dia mengangguk, “Ya, kali ini sampai sejam baru aku keluar…. Ketiga keempat, kelima….”
Aku menikmati posisi begini (sebutannya Woman on top missionary sex) selama sekitar 25 menit, terus menerus menyeruput mulut Tina, menelan ludahnya, merangkul erat tubuhnya, mencengkeram bokongnya yang aduhai, dan seterusnya. Tina juga menikmati perannya, memandang wajahku dengan sayu, menjulurkan lidahnya, masuk ke mulutku seraya menelusuri seluruh rongga mulutku, mengisap, mengisap, menyedot, menyedot, terus menerus. Pinggulnya bergerak ke kiri ke kanan, maka terasalah jembutnya bergesekan dengan jembutku, pahanya kadang-kadang menuruni pahaku supaya kemaluanku bisa menggeser-geser kemaluannya yang sudah basah itu.
Setelah sekitar 25 menit itu, Tina melenguh dan mendorongku supaya bergeser ke samping, lalu berbisik, “Kamu naik ke atas ya… aku sudah nggak tahan, ingin dimasuki kemaluanmu…. Yang lama dan dalam,… jangan cepat-cepat, …. putar pinggulmu, nah gitu….ooh… nikmatnya, Yanto, terus… nikmatttt sekali…. Mauku sih yang lama,…. terus, … sekarang kemaluanmu… benamkan ke dalam kemaluanku, terus….. yang dalam… ohh, ohh, mmm… mmm…” Mulutnya kusedot sedot terus, dan dia membalas sedotanku, jadi cuma bisa mengeluarkan suara … mmm…. mmmm…. ahh… ahhh.. Sementara dadaku menindih buah dadanya, sungguh nikmat sekali. Buah dada yang mencuat dan kencang. Tiap lelaki pasti akan menikmatinya dalam posisiku ini. Aku sendiri mendesah kencang sambil menggerakkan pinggulku, naik turun dan putar-putar. “Tin… ooohh… jembut…. jembut kita…. beradu… nikmat sekali ya…?” Tina mendesah dalam mulutku, mmm… lalu menjawab, “Betul… jembut ketemu jembut…. dadamu menindih buah dadaku… nikmat sekali, Yantoooo… aku nggak tahan lagi… aku mau keluar lagi … Yantooo…. aku … keluar… crot crot…. Oohhh… nikmatnya….” Lengannya melingkari tubuhku dengan kencang. “Yanto,… tubuhmu… enak sekali kurangkul… kekar, … begitu jantan… nikmat sekali.. jangan lepas dulu ya…. teruskan, Yantoooo… aku masih bisa lagi, … “ Aku gerakkan pinggulku naik turun terus, kurasakan batang kemaluanku disedot dan dijepit kemaluan Tina… Kemaluannya berkedut-kedut… Untung aku pakai krim tahan lama. Siapa sih bisa tahan kemaluannya dijepit dan disedot begitu. Sekitar 12 menit, Tina kembali mengeluh panjang dalam mulutku, lalu pinggulnya mengejang keras dan… terasa lagi cairan hangat membasahi kemaluanku di dalam kemaluan Tina. Dia terengah-engah, sambil mengisap mulutku dia berbisik, “Yanto… aku sudah keluar… empat kali ya?” Aku menjawab, “Ya, baru empat kali. Masih mau empat kali lagi sampai pagi?”
Tina berbisik, “Istirahat dulu yuk, setelah bersih-bersih di kamar mandi. Kamu hebat sekali, ya, belum keluar juga air manimu. Nanti aku mau mengisapnya ya, sisa-sisa air manimu, dalam mulutku, kalau sudah keluar dalam kemaluanku….” Dia menuntunku jalan ke kamar mandi sambil menempelkan buah dadanya di sampingku… Perasaanku sudah tidak karuan, lelaki menghadapi perempuan yang nafsunya besar dan tidak dapat dibendung lagi. Di kamar mandi, Tina mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil menjilati pipi dan leherku. “Yanto…. kamu jantan tulen… aku ingin terus dipeluk dan diapakan saja sampai pagi… “ Lalu menyabuni kemaluannya dan mengusap kemaluanku, dan menyirami lalu mengelap dengan handuk. Tina berbisik, “Mau kuisap… kemaluanmu?” Aku menolak, takut ngecrot di kamar mandi, lalu kepeluk dia menuju ranjang lagi.
Kembali dia telungkup di atas tuuhku, lalu berbisik, “Mau main 69?” Aku mau, lalu dia menggeserkan tubuhnya, berbalik arah. Buah dadanya menggeser di dada dan perutku. Mulutku sekarang persis berhadapan dengan jembut dan kemaluannya, yang segera kujilat. Begitu juga dia, mulutnya menelusuri biji kemaluanku, lalu batangnya, dan menjilati kepalanya sebelum mengulum dengan penuh gairah. Dia mendesah ketika merasakan jembutnya kuciumi dan bibir kemaluan yang berwarna merah itu kujilati dengan sama gairahnya. Posisi ini berlangsung selama sekitar 10 menit, ketika aku merasakan puncak kenikmatanku nyaris sampai, lalu kuminta dia balik arah lagi. Kembali mulutku mengisap mulutnya, berbau jembut dan terasa agak asin. Dengan gairah penuh dia mengisap mulutku, menjulurkan lidahnya masuk keluar untuk beradu dengan lidahku. Buah dadanya bergerak kiri kanan di dadaku, nikmat sekali rasanya. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan main dengan boneka seks lagi. Kalah nikmat dibandingkan tubuh Tina. Lenganku melingkari punggung Tina, bokongnya kucengkeram dan kuelus. Tina mengerang, “Aku nafsu lagi, Yanto…. kamu begitu pinter… membangkitkan berahiku…”
Dia mendorongku ke samping lalu menarik tubuhku sampai menindih tubuhnya. Kembali kutindih buah dadanya, begitu nikmat. Mulutku mengisap mulutnya, dan kemaluanku masuk ke dalam kemaluannya, jembutku bergesekan dengan jembutnya. Pinggulku naik turun, perlahan lalu tambah kencang. Selang lima menit, Tina sudah kelojotan, mengerang dalam mulutku, lengannya mencengkeram punggungku, pinggulnya bergerak cepat naik turun dan kesamping, dan… Tina menjerit tertahan dalam mulutku. Kemaluannya kembali memuntahkan cairan hangat, kurasakan kemaluanku disiram cairan hangat. Dia sampai puncaknya lagi.Dalam kondisi seperti itu, dia tetap memeluk aku. “Yantooo… terus yuk… aku masih bisa keluar lagi. Jangan lepas kemaluanmu, teruskan… 10 menit lagi aku crot… kamu juga kan? Aku merasakan kemaluanmu sudah kedut-kedut. Ayo sama-sama keluar, biar puas bareng…mau?” Aku mendesah sambil terus bergerak pelan, pinggulku naik turun. “Kamu ini, Tina… manis sekali… wajahmu bikin aku nafsu, buah dadamu bikin aku nggak tahan…. Tin, rasanya aku mau keluar nih, mana tahan sih, merasakan nikmatnya semua ini?” Tina senyum mendengar kata-kataku, lalu memandangku. “Aduhai, Yanto… kamu pemuda ganteng… jantan, … pandai membangkitkan nafsu perempuan … ayo terus… aku mau nih…. ooh… nikmatnya…” Tubuh Tina menggelinjang dibawah tubuhku, mulutnya menyedot mulutku, menyedot terus… buah dadanya bergoyang ditindih dadaku.
Aku sudah tidak tahan lagi. Tadi lupa mengolesi krim tahan lama sekembali dari kamar mandi. Tuuhku bergerak naik turun dengan cepat, mengeluarkan bunyi kresek-kresek dan kecupak-kecupak ketika mulutku mengisap mulutnya dan jembutku beradu dengan jembutnya. “Tina,… buah dadamu… bikin akau tidak tahannn… aku mau keluar nih…” Tina mendesah, “Ayo, terus…. Aku juga mau keluar lagi… oohhh…. Yanto… mmm… ouww…. nikmat sekaliii…. “ Aku sampai puncaknya. “Tinaaa…. Aku keluar…. Aku keluar… oohhh… nikmatnya buah dadamu, jembutmu, kemaluanmu… oouww…. “ Maka crot-crot-crotlah air maniku dalam kemaluannya. Aku ingat pesannya supaya disisakan air mani untuk masuk mulutnya. Kuarahkan kemaluanku ke mulutnya dan…. crot-crot lagi dua tetes air mani dalam mulut Tina.
Beberapa menit aku tergolek di atas tubuh Tina, mengatur napas. Tina juga begitu. Tina puas empat kai rasanya, dan aku satu kali. Dia berkata sambil senyum manis, “Yanto, kita sama-sama keluar ya? Sama-sama puas? Besok malam mau lagi? Saban malam… Aku ini perempuan penuh nafsu, ya? Aku sayang kamu, bakal jadi cinta.” Lalu berdua aku ke kamar mandi, membersihkan tubuh, lalu tidur sampai subuh.
-

Video Bokep Eropa ngento cewek cantik dalam mobil pertama kali bertemu

-

Video Bokep Asia Ami Otowa dipaksa ngentot saat makeup

-

Hentai021

-

Adorable POV Show With Curvy Ass Yuri Hyuga

-

Hentai035

-

Video bokep Kristen Scott lagi sange menggoda pacarnya dipagi hari

-

Video Bokep cewek jepang Ray menghisap 3kontol








